Cast : B.A.P Members
Genre : AU, Yaoi, Drama
Part : 25/?
Warning : Typo, alur kecepetan.
:::::
Jam weker berbunyi nyaring tepat pukul tujuh pagi hingga memaksa penghuni ruangan tersebut untuk bangun dari tidur nyenyaknya. Yongguk yang terbangun pun segera mematikan weker di nakas sampingnya sebelum Himchan ikut terbangun karena suara mengganggu dari benda kecil berbentuk persegi tersebut. Ia tersenyum melihat Himchan masih pulas dalam tidurnya, perlahan Yongguk mengusap kening Himchan agar tertidur lebih pulas. Melihat wajah Himchan yang sangat tenang ketika tidur, membuat ia tidak tega jika harus membangunkannya. Biarlah sejenak Himchan terlepas dari semua hal yang mengganggu pikirannya.
"Yongguk-ah." Sebuah suara disertai ketukan terdengar dari arah pintu kamar. Tidak ingin Himchan terganggu, Yongguk pun segera beranjak dari tempat tidurnya lalu membuka pintu hingga terlihatlah Mrs. Bang sudah berdiri di depan pintu.
"Oh umma."
"Apa umma mengganggu?" Tanya Mrs. Bang ragu.
"Ani, aku baru saja bangun sebelum kau mengetuk. Ada apa?"
"Umma dan appa ingin jalan-jalan sebentar mencari udara segar." Pamit Mrs. Bang sambil menunjuk Mr. Bang yang duduk menunggu di sofa.
"Biar aku temani."
"Tidak perlu, kasihan Himchan jika ditinggal sendirian." Mrs. Bang langsung mencegat Yongguk yang akan mengambil jaketnya.
"Tapi kalian sudah lama tidak kesini, bagaimana kalau kalian tersesat?"
"Aigoo, walau sudah tua tapi kami belum pikun Yongguk-ah kkk. Jangan khawatir."
"Baiklah, jangan lupa bawa ponselmu umma. Segera hubungi aku jika terjadi apa-apa."
"Arasseo. Oh ya, sarapan sudah siap dimeja makan. Jangan lupa dimakan." Pesan Mrs. Bang.
"Eiy umma, harusnya aku atau Himchan saja yang membuat sarapan. Semenjak kalian disini, kau terus mengerjakan pekerjaan rumah. Lain kali biar kami saja yang mengerjakannya, aku tidak ingin kau kelelahan." Ujar Yongguk sembari memijat pundak ibunya.
"Gwaenchanayo, umma senang melakukannya. Kau tau kan, badanku selalu pegal jika hanya berdiam diri."
"Tapi jangan lakukan semuanya sendiri umma, ada aku dan Himchan."
"Arrayeo. Mandi lah, umma pergi dulu. Kasihan appa menunggu sejak tadi." Mrs. Bang melepaskan tangan Yongguk dari pundaknya.
"Hati-hati." Yongguk mengecup pipi ibunya.
"Ne, annyeong." Mrs. Bang tersenyum lalu menghampiri suaminya yang sudah menunggu lama sembari menonton acara tv.
-ooo-
"Yah, kau tidak mau bangun?" Youngjae menggoyang-goyangkan tubuh Daehyun yang masih bermain dalam alam mimpinya.
"Jung Daehyun! Ireona, palli." Seru Youngjae lagi karena Daehyun tidak kunjung bangun.
Setelah berbaikan beberapa hari lalu, Youngjae dan Daehyun kini sudah kembali seperti semula. Tidak ada kecanggungan lagi diantara mereka, baik Youngjae maupun Daehyun menjadi cerewet seperti biasa hingga membuat suasana rumah kembali ramai. Ternyata benar, jika terus mementingkan ego sendiri, maka jangan harap kita akan mendapat kebahagiaan. Dan itulah yang sedang dicoba oleh Youngjae serta Daehyun, berusaha menyingkirkan ego masing-masing demi hubungan mereka berdua.
"Hm, shireo." Sahut Daehyun lalu menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuh agar tidak terkena pancaran sinar matahari yang masuk dari ventilasi jendela kamar.
"Ck." Youngjae berdecak heran dan menyusup ke dalam selimut untuk mencari wajah Daehyun yang bersembunyi dibalik selimut.
"Ya, kau masih tidak ingin bangun?"
"Ini hari Minggu, aku ingin tidur seharian." Jawab Daehyun malas dengan kedua mata tertutup.
"Tapi kita sudah ada janji dengan yang lain."
"Jam berapa sekarang?"
"11."
"Masih ada waktu 5 jam lagi." Kata Daehyun pelan dan menarik Youngjae agar ikut berbaring disampingnya dan memeluknya erat layaknya sebuah guling.
"Tapi kau harus sarapan dulu." Youngjae mengingatkan dalam pelukan Daehyun.
Mendengar ucapan Youngjae, Daehyun segera membuka matanya dan tersenyum dengan mata yang fokus menatap wajah Youngjae dihadapannya. "Sarapan?"
"Ne, ummadeul sudah membuatkan sup yang enak untuk kita." Jawab Youngjae dengan wajah polosnya.
"Aku tidak mau sarapan itu."
"Lalu kau mau apa?"
Daehyun menyeringai sebelum menjawab pertanyaan dari Youngjae. "Neo."
"Mwo - Eummph." Kalimat Youngjae terpotong ketika Daehyun mulai melahap bibirnya secara paksa.
Percuma untuk memberi perlawanan, Daehyun sudah lebih dulu mengunci kaki dan tangan Youngjae agar tidak memprotes dirinya dan hanya diam membiarkan ia melakukan 'sarapannya' di balik selimut berwarna putih tersebut.
-ooo-
Sementara itu, Taman yang berada ditengah area beberapa perumahan terlihat begitu ramai dikunjungi oleh orang-orang yang tinggal di sekitar taman untuk melakukan berbagai hal seperti olahraga, bermain atau hanya sekedar bersantai dan menikmati segarnya udara yang ada pada taman tersebut. Begitu pula dengan Jongup dan Junhong yang sibuk bermain dengan benda-benda kesayangan mereka, apalagi kalau bukan dumbbells dan skateboard yang biasa mereka bawa saat akan berolahraga di taman.
"Fyuh, aku lapar." Kata Junhong sambil mengistirahatkan diri disamping Jongup yang sibuk memainkan dumbbellsnya sembari duduk mengawasi Junhong bermain dengan skateboard disekitar taman.
"Sudah puas?"
"Belum." Junhong menggeleng.
"Lain kali kita main lagi, sekarang kita pulang saja." Usul Jongup.
"Kau ingin pulang?"
"Tidak, tapi kau lapar kan? Lebih baik aku mengantarmu pulang agar kau bisa makan dirumah."
"Tidak mau."
"Wae?"
"Kita makan di kedai depan sana saja hyung. Aku ingin makan denganmu kkk." Ujar Junhong tanpa sungkan.
"Makan diluar?"
"Ne, kau tidak mau?"
"Bukan..tapi hm..."
"Aku akan mentraktirmu." Kata Junhong seolah mengerti maksud ucapan Jongup.
"Tidak usah. Bagaimana kalau kita makan diluar lain kali saja? Setelah ibuku memberi uang bulanan." Ujar Jongup jujur.
"Pakai uangku saja, kapan-kapan baru giliranmu. Hah, aku sangat lapar sekarang." Junhong memasang wajah memelas sembari memegang perutnya.
