All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.
Chapter 25 : Ferret dan Hermione berpisah (Lagi).
25.
Hermione membereskan barang-barangnya, memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper dengan cara manual, ia memasukkan bajunya ke satu koper besar dan buku-bukunya ke koper lain. Mengemasi barang-barang pribadi seperti obat-obatan, peralatan mandi, dan benda-benda lainnya yang mungkin diperlukannya.
Draco menghilang entah kemana, ia berkata harus pergi ke kantor, padahal ini hari minggu, dan besok Hermione akan berangkat.
Hermione tahu Draco hanya ingin menghindar.
Hermione menitikkan air matanya dan kembali melipat pakaiannya dan memasukkannya kedalam koper. She's gonna miss Draco like crazy.
.
Draco pulang saat sudah gelap, Hermione sedang membuat makan malam.
"Kau sudah pulang?" Hermione bertanya pelan.
Draco mengangguk dan duduk di meja makan, tidak mengatakan apa-apa, Ia menunggu Hermione selesai masak. Seezy meletakkan piring dan gelas di meja dalam diam, tahu situasi dan kondisi kedua masternya sedang tidak baik, kemudian menghilang entah kemana.
Hermione meletakkan makanan di tengah meja kemudian melepas celemeknya dan duduk di depan Draco.
"Kau sudah selesai berkemas?" Draco bertanya pelan.
Hermione mengangguk, menyendok makanan ke piring Draco.
"Sudah tidak ada yang tertinggal?" Draco bertanya lagi.
Hermione mengangguk, menuangkan air ke gelas di samping piring Draco.
"Jacket yang Ibumu belikkan kemarin sudah kau bawa?" Draco bertanya lagi, berusaha memecah kecanggungan mereka.
Hermione lagi-lagi hanya mengangguk.
Draco akhirnya diam, Hermione juga. Mereka hanya makan dalam diam. Hermione kemudian pergi ke kamar mandi dan menyikat giginya, Draco tidak lama juga akhirnya mandi, mereka masih belum mengatakan apa-apa satu sama lain.
Draco keluar dari kamar mandinya seperti biasa, dengan sehelai handuk dipinggangnya. Ia melihat Hermione di kasurnya. Ia yakin jantungnya berhenti berdekat untuk beberapa mili detik.
Hermione berbaring tepat di tengah kasurnya, di tengah kasur mereka, hanya menggunakan sehelai teddy berwarna hitam yang hampir transparan.
Hermione tersenyum padanya, tidak, bukan tipe senyuman yang menggoda atau semacamnya, tapi senyuman tulus, senyuman yang sedikit malu-malu.
"Hermione." Kata Draco pelan.
"Draco." Hermione tersenyum padanya.
Draco berjalan mendekat, beberapa bagian tubuhnya masih basah, rambutnya juga, ia mendekat dan duduk disisi kasur yang sedikit kosong.
Draco mengulurkan tangannya, membelai pipi Hermione. "Are you real?"
Hermione menggenggam tangan Draco yang berada di pipinya.
"Aku akan merindukanmu." Draco berkata pelan.
"Aku akan lebih merindukanmu." Kata Hermione lagi.
Draco berdiri, ia melepas handuknya kemudian dengan cepat memosisikan tubuhnya di atas Hermione.
"Can I take this off?" Draco bertanya.
Hermione mengangguk pelan. Draco menurunkan tali yang berada di kedua sisi bahu perempuan di bawahnya. Draco mencium bibir Hermione, menempelkan bibirnya keras, mengulurkan lidahnya, memasukkan lidahnya ke mulut Hermione dan perlahan menarik lingerie-nya kebawah.
"Hermione…." Draco memanggil nama kekasihnya, seperti sedang menyebut nama dewa yang disembahnya, Draco meraba seluruh bagian tubuh Hermione yang bisa disentuhnya, lengannya, lehernya, dadanya, perutnya, pahanya.
Tidak lama lingerie Hermione sudah berada di lantai berama handuk Draco.
"Hermione, Hermione, I love you so much." Draco seperti menggumamkan mantra, bergumam sambil menciumi seluruh tubuh Hermione, lehernya, dadanya, perutnya, kemudian kembali lagi ke dadanya, menghisap payudaranya, yang kiri kemudian meremas yang kanan dengan tangannya, begitu sebaliknya.
Hermione berusaha menahan dirinya, membiarkan dirinya berada dalam surga bersama pria yang dicintainya, tapi ia kemudian tidak tahan lagi, Hermione mulai mendesah dan tangannya mulai bergerak, ia mengaitkan tangannya di rambut Draco.
"Draco…" Hermione mendesah, merasakan pundak dan lengan Draco yang berotot, dari pertama Hermione selalu menyukai postur tubuh Draco, tinggi dan berotot tapi tidak berlebihan seperti Ron, Hermione pernah bercanda bahwa jika Draco sudah tidak punya uang lagi maka ia bisa menjadi model pakaian dalam pria di dunia Muggle.
