© angstgoddess003

.


.

Baekhyun POV

Luar biasa lega. Itulah yang kurasakan saat memeluk leher Chanyeol erat-erat, dia bisa mati tercekik karena ulahku di gazebo.

Aku bisa merasakan senyumnya di leherku. Dia kembali padaku. Dan tidak hanya kembali, tapi sikapnya juga membuatku hampir menangis terharu. Aku tidak tahu apa yang sedang bergelojak di dalam dirinya, atau apa yang membuatnya seperti ini, tapi, api yang selama ini kulihat di dalam dirinya ternyata belum hilang. Dan bahkan api itu tidak lagi redup seperti dulu. Apinya menyala begitu terang, sampai-sampai aku bisa merasakan kehangatannya lewat sentuhannya.

Dan untuk pertama kalinya, aku yang menarik tubuhku terlebih dahulu. Dan saat aku siap-siap untuk beranjak, dia masih tersenyum, tapi dia menolak untuk melepaskan pinggangku. Aku tertawa dibuatnya. Tapi, aku harus pergi sebelum Luhan datang. Jadi, aku mengecup singkat bibirnya yang sudah bengkak dan berusaha melepaskan lengannya dari sekeliling tubuhku.

"Aku akan datang setelah berhasil kabur dari Luhan," janjiku.

Aku tahu Luhan akan bersama Sehun sepanjang malam. Aku bahkan sudah berbicara dengan Sehun sebelum mereka mulai menyalakan kembang api dan memintanya untuk membuat sibuk Luhan sepanjang malam agar ketidakhadiranku di rumah tidak ketahuan. Dan tentu saja Sehun setuju, dia benar-benar laki-laki favoritku nomor dua.

Chanyeol mengangguk, dan dengan enggan berjalan menjauh kembali rumahnya sebelum melihatku sejenak. Setelah dia pergi, aku berjalan berbelok-belok melewati kerumunan orang untuk menemui Bibi Irene dan membuat sebuah alibi yang meyakinkan. Bibi percaya dengan alasanku, dia berdiri di samping dr. Park, di pinggir sungai. Yang kulakukan hanyalah memberitahunya aku sudah lelah dan ingin segera tidur. Bibi tidak pernah mengecek keberadaanku di kamar pada malam hari, jadi, aku tidak perlu khawatir asalkan pintu kamarku tertutup.

Aku sedikit curiga Bibi Irene dan dr. Park sering menghabiskan malam bersama. Dan sebelum Chanyeol menarikku pergi, aku juga memerhatikan mereka sudah berpasangan untuk ciuman tahun baru. Aku sedikit frustasi karena tidak bisa melihat ciuman mereka untuk mengira-ngira seberapa romantis hubungan mereka.

Aku melihat Sehun di padang rumput dan memandangnya lama. Dia mengerti maksudku, dan mengangguk paham. Luhan sedang bergelantungan di punggungnya. Aku kembali melihat ke sekeliling padang rumput untuk mencari keberadaan Kris. Dia duduk di sebelah Jessica yang terlihat sudah bosan. Kris masih menembakkan kembang api, dan terlihat terlalu menikmatinya. Jadi, aku berjalan melintasi halaman, menyelinap melalui kegelapan, dan sampai di depan kediaman Park dengan mudah.

Chanyeol bilang padaku tadi pagi untuk langsung masuk. Suasana rumah ini terlihat terang dan kosong, dan aku berjalan menaiki tangga menuju kamar Chanyeol. Aku tahu dia sedang menungguku. Setelah aku mencapai pintunya, aku tidak mau repot-repot mengetuk dan langsung meraih kenop untuk membukanya.

Dia duduk di tengah-tengah tempat tidur. Dia masih mengenakan jaket kulitnya, dan tersenyum manis padaku. Melihat pemandangan seperti ini saja sudah membuat wajahku berseri-seri. Aku sangat merindukan senyumnya. Aku bahkan tidak bisa menahan diri setelah menutup pintu dan melesat ke tempat tidur. Aku melompat ke dalam pelukannya dan kembali mengalungkan lenganku di lehernya.

Antusiasmeku membuatnya jatuh telentang di tempat tidur, dan aku tiba-tiba takut sikapku sudah melewati batas. Tapi, dia hanya tertawa dan memeluk pinggangku sambil membenamkan wajahnya di rambutku dan menarik napas dalam-dalam.

Aku mengecup lehernya berkali-kali, karena aku senang bisa melakukannya lagi. Dan aku bahagia karena dia benar-benar memelukku, dan benar-benar menghirup aromaku, dan benar-benar senang melihatku di sini.

Dia berguling dan membawa tubuh kami ke bantal. Dan bukannya menempatkan kepalaku di dadanya, dia malah meletakkan keningnya di keningku dan menghela napas dalam-dalam. Dia bernapas lega. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku menyambut apa adanya.

Dia memelukku erat-erat dengan kedua lengannya di pinggangku. Aku sedikit khawatir lengannya yang terbaring di bawah tubuhku akan kesemutan, tapi dia sepertinya tidak peduli. Aku tersenyum lebar dan meremas tubuhnya.

"Aku sudah bertingkah seperti bajingan," bisiknya sedih di wajahku, dia menatap mataku dengan ekspresi menyesal.

Aku menggelengkan kepala.

"Tidak masalah sekarang," bisikku tulus selagi tetap menatap matanya, mencoba untuk menyampaikan semua cinta yang kurasakan untuknya.

Kemarahan yang telah bersarang di dalam diriku benar-benar telah hilang.

Dia tersenyum dan memindahkan kepalanya untuk memberi ciuman lembut di bibirku. Aku kaget dia mau menciumku di tempat tidur, melihat bagaimana kami punya semacam aturan tidak tertulis tentang hal ini di masa lalu.

Ciuman ini terasa lebih lembut dan sensual. Berbeda dari ciuman kami di gazebo. Tapi, intensitasnya masih terasa di dalam pelukannya yang semakin erat saat dia mengulum bibir bawahku dengan bermalas-malasan. Jadi, aku kembali membalas ciumannya dengan senang hati dan penuh kasih sayang, tanganku secara otomatis membelai rambutnya yang berantakan dan bagian belakang lehernya dengan lembut.

Kami tidak tidur malam itu. Kami bahkan tidak berpindah dari posisi kami. Kami menghabiskan waktu lima jam hanya dengan berciuman lembut. Tidak ada lidah yang terlibat dalam ciuman kami, dan aku sangat menikmatinya. Karena napas kami tidak terengah-engah dan kami tidak perlu melepaskan diri untuk menarik napas.

Nafsu itu masih ada, dan aku masih bisa merasakan kenyataannya saat Chanyeol memelukku erat-erat sambil sesekali menggeser pinggulnya ke pinggulku. Aku sama sekali tidak keberatan. Bahkan, aku juga bernafsu dan tubuhku seperti bergerak otomatis menyamai gerakannya. Tapi, ada sesuatu yang lain yang mengemudikan ciumannya. Dan aku tidak tahu apa itu, tapi aku membiarkannya mengalir. Aku terlalu sering tersenyum di bibirnya.

Pada pukul setengah enam pagi, aku sadar aku harus pulang. Jadi, dengan enggan aku memalingkan wajahku dari wajah Chanyeol. Dia membuka matanya dan mengerutkan kening yang membuatku tertawa pelan. Dia tidak ingin aku pergi. Tapi, aku harus pergi. Jadi, aku kembali mengecup singkat bibirnya lalu mengangkat tubuhku dari tempat tidur dan lengannya yang malang.

Aku tidak membawa tas atau pun piyama, tapi aku masih punya sekantong kue di saku jaketku. Aku meletakkannya di samping jam alarm. Kuenya sedikit hancur karena pelukan kami, tapi sebagian besar masih utuh. Aku tersenyum lebar padanya. Dia masih berbaring dan menatapku dengan serius, dan kembali cemberut karena aku harus pulang.

Aku sudah hampir sampai di pintu kaca saat mendengarnya melompat dari tempat tidur dan berlari ke arahku. Aku berbalik saat dia melangkah di depanku, lalu dia menyentuh wajahku dengan kedua tangannya dan meletakkan bibirnya di bibirku lagi. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan semangat, dan lidahnya masuk ke dalam mulutku.

Aku senang akhirnya ciumannya kembali kasar, aku membalas ciumannya, dan mengepalkan tanganku di jaket kulitnya yang masih dia kenakan, dan memiringkan kepalaku untuk memperdalam ciuman kami saat aku menariknya semakin dekat. Ini terasa seperti ciuman di gazebo.

Dengan perlahan tubuhnya mendorong tubuhku sampai punggungku bersandar di dinding, di samping pintu kaca. Gerakan lidahnya semakin mendesak dan tangannya sedikit terkepal di rambutku.

Aku merintih di dalam mulutnya dan memindahkan tanganku dari jaketnya untuk mengepal rambutnya, dan menarik-nariknya dengan kasar. Tubuhnya menekan tubuhku semakin erat ke dinding, dia akhirnya terang-terangan menunjukkan nafsunya sambil mendorong pinggulnya ke pinggulku dan mengerang. Napasku sudah terengah-engah di dalam mulutnya, lidahku mendorong lidahnya, dan aku mengerang saat merasakan pinggulnya mendorongku.

Aku melengkungkan pinggulku, menjauh dari dinding, dan membalas gerakan pinggulnya. Aku berusaha melawan keinginan untuk mengalungkan kakiku di pinggangnya agar dia bisa lebih dekat denganku. Aku bergerak melawan tubuhnya sambil mendesah dan berharap agar dia bersedia melakukan hal-hal yang jauh lebih intim dari ini denganku.

Dia mengerang sambil terengah-engah di mulutku dan sebelah tangannya berpindah dari rambutku untuk meraih pinggulku erat-erat, lalu menariknya lebih dekat saat lidahnya mendorong lidahku dengan tergesa-gesa.

Senang karena dia tidak menarik dirinya, tubuhku menggeliat melawan pinggulnya, dan napasku semakin terengah-engah di dalam mulutnya, membuat organ di antara kedua kakiku semakin basah. Seolah-olah membaca pikiranku, dia kembali mengerang di dalam mulutku selagi menyelipkan tangannya di bawah kaki kananku, dia membungkus jari-jarinya di sekeliling pahaku dan mengalungkannya di pinggulnya lalu mencengkeram dengan erat dan mendorong pinggulnya ke tubuhku.

Kontak baru yang kurasakan ini membuatku mendesah dan kembali menggeliat melawan tubuhnya. Aku pikir kalau kami terus melanjutkan aktivitas ini, aku akan menuruni jenjang tanaman dengan rambut yang benar-benar kusut. Tapi, aku tidak keberatan.

Aku rasa dia bisa membaca pikiranku, karena dia langsung menarik kembali lidahnya dari mulutku, namun bibirnya yang basah masih menempel di bibirku dan dia menarik napas dengan terengah-engah. Dengan lembut dia melepaskan kaitan pahaku dari pinggangnya.