"Huft baiklah." Setuju Jongup tanpa berpikir lama, ia tidak tega membiarkan Junhong menahan laparnya.
"Yeay! Kajja."
"Biar aku yang membawanya." Jongup mengambil alih skateboard Junhong hingga saat ini ia menenteng dumbbells dan skateboard di kedua tangannya.
"Aku saja hyung."
"Jangan protes. Kajja." Jongup menggerakkan kepalanya sedikit sebagai kode agar Junhong mengikutinya berjalan menuju kedai yang tidak jauh dari taman.
"Nde." Junhong mengangguk mantap dan mensejajarkan langkahnya dengan Jongup.
-ooo-
Jarum jam sudah mengarah pada angka 1, Daehyun yang baru selesai mandi pun segera membantu Youngjae membereskan kamar yang memang sudah lama tidak dibersihkan secara menyeluruh oleh mereka.
"Kamar mandi sudah kau bersihkan?" Tanya Youngjae saat melihat Daehyun. Sedangkan tangannya dengan cekatan mengganti alas tidur mereka.
"Oh, belum." Jawab Daehyun santai.
"Ck, kenapa tidak kau bersihkan sekalian."
"Karena kau tidak menyuruhnya."
"Astaga Jung Daehyun. Apa harus ku suruh dulu baru kau kerjakan?" Youngjae menggelengkan kepala ketika mendengar jawaban Daehyun.
"Mian. Akan segera ku bersihkan."
"Tidak usah, nanti kau kotor lagi." Larang Youngjae sebelum Daehyun beranjak ke kamar mandi.
"Ya sudah, ingatkan aku untuk membersihkannya sore nanti."
"Oke." Jawab Youngjae lalu menjauh dengan cucian yang ia kumpulkan tadi.
"Biar aku saja." Daehyun langsung mengambil cucian tersebut dari tangan Youngjae.
"Aku saja. Kau tidak paham cara memisahkannya."
"Kau pikir aku bodoh? Aku juga bisa membedakannya."
"Kau kan memang bodoh." Cibir Youngjae.
"Aku tidak mendengarnya." Ujar Daehyun acuh.
Youngjae terkekeh dengan ekspresi Daehyun, ia mendekatkan mulutnya pada telinga Daehyun lalu berbisik, "Deullini?"
Daehyun menggeleng, "Ani."
"Paboya, deullini?" Teriak Youngjae nyaring ditelinga Daehyun disertai kalimat ejekan
"Haish, aku mendengarnya." Daehyun mendorong wajah Youngjae menjauh, berulang kali ia mengusap telinganya.
"Hahahaha, salahmu pura-pura tidak mendengar. Ayo turun, tidak enak membiarkan orangtua kita dibawah sendirian."
"Kau ingin ku gendong?" Tawar Daehyun.
"Shireo"
"Syukurlah, aku hanya bercanda menawarimu. Tau kenapa?"
"Wae?"
"Kau berat." Ucap Daehyun santai dan segera pergi dari kamar sebelum mendapat amukan dari Youngjae.
"YAK! Jung Daehyun!" Teriak Youngjae tidak terima atas ledekan dari suaminya itu.
-ooo-
"Hime, sampai kapan kau ingin berdandan? Lama sekali." Teriak Yongguk yang sedari tadi menunggu bersama kedua orangtuanya.
"Siapa yang berdandan eoh? Kau pikir aku wanita."
"Bukan, hanya mirip." Balas Yongguk dengan wajah datar.
"Ish. Menyebalkan." Himchan mendelik kearah Yongguk.
"Umma, Appa. Kalian ingin ikut kami?" Yongguk mengabaikan Himchan dan kembali mengobrol dengan orangtuanya.
"Tidak, kami tidak ingin menganggu acara anak muda." Tolak Mr. Bang.
"Atau kalian ingin ikut ke rumah Daehyun? Orangtua Youngjae juga ada disana." Himchan ikut menawari.
"Lain kali saja. Sepertinya ayah kalian juga kelelahan."
"Benar, kekuataan appa mulai berkurang sehingga mudah lelah kkk. Kalian pergilah."
"Kalau begitu kami pergi dulu. Annyeong." Pamit Yongguk dan berjalan menuju pintu lebih dulu.
"Oh ya, umma tidak usah memasak. Nanti aku dan Yongguk akan membelikan makan malam." Pesan Himchan.
"Ne arasseo. Hati-hati." Balas Mrs. Bang.
"Ne, annyeong umma appa." Himchan membungkuk sebelum menyusul Yongguk yang sudah menunggu didepan pintu.
::
"Bbang, bagaimana penampilanku?" Tanya Himchan basa basi agar Yongguk tidak selalu diam selama perjalanan mereka menuju cafe.
Yongguk memperhatikan style Himchan dari atas hingga bawah, "Biasa saja."
"Kau jujur sekali." Kata Himchan karena jawaban Yongguk tidak sesuai ekspektasinya.
"Memang. Aku tidak ingin membuatmu senang dengan cara berbohong." Jawab Yongguk serius.
"Ya ya aku tau." Sahut Himchan sedikit menekuk wajahnya. Ia juga ingin dipuji seperti pasangan yang lainnya, tapi apa boleh buat. Yongguk bukan tipe orang yang senang mengumbar pujian padanya.
"Kau mau duduk dulu? Cafe masih cukup jauh." Tanya Yongguk saat melihat wajah Himchan mulai kelelahan berjalan.
"Ani, kita sudah telat. Pasti mereka akan mengomel karena terlalu lama menunggu." Tolak Himchan sembari memperlihatkan jam tangan digitalnya yang sudah menunjukkan pukul 15.30.
Yongguk menghela napasnya, "Kita naik taksi saja."
"Tidak usah, kita harus hemat." Himchan mengingatkan.
"Ya sudah, kalau begitu kau naik ke punggungku." Suruh Yongguk yang mulai berjongkok membelakangi Himchan.
"Banyak orang yang melihat kita nanti."
"Tidak usah pedulikan mereka, cepat naik." Yongguk kembali menyuruh Himchan. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang menatap mereka.
"Baiklah." Himchan pun menurut, tidak ada gunanya jika ia menolak perintah Yongguk karena pada akhirnya pasti Yongguk akan berhasil memaksanya.
"Kenapa badanmu lebih ringan hm?" Komentar Yongguk sambil berjalan menopang tubuh Himchan dibelakangnya.
"Jinja? Baguslah." Sahut Himchan dengan kedua lengannya ia kalungkan di leher Yongguk.
"Iya, lebih ringan beberapa ons." Lanjut Yongguk tanpa merasa bersalah.
"Haish, sembarangan." Himchan menendang paha Yongguk yang justru mengundang tawa keras Yongguk karena berhasil menggoda Himchan.
-ooo-
"Selamat makaan." Seru Daehyun, Jongup, Junhong dan Youngjae saat pesanan mereka sudah dihidangkan diatas meja. Aroma ramyun bercampur keju mozarella yang dilelehkan diatasnya begitu menggugah selera keempat pemuda tersebut. Tanpa menunggu lama, mereka langsung mencicipi ramyun milik masing-masing.
"Huwaa, enak sekali." Ucap Daehyun setelah mencoba menu terbaru cafe tersebut.
"Ramyunnya juga lembut hyung." Setuju Jongup.
"Enak apanya, aku malah eneg karena kejunya yang-" Mulut Youngjae segera ditutup oleh Daehyun sebelum karyawan ataupun pemilik cafe mendengarnya.
