Kuroko no Basuke Fanfiction
Drabble - 24
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : AU
Pair : AkaKuro
A/N : Hola, Minna-san XD akhirnya sempet nulis juga ditengah kesibukan semester . _ . sayangnya author belum bisa lanjut cerita multichapie, biasanya saat gini cuma bila ketik sekali tamat aja TwT) gomen buat nunggu cerita RoD, sepertinya cerita itu akan lanjut pada saat akhir semester tiba . _ .
Buat Myadorabletetsuya dan Kanae Miyuchi, req-nya author udah masukin dalam list, author bakal post di chapie selanjutnya ya XD arigatouu~
Thank You for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support.. I'm happy that you all enjoy this story :3
Arigatou ~ Author will be waiting for your review ;))
Happy Reading, all..
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz
"Otou-san, mengapa semenjak upacara Chihiro-nii, aku tidak diperbolehkan melatih kembali tarianku? Bukankah ini sudah menjadi tradisi di keluarga kita?"
"Tetsuya, Maafkan Otou-san," ucapnya sambil memeluk sosok Kuroko Tetsuya yang kecil. "Sang Phantom Diva tidak akan pernah muncul kembali, bila kita terus melanjutkannya, pengorbanan kita akan menjadi sia-sia. Makannya, hentikanlah tarian itu, Tetsuya."
"Tetsuya terus berusaha agar Tetsuya tidak mengecewakan Otou-san," Ucapnya dengan sedih. "Tapi, bila itu memang permintaan Otou-san, Tetsuya pasti akan memenuhinya."
"Mulai sekarang, ayo kita pergi dari tempat ini, Tetsuya. Bersama Okaa-san juga."
"Bagaimana dengan Chihiro-nii?"
Pandangan mata Pria paruh baya bersurai Icy Blue itu berubah menjadi tatapan yang sedih. "Chihiro—dia..dia meninggal secara tidak wajar saat upacara itu berlangsung. Kutukan Sang Phantom Diva memang benar terjadi. Sekali kita melanggarnya, ia akan menjadi murka dan menolak semua upacara yang diberlakukan untuknya."
.
.
Banyak orang mengatakan bahwa darah lebih kental dibandingkan dengan air. Hal inilah yang terjadi pada Keluarga Kuroko. Sebagai anak tunggal dari keluarga-nya, keluarga yang sejak beberapa abad sebelumnya terus menjalankan sebuah tradisi yang mengerikan, dan hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya.
Tarian, sebuah tarian kematian. Tarian yang akan dilakukan pada beberapa belas tahun sekali. Tarian dimana Sang Diva akan dikorbankan menjadi tumbal pada acara yang terbilang sakral bagi tradisi keluarga mereka.
Mungkin kalian akan mengira betapa konyolnya ritual ini. Tetapi, setidaknya bagi keluarga Kuroko ini adalah sebuah tradisi yang nyata, sesuatu yang akan terus bercokol dalam tradisi keluarga mereka sebagai penyandang title 'Sacrified to Phantom Diva'.
"Sungguh, Tetsuya. Kau tidak usah ikut dalam undangan upacara itu. Meskipun kau tidak menjadi salah seorang pemain disana, tetapi resiko itu sangat besar bagimu sebagai penerus keluarga Kuroko." Pemuda bersurai Orange itu tampak gelisah, ia memandang sahabatnya dengan tatapan yang khawatir. Sedangkan orang yang bersangkutan tetap berkelut dengan Vanilla Milkshake yang dibelinya di café tersebut.
"Aku tidak menyangka bahwa Ogiwara-kun begitu perhatian," jawabnya iseng sambil tertawa kecil.
Mendapat respon seperti itu, Pemuda dengan surai ke-orange-an ini mengembungkan pipinya. "Kau tahu bahwa Ayahmu melarangmu untuk pergi ke upacara itu, 'kan? Kau ingat apa pesan Ayahmu sebelum ia pergi?"
Tatapan Baby Blue milik Kuroko kini tampak memudar, ia tersenyum tipis. "Aku tahu, Ogiwara-kun."
"Makannya, kuingatkan kau sekali lagi, Tetsuya. Jangan pernah menginjakkan kakimu ke upacara itu, mengerti?"
"Aku mengerti." Ucapnya sambil memandang kearah jendela, dengan tenang Kuroko Tetsuya kini menghisap minumannya secara perlahan. "Ne, Ogiwara-kun."
"Ada apa, Tetsuya?"
"Apa yang kau ketahui tentang Phantom Diva?"
Mata Ogiwara kini melotot. "Kau ini.. sudah kukatakan—"
"Aku hanya ingin mengetahuinya, Ogiwara-kun. Bahkan Otou-san tidak pernah memberitahukan hal itu kepadaku sebelum ia meninggal."
Ogiwara terhenti sejenak, ia menatap lekat wajah sahabatnya yang tampak begitu sedih. Sebagai penerus yang diberi mandat untuk melakukan upacara selanjutnya, sebagai korban sang Phantom Diva, Kuroko Tetsuya tidak bisa memenuhi upacara tersebut. Menghela nafas, akhirnya Ogiwara melembutkan pandangannya yang sedari tadi menatap tajam Kuroko.
