XXV.
"Has the world become so incestually complex
that song no longer rhymes
that laughter is a sullen gesture to appease another
that being unique we're isolated
like one cube from another?
Is the heart frozen in a tube
to be shaken by a hand we do not see
forsaken to a destiny of prescription drugs
administered to a body
prescribed by lack of destiny
to endure a little longer
as if the truth be found in time...
Or is there something to say for patterns
that obviate from the past that say:
'listen to me or you will not last.'"
Sol sepatu boot memijak permukaan lantai metal dalam acuan langkah.
Menggunakan sihir "Teleport" bagi Vanitas adalah pertimbangan karena ada sedikit ketakutan kalau kekuatan "kuasa" dibagikan, maka akan bekerja "dua arah", alias: menyedot kekuatan "kuasa" kekasihnya. Walau kemungkinan kekasihnya bakal menyedot bagiannya adalah nihil, ia HARUS menyediakan porsi yang memadai.
Pedang katana Souba ini sendiri juga dibentuk langsung menggunakan kedua elemen dasar dari kedua Alam dominan. Bagian "ilmu pasti" termasuk dalam hitungan semenjak otak kekasihnya ditambah "perasaan" milik Ventus menghasilkan ini... "putih" di-material dari Sphere Kadaj bersama Sphere Loz dan Sphere Yazoo. Sedangkan "hitam" kemungkinannya di-material dari Sphere Sephiroth. Tiga lainnya: Sphere Zack, Sphere Angeal, Sphere Genesis... merupakan apresiasi tambahan untuk serangan "Trinity".
Ironi, dirinya sekarang memegang senjata pedang "X-Blade"; jiwa-jiwa milik kakak-kakak kekasihnya yang dibunuh oleh kedua tangannya.
Lebih ironi lagi, kekasihnya memberikan lumayan banyak dalam hubungan sah ini.
Mungkin ia harus berterimakasih pada Stella, sekaligus mereka keenam lainnya. Setiap jiwa memang spesial, unik karena tidak terjabar dalam "ilmu pasti". Tidak salah jika Xehanort mencoba berbagai macam cara untuk mendefinisikan dan mempartial apapun yang bisa diperoleh.
Kalau mau ditelusuri... sesuai kenyataan tentang kekasihnya, Replika memiliki jiwa. Entah efek kelahiran "natural" dalam kaidah teknologi, atau sekali lagi... efek "perasaan"... semuanya menghasilkan pernyataan "tanda seru": Xehanort mampu menciptakan jiwa sesuai "keinginan". Itu tidak dapat dipungkiri, dan menyeramkan.
Teori jiwa: memindahkan jiwa, seperti dirinya kala ini... Apakah ada kemungkinan sewaktu dirinya mati 18 tahun lalu, ia menjadi Sphere juga? Karena ketujuh potongan "Hati Chaos" juga terbawa pada Sora.
Situasi rumit lainnya: dirinya adalah "Refleksi" dari Langit sekaligus mengemban "rupa" dari Alam Kegelapan. Kesadarannya bahwa dirinya adalah "Refleksi" dari Chaos karena situasi Etro terhadap Xehanort, selebihnya karena situasi kekasihnya terhadap takdir Ragnarok.
Tentang kejadian di jurang di bawah pengertian situasi "koma"... Ide Ventus bukan untuk menyingkirkannya, melainkan mengambil potongan "Hati Chaos" yang terakhir, yaitu dirinya. Apakah mungkin keadaan kompleks tentang dirinya-Sora-Ventus terhitung dalam rencana si Xemnas?
Terlalu rumit, dan waktu semakin tipis.
Suara Sora tiba-tiba menyela di dalam pikiran, "Uh... Van. Perasaan... kita berjalan berputar-putar?"
"..." Vanitas menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa Blok "G" ini mempunyai penambahan denah. Berbeda dengan sebelumnya, tampaknya lorong cukup panjang dan bercabang-cabang. Apakah ini hologram dari sistem panel Kristal dari perusahaan Fabula Nova Crystallis? Ataukah permainan ilusi milik Zexion?
"Hm. Sebentar." Gumannya sebagai jawaban untuk Sora, kemudian kedua matanya memejam dan mencoba menggunakan indera pendengaran,
Lalu sayup-sayup...
Pertarungan?
Suara Sora menyela kembali, "Ah! Tifa!"
Vanitas membuka kedua matanya bertepatan suara dentum hentakan keras disertai salah satu sisi tembok baja di lorong kanan penyok dari luar, otomatis membuat distorsi semacam gangguan pada sebagian ilusi di area tersebut.
"Heh." Dengungnya kala ia menghilang dan muncul di lorong yang kini membentuk "keaslian" kembali, dan menebas tembok baja di depannya menggunakan senjata X-Blade.
Bekas garis berelemen Kegelapan dan berelemen Terang langsung membuka tabir, menyajikan ruangan luas berlatar putih seolah-olah tanpa pembatas tembok dimana terdapat empat orang; dua lawan dua, kini keempatnya melemparkan pandangan padanya.
Putri tunggal dari keluarga Kisaragi langsung berseru dengan ekspresi syok, "SORA?"
Sedangkan dua pria berjaket hitam khas Organisasi mengernyit dengan ekspresi "pengetahuan" bahwa dirinya...