"Jangan mengomentari makanannya disini." Daehyun memperingatkan dengan berbisik.
Youngjae melepas tangan Daehyun dari mulutnya, "Aku hanya memberi komentar, baby."
"Tapi terlalu terus terang hyung." Sahut Jongup.
"Memangnya kau suka hyung?" Tanya Junhong pelan.
"Lumayan." Jawab Jongup dan kembali menyantap ramyun miliknya.
"Kau saja yang habiskan." Youngjae menyodorkan mangkuk miliknya pada Daehyun untuk dihabiskan.
"Dae hyung pasti semangat menghabiskannya, dia kan memang penyuka keju." Kata Junhong.
"Kau tidak mau juga?"
"Eoh." Junhong mengangguk pada Jongup.
"Ya sudah, aku ambil daripada dibuang."
"Ne, ambil saja. Punyaku tidak pedas." Junhong mempersilakan.
"Junhong-ah, ayo kita pesan yang lain."
"Pastikan kau memakannya." Tegur Daehyun saat Youngjae dan Junhong memilih menu lain.
"Ada kau yang akan menghabiskannya." Sahut Youngjae santai.
"Terserah." Daehyun tidak ingin menjawab Youngjae lagi.
"Oh Yongguk hyung!" Youngjae melambaikan tangan agar kedua hyungnya yang baru tiba di cafe melihat mereka.
"Maaf kami terlambat." Ucap Yongguk dengan napas tidak teratur. Ia segera duduk disamping Junhong yang sedang menikmati jajangmyun pesanannya.
"Kau lari hyung?" Heran Daehyun.
"Sudah kubilang turunkan aku, kenapa kau ngotot terus menggendongku." Omel Himchan sembari mengambil air mineral diatas meja entah milik siapa lalu memberikannya pada Yongguk.
"Jadi Yongguk hyung menggendong Himchan hyung sepanjang jalan? Pfft, pantas saja." Daehyun menahan tawanya.
"Hanya setengah jalan. Dia terlihat kelelahan tadi." Sahut Yongguk sambil mengatur napas.
"Pasti kau merasa akan mati saat menggendongnya." Ledek Daehyun.
"Tidak usah meledek, itu namanya romantis. Kau tau?" Himchan membalas ucapan Daehyun.
"Romantis tapi menyakitkan." Celetuk Youngjae.
"Bilang saja kau iri." Balas Himchan.
"Untuk apa aku iri? Daehyunnie juga sering menggendongku." Pamer Youngjae.
"Pantas dia sering mengeluh sakit pinggang." Balas Himchan lagi.
"Mwo? Sembarangan, aku tidak berat sepertimu." Sahut Youngjae.
"Aish kalian berisik sekali." Yongguk melerai perdebatan tidak penting antar dua makhluk itu dan menarik Himchan agar duduk disampingnya.
"Hyung, lebih baik kalian pesan makanan." Usul Junhong.
"Hime, kau saja yang pesan. Nanti kita bagi dua."
"Eh? Kenapa hyung? Tumben." Jongup mengerutkan kening, heran.
"Sedang menghemat pengeluaran." Jawab Himchan sambil mendiskusikan makanan yang akan ia makan bersama Yongguk.
"Pesan dua porsi saja hyung, nanti Daehyun hyung yang mentraktir. Sama seperti kami." Jongup memberitahu.
"Jeongmal?" Himchan memastikan.
"Iya hyung." Daehyun mengangguk.
"Call." Himchan segera memilih beberapa menu yang sangat ia sukai.
"Kalian sedang menabung?" Tebak Youngjae yang kembali menyantap kentang goreng miliknya. Sesekali ia menepuk tangan Daehyun yang juga ingin mengambil.
"Begitulah. Sekarang kami hidup berempat, sehingga pengeluaran untuk dua orang harus dibagi lagi menjadi empat. Ditambah biaya berobat appa. Jadi kami harus hemat mulai sekarang." Jelas Yongguk sementara Himchan memesan makanan pada pelayan cafe.
"Benar juga. Tapi bukankah ahjussi mendapat uang pensiun tiap bulannya?" Junhong ikut bertanya.
"Itu untuk tabungan mereka nanti. Untuk pengobatan, aku akan menanggungnya sendiri. Sudah tugas ku sebagai anak bukan?"
"Na ddo." Himchan menyahut perkataan Yongguk.
"Kalau kau perlu bantuan, bilang saja pada kami hyung. Jangan tersinggung, kami hanya ingin membantu sahabat sekaligus hyung kami." Kata Daehyun sedikit takut menyinggung Yongguk maupun Himchan.
"Pasti, gomawo." Balas Yongguk yang menghargai penawaran tulus dari Daehyun.
"Ngomong-ngomong, kapan iklan Himchan hyung tayang?" Junhong mengganti topik pembicaraan yang membuat semuanya termasuk Yongguk penasaran.
"Bagaimana syutingnya? Kau pasti melakukan kesalahan." Ujar Youngjae.
"Dia pasti kena omelan sutradara karena salah terus menerus." Daehyun seakan setuju dengan dugaan Youngjae.
"Eish, kalian sedang bertanya atau menginterogasiku?"
"Keduanya. Cepat jawab, kami penasaran." Kata Youngjae paksa.
"Tidak ada yang harus dijawab."
"Wae? Kau dilarang menceritakan proses syutingnya sampai iklan itu tayang?" Tebak Jongup.
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku sedang malas bercerita." Kata Himchan dengan wajah yang mendadak malas.
"Memangnya kenapa? Kau menyembunyikan sesuatu dari -" Lagi-lagi Daehyun menutup mulut Youngjae yang lebih susah dikontrol belakangan ini.
"Nanti saja hyung, kami tidak memaksa." Kata Daehyun dengan tangan masih menutup mulut Youngjae yang terus memaksa menjauhkan tangannya.
"Wae?" Tanya Himchan saat mendapati Yongguk terus memperhatikannya meskipun wajahnya tampak sedang berpikir.
"Aniyo." Yongguk menggeleng lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.
-ooo-
"Sepertinya Himchan hyung punya rahasia, Dae." Youngjae masih curiga dengan Himchan yang tampak malas menceritakan pekerjaannya.
"Mungkin. Tapi sudahlah, nanti juga dia akan cerita kalau sudah saatnya." Daehyun menghampiri Youngjae yang baru selesai berganti baju lalu memeluknya dari belakang.
"Aku khawatir dia punya masalah dengan pekerjaannya."
"Kau selalu mengkhawatirkan sesuatu. Pantas saja beban pikiran mu terus bertambah. Relax, chagi." Saran Daehyun yang semakin mengeratkan pelukan dan menciumi leher Youngjae intens.
"Aish, jangan lagi." Youngjae mendorong kepala Daehyun agar menjauh dari salah satu bagian sensitifnya.
"Waeyo?" Daehyun memalingkan tubuh Youngjae menghadapnya.
"Kau tidak lihat ada bekas kemerahan dileherku? Pasti mereka semakin mengataiku nanti." Kata Youngjae sambil menunjuk kissmark yang disebabkan Daehyun tadi pagi.
"Oh, mian aku tidak sengaja."
"Iya."
"Tapi bagaimana jika aku melakukannya disini?" Daehyun menunjuk bibir kecil Youngjae yang terlihat menggemaskan dimatanya.
"Hm, bagaimana ya..." Youngjae pura-pura berpikir.