"Draco… Aku mencintaimu." Hermione menarik wajah Draco dan mereka berhadapan. "I love you." Hermione berkata.
"I love you as well." Draco mencium Hermione kemudian mereka bersatu.
Draco mengerang dan Hermione mendesah. Draco meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kepala Hermione, sementara Hermione mengalungkan kedua tangannya dileher Draco.
Mereka berdua benar-benar ingin bersatu Draco mendekatkan tubuhnya lagi. Draco mulai bergerak, maju mundur, maju mundur.
"Draco…." Hermione menitikkan air matanya, ia sadar ini malam terakhirnya di Inggris. Ia dan Draco sudah berjanji akan mengunjungi satu sama lain, ini bukan seperti mereka akan berpisah atau semacamnya, tapi Hermione hanya sedih akan meninggalkan Draco.
Draco menghapus air mata Hermione dengan kedua jarinya.
"Jangan menangis, aku akan datang tiga minggu lagi." Draco berkata, ia memberitahu Hermione bahwa ia sudah pergi ke kementrian, merancang portkey tiga minggu lagi, tepat satu minggu setelah Hermione berkuliah Draco berkata akan mengunjungi Hermione dan akan mendengarkan cerita minggu pertama kuliahnya.
Hermione mengangguk. Draco mencium keningnya.
"Move." Hermione berbisik.
Dan Draco mengatur tempo mereka, maju-mundur, maju-mundur, menarik bagian tubuhnya sampai tinggal bagian ujungnya yang ada di dalam lalu mendorong masuk lagi.
"Dracoo…." Hermione berteriak, ia akan segera mencapai puncak.
"Hermione…." Draco mengerang, dan mereka mencapai klimaks bersamaan.
"I love you." Mereka berkata bersamaan saat mencapai klimaksnya.
.
Hermione tidak tidur semalaman, ia membiarkan Draco memeluknya di tidurnya, membiarkan Draco mendengkur pelan dan memandangi pria di depannya.
Sesekali menyusuri wajahnya, hidungnya, rahangnya, matanya, keningnya dengan ujung-ujung jarinya. Hermione berusaha mengingat wajah Draco, merekam semua detail-detail kecil dari wajahnya, agar nanti ketika ia merindukan Draco maka ia bisa menutup matanya dan membayangkan wajah Draco dengan sempurna.
Hermione mulai menangis lagi. Ia meneteskan air matanya lagi, ia benar-benar tidak ingin meninggalkan Draco, tapi ia juga benar-benar ingin melanjutkan pendidikannya.
Ia bisa saja dengan egois meminta Draco ikut dengannya, dan pria bodoh menyebalkan di depannya pasti akan dengan mudahnya mengiyakan permintaannya, tapi ia tahu Draco punya banyak hal untuk di jaga di Inggris. Draco tidak bisa begitu saja meninggalkan Narcissa sendiri, ia juga harus mengurus perusahaannya, perusahaan yang sedang di bangunnya ulang.
Hermione menghapus air matanya, kemudian memejamkannya, ia akan tidur sebentar sampai sekita pukul delapan, keretanya berangkat pukul sebelas.
Draco menawarkan untuk membuatkan Portkey agar Hermione bisa berangkat ke Prancis, tapi Hermione menolak, ingin berangkat dengan cara yang sama seperti ia pergi ke Hogwarts beberapa tahun yang lalu.
.
Hermione dibangunkan Seezy sekitar pukul delapan lewat sepuluh. Draco sudah tidak ada disampingnya, hanya ada kertas kecil berisi pesan.
Hermione,
Maaf aku tidak bisa mengantarmu, maaf.
Kau tahu betapa menyedihkannya diriku, aku tidak ingin berakhir dengan menangis menyedihkan dan merengek memintamu untuk tidak jadi pergi di depan umum.
Kau tahu kan aku mencintaimu? Aku mencintaimu, jaga dirimu.
Draco.
Hermione menangis sambil memeluk kertas dari Draco, ia menangis seperti anak kecil, meringkuk dan memeluk kedua kakinya.
"Bodoh… bodoh… Draco Malfoy bodoh!" Hermione menangis. "Menyebalkan. Draco Malfoy menyebalkan." Kata Hermione lalu menangis lagi.
.
"Hati-hati." Ginny memeluknya erat. "Kalau kau sakit hubungi kami." Ginny berkata.
Hermione mengangguk.
"Oh, Hermione, kau yakin tidak ada yang tertinggal?" Helena memeluknya dan melihat wajah anak satu-satunya.
Hermione mengangguk.