Dia membuka matanya, dan matanya masih berselimut dengan nafsu dan bersinar dengan sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia menatapku dengan serius dan mengucapkan, "Selamat tahun baru, Baekhyun." Dia kembali menarik napas di bibirku.

Aku tersenyum di bibirnya dan membiarkan tawa kecilku lolos.

"Ya, selamat tahun baru juga," jawabku.

.


.

Chanyeol POV

Ini hari yang menyenangkan. Aku bahkan masturbasi tiga kali di kamar mandi setelah gadisku pulang.

Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Tidak mudah merasakan denyut ereksi selama lima jam, terutama saat penyebabnya juga menikmati ereksiku saat aku menekannya ke pinggulnya.

Dia bertingkah seperti ingin melakukan hal yang lebih jauh denganku. Dan kalau dia gadis lain yang berada di kamarku, dan menciumku seperti itu—sebelum ada Baekhyun—aku sudah langsung melucuti pakaian mereka dan menyetubuhi mereka di dinding. Tapi, aku tidak bisa menyetubuhi gadisku begitu saja. Dia layak mendapatkan hal yang lebih dari sekedar bersetubuh.

Bercinta, itulah yang pantas dia dapatkan. Dan aku tidak tahu apa aku bisa seberuntung itu dapat bercinta dengannya, tapi perasaan asing di dalam diriku yang semalaman kutumpahkan padanya memberiku harapan.

Aku tertawa sendiri saat menyadari akulah yang belum siap untuk melakukan hal yang jauh lebih intim dengan gadisku. Dan tentu saja, dia bisa merasakan cintanya untukku tanpa ada keraguan.

Aku menghabiskan sisa hariku dengan menunggu kedatangannya. Sensasi yang terasa selalu menarik-narikku ini sedikit mereda saat aku tidak bisa melihatnya, tapi aku masih tetap bisa merasakannya. Aku membutuhkannya untuk berada di sampingku dan menyentuhku.

Aku ingin mengambil cincin sialan dari leherku dan memakainya dengan cara yang semestinya saat hubungan dua orang sudah resmi dan saling cinta. Tapi, aku masih tidak tahu dengan perasaanku. Aku berharap siapapun yang menciptakan barang terkutuk juga menciptakan cara memakainya yang bermakna "Terlalu gila untuk kembali merasakan cinta, tapi sangat, sangat ingin merasakannya". Kemudian aku terpikir perusahaan yang bergerak dalam industri kartu ucapan akan merugi kalau membuat kartu seperti itu.

Aku mencoba untuk menghabiskan hariku di lantai bawah, tapi Papi B. sedang mabuk. Dia merajuk di dalam ruang kerjanya dan berusaha untuk menyembunyikan fakta, tapi tetap saja aku tahu. Dia selalu bersembunyi saat mabuk. Aku ingin membuatkan obat penawar mabuk fantastis gadisku, tapi aku rasa itu hanya akan membangkitkan kecurigaan.

Aku menghindar dari Kris selagi dia bermain video game barunya yang dia peroleh sebagai kado Natal. Aku menghabiskan sedikit waktu dengan mengerjakan PR karena besok aku akan kembali bersekolah. Aku meringis memikirkan memulai tahun baru tanpa mobilku kalau nilaiku turun.

Saat gadisku akhirnya datang pukul sepuluh malam, aku semakin gelisah, dan benar-benar lelah karena tidak tidur semalaman. Aku membukakan pintu dan tersenyum melihatnya saat sensasi aneh yang menarik-narikku ini kembali muncul dan mereda secara bersamaan.

Manik kecilnya bersinar saat menatap mataku, dan dia tersenyum. Dan saat aku akhirnya mengalihkan pandanganku dari wajah gembiranya, aku langsung memerhatikan rambut ikal mengkilapnya sudah kembali muncul.

Aku tidak sabar membawanya ke dalam kamar. Aku bahkan tidak sempat menutup pintu saat menariknya ke tubuhku dan mengulum bibirnya.

Dia tersenyum di bibirku dan membalas ciumanku dengan penuh sukacita saat lidah kami bertemu. Aku memeluk tubuhnya erat-erat, sebelah tanganku masuk ke dalam rambut ikalnya yang mengkilap dan mendesah saat sensasi aneh yang menarik-narikku hampir sepenuhnya hilang dan digantikan dengan gelombang perasaan asing.

Aku mengakhiri ciuman kami sebelum ereksiku kembali berdenyut untuk lima jam ke depan. Dia membongkar makanan di tempat tidur dan bersiap-siap untuk berjalan ke sofa, tapi aku cepat-cepat meraih lengannya.

"Duduk bersamaku malam ini?" tanyaku memohon saat dia menatapku, aku tahu sensasi yang selalu menarik-narikku untuk bersamanya akan semakin menjadi-jadi kalau aku hanya menatapnya di seberang kamar sepanjang malam.

Senyumnya semakin lebar dan dia mengangguk antusias, membuat semua ikal rambutnya bergerak di sekeliling wajah dan lehernya. Dengan lega, aku menjatuhkan tubuhku ke tempat tidur dan mulai membuka semua hidanganku selagi gadisku berjalan ke sofa untuk membuka hoodie-nya, dia mengenakan sweater gelap yang memerlihatkan dua sentimeter lebih dari kulitnya, dan mengambil sebuah buku dari rak.

Dia duduk di sampingku selagi aku makan, dia bercerita tentang harinya bersama Luhan dan Bibi Irene. Kami menghabiskan waktu beberapa menit untuk membahas kecurigaan kami tentang Paman Bogum dan Bibi Irene. Baekhyun terlihat kaget saat aku memaparkan perjalanan bisnis mereka di hari yang bersamaan.

Dia ternganga saat aku memasukkan sepotong ham lezat ke dalam mulutku.

"Apa kau pikir..." dia terhenti bicara, tidak percaya.

Aku tergelak dan menggeleng karena kenaifannya saat roda mulai berputar di kepalanya. Sedikit lucu menurutku karena tidak semua orang menyadarinya. Dia menghabiskan waktu sepanjang sisa makananku untuk meyakinkan Bibi Irene adalah pasangan yang sempurna untuk Paman Bogum.

Aku menatap maniknya yang menyala saat memikirkan itu. Aku tidak memprotesnya. Bibi Irene jauh lebih baik dari semua perawat di rumah sakit yang selalu mengikuti Paman Bogum kemana-mana.

Setelah aku selesai makan, aku mengucapkan terima kasih dengan memberinya kecupan lembut, lalu membelai ikal mengkilapnya yang jatuh ke wajahnya saat aku mengulum bibir bawahnya. Aku membiarkan gelombang perasaan asing ini masuk ke dalam ciuman kami, menunjukkan perasaanku padanya, dan menikmatinya. Saat aku menarik diri, dia kembali tersenyum lebar. Aku sepertinya terlalu menikmati suasana.

Kami berdua sudah cukup lelah, jadi kami langsung mengganti pakaian untuk segera tidur. Setelah aku mematikan lampu, aku langsung berbalik dan memeluk gadisku erat-erat, lalu mengumpulkan rambutnya di atas kepalanya dan membenamkan wajahku di sana sambil mendesah.

Aku mengecup lembut puncak kepalanya saat dia mulai bersenandung lagu pengantar tidurku, dan memeluknya bersama perasaan asing yang kurasakan ini sampai akhirnya aku tertidur.

Saat alarm berbunyi, aku benar-benar tidak ingin menarik tubuhku darinya. Jadi, aku langsung berguling sambil membawa gadisku dan mengerang. Dia berguling di atas tubuhku, dan membenamkan wajahnya di dadaku, rambut ikalnya menutupi leher dan tenggorokanku selagi aku berusaha menundukkan jam alarm dengan segala kebencianku.

Dia mencoba untuk melihat ke arahku, tapi rambutnya menghalangi wajahnya, sehingga mustahil baginya untuk menatapku. Aku tertawa—masih mengantuk dan mengangkat sebelah tanganku dari pinggangnya untuk menyeka rambutnya. Dia sejenak menatap mataku sebelum akhirnya tersenyum lebar. Dan aku kembali tersenyum padanya sambil mengangkat bahu. Aku akan melakukannya setiap pagi kalau senyumnya adalah hal pertama yang bisa kulihat saat bangun tidur.

Dia bergeser untuk bangun, dan kemudian tubuhnya membeku, dia menatapku dengan mata lebar. Perlahan aku memejamkan mata dan menggeleng meminta maaf, sambil berharap aku tidak memilih posisi seperti ini saat mengenakan celana piyama yang tipis. Ereksi pagi brengsek.

Aku kembali membuka mata dan meliriknya sambil meringis.

"Aku tidak bisa mengendalikannya," ucapku menggerutu dan mengantuk, berharap dia tidak berpikir aku ini orang aneh.

Sesaat, dia hanya duduk diam, dan aku khawatir sudah membuatnya merasa tersinggung. Tapi kemudian, dia tersenyum padaku dan tertawa kecil saat beranjak keluar dari tempat tidur.

Aku memutar mataku dan mulai mengelus rambutku sendiri saat dia beringsut ke kamar mandi sambil tertawa-tawa. Saat dia keluar dan mulai mengemasi semua barang-barangnya, aku berguling dari tempat tidur. Tidak biasanya aku melakukan ini sampai dia pergi, tapi aku ingin memberinya sebuah ciuman untuk memulai harinya. Jadi, aku menunggunya meletakkan kue di meja samping tempat tidur.

Saat dia berbalik dan melihatku berdiri di pintu kaca menunggunya, dia sedikit kaget. Aku tersenyum padanya dan bersandar di dinding samping pintu saat dia berjalan ke arahku sambil tersenyum. Setelah dia cukup dekat, aku meraih wajahnya dan membawa bibirnya ke bibirku. Saat itulah aku teringat bagaimana semua kecupanku di pipinya membuatku merasa seperti sampah. Jadi, aku mencengkeram wajahnya lebih erat dan menuangkan semua perasaan asing ini ke dalam ciumanku.

Saat dia menarik dirinya, matanya menyala penuh kebahagiaan dan membuat perasaan asing ini membengkak dua kali lipat di dalam diriku. Aku langsung mengelus pipinya. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku membukakan pintu untuknya dan menatapnya melangkah keluar balkon. Rambut ikal mengkilapnya yang kusut, tertiup ke segala arah karena hujan angin.

Aku mengerutkan kening karena membayangkan gadisku harus berjalan melalui hujan yang dingin ini. Tapi, dia memanjat pagar dan menuruni jenjang tanaman rambat begitu cepat sampai-sampai aku tidak punya waktu untuk menyuarakan pikiranku.

.


.

Aku mengemudi ke rumah Sehun, masih dalam keadaan mabuk perasaan asing ini. Sesampainya Sehun di mobil, aku melihatnya masih sedikit mabuk karena perayaan tahun baru kemarin, aku mengucapkan terima kasih karena taktik pengalihan perhatiannya pada Luhan malam itu.

