...::Chance:::...
[1 PESAN TEKS BARU]
+82... : [Bagaimana kabarmu]
Pesan tak dikenal terpampang di layar ponsel Youngjae ketika Youngjae baru saja bangun dari tidurnya. Waktu pesan tersebut sampai di ponselnya adalah menunjukkan tengah malam, kira-kira siapa yang tengah malam menanyakan kabarnya? Youngjae mulai membuat daftar di pikirannya, bisa teman-teman bermain game-nya, Moon Jongup, atau teman dari Hyoseong, gadis itu tidak bisa dipercaya. Karena mengira hanya pesan iseng, Youngjae mengabaikannya.
Ponsel Youngjae kembali berbunyi di tengah malam selanjutnya.
+82... : [Tidak sopan sekali aku mengirimi-mu pesan tanpa menyebutkan siapa diriku, tapi aku mendapat nomor-mu dari teman wanita-mu]
Youngjae menghela nafas, dugaannya benar – teman dari Hyoseong sedang mencoba menghantuinya. Youngjae meletakkan begitu saja ponselnya tanpa mau memberi balasan apa pun.
+82...: [Apa kau masih marah?]
'
+82...: [Aku menunggumu setiap hari di Klub, kapan kau akan datang?]
'
+82...: [Ku harap aku mengirimkan pesan ke nomor yang tepat, aku selalu mengeceknya berulang kali. Tolong balas pesanku]
'
+82...: [Apa kau tidak datang karena wanita-wanita yang selalu berusaha mengejarmu? Apa mereka masih mengganggumu?]
Setiap malam selalu ada pesan yang masuk, Youngjae hampir berpikir untuk mengganti nomornya kalau ia benar-benar terganggu, tapi pesan terakhir menyadarkan orang yang mengiriminya pesan bukanlah wanita, melainkan orang yang namanya takut Youngjae sebutkan. Ia takut tidak bisa mengontrol emosinya lagi, tapi belum terucap saja Youngjae sudah mulai gemetar. Ia memutuskan untuk menjauhkan lagi ponselnya.
.
Tiga hari setelah pesan terakhir, Youngjae tidak mendapat pesan, ia bahkan menunggu sampai mendekati subuh, menunggu pesan dari Daehyun. Hari ke empat ia berdiri tak jauh dari mini market dengan memeluk sebuah tas berisi jaket, ia ingin mengembalikannya sebagai alasan bertemu, ia juga ingin tahu kenapa Daehyun tidak mengirim pesan, apa dia bosan, apa dia mulai muak? Seseorang menyadari kehadirannya dan keluar dari mini market, tapi orang tersebut bukan Daehyun.
"Kau pasti.. JaeJae?", tanya anak tersebut
Youngjae menganggukkan kepalanya, "...tolong jangan beri tahu Daehyun aku ada dsini, aku hanya ingin mengembalikan jaketnya"
"Oh, Daehyun tidak mengisi shift hari ini", jelas anak itu sebelum menerima jaket Daehyun ,"Dia sudah dua hari ini tidak masuk kerja, sepertinya tidak enak badan"
"Dia sakit? Sakit apa?", suara Youngjae lebih besar dari sebelumnya dan ia memperlihatkan wajah khawatir.
"Daehyun tidak bilang, ia Cuma meminta izin untuk istirahat", jawab anak tersebut.
Youngjae membalikkan badannya dan menggigit jari-jarinya, pikirannya kini dipenuhi oleh Daehyun yang terkulai lemas sendirian di Apartmentnya. Bagaimana kalau ia membutuhkan pertolongan? Bagaimana kalau ia sakit parah? Kaki Youngjae mengarahkan dirinya ke Apartment Daehyun, lingkungan tersebut terlihat lebih menyeramkan pada tengah malam tapi rasa khawatir Youngjae lebih besar.
.
"Jae? Yoo Youngjae?", seseorang memanggil Youngjae dan menghentikan jalan cepatnya, ia adalah pelayan bar, teman Daehyun.
"A...apa kau baru saja melihat keadaan Daehyun? Dia baik-baik saja?", Youngjae segera menyerang dengan pertanyaan.
"Daehyun...", pelayan bar itu memberikan ekspresi tak terbaca, membuat Youngjae semakin terisi ketakutan, "Daehyun baik-baik saja, kurasa kau tidak perlu repot-repot menemuinya"
Youngjae bernafas lebih tenang mendengar Daehyun baik-baik saja.