Melihat ekspresi didepannya, membuat Daehyun semakin ingin memakan makhluk dihadapannya ini. Perlahan Daehyun mendekatkan wajahnya pada wajah Youngjae yang mendadak membeku ditempat. Hembusan napas Youngjae pun mulai terasa mengenai wajah Daehyun yang hampir menghapus jarak diantara mereka.
"Aegideul, ayo kita- Ah, mian. Pintunya tidak terkunci." Seru Mrs. Yoo yang langsung menutup kedua matanya ketika melihat pemandangan didepannya.
"Umma." Menyadari kedatangan ibunya, Youngjae segera mendorong tubuh Daehyun hingga terduduk dilantai. Sementara Daehyun sibuk merutuki nasibnya.
"M-mian, umma tidak tau kalau kalian..."
"Gwaenchana umma. Ada apa?" Youngjae menghampiri ibunya dan mempersilakan duduk di sofa.
"Ayo kita makan malam, umma sudah membuatkan bibimbap special. Kau masih suka kan?"
"Kami masih kenyang umma setelah makan dengan yang lain tadi sore." Tolak Youngjae.
"Eiy, ibumu sudah membuatkannya. Jadi harus dimakan." Tegur Daehyun.
"Jangan dipaksakan, umma tidak masalah jika kalian memang sudah kenyang. Padahal ini malam terakhir umma menginap disini." Mrs. Yoo tampak sedikit kecewa.
"Aniyaaa, aku masih lapar eommoni. Kajja, kita tinggalkan saja dia." Daehyun merangkul pundak mertuanya lalu membawanya keluar dari kamar tanpa memperdulikan Youngjae.
"Dia mulai cari muka pada umma, ckck." Tidak ingin sendirian dikamar, Youngjae pun terpaksa menyusul Daehyun dan ibunya. Ya paling tidak ia bisa ikut mengobrol meskipun tidak makan.
-ooo-
"Hah." Jongup menghela napas berat ketika ia tiba didepan rumah yang masih gelap karena semua lampu belum dinyalakan. Dengan malas ia melangkahkan kaki ke dalam rumah 'kosong' tersebut dan menyalakan lampu disetiap sudut rumah. Kemudian ia beranjak ke kamarnya yang cukup berantakan lalu merebahkan dirinya dikasur.
"Lonely boy." Gumamnya sambil memandang langit-langit kamar yang didekorasi seperti luar angkasa.
Tidak berapa lama, suara dering ponsel terdengar dan memecah lamunan Jongup. Diliriknya layar ponsel disampingnya tersebut yang menampilkan tulisan 'Maknae' sebagai orang yang melakukan panggilan.
'Eoh, Junhong-ah. Wae?'
'Hyung, kau sudah sampai dirumah?'
'Iya, baru saja.'
'Oh syukurlah, suhu sangat dingin sekarang. Jangan lupa nyalakan penghangat ruanganmu.'
'Untung kau mengingatkan.' Jongup segera mengambil remote dan menyalakan mesin penghangat ruangan yang terletak di sudut kamar.
'Ck, memangnya kau tidak kedinginan?'
'Ani.'
'Walaupun kau tidak kedinginan, tetap saja kau harus menyalakannya.'
'Arasseo. Tumben kau banyak bicara.'
'Oh benarkah? Ya sudah aku tidak bicara lagi.'
'Eiy bukan itu maksudku. Aku hanya heran kkk.'
'Tidak tau kenapa, aku selalu ingin memperhatikanmu.'
Jongup tersenyum mendengar ucapan Junhong, 'Gomawo.'
'Kenapa?'
'Karena kau terus memperhatikanku.'
'Tidak usah berterimakasih, aku sangat senang melakukannya.'
'Junhong-ah, lihat appa membelikanmu sesuatu.' Terdengar suara Mr. Choi berteriak memanggil Junhong dari kejauhan.
'Hyung, sudah dulu ya. Kau tidak boleh tidur larut malam. Sampai jumpa besok.'
'Sampai jumpa.' Balas Jongup sebelum menutup panggilannya dan Junhong.
"Sudah lama aku tidak diperlakukan seperti Junhong tadi." Kata Jongup pelan ketika teringat suara Mr. Choi yang memanggil Junhong. Jujur saja, terbersit rasa iri pada Junhong yang selalu mendapat perhatian oleh kedua orangtuanya. Berbeda dengan dirinya yang tidak dipedulikan lagi oleh orangtuanya.
"Beruntung sekali Gayoungie." Katanya lagi karena merasa Gayoung lebih beruntung.
Gadis itu dapat merasakan kasih sayang ayahnya bahkan dapat bertemu kapan saja ia mau. Sedangkan Jongup, bertemu sebulan sekali saja tidak mungkin. Terlebih ibunya yang sering tidak pulang karena sibuk mengurus usaha bersama dengan teman-teman sosialitanya diluar kota. Ah atau mungkin saja dia sibuk dengan kekasih barunya. Entahlah, yang jelas ibunya itu sudah lama tidak menghubunginya. Jongup hanya mendapat uang bulanan dari kedua orangtuanya, memang uang itu sudah mencukupi untuknya. Tapi bukan itu yang diinginkan oleh Jongup.
Ia melihat ke arah bingkai foto yang diletakkan diatas meja belajarnya. Didalam foto tersebut tampak Jongup kecil berusia dua tahun yang sedang merayakan ulang tahunnya tengah berdiri sembari memegang sepotong kue ditengah-tengah kedua orangtuanya. Wajah mereka tersenyum begitu tulus. Meskipun dibalik senyum tersebut tersimpan perdebatan besar diantara keduanya yang belum dimengerti oleh Jongup kecil.
"Selamat malam, umma appa." Ucap Jongup sangat pelan lalu memejamkan matanya mencoba untuk tidur.
::::
Jam pelajaran untuk sesi pertama telah berakhir, itu artinya waktu istirahat pun tiba dan membuat semua siswa bergegas melakukan aktifitas apapun untuk menghilangkan penat setelah menerima pembelajaran dari guru sejak tadi pagi.
"Ya ya ya, lihat apa yang baru ku download." Ujar seorang siswa namja ketika seluruh siswa yeoja keluar dari kelas.
"Apa?" Beberapa siswa namja menggerubungi siswa tersebut.
"Film dewasa." Ujar siswa tersebut dengan berbisik.
'Uuuuu. Daebak.'
'Lumayan untuk menyegarkan mata.'
'Nah!'
'Cepat tutup pintunya, sebelum ada yang melihat.'
Suara-suara antusias dari beberapa siswa itu pun terdengar di penjuru kelas. Tidak lupa mata mereka mengawasi sekitar pintu dan jendela untuk menghindari guru atau siswa yang kemungkinan akan melapor jika mengetahui hal ini. Jenuh dengan keadaan kelas, Youngjae pun mengambil beberapa barangnya dan beranjak pergi dari kelas.
"Youngjae-ya, kau mau kemana?" Tegur salah satu siswa yang menghentikan Youngjae ketika akan membuka pintu.
"Kau tidak ingin ikut menontonnya?"
"Yah, kau pikir Youngjae akan tergoda melihat adegan disini?" Sahut siswa lainnya yang otomatis mengundang tawa.
"Benar, dihadapkan dengan ratusan wanita seperti ini saja pasti tidak akan membuatnya tergoda." Setuju yang lain namun tidak digubris oleh Youngjae yang segera keluar.
