Not a FairyTale
Author: Nacchan Sakura
I DO- not own Durarara!. Sadly.
.
.
.
Chap 25: Our Bitter Sweet Melody
.
.
.
Notes(s): Requestfic from Aldred van Kuroschiffer, enjoy! / AU / TsukiRoppi / Perhatian: Alur maju mundur kiri kanan *?* dijamin kalian pusing pas baca hwhwhw 8"D author bejad / OH, THANKS FOR 100 REVIEW! ;A; / Chapter panjang sebagai balasan karena lama ga update uhfu enjoy!
.
.
.
Sebuah pertemuan kecil yang tak terduga,
Bisa menjadi awal dari cerita milikmu sendiri.
Apakah ceritamu akan jadi cerita yang menyenangkan?
Apa kau akan mendapat akhir yang bahagia?
"Maaf, boleh aku masuk klub musik?"
Seorang lelaki jangkung lengkap dengan wajahnya yang memang tampan—memasuki ruangan sepi yang hanya diisi oleh 4 orang di dalamnya. Lelaki berkacamata itu membetulkan posisi syal berwarna merah miliknya, berharap bisa menghilangkan rasa gugup yang ada.
"Aaah! Kau mau masuk klub musik?" Seorang perempuan—memakai topi dan rambutnya berwarna coklat gelap, berlari dan –hampir—menerjang lelaki yang tak berdosa itu. "Selamat datang!"
"Erika-san, jangan menerjang anak baru seperti itu.." Kali ini, seorang lelaki dengan rambut hitam pendek yang berbicara dengan lembut. "Namamu siapa?"
"Tsu-tsukishima! Heiwajima Tsukishima!"
"Ooh, kau keponakannya Shizuo-sensei itu, 'kan? Pantas wajah kalian mirip~!" Tsukishima hanya mengangguk dan tersenyum. "Namaku Masaomi Kida, selamat datang di klub musik! Perempuan yang tadi hampir menerjangmu namanya Erika Karisawa, dia kelas 2. Lelaki yang berambut pendek itu, Mikado Ryuugamine, aku dan dia masih kelas satu! Oh, dan aku memainkan alat musik bass disini."
"Aku bermain gitar, salam kenal, Tsukishima-san." Ucap Mikado
"A-aku Tsukishima, kelas 1 juga, baru pindah ke sekolah ini kemarin, salam kenal.."
"Salam kenal, Tsuki-chu! Aku Erika. Aku bermain drum disini~" Erika menjabat tangan Tsukishima, dengan mata yang berbinar-binar. "Oh iya, Roppi-kuun!" Erika menoleh dan berjalan ke arah seorang lelaki dengan rambut pendek berwarna hitam pekat—juga mata yang berwarna merah seperti darah. "Kenalkan dirimu juga, dong!"
Tsuki menatap lelaki itu sejenak—lelaki yang memakai furcoat dengan bulu berwarna merahdi luar seragam sekolahnya, entah itu melanggar aturan sekolah atau tidak. Lelaki itu hanya membuang nafas ketika Erika mulai berbicara panjang lebar, memarahinya. Dia terlihat tidak peduli, dan terus memasang ekspressi dinginnya itu.
Tapi, ketika lelaki itu mengalihkan pandangannya—membuat mata Tsukishima dengannya bertemu, Tsukishima merasa—ada yang berbeda. Entahlah, seperti, sebuah musik yang rasanya kau kenal, tapi tidak kau ketahui apa judulnya, dan dimana kau pernah mendengarkannya. Seperti rasa nostalgia dan rindu.
"Berisik, Erika! Kalau aku memperkenalkan diriku sekarang, kau akan diam?"
"Tidak janji, sih~ tapi aku akan berhenti memarahimu!"
"Eurgh.. semua manusia sama saja, menyebalkan." Iris Scarlet lelaki itu menusuk, seperti menerobos masuk ke dalam iris Scarlet milik Tsukishima. Warna mata yang sama, seperti tercampur dan berpadu menjadi satu kesatuan. "Namaku Orihara Hachimenroppi. Panggil saja Roppi. Aku kelas 3. Aku vocalist disini."
'Aah, dia kakak kelasku, ternyata..' ucap Tsukishima dalam hati
"Salam kenal, Roppi-senpai.."
"Nah, sekarang, kita semua resmi mendapatkan satu anggota lagi!" Kida melingkarkan lengannya pada bahu milik Tsukishima. "Kau bisa bermain musik apa, Tsuki-kun?"
"A-aku.." Tsukishima mengambil beberapa kertas dari tas selempangnya. "Aku bisa bermain piano, bernyanyi, dan membuat lagu.."