Aku sempat berpikir untuk menceritakan perasaan asing ini padanya, tapi kemudian aku khawatir kami berdua akan berkomitmen untuk membuat acara menginap dan mengepang rambut saat kami membahas perasaan masing-masing. Persetan dengan semua itu.

Dan saat aku parkir di sekolah, aku langsung sadar aku kacau. Aku melihat gadisku berdiri sendirian di tempat parkir selagi Luhan menyambut Sehun dengan antusiasme yang sedikit murahan dan hampir membuatku muntah.

Sensasi aneh yang menarik-narikku ini semakin menjadi-jadi saat melihatnya berdiri sendirian, dan aku tidak bisa mendekatinya.

Aneh sekali rasanya. Aku bertanya-tanya apa ini hal yang baik atau buruk, dan apa seperti ini rasanya cinta? Dan bagaimana caranya Baekhyun bisa menangani hal yang begitu kuat seperti ini?

Aku mengangkat bahu dan berjalan ke kelas pertama, merasa semakin seperti sampah dengan tiap menit yang berlalu. Aku menghabiskan dua kelas pertamaku dengan fokus belajar, dan bersyukur karena sensasi aneh yang menarik-narikku ini tidak terlalu parah saat aku tidak bisa melihat gadisku.

Kemudian dalam perjalananku menuju kelas ketiga, aku melihatnya di lorong. Dia berjalan ke arahku dengan hoodie terangkat dan kepala tertunduk. Dan dia langsung merasakan kehadiranku seperti biasa, karena kepalanya sedikit naik dan dia balas menatapku saat aku berjalan ke arahnya.

Aku mencoba untuk meredam sensasi menarik-narik ini dan hal ini membuat jariku berkedut ke arahnya. Tapi, tepat saat jariku sedikit terangkat ke arahnya, jarinya juga sedikit terangkat ke arahku, di samping pahanya. Dan kami bersentuhan. Tepat di tengah-tengah lorong, di depan semua orang.

Ini hanya sentuhan ringan. Dan ini benar-benar tidak disengaja.

Aku langsung berhenti dan berbalik melihatnya. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku bahkan kaget melihat reaksiku sendiri. Tapi, saat aku berbalik, aku hanya bisa melihat punggungnya yang berjalan menjauh.

Aku berdiri sejenak di sini sambil menarik-narik rambutku dan mengerutkan alis sebelum akhirnya tersentak dan melanjutkan perjalanan menuju kelas. Aku menghabiskan pelajaran Sastra Korea dengan membaca literatur lama yang menggambarkan cinta dan emosi lainnya, dan mencoba untuk menyimpulkan seberapa dekat perasaan asingku ini dengan cinta. Tapi, ini semua terlalu membingungkan.

Aku rasa membaca dan merasakan adalah dua hal yang sangat berbeda. Setelah mencobanya begitu lama, aku akhirnya menyerah. Aku pikir kalau perasaan asing yang kurasakan ini membuatnya bahagia, berarti aku tidak perlu mengkhawatirkan sebutannya, atau seberapa dekat perasaan ini dengan cinta. Aku hanya sangat senang punya perasaan ini.

Dan pada saat jam istirahat siang tiba, aku telah memutuskan untuk berhenti terobsesi dan menikmati suasana. Aku masih tenggelam di dalam perasaan ini.

Aku berjalan ke mejaku yang biasa di kantin dan menghenyakkan tubuhku ke kursi. Aku melirik ke meja gadisku, dia belum ada di sana, jadi aku mengambil sekantong Heavenly Hazelnut Perfection dari tasku dan mulai memakannya selagi menunggu gadisku masuk. Aku memang tidak bisa duduk dengannya, tapi aku masih bisa melihatnya.

Aku kaget saat Sehun berjalan ke dalam ruangan. Dan bahkan lebih kaget lagi saat dia datang untuk duduk bersamaku. Dia duduk di depanku, dan mengeluarkan sekantong kue yang dibuatkan Baekhyun untuknya. Dan entah kenapa aku merasa cemburu saat melihatnya bersama sekantong kue buatan gadisku. Tapi, aku tidak mengatakan apa-apa. Ini benar-benar tidak rasional.

Aku menaikkan sebelah alisku saat dia membuka kantong kuenya.

"Tidak ada gila-gilaan lagi di lemari kebersihan hari ini?" tanyaku penasaran, aku ingin tahu kenapa dia tidak bercumbu dengan Luhan selama sejam.

Dia memakan sepotong kue. "Luhan ingin duduk dengan Baekhyun," ucapnya sambil mengangkat bahu dan mengunyah pada waktu yang bersamaan.

Aku sedikit meringis jijik saat melihat remah-remah berterbang keluar dari mulutnya.

Aku menggeleng dan terus makan kueku. Aku senang Luhan masih lebih memilih untuk mempedulikan gadisku daripada berciuman dengan Si Jorok Brengsek di depanku.

Aku terus menatap pintu, menunggu mereka untuk masuk, selagi kami makan dalam diam. Luhan yang masuk terlebih dahulu, dia melirik lama Sehun dan duduk di mejanya dengan Jessica dan Kris. Aku penasaran apa dia pernah melihat bajingan ini makan sebelumnya. Menjijikkan. Lebih parah dari Kris.

Kemudian gadisku berjalan masuk dengan hoodie terangkat dan mengernyit menjauh dari orang-orang di sekelilingnya sambil meringis. Aku melihatnya dengan serius saat sensasi aneh yang menarik-narikku ini semakin tumbuh di dadaku dan membengkak, dan membuatku ingin melupakan segala sesuatu yang mencegahku datang padanya.

Dia duduk di sebelah Luhan dan mengangguk singkat pada mereka semua. Saat dia membungkuk untuk mengambil buku dan kue dari tasnya, aku masih menatapnya dengan serius sambil berharap dia membalas tatapanku. Seperti saat kami berada di padang rumput di malam tahun baru.

Aku menatap bagian atas hoodie-nya saat dia mengaduk-aduk tasnya dan aku memblokir semua orang yang berada di ruangan ini.

Akhirnya, saat dia duduk kembali, mata kami bertemu. Dia menatap tepat ke arahku, dan aku bisa melihat matanya menyala saat bertemu dengan mataku. Matanya bersinar penuh dengan cinta. Ini membuat perasaan asing dalam diriku kembali membengkak. Begitu pula dengan sensasi menarik-narik yang kurasakan untuk berada di dekatnya.

Tapi, aku tahu aku tidak bisa bersamanya sekarang. Jadi, aku melakukan satu-satunya hal yang kubisa dan menuangkan perasaan asing ini ke dalam tatapanku, berharap dia bisa melihatnya, dan mengerti meskipun aku tidak bisa bersamanya sekarang, tapi aku benar-benar ingin melakukannya.

Dan seolah-olah dia paham maksudku, dia langsung tersenyum dan buru-buru mengalihkan pandangannya dengan membuka buku. Aku berkedip beberapa kali, dan kemudian kantin tiba-tiba saja sudah ramai. Aku menghela napas dalam-dalam dan akhirnya mengalihkan tatapanku darinya, kembali melihat Sehun.

Entah kenapa matanya melebar menatapku. Dia menganga sambil memegang kue. Sebelah alisku terangkat melihatnya, bertanya-tanya apa yang begitu membuatnya tertarik. Tapi, bukannya menjawab, dia malah memutar kepalanya ke arah meja Luhan. Aku mengikuti tatapannya ke seberang ruangan, dan sedikit kaget saat menyadari dia ternyata menatap gadisku.

Akhirnya, Sehun berbalik melihatku. Alisku kembali terangkat, tapi dia kembali melihat Baekhyun, lalu menatapku lagi. Dan kemudian dia menyeringai. Keningku berkerut melihatnya, bertanya-tanya apa Luhan memamerkan celana dalamnya. Itu tidak akan membuatku kaget sebenarnya.

Dia mencibir dan menggeleng. Kemudian dia mengucapkan empat buah kata yang hampir membuatku mendapat serangan jantung.

"Bukankah cinta itu menyenangkan?" tanyanya masih menyeringai.

Aku menganga melihatnya, bertanya-tanya bagaimana dia bisa sampai pada kesimpulan itu.

"Apa yang kau bicarakan?" tanyaku frustrasi.

Enak saja dia bicara seperti itu saat aku mati-matian mencoba merasakannya.

Dia kembali mencibir, membuatku ingin menghantam kepalanya ke meja.

"Apa kau benar-benar tidak mengerti?" tanyanya dengan nada merendahkan.

Aku semakin gusar dan mengangkat alisku. Ya, aku memang tidak mengerti. Tapi, alangkah baiknya kalau kau tidak mengucapkannya langsung di mukaku, Brengsek.

Dia menggeleng sekilas. "Kau mencintainya," ucapnya singkat. Seolah-olah dia tahu segalanya.

Aku mencoba menahan semua harapan yang kurasakan. "Dan bagaimana caranya kau bisa menyimpulkan itu?" tanyaku frustrasi.

Dia akhirnya meletakkan kuenya, lalu membersihkan remah-remah dari meja di depannya, dan mencondongkan tubuhnya ke depan dengan lengan terletak di atas meja.

"Sudah berapa lama aku mengenalmu?" tanyanya samar.

Dia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Ini benar-benar... Sehun.

"Hampir lima tahun," jawabku tidak sabaran, berjuang keras untuk tidak menyipitkan mata melihatnya.

Dia mengangguk padaku. "Dan sudah berapa kali aku duduk di depanmu saat istirahat makan siang?" tanyanya lagi.

Aku memutar mata. Dia mengangguk sambil menggerak-gerakkan bibirnya.

"Seberapa sering kau menatap seseorang seperti kau menatapnya?" tanyanya.

Dan karena sepertinya dia tahu segalanya, tapi tidak denganku, jadi aku gagal untuk melihat hubungan pertanyaannya dengan kesimpulan yang didapatnya. Hubunganku dengan Baekhyun memang lebih dekat daripada hubunganku dengan orang lain. Tentu saja aku akan melihatnya dengan cara yang berbeda.

Dia terlihat gusar dan duduk bersandar di kursinya saat aku masih tidak kunjung paham.

"Tatapan, Chanyeol," ucapnya jengkel sambil melemparkan tangannya ke udara. Dan aku menatapnya.

Tatapan bagaimana?

"Oh, Tuhan," gumamnya sambil menggeleng.

Aku mengerutkan keningku dan hampir tidak bisa mengendalikan diri untuk melompat ke seberang meja dan mencekiknya karena merendahkanku. Dia mengusap tangannya ke wajah dan mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali berandar ke meja dan menatapku dengan serius.

"Caramu menatapnya?" tanyanya dengan alis terangkat.

Aku mengangguk.

"Aku kenal baik dengan tatapan itu," sambungnya lagi. Seolah-olah dia paham benar dengan situasi ini. "Caramu menatapnya sama dengan caranya menatapmu," lanjutnya dengan alis terangkat dan menyeringai.

Keningku berkerut dan kembali menatap gadisku yang duduk di mejanya sambil membaca buku. Aku mencoba memahami tatapan apa yang dimaksud Sehun.

