"Kapan hyung akan pulang ke rumah? Ini sudah seminggu" Jimin memainkan jarinya di kepala Yoongi yang tidur telungkup di sofa sedang bermain game di ponselnya.

"Nanti" jawab Yoongi sekenanya.

Jimin menegakkan tubuhnya yang sejak tadi terbaring diatas punggung Yoongi, menduduki pinggang Yoongi dan tangannya berada di bahu Yoongi. "Jiminie tidak mau lagi disuruh oleh Yoongi hyung untuk mengambil baju ke rumah Yoongi hyung" ungkap Jimin.

Sejak Yoongi mengetahui hubungan Seokjin dan Namjoon, Yoongi memang tidak pernah kerumah, hanya Jimin yang ke rumahnya untuk mengambil pakaian Yoongi.

"Gwenchana" jawab Yoongi santai.

"Hyyunngg~" Jimin menjatuhkan tubuhnya lagi, tangannya memeluk leher Yoongi dan kepalanya bersandar diatas kepala Yoongi. "Mau sampai kapan perang dingin seperti ini?"

"Tidak ada yang perang dingin, Love. Aku banyak pekerjaan di studio jadi tidak bisa pulang" jawab Yoongi masih tetap focus pada game di ponselnya

"Buktinya hari ini Yoongi hyung hanya bermain game, kenapa tidak pulang?" Jimin memajukan kepala, bersandar di bahu Yoongi, tangannya ikut aktif memencet layar Yoongi hingga Yoongi mendengus, permainannya di ganggu.

"Jim, kau mengganggu" Yoongi menyingkirkan pelan tangan Jimin dari layar ponselnya dan melirik kesamping, hidungnya bertabrakan langsung dengan pipi Jimin yang meluber.

"Ayo pulang" Jimin merengek, ikut melihat kearah Yoongi dan memberikan kecupan di hidung Yoongi.

"Nanti" jawab Yoongi dan kembali sibuk dengan ponselnya.

"Kemarin saat aku ke rumah mengambil pakaian Yoongi hyung, aku bertemu Yoonji, hyung" cerita Jimin. "Dia mencarimu"

Yoongi terdiam. Sudah seminggu dia tidak bertemu adiknya. Saat dia mengunjungi rumah papa-nya, Yoonji ternyata sudah pulang di jemput Appa-nya, karena minggu ini, giliran Seokjin yang menjaga Yoonji.

"Apa kata Yoonji?"

"Yoonji ingin menunjukan hasil prakarya barunya pada Yoongi hyung, oleh-oleh dari Jepang, hasil buatan tangan Yoonji sendiri" jelas Jimin.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Itu Namjoon hyung, kan, Taetae hyung?" Jungkook menarik tangan Taehyung hingga berhenti berjalan.

Hari ini Jungkook dibawa Taehyung ke kampus karena ada urusan mendadak yang tidak membutuhkan waktu lama. Mata Jungkook yang bak lensa kamera paparazzi itu berhasil menangkap sosok Namjoon yang tengah berjalan di lorong menuju kantin, sendirian.

Namjoon terlihat lusuh. Rambutnya tidak ditata rapi, seperti hanya di rapikan dengan tangan, wajahnya terlihat datar dengan bahu yang melorot, dan pandangan mata yang kosong, terlihat jelas kalau Namjoon sedang banyak pikiran sekarang.

Jungkook jelas sudah tau apa yang terjadi, Jimin yang bercerita karena Jimin tidak tahu harus bagaimana mengambil sikap terhadap permasalah Yoongi. Seperti yang Jimin tau, Jungkook lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak jika dibanding dengan dirinya.

"Seperti habis putus cinta saja" Taehyung terkekeh dan matanya tetap mengikuti kemana Namjoon pergi.

"Hyung, temui teman-teman hyung dulu, ya? aku bersama Namjoon hyung saja. Tidak apa, kan?" pamit Jungkook tanpa menanggapi ocehan Taehyung.

