TIME
.
Arlian Lee
.
Jung Taekwoon / Lee Jaehwan
..and many more...
.
Disclaimer: Chara's are not mine, this is pure fanfiction, Alternative universe, Out Of Character
.
Genre's: Angst, romance, hurt, drama
.
Pair : LeKen slight! Others.
.
Please don't! Blame, Bash, Plagiarize and other bad things
.
.
.
Chapter 24
.
Waktu berjalan sebagaimana mestinya. Sudah sekitar empat bulan waktu dilalui bersama di keluarga Kim. Ah, mulai sekarang jangan menyebut keluarga kecil Jaehwan sebagai keluarga Kim. Melainkan Keluarga Jung. Sejak kembalinya kepercayaan terhadap Taekwoon, lelaki bermarga Jung itu mengajak Jaehwan untuk tinggal bersama secara terpisah dari Sungkyu
Awalnya Jaehwan menolak karena kehamilannya yang semakin besar. Namun ia bisa apa jika mengetahui kenyataan bahwa Sungkyu sendiri juga hamil dan kesulitan mengurus dirinya sendiri.
Lalu hidup Taekwoon menjadi semakin baik lagi setelah bekerja ke perusahaan Tuan Kim. Bukan jabatan tinggi memang, namun sebagai manajer pemasaran membuat perusahaan itu bangga. Dalam waktu tiga bulan ia membuktikan bahwa kualitasnya tak perlu diragukan. Taekwoon bukan sembarangan orang. Dengan kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya, laba perusahaan itu meningkat untuk tiga bulan pertama dalam tahun baru.
Dan hidup Taekwoon bersama Jaehwan adalah hidup yang paling bahagia bagi mereka.
"Hyung! Taekwoon hyung!" Terikan keras Jaehwan menggema di penjuru apartemen. Entah mengapa perutnya terasa sakit sekali dan ia juga melihat ada air yang keluar dari selangkangannya.
Taekwoon yang sedang membuat susu itu pun segera berlari di kamar.
"Astaga! Jae!"
"Hyung!"
Taekwoon lantas memeluk Jaehwan dan membawanya naik ke atas ranjang. Setelahnya ia menelpon dokter agar Jaehwan tak semakin kesakitan. Namun melihat keadaan Jaehwan yang demikian sakitnya, Taekwoon memutuskan untuk membawa Jaehwan ke rumah sakit saja.
Sesampainya di rumah sakit, Taekwoon segera memanggil perawat untuk merawat Jaehwan yang meringis kesakitan. Selama perjalanan, Jaehwan mengeluh perutnya sakit dan air keluar dari selangkangan. Taekwoon menduga bahwa Jaehwan akan segera melahirkan.
Sekitar lima belas menit berselang, dokter datang menemui Taekwoon.
"Bagaimana dok?"
"Kami meminta ijin untuk segera melakukan operasi. Sebentar lagi dia akan melahirkan."
Taekwoon terkejut dan untungnya otaknya mampu berpikir dengan baik. Lantas anggukan berulang dan menuntut itu muncul sebagai jawaban. Sang dokter pun tersenyum kemudian pamit untuk menangani Jaehwan dengan cepat. Meninggalkan Taekwoon yang berada dalam kegundahan dan rasa takut.
Ia pun lekas menghubungi keluarga lainnya. Tak butuh waktu lama Sungkyu, Woohyun dan Tuan Kim juga datang ke rumah sakit. Mereka harap-harap cemas dengan kabar yang disampaikan oleh Taekwoon sebelumnya.
Tuan Kim pun langsung memeluk tubuh Taekwoon. Ada bisik menenangkan yang keluar dari lelaki paru baya itu.
"Kita sama-sama berdo'a semoga Jaehwan baik-baik saja."
"Tapi ini masih bulan ke delapan. Kenapa Jaehwan sudah mau melahirkan?" Tanya Sungkyu bingung. "Apa kandungannya lemah, atau..."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Gyu.."
"Ya, aku hanya khawatir! Semoga Jaehwan baik-baik saja."
Mereka pun mengangguk. Taekwoon memejam dengan do'a yang terus menguar dari bibir tipisnya. Ia benar-benar takut jika terjadi yang buruk kepada Jaehwan.
Semoga Tuhan melindungi Jaehwan dan bayinya di dalam.
.
.
.
"Uweeekkkkk... uweekkkkk... uweekkkk..."
Tangisan suara malaikat kecil menggema dari dalam ruang operasi itu. Taekwoon terdiam mematung dengan lelehan air hangat yang tiba-tiba meluncur deras. Buah hatinya telah hadir di dunia. Buah hatinya telah menghirup kehidupan baru. Buah hatinya telah mengurangi pesakitan Jaehwan.
Saat akan berlari menuju ruangan Jaehwan, seorang perawat menahannya. Ia memberi tahu Taekwoon bahwa kondisi Jaehwan masih buruk pasca operasi. Jaehwan butuh istirahat. Namun perawat mempersilahkan Taekwoon untuk bisa melihat buah hatinya yang sedang ditangani oleh perawat lainnya. Taekwoon pun menurut. Ia mengikuti perawat itu guna menunggu jabang bayi selesai dibersihkan.
Jika saja Jaehwan tak mengalami operasi, ia pasti akan menggenggam terus tangan Jaehwan tanpa ada keinginan untuk lepas.
