Authors Note:
Fujoshi desu xD , ZERLIN thank you for your kind review :D
dealovha aku juga kurang tau kenapar reviewmu gak bisa masuk T_T, tapi PM saja, saya pasti baca kok :D
Senang sekali kamu mau nyempetin waktu untuk review ;D
kaine812: seminggu…. Kadang aku apdetnya cuman sabtu, minggu, tapi kadang ada hari-hari spesial di mana aku bisa apdet di hari biasa ;D, dan kali ini berhubung lagi liburan taon baru, semoga bisa apdet sedikit lebih cepat ,,
Dan soal requestmu…. Sudah saya tampung dulu di request list ;D sebenernya abis ini berencana pindah genre anime dulu dan… banyak rencana, tapi anyway, saya coba tamatin dulu si Obsession supaya satu projectnya kelar XD
hara : wah, sampai sempet hiatus ya…kamu juga Ganbatte ya, siapa tau ada rasa-rasa pengen lanjutin gitu, dan tiba-tiba buat ff lagi, nah pas itu tell me yahhh ;D
And for all of you: thank you for reading this fanfic. I hope you also enjoy this chapter ; )
.
.
.
Aldnoah Zero not mine
Obsession by cyancosmic
Warning : AU, OOC, Typos, Gender Bender, Fem!Slaine
.
.
.
Enjoy !
Chapter 25:The impossible
Seorang pemuda diterangi cahaya lampu meja tengah memotong dengan hati-hati sebuah foto yang ia letakkan di atas meja. Ia menggunakan cutter dan mengukir garis agar mendapatkan hasil yang pas dan mendapatkan hasil yang ia inginkan. Begitu teliti, begitu cermat ia menggerakkan jemarinya, hingga ia memperoleh foto seorang gadis berambut perak yang tak sadar bahwa dirinya tengah diabadikan dalam kamera.
Ia pun mengangkat potongan gambar yang dihasilkannya dan tersenyum saat melihat hasilnya. Setelah puas mengaguminya, ia memisahkan gambar tersebut dan menempelkannya di salah satu dinding yang sudah penuh dengan gambar sosok yang sama. Walaupun takkan ada banyak bedanya, lelaki itu kembali tersenyum lebar melihat hasil karyanya.
"Satu lagi…"
Angin yang berhembus meniupkan sisa lembaran foto yang ia letakkan begitu saja di atas meja hingga ke wajahnya. Pemuda itu pun mengangkat tangan untuk menjauhkan foto itu dari wajahnya. Ketika ia berhasil melepaskan diri dari foto tersebut, gambar di fotonya menunjukkan sosok pemuda berambut hitam dan bermanik merah yang ikut terpotret bersama si gadis perak. Sama halnya dengan si gadis, pemuda itu pun tak menyadari bahwa sosoknya ikut diabadikan bersama gadis itu.
Begitu melihat foto pemuda yang bermanik merah, sosok itu juga melirik pada dinding lain, tempat di mana ia meletakkan foto berbagai macam orang dalam dinding yang sama. Berbeda dengan caranya menempelkan foto si gadis berambut perak pada satu sisi, pada dinding ini foto berbagai macam orang ditempel asal dan diberi tanda silang pada beberapa foto. Foto si pemuda bermanik merah menjadi salah satu foto yang paling atas bersama foto-foto lain yang belum diberi tanda silang.
"Kaizuka...," ujar sosok itu sembari menatap fotonya. "Kaizuka…"
Tangannya langsung merobek foto yang dipegangnya menjadi serpihan-serpihan kecil. Begitu menjadi serpihan, ia membiarkan angin meniup segala yang tersisa dan menghempaskannya hingga ke luar jendela. Setelah itu, barulah pemuda itu mendekat kembali pada dinding yang menyimpan foto si gadis berambut perak. Melihatnya, senyum kembali merekah di wajahnya dan ia pun mendekat untuk menyentuh salah satu gambar itu dengan tangannya. Jemarinya menelusuri wajah gadis itu dan menggerakkan tangan seolah membelai rambut perak platinanya.
"Sebentar lagi, Slaine!" Sosok itu berkata sembari membelai foto si gadis berambut perak, "Sebentar lagi!"
Foto yang ditatapnya tidak memberikan jawaban. Si gadis tetap menatap ke samping, pada lawan bicara yang seharusnya ikut terfoto bersamanya.
"Tunggulah dengan sabar!" Sosok itu mengecup foto si gadis sebelum mengarahkan pandangannya pada benda lain yang juga berada di atas meja. "Aku akan datang dengan membawakan kenang-kenangan yang akan kau kenali dengan baik."
…
"Maaf merepotkanmu, Harklight-senpai."
Pemuda berambut hitam itu menggerakkan kepalanya dan tersenyum pada gadis berambut perak yang berjalan di sampingnya. "Tidak masalah sih, hanya bukankah biasanya wali angkatmu yang akan menemanimu mengambil buku yang kau tinggal di sekolah?"
"Oh, dia memaksa memang," jawab Slaine sembari berjalan di sisi pemuda berambut hitam itu, "tapi kali ini ia tidak punya pilihan karena harus menghadiri meeting dengan Calm-san soal novelnya yang akan difilmkan."
"Novelnya benar-benar akan difilmkan, ya?" Harklight kembali bertanya, "aku sudah dengar beritanya waktu itu, tapi kupikir tidak jadi karena tidak ada kabar lagi."
"Jadi kok," ujar Slaine sembari tersenyum pada pemuda di sampingnya. "Dia juga sedang sibuk dengan sekuelnya sekarang."
