24
TERUNGKAPNYA SI PENJAHAT
.
.
.
Note:
Kindly use your imagination and feelings while reading this chapter.
Kai memisahkan diri dari Jisung dan melompat mundur. Wajah pangeran itu luar biasa merah. "Tidak, tidak, tidak−" dia tergagap, berbalik pada Kyungsoo. "Tadi tidak sengaja−"
Namun jari Kyungsoo sudah terangkat, berpendar emas terang ke arah anak laki-laki bermata hijau di sampingnya.
"Kyungsoo, dengarkan aku," Jisung memohon, bergerak mundur ke dedalu biru.
"Kau ular," desis Kyungsoo sengit, melangkah ke depan. "Ular pembohong."
Kai spontan melindungi Jisung, jari pendarnya sendiri terulur ke arah Kyungsoo. "Jangan ganggu dia. Urusanmu denganku."
Namun tatapan tajam Kyungsoo masih tertuju pada Jisung, jarinya berpendar semakin terang dan panas. "Kau mencoba menciumnya! Kau mencoba tinggal di sini bersamanya dan mengirimku pulang!"
"Itu tidak benar!" jerit Jisung.
Kai menoleh pada temannya yang berahang kokoh. "Kalian saling kenal?"
"Kau yang ada di menara Sang Guru malam itu. Kau yang menyerang kami. Kau yang membuat dia memusuhiku!" Kyungsoo menumpahkan kemarahannya pada Jisung.
"Dan kau sudah berjanji tidak akan menemuinya!" sergah Jisung, suaranya mulai sumbang. "Aku tidak bisa kehilanganmu, Kyungsoo! Tidak tanpa berusaha mendapatkanmu kembali!"
"Lalu kau berusaha memulangkan kita dengan berbohong?" Kyungsoo menggeleng tak percaya.
"Kenapa putriku bicara dengan sahabatku?" Kai masih terbengong-bengong kebingungan.
"Aku harus menunjukkan padamu kalau harapanmu salah," Jisung membantah Kyungsoo seraya menahan tangis. "Bahwa sahabat lebih berarti daripada cowok."
Kyungsoo menggeleng-geleng marah, teringat bagaimana dia mengutuk mimpi-mimpinya, memfitnah hatinya sendiri yang selama ini berusaha menunjukkan kebenaran tentang sahabatnya. "Sadarkah kau?" tanyanya dengan suara dingin. "Semakin kau mencoba menghalangi kami, semakin nyata harapanku padanya."
Jisung mundur selangkah. Matanya bergetar menatap Kyungsoo, hatinya serasa tertusuk.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi," kata Kai parau, matanya terbelalak.
"Kau lebih memilihnya daripada aku?" tanya Jisung dengan suara tertahan pada Kyungsoo, dagu berlesungnya gemetar. "Setelah kupertaruhkan nyawaku demi menyelamatkan kita?"
"Apa itu termasuk menciumnya?" ejek Kyungsoo. "Usaha untuk menyelamatkan kita?"
"Dia yang menciumku!" teriak Jisung.
"T-tunggu dulu−itu tadi momen yang buruk−" sang pangeran terbata-bata. "K-kita berteman−seperti kau dan Soojung−"
"Akrab sekali," komentar Kyungsoo seraya memandang marah pada Jisung.
"Kau harus percaya padaku, Kyungie," desak Jisung. "Aku memilihmu, meski Kai menginginkanku, meski aku bisa bersama dia selamanya−"
"Tadi gelap sekali−dan wajahnya terlihat lain," erang Kai, merosot dan duduk di atas batu. "Cowok manapun bisa melakukan kesalahan yang sama−"
"Kau bilang kau mau melupakan tempat ini," Jisung membela diri. "Kau bilang kau mau mendapatkan kembali akhir bahagia kita!"
"Bahagia! Gara-gara kau, ada anak laki-laki yang mati!" teriak Kyungsoo. "Gara-gara kau, kita sama-sama masih terancam mati!"
"Aku hanya mau kita kembali seperti semula. Sebelum kita datang ke sini. Sebelum kita bertemu pangeran mana pun," Jisung memohon. "Aku hanya mau kita kembali jadi teman sejati−"
"Teman sejati membiarkan satu sama lain tumbuh dewasa," Kyungsoo mendidih, lehernya memerah. "Teman sejati tidak saling menghalangi satu sama lain untuk mencintai. Teman sejati tidak berbohong."
Kai bangkit dari batu. "Cukup!" bentaknya pada Kyungsoo. "Aku tidak peduli bagaimana kalian bisa saling kenal, baik kalian saudara jauh, sahabat pena rahasia, atau sesama pendaki di Gunung Exodus, tapi Jisung bukan urusanmu lagi, oke?" geramnya. "Jadi, pergi cari Soojungmu yang berharga itu sebelum aku berubah pikiran soal membunuhmu."
Kyungsoo terbelalak ke arah Kai sebelum tawanya meledak.
"Apa yang lucu?!" hardik Kai.
"Kau benar-benar tidak tahu, ya?" Kyungsoo terheran-heran. "Kau masih mengira dia temanmu?"
"Sahabatku," balas sang pangeran. "Dan untuk pertama kalinya, akhirnya aku mengerti kenapa kau lebih memilih Soojung daripadaku. Karena Jisung memahamiku. Dia mendukungku dan berjuang untukku dengan cara yang tidak bisa dilakukan perempuan. Aku selalu menyangka cinta adalah soal perempuan, tapi seorang teman seperti Jisung lebih dalam daripada cinta. Karena aku lebih memilih teman yang Baik sepertinya daripadamu, dan akan selalu seperti itu."
"Ah, begitukah? Biar kuberi tahu soal Jisung," kata Kyungsoo dengan nada mencela. "Jisung adalah teman Baik seperti halnya Lancelot bagi ayahmu."