"Dengan cinta," ucapnya lagi, dia bersandar kembali ke kursinya dan lanjut memakan kue.

Aku terus menatapnya dengan serius saat dia makan kuenya. Bertanya-tanya dalam hati apa mungkin perasaan asing yang kurasakan ini adalah cinta. Aku sedang mengujinya dengan mencoba memikirkannya.

Aku mencintai Baekhyun.

Sehun mendengus dari tempat duduknya. "Ya, Brengsek. Itu yang kubilang," ucapnya sambil tertawa.

Kepalaku tersentak melihatnya dengan bingung. Aku bahkan tidak sadar sudah mengucapkannya keras-keras. Dan, ucapanku sama sekali tidak terasa palsu, atau seperti dusta, atau bahkan dipaksakan. Itu terdengar... apa adanya.

Dan realitas seperti menamparku begitu keras sampai-sampai aku ingin tertawa dan menangis dan berlari ke gadisku dan menciumnya. Karena aku benar-benar merasakannya. Aku benar-benar mencintai Baekhyun.

Sehun melihatku dengan geli. Perasaan asing ini akhirnya memiliki nama. Dan aku sudah menunjukkan semua cintaku padanya selama dua hari terakhir ini. Dan aku sekarang sedang berjuang mati-matian untuk menahan tawaku agar Sehun tidak meledekku karena kebodohan emosional yang kualami. Dan kemudian aku menyadari bagian terbaik dari semua ini.

Aku tidak sabar untuk memberitahu gadisku, aku mencintainya. Aku ingin berlari padanya saat ini juga, di ruang makan, dan menumpahkan segalanya pada gadisku dan akhirnya melihat ekspresi bahagia gadisku saat aku mengungkapkannya. Tapi, karena aku sedang jatuh cinta, dan merasa tidak berdaya dan sentimen, aku butuh momen yang lebih pribadi dan istimewa. Jadi, aku mengunci mulutku dan makan sisa kueku sambil tersenyum.

Sehun terus menertawakanku dan menggelengkan kepalanya, jelas geli melihat euforiaku. Tapi, tingkahnya yang menyebalkan sama sekali tidak merusak suasana hatiku.

Aku berjalan ke kelas Biologi sepuluh langkah di belakang gadisku, memelototi siapapun yang berjalan terlalu dekat dengannya. Aku bisa merasakan sensasi menarik-narik dan perasaan asing... bukan... cinta... yang kupunya untuknya membengkak dalam diriku saat aku mengambil tempat duduk di sampingnya.

Sekarang adalah hari menonton film dokumenter. Film tentang parasit yang akan diputar benar-benar terdengar membosankan, dan sama sekali tidak akan kupedulikan. Dan segera setelah Shin seonsaengnim mematikan lampu dan memulai filmnya, aku menggeser tanganku ke samping, ke tempat tangan gadisku berada di meja lab, dan menyambar tangannya, lalu membawanya ke bawah meja dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jariku.

Aku hampir bisa merasakan senyumnya dalam kegelapan saat dia balik mencengkeram tanganku. Kami menghabiskan seluruh jam pelajaran hanya dengan mengusap dan membelai tangan masing-masing.

Aku sudah hampir mengatakannya pada gadisku beberapa kali. Yang perlu kulakukan hanyalah bersandar ke arahnya dan berbisik di telinganya. Tapi, aku menahan diri, dan berpikir sebaiknya aku mengucapkannya saat kami sendirian, agar aku benar-benar bisa menunjukkan padanya dan dia tidak perlu menyembunyikan senyumnya, dan aku bisa menciumnya setelah itu.

Setelah film selesai, aku benar-benar tidak ingin melepaskan tangannya, tapi aku harus melakukannya ketika lampu dinyalakan kembali. Kami perlahan melepaskan genggaman tangan kami. Dan saat bel berbunyi, kami mengemasi barang-barang dan bangkit untuk keluar dari kelas.

Aku kembali berjalan sepuluh langkah di belakangnya, masih memelototi setiap bajingan yang berada cukup dekat dengannya, sebelum akhirnya menjauh untuk pergi ke kelas terakhirku hari ini.

Aku menghabiskan seluruh jam pelajaranku dengan memikirkan bagaimana caranya aku mengatakan perasaanku padanya, aku ingin membuat momen ini terasa begitu berharga dan sempurna, aku ingin melihat raut wajahnya yang sudah kudamba-dambakan sejak Natal.

Aku rasa sebaiknya aku mengatakan padanya setelah kami berciuman, atau mungkin membawanya ke gazebo. Gazebo sepertinya tempat yang paling tepat. Mengingat di sana adalah tempat pertama kali aku menunjukkan cintaku padanya, sekalipun aku tidak tahu perasaan ini disebut dengan cinta pada saat itu.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apa laki-laki lain akan memberikan gadisnya kado saat mereka mengatakan hal semacam ini. Aku benar-benar tidak paham. Aku bisa saja membuat seorang gadis mencapai klimaks berkali-kali dan menjerit menyebut namaku, tapi untuk mengungkapkan cintaku pada gadisku, aku benar-benar hilang arah.

Pada akhir jam pelajaran, aku akhirnya sadar ini adalah Baekhyun. Gadisku. Dia mungkin tidak akan peduli bagaimana caraku mengatakan cintaku padanya, asalkan aku mengucapkannya. Dan aku pasti akan melakukannya.

Aku mungkin orang pertama yang berada di tempat parkir saat jam pelajaran berakhir. Aku sudah tidak sabar untuk mengakhiri siang ini, agar aku bisa mengungkapkannya pada gadisku. Aku bertekad untuk melihatnya sekilas sebelum pukul sepuluh datang. Aku bersandar di pintu mobilku dan menatap pintu aula menunggu kemunculannya.

Anehnya, tidak seorang murid pun keluar dari aula, tapi banyak guru yang berdatangan ke sana. Aku melihat Shin seonsaengnim masuk, lalu Kang seonsaengnim, dan kemudian Kwon seonsaengnim, perawat sekolah. Tapi, tidak ada seorang pun yang keluar. Mungkin mereka terlambat bermain basket atau lainnya, aku masih berdiri di pintu mobilku dan menunggu selagi murid lain yang sudah berada di tempat parkir mulai pulang.

Aku menunggu sampai parkiran kosong, tapi tidak ada yang keluar. Keningku berkerut dan aku menarik-narik rambutku sambil bertanya-tanya dalam hati apa mungkin mereka semua sudah keluar lebih awal. Itu akan menjelaskan kenapa staf pengajar terus berjalan tergesa-gesa ke sana. Tapi, mobil Luhan masih ada. Dan saat aku hendak menyerah dan pulang, seseorang keluar dari aula.

Sehun.

Aku begitu sibuk memikirkan dan menunggu gadisku, sampai-sampai aku tidak sadar Sehun belum berada di dalam mobilku. Dia berdiri di depan pintu aula dan menarik-narik rambutnya sebelum akhirnya menatapku. Raut wajahnya membuatku kaget. Panik.

Aku berjalan ke arahnya saat dia datang berlari ke arahku, ke parkiran. Satu juta skenario langsung berputar di kepalaku. Anthrax, penembakan di sekolah, atapnya runtuh—meskipun atapnya masih terlihat baik-baik saja.

Setelah dia akhirnya berada di depanku, dia membungkuk terengah-engah, dan mengistirahatkan telapak tangannya di atas lutut. Dia menatapku dengan panik.

"Baekhyun," ucapnya terengah-engah.

Mataku melebar panik.

"Kenapa?" tanyaku mendesak dan akan langsung berlari ke aula kalau dia tidak bicara lebih cepat.

Dia tersentak dan menggeleng, masih memegang lututnya.

"Ada bajingan di aula yang tidak sengaja menyikutnya saat mereka bermain basket," ucapnya sambil berdiri tegak.

Tapi, sebelum aku bisa bertanya lebih lanjut, tatapan panik Sehun langsung bergeser ke belakangku. Aku mengikuti arah tatapannya dan melihat mobil Bibi Irene melaju ke tempat parkir. Dia bahkan tidak memarkir mobilnya, dia langsung berlari keluar dan mulai berjalan menuju aula.

Aku berbalik kembali melihat Sehun dengan ekspresi mendesak di wajahku.

Ceritakan semuanya.

Dia menyilangkan lengannya di depan dada dan berbicara cepat.

"Dia menyikut Baekhyun dengan keras. Dan Baekhyun langsung panik. Dia tidak membiarkan siapa pun menyentuhnya, bahkan Luhan sekalipun." Dia menarik napas dan berkata, "Ada darah..."

Dan aku bahkan tidak menunggunya menyelesaikan ucapannya. Aku langsung berlari melintasi lorong menuju aula, seperti hidupku bergantung pada hal ini. Aku berdoa agar gadisku baik-baik saja.

Hujan yang dingin menampar wajahku saat melintasi rumput dan beton. Lenganku sudah terjulur bahkan sebelum aku berhasil mencapai pegangan pintu aula. Dan segera setelah aku membuka pintunya, dadaku rasanya dipukul dengan palu.

Suara jeritan. Suara jeritan mengerikan dan isak tangis beresonansi di sekeliling aula dan keluar dari pintu. Dan aku tahu siapa pemilik isak tangis dan jeritan ini.

Gadisku.

Saat aku melesat ke dalam aula, aku melihat kerumunan orang di tengah-tengahnya. Beberapa dari mereka adalah murid, masih berseragam olahraga, dan beberapa diantaranya adalah staf pengajar yang memasang ekspresi panik saat mendengar suara jeritan kesakitan dan isak tangis Baekhyun. Dan mereka semua berkumpul di sekitar sumber suara yang mengerikan ini.

Aku meringis saat berlari di lantai aula, aku hampir tergelincir karena sepatuku yang basah. Tapi, aku tidak berhenti, aku terus berlari sampai mencapai kerumunan. Tapi, aku tidak bisa melihat menembus mereka. Jadi, aku mulai mendorong mereka semua dengan marah, putus asa untuk melihat gadisku.

Kang seonsaengnim menggenggam jaket kulitku saat aku melewatinya, dia berteriak padaku, tapi aku tidak bisa mendengarkan apa-apa selain jeritan gadisku, jadi aku mendorongnya dengan marah. Dari suara jeritan gadisku, aku langsung tahu dia sudah seperti ini dalam waktu yang lama.

Aku bertanya-tanya seberapa lama tepatnya ini terjadi saat aku mendorong Sulli dengan kasar. Dan dengan sebuah dorongan terakhir pada Heo seonsaengnim, aku akhirnya bisa melihat gadisku.

Dan melihatnya seperti ini hampir membuatku jatuh berlutut. Dia berbaring di lantai kayu dengan kening berada di antara lututnya, dia masih mengenakan seragam olahraga dan hoodie. Dan dia gemetaran saat seluruh ruangan penuh dengan suara teriakan seraknya.

Ini bukan Gunjangan Mental Aneh biasa. Ini benar-benar kacau dan mengerikan, dan dia semakin kesakitan dengan tiap jeritannya.