Harklight menoleh pada gadis yang mengajaknya bicara itu, "Selama ini kupikir novel itu tidak ada sekuelnya. Kenapa sekarang dia menerbitkan sekuel?"
"Oh, soalnya ia tidak mau membuat fansnya mengira bahwa ia belum menemukan orang yang ia tunggu," jawab si gadis berambut perak. "Makanya ia mati-matian mengerjakan novelnya. Sudah dimulai dari sebelum Natal rasanya."
"Baru seminggu?"
Slaine mengangguk, "Mungkin beberapa bulan lagi baru diterbitkan."
"Akan kunantikan karyanya kalau begitu," jawab Harklight sembari tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, Rayet dan Inko tidak ikut kali ini?"
"Oh, tidak, kali ini mereka tidak ikut," kata Slaine lagi, "mereka tidak mau datang ke sekolah di saat liburan."
"Bisa dipahami!"
"Harklight senpai sendiri ada urusan apa di sekolah?" Si gadis berambut perak kembali bertanya pada pemuda di sampingnya. Mereka melewati gerbang sekolah yang setengah terbuka dan mengangguk sekilas pada penjaga di sekolah. "Kau bilang tadi ada urusan yang harus kau selesaikan?"
"Oh, ya, tadi Kepala Sekolah memanggilku," jawab pemuda berambut hitam sembari mendorong pintu kaca untuk memasuki bangunan sekolah. "Beliau bilang ingin mendiskusikan perihal pelaku yang menyebarkan berita di Vers yang membuat satu negeri Vers menyerangmu."
"Kalian sudah menemukan pelakunya?"
Pemuda berambut hitam itu melepas sepatu dan mengganti sepatunya. Ia memakai alas kaki khusus di sekolah dan meletakkan sepatunya di loker, diikuti si gadis berambut perak. Kemudian, bersama-sama keduanya menelusuri koridor menuju ke kelas yang ada di lantai dua.
"Kami menemukan beberapa nama," ujar pemuda itu, "hanya kami membutuhkan data dari Mazurek untuk mengetahui latar belakang mereka."
"Oh? Bagaimana kalian menemukannya?"
"Kami menelusuri daftar nama dan mencocokannya dengan lama tinggal Kaizuka Inaho," jawab pemuda itu, "setelah diseleseksi, tersisa beberapa nama. Hanya kami tidak yakin akan hubungan mereka dengan kalian di masa lalu."
"Kalau memang dia menyebarkan berita di Vers, apakah itu berarti dia punya hubungan denganku atau Kaizuka-san?"
Harklight menganggukkan kepala, "Seharusnya ada, tidak mungkin ia menyebarkan gosip tanpa alasan kuat. Apalagi gosipnya menyebabkan kau diburu satu Vers."
Slaine mengangguk. "Benar juga."
Mereka berdua berjalan menaiki tangga dan berhenti di kelas pertama di samping tangga. Harklight menggeser pintunya, sementara si gadis berambut perak masuk ke dalam ruangan dan menuju ke salah satu bangku yang berada di belakang. Ia menggerakkan tangannya menelusuri laci dan mengeluarkan sebuah buku dari sana.
"Ketemu!" Gadis itu berseru riang dan langsung memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya.
"Sudah? Tidak ada yang tertinggal lagi?" Pemuda berambut hitam itu bertanya ketika si gadis sudah beranjak dari bangku dan menghampirinya. "Apakah mau dicek ada yang masih tertinggal atau tidak?"
"Tidak, sudah kosong," jawab gadis itu sembari tersenyum. "Tidak ada lagi kok."
Pemuda itu mengangguk, "Oke, kalau begitu aku ke atas dan…"
"Aku ikut."
"Apa?"
"Aku juga mau menemui Kepala Sekolah," jawab Slaine sembari memakai kembali tasnya dan mengikuti si pemuda berambut hitam. "Ini berhubungan denganku 'kan?"
"Tapi…"
"Apa… aku tidak boleh tahu?"
Harklight tampak bimbang. Kaizuka Inaho sudah pernah berpesan agar mereka tidak menyampaikan apa pun pada Slaine. Mereka harus menyampaikan sesuatu pada pemuda itu lebih dulu dan ia yang akan memutuskan apakah Slaine perlu mengetahuinya atau tidak. Kalau pemuda itu tahu bahwa mereka membocorkan informasi pada Slaine…
"Bukan, bukan tidak boleh tahu," ucap pemuda itu berusaha mencari akal, "hanya walaupun tahu, mungkin belum ada manfaatnya karena masih berupa data mentah. Apa tidak sebaiknya kau tunggu hingga datanya diolah menjadi data yang lebih pasti?"
"Tidak apa," jawab Slaine sembari berjalan lebih dulu menuruni tangga, menuju ruang fakultas yang berada di lantai dasar. "Aku justru ingin tahu data awalnya."
Mendengarnya, Harklight tak punya pilihan lain selain mengikuti gadis itu. Ia pun akhirnya turut melangkahkan kakinya menuruni tangga, menyamakan kecepatan dengan langkah Slaine. Kurang dari satu menit, mereka akhirnya tiba di ruang kepala sekolah, yang berada di samping ruang fakultas. Harklight mengetuk pintu lebih dulu sebelum mendengar perintah untuk masuk dan mendorong pintunya.
"Harklight, pas sekali kau datang, Mazurek bilang bahwa… Slaine?"
"Oh, selamat siang, Kepala Sekolah!" Slaine membungkuk pada wanita berambut cokelat dengan poni dibelah pinggir itu. "Selamat tahun baru!"
