Headnote: Yup, arti sandi morse di final chapter adalah 'epilog soon'. So, here it is.

Author's alert [!]

Poorly written, drama picisan, jalan cerita mudah ditebak, don't like don't read, leave before you get dissapointed.

.


Love Unconditionally

EPILOG

.


"I, ini aku.. Baekhyun.. Byun Baekhyun"

Chanyeol mengenyit, tidak ada tanda-tanda kalau dia mengenali Baekhyun, malah melemparkan tatapan yang menyiratkan kalimat 'Siapa wanita asing ini?'

"Sekretaris Kang, apa kau kenal dengannya?" Chanyeol bertanya pada sekretaris Kang yang berdiri di belakang Baekhyun.

Baekhyun menoleh ke belakang dengan tatapan pilu, sorotannya redup namun penuh tanda tanya seolah meminta penjelasan atas apa yang telah terjadi pada Chanyeol akibat kecelakaan itu. Raut wajah Sekretaris Kang malah tidak terlalu terkejut, seperti sudah menduga hal ini akan terjadi.

"Nona Byun, mari ikut saya keluar. Silahkan tuan muda istirahat kembali, maaf sudah mengganggu"

Baekhyun menatap sendu ke Chanyeol untuk yang terakhir kali sebelum mengikuti orang kepercayaan keluarga Park itu yang mengajaknya keluar.

"Maaf sebelumnya karena saya tidak memberitahu nona mengenai kondisi tuan muda yang sebenarnya," sekretaris Kang memulai penjelasannya.

"Dokter sudah melakukan pemeriksaan dan analisis terkait dampak cidera yang dialami tuan muda pasca kecelakaan, secara fisik tuan muda memang terlihat baik-baik saja. Namun ternyata ada efek lain yang diakibatkan benturan keras di kepala saat kecelakaan terjadi. Hal ini memang hanya diketahui oleh pihak keluarga saja, tapi saya kira nona juga berhak tahu. Saya sudah membuat janji dengan dokter yang menangani tuan muda agar beliau saja nanti yang menjelaskannya secara detail kepada nona. Sekarang ayo kita ke ruangannya"

Baekhyun mengangguk pasrah, menahan air matanya yang sudah terbendung untuk tidak tumpah selama perjalanannya menuju ruang dokter yang bertanggung jawab atas perawatan Chanyeol.

"Ah, tuan Kang ya, silahkan" sambut si dokter yang sudah menunggu.

Sekretaris Kang masuk kemudian diikuti oleh Baekhyun.

"Dokter Lim, bisa tolong anda jelaskan kembali mengenai kondisi tuan Chanyeol?" pinta sekretaris Kang begitu ia dan Baekhyun sudah duduk berhadapan dengan sang dokter.

Dokter Lim menatap sangsi dua orang dihadapannya, lebih tepatnya ditujukan ke Baekhyun, "Maaf tuan Kang, tapi apakah nona ini bagian dari keluarga pasien? Karena tuan dan nyonya Park meminta saya untuk tidak—"

"Beritahu saja dokter, saya turut menjamin kerahasian informasi itu bersama dengan nona ini" sekretaris Kang berusaha meyakinkan.

Dokter Lim terdiam sesaat hingga akhirnya ia mengambil sebuah sebuah folder yang berisi medical record milik Chanyeol dari tempat folder pasien yang ditanganinya.

"Baiklah, dengan nona..?"

"Byun"

"Nona Byun, terlepas apakah anda bagian dari keluarga Park atau tidak, saya harap anda bisa menjaga kerahasiaan informasi mengenai kondisi kesehatan tuan Chanyeol dari siapapun kecuali atas izin keluarga pasien"

"Ya dokter.." Baekhyun mengangguk lemah.

Dokter Lim membuka folder tersebut dan mulai menjelaskan,

"Saya akan langsung memberitahu dampak paling krusial yang dialami oleh pasien, kondisi fisik dapat segera dipulihkan dengan perawatan intensif, tapi tidak dengan yang satu ini."

Baekhyun menelan ludah, apapun yang akan dijelaskan nanti ia harus menyiapkan hati.

"Tuan Chanyeol menderita retrograde amnesia atau hilang ingatan sebagai akibat dari kerusakan otak pada bagian hippocampus yang berkapasitas untuk menyimpan ingatan baru. Amnesia ini disebabkan oleh cranial trauma seperti benturan keras pada kepala yang dialami saat kecelakaan."

Baekhyun meremas ujung lengan cardingan yang dipakainya, dadanya berkecamuk, pertahanannya hampir runtuh namun ia tahan.

"Tapi pada kasus ini ingatan penderita tidak sepenuhnya hilang karena semantic memory atau ingatan jangka panjang yang berisi fakta, konsep atau informasi general tidak terpengaruh. Lain halnya dengan episodic memory, ingatan mengenai peristiwa atau pengalaman hidup yang terkena dampak cukup parah sehingga menyebabkan terjadinya memory loss.