Kai menyeringai marah dan menarik pedangnya. "Apa kau bilang?"
Raut Kyungsoo melunak saat menatap wajah Kai. "Kau tidak pernah bisa membedakan Baik dan Jahat, ya?"
Seluruh tubuh Kai kaku, rasa takut merayapinya. Dia berbalik dan melihat Jisung menjauhi Kyungsoo, keluar dari kegelapan dan menghimpit pohon dedalu yang berkilau. Sekarang, dalam cahaya kelap-kelip sewarna es, akhirnya Kai bisa melihat wajah sahabatnya yang ketakutan, tubuhnya gemetar.
Namun wajah itu bukan seperti yang dikenalnya.
Detik demi detik, setiap bagian kecil dari tubuh Jisung berubah sedikit demi sedikit, seperti pahatan pasir yang dipoles butir demi butirnya. Lekuk hidung Jisung menghalus. Bulu matanya menebal dan tumbuh lebih lebat. Telinga kurcacinya menyusut dan menempel ke belakang. Alisnya melengkung seperti goresan yang anggun. Perubahan menyebar ke seluruh tubuhnya, semakin cepat seperti mantra yang setiap tautannya terlepas.
Otot-otot Jisung yang tebal dengan pembuluh darah menonjol kini meramping dan mulus. Rambut jatuhnya mengembang jadi gulungan-gulungan pirang bertingkat. Kaki besarnya mengurus dan menghalus, lekuk pinggulnya bertambah tegas. Hingga akhirnya, di bawah sinar bulan menjelang subuh, seorang gadis cantik berambut pirang terlihat ketakutan dan gemetar di balik jubah laki-laki berwarna merah-hitam. Gadis itu memandang nanar dan merana seperti kucing ketakutan.
Kai ambruk ke pohon. "Kenapa semua orang bohong padaku? Kenapa semua selalu tentang kebohongan?" bisiknya.
"Tidak semua," kata Kyungsoo lirih.
Soojung mundur menjauhi Kai, berusaha tersenyum. "Jangan b-bunuh aku, Kai," dia tergagap. "Lihat, kan? Tetap Jisung, tetap temanmu−cuma berbeda..."
Dia melihat Kai menatapnya. Pangeran itu mematung, mata birunya berkaca-kaca, seperti sedang memutar balik tiap adegan yang baru saja terjadi, mengurai setiap kata. Sedikit demi sedikit, secercah cahaya emas melingkupi sang pangeran, seperti ada kehangatan yang tergugah di dalam dirinya, melelehkan kegelapan dan ketegangan.
Tubuh Soojung lemas karena lega−namun kemudian, dilihatnya Kai tidak sedang melihatnya sama sekali.
Pangeran itu sedang memandang putrinya yang pucat dan berambut hitam, berdiri di bawah dedalu gemerlap. "Kau... selama ini kau mencintaiku?" tanyanya lembut.
Kyungsoo mengangguk, air mata mengalir deras di pipinya.
"Dan semua yang kau katakan di menara itu benar?" tanya Kai, matanya semakin basah.
Kyungsoo mengangguk, terisak lebih keras.
"Kenapa aku tidak menciummu?" kata Kai, suaranya pecah. "Kenapa aku tidak percaya padamu?"
"Kau... sungguh bodoh," Kyungsoo terisak seraya menggeleng. "Kenapa cowok-cowok begitu bodoh?"
Kai tersenyum sambil menangis. "Mungkin dunia tanpa pangeran memang ide bagus."
Kyungsoo tertawa kecil, akhirnya bisa membiarkan hatinya tergelitik tanpa rasa bersalah.
Berdiri di antara mereka, Soojung merasa tak berdaya menonton sepasang cinta sejati dipertemukan kembali. Dia belum pernah merasa begitu tidak terlihat seperti ini.
Kilatan cahaya ungu melesat di dekat Kai seperti tembakan peringatan−
Lady Kwon melesat keluar dari balik pohon, jarinya yang berasap teracung mengancam ke arah Kai. "Kyungsoo, Soojung, menjauh darinya sekarang!" desisnya seraya bergerak mundur ke arah gerbang selatan. "Akan kusembunyikan kalian berdua di Hutan sampai keadaan aman."
Kedua gadis maupun anak laki-laki itu tidak bergerak.
"Apa yang kalian lakukan?!" hardiknya pada Soojung dan Kyungsoo. "Anak-anak lelaki lainnya akan datang sebentar lag−"
Namun kini, mata Lady Kwon terbeliak karena Kyungsoo bergerak mundur menjauhi Soojung dan mendekati pangerannya, yang segera melindunginya dalam pelukan. Saling mendekap erat, Kai dan Kyungsoo menatap Soojung yang berdiri di bawah pohon, sendirian.
"Ap−apa yang terjadi−" kata Lady Kwon, kepalanya bergantian menoleh ke arah dua gadis itu.
"Aku pikir menghentikan harapanmu itu perbuatan Baik, Kyungie," isak Soojung, suaranya terputus-putus. "Aku pikir yang kulakukan adalah Kebaikan."
Sekarang Soojung melihat bahkan Lady Kwon pun menjauhinya. Mata lembayung guru itu meredup setelah mengerti apa yang terjadi. "Seorang anak terbunuh... murid-murid terluka... sebuah Uji menuju maut... gara-gara kau?"
Hening melingkupi mereka sejenak.
"Ayo," kata Kai, memeluk putrinya lebih erat. "Biar saja dia menjaga dirinya sendiri."
"Aku tidak mau jadi seperti ibuku. Aku tidak mau jadi sendirian," Soojung memohon pada Kyungsoo, pipinya basah. "Aku tidak pernah bermaksud melukai siapapun−"
"Ayo pergi, Kyungsoo," ujar Kai lebih keras.