"Kamu!" Seru Vexen seraya menyiagakan senjata tameng "Frozen Pride"-nya,
Berbarengan seruan Tifa, "Yuffie!" Sambil merentangkan tangan kiri untuk menghalangi sebelum Yuffie menghampiri.
Vanitas menyunggingkan senyum kala mengetahui tiga buah Materia berada dalam tubuh wanita molek berambut hitam panjang itu. Ia pun berjalan memasuki "arena" sembari berkata dengan pertunjukan salam khas berwibawa dan khas lunatik pada kedua perempuan itu,
"Aku Vanitas, juga Sora. Sayangnya kepentinganku bukan untuk ber-reuni, jadi kusarankan: jangan menyerangku."
Lexaeus menopangkan senjata hibrid kapak-pedang "Sky Splitter"-nya ke bahu kanan diiringi pemberitahuan padat pada Vanitas, "Dia sedang tidak disini."
Vanitas melebarkan senyum saat menghentikan langkah, dan menanggapi konfirmasi itu dengan pernyataan, "Hm? Siapa bilang aku mencari dia? Oh ya, kalian hanya berdua? Dimana Zexion?"
"Jawabanku tetap sama, Vanitas." Sahut Lexaeus sembari men-charge kekuatan.
Melihat aura berelemen Tanah bergelora di sekujur tubuh besar si pemegang angka "V" dalam kursi kepemimpinan Organisasi, senyum Vanitas berganti seringai bersama ungkapan kalimat, "Baiklah. Menyingkirkan kalian berdua mungkin akan menyemangati hari pertamaku sebagai manusia."
Lalu Vanitas memamerkan kekuatan "kuasa" yang meliputi senjata pedang X-Blade. Tifa segera menggiring Yuffie yang kebingungan, berlanjut kedua perempuan itu keluar dari lowong pintu ruangan yang tadi jebol oleh tendangan khas Tifa.
Suara Sora menyela di dalam pikiran Vanitas, "Ingat, Van. Jangan terbawa suasana."
Sewaktu hendak menyerang, Vanitas sepintas lalu menatap datar atas kalimat wanti-wanti ala orang tua dari Sora. Malah dirinya menyisakan kesempatan untuk menyahuti Sora begitu meratakan serangan pilar-pilar batu yang keluar saat Lexaeus menghantamkan senjata hibrid kapak-pedang "Sky Splitter" ke permukaan lantai,
"Suasanaku sedang buruk tanpa kekasihku. Diamlah sebentar, Sora."
Suara Sora menyela kembali, kini diikuti cekikik tawa, "Cieeeeeh~ Yang baru jadian- Oh, ralat. Tadi baru... Ehem, apa istilahnya... menikah?"
Vanitas memutar kedua bola matanya karena Sora menirukan teknik pengucapannya, kemudian lagi-lagi sempat menimpal, "Ingatkan aku untuk mencari tubuh baru." Diikuti serangan menangkis ayunan berelemen Petir dari senjata si Lexaeus, juga serangan bongkah-bongkah es dari sihir si Vexen.
Suara Sora tetap saja iseng menyela, "Ohhhh? Ingat kalimat: Sora adalah aku, dan aku adalah Sora? Hihihi~"
"Jangan. Mengetes. Limit kesabaranku, Sora!" Sahut Vanitas, berikutnya langsung menghajarkan bilah senjata pedang "X-Blade" permukaan lantai, efek kedua elemen dari kedua Alam dominan menghempaskan kedua pria berjaket hitam khas Organisasi bersama topan energi yang menghancurkan ruangan sekaligus membuka tabir-tabir ilusi.
Suara Sora lagi-lagi menyela, "WOGH! Limit Break! Aku menyukai ini, Van!"
Bertepatan kedua lawan berusaha berdiri,
Di tengah ruangan yang tembok-temboknya bergroak-groak memercikkan api-api kecil dari gelantung kabel-kabel yang terputus, Vanitas tetap saja meladeni Sora dengan komentar, "Dari segala jiwa yang menjalani kehidupan di Planet, kenapa aku harus stuck denganmu...? Ergh..."
Di sisi lain dalam area Blok "G",
Berkat kekuatan Vanitas tadi, Tifa dan Yuffie berhasil menemukan Cid dan...
"Vincent!" Seru Yuffie sambil berlari memasuki ruangan penelitian dimana terdapat sebuah tabung Cryogenic dalam pengawasan maksimal dari peralatan elektronik minim dan canggih.
"Aku sedang mencari cara untuk membuka ini, banyak sekali data disini..." Terang Cid tanpa mengalihkan fokus pandangan pada layar-layar di kolom pengamatan. Jemari tangan kanannya terus memilah setiap layar yang terpampang di permukaan kaca tembus pandang; kaca yang merupakan pembatas antara jalur pengawasan dengan jalur pengamatan.
Tifa sempat memperhatikan situasi ruangan tanpa perabotan selain kaca-kaca dan permukaan lantai terdapat garis-garis berwarna biru seperti aliran Mako pada baju yang dipakai para Tsviet. Sewaktu suara Cid terdengar, ia menatap pria setengah baya yang menatapnya juga.
"Protomateria... Materia Merah milik Vincent tidak ada." Ucap Cid dengan penampilan raut serius.
Tifa menyarankan, "Cid, masalah Protomateria bisa dikembalikan tanpa bantuan sistem ini, kan? Kamu bawa Vincent ke kapal, kami akan mencari dimana Protomateria milik Vincent. Mungkin ada di ruangan lain."