"Yakin tidak ingin ikut aku saja?" Tanya Taehyung memastikan.

"Ne, kalian kan ada urusan proyek seni yang tidak aku pahami, jadi, aku mengganggu Namjoon hyung saja" Jungkook terkekeh untuk menutupi fakta yang Taehyung tidak tahu.

"Oh, ya sudah kalau begitu. Ingat, jangan membuat Namjoon hyung kesal, sepertinya moodnya sedang buruk" Taehyung memperingatkan.

"Siap, kapten!" ucap Jungkook senang.

"Ya sudah, sana" Taehyung mencium kepala Jungkook dan matanya menatap Jungkook sampai anak kelinci itu sampai di depan Namjoon.

"Namjoon hyung!" Jungkook melambaikan tangannya antusias dan berhenti berlari ketika dia benar-benar sudah berada di depan Namjoon.

"Kookie? Mana Taehyung?" Namjoon melirik kearah belakang Jungkook, saat mendapati Taehyung melambai kearahnya Namjoon ikut mengangkat tangannya.

"Hyung, titip ya!" teriak taehyung dari jauh, Namjoon hanya mengangkat jempolnya, pertanda dia setuju.

Jungkook berbalik ke belakang dan tersenyum sambil melihat Taehyung yang sudah berlalu menuju tangga. "aku rasa kita perlu bicara, hyung" Jungkook tersenyum kecil.

"Benar, aku memang butuh teman bicara sekarang" Namjoon mengajak Jungkook ke kantin, banyak yang melirik kearah Jungkook karena merasa asing dengan wajah yang satu itu disana.

"Abaikan saja, mereka memang tidak bisa melihat barang bagus sedikit" ucap Namjoon sambil meletakan minuman yang sengaja dibelikannya untuk Jungkook. Namjoon memilih duduk disudut kantin karena bagian sudut itu jarang di lewati dan kemungkinan pembicaraan mereka akan di dengar, sedikit sekali.

"Hehhehe, aku tidak apa, hyung. Jadi, apa kabar?" Tanya Jungkook.

"Rindu" jawab Namjoon.

Semenjak kejadian itu, Namjoon sudah mencoba menghubungi Seokjin tapi tidak ada satupun pesan atu telepon Namjoon yang digubris, hal terakhir yang Namjoon dapatkan adalah nomor Seokjin yang sudah tidak aktif lagi.

"Seokjin ahjussi baik-baik saja" Jungkook tersenyum kecil.

"Apa dia makan dengan baik?" Tanya Namjoon lagi, matanya menatap kosong pada minuman dingin didepan mereka.

"Tentu" jawab Jungkook seolah memberi kepastian. "Kau kelihatan kacau, hyung" komentar Jungkook.

Namjoon mendengus dan tertawa. "Kau orang yang kesekian yang mengatakan itu"

"Sayang sekali kalau begitu" Jungkook mencoba bercanda.

"Bagaimana hubungan Seokjin dengan Yoongi hyung? " Tanya Namjoon. Soal Yoongi, Namjoon sudah pernah menghubunginya untuk diajak bicara, tapi sama seperti Seokjin, lagi-lagi Namjoon di abaikan.

"Yoongi hyung tidak pulang selama seminggu" Jungkook berucap jujur.

"Yeah, Jimin juga berkata begitu" Namjoon mendengus, terlihat sekali kalau Namjoon putus asa. "Yoonji apa kabar?"

"Baik. Dia juga menanyakanmu, hyung, kenapa tidak pernah menjemputnya bersama Seokjin Ahjussi lagi"

"Biasanya aku membelikan dia jajanan dan minuman susu dingin setiap kali kami menjemputnya dari rumah mu" kenang Namjoon.

Jungkook terdiam. Ada kesedihan yang Jungkook tangkap dari senyum Namjoon yang terukir tipis saat mengingat Yoonji, entah kenapa Jungkook merasa iba.