"Sudahlah, jangan mengganggunya lagi." Kata Seungho menghentikan teman-temannya.
"Kenapa kau jadi membela dia?"
"Jangan bilang kau juga..."
"Jaga bicaramu, aku masih normal." Seungho memukul kepala temannya.
"Kalau bukan, lalu kenapa?"
"Dia dilindungi kepala sekolah, jika aku dan adikku ketahuan membiarkan siswa lain mengganggunya. Maka aku dan adikku akan langsung dilaporkan pada ayahku."
"Kenapa hanya kalian?"
"Itu karena mereka yang pertama kali menyebarkan gosip, pabo."
"Oh. Aku baru tau."
"Sst jangan berisik." Protes beberapa siswa yang lain hingga membuat Seungho dan temannya berhenti bicara dan kembali fokus pada layar.
-ooo-
'Kau sudah makan?' Youngjae bicara pada layar ponselnya dengan earphone yang menggantung ditelinganya
'Sudah, lihat bekal buatanmu sudah kuhabiskan.' Terlihat Daehyun yang juga menggunakan earphone ditelinga sedang memperlihatkan kotak bekal yang diberikan Youngjae tadi pagi.
'Baguslah. Akan ku hajar kau jika tidak memakannya.' Youngjae menunjukkan genggaman tangannya pada Daehyun.
'Aigoo, kau ganas sekali.'
'Memang, kau baru tau?'
'Ku pikir keganasanmu sudah hilang sejak kita me - sejak kita bersama.' Daehyun langsung meralat ucapannya karena sadar tempat ia berada sekarang.
'Yak, awas saja kau kelepasan bicara. Memangnya sekolah mana lagi yang mau menerimamu kalau ketahuan.'
'Arra~ Kau hanya sendiri? Kemana mereka berdua?'
'Ne, mereka sedang ada tugas kelompok. Jadi setelah membelikan makanan untukku, aku menyuruh mereka langsung kembali ke kelas.' Jelas Youngjae sambil membuka bungkus cokelat dengan giginya.
'Ck, kau selalu saja menggigit sesuatu. Lain kali gunakan tanganmu saja untuk membukanya.'
'Bawel.' Cibir Youngjae.
'Itu karena aku peduli.'
'Nde~ kau mau?' Youngjae menyodorkan cokelat kearah layar ponsel.
'Sisakan aku setengah, chagi.' Wajah Daehyun terlihat sangat ingin mencicipi cokelat itu.
'Omo, cokelatnya melumer didalam mulutku. Enak sekali, Baby. Kau harus mencobanya.' Kata Youngjae sedikit memanasi Daehyun.
'Yah, sisakan aku sedikit saja. Satu gigit juga tidak masalah.' Pinta Daehyun dengan wajah melas.
Namun bukan Youngjae namanya jika tidak membuat Daehyun berteriak karena tingkahnya. 'Apa ini cukup?' Ia memperlihatkan potongan kecil cokelat tersebut yang sengaja ia sisakan.
'Iya, aku hanya ingin mencobanya.'
'Baiklah.' Bukannya menyimpan, Youngjae justru memasukkan potongan yang tersisa itu ke dalam mulutnya.
'Yak! Kenapa kau tega sekali.' Kesal Daehyun saat melihat Youngjae memakannya.
'Waeyo?' Tanya Youngjae dengan wajah yang dibuat polos.
'Oh astaga, hentikan wajah polosmu itu.'
'Sebentar, sepertinya ada sisa cokelat dibibirku.' Youngjae memainkan lidahnya pada bibir secara seduktif. Tentunya untuk niat bercanda.
'Oh my god. Kau ingin menggodaku?' Daehyun mengusap wajahnya beberapa kali. Andai saja ia berada didekat Youngjae, ia pasti sudah menyerang makhluk berpipi chubby itu saat ini juga.
'Kkk, aniya. Aku bercanda.' Youngjae tertawa agak keras sambil menepuk-nepuk kursi yang biasa ia duduki saat dirooftop. Ekspresi Daehyun sangat membuatnya ingin tertawa.
'Tidak usah tertawa.'
'Hahaha mian. Aigoo, jangan marah baby.' Youngjae memberi ciuman jauh pada Daehyun yang tampak tidak terima telah digoda seperti tadi.
'Kenapa kau jadi agresif saat kita jauh. Ckck.'
'Karena kau tidak akan menyerangku saat jauh seperti ini kkk.' Jawab Youngjae.
'Aku bisa melakukannya saat pulang nanti.' Daehyun menyunggingkan senyum misterius diwajahnya.
'Ku hajar kau.'
'Aku akan mengikatmu lebih dulu sebelum kau menghajarku, chagi' Goda Daehyun sembari berkedip sebelah mata.
'Andwae.' Youngjae mempelototi Daehyun.
'Aigoo, imut sekali.' Bukannya seram, wajah Youngjae justru terlihat lucu dimata Daehyun.
'Aku sedang kesal, Jung Daehyun.'
'Oh ya? Aku tidak takut.'
'Eish kau.'
'Ah chagi, guru ku akan masuk. Kau kembali ke kelas saja, jangan sendirian disana. Palli.' Pesan Daehyun.
'Hm, baiklah.' Jawab Youngjae malas. Ia masih merindukan Daehyun dan masih ingin mengobrol dengannya, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin menahan Daehyun.
'Annyeong, aku akan menjemputmu nanti.' Pamit Daehyun lalu menempelkan bibirnya pada layar seakan sedang mencium Youngjae.
"Euwh, bibirmu mengerikan." Youngjae segera mematikan panggilan video dirinya dan Daehyun.
"Apa boleh buat." Ucap Youngjae pasrah dan beranjak kembali ke kelas seperti yang Daehyun suruh.
-ooo-
Sepulang dari jadwal kuliah masing-masing, Yongguk dan Himchan pun dengan santainya berjalan kembali menuju rumah. Selama perjalanan, Himchan lebih banyak bicara dibanding Yongguk. Berbagai hal tidak penting pun dijadikan topik pembicaraan olehnya dan Yongguk dengan senang hati mendengarkan cerita Himchan meskipun ia hanya merespon dengan senyuman, anggukan atau tawaan kecil saja. Sejenak Yongguk menghentikan langkahnya ketika melewati sebuah minimarket di pinggir jalan.
"Wae?" Himchan menyenggol Yongguk yang tampak memperhatikan sesuatu di minimarket tersebut.
"Ani. Ayo kita pulang." Yongguk mengalihkan pandangannya pada Himchan yang terlihat bingung.
"Ne." Himchan mengangguk namun matanya terus saja melihat kearah minimarket, mencari tau apa yang sempat menyita perhatian Yongguk.
::
"Kami pulang." Sapa Yongguk dan Himchan saat memasuki apartement.
"Kalian datang disaat yang tepat. Cepat cuci tangan dan duduk, umma membuatkan makanan khas Vietnam untuk makan malam."
"Aigoo, umma harusnya tidak perlu repot." Kata Himchan merasa tidak enak karena Mrs. Bang selalu melakukan pekerjaan rumah.
"Gwaenchana, sudah kewajiban umma mengurus suami dan anak. Cha, duduklah." Perintah Mrs. Bang pada Yongguk dan Himchan yang selesai mencuci tangan.
"Aromanya enak. Apa ini umma?" Himchan memperhatikan semangkuk mie kuah dengan irisan udang dan sayuran tersaji diatas meja.
