Yeah! Yeah! Yeah!

Masih terbawa suasana senang karena sudah selesai UNAS (meski bukan berarti saya sudah bebas dan dipecat dari pekerjaan sebagai PENGACARA alias Pengangguran Banyak Acara). Yah... intinya saya masih sibuk karena memang nature saya sudah getu... *dinuklir* Wkwkwkwk... Mau jadi pengangguran betulan... XDDD

Hmmm... kalo mau tahu, mendekati hari Jumat Agung n Paskah, saya sibuknya di gereja... Bagi yang merayakan, selamat Paskah!

Oh, dan selamat membaca... jangan lupa R&R, ya... ^^


Setelah tiga hari perjalanan panjang itu, akhirnya angkatan perang Wu tiba di Jian Ye. Segeralah sebuah pesta besar diadakan untuk merayakan kemenangan mutlak mereka atas pihak Wei. Istana Xu Chang sekarang sudah menjadi milik mereka. Dengan dimenangkannya satu pertarungan ini, mulai dari tanah netral yang tidak bertuan seperti Shou Chun-Provinsi Yangzhou, dan Ru Nan-Provinsi Yuzhou, sampai ke Xu Chang adalah milik mereka. Tidak heran jika mereka begitu bersukaria sesudah mendapatkan kemenangan tersebut.

Malam itu pesta diadakan begitu meriah. Yang diundang bukan hanya keluarga kaisar saja, tetapi juga seluruh jendral dan pasukan dari pangkat terendah sampai tertinggi. Pesta ini diadakan di luar ruangan, di tengah taman istana Jian Ye yang luas. Sambil mereka bersantap malam, tari-tarian juga ditampilkan di panggung. Tari-tarian itu bertemakan perang, hingga bunyi tabuh-tabuhan sampai memenuhi langit malam. Ratusan penari yang berpakaian jendral berlari dan menyerang malang melintang, gerakannya sungguh lincah. Ada yang membawa bendera kerajaan, ada pula yang membawa pedang dan tombak. Selama tari perang itu berlangsung, tetabuhan berbunyi riuh, sampai tiba-tiba hening, tidak ada suara sedikitpun. Seorang jendral berpakaian emas masuk ke panggung di atas sebuah kuda membawa tombak panjang, diikuti para pasukannya. Singkat cerita, para jendral itu berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Tarian itu diakhiri dengan letusan kembang api di langit, menciptakan berbagai macam warna yang indah dipandang mata.

Para penonton sangat terhibur melihat pertunjukan megah seperti itu. Sun Ce berdiri dan bertepuk tangan, diikuti seluruh penonton. "Luar biasa! Luar biasa!" Kemudian ia memanggil beberapa orang kasim. "Berikan hadiah pada penari-penari berbakat itu!"

Setelah mengucapkan terima kasih, para penari itu keluar dari panggung. Yang lain kembali melanjutkan makan malam mereka. Ada yang bercakap-cakap seorang dengan yang lain, ada pula yang masih membicarakan kehebatan penari-penari itu tadi. Semuanya terlihat sangat bergembira saat pesta itu berlangsung.

Sayang sekali, rupanya tidak semuanya merasakan hal yang sama.

Lu Xun masih mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia tidak ingin makan, tidak ingin minum, bahkan tidak ingin berbicara. Atas usulannya dan penyusunan strateginya itu, seluruh jendral beranggapan bahwa pesta ini diselenggarakan Kaisar Wu khusus untuknya, suatu kehormatan yang sangat besar. Meski demikian, Lu Xun sama sekali tidak merasa terhibur. Apa gunanya memenangkan seribu pertempuran jika memenangkan hati gadis yang disayanginya saja ia tidak mampu?

Selama tari-tarian perang itu ditampilkan, Lu Xun bukan hanya tidak menikmati, tetapi juga merasa berisik sekali. Harus ia akui memang penari-penari itu sangat berbakat, tetapi sekarang moodnya tidak untuk berpesta seperti itu. Tetabuhan itu membuat telinganya sakit. Pesta tanpa Yangmei seperti bukan pesta saja rasanya. Di tengah kerumunan orang banyak itu, justru Lu Xun merasa sangat kesepian tanpa kehadiran gadis yang disayanginya itu. Setelah tari-tarian itu selesai, Lu Xun hanya menyendiri saja, sampai seseorang menepuk bahunya dari belakang.

