Aku sedang memasukan buku-bukuku satu persatu ke dalam tas berniat segera menyusul Chanyeol dikantornya. Aku melirik jam dinding di kelas. Jam setengah 4. Ini belum jam pulang Chanyeol. Aku baru saja menghubunginya dan bersyukur Chanyeol tidak ada rapat perusahaan sekarang.
"Kau yakin pergi ke kantor Chanyeol sendirian ?" ucap Kyungsoo menghampiriku yang sudah siap dengan tas di punggungnya.
"Aku benar baik-baik saja Kyung.."
"Katakan pada orang yang tadi mengeluh perutnya sakit dan tidak mengikuti pelajaran matematika"
Aku terkekeh. Memang benar, setelah aku mengatakan padanya ingin kekamar mandi, aku tidak kembali kekelas dan pergi UKS. Aku terlalu lemas karena memuntahkan semua sarapanku tadi pagi.
"Sungguh aku baik-baik saja Kyung. Kau tidak perlu khawatir"
"Kau terlihat buru-buru. Mau kemana ?"
"Menyusul Chanyeol" jawabku.
"Aku akan memberimu tumpangan. Kai menjemputku"
"Oh tidak, itu adalah ide yang buruk. Aku akan berakhir menjadi obat nyamuk di mobil nanti" ucapku sedikit tertawa.
"Apa ? Bukan begitu Baek. Aku hanya-"
"Sampai jumpa besok Kyung"
"Baek ! Aku belum selesai bicara ! Hei !"
.
.
.
"Selamat sore Tuan Baekhyun" ucap seorang wanita di meja resepsionis. Huh ? Orang yang berbeda. Aku tersenyum padanya.
"Apakah Chanyeol memiliki tamu ?" Tanyaku.
Kali ini aku sedikit berhati-hati. Kejadian dimana aku mendapati hyung di kantor Chanyeol dulu masih membuatku sedikit trauma.
"Tidak Tuan, Presdir tidak memiliki tamu"
"Baiklah, terimakasih" lalu wanita itu membungkuk sedangkan aku segera berjalan menaiki lift.
Aku mengeluarkan handphone dari saku celana, bermain game sembari menunggu lift sampai di kantor Chanyeol. Tak lama kemudian, Ting !. Oh sudah sampai. Segera setelah itu aku mempause gameku dan memasukkannya kembali ke saku celanaku. Berjalan keluar lift dan mengetuk pintu kantor Chanyeol setelah sampai di depannya.
"Masuk.." Sahut suara berat terdengar dari dalam.
Aku tersenyum lalu segera membuka pintu ruangan Chanyeol. Aku melihatnya sedang membuka lembaran-lembaran kertas yang memenuhi meja kacanya. Beberapa kali Chanyeol juga terlihat mengetik sesuatu di laptopnya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk sekedar melihat siapa yang berkunjung ke ruangannya ?. Astaga.
"Apakah aku mengganggu presdir ?" Ucapku.
Chanyeol menoleh. Aku tersenyum saat atensinya beralih padaku. Aku berjalan menghampirinya.
"Kenapa tidak mengatakan kau sudah disini ?" Tanyanya. Aku mengedikkan bahu.
"Kupikir aku mengganggumu" jawabku.
Berikutnya suara seperti tikus terjepit keluar dari mulutku saat Chanyeol secara tiba-tiba menggendongku lalu terduduk dimejanya.
"Kau tidak mengganggu sama sekali"
"Chanyeol turunkan aku.." rengekku. Sedikit tak rela sebenarnya karena aku bisa melihat wajah tampan Chanyeol secara jelas dari sini. Garis tajam alis hitamnya sangat jelas dan hidung itu. Ugh terkadang aku iri padanya. Bagaimana dia memliki hidung menjulang tinggi seperti itu. Perlahan tanpa aba-aba tanganku turun untuk mengelus pipi dan rahang tajamnya.
"Kau ingin aku menurunkanmu tapi sepertinya kau menikmati duduk disini".
