DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, Ojamajo Doremi 16 Naive, Ojamajo Doremi 16 Turning Point & Ojamajo Doremi 17 (light novel) © Kodansha, 2011-2013. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini, dan semua lagu yang judulnya tercantum dalam fic ini juga bukan punya saya.
Catatan Author: Oke, khusus di bulan Juli ini, mungkin saya akan mengupdate fic ini terus, walaupun mungkin konsentrasi saya juga akan sedikit terpecah dengan memikirkan ide untuk mengupdate 'The Stars and the Bad Boys' juga, ehehe…
And, here is the 25th chapter!
Warning: Some overrated words are available here.
.
Intro: Dalam sebuah kamar di sebuah penginapan, seorang gadis menghela napas sambil menatap keluar jendela yang berada tepat dihadapannya dengan tatapan kosong. Dari wajahnya, terlihat bahwa ia sedang memikirkan sesuatu…
Setelah beberapa lama berpikir, ia lalu menoleh kearah seorang pemuda yang sedang duduk dibelakangnya dan menatapnya, kemudian berkata, "Selama ini, aku tak pernah merasakan hal yang seaneh ini… tapi di pantai ini, aku malah merasakannya…"
Pemuda itu terdiam, lalu sang gadis yang sedang berdiri dihadapannya itupun bertanya, "Apa sekarang, aku… telah menjadi…"
Tanpa diduga, sang pemuda yang semula sedang duduk itupun menghampiri gadis itu dan memotong pertanyaan yang diajukannya dengan menempatkan jari telunjuk tangan kanannya di bibir gadis itu, sambil berkata, "Kau jangan berkata begitu. Ini bukan salahmu."
"Eh?"
"Ini salah teman-teman kita yang lain," pemuda itu menghela napas, "Kenapa mereka tidak menyisakan kamar untukku?"
.
(Opening Song 'Ojamajo Girlband': 'Egao no Mirai he' by MAHO-Do – Original Version by Yuki Matsuura)
Ojamajo Girlband
.
It's All About Growing Up
Malam harinya, beberapa jam setelah konser di Yonaha Maehama selesai…
Semua orang sudah kembali ke penginapan tempat mereka menginap di pulau Miyako selama beberapa hari ini, terkecuali Kotake yang baru sampai disana pagi ini.
Sayangnya, sudah tidak ada lagi satupun kamar yang tersisa untuk Kotake menginap disana. Karena itulah, Momoko, yang semula berada di kamar yang sama dengan Doremi sengaja memutuskan untuk pindah kamar bersama dengan Hazuki, Aiko dan Onpu supaya Kotake bisa sekamar dengan Doremi.
Pada awalnya, hal ini membuat Doremi protes. Ia lalu bertanya kepada Momoko tentang kemungkinan lain yang bisa diusahakan supaya Kotake bisa mendapat kamar tanpa harus sekamar dengannya, tapi Momoko hanya menggeleng dan menjawab bahwa hanya itulah satu-satunya jalan bagi Kotake untuk mendapatkan kamar, dengan alasan bahwa semua teman laki-laki seangkatan mereka di SD Misora yang datang kesana sudah menempati kamar mereka bersama-sama secara berdesak-desakan. Itu artinya, sudah tidak ada lagi tempat bagi Kotake untuk ikut menempati kamar tersebut.
Doremi akhirnya menyerah dan membiarkan Kotake menempati kamar yang ditempatinya di penginapan itu, bahkan, apa yang terjadi selanjutnya justru lebih dari apa yang diperkirakan sebelumnya…
'Kenapa sekarang, aku seolah seperti menelan ludahku sendiri? Kenapa perasaan ini…'
Apa yang terjadi saat itu membuktikan bahwa suasana di pantai Yonaha Maehama mempengaruhi hubungan percintaan diantara mereka dengan sangat kuat. Bahkan pengaruhnya membuat mereka sampai terserang mabuk cinta, sampai-sampai mereka melakukan apa yang sebelumnya juga mereka lakukan di malam setelah pesta kelulusan mereka dari SMA Misora beberapa bulan yang lalu.