"'Kay." Jawab Cid seraya mencari-cari layar yang menonaktifkan kondisi tabung Cryogenic agar pendinginan kembali ke temperatur normal sekaligus membuka tabung kaca itu tanpa membuat si Vincent kenapa-kenapa.
Tifa dan Yuffie berjalan keluar ruangan dan menyusuri lorong sampai pintu terujung. Sewaktu Tifa selesai menendang pintu yang menghalang, pintu yang berada tidak jauh dari mereka berdiri tahu-tahu terbelah berbagai potongan seiring hempas diikuti penampilan sosok pemuda- pada pandangan Yuffie, si Sora berjalan keluar berkondisi separuh wajah dan tubuh bersimbah darah.
Itu ilustrasi yang horor bagi Yuffie.
Sebelum Yuffie membuka mulut, Tifa bertanya duluan,
"Vanitas, Sora... Kalian tidak apa-apa?"
"..." Vanitas cukup tersentak oleh pertanyaan bernada... khawatir sekaligus sikap super beradaptasi soal dirinya dan Sora. Kala membaca pikiran si Tifa pun, wanita berambut hitam panjang itu sangat tulus dan sepenuhnya kasih perhatian. Tampaknya cerita tentang keluarga Shinra bahwa mereka mengambil pedoman "tidak memihak" dari keluarga Almasy adalah benar, dan Tifa adalah kekasih Cloud.
Citra positif dimana-mana, si-kon ini termasuk menggelikan bagi Vanitas karena dirinya berpatokan pada peran "antagonis".
Tapi Vanitas buru-buru memasang ekspresi cuek sembari berjalan menghampiri disertai jawaban, "Ini darah mereka; dagingnya baru kujadikan sashimi. Sekarang minggir, aku mau mengubrak-abrik tempat ini."
Tifa menimpal, "Kami disini untuk membantu. Lagipula ada yang kami cari disini, Protomateria milik Vincent."
Suara Sora menyela di dalam kepala Vanitas, "Van, kita bisa saling membantu. Searah, kan?"
Vanitas menghentikan langkah sejenak tepat berada di depan mereka, lalu menggaris senyum tipis atas kalimat Sora. Ia pun mengucap diperuntukkan Sora, juga jawaban bagi wanita molek berambut hitam panjang itu, "Terserah saja. Asal jangan menyusahkanku."
Berikutnya Vanitas berjalan kembali memasuki lowong pintu yang lumayan rusak- hasil tendangan Tifa tadi.
Tifa hanya membalas senyum dengan mimik arti: "oh, kamu harus melihat kekuatan kami, bocah", kemudian mengajak Yuffie mengikuti langkah pemuda yang mengakui diri sebagai "Vanitas, juga Sora".
Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong dalam keheningan... sampai kelanjutan beberapa langkah perjalanan-
Kedua mata Vanitas memicing pada bayangan merah transparan berbentuk orang di penghujung lorong, dan bayangan itu... diliputi oleh tarian Pyreflies. Demi segala konsiderasi dan perhatian eksklusif sebelum Sora menyeletuk, beserta pengetahuannya akan siapa itu... Ia pun berhenti pada jarak beberapa meter dari si bayangan.
Yuffie langsung memeluk lengan kiri Tifa sambil menunjuk-nunjuk disertai ekspresi syok dan mengucap terbata, "Ha-Hantu..."
"Jadi ini nasibmu, huh?" Awal perkataan dari Vanitas sambil menyanggahkan jemari tangan kiri pada pinggang kala bayangan merah transparan itu menoleh,
Si Hantu kini memperhatikan baik-baik keseluruhan si pemuda. Berikutnya tertawa kecil seakan-akan kalimat sapaan tadi adalah banyolan, dan berakhir dengan sorot pandangan bertema isyarat sewaktu menjawab, "Aku bisa membantumu, Vanitas."
Vanitas mengangkat kedua alisnya, dan menanyakan tanpa basa-basi, "Imbalannya?"
Hantu itu tersenyum penuh perhatian- bergaya selayaknya orang tua terhadap anaknya saat menerangkan, "Aku tidak mau menelan karma. Cukup bagiku hidup dengan memutar-balikkan fakta. Walau sejujurnya kamu adalah interupsi... Riku memilihmu dan menciptakan banyak jalan; jalan yang tidak dapat diciptakan oleh Ragnarok. Dan mungkin... ini adalah kesempatanku untuk beristirahat. Vanitas... Aku hanya ingin membantu Riku melalui dirimu."
"Heh. Seharusnya kita mendiskusikannya sejak awal, namun kamu selalu bersikap kepala batu. Harga dirimu pun setinggi Langit, tidak jauh dariku. Tapi pengalaman adalah pengalaman. Aku akan mendengarkanmu untuk sekali ini." Komentar Vanitas.
Tifa memperhatikan seksama saat pemuda di depannya mengucap kembali tanpa menoleh,
"Tifa, Yuffie. Perkenalkan, ini DiZ. Dia... dulu adalah guru si Xehanort."
Yuffie kontan teriak, "HAAAAAA?"
...
Sejalan keadaan di lab dalam mansion Healen Lodge,
Di "area sistem utama"...
Hope baru mau memerintahkan Eidolon Alexander ke posisi Gestalt Gauge, namun kedua matanya menangkap aliran-aliran Lifestream meliuk dan bergelung ke belakang punggung seseorang bertubuh atletis-
Vaan yang berada tidak jauh kini berhenti, meski TIDAK MENGENAL... tetap berseru, "Riku!"