Aku mengerutkan dahiku tapi bibirku tertarik ke samping pada kedua sisi pipiku.
"Itu karena aku menduduki kertas-kertas pentingmu. Tidakkah begitu ?. Kau juga terlihat serius tadi"
"Pekerjaan sedikit lebih banyak dari biasanya. Aku tidak bisa menyerahkan yang satu ini kepada asistenku. Walaupun aku yakin dia bisa mengatasinya tapi aku harus menangani ini sendiri" Dahinya sedikit berkerut saat mengatakannya.
"Sesuatu terjadi ?" Tanyaku.
"Hanya beberapa tikus kecil yang berulah"
"Mereka melakukan kesalahan ?" Tanyaku.
"Ya. Membawa uang perusahaan dan membuat masalah dengan merusak kerjasama yang susah payah aku bangun dengan perusahaan penerbangan"
"Penerbangan ? Wow aku baru mengetahuinya"
"Yah.. belum lama ini. Hei, aku mendengar bahwa kau sakit saat disekolah. Aku hampir menyusulmu tadi tapi rapat dewan sialan menahanku. Bagaimana keadaanmu sekarang ? Masih sakit ? Aku khawatir". Matanya phoenixnya meredup saat mengatakannya. Kedua alis tebalnya menekuk tajam. Chanyeol benar-benar khawatir padaku.
"Darimana kau mengetahuinya?" Tanyaku. Keingintahuanku darimana Chanyeol mengetahui jika aku sakit saat disekolah tadi lebih menarik daripada menjawab pertanyaannya. Maksudku, Darimana ? Orang suruhannya ?. Aku menggeleng saat asumsi itu muncul dalam pikiranku. Tidak, pikirku sejauh ini aku tidak melihat mereka atau merasa diikuti.
"Aku bertanya bagaimana keadaanmu sekarang Baek"
"Dan aku juga ingin tahu darimana kau mengetahuinya Chanyeol".
Well, aku termasuk orang dengan kepala batu jika kalian belum tahu. Chanyeol diam, merapatkan bibirnya. Masih dengan menatapku dari bawah. Aku telah bersiap turun dari mejanya merasa tak ada tanda-tanda Chanyeol untuk menjawab pertanyaanku.
"Kyungsoo melaporkannya padaku" jawabnya setelah hening yang begitu lama. Melaporkan ?.
"Apa ? Jadi sekarang Kyungsoo menjadi mata-mata untukmu ?" Tanyaku. Otakku panas begitu saja setelah mendengar jawaban dari Chanyeol. Aku tidak habis pikir. Dia sama sekali tidak memberiku ruang bergerak bebas.
"Bukan seperti itu"
"Lalu bagaimana ?" Aku menyesal setelah mengucapkan itu. Aku bahkan tidak sadar mengeluarkan nada tinggi saat mengatakannya, membuat Chanyeol sedikit mundur.
"Apa kau sedang membentak padaku sekarang ?" Tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya. Kini amarahku menguap seperti bui begitu saja. Chanyeol yang marah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, terlebih jika itu karenaku.
"Ma-maaf aku tidak bermaksud membentakmu. Itu.. hanya keluar begitu saja" Kali ini aku menunduk merasa bersalah karena membentak Chanyeol. Emosi sialan !. Rutukku dalam hati.
"Kau tahu itu tidak sopan kan Byun Baekhyun ?". Aku meringis saat Chanyeol mengucapkan nama lengkapku. Tentu semua orang tahu bahwa dia sedang marah sekarang. Memejamkan mataku erat dan menggigit bibirku saat mendengar bicaranya sangat dingjn ditelingaku kali ini.