Lalu air mata Taekwoon kembali turun dengan derasnya manakala mata musang itu menangkap sosok mungil dalam dekapan perawat. Bayi laki-laki mungil dengan gerak lucu. Taekwoon tak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaannya. Ia bahagia sekali melihatnya. Bayi itu, bayi itu adalah anaknya kan? Benar kan? Segera ia mendekatinya dan berniat untuk menggendong.
"Saya akan menaruh di inkubator dulu. Keadaannya cukup lemah. Anda bisa melihatnya dari luar inkubator."
Taekwoon mengangguk. Ia pun hanya memperhatikan bayinya dari luar inkubator. Rasanya masih belum percaya jika dirinya saat ini adalah seorang ayah. Benarkah ini? Sungguh? Taekwoon bagaikan bangun di surga dengan sejuta kebahagiaan yang menyertai.
Sampai-sampai ia tak sadar jika Sungkyu dan Tuan Kim berada di sampingnya untuk melihat bayi mungil itu.
"Eomonaa.. Dia tampan sekali, Taek! Liatlah wajahnya mirip denganmu. Bibir tipis dan hidung mancung. Anak kalian benar-benar tampan. Selamat yaa.." Tukas Sungkyu senang namun dengan sepelan mungkin agar tak mengganggu.
Tuan Kim mengangguk setuju. Ia senang melihat bayi itu. Walaupun masih lemah sepertinya bayi laki-laki itu sehat.
"Ajusshi bahagia sekali melihat bayi kalian. Sekarang lebih baik kita keluar. Bayi kalian butuh istirahat."
"Ah, ayo."
Dan Taekwoon mengikuti Tuan Kim juga Sungkyu yang keluar dari ruang khusus itu. Memang benar, lebih baik ia meninggalkan dulu si kecil sampai keadaannya jadi lebih normal lagi. Taekwoon tak tahu harus mengucap syukur seperti apa lagi. Yang jelas ia senang sekali. Sangat senang. Ini adalah kebahagiaan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Kebahagiaan yang sempurna setelah ia bisa kembali dalam pelukan Jaehwan.
"Terima kasih, Lee Jaehwan! Terima kasih! Aku mencintaimu."
.
.
.
Ini kali pertama Taekwoon menggendongnya. Tangan Taekwoon seolah bergetar saat bayi mungil itu berada dalam dekapannya. Seiring dengan sentuhan kulit keduanya, Taekwoon tak berhenti meneteskan air mata haru. Kecupannya pun memburu di kening di bayi mungil yang tengah memejamkan mata.
Semuanya terasa begitu lengkap. Hidupnya lengkap dengan kehadiran bayi mungil yang masih bernama itu. Lekas ia menoleh pada Jaehwan yang tersenyum melihatnya. Taekwoon mendekat dengan si mungil di tangan.
Jaehwan mengusap lengan Taekwoon.
"Kita belum menamainya." Ucap Taekwoon dengan titik air yang masih turun dengan penuh kebahagiaan.
Menyaksikan air mata yang turun dari mata musang Taekwoon mau tak mau juga memancing emosi Jaehwan. Ia juga senang, ia juga bahagia dan ia juga terharu. Tak menyangka jika dirinya seorang carrier yang mampu memberikan keturunan begitu tampan. Kehadiran malaikat kecil yang akan menumpuk kebahagiaan di hidup Jaehwan. Seorang malaikat kecil yang akan memberikan tawa dan kasih sayang dalam hidupnya. Seorang malaikat kecil yang Jaehwan harapkan akan selalu menjadi malaikat di dalam hidupnya.
Lalu ia mengusap air matanya dan mengulas senyum manis.
"Jadi hyung mau memberikan nama kita apa?"
Sejenak Taekwoon berpikir. Mata musang itu menyorot pada wajah tampan si mungil dengan seksama. Menelisik setiap pahatan sempurna yang tertuang dalam wajah itu. Tampan dan manis. Nama apa yang pantas untuknya? Ah, bagaimana kalau perpaduan nama keduanya saja? Toh, bayi laki-laki mungil ini mewarisi kedua orang tuanya.
"Bagaimana kalau Jung Taekhwan? Nama yang bagus kan?"
Jaehwan mengernyit tipis lalu mengangguk beberapa detik setelahnya. Senyum manis itu masih terulas puas.
"Nama yang indah. Taekhwannie, sini sayang! Eomma ingin mengecupmu."
Taekwoon menuruti keinginan Jaehwan dengan membawa sang bayi ke dalam dekapan sang ibu. Bayi mungil itu berada dalam lengan dan dada Jaehwan. Selanjutnya, Jaehwan mengcup kening Taekhwan dengan sayang.
"Jae! Aku berterima kasih banyak padamu." Taekwoon beralih menggenggam tangan Jaehwan. Kelopak tipis itu mengerjab berulang akibat air yang mendesak lagi. "Kau adalah segalanya bagiku. Kau adalah hidupku dan kau adalah matiku. Kau adalah surgaku dan kau adalah duniaku. Aku berterima kasih banyak padamu. Tuhan telah mengirimkanmu untukku."
Yang lebih muda tak bisa untuk tak melengkungkan bibirnya. Entah sejak kapan Taekwoon senang sekali membual seperti itu. Banyak kata yang terangkai dalam bualan yang tak tahu mengapa mampu membuat Jaehwan terharu lalu melemah. Kata-kata yang tersimpan sejuta sihir untuk menjatuhkan Jaehwan dalam cinta Taekwoon. Jaehwan tahu, Taekwoon tak hanya membual. Namun kesungguhan dan ketulusan terdapat di dalamnya juga.
