Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

~ To Be A Princess ~

[ Chapter 24 ]

.

.

Berbaring di ranjang dan menatap Sasuke yang tengah sibuk di sofa, dia tipe yang betah melakukan apapun dengan konsisten, aku bosan melihatnya memperhatikan kertas-kertas itu, tapi dia sama sekali tidak bosan.

"Aku pikir sebagai pangeran kau tidak perlu bekerja lagi." Ucapku.

"Apa uang akan datang begitu saja padamu?" Ucapnya tanpa menghentikan kegiatannya.

"Keluarga kerajaan 'kan punya banyak harta, kalian juga sudah sangat kaya dari turun-temurun."

"Kekayaan pun akan habis jika terus gunakan, bangunan istana pun harus bayar pajak, ini bukan jaman dimana raja lah yang berkuasa, sekarang sudah ada pemerintahan dan segalanya di atur mereka, maka dari itu semua hal yang kita punya harus di kelola agar tetap menghasilkan." Jelasnya padaku.

Aku hanya berpikiran sempit tentang kekayaan keluarga kerajaan, ucapan Sasuke ada benarnya, kekayaan pun akan habis jika terus di gunakan. Sekarang aku tidak punya kegiatan apapun dan Sasuke melarangku untuk berkeliaran seenaknya selama pangeran Izuna masih tinggal di istana, aku harus mendengar permintaannya atau itu sebuah perintah.

"Suamiku." Panggilku.

"Hn?"

"Kau tahu 'kan, dua bulan lagi liburan musim panas, apa kau tidak berniat mengajakku jalan-jalan? Semacam ke pantai?" Ucapku.

"Aku sibuk." Dia akan selalu menjawab seperti itu.

"Ayolah, hanya sehari saja, tidak perlu lama-lama, aku ingin ke pantai sekali-kali." Ucapku, sudah berapa lama aku tidak ke pantai?

Turun dari ranjang dan duduk di sebelahnya, aku harus menggunakan jurus membujukku. "Neh~ suamiku, aku rasa kita belum pernah berbulan madu, bagaimana jika menginap sehari di resort dekat pantai?" Ucapku, tidak ada bulan madu setelah kegiatan pernikahan, aku harus kembali ke sekolah dan Sasuke sibuk bekerja.

Kegiatannya terhenti, dia menatapku dengan tatapan tenang, setelahnya kembali membaca kertas yang ada di tangannya.

"Tidak ada waktu untuk berlibur, kau sudah kelas 3 dan belajarlah yang giat." Ucapnya, dia terdengar seperti seorang ayah yang sedang mengomel.

"Kau sungguh jahat, hanya permintaan sedikit saja kau sulit mengabulkannya, tapi saat kau meminta ini dan itu dariku, aku langsung menjalankannya." Ucapku, aku ingin protes hal yang tidak adil ini.

Sasuke kembali berhenti, menyimpan kertas-kertasnya itu dengan rapi di meja dan menatapku, tangannya bergerak memanggilku lebih dekat.

Cup..!

Blussh!

"Ke-ke-kenapa menciumku?" Ucapku, gugup, tiba-tiba saja di cium.

"Agar kau tenang dan tidak berisik." Ucapnya, santai.

"Aku hanya meminta liburan sehari, tidak meminta liburan selama setahun." Ucapku, masih melanjutkan aksi protes, sekali lagi Sasuke tidak peduli.

.

.

Bujukan ku sia-sia Sasuke tetap tidak ingin pergi liburan bersamaku, aku bahkan belum pernah bulan madu, apanya yang keluarga kerajaan, tidak enak, liburan saja sulit, selalu berada di istana yang besar, luas dan aku pun tidak bisa berjalan-jalan ke taman, Sasuke melarangku jika dia tidak sedang berada di kediaman.

"Liburan musim panas nanti apa kau akan pergi ke suatu tempat?" Tanya Rin padaku.

"Aku akan berada di istana sepanjang hari, Sasuke begitu sibuk." Ucapku, cemberut, masa senang-senangku sebagai remaja biasa berakhir begitu saja setelah masuk ke istana.

"Sulit juga yaa." Ucap Rin.

"Kau benar, bagaimana denganmu?"

"Karena musim panas, kami mungkin akan ke gunung, seluruh keluargaku akan pergi dan menginap sebuah vila di sana." Ucap Rin.

"Enaknya...~ Aku harap akan pergi ke sesuatu tempat juga, membujuk Sasuke sangat susah, haa..~ mau bagaimana lagi, dia sibuk bekerja." Ucapku.

Rin hanya menyemangatiku, menurutnya tinggal di istana akan membuatku mengenal baik tempat itu, sayangnya percuma, aku tidak mengatakan pada Rin jika Sasuke melarangku berkeliaran saat di istana, pangeran Izuna cukup berbahaya, dia akan melakukan hal yang sama sekali tidak bisa aku tebak.