"A-aku tahu. Maafkan aku". Lalu kemudian Chanyeol berdiri dan meraih daguku. Menciumku. Memagut kedua belah bibirku. Kedua tanganku merambat memeluk lehernya, ikut menikmati sensasi saat bibir tebal Chanyeol menarik bibir atas dan bawahku bergantian. Mengulumnya dengan sangat lembut, Oh Chanyeol.. Tubuhku terdorong kebelakang saat Chanyeol menghisap dalam-dalam bibirku. Kemudian aku langsung mengais oksigen sebanyak-banyaknya saat Chanyeol melepas pagutannya. Menggesek kedua hidung kami lalu menarik diri. Tapi lenganku masih bertahan memeluknya. Takut-takut jika Chanyeol menjauh dariku barang sesenti pun.
"Aku benci saat kita berdebat"
"Sekali lagi maafkan aku" ucapku lirih, masih bersembunyi dari ketakutanku melihatnya marah.
"Aku hanya meminta Kyungsoo untuk melaporkan padaku jika terjadi sesuatu padamu, bukan menyuruhnya menjadi mata-mata".
Aku mengangguk-angguk mengerti apa yang coba Chanyeol lakukan. Dia meminta Kyungsoo karena khawatir padaku.
"Juga karena aku tidak bisa mengawasimu jika berada disekolah. Maka dari itu aku meminta bantuan kepada Kyungsoo"
"Aku tahu Chanyeol. Terimakasih" Kedua mataku kubawa untuk menatap phoenix itu. Mencoba memberitahunya bahwa aku tulus berterimakasih lewat kedua mataku. Selanjutnya bibir tebalnya tertarik dikedua sisi pipinya. Senyumnya menular padaku. Lalu hening. Wajah tampannya begitu menyita duniaku. Rasanya mataku tidak akan dibiarkan menatap laki-laki lain barang sedetik pun. Jari-jariku bermain di rambut bagian belakangnya.
"Kau berencana untuk kembali menyelesaikan pekerjaanmu ?" Tanyaku. Chanyeol terlihat berpikir sebentar dan menggeleng.
"Well, kau sudah disini. Tidak mungkin pekerjaanku akan selesai" ucapnya.
"Kalau begitu lanjutkan. Aku akan menunggumu sampai selesai"
"Tidak. Lagipula kau lebih menarik dari kertas-kertas itu dan lagi, aku pikir kau ingin mengatakan sesuatu padaku sehingga datang kesini"
"Sebenarnya.. ya" jawabku sambil mengagguk dan Chanyeol kembali duduk di kursinya. Menatapku dari bawah seperti tadi.
"Katakan"
"Apa benar tidak papa ?" Tanyaku sedikit ragu.
"Apa Baekhyun ? Katakan sekarang". Nah, kali ini adalah mutlak. Nada bicara Park Chanyeol yang kembali otoriter dan tidak bisa diajak bergurau.
"Mm.. bisakah kita jalan-jalan sore ini ?" Tanyaku.
"Jalan-jalan ?" Ulang Chanyeol.
"Kumohon...ya ? Aku tebak sudah lama sejak kau pergi bermain-main... ke namsan misalnya ?" Tawarku mencoba membuatnya tertarik.
Walau aku tahu Chanyeol bukan tipikal orang yang akan pergi ke tempat seperti itu. Tapi hei ! Dulu Chanyeol pasti pernah kesana dan dalam waktu yang lama untuk menata karirnya sampai tak sempat untuk sekedar bermain-main. Meskipun aku juga meragukan bahwa bermain-main adalah suatu hal yang Chanyeol suka.
"Seumur hidup aku bahkan belum pernah kesana"
"Apa ?! Ini bahkan lebih buruk. Kita harus benar-benar kesana Chanyeol. Tidak ada orang korea yang belum pernah kesana"
"Kau sedang bercanda ? Bagaimana kau tahu semua orang pernah kesana ?"
"Kau tidak perlu tahu. Sebelum itu, temani aku ke suatu tempat dulu" ucapku sambil turun dari meja dan segera menarik tangan Chanyeol untuk keluar ruangan.
.
.
.
Kami telah berada di salah satu toko baju tidak jauh dari kantor Chanyeol selama kurang lebih 1 jam.