Bibi Irene berdiri di sampingnya dengan ekspresi paling memilukan yang pernah kulihat dan tidak berdaya, air mata membasahi wajahnya. Tangannya terjulur gemetaran untuk mengelus kepala gadisku yang tertutup hoodie. Dan dia seharusnya tidak melakukan ini. Karena sentuhannya membuat jeritan dan tangisan gadisku semakin menjadi-jadi.

Bibi Irene langsung menghentakkan tangannya menjauh, dan ekspresi keputusasaan muncul di wajahnya yang panik. Dia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel dan mulai menelepon. Tapi, aku tidak bisa mendengar apa pun yang terjadi di sekitarku kecuali suara gadisku, dan kesengsaraan dan penderitaannya.

Luhan yang malang membungkuk di sampingnya, ikut menangis bersamanya, dan ekspresi putus asa di wajahnya sama persis dengan ibunya. Sehun menerobos kerumunan dan menghampirinya.

Tapi, perhatianku terfokus pada gadisku yang gemetaran di depan. Dan aku melihat darah berceceran di lantai kayu, di kepalanya. Aku panik mencari-cari darimana asal darahnya, tapi wajahnya tertutup rambut, dan kepalanya ditutupi hoodie.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk berpikir jernih walaupun jeritan gadisku membuatku ngeri dan bergidik, dan aku hampir terisak saat mencengkeram rambutku sendiri dan memejamkan mataku. Dan kemudian aku tahu apa yang harus kulakukan. Dia tidak membiarkan bibi atau sepupunya untuk menyentuhnya. Tapi, aku berani bertaruh aku bisa melakukannya.

Persetan dengan semua rahasia. Aku akan memberikan hidupku untuk membuatnya keluar dari situasi ini.

Aku membuka mata, dan menatap Sehun dengan tajam. Dia balik menatapku, pahaman melintas di wajahnya, dia akan memeluk Luhan di dadanya dan membawanya berdiri dari lantai di sebelah Baekhyun. Dan untuk pertama kalinya dalam hari ini aku sangat bersyukur dia paham dengan segala situasi. Karena aku akan menemui banyak rintangan.

Sambil menarik napas dalam-dalam, aku mulai berjalan ke pusat kerumunan. Dan saat aku melangkah maju, Kang seonsaengnim meraih bagian belakang jaketku dan menarikku kembali. Aku mendorongnya dengan marah. Tidak ada yang bisa menghentikanku.

Aku menghalau semua orang dalam kerumunan, dan mereka mulai berteriak agar aku berhenti. Aku tidak mengacuhkan mereka. Mereka sama sekali tidak penting. Aku mulai berjalan perlahan mendekati gadisku; khawatir Luhan akan menghadangku. Aku kembali memelototi Sehun yang mengangkup tangan di dadanya.

Terima kasih, Tuhan.

Namun, aku menyesal tidak mempersiapkan strategi untuk Bibi Irene. Dia berdiri menghalangi Baekhyun dengan telepon di telinganya, dia memelototiku dan meneriakkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Aku semakin melangkah lebih dekat ke gadisku dan semua jeritan dan darah dan isak tangisnya hanya membuatku hancur.

Saat aku semakin dekat ke tubuhnya yang terbaring gemetaran, Bibi Irene langsung bersikap protektif pada Baekhyun, dia berdiri di sampingnya dengan mantap. Aku menatapnya.

Dan dia terlihat begitu cantik.

Sebuah inferno brilian menyala di matanya dan mengubah dirinya seperti malaikat yang penuh amarah. Seorang ibu yang melindungi anaknya. Naluri keibuannya murka pada seseorang yang dicurigainya akan membahayakan anaknya, dan tatapannya memerintahkanku untuk patuh padanya.

Aku terkesiap melihat kemegahannya. Inilah rupa seorang ibu yang sebenarnya.

Aku takut. Aku takjub padanya dan kemegahanannya saat dia berdiri di hadapan gadisku. Tapi, aku juga mencintai gadisku. Jadi, aku terus berjalan. Tidak ada yang bisa menahanku. Bahkan tidak dengan sifat keibuan Bibi Irene yang mulia ini.

Dan semakin aku mendekat, semakin dia marah. Aku terus menatapnya. Dan eskalasi kemarahan dan kecantikannya membuatku ingin memujanya.

Dan untungnya, saat jarakku semakin dekat dengan gadisku, gadisku semakin tenang. Tidak banyak orang yang bisa benar-benar mendengar perubahan suara jeritannya. Tapi, aku bisa. Dan begitu pula dengan Bibi Irene. Naluri keibuannya membuatnya selaras dengan Baekhyun seperti aku. Inferno di matanya masih ada saat aku berjongkok, aku tidak pernah memutuskan kontak mata dengannya.

Baekhyun semakin tenang saat aku hanya berjarak tiga kaki dari tubuhnya yang gemetaran. Bibi Irene kembali menyadari ini, tapi dia menolak untuk mundur dari sikap protektifnya terhadap Baekhyun. Jadi, aku terus lanjut, dan menurunkan telapak tanganku ke lantai dan perlahan-lahan merangkak ke gadisku.

Aku tidak pernah mengalihkan tatapanku dari Bibi Irene. Aku begitu terpesona dengan posturnya, bahkan posturnya hampir membuatku mundur.

Tapi, aku harus menunjukkan pada Bibi Irene apa yang sedang kulakukannya. Membuatnya sadar aku adalah jawabannya. Aku berusaha menunjukkan dengan mataku aku bisa menangani situasi ini.

Aku menjulurkan tanganku ke arah kaki Baekhyun. Dia mengenakan celana pendek, dan aku harus menyentuhnya agar tindakanku berpengaruh cepat dan Bibi Irene tidak membunuhku sebelum aku punya kesempatan.

Mata Bibi Irene semakin marah melihat gerakanku. Dan aku tahu aku harus melakukannya dengan cepat. Jadi, aku langsung menerjang ke arah gadisku dan menyambar kakinya erat-erat dengan kedua tanganku.

Bibi Irene berusaha membuatku menjauh dari gadisku dengan menarik jaket kulitku, tapi dia langsung membeku saat Baekhyun mulai diam. Aku mengusap kakinya dengan tangan gemetar sambil berusaha melawan cengkeraman Bibi Irene.

Darah menggenang di sekitar wajah dan rambut gadisku, tapi aku masih belum bisa melihat wajahnya. Dia masih menangis keras dan gemetaran, meskipun sentuhanku sudah membuat histerianya berkurang secara signifikan. Bibi Irene akhirnya melepaskan jaketku, dan aku hampir terjatuh ke tubuh gadisku karena aku sedang berjongkok di atasnya.

Setelah aku menguasai tubuhku sendiri, aku duduk di atas tumitku, dan meletakkan lenganku di bawah tubuh gadisku dan menggendongnya ke pangkuanku. Setelah dia berada dalam pelukanku, aku duduk bersila dan menurunkan tubuhnya di pangkuanku.

Dia masih menangis dan gemetaran, tapi aku tahu dia bisa melalui guncangan mentalnya ini. Jadi, aku berfokus pada hal yang lebih mendesak dan mulai menyeka rambut dari wajahnya dengan sebelah tanganku selagi aku menyentuh bagian belakang kepalanya. Kepalanya basah karena keringat, air mata, dan darah.

Setelah wajahnya terbebas dari rambut, aku akhirnya bisa melihatnya. Matanya bengkak dan memar. Dan darah berasal dari hidungnya, yang mungkin patah. Aku tidak peduli ini hanya kecelakaan atau bukan. Aku ingin menemukan bajingan yang bertanggung jawab menyakiti gadisku dan menghantam kepalanya ke lantai aula.

Aku membelai lembut pipinya, memohon dengan sentuhanku agar dia mau membuka matanya yang tertutup rapat. Tubuhnya semakin tenang dengan tiap belaianku, dan akhirnya dia membuka matanya. Matanya masih dibanjiri air mata, rahangnya bergetar karena isak tangis, tapi dia sudah bisa melihatku. Jadi, aku menatap matanya dengan semua cinta yang kumiliki untuknya, dan memohon padanya untuk menenangkan dirinya dalam diam. Dan dia berhasil melakukannya. Dan karena aku hanya tahu sangat sedikit cara untuk menyampaikan perasaan cintaku, aku membungkuk dan dengan lembut mengecup kenignya yang berkeringat.

Dia menghela napas dalam-dalam, napasnya masih terengah-engah. Dia menatap mataku saat aku kembali duduk dan mengusap pipinya. Aku bisa melihatnya kembali dari bayang-bayang kenangan buruknya dengan setiap detik yang kuhabiskan dengan memeluknya dan membelainya, dan akhirnya menunjukkan semua cintaku padanya.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekelilingku, atau siapa yang berada di dekatku, karena aku terus menatap matanya, berjuang bersamanya untuk membawanya keluar dari visi dan kenangan yang mengerikan.

Dan setelah beberapa saat kemudian, dia akhirnya sadar. Dia mengangkat lengannya dan mengalungkannya di sekeliling leherku, dia mengangkat tubuhnya dan memeluk leherku erat-erat. Dia masih terengah-engah dan menempelkan pipinya di bahuku. Aku mengusap punggungnya perlahan untuk menenangkannya dan mulai membuai pelan tubuhnya, seperti yang kulakukan dulu. Tubuhnya semakin rileks, sampai akhirnya dia benar-benar lemas dalam pelukanku.

Aku memeluk erat pinggangnya dan mengangkat tubuh kami dari lantai aula yang berdarah. Dia masih bergantung padaku, terlalu lelah untuk bertahan. Jadi, aku menggendongnya semakin erat dan berbalik.

Dan semua orang di aula menatapku, seolah-olah aku baru saja mengorbankan seorang perawan. Bibi Irene dan Luhan terlihat lega dan takjub, dan sedikit kebingungan. Sehun terlihat paham saat dia berdiri di samping Luhan. Brengsek.

Dan aku kaget melihat Papi B. berdiri di pinggir kerumunan, di sebelah Bibi Irene. Saat itulah aku sadar Bibi Irene tadi sedang meneleponnya. Dan aku senang melihatnya karena gadisku pasti membutuhkan perhatian medis.

Paman Bogum juga terlihat sedikit bingung dan lega. Tapi, ada emosi lain di matanya yang hampir membuatku ingin tersenyum meskipun sedang berada di dalam situasi kacau. Kebanggaan.

.


.

Baekhyun POV

Aku keluar dari pintu kaca dengan gembira, hujan yang dingin pun tidak mampu merusak suasana hatiku saat aku melompat di atas pagar balkon dan menuruni jenjang tanaman rambat dengan mudah. Chanyeol sudah berubah sejak tahun baru, dan aku senang karenanya. Aku harap semua perubahan baru dalam rutinitas kami ini berjalan permanen.

Aku mandi dengan cepat, lega karena sekolah kembali dimulai. Sejujurnya, berkurung diri di rumah tidaklah terlalu menyenangkan. Aku tidak sabar kembali ke sekolah. Ini bukan seperti diriku yang biasa.

