sassy.chessy present :
A Hunkai Fanfiction
FALLEN TOO FAR
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun
Happy Reading!
.
.
.
.
.
Fallen Too Far : Chapter 25
Rasa lega yang aku harapkan ketika aku mengemudi keluar dari lampu lalu lintas pertama, dari tiga lampu lalu lintas yang terdapat di Sumit, Alabama tidak muncul. Mati rasa telah mengambil alih keseluruhan 7 jam mengemudiku. Kata-kata yang aku dengar dari ucapan ayahku tentang ibuku terngiang-ngiang terus menerus di dalam benakku sehingga aku tidak lagi mampu merasakan apapun untuk siapapun.
Aku belok kiri di lampu merah kedua dan menuju ke pemakaman. Aku perlu berbicara dengan ibuku sebelum aku menginap di salah satu motel disini. Aku ingin dia tahu bahwa aku sama sekali tak percaya dengan semua itu. Aku tahu wanita seperti apa dia. Ibu seperti apa dia. Tak ada yang bisa menandinginya. Dia menjadi sandaranku padahal saat itu dialah yang sedang sekarat. Tak pernah sedikitpun aku takut dia akan meninggalkanku.
Parkiran pemakaman kosong. Terakhir kalinya aku datang kemari banyak penduduk kota yang datang memberikan penghormatan terakhirnya pada Ibuku. Hari ini mentari telah beranjak turun dan hanya bayanganlah yang menemaniku.
Melangkah keluar dari trukku, aku menelan gumpalan yang muncul di kerongkonganku. Berada disini lagi. Mengetahui bahwa dia disini tapi dia tidak ada. Aku berjalan menyusuri jalan yang mengarah ke makamnya bertanya-tanya jika ada orang yang datang mengunjunginya selama aku pergi. Dia memiliki teman. Tentu saja seseorang telah mampir dengan bunga-bunga segar. Mataku terasa perih. Aku tak suka berpikir dia telah ditinggalkan sendirian selama berminggu-minggu. Aku senang telah meminta mereka menguburkannya disamping Kai. Itu membuat kepergianku menjadi lebih mudah.
Gundukan tanah yang baru sekarang telah tertutupi rumput. Mr. Jungshin mengatakan padaku bahwa dia akan menanamkan rumputnya dengan gratis. Aku tak mampu untuk membayar lebih. Melihat rumput hijau membuatku merasa dia terkubur dengan sempurna terdengar begitu menggelikan sama seperti kedengarannya. Makamnya sama seperti punya Kai sekarang. Batu nisannya tidak sebagus milik saudariku. Itu sederhana; hanya itu yang mampu aku berikan. Aku menghabiskan waktu berjam-jam mencoba memutuskan apa tepatnya yang ingin aku katakan.
Kim Taeyeon
April 19, 1972 - Juni 2, 2017
Cinta yang ditinggalkannya akan menjadi alasan untuk meraih mimpi. Dia adalah sandaran ketika dunia runtuh. Kekuatannya akan diingat. Ada di dalam hati kita.
Keluarga yang mencintaiku sudah tidak ada lagi disini. Berdiri disini melihat makam mereka mengingatkanku betapa sendirinya aku sebenarnya. Aku tak memiliki keluarga lagi. Aku takkan pernah mengakui keberadaan Ayahku setelah hari ini.
"Aku tak menyangka kau kembali begitu cepat." Aku mendengar suara ribut kerikil di belakangku dan aku tahu siapa itu tanpa harus berpaling. Aku tak menatapnya. Aku belum siap. Dia akan menatap menembus ke dalam diriku. Minho telah menjadi temanku sejak TK. Tahun ketika kami menjadi sesuatu yang lebih itu telah dapat diduga. Aku mencintainya selama bertahun-tahun.
"Hidupku disini," balasku singkat.
"Aku mencoba untuk berdebat tentang hal itu beberapa minggu yang lalu." Terdeteksi jejak rasa humor dalam suaranya. Dia senang menjadi benar. Selalu.
