Terinspirasi dari Voyeur by Nelliel-Ni dan Liberated by Shante Diamond.
(Both were KibaIno stories XD)
.
Disclaimer : I only own the story
.
Love and Hatred
.
Warning! : Mainstream Idea
.
.
.
Chapter 24
Osaka
Rabenda Boutique
Hari ini kesibukan melayani pelanggan mulai terlihat di butik. Sang pemilik yang akan segera melangsungkan pernikahan kurang dari sebulan mendatang, terlihat memulai kembali aktivitasnya. Mungkin wanita itu telah benar-benar menyelesaikan persiapan pernikahannya. Atau mungkin juga sudah dilimpah tanggungjawabkan kepada beberapa orang kepercayaannya.
Ada yang berbeda dengan hari ini jika dibandingkan hari-hari sebelumnya. Yaitu Hinata yang memilih untuk meladeni para pelanggan daripada menenggelamkan diri di layar laptop seperti biasanya. Seperti yang terlihat saat ini, ketika dengan telaten Hinata menjawab satu persatu pertanyaan yang dilontarkan oleh pembelinya. Tentang jenis dan kualitas bahan serta model desain yang menjadi ciri khas dan corak seorang Hyuuga Hinata.
Bibir peach itu menampilkan segaris senyum kaku, namun lantunan suara yang lolos tetaplah lembut dan merdu untuk didengar. Ya, jangan remehkan seorang desainer kondang yang pernah mengukir nama di jagad Hollywood. Talenta yang dimiliki bukan sekedar menorehkan goresan grafit atau menapis kualitas kapas melainkan juga kemampuan untuk sedikit mempertahankan pesona di hadapan pelanggan.
"Kaa-chan... Kaa-chan..."
Teriakan cempreng itu sontak membuat Hinata menoleh ke arah pintu masuk. Senyum kakunya sedikit melembut saat menatap Boruto yang tengah berlari. Hinata berpamitan sebentar kepada pelanggan yang tengah berbincang dengannya dan berbalik menyongsong sang anak.
"Hei, sudah pulang?"
Boruto mengangguk cepat, sebuah cengiran rubah terpatri jelas di wajahnya. Mencipta tarikan kuat dari dua goresan yang ada di pipinya. Sejenak Hinata tertegun, senyuman sang anak yang begitu lepas dan seakan bebas, memaksa ingatannya untuk menilik sosok seseorang.
"Boruto pulang bersama siapa?"
"Tou-chan."
Meski ini bukan pertama kalinya Boruto mengatakan hal itu, tetapi bagi Hinata tetap saja seperti sebuah angin besar yang menghantam ketenangan jantungnya. Apa mau dikata, Hinata sama sekali tidak memiliki kapabilitas untuk menyanggah karena memang faktanya Naruto adalah Ayah dari Boruto.
"Baiklah, Boruto pasti lapar. Bagaimana kalau sekarang Boruto makan bersama Kaa-chan?"
"Yosh! Boruto mau makan bersama Kaa-chan dan Tou-chan."
"A-apa?"
Hinata celingak celinguk selama beberapa saat. Merasa was-was jika ternyata sosok pria pirang itu tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Boruto makan bersama Kaa-chan dan Paman Gaara ya?"
Boruto menggeleng. Senyuman lebar tak jua beranjak dari bibir kecilnya.
"Tou-chan menunggu di luar, katanya mau makan bersama Boruto dan Kaa-chan."
Wanita itu merasakan lututnya yang melemas hingga terpaksa tangannya mencari tempat untuk bertumpu. Kepalanya memutar perkataan Naruto seminggu lalu, yang kembali pria itu ucapkan pagi tadi tepat di hadapan sang Ayah.
"Aku tidak akan menghalangi pernikahanmu, Hinata."
Lantas apa maksudnya semua ini? Mengapa pria bodoh itu masih saja merecoki kehidupannya? Bukankah makna kalimat itu begitu jelas bahwa Naruto tidak akan mencampuri kembali urusan dirinya?
"Aku bilang aku tidak akan menghalangi pernikahanmu, Hime. Bukan berarti aku berhenti berusaha merebut hatimu."
Bisikan parau terdengar menggelitik daun telinga Hinata. Meski lirih namun mampu menghasilkan impak yang luar biasa. Terbukti dari terhentinya seluruh proses metabolisme tubuh sang wanita secara mendadak. Hanya sejenak karena di jeda berikutnya jantung Hinata kembali berdegup kuat. Denyut nadinya begitu laju. Wajahnya bersemu merah selaras dengan aliran panas dan dingin yang tercampur menjadi satu.
Hinata terdiam kaku, sama sekali tidak memiliki keberanian untuk memalingkan muka ke arah pemilik suara. Bukan dia pengecut, melainkan jika dia memaksa untuk menoleh sudah bisa dipastikan sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang akan membuat kinerja jantungnya semakin melaju. Sebab itulah wanita berrambut indigo itu memilih untuk mendorong pelan kepala pria pirang yang terlalu dekat dengannya.
"A-Apa yang kau lakukan di sini, Namikaze?"
Suaranya terdengar bergetar. Entah sebab deru nafasnya yang belum teratur atau akibat detak jantungnya yang belum kembali normal.
Hinata mendelik menatap reaksi yang diperlihatkan Naruto. Mulut mencebik layaknya anak kecil yang tidak diberi mainan, dan kedua tangannya yang terlipat di depan dada pertanda dirinya sedang merajuk.
"Tsk! Bukankah aku sudah mengatakan pada Ayahmu? Atau kau terlalu terpesona padaku tadi pagi, Hime? Aku bukan lagi seorang Namikaze."
Hinata mendecih kasar lalu menghentakkan kakinya. Tangannya menarik Boruto untuk pergi menjauh dari sang pria. Namun sayang, niat itu gagal kala tangan kekar Naruto menahan lengannya. Pemilik iris amethyst itu mendongak, mengirimkan tatapan yang mengisyaratkan tantangan.
Amethyst vs sapphire
Ekspektasinya seperti itu, namun apa daya jika yang terjadi justru berbeda. Bukannya saling bertukar pandangan tajam, kedua iris kontras tersebut malah saling terhanyut dalam pesona masing-masing. Seakan sorot cerah mentari beradu dengan lembutnya cahaya bulan.
"Tou-chan, Kaa-chan... Boruto lapar."
Ucapan polos bocah lima tahun itu mengurai tatapan pun jarak antara keduanya. Saling memalingkan muka dan bersikap salah tingkah. Sepuh merah bahkan menghiasi wajah keduanya.
Naruto menggaruk belakang kepalanya, kemudian menjadi pihak yang pertama kali tersadarkan akan keadaan.
"A-Ah... Maafkan Tou-chan ya Boruto. Ayo kita makan siang!"
"Yeay!"
Duplikasi ayah dan anak itu berjalan dengan penuh semangat. Cengiran dan ocehan mengiringi langkah keduanya. Menyemai sebaris senyum tulus pada tubir sang wanita indigo. Meski tipis.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Hinata mengekori langkah mereka kemudian berhenti sebentar saat kakinya sudah berada di luar butik. Matanya berpendar mencari keberadaan sebuah motor sport yang biasa dikendarai Naruto.
"Kau mencari apa, Hime?"
Tanpa menoleh, Hinata menjawab dengan asal.
"Aku tidak melihat motormu."
Naruto terkekeh mendengar ucapan Hinata. Iris birunya berpendar jenaka, mengerling pada sosok sang wanita yang sedang memincingkan mata.
"Kau pikir aku tega membawamu naik motor? Padahal cuaca sedang panas-panasnya." Jawab Naruto asal.
Hinata mendecih pelan meski dalam hati dia bersyukur. Terlebih saat melihat baju yang dipakainya berupa dress satin dengan bagian bawah berbentuk span. Melekat ketat pada tubuhnya yang sintal. Tentu saja tidak akan nyaman jika membonceng motor dengan atribut semacam itu, bukan?
"Ada apa Hime?"
Tersentak, Hinata memundurkan tubuhnya selangkah. Netra opalnya menatap Nissan Fuga Premium Brown yang terparkir rapi di halaman butik. Pandangannya bergeser pada sosok kecil yang telah duduk dengan manis di kursi belakang mobil. Boruto bahkan melambaikan tangan mungilnya pada sang Ibu, mencipta senyuman lembut tersemat pada tubir wanita itu.
"Iya aku tahu, ini mobil biasa. Ku harap kau maklum karena pekerjaan fotografer tidak menghasilkan uang sebanyak desainer ataupun pengusaha."
Hinata menatap malas pada sosok pirang yang tengah bersandar pada badan mobil.
"Apa maksudmu? Kau pikir aku wanita materialistis?"
Naruto mengendikkan bahunya pelan. Tangan kekarnya meraih handle pintu depan dan membukanya. Mempersilakan Hinata untuk memasukinya.
"Siapa tahu, kau terbiasa menunggangi Audi yang bagiku lebih mirip kereta kencana itu. Jadi tidak mustahil bukan jika kau merasa tidak nyaman dengan mobil murahan ini."
Wanita itu mengabaikan ucapan Naruto. Memilih untuk memasuki mobil dan menduduki kursi penumpang tepat di sebelah kursi pengemudi.
Satu yang terlewatkan olehnya adalah sebentuk senyuman lebar yang bertengger di bibir tipis pria pirang itu.
Menit yang sama Naruto memasuki mobil, tangannya memutar kunci kontak. Menuai deru rendah suara mesin mobil.
"Boruto ingin makan apa hari ini?" tanya Naruto.
"Ramen, Tou-chan!" jawab sang bocah dengan suara lantang.
"Yosh! Baiklah! Kita akan makan ramen!"
Mobil itu melaju dengan kecepatan rata-rata. Meninggalkan residu karbon di belakang. Serta tatapan tajam sepasang iris jade.
.
.
.
Kawasan Dotonbori
Sepasang manusia dewasa itu berjalan santai. Menyusuri kawasan dotonbori yang sejatinya adalah sebuah jembatan. Sang wanita yang berbalut garmen berkualitas tinggi tampaknya benar-benar menikmati. Bukan salahnya juga jika dia terlalu terpesona pada riuh ramai keadaan di Dotonbori ini. Baik salahkan pekerjaan yang selalu menumpuk di mejanya. Yang membuatnya jenuh dan terkadang lupa waktu. Sementara satu jengkal di sampingnya, seorang pria pirang dengan pakaian kasual. Sebuah kaos hitam tanpa kerah berlengan pendek, dipadu dengan celana camo krem pudar. Pemandangan di bagian belakang cukup menarik perhatian beberapa orang. Bocah kecil yang identik dengan pria tersebut tertidur pulas di punggung lebarnya.
"Masih jauhkah tempatnya, Namikaze-san?"
Naruto yang saat itu pandangannya sedang terarah ke sekitar, seketika teralihkan mendengar pertanyaan lembut Hinata.
"Berhenti memanggilku Namikaze, Hime. Aku seorang Uzumaki sekarang. Ah itu dia tempatnya! Tempat yang bercat merah."
Hinata mendesah pelan. Matanya melirik tak suka pada pria bermata biru tersebut.
"Dan kau juga berhenti memanggilku Hime."
Ucapan yang terdengar kesal itu menuai kernyitan di dahi Naruto. Pria itu bahkan berhenti sejenak untuk berpikir, sebelum akhirnya tersenyum.
"Sekali kau seorang Hime bagiku, selamanya akan menjadi Hime."
Bibir itu tercengir lebar, nyaris menyerupai seringai rubah kala berhasil mendapatkan mangsa. Dengan cepat Hinata memalingkan wajah demi menyembunyikan semburat merah muda yang mulai menyebar di pipi porselennya. Kedua tangan menangkup pada dada, berusaha menenangkan detak jantung yang semrawut tak karuan.
Langkah keduanya memasuki sebuah kedai yang dibuat bertingkat.
Ichiran Dotonbori
Tempat ini memang dikenal akan menu ramennya yang enak. Pelanggan yang datangpun bukan hanya dari dalam negeri. Wisatawan dari luar yang kebetulan berkunjung ke Osaka pasti akan menyempatkan diri untuk sekedar menikmati seporsi ramen panas di sini. Namun sayang, tempat yang terlalu sempit tidak mampu menampung konsumen yang membludak. Sehingga terkadang pelanggan harus mengambil nomor antrian terlebih dahulu kemudian menunggu di luar sambil mengelilingi kawasan Dotonbori sampai tiba gilirannya untuk menikmati ramen.
Adalah suatu keberuntungan karena saat ini kedai tersebut tidak terlalu penuh. Naruto berjalan menaiki tangga karena memang tempat untuk pelanggan berada di lantai atas. Memilih deretan kursi yang berada di ujung. Pria kekar itu mendudukkan diri setelah sebelumnya memutar tubuh kecil Boruto, kemudian mendekapnya dalam pangkuan. Sementara Hinata menyusul di belakang dan memilih tempat tepat di samping kiri Naruto.
Jangan berpikiran tentang suasana romantis layaknya candle light dinner. Karena di sini setiap satu kursi dipasang menghadap sebuah meja. Antara kursi pelanggan yang satu dengan yang lain, terdapat sekat kayu sebagai pembatas. Atau boleh juga dikatakan bahwa meja pelanggan di Ichiran ini berbentuk kubikel.
"Apa tidak masalah kau makan dengan posisi seperti itu?"
Hinata memandang khawatir pada Naruto yang tengah memangku sang anak.
"Tidak masalah, Hime. Lagipula Boruto tidak terlalu berat juga."
Mencipta dengusan pelan di bibir peach wanita cantik di hadapannya. Masalahnya Hinata benar-benar menyangkal ucapan Naruto barusan. Sebab bagi dirinya, Boruto itu sudah semakin berat saja. Terbukti kedua lengannya yang sering terasa pegal setelah menggendong Boruto. Oh mungkin wanita Hyuuga itu lupa tentang postur tubuh dan kekuatan fisik Naruto.
Kemudian hening menyapa keduanya. Tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Atau salah satu pihak justru sama sekali tidak ingin terjadi konversasi di antara mereka. Sementara di pihak lain masih berpikir keras tentang sebuah topik yang bisa dijadikan sebagai pembuka perbincangan. Sedikit salah tingkah karena berada sedekat ini dengan wanita yang dicintai, membuat Naruto berkali-kali menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
Kami-sama!
Ini bahkan tidak tertulis di semua novel romantis karangan sang Kakek yang konon adalah pakar cinta.
"Hinata."
Hinata menoleh. Netra pucatnya kembali bersirobok dengan netra safir Naruto. Meski degup jantungnya kembali bergemuruh, Hinata berusaha tenang dengan menganggap bahwa bola mata yang tengah dipandangnya adalah bola mata sang anak.
"Hm?"
"Apakabar?"
"Huh?"
Pertanyaan konyol Naruto sukses membuat wanita ayu itu cengo. Benar-benar di luar prediksi jika Naruto akan menanyakan hal semacam itu. Namun, Hinata tetap menjawabnya sembari mematri senyuman yang kian melembut.
"Baik."
Suara yang terdengar tenang dan datar, namun roman muka yang berhias sepuh merah mengkhianati segala usahanya. Naruto bahkan terpesona dengan pemandangan yang terpampang di depan mata. Hinata yang menelengkan kepalanya dan tersenyum hingga kedua matanya menyipit. Dadanya terasa sakit akibat detakan yang terlampau kencang dari jantungnya. Ribuan kupu-kupu, jika ada, seolah beterbangan dan menari-nari di perutnya.
Pada sisi Hinata sendiri, terasa ada sensasi aneh yang merasuki. Perasaan hangat yang memaksanya untuk lebih membuka diri pada pria pirang itu. Mungkinkah kebenciannya sedikit terkurangi akibat percakapannya dengan Kushina semalam? Karena Hinata tidak munafik mengakui bahwa sedikit banyak ucapan Nyonya Namikaze itu sempat membuatnya berpikir dan meragukan keputusan yang telah diambil.
"A-ah... Syukurlah."
"Uzumaki-san sendiri?"
"Aaa aku juga baik-baik saja seperti yang kau lihat. Ahahahaha."
Bukan perkara yang lucu sebenarnya tapi demi mengurai kecanggungan Naruto terpaksa mengeluarkan jurus lamanya. Tertawa konyol.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, mereka terlibat dalam konversasi ringan. Naruto memberanikan diri memulai percakapan, memberikan kalimat demi kalimat tanya untuk memancing sang Hyuuga berbicara. Tidak peduli jika respon yang diterimanya begitu datar dan dingin.
Kian lama, topik kian mengalir. Mungkin sebab kepiawaian sang Uzumaki yang mampu mengajak lawan bicaranya untuk terlibat penuh dalam sebuah percakapan. Awalnya bergulat tentang cuaca yang cenderung mengalami perubahan drastis, kemudian berkaitan dengan keadaan politik di negara hingga keluh kesah masing-masing atas pekerjaan yang melelahkan.
Ramen yang sudah tersedia di meja pun nyaris terbengkalai. Untunglah keduanya lebih cepat menyadari dan memilih untuk menghabiskan makanan terlebih dahulu.
Tidak ada yang menyadari bahwa atmosfer yang menaungi keduanya sedikit mencair. Dari ketegangan yang kaku menjadi sedikit enteng tanpa beban. Meski tidak ada penyangkalan bahwa Narutolah yang mendominasi interaksi mereka. Sementara Hinata hanya sesekali tersenyum kaku dan menjawab seadanya.
"Naruto!"
Panggilan melengking dari arah belakang berhasil menarik perhatian keduanya. Seorang wanita berrambut pirang dengan pakaian super seksi berlari kecil ke arah mereka, atau Naruto tepatnya. Mata opalnya begitu berbinar senang saat bertatapan dengan mata biru Naruto.
Dan tanpa memperhatikan situasi wanita itu menerjang begitu saja ke arah Naruto. Membuat pria itu sedikit terjengkang karena beban yang bertambah.
"Ho-hoi, lepaskan aku Baka!"
Wanita itu tidak peduli. Tetap saja memeluk erat tubuh Naruto, mengabaikan eksistensi makhluk kecil di pangkuan sang pria serta tatapan sarat emosi dari iris serupa.
"Ahh... Aku merindukanmu, kau tahu?"
"Tidak tahu dan tidak mau tahu!"
Teriakan tertahan dari pria pirang itu membuat sang wanita melepaskan pelukannya. Kedua tangan terlipat di depan dada dengan bibir mengerucut.
"Mou, jangan begitu Naruto! Kau mau melupakan masa lalu kita yang indah dan panas? Hm? Hm?"
Naruto membelalakkan iris safirnya selebar mungkin. Hatinya kebat kebit sembari meluncurkan umpatan kasar pada wanita pirang itu.
"Pergi kau, Shion! Jangan ganggu aku!"
Tanpa perasaan Naruto mendorong tubuh kecil Shion. Meski tidak begitu kuat namun nyaris membuat wanita itu terjungkal.
Matanya melirik gelisah ke arah Hinata. Namun, reaksi yang tertangkap penginderaannya sungguh menyakitkan. Karena wanita berrambut indigo itu tampak tidak peduli. Menatap lurus pada layar ponsel pintarnya dengan ekspresi yang begitu minim. Hingga membuat dirinya kecewa.
"Ih, sialan kau, Rubah! Jadi mentang-mentang sudah ada Haruno Sakura kau jadi melupakanku?"
'Aaarrggghhh! Ku bunuh kau, Shion!' teriaknya dalam hati. Sebelah tangannya mengacak rambut pirangnya dengan frustrasi.
Sraakhh!
"Maaf Uzumaki-san. Aku baru saja ingat ada janji menyelesaikan rancangan untuk pelanggan malam ini."
Hinata berdiri dengan cepat, tangannya memasukkan ponsel pintar yang baru saja dimainkan ke dalam tas Hilde Palladinonya. Matanya menatap datar pada Naruto setelah menyempatkan diri untuk melirik wanita pirang di sampingnya.
"Aaa Hinata, biar aku mengantarmu."
"Tidak perlu, Gaara sudah menjemputku di luar."
Hinata meraih tubuh kecil Boruto untuk digendong. Namun, Naruto menolak untuk melepaskan.
"Kau datang bersamaku maka kau juga harus pulang bersamaku. Bukan dengan pria lain!"
Nada dingin sarat akan intimidasi sedikit mencipta nyali ciut pada diri Hinata. Namun egonya kembali seperti semula dalam hitungan detik.
"Tidak ada keharusan seperti itu, Uzumaki. Lagipula Gaara bukan pria lain bagiku!"
Pyarrrr!
Hati Naruto terasa hancur berkeping-keping saat mendengar jawaban Hinata. Saking shocknya, pelukan posesifnya sedikit mengendur hingga memudahkan Hinata untuk mengambil tubuh sang Anak yang masih tertidur.
Tatapannya nanar pada sosok mungil wanita yang dicintainya, yang kini melangkah pergi meninggalkan dirinya.
Bersama seorang wanita berrambut pirang yang sedang ternganga dan merasa bingung dengan drama yang baru saja terjadi.
"Shion!"
"I-iya?"
"Bersiaplah!"
"Huh?"
"AKU AKAN MEMBUNUHMU! PIRANG BAKAAA!"
.
.
.
Pernahkah kalian merasa tidak nyaman berada di sebuah ruangan sempit bersama orang yang paling ingin dihindari? Kemudian tidak ada bahan apapun yang bisa menjadi pemicu percakapan? Nah seperti itulah yang dirasakan Hinata saat ini. Duduk di kursi penumpang, bersebelahan dengan Gaara di kursi pengemudi. Raut datar memang biasa menjadi rona penghias wajah tampan itu, tapi entah mengapa saat ini terlihat lebih dingin. Seakan ada luapan emosi yang menumpuk namun dipendam begitu dalam. Bukan Hinata sok tahu, lahir dan tumbuh dalam keluarga Hyuuga yang notabene memiliki perilaku mirip dengan Gaara tentu membuat dirinya tak asing dengan perangai macam itu.
"Kenapa diam saja?"
Rasanya Hinata ingin mengubur diri dalam sumur tak berdasar, saat tanpa sadar bibirnya mengucap pertanyaan itu.
Terlebih ketika iris light green itu meliriknya. Meski tidak melihat, Hinata jelas merasakan energi negatif yang menguar.
"Memangnya aku harus berkata apa?"
Dingin dan menusuk. Dua kata yang cukup menjabarkan intonasi suara Gaara.
Hinata memilih diam. Kesenyapan kembali menyeruak. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya Hinata merasa tidak enak. Keadaan dan posisi dirinya saat ini benar-benar patut disalahkan. Di satu sisi dia sudah berusaha memantapkan hati untuk menikah dengan Gaara. Hell! Pernikahan mereka bahkan tinggal hitungan hari. Tapi di sisi lain Hinata masih belum mampu melepaskan rasa cintanya pada Naruto. Meski tidak menyangkal bahwa kebencian masih jelas tertanam.
Semenjak pria itu datang kembali di kehidupannya, Hinata merasakan hatinya seolah dibolak balik hingga tak berbentuk. Marah dan benci menjadi dominansi sepuh hati. Tetapi saat yang bersamaan senyar hangat nan menyenangkan juga mengambil bagian dalam pembentukan perasaan. Terlebih sejak pria itu mulai menyadari bahwa dirinyalah sosok sang wanita yang selama ini dicari.
"Tou-chan?"
Pecahan suara Boruto di jok belakang terdengar lirih. Hinata menoleh ke arah sang Anak sementara Gaara hanya memandang melalui kaca spion.
"Hei, Boruto sudah bangun?"
"Kaa-chan? Dimana Tou-chan?"
Hinata tergelagap dan sedikit salah tingkah. Sejenak melirik rona datar pada wajah Gaara.
"Aa Boruto tadi belum sempat makan ya? Mau makan dulu?"
"Mana Tou-chan?"
Bagai disumpal oleh pertanyaan sang Anak, Hinata kembali membisu. Seandainya saja ada angin puting beliung saat ini, wanita itu dengan rela akan ikut terbang. Lebih baik daripada berada di posisi seperti ini.
Kernyitan heran muncul di dahi putihnya saat menyadari kecepatan mobil yang melambat. Dan kemudian Lamborghini Veneno itu menepi.
Gaara melepas sabuk pengaman yang mengikat tubuhnya kemudian berbalik menghadap Boruto. Tatapan matanya dibuat selembut mungkin meski tidak sepenuhnya berhasil. Bibirnya menuai senyuman datar.
"Mulai sekarang Paman Gaara yang akan menjadi Tou-chan Boruto."
.
.
.
TBC
.
.
.
Pendek lagi chapternya, hihihi... Nggak apa-apa yah?
Terimakasih atas kesediaannya membaca cerita ini. Atas review, fav and fol nya juga ^^