"Selamat, Lu Xun." Lu Xun menoleh, ternyata orang itu adalah Zhou Yu. "Untung saja kau mengajukan usul untuk menyerang Xu Chang."

Lu Xun memaksakan seulas senyum tipis sambil membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih atas pujian Penasihat Zhou. Sungguh aku tidak pantas menerimanya."

Zhou Yu duduk di sebelahnya. "Yangzhou dan Yuzhou terletak di luar sungai Chang Jiang, begitu juga istana Xu Chang, susah sekali untuk melindunginya kalau-kalau Wei ingin merebutnya kembali. Apa kau punya akal untuk menjaganya?"

Entah itu adalah sebuah pertanyaan sungguh-sungguh atau untuk menguji kemampuannya, yang jelas Lu Xun sedang tidak ingin diajak bicara soal strategi sekarang. Otaknya yang biasanya penuh akal dan siasat sekarang buntu, yang ada hanya Yangmei dan Yangmei saja, tidak ada yang lain. Akhirnya, daripada berdebat panjang lebar dengan gurunya itu, Lu Xun malah menjawab merendah saja. "Sungguh aku sama sekali tidak berpikir sampai ke sana. Seharusnya hal ini kupikirkan dahulu sebelum memutuskan untuk menyerang Xu Chang. Penasihat Zhou, anda telah membuka pikiranku!"

Zhou Yu merasa ada yang tidak beres dengan Lu Xun. Sebagai seorang penasihat dan ahli strategi yang bisa menebak orang lain, tentulah Zhou Yu tahu apa yang ada dalam pikiran Lu Xun. Ia menghela nafas panjang, kemudian bergumam pelan. "Bahkan laki-laki yang bisa memenangkan pertempuran luar biasa pun bisa kalah oleh seorang gadis." Tentu saja ini membuat Lu Xun terkejut bukan buatan.

Pada saat yang sama, Sun Ce menghampiri kedua orang itu dengan wajah sumringah. Kelihatan sekali ia benar-benar bersukacita atas kemenangannya kali ini. "Hei!" Ia menyapa keduanya. "Apa kalian hanya bisa duduk diam sambil membicarakan strategi terus? Sekarang kita sudah menang! Sudah saatnya kita semua bersenang-senang!"

Keduanya berdiri, kemudian memberi hormat pada Sun Ce. "Yang Mulai Kaisar!"

Sun Ce memandang keduanya dengan perasaan heran, kemudian ia tertawa. "Zhou Yu, sudah kubilang kau tidak perlu panggil 'Yang Mulia' segala! Dan kau juga, Lu Xun..." Saat memandang Lu Xun, tahulan Sun Ce bahwa Lu Xun saat ini sedang tidak bisa menikmati pesta ini, padahal pesta ini memang dikhususkan untuknya. Sun Ce yang tadinya tertawa kegirangan sekarang menunjukkan ekspresi sedih juga. "Mengenai Meimei, kan? Memang anak itu benar-benar keras kepala. Sudah dibilang jangan menggunakan kekuatannya itu, akhirnya malah ia tunjukkan pada seluruh dunia."

"Mungkin memang benar, Kaisar." Lu Xun mengangguk lemah. "Tetapi yang saya sesali bukan itu, melainkan diri saya sendiri. Saya gagal mengontrol emosi saya sendiri, sampai membuat perasaan Meimei terluka." Ia berkata penuh penyesalan.