Kegiatan sekolah hari ini berjalan lambat, tinggal menghitung hari lagi liburan musim panas, apa keluarga istana tidak memiliki kegiatan seperti itu? Berliburan bersama? Mungkin jika bertanya pada ibu ratu aku akan mendapat jawabannya.

.

.

"Liburan musim panas yaa, sudah lama sekali, dulunya kami sering lakukan, setelah pangeran Sasuke dan pangeran Itachi sibuk bekerja, liburan itu jadi sulit lagi." Ucap ibu ratu padaku. Saat ini aku segera ke kediaman ibu ratu setelah pulang sekolah.

"Bagaimana jika melakukannya lagi? Liburan sehari tidak apa-apa 'kan?" Ucapku, jika Sasuke tidak berhasil di bujuk, maka aku akan membujuk ibu ratu.

"Liburan seharian yaa."

"Iya, hanya sehari saja, bagaimana jika ke pantai?" Ucapku.

"Bagaimana jika bicarakan hal ini pada baginda raja?"

Baginda raja, ayah raja, apa aku bisa berbicara dengannya, aku jarang sekali berbicara, hanya kadang-kadang saja saat dia menanyakan beberapa hal padaku.

Berjalan keluar dari kediaman ibu ratu dan mencoba mencari ayah raja, apa dia ada di kediamannya?

"Selamat sore putri mahkota Sakura."

Oh tidak lagi, segera berlindung ke belakang kedua pengawal yang menemaniku berjalan, ini perintah Sasuke jika aku sedang berada di luar kediaman, aku harus membawa para pengawal dan bukan para dayang.

"A-ada apa?" Ucapku, aku jadi takut padanya

"Tidak ada, aku hanya sedang menyapamu, apa hubungan kita seperti itu saja? Aku senang bertemu denganmu saat pertama kali." Ucap Izuna.

"Aku hanya ingin menjaga hubungan yang baik, jika tidak ada perlu lagi, aku mohon permisi." Ucapku dan meminta kedua pengawal itu berjalan cepat.

Menatap ke belakang, pangeran Izuna tidak mengikutiku, dia hanya melambaikan tangannya dengan tatapan kecewa itu, maaf ini bukan hal yang aku inginkan, tapi perintah Sasuke jauh lebih penting.

Tiba di kediaman raja dan aku bisa bertemu dengannya.

"Liburan keluarga, yaa.. hmm.. ini ide yang cukup baik, sudah lama kita tidak melakukannya." Ucap ayah raja.

Aku merasa jika permintaanku akan terjadi, ayah raja cukup baik dan dia mau mendengarnya.

"Jadi, bagaimana?" Ucapku, penuh harap.

"Baiklah, saat liburan musim panas, kita akan ke resort dekat pantai."

"Yeeeeey!" Hebohku, berhenti dan segera menjaga sikap. "Terima kasih banyak ayah raja." Ucapku, senang.

Kembali ke kediaman dan senyumku tidak pernah hilang.

"Apa keluarga kerajaan Uchiha memiliki sebuah resort?" Tanyaku pada kedua pengawalku, aku yakin mereka sudah lama bekerja.

"Yang mulia baginda raja memiliki banyak resort di beberapa kota besar, dan resort yang berada di dekat pantai di Konoha adalah yang paling indah, kami yakin Yang mulia akan senang jika ke sana." Ucapnya.

"Tidak-tidak, resort yang berada di pantai kota Kiri yang paling indah dan di sana ada wahana bermain air." Ucap pengawal lainnya.

"Tapi aku hanya tahu yang berada di Konoha."

"Aku sempat ikut dalam pengawalan di sana. Jadi saya sarankan pada Yang mulia, datanglah ke pantai di kota Kiri." Ucapnya.

"Aku tidak sabar jika aku harus ke sana." Ucapku, para pengawal pun memberi ide untuk tempat berkunjung.

Tiba di kediaman dan bertemu Sasuke, dia sudah pulang.

"Kau berkeliaran lagi?" Tanyanya padaku.

"Tidak, aku hanya ke kediaman ibu ratu dan ayah raja." Ucapku, aku harus menjelaskannya sebelum dia marah lagi.

"Apa yang kau lakukan?"

"Rahasia." Ucapku.

"Kau berani merahasiakan sesuatu dariku?" Ucapnya dan menatap tajam padaku.

"Ini akan menjadi kejutan untukmu." Ucapku.

"Aku tidak suka kejutan." Ucap Sasuke, kini berjalan lebih dekat ke arahku.

"Tidak akan seru jika kau sudah tahu." Ucapku, i-ini terlalu dekat.

"Katakan saja, tidak perlu menjadi kejutan."

Menatapnya, setiap hari bersamanya, membuatku masih tidak bisa bersikap sewajarnya, kami suami-istri, Sasuke bebas melakukan apapun padaku, aku hanya gugup dan terus berdebar.

"Ayah raja menyetujui untuk liburan keluarga." Ucapku.

"Kau membujuk ayah?"

"Tentu saja, kau sendiri tidak mau." Ucapku.