Aku memasak sarapan favorit Luhan, wafel blueberry. Dan karena suasana hatiku sedang cerah, saat dia berjalan melompat-lompat ke dapur sambil bersiul, aku juga ikut bersiul bersama. Dia berhenti berjalan dan memandangiku. Kemudian kami berdua tertawa terbahak-bahak. Ini benar-benar konyol.

Dia menghabiskan sarapan dan perjalanan menuju sekolah dengan mengobrol riang bersamaku, dan aku mencurahkan seluruh perhatianku padanya dalam upaya menebus semua perilaku burukku setelah Natal. Dan sejujurnya, aku sama sekali tidak keberatan.

Sampai akhirnya kami tiba di sekolah. Dia dan Sehun langsung melompat keluar dari pintu mobil pada saat yang bersamaan. Ini benar-benar aneh. Mereka begitu sinkron. Aku hanya berdiri di samping mobil, menunggunya dengan hoodie dinaikkan dan menunduk.

Hujan yang dingin masih turun, dan aku sedikit tidak sabaran. Kemudian aku tiba-tiba sadar, aku belum pernah masuk sekolah semenjak dia dan Sehun resmi berhubungan. Kemungkinan ini berarti aku akan sendirian mulai sekarang.

Dengan gusar, aku mulai berjalan menuju lorong sekolah tanpa menunggunya. Aku tidak bisa menyalahkannya. Kalau aku bisa bersama Chanyeol di siang hari, aku mungkin tidak akan pernah meninggalkan sisinya. Memikirkan ini saja membuatku mendesah di jam pelajaran pertama.

Aku tidak mengerti kenapa aku terlalu memikirkan ini. Padahal, aku sudah memutuskan untuk menikmati apa adanya. Dan aku sudah mendapat jauh lebih banyak daripada yang pernah kubayangkan. Aku seharusnya senang. Ya, sejujurnya aku memang senang.

Aku berjalan di lorong dengan hoodie terangkat, dan sedikit meringkuk sambil meringis saat melewati semua orang yang berada di sekitarku. Aku berjuang menuju kelas dengan memasang tameng.

Dalam perjalanan ke kelas ketiga, aku tahu aku akan melihat Chanyeol di lorong. Atau setidaknya, meliriknya saat dia melewatiku. Dan aku bisa merasakan kehadirannya karena percikan aneh yang membuatku tergelitik selalu muncul saat dia berada di dekatku. Tanpa berpikir panjang, aku mengangkat kepalaku ke arahnya. Dan aku sedikit kaget melihatnya juga sedang menatapku.

Matanya tidak pernah memutuskan kontak mata denganku saat dia berlalu, jarak kami begitu dekat, sampai-sampai aku bisa mencium aromanya. Dan tanpa sengaja, jariku yang biasanya terletak diam di samping pahaku bergerak ke arahnya dan kami bersentuhan. Sentuhan kecil ini membuat tubuhku rileks. Karena khawatir melewati batas dan mempertaruhkan hubungan kami, aku terus berjalan tergesa-gesa. Aku harap tidak ada yang melihatnya dan Chanyeol tidak marah dengan insiden ini.

Aku khawatir sikapnya akan kembali berubah, itulah sebabnya aku harus menjaga baik-baik sikapku. Begitu pikiranku kembali terfokus ke lorong yang sibuk, postur tubuhku kembali menegang. Aku merapat ke dinding dan berjalan berbelok-belok melewati kerumunan. Dan pada saat jam pelajaran ketiga selesai, semua otot-ototku rasanya sakit karena tegang duduk, di samping Choi Minho, di sepanjang pelajaran.

Aku sedikit kaget saat masuk ke ruang makan saat istirahat dan melihat Luhan duduk di meja kami yang biasa. Tanpa Sehun.

Aku menyapanya, lalu Jessica dan Kris saat aku duduk, lalu mulai mengobrak-abrik tasku untuk mengambil buku dan kue. Saat aku kembali duduk tegak, aku kembali merasakan sensasi tersengat. Sensasi yang sama, yang kurasakan seperti malam Tahun Baru. Aku tahu ini ada hubungannya dengan Chanyeol.

Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah mejanya, dan ternyata dia sedang menatapku dengan serius. Aku tersesat di dalam tatapannya dan aku kembali menatapnya dengan penuh kasih sayang dan kerinduan. Mata gelapnya kembali bersinar seperti yang kulihat dua hari belakangan ini.

Aku merasa senang dia tidak marah dengan insiden di lorong tadi, tapi aku juga takut mengambil resiko yang tidak penting. Jadi, aku tersenyum kecil padanya dan cepat-cepat mengalihkan pandanganku untuk membaca buku, sambil bertekad dalam hati untuk menjaga sikapku.

Aku bisa merasakannya berjalan di belakangku menuju kelas Biologi setelah makan siang. Ini hal yang baru. Dan saat aku mengambil tempat duduk di sampingnya, perasaanku semakin nyaman, dan aku hampir mendesah dibuatnya.

Materi hari ini dihabiskan dengan menonton film. Dan Shin seonsaengnim selalu memilih materi yang paling menjijikkan untuk ditayangkan. Hari ini tidak ada bedanya. Parasit. Kata parasit sendiri sudah cukup untuk membuatku muak.

Shin seonsaengnim mematikan lampu saat murid-murid sekelas mengerang bersamaan. Tanganku terletak di atas meja lab saat Chanyeol meraihnya. Sejenak aku merasa khawatir, dan dia membawa tangan kami ke bawah meja dan mulai mengusap tanganku dengan ibu jarinya. Dan setiap otot dalam tubuhku langsung rileks saat merasakan sentuhannya.

Aku tersenyum dalam gelap, merasa sangat senang—lebih dari yang seharusnya. Dan aku meremas tangannya. Aku cukup senang saat mengatakan aku tidak tahu apa-apa tentang parasit yang ditayangkan oleh Shin seonsaengnim. Karena aku menghabiskan sepanjang jam pelajaran dengan Chanyeol. Maksudku, aku memang selalu menghabiskan setiap pelajaran Biologi bersama Chanyeol. Tapi hari ini, aku benar-benar menghabiskannya dengan Chanyeol.

Dia menarik tangannya dan menjalankan jari-jarinya di telapak tanganku—membuat napasku tercekat. Kemudian, aku membalas gerakannya dengan meluncurkan jariku di telapak tangannya yang hangat, dan menikmati situasi ini sambil tersenyum. Aku menumpahkan cintaku di setiap belaian lembutku padanya, mencoba untuk menunjukkan padanya betapa aku sangat menghargai gestur kecilnya.

Dan pada saat film selesai, tubuhku sudah sangat rileks, dan aku pikir aku bisa tertidur sebentar lagi. Dengan enggan, kami melepaskan genggaman tangan kami.

Aku bisa merasakannya kembali berjalan di belakangku saat aku berjalan menuju aula. Dan aku senang perasaan rileksku ini benar-benar berhasil merubuhkan tamengku.

Saat aku merasakannya berjalan menjauh, mungkin menuju ke kelasnya yang berada di dekat aula, aku kembali berjuang untuk memblokir orang-orang yang berada di sekitarku. Secara naluriah, otot-ototku mengerut saat orang lain berjalan di dekatku, sampai akhirnya aku masuk ke dalam aula.

Aku memasuki ruang ganti dengan kepala lebih menunduk dari biasanya. Choi Sulli masih punya sedikit dendam padaku karena kejadian bola basket beberapa waktu yang lalu, dan aku sama sekali tidak punya keinginan untuk menambah ketegangan di dalam diriku sendiri.

Pertama kalinya aku mengganti pakaian di ruang ganti, orang-orang langsung menatap bekas lukaku, jadi sekarang aku sudah membuat kebiasaan untuk mengganti pakaian di dalam kamar kecil, di ruang ganti. Aku masih mendengar suara cekikikan dan bisik-bisik mereka setiap kali aku memasuki kamar kecil dan menutup pintu. Aku satu-satunya yang mengganti pakaian di kamar kecil, dan mereka menertawakanku karena ini.

Aku memasang hoodie-ku sebelum keluar kamar kecil, dan berjalan keluar dari ruang ganti sebelum gadis-gadis lainnya selesai. Mereka semua terlalu sibuk mengobrol dan bergosip dan memerbaiki tatanan rambut daripada mengikuti permainan bola basket.

Aku duduk di bangku, dan sedikit takut kami masih dipaksa untuk bermain basket setelah liburan. Aku harap kami akan berpindah ke olahraga lain. Seperti ping pong misalnya. Aku akan merasa nyaman dengan bermain ping pong. Kami bahkan tidak perlu memakai celana pendek jelek ini untuk bermain ping pong. Dan yang pasti, tidak ada sentuhan saat bermain ping pong. Dan semakin aku berpikir tentang hal ini, semakin aku ingin mengusulkan gagasan untuk bermain ping pong pada Pelatih.

Setelah semua perempuan akhirnya berjalan ke bangku-bangku aula, kami mulai menonton laki-laki bermain basket. Ini sangat membosankan. Pilihanku hanya dua, mendengarkan gosip yang sedang terjadi di sekitarku, atau menonton semua laki-laki berkeringat menggiring bola dan saling menjatuhkan.

"BYUN!" teriakan Pelatih beresonansi di sekeliling aula.

Kepalaku tersentak dan melihat Pelatih sedang menatapku sambil melambaikan tangannya di seberang aula, menyuruhku mendekat. Keningku berkerut dan bertanya-tanya dalam hati kenapa aku dipanggil. Aku khawatir jangan-jangan aku ditegur karena mengenakan hoodie.

Aku penasaran apa dr. Park bisa menulis surat pengecualian untukku dan berjalan menuruni bangku ke lantai aula. Aku ragu-ragu saat mencapai tepi lapangan basket. Aku menggigit bibirku dengan cemas karena pertandingan masih berlangsung, tapi aku terus berjalan, karena aku khawatir akan semakin mendapat teguran kalau membuang-buang waktu dengan berjalan mengelilingi lapangan basket daripada melintasinya.

Aku terus menunduk, melindungi diriku dengan rambut dan berjuang untuk memblokir semua laki-laki di lantai aula saat aku berjalan melintas. Aku bisa melihat bayanganku di lantai kayu saat berjalan. Aku terus menatap bayanganku sendiri dan semakin menunduk.

Aku bisa mendengar suara decitan sepatu di lantai kayu dan giringan bola basket saat aku meringis melewati pertandingan yang sedang berlangsung. Dan suara giringan bola terdengar semakin dekat.

Terlalu dekat.

Aku sedikit mengangkat kepalaku, memutuskan kontak mata dengan bayanganku di lantai yang mengkilap, dan tubuhku langsung membeku ngeri. Rasanya seperti melihat gerakan yang diperlambat saat aku berdiri di tengah-tengah lapangan.