"Aku pikir aku membutuhkan bantuan ayahku. Ternyata tidak."
Suara kerikil tergerus terdengar semakin jelas ketika dia maju ke sampingku. "Dia masih seorang bajingan?"
Aku hanya mengangguk. Aku masih belum siap mengatakan pada Minho betapa bajingannya ayahku. Aku tak bisa mengatakannya sekarang. Berterus terang akan hal itu membuatnya kelihatan nyata. Aku hanya ingin percaya bahwa itu hanyalah mimpi.
"Kau tidak menyukai keluarga barunya?" Tanya Minho. Dia takkan menyerah begitu saja. Dia akan terus bertanya hingga aku luluh dan mengungkapkan segalanya.
"Bagaimana kau tahu aku sudah kembali?" Tanyaku, mengganti topik pembicaraan. Itu hanya pengalihan sementara untuknya tapi aku tak berminat untuk terus ada disitu.
"Kau tidak benar-benar berharap mengemudikan trukmu di dalam kota dan tidak menjadi buah bibir dalam waktu 5 menit? Kau kenal tempat ini dengan baik, Kim."
"Apakah aku sudah disini selama 5 menit?" Tanyaku sambil melihat makam di depanku. Nama Ibuku terukir di batu nisan itu.
"Tidak, mungkin belum. Aku sedang duduk di luar swalayan menunggu Sulli selesai bekerja." Dia terdiam. Dia berkencan dengan Sulli lagi. Tidak mengejutkan. Sulli mungkin satu-satunya yang tak bisa lepas dari ingatan Minho.
Aku menghela napas panjang dan kemudian memalingkan kepalaku dan menatap mata birunya. Gejolak emosi melawan kebekuan yang membungkusku erat laksana mantel. Ini adalah rumah. Ini aman. Ini semua yang aku tahu.
"Aku akan tinggal," ucapku padanya.
Sebuah seringai terbentuk pada bibirnya dan dia mengangguk. "Aku senang. Kau telah dirindukan. Ini adalah tempat dimana seharusnya kau berada, Jongin."
Beberapa minggu yang lalu aku mengira setelah kepergian ibuku aku takkan layak tinggal dimanapun. Mungkin aku salah. Hidupku disini.
"Aku tidak ingin membicarakan tentang Yunho," ujarku padanya dan mengalihkan pandanganku ke makam Ibu.
"Siap. Aku takkan mengungkitnya lagi."
Aku tak perlu berkata apa-apa lagi. Kupejamkan mata dan berdoa dalam sunyi bahwa Ibu dan saudariku bersama dan bahagia. Minho tidak beranjak. Kami berdiri disana dalam diam sementara mentari mulai terbenam.
Ketika kegelapan mulai menyelimuti pemakaman, Minho menyelipkan lengannya padaku. "Ayo, Jong. Mari kita cari tempat untukmu menginap."
Kubiarkan dia menuntunku ke jalan dan ke trukku. "Maukah kau kuajak ke rumah Granny? Dia punya kamar tamu dan dia akan senang bila kau tinggal disana. Dia hanya sendirian dirumah itu. Dia mungkin akan jarang memanggilku bila ada orang yang menemaninya."
Granny Gyu adalah Ibu dari Ibunya Minho. Dia adalah guru sekolah mingguku selama sekolah dasar. Dia juga sering mengirim makanan seminggu sekali kala Ibuku sakit keras.
"Aku punya uang. Aku akan menginap di motel. Aku tak ingin merepotkannya."
Minho tertawa keras, "Jika dia menemukanmu di kamar hotel dia akan datang dalam kemurkaan. Kau akan ada dirumahnya ketika dia sudah selesai memarahimu. Akan lebih mudah datang ke rumahnya daripada membuat kehebohan. Disamping itu, Jongin hanya ada satu motel di kota ini. Kau dan aku tahu berapa banyak pasangan kencan yang berakhir disana. Alasan utama sialannya adalah itu."