Mulut Darzana Magbaredge kehilangan kata-katanya saat ia melihat gadis berambut perak itu masuk ke ruangannya. Ia berpandang-pandangan dengan Harklight dan mendapatkan ekspresi menyesal pemuda itu sebagai jawaban. Melihat itu, ia pun langsung berkata, "Si… Selamat tahun baru juga, Slaine!"
"Hai, Slaine!" Pemuda berambut kecokelatan yang sedari tadi duduk di depan meja sang kepala sekolah mengangkat satu tangannya pada gadis itu dan memberikan senyum bersahabat. "Bagaimana kabarmu?"
"Mazurek-san!" Gadis itu terkejut begitu melihat pemuda satu itu. "Kenapa kau di sini?"
"Nadamu tidak terdengar senang melihatku di sini." Pemuda itu bangkit dari kursi dengan sandaran tinggi dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memicingkan matanya sebelum kembali berkata, "Jangan-jangan kau masih menaruh aura permusuhan padaku?"
"Aku hanya bertanya, Mazurek-san," jawab Slaine sembari mengangkat bahu. "Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku."
"Oh!" Mazurek menurunkan kedua tangannya dan ia kembali duduk di tempatnya dengan Slaine mengikuti di sampingnya. "Aku diinformasikan oleh Harklight bahwa saat ini di Bumi sedang tahun baru dan akan ada banyak perayaan setelahnya. Jadi aku pun tertarik dan berkunjung ke Bumi."
"Lho? Kenapa kau merayakan tahun baru di Bumi?" Slaine bertanya dari balik sandaran sofa Mazurek. "Apa bangsa Vers tidak merayakan tahun baru?"
"Bukan itu," ujar Mazurek sembari menggelengkan kepalanya, "Periode orbital kami 687 hari, berbeda dengan kalian yang hanya 365 hari. Jadi kami belum merayakan tahun baru."
"Lama sekali…"
"Memang," jawab Mazurek sembari tersenyum. "Ah, bagaimana kabar Count Kaizuka?"
"Oh! Dia… sehat," ujar si gadis berambut perak, terdengar ragu. "Mungkin."
Alis Mazurek terangkat dan mendengarnya, ia pun merasakan sedikit kejanggalan. Ia hendak berkomentar lebih jauh, sebelum sang Kepala Sekolah akhirnya berkata, "Oh, Mazurek! Kau bilang kau ingin mencicipi hidangan khas tahun baru, bukan? Sepertinya di dekat sekolah kami ada kafe yang buka dan menyediakan menu spesial tahun baru."
Pemuda berambut kecokelatan itu menoleh pada wanita yang sebelumnya berdiskusi dengannya itu. Melihat wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum meyakinkan, Mazurek pun langsung paham maksudnya. Ia pun tak bertanya lagi dan langsung bangkit dari kursinya walaupun diiringi dengan helaan napas. Lalu sembari menarik ujung lengan baju yang dikenakan si gadis berambut perak, pemuda itu berkata, "Kedengarannya menarik. Kalau begitu, antar aku ke sana, Slaine!"
"H-hah? Kenapa aku? Kau tidak bisa pergi sendiri?"
"Masa kau membiarkan tamu berkeliling sendirian?"
"Harklight, Harklight-senpai saja," tunjuk gadis itu pada pemuda berambut hitam. "Dia menunjukkan jalan lebih baik dariku. Aku sering mengalami buta arah yang parah."
"Tidak masalah, Orbital Knights Vers punya sistem GPS yang canggih," jawab Mazurek sembari menarik ujung lengan baju si gadis. "Ayo cepat! Kalau tidak lengan baju kesayanganmu akan robek karena kutarik-tarik."
"Jangan ditarik!" Slaine protes dan dengan sedikit terpaksa gadis itu melangkah mengikuti pemuda yang sudah berjalan di depannya. Begitu ujung lengan bajunya dilepas, pemuda itu menarik tasnya dan menyeretnya keluar dari ruangan.
"Akhirnya," gumam yang wanita sembari menghela napas, "aku sudah panik sewaktu melihatnya masuk tadi."
"Sama halnya denganku, Magbaredge-san," ujar Harklight ketika suara dua orang itu sudah cukup jauh dari tempat mereka. Pemuda itu pun menggerakkan kepala dan mendekat selangkah pada meja sang Kepala Sekolah. Tangannya mengambil salah satu file yang diletakkan dan membaca isinya.
"Data yang kita temukan dan Mazurek temukan tidak cocok," ucap si wanita berambut cokelat tanpa diminta. "Nama personil yang kita temukan beberapa memang ada di datanya, tapi data miliknya memiliki nama yang berbeda dengan data yang ada kita miliki. Lihat, ini tahun yang sama, tapi nama orang yang dimaksud berbeda. Sementara pada tahun berbeda, ada orang yang bernama sama. Aneh sekali…"
Harklight diam sebentar. Ia membaca catatan yang diberikan Mazurek dan berkata, "Magbaredge-san…?"
"Hm?"
"Tahun berapa di Vers sekarang?"
"Kenapa bertanya?" Wanita itu mengerutkan dahi, heran mendengar perkataan Harklight. "Bukankah kita baru saja merayakan tahun baru beberapa hari yang lalu?"
"Itu di Bumi 'kan?" Harklight kembali berkata. "Aku tidak pernah tinggal di sana, jadi aku tidak tahu sampai Mazurek mengatakannya tadi."
"Oh!"