Tidak ada rentang waktu yang pasti namun penderita akan kehilangan ingatan terhadap peristiwa yang belum lama terjadi menjelang kecelakaan, seperti informasi yang baru diketahui atau seseorang yang belum lama dikenal. Bahkan penderita tidak mampu mengingat kecelakaan penyebab amnesia yang dideritanya"

Hilang ingatan pada seseorang yang belum lama dikenal.. Baekhyun mengulang dalam hati dan menyadari dirinya termasuk salah satu diantaranya.

"Saya sudah melakukan pemeriksaan dan tuan Chanyeol masih dapat mengingat anggota keluarganya meski tidak mampu mengingat kecelakaan itu"

"Dokter, apakah ingatan yang hilang itu... bisa pulih tidak peduli berapapun lamanya?" tanya Baekhyun dengan sisa-sisa harapan yang ada.

Dokter Lim menghela nafas, menatap Baekhyun simpati sebelum menjawab, "Kemungkinan ingatan tersebut akan kembali sangatlah kecil, karena jalur neural dari ingatan baru tidak sekuat ingatan lama yang telah tersimpan dalam otak kecil lebih lama dan diperkuat dengan proses retrieval atau mengingat kembali selama bertahun-tahun. Intinya, ingatan lama masih dapat diselamatkan sedangkan ingatan baru.. hampir sama sekali tidak ada harapan."

Bagai debu yang tertiup angin, musnah sudah sisa harapan yang ia miliki sekarang. Chanyeol tidak akan ingat siapa Baekhyun. Bukankah begitu akhirnya?


~L.U~


"Silahkan diminum nona" sekretaris Kang menyodorkan sebotol air mineral pada Baekhyun tidak lama setelah keluar dari ruangan dokter, bermaksud menenangkan karena Baekhyun tidak bersuara lagi sejak pertanyaan terakhir yang diajukannya pada Dokter Lim dijawab dengan mutlak.

"Terima kasih.." Baekhyun mengambil botol air yang diberikan dan sedikit meminum isinya.

"Saya turut prihatin, semoga nona bisa bersabar. Mari kita berdoa semoga keajaiban bisa terjadi dan ingatan tuan muda bisa pulih kembali."

"Ya, semoga.."

"Ehm maaf, bisa nona tunggu disini dulu? Saya ada perlu sebentar, tidak akan lama"

Baekhyun hanya mengangguk dan seperginya sekretaris Kang dari sana, pertahanannya runtuh seketika. Batinnya terus bertanya, kenapa takdir begitu kejam seperti ini? Mengapa kecelakaan itu terjadi pada Chanyeol disaat mereka baru mau memulai? Tidak pantaskah dirinya merasakan kebahagiaan walau sebentar? Dalam waktu semalam, impian dan harapannya hancur tak bersisa karena musibah yang menimpa secara tak terduga.

"Agasshi!"

Suara nyaring yang terdengar familiar itu memanggil. Baekhyun buru-buru menyeka air matanya lalu menoleh, dua anak kecil tengah berlari ke arahnya.

"Chanlie, Hyechan.."

Baekhyun bangkit dari duduknya untuk menyambut si kembar, sedikit merendahkan posisinya agar dapat langsung memeluk keduanya sekaligus.

"Agasshiii.." ucap mereka berbarengan saat berhasil memeluk leher Baekhyun erat seperti bayi koala kembar.

Baekhyun juga tidak kalah erat mendekap dua anak itu, seminggu lebih ia tidak bertemu dengan mereka rasanya seperti sudah lama sekali.

"Syukurlah agasshi akhirnya bisa datang.." Chanlie melepas pelukannya kemudian berucap lega.

"Agasshi habis menangis?" Hyechan bertanya polos sambil menghapus sisa air mata di pipi Baekhyun dengan tangan kecilnya.

"Tidak, agasshi hanya sedang sakit" bohong Baekhyun sembari memaksakan senyuman.

"Agasshi sudah bertemu dengan daddy?" tanya Chanlie.

"Sudah tadi, hanya sebentar"

"Ya sudah kalau begitu ayo kita temui daddy lagi," Hyechan menarik-narik Baekhyun yang ragu, "Daddy pasti juga ingin bertemu agasshi dan berbicara lebih lama karena kemarin-kemarin halmeoni selalu melarang kami menyebutkan nama agasshi kalau bertemu daddy"

Baekhyun terdiam, sebegitu dibencinya kah ia sampai nyonya Park bertindak seperti itu?

"Apa agasshi masih takut dengan halmeoni? Tenang saja, halmeoni sedang istirahat di rumah" Chanlie meyakinkan.

Baekhyun bingung menjawabnya, apa ia perlu memberitahu kalau daddy mereka masih mengingat siapapun kecuali dirinya?

"Daddy kalian harus beristirahat, sebaiknya agasshi pulang saja"

"Memangnya agasshi pernah melakukan kesalahan apa? Apa benar daddy kecelakaan karena agasshi? Kenapa bisa begitu? Padahal kan agasshi waktu itu sedang tidak bersama daddy. Ayo kita bicarakan bersama daddy untuk memberitahu halmeoni supaya jangan marah lagi pada agasshi" Hyechan tetap memaksa.

Baekhyun beralih menatap sekretaris Kang meminta pertolongan.

"Mari kita kembali ke ruangan tuan muda" ucap sekretaris Kang yang malah bertentangan dengan keinginan Baekhyun.