Setelah kejadian itu, mereka sempat terdiam tanpa suara, terhanyut dalam pikiran masing-masing. Selama beberapa menit mereka hanya terbaring disana dalam diam, dengan tubuh yang hanya terbalut oleh sehelai selimut lebar yang nyaman.
"Maafkan aku," ujar Doremi memecahkan kesunyian yang terjadi sejak beberapa menit yang lalu, "Sebelumnya, aku yang membuatmu berjanji supaya kau tidak melakukannya lagi, tapi sekarang, justru aku sendiri juga yang memintamu untuk melanggarnya."
Iapun menghela napas, "Aku benar-benar bodoh…"
Kotake lalu menggenggam tangan kiri Doremi dengan tangan kanannya, "Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena kupikir, wajar saja kalau kau bisa merasakan hal itu disini. Pesona pantai ini benar-benar sangat kuat… bahkan sampai bisa mempengaruhimu begini."
"Aku benar-benar tidak mengerti… apa yang sedang terjadi padaku malam ini, sampai aku…"
"Kurasa kita tidak perlu membahas hal itu lagi sekarang. Lagipula, tadi kau lihat sendiri kalau aku memberlakukan pengecualian malam ini," potong Kotake, "Aku yakin, setelah kita meninggalkan pantai ini, semuanya akan berjalan dengan sewajarnya, dan kita tidak akan pernah melakukannya lagi… sampai saat itu tiba."
"Bagaimana kau bisa yakin akan hal itu, Tetsuya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita pikirkan selanjutnya," sahut Doremi, "Bukan tidak mungkin kalau suatu saat nanti, aku… menginginkannya lagi, tanpa bisa kukendalikan sama sekali. Kelihatannya, aku yang sekarang… bukan lagi aku yang dulu, bahkan bukan lagi aku yang sama dengan aku yang tampil di konser siang tadi. Sekarang, aku hanyalah…"
"Hei, sudahlah Doremi. Jangan salahkan dirimu sendiri terus," Kotake kembali memotong perkataan Doremi, "Aku yakin sampai saat ini, kau masih Doremi yang sama. Kau masih menjadi satu-satunya gadis yang kucintai, yang baik hati dan tidak akan pernah mau melakukan hal yang tidak-tidak terhadap siapapun, termasuk aku."
"Kau yakin kalau aku tidak akan pernah menginginkannya lagi sampai… kita menikah nanti?"
"Aku yakin," jawab Kotake mantap, "Karena ada satu hal yang ingin kuberikan padamu, dan aku yakin sekali kalau hal itu bisa membuatmu berpikir jernih dan tidak akan lagi menginginkan hal 'itu'."
"Memangnya… hal apa yang ingin kauberikan padaku?" tanya Doremi, "Kelihatannya, kau yakin sekali kalau hal itu bisa membuatku… tidak lagi menginginkan hal yang tidak-tidak."
"Sebentar," sahut Kotake sambil duduk dan meraih tas pakaian miliknya yang disandarkan disisi kanan tempat tidur yang ditempatinya, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tersebut, "Sebenarnya sih, aku memberikan ini padamu hanya sebagai kado ulang tahunmu, tapi sekarang, kupikir ini juga bisa menolongmu untuk terus mengingat janji kita, supaya kejadian tadi tidak terulang lagi sampai kita menikah nanti."
Kotake kemudian memperlihatkan sesuatu yang diambilnya itu kepada Doremi, yaitu sebuah kotak perhiasan kecil berisi dua buah kalung dengan bentuk liontin yang berbeda dan bahan rantai – atau tali – yang berbeda pula. Salah satunya membentuk huruf D berantai emas putih tipis, sementara yang satunya lagi membentuk huruf T dan bertali hitam.
"Kau… memberikanku kalung lagi tahun ini?" tanya Doremi heran. Ia lalu berpaling kearah sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang menghiasi lehernya, "Ini bahkan belum setahun sejak kau memberikan kalung yang sedang kupakai sekarang."