Kyungsoo memandang pangerannya, begitu murni dan penuh kasih seperti di dalam mimpinya. Lalu mata cokelatnya beralih pada Soojung, terisak penuh penyesalan di seberang lembah dedalu.
Tanpa tipuan. Tanpa rahasia.
Pilihan kali ini nyata.
Api merah mendesing ke tengah-tengah lembah, membuat Kyungsoo dan Kai terhuyung mundur dalam kepulan asap merah. Dalam bingung, mereka berbalik dan melihat kilatan kembang api merah dan putih melesat ke langit dari berbagai penjuru, memantul-mantul di luar kendali seperti hujan meteor. Seketika, kerumunan kunang-kunang di papan skor anak laki-laki di atas gerbang timur meledak dan terbakar, menghanguskan semua nama yang tersisa; termasuk Kai dan Jisung. Dengan letupan yang memekakkan telinga, papan itu meletus jadi bola api menyilaukan.
Di seberang hutan, papan skor perempuan meledak hebat hingga hancur berkeping-keping, membumbungkan kepulan asap hitam di atas gerbang barat.
"Apa yang terjadi?" Kyungsoo terengah, telinganya mendengung.
Dia dan Kai merasakan gemuruh berat dan samar di belakang mereka, semakin keras... lebih keras lagi...
Darah seolah surut dari wajah mereka ketika berbalik.
Lapisan sihir yang menyelubungi kedua kastel sudah memecah bagai kabut, menyibak Sekolah Laki-laki dan Perempuan yang dibanjiri tubuh-tubuh bergerak seperti kawanan semut sambil meraung-raung. Para gadis menyerbu, melompat ke Jembatan Separuh Jalan yang rusak dari balkon. Mereka mengacung-acungkan senjata dan memendarkan ujung jari mereka, bersorak-sorak di ujung patahan jembatan.
Di seberang teluk, ratusan anak laki-laki liar dan para pangeran pemburu harta menyerbu Jembatan dari arah berlawanan. Mereka dilengkapi berbagai senjata mematikan dan berteriak-teriak mengincar darah.
"Mereka tahu aku ada di sini."
Kyungsoo menoleh pada Lady Kwon, tatapan mata lembayungnya terpaku ke arah kastel.
"Aku melanggar peraturannya. Uji sudah selesai," ucap gurunya parau.
Kyungsoo menelan ludah. "Apa artinya?"
Mereka memandang 400 anak laki-laki dan perempuan yang akan saling menyerang penuh semangat, hanya terpisahkan patahan di jembatan itu.
"Perang," kata Kai. "Artinya perang."
Di atas mereka, dahan-dahan dedalu mulai berkerlap-kerlip terang seperti perada kertas biru keperakan hingga kilaunya meledak bagai badai awan, luruh dari pohon-pohon itu. Di bawah sinar fajar, terlihat oleh mereka bahwa kerlap-kerlip itu ternyata kupu-kupu; ribuan ekor kupu-kupu biru yang menerangi dedalu dengan pendar biru salju. Kyungsoo melindungi wajah, sementara Kai menebas-nebas tanpa hasil dengan pedangnya dan terjatuh ke tanah−
Pekikan keras tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Kyungsoo pun berbalik dan melihat Lady Kwon ditarik ke atas oleh kawanan kupu-kupu.
"Seohyun−" kata Lady Kwon, dihantam rasa ngeri. "Dia bisa mendengar semuanya−"
"Tunggu!" jerit Kyungsoo, berusaha memegangi Lady Kwon.
Di tengah kepanikan, Lady Kwon menempelkan bibirnya ke telinga Kyungsoo selagi kawanan kupu-kupu menariknya. "Cium dia," bisiknya. "Cium dia saat waktunya tiba!"
Kemudian Lady Kwon terlepas dari jangkauan Kyungsoo ketika kupu-kupu menculik guru itu kembali ke Sekolah Perempuan. Permohonan terakhirnya pada Kyungsoo teredam suara raungan peperangan.
Kyungsoo mematung di lembah yang diterangi cahaya subuh kebiruan, napasnya terengah, pikirannya terpecah-pecah.
"Apa katanya?" tanya sebuah suara.
Kyungsoo melihat Kai yang tertatih bangun, rambut keemasannya acak-acakan.
"Kyungsoo?"
Kyungsoo menoleh dan melihat kepulan asap merah yang tersisa mulai menghilang di antara pepohonan, menyibak Soojung di baliknya.
"Apa kata Lady Kwon?" tanya sahabatnya, wajahnya tegang.
Kyungsoo memandang Soojung di lembah dedalu, diterangi cahaya kebiruan. Teriakan peperangan anak-anak lelaki dan perempuan menggema dari kejauhan bagai paduan suara yang buruk.
Di atas, pucuk pepohonan tiba-tiba bergemerisik dan bergoyang walau tak ada angin. Suara retakan dahsyat memecah ke arah mereka−
Kyungsoo mundur terkejut ketika menara perak Sang Guru menerobos pepohonan dedalu. Menara yang bergerak itu meluncur dan berhenti mendadak, mengerahkan seluruh tenaga untuk memecah tanah. Garis retakannya membelah di antara kedua kaki Kyungsoo.
Dari jendela menara, kawanan kupu-kupu terakhir terbang ke bawah dan berhenti di belakang ketiga murid itu, secara ajaib mewujud saat menyentuh tanah. Bagaikan artis yang tampi setelah diberi isyarat, Seo Joohyun melangkah ke bagian tengah lembah dedalu yang tersorot sinar lebih terang. Kuku-kuku panjangnya menggenggam buku dongeng kayu ceri berwarna merah yang dikenal Soojung.
