-persembunyian Orochimaru-

"Kalian kemasi gulungan ini. Aku akan mengecek ruangan sebelah." Ucap Yamato saat mereka telah berhasil mendapatkan beberapa gulungan rahasi yang disembunyikan Orochimaru di berbagai ruangan.

"Sakura-chan.. Aku tau Sai sudah kelewatan tapi kenapa harus membiusnya?" tanya Naruto menatap Sai yang pingsan dan dikurung di dalam penjara kayu yang dibuat Yamato.

"Aku tidak percaya padanya. Dia terlalu aneh." Ucap Sakura santai.

"Aku tidak pernah melihatmu securiga ini terhadap orang." Ucap Sasuke menambahkan.

"Um.." jawab Sakura sekedarnya.

"Sudah semua?" tanya Yamato saat kembali setelah mengecheck ruangan terakhir.

"Ya." Jawab ketiganya berbarengan.

"Lalu.. Apa yang harus kita lakukan pada Sai?" ucap Yamato yang melihat Sai belum juga sadar.

"Aku tau kau sudah sadar. Jangan berpura-pura. Aku tidak sebodoh itu!" ucap Sakura menatap dingin Sai yang perlahan mulai bergerak.

"Hah.."

"Baiklah.. Ayo kita kem.."

"Sakura-chan?!" Naruto berhasil menangkap tubuh Sakura yang tiba-tiba limbung.

"Dia kelelahan." Ucap Sasuke pelan.

"Kelelahan?"

"Naruto.. Kemarilah sebentar. Sasuke, jaga Sakura." Ucap Yamato membawa Naruto keluar dari ruangan itu.

"Ada apa sensei?" tanya Naruto saat mereka masuk keruangan sebelah.

"Kau ingat luka dilengan Sakura?" tanya Yamato tiba-tiba.

"Ya. Luka akibat Orochimarukan?" ucap Naruto memastikan.

"Bukan.. Luka itu... Kau yang melukainya.. Dan setelah itu dia mengobatimu dan Sasuke. Kau yang berubah menjadi ekor 4 memakan banyak chakra Sakura untuk menyembuhkanmu. Mengembalikan kulitmu yang habis terbakar." Terang Yamato, membuat Naruto memucat.

"Apa yang sebenarnya terjadi sensei?" ucap Naruto menunduk menyesal.

"Kau mengamuk karena melihat Sakura terluka. Kau berubah menjadi ekor 4 dan menyerang kami setelah Orochimaru dan Kabuto kabur. Sakura berusaha menyadarkanmu dengan memelukmu, menghentikanmu menyakiti aku dan Sasuke." Terang Yamato semakin membuat Naruto lemas.

"Aku.."

"Sudahlah. Jangan pasang wajah seperti itu. Itu sudah terjadi. Lebih baik kita segera kembali agar Sakura dapat beristirahat." Ucap Yamato menepuk pelan kepala Naruto.

"Um." Jawab Naruto singkat.

"Dari mana sensei?" tanya Sakura menatap Yamato dan Naruto yang kembali.

"Ah.. Aku butuh sedikit bantuan Naruto tadi. Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?" tanya Yamato menatap Sakura yang duduk bersandar di dada Sasuke.

"Um.. Ayo kita kembali." Ucap Sakura berdiri dibantu Sasuke.

"Sakura-chan."

"Um? Ada apa Naruto?" tanya Sakura sambil mengambil tasnya.

"Maafkan aku." Ucap Naruto tertunduk.

"Kau tidak salah apa-apa. Sudahlah. Jangan memasang wajah menyesal begitu. Kau membuatku merasa bersalah sekarang." Ucap Sakura mengusap elan pipi Naruto.

"Hey.. Ayo berangkat." Ucap Sasuke yang sudah bersiap pergi sedang Yamato dan Sai sudah pergi keluar duluan.

"Maafkan aku.." ucap Naruto tidak hentinya merasa menyesal, tanpa sadar air matanya mengalir, mengingat apa yang Yamato katakan padanya tadi. Dirina melukai Sakura dan rekan satu timnya.

"Sudahlah.. Hentikan itu.. Bagaimana kalau setelah ini makan di rumahku?" tawar Sakura memeluk pria berkulit tan itu.

"Kau terlalu baik Sakura-chan." Ucap Naruto tersenyum.

