Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.
.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
Don't like Don't Read
.
.
[ Chapter 25 ]
.
.
.
Jam kerjaku sudah selesai.
"Akhirnya besok hari terakhir untukmu, tapi kabar baiknya aku sudah menemukan penggantimu." Ucap senior padaku.
"Maaf jika aku tak bekerja dengan baik padamu." Ucapku, aku merasa tidak enak, setelah menyampaikan semangatku untuk bekerja, esoknya aku sudah harus resign. Ini semua gara-gara Sasuke.
"Tidak masalah, aku malah berterima kasih padamu, bertemu Sasuke dan Sai itu adalah pengalaman yang luar biasa untukku, banyak teman-temanku iri, aku sampai bisa bertemu mereka secara langsung.
Ah, jadi dia lebih mengingat saat kedua bocah itu datang.
Pamit pada senior, Sai belum datang, menunggunya tak jauh dari nice-market, hari ini mungkin aku perlu berbicara dengannya, aku tidak mau di cap sebagai gadis yang hanya menggantungkan perasaan seseorang.
"Maaf membuatmu menunggu." Ucap seseorang, menoleh dan aku sampai terkejut.
"Sa-Sai?" Tanyaku, memastikan. Hari ini dia terlihat sangat berbeda. "Apa-apaan itu? Kau menggunakan wig? dan stylemu terlihat berbeda." Ucapku. Sai menggunakan wig darkbrown, style yang jauh berbeda dengan rambut aslinya yang sangat lurus.
"Tapi kau masih mengenaliku meskipun aku sedang menyamar seperti ini." Ucapnya.
"Mungkin karena aku terbiasa akan suaramu." Ucapku.
"Begitu yaa, sekarang bagaimana jika kau menemaniku hari ini?"
"Menemanimu?"
"Aku sangat ingin ke suatu tempat, hanya berdua, lagi pula kau melupakanku dalam beberapa hari ini dan selalu saja bersama Sasuke."
"I-itu-"
"-Tenanglah. Aku sempat bertemu Kabuto, kau mengalami kecelakaan, bagaimana dengan lukamu?"
"Hanya luka lecet, nanti akan sembuh juga." Ucapku.
"Aku sampai khawatir saat Kabuto mengatakannya padaku, Sasuke itu seperti pembawa sial saja untukmu, kenapa kau tidak meninggalkannya saja?"
Terdiam, meninggalkan Sasuke? Kenapa aku tidak punya jawaban untuk itu? Seakan aku tak bisa melakukannya, bodoh, padahal hal itu sangat mudah.
"Hey-hey, jangan melamun, pokoknya hari ini jangan membahas manusia bom itu."
Manusia bom?
Ini cukup lucu, aku sampai menahan diri untuk tertawa.
"Kita akan kemana?"
"Rahasia." Ucap Sai.
"Tu-tunggu, kau tidak mengajakku keluar negeri lagi secara tiba-tiba 'kan?" Ucapku.
"Tidak, kali ini aku tidak membawamu jauh."
Sebuah genggaman tangan, Sai mengajakku pergi, kami bahkan hanya naik bus, setelahnya turun di halte dan kembali berjalan lagi, hari sudah semakin gelap, Sai akan mengajakku kemana? Tangan itu lagi-lagi menggenggam tanganku, terasa hangat, Sai terus menggenggam tanganku dengan erat, aku tahu dia orang yang menyukaiku, tapi apa seperti ini rasanya? Aku tak merasakan apapun meskipun tangan kami saling menyatuh, perasaan berdebar pun tak ada, semoga bukan karena perasaanku telah mati terhadap seorang pria, ini akibat rasa traumaku dulu, ah, tidak-tidak, aku masih tetap gadis normal, mungkin hanya masih kecewa saja.
"Aku sudah lama ingin ke tempat ini." Ucap Sai.