"Ayo agasshi" kini Chanlie dan Hyechan malah menarik kedua tangannya untuk mengikuti sekretaris Kang yang sudah jalan lebih dulu.

Setelah sudah tiba di depan ruang rawat Chanyeol, Baekhyun semakin segan untuk masuk. Sekretaris Kang menghampiri lalu berucap pelan, "Sebentar saja nona, anak-anak tidak bisa terus dibiarkan tidak tahu"

Ada benarnya juga. Selain itu feelingnya mengatakan ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Chanlie dan Hyechan, jadi memang sebaiknya mereka tahu keadaan yang sebenarnya.

Akhirnya Baekhyun pasrah diseret oleh dua anak kecil itu.

"Daddyyyy" seru Chanlie dan Hyechan menghampiri ayah mereka.

"Kids!" wajah Chanyeol langsung cerah melihat si kembar datang. Chanlie dan Hyechan langsung merapat ke sisi hospital bed, Chanyeol menggunakan sebelah tangannya yang tidak tersangga armsling untuk merangkul kedua anaknya sekaligus lalu mencium puncak kepala mereka satu persatu.

"Agasshi, sini!" Hyechan mengisyaratkan Baekhyun untuk mendekat.

"Kalian kenal dengannya?" tanya Chanyeol heran karena anak-anaknya mengenal perempuan yang tadi sempat mengunjunginya sebentar.

"Daddy bagaimana sih, ini kan Byun-agasshi" seru Hyechan.

"Byun.. agasshi?"

"Iya, masa daddy tidak ingat" Chanlie menimpali.

Chanyeol menatap Baekhyun lama, cukup intens hingga suasana malah jadi hening. Tatapan itu diakhiri dengan gelengan pelan, "Tidak. Daddy tidak ingat pernah kenal dengan agasshi itu"


~L.U~


"Hilang ingatan? Tapi daddy masih bisa mengenali aku, Hyechan, harabeoji, halmeoni dan semuanya. Kenapa hanya tidak ingat agasshi?" Hyechan bertanya ketika Baekhyun menjelaskan dengan kalimat sesimple mungkin agar dapat mudah dimengerti oleh mereka.

"Karena daddy baru kenal dengan agasshi, sementara ingatan daddy yang hilang itu tentang segala sesuatu yang baru ia kenal atau ketahui"

"Apa daddy bisa sembuh?" kali ini giliran Chanlie.

Baekhyun berharap keajaiban dapat terjadi sehingga Chanyeol dapat mengingatnya lagi. Tidak harus semuanya yang telah mereka lakukan dan lalui, ingat bahwa ia pernah mengenal Baekhyun sebagai sekretaris yang merangkap sebagai personal assistantnya saja sudah cukup. Tidak seperti saat ini dimana Chanyeol memandangnya sebagai orang asing yang tidak ia kenal.

"Agasshi.. tidak tahu.."

"Apa tadi agasshi menangis karena ini?" tanya Hyechan tepat pada sasaran.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya, cairan bening mulai menggenang lagi di pelupuk matanya yang kini bertatapan dengan mata bening milik Hyechan.

"Agasshi jangan sedih.." tiba-tiba Hyechan yang sedang berdiri sedikit berjingkat memeluk Baekhyun yang duduk dihadapannya.

Baekhyun memejamkan mata, menyebabkan buliran itu jatuh tanpa bisa ditahan.

"Kata daddy anak perempuan tidak boleh cengeng, nanti cantiknya hilang" Hyechan melepas pelukannya lalu mengusap air mata Baekhyun menggunakan tangannya.

Mendengar Hyechan berbicara layaknya orang dewasa Baekhyun jadi tersenyum, Chanyeol benar-benar mendidik anak-anaknya dengan baik meski tanpa bantuan seorang istri.

"Nona.." sekretaris Kang yang sedaritadi hanya menyaksikan memberikan saputangannya.

"Terima kasih.." Baekhyun menerima dan menggunakannya untuk mengelap tangan Hyechan lebih dulu yang basah karena air matanya sebelum ia gunakan untuk menyeka sisa air matanya sendiri.

"Bagaimana kalau kita ulangi saja dari awal? " Chanlie memberi usul, "Agasshi kita kenalkan lagi dengan daddy, kita juga bantu daddy supaya bisa ingat lagi dengan agasshi. Bisakah?"

"Tidak bisa sayang, saat ini biarkan daddy istirahat dan dirawat sampai pulih dulu, jangan memberinya beban apa-apa" Baekhyun mengelus kepala Chanlie memberi pengertian.

Baekhyun melihat ke arah jendela yang memperlihatkan langit sore diluar sana yang mulai berubah jingga menjelang matahari tenggelam. Merasa tidak memiliki keperluan apa-apa lagi ia memutuskan untuk pamit pulang, namun anak-anak memaksa agar Baekhyun pulang bersama mereka. Akhirnya Baekhyun menyetujui dan pulang diantar oleh supir keluarga Park.

Perjalanan dari rumah sakit menuju apartemen didominasi suasana hening dalam mobil, hanya sayup-sayup bunyi kendaraan diluar sana yang terdengar. Chanlie dan Hyechan berposisi merapat di sisi kiri dan kanan Baekhyun yang merangkul mereka. Hyechan memainkan jemari lentik Baekhyun sementara Chanlie bersandar saja sambil menatap kosong keluar jendela.