Dia benar.
"Kau tak perlu mengantarku. Aku akan kesana sendirian. Kau punya Sulli yang sedang menunggumu." Aku mengingatkannya.
Dia memutar matanya. "Jangan ungkit itu, Jong. Kau tahu dengan baik. Jentikkan jarimu, babe. Cukup jentikkan satu jarimu. Hanya itu yang dibutuhkan."
Dia sudah mengatakan tentang hal itu selama bertahun-tahun. Itu hanyalah lelucon sekarang. Paling tidak untukku. Hatiku tidak disana. Sepasang mata perak terlintas di pikiranku dan luka yang menembus kebekuan. Aku tahu dimana hatiku berada dan aku tidak yakin bisa melihatnya lagi. Tidak jika aku berusaha untuk bertahan.
Granny Gyu tidak akan membiarkanku merenung. Dia takkan membiarkanku sendirian. Malam ini aku membutuhkan ketenangan. Kesunyian.
"Minho, aku perlu sendiri malam ini. Aku perlu berpikir. Aku perlu proses. Malam ini aku menginap di motel. Tolong mengertilah dan bantu Granny untuk mengerti. Hanya malam ini."
Minho memandang menembus lewat kepalaku dengan rengutan frustasi. Aku tahu dia ingin bertanya tapi dia berhati-hati. "Jong, aku benci ini. Aku tahu kau terluka. Aku bisa membacanya dari raut wajahmu. Aku telah melihatmu terluka selama bertahun-tahun. Ini perlahan membunuhku juga. Bicara padaku, Jongin. Kau perlu berbicara dengan seseorang."
Dia benar. Aku butuh seseorang untuk diajak bicara tapi untuk saat ini yang harus kukhawatirkan adalah berdamai dengan diri sendiri. Pada akhirnya aku akan memberitahukannya mengenai Rosemary Beach. Aku perlu memberitahu seseorang. Minho adalah teman terdekat yang aku miliki disini.
"Beri aku waktu," ucapku, menatapnya.
"Waktu," dia mengangguk. "Aku telah memberimu waktu selama tiga tahun ini. Aku kira dengan menyediakan waktu sedikit lagi tidak akan menyakitkan."
Aku membuka pintu trukku dan masuk kedalamnya. Besok aku sudah siap menghadapi kenyataan. Kenyataan. Aku bisa melakukannya… besok.
"Apakah kau punya ponsel? Aku menelponmu sehari setelah kepergianmu dan meninggalkanku disini tapi tidak tersambung."
Sehun. Wajahnya saat memohon padaku untuk menyimpan ponsel yang dia akali muncul dipikiranku. Lukanya menekan kedalam hatiku sedikit lebih jauh lagi.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tak punya satupun."
Minho lebih cemberut. "Sialan, Jong. Kau tak bisa tanpa ponsel."
"Aku punya senjata." Aku mengingatkannya.
"Kau tetap perlu ponsel. Aku ragu kau pernah menyorongkan itu ke orang lain sepanjang hidupmu."
Disitulah dia salah. Aku hanya mengangkat bahu.
"Belilah satu besok," perintahnya. Aku mengangguk walaupun aku tak berminat kemudian menutup pintu truk di belakangku.
.
.
Aku kembali ke jalan dua jalur. Aku mengemudi sekitar setengah mil ke lampu merah pertama dan belok kanan. Motel bangunan kedua di sebelah kiri. Aku tak pernah menginap disini sebelumnya. Aku punya teman yang datang kesini setelah pesta prom tapi itu hanyalah bagian dari SMA yang hanyaku dengar sepintas lalu.
Membayar untuk semalam cukup mudah. Gadis yang menjaga di meja depan tampak ramah tapi dia lebih muda dariku. Mungkin masih di SMA. Aku mengambil kunciku dan segera menuju keluar.