"Baiklah.. Datanglah nanti setelah bersih-bersih." Ucap Sakura tersenyum.

-Konoha-

"Hujan?" ucap Sasuke saat mereka memasuki gerbang Konoha.

"Ah?!"

"Adaapa Sakura-chan?" tanya Naruto menatap Sakura yang berdiri diam memucat.

"Sebaiknya kita cepat mengantarkan gulungan ini ke kantor hokage." Ucap Yamato yang dipatuhi ketiganya sedang Sai sudah menghilang karena ada urusan saat mereka memasuki gerbang Konoha.

"Kerja bagus kalian semua. Baiklah. Kalian boleh pergi dan beristirahat." Ucap Tsunade tidak begitu bersemangat.

"Apa terjadi sesuatu hokage-sama?" tanya Yamato

TOK TOK

"Masuk."

"Tim 10 sudah kembali." Ucap Shikamaru menunduk sedang Ino dan Chouji tak henti menangis.

"Apa yang terjadi? Dimana Asuma-sensei?" tanya Naruto tidak paham.

"Sarutobi Asuma.. Ketua tim 10.. Gugur dalam pertempuran." Ucap Shikamaru mulai menangis.

"Ti.. Tidak mungkin." Ucap Sakura tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Aku mengerti.. Kalian boleh bubar. Kalian tau besok pagi ada acara penting." Ucap Tsunade mengusir semua orang disana untuk meninggalkan ruangannya.

"Ino.." menatap Ino yang terus menangis, Sakurapun memberikan pelukan erat bagi sahabatnya itu membiarkannya menangis terisak didalam pelukan Sakura.

"Apa yang terjadi?" tanya Naruto pada Shikamaru.

"Akatsuki.. Mereka akan membayar ini semua." Ucap Shikamaru melangkah pergi dari tempat itu penuh amarah.

"Naruto.. Setelah acara besok selesai.. Kita mulai latihannya." Ucap Yamato mengingat Naruto pada janjinya saat di tempat Orochimaru. Ia ingin menguasai kekuatan kyubi yang berada didalam tubuhya agar tidak lagi menyakiti orang-orang disekitarnya.

"Aku tau." Ucap Naruto pelan.

"Aku sudah tidak apa-apa Sakura. Aku pulang dulu." Ucap Ino meninggalkan tempat itu bersama Chouji.

"Aku juga harus pulang. Naruto datanglah kapan saja. Sasuke juga." Ucap Sakura menepuk pelan pundak kedua pria itu.

"Sasuke."

"Ah.. Kakashi."

"Besok aku tidak ada misi. Kalau kau ingin berlatih kau tau dimana harus mencariku." Ucap Kakashi kemudian menghilang.

"Bunshin?" ucap Naruto tidak percaya senseinya itu repot-repot membuat bunshin hanya untuk menyampaikan pesan itu.

-Kediaman Haruno-

"Sakura beritirahatlah." Ucap Naruto saat mereka sudah selesai makan malam.

"Um.. Aku belum lelah." Ucap Sakura pelan.

"Sasori dimana?" tanya Naruto sambil membantu Sakura membersihkan piring yang mereka gunakan untuk makan.

"Ke Suna. Apa Sasuke-kun tidak mengatakan apa-apa?" tanya Sakura tiba-tiba mengganti topik.

"Ah.. Dia bilang dia ada urusan dengan Kakashi-sensei." Ucap Naruto mengingat saat ia mengajak Sasuke ia menolaknya dengan alasan ada urusan dengan Kakashi.

"Humm."

"Sakura-chan.. Apa terjadi sesuatu?" tanya Naruto tiba-tiba membuat Sakura terdiam.

"Tidak. Tidak apa-apa." Jawab Sakura beralih ke sofa setelah selesai mencuci piring.

"Apa ini tentang Asuma-sensei?" tanya Naruto menghampiri gadis itu.

"Seharusnya aku tidak menolak tawaran misi itu kemarin." Ucap Sakura tertunduk.

"Menolak tawaran misi?" tanya Naruto bingung.

"Um.. Aku menolaknya karena aku mengira jika ikut kalian aku bisa mencari tau lebih banyak tentang keluargaku. Seharusnya aku tidak egois seperti itu." Ucap Sakura yang perlahan mulai meneteskan air mata.