"Seokjin… dia benar-benar baik-baik saja, kan?" Tanya Namjoon sambil menatap lurus pada Jungkook.

Jungkook menghela napas, percuma mengatakan Seokjin baik-baik saja, toh pada kenyataanya Seokjin sama kacaunya dengan Namjoon. "Kalian sama kacaunya, hyung. Katakan aku kurang ajar, tapi aku menguping pembicaraan Mama dan Seokjin Ahjussi di taman belakang"

Namjoon membesarkan bola matanya, pertanda dia tertarik dan menunggu Jungkook untuk bicara.

"Seokjin Ahjussi menangis hebat kemarin saat menjemput Yoonji. Yoonji kembali dititip soalnya Min Ahjussi sedang ada pengangkatan di perusahaannya, mulai sekarang, Min Ahjussi sudah tidak berlayar lagi. Dia hanya akan bekerja di kantor" mulai Jungkook.

"Kenapa Seokjin menangis?" Tanya Namjoon khawatir.

"Dari hasil aku mencuri dengar, ada nama Yoongi hyung di bawa-bawa, soal Yoongi hyung yang tidak mau ditemui dan hanya menyuruh Jimin untuk mengambil pakaian ganti di rumah dan tentu saja… tentang kalian hyung"

"Bukannya sebaiknya kalian menyerah saja, hyung? Dengar, bukannya aku bermaksud ada di pihak Yoongi hyung yang menentang kalian, tapi, hubungan yang kalian jalani… tidak sehat" ucap Jungkook takut-takut. "Kalian hanya akan saling menyakiti jika terus memaksa bersama, hyung. Ada baiknya kalian berhenti berharap dan mulai lagi dengan yang lain. Kau dengan yang lain, Seokjin ahjussi dengan yang juga" ucap Jungkook.

"Andai bisa segampang itu" ucap Namjoon. "Hanya membayangkan Seokjin bersama orang lain saja rasanya aku ingin marah sekali dengan orang itu. "

"Hyung, aku juga tidak yakin kalau orangtuamu akan setuju dengan Seokjin ahjussi… kalian…"

"Umur kami? Status Seokjin?" Tanya Namjoon sengit.

Jungkook terkesiap. Dia tidak bermaksud membuat Namjoon tersinggung, tapi memang beginilah Jungkook dengan segala kejujuran tanpa filter pada bibirnya.

"Maaf hyung, aku tidak bermaksud" ucap Jungkook tak enak hati.

"Memangnya salah? Apa tidak bisa di buat sederhana saja? Memangnya tidak bisa orang-orang memandang kami hanya sebagai pasangan tanpa harus meributkan status dan umur kami?" Namjoon nyaris meledak. Kepala Namjoon sudah panas memikirkan hal ini, sudah seminggu lebih hal ini berputar setiap detik di kepalanya.

"Hyung, maaf…" cicit Jungkook takut.

"Maafkan aku, Kookie. Aku hanya merasa sangat tertekan akhir-akhir ini. Tidak ada yang bisa ku ajak bicara dan bisa paham dengan apa yang ada di kepalaku sekarang" Namjoon menunduk pasrah.

"Aku mengerti, hyung…"

"Seokjin bahkan mengganti nomor ponselnya, aku hanya ingin mendengar suaranya saja, Kookie, tidak lebih. Jika dia memang ingin berhenti, aku bisa paham. Bagaimana pun, Yoongi hyung itu anaknya, tapi apa aku tidak boleh berhubungan sama sekali? Aku tidak minta macam-macam, aku hanya ingin mendengar suaranya dan memastikan dia baik-baik saja." Namjoon meracau, membuat Jungkook merasa sedih.

"Aku minta maaf karena tidak bisa membantumu, hyung" sesal Jungkook.