Richard berdiri dan tidak mengatakan apa-apa. Ia sedih Hermione akan pergi, tapi sepertinya kesal karena Draco Malfoy tidak punya cukup nyali untuk mengantar Hermione pergi.
"Jaga dirimu nak." Richard Granger berkata lalu memeluk Hermione.
"Hermione, behati-hatilah, jaga kesehatanmu, dan kalau ada apa-apa hubungi kami." Kata Harry memeluk Hermione, kemudian semua yang mengantar Hermione memeluknya bergantian.
"Pokoknya kau harus kembali saat aku melahirkan, aku tidak mau tahu!" Ginny berkata terakhir kalinya.
Hermione mengangguk, ia tidak banyak bicara dari tadi, tidak yakin apa ia bisa bicara, sepertinya ia siap menangis begitu membuka mulutnya, matanya berkaca-kaca.
Helena dan Ginny sudah menangis, sementara Hermione menahan tangisnya.
"Bye…" Hermione akhirnya berkata begitu naik ke kereta, ia menuju ke kompartement-nya lalu membuka jendela dan melambaikan tangan pada kedua orangtuanya dan Harry juga Ginny.
"Bye Hermione…" Helena melambai sambil menangis, begitu juga Ginny.
Hermione melambai dan menangis, keretanya sudah berbunyi, tanda sebentar lagi akan melaju.
"Hati-hati nak, telepon kami begitu sudah sampai." Richard setengah berteriak saat akhirnya kereta Hermione berjalan.
Hermione duduk di kompartementnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai menangis tersedu-sedu.
"Stupid Draco Malfoy!" Hermione menghentak-hentakkan kakinya kesal, ia menangis, ia kesal dan sedih, kenapa Draco egois sekali? Tidak mengatakan apa-apa dan langsung menghilang begitu saja, tidak mengantarnya ke stasiun, tidak mengucapkan selamat tinggal, membuatnya sedih dan kesal sekaligus.
"Draco Malfoy Brengsek!" Hermione menangis lagi.
Ia tidak tahu berapa lama ia menangis, mungkin sudah setengah jam dan air matanya belum mau berhenti mengalir, untuk ia duduk sendiri di kompartementnya.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terus menangis, sesekali mengeluarkan kekesalannya pada Draco.
Draco Malfoy hanya memikirkan dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia pergi begitu saja, meskipun pria itu berjanji untuk mengunjunginya tiga minggu lagi, tetap saja, bagaimana ia menghilang tanpa mengatakan apa-apa? Hanya selembar surat bodoh, tidak mengantarkanya ke stasiun, tidak menciumnya selama tinggal.
"Jahat!" Hermione menangis lagi.
Ia mendengar suara kompartementnya di buka dan sepertinya seseorang duduk di depannya. Hermione terus menangis. Ia tidak peduli siapapun yang duduk di depannya, ia bisa mati atau jatuh dari kereta, ia tidak peduli, ia hanya ingin menangis sampai puas.
"Sampai kapan kau akan menangis?"
Hermione mengenal suara itu. Suara paling menyebalkan diseluruh jagad raya. Hermione mengangkat kepalanya.
"Draco?"
-Flashback-
"Mom, apa yang harus kulakukan?" Draco bertanya putus asa.
"Apa kau tidak bisa menunggunya?"
"Bisa, tentu saja bisa, berharap saja aku tidak mati bunuh diri karena terlalu merindukannya." Kata Draco sarkas.
Narcissa berpikir. "Apa kau memikirkan untuk ikut pindah ke Prancis?" Narcissa bertanya.
Draco menggeleng. "Aku sempat memikirkannya tapi aku tidak mungkin meninggalkan Mom disini sendiri." Draco berkata lagi.
Narcissa tersenyum. "It's okay Son, lagipula masa hukumanku tidak sampai satu tahun lagi, tidak apa jika kau memang mau pindah ke Prancis." Narcissa tidak menyangka Draco menjadikan dirinya sebagai alasan, ia senang, tentu saja senang, anaknya sekarang benar-benar sudah dewasa, meskipun ia sudah menemukan wanita yang dicintainya tapi tetap memikirkan orangtuanya.
Draco menggeleng. "Tidak mom, lagipula aku perlu mengurus perusahaan."
"Draco, apa kau mencintai Hermione?" Narcissa bertanya.
Draco mengangguk.
"Coba dengarkan apa kata hatimu! Apa yang hatimu berusaha katakan?" Narcissa bertanya.
Draco terdiam, ia benar-benar ingin bersama Hermione.
Narcissa bisa melihat jawabannya di wajah Draco. "Jangan jadikan Mom dan perusahaan sebagai alasan." Narcissa berkata. "Kau bisa ikut mendaftar kuliah, mengambil jurusan bisnis atau semacamnya. Lagipula masa hukuman Mom tinggal sebentar lagi, Blaise dan Pansy bisa mengunjungi Mom rutin, dan Theo bisa mengambil alih perusahaan untuk sementara, setelah itu mom bisa membantu Theo begitu masa hukuman Mom selesai." Narcissa memberi solusi.