"Ganti Chanyeol"
"Ini adalah baju ke lima Baek"
"Sudah ganti saja Chann"
"Hh oke oke"
Tak lama kemudian Chanyeol keluar dari ruang ganti. Mengenakan kemeja berwarna baby blue dipadukan dengan kaos putih polos dan celana jeans hitam. Lihat, dia terlihat masih seperti anak muda jika berpakaian seperti ini. Keputusanku untuk mengajak Chanyeol kesini tidak salah. Tentu aku tidak ingin pergi ke taman bermain bersama seorang pria bersetelan jas dengan rambut yang memamerkan dahi lebarnya.
"Itu lebih baik. Kau terlihat tampan memakai itu"
"Kau bercanda ? Ini adalah baju pertama yang kau tolak tadi Baek". Aku memiringkan kepalaku mencoba mengingat-ingat.
"Ya, tapi itu terlihat bagus sekarang. Kami mengambil itu" ucapku pada seorang pegawai menemani kami memilih baju daritadi.
"Dan pakai ini" ucapku sambil memberikan sepatu putih yang tadi kuletakkan di samping kursiku. Chanyeol terdiam menatapnya. Aku menghembuskan napas pelan.
"Tentu kau tidak ingin memakai baju itu dengan sepatu hitam mengkilapmu itu kan Tuan Park ?" Ucapku. Lalu kemudian tanpa mengucapkan apa-apa Chanyeol meraih sepatu itu dan memakainya. Aku tersenyum. Kali ini Chanyeol benar-benar terlihat seperti anak remaja.
"Aku berjanji pada diriku ini adalah yang terakhir aku memakai pakaian seperti ini"
"Well, aku tidak akan membiarkannya terjadi" jawabku.
"Kau tahu ini bukan style-ku Baek"
"Lalu apa ? Kau terlihat muda dan tampan saat memakai baju ini Chanyeol"
"Apa kau mencoba mengatakan bahwa selama ini aku tidak tampan ?"
"Aku sedang mencoba mengatakan bahwa kau yang memakai setelan jas adalah Chanyeol yang sangat panas dan ribuan kali tampan" . Aku sedang mengatakan kejujuran saat ini. Chanyeol mengangkat satu alisnya.
"Darimana kau belajar menggombal Tuan Byun ?"
"Aku berkata jujur oke ?. Karena itu aku tidak akan membiarkanmu pergi ke taman bermain bersamaku dengan setelan jasmu itu. Tidak,tidak dengan membiarkan orang-orang menatap lapar padamu"
Chanyeol tertawa setelah itu. Aku mengerucutkan bibirku. Kenapa dia tertawa ? Aku bahkan sedang serius sekarang.
"Selama ini aku bekerja menggunakan jas Baek, dan apa ? Orang-orang menatap lapar padaku ? Kurasa tidak"
"Kau hanya tidak sadar bagaimana tatapan karyawan wanita diperusahaanmu berulang kali menahan diri mereka saat melihatmu. Aku bahkan sempat berpikir menutup mata mereka dengan kain. Ini salah satu caraku menyelamatkanmu dengan memakai pakaian remaja seperti ini"
"Baiklah aku mengerti Tuan Baekhyun" ucapnya sambil mengusak rambutku.
"Chanyeol !"
Aku memperingatinya. Tapi Chanyeol berakhir tertawa dan melenggang pergi ke tempat kasir untuk membayarnya.
.
.
.
"Bukankah kita seperti pasangan remaja ?" Ucapku sambil sesekali menjilat eskrim tumpuk 3 yang berada di tangan kananku.
Sedangkan tangan kiriku berada digenggamannya. Chanyeol tak membiarkannya lepas semenjak kami menginjakkan kaki di Lotte World dengan berdalih bahwa dia tidak ingin mengambil resiko kehilanganku tanpa sadar. Dia pikir aku anak umur 5 tahun apa ?!. Aku membeku begitu saja saat tiba-tiba Chanyeol berdiri didepanku dan menyeka sisa-sisa Ice cream di ujung bibirku.