"Aku harusnya berterima kasih karena kau mau mendengarkanku"

Jungkook membolakan matanya saat dia menatap kearah jendela kearah lorong, Yoongi sedang berjalan kearah kantin. Jimin terlihat sedang menempel dengan memeluk tangan Yoongi ke tubuhnya, seperti sedang bermanja tapi di tempat yang kurang tepat. Jungkook mencibir. Iri sebenarnya, Jimin dan Yoongi terlihat semakin mesra sejak bertunangan.

Jungkook buru-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi Jimin agar membawaa Yoongi ketempat lain, tapi dasar sial, Jimin hanya menatap layar ponselnya dan dengan sengaja me-reject panggilannya dan terkekeh.

"Jimin boooddohhh" geram Jungkook panic.

"Kau bicara sesuatu, Kook?" Namjoon melirik Jungkook yang terlihat gelisah.

"Huh? Tidak hyung, hanya…."

Terlambat. Namjoon sudah melihat ada Yoongi yang sedang berjalan menuju kantin. Namjoon seketika berdiri, berniat menemui Yoongi. Jungkook jelas tidak tinggal diam, tangannya menangkap tangan Namjoon yang sudah bersiap pergi dari hadapannya dengan cepat.

"Hyung, jangan…" ucap Jungkook panic. Jungkook ikut terseret langkah karena tangannya yang memegang tangan Namjoon.

Sampai diluar kantin, Jimin lebih dulu melihat Jungkook dan Namjoon, buru-buru Jimin mengalihkan pandangan Yoongi dengan berdiri di depan Yoongi dan menangkup pipi namja pucat itu. Persetan dengan mata-mata yang menatap syok pada Jimin dan Yoongi sekarang. Yang Jimin tau, dia harus menjauhkan Yoongi dari Namjoon.

"Uh.. Yoongi hyung, Jiminie tertinggal sesuatu di mobil" ucap Jimin gugup, tangannya tetap memegang wajah Yoongi yang menatap bingung padanya.

"Jim, lepaskan wajahku, ini di kampus" ucap Yoongi pelan. Tangannya bergerak untuk melepaskan tangan Jimin dari pipinya, tapi Jimin berkeras tidak ingin lepas.

"Yoongi hyung!" Namjoon memangil dengan keras dari depan kantin.

Jimin membeku, begitupun dengan Jungkook.

"Lepas, Jimin." Ucap Yoongi penuh peringatan saat matanya bertemu dengan Namjoon yang berjalan kearahnya.

Jimin melepaskan tangannya dari pipi Yoongi, dengan takut-takut Jimin berdiri didepan Yoongi yang berdiri tenang menatap tajam pada Namjoon yang sudah dekat dengannya.

"Kita harus bicara" ucap Namjoon, Jungkook terlihat berdiri takut dibelakang Namjoon.

"Ke parkiran" Yoongi berucap dingin dan berjalan lebih dulu, meninggalkan Jimin di lorong.

"Hyung! Yoongi hyung!" panggil Jimin. Jimin melirik kearah Namjoon dan Yoongi bergantian. Dia berniat menahan Namjoon agar tidak menyusul Yoongi, tapi dia juga harus menyusul Yoongi. Jungkook sudah terlihat pasrah dibelakang Namjoon.

"Aish!" geram Jimin dan berlari mengejar Yoongi yang sudah berjalan ke parkiran.

"Jauhi Appa-ku" ucap Yoongi tanpa basa-basi begitu mereka sampai di parkiran yang cukup sepi.

"Sedang ku lakukan, tapi tolong beri aku alasan kenapa aku tidak boleh punya hubungan dengan dokter Seokjin?" Tanya Namjoon tenang.

"Alasan?" Yoongi mendegus dan tertawa. Kepalanya menggeleng tak percaya mendengar pertanyaan Namjoon. "Kau lupa dia Appa-ku?"

"Tidak. Dari awalpun aku sangat sadar kalau dokter Seokjin itu Appa-mu. Lalu?"