Setelah sampai di depan gedung dan berterima kasih dengan supir ahjussi, Baekhyun memeluk si kembar erat lalu menciumi kedua pipi mereka. Entahlah, firasatnya mengatakan kalau ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Chanlie dan Hyechan sebelum ia harus pergi.

"Jadilah anak-anak yang baik, jaga daddy selama ia sakit dan terus berdoa untuk kesembuhannya, oke?"

"Iya agasshi" mereka mengangguk bersamaan.

"Selamat bertemu lagi" Baekhyun tersenyum miris, entah kapan ia akan berjumpa lagi dengan anak-anak setelah ini.

Lalu ia turun dari mobil, melambaikan tangan pada si kembar yang mengeluarkan kepala mereka dari jendela yang juga melakukan hal serupa. Baekhyun baru masuk setelah mobil yang mereka tumpangi hilang di tikungan. Seketika dadanya terasa sesak, lebih menyakitkan daripada saat pertama kali ia berkunjung ke rumah sakit dimana nyonya Park mempermalukannya secara telak dihadapan tuan Park dan Seohyun.

Setelah ini ia berencana akan pergi dari sini, kembali ke Busan dan melupakan semuanya. Baekhyun sedang melangkah gontai menuju apatementnya setelah keluar dari lift ketika mendengar seseorang memanggil,

"B!"

Baekhyun mengangkat kepalanya yang semula tertunduk, "Eonni.."

Luhan langsung menghampiri dengan raut cemas yang terlihat jelas di wajah cantiknya, "Aku mengkhawatirkanmu, makanya aku sengaja pulang cepat dari butik dan langsung kesini sekalian membawa makan malam. Where have you been? You okay?"

Baekhyun menggeleng, air matanya mulai menggenang lagi, tatapan sendunya seolah mengatakan, 'No, I'm totally not okay'

Tangis Baekhyun langsung pecah ketika Luhan memeluknya.

.

Is it still called 'love' when it suddenly crash you hard to the ground and gave such unbearable pain after brought you too high till zero gravity?

.


~L.U~


"Kau habis darimana?" tanya Luhan memulai pembicaraan ketika Baekhyun sudah sedikit lebih tenang.

"Rumah sakit, menjenguk Chanyeol.."

"Oh, kau sudah bertemu dengannya? Bagaimana kondisinya sekarang?"

"Dia.. sehat" dan tidak mengingat siapa aku.

"You should've happy for that, tapi kenapa kau begitu sedih, B?"

Because everything is messed up and I can't fix this broken state of my self.

"Eonni, aku ingin menetap lagi di Busan" ucap Baekhyun tiba-tiba.

"What?!" seru Luhan kaget, "Kenapa?"

"Aku.. sudah tidak memiliki kepentingan apa-apa lagi di sini, aku akan mencari pekerjaan di sana dan tinggal bersama keluargaku saja"

"Bukankah Chanyeol sudah memintamu kembali? Kenapa malah pergi lagi? Kalian sedang bertengkar?"

"Tidak eonni. Aku hanya ingin menata hidupku kembali di sana sekaligus ingin menjaga eomma" Baekhyun beralasan, membuat Luhan tambah curiga.

"Menata hidup? Bukankah keinginanmu sejak dulu ingin tinggal di Seoul? Kau sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan disini. Aku yakin ini ada hubungannya dengan Chanyeol ataupun keluarganya. Ceritalah ke eonni, B. Jangan dipendam sendiri"

Aku juga ingin menceritakan semuanya eonni, tapi tidak bisa. Baekhyun membatin.

"Maaf, aku tidak berhak untuk memberitahu eonni alasannya apa" Karena akar persoalan ini adalah kondisi Chanyeol yang mengalami amensia sedangkan Baekhyun sudah berjanji untuk tidak memberitahu mengenai hal itu kepada siapapun. Lain halnya nanti kalau Yifan sendiri yang tahu keadaan Chanyeol selain dari Baekhyun lalu memberitahu Luhan. Yang jelas Baekhyun berusaha menepati janjinya.

"Lalu bagaimana dengan Chanyeol? Kau sudah bilang padanya?" Luhan masih tidak terima.

"Chanyeol tidak ada urusan dengan hal ini"

"B, jangan kau pikir eonni tidak tahu kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu. Kenapa kau jadi tertutup seperti ini? Kau sudah tidak percaya dengan eonni lagi?"

"Bukan begitu, tapi aku memang tidak bisa memberitahu. Aku mohon eonni mengerti" pinta Baekhyun memelas.

"Baiklah.. eonni tidak akan memaksa lagi. Maksud eonni baik, B. Kau terlihat banyak pikiran dan menanggung beban yang berat. Tidak ada salahnya kan jika berbagi."

"Aku mengerti. Terima kasih eonni.."

"Jadi kapan kau akan pindah?"

"Besok aku akan mulai berkemas"

"Besok? Tidakkah terlalu cepat?"

Baekhyun menggeleng.