Kontan kerusuhan pertarungan di "area sistem utama" pun langsung berhenti karena kehadiran seorang pemuda berambut perak sepanjang sepertengahan punggung, yaitu: pemuda yang tersebut memiliki takdir "Ragnarok".
"Yo!" Salam Riku dengan penampilan ekspresi super manis.
"..." Axel tertegun kala memperhatikan pemuda yang baru-baru ini menjadi favorit-nya sekaligus "cinta"-nya telah berdiri di tengah-tengah adegan dimana berposisi bak pembatas antara dua grup pada posisi yang berlawanan.
Riku sempat menoleh pada Axel, lalu menyunggingkan senyum tersaru intensi.
Axel pun memulai perkataan bernada menggoda, "Hei, seksi. Kupikir kamu seharusnya menyibukkan seseorang?" Dan menggigit bibir bawahnya saat "cinta"-nya memasang pose sok berpikir disertai jawaban bertema pengakuan,
"Definisikan seseorang, Ax. Masalahnya aku sudah menyibukkan diri selama tiga ronde berturut-turut, dan itu... luar biasa."
"Ah..." Desah Axel kala jemari kedua tangannya mencengkeram erat pusat "+" senjata Chakram "Eternal Flames"-nya. Dari kobaran jilatan balutan api di kedua senjata-nya, artinya jelas: cemburu. Tapi dirinya adalah Joker, bermain pada dua sisi koin bukan ironi baginya.
Axel melanjutkan, "Sekali lagi tidak masalah, kan? Kamu tahu, kita belum menyelesaikan sesi sewaktu... malam itu." Diiringi raut tantangan.
Saïx mengerti tindak-tanduk Axel, dan mendapatkan signal bahwa si pemegang angka "VIII" dalam kursi kepemimpinan Organisasi itu hendak mengulur waktu sampai Fifth Ark terproses. Entah dimana pihak Axel disini... Pastinya Riku juga mengerti maksud Axel dengan tantangan, dan Riku tidak mau membunuh Axel karena walau super menyebalkan... pertunjukan agresif di malam itu... keinginan untuk menjaganya dari Vanitas...
Riku pun menegaskan, "Satu dan sekali, lebih dari cukup bagiku. Dan sori, kali ini aku harus menolak undanganmu. Kita telah selesai. Dan sekali lagi sori, aku masih mempunyai urusan... disana."
Pengungkapan kata: "disana", Riku mengunci fokus pada mesin raksasa yang berada tidak jauh di hadapannya. Setelahnya memulai langkah pada permukaan lantai transparan dan tubuhnya memecah bayangan,
"...!" Axel tersentak saat indera pengelihatannya menjabarkan pemuda berperawakan setinggi "cinta"-nya; pemuda berambut "spiky" biru tua; pemuda yang membarengi langkah "cinta"-nya. Di tangan kanan itu memegang senjata pedang berbentuk "X" yang terbalut kedua elemen dominan sehingga menjadikan senjata itu bersinar putih kehitaman berpadu merah membara.
Pertunjukan mimik pemuda "bayangan" itu mengimitasi semua sikap Vanitas; sikap yang melekat erat dalam memori milik Riku.
Axel mulai menduga-duga tentang "pengakuan" si Riku tadi. Sementara sosok-sosok baik kawan, atau lawan... sibuk was-was antara mempersiapkan, atau mempertimbangkan kemungkinan: melawan bayangan Vanitas itu, atau langsung melawan Riku.
Riku mendekati mesin raksasa Fifth Ark dan aliran-aliran Lifestream mengalun gemulai seiring langkah memijak garis-garis formasi tujuh Kristal. Berhubung "bayangan Vanitas" itu adalah dirinya, kendali berdasarkan pikiran.
Pemuda "bayangan" itu berhenti, berikutnya menggulung diri dalam bola berelemen Kegelapan. Dari bola itu, tujuh sosok bayangan baru sesuai imajinasi "Anti" milik Vanitas melesat keluar satu per satu menyerang kedua belah pihak.
Riku mengerti caranya mempertontonkan Vanitas begini memang sedikit berlebihan, namun definisi "satu" tercangkup "seseorang"... Ia tidak mau lagi meresikokan bersanding sisi dengan siapapun selain Vanitas.
Sepanjang kericuhan pertarungan dan serangan-serangan sihir, juga tembakan-tembakan energi dari Eidolon Alexander...
Riku memasang pelindung di seputar garis-garis formasi tujuh Kristal agar sesi-nya tidak terganggu, kemudian serat-serat Lifestream merambat memasuki komponen-komponen mesin raksasa Fifth Ark untuk mengetahui apa yang menjadikan benda ini spesial.
Kedua mata Riku memicing saat menemukan "core" berupa sebuah bola bersegi-segi berbahan Kristal yang terkukung dalam aura putih membara.
Riku pun menanyakan pada Vanitas yang entah berada dimana- melalui telepati,
"Hei, Say. Kupikir di dalam Fifth Ark terdapat seorang wanita cantik sesuai mitos Valkyrie. Tapi kok hanya sebentuk core kecil berupa Kristal? Kamu mengetahui tentang ini?"
Kalimat telepati balasan dari Vanitas,
"Core? Tunggu. Kamu berada di area sistem utama tempat penyimpanan Fifth Ark? Riku, jangan bermain dengan Fifth Ark! Benda itu bukan sekedar mesin, melainkan keseluruhan Valkyrie!"