Yoongi terlihat geram dan Jimin dengan sigap menahan Yoongi dengan menggengam tangan Yoongi. "Aku rasa kau tidak benar-benar jenius" ejek Yoongi.

"Tidak ada hubungan IQ-ku dengan apa yang kita bahas sekarang, hyung" Namjoon putus asa, Yoongi terlihat belum bisa diajak bicara baik-baik. "Hanya, beri aku alasan jelas kenapa aku tidak boleh berhubungan dengan Appa-mu. Apa yang salah? Karena umur kami? Karena dia Appa-mu? Apa kalau aku bukan temanmu, kau juga akan berlaku seperti ini padaku ataupun pada pacar dokter Seokjin yang lain, kau juga akan begini?" Namjoon mulai meracau lagi.

Jimin lengah. Yoongi melepas tangannya dan menghadiahi Namjoon sebuah pukulun telak di tulang pipinya. Jungkook dan Jimin buru-buru memisahkan. Jimin menarik Yoongi dan Jungkook menarik Namjoon yang tersungkur dilantai.

"Hyung… jangan!" ucap Jimin gemetar, mendorong badan Yoongi untuk menjauh dari Namjoon.

Melihat tubuh Jimin yang bergetar, Yoongi benar-benar merasa bersalah. Tangan pucatnya bergerak pe punggung Jimin dan memeluk Jimin merapat ke badannya.

"Hyung, kau harus tenang" pinta Jimin gemetar.

"Aku tidak mendapatkan jawaban dari pukulanmu, hyung!. Pukulanmu tidak menjelaskan apapun!" teriak Namjoon.

"Namjoon hyung, sudah…" Jungkook mendorong Namjoon menjauh. Dia ketakutan sebenarnya, tapi meninggalkan Jimin sendiri diantara Namjoon dan Yoongi juga bukan keputusan bijak.

"Jauhi Appa-ku" putus Yoongi dan membawa Jimin pergi dari sana.

.

.

.

Jimin terus memeluk Yoongi begitu mereka sampai di studio, bibirnya terus mengecupi kepala Yoongi dan tangannya bergerak mengelus surai hitam milik Yoongi. Sejak dari kampus, tidak ada satu katapun yang Yoongi ucapkan, bahkan saat Jimin memeluknya dan mengucapkan kata-kata penenang, Yoongi tetap diam dan terus menyembunyikan wajahnya di perut Jimin yang sejak tadi memeluknya sambil berdiri.

"Yoongi hyung harus lebih tenang dalam bersikap, jangan asal pukul, aku tidak ingin Yoongi hyung luka" guman Jimin.

"Hyung, masalah ini tidak akan selesai begitu saja. Kalian harus bicara. Dengarkan dari sisi Kim Appa dan Namjoon hyung. Mereka pasti punya alasan, jangan jadi seperti ini, Yoongi hyung. Kasihani Kim Appa." Ucap Jimin pelan tangannya tetap mengelus rambut Yoongi tanpa henti.

"Kalau hyung tetap diam, aku akan pulang saja!" Jimin mengeluarkan jurus terakhirnya.

"Jangan pergi" pinta Yoongi dan mengeratkan pelukannya pada Jimin.

"Kalau begitu ayo kita bicara dengan Kim Appa, hyung. Hyung harus pulang. Bukannya aku tidak ingin mengurus Yoongi hyung selama disini, aku senang karena aku seperti memiliki rumah lain yang bisa aku singgahi untuk bertemu dengan Yoongi hyung. Tapi, studio tetap studio hyung. Ini bukan rumah. Kita harus pulang" ucap Jimin bersabar.

"Temani aku bertemu Appa" pinta Yoongi.

"Bukannya aku selalu disini untukmu, hyung?" Jimin tersenyum sedih. Suara Yoongi yang terdengar lemah itu membuat perasaan Jimin seolah tercubit.