"Okaa-san pernah bercerita padaku, sewaktu ia kecil, ia pernah melihat bagaimana upacara itu berlangsung. Semua pemain akan menggunakan topeng. Hanya Sang Koran yang dibiarkan membuka topengnya di tengah pertunjukkan, sesuai dengan perannya. Bahkan, semua penonton disana diharuskan menggunakan topeng. Lalu, bila sang Korban beruntung, Sang Phantom Diva akan menyelamatkanmu dari kematian. Kau tahu 'kan bagaimana akhir dari Sang Korban, Tetsuya?"
Kuroko mengangguk kecil.
Saat ia masih kecil, dalam tarian yang dimainkannya, ia akan tertusuk oleh salah satu pemain. Hanya adegan itu yang tidak pernah terlatih olehnya, karena dalam upacara saja belati itu dikeluarkan untuk menusuk Sang Korban. Apakah pada saat itukah, Sang Phantom Diva akan menolongnya?
"Kakekku pernah bercerita, dahulu, sahabatnya adalah anak tertua dari keluarga Kuroko, dan ia menjadi korban selanjutnya untuk Phantom. Anak tertua keluarga Kuroko saat itu adalah anak yang sakit-sakitan dan dokter mengatakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Tapi, kau tahu apa yang terjadi padanya ketika ia berhasil menyelesaikan ritual tersebut?"
Kuroko menggelengkan kepalanya perlahan. "Bukankah semua sang korban akan meninggal?"
Ogiwara tersenyum kecil. "Bila anak tunggal itu meninggal dunia, lalu kenapa kau ada di dunia ini, Tetsuya?"
Ah, betul juga.. Bila anak lelaki pertama dari keluarga Kuroko itu meninggal dunia, lalu, dari mana keturunan keluarga Kuroko saat ini?
Ogiwara tertawa kecil. "Saat itu, Kuroko-san diselamatkan oleh Sang Phantom Diva. Sebuah keajaiban terjadi dan Kuroko-san akhirnya hidup sampai umurnya 90 tahun."
"Jadi, Sang Phantom Diva yang menyelamatkan dari kematian itu, dia menyelamatkan dalam artian terselubung?"
Ogiwara mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu bagaimana jelasnya, Tetsuya. Tapi, ingat, apa yang terjadi pada sepupumu, Mayuzumi-san saat ritual yang ia lakukan 12 tahun lalu."
Manik Baby Blue itu kini tertunduk.
Alasan yang membuat keluarga Kuroko pergi dari tanah airnya, pergi menjauh dari tempat dimana ia dilahirkan. Kematian sepupunya yang dijadikan korban untuk sang Diva, Mayuzumi Chihiro.
- xXx -
Sebuah panggung teater, dengan beberapa bangku yang telah terisi setengah kini terlihat dengan jelas dihadapan seorang Kuroko Tetsuya. Sekeras apapun peringatan yang disampaikan oleh Sahabatnya, ia tetap menghadiri upacara sacral tersebut. Tidak ada sosok yang tampaknya dikenalnya saat ini. Karena semua hadirin di tempat tersebut menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya, tentunya tidak terkecuali bagi pemuda bermanik Baby Blue tersebut.
"Para hadirin yang terhormat, terimakasih karena kalian sudah hadir pada acara yang sacral ini. Silahkan nikmatilah pertunjukkan untuk sang Diva!" teriak seseorang yang menjadi MC pada acara tersebut.
Suara riuh penonton setelah menunggu beberapa menit kini terdengar dengan jelas.
Seketika itu juga, tempat tersebut berubah menjadi gelap.
Sang Korban kini keluar dan menarikan sebuah tarian pembukaan , Role yang seharusnya dimainkan oleh Kuroko Tetsuya.
Beberapa menit berlalu dan beberapa pemeran lain dengan pakaian hitam dan berbagai topeng yang mengerikan kini keluar. Seketika itu juga panggung tersebut penuh dengan adegan yang menegangkan.
Lalu, suatu hal yang janggal terjadi.
Pada saat scene yang merajuk sang Korban untuk berjalan ke tengah panggung kini sirnah.
Semua sosok hitam yang menggunakan topeng itu kini melihat kearah penonton secara serempak, melihat focus pada satu orang. Sosok Kuroko Tetsuya.
Perlahan, semua penonton ikut melihat kearah Kuroko, sebelum semuanya kini menjadi hening.
Salah satu sosok hitam itu kini berjalan menghampiri Pemuda bersurai Icy Blue tersebut. Ia mengulurkan tangannya. Sebuah sinar lampu kini menyorot mereka berdua.
Akhirnya Kuroko tahu, alasan mengapa Ogiwara melarangnya untuk menghadiri tempat ini.
Karena takdir temurun keluarganya adalah mutlak, meskipun ia menjadi penonton saat ini, tetapi para penjalan ritual telah merasakan aura milik Kuroko Tetsuya.
Kuroko tersenyum tipis. Ia tidak memiliki apapun lagi di dunia ini, tidak ada hal yang ingin dilakukannya lagi, maka dari itu, ia memutuskan untuk ambil bagian dalam upacara tersebut saat ini juga.