Kami tiba dia sebuah pasar malam yang tengah mengadakan festival, ramai, banyak orang, banyak toko yang bermacam-macam di sepanjang jalan ini.
"Kau tak apa-apa jika berada disini?" Tanyaku, sedikit khawatir, mungkin saja ada yang mengenalinya, para fans fanatik itu akan jauh lebih berbahaya saat seorang artis tanpa pengawal.
"Aku sudah menyamar dengan sangat baik, aku sudah mencobanya berjalan di keramaian sebelum menemuimu, tapi hanya kau yang menyadarinya."
"Sebenarnya penyamaranmu tak buruk, aku sempat tak mengenalimu." Ucapku.
"Aku tahu itu, hari ini kita akan kencan." Ucapnya dan tersenyum padaku.
"Tunggu." Ucapku, melepas genggam tangan yang membuatku tak nyaman. "Ada hal yang ingin aku katakan, tentang pernyata-"
"-Belum saatnya, apa kau akan pergi begitu saja setelah mengucapkan hal itu padaku? Aku ingin mencoba menahanmu sedikit lebih lama." Ucap Sai.
Aku jadi tidak tega, ucapannya benar, mungkin setelah aku mengatakan perasaanku padanya, suasananya akan menjadi sangat canggung.
"Baiklah, kita akan kencan hari ini." Ucapku.
Malam semakin larut, di sini semakin ramai, toko-toko yang menjajahkan makanan, pakaian dengan harga miring hingga aksesoris. Kembali Sai akan menggenggam tanganku, meskipun begitu ramai, tangan itu tak kunjung terlepas, menatapnya, dia akan sering menoleh dan tersenyum padaku.
Duaarr...! duaar...!
Kembang api?
Aku tak percaya akan melihat kembang api di festival biasa seperti ini, walaupun belum tahun baru aku sudah bisa melihatnya, kembang api itu semakin ramai menghiasi langit yang gelap, melihat sekelilingku, tatapan seluruh orang-orang yang berada disini hanya tertuju pada kembang api di langit.
Genggaman tangan Sai akhirnya terlepas, menoleh ke arahnya.
"Kau bisa mengatakan apa yang ingin kau katakan sekarang." Ucap Sai, tak ada raut wajah kecewa di sana, dia tetap terlihat senang saat menatapku, senyum manisnya tak juga pudar.
"Maaf, aku tidak bisa menerima perasaanmu!" Teriakku. Suara kembang api jauh lebih besar dari pada suaraku, aku harus teriak di hadapan Sai.
Sebuah tarikan yang membuatku terkejut, Sai sangat dekat, wajahnya tengah berada di sisi kiriku, suaranya jadi terdengar jelas jika seperti ini meskipun dia hanya berbicara pelan.
"Aku tahu, meskipun akhirnya akan seperti ini, terima kasih, aku mencintaimu."
Cup...~
Bibir dingin itu menempel pada pipiku, memegang pipiku saat wajahnya telah kembali menegak, senyuman itu tetap saja menghiasi wajahnya, kembang api tidak membuat hari ini lebih indah seperti langit malam saat ini, aku sudah mengatakan apa yang ada di hatiku dan Sai sudah mengatakan apa yang tetap ada di hatinya.
Aku membuatnya kecewa, tapi di satu sisi ini sedikit melegahkan, aku benar-benar minta maaf pada Sai, aku jadi tak harus membuatnya menunggu jawaban yang pada akhirnya akan menolaknya.
.
.
.
.
Bekerja di nice-market berakhir begitu saja, kembali bekerja pada Sasuke, melakukan kegiatan seperti biasanya di pagi hari, tapi ada yang berbeda, kamar apartemen Sasuke pindah, dia tidak ingin tinggal di tempat itu lagi, perabot baru, dapurnya lebih bagus dan juga kamar terpisah, dia sampai membuatkan sebuah kamar lagi, bukannya dia takut jika tidak ada seseorang di sampingnya jika dia tengah bermimpi buruk? Mungkin dia akan mencoba untuk menghilangkan kebiasaan buruknya itu, Kabuto sempat mengatakan padaku jika Sasuke kembali mencoba sebuah terapi agar dia tak terbangun lagi saat bermimpi buruk.