"Oke, beritahu eonni tanggal pastinya kau akan pergi. Biar eonni yang memberitahu Minseok dan Kyungsoo agar meluangkan waktu untuk mengantarmu"

"Iya eonni"


~L.U~


Luhan sudah memutuskan, jika Baekhyun belum mau menceritakan alasan pastinya, maka ia akan mencari tahu sendiri. Luhan punya rencana dengan meminta bantuan Yifan untuk menanyakan langsung ke Chanyeol ada apa sebenarnya, toh kondisinya saat ini sudah lebih baik. One simple question won't hurt, right?

Maka keesokan harinya, Yifan mendatangi rumah sakit namun sekretaris Kang malah mencekalnya.

"Maaf tuan Yifan, tuan muda sedang tidak bisa dikunjungi"

"Memangnya kenapa? Apa kondisinya memburuk?"

"Keluarga sedang tidak mengizinkan siapapun untuk menjenguk, mohon pengertian anda"

Seperginya dari rumah sakit, Yifan langsung menemui Luhan dan melaporkan apa yang terjadi.

"Aku heran, keluarganya Chanyeol jadi tertutup seperti itu. Kenapa semua orang jadi menyembunyikan sesuatu" keluh Yifan.

"Yah, kalau begini kita tidak bisa dapat informasi apa-apa. Padahal aku yakin sekali alasan utama Baekhyun ingin kembali ke Busan pasti karena Chanyeol. Rencana kita untuk mereka berdua bisa gagal.."

Yifan hanya menghela nafas, lalu ia teringat sesuatu, "Tunggu, mengenai paman Park yang waktu itu menitipkan maaf untuk Baekhyun karena perilaku bibi Park.. apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan perjodohan itu?"

Luhan mengernyit, "Maksudmu?"

"Bibi Park menjodohkan Chanyeol dengan Seohyun dan ketika Baekhyun datang ke rumah sakit saat Chanyeol kecelakaan itu dimana ada Seohyun juga disana.. apa yang dimaksud paman Park adalah perilaku bibi yang tidak menerima Baekhyun kalau dengan Chanyeol?"

"Ibunya Chanyeol tidak merestui hubungan Chanyeol dengan Baekhyun, begitu?"

"I guess.. bisa jadi alasan kenapa Baekhyun kemarin-kemarin selalu menghindar diajak ke rumah sakit untuk mengunjungi Chanyeol karena itu.."

"And something might be happened again when she came to the hospital yesterday. Could it be.. he dumped her?" Luhan berasumsi.

"Setahuku Chanyeol bukan tipe yang seperti itu. Tapi kalau memang dia melakukannya, kurasa aku dan dia perlu bicara"

Luhan memijat pelipisnya, "God, aku tidak mengira akan serumit ini"

"Me either. Berharap saja yang terbaik untuk mereka"

Sementara di lain tempat, Baekhyun sedang membereskan barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam box ketika bel pintu berbunyi. Ia melangkahkan kaki dengan sedikit terhuyung, kepalanya agak pusing, perutnya juga sakit. Sepertinya karena beberapa hari belakangan ini ia terlalu banyak pikiran sehingga makannya jadi tidak teratur dan kurang tidur.

Tanpa melihat melalui pipehole, Baekhyun langsung membuka pintu,

"Baek.."

"Kangjoon?"


~L.U~


Beberapa malam sebelumnya, Seohyun sedang dalam perjalanan pulang dari rumah keluarga Park setelah diberitahu selengkapnya secara pribadi mengenai kondisi Chanyeol yang ternyata mengalami gangguan ingatan. Wanita itu tertawa keras mengingat kejadian ketika nyonya Park menampar Baekhyun didepan matanya dan juga dihadapan tuan Park, ditambah lagi dengan keadaan Chanyeol yang ingatan

"Hahahahahaha! rasakan itu, jalang!" tawanya puas sembari menyetir mobil, "Keberuntungan memang selalu berpihak padaku, Seo Juhyun" ucapnya bangga.

Hilang sudah imej wanita high-class nan elegan yang selalu ia tunjukkan dihadapan orang. Kini ia bagaikan iblis bertanduk yang berkedok sebagai wanita dalam balutan gaun mahal serta tampilan berkelas. Mana peduli, toh ia sedang sendirian di dalam mobil, tidak tahan untuk meluapkan kegembiraannya. Karena dengan begini Chanyeol akam sepenuhnya jadi miliknya. Rencananya yang kemarin ternyata tidak gagal, hanya keberhasilannya saja yang sedikit tertunda.

Seohyun mengambil ponselnya, ia perlu menghubungi Kangjoon. Ini juga bisa menjadi kesempatan bagi lelaki itu untuk mendekati Baekhyun.

"Halo, Kangjoon. Aku punya berita baik untukmu!" serunya semangat.

"Berita baik apa?"

"Karena kecelakaan itu, sekarang Chanyeol amnesia!"

"Hah? Amnesia bagaimana?"

"Kau ini! Hilang ingatan, hilang ingatan! Chanyeol tidak akan mungkin mengingat Baekhyun sebagai orang yang pernah ia kenal. Kau ingat kan aku bercerita mengenai ibunya Chanyeol yang menampar Baekhyun waktu itu? Dia akan semakin terpuruk setelah ini dan sekaranglah saat yang tepat untuk mendekati Baekhyun-mu itu"

"A-apa? Kau serius?"