"Kau jangan salah paham dulu, Doremi, karena kalung yang ingin kuberikan padamu kali ini berbeda dengan kalung itu," ujar Kotake, "Karena sepasang kalung yang berada di dalam kotak ini memiliki makna yang tersembunyi, dan hanya kita berdua yang tahu apa makna yang tersembunyi tersebut."
"Memangnya… apa makna yang kaumaksud itu?"
"Sekarang, coba kauperhatikan bentuk liontin dari kedua kalung ini," Kotake mulai menjelaskan, "Masing-masing berbentuk huruf romaji dari inisial nama panggilan kita berdua, dan aku ingin supaya… masing-masing dari kita memakai kalung yang sesuai dengan inisial nama kita masing-masing. Kau memakai kalung berliontin huruf D ini, sementara aku mengenakan kalung yang berliontin huruf T."
"Tapi… kenapa bahan tali dari kedua kalung ini berbeda?"
"Supaya kita bisa membedakan antara kalung milikmu dengan kalung milikku. Karena kau seorang gadis, rantai kalungmu juga harus bagus dan cantik, yang bahannya sama dengan bahan liontin kalung tersebut."
"Kalau begitu, bagaimana dengan kalungmu?" Doremi bertanya lagi, "Kurasa, walaupun bahan tali atau rantainya sama, kita masih bisa membedakan kedua kalung itu dari bentuk liontinnya."
"Bukan soal itu," Kotake menghela napas, "Kau sendiri juga tahu kalau mulai saat ini, waktuku akan lebih banyak dihabiskan untuk berlatih sepak bola, dan… tidak akan bagus jadinya kalau rantai kalungku terus-terusan terkena keringat. Aku lebih membutuhkan kalung dengan tali yang aman terkena keringat."
"Eh? Jadi maksudmu, kau akan terus mengenakan kalung itu?"
"Ya, aku akan mengenakannya sampai tiba saatnya aku mengganti cincin pertunangan kita dengan cincin pernikahan kita," jawab Kotake santai.
"Lalu… apa hubungannya antara kalung ini dengan… pengingat janji kita?"
"Untuk hal itu, perhatikan saja apa yang terukir dibalik liontin-liontin ini," ujar Kotake, melanjutkan penjelasannya tentang sepasang kalung yang digenggamnya, "Disini terukir nama lengkap kita dalam huruf romaji. Dibalik liontin kalung milikmu tertulis nama lengkapku, dan dibalik liontin kalung milikku, ada nama lengkapmu disana."
"Jadi?"
"Begitu kita melihat nama itu, kita akan ingat kalau saat ini, kita masih menggunakan nama keluarga yang berbeda, dan itu artinya, janji kita masih berlaku," Kotake mengakhiri penjelasannya, "Kalau sudah begitu, aku berani menjamin bahwa kejadian seperti tadi… tidak akan terulang lagi."
"Semoga saja…" kali ini giliran Doremi yang menghela napas, "Jujur saja, sampai saat ini… aku masih takut kalau-kalau aku memikirkannya dan menginginkannya lagi."
"Tidak akan. Kau harus percaya padaku, Doremi," sahut Kotake, sedikit mendesak, "Memangnya… hanya kau saja yang percaya akan adanya keajaiban?"
"Baiklah," Doremi akhirnya tersenyum, "Aku percaya kalau kalung itu bisa mengingatkan kita berdua akan janji kita."
"Kalau begitu, aku akan memakaikan kalung ini padamu sekarang," ujar Kotake, "Tapi sebelumnya, kurasa kita harus… ya, kau tahu sendiri kan, apa yang kumaksud?"
"Aku mengerti," sahut Doremi yang kemudian duduk dan meraih beberapa potong pakaian yang berada diatas kursi disebelahnya, lalu berdiri dan mulai mengenakan pakaian itu, sementara Kotake melakukan hal yang sama di sisi tempat tidur yang lainnya.