"Pelan-pelan dear" suara lembutnya mengalun ditelingaku. Membuat desiran halus menyenangkan menggelitik hati.
"A-aku tahu. Aku akan lebih berhati-hati" ucapku sambil mengusap bibirku tidak membiarkan Chanyeol lama-lama menyentuh bibirku. Itu akan berefek buruk untukku mengerti ?.
"Chan ayo naik itu !" Tunjukku pada sebuah ayunan kincir berbentuk lingkaran dengan bangku di luar lingkaran yang bergerak ke atas kebawah dengan kecepatan penuh, Gyro Swing.
"Kau yakin ?" Tanyanya.
Aku mengangguk mantap. Aku akui itu terlihat sedikit menyeramkan tapi kupikir permainan itu menyenangkan.
"Kau tidak memiliki jantung lemah atau semacamnya kan ?" .
Mengeryitkan dahiku.
"Apa ? Tidak tentu saja. Tunggu, apa sebenarnya kau sendiri yang takut ? Ya kan ?" Ucapku sambil menggodanya. Chanyeol takut ketinggian ? Pft !.
"Aku hanya tidak ingin mengambil resiko kau yang kenapa-napa baek"
"Aku tidak akan tertawa jika kau mengakuinya Chan.." Yah.. walaupun aku tidak yakin saat mengucapkan itu. Terlihat Chanyeol mengehela napasnya sebentar dan segera menarik tanganku menuju Gyro Swing.
"Chanyeol kau tidak perlu memaksakan diri jika tidak bisa naik ini" Aku berubah khawatir sekarang. Bagaimana jika benar Chanyeol memiliki phobia ketinggian ?. Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu kepada Chanyeol ?. Chanyeol menolehkan kepalanya kepadaku.
"Berhenti meramal. Aku baik-baik saja"
"Sungguh ?" Tanyaku.
"Tidak jika nanti terjadi sesuatu padamu karena menuruti kepala batumu itu"
"Hei !" Ucapku tak terima.
"Apa ? Kau memang keras kepala"
"Kita buktikan bahwa aku baik-baik saja !"
Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan terlalu percaya diri dan walaupun aku tidak suka mengakuinya bahwa seharusnya aku mendengarkan Chanyeol.
"Ugh... aku tidak tahu akan jadi begini" ucapku setelah minum air minum dan menyerahkannya kembali kepada Chanyeol.
"Sudah kukatakan kan. Tahu begini aku mengaku saja dan kau tidak akan menaiki permainan itu" Chanyeol marah. Tentu saja.
"Chanyeol aku baik-baik saja"
"Ya terus katakan kau baik-baik saja saat kau tidak. Oh ya ampun Baek ! Kau selalu membuatku frustasi ! Aku bersumpah tidak akan membiarkanmu muntah seperti ini".
Aku mengangkat kepalaku untuk menatap maniknya. Chanyeol biarkan phoenixnya menajam dan alisnya bertemu, menatapku tajam. Uratnya disekitar pelipis menjadi sedikit ketara. Aku meraih rahangnya dan mengelusnya. Mencoba berbicara baik-baik. Karena berbicara bukan tentang kedua belah pihak yang sedang tenggelam dalam emosi.
" Hei lihat aku.. aku tidak papa sekarang Chanyeol"
"..." Aku tersenyum maklum. Chanyeol marah karena dia khawatir.
"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi dan mendengarkanmu. Kalaupun aku tidak baik-baik saja selalu ada kau yang disisiku, benar bukan ?" Ucapku sambil mengangkat bahuku.
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu Baek, tidak akan".
Aku berjinjit agar bisa meraih belah bibir tipis karena sedang menahan amarahnya itu. Mengalungkan kedua lenganku dilehernya dan mencium lembut bibirnya. Mencoba membuat amarah Chanyeol segera hilang. Aku tersenyum saat Chanyeol menarik pinggangku dan merasakan lengannya dipunggungku. Mendekapku, membuat kami menikmati saat ini dan tidak berada dibumi sementara waktu. Chanyeol menggigit bibir bawahku dan aku mati-matian untuk tidak melenguh karena ini masih di tempat parkir. Aku memukul dadanya saat pasokan oksigen ke paru-paruku menipis.