Buku dongeng dirinya dan Soojung.
"Uji," tutur Dekan. "Kata yang begitu menggiurkan. Bisa merujuk pada berbagai arti. Percobaan untuk bisa melihat sebuah pengabdian, contohnya. Atau ujian keyakinan dan stamina. Atau momen sulit dalam hidup seseorang. Meski begitu, aku lebih suka definisi formalnya."
Dia terdiam dengan dramatis, mengawasi Kai dan Soojung yang berdiri di sisi berlawanan. Alis gelapnya menukik di atas mata hazelnya. "Pengadilan resmi di hadapan para saksi untuk menentukan siapa yang bersalah."
Matanya beralih pada Kyungsoo di tengah-tengah. Dekan tersenyum samar.
"Sekarang Uji yang sesungguhnya dimulai."
Dengan kuku tajamnya, Seohyun mendedel jahitan sampul di bagian atas punggung buku itu. Storian yang berkilauan membebaskan diri, berkilau merah maraah sementara Dongeng Dyo dan Krystal secara ajaib melayang di atas tangan Dekan. Pena itu membuka buku dengan ujung tajamnya, menumpahkan tinta ke tengah halaman selagi adegan-adegan berwarna mengisi halaman kosong antara tulisan di dalam kisah itu. Storian melambat di halaman akhir, melukis Kyungsoo di antara Kai dan Soojung tanpa tergesa.
Namun, hanya gambar Soojung yang tak terlihat seperti Soojung yang ada di hadapan mereka sekarang. Soojung yang ada di halaman itu adalah penyihir tua botak berkutil.
Di bawah gambar si penyihir, pena itu menuliskan:
"Si penjahat yang selama ini tersembunyi."
Perlahan, Kyungsoo dan Kai menoleh pada Soojung yang cantik dan mulus di seberang lembah.
"Lihat, Kyungsoo? Kau kira aku yang menyihir tanda-tanda Soojung. Bahwa akulah si penjahatnya." Seohyun duduk di tunggul pohon di pinggir lembah yang gelap. "Sama sekali bukan aku, kan?"
"Kyungsoo, aku bukan penyihir−kau sendiri tahu aku bukan penyihir−" Soojung terisak.
Namun Kyungsoo melangkah mundur, menjauh dari sahabatnya dan menyebrang ke sisi Kai pada lembah itu. Wajah Soojung memerah, penuh rasa terkejut.
"Kau pikir aku masih bisa jadi Jahat? Bahwa aku sanggup melukaimu?" Soojung terkesiap.
Tangan Kyungsoo gemetar. "Penyihir merusak dongeng, Soojung. Penyihir berbohong demi mendapatkan akhir kisah mereka."
Soojung memohon pada Kai. "Aku teman yang baik bagimu, bukan? Teman seperti itu tidak akan bisa jadi penyihir! Katakan padanya!"
"Teman yang dibentuk atas kebohongan bukanlah teman," bantah Kai marah dari seberang tanah terbelah itu. "Sang Guru pergi sampai ke ujung dunia demi menemukan orang yang sama Jahatnya seperti dia. Sekarang kita bisa lihat kenapa dia memilihmu, Soojung. Kau akan selalu Jahat selama kau hidup."
"Aku tidak J-Jahat! Aku berusaha jadi Baik! Tidakkah kalian lihat? Aku berusaha!" Soojung menangis lebih keras. "Sang Guru salah! Anggapannya tentangku salah!"
Kyungsoo menatap perempuan tua buruk rupa di dalam buku dongeng seraya terus mendekat ke arah Kai. "Storian tidak berbohong, Soojung..."
"Tidak−Kyungie, kumohon! Kau tahu yang sebenarnya−"
Dalam keadaan putus asa, Soojung berlari menyeberangi celah lembah menuju Kyungsoo. Namun rasa nyeri yang menyerang lehernya membuatnya menjerit, lalu rasa sakit berikutnya membakar pergelangan tangan dan lengannya.
Kyungsoo dan Kai berlindung darinya, mata mereka terbelalak ngeri. Perut Soojung terasa sedingin es. Perlahan dia mengangkat tangannya yang ditumbuhi dua kutil menjijikkan. Kutil-kutil berikutnya mendesis sementara kulitnya mengkerut seperti dadih susu, dibubuhi titik-tiitk cokelat.
"Tidak−i-ini perbuatan Dekan! Dia yang melakukan ini padaku−" selagi tersedak, Soojung melirik kesana-kemari, mencari keberadaan sang Dekan. Namun Seohyun tak ditemukan di tepi lembah.
Kyungsoo mundur ke samping Kai, jari mereka terangkat ke arah Soojung dengan warna pendar emas yang sama. Sementara itu, rambut pirang Soojung rontok menjadi gumpalan. Punggungnya membengkak hingga berpunuk. Kakinya susut jadi batang tulang. Rasa sakit yang menghujam tubuhnya terus bertambah, hingga Soojung ambruk ke tanah saking tidak kuatnya.
Kyungsoo menggeleng, tersiksa antara kemarahan dan rasa kasihan. "Memang gejalamu sendiri, Soojung. Sejak awal memang dirimu."
"M-maafkan aku−atas semua yang telah kuperbuat−" Soojung tersedu, menggeliat kesakitan. "Tapi ini bukan aku!"
"Kau tidak boleh ada di sini lagi, Soojung," kata Kyungsoo, air matanya kembali mengalir deras. "Kita hanya akan bahagia jika berpisah."
Kai terperangah menatap putrinya.
"Kyungsoo, jangan!" teriak Soojung.
Tiba-tiba Storian berkilau merah, mendeteksi akhir kisah.