Setelah mereka berdua memastikan bahwa pakaian yang mereka kenakan sudah lengkap menutupi tubuh mereka, Kotake kemudian menghampiri sang gadis bersurai merah dan memakaikan kalung berliontin huruf D yang diberikannya kepada gadis itu.
"Sekarang, biar aku yang memakaikan kalung ini padamu," ujar Doremi sambil mengambil kalung berliontin huruf T yang berada didalam kotak perhiasan yang dipegang Kotake dan memakaikannya kepada pemuda itu, "Yah, walaupun sebenarnya… kau masih bisa mengenakannya sendiri, tapi… kalau aku yang memakaikannya, setidaknya itu membuat keadaan diantara kita berdua menjadi seimbang. Kau memakaikan kalung yang kauberikan padaku, dan aku memakaikanmu kalung ini."
"Terserah kau," sahut Kotake, "Yang penting, kita sama-sama mengenakan kalung ini."
Mereka saling beradu pandang dan tersenyum, sambil menggenggam liontin dari kalung yang baru saja mereka kenakan.
"Aku akan berusaha untuk tidak memikirkannya lagi," kata Doremi.
"Aku yakin kau pasti bisa melakukannya, seperti aku yang bisa menahan diri… walau hanya sampai malam ini," Kotake kembali menyahut perkataan Doremi, "Tapi mulai detik ini, aku juga akan berusaha untuk menahan diriku, supaya aku bisa melindungimu."
"Aku juga percaya padamu," balas Doremi. Ia lalu menyadari bahwa pakaian yang sedang mereka kenakan sudah kotor, "Kurasa sekarang, kita harus mengganti pakaian yang kita kenakan ini dengan piyama. Kita juga… perlu mandi sekarang."
"Baiklah!" seru Kotake yang kemudian menarik kekasihnya masuk kedalam kamar mandi yang berada didalam kamar tersebut, "Ayo kita mandi sama-sama!"
"Tidak bisa!" sahut Doremi tegas. Ia mendorong Kotake keluar dari kamar mandi dan dengan cepat menutup dan mengunci pintu kamar mandi tersebut, "Kita sudah memakai kalung itu, jadi pengecualian untuk hari ini sudah tidak berlaku lagi."
"Kupikir kau masih menginginkannya sekarang."
"Tetsuya, aku bisa dengar apa yang kaukatakan."
"Iya iya. Aku tahu kalau efek kalung itu akan berhasil," Kotake menghela napas, "Walau aku sedikit tidak menyangka bahwa kalungmu bahkan bisa mengalahkan pengaruh pantai ini sekarang, padahal…"
"Sudah diam! Aku ingin mandi dengan tenang disini," gadis itu kembali menyahut, "Kalau kau mengajakku bicara terus, aku akan berlama-lama disini."
"Baik. Aku tidak akan mengajakmu bicara lagi," balas Kotake yang kemudian menunggu sampai Doremi selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama, pertanda bahwa kali ini giliran pemuda itu untuk mandi.
Setelah keduanya selesai mandi, mereka lalu bercakap-cakap sebentar dan pergi tidur.
.
Keesokan paginya…
Jam dinding yang terpasang dalam kamar yang ditempati Doremi dan Kotake baru menunjukan pukul enam lewat lima belas menit, tetapi di dalam kamar tersebut, Doremi sudah mulai bersiap-siap untuk melakukan kegiatan rutin yang biasa dilakukannya sejak pagi pertama ia berada di Yonaha Maehama – bersepeda berkeliling pulau Miyako, sementara Kotake masih tertidur pulas.
Doremi sedang menyisiri rambut merahnya yang panjang saat Kotake terbangun dari tidurnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Kotake kepada Doremi yang masih berdiri di depan cermin sambil terus menyisir rambutnya itu, "Tumben sekali…"
"Kurasa, ini pengaruh positif dari Yonaha Maehama," jawab Doremi yang kemudian menaruh sisirnya diatas meja rias lalu mengambil sebuah bando dengan ornamen not balok yang tergeletak disana dan mengenakannya, "Disini, aku selalu bangun jam enam pagi, dan setelah itu… aku bersepeda ke sekeliling pulau."