"Semua juga karenamu, hyung! Malaikat ini ada juga karenamu. Bukan hanya kau saja yang berterima kasih. Aku juga berterima kasih kepadamu. Cintamu begitu kuat di dalam diriku dan aku bisa merasakan ketulusan. Terima kasih telah mengukir banyak kenangan dalam hidupku. Jika kita tidak melewati waktu susah itu mungkin kita tidak akan pernah tahu bahwa cinta kita begitu kuat."
Taekwoon mendekat pada Jaehwan dan mengecup keningnya dalam. Air mata itu terasa di kening Jaehwan. Jaehwan hanya mengeratkan pegangannya pada lengan Taekwoon dan menikmati kecupan itu dengan hati terenyuh. Pada akhirnya ia pun ikut menangis.
"Selamat datang ke dunia baru, sayang.. Selamat datang dalam kehidupan di tengah-tengah appa dan eomma. Kau memang malaikat kecilku yang sangat manis sekali. Appa sangat menyayangimu. Tumbuh sehat dan kuat seperti eomma dan appa, eum? Jadi anak yang manis dan berbakti kepada orangtua."
.
.
.
"Oh, Hakyeon?"
Taekwoon terkejut begitu melihat Hakyeon yang berdiri di depan pintu ruangan Jaehwan. Hakyeon tak sendiri. Ada Wonshik di sampingnya. Hal ini menimbulkan raut aneh di wajah Taekwoon. Untuk apa Hakyeon berdiri di ruangan Jaehwan bersama Wonshik.
Yang disapa tersenyum manis.
"Boleh aku masuk? Aku ingin menjenguk Jaehwan."
"Oh? Masuk saja. Aku masih ada perlu. Nanti aku kembali lagi."
Walaupun sebenarnya Taekwoon tak tahu ada maksud apa Hakyeon mendatangi ruangan Jaehwan, ia tetap mengijinkan dua lelaki itu masuk. Tak ada salahnya kan. Siapa tahu mereka datang untuk menyambang setelah ia melirik ada buah-buahan di tangan Wonshik. Taekwoon tak perlu merasa khawatir dan cemas ataupun takut. Mereka sudah dewasa pasti mereka bisa berpikir lebih baik.
Mendapatkan ijin, Hakyeon menggandeng tangan Wonshik untuk masuk. Taekwoon sudah menghilang dari sana. Dengan sedikit ragu, Hakyeon mendekat ranjang Jaehwan. Kebetulan Jaehwan juga terjaga. Ia sedang membaca sebuah novel.
"Jae?"
"Uh?"
Jaehwan berjengit kecil manakala manikan kelamnya menangkap sosok Hakyeon yang tersenyum padanya. Mereka berdua duduk di dekat ranjang Jaehwan. Jaehwan pun menutup novel yang ia baca dan meletakkannya di atas meja.
"Ka-kalian?"
"Kau tahu kami?" Hakyeon menyela sebelum Jaehwan bertanya lebih banyak. "Aku Cha Hakyeon dan dia suamiku, Kim Wonshik. Aku dulu sering datang ke kafe tempatmu bekerja."
Ada senyum kikuk di wajah Jaehwan. Jelas ia tak memiliki persiapan untuk mengantisipasi hal ini.
"A-ah, iya. Ada perlu apa? Kalian mencari Taekwoon hyung? Dia baru saja keluar."
"Tidak. Kami datang untuk menjengukmu." Senyum hangat itu muncul di wajah manis Hakyeon. Manis sekali dan Jaehwan menyukai senyum itu. "Selamat yaa atas kelahiran putra pertama kalian. Kalian pasti bahagia dengan kehadiran putra kalian."
"Terima kasih."
Dan Jaehwan masih belum paham dengan ini semua. Ada apa?
Sepertinya Hakyeon mampu membaca raut wajah Jaehwan yang berisikan banyak tanya. Lelaki itu lantas tersenyum dan meraih tangan Jaehwan. Sebentar digenggam lalu di usap punggungnya. Jaehwan tak mengerti sungguh. Ada apa? Toh, mereka juga tidak kenal satu sama lain.
"Kami, ah tidak! Aku datang ingin minta maaf padamu."
"Maaf?"
Anggukan kecil menyertai. "Ya, mungkin ini sudah terlalu lama dan aku adalah pengecut yang tak muncul selama itu. Apa Taekwoon pernah bercerita tentangku padamu?" Tanyanya ragu. Takut kalau itu membangkitkan memori menyakitkan milik Jaehwan.
Dengan sorot penuh rasa bertanya, Jaehwan mengangguk kecil. Ia memang tak lagi memikirkan itu namun tumpukan memori yang ia punya masih tersimpan rapi dalam laci di otaknya. Dan membuka satu laci itu bisa membuat dadanya nyeri dan ngilu.
"Aku juga berpartisipasi dalam menyakitimu. Aku sungguh minta maaf. Seharusnya aku dulu bisa mencegah Taekwoon. Tapi.."
"Hyung tidak perlu minta maaf. Itu sudah lama juga bukan? Semua sudah berakhir jadi untuk apa diungkit-ungkit lagi?" Potong Jaehwan dengan senyum mengembang. Rupanya ia mulai paham dengan kedatangan Hakyeon kemari. Selain untuk memberikannya selamat, ia juga berniat untuk minta maaf atas kejadian yang bahkan sudah terjadi lebih dari setengah tahun yang lalu.