"Tentu saja! Mana mungkin aku bisa sesenang ini. Ya sudah, lakukan peranmu jika kau masih ingin mendapatkan perempuan itu"

"Hm.. baiklah.."

Pip.

Seohyun memutus sambungan. Aneh, pikirnya. Harusnya Kangjoon senang, tapi kenapa dia malah terdengar biasa saja? Ah, tidak peduli. Yang penting ia sudah memberitahu peluang yang ada, terserah jika Kangjoon ingin memanfaatkannya atau tidak.

~L.U~

Disinilah Kangjoon sekarang, mengunjungi apartement Baekhyun setelah mengumpulkan keberanian diantara rasa bersalah yang menghantuinya. Lelaki itu merasa ia perlu mengungkapkan semuanya. Mengakui keterlibatan dirinya dalam rencana jahat Seohyun untuk menyingkirkan Baekhyun dari kehidupan Chanyeol.

Karena bagaimanapun juga kecelakaan itu tidak akan terjadi kalau Chanyeol tidak menyusul Baekhyun ke Busan, Chanyeol tidak akan menyusul Baekhyun kalau rencana 'pencurian' proposal itu tidak dilakukan, dan proposal itu dapat sampai ke ShinHan karena campur tangan dirinya yang termakan bujukan Seohyun.

"Kau tampak tidak sehat," ucap Kangjoon memulai pembicaraan setelah ia dan Baekhyun duduk di sofa.

"Ya, aku memang merasa tidak enak badan," Baekhyun mengelus tengkuknya yang terasa lebih hangat dari suhu tubuh normal.

Wajah pucat, pipi tirus, mata sayu dengan lingkaran hitam dibawahnya, Baekhyun memang jauh dari kata baik. Kangjoon menduga ini akibat dari rangkaian kejadian sejak kecelakaan yang menimpa Chanyeol. Lalu ia melihat terdapat tumpukan box di sudut ruangan dan beberapa perabotan kecil yang sudah tidak ada ditempatnya seperti terakhir kali ia berkunjung kesini.

"Kau sedang membereskan barang-barangmu? Memangnya kau mau kemana?" tanya Kangjoon penasaran.

"Aku mau kembali ke Busan"

"Apa? Jadi kau tidak akan tinggal disini lagi?"

"Ya, aku akan mencari pekerjaan dan menetap disana saja bersama ibu dan adikku"

Kangjoon semakin merasa bersalah. Seharusnya ia tidak mengikuti ajakan Seohyun kalau akhirnya berdampak seperti ini pada Baekhyun.

"Apa ini karena Chanyeol yang amnesia?"

Baekhyun terkesiap, bagaimana Kangjoon bisa mengetahuinya?

"Semua ini berawal dari rencana Seohyun mengenai proposal itu" lanjut Kangjoon lagi. Baekhyun semakin dibuat bingung. Sekarang Kangjoon juga mengenal Seohyun bahkan mengetahui perihal proposal.

"Aku tahu, Seohyun mengatakannya langsung padaku. Tapi bagaimana kau bisa—"

"Proposal itu tidak akan berpindah tangan ke ShinHan tanpa ada campur tangan dariku, Baek"

Baekhyun berusaha mencerna penuturan Kangjoon barusan. Seohyun menjebak Baekhyun melalui masalah proposal itu, dan sekarang Kangjoon bilang proposalnya bisa sampai ke ShinHan karena dia. Apakah ini berarti..

"Tidak.." Baekhyun menggeleng pelan, tidak mungkin Kangjoon melakukan ini padanya. Bukankah mereka teman?

"Kangjoon.. kumohon katakan kalau kau tidak—"

"Maaf Baekhyun, aku menjadi bagian dari rencana itu. Aku sungguh menyesal kalau tahu begini jadinya, maafkan aku.." Kangjoon memelas.

"Ya Tuhan.." Baekhyun menutup wajah dengan kedua tangannya, terlalu banyak hal mencengangkan yang ia terima selama dua hari ini.

"Baek, aku benar-benar khilaf , aku sadar semua ini terjadi karena rencana itu—"

"Kenapa?" Baekhyun menyela, meskipun matanya berkaca, namun tatapannya tajam tertuju pada Kangjoon, nafasnya mulai tak beraturan menahan emosi.

"Karena.. karena aku belum mau melepaskanmu, aku masih mengharapkanmu.."

Baekhyun membuang muka, membiarkan air matanya jatuh menganak sungai di kedua pipinya. Ia hanya diam, tidak mampu berkata-kata lagi, sudah terlalu lelah dengan semuanya.

"Baek, katakan se—"

"Pergi" ucapnya dingin namun menusuk.

"Tapi kumohon maafkan—"

"Kubilang pergi" ulangnya, sedikit meninggi.

Kangjoon hanya pasrah, ia sudah mengira kalau Baekhyun tidak akan memaafkannya karena apa yang telah ia lakukan memang sudah kelewatan. Kangjoon merasa dirinya adalah seorang pengecut karena baru muncul sekarang dan mengaku. Pada akhirnya ia jadi tidak tega melihat Baekhyun yang hancur seperti ini.