"Kurasa…" Harklight mengangkat data tersebut, "Kita harus kembali mencocokan tahun di Vers dengan di Bumi. Data tahun yang ia cari, kemungkinan tidak sama dengan tahun di Bumi."
…
"Mochi?" Slaine mengerutkan dahi saat mendengar perkataan pemuda itu. "Aku ragu mereka akan menyediakan makanan seperti itu di kafe."
"Kalau begitu, kita cari sampai dapat," jawab pemuda itu sembari menarik tas yang dibawa di punggung si gadis berambut perak. "Aku mau mochi khas tahun baru."
Slaine berpikir sejenak, "Waktu itu Kaizuka-san sempat ingin membuat mochi tahun baru, tapi aku menghentikannya."
Mazurek mengerutkan dahi dan tak kuasa menahan cengiran di wajahnya. Apa jadinya kalau satu planet Vers tahu bahwa pahlawan besar kebanggaan mereka ternyata membuat mochi tahun baru? Kedengarannya konyol.
"Ia membuang-buang bahan, kau tahu?" Slaine kembali bercerita dengan lancar. "Kemarin kami membuang adonan mochi karena adonan yang ia hasilkan terlalu lembek. Ini pertama kalinya aku melihat seorang Kaizuka-san gagal dalam membuat masakan. Tahu begitu, aku harusnya mengabadikannya."
"Ah! Apa jadinya kalau bangsa Vers tahu pahlawan mereka hanya membuat mochi di Bumi?" Mazurek berkata sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Benar-benar mempermalukan nama besar sang Pahlawan saja."
"Tapi Kaizuka-san baru kali ini terlihat kepayahan saat melakukan sesuatu." Slaine kembali berkata sembari berjalan di samping si pemuda berambut kecokelatan. "Biasanya ia tidak pernah gagal melakukan apa pun. Bahkan membuat cake saja, ia dapat melakukannya lebih baik dariku. Benar-benar membuat kesal!"
"Iya, baik, baik," kata Mazurek setelah mendengar banyak informasi soal Pahlawan bangsa Vers itu. Sedari tadi, topik apa pun yang ia utarakan, pasti berujung pada Kaizuka Inaho. Makanya Mazurek kembali ke topik awal dengan berkata, "Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita coba mencari mochinya di toko? Atau pusat perbelanjaan? Mungkin mereka menjualnya."
Si gadis berambut perak mengangkat bahu, "Aku tidak yakin ada toko yang buka di tahun baru. Mana ada pegawai yang mau bekerja di hari libur seperti ini? Kaizuka-san bilang… "
"Mungkin kau benar," potong Mazurek sebelum gadis itu melanjutkan ceritanya lagi soal Kaizuka Inaho. "Kalau begitu, kita ke minimarket saja. Ayo! Tunjukkan jalannya!"
Sekali lagi, pemuda itu menyeret si gadis berambut perak dengan cara menarik tas punggung yang dikenakan gadis itu. Mereka berjalan melewati tanjakan yang berlawanan arah dengan sekolah dengan Mazurek berjalan lebih dulu di depan. Herannya, walaupun meminta ditunjukkan jalan, pemuda itu malah memaksa Slaine mengikuti langkah kakinya dibanding membiarkan Slaine menunjukkan jalan.
"Belok kanan," ujar Slaine begitu mereka tiba di pertigaan dan pemuda itu hendak melangkahkan kakinya ke kiri. "Minimarket terdekat di sebelah kanan."
Mendengar itu, pemuda berambut kecokelatan itu mengarahkan kakinya sesuai perkataan Slaine. Ia kembali menarik tas si gadis dan berbelok ke arah yang ditunjukkan. "Belok kanan, 'kan? Yakin?"
"Mau taruhan?"
"Boleh," jawab pemuda itu, "Apa yang kau inginkan?"
"Akan kukatakan nanti," jawab gadis itu, "jangan menyesal ya!"
"Tidak akan!" Pemuda itu tergelak saat mendengar perkataan Slaine. "Kau belum pasti benar, Slaine. Kau 'kan buta arah."
"Aku tidak mungkin buta arah untuk sesuatu yang sudah sering kulewati," ujar gadis itu sembari melangkahkan kaki di jalan yang menurun. Mereka melewati rumah-rumah penduduk, melewati kuil, hingga akhirnya mereka tiba di daerah pertokoan yang salah satunya merupakan sebuah bangunan dengan pintu geser kaca sebagai pintu depannya. Bangunan itu pun memajang tulisan '24 jam' juga 'We're open' di pintunya yang menjelaskan dengan baik fungsi bangunan tersebut. Begitu melihatnya, senyum si gadis berambut perak pun melebar dan ia berkata, "Kurasa aku yang menang?"
Pemuda itu bergantian menatap Slaine dan bangunan tersebut, "Kau hanya berpura-pura buta arah rupanya."
Si gadis hanya mengangkat bahu, sebelum akhirnya ia diseret masuk bersama pemuda berambut kecokelatan itu. Pemuda itu mengambil makanan berbentuk segitiga yang dibungkus rumput laut dan diisi daging di bagian dalamnya. Ia pun menawari Slaine makanan yang ditolak halus gadis itu dengan alasan bahwa ia harus makan malam dengan Kaizuka-san. Setelah membeli makanan (dengan dibayari Slaine), mereka berdua keluar dari minimarket dan kembali berjalan.
"Bagaimana cara membuka penutupnya…"
"Sini!" Slaine merebut onigiri tersebut dari tangan si pemuda dan membukakan penutupnya untuk pemuda itu. "Silakan!"