"Kau? Bersepeda?"
"Memangnya kenapa? Kau tidak percaya?"
"Ya… tidak juga," ujar Kotake, "Ngomong-ngomong, apa aku boleh bersepeda denganmu pagi ini?"
"Boleh saja, kalau kau mau ikut," sahut Doremi sambil menyemprotkan parfum beraroma bunga sakura ke tubuhnya yang sekarang mengenakan pakaian santai, "Tapi sebelumnya, kau harus menyikat gigimu dan mengganti pakaianmu dulu, baru kau bisa ikut bersepeda bersamaku."
"Aku setuju," Kotake langsung bergegas menuju ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti dan sikat gigi miliknya, "Kau jangan keluar dari kamar ini dulu ya? Tunggu sampai aku selesai ganti baju."
"Oke!"
Setelah Kotake selesai mengganti pakaiannya, merekapun bergegas keluar dari kamar tersebut untuk bersepeda. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Morikawa Dai dan Kine Hiroko yang sudah duluan bersepeda didepan mereka. Keempat remaja itu lalu memutuskan untuk mengadu kecepatan mereka dalam bersepeda.
Siang harinya, mereka semua bergegas menuju Bandar Udara Miyako untuk kembali pulang ke Tokyo, kembali kepada keseharian mereka yang sudah menunggu disana. Merekapun berpisah di Bandara Haneda – para personil MAHO-Do bergegas pulang menuju rumah asrama mereka di Tokyo, sementara yang lainnya pulang kembali ke Misora, termasuk diantaranya Kotake yang ingin memberitahukan kepada kedua orangtuanya tentang keberhasilannya masuk ke J-league.
Keesokan harinya, di tanggal satu Agustus, Doremi memutuskan untuk mengantarkan oleh-oleh untuk Akari dan teman-temannya di 'The Sweet Notes'. Bersama dengan Aiko, ia berjalan menuju ke rumah Akari.
Sebelumnya, Doremi juga sudah sepakat dengan Akari, Melissa dan Karen supaya mereka bisa membicarakan tentang rencana mereka untuk membuat jadwal latihan bersama antara MAHO-Do dan 'The Sweet Notes' bersama dengan Yumi dan Aleyna saat ia dan Aiko mendatangi rumah Akari hari ini. Karena itulah, sejak kemarin Akari sudah memberitahu kepada para personil 'The Sweet Notes' lainnya untuk datang ke rumahnya hari ini.
"Mudah-mudahan, Akari-chan dan teman-temannya menyukai oleh-oleh yang kita bawa untuk mereka," ujar Doremi kepada Aiko, "Kurasa, oleh-oleh ini bisa menjadi awal persahabatan yang bagus antara MAHO-Do dan 'The Sweet Notes'."
"Yah, mudah-mudahan saja," sahut Aiko dengan nada tak yakin, "Kelihatannya Yumi dan Aleyna masih bermusuhan dengan kita…"
"Ai-chan, sekarang ini, Yumi-chan dan Aleyna-chan sama saja seperti bongkahan batu – keras kepala dan menganggap kita sebagai musuh mereka. Kalau kita menghadapi mereka dengan cara yang keras juga, sama saja dengan batu lawan batu – sama-sama saling menghancurkan, tapi kalau kita menghadapi mereka dengan lembut dan menganggap mereka sebagai sahabat, pasti mereka juga akan menganggap kita sebagai sahabat, seperti batu yang ditetesi air yang lambat laun akan berlubang," jelas Doremi, mencoba meyakinkan Aiko, "Karena itulah, saat di Yonaha Maehama kemarin, aku membelikan semua oleh-oleh ini untuk mereka, supaya hubungan diantara kita dengan mereka bisa lebih dekat lagi."
"Terserah kaulah."
Begitu mereka melintasi jalan dekat rumah Akari, Doremi menyadari sesuatu yang terjadi disebuah gang buntu yang mengarah ke jalan yang dilaluinya bersama Aiko.