Kyungsoo bimbang, sementara gigi sahabatnya menghitam dan mengaus. Rambut Soojung berjatuhan lebih cepat, helai demi helai. Rasa sedih melunakkan raut Kyungsoo−
"Kita akan bahagia seumur hidup, Kyungsoo," Kai meyakinkannya. "Tapi kita harus melakukannya sekarang."
Kyungsoo mengangguk, air matanya menggenangi pelupuknya.
"KAU HARUS PERCAYA PADAKU!" Soojung memohon.
"Aku tidak bisa, Soojung," ujar Kyungsoo sambil menyerahkan diri pada pangerannya. "Aku tidak bisa percaya padamu lagi."
"TIDAK!" jerit Soojung, berlari ke arahnya. Namun rasa sakit yang bertambah membuatnya tersuruk.
Kyungsoo merengkuh Kai lebih erat sementara Soojung mengisut sambil meraung, memegangi kepalanya yang kini botak dan berkutil. Wajahnya rusak menjadi perempuan tua Jahat−
"Sekarang, Kyungsoo," kata Kai saat dilihatnya Soojung mulai merangkak dan menyeberangi retakan ke arah mereka.
"Kyungsoo, aku tidak mau jadi seperti dia," Soojung memohon. "Aku tidak mau berakhir seperti eommaku!" Dia mengulurkan tangan kisutnya pada satu-satunya sahabat−
Mata Kyungsoo yang penuh kesedihan mendalam dan menyiksa bertemu dengan mata Soojung yang kini beriris abu-abu. Kemudian dia memalingkan wajahnya.
Soojung terperanjat, menyaksikan Kyungsoo dalam pelukan Kai. "Tidak... jangan begini," Soojung terengah.
Tatapan mata biru Kai melekat pada mata cokelat Kyungsoo, penuh janji. "Selamanya."
Kyungsoo mendengar harapannya akan Kai menggema semakin keras di setiap detak jantungnya, memohon agar memercayainya.
Kali ini dia mendengarkannya, tak mau lagi jatuh ke lubang yang sama. Kyungsoo menyerahkan dirinya pada sang pangeran.
"Selamanya."
Kai menangkup pipi Kyungsoo dan menciumnya. Bibir mereka bersentuhan untuk pertama kalinya. Kepala Kyungsoo terasa ringan, sinar menyilaukan menjalar ke pembuluh-pembuluh darahnya. Sementara kehangatan menyiramnya, Kyungsoo mendengar teriakan liar Soojung mereda di belakangnya, bertambah halus dan lebih halus lagi, kemudian hening.
Seraya memeluk Kai lebih erat, Kyungsoo merasakan jantungnya melayang, waktu berhenti, dan ketakutan hancur jadi debu; seolah akhirnya dia menemukan Kebahagiaan Abadi, seolah akhirnya dia menemukan akhir kisah yang tak bisa direnggut siapapun.
Bibir mereka terpisah ketika sang pangeran dan putri menjauh, terengah. Mereka mendongak ke arah buku dongeng yang terbuka di bawah sinar fajar. Gambar dirinya saling bertukar ciuman terlukis di halaman terakhir; seorang penyihir menghilang dari kisah mereka, dan sebuah kata terakhir tertulis di bawahnya:
T A M A
Seohyun menahan ujung pena itu dengan jarinya. Darah menetes dari jarinya yang tertusuk−
Huruf T belum tertulis.
Perlahan, pandangan mata Kyungsoo turun ke tanah di depan Seohyun.
Penyihir botak keriput terbelalak padanya dan Kai dari atas rumput. Wajahnya rusak dan dibasahi air mata. Kemudian, secepat perubahan sebelumnya, Soojung kembali jadi wujud dirinya yang muda dan berkulit cantik. Si penyihir sudah hilang, digantikan oleh seorang gadis yang terluka dan terkhianati.
Kyungsoo tercekat, melongo pada sahabat yang telah ditinggalkannya, kini masih ada di sana. Sahabat yang baru saja menyaksikan ciuman yang gagal memulangkannya, tanpa cinta dan sendirian. Tidak ada kasih di mata Soojung, tidak ada maaf. Hanya jarak yang kosong, seolah dia tak lagi mengenal putri berambut hitam di hadapannya.
Merasa terancam, Kyungsoo mendongak pada Dekan.
"Mungkin ada pihak yang berpikir untuk memunculkan tanda-tanda penyihir, lalu melemparkan kesalahan pada gadis malang tak bersalah sebagai perilaku tak pantas dari seorang Dekan. Tapi kalau dipikir-pikir, aku memang punya kelemahan akan akhir yang bagus." Seohyun tersenyum simpul selagi kerumunan kupu-kupu mengambil Storian yang meronta dari jarinya dan terbelenggu di udara. Dia menyedot darah di ujung jarinya sambil mengawasi pena yang ditawan. "Tahu tidak, ada yang lucu tentang akhir dongeng. Kisah dongeng belum benar-benar berakhir sampai Storian menulis 'Tamat'. Dan seperti yang kalian lihat, pada kenyataannya, kalian kekurangan satu huruf. Artinya, kita belum mencapai akhir kisah." Seohyun tersenyum pada Kyungsoo. "Dan sekarang, setelah kau mendapatkan akhir kisahmu, Putri, bukankah adil kalau Soojung juga mendapat kesempatan yang sama? Bagaimana pun, ini juga kisah dongengnya."
Soojung mengangkat wajahnya dan memandang Dekan, matanya sebesar batu zamrud.
"Berikan pena itu pada kami," sergah Kai sambil menarik pedangnya−
Jari Seohyun menunjuk ke arahnya. Dengan ajaib, cabang-cabang sebuah pohon dedalu mencengkeramnya dan mengibaskannya ke batang pohon itu.