"Membuat lagu? Hebat!" Mikado melihat isi dari kertas-kertas yang Tsukishima keluarkan tadi. "Kau pintar memilih nada dan kata-kata. Sejak kapan kau suka menulis lagu?"
"A-ah, tidak.. aku menulis lagu secara spontan, kalau aku menemukan kata-kata yang tepat atau nada yang tiba-tiba terpikirkan, langsung akan kubuat lagunya."
'Hmm, seorang musisi alami, ya?' Ujar Roppi di dalam hati. Diam-diam, ia ikut memperhatikan juga isi dari lagu-lagu yang Tsukishima buat. Matanya menangkap satu buah lagu yang masih baru separuh jadi, berjudul 'Our Bitter Sweet Melody'. Roppi mencoba membaca nada-nada yang ada, berusaha membayangkan seperti apa jadinya jika lagu itu dimainkan.
"Lagu ini," Roppi mengambil kertas lagu itu dari tangan Tsuki, membuat Tsuki sedikit kebingungan. "Mainkan lagu ini. Kau bisa pakai piano di sudut ruangan."
"E-eh?" Tsukishima cengo beberapa saat, sampai akhirnya ia ditegur kembali oleh Roppi. "Tunggu apa kau, cepat mainkan!"
"Ba-baik!"
Tsukishima pun dengan cepat berjalan ke arah piano yang tertata rapi itu. Tak ada debu, dan walau jarang digunakan, sepertinya dirawat dengan begitu baik. Tsukishima menekan satu per satu tuts piano itu, dan perlahan jarinya mulai membentuk sebuah melodi.
Just like a bird,
I want to fly and be free.
Seluruh orang di dalam ruangan itu tertegun sesaat, dan perlahan perasaan takjub muncul dalam hati mereka. Suara yang lembut namun begitu penuh emosi, jari yang dengan lihainya membentuk nada-nada yang unik..
Mereka seperti melihat sosok asli dari Tsukishima.
Pure like an Angel,
So Innocent like a harmless kids.
I want to touch you,
But I don't want you to be hurt, to be lonely, to be sad.
I want to keep that pureness of yours,
Forever.
'Tunggu, lagu ini—' Roppi menangkat satu alisnya. Rasanya ia pernah mendengarnya entah dimana, tapi—
"KAU DITERIMA!" Erika—dengan senyum yang lebar, melompat ke arah Tsukishima dan mencekik—maksudnya, memeluknya dengan erat. "KAU PANTAS MASUK KLUB MUSIK!"
"A, Ano, Erika-senpai, Na.. nafas—"
"ERIKA-SENPAI, JANGAN BUNUH JUNIOR YANG BARU SAJA MASUK!"
'Hmm.. mungkin hanya perasaanku saja..'
.
.
.
Tsukishima membuang nafas. Ia meletakkan pensil mekanik yang sedari tadi ia pegang, bersiap untuk menulis kelanjutan dari lagu yang sedang ia buat—namun, nol besar. Di otaknya tidak ada ide sama sekali, padahal ini sudah hari ke 7 ia bergabung dengan klub musik. Ia pikir dengan bergabung klub musik—ia bisa mendapatkan apa yang ia butuhkan; Inspirasi.
GRAAK! Suara Pintu yang digeser menandakan bahwa salah satu anggota klub sudah tiba. Tsukishima mengalihkan pandangannya, dan melihat sosok Roppi yang sedang berdiri dengan wajah yang masam.
"Uhm.. Konnichiwa, Roppi-senpai."
Roppi mengerutkan dahinya, menandakan bahwa ia tak mood untuk menjawab. Namun ketika matanya melihat kertas yang sepertinya baru ditulis oleh Tsukishima—"Kau menulis lagu baru?"
Tsukishima tak diberi kesempatan menjawab, karena Roppi sudah terlebih dahulu mengambil kertas itu dari atas meja.
"Aku.. belum memikirkan kelanjutan dari liriknya.."
Roppi menggerakkan bola matanya. Ke atas, ke bawah, mengamati tiap kata dari lirik lagu tersebut. Ia mencoba mengingat nada-nada dari tiap bait, dan mulutnya pun bergerak secara tiba-tiba.
"This is our bitter sweet melody.
Your pureness, and My unforgiveable sin,
They can not be together.
There's a huge wall between us,
I can't reach you no matter what."
Bola mata Tsukishima membesar. Bohong, hanya dari mengingat nada saja, ia bisa membuat kelanjutan lirik yang pas!
"Hebat, Roppi-senpai! Ah—aku harus mencatatnya sekarang!"
Roppi hanya menatap Tsukishima yang dengan antusiasnya mencatat tiap lirik yang tadi ia nyanyikan. Roppi merapatkan mulutnya.