"Terima kasih," ujar pemuda itu dan langsung memakan makanan yang diberikan gadis itu. Ia mengecap rasanya selama beberapa saat dan memejamkan mata untuk menikmatinya. "Enak sekali. Aku harus membawa beberapa untuk oleh-oleh."
Gadis berambut perak di sampingnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah pemuda itu. "Apa di Vers tidak ada onigiri?"
Mazurek melahap sekali lagi makanannya dan mengunyah terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Slaine. Setelahnya, ia pun berkata, "Di negara kami tidak ada nasi, di sana tanaman yang bisa ditumbuhkan hanya sedikit."
"Ah…"
"Makanya, nasi di sana harganya sangat mahal," ujar pemuda itu sembari memakan lagi onigiri di tangannya. "Berbeda sekali dengan di Bumi."
"Kalau telur? Apa di sana ada telur?"
"Kurasa tidak," jawab Mazurek, "telur dihasilkan dari ayam 'kan? Kami tidak bisa menghasilkan pakan untuk hewan-hewan seperti itu, sehingga daging ayam pun jarang."
"Oh ya?" Slaine mengangkat alis saat mendengar cerita Mazurek. "Kupikir di Vers pasti ada telur karena Kaizuka-san sangat suka telur. Kalau tidak, darimana asalnya sampai ia selalu memasak telur setiap hari?"
Pemuda itu mengangkat bahu, "Entah, yang jelas di Vers tidak ada makanan yang terbuat dari telur. Jadi kurasa, ia menyukai makanan itu ketika ia berada di Bumi."
Slaine menganggukkan kepala saat mendengar keterangan yang diberikan pemuda itu. Ia diam sebentar sebelum kembali membuka mulutnya untuk berkata, "Apa mungkin Koumori yang membiasakannya ya?"
"Koumori itu kau 'kan?" Mazurek bertanya sembari menghabiskan gigitan terakhirnya. Ia mengunyah dan menelan makanannya terlebih dahulu sebelum kembali berkata, "Ngomong-ngomong, apa yang kau inginkan dariku?"
"Ah! Benar juga," gadis itu menatap Mazurek dan berkata, "aku membutuhkan bantuanmu."
"Bantuan macam apa?" Pemuda itu balas menatapnya dengan pandangan menyelidik. "Aku tidak akan membantu kalau diminta mengkhianati Vers."
Si gadis berambut perak mengerutkan dahi mendengar perkataannya, "Untuk apa aku memintamu mengkhianati Vers? Aku tidak sebodoh itu."
"Jadi? Permintaanmu apa?"
"Apa menurutmu… kau bisa mencuri laporan kesehatan Kaizuka-san dari Dokter Yagarai?"
Mazurek menggerakkan kepalanya dan menatap si gadis berambut perak. Begitu mereka bertatapan, gadis itu hanya mengerjapkan mata dengan polos, seolah telah mengatakan sesuatu yang wajar. Melihatnya, Mazurek langsung memejamkan mata dan menundukkan kepala.
"Dan kau bilang, kau tidak sebodoh itu?"
"Tidak."
"Kau memikirkan resiko perbuatanmu?" Mazurek bertanya. "Kenapa tidak bertanya langsung pada Dokter Yagarai saja sih? Kau 'kan keluarganya? Dokter itu pasti akan menjawab pertanyaanmu."
"Belum tentu," ujar Slaine sembari menggelengkan kepala. "Aku tahu Kaizuka-san. Ia pasti sudah berpesan pada Dokter Yagarai untuk tidak mengatakan apa pun padaku. Sama halnya dengan caranya mengingatkan kalian untuk tidak memberitahu apa-apa padaku."
"Ah, itu…"
"Aku tidak mempermasalahkannya," potong Slaine sembari berjalan lebih dulu. "Kaizuka-san menyembunyikan semuanya dariku agar aku tidak khawatir. Itu kebaikan hatinya."
"Kalau kau sadar, kenapa…"
"Hanya caranya justru membuatku semakin khawatir," kata si gadis berambut perak sembari menundukkan kepala. "Ia menyembunyikan segala sesuatu, berusaha untuk membuatku tidak cemas. Namun sekeras apa pun usahanya untuk menyembunyikan, pada akhirnya aku akan mengetahuinya dan ketika aku mengetahuinya, aku tidak bisa berhenti khawatir karena aku tahu, segala sesuatu yang ia tutupi adalah hal-hal yang tak berjalan semestinya. Benar 'kan?"
Mazurek hanya dapat mengalihkan perhatiannya dari gadis itu. Ia tidak bisa menyangkal, gadis itu memang benar. Hal-hal yang disembunyikan selalu hal-hal yang akan membuat gadis ini khawatir kalau ia tahu. Makanya, bila Count Kaizuka saja sampai menyembunyikan perihal kesehatannya pada gadis ini, bukan tidak mungkin kalau hasil pemeriksaan kesehatannya…
"Jadi, bantu aku!" Gadis itu berkata lagi, "Aku harus mendapatkan catatan kesehatannya."
"Kalau kau sudah tahu, kau bisa apa, Slaine?"
Slaine menyipitkan mata mendengar perkataan pemuda itu. "Apa?"
"Kalau kau tahu, apa yang dapat kau lakukan?" Mazurek kembali mengulang pertanyaannya. "Kau bukan dokternya, kau tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya, bukan?"
"Aku… "
"Kenapa kau tidak percaya saja bahwa dokternya akan memberikan perawatan terbaik, Slaine?" Mazurek kembali berkata. "Count Kaizuka juga tidak sebodoh itu sampai mengabaikan kesehatannya sendiri."