Kai meronta dengan marah. "Apa yang kau−" sebuah cabang pohon menyumpal mulutnya.
"Begini, Kyungsoo. Kupu-kupuku menuntun kalian kembali ke sekolah karena aku mendengar harapan yang layak untuk menjadi akhir kisah dongeng kalian. Tapi bukan harapanmu," kata Dekan sambil memutari Kyungsoo bak hiu memutari mangsa. "Melainkan harapan Soojung."
"A-apa?" Soojung tergagap.
"Oh, kau juga membuat permohonan, Nak," kata Dekan. "Apa kau tidak ingat?"
Seekor kupu-kupu terbang dari gaunnya. Sebuah suara terulang kembali ketika sayap kupu-kupu itu mengedipkan sinar terang bersamaan dengan setiap kata:
"Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi," suara Soojung menggema. "Aku rela melakukan apapun. Apapun."
Kyungsoo teringat kata-kata itu; diucapkan di dekat makam, saat mereka berdua saling berangkulan.
"E-eommaku?" Soojung terkesiap, tiba-tiba rautnya berseri. Kemudian, cahaya di wajahnya meredup. "Tapi dia sudah meninggal. Tidak ada yang bisa membawanya kembali..."
"Dan kau berada di dalam kisah dongengmu sendiri, Nak," Dekan mengingatkan. "Permohonan adalah hal yang sangat kuat kalau kau rela melakukan apapun untuk mewujudkannya."
Jantung Kyungsoo berhenti. Dia menatap Dekan, matanya bertambah besar.
"Si penjahat yang selama ini tersembunyi."
Bukan Soojung, atapun Seohyun. Melainkan−
"JANGAN!" Kyungsoo bergerak mendekati Soojung. "Soojung, jangan! Dia memanfaatkanmu−" Tangan-tangan dedalu menyambarnya, membungkam sang putri bersama pangerannya di batang pohon.
Soojung mengabaikan teriakan Kyungsoo yang teredam. Matanya kembali terangkat pada Dekan. "Apa yang harus kulakukan?"
Seohyun mendekat, kuku-kuku tajamnya membelai wajah Soojung. "Cukup membuat permohonan sekali lagi dengan sepenuh hati. Rela membayar dengan apapun demi bertemu dengannya lagi."
Kyungsoo berteriak di balik sumpalannya, tapi tak ada kata-kata yang keluar.
"Harga apa?" Soojung mengerutkan kening.
"Kyungsoo mencium seorang pangeran, Soojung. Dia berusaha memulangkanmu selamanya dan memaksamu menyaksikannya," kata Seohyun dengan suram. "Kau tidak punya siapa-siapa lagi. Tidak ada pangeran. Tidak ada teman. Tidak ada ayah. Tidak ada siapapun yang menunggumu di rumah. Tidak ada yang bisa dipercaya."
Soojung menatap matanya penuh kekecewaan.
"Bukankah bertemu dengan orang yang mencintaimu layak dibayar dengan harga berapapun?" bujuk Seohyun dengan lembut.
Soojung tidak bergerak, mendengarkan teriakan tertahan Kyungsoo di belakangnya.
"Aku benar-benar bisa bertemu dengannya lagi?" tanya Soojung.
"Permohonanmu bisa mengakhiri dongengmu seperti Kyungsoo," jawab Seohyun. "Yang perlu kau lakukan hanyalah memohon dengan penuh kesungguhan."
Kyungsoo berusaha melepaskan diri dari pohon dedalu, cabang-cabang pohon itu mengoyak lengannya.
Soojung mengangguk, menguatkan diri. "Aku siap."
Seohyun menyeringai lebar. Dia mengulurkan tangan ke dada Soojung, lalu secara ajaib menarik serpihan cahaya panjang biru dari jantungnya. Setelah itu, kupu-kupu di gaunnya berubah menjadi merah tua.
Kyungsoo memekik ngeri, tapi mata Soojung terpaku pada cahaya biru yang berputar menjadi bulatan yang menghipnotis dan melayang-layang.
"Sekarang tutup matamu dan ucapkan permohonanmu keras-keras," ujar Dekan.
Soojung menutup mata. "Aku rela melakukan apapun demi bertemu dengan ibuku lagi," ucapnya dengan suara serak, berusaha mengabaikan teriakan Kyungsoo.
"Bersungguh-sungguh," perintah Dekan dengan galak. "Permohonanmu hanya terwujud kalau kau bersungguh-sungguh."
Soojung mengertakkan gigi. "Aku rela melakukan apapun demi bertemu ibuku lagi."
Kemudian hening, bahkan Kyungsoo pun terdiam. Soojung membuka sediit matanya dan melihat bulatan cahaya tadi mulai berputar di udara, mengeluarkan sapuan cahaya biru mengerikan. Inci demi inci, cahaya itu mewujud dan membentuk jadi dimensi. Soojung terhuyung mundur saat melihat sosok manusia terbentuk.
Dua kaki yang lembut dan tembus pandang melayang di atas rerumputan biru laut. Pandangan mata Soojung perlahan bergerak ke jubah perak yang berkibar, tangan-tangan kurus pucat yang membentuk di balik lengan baju, leher putih jenjang, dan kemudian wajah yang seperti cermin baginya; berkulit putih bersih dan awet muda, hidung mancung, dan mata hijau tuanya. Roh itu tersenyum penuh kasih kepadanya, dan Soojung jatuh berlutut.
"Eomma? Benar-benar eomma?" bisiknya.
"Cium aku, Soojung," kata ibunya, suaranya terdengar jauh dan kabur. "Cium aku dan hidupkan aku kembali. Hanya itu harga yang perlu kau bayar."
"H-h-hidup kembali?" Soojung tergagap.