Bang Yongguk berlari tepat ke arahku dengan kepala menunduk melihat bola yang digiringnya. Dan dia terlalu dekat, sampai-sampai aku tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan melihat ekspresi horor di wajahku, dan lengannya yang mengiring bola basket tidak sengaja mengenai wajahku dengan kekuatan yang menyakitkan.

Pandanganku langsung buram, dan rasa sakit yang membakar menyerang hidungku. Aku jatuh telentang.

Tapi, aku tidak bisa menahannya. Aku sudah pernah dipukul dan dihantam keras-keras sebelumnya, di tempat yang sama. Berkali-kali. Rasa sakit di hidungku terlalu mirip dengan rasa sakit yang kurasakan setahun yang lalu, dan bayangan Kyuhyun yang sedang menganiayaku langsung merasuki pikiranku.

Dan tiba-tiba saja, aku tidak lagi berada di aula. Aku terkunci di dalam lemari, ratusan mil jauhnya dari Bucheon. Aku bisa mendengar suara jeritanku sendiri, tapi telingaku dibuat tuli oleh sensasi mengerikan saat aku menghidupkan kembali peristiwa paling menyakitkan dalam hidupku.

Beberapa saat kemudian, penglihatanku sudah hampir kembali dan aku hampir bisa mendengar keadaan di sekelilingku. Lalu aku merasakan sesuatu kembali menyentuhku, dan membuatku kembali terjerumus ke dalam memori yang mengerikan ini. Aku dihantam dan berteriak dan menangis, dan aku bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekitar tubuh asliku saat aku terperangkap di dalam kepalaku.

Rasanya seperti kembali duduk di dalam lemari gelap, walaupun aku sedang berbaring di lantai aula. Sampai akhirnya aku tidak tahu lagi mana yang nyata, mana yang halusinasi. Bayangan itu berkecamuk di dalam kepalaku saat aku duduk di dalam kegelapan, dan mungkin kehidupanku di Bucheon hanyalah mimpi. Bucheon hanyalah bagian dari imajinasi yang diciptakan oleh pikiranku sendiri untuk melindungiku dari rasa sakit. Semuanya mulai masuk akal bagiku.

Sampai akhirnya aku benar-benar percaya kehidupanku di Bucheon hanyalah khayalan. Lalu aku mulai bertanya-tanya apa yang dilakukan Luhan dan Bibi Irene di rumah mereka, di Bucheon sekarang. Dan semakin aku memikirkannya, semakin aku panik. Aku bahkan tidak tahu apa Chanyeol benar-benar ada atau tidak. Aku tidak pernah bertemu dengannya di Seoul sebelumnya.

Dan memikirkan aku hidup di dunia yang tidak ada Park Chanyeol, membuatku hancur. Dan aku berharap sambil berdoa agar pikiranku kembali berkhayal tentang kehidupanku di Bucheon dan membawaku menjauh dari tempat mengerikan ini.

Saat aku hendak benar-benar menyerah dengan keadaan dan mengakui kekalahanku, aku merasakan sebuah percikan. Percikan ini belum terasa kuat, masih jauh. Tapi, percikan itu ada. Dan kalau percikan itu ada, berarti Chanyeol memang benar-benar ada. Dan percikan itu terasa lebih dekat.

Perlahan.

Sangat lambat.

Naik dari tulang punggungku dan beristirahat di bagian belakang leherku seperti suara bisikan lembut di kulit. Aku ingin merasakan lebih daripada ini. Aku mengemis dan memohon di dalam kegelapan agar Chanyeol bisa menemukanku, di mana pun aku berada, dan menarikku keluar. Sampai, akhirnya, aku merasakan kekuatan penuh dari percikan itu di kakiku.

Kekuatannya seperti menyentakku, keberadaan Chanyeol rasanya mulai mengalir dengan lembut dan kuat. Lemari terasa bergetar dan membuat pandanganku kembali buram dan rasanya aku terangkat ke udara. Dan kemudian aku kembali diturunkan, suara nyaring di telingaku mulai mereda. Dan tiba-tiba saja, aku bisa merasakan tubuhku lagi.

Aku mencoba melawan perasaan di dalam diriku yang masih berteriak ini tidak nyata. Dan kemudian aku merasakan percikannya di pipiku. Sentuhan ini terasa hangat dan lembut di wajahku dan membawaku keluar dari lemari yang gelap. Sampai aku sadar, aku tidak akan berada di dalam kegelapan kalau membuka mata. Dan aku membukanya.

Hitam, putih, putih, hitam.

Aku seperti mendapat tamparan di wajahku, dan pelukan di saat yang bersamaan. Chanyeol. Dia seorang pelindung. Pelindungku. Dan dia benar-benar ada.

Aku berjuang lebih keras untuk melawan kegelapan yang masih menarikku kembali saat aku menatap matanya. Matanya bersinar menatapku, membakarku dengan sengit. Aku tidak pernah mengalihkan tatapanku darinya sampai dia membungkuk dan meletakkan bibirnya di keningku dengan lembut.

Percikan itu membuat indera pendengaranku kembali berfungsi. Dan aku hanya bisa mendengar... aku. Aku menghela napas dalam-dalam dan berusaha menahan isak tangisku dan kami kembali saling bertatapan, dia tidak pernah berhenti mengusap pipiku.

Aku seperti berenang di dalam mata gelapnya, saat aku berjuang lebih keras untuk kembali ke kenyataan ini. Dan kemudian aku akhirnya benar-benar bisa merasakan segalanya. Hidungku terasa sakit dan nyeri, dan paru-paruku rasanya terbakar saat menarik napas dalam-dalam.

Aku mencoba mengangkat tanganku. Tapi, tanganku nyaris tidak bisa digerakkan. Jadi, aku terus menatap ke dalam mata hitamnya, sambil menguji kekuatan lenganku. Sampai akhirnya, aku bisa mengangkat tanganku. Dan yang kuinginkan hanyalah memeluk Chanyeol dan berterima kasih padanya karena sudah menyelamatkanku. Karena sudah menarikku keluar dari memori menyakitkan.

Aku mengangkat lenganku ke bahunya untuk menggantungkan di sana, dan dengan menggunakan semua energi yang kumiliki, aku mengangkat tubuhku dan melawan kelelahan yang kurasakan untuk memeluk lehernya. Aku tidak lagi menatapnya saat aku meletakkan pipiku di bahu jaket kulitnya yang dingin, dan aku terengah-engah menarik napas. Tubuhku masih sedikit gemetaran.

Dia mulai mengusap punggungku dan perlahan-lahan membuai tubuhku. Aku menutup mulutku, dan bernapas dengan hidungku agar bisa mencium aromanya. Aku terus membuka mata dan menatap kulit lehernya. Aku ingin membelai rambutnya, atau mengecupnya. Tapi, aku begitu lelah, dan usapan dan buaian lembutnya membuat tubuhku lemas.

Dia akhirnya berhenti mengusap punggungku. Dia membungkus lengannya di pinggangku dengan erat, dan mengangkat tubuh kami berdua dari lantai. Aku ingin berdiri sendiri. Tapi, aku tidak punya energi lagi. Jadi, aku membiarkannya menggendongku. Lenganku yang lemas masih menggantung di lehernya.

Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi saat dia berbalik, tapi aku bisa merasakan tubuhnya membeku. Saat itulah aku sadar kami masih di sekolah. Dan kemungkinan besar, tidak sendirian di aula.

Aku membiarkan mataku terpejam, dan menahan rasa sakit ini. Chanyeol melanggar semua aturan yang dibuatnya sendiri karena aku.

.


.

Chanyeol POV

Aku memelototi semua penonton penasaran yang tidak punya urusan di sini, dan melihat mereka perlahan-lahan mulai bubar. Aku menggendong erat-erat gadisku saat aku mengalihkan pandanganku ke arah Paman Bogum.

"Dia terluka," ucapku memberitahunya.

Aku benar-benar marah karena ini, dan tidak sabar untuk menemukan orang yang bertanggung jawab dalam peristiwa ini.

Paman Bogum melirik ke arah Bibi Irene yang berdiri di sampingnya. Bibi Irene menganga saat aku menggendong Baekhyun.

"Irene? Aku butuh persetujuanmu untuk memeriksa Baekhyun," tanya Paman Bogum dengan lembut.

Aku langsung marah mendengar ucapannya. "Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya," bentakku pada Paman Bogum sambil menyipitkan mata.

Bibi Irene, Luhan, dan Paman Bogum memucat mendengar nada keras suaraku dan melihatku dengan mata terbelalak. Aku tidak mengerti kenapa mereka semua begitu kaget. Sudah jelas sentuhan dari orang lain hanya akan membuat keadaan Baekhyun semakin memburuk.

Setidaknya Paman Bogum tidak terlihat tersinggung. "Baiklah. Tidak apa-apa. Aku yakin kau mau membantuku?" tanyanya dengan alis terangkat melihatku dan kemudian melihat Bibi Irene.

Aku mengangguk. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa membantu, tapi aku akan melakukan yang terbaik.

Bibi Irene berdeham anggun, sebuah konfrontasi kontras dengan situasi kami sebelumnya, dan mengangguk pada Paman Bogum. Aku benar-benar ingin Sehun membawa Luhan pergi sebelum dia menyadari seberapa dekat persisnya hubunganku dengan Baekhyun dan mencari alat terdekat untuk mengebiriku. Tapi, mata Luhan menyiratkan penolakan dalam diam untuk dibawa keluar dari ruangan saat dia menatap Baekhyun dengan cemas. Sehun terlihat tenang dan berdiri diam di sampingnya.

"Sepertinya aku boleh menggunakan ruang UKS," ucap Paman Bogum sambil berbalik dan berjalan menuju pintu aula.

Aku memerbaiki posisi gadisku dan menggendongnya lebih tinggi agar peganganku semakin mantap sebelum mengikuti Paman Bogum. Bibi Irene dan Luhan berjalan mengapitku. Aku berdiri di antara mereka yang melirik wajah berdarah Baekhyun di samping leherku dan mendesis.

Aku memeluknya lebih erat saat kami menyeberangi lorong menuju kantor administrasi, tempat UKS berada. Tubuh gadisku masih begitu lemas di gendonganku, tapi napasnya sudah kembali normal.

Perawat berdiri di ambang pintu saat kami masuk. Dia mungkin ingin membantu. Dan aku yakin, gadisku tidak suka dengan caraku berkomunikasi dengan perawat sekolah untuk menyuruhnya keluar, tapi aku juga tidak tahu apa gadisku ingin orang lain, selain aku, untuk menyentuhnya. Sekalipun orang itu adalah wanita. Jadi, aku langsung bilang, "Enyahlah," saat aku masuk ke UKS.

Dia menatapku marah dan menutup pintu di belakangnya dengan keras. Paman Bogum berdiri di samping tempat tidur, menatapku tidak senang, tapi aku tidak peduli. Jadi, aku berjalan ke tempat tidur saat Bibi Irene, Luhan, dan Sehun duduk di kursi kecil dekat pintu.