Meskipun beberapa tahun berlalu, tetapi tubuh Kuroko masih mengingat dengan jelas adegan yang harus ia lakukan selanjutnya.
Hingga scene terakhir, dimana sang Korban akan ditusuk dan dipersembahkan untuk Sang Diva.
Kuroko Tetsuya menutup matanya perlahan, bila ia diberi kesempatan kedua, mungkin ia ingin mendapatkan bagaimana perasaan yang dinamakan cinta.
Tepat 5 detik sebelum belati itu menusuk jantung milik Kuroko Tetsuya, tiba-tiba semua lampu diruangan itu menjadi padam.
'I Heard your Wish.' Suara itu terdengar dengan jelas di benak seorang Kuroko Tetsuya.
"Eh?"
Seketika itu juga, tubuh Kuroko terangkat, seseorang mengangkatnya.
"Pegangan yang kuat, Tetsuya. Jangan sampai terjauh." Ucapnya sambil berbisik dengan lembut. Suara yang terdengar tidak familiar di benaknya. Siapa?
Lampu di ruang teater tersebut kini kembali menyala, tetapi, terdapat sebuah tulisan yang berasal dari darah di tembok terdekat. Tulisan itu bertulis;
'I Accepted your Sacrificed'.
- xXx -
"Kuroko Tetsuya," Entah sejak kapan aku menutup mataku, yang kutahu, seseorang yang mengangkatku saat di panggung tadi dan orang yang berada disebelahku ini adalah orang yang sama.
Saat kini kami berdua berada di dalam sebuah kereta kuda.
Aku melihatnya, Apakah ini adalah sosok sang Phantom Diva? Ia menggunakan setengah topeng yang menutupi wajahnya. Baju Tuxedo Merah bercampur putih dengan jubah berwarna hitam. Seketika itu juga ia melepas topengnya, memperlihatkan sosok tampan Pemuda bersurai Scarlet dengan manik Heterochrome.
"Apa aku pernah—mengenalmu?"
Kekehan kecil terdengar dari mulutnya. "Mungkin kau tidak pernah mengetahui siapa aku, tetapi sejak kau berusia 5 tahun, aku telah melihat sepanjang hari saat kau berlatih di ruang teater."
"Eh? Jangan-jangan..kau—stalker?"
Pemuda tersebut mengedip beberapa kali sebelum tersenyum sinis.
"Ya, Stalker untukmu, Tetsuya."
Seketika itu juga dahi pemuda bermanik Baby Blue itu mengerut. Bertanya-tanya dalam hati siapakah pemuda yang ada didepannya ini.
"120 tahun aku menunggu. Tidak ada seorangpun yang berhasil menyentuh hatiku sepertimu, Tetsuya."
"120..tahun? Kau—jangan bercanda, kenapa kau tidak terlihat tua sama sekali."
"Karena aku bukan manusia. Aku adalah Sang Phantom Diva, Hantu Opera yang kalian sering bicarakan itu."
"Phantom Diva? Kalau begitu aku sudah—"
"Belum, aku menyelamatkanmu dari kematian, Tetsuya. Masih ada 1 keinginan yang ingin kau capai, bukan?" Senyumnya pada Kuroko.
Kuroko menatap sosok di depannya ini dengan tatapan yang khawatir.
"Tenang saja, meskipun aku adalah Hantu Opera yang hidup selama ratusan tahun, aku tidak berniat untuk menyakitimu. Bila kau meragukan eksistensiku, kau bisa bertanya silsilah keluargamu padaku, aku tahu semua silsilah keluargamu, Tetsuya."
Meskipun ragu, akhirnya Kuroko mulai bertanya tentang leluhurnya, dan pertanyaannya itu dijawab dengan cepat serta detail oleh pemuda yang berada di depannya ini.
"Jadi.. Phantom Diva itu memang benar ada.." Seolah bermimpi, Kuroko kini mencubit pipinya sendiri. "Aww..sakit." ringisnya pelan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Habisnya..kupikir ini semua adalah mimpi, diselamatkan dalam upacara tersebut, lalu bertemu denganmu..ah, aku belum tahu siapa namamu."
Senyum sinis pemuda bersurai Scarlet itu kini melembut. "Akashi Seijuurou."
"Tidak apa bila kupanggil kau— Akashi-kun?" Untuk pertama kalinya, Kuroko kini menunjukkan senyumnya pada Akashi.
Rona wajah Akashi tampak seperti terkejut, namun setelah itu, senyum kecil kembali menghiasi wajahnya.
"Tidak apa, Tetsuya," balasnya sambil mengulurkan tangannya. "Selamat datang di dunia-ku, Tetsuya. Kuharap kau akan terbiasa di 'Wonderland of Phantom'."
Saat itu juga, kereta kuda tersebut seolah melintasi sebuah dimensi yang berbeda. Kereta kuda itu melayang turun kebawah di sebuah tempat yang begitu asing bagi Kuroko Tetsuya. Dunia yang berbeda dari dunia-nya sebelumnya.
~Owari~