"Sebaiknya kita pulang, ini sudah menjelang malam" ucapnya sesekali melihat jam di tangannya. Aku mengangguk.
"Oke"
.
.
.
Kami telah sampai di depan rumahku. Tapi apa yang kulakukan sekarang ?. Berada di dalam mobil diatas pangkuan Chanyeol. Kami tidak akan melakukan ini disini oke ? Chanyeol menarikku kepangkuannya dengan dalih agar dapat menatap wajahku dengan jelas karena aku tidak akan menginap dirumahnya hari ini.
"Bukankah aku harus segera masuk ?"
"Tidak, disini saja. Aku tidak mau mengambil resiko"
"Resiko apa ? Aku dirumahku tentu saja semuanya akan baik-baik saja Chan"
Tapi Chanyeol menggeleng.
"Aku tidak mau mengambil resiko rindu padamu nanti, itu menyusahkan". Gelak tawa terdengar setelah itu. Tawa dariku dan diikuti Chanyeol.
"Aku tidak akan tersipu tuan Park"
"Well itu tidak penting. Kau yang bisa kujangkau dari penglihatanku adalah yang paling penting".
Aku memutar mataku. Tak sengaja ! Chanyeol hanya begitu terdengar chessy saat ini.
"Baekhyun.. aku kehilangan cara bagaimana mengendalikan mata penuh keberanian itu"
"Aku tidak sengaja sungguh"
"Ya, karena itu sudah menjadi kebiasaan burukmu"
"Maaf.." cicitku. Chanyeol mengecup bibirku singkat.
"Ayo, aku antar kau kedalam" Ucap Chanyeol keluar mobil sambil menggendongku.
"Turunkan.."
"Tidak mau"
"Channiee~"
"Astaga oke, aku kalah"
Aku tersenyum penuh kemenangan saat Chanyeol menurunkan aku. Aku sedikit heran sebenarnya saat melihat mobil merah menyala di halaman rumahku.
"Ada tamu ?" Tanya Chanyeol saat kami memasuki rumah. Aku menggeleng.
"Tidak tahu" .
Aku semakin heran saat ruang meja makan terlihat ramai.
"Oh Baekhyun kau sudah pulang ?" Ucap eomma sambil membawa sepiring besar makanan. Dan tentu saja aku melihat banyak makanan juga di meja dan wine.
"Eomma, apa kita memiliki tamu-" ucapanku terpotong saat suara lain menginterupsi.
"Eomma ini ditaruh mana ?" Interupsi suara itu disusul dengan seorang laki-laki berambut coklat dan mengenakan sweater biru pekat.
Rasanya duniaku jatuh dibawah kaki saat melihatnya. Aku sempat oleng tapi tertahan oleh tangan Chanyeol yang memegangi lenganku.
"Baekhyun ?"
"Eomma.. h-hyung" lidahku kelu. Mati rasa. Dia bahkan kakak yang sangat kukagumi tapi kenapa bertemu dengannya sekarang menjadi sangat berbeda.
"Chanyeol kau juga ada disini ?" Tanya eomma.
"Ne" jawab Chanyeol masih berdiri disampingku.
"Baek, ayo duduk dan ajak Chanyeol sekalian makan disini. Jaehyun baru pulang... kami mengadakan makan besar malam ini. Chanyeol, ayo bergabung kau kan sudah lama tidak bertemu dengan Jaehyun kan ?. Baekhyun, ayo ajak Chanyeol"
Aku masih membeku di samping meja makan. Tak satupun ucapan eomma yang bahkan kudengar.
"Baekhyun ?"