"Namanya pho."
"Pho? Nama yang unik."
"Rasanya juga unik, karena ada rasa mint pada kuahnya kkk. Cobalah." Mrs. Bang mempersilakan.
"Ne, selamat makan." Kata Yongguk dan Himchan bersamaan, sementara Mr. dan Mrs. Bang mengangguk lalu mulai menyantap makanan berkuah tersebut.
"Uhmm, kuahnya gurih. Umma jjang." Puji Himchan sambil menunjukkan dua jempol pada ibu Yongguk.
"Istri siapa dulu hahaha." Tawa Mr. Bang.
"Umma, kau istri siapa?"
"Entahlah. Kkk." Mrs. Bang pura-pura tidak tau.
"Dasar kau ini." Mr. Bang mencubit pipi istrinya pelan sambil tertawa.
"Kalian mesra sekali." Himchan kagum melihat kedua orangtua Yongguk yang masih bisa mesra meskipun sedang sakit. Andai saja orangtuanya masih ada, pasti tidak kalah mesra dengan orangtua Yongguk.
"Hime, kau suka ini kan." Yongguk memberikan tauge dan daun selada yang ada didalam mangkuk pada Himchan
"Kenapa tidak kau makan eoh?" Mrs. Bang protes.
"Umma, kau lupa aku tidak begitu suka dua sayuran itu?"
"Oh jinja? Umma lupa. Mian, mau umma ambilkan yang baru?"
"Tidak perlu, umma makan saja." Yongguk mencegat Mrs. Bang yang hendak berdiri mengambilkan yang baru.
"Padahal itu bagus untuk kesuburan." Celetuk Mr. Bang tanpa malu.
"Kalau begitu, Himchan lebih subur dariku."
"Uhuk." Himchan yang sedang menghirup kuah kaldu mie pun mendadak tersedak mendengar perkataan ayah dan anak tersebut.
"Kau kenapa?" Tanya Yongguk sembari menepuk punggung Himchan.
"Bicaramu Bbang."
"Haha, aku bercanda." Yongguk tersenyum hingga memperlihatkan gummy miliknya.
"Ayah dan anak sama saja kkk. Oh ya, bagaimana dengan kuliah kalian?" Mrs. Bang mencoba mengalihkan topik selama mereka makan malam bersama.
-ooo-
"Empat kali." Kata Daehyun sambil memainkan psp milik Youngjae dan menyandarkan dirinya pada sofa.
"Kau kalah empat kali?" Youngjae yang baru keluar dari kamar mandi bingung dengan maksud perkataan Daehyun.
"Tidak. Aku sedang menghitung berapa kali kau keluar masuk kamar mandi." Jawab Daehyun dengan mata dan jari yang fokus pada permainan.
"Rajin sekali." Youngjae kembali duduk di meja belajarnya dan berkutat dengan contoh soal ujian yang dibagikan sekolah.
"Kau salah makan?"
Youngjae coba mengingat apa saja yang ia makan, "Semuanya biasa saja...apa karena aku terlalu banyak minum tadi?"
"Bisa jadi."
"Yasudah, akan aku kurangi - sebentar." Ditengah obrolannya, Youngjae harus kembali berlari ke kamar mandi.
"Lima kali..." Daehyun menggelengkan kepala heran melihat Youngjae.
"Haish, menyebalkan." Youngjae menggerutu kesal karena harus bolak balik ke kamar mandi. Ia langsung merebahkan dirinya di kasur.
"Tidur saja, siapa tau akan berhenti." Saran Daehyun yang mematikan psp lalu duduk disamping tubuh Youngjae.
"Kau tidak lihat tumpukan soal disana? Aku harus mengerjakannya."
"Tapi kalau begini kau juga akan terganggu, ujung-ujungnya tetap tidak selesai."
"Aku selesaikan dulu, baru tidur." Youngjae bersikeras.
"Ya sudah, kau memang tidak bisa dilarang."
"Kkk, kau harus sabar." Youngjae menepuk pundak Daehyun disertai sebuah kekehan.
"Memang." Jawab Daehyun pasrah.
"Bisa ambilkan soal-soal itu? Sepertinya lebih nyaman mengerjakan disini."
"Baiklah." Dengan gontai, Daehyun mengambil beberapa buku dan tumpukan kertas berisi soal dan materi yang akan dipelajari Youngjae.
"Gomawo." Ucap Youngjae yang sudah mengganti posisi jadi bertelungkup dan bersiap mengerjakan soal dengan tempat tidur sebagai alas belajarnya.
"Hanya terimakasih?" Daehyun ikut bertelungkup disamping Youngjae dan menatap kearahnya.
Seakan mengerti, Youngjae langsung mengecup bibir Daehyun beberapa kali sebagai ucapan terimakasih. "Kau puas?"
"Tentu." Balas Daehyun dengan sebuah cengiran.
Tanpa menghiraukan Daehyun, Youngjae pun mulai kembali mempelajari buku-buku disekelilingnya. Sesekali mulutnya berkomat-kamit untuk menghapal rumus-rumus dari soal yang ia kerjakan.
Berlainan dengan Youngjae, Daehyun justru sibuk memperhatikan Youngjae yang baginya menjadi hiburan tersendiri untuk menghilangkan kebosanannya. Sesekali ia juga mengambil foto Youngjae yang tengah serius secara diam-diam dengan ponsel ia dan Youngjae lalu menjadikannya wallpaper ponsel tersebut sebagai kejutan.
"Jangan main ponsel, lebih baik kau ikut belajar." Tegur Youngjae tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Ujian masih lama." Sahut Daehyun yang masih sibuk bermain dengan ponselnya.
"H-20 kau bilang masih lama? Astaga Jung Daehyun."
"Tenang, H-10 aku akan belajar."
"Aku tidak ingin mengajarimu kalau kau malas seperti ini."
"Aku bisa ikut bimbingan belajar kalau kau tidak mau."
Youngjae menghela napasnya, pasrah. Ia mengalihkan pandangannya dari buku menjadi kearah Daehyun. "Ayolah, kau mau peringkatmu yang sudah meningkat itu jadi percuma?"
"Tidak masalah, toh peringkatku tidak akan berpengaruh saat aku kuliah nanti. Asal ijazahku lah yang lebih berpengaruh." Balas Daehyun.
Youngjae mendadak diam, wajahnya yang serius kini berubah menjadi sendu ketika mendengar jawaban Daehyun. Ia menjadi merasa bersalah, seandainya ia yang pindah mungkin tidak akan jadi seperti ini.
'Argh, kenapa aku membahas itu didepannya.' Daehyun merutuki dirinya sendiri.
"Chagi, aku hanya bicara asal. Jangan diambil hati." Kata Daehyun gelagapan lalu mengusap punggung Youngjae untuk menenangkannya.
"Mianhae. Karena aku kau jadi.."
"Sst, tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau tidak salah, dan ini keputusanku. Kita sudah pernah membahas ini bukan?" Daehyun memiringkan tubuh Youngjae dan memeluknya hanya sekedar untuk menenangkan.
"Kalau kau yang mengalaminya, aku pasti akan lebih menyalahkan diriku sendiri. Jadi, jangan pernah menyesalinya. Arra?" Kata Daehyun selembut mungkin, takut akan membuat sifat sensitif Youngjae semakin menjadi.
"Bagaimana kalau aku pindah ke tempatmu juga? Aku tidak masalah jika gagal masuk universitas Seoul."