Hakyeon menitikkan air mata. Hatinya pedih harus melihat senyum tulus dari Jaehwan. Lihatlah, lelaki ini begitu baik dan berhati malaikat. Tapi dulu ia begitu membencinya karena telah merebut Taekwoon dari sisinya.
"Aku benar-benar minta maaf, Jae!" Hakyeon tak mampu membendung lagi air matanya. Jatuh dan jatuh lagi setiap kali ia mengusapnya.
Hal itu menyugesti Jaehwan untuk ikut menangis. Ia memeluk tubuh Hakyeon dan mengusap punggung melengkung miliknya.
"Tidak apa-apa hyung! Semua sudah berlalu, kan? Kita sama-sama sudah bahagia dengan pasangan masing-masing. Jadi untuk apa merasa terbebani. Jaehwan juga sudah memaafkan hyung sejak dulu."
"Sungguh?"
"Hmm."
"Kau memang baik sekali." Dan Hakyeon mengeratkan pelukannya. Ia merasa lega sekali. "Terima kasih, Jaehwan."
Jika boleh jujur, Hakyeon merasa ada beban setelah ia menikah. Ada bayang-bayang Jaehwan dan Taekwoon yang masuk dalam mimpinya. Rasa bersalah itu terus memaksanya untuk minta maaf. Bukan kepada Taekwoon melainkan Jaehwan. Bagaimanapun Hakyeon punya andil dalam membuat Jaehwan menderita. Jika saja dulu ia berhasil mencegah Taekwoon untuk mencoba membunuhnya pasti tak akan begini.
Awalnya ia mencoba untuk tak peduli dan tak berniat minta maaf. Namun saat kemarin ia memeriksakan ksehetannya dan melihat Taekwoon disana, ia pun mencari tahu kenapa Taekwoon di rumah sakit. Ternyata Jaehwan sedang melahirkan. Lalu rasa bersalah muncul lagi. Mumpung ada waktu, Hakyeon memutuskan untuk minta maaf dengan tulus.
Tapi benar seperti apa yang dikatakan Jaehwan. Semua sudah berlalu dan waktu telah membawa kebahagiaan untuk masing-masing. Meskipun demikian, Hakyeon tetap wajib meminta maaf dan mungkin ini adalah waktu yang tepat. Lalu Hakyeon bersyukur. Jaehwan memang seorang malaikat yang berhati berlian.
.
.
.
Setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit, Jaehwan dan bayi mungilnya dipersilahkan untuk pulang. Taekwoon sangat sangat bahagia sebagai seorang ayah. Kebahagiaannya saat ini tak sanggup dibandingkan oleh apapun. Rasanya keluarga mereka telah lengkap dengan kehadiran sang malaikat mungil. Sempat rasa menyesal melingkupi dirinya. Menyesal mengapa tidak sejak dulu saja ia mencintai Jaehwan dan memiliki buah hati. Pasti rumah tangga keduanya akan semakin bahagia.
Tak pernah lelah, Taekwoon menggendong buah hatinya dengan suka cita jika Jaehwan ingin beristirahat. Bayi Taekwoon dan Jaehwan juga sama seperti bayi pada umumnya. Sangat rewel ketika lapar maupun sakit. Nyaris saja mereka kewalahan kalau saja Sungkyu ataupun Hongbin tak sesekali membantu.
Masih berusia satu bulan, belum bisa apa-apa selain mengecep-ecap dan terkadang tertawa riang saat diajak bercanda oleh Taekwoon. Jaehwan merasa senang sekali dan bahagia melihat betapa sayangnya Taekwoon kepada anak semata wayang mereka, Jung Taekhwan. Kehadirannya sungguh memberikan banyak sekali keindahan dalam hidup.
"Berikan padaku, hyung. Cepat bersiap-siap! Kau harus bekerja." Tukas Jaehwan gemas dengan sikap Taekwoon yang seakan tak pernah ingin berpisah dengan sang buah hati.
Taekwoon menggeleng kecil. Pandangannya masih fokus menggoda bayi mungil mereka yang kebetulan sudah membuka mata sepagi ini.
Jaehwan menghela nafas pelan. "Kau selalu terlambat, hyung! Kau bisa bermain dengannya lagi nanti setelah pulang kerja." Oceh Jaehwan.
Ah, perlu diketahui, Jaehwan semakin cerewet setelah ia melahirkan. Naluri ibunya mulai keluar dan segala sesuatu yang tak sesuai pasti akan dikomentarinya. Bahkan Taekwoon terkena imbasnya karena terlalu sering membangkang kata-kata Jaehwan.
"Taekhwan pasti sudah tidur saat aku pulang kerja."
"Iya, hyung bisa menemaninya tidur kalau begitu." Keukeuh Jaehwan seraya meletakkan latte hangat untuk sang suami di atas meja. Selanjutnya ia meminta agar jagoan kecil itu berpindah tangan kepadanya.
Taekwoon mengalah. Ia memindahkan Taekhwan dalam dekapan sang ibu. Lalu berjalan menuju meja makan untuk menyesap latte miliknya.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap dulu. Ppai-ppai jagoan appa. Yang pintar eum?" Taekwoon mengecup ringan kening Taekhwan sebelum meninggalkan mereka di dapur. Sementara Taekhwan hanya mengerjab lucu sebagai reaksi atas kecupan Taekwoon.