Riku menantang,
"Oke-oke. Tapi tenang saja. Kurasa aku tahu cara menonaktifkan Fifth-"
Kalimatnya belum selesai seketika suara gemuruh diikuti getaran gempa dasyat,
Saïx mendapatkan telepati dari Xemnas bahwa proses penggabungan Fifth Ark telah selesai, maka tahap selanjutnya adalah meminta Xigbar ke permukaan untuk mencegat para Eidolon yang dibawa oleh Ratu Claire Farron, sekaligus meminta Demyx untuk mencari Neku Sakuraba ke Cocoon karena Xemnas baru saja mendapatkan informasi bahwa Neku Sakuraba adalah Paradox.
Xigbar pun segera pergi melalui Portal Kegelapan ketimbang berhadapan dengan duo pemuda bergelar "teror", begitu juga dengan Demyx.
Sejalan situasi Saïx, Xigbar dan Demyx...
"...!" Riku mengelak mundur seketika pedang-pedang kristal berbentuk Claymore berukuran besar tiba-tiba menjulang keluar dari formasi tujuh Kristal seolah-olah bertindak barikade,
Yang bertarung buru-buru berpencar mengamankan diri bertepatan langit-langit beton runtuh oleh kemunculan pedang-pedang kristal tersebut.
Sedangkan Axel masih bertahan memperhatikan "cinta"-nya kini dijaga ketat oleh "bayangan Vanitas" yang menembakkan segala macam versi kekuatan berupa bayangan pedang-pedang "X-Blade" yang merebak dari sekumpulan miasma hitam, dan menghajar semua pedang-pedang kristal berbentuk Claymore yang mengganggu jalur pandangan Riku... selama tali-tali berbentuk gugusan bintang berbaur aliran-aliran serat Lifestream sebagai media tidak solid dan menembus ke dalam mesin raksasa itu,
Riku membawa tangan kanannya ke depan seakan-akan hendak menerima sesuatu. Gulungan serat-serat Lifestream bergerak mengalir serempak mengumpul di atas telapak tangan kanannya, dan seketika mereka memecah,
"..." Axel tercengang memandang sebentuk bola bersegi-segi berbahan Kristal berukuran kepala manusia, melayang di atas telapak tangan kanan itu dan kilauan-kilauan Kristal membias pada wajah tampan "cinta"-nya.
Tapi Riku tidak menduga kalau mesin raksasa Fifth Ark tahu-tahu melepaskan serangan area dari cincin bertulisan sihir,
Kala tali-tali berbentuk gugusan bintang terputus dan kembali pada aliran-aliran Lifestream ke belakang punggungnya... Riku mengambil posisi melayang saat lantai transparan pecah berantakan berbarengan seluruh jejeran mesin-mesin jet meledak,
"..." Riku pun menumpahkan pengawasan maksimal seketika mesin raksasa Fifth Ark membuka satu per satu bagian tingkap dan mereformasi bentuk.
...
Sementara itu,
Di pesawat merah Celcius...
Dalam ruangan pertemuan yang menjadi tempat berkumpul agar Shelke bisa mendapatkan privasi dan konsentrasi,
Shelke melepaskan kacamata "data" dan berdiri dari kursi, lalu berjalan mendekati jendela,
Disana... Istana Utama Valhalla buyar,
Tembok-tembok kokoh itu berjatuhan seiring dua pilar raksasa menjulang ke langit. Di sisi kanan dan sisi kiri kedua pilar, bagian-bagian dari mesin raksasa itu membuka pilar-pilar kecil membentuk chakram berduri-duri kristal dan dari sana... sebuah sayap raksasa berbulu kristal termanifes. Kemilau serpihan-serpihan kristal bertebaran di udara sebareng kedua sayap itu membentang panjang.
"Riku mengambil jantung Valkyrie, dan sekarang Fifth Ark menjadi Nisan Valkyrie." Konfirmasi Shelke kala mengamati keindahan mesin raksasa bernama "Fifth Ark" itu.
Gladious mau meminta penjelasan tentang apapun penyebutan tadi, namun garis-garis hitam mem-formasi lingkaran portal di bawah kedua kakinya. Begitu juga di bawah kedua kaki sahabatnya.
Prompto buru-buru mengucap salam, "Tuanku memanggil nih. Jaga dirimu, Shel."
Semenjak Luxord sedari tadi diawasi ketat dan diwanti-wanti oleh kedua Vampir dari tim si Pangeran dari negara Tenebrae, Luxord merasa tidak perlu memperdulikan Gladious dan Prompto yang menghilang semudah tersedot ke dalam formasi lingkaran portal "panggilan absolut".
Pria pemegang angka "X" dalam kursi kepemimpinan Organisasi itu mengembalikan inti bahasan seketika garis-garis hitam itu lenyap, "Apa kamu bisa meretas Nisan Valkyrie dan menjadikan itu sebagai Portal Terang?"
Gadis Tsviet bergelar "The Transparent" itu menghela panjang, namun komentar, "Aku tidak suka mencampuri bisnis orang lain... Tapi apa niatmu, Luxord? Jika Organisasi kalian menginginkan Riku... Mendatangkan makhluk-makhluk dari Alam Terang akan menghabisi Riku beserta Organisasi kalian sebelum Riku bangkit secara seutuhnya Ragnarok."
Luxord menyunggingkan senyum atas konsiderasi simpel itu. Walau otak si Shelke lumayan, sayangnya hanya terbatas pada komando dan tidak dapat menarik ringkasan tanpa diarahkan. Ia menyahuti, "Valkyrie berada dalam kendali Pulse, dan Pulse dibuat oleh Bhunivelze untuk mencari Etro. Hati Etro adalah Hati Chaos. Mendapatkan kesimpulannya, hm?"
Untuk sejenak, Shelke mengamati baik-baik pria berambut pirang itu. Berikutnya mendesah lelah dan berjalan menuju salah satu kursi yang berjejer di seputar meja besar, disertai tutur, "Sekali mendayung dua- tiga pulau terlampaui, huh?"
"Gadis pintar." Puji Luxord sambil jemari tangan kanannya mengeluarkan sebuah kartu Tarot semudah sihir para "Magician", dan kartu itu dilayangkan pada si gadis diikuti ungkapan, "Sebagai hadiah, pergunakan baik-baik."
Shelke menerimanya, kemudian tertegun saat melihat gambar "Wheel of Fortune" angka "X". Ia hendak meminta keterangan dari si Luxord... Tapi pria itu sudah tidak ada dimanapun.
"Hm." Dengung Shelke, lalu duduk sembari meletakkan kartu itu di atas meja tanpa pemikiran berkelanjutan. Berikutnya memasang kacamata "data" dan mulai memproses peretasan sistem mesin raksasa Fifth Ark yang sekarang telah berubah menjadi "Nisan Valkyrie".
...
Di saat yang bersamaan semenjak percakapan antara Luxord dengan Shelke Rui,
Di salah satu pesawat milik Kerajaan Tenebrae,
"Noct, kata si Shelke Rui, itu adalah Nisan Valkyrie." Ucap Gladious tepat sosok Tuannya berada dalam bingkai pandangannya.
"Mm-hm. Aku tahu." Sahut Noctis seraya memfokuskan tatapan pada pemandangan di balik kaca ruang kemudi. Para kru pilot yang berasal dari partai Fleuret juga tidak mengalihkan pandangan karena terlalu takjub pada benda raksasa itu karena bisa dibilang terlalu "cantik" bagi gambaran "Neraka" di bawah sana.
"Ehh? Bagaimana kamu tahu, Noct?" Sela Prompto.
"Legenda." Sahut Ignis sambil berjalan mendekati si Pangeran diiringi pernyataan lanjutan, "Terdapat pada gulungan kertas-kertas sejarah, dulu fal'Cie Adam mengatakan: dimulai dari dua menara penghubung Langit dan Daratan, dan saat jalan terbuka... maka Dunia akan terbelah."
Sebelum Gladious menginterupsi, Ignis meneruskan poinnya saat berhenti di samping si Pangeran,
"Itu tanpa fakta. Tapi jika tersebut: jalan, definisinya adalah Portal. Selama ini tidak ada keterangan mendukung tentang keberadaan Portal Terang. Menurut cerita tentang Dewa-Dewi, mereka dapat memijak Planet melalui Portal Terang. Jika asumsiku terhubung legenda... itu mungkin adalah Portal Terang berskala raksasa karena situasi Ragnarok berarti Jaman Kegelapan, dua Alam dominan akan bertarung. Kita bisa menghancurkan itu, kemungkinan lainnya terhubung situasi Valkyrie... maka kemungkinannya hanya Valkyrie-lah yang bisa menyegel."
Gladious kini mendapatkan koneksi, dan mengutarakan, "Riku mengambil jantung Valkyrie."
Ignis terkejut, lalu menanyakan, "Apa Xemnas, atau Vanitas menyuruh Riku? Mungkinkah permasalahan takdir...?"
Noctis kini menggaris senyum tipis, kemudian menjawab, "Riku adalah Riku. Xemnas mengincar Fifth Ark, sudah pasti Riku berpikir tentang kontrol. Jantung adalah core, dan sesuai logika: core adalah kontrol. Bicara takdir, hanya orang bodoh yang mengakui itu. Kita semua berdiri disini atas konsiderasi pribadi dan resonansi terhadap orang-orang yang masuk jajaran tersayang bagi diri sendiri dan bagi masing-masingnya: kalian... bahkan menurutku pun, Vanitas sendiri untuk Riku. Bicara fakta..."
Tatapan diarahkan pada sosok Ratu negara Valhalla yang memimpin para Eidolon menuju kawasan Istana Valhalla, namun terlihat bahwa si Ratu sedang melawan seorang pria berjaket hitam khas yang mengenakan tutup mata pada mata bagian kanan ala bajak laut.
Noctis melanjutkan bicara, "Lihatlah, kesadaran Etro untuk Ragnarok dan tanah Valhalla. Masih ada seorang Valkyrie di bawah sana."
"Yoooosh! Kita bisa bermain sisi dengan si Ratu!" Seru Prompto disertai memanggil senjata api Shotgun.
Ignis tersenyum saat membenahi peletakan kacamatanya dengan dengung "Hmph" atas pertunjukan semangat dari Prompto, diteruskan mengucap, "Noct, aku akan mengatur seluruh armada. Kalian bisa menyesuaikan diri di bawah sana."
Noctis mengangguk, dan menyempatkan menanyakan hal di luar topik pada sahabat masa kecilnya, "Bagaimana keadaan Roxas?"
Ignis menjawab, "Ada sedikit masalah tadi. Weiss the Immaculate bersama seorang penyihir kelas Gnome, dan seorang lagi adalah pria berpakaian ala samurai. Untuk keadaan Roxas sekarang... sangat baik."
Noctis mendesah lelah atas penekanan kata: "sangat", namun tersenyum saat mengungkap, "Berarti di bawah... aku bakal bertemu tampang suntuknya lagi, huh?"
"Dua tampang suntuk." Tekan Ignis, lalu mengimbuhi, "Berhati-hatilah di bawah sana, Noct."
Prompto tiba-tiba melingkarkan tangan kiri pada leher si Pangeran disertai seruan penyemangat, "Ayo, Noct! Jangan buat Riku menanti terlalu lama. Aku ingin melihat kalian bercinta kembali seperti gaya di mobil."
Ignis segera berdehem sewaktu seorang tetua dari keluarga Fleuret yang memegang peranan "sihir" untuk pesawat ini telah mengangkat kedua alis diikuti intrik "ekspresi" atas kalimat si pria berambut pirang.
Gladious hanya menggeleng sewaktu menyaksikan sahabatnya bersikap acuh dan seenaknya menggeret si Pangeran menuju barisan anak tangga samping; menuju alat Teleporter yang berada di lantai atas... lantai yang mengambil tempat separuh porsi kendali pilot.
...
Sejalan situasi tim Noctis,
Di Istana Utama Valhalla yang sekarang menjadi puing-puing...
Pada area terbuka, tepatnya pada puing tertinggi sekaligus terjauh dari dua pilar raksasa berada... "Bayangan Vanitas" bergerak secara "auto" menangkis serangan sihir bola-bola api dimana membuat Riku menoleh darimana serangan sihir itu, namun malah menemukan-
"Melupakanku, kekasihku?"
Kalimat itu berasal dari mulut seorang pria berambut putih bertatanan "spike" berantakan yang telah melayang dengan ayunan senjata pedang katana Masamune,
"..." Riku menatap wajah tampan yang dihiasi senyum bersama alunan tawa kecil kala "bayangan Vanitas" beradu bilah pedang.
"Begitu. Asumsiku, ini adalah kekasihmu... juga." Pernyataan Weiss the Immaculate diikuti kehadiran yang tahu-tahu sudah berada di belakang Riku secepat tanpa hitungan detik,
Tapi Riku tidak bergeming selain mengarahkan "bayangan Vanitas" di belakang Weiss, bayangan senjata pedang "X-Blade" yang menyeruak dari kumpulan miasma hitam milik "bayangan Vanitas" mengukung sisi kanan dan sisi kiri Weiss dalam posisi mengancam, sementara dua bilah pedang katana Masamune juga dalam posisi mengancam di kedua sisi leher Riku.
Sembari mengawasi sosok pemuda kelas "Gnome" yang tersenyum padanya, Riku memulai perkataan tanpa membalikkan badan, "Tekankan kata: lupa, aku memang lupa banyak. Tapi aku tidak lupa kalimatku padamu."
Weiss terkekeh, lalu menyahuti seraya menekankan kedua sisi tajam bilah pedang katana Masamune sehingga sedikit menoreh luka pada kulit leher kekasihnya, "Aku tidak mempercayaimu, Riku. Kamu bermain terlalu... banyak."
Tiba-tiba garis sihir berelemen Es "Blizzaga" memaksanya sigap menjauh.
Area yang dilalui sepanjang garis itu mengeluarkan deretan es-es runcing. Riku memandang Aeon-Eidolon Shiva di atas sana masih bertahan menahan Xemnas sekaligus memberikan senyum "selamat datang" baginya.
Riku membalas senyum itu, kemudian mengangkat kedua alisnya saat Kuja memanggil Aeon,
Langit tahu-tahu merah membara seiring sinar garis-garis formasi "summon" pada pusat area yang terkontaminasi warna Neraka, Aeon Odin merebak keluar bersama sinar dan sebentuk sosok besar berupa orang berbaju zirah yang mengendarai kuda yang juga dilapisi zirah, jubah melambai sebareng kuda itu menuruni langit secara vertikal...
Mengetahui Aeon Odin mengangkat senjata tombak untuk dilemparkan pada Aeon-Eidolon Shiva dimana membuat Riku menetapkan kepastian bahwa Kuja dan Weiss berada di sisi Xemnas...
Riku langsung mengarahkan tali-tali berbentuk gugusan bintang pada Aeon Odin dan berhasil menangkap keseluruhannya baik kuda sampai si pengendara dan senjata tombak disana. Diteruskan aliran-aliran Lifestream menerjang dan menembus dengan pesona infiltrasi, kemudian sekejap,
"..." Kuja memicing mengetahui Aeon Odin takluk dalam kekuatan "kuasa" milik Riku, dan Aeon-nya seketika itu lepas dari pengakuan "Abdi".
Riku melebarkan senyum sewaktu melepaskan tali-tali berbentuk gugusan bintang, lalu melakukan ritual penciptaan Aeon-Eidolon bertepatan keempat kaki si kuda memacu secara menukik untuk mendapatkan posisi horisontal, dan berhenti dalam keadaan melayang tidak jauh darinya.
Kemudian Riku mengirim telepati pada Xemnas,
"Xem, mau melanjutkan sesi kita? Dimana Xehanort?"