"Tidak! Tidak! Sama sekali bukan salahmu!" Sun Ce menjawab. "Justru ini semua salahku yang selalu memanjakannya dan tidak pernah mengajarkan apapun padanya, sampai kau kerepotan begini. Inilah yang namanya yang bu jiao, fu zhi guo–Memberi makan tanpa mengajar, itu kesalahan seorang ayah." Dia terdiam beberapa saat. Lu Xun juga tidak berani mengatakan apa-apa, begitu juga Zhou Yu. Pada akhirnya lagi-lagi Sun Ce berusaha mencairkan kembali suasana. "Sudahlah, Lu Xun! Hal seperti itu jangan dipikirkan lagi! Nanti dia pasti akan sadar sendiri! Sekarang bersenang-senanglah! Pesta ini untukmu!"

Sayangnya, Lu Xun sudah tidak bisa lagi membendung perasaannya. Tiba-tiba ia berdiri dari kursinya dan bersoja di depan Sun Ce dan Zhou Yu. "Kaisar, Penasihat Zhou, maafkan saya yang tidak tahu aturan ini, tetapi saya benar-benar ingin menemui Yangmei."

Sebelum Lu Xun berbalik untuk meninggalkan tempat, Zhou Yu menarik tangannya. "Bagaimana bisa sebuah pesta tetap berjalan kalau tamu kehormatannya tidak ada? Pesta ini kan untuk menyelamatimu?"

Lu Xun tersenyum. Tidak ada satupun sekarang yang dapat mengubah keputusannya. "Terima kasih, Penasihat Zhou, tetapi kemenangan ini sama sekali bukan usaha saya sendiri. Semua jendral dan pasukan yang berpartisipasi adalah tamu kehormatan di pesta ini." Ia melepaskan tangannya dengan mudah, kemudian berbalik dan meninggalkan pesta itu.

Biasanya Yangmei akan menyendiri di kolam angsa dan duduk di atas sebuah cabang pohon Yangmei kalau ia sedang kesal. Tetapi, dengan banyaknya orang di halaman istana itu, satu-satunya tempat yang mungkin ditujunya adalah kamarnya sendiri. Satu-satunya hal yang ia tahu jika seorang gadis sedang marah adalah mengunci diri di kamar, mogok makan, dan bunuh diri. Sekarang Yangmei sudah mengunci diri dan mogok makan, maka yang kurang hanyalah bunuh diri saja, dan Lu Xun tidak ingin sampai ia melakukannya.

Saat sampai ke istana utama, Lu Xun segera berbalik dan berlari di sepanjang koridor panjang itu ke arah kamar Yangmei. Di sana ia melihat sosok Permaisuri yang berdiri di depan pintu dan berusaha berbicara pada putrinya yang sangat keras kepala itu. Saat mendengar langkah seseorang, Da Qiao menoleh dan menemukan Lu Xun. Matanya langsung bersinar oleh harapan, dan ia segera menghampiri Lu Xun.

"Lu Xun?" Panggilnya. "Kukira kamu sedang berpesta. Bukankah pesta itu sengaja diadakan untukmu?"

Lu Xun menggeleng. "Permaisuri, mana bisa saya bersenang senang di pesta sementara Meimei sedang bersedih sekarang? Pesta apapun tidak terasa seperti pesta lagi kalau tidak ada Meimei. Sebaliknya, hari yang biasa-biasa saja rasanya seperti pesta kalau ada Meimei." Katanya tulus.

Da Qiao tersenyum mendengar pernyataan Lu Xun yang begitu gamblang tetapi jujur itu. "Meimei memang harusnya bersyukur jika menemukan laki-laki yang pengertian sepertimu. Kaisar dan Putri Sun Shang Xiang sudah menceritakan masalahnya padaku, dan aku rasa Meimei benar-benar sudah keterlaluan kali ini. Ini semua karena aku terlalu memanjakannya." Permaisuri mengeluh. "Mungkin aku memang salah mendidiknya."

Lu Xun tersenyum sedih. "Permaisuri jangan berkata begitu." Ia menghibur. "Sekarang saya akan coba bicara padanya." Da Qiao mengangguk setuju. Lu Xun mulai berdiri menghadap pintu yang dikunci dari dalam itu, menarik nafas dalam-dalam kemudian mengetuknya pelan-pelan. "Meimei," Ia memanggil dengan suara lembut. "Keluarlah. Untuk apa kamu mengurung diri seperti ini?"