'Apa aku tidak salah lihat?' pikir Doremi, 'Yang tadi itu… Yumi-chan sedang…'
"Donai shita, Doremi-chan?" tanya Aiko menyadari bahwa sahabatnya sedang memikirkan sesuatu yang baru saja disadarinya, "Apa ada yang ketinggalan?"
"Tidak sih, Ai-chan. Hanya saja… tadi aku merasa bahwa aku… melihat Yumi-chan di gang yang ada di sebelah sana," jawab Doremi sambil menunjuk kearah sebuah gang yang ia maksud, "Dia sedang dikelilingi oleh beberapa orang preman, dan…"
"Jangan-jangan mereka melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya," potong Aiko yang tanpa buang waktu lagi langsung berlari kearah gang tersebut untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan Doremi benar adanya. Gadis berambut biru marine bernama lengkap Taneshiro Yumi tersebut benar-benar sedang berada di gang tersebut bersama dengan beberapa orang preman yang ingin memperkosanya.
"Hei kalian!" seru Aiko, mencoba mencegah perbuatan keji preman-preman tersebut, "Jangan sentuh dia, atau aku akan melaporkan kalian ke polisi!"
Gertakan Aiko berhasil. Preman-preman itupun pergi meninggalkan Yumi dan Aiko yang berada di gang tersebut.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Aiko kepada Yumi sambil berjalan mendekatinya, "Apa mereka melukaimu?"
"Ah, aku… tidak apa-apa kok. Mereka tidak sempat melukaiku, hanya… pakaianku sedikit terkoyak," jawab Yumi pelan, "Terima kasih telah menolongku."
"Sama-sama. Kita kan kuliah di universitas yang sama, jadi tidak ada salahnya kan, kalau aku menolongmu supaya mereka tidak melecehkanmu?"
"Ya, kau… ada benarnya juga sih…"
"Ai-chan, apa kau menemukan sesuatu?" tanya Doremi sambil berlari menyusul Aiko ke gang tersebut, "Apa yang kulihat tadi itu benar?"
"Yah, kau bisa melihatnya sendiri, Doremi-chan," jawab Aiko, membiarkan Doremi melihat keadaan Yumi sekarang.
"Ah, Yumi-chan," ujar Doremi, "Ternyata, yang kulihat tadi benar-benar kau…"
"Kenapa kalian baik sekali padaku?" tanya Yumi, "Tadi temanmu ini menolongku supaya preman-preman itu tidak menyentuhku, dan sekarang, kau memanggilku…"
"Apa aku salah memanggilmu dengan akrab begitu?" Doremi balik bertanya, "Yumi-chan, sekarang aku dan Akari-chan, juga Karen-chan dan Mell-chan juga sudah bersahabat, jadi aku juga sudah menganggapmu dan Aleyna-chan sebagai sahabatku, sama saja seperti mereka."
"Kau pasti sedang ingin ke rumah Akari-chan kan?" tambah Aiko, "Kalau begitu, ayo kita berjalan ke sana sama-sama. Kebetulan, aku dan Doremi-chan juga sedang ingin pergi kesana. Kami ingin memberikan beberapa oleh-oleh dari Yonaha Maehama untuk kalian."
"Pantas saja Akari-chan menyuruhku dan personil 'The Sweet Notes' yang lain untuk datang ke rumahnya hari ini. Ternyata… kalian baru pulang dari Yonaha Maehama ya?"
"Iya."
Mereka lalu berjalan bersama menuju ke rumah Akari, dimana keempat personil 'The Sweet Notes' lainnya sedang menunggu.
"Eh? Yumi-chan, kau… tidak apa-apa kan?" tanya Akari khawatir begitu melihat Yumi datang dengan pakaian yang sedikit robek di beberapa bagian, "Kenapa pakaianmu robek begini?"
"Yah, tadi… ada sedikit masalah di jalan, tapi… untungnya mereka bisa menolongku, jadi aku terhindar dari bahaya," jawab Yumi, "Ngg, terima kasih ya? Anou…"
"Panggil saja aku Ai-chan, dan ini Doremi-chan," sahut Aiko, "Kami juga senang bisa menolongmu."