"Yak! Kau ingin membuat pengorbananku sia-sia?" Daehyun tidak terima dengan ide gila Youngjae tersebut.
"Aku juga ingin berkorban. Aku tidak mau merasa bersalah seperti ini terus."
"Kau lihat, apa wajahku terlihat sedih atau menderita?"
"Tidak." Jawab Youngjae setelah memperhatikan wajah Daehyun sekilas.
"Kalau begitu, jangan merasa bersalah lagi. Kau justru membuatku sedih kalau nekat berbuat seperti itu."
"Tapi..."
"Jung Youngjae, menurut saja pada suamimu." Daehyun langsung memotong kalimat penolakan Youngjae dengan sedikit teriak.
"Ck, suaramu mulai meninggi."
"Mian, aku tidak sengaja." Daehyun memelankan suaranya dan memeluk Youngjae erat.
"Maaf, tidak tau kenapa moodku lebih mudah berubah belakangan ini. Kau pasti lelah menghadapinya."
"Gwaenchana. Aku tidak akan lelah denganmu."
"Jinja?"
"Ne, chagiya." Daehyun menangkup wajah Youngjae lalu mencium bibirnya pelan.
"Sekarang kau ingin lanjut belajar atau tidur? Ku harap kau tidur saja, ini sudah larut malam." Saran Daehyun setelah melepas pagutan bibir mereka.
Youngjae melirik ke arah jam sekilas, "Ya sudah aku tidur saja." Lalu merapikan buku-buku yang berserakan ditempat tidur.
"Tumben kau menurut." Kata Daehyun yang ikut membantu Youngjae.
"Tadi kau bilang aku harus menurut."
"Oh ya, aku lupa."
"Wajar, dipikiranmu itu cuma ada makanan, baby." Ledek Youngjae sambil meletakkan buku yang sudah dibereskan ke lantai.
"Ada satu lagi." Ujar Daehyun sembari merebahkan tubuhnya.
"Apa?" Youngjae ikut merebahkan diri disamping Daehyun dan menarik selimut untuk menghangatkan mereka berdua.
"Kau, Jung Youngjae." Jawab Daehyun dengan senyuman yang menampilkan deretan gigi putihnya.
"Geotjimal." Youngjae menekan-nekan hidung Daehyun karena gemas makhluk satu ini terus bicara gombal.
"Eish, kau tidak percaya?" Daehyun menahan tangan Youngjae.
Youngjae menyipitkan matanya dan melihat wajah Daehyun sebentar, "Wajahmu meragukan."
"Huft. Gwaenchana. Kau memang tidak pernah percaya." Meskipun begitu, Daehyun tetap merapatkan tubuhnya pada Youngjae.
"Kkk, aku bercanda." Youngjae menahan tawanya karena ekspresi Daehyun yang terlihat pasrah. Ia mencium pipi Daehyun sekilas sebelum akhirnya memejamkan mata yang memang sudah lelah sejak tadi.
"Selamat malam." Ucap Daehyun pelan. Tangannya mulai mengusap rambut dan wajah Youngjae lembut seperti biasa.
"Love u." Balas Youngjae sebelum larut dalam tidurnya.
"Love u more." Sahut Daehyun yang juga mulai memejamkan matanya hingga keduanya kini terlelap dalam tidur masing-masing.
:::::
Alarm yang ada pada ponsel Daehyun berbunyi tepat pukul 5 pagi. Dengan terpaksa, Daehyun pun menjangkau ponsel yang diletakkan diatas nakas disampingnya untuk menghentikan suara deringan ponsel yang ia anggap berisik ditelinganya. Matanya terbuka sempurna ketika mendapati Youngjae tidak ada ditempat tidur. Ia melihat ke arah pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat serta lampu yang menyala didalam sana.
"Chagi, kau disana?" Perlahan Daehyun melangkahkan kakinya mendekat ke kamar mandi.
Tidak ada jawaban dari arah dalam, yang ada hanya lah sebuah keran yang dinyalakan cukup deras sehingga membuat Daehyun semakin penasaran untuk melihat apa yang terjadi.
"Oh kau sudah bangun." Kata Youngjae ketika Daehyun membuka pintu.
"Kau kenapa?" Tanya Daehyun pada Youngjae yang tengah membersihkan mulutnya.
"Perutku sakit dan rasanya ingin mual, baby. Karena itu aku jadi terbangun." Jawab Youngjae dengan wajah kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Astaga, kenapa kau tidak membangunkanku. Sekarang masih sakit?" Daehyun mendadak khawatir karena ekspresi Youngjae.
"Aku tidak tega membangunkanmu. Tidak tau kenapa aku ingin memuntahkan sesuatu, tapi saat ku lakukan tidak ada sama sekali yang keluar dari mulutku." Kata Youngjae seperti sedang mengeluh. Ia kembali mencoba memuntahkan isi perutnya namun tidak ada hasil.
"Ck, perutmu masih kosong. Apa yang bisa kau muntahkan." Daehyun segera memijat pundak Youngjae untuk membantunya.
"Aku juga heran." Youngjae kembali membersihkan mulutnya. "Perutku selalu bermasalah belakangan ini."
"Apa kita harus ke rumah sakit?"
"Shireo. Aku tidak suka dengan bau rumah sakit." Tolak Youngjae langsung.
"Arasseo, kalau begitu nanti akan ku belikan obat saja. Jangan menolak lagi."
"Iya."
"Bagus. Kau mandi saja, aku akan menyiapkan sarapan." Kata Daehyun sambil mengusap punggung Youngjae lembut.
"Andwae, aku saja." Youngjae menarik lengan Daehyun saat ia akan keluar dari kamar mandi.
"Disaat tidak ada umma, biar aku yang mengurusmu. Cha, kau mandi. Aku akan menyiapkan semuanya." Youngjae mengambil handuk yang tergantung di dinding kamar mandi dan menyerahkannya pada Daehyun lalu ia segera beranjak keluar untuk menyiapkan semua perlengkapan mereka dan juga sarapan.
"Baiklah, aku tidak akan melarangmu." Daehyun menuruti keinginan Youngjae karena ia tau kalau istrinya itu akan tetap bersikeras ketika ia dilarang. Setelah Youngjae pergi dari kamar mandi, ia pun bergegas mandi sebelum hari semakin siang.
-ooo-
"Selesai." Ucap Youngjae ketika piring terakhir berisi dua buah telur mata sapi sudah diletakkan diatas meja makan bersama roti, madu dan juga irisan buah apel dan pir yang sudah tersaji lebih dulu.
"Kita sarapan apa?" Suara Daehyun terdengar dari arah tangga. Ia sudah berpakaian seragam lengkap dengan dua buah tas ransel ditangannya.
"Lihat saja." Youngjae terlalu malas menjelaskan.
"Oh...roti lagi." Kata Daehyun tanpa sadar ketika melihat menu sarapan yang disiapkan Youngjae. Ia meletakkan ransel tersebut dikursi sampingnya dan memandangi makanan yang ada di meja makan.
"Wae? Kau tidak suka?" Tanya Youngjae karena melihat ekspresi bosan diwajah Daehyun.
"Ani, aniya. Aku suka. Gomawo." Ucap Daehyun tulus. Paling tidak ia harus menghargai usaha Youngjae untuk mengurusnya.
"Sungguh? Aku bisa membuatkan menu yang lain jika kau tidak suka."
"Tidak usah." Daehyun meyakinkan Youngjae.