Untuk sesaat, Lu Xun tidak mendengar jawaban apapun, sampai akhirnya terdengar suara dari dalam. "Untuk apa juga kamu di sini? Pergi saja berpesta dengan yang lain! Jangan pedulikan aku!"

Mendengar jawaban mengecewakan seperti itu, Lu Xun hanya bisa mendesah dan permaisuri menggelengkan kepala. Lagi-lagi Lu Xun berbicara di balik pintu itu. "Kalau kamu tidak mau keluar, aku juga tidak akan mau kembali ke pesta. Aku akan menunggumu di sini."

Kali ini benar-benar hening, tidak ada jawaban apapun. Lu Xun menoleh pada Da Qiao, kemudian memberi hormat pada sang permaisuri. "Permaisuri, jika anda mengizinkan, saya akan menunggu Meimei di sini. Silahkan anda kembali ke pesta. Kaisar pasti sedang menunggu anda."

Sebenarnya Da Qiao ingin menolak, namun menyadari bahwa mungkin hanya Lu Xun-lah satu-satunya yang dapat membujuk Yangmei, akhirnya ia setuju juga. Permaisuri kemudian beranjak dari tempat itu dan berjalan meyusuri koridor untuk kembali ke pesta.

Sementara itu, Lu Xun berdiri bersandar pada dinding kamar Yangmei. Ia berkata lagi, berharap Yangmei masih mendengarnya. "Aku akan menunggumu, asal tidak lebih dari besok pagi." Katanya dengan nada sedikit mengancam. Karena kalau lebih dari besok pagi, aku akan mendobrak pintu sangking khawatirnya aku... Lanjutnya dalam hati, tetapi tidak dikeluarkannya dari mulutnya.

Lagi-lagi ia tidak mendapatkan jawaban apapun. Sampai beberapa menit berlalu, kakinya mulai lelah, dan ia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai, kemudian duduk berpeluk lutut, bersandar pada tembok. Benar-benar ia akan menanti Yangmei keluar sampai besok pagi, meskipun semakin malam udara semakin dingin saja. Dari kejauhan ia masih melihat kembang api yang diletuskan saat pesta, dan juga masih terdengar suara tawa dari orang-orang di pesta itu. Lu Xun menghela nafas panjang. Baginya lebih baik sendirian daripada berada di sebuah pesta tanpa Yangmei.

Beberapa jam berlalu tanpa ada perubahan apapun. Pintu masih tetap dikunci dan keadaan masih hening. Sementara itu, pesta sudah hampir usai. Dari kejauhan Lu Xun dapat melihat orang-orang bubar, kemudian meninggalkan taman istana. Kelopak matanya mulai terasa berat karena mengantuk. Ia semakin erat memeluk kakinya untuk melindunginya dari udara dingin, kemudian membenamkan wajahnya ke kedua lututnya. Matanya mulai tertutup dan meskipun ia terus mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak tertidur, ia akhirnya tidak bisa menahan kantuk lagi.

Entah sudah berapa menit atau mungkin berapa jam, seseorang menepuk bahunya. Masih setengah bangun setengah tidur, Lu Xun mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang membangunkannya. Saat matanya bertemu dengan mata violet Zhou Ying, ia hampir meloncat sangking terkejutnya. "Zhou Ying?"

Zhou Ying meletakkan satu jari di bibirnya, mengisyaratkannya untuk diam, kemudian ia pun duduk berlutut di sebelah Lu Xun, tentu saja menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengannya. Setelah mendapatkan posisi yang tepat, barulah Zhou Ying mulai berbicara dengan suara berbisik agar tidak terdengar. "Hari ini kau terlihat tidak bersemangat sama sekali. Di pesta pun aku tidak melihatmu. Rupanya kau ada di sini." Katanya, kemudian ia menatap pintu kamar Yangmei yang terkunci rapat-rapat. "Tadi ayah sudah menceritakan semuanya padaku."