.

.

.

"Yoongi-ya? Jiminie?" Seokjin sedih bercampur senang saat melihat Yoongi dan Jimin muncul di rumah.

"Aku pulang" guman Yoongi dan menarik Jimin menuju ruang tamu.

"Yoongi opppaaa…." Yoonji berlari meninggalkan mainan miliknya hanya untuk memeluk Yoongi yang sudah seminggu tidak dia jumpai.

"Kau sudah makan? Oppa membelikanmu kue kesukaanmu" Yoogi bergerak menggendong adiknya.

"Sudah tadi. Jadi, Yoonji boleh makan kue kan? Apa itu yang ditangan Jiminie oppa?" Tanya Yoonji semangat.

"Ne, ini kue untuk Yoonji" jawab Jimin sambil mengangkat bungkusan ditangannya. "Ayo bantu Oppa menyiapkannya" ajak Jimin.

Yoonji turun dari gendongan Yoongi dan menggengam tangan Jimin menuju dapur.

"Jiminie…" ucap Seokjin.

"Biar aku dan Yoonji saja yang menyiapkannya, Appa" Jimin tersenyum lembut dan berlalu bersama Yoonji menuju dapur.

"Yoongi…" panggil Seokjin pelan.

"Appa, aku minta maaf" sesal Yoongi.

Seokjin menangis. Perasaan sedih yang dirasakannya seminggu ini seolah luntur saat mendengar Yoongi minta maaf.

Yoongi berjalan kearah Seokjin dan memeluk Appa-nya lembut. Yoongi terkekeh saat mendengar tangis sesenggukan Seokjin dalam pelukannya.

"Maaf, Appa. Jangan menangis lagi. Maaf aku keterlaluan…" sesal Yoongi.

"Appa… Appa.. huks… pikir..kau.. huks tidak akan… tidak akan huks pulang lagi…" tangis Seokjin makin menjadi.

"Mana mungkin aku tidak pulang ke rumah" Yoongi terkekeh dan mengelus bahu Seokjin. "Sudah, jangan menangis lagi. Appa masak apa untuk nanti malam?"

"Appa tidak punya bahan … huks apapun di kulkass…" Seokjin berucap sambil menangis.

Yoongi menggaruk kepalanya saat melihat Jimin melotot kesal padanya. Yoongi memang sangat buruk dalam menangani orang menangis. Bisa-bisanya disaat seperti ini bertanya soal makanan, bukannya di tenangkan lebih dulu.

"Ya sudah, nanti aku akan pesan makanan untuk makan malam kita" putus yoongi, lagi-lagi Jimin melotot kesal padanya dan menutup wajahnya dengan tangan. Benar-benar Min Yoongi ini.

"Kau sudah tidak marah pada Appa?" Tanya Seokjin ditengah tangisnya yang belum reda.

"Aku marah, tapi aku tidak bisa marah lama-lama pada Appa"

"Maaf…" guman Seokjin.

"Appa, sudahlah. Aku sudah minta maaf. Appa jangan ikut-ikutan minta maaf juga. Orangtua dan anak bertengkar itu kan biasa" ucap Yoongi. "Ayo duduk, aku pergal berdiri terus"

Saat makan malam, Yoongi duduk disamping Yoonji yang sedang sibuk bercerita tentang pengalamannya pergi ke kolam berenang dari sekolah, sementara Seokjin dan Jimin hanya tersenyum hangat dan sesekali ikut dalam pembicaraan diantara Yoongi dan yoonji.

Jimin melirik pada Seokjin. Tanpa sepengetahuan Yoongi, Jimin sudah sering berkirim pesan dengan Seokjin. Hampir tiap hari Jimin mengambil foto Yoongi dan mengirimkannya untuk Seokjin, agar Seokjin yakin anaknya baik-baik saja. Dan malam ini, Jimin ingin semuanya beres. Seokjin harus mennyinggung hubungannya dengan Namjoon. Mau tidak mau, suka tidak suka.