"Aku tidak mengerti...dengan sikapmu, juga sikap Daehyun", kata anak tersebut, Youngjae kembali mengangkat kepalanya, "Daehyun selalu bertanya kapan kau akan datang menemuinya, ia juga terus merasa bersalah sudah memperlakukan-mu dengan buruk"
Youngjae merasa jadi tidak enak, walau keterlaluan ia tidak seharusnya terus merasa seperti itu dengan orang yang baru ia kenal. Ia hanya seorang Yoo Youngjae, kurir manusia, anak SMA, si cupu.
"Daehyun selalu berusaha keras mendapatkan apa pun yang ia inginkan, ia bahkan akan berbuat jauh dari bayangan orang-orang biasa, bahkan melawan keinginannya sendiri demi mewujudkan yang ia inginkan", anak itu berbisik dengan nada mengingatkan, "Kuharap kau mau mengerti"
Youngjae tertegun mendengar kata-kata anak itu, ia tidak mengerti dengan maksudnya Daehyun akan melakukan apa pun dan apa yang sebenarnya Daehyun inginkan. Tapi ia tidak melangkah lebih jauh lagi, mengetahui Daehyun baik-baik saja sudah cukup baginya.
.
Keesokan harinya ia pergi ke sekolah seperti biasa, ponselnya masih tidak memiliki pesan baru dan ia hanya bisa menghela nafas menerima kenyataan Daehyun tidak memperhatikannya lagi. Ia bolos pada pelajaran sastra inggris karena merasa pelajaran itu tidak penting, ia berurusan dengan bahasa tersebut setiap harinya di game jadi nilainya sudah pasti sempurna tanpa harus mengikuti kelas.
Ia berjalan di lorong sekolah yang sepi dan siap pergi ke tempat biasanya ia bermain, ia terdiam sesaat melihat sosok Jun Hyoseong, dan Hyoseong juga terdiam lebih tepat tercengang melihat Youngjae. Youngjae pikir ia akan mengikutinya seperti biasa tapi salah, Hyoseong malah membalikkan badannya.
"Hyoseong!", panggil Youngjae, ia ingin tahu kalau dari Hyoseong-lah nomornya bisa ada pada Daehyun.
Hyoseong tidak berani menatap Youngjae, dan tetap berusaha menjauh. Bagaimana menjelaskannya, ia terlihat takut. Youngjae tidak bisa mempertaruhkan pelariannya dan membuat kegaduhan mengejar Hyoseong, jadi ia kembali berjalan dan dengan tenang untuk bersembunyi di belakang sekolah.
Youngjae tengah memainkan permainan konsolnya dan ponsel dikantungnya mendadak bergetar, harapan Daehyun mengirimkan pesan membuatnya segera mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan. Lagi-lagi nomor tidak dikenal.
+820...: [Yjayo~ Ini Kyung pelayan bar favoritmu, apa kau sedang di kelas? Maaf sekali mengganggumu~]
Youngjae: [Ada apa?]
Kyung: [Aku mau kau datang hari ini ke Klub, tenang saja aku jamin kau akan pulang dengan selamat, aku sudah membayar seorang penjaga khusus untukmu]
Youngjae: [Aku tidak terlalu mengerti, tapi...baiklah...]
.
Youngjae tentunya tidak akan menolak ajakan pelayan Bar, bagaimana pun ia adalah teman Daehyun, mungkin melaluinya ia akan lebih leluasa menanyakan keadaan Daehyun.
Begitu ia masuk ke dalam Klub yang tidak berubah dari malam-malam sebelumnya, dan ia segera disambut lambaian tangan Kyung. Sebelum mendekati bar tersebut, Youngjae melihat kursi-kursi yang tersedia didepan bar dan sosok Daehyun tidak ada disana, perasaan campur aduk lega dan kecewa menjadi satu, tapi ia tetap menghampiri Kyung.
Ia duduk di salah satu kursi tinggi dan pandangannya teralih ke lautan manusia tak jauh darinya. Ia sadar ia mulai terbiasa dengan dentuman musik yang keras tapi tidak tahu apa sebenarnya yang ia cari.
"Non-Alkohol, dik?"
Youngjae terkejut mendengar suara familiar, "D..Dae?"