"Tidak. Bisa saja ia melakukannya." Gadis itu berkata dengan suara pelan. "Bila penyakitnya itu berhubungan denganku, maka mungkin saja ia melakukannya. Ia pun mengabaikan nyawanya sendiri untuk bertarung dengan Orbital Knights, apa yang membuatmu tidak yakin bahwa ia tidak akan melakukan hal yang sama pada kesehatannya?"
"Itu…"
"Kalau kau tidak mau membantu, aku akan melakukannya sendiri," ucap gadis itu dengan tegas dan segera bergerak meninggalkan Mazurek. "Tapi jangan coba-coba menghentikanku!"
Gadis itu sudah berbalik, sudah menggerakkan kaki dan melangkah. Ia bahkan sudah berjalan beberapa langkah ketika seseorang menarik menarik tas punggung yang dikenakan si gadis, membuatnya terjungkal kembali ke belakang. Hal ini membuat gadis itu menoleh kembali padanya dengan marah.
"Kau itu… selalu cepat naik darah untuk sesuatu yang berhubungan dengannya, ya?" Mazurek menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau menyangkut soal pemuda itu, kau selalu mengabaikan semua logika yang kau punya dan lebih memilih untuk menerjang langsung dari depan."
"Apa maksud…"
"Tapi aku juga sama," ujar pemuda itu yang telah berjalan lebih dulu di depan Slaine, "untuk seseorang, aku juga selalu bertindak impulsif dan mengabaikan semua logika yang kumiliki."
Slaine mengerutkan dahi, tidak paham sama sekali ucapan pemuda itu. "Maksudnya, kau tipe orang yang sama denganku?"
Mazurek menoleh pada si gadis berambut perak itu dan ia menghela napas saat mendengar kesimpulan gadis itu.
"Dasar kau bebal, Slaine!"
"H-Hah?" Nada suara si gadis meninggi mendengar ucapan pemuda berambut kecokelatan yang berjalan di depannya itu. Gadis berambut perak itu pun langsung melangkah cepat menuju ke samping si pemuda dan ia berkata, "Kenapa tiba-tiba…"
Gadis itu tidak menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba saja, ucapannya terputus dan ia memandangi layar yang terpampang dari salah satu televisi yang dipajang di toko elektronik. Kebetulan kali ini gambar yang ditayangkannya adalah gambar bunga yang beraneka warna.
Mazurek yang melihat gadis itu terdiam pun memicingkan mata. Namun pemuda itu tak bertanya dan lebih memilih untuk mengikuti arah pandang gadis itu. Ia memerhatikan apa yang tengah dipandangi oleh si gadis hingga membuatnya berhenti berkata-kata.
Pemuda itu menggerakkan kepala dan menatap layar yang memantulkan gambar bunga beraneka warna di hadapannya. Ia tak merasakan ada yang aneh dengan bunga-bunga tersebut, sehingga ia kembali menatap Slaine. Begitu melihat bahwa gadis itu masih tertegun juga, pemuda itu pun berkata, "Ada apa, Slaine?"
Slaine menggerakkan kepala dengan gemetar. "Bunganya…"
"Bunganya?" Kerutan di dahi Mazurek semakin dalam. "Ada apa dengan bunganya?"
Si gadis berambut perak tidak menjawab lagi begitu Mazurek mengajukan pertanyaan. Ia juga tak lagi mendengarkan ucapan pemuda itu. Di benaknya, mulai bermunculan kilas adegan yang berhubungan dengan gambar bunga yang beraneka warna itu.
"Mawar ini…"
'Lagi', pikir Slaine sembari memejamkan matanya dengan tangan menyentuh kepala secara refleks untuk menahan sakit. 'Datang lagi.'
"Punya arti…"
'Apa yang mau ia katakan...' Slaine mencengkeram rambutnya, menahan sakit. Di sampingnya, Mazurek memanggil-manggil namanya dengan panik sembari menahannya agar tidak terjatuh. 'Kenapa sepotong-sepotong?'
"Mawar biru?"
Pemuda bermanik merah yang memegang setangkai bunga dengan kelopak berwarna biru itu menganggukkan kepala. Ia mendekatkan bunga yang ia pegang itu pada si gadis berambut perak di hadapannya dan membiarkan gadis itu memegangi tangannya agar dapat melihatnya lebih baik. Jarang sekali mereka dapat melihat bunga berwarna biru seperti bunga yang ia bawakan ini.
"Ini pertama kalinya aku melihatnya," ujar si gadis berambut perak saat ia mendekatkan kepalanya untuk melihat bunga itu. "Jarang sekali ada bunga yang berwarna biru."
"Di rumahku banyak yang seperti ini," kata si pemuda ketika gadis itu sudah melepaskan tangannya, walaupun pandangan matanya masih ke arah bunga yang ada di tangannya. Melihat bahwa perhatian gadis itu hanya pada benda yang ia bawa, pemuda itu pun menyembunyikan mawar biru tersebut ke balik tangannya. "Datanglah ke rumahku kalau kau mau melihatnya."
"Pembohong! Aku tidak pernah melihat yang seperti ini saat berkunjung. Hei!Kenapa kau menyembunyikannya, Orenji?" Slaine mendekat dan berusaha memegang tangannya. "Aku masih ingin melihatnya."
"Kau sudah melihatnya tadi, Koumori!"