Ternyata benar, pikir Roppi. Lagu ini memang pernah ia dengar sebelumnya. Lirik yang baru ia nyanyikan tadi—bukan lirik yang secara tiba-tiba muncul di otaknya. Lirik itu memang sejak dahulu ada.
"Lagu itu bukan ciptaanmu, bukan?"
Tsukishima kehilangan wajah antusiasnya dan berhenti menulis. Matanya menatap Roppi yang sedikit memasang raut kesal.
"Eh..?" Tsukishima menatap penuh tanya. Lagu ini dibuatnya sekitar tiga bulan yang lalu—dia tidak ragu akan hal itu. Tapi kenapa.. "Tidak, lagu ini.. aku yang buat.. sekitar 3 bulan yang lalu.." Ucap Tsukishima tanpa ragu
"Kau tidak berbohong, aku tahu dari kata-kata dan sorot matamu. Tapi aku tahu lagu ini sejak dulu!" Ucap Roppi sedikit membentak. "Kau—dari mana kau tahu nada-nada ini, juga lirik lagu ini?"
Banyaknya pertanyaan di kepala Tsukishima saat ini, mungkin sama besar dengan rasa cinta Izaya Orihara pada manusia.
"Aku—menemukan kertas yang berisi tulisan dan lirik ini, di laci kamarku! Aku tidak tahu apa-apa, sebegitu pulang dari rumah sakit setelah koma, aku tiba-tiba menemukan—"
"-Tunggu. Kau.. koma?"
.
.
.
Tsukishima Heiwajima membuka matanya. Dimana? Siapa? Kenapa aku disini?
Ia menggerakkan kepalanya ke samping perlahan, terasa berat dan begitu kaku. Sudah berapa lama ia terbaring—entahlah, Tsuki hanya ingin tahu sudah berapa lama ia menutup mata. Tsuki menangkap bentuk kalender yang tergantung di tembok putih.
"...Tahun.. 2012?"
Tsuki mencoba mengingat kembali—kenapa ia bisa ada disini, dan kenapa ia bisa terbaring begitu lama—
"Tsuki, kau akhirnya sadar!" sosok seorang lelaki dengan bola mata berwarna magenta, tersenyum dan memeluk sosok lelaki bertubuh kecil itu. Tsukishima menatap lekat sosok yang memeluknya—oh, Delic.
"Delic nii-san.. kenapa aku bisa ada disini? Berapa lama aku sudah tertidur?"
"Kau tidak ingat?" Tsuki menggelengkan kepalanya pelan. "Kau tertabrak mobil, lalu terlempar cukup jauh—kepalamu terbentur keras, keajaiban sekali kau bisa selamat. Tapi karena itu, kau jadi koma—kira-kira, selama 4 tahun. Dan sepertinya, kau kehilangan beberapa ingatanmu juga.."
Kehilangan beberapa ingatan. Pantas saja, Tsuki sedikit sulit mengingat banyak hal—sepertinya hanya beberapa hal yang masih ia ingat dengan jelas. Soal Delic, Shizuo, orang tuanya, dan teman-temannya ia sepertinya masih ingat—
'Tsucchan!'
"...Eh?"
"Kenapa, Tsuki? Kau merasa kesakitan? Atau—"
"Tidak, tapi tadi rasanya, aku mengingat sesuatu.."
Suara tawa seorang lelaki—tidak, dia masih kecil. Kertas yang ditulis dengan hal yang tak bisa diingat, melodi yang dilantukan dengan samar—
Mata berwarna merah yang sedikit dingin dan kasar.
"Apa.. yang aku telah lupakan...?"
.
.
.
"Hee... jadi, Tsuki, seharusnya kau sudah lulus dari 4 tahun lalu, ya?"
Erika, dan juga anggota klub musik lainnya—yang sudah tahu soal Tsukishima yang koma selama 4 tahun, kini mengerumuni Tsuki bagaikan semut.
"Um, begitulah... mungkin disini aku yang paling muda dalam angkatan—namun dalam umur, kalian semua jauh lebih muda dibanding diriku."
Roppi memperhatikan gerak-gerik Tsukishima dari sudut matanya. Ternyata, benar—dia, Tsukishima, seharusnya sudah tahu lagu itu semenjak dahulu. Namun ganjal sekali karena Tsukishima tiba-tiba mengatakan kalau liriknya belum selesai sepenuhnya.
'Ternyata, kecelakaan itu membuatnya lupa soal aku, ya?'
Roppi—yang tidak tahu harus berbuatdan berkata apa, meninggalkan ruangan tanpa diketahui siapapun—kecuali Tsukishima. Tsukishima menatap pilu sosok Roppi dari balik kaca mata nya, dan meminta waktu untuk pergi sebentar kepada Erika dan yang lainnya.