Lu Xun menatap gadis cantik di hadapannya itu beberapa saat. Ia menjawab dengan suara sama pelannya. "Aku benar-benar bingung, Zhou Ying. Kenapa aku bisa begitu bodoh sampai marah padanya? Padahal aku sama sekali tidak ingin marah, aku hanya khawatir. Itu saja. Yang membuatku kesal adalah kenapa ia bisa sampai menyembuhkanku?"

Gadis itu memberikan senyum simpati padanya. "Kau seperti tidak mengerti Yangmei saja. Apa kau tahu kenapa Yangmei sampai menyembuhkanmu?"

"Karena dia ingin pamer." Jawab Lu Xun.

"Tidak begitu." Ujar Zhou Ying. "Mungkin kau kira dia memang ingin pamer, tetapi sebenarnya dia sedang ingin kau memperhatikannya. Berdasarkan apa yang diceritakan ayahku, aku sudah tahu kenapa dia sampai melakukan kesalahan sefatal itu." Ia mulai menjelaskan. "Yangmei itu orangnya sangat cemburuan. Jangankan manusia, pada burung dan bunga saja ia bisa cemburu. Apalagi seorang Bibi Shang Xiang."

Lu Xun benar-benar terkejut sekali. Selama ini ia hanya mengira Yangmei sedang bicara ngawur untuk membuatnya kesal saja. Tetapi ternyata gadis itu benar-benar cemburu! "Ya Tian! Mana bisa begitu? Yangmei sampai mengira aku benar-benar suka pada Putri Sun Shang Xiang? Kenapa bisa sampai seperti itu?"

Zhou Ying mengangkat bahu. "Kenapa kau tidak bertanya juga kenapa dia bisa sampai mengira kau suka pada burung dan bunga? Ingat, seorang gadis yang sedang cemburu itu bisa membahayakan dirinya sendiri."

"Ini benar-benar tidak masuk akal." Lu Xun benar-benar pusing tujuh keliling rasanya. "Apa dia benar-benar tidak sadar selama ini aku sayang sekali padanya? Kenapa dia bisa sampai berpikiran seperti itu? Di dunia ini, entah burung, bunga, atau manusia, bahkan dewi seperti apapun tidak ada yang bisa menggatikan posisinya! Apa dia sebegitu keras kepalanya sampai tidak bisa mengerti perasaanku?"

Tanpa Lu Xun sadari, sebenarnya kata-kata itu telah melukai gadis di depannya. Sebenarnya, jika boleh dipikir-pikir, bukan hanya Yangmei yang tidak peka, tetapi Lu Xun juga. Yang ada di hatinya hanya Yangmei seorang, sehingga gadis lain tidak ia pandang sama sekali. Zhou Ying berusaha menahan sakit hatinya. Ia tahu ia tidak lebih dari sekedar adik kecil bagi Lu Xun. Kalau ia sekarang harus menghibur Lu Xun lagi, ia tidak mungkin sanggup, apalagi mendengar Lu Xun begitu mencintai Yangmei.

"Kalau dia tidak mencintaimu, mana mungkin dia sampai cemburu begitu?" Tanyanya. Sebenarnya, mungkin kata-kata itu juga tepat untuk mengekspresikan perasaannya. Harus diakui bahwa ia sangat cemburu melihat Lu Xun yang begitu sayang pada Yangmei, tetapi kelihatannya jika ia dan Yangmei harus bersaing, ia tahu ia akan kalah.

Lu Xun sama sekali tidak tahu apa-apa tentang perasaan Zhou Ying. Ia berbalik menatap Zhou Ying dan tersenyum padanya. "Kau benar, Zhou Ying. Terima kasih telah menyadarkanku."

Zhou Ying mengangguk mengerti, kemudian berdiri. "Sudah malam, Lu Xun. Maaf, aku harus kembali." Katanya sambil memberikan sebuah senyuman penuh arti pada Lu Xun, kemudian ia segera meninggalkan tempat itu. Mulanya dengan langkah biasa, tetapi semakin jauh ia semakin berlari kencang. Lu Xun heran melihatnya, tetapi tidak begitu mempermasalahkannya.