Dengan berat hati bangkit dari sofa lalu meninggalkan apartement Baekhyun tanpa berucap apa-apa lagi.


~L.U~


Baekhyun merasa sudah jatuh terlalu dalam. Sangat terpuruk sampai merasa segala harapan dan impiannya musnah. Hancur tak menyisakan apapun selain rasa sakit hati dan kecewa. Tapi ia tidak boleh terlalu lama terlarut dalam kesedihannya. Sekarang sudah saatnya bangkit, harus menjadi seseoang yang lebih tegar meski itu tidak akan mudah. Baekhyun harap dengan kepindahannya ke Busan ia dapat memulai awal yang baru sambil sedikit demi sedikit melupakan apa yang sudah terjadi di Seoul. Tidak ada yang perlu disesali, tidak ada gunanya pula menyalahkan siapapun kalau keadaan tidak bisa kembali seperti semula. Jika memang takdirnya seperti ini, Baekhyun akan menerimanya.

"Kami akan sangat merindukanmu, Baek" ucap Minseok setelah melepas pelukannya.

"Kalau ada waktu datanglah ke Seoul lagi," Kyungsoo menimpali.

"Jaga dirimu ya, B" tambah Luhan.

Pagi itu, Luhan, Minesok, Kyungsoo mengantar sampai stasiun. Semua barang-barangnya sudah dibawa ke Busan lebih dulu dengan jasa pengirim, sekarang tinggal Baekhyun yang berangkat kesana.

"Terima kasih. Sampai bertemu lagi," Baekhyun melambaikan tangan sebelum naik.

Mereka bertiga belum tahu pasti alasan kepindahan Baekhyun yang bisa dibilang tiba-tiba itu. Hanya mampu menduga kalau ini ada kaitannya dengan Chanyeol yang sampai saat ini masih belum bisa ditemui.

"Aku masih belum rela Baekhyun pindah lagi ke Busan" Kyungsoo menggerutu.

"Seperti masih ada yang mengganjal ya," lanjut Minseok.

"Ya, memang ada sesuatu yang tidak kita ketahui tapi Baekhyun enggan memberitahu" Luhan berujar yakin.

Tidak lama kemudian kereta menuju Busan diberangkatkan, ketiganya hendak kembali dengan urusan masing-masing ketika seorang lelaki muncul sambil berlari, lalu berhenti tidak jauh dari Minseok, Luhan dan Kyungsoo berdiri. Nafasnya tersengal habis berlari seperti mengejar sesuatu. Lalu lelaki itu mengumpat mengetahui kereta yang baru saja berangkat meninggalkan stasiun Seoul.

Luhan memperhatikan sosok yang menurutnya tidak asing itu.

"Kangjoon ya?" tanyanya spontan.

Lelaki itu menoleh, "Ya, siapa?"

"Aku Luhan, teman sekaligus senior Baekhyun waktu SMA"

Kangjoon hanya mengerutkan dahi, merasa tidak kenal dengan wanita yang tiba-tiba memanggil namanya.

"Kau kesini mau menemui... Baekhyun?" tanya Luhan lagi.

"Iya, baru tahu kalau dia berangkat hari ini"

"Sayang sekali, keretanya baru saja berangkat"

Kangjoon tertunduk, "Bahkan ia belum sempat menerima permintaan maafku. Dia pindah karena kesalahanku juga"

"Kesalahanmu? Memang kesalahan apa?" Luhan jadi penasaran. Minseok dan Kyungsoo hanya saling bertukar pandang.

"Aku sudah bertindak jahat. meski kecelakaan itu terjadi dan Chanyeol mengalami... hilang ingatan"

"Apa? Hilang ingatan?!"

.


~L.U~


Sudah memasuki hari ketiga sejak Baekhyun tinggal kembali bersama keluarganya di Busan. Ibu Byun menyadari kalau ada yang janggal dengan keputusan putrinya yang tiba-tiba ingin menetap lagi di sana. Saat ditanya Baekhyun hanya bilang semuanya baik-baik saja dan beralasan tidak ingin lagi bekerja di Seoul dan memilih pulang.

Namun hari itu kondisi fisiknya malah semakin menurun. Padahal saat dari Seoul ia beberapa waktu lalu merasa sudah agak baikan, tapi sekarang kambuh dan lebih mengkhawatirkan. Kepala pusing, perut mulas dan mual, nafsu makan berkurang. Meski sudah meminum obat untuk masalah sistem pencernaan tapi gejala-gejala itu tak kunjung hilang.

"Sebaiknya periksakan ke dokter, Baekhyun-ah. Eomma khawatir pencernaanmu yang bermasalah" ibu Byun memberikan saran sembari memijit lembut leher bagian belakang Baekhyun.

"Ne, eomma. Nanti siang aku akan ke rumah sakit"

"Perlu eomma antar?"

"Ya sudah, ini diminum dulu selagi hangat agar mualnya hilang" ibu Byun mengambilkan cangkir berisikan teh jahe.

"Terima kasih eomma"

Setelah sedikit merasa lebih baik, Baekhyun pergi ke rumah sakit seorang diri, berharap semoga ia tidak menderita penyakit serius atau semacamnya. Kini ia sedang duduk di area tunggu, merenung sambil menanti namanya dipanggil.