Di belakangnya, Kyungsoo berteriak hingga kehabisan suara−
"Seperti tahun lalu, kau pun dihidupkan kembali oleh ciuman seorang sahabat. Ciuman cinta," ibu Soojung berkata lagi. "Tapi akhir kisah itu tidak berlangsung lama, bukan? sekarang giliranmu untuk menemukan cinta sejati."
"Tapi tidak ada yang mencintaiku," bisik Soojung lirih. "Bahkan Kyungsoo pun tidak."
"Aku mencintaimu, Soojung. Tapi kau tidak perlu berakhir sepertiku," sang ibu menenangkannya. "Karena ada yang menyayangimu lebih dari rasa sayang Kyungsoo padamu. Seseorang yang menyayangimu apa adanya."
Kyungsoo menggigiti cabang pohon dedalu yang membungkamnya dengan kalut−
"Apa Eomma cinta sejatiku?" tanya Soojung pada ibunya, matanya terbuka lebar penuh harap.
Ibunya tersenyum. "Kau hanya perlu percaya padaku."
"Aku percaya padamu," kata Soojung, air matanya berderai. "Hanya Eomma yang mengenalku."
"Kalau begitu, cium aku dan jangan berhenti," ibu Soojung memperingatkan. "Kalau kau menghentikan ciumannya, maka kau akan kehilangan kesempatan terakhirmu akan cinta."
Kyungsoo menggigit dahan yang menyumpalnya lebih keras, berusaha mematahkannya−
Soojung melangkah maju mendekati roh ibunya, jantungnya berdebar kencang.
Kyungsoo merasakan dedalu itu mulai rapuh−
"Cium aku sekarang, sebelum terlambat," perintah ibunya.
Kyungsoo melepeh sumpalannya. "SOOJUNG, JANGAN!" teriaknya−
Di bawah sinar matahari pagi, Soojung menempelkan bibirnya ke bibir ibunya. Wajah Soojung melunak, memancarkan keyakinan bahwa kebahagiaan akan datang, bahwa ciuman ini, ciuman pertamanya akan membawanya pada akhir yang layak.
Namun kemudian, ciuman itu terasa lebih dingin, lebih keras, dan Soojung melihat wajah roh ibunya mengisut dan membusuk seperti menua ribuan tahun; kulitnya terkelupas dari tengkorak yang dihinggapi belatung dan berbintil-bintil. Kaget, Soojung ingin melepaskan diri, tapi teringat pesan ibunya. Dia menahan bibirnya yang sedingin es, mengharapkan cinta yang tak akan pernah meninggalkannya, cinta yang lebih dalam dari cinta seorang pangeran ataupun sahabat.
Perlahan, kulit roh itu mulai mengencang seperti pualam putih, sementara pendar rohnya memudar, menjadi halus dan muda−sampai Soojung melonjak karena dia mengenalinya. Si pirang terhuyung mundur, bibir nyata dari anak laki-laki itu terpisah dari bibirnya.
Kaki putih yang nyata tanpa alas kaki menginjak tanah, rerumputan biru menyeruak di antara jemari kakinya. Sang Guru mengangkat wajahnya yang tak bertopeng, mengenakan jubah perak yang berkibar. Wajah mudanya tak bercela dan pucat bagai patung, rambutnya tebal dan berwarna perak-kebiruan.
Kai dan Kyungsoo menggeliat dan terengah di balik cengkeraman pohon, saling menggapai tangan di balik ikatan mereka.
Soojung menatap Sang Guru yang hidup kembali, lebih tampan daripada laki-laki manapun yang pernah dijumpainya. "Kau−kau yang melakukan semua ini..."
"Untukmu," bisik Sang Guru. Dia menyentuh pipi Soojung dengan jemari panjangnya yang dingin. "Sudah kubilang, Soojung. Kau akan selalu jadi milikku."
"Kau tidak menginginkannya!" teriak Kyungsoo dari pohon. "Dia Jahat, Soojung! Jahat murni! Kau masih bisa membatalkannya! Ini belum Tamat!"
Akhirnya, Soojung balas memandang Kyungsoo. Air matanya kembali bercucuran. Ketika matanya bertemu dengan mata Kyungsoo yang panik dalam kengerian, tiba-tiba momen itu jadi nyata. Soojung menggeleng, hatinya hancur.
Kyungsoo benar. Dia harus menghentikan ini. Dia harus membatalkan sumpah Jahat ini.
Namun kemudian, Soojung melihat tangan kecil Kyungsoo menggenggam kuat tangan hangat pangerannya. Maka, dia pun tahu Kyungsoo sudah tidak ada lagi.
Saat Sang Guru menariknya dengan keras ke dalam dekapan dingin, Soojung bergeming.
Kyungsoo memucat tak percaya.
"Bagaimana dengan aku?" tanya sebuah suara.
Sang Guru menoleh pada Seohyun yang merona dengan gusar. "Aku membawa cinta sejatimu kembali," jilatnya. "Seperti yang kau minta, Tuan."
"Ah, benar. Tidak diragukan lagi, saudaramu pasti melihat bahwa kau sangat berguna dalam memastikan cinta sejatiku kembali dengan selamat." Sang Guru menyeringai, mata biru muda dinginnya bertemu dengan mata hazel Seohyun.
Seohyun tersenyum padanya dengan bangga. Sedetik kemudian raut wajahnya mulai berubah, ketika mata Sang Guru menjadi merah, membakar jauh ke dalam matanya. Seohyun menggapai jantungnya tepat saat detaknya berhenti, tersedak napas penghabisan.
"Dan sekarang tugasmu sudah selesai," ujar Sang Guru, mendekap Soojung lebih erat.
Seohyun jatuh menghantam tanah, hancur menjadi ribuan kupu-kupu merah. Kerumunan kupu-kupu yang menahan Storian ikut hancur dan berjatuhan, melepaskan Storian ke tangan Sang Guru yang siap menangkap.