"Sebenarnya misi apa yang dilakukan tim Shikamaru?" tanya Naruto berubah serius.

"Seharusnya itu hanya menjadi misi memata-matai. Tidak seharusnya ini terjadi. Jika aku tau mereka akan berhadapan dengan Akatsuki aku akan ikut mereka." Ucap Sakura menyesal.

"Sakura-chan.. Berhentilah menyalahkan dirimu." Ucap Naruto yang menarik Sakura ke dalam pelukannya.

"Ini semua salahku. Kalau aku berada disana aku tidak akan membiarkan Asuma-san gugur. Seharusnya aku tidak mempercayai kemampuan medis Ino begitu saja." Ucap Sakura lagi.

"Sakura-chan.. Ino pasti sudah berusaha semampunya. Kau tidak boleh menyalahkannya begitu." Ucap Naruto menghentikan pemikiran buruk Sakura.

"Tapi.."

"Sudahlah.. Ini pasti juga berat bagi Ino dan timnya. Tidak baik menyalahkan mereka. Aku yakin mereka juga sudah berusaha semampu mereka. Aku mengerti kalau kau sangat dekat dengan Asuma-sensei.. Tapi menyalahkan dirimu dan orang lain bukan hal yang tepat." Nasehat Naruto.

"Aku tau..."

"Baiklah.. Sebaiknya aku pulang agar kau bisa menenangkan diri. Sampai jumpa besok Sakura-chan." Ucap Naruto bangkit dari duduknya, meninggalkan Sakura yang meringkuk menangis di sofa itu. Naruto memang tidak tega meninggalkan Sakura dalam keadaan seperti itu. Tapi ia tidak dapat berbuat banyak. Dan lagi ia yakin Sakura butuh waktu sendiri. Naruto yang sudah memasang sepatunya bersiap untuk pergi masih bisa mendengar suara tangis pelan Sakura dari luar.

BRAK PRANG!

"SAKURA-CHAN!" mendengar suara barang berjatuhan Naruto yang awalnya sudah akan pergi kembali masuk kekediaman Haruno itu. Bahkan saking terburu-burunya ia lupa melepaskan sepatunya.

"Ungh.. ARGH!"

"Sa.. Sakura-chan?! Apa yang terjadi?" ucap Naruto menghampiri gadis yang meringkuk memegangin kepalanya, menahan sakit.

"ARGH! He.. Hentikan.. HENTIKAN!" jerit Sakura terus meronta menahan sakit dikepalanya.

"Sakura-chan?! Sadarlah.." Naruto memeluk tubuh gadis itu, berusaha menyadarkannya.

"Aku mohon hentikan.. Sakit.." ucap Sakura mulai melemas.

"Sakura-chan.. Aku disini. Semua baik-baik saja.. Sadarlah.." bisik Naruto menenangkan gadis itu.

"Na.. Naruto? Naruto? Dimana?" Sakura merentangkan tangannya, berusaha mencari sosok pria itu, pandangannya masih gelap membuatnya panik.

"Aku disini Sakura-chan." Perlahan Naruto menggenggam tangan gadis bersurai pink itu. Berusaha menenangkannya. Meyakinkan segala sesuatunya baik-baik saja.

"Naruto.. Jangan tinggalkan aku." Ucap Sakura mulai terisak.

"Maafkan aku Sakura-chan.. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.. Maafkan aku." Ucap Naruto mencium puncak kepala gadis itu. Perlahan Sakurapun mulai tenang dan tanpa sadar gadis itu mulai berhenti bergerak. Membuat panik Naruto.

"Sakura-chan?" Narutopun mencoba melepaskan pelukan Sakura untuk mengecheck keadaan gadis musim semi itu dan menemukan gadis itu tertidur. Narutopun memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan sepatunya sebelum mengangkat Sakura ke kamarnya.

"Na.. Naruto.. Jangan pergi." Ucap gadis itu masih dalam keadaan tertidur menggenggam erat lengan baju Naruto.

"Aku disini Sakura." Ucap Naruto mengusap tangan gadis itu hingga akhirnya gadis itu menarik tubuhnya membuat Naruto terjatuh ke kasur Sakura.

"Sa.. Sakura-chan.." Naruto berusaha melepaskan tangan Sakura tetapi terhenti saat mengingat betapa paniknya tadi gadis itu.

TBC