Draco menghela nafasnya, masih tidak yakin.
.
"It's okay Mate, aku dan Pansy akan tinggal di London setelah ini dan kami akan menjaga Narcissa, kami akan sering-sering mengunjunginya." Blaise berkata.
Theo mengangguk mengerti, "Draco, aku tidak yakin bisa mengurus perusahaanmu tapi aku akan mencoba, toh aku tidak punya pekerjaan." Theo berkata, ia anak kedua dari dua bersaudara dan kakak laki-lakinya sudah mengambil alih seluruh usaha keluarga mereka dan selama ini Theo hanya bermain-main.
"Kau harus tetap sering menghubungiku, aku butuh bantuanmu." Theo berkata.
.
Draco Abraxas Malfoy,
Kami dari pihak University Of Wizarding World, memberitahukan bahwa kami sudah menerima surat rekomendasi dari salah satu pengajar di University Of Wizarding World, maka anda hanya perlu mengikuti tahap wawancara dan tidak perlu mengikuti verifikasi berkas.
Kami lampirkan jadwal-jadwal penting terkait proses wawancara dan tahap-tahap selanjutnya.
Demikian surat ini disampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
-Rektor University Of Wizarding World-
.
Draco Abraxas Malfoy,
Kami dari pihak University Of Wizarding World, memberitahukan bahwa anda telah resmi diterima sebagai mahasiswa tahun ajaran baru University Of Wizarding World, jurusan Business Administration & Management.
Kami lampirkan jadwal-jadwal penting terkait proses daftar ulang dan proses pengurusan asrama.
Demikian surat ini disampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
-Rektor University Of Wizarding World-
-End of Flashback-
"Sampai kapan kau akan menangis?"
Hermione mengenal suara itu. Suara paling menyebalkan diseluruh jagad raya. Hermione mengangkat kepalanya.
"Draco?"
Draco Malfoy menyeringai di depannya. "Kenapa kau menangis Granger?"
Hermione bangkit dari kursinya dan melompat kepelukkan Draco. Ia menangis lagi.
"Berhentilah menangis." Draco berseru, menepuk-nepuk pundak Hermione yang menangis dipangkuannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hermione saat tangisnya sudah reda.
"Memangnya hanya kau yang akan kuliah? Aku juga akan kuliah." Draco berkata.
Mata Hermione membesar. "Benarkah?"
Draco mengangguk.
"Jurusan apa?" Hermione bertanya.
"Business Administration & Management." Kata Draco lagi, Hermione menyipitkan matanya tidak begitu percaya.
"Kau mau aku menunjukkan surat penerimaanku?" tanya Draco.
Draco kemudian menceritakan semuanya, bagaimana akhirnya ia mendapat rekomendasi dari salah satu kenalan Blaise dan beberapa waktu belakangan ini sibuk mengurusi kepindahannya, ia bahkan sudah mempersiapkan apartement kecil di dekat universitas untuk mereka berdua.
Hermione tersenyum lebar, menghapus semua sisa air mata dari wajahnya kemudian memeluk Draco erat.
"I love you." Hermione berbisik
"I love you as well." Draco membalasnya.
"Granger…"
"Hmm?"
"Apa kau pernah bercinta di kereta?" Draco bertanya menggoda Hermione.
"Prat!" Hermione memukulnya pelan
-The end-
Aku bangun tadi pagi, pas mau berangkat kampus aku cek hape dan ternyata dosenku hari ini nggak bisa, jadi aku menyelesaikan ini, untuk kalian.
I'm not sure about epilogue, aku rasa sampai disini sudah cukup, tapi mungkin aku berubah pikiran, entahlah, tapi sepertinya ini sudah cukup, tapi entahlah, tergantung kalian.
Kalau aku nggak jadi bikin epilogue pokoknya aku berterimakasih untuk semua reviewersku yang sudah mengikuti cerita ini dari chapter satu, meskipun cerita ini banyak bagian anehnya, dan sering kali melenceng dari jalurnya, kalau kalian baca ceritaku langsung dari awal sampai akhir kalian pasti bisa menebak golongan darahku.
Hampir semua penulis dengan golongan darah yang sama denganku sering kali plin-plan sama cerita mereka, satu kalimat senang, kalimat berikutnya sedih, kalimat berikutnya ringan, kalimat berikutnya gelap, bzzz….
Terimakasih banyak sekali lagi, buat semua reviewers dan favorite-rs dan followers cerita ini. Terimakasih banyak. Aku sayang kalian.
Sampai jumpa di cerita lain.
-dramioneyoja.