Angin yang bertiup di tengah malam sebentar mengeras, sebentar melembut. Udara dingin membuat Lu Xun akhirnya tertidur lagi. Matanya perlahan tertutup, sampai yang terlihat olehnya hanya tinggal kegelapan saja.

--

Pagi itu matahari terbit menghangatkan dinginnya udara malam. Yangmei membuka pintu kamarnya perlahan-lahan, bukan karena ia ingin diam-diam keluar, tetapi karena tubuhnya yang letih karena semalaman tidak tidur. Di tangannya ia memegang berlembar-lembar kertas, juga seikat rambut panjangnya yang berwarna perak. Dengan hati-hati ia menggenggam pegangan pintu supaya barang bawaannya itu tidak jatuh dari tangannya, kemudian keluar dari kamarnya.

Alangkah kagetnya ia ketika ia melihat Lu Xun ternyata ada di sebelah pintunya, duduk memeluk lutut, bersandar pada dinding. Sangking kagetnya, semua kertas yang dibawanya, juga seikat rambut itu jatuh di atas kepala Lu Xun. "Ya Tian!"

Lu Xun langsung terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka lebar saat ia melihat di depannya ada hujan kertas dan rambut berwarna perak. Sebelum kesadarannya benar-benar pulih, ia sudah lebih dahulu memunguti barang-barang itu. "M-maaf!" Sementara tangannya sibuk mengambil barang itu, Yangmei juga ikut berlutut dan memungut kertas-kertas yang berjatuhan itu.

Di bawah sinar matahari yang menimpa lantai koridor itu, Lu Xun menatap helaian-helaian berwarna perak yang berkilauan terkena cahaya matahari. Saat itulah kesadarannya pulih seluruhnya. Semalaman ia menunggu Yangmei agar keluar dari kamarnya, dan pagi hari ini ia melihat rambut peraknya itu berserakan di lantai, entah apa yang terjadi. Lu Xun mengangkat kepalanya sesaat sesudah ia memungut sehelai rambut perak itu, kemudian matanya menatap Yangmei dalam-dalam.

"Meimei..." Lu Xun menatap tidak percaya, sementara Yangmei hanya menunduk saja tanpa bicara apa-apa. "Kenapa rambutmu?"

Di depan matanya terlihat sosok Yangmei yang menunduk takut-takut. Tubuhnya gemetar, entah kenapa. Rambut peraknya yang panjang indah itu sekarang sudah dipotong, hingga panjangnya tidak lebih dari bahunya sekarang. Apa yang tersisa dari rambut panjang itu hanyalah dua untai kepangan rambut tipis di bagian belakang rambutnya, panjang ke bawah sampai ke pinggangnya. Lu Xun tidak dapat bicara apa-apa, lidahnya kelu melihat Yangmei seperti itu. "Meimei... apa yang terjadi denganmu?"

Gadis itu menolak untuk menjawab. Kertas-kertas di tangannya itu didekapkan erat-erat ke dadanya, matanya menatap lantai dibawahnya. Lu Xun menatap gadis itu lekat-lekat, kemudian meletakkan tangannya di bawah dagu Yangmei. Dengan lemah lembut diangkatnya wajah gadis itu sampai mata mereka bertemu. Wajah Yangmei saat itu benar-benar kacau. Matanya merah karena menangis, dan dibawahnya terdapat garis lengkung berwarna hitam karena semalam tidar tidur. Sebelum Lu Xun dapat berkata apapun, Yangmei telah terlebih dahulu menyodorkan tangannya, menyerahkan selembar kertas dari sekian banyaknya kertas yang tadinya ia bawa. Lu Xun menerimanya. Saat tangan mereka bersentuhan, Lu Xun merasakan tangan gadis itu gemetar.

Tanpa mengatakan apapun, Lu Xun membaca tulisan di atas kertas itu. Huruf-huruf yang tertulis sungguh hampir tak dapat dibaca, seperti tulisan cakar ayam saja. Ia bergumam, membacakan tulisan yang terletak paling atas, 'Da Xue'. Saat membaca kelanjutan tulisan di kertas itu, sadarlah ia apa yang telah dilakukan Yangmei semalaman. Diambilnya selembar kertas lain, rupanya tulisannya sama persis, begitu juga dengan kertas yang lainnya. Rasa penasarannya itu tidak dapat dibendungnya lagi. "Meimei? Apa kamu yang menulis semua ini? Kenapa?"