"Nona Byun?"

Baekhyun mendongakkan kepala, bukan suara perawat perempuan yang bertugas memanggil pasien selanjutnya, melainkan suara seorang lelaki tinggi yang kini sudah berdiri dihadapan Baekhyun.

"Ya?" sahut Baekhyun merasa aneh karena tidak mengenal sosok itu.

"Ah, ternyata benar. Aku dokter Oh, yang waktu itu menangani nyonya Byun, masih ingat?"

"Oh,.. ya, aku ingat. Maaf sebelumnya karena tidak mengenali dokter"

Dokter Oh tersenyum maklum, kalau saja Baekhyun tidak sedang berjuang menahan sakit, mungkin ia akan terpesona karena ketampanan dokter yang usianya masih terbilang muda itu. Dia sedang tidak memakai jas putihnya,memperlihatkan kemeja lengan panjang berwarna putih dengan salah satu tangan menenteng tas kerja, sepertinya jadwalnya di rumah sakit ini sudah selesai.

Dokter Oh lalu mengambil tempat di sebelah Baekhyun, "Tidak apa-apa. Bagaimana kabar nyonya Byun?"

"Baik-baik saja, sudah beraktifitas seperti biasa tapi tidak boleh terlalu lelah"

"Hmm, syukurlah" dokter Oh mengangguk, lalu memperhatikan Baekhyun yang kelihatannya sangat jauh berbeda sejak terakhir kali mereka bertemu, "Anda sedang sakit?"

"Ya, begitulah.."

"Ke sini tidak ditemani siapa-siapa?" Baekhyun mengangguk.

Dokter Oh merasa kasihan melihat Baekhyun yang lemas dan pucat seperti itu. Bagaimana kalau tumbang di

"Baiklah, aku akan menunggu sampai selesai diperiksa lalu mengantar anda pulang—err, kalau tidak keberatan"

"Ah, tidak usah dokter. Bukankah dokter harus bekerja?"

"Tidak apa-apa, jadwaku disini baru saja selesai, akan ke rumah sakit lain jam 4 sore nanti. Lagipula anda terlihat sangat tidak baik,"

"Tapi—"

"nona Byun Baekhyun" suster muncul dari dalam ruang dokter.

"Ya" Baekhyun yang duduk tepat diseberang ruangan dokter langsung beralih dan menyahut.

"Silahkan," dan begitu melihat dokter Oh berada disana, suster itu menyapa, "Eh, dokter Oh bukankah jadwalnya sudah selesai?" well, saking banyak yang mengidolakan, tak sedikit suster di rumah sakit itu yang menghafal jadwal kerja si dokter muda.

"Ya, tapi aku mau menunggu nona Byun dulu" jawabnya.

Baekhyun ingin protes dan menolak lagi, tapi mengurungkan niatnya. Nanti saja kalau ia sudah selesai diperiksa.

"Hm, baiklah. Permisi, dok. Silahkan nona Byun" suster mendampingi Baekhyun masuk ke ruang periksa.

Dokter Oh menunggu dengan sabar, beberapa dokter dan perawat yang berseliweran tak pernah luput menyadari kehadirannya yang mencolok untuk kemudian menyapanya. Akhirnya Baekhyun keluar setelah hampir 30 menit diperiksa.

"Bagaimana?"

"Masih menunggu hasil tes, nanti akan dipanggil lagi. Dokter, sebaiknya anda pulang, aku takut merepotkan kalau diantar,"

"Memangnya kenapa? Nona Byun tidak percaya pada dokter Oh?"

"Bu,bukan begitu.."

"Sudah kubilang tidak apa, sungguh"

"Hngg.. baiklah. Terima kasih, dokter"

"Kalau aku sedang tidak memakai jas putih panggil Sehun saja, nama lengkapku Oh Sehun"

"Oh, okay.. Sehun. Sekali lagi terima kasih"

Tidak lama kemudian Baekhyun dipanggil lagi untuk masuk ke dalam. Sehun pun masih menunggu, namun tiba-tiba suster tadi keluar dengan panik.

"Dokter Oh! Tolong ikut masuk kedalam, nona Byun pingsan"

"Pingsan?"

Sehun langsung masuk dan melihat Baekhyun sudah tergeletak di lantai.

"Syukurlah, dokter Oh tolong bantu saya mengangkat nona Byun" pinta dokter Ahn yang seorang perempuan.

"Biar saya saja," Sehun menggendong Baekhyun bridal style lalu menempatnya di atas ranjang untuk memeriksa pasien.

"Dia kenapa?" tanya Sehun cemas sambil memeriksa denyut nadi di leher Baekhyun yang panas.

"Sebelumnya memang sudah kekurangan asupan nutrisi, nafsu makan terganggu karena mual. Jatuh pingsan begitu saja setelah mengetahui hasil tes kalau ia positif hamil"

Sehun tercengang bukan main, "H-hamil?"

.


Every story has an end. But in life, every end is a new beginning.

End of 'LOVE UNCONDITIONALLY'

March 19, 2016


.

A/N: Postingan tambahan akan dipublish secara terpisah paling lambat 7 hari dari sekarang.