"Ya, terima kasih ya, Ai-chan, Doremi-chan. Kalau tadi kalian tidak menolongku, mungkin…"
"Sudahlah, Yumi-chan. Jangan ungkit-ungkit kejadian itu lagi," potong Doremi, "Jujur saja, aku juga pernah mengalami hal yang hampir sama denganmu, jadi aku mengerti betul perasaanmu sekarang. Sebaiknya, kau jangan mengingat-ingat apa yang terjadi di gang tadi ya?"
"Baiklah," Yumi akhirnya tersenyum, "Sekali lagi, terima kasih ya? Kalian benar-benar orang yang baik. Kelihatannya, selama ini aku telah salah menilai kalian. Aku seharusnya tidak menganggap kalian sebagai… saingan kami."
"Aku lega karena sekarang, kau sudah sependapat denganku, Yumi-chan," sahut Akari. Ia lalu berpaling ke Doremi dan Aiko, "Oh iya. Ngomong-ngomong, tadi katanya kalian ingin memberikan oleh-oleh untuk kami ya?"
"Yah, sebenarnya sih, kami hanya membawa sedikit oleh-oleh untuk kalian," ujar Doremi sambil menyodorkan sebuah tas kertas berisi oleh-oleh yang dibawanya, "Mudah-mudahan kalian menyukainya."
"Tentu saja kami akan menyukainya," balas Akari, "Ya kan, Karen-chan? Mell-chan? Yumi-chan? Aleyna-chan?"
Semuanya mengangguk kecuali Aleyna yang masih menganggap MAHO-Do sebagai saingan 'The Sweet Notes'. Gadis itu hanya cemberut melihat teman-temannya yang sudah tidak sependapat dengannya mengenai posisi MAHO-Do – sebagai sahabat atau sebagai musuh 'The Sweet Notes'.
Setelah beberapa lama berada di rumah Akari, Aleyna, yang masih tidak ingin berteman dengan para personil MAHO-Do lalu pergi meninggalkan rumah itu, dengan alasan bahwa ia sudah ada janji dengan seseorang, tapi dari wajahnya, Akari tahu bahwa Aleyna hanya berbohong. Ia tahu bahwa sahabatnya tersebut masih tidak ingin menerima MAHO-Do sebagai sahabatnya.
"Huh, dasar. Aleyna-chan masih saja keras kepala…" keluh Akari, "Doremi-chan, Ai-chan, maafkan Aleyna-chan ya? Kelihatannya, dia masih tidak ingin bersahabat dengan kalian."
"Kami mengerti itu, Akari-chan, dan kami tahu apa yang menyebabkannya begitu," sahut Aiko, "Kelihatannya, Aleyna masih bersikap kekanak-kanakan."
"Untungnya, sekarang aku sadar kalau apa yang selama ini kami lakukan terhadap kalian itu salah," Yumi menghela napas, "Kalau saja, Aleyna-chan bisa berpikiran dewasa dalam hal ini."
"Aku yakin, suatu saat nanti, dia akan menerima kami sebagai sahabat kalian semua," sahut Doremi menenangkan Yumi, "Kita hanya harus menunggu sedikit lagi."
Mereka lalu melanjutkan perbincangan mereka tentang latihan bersama yang rencananya akan mereka lakukan di sisa libur musim panas yang mereka miliki.
.
(Ending Song 'Ojamajo Girlband': 'Zutto Friend' by MAHO-Do – Original Version by Nakatsukasa Masami)
Catatan Author: Akhirnya, selesai juga chapter yang satu ini, hehehe… Semoga ceritanya nyambung sama judul chapternya ya?
Chapter selanjutnya akan sepenuhnya membahas tentang persahabatan diantara MAHO-Do dan 'The Sweet Notes'. Akankah Aleyna menyadari bahwa pendapatnya selama ini tentang MAHO-Do salah besar? Tunggu jawabannya di chapter 26 ya?