"Yoongi…" panggil Seokjin pelan.

"Ne?" Yoongi menatap lurus pada Seokjin yang duduk tepat di depannya.

Seokjin melirik pada Jimin sebelum bicara dan mendapat tatapan bingung dari Yoongi.

"Soal Namjoon…" mulai Seokjin.

"Aku tidak ingin membahasnya, Appa." Yoongi berucap tegas.

Seokjin terdiam, begitu juga dengan Jimin.

.

.

.

"Appa sudah pergi?" Tanya Yoongi saat melihat Jimin muncul di depan pintu kamarnya.

"Sudah. Kata Min Appa nanti tolong jemput Kim Appa di toko buku atau di rumah Min Appa, hyung. Min Appa tidak bisa mengantar pulang kerumah, soalnya takut kemalaman, yoonji harus mengerjakan PR-nya" ucap Jimin.

Malam ini Yoonji berkeras agar Seokjin ikut menemaninya membeli pensil dan cat kuas di toko buku. Yoongi yakin ini gara-gara Yoonji mendengar cerita temannya yang pergi bersama kedua orangtuanya jalan-jalan. Yoonji pasti ingin begitu juga, tidak heran dia memaksa Seokjin untuk ikut.

"Oh, ya sudah. Ayo ku antar pulang. Sudah malam" ucap yoongi sambil menyambar kunci mobilnya.

"Hyung" Jimin menarik tangan Yoongi, membuat namja pucat itu berhenti berjalan.

"Ne?"

"Aku senang hyung sudah berbaikan dengan Kim Appa, tapi soal Namjo…"

Ucapan Jimin terhenti saat Yoongi mencium bibir. "Hyunggh…" Jimin melenguh saat Yoongi memasukan lidahnya kedalm mulut Jimin tanpa aba-aba. Tangannya bergerak meremas bahu Yoongi. Jimin tau, Yoongi tidak ingin membahas ini.

"Ayo pulang" ucap Yoongi sambil tersenyum dan menyentuhkan jarinya pada bibir bawah Jimin yang memerah basah.

Tanpa Yoongi duga, Jimin menahan tangan Yoongi tetap dekat dengan bibirnya. Yoongi mengernyit dan di detik berikutnya nafas Yoongi seolah tercekat. Jimin mengulum jari telunjuk dan jari tengah Yoongi.

Yoongi tidak bisa bohong, sesuatu diantara kakinya juga tidak bisa berbohong, apa yang Jimin lakukan saat ini sangat… eum…

"Shit!" Yoongi mengumpat dalam hati saat Jimin memainkan lidahnya dijari Yoongi. Mata Jimin yang tertunduk sayu membuat akal sehat Yoongi pergi meninggalkan pemiliknya. Yoongi mendorong Jimin ke tempat tidur dan Yoongi sangat terkejut saat Jimin merayap seperti ular ditempat tidurnya, oke, Jimin sangat menggoda, Yoongi tidak pernah tau Jimin bisa senakal ini.

"Yoongi hyung…" panggil Jimin mendayu.

Yoongi mengerjabkan matanya. Pandangannya menajam kearah bibir Jimin yang terbuka, bibir tebal itu terlihat basah dan Yoongi tidak bisa menahan lebih lama lagi, Yoongi menunduk dan mengukung Jimin diantara tangannya.

"Hyung, kita sudah lama…." Belum sempat Jimin menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah dibungkam oleh Yoongi. Yoongi mencium Jimin, mengulum bibir Jimin atas dan bawah dan bermain-main dengan lidah Jimin. Tangan nakal Yoongi sudah bergerak liar didalam baju Jimin, meraba keperut dan bermain di dada Jimin.