"Oke, aku mandi dulu. Kau makan duluan saja."
"Aku ingin makan bersamamu."
"Baiklah, chankamanyo" Kata Youngjae dan bersiap pergi ke lantai atas untuk segera mandi, mengingat jam sudah menunjukkan pukul setengah 7.
"Chagiya." Panggil Daehyun sebelum Youngjae menaiki anak tangga.
"Ne?"
Daehyun menghampiri Youngjae dan segera mencium kilat bibir Youngjae tanpa permisi. "Kau belum memberiku ini." Lanjut Daehyun sambil terkekeh.
"Nappeun." Kata Youngjae sedikit tersipu karena tindakan Daehyun yang tiba-tiba. Ia kembali menaiki anak tangga tanpa memperdulikan Daehyun yang merasa puas menggodanya dipagi hari.
-ooo-
Di sebuah rumah sakit, Yongguk dan ayahnya duduk dengan tenang di depan sebuah ruangan untuk menunggu giliran yang memang pada saat itu banyak pasien berdatangan untuk melakukan check up.
'Hime, kau sudah pulang?' Sembari menunggu, Yongguk menyempatkan diri untuk menelepon Himchan. Sementara ayahnya hanya diam memperhatikan pasien, perawat dan juga dokter berlalu lalang dihadapannya.
'Oh, kau sedang ada pekerjaan. Baiklah, jaga dirimu.'
'Iya, appa masih menunggu giliran.'
'Kami sudah makan siang tadi. Kau juga.'
'Arrasseo, aku merindukanmu.' Yongguk mengakhiri sambungan teleponnya.
"Appa, apa aku harus menjemput umma kesini? Himchan sedang ada pekerjaan dan akan pulang setelah makan malam. Kita juga tidak tau akan pulang jam berapa." Kata Yongguk menjelaskan pada ayahnya.
"Tidak perlu, ibumu sudah biasa sendiri dirumah."
"Saat appa pergi ke lapangan, ibumu selalu menunggu sendiri dirumah dan dia selalu merasa cemas sebelum appa kembali. Kau tau bukan, daerah disana adalah salah satu daerah rawan dengan konflik." Lanjut Mr. Bang yang sedikit bercerita pada anaknya.
Yongguk mengangguk setuju, "Umma memang selalu seperti itu. Tidak pernah berubah. Untung saja dia tidak apa-apa saat sendirian disana."
"Tapi itu yang membuat appa menyayangi ibumu. Dia sangat perhatian pada keluarganya. Bahkan dia rela melepaskan impiannya sebagai wanita karir agar fokus mengurus kita."
"Appa..." Yongguk merasa ada maksud lain dari ucapan ayahnya kali ini.
"Jangan salah paham, appa tidak berniat menyinggung."
"Tapi terdengar seperti sedang menyinggung."
Mr. Bang menghela napas sebelum membalas Yongguk yang sudah merasa tersinggung, "Jujur saja, semenjak sakit appa mendadak memikirkan hal-hal yang terlalu jauh. Ibumu selalu merawat dan memprioritaskan appa. Tidak terbayang bagaimana appa jika dia tidak ada."
"Appa beruntung memilikinya." Balas Yongguk.
"Lebih beruntung lagi karena appa memiliki anak sepertimu yang sangat menyayangi dan selalu memperhatikan kami. Tapi kau..." Mr. Bang menggantung kalimatnya.
"Aku kenapa?" Yongguk penasaran dengan lanjutan kalimat ayahnya.
"Jika tidak ada kami, apa kau juga akan seperti ini?"
"Maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Jika Himchan sibuk dengan pekerjaannya, siapa yang akan mengurusmu?"
"Aku bisa mengurus diriku sendiri, appa. Lagipula, pekerjaan itu adalah impian Himchan. Aku tidak akan mempermasalahkannya." Jawab Yongguk mantap.
"Kau juga perlu seseorang yang fokus mengurusmu, Yongguk-ah. Seperti ibumu."
"Himchan sudah melakukannya."
"Membiarkanmu mengurus dirimu seorang diri. Sementara dia terus bekerja. Apa itu yang kau sebut dengan mengurus?"
"Appa, kau tidak mengerti." Yongguk tampak tidak setuju dengan perkataan ayahnya.
"Appa memang tidak mengerti, tapi appa mengkhawatirkan masa depanmu. Jika kami tidak ada, dan kau hanya tinggal bersamanya di masa tua. Apa ada yang merawat kalian nanti? Seperti kau merawat kami."
"Maksudmu tidak ada seorang anak yang akan merawatku nanti?" Yongguk seakan paham maksud ayahnya.
"Akhirnya kau mengerti."
"Appa, kau sudah tau bukan aku dan Himchan tidak mungkin memilikinya."
"Menurutmu apa yang harus kau lakukan agar bisa memilikinya?"
Yongguk terdiam sejenak mendengar pertanyaan Mr. Bang, "Kupikir appa sudah benar-benar merestui kami."
"Yongguk-ah, appa tau Himchan sangat baik tapi kau harus kembali memikirkan masa depanmu lebih jauh. Appa pikir sebaiknya hubungan kalian cukup sebagai saudara saja, tidak lebih. Dan kau bisa hidup bahagia seperti appa dan umma, tentunya dengan gadis lain."
'Jder.' Bagai mendapat sambaran petir ditubuhnya, Yongguk tidak bisa membalas perkataan ayahnya yang seakan menyuruhnya untuk menghentikan hubungan mereka. Bagaimana mungkin ayahnya yang sudah menyetujui hubungan ia dan Himchan kembali berubah pikiran. Apa salah mereka hingga ayahnya tega seperti itu. Yongguk memilih diam dan tidak menanggapi ayahnya hingga sebuah panggilan dari seorang suster memanggil nama ayahnya untuk masuk ke dalam ruangan dan melakukan pengecekan kesehatan.
"Kajja." Yongguk mempersilakan ayahnya yang masih bisa tegap berjalan untuk pergi lebih dulu sementara dia mengikutinya dibelakang menuju ruangan.
Yongguk terus memikirkan perkataan ayahnya yang memang ada benarnya, disaat ia dan Himchan hanya hidup berdua saat tua nanti, dan ia pergi lebih dulu. Siapa yang akan menjaga Himchan. Ia tidak ingin Himchan kembali hidup sebatang kara jika ia tidak ada tanpa ada yang mengurusnya. Dan Yongguk mengerti maksud ayahnya adalah demi kebaikan ia dan Himchan, tapi itu adalah hal mustahil bagi mereka untuk berpisah dan menjalani kehidupan bersama orang lain hanya karena seorang keturunan, seperti yang diinginkan oleh ayahnya. Yongguk menghela napasnya berat, mendadak ia merasa iri pada Daehyun dan Youngjae yang mendapat dukungan penuh oleh keluarganya. Tidak seperti dia, yang dengan susah payah membujuk ayahnya beberapa tahun lalu hanya untuk mendapat ijin bersama Himchan. Dan lihatlah sekarang, seiring berjalannya waktu dan keadaan, keputusan ayahnya mulai goyah kembali karena efek pemikirannya yang terlalu jauh. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini agar ayahnya kembali yakin dengan hubungannya dan Himchan.
:::::
TBC.
Kepanjangan ya...
Maaf atas kekurangannya ya, baik alur yang datar atau kesalahan dalam penulisannya. Masih dalam tahap belajar Semoga suka, dan Thanks for reading ^^