Air mata yang tertahan di sudut mata Yangmei akhirnya mengalir desar membasahi wajahnya. Tangisnya pecah saat itu juga, sambil dengan sesenggukan dia menjawab pertanyaan Lu Xun. "Iya, aku yang menulisnya. Intisari teks 'Pelajaran Besar' itu semua kusalin seratus kali semalaman." Desahnya lemah. Sekarang mengertilah Lu Xun mengapa tangan Yangmei bergetar seperti itu. Rupanya semalaman penuh ia menulis sampai tangannya pegal dan gemetaran seperti itu. "Kan pernah suatu kali kamu menghukumku menulis intisari Teks 'Pelajaran Besar' ini sampai sepuluh kali. Aku nakal sekali waktu itu, jadi kusuruh Zhou Ying yang membantuku menuliskannya."

Ia menghapus airmatanya. Setelah mengambil nafas dalam-dalam dan berusaha mengatur bicaranya, ia melanjutkan. "Waktu itu kesalahanku masih tidak ada apa-apanya dibandingkan kesalahanku sekarang. Kamu hanya menyuruhku menyalin intisari teks ini sepuluh kali saja. Sekarang ini kesalahanku benar-benar gawat sekali. Jadi, untuk menghukum diriku sendiri, aku menyalin teks ini semalaman sampai seratus kali." Kemudian ia memegang ujung rambutnya yang sekarang sangat pendek itu. "Aku juga memotong rambutku. Orang bilang jika seorang putri berbuat salah, kepalanya harus dibotak dan menjadi biksuni. Aku takut sekali kalau kepalaku harus dibotak dan menjadi biksuni. Makanya aku potong saja sampai ke bahuku. Aku memang tidak tahu adat sama sekali, tapi aku kan sudah menghukum diriku sendiri dan menyesali perbuatanku. Kamu jangan marah lagi, ya..."

Permohonan maaf yang tulus itu benar-benar menyentuh hati Lu Xun. Tanpa menunggu Yangmei menyelesaikan kata-katanya, Lu Xun menarik gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat. Tanpa disadari ia pun ikut menangis. "Ya Tian! Mana mungkin aku sampai menyuruhmu membotaki kepalamu dan menjadi biksuni?! Kamu tidak salah! Aku yang salah! Aku yang tidak tahu adat! Ini semua salahku! Meimei, kenapa kau sampai melakukan ini? Aku tidak pernah akan menghukummu! Sungguh!" Kepalanya ia benamkan di rambut Yangmei yang sudah pendek, namun tetap lembut seperti biasanya. "Bodoh. Aku benar-benar bodoh tidak bisa mengatur mulutku sendiri! Seandainya aku lebih berhati-hati bicara..."

Perlahan Yangmei melingkarkan tangannya ke leher Lu Xun, kemudian kepalanya ia sandarkan di dadanya. Ia masih tetap menangis, tetapi kali ini bukan tangis penyesalan. "Jadi, kamu sudah tidak marah lagi, kan?" Tanya Yangmei dengan suara pelan.

Lu Xun melepaskan pelukannya, kemudian memandang wajah Yangmei yang basah karena airmata, tetapi setidaknya ada senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Ia menyapukan rambut depan Yangmei, kemudian diselipkannya di belakang telinganya. "Aku tidak marah padamu, Yangmei. Sungguh aku tidak marah. Aku hanya sangat khawatir kalau sampai orang-orang Wei itu tahu kau punya kekuatan Huang, nantinya bagaimana kalau mereka juga memperlakukanmu seperti mereka memperlakukanku dulu? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk menimpamu? Aku bisa mati sangking khawatirnya!" Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Meimei, kalau sampai hal seperti itu terjadi padamu, aku yang akan melindungimu."