Youngjae secara spontan terus memandangi Daehyun dari ujung rambut sampai kaki, ia mengenakan seragam pelayan dan bekerja layaknya pelayan menyuguhi minuman kepada Youngjae. Daehyun tersenyum padanya, senyum yang berbeda dari terakhir kali bertemu, dan caranya memandang Youngjae membuat Youngjae bertanya-tanya kenapa ada kepedihan juga rindu dibola matanya.
"Aku tidak duduk bersamamu hari ini...karena aku menghargai kau membutuhkan ruang, jadi aku disini, disisi lain", kata Daehyun memberatkan beban tubuhnya pada meja bar, pandangan masih berfokus pada Youngjae
"...", Youngjae menurunkan pandangannya ke minumannya
"...bagaimana kabarmu?", tanya Daehyun dengan suara pelan, Youngjae jelas mendengarnya walaupun musik masih bermain.
"Baik", jawab Youngjae singkat
Mereka kembali terdiam dan membiarkan musik disko bermain, tapi atmosfir diantara mereka memainkan musik romantis. Tidak perlu mengeluarkan banyak kata-kata, bertemu muka dan melihat saja sudah cukup bagi mereka, karena saat-saat tidak bertemu sudah menyakitkan jadi mereka tidak mengharapkan lebih dari kebersamaan yang sedang berlangsung.
Seorang pria mabuk datang ke bar dan masih keras kepala memesan minuman, Kyung segera mengambil alih dan membiarkan Daehyun menjadi pelayan pribadi Youngjae saja. Pria tersebut melirik ke Youngjae dan halusinasi menggantikan wajah Youngjae dengan wajah orang lain.
"Sayang, kau tidak seharusnya ada disini", pria itu memegang lengan Youngjae.
"..Ap.?", "Lepaskan tangan kotormu!", Daehyun segera mencengkram tangan pria tersebut dan menatap tajam
"Eh... wae...? Dia istriku, aku bebas menyentuhnya, apa kau selingkuhannya? Huh?!", pria tersebut mengerutkan wajahnya, ia marah tapi kepalanya tidak beres. Pria itu hendak melemparkan kekesalan pada Youngjae tapi sebelum menyentuh Youngjae sekali lagi, Daehyun mendorongnya sampai jatuh ke lantai. Daehyun kini menyebrangi meja dan tangannya dikepalkan pada kerah pria mabuk.
"Daehyun, dia sedang mabuk! Kau tidak perlu menyakitinya!", ucap Youngjae yang menilai Daehyun terlalu berlebihan.
Daehyun menolak untuk melepaskan pria tersebut walaupun Kyung sudah turun tangan. Orang-orang mulai memandangi mereka dan susasana menjadi buruk, Youngjae memutuskan meninggalkan tempat tersebut, jelas sekali tempat itu bukan tempat yang tepat untuk Youngjae berada.
.
"Jae! Youngjae!", Daehyun berlari keluar, "A..aku minta maaf, tidak seharusnya aku membuatmu merasa tidak nyaman..."
"Kau tahu? Kita tidak perlu bertemu di tempat ini, aku muak Dae", kata Youngjae
"Lalu bagaimana supaya aku bisa menemuimu? Aku tidak tahu apa pun tentang dirimu", jawab Daehyun, ia merasa agak kesal karena Youngjae tidak pernah membalas pesan darinya, ia juga sudah melakukan yang terbaik sampai meminta bantuan Kyung, "Aku minta maaf karena menciummu tanpa pikir panjang, aku tahu aku salah, tak bisa kah kita memulainya dari awal, beri aku kesempatan Jae"
Youngjae kembali terdiam, Daehyun sudah menunjukkan ke sungguhannya kini tinggal Youngjae yang melangkah keluar dari lingkaran amannya, mempersiapkan hati menanggung rasa sakit akibat mencintai orang lain, "Baiklah, aku akan memberimu satu kesempatan...aku tidak akan menghindar lagi darimu"
Wajah Daehyun menjadi cerah, ia senang tidak harus terus menunggu dan larut dalam galau. Daehyun ingin sekali mendekatkan dirinya dan merangkul bahu Youngjae, tapi mengingat Youngjae cukup sensitif ia hanya bisa menahan diri.
"Dan soal ciuman, aku tidak memaafkanmu"
Wajah Daehyun jatuh, tapi yang dilakukan Youngjae setelahnya lebih mengejutkan lagi.
Youngjae mengecup bibir tebal Daehyun dan melepaskannya, ciuman singkat yang bahkan tidak memberi Daehyun kesempatan untuk mengembalikannya, "Kita impas"
END