Range Rover hitam mengkilap terparkir disebelah trukku kelihatan tidak pantas berada disini. Hati yang kukira telah mati rasa berdegup kencang di dadaku dalam satu dentuman yang menyakitkan seiring mataku bertatapan dengan mata Sehun. Dia berdiri sambil menatapku di depan Range Rover dengan kedua tangan di dalam sakunya.
Aku tak berharap bertemu dia lagi. Setidaknya tidak dalam waktu dekat ini. Aku ingin membuat perasaanku lebih jelas. Bagaimana caranya dia bisa tiba disini? Aku tak pernah mengatakan daerah asalku. Apakah Ayahku? Tidakkah mereka mengerti aku ingin menyendiri?
Terdengar pintu mobil dibanting dan perhatianku teralihkan dari Sehun untuk melihat Minho keluar dari truk Ford merahnya yang didapatnya saat kelulusan. "Aku berharap dengan sangat kau tahu siapa pria ini karena dia telah mengikutimu kesini semenjak dari pemakaman. Aku memperhatikannya diseberang jalan melihat kita kembali tapi aku tak mengatakan apa-apa," ujar Minho melangkah maju berdiri sedikit didepanku.
"Aku kenal dia." Aku berhasil menelan sumbatan di tenggorokanku.
Minho melirik tajam ke arahku. "Dia alasan kau kembali pulang?"
Tidak. Tidak juga. Bukan dia yang membuatku pulang. Dialah alasan aku ingin tinggal. Walaupun tahu segala yang kami miliki adalah hal yang mustahil.
"Tidak," ucapku, menggelengkan kepala dan berbalik menatap Sehun.
Bahkan di bawah sinar bulan pun wajahnya terlihat terluka.
"Mengapa kau disini?" Tanyaku, menjaga jarak. Minho bergeser lebih maju ke depan saat dia menyadari aku tak akan mendekati Sehun.
"Kau disini," jawabnya.
Tuhan. Bagaimana caranya aku melewati ini lagi? Melihatnya dan mengetahui aku takkan bisa memilikinya. Apapun yang diwakilinya hanyalah akan mengotori segala perasaanku padanya.
"Aku tak bisa melakukannya, Sehun."
Dia melangkah maju, "Bicara padaku. Kumohon, Jongin. Begitu banyak yang ingin kujelaskan padamu."
Aku menggelengkan kepalaku dan mundur. "Tidak. Aku tak bisa."
Sehun mengumpat dan mengalihkan tatapannya dariku ke Minho.
"Bisakah kau memberikan kami sedikit waktu?" Tuntutnya.
Minho menyilangkan tangannya di dadanya dan melangkah maju lagi didepanku. "Aku pikir tak bisa. Kelihatannya dia tidak ingin berbicara denganmu. Akupun tak bisa memaksanya. Dan demikian pula denganmu."
Aku tak perlu melihat Sehun untuk tahu betapa Minho telah membuatnya naik darah. Jika aku tak menghentikannya ini akan berakhir dengan buruk. Aku melangkah memutari Minho dan berjalan ke arah Sehun dan kamarku. Jika kami harus berbicara kami tak memerlukan penonton.
"Tidak apa-apa, Minho. Dia saudara tiriku, Oh Sehun. Dia sudah tahu siapa kau. Dia ingin berbicara. Jadi kami akan berbicara. Kau bisa pergi. Aku akan baik-baik saja," ucapku melewati bahuku dan kemudian berbalik untuk membuka kunci kamar 4A.
"Saudara tiri? Tunggu… Oh Sehun? Anak tunggalnya Oh Kyuhyun? Sialan Jong, kau punya hubungan kekerabatan dengan seorang artis rock."
Aku lupa jika Minho merupakan penggemar berat band rock itu. Dia pasti tahu segalanya tentang anak laki-laki tunggal dari drummer Slacker Demon.
"Pergilah, Minho," ulangku. Aku membuka pintuku dan melangkah masuk.
End For This Chapter
sassy.chessy