Pemuda itu memindahkan bunga mawar birunya ke tangan yang lain, sementara satu tangannya memerangkap si gadis berambut perak dalam pelukannya. Gadis itu masih belum menyadari perbuatannya karena terlalu fokus untuk mendapatkan mawar biru yang ada di tangan satunya lagi. Ia baru berhenti ketika hidungnya menyentuh leher si pemuda dan baru saat itu ia sadar bahwa ia berada terlalu dekat dengannya.
Terkejut, gadis itu pun mencoba menjauhkan diri. Namun ia terlambat karena pemuda itu sudah memeluk pinggangnya dengan satu tangan dan memaksanya untuk kembali mendekat. Berkat usahanya, dahi gadis itu pun akhirnya bersentuhan dengan bibirnya, dan membuat si gadis memalingkan wajah darinya.
"Lepaskan aku, Orenji!" Gadis itu berkata sembari menggerakkan tangan dan menjauhkan diri. "Kau curang!"
"Aku tidak berbuat apa-apa," jawab pemuda itu sembari mendekatkan hidungnya pada pipi gadis itu. "Kau sendiri yang mendekat."
"Tapi itu karena kau memancingku dengan mawar biru!" Slaine bersikeras membela diri. "Kau memanfaatkan rasa ingin tahuku dan akhirnya…"
Pemuda itu mengangkat alis, "Dan akhirnya? Kau mengakui bahwa kau terjebak?"
Slaine mengerutkan dahi mendengar perkataannya. "Tidak akan. Sebentar lagi juga aku akan melepaskan diri dan melarikan diri darimu seperti biasa. Kau nikmati saja dulu detik-detik kemenanganmu sebelum aku melarikan diri."
Alih-alih berkelit seperti biasa, kali ini pemuda itu malah menundukkan kepalanya dan meletakkannya pada bahu Slaine. Sikapnya membuat si gadis salah tingkah dan menggerak-gerakkan bahunya untuk membuat pemuda itu tidak nyaman. Sayangnya pemuda itu tidak terpengaruh dan malah mencengkeram pinggang Slaine dengan kedua tangannya.
"Orenji! Hei Orenji! Lepaskan aku!" Gadis itu berkata dengan panik karena pinggangnya dipeluk. Kesempatannya untuk melarikan diri lenyap sudah. "Kau curang! Lepaskan aku!"
"Tidak."
"Hah?"
"Aku tidak akan melepaskanmu." Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menatap Slaine. "Kau tidak akan melarikan diri lagi dariku, Koumori."
"A-apa yang kau katakan?" Gadis itu berkata sembari mencoba menjauhkan kepala si pemuda darinya. "Kau membuatku merinding, Orenji! Akhir-akhir ini kau salah makan, ya? Ucapanmu tidak masuk akal semua."
"Tidak. Aku serius."
"Mananya?" Slaine langsung menyambar ucapannya. "Kemarin kau bilang ingin menikah denganku, lalu sekarang kau tidak mau aku melarikan diri. Ada apa denganmu sebenarnya? Tidak biasanya kau begini."
Pemuda itu tidak menjawab dan ia kembali meletakkan kepalanya pada bahu Slaine, membuat gadis itu kembali mengomel. "Karena… aku baru menyadari satu hal, Koumori."
Si gadis berambut perak berhenti bergerak-gerak dan menggerakkan kepalanya ke samping, ke tempat di mana kepala pemuda itu diletakkan. "Menyadari apa?"
Pemuda itu pun menggerakkan kepalanya dan menatap gadis di sampingnya. "Menyadari bahwa keberadaanmu sama seperti mawar biru itu sendiri."
"Ng?"
"Kau tahu arti mawar biru, Koumori?"
Slaine menatapnya, dan ia mengernyitkan dahi karena bingung. "Memangnya ada artinya?"
Mengabaikan pertanyaan Slaine, pemuda itu berkata, "Setiap bunga, memiliki arti yang diberikan sesuai dengan keberadaan bunga itu sendiri, tidak terkecuali mawar biru."
Si gadis berambut perak menggerakkan kepala dan tidak mengatakan apa-apa. Ia memilih untuk diam dan mendengarkan ucapan pemuda yang meletakkan kepala di bahunya itu.
"Dan mawar biru artinya hal yang mustahil," ucap pemuda itu sembari menyelipkan bunga berwarna biru itu di telinga Slaine dan membingkai wajah gadis itu dengan tangannya. "Sama seperti keberadaanmu."
"Aku… seperti hal yang mustahil?" Slaine menunjuk dirinya sendiri. "Itu maksudmu?"
Tangan pemuda itu menyentuh rambutnya dan mengusapnya. Lalu pemuda itu berkata, "Tidak pernah terbayang olehku bahwa kecepatan Sleipnir akan kalah dari seorang manusia biasa."
"Jadi masih soal itu?"
"Tidak juga, aku juga tidak pernah membayangkan bahwa ada seorang gadis yang bisa memanjat pohon dengan lincah, berlari dengan cepat, atau bersembunyi tanpa terdeteksi oleh Sleipnir hingga sangat menjengkelkan. Begitu jengkelnya, hingga tanpa sadar aku mencarinya tiap hari.""
Gadis itu tertawa mendengar perkataan pemuda itu. "Jadi benar rupanya. Kau masih dendam padaku soal itu. Karena itu kau menyebutku mustahil?"
Si pemuda bermanik merah yang meletakkan kepala di bahunya. "Apa kau paham sekarang?"