"Terimakasih atas undangan makan malamnya Nyonya Byun, tapi dengan sangat menyesal saya tidak bisa. Pekerjaan kantor tidak bisa ditinggal"
"Sudah kukatakan panggil aku eomma saja. Suamiku juga pulang agak telat hari ini karena kantor. Pekerjaan kantor menyebalkan bukan ?".
Chanyeol tertawa, kupikir begitu karena aku mendengar tawanya disampingku.
"Anda benar eomma. Kalau begitu saya pamit pulang. Saya harap memiliki waktu luang agar bisa berkunjung kesini"
"Oh ... baiklah baiklah tentu dan aku akan menbuatkan makanan enak-enak saat kau datang oke ?"
"Terimakasih eomma"
"A-aku akan mengantar Chanyeol kedepan" ucapku saat kembali mendapatkan suaraku. Hyung masih menatapku semenjak mata kami bertemu.
"Jangan lama-lama diluar baekhyun. Udara malam tidak bagus" peringat eomma.
Aku mengangguk dan mulai berjalan keluar rumah.
.
.
.
"Hati-hati" ucapku tidak rela saat kami sudah sampai di mobil Chanyeol. Inginku Chanyeol disini dan menemaniku karena hyung benar-benar pulang sekarang. Aku tersentak saat Chanyeol menarik tubuhku dan memelukku. Aku terdiam lalu menyamankan diriku didalam pelukannya. Menyenderkan kepalaku didada bidangnya. Sudah kukatakan bahwa disisinya adalah yang terbaik ?. Aku sedikit merasa senang saat Chanyeol mengayunkan tubuhku ke kanan dan ke kiri didalam pelukannya.
"Semua akan baik-baik saja, jangan takut oke ? Aku selalu berada disisimu"
"Janji ?" Suaraku teredam didadanya. Chanyeol mendorongku, melepas pelukan kami.
"Aku tidak suka berbohong. Kau bisa membunuhku jika aku mengingkarinya" Ucap Chanyeol menatapku penuh kesungguhan. Aku tersenyum.
"Aku mencintaimu" itu keluar dari bibirku.
"Oh dear.." Chanyeol membawaku pada ciuman hangat yang selalu membuatku terjatuh lebih dalam padanya. Lembut bibirnya saat mengulum kedua belah bibirku selalu membuatku tamak ingin dan menginginkan lagi. Tak lama kemudian pagutan itu terlepas setelah sebelumnya Chanyeol mencium tepi bibirku.
"Telfon aku jika ada apa-apa" aku mengangguk.
"Aku pulang sekarang"
"Hati-hati, aku.. aku merindukanmu" kali ini suaraku benar-benar lirih. Chanyeol tertawa.
"Astaga.. kita bahkan belum berpisah baek" ucapnya sambil memasuki mobil dan telah bersiap untuk mengegas mobilnya.
"Telfon aku" setelah aku mengangguk mobil Chanyeol berjalan keluar halaman rumahku.
"Selamat atas pertunangan kalian" aku terkejut saat tiba-tiba hyung begitu saja muncul di sampingku. Aku menoleh padanya sementara matanya masih menatap mobil Chanyeol sebelum benar-benar menghilang dari jangkauan mata.
"Hyung ?"
"Baek"
"Ya ?" Kenapa aku gugup sekarang ?. Lalu matanya kembali menatap mataku. Mencoba memberitahuku bahwa dia sedang tidak main-main saat ini.
"Chanyeol... dia cinta pertama Hyung"
"Kau mungkin baru mengetahuinya"
"Tapi Chanyeol adalah tunanganku, priaku dan kurasa hyung sudah mengetahuinya"
Akhirnya Mika update juga yuhuu~. Bener-bener disela-selain nulis ditengah-tengah daily exam. Siapa yang baper chanbaek saranghae beberapa hari yg lalu ? mereka yg bilang sini yang teriak/maaf jadi banyak omong/.
At least, jangan lupa review ya. Review adalah faktor terbesar Mika lanjut nulis ini see u next Chap yorobun !!