Dia hanya menghela napas dan berjalan menjauh dariku, melepaskan dasinya dan membuka kemejanya.

"Bagaimana dengan resort di kota Kiri?" Ucapku, aku ingin membicarakan hal ini dengan Sasuke.

"Resort di Kota kiri sedang di renovasi, kau tidak bisa ke sana." Ucapnya.

"Apa? Padahal aku berharap bisa melihatnya." Ucapku.

"Dari mana kau tahu jika kami memiliki resort?"

"Aku bertanya pada para pengawal dan mereka menyarankan tempat itu."

"Oh."

Menutup mata dengan kedua tanganku, kenapa aku menutup mata? Sasuke sedang membuka kemeja putihnya, aku hanya malu menatap tubuhnya itu dan lagi teringat akan malam pertama yang hampir terjadi tapi jadinya kacau akibat tendanganku.

"Ada apa?" Ucap Sasuke padaku, aku yakin sedang terlihat aneh.

"Bu-bukan apa-apa." Gugupku.

'Hn? Kau sangat aneh, jangan menutup matamu seperti itu, kau pikir aku siapa?" Ucap Sasuke dan nada suara terdengar tidak terima.

"Ha-hanya tidak terbiasa." Ucapku.

Terkejut, tangan Sasuke menggenggam tanganku dan menurunkannya, aku jadi bisa melihat tubuhnya lagi. "Biasakan, aku suamimu, bukan pria lain." Ucap Sasuke.

Mengangguk saja, wajahku sudah merona, kembali tangan pria itu menyentuh daguku dan mengangkat wajahku hingga menatapnya.

"Kau hanya boleh melihatku seperti ini, jangan pernah melihat tubuh pria lain." Ucapnya.

"Aku tidak pernah melakukan hal konyol itu." Ucapku, lagi pula untuk apa aku melihat tubuh pria lain.

"Bagaimana dengan pria yang bertelanjang dada di dalam salah satu folder di laptopmu?"

"Mereka hanya idol, boyband, tidak masalah bukan?"

Ba-bagaimana Sasuke tahu aku menyimpan foto-foto boyband itu? lagi pula aku menyukai musik mereka dan mereka pun keren-keren, walaupun Sasuke masih jauh lebih tampan.

"Aku sudah menghapus segalanya, mulai sekarang jangan menyimpan foto-foto tanpa busana mereka lagi."

"Apa? Di hapus!" Terkejut, Sasuke menghapus semuanya, apa dia tidak tahu aku kesulitan mencari yang memiliki hasil gambar HQ (high Quality).

"Kenapa? Apa kau malah akan berfantasi dengan tubuh mereka?"

Bluuuush!

"Bu-bukan seperti itu! Aku tidak akan melakukannya!" Protesku.

"Sekarang jangan pernah melihat mereka lagi." Ucap Sasuke dan tangannya yang ada pada daguku semakin membuat wajahku dekat ke arahnya, sebuah ciuman perlahan, kecupan ringan, menutup mataku dan kini sebuah ciuman yang lebih dalam, sensasinya di luar dugaan, Sasuke begitu pandai membangun perasaan ini.

Napas kami saling memburu, menutup mulut pria di hadapanku dengan satu tanganku. "Su-sudah, suamiku." Ucapku, aku hanya hampir kesulitan mengontrol diri.

"Hn." Gumam Sasuke, dan kembali sebuah kecupan untuk mengakhiri ciuman yang sedikit panas tadi.

.

.

TBC

.

.


update...~

berharap ini tetap nyambung dengan chapter sebelumnya, lompatan waktunya cukup jauh sih.

terima kasih untuk sudah setia sama fic ini *terharu*

.

author balas review saja kalau gitu.

CEKBIOAURORAN : uhm... *mikir* karena hampir jadi, perawannya saku hampir hilang(?) baru hampir, wkwkwkwkwkwk

cantik : halo juga, selamat datang kembali... :) untuk flashback Izuna, tenang saja, dia punya chapter khusus kok dan tidak akan lama lagi author buatkan XD, hukumannya kurang tuh, bersihkan wc lah lebih bagus *kasih jempol* hheheheheh, terima kasih,yoosh...! fic ini akan terus berlanjut hingga pada akhir ceritanya, hingga sampai author bosan sendiri buat alurnya, wkkwkkw,'

Annis874 : Hehehe, bakalan ada kok penjelasannya, nanti, di tunggu aja, terima kasih udah mau nunggu author / eh(?) ralat, nunggu ficnya, hehehe.

Guest : itu refleks mungkin. hahah, author ketik sambil mikir, wajah Sasu di tendang itu bagus pakai banget. ide yang tiba-tiba terlintas.

sitilafifah989 : tenang... malamnya masih banyak kok, kita tunggu saja malam pertama S2, *ketawa mesum*.

.

.

fiuuh...~ akhirnya kelar balas review2nya, meskipun tidak banyak, author senang aja masih tetap ada yang buat review XD.

see you next chapter. oh hari senin, see you hari senin... *kedip-kedip*