Jadwal hari ini, menatap ke depan, hal ini akan selalu terjadi jika mereka bertemu.
"Aku tidak mau bekerja sama denganmu!" Ucap Sasuke.
"Bagaimana pun juga kita harus bekerja sama, bagaimana Sakura?" Ucap Sai, bahkan merangkulku.
"Jauhkan tanganmu darinya! Berapa kali aku katakan untuk tidak menyentuhnya!"
"Sasuke, tenanglah." Ucapku, bagaimana bisa seorang artis yang sangat terkenal tapi sikapnya buruk seperti ini?
"Kau! Kenapa membiarkannya merangkulmu! Setidaknya kau harus menghindar!" Teriaknya, kesal.
Apa ada hari dimana dia tidak marah-marah? Mereka kembali mendapat projek yang sama, tapi lagi-lagi Sasuke akan kesal padanya.
"Sayang sekali, orang yang kau sukai itu temperamennya buruk." Ucap Sai, begitu pelan, hanya aku yang mendengarkannya.
Deg.
Menoleh ke arahnya.
"A-a-aku tidak menyukainya!" Tegasku.
"Apa yang kalian bicarakan? Jangan mengabaikanku!"
"Bukan apa-apa, kami hanya mengingat kencan kami." Ucap Sai, dasar ember, aku pikir dia tidak akan menyinggung masalah kencan itu lagi.
"Kalian berkencan?" Ucap Sasuke, dia jadi tenang.
"Begitulah." Ucap Sai, aku yakin dia hanya sedang membuat Sasuke semakin kesal.
"Aku tak tanya padamu." Ucap Sasuke, tatapan itu mengarah padaku. "Kalian berkencan?" Dia sedang bertanya padaku.
Aku sampai tak berani menatapnya, menundukkan wajahku, sebuah anggukan kecil dariku.
"Cepat selesaikan pekerjaan ini." Ucap Sasuke, menarik lengan Sai dan menjauhkannya dariku, dia mengajak Sai pergi setelah mendapat jawabannya.
Kenapa aku takut sekali? Seharusnya aku tidak perlu takut, saat itu juga aku sendiri yang mengatakan pada Sai, jika ini sebuah kencan, rasanya apapun yang aku lakukan Sasuke akan selalu marah.
Di dalam mobil dengan keadaan yang sunyi, setelah ucapan Sai dan aku pun membenarkannya, Sasuke jadi tak banyak marah, sesekali meliriknya, hanya terdiam dan seperti tengah memikirkan sesuatu, tiba di apartemen pun tetap diam.
"Baiklah, aku akan pulang, sampai jumpa besok lagi." Ucap Kabuto, dia pun sudah pergi.
Jadi semakin canggung.
"Apa kau ingin makan malam?" Tanyaku.
"Tidak." Ucapnya singkat.
Aku tidak suka dia seperti ini, jauh lebih menakutkan saat dia marah tapi dalam mode tenang.
"Apa kau marah padaku?"
Pertanyaan macam apa itu! Sasuke selalu marah, tapi entah mengapa aku malah merasa kali ini dia benar-benar marah.
"Aku ingin mandi dan jangan menggangguku, sebaiknya kau pulang, pak Do sedang menunggumu di bawah." Ucapnya, dia bahkan tak menatapku.
"Sa-sampai jumpa besok." Ucapku, gugup.
Haa...~ aku kesulitan menghadapi Sasuke yang seperti ini, dia benar-benar marah 'kan? Tapi kenapa harus marah jika aku dan Sai kencan? Lagi pula itu adalah kencan pertama dan terakhirku bersamanya, aku juga punya alasan untuk berbicara tentang pernyataan Sai padaku.