"Ah ya, bagimu, aku memang hal yang tidak diprediksi untuk semua penemuan ajaib yang kau buat ya? Makanya saat itu, kau mencariku setiap hari dan menantangku terus menerus," ujar gadis itu sembari mengangguk. "Pada akhirnya, kau memilih untuk meneliti dan memberikan bayaran padaku. Kupikir hal ini sudah membuatmu puas."
"Kau tidak mengerti rupanya. Aku ini tidak puas, aku tak pernah puas." Pemuda itu menyentuh wajahnya dan membingkainya.
"Apa yang… membuatmu tidak puas?" Slaine menggerakkan kepala dengan bingung. "Kau sudah meneliti, kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan bukan?"
"Apa kau tahu apa yang kuinginkan?"
Si gadis berambut perak berpikir sejenak, "Kecepatanku?"
Pemuda itu menggeleng.
"Kemahiranku bersembunyi atau melarikan diri?"
Sekali lagi pemuda itu menggelengkan kepalanya. "Bukan itu."
Kali ini gadis itu mengerutkan dahi, berpikir keras. Semua hal yang ia ketahui perihal pemuda itu sudah diungkapkannya. Ia pikir, selama ini pemuda ini menginginkan kecepatan atau kemahirannya bersembunyi juga melarikan diri. Kalau bukan itu semua, lalu kenapa pemuda itu terus mencarinya? Apa yang membuat pemuda itu terus menerus mengganggunya dengan semua alasan berbau penelitian?
"Kalau begitu…apa?" Slaine mengerutkan dahi. "Kenapa kau mencariku? Aku tak paham."
"Kau tidak mengerti kalau kubilang aku ingin mengenalmu?"
Slaine kembali mengerutkan dahi. " Tapi kau sudah mengenalku, bukan?"
"Tidak cukup, Koumori." Pemuda itu kembali menggelengkan kepala. " Hanya mengenalmu saja belum cukup."
"Lalu apa yang…" Slaine terdiam saat melihat pemuda itu menatapnya. Melihat tatapannya dan pelukannya di pinggang, gadis itu pun mulai mengerti maksudnya. Karena itu ia pun mengalihkan pandangan dan mencoba melepaskan diri. Gadis itu pun berkata, "O-Orenji, kurasa ini saatnya aku pu…"
"Kau selalu melarikan diri," ucap pemuda itu sembari mengarahkan kembali pandangan mata Slaine padanya. "Dan aku harus senantiasa mengejarmu agar bisa mendapatkanmu."
"Orenji, kita tidak akan membicarakan soal ini," gadis itu berkata sembari mengalihkan pandangan. "Aku tidak tertarik."
Mendengar itu, pemuda itu pun melepaskan pelukannya pada si gadis berambut perak. Ia pun berjalan selangkah, meninggalkan gadis itu. Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, pemuda itu pun berkata, "Aku menginginkanmu, Koumori."
"Orenji!"
"Jadilah istriku!" Pemuda itu berkata lagi. "Jangan menjadi milik orang lain!"
"Kau tahu bahwa aku tidak ingin menikah, bukan?"Gadis itu berkata padanya. "Karena itu aku sampai berhutang lima ribu keping emas padamu. Apa gunanya aku berhutang padamu kalau kau juga menuntutku untuk menikah denganmu?"
Pemuda itu pun menganggukkan kepala dan melepaskan pelukannya dari si gadis berambut perak. Ia tahu, gadis itu benar. Gadis itu tidak ingin menikah, karena itu ia meminjam lima ribu keping emas padanya. Gadis itu pun akan membencinya bila ia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Marylcian. Membelinya dan memaksanya menikah takkan membuat Koumori menjadi miliknya. Koumori akan selalu melarikan diri darinya, bila ia melakukannya.
"Kumohon, Orenji!" Gadis itu berkata ketika mereka sudah berada satu langkah jaraknya, "Jangan membicarakan hal ini lagi! Kumohon!"
Si pemuda bermanik merah hanya bisa menatapnya, walaupun sedikit, Slaine dapat melihat segurat kesedihan di mata pemuda itu. Apalagi ketika pemuda itu mengalihkan pandangannya dengan cepat dan berkata, "Ngomong-ngomong Slaine, mawar biru punya arti lain."
Slaine memiringkan sedikit kepalanya begitu mendengar ucapan pemuda itu. "Arti lain?"
Pemuda itu menganggukkan kepala dan menatapnya, "Keajaiban."
"Apa?"
Si pemuda yang berdiri di sampingnya itu menggerakkan kepalanya menatap ke depan. Lalu sembari berjalan, pemuda itu kembali berkata, "Aku ini orang yang sabar. Aku akan menunggu dan terus menunggu."
"Apa yang… kau tunggu?" Slaine bertanya sembari mengikuti di sampingnya.
Kepala pemuda itu mengarah padanya dan kali ini Slaine melihat senyum tipis yang jarang ia temukan di wajah pemuda itu. "Aku menunggu hingga mawar biru itu berhasil kudapatkan."
Menyadari tatapan pemuda itu, Slaine paham bahwa dirinya lah yang dimaksud. Dengan segera, si gadis mengalihkan perhatian darinya dan berjalan sedikit lebih cepat. Ia tidak menoleh, namun ia tahu bahwa langkah pemuda itu berada di belakangnya.
"Kemudian, bila aku mendapatkannya," kata pemuda itu sembari menahan tangannya, memaksanya untuk menatap matanya. "Adalah hari di mana keajaiban terjadi."
"Itu omong ko…"
"Aku akan bersabar menanti datangnya hari itu."
…
[t.b.c
Thank you for reading, if you mind, please give me any review :D]