Yoongi benar-benar akan lepas kendali, sampai Jimin dengan tega menahan tangan Yoongi yang bergerak didalam bajunya, melepaskan perlahan ciuman panas mereka dan tersenyum menggoda.

"Hyung, Jiminie harus pulang…" Jimin tersenyum manis dan mendudukan diri di ranjang.

"Love?" Yoongi membolakan matanya frustasi, yang benar saja.

"Bagaimana, ya. Jiminie ingin sekali melayani Yoongi hyung, tapi Jiminie harus pulang. Yoongi hyung juga harus menjemput Kim Appa. Waktunya benar-benar tidak pas, ya?" Jimin merapikan baju dan rambutnya, kemudian mengecup bibir Yoongi yang terlihat akan protes. Jimin terkekh saat melihat ada yang bangun diantara kaki Yoongi.

"Jim, tapi…"

"Nanti, ya. tenang saja, Jiminie tidak kemana-mana. Nanti yoongi hyung dapat jatah kalau masalah dengan Namjoon hyung sudah beres. Ayo antar Jiminie pulang hyung" Jimin berdiri melewati Yoongi yang masih berdiri menghadap ranjang dengan tatapan kosong.

"Yeobo, mau mengantarkan Jiminie pulang tidak?" Jimin tertawa kecil saat melihat yoongi yang masih saja diam ditempatnya.

"Kau sedang menghukumku, huh?"

"Aigoo… mana mungkin Jiminie berani menghukum calon suami Jiminie sendiri. Waktunya saja yang tidak tepat hyung…" Jimin berjalan kearah yoongi lagi dan mengalungkan tangannya di leher Yoongi. "Jadi, bisa antarkan Jiminie pulang sekarang?" Jimin tersenyum lebar melihat wajah frustasi Yoongi.

.

.

.

Dalam perjalanan pulang, Jimin diam-diam mengambil foto Yoongi yang sedang fokus menyetir. Setelah mendapatkan fotonya, Jimin langsung mengupload foto Yoongi di social media miliknya dan memberi caption sambil tertawa kecil.

'Someone is mad at me' Jimin menulis itu untuk caption foto Yoongi. Dan untuk pertama kalinya Jimin menandai nama Yoongi di foto-nya. Selama ini Jimin memang sengaja tidak ingin memberi tanda pada foto Yoongi di akunnya, bukannya apa-apa, Jimin hanya takut ada followersnya yang tertarik pada Yoongi, apalagi kalau tau Yoongi itu produser!. Tapi rasanya ketakutan Jimin bisa sedikit disingkirkan, toh dia sudah bertunangan. Statusnya sudah naik pangkat. Jimin bisa melabrak siapa saja yang berani genit pada calon suaminya.

.

.

.

Ditempat lain, seseorang sedang menatapi foto Yoongi sambil tersenyum kecil. Menyimpan foto Yoongi yang baru saja Jimin upload di ponselnya dan membuat foto Yoongi sebagai wallpaper ponselnya.

"Masih?" Seungwoon menaikan alisnya tak percaya melihat tingkah temannya, Daniel.

"Bukannya dia semakin menarik?" Daniel terkekeh.

"Mau sampai kapan kau jadi fans nomer satunya, huh? Yoongi itu sudah ada yang punya"

"Melihat wajahnya saja aku sudah bahagia" Daniel terkekeh dan membuat Seungwoon memutar bola matanya kemudian berlalu menuju meja lain dimana teman-temannya sedang berkerumun bermain game.

"Kenapa kau malah semakin menarik?" Daniel berbicara pada ponselnya yang menampilkan foto Yoongi. "Aku bisa gila kalau begini" Daniel menggaruk pipinya dan tersenyum kecil.

Tidak peduli berapa kali Yoongi mengabaikan-nya, sepertinya dia tetap punya rasa untuk Yoongi.

.

.

.

TBC

Kalo ada Typo monmaap yes kakak yorobun. Ngetiknya ngegas, ga pake baca ulang lagi.