"Sudah ku siapkan pakaian kerjamu. Hyung pakai sendiri eum?"
"Selalu seperti itu."
"Kalau begitu hyung tidak usah bekerja dan jaga Taekhwan seharian. Jae akan bekerja di kafe."
"Hey-hey!" Taekwoon membalikkan tubuhnya dan menatap datar Jaehwan. Detik berikutnya ia mendekat pada Jaehwan dan mengecup kilat –sedikit kasar- pada bibir Jaehwan. Mana bisa seperti itu. Taekwoon memang menyayangi Taekhwan tapi kalau diminta menjaga seharian itu bukan pilihan terbaik. Taekwoon mana bisa menangani Taekhwan yang tiba-tiba menangis entah itu karena lapar atau mengompol. "Kau ini!"
Dan Jaehwan hanya terkikik kecil. Pasti tak akan mau Taekwoon ditinggal sendiri bersama Taekhwan. Kemudian Taekwoon menghilang dari hadapan mereka.
Jaehwan mengalihkan atensinya pada bayi mungil yang sangat tampan itu. Senyumnya tak pernah pudar kala lensa kelamnya menampilkan refleksi menggemaskan dari anaknya. Berulang kali kata syukur selalu terucap setiap hembus nafas yang terasa di kulitnya. Setiap kerjab lucu kelopak matanya, setiap isak tangis dari bibir mungilnya. Ia selalu mensyukuri dan mengucapkan terima kasih atas karunia Tuhan yang sangat indah itu.
Setelah kepergian Taekwoon, Jaehwan hanya menjaga buah hatinya di rumah. Ia bermain dan bercanda dengan teman baru dalam hidupnya itu. Kali ini tak akan ada kesepian yang mengguncang hidupnya. Akan ada gelak tawa bahagia yang melingkupi kediamannya. Rasanya sungguh tak mampu dibuat dalam untaian kalimat dan rangkaian kata.
.
.
.
"Aku ingin sekali punya anak!"
Celetukan Hongbin itu menarik minat Jaehwan seratus persen. Lelaki yang lebih tua membelalakan mata dengan sorot penuh rasa menuntut untuk Hongbin mengulanginya lagi. Tahu tatapan itu, Hongbin tersenyum.
"Aku ingin sekali punya anak."
"Sungguh?"
Hongbin mengangguk.
"Kalau begitu menikah sana!"
Hongbin berdecak mendengar tanggapan dari Jaehwan. Jawaban yang sama sekali tak membantu. Memang kalau ia ingin punya anak harus menikah dulu. Tapi Sanghyuk masih menyelesaikan kuliahnya. Ia pun juga belum bekerja. Mau makan apa kalau menikah cepat?
Mereka saja masih meminta saku dari orangtua.
Lantas Hongbin bangkit dari duduknya dan memperhatikan Jaehwan yang sedang mengganti popok Taekhwan.
"Kalau aku bawa Taekhwan boleh tidak, hyung?"
"Kau bawa kemana?"
"Jalan-jalan?"
"Tidak!"
"Yaa!"
"Taekhwan masih terlalu kecil untuk jalan-jalan, Binnie." Sahut Jaehwan tanpa mengalihkan perhatiannya dari Taekhwan. Bayi mungil itu tampak tenang meski tubuhnya dibolak-balik oleh sang ibu.
Hongbin mendengus. "Kalau begitu Hongbin bawa pulang? Bagaimana? Ah, hyung buat lagi saja. Nanti biar Taekhwan Hongbin yang rawat." Timpalnya.
Seketika Jaehwan menoleh dengan tatapan datarnya. Ia memutar bola matanya kemudian.
"Kau ini! Kau pikir hamil itu mudah? Hamil itu enak? Melahirkan juga? Semuanya itu susah Hongbin. Hyung bisa melahirkan satu anak saja syukur. Kau ini!"
"Oke, oke, oke! Jangan marah-marah! Kenapa hyung jadi sensitif seperti ini sih." Hongbin kembali membanting tubuhnya pada sofa yang ada.
Jaehwan mengangkat si kecil setelah selesai mengganti popoknya. Detik berlalu ia mengecup pipi gembilnya.
"Kau cari kerja dulu! Perbaiki hidupmu dan menikah."
Hongbin memicing tak suka. Ada kata-kata yang membuatnya tersinggung. Perbaiki hidupnya? Memangnya selama ini hidupnya salah?
"Hyung!"
"Mian!" Dan cengiran Jaehwan membuatnya mendengus lagi.
Meski akhir-akhir ini Jaehwan jadi sedikit sensitif dan mirip ibu-ibu komplek yang suka bergosip –ramai dan cerewetnya minta ampun-, Hongbin senang. Ia senang sekali Jaehwan tak melarangnya bertemu dengan Taekhwan. Malah Jaehwan dengan senang hati menawari Hongbin untuk menjaga Taekhwan jika ia sedang luang. Hongbin pun menerima. Sungguh, naluri keibuannya keluar tiba-tiba ketika menggendong sang bayi.
Ia juga merupakan seorang carrier dimana memiliki rahim sehingga tak menutup kemungkinan untuk punya anak. Lalu setiap kali ia menggendong Taekhwan rasa itu kembali muncul. Andai saja kekasihnya tidak lebih muda darinya. Pasti ia sudah menikah.
Hongbin menggeleng-gelengkan kepala ketika berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana bisa ia memikirkan itu.
"Kau kenapa?"
"Eh?"
"Ada yang sedang kau pikirkan?"
Jaehwan menatap dalam Hongbin.
Hongbin hanya menggeleng dilengkapi dengan senyum khasnya.
"Tidak ada, hyung! Ah, biar Taekhwan aku gendong."
Jaehwan pun menyerahkan Taekhwan pada Hongbin. Kemudian ia beranjak. Sebentar lagi jam makan malam. Ia ingin menyiapkan makan malam dulu.
.
.
.
Dongwoo menatap ngeri Taekwoon yang sejak tadi terus saja mengutak-atik dokumen di hadapannya. Ini sudah pukul delapan malam dan ia masih betah dengan dokumen itu. Apa tidak lelah? Apa tidak bosan? Apa tidak jenuh? Lalu ia mengetuk meja Taekwoon setelah beberapa menit berdiri sama sekali tak diberi perhatian.
"Ayo pulang Taek! Kau lebih senang bercinta dengan tumpukan dokumen, ya? Daripada dengan istrimu?" Sindir Dongwoo.
Taekwoon meletakkan dokumen itu dan memutar bola matanya kemudian. "Sejak kapan aku mulai tidak menyukai bercinta dengan Jaehwan?" Sanggahnya.
"Sejak kau menjabat menjadi manajer pemasaran dan akan digadang-gadang akan menjadi direktur utama perusahaan ini. Kau sering sekali pulang malam!"
Yang disindir hanya merenggangkan ototnya yang mulai kaku. Ia menutup dokumen itu dan beranjak dari kursi. "Aku berusaha keras untuk mengembalikan reputasiku. Itu tidak mudah, kau tahu?"
"Eh?" Dongwoo membulatkan mata liarnya. Detik selanjutnya ia tersenyum hangat. "A-ah, kau benar! Maaf deh!"
Taekwoon hanya berdecak lalu memakai jaket yang dilempar Dongwoo untuknya. "Ikut aku!" Ajak Taekwoon.
"Kemana?"
"Sudahlah! Ikut saja. Jangan banyak bertanya!"
Dongwoo mendengus sebal di belakang Taekwoon. Bosnya ini terlalu suka mengatur dan memerintah seenak jidat. Mau tak mau Dongwoo mengekor di belakang Taekwoon yang tampak tergesa setelah melihat jam tangan.
Taekwoon masuk ke dalam mobil dan disusul Dongwoo. Mobil Taekwoon melaju pada jalanan yang mulai padat merayap. Khas jalanan setelah jam kerja usai. Dongwoo masih bingung mau dibawa kemana oleh bosnya ini. Lebih dari lima kali Dongwoo bertanya namun hanya dijawab oleh gumaman kecil dari Taekwoon. Sementara Taekwoon masih fokus pada jalanan yang mulai meramai. Bibirnya menggumam gelisah ingin cepat-cepat sampai.
Pada akhirnya mobil Taekwoon berhenti pada suatu tempat yang Dongwoo yakini adalah toko perhiasan. Untuk apa Taekwoon datang kemari? Dongwoo hanya bisa mengikuti di belakang. Toh mau bertanya Taekwoon tak akan menjawab.
"Oh, Jung-sshi.. Pesanan anda telah jadi." Seseorang dengan wajah cantik berseragam menyambut Taekwoon dan Dongwoo.
"Pesanan? Kau pesan apa?" Sekali lagi pertanyaan Dongwoo tak dijawab oleh Taekwoon.
Taekwoon terus memperhatikan hal-hal yang dikatakan oleh pelayan. Mata tajamnya melirik benda mungil yang ada di dalam kotak. Kalung infinite. Senyumnya melebar dan setelahnya ia mengeluarkan uang pelunasan. Tak butuh waktu lama Taekwoon kembali ke mobil dengan senyum yang terus melekat di wajahnya.
Dongwoo mendesah frustasi. Sebenarnya apa tujuan Taekwoon mengajaknya jika ia hanya didiamkan seperti ini. Dasar Taekwoon gila!
.
.
.
Sekitar pukul sepuluh malam, Taekwoon baru sampai di apartemen. Ia bisa menduga jika Jaehwan telah tidur. Lampu di ruang tamu dan dapur padam. Tak ada tanda-tanda kehidupan di apartemen ini. Segera ia masuk ke kamar dengan sedikit mengendap karena tak ingin mengganggu tidur Jaehwan.
"Kau sudah pulang, hyung?"
Jaehwan mengucek kelopak matanya sebelum bangkit dari tidur.
"Kembalilah tidur, Jae! Kalau kau memang kelelahan." Taekwoon melepas jas lalu dasinya. Ia juga melonggarkan kerahnya yang sempat menjerat beberapa saat yang lalu. "Kau pasti sangat kelelahan menjaga Taekhwan sendiri."
Ada gelengan sebagai reaksi ucapan Taekwoon. Sang pelaku menurunkan kakinya pada lantai dingin itu. Detik selanjutnya, kaki Jaehwan mendekat pada Taekwoon yang masih berdiri di tempatnya.
"Hyung sudah makan?"
"Belum."
"Kalau begitu Jaehwan akan buatkan makan malam dulu." Jaehwan mengecup bibir Taekwoon kilat. Taekwoon mengangguk dan membiarkannya pergi keluar kamar lebih dulu.
Sementara dirinya sibuk melepas kemeja dan siap untuk pergi mandi. Namun sebelum pergi mandi ia menyempatkan diri untuk melihat si mungil yang sudah terlelap. Lalu ia mencium kening Taekhwan dalam..
.
"Kau sedang masak apa, sayang!"
"Hyung! Astaga!"
Jaehwan berjengit kaget manakala tangan Taekwoon melingkar di pinggangnya tiba-tiba. Sedikit bergidik setelah merasakan kecupan-kecupan ringan di lehernya. Meski ia merasa risih, Jaehwan malah memiringkan kepalanya. Memberikan akses yang lebih lagi.
Taekwoon pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyesap leher Jaehwan hingga menimbulkan bercak keunguan juga lenguhan kecil dari Jaehwan. Bukan hanya bibir itu yang bekerja. Tapi juga tangan Taekwoon yang tak tahu sejak kapan mulai membuat pola tak beraturan di sana.
Beberapa kali lenguhan terdengar, Jaehwan pun mulai membuka mata. Ia sadar. Jika terus-terusan seperti ini masakan yang sedang ia masak akan gosong.
"Tu-tunggu, hyung! Biarkan aku menyelesaikan masakanku." Jaehwan melepas tangan Taekwoon yang melingkar di pinggangnya kemudian memutar pematik kompor hingga api itu padam.
"Jangan diteruskan! Aku tidak lapar! Kita lanjutkan yang ini saja."
Dan tanpa babibu, Taekwoon mengangkat tubuh Jaehwan hingga menimbulkan pekikan kecil dari Jaehwan. Lelaki bersurai cokelat terang itu mengalungkan tangannya di leher Taekwoon agar tak jatuh saat Taekwoon menggendongnya ala pengantin. Sesampainya di kamar tamu –apartemen Taekwoon memiliki dua kamar-, Taekwoon meletakkan tubuh sang istri di atas ranjang. Sedikit membanting dan menyebabkan erangan kesal dari Jaehwan.
"Hyung!"
Taekwoon terkekeh. "Maaf!" Ia pun naik ke ranjang dan siap menindih tubuh Jaehwan namun sang submitiv membuat pertahanan dengan tangannya di depan dada. "Kenapa?"
"Aku ingin kita punya anak lagi."
"Mwoya! Jaehwan tidak mau!"
"Kenapa tidak?" Taekwoon duduk di sebelah Jaehwan. "Ayolah Jae!"
Jaehwan memutar bola matanya. Ia bersedekap dengan tatapan kesal pada Taekwoon.
"Hyung saja yang hamil! Jaehwan tidak ingin hamil lagi."
"Kau tidak ingin hamil lagi?"
"Bukan begitu!" Jaehwan bangkit dan menatap datar pada Taekwoon. "Jaehwan mau! Tapi tidak dalam waktu yang dekat. Hamil itu tidak mudah! Hamil itu berat hyung!" Kali ini suara rengekan Jaehwan keluar dengan kerucutan dari bibir tebalnya.
Taekwoon menghembuskan nafasnya pelan. Ah, ia sungguh bodoh jika meminta Jaehwan untuk hamil lagi. Memangnya mudah hamil? Taekwoon terlalu bernafsu untuk punya anak lagi. Tapi.. kalau memang harus menunda memiliki anak, membuat prosesnya tanpa harus jadi tidak masalah kan?
"Oke-oke!" Taekwoon memegang pundak Jaehwan. "Kalau begitu satu ronde malam ini yaa.. Kan sudah lama juga, sayang!"
Jaehwan ingin sekali tertawa melihat wajah memelas dari Taekwoon. Ia pun memeluk tubuh Taekwoon dengan erat. "Baiklah, tapi hyung ada kondom, kan?"
"Tentu."
Lantas yang lebih tua melepas pelukan Jaehwan guna meraih wajah Jaehwan dan mearup bibir tebal sang istri dan menari di atasnya. Sapuan bibirnya begitu nikmat dirasakan oleh Jaehwan. Satu kali sapuan, kecupan itu berubah menjadi lumatan. Taekwoon merangsek masuk ke dalam mulut dan mengeksplor semua yang ada di dalamnya. Jaehwan mengalungkan kedua tangannya dan sesekali menekan tengkuk Taekwoon.
Sekitar sepuluh menit berlalu semuanya telah lepas. Jaehwan bisa pasrah dengan bibir tebal menggumam nama Taekwoon berulang. Bibir Taekwoon begitu lihai memainkan setiap inci kulit mulusnya. Jaehwan dibuat melayang dengan semuanya. Jaehwan hilang kendali. Ia terus melenguh dan mendesah nikmat.
Taekwoon menyukainya. Tak ada yang tak disukai dari Jaehwan. Ia menyukai setiap kali menggores kulit mulus Jaehwan dengan bibirnya. Ia menyukai setiap kali membasahi tubuh mulus Jaehwan denga air liurnya. Ia menyukai saat Jaehwan melenguh karena Jaehwan mencapai puncak bersamanya. Ia menyukainya.
"Ahh, Taek-hyung!" Tubuh Jaehwan melengkung seketika ia menerima tusukan kenikmatan yang bermain di surganya. Jaehwan tersengal seketika Jaehwan menghujam titik kenikmatannya.
Taekwoon mengecup kening Jaehwan dan terus melanjutkan kegiatannya. Ia membisikkan kata cinta yang beriringan dengan desah dan lenguh kenikmatan dari bibir tebal Jaehwan.
Hingga beberapa saat kemudian, keduanya saling mendesah lega. Sama-sama mencapai surga dunia setelah lelah berjuang.
Taekwoon tersenyum melihat paras manis sang istri yang dihiasi bulir keringat di sekitarnya. Lekas ia mengecup ringan setiap hidung, bibir dan kelopak mata Jaehwan.
"Kau lelah?" Taekwoon menumpu kepala dengan tangan kiri dan berbaring menghadap istri tercinta.
Jaehwan mengangguk. "Aku lelah.." Rajuk Jaehwan seraya merengut masuk ke dalam pelukan Taekwoon.
Taekwoon membelai surai cokelat terang milik Jaehwan yang sedikit basah oleh keringatnya. "Tidurlah! Ah, tunggu!" Jaehwan tiba-tiba menatap Taekwoon bingung. "Aku lupa sesuatu. Tunggu!"
Jaehwan hanya memperhatikan Taekwoon yang tergesa menggunakan boxernya lalu lari keluar ruangan. Ada apa? Kenapa tiba-tiba Taekwoon mendadak pergi begitu. Tak butuh waktu yang lama, Taekwoon kembali dengan senyum merekah lebar. Semakin membuat rasa bingung Jaehwan berkembang biak.
Kemudian Taekwoon kembali duduk di sebelah Jaehwan yang masih menyorotkan tanya di kedua kristalnya.
"Aku ingin memberikan ini untukmu." Taekwoon menyodorkan kotak yang ia ambil tadi. Dengan senyum yang masih mengembang, ia membuka kotak itu kemudian. "Sebuah kalung. Apa kau suka."
Dan mata Jaehwan terbelalak. Nyaris Jaehwan memekik heboh kala sebuah kalung cantik itu terekam lensa kelamnya.
"Ini?"
"Ini adalah kalung yang hyung siapkan untukmu. Kau tahu kan kalau hyung sama sekali belum memberikan apapun yang berharga untukmu." Ucap Taekwoon dengan mengusap pipi Jaehwan sebelum memakaikannya pada leher Jaehwan.
"Hyung!" Lirih Jaehwan terharu dengan hadiah yang diberikan Taekwoon. Degup jantungnya berpacu lebih disertai segerombolan kupu-kupu yang bermain di dalam perutnya. Dalam hati ia tak menginginkan apa-apa sebenarnya. Namun siapa yang bisa menolak ini semua?
Taekwoon mengecup kening Jaehwan dalam. "Terima kasih telah memberiku kesempatan bersamamu selama ini. Terima kasih telah menjadi istri terbaik untukku. Terima kasih untuk semuanya." Sekali lagi Taekwoon mengecup kening Jaehwan.
Setitik air menetes dari sudut mata cantiknya. Jaehwan tak menyangka akan mendapatkan hadian secantik ini. Lantas ia memeluk tubuh Taekwoon dan menggumamkan kata terima kasih.
Cukup lama mereka berpelukan lalu Taekwoon melepaskan pelukan itu.
"Apa kau tahu makna dari lambang kalung ini? Lambang infinite?"
Jaehwan memperhatikan kalung indah yang bertengger di lehernya. Sebuah lambang infinite. Itu berarti.
"Hmm. Infinite itu melambangkan sesuatu yang tidak ada batasnya. Tak terhingga.. Kalung ini melambangkan cintaku kepadamu Jae yang tidak terbatas, tidak terhingga dan selama-lamanya. Juga, kehidupan rumah tangga kita yang akan bertahan selama-lamanya."
Jaehwan tersenyum dengan penuturan Taekwoon kemudian menghadiahi dengan kecupan kilat di bibirnya.
"Ingat, Jae! Kau akan menjadi segalanya dalam hidupku. Aku akan mencintaimu sampai bumi ini menghilang dari gugusan benda-benda langit. Sampai wangi bunga mawar hilang tak kembali. Sampai samudra mengering seketika. Sampai kapanpun aku akan mencintamu." Taekwoon mengecup kening dan bibir Jaehwan bergantian. "Apa kau akan mengingatnya?"
Jaehwan mengangguk yakin. "Pasti! Pasti aku akan selalu mengingatnya. Aku juga mencintaimu sebesar kau mencintaiku, hyung!"
Taekwoon tersenyum, ia meraih bibir Jaehwan dengan bibirnya. Memabukkan kembali Jaehwan dengan lumatan nikmatnya. Beradu kembali dua bibir itu dengan lenguhan yang mengikuti. Namun kali ini Jaehwan merasakan kehangatan dan kasih sayang yang tulus melalui ciuman itu. Jaehwan tahu bahwa Taekwoon melakukannya dengan cinta, dengan sepenuh hati dan dengan perasaan yang tak sanggup Jaehwan jabarkan dengan kata-kata. Seperti apa yang diucapkan oleh Taekwoon, ia yakin seyakin-yakinnya cinta Taekwoon hanya untuknya. Bagaimana selama ini Taekwoon berjuang demi kebahagiaan mereka berdua.
"Aku mencintaimu, Taekwoon hyung!"
"Aku juga mencintaimu, Jaehwannie!"
.
.
.
TBC
.
Taraaaaa...
Chapter 24 dataaaaangg...
Bagaimana?
Tinggal satu chapter lagi, update besok sekalian update chap 1 the eye..
Ditunggu yaaaaa...
.
.
Terima kasih.. ^^,
.
.
Salam hangat
.
.
~Arlian Lee~