Jauh di atas... Xemnas melukiskan senyum saat memasang perangkap "arena" berproyektil elemen Terang pada Aeon-Eidolon Shiva untuk menyibukkan, sementara menanggapi,
"Kenapa kita tidak bermain adil dahulu. Dimana Vanitas?"
Riku membalas sambil menyuguhkan bagaimana gencarnya "bayangan Vanitas" menyerang Weiss sembari sesekali menebas makhluk-makhluk janggal yang berlalu-lalang sekilas iklan,
"Ini? Tidak melihat?"
Xemnas menampilkan "ekspresi" kala menjawab,
"Ah, anak nakal. Jangan membodohiku dengan boneka versimu. Baiklah, Riku. Aku akan SANGAT bersabar untuk menunggunya disini."
"..." Riku memandang Xemnas atas pengungkapan "kesabaran". Ia tahu sesuatu... ada yang tidak beres disini, terhubung kedua pilar raksasa itu. Ia kini mengguman, "Baiklah."
Jemari tangan kirinya mengelus wajah berlapis alur-alur mesin milik si kuda Odin sembari Riku mengucap pada si pemilik kuda, "Odin, bermainlah dengan Xemnas."
Aeon-Eidolon Odin segera memfokuskan tatapan pada siapa yang tersebut "Xemnas", kemudian memacu kudanya menuju lawan Tuannya.
Riku sempat melihat Saïx menghadang Aeon-Eidolon Odin, namun ia lebih tertarik menantang Kuja yang melayang di udara dan meminta secara langsung, "Mana Leviathan?"
Kuja menggunakan tangan kanannya untuk menutupi mulutnya dan sisi panjang dari kain putih mengalun seiring suara tawa kecil. Ia menyahuti saat menegakkan postur semampai penuh kualitas kesombongan, "Kamu tahu, Riku; Rajaku? Aku tidak pernah suka bersanding sisi, denganmu... ataupun Weiss. Bagiku makhluk-makhluk panggilan hanyalah panggilan. Aku bisa memberikanmu Leviathan, namun konsekuensi... kamu akan kehilangan semua Aeon-Eidolon yang kamu ciptakan."
Bola-bola energi berelemen Terang bermunculan di sekitar Kuja sebagai sentuhan pengakhir kalimat.
"Masih mempunyai trik, hm?" Goda Riku sembari melirik pada Weiss yang asik "bermain" dengan "bayangan Vanitas", namun pemuda berambut merah api tahu-tahu saja ikutan nimbrung,
"Yo, Cintah~ Apa kamu mau berdiri seperti itu terus?" Tanya Axel sambil melemparkan kedua senjata Chakram kembar berlibat tarian api pada Kuja.
Riku menatap sayu pada pemuda berambut merah api yang mengharapkannya kembali "normal". Tapi dirinya tidak normal, kan? Lifestream yang mengikuti kemanapun dirinya memijak- selain di Alam Kegelapan, lalu ditambah takdirnya...
Sepanjang pemikiran si Riku,
Kuja menghindar tipis dari serangan Axel. Baru hendak membalas menyerang si pemakai jaket hitam khas Organisasi, puluhan pedang-pedang Rapier melesat padanya. Kuja lagi-lagi terpaksa menghindar, dan menemukan-
"HEI!" Seru Roxas bertepatan mengambil posisi berdiri tidak jauh dari Axel, diimbuhi kalimat bernada kemarahan pada Kuja, "GNOME! Sialan kamu! Kemarikan Sphere Shuyin!"
Di tengah situasi itu,
Meski tangan kanan sibuk mengamankan "core" Fifth Ark, Riku tidak mau berdiam diri atas keberadaan makhluk-makhluk janggal di sepanjang kedua mata memandang. Ia pun melepaskan serangan area.
Tujuh sinar merebak dari permukaan tanah dan memecah lapisan "magma", sinar-sinar putih kehitaman berpadu merah itu bergerak memanjang dan menghancurkan para makhluk beserta reruntuhan, sehingga puing-puing berterbangan akibat daya momentum.
Roxas dan Axel menghindar kompak dengan melompat ke udara,
Paine mendadak datang dari lain arah bersama pedang hitam berkilat oleh kesungguhan tekad... disusul Rikku yang menghunuskan kedua senjata pisau chakram. Kedua gadis itu memanfaatkan kericuhan di area "arena", langsung mencegat langkah sekaligus menyerang si penyihir kelas "Gnome" tanpa basa-basi.
Weiss lagi-lagi telah hadir di belakang Riku, namun sosok baru juga hadir dengan hujam senjata pedang sekelas "Broadsword" pada Weiss.
"..." Riku sekilas menoleh seketika sekilas rambut potongan "spiky" sebiru kelamnya malam melengkapi keseimbangan padan-nya perlengkapan pakaian serba hitam.
Kedua iris semerah darah berpendar sebareng pria berwajah tampan itu mengucap, "Takdir hanya penentuan, namun dirimu yang menentukan... apakah semuanya sesuai ketentuanmu. Kami disini, Riku." Lalu menghilang dalam distorsi antara bayangan dan sinar, berikutnya muncul menyerang Weiss.
Riku terkadang tidak mengerti tentang solidaritas mereka, dan yang ditakutkannya adalah... seperti situasi para "Pelayan abadi"-nya.
"RIKU!" Seru Roxas penuh aura meminta perhatian selama melanjutkan, "