.
.
.
.
Beberapa hari berlalu, Sasuke masih dengan mode tenang tapi aku merasa dia marah besar, ucapannya singkat-singkat, iya, tidak, ah, hn, Apa? Kenapa? Aku jadi semakin takut jika dia seperti ini.
"Jika aku membuat masalah, kau bisa katakan padaku?" Ucapku.
Apa itu? Setidaknya katakan sesuatu, jangan hanya menatapku dan diam seperti itu!
"Tidak."
"Sungguh! Tapi kau terlihat sangat marah." Ucapku.
"Apa aku terlihat marah?" Tanyanya, jika di lihat dari tatapannya dan cara bicaranya, Sasuke memang tak terlihat marah, tapi tetap saja, aku merasa dia sedang marah.
"Jangan lupa akan janjimu, kita sudah sepakat, kau tidak boleh marah padaku." Ucapku, aku tidak ingin dia bersikap aneh seperti ini.
Bahu yang terlihat lebar itu perlahan bergerak, seakan dia tengah menghela napas, dia benar-benar marah! Aku yakin itu.
"Maaf." Ucapnya singkat dan pergi dari hadapanku.
"Jangan pergi! Kita belum selesai!" Ucapku, terkejut akan tindakanku yang tiba-tiba, aku sampai menarik belakang baju Sasuke untuk menahannya tidak pergi, segera melepaskan tanganku dari bajunya, aku bahkan tak berani menatapnya, memilih untuk menundukkan wajahku.
"Hn?" Gumamnya dan menatapku.
"A-aku akan jujur, aku tidak suka dengan sikapmu seperti ini, seakan-akan kau marah besar padaku." Ucapku, kenapa jadi malu sekali! Aku hanya sedang mengutarakan perasaanku yang campur aduk ini jika dia tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Aku paling benci saat seseorang menyentuh milikku." Ucapnya, mengangkat wajahku dan aku bisa melihat tatapan dingin itu.
Menyentuh milikmu?
Milikmu?
Apa mungkin maksudnya aku menyentuh belakang bajunya tadi?
"Maaf! Aku tidak bermaksud menyentuh bajumu." Ucapku, tidak mungkin persoalan marahnya karena aku menyentuh bajunya, dia sudah marah sejak beberapa hari yang lalu.
"Kenapa kau bodoh sekali!" Teriaknya, kesal.
Akhirnya dia kembali, inilah Sasuke-ku.
"Dimana otakmu! Bisakah kau menggunakannya sedikit! Bukan masalah bajuku! Bukan milikku yang itu! Milikku! Kenapa kau tidak mengerti juga!"
"Aku jauh lebih senang kau seperti ini." Ucapku.
"Kau benar-benar bodoh, apa ini efek bekerja di nice-market itu." Singgungnya.
"Jangan menyinggung tempat kerjaku, itu tidak ada hubungannya!" Aku pun kesal. "Kenapa tidak katakan dengan jelas, bagaimana aku bisa mengerti!"
"Bagaimana kau tidak bisa menahan diri di hadapan pria lain! Membiarkan mereka menyentuhmu seenaknya, pergi bersama begitu saja! Kau ini seorang gadis! Apa kau tidak punya rasa takut untuk para pria yang mengajakmu pergi!"
Hanya ada tanda tanya besar di atas kepalaku.
Apa yang sedang Sasuke permasalahkan?
Aku semakin bingung padanya.
.
.
TBC
.
.
akhirnya bisa update...~
di chapter ini, author gemes sama abang Sasuke, ngomongnya kek labirin, ehehehe.
uhuk" akhir-akhir ini author sedikit sibuk, tapi berusaha untuk tetap update cepat, rencana mau di kelarin ini saja dulu, fic lain bakalan di kelarin setelah pesan-pesan berikut, eh(?) setelah fic ini lah eheheh.
yak segitu aja.
.
.
see you next chap!