Dia mendongak pada Kai dan Kyungsoo yang terikat di pohon. "Nah, sampai di mana kita?"
Sang Guru melepaskan Storian dari genggamannya, menyaksikan pena itu menjungkir ke buku dongeng yang menggantung dan menghapus kata terakhir yang tertulis di bawah lukisan gambar ciuman Kai dan Kyungsoo. Pena itu memunculkan halaman baru, melukis gambar indah Soojung dan Sang Guru berciuman di halaman terakhirnya, mengukir kembali kata tebal yang sempat terhapus di bawahnya:
T A M A−
"Soojung, jangan!" teriak Kyungsoo−
Storian mengukir huruf terakhir dengan terang dan jelas. Buku dongeng pun tertutup, jatuh perlahan ke rumput.
Perlahan, Kyungsoo mengangkat tatapan matanya pada Sang Guru yang meliriknya, tangannya melingkar di pinggang Soojung.
Dia tersenyum. "Satu..."
Kedua sekolah tiba-tiba membusuk, menghitam bagai burung bangkai. Keduanya sama-sama tidak terlihat jelas, sama-sama gelap pekat, lebih menakutkan daripada Kejahatan yang sebelumnya.
"Dua..."
Celah di Jembatan Separuh Jalan tiba-tiba tersambung. Anak-anak lelaki dan perempuan saling menyerang, senjata-senjata terhunus, bersiap memulai perang.
Sang Guru menyeringai pada Kyungsoo. "Tiga."
Seketika Kyungsoo mulai berpendar, akan menghilang dalam hitungan detik.
"Tunggu!" Kai berteriak di balik sumpalannya.
"Aku dikirim pulang!" teriak Kyungsoo pada pangerannya, tubuhnya memudar lebih cepat. "Ciuman Soojung mengirimku pulang−" dia berbalik pada Soojung, terdengar olehnya dentang jam di menara, lebih dekat dan lebih dekat lagi. "Soojung, tolong aku! Pegang tanganku agar aku tidak pergi!"
Namun Soojung tetap berdiri di samping Sang Guru, matanya bercucuran air mata duka.
"Dia memilihku dan kau tidak," katanya pelan.
Kyungsoo menjerit ngeri, tubuhnya kini nyaris tembus pandang.
"Aku yakin aku berutang pada teman kesayanganmu," Sang Guru tersenyum seraya melirik Soojung. "Lagipula, Kyungsoo memang membawakan cinta sejatiku dulu kala."
Sang Guru mengambil pedang Kai dari tanah. Ketakutan, Kai meronta dalam ikatannya.
"Cocok," ujar Sang Guru dengan geli, meneliti Excalibur seraya mendekati pemiliknya. "Mati dengan pedang ayahmu." Dia mengangkatnya tinggi-tinggi di atas sang pangeran, matanya berkilat merah, bersiap menikam jantung atau lambungnya. Dengan kekuatan dan kecepatan penuh, tangannya berayun−
"TIDAK!" jerit Kyungsoo, hancur menjadi serpihan cahaya−
Saat bilah pedang membelah pakaian Kai, Kyungsoo menggapai tangan pangerannya. Pedang itu membelah udara, sang pangeran berpendar dengan selamat dalam pelukan putrinya.
Menghilang pulang bersama pangerannya yang terpana, Kyungsoo melihat Sang Guru tersenyum mengejeknya seraya merengkuh Soojung ke dalam pelukan yang dingin dan kaku saat mereka melayang bersama di atas tanah, terbang ke menara perak setinggi langit. Soojung dan Kyungsoo saling bertatapan untuk terakhir kalinya, namun keduanya tak saling berteriak.
Dulunya cinta sejati, kini kedua gadis itu terpisah seolah tak saling mengenal, masing-masing dalam pelukan anak laki-laki; Baik dengan Baik, Jahat dengan Jahat.
Permohonan keduanya terwujud.
.
.
.
You got me scattered in pieces
Shining like stars and screaming
Lighting me up like Venus
But then disappear and make me wait
The future that we hold is so unclear
Baby, no, I can't escape
Save your advice 'cause I won't hear
You might be right but I don't care
There's a million reasons why I should gave you up
( Selena Gomez – The Heart Wants What It Wants )
.
.
.
THE END OF THE SECOND BOOK
Terima kasih untuk para readers yang sudah setia mengikuti FF remake ini dari buku pertama sampai buku kedua. Saya harap kalian ga kapok buat baca buku ketiganya yaa, hoho. Maaf untuk typo-typo yg bertebaran. Maaf kalau remake di buku kedua kurang maksimal. Maaf kalau di buku kedua saya tidak berhasil membuat readers cukup terhibur. Saya akan berusaha meremake dengan lebih baik lagi di buku ketiga; dgn catatan tidak mengubah total alur cerita karena bisa merusak versi aslinya.
Dan kabar bagusnya, buku The School for Good and Evil akan segera difilmkan oleh Universal Pictures. Kalau sudah keluar, saya mau banget nonton. Gimana dengan kalian? Hehe.
Bagi readers yang mau pantau terus kelanjutan buku ketiganya, silakan berkunjung ke profile saya lalu cari judul "The 1214th Fairytale: The Last Ever After" yaa. Mau lihat-lihat castnya? Mau tau siapa aja cast barunya? Silakan dilihat intronya :D
Sampai berjumpa tahun depan! ^^
Big Thanks to:
lovesoo | kyung1225 | yukitoya
fl0wer child | enysoo | virda8812
arazukim | 12154kaisoo | kimsoo
kanataa | hnyursoo | rerudo95
ndie | aysnfc3 | park youngie