Kemana?
Tentu saja, ia mengejar sosok Roppi yang sedari tadi bersikap aneh.
.
.
.
"Kamu menangis?"
Lelaki dengan rambut gelap itu tak mengangkat wajahnya. Ia hanya melihat siapa yang bertanya dari sudut matanya. Seorang lelaki—membawa buku catatan dan juga satu buah pena, dengan scarf di lehernya dan juga kacamata cukup tebal yang memantulkan cahaya.
"Kau sedih? Atau ada yang menyakitimu?" Lelaki itu duduk di samping orang asing yang sedang menangis. Orang asing itu mengangguk, dengan suaranya yang kecil, ia menjawab. "Aku benci semuanya. Aku benci manusia. Ayah dan ibuku bahkan mengatakan bahwa aku tak pantas untuk lahir."
Lelaki berkacamata itu tertegun. Pasti sakit sekali, dikatakan seperti itu oleh orang tua sendiri.
"Hey, jangan menangis.. setidaknya, aku merasa kau pantas untuk lahir!"
"Kau tahu apa?" Jawaban yang kasar. "Kau bahkan baru menyapaku beberapa menit lalu!"
"Aku mendengarkanmu bernyanyi, sebelum kau menangis." Potong lelaki itu. "Suaramu indah—Tuhan pasti begitu menyayangimu, Tuhan ingin kau lahir dan membuat orang lain bahagia mendengar suaramu yang indah."
Isakan tangis yang terhenti. Lelaki itu mengangkat wajahnya—membuat mata mereka yang memiliki warna sama bertemu.
"Namamu siapa?"
"Eh-?"
"Namamu!"
"Tsu, Tsukishima! Heiwajima Tsukishima.."
"Aku Hachimenroppi Orihara. Panggil saja aku Roppi."
"Ba, baiklah.. Roppi-san.. ya? Kau boleh memanggilku—"
"Tsucchan. Aku mau memanggilmu Tsucchan. Boleh, 'kan?"
.
.
.
"Roppi-senpai...?" Tsukishima memanggil pelan Roppi yang sedang bersandar pada batang pohon. "Kau menangis?"
"...Bodoh, kau mengulang kejadian yang sama untuk kedua kalinya..?"
"Eh?"
"Sudahlah." Roppi memalingkan wajahnya. "Semua manusia sama saja. Termasuk kau."
"Aku membenci manusia. Semuanya."
"Tapi menurutku, kau pantas untuk hidup."
"Roppi-san, kau pantas untuk hidup.."
"H-hah?"
"Eh—m-maaf! Tadi, tadi, mulutku yang bergerak sendiri—entah kenapa..."
"Kau benar-benar tidak ingat? Tentang aku, lagu itu, semuanya?"
This is our bitter sweet melody.
I'm calling for your name, as you slowly disappear.
Wishing that my voice could reach you..
Sebuah ingatan yang tersegel.
"Aku... tidak, lirik lagu ini.."
Your eyes, your voice, everything..
Don't seal them.
I want to make it mine.
"...Aku pernah menulisnya, lirik lagu ini.."
"Tsucchan, lagu ini milik kita berdua, 'kan?"
"Un! Karena aku membuatnya untukmu!"
"Anak kecil.. yang menangis waktu itu?"
Roppi berhenti bernyanyi. Matanya menatap Tsukishima yang memegangi dahinya, seperti berpikir—atau mungkin, mengingat sesuatu?
"Roppi...chan?"
"Aku ingin memanggil Roppi-san.. 'Roppi-chan'. Boleh?"
"Tsucchan..?"
.
.
.
"Nah, katanya, itulah asal mula dari lagu ini!" Mika tersenyum dan menoleh ke arah sahabatnya, Anri, yang sedari tadi mendengarkan Mika seru becerita. "Romantis, bukan? Dua pasangan yang awalnya saling melupakan, lalu mereka mengingatnya lagi!"
"Hmm.. iya, sih. Tapi.. sekarang, apa dua pencipta lagu ini masih hidup?"
"Kalau soal itu, aku tidak tahu—ini lagu lama, sih. Lagu ini keluar sekitar 50 tahun yang lalu. Makanya mencarinya susah!"
"E-eeh? Sudah selama itu? Kalau begitu—pencipta lagu ini kemungkinan sudah tua, ya."
"Sepertinya begitu, tapi entah kenapa.." Mika tersenyum, dan menatap dua sosok lelaki separuh baya yang duduk bersama di sebuah bangku taman. "Aku merasa, mereka akan terus bersama selamanya!"
I'll break my promise, I'll destroy everything, I'll do anything for you, to be with you.
Because I want to continue,
This Bitter Sweet melody with you,
Until the end.
.
.
.
The End