Aku berhenti di depan tempat tidur dan memindahkan tanganku ke pinggul gadisku untuk menurunkannya dengan hati-hati. Aku meraih bahunya dan dengan lembut mengangkat kepalanya dari bahuku. Aku tetap diam di sampingnya, sampai aku yakin dia bisa menopang tubuhnya sendiri. Matanya terbuka, tapi sebelah matanya sedikit bengkak dan ada memar di sudut dekat hidungnya. Darah kering membuat jejak di pipinya.

Aku perlahan melepaskan bahunya, memastikan dia bisa duduk tegak. Setelah cukup yakin, aku berdiri di antara kakinya, menunggu instruksi dari Paman Bogum. Aku menatap mata sipitnya yang bengkak saat Paman Bogum mulai membongkar peralatan medis dari tasnya.

"Sakit?" bisikku prihatin.

Satu-satunya hal yang lebih buruk daripada gadisku kesakitan adalah melihatnya berbaring di lantai aula.

Dia menjilat bibirnya sambil menatap mataku. "Sedikit," ucapnya serak.

Dan aku meringis saat mendengar suaranya. Kedengarannya dia sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjerit. Dia mencoba membersihkan tenggorokannya.

"Terima kasih," ucapnya tulus dan mengangkat sebelah tangannya untuk meraih tanganku. Dia menggenggamnya di pangkuannya, dan mengusapnya dengan lembut sambil mendesah.

Aku mendengus pelan.

"Kau tidak perlu berterima kasih padaku," ucapku sambil mengangkat bahu dan membalikan tanganku untuk menggenggam tangannya.

Gadisku akan melakukan hal yang sama untukku. Aku teringat dengan malam itu, saat dia mempertaruhkan guncangan mentalnya untuk menyelamatkanku dari mimpiku.

Dia tersenyum melihat tangan kami, dan kemudian melihat ke kursi di dekat pintu. Dia cepat-cepat menatapku lagi. Dan kemudian kami bicara dalam diam. Percakapan yang hanya dimaksudkan untuk kami berdua. Gadisku khawatir dengan semua orang yang melihat kami. Aku tahu maksudnya karena dia ragu-ragu mencengkeram tanganku dan berhati-hati melirik orang-orang yang berada di belakangku.

Aku ingin mendengus. Siapa yang peduli? Aku sama sekali tidak peduli. Jadi, aku memutar mataku, memegang tangannya lebih erat, dan senang melihatnya tersenyum kecil.

Aku mendengar Paman Bogum membersihkan tenggorokannya, jadi dengan enggan aku mengalihkan pandanganku dari gadisku. Dia memegang handuk kecil, asumsiku handuk itu untuk menyeka wajah gadisku, jadi aku membungkuk dan menjulurkan lenganku untuk mengambilnya dari tangan Paman Bogum. Dia terlihat sedikit takut untuk berdekatan dengan Baekhyun.

Terima kasih, Tuhan.

Handuk ini sudah basah dan hangat, jadi aku kembali berpaling ke wajah gadisku. Dan ya, wajahnya kotor. Maksudku, dia masih cantik, tapi kotor. Dan rambutnya mencuat ke segala arah. Aku mendengus gusar.

"Luhan?" panggilku dengan nada menyesal. "Apa kau punya ikat rambut?" tanyaku.

Aku mendengar suara gerakan di belakangku saat aku mulai menyeka kening gadisku. Aku merasakan ketukan pelan di punggungku, jadi aku menoleh... dan melihatnya. Luhan menatapku sambil memegang sebuah ikat rambut. Dan dia tidak menatapku dengan tajam.

Mata rusanya melebar dan terlihat tulus saat dia menatap ke arahku dengan ekspresi penuh rasa syukur, dan dia menyodorkan ikat rambut padaku. Aku mengernyitkan kening melihatnya dan mengambil ikat rambut, lalu kembali menatap gadisku.

Aku meletakkan handuk di pangkuannya sebelum aku mulai mengumpulkan rambutnya yang basah dari wajahnya. Dia mendesah saat ujung jariku mengumpulkan rambut dari lehernya. Aku tersenyum miring padanya, karena dia selalu senang saat aku melakukan ini. Dan dia tersenyum kembali padaku selagi aku berjuang mengikat rambutnya dengan posisi canggung.

Akhirnya, aku berhasil memenangkan pertempuran, lalu kembali mengambil handuk dan membilas pipinya yang berdarah. Aku mengusap tulang pipinya dengan lembut, takut akan menyakitinya, dan masih merencanakan kematian bagi bajingan yang bertanggung jawab dalam mencelakakannya.

"Siapa yang melakukannya?" bisikku sambil mengerutkan kening dan membilas sedikit lebih keras darah kering yang membandel di dekat telinganya.

Dia berdeham sambil meringis.

"Youngguk," jawabnya serak.

Dan aku mengepalkan tinjuku ke handuk selagi aku berjuang keras untuk menjaga gerakanku tetap lembut di kulitnya dan mengangguk. Sekarang bajingan itu punya nama. Dan wajah. Dan aku akan menghancurkannya.

"Itu kecelakaan, Chanyeol. Dia tidak sengaja," ucapnya lagi.

"Ya, kecelakaan bisa terjadi kapan saja," ucapku menyeringai dengan nada sugestif. Aku bisa membuat kecelakaan terjadi. Ada banyak tangga di kota ini.

Dia menggeleng. "Jangan lakukan itu. Berjanjilah padaku," ucapnya.

Dan aku benar-benar mendengus, karena aku tidak bisa membuat janji di saat bajingan itu terlibat.

Dia menjulurkan tangannya dan meraih tanganku. Aku sedikit memundurkan wajahku untuk menatap matanya.

"Aku mohon," dia memohon dengan suara serak.

Sorot matanya saat dia mengucapkan itu membuatku mengerang pelan. Karena aku tidak bisa berkata tidak kalau dia sudah menatapku seperti ini.

Aku kembali mendengus.

"Baiklah," geramku.

Tapi, dia masih menatapku dengan ekspresi memohon.

Aku memutar mataku. "Aku janji," tambahku dengan alis terangkat.

Dia mengangguk dan akhirnya melepaskan lenganku.

"Jadi," ucap Bibi Irene dari seberang ruangan. "Kau juga kenal baik dengan Baekhyun, Chanyeol?" tanyanya.

Aku yakin dia sudah tahu jawabannya, tapi dia ingin aku untuk mengucapkannya dengan lantang. Aku tidak mengalihkan perhatianku dari pipi gadisku.

"Ya," jawabku jujur, tidak ingin berbohong pada Bibi Irene karena dia sudah mendapat penghormatan abadi dariku karena insiden di aula.

"Oh," jawabnya, berusaha untuk terdengar kaget. "Aku tidak pernah melihat kalian berdua bersama sebelumnya," ucapnya.

Perkataannya menyiratkan pertanyaan kenapa. Dan aku ingin kembali mengerang saat berhenti mengusap pipi gadisku sebentar. Aku kembali mengusap pipi gadisku dan memutuskan untuk mengelak.

"Ya, memang jarang ada yang melihatnya," jawabku, ini bukan kebohongan. Dan aku tahu Bibi Irene tidak akan berhenti sampai di sini.

Aku melihat wajah gadisku, dan memutuskan wajahnya sudah cukup bersih untuk diperiksa.

"Selesai," ucapku sambil meletakkan handuk kotor di atas tempat tidur, di sampingnya, dan berbalik melihat Paman Bogum. Dia menjulurkan lehernya untuk melihat wajah gadisku.

"Baekhyun, apa kau kesulitan bernapas lewat hidungmu?" tanyanya.

Gadisku menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya dan menggelengkan kepala. Paman Bogum mengangguk, dia masih menjulurkan lehernya dan terlihat gatal ingin memeriksanya sendiri dengan tangannya.

"Chanyeol, coba sentuh batang hidung Baekhyun dengan jarimu. Carilah siapa tahu ada tanda-tanda patah atau berderak."

Aku menatap mata gadisku sambil meminta maaf, karena aku tahu ini akan terasa menyakitinya, dan aku mengangkat tanganku untuk menyentuh hidungnya. Dia meringis saat aku menyentuhnya, dan begitu pula aku. Tapi, aku terus meraba hidungnya, karena aku tahu ini harus dilakukan.

Dia tetap bertahan selagi aku sedikit menekan hidungnya, dan dia mengepalkan tangannya di jaket.

"Tidak ada," ucapku saat tidak menemukan tanda-tanda yang disebutkan Paman Bogum. Aku kemudian meraih tangannya yang masih mengepal, membelainya dengan lembut sebagai permintaan maaf sebelum kembali melihat Paman Bogum.

Paman Bogum mengangguk lega. "Apa kau mengalami masalah dengan penglihatanmu, Baekhyun?" tanyanya.

Gadisku langsung menggeleng, dia menatap mataku sambil tersenyum kecil. Aku berjuang keras untuk menahan senyumku.

"Dia sepertinya baik-baik saja. Tapi, aku bisa melakukan pemeriksaan x-ray untuk memastikannya?" ucap Paman Bogum berbalik melihat Bibi Irene dengan ragu.

"Tidak!" seru Baekhyun serak sambil menggelengkan kepala. "Aku tidak mau ke rumah sakit," ucapnya, mengalihkan tatapannya ke belakangku untuk melihat Bibi Irene.

Aku rasa Bibi Irene setuju karena tubuh Baekhyun kembali rileks, dan Paman Bogum menuliskan resep untuk penghilang rasa nyeri. Dengan sedikit diskusi tentang cara penanganan cideranya, kami akhirnya siap untuk pergi.

Aku membantu gadisku turun dari tempat tidur, dan memantapkan pijakannya yang sedikit goyah karena kelelahan.

"Aku rasa..." ucap Paman Bogum tiba-tiba dan menarik perhatian semua orang di ruangan. Dia berdiri di pintu dengan tangannya bertumpu di kenop. "Kita berempat harus bicara saat sampai di rumah nanti," ucapnya mengacu padaku dan Baekhyun.

Dan aku ingin kembali mengerang. Tapi, setidaknya Paman Bogum tidak terlihat marah, dia hanya penasaran. Dan rasa penasaran selalu membunuh Chanyeol.

Bibi Irene mengangguk setuju, tapi bahu Luhan langsung merosot karena dia tidak diikutsertakan. Aku menahan seringaianku, dan mengangguk pada Paman Bogum.

Aku membimbing gadisku keluar pintu dan mengantarnya ke mobil Bibi Irene. Aku membukakan pintu untuknya, menunjukkan pada mereka semua aku bisa menjadi pria baik-baik. Aku menahan diri untuk mendengus marah saat mereka melihatku dengan heran. Sehun hanya mencibiriku saat dia berjalan ke mobilku.

Setelah gadisku duduk dengan aman, aku bersandar ke arahnya, aku tidak peduli dengan sekelilingku, dan mengecup lembut pipinya. Dia menyandarkan kepalanya ke punggung kursi dan tersenyum murung.

Call it magic

Call it true

Call it magic

When I'm with you

-Magic, Coldplay

.


.

tbc