Sementara itu...
Tok...tok...tok...
CKLEK!
"Gray, kamu sudah pulang rupanya. Kenapa lama sekali?" tanya Mavis membuka pintu perlahan. Ekspresinya semakin tidak karuan, sewaktu ditanya hal barusan
"Itu tidak penting. Lucy terluka parah, kamu harus mengobatinya!" mendengar berita itu, membuatnya shock sesaat. Mereka pun berlari menaiki tangga, karena sekarang adalah kondisi darurat!
Usai memakai sihir penyembuh, Mavis memberitau bagaimana kondisi Lucy sekarang. Dia dikatakan mengalami anemia berlebih, juga gegar otak berat. Dapat dikatakan, merupakan suatu keajaiban, masih bisa bernafas setelah kepalanya dibentur berulang kali. Tangan kanannya mengalami patah tulang, sedangkan anggota tubuh lain baik-baik saja. Gray tetap merasa khawatir, jelas, karena saat ini, dia membutuhkan donor darah. Jika tidak, menurut perkiraan Mavis, Lucy akan meninggal delapan jam lagi.
"Kita harus ke rumah sakit, bukankah begitu?" tanya Gray terdengar bersikeras
"Maaf, tetapi kita tidak bisa, membawa Lucy ke sana" jawab Jellal dingin. Masih memperhatikan Lucy dari jarak jauh
"Kenapa? Kau mau dia mati apa?!" untuk sekarang, Gray sangat sulit mengendalikan emosi. Apalagi Jellal berkata seperti itu, membuatnya hendak main tangan. Natsu segera melerai, sekarang bukan saatnya bertengkar
"Jellal belum selesai bicara. Aku menemukan ini, sewaktu berjalan-jalan di kota tadi. Lihatlah" Natsu menyodorkan selembar poster, yang tertulis nama Lucy Heartfilia, berserta hadiah uang sebesar lima ratus juta. Gray terkejut melihatnya, dia telah dianggap buronan entah sejak kapan
"Cih...! Kenapa sekarang, Erza mau memburu Lucy? Dia tidak lagi, memiliki rumah untuk pulang. Sekolah pun, pasti telah mengeluarkannya"
"Mystogan sempat melakukan penyelidikan. Poster itu sudah ada, sejak beberapa hari lalu. Lucy juga tidak lagi terdaftar, sebagai murid di SMP, tempatnya bersekolah"
"Sekarang harus bagaimana?" mereka dilanda dalam keputusasaan. Apa tidak ada cara lain, yang jauh lebih baik? Jellal berjalan mendekat, membuat semua pandangan mata, tertuju ke arahnya
Kepalanya dielus lembut, tidak ada lagi noda darah di keningnya, setelah dibersihkan memakai handuk putih. Dia mulai membaca mantera, sepatah demi sepatah kata, memperlihatkan sirkuit sihir dari tubuh Lucy, yang memancarkan warna biru muda. Natsu seakan mengetahuinya, terlihat mirip dengan ledakan nadi sihir milik Meredy, atau mungkin memang itu? Kini terjadi kesalahpamahan besar, dia beropini, bahwa Jellal mau membunuh Lucy, karena nyawanya tidak lagi bisa diselamatkan.
"Oi, oi, kau mau meledakkan sirkuit sihir Lucy?" terus berpikir sampai menemukan jawabannya, bukanlah tipe seorang Natsu Dragneel. Dia juga tidak terlalu pintar, dalam urusan semacam sihir
"Apa benar perkataan Natsu? Kau mau membunuh Lucy, ya?!" emosi Gray semakin tersulut, namun Jellal masih mendiamkannya. Jika dijawab pun, belum tentu dia mau mendengar
"Aku menggunakan sihir enchant, ini adalah pilihan terbaik, selain donor darah" walau terdengar aneh, itulah kenyataannya. Secara umum, enchant digunakan untuk memperkuat barang, dengan memakai satu macam scroll (Gulungan sihir). Ada banyak variasi, tergantung pada level senjata, armor, dan lain-lain
"Bukankah, itu digunakan untuk senjata? Apa mungkin sihir terlarang?" Gray kembali menuduh yang tidak-tidak, entah kenapa dia merasa ragu
"Intinya adalah, harapan hidup Lucy diperpanjang. Dia bisa terus bernafas, namun tidak bisa bangun. Sihir enchant berlaku, selama aku bisa mempertahankan manteranya. Dan sekarang, nyawa Lucy berada di tanganku"
"Nyawa Lucy, berada di tanganmu? Jadi..."
"Jika aku meninggal, hal yang sama, juga akan terjadi pada Lucy. Beda cerita lagi, jika aku gagal mempertahankan mentera, maka hanya dia, yang meninggal" begitulah kesimpulannya. Gray pun beranggapan demikian, dia sudah tau, sebelum Jellal mengatakan hal tersebut
"Berapa lama, kamu bisa mempertahankannya?"
"Selama konsentasiku tidak terganggu, mantera itu akan terus bekerja. Kemungkinan untuk gagal cukup besar, karena aku juga, menggunakannya pada diriku sendiri"
Tidak ada lagi pertentangan, semua larut dalam pikiran masing-masing. Ternyata memang, pilihan mereka sangatlah terbatas sekarang. Jika masih bersikeras, membawa Lucy ke rumah sakit, maka resikonya adalah ditangkap polisi. Kalau sudah begitu, dia bisa meninggal dalam perjalanan.
Di pemerintahan...
Erza POV
Semua terlihat jelas lewat sihir portal. Kondisi Lucy yang sekarat, keputsasaan yang melanda. Permainan ini bertambah menarik, dengan keadaan mental mereka sekarang. Tetapi, ada satu masalah, jika langsung memberi tantangan, belum tentu, Jellal selaku ketua menerimanya. Terlintas sebuah ide di dalam kepalaku, sekarang, anak itu tidak lagi memiliki alasan untuk menolak. Aku keluar dari dalam ruangan, pergi menemui Mirajane yang kebetulan berada di sekitar koridor.
"Yo, apa kamu sudah bisa mengikhlaskan Lisanna?" tanyaku sekedar basa-basi, terlebih dahulu menepuk pundaknya pelan
"Maaf Erza-sama, saya belum bisa. Jadi merepotkanmu dan yang lain"
"Tidak perlu sungkan. Aku ingin mengadakan permainan, dengan anak-anak itu. Kamu bisa merebut Lisanna kembali, jika berhasil mengalahkan salah satu dari mereka"
"Benarkah? Memangnya permainan apa?" dia sudah memakan umpan
"Survival game, bukankah terdengar mernaik? Aku jamin, Lisanna tidak akan meninggal, selama permainan berlangsung. Ingatlah syarat, yang tadi kuberikan"
"Kapan diadakan?"
"Besok. Aku mengandalkanmu, untuk mengalahkan Jellal, beserta anggota lainnya"
"Apa hanya saya, yang akan berpartisipasi?"
"Lihat saja nanti. Beristirahatlah, kamu pasti lelah"
"Terima kasih banyak, Erza-sama"
Pemain sampingan bisa diurus lain waktu. Aku segera menghubungi mereka, dengan lacrima komunikasi. Belum lama menunggu, Jellal sudah merespon panggilannya. Dia selalu saja, terlihat membenciku, berapa banyak pun dilihat, tetap saja manis.
Di dalam markas...
Jellal POV
Apa maunya sekarang, tiba-tiba menghubungi? Aku ingin mengakhiri panggilan sekarang juga, tetapi ekspresi Erza seakan berkata, ada hal penting, yang harus diberitaukan.
"Langsung ke pointnya saja. Aku mengadakan survival game, dan kalian semua harus ikut serta, kecuali Lucy" permainan konyol buatan Erza? Dia masih bisa bercanda di saat-saat seperti ini
"Sayangnya aku menolak. Mengikuti permainanmu, hanya buang-buang waktu saja" tolakku sehalus mungkin. Mencari masalah sekarang, bisa saja berimbas buruk
"Ups, aku belum selesai bicara, lho. Jika kamu tidak mau ikut, maka Mirajane, yakni kakak Lisanna, akan meninggal. Aku menaruh segel mantera bunuh diri, pada pundak kanannya"
"Kenapa kau melibatkan nee-san?!" teriak Lisanna tak terima, dengan keputusan tersebut
"Jelas, supaya kalian mau berpartisipasi. Nyawa satu orang, pasti tidak cukup untukmu. Bagaimana kalau ku lipat gandakan lagi? Perhatikanlah leher Lucy" ada sesuatu di sana, terlihat seperti lingkaran merah kecil. Apa maksudnya ini?
"Jika aku memetik jari, maka kepalanya akan terpenggal. Kalau Lucy meninggal, bagaimana caramu bertanggung jawab pada Layla? Kejantananmu sebagai pria dipertaruhkan, Jellal"
Sial...apa maksudnya membawa-bawa Lucy dan orang lain? Lisanna sangat terpukul, bagaimana kalau benar-benar terjadi? Pasti dia jauh lebih stres dibanding sekarang. Erza memang pintar, soal mempermainkan orang lain. Aku ingin melindungi semuanya, jadi terpaksa, permainan itu diterima.
"Baiklah, kapan dimulai?"
"Besok pagi. Aku akan menjemput kalian semua. Selamat bersenang-senang" ucapnya memutus panggilan. Kami terdiam sejenak, hanya terdengar suara dentingan jam dan suara serangga, di siang hari
"Nii-san serius, mau mengikuti permainannya Erza?"
"Ingatlah, taruhannya adalah nyawa Lucy dan kakak Lisanna. Dilihat dari sifat Erza, dia adalah seorang pembohong handal. Mungkin, bukan hanya mereka berdua, yang berada di ujung tanduk sekarang. Siapa tau, ayah dan ibu, warga desa mata merah, juga menjadi incaran. Mau tidak mau, kita harus siap"
Pembunuhan berikutnya, akan terjadi besok, dengan Erza sebagai penonton, sekaligus wasit.
Bersambung...
Next chapter : Survival Game
A/N : Cerita ini sengaja dibuat 8 chapter sekaligus. Maaf, ya, buat yang udah nunggu lama banget. Oke, sebelumnya author ingin mengucapkan, selamat ulang tahun untuk temanku, author Naze-Dzena. Delapan chapter cerita Red Eyes, anggap aja sebagai hadiah.