Yangmei menanggukan kepalanya. "Aku tidak takut kalau sampai orang-orang Wei itu juga mau menangkapku. Aku yakin kamu pasti akan menolongku." Senyumnya mengembang lebar. "Waktu itu hal seperti itu menimpamu, pasti karena kamu ingin memikulnya sendiri. Sekarang kita berdua kan selalu bersama dan saling menolong, pasti semua akan baik-baik saja!" Katanya optimis. "Kalau yang satu susah, yang lain juga akan susah. Kalau yang satu senang, yang lain juga akan senang!"

Mau tidak mau Lu Xun akhirnya juga tersenyum mendengar perkataan Yangmei. Ia membelai rambut Yangmei lembut, sementara Yangmei sendiri lagi-lagi menjatuhkan dirinya dalam pelukan Lu Xun. Di antara lembaran-lembaran kertas yang beterbangan, helaian-helaian rambut perak yang berjatuhan, dan cahaya matahari yang semakin tinggi di langit, sepasang kekasih itu berpelukan hangat, sampai berapa lama mereka seperti itu, mereka tidak tahu. Yang pasti, dunia saat itu serasa hanya milik mereka saja, yang lain cuma mengontrak!


Nah... that's all... (saya menyadari chapter ini sangat lebay romatisnya, plus angsty banget...)

Yah... memang tari-tarian zaman dulu itu memang ada yang temanya perang getu... (meski ada juga yang tariannya bertemakan alam, kecantikan cewe2, dsb). Zaman dulu mah kagak ada tari balet, jazz, kapuera, apalagi dangdut! *dinuklir* Trus, tempat pesta ini ya diadakan di taman di Jian Ye, yang fotonya sudah pernah aku masukkin di note FBku... AWAS KALO MASIH BELUM LIAT *mengeluarkan sebuah lighter besar yang masih fresh from the pabrik*

Trus, yang tetang motong rambut buat jadi biksuni itu BENAR. Zaman dulu emang ada aturan kayak getu... jadi kalo kesalahannya emang sudah berat nan fatal, hukumannya sudah bukan dikurung di Kamar Gelap lagi, tapi dibotak kepalanya dan harus jadi biksuni. Dengan kata lain juga, TIDAK boleh MENIKAH. Nah, yang ditakutkan Yangmei (plus Lu Xun) ya yang tidak boleh menikah itu...

Dan akhirnya, Yangmei potong rambut dengan style PETAL!!! XDDDDDD... *dilempari piao sama Yangmei*

BTW, bagi yang pengen ngelihat modelnya Yangmei yang baru (maksudnya yang sudah potong rambut), sudah saya masukkin di FB dan saya sudah tag di album saya... Kalo mau silahkan liat...

Dan secuplik chap berikutnya...

Maka dengan penuh rasa penasaran dan juga sangat sopan Lu Xun bertanya. "Sebelum saya keluar, Yang Mulia, saya mohon bertanya! Mengapa ada kalender di bawah meja? Jika tidak terlalu lancang bagi saya untuk tahu, bisakah Anda memberitahukannya pada saya? Barangkali jika diskusi Anda menemui jalan buntu, saya dapat membantu meskipun sedikit."

Sekali lagi keempat orang dewasa itu berpandang-pandangan lagi sambil berbisik-bisik. Lu Xun jelas saja semakin curiga melihatnya. Sampai pada akhirnya mereka mengangguk satu sama lain dan Sun Ce-lah yang berbicara untuk mereka. "Kau memang benar-benar tahu segalannya, Lu Xun. sepertinya kami tidak bisa menyembunyikan apapun darimu." Kata Sun Ce sambil mangut-mangut. "Sebenarnya kalender ini kami gunakan untuk menjadi bahan bantuan diskusi kami."

Lu Xun mengangguk mengerti, kemudian bertanya lagi. "Tadi Penasihat Zhou berkata Anda sekalian sedang membahas usaha perluasan negara Wu. Apakah Anda sekarang sedang menjadwalkan penyerangan berikutnya terhadap negara Wei atau Shu?"

Penasaran? Mau tahu apa yang terjadi? *promosi mode ON* Silahkan saksikan Senin depan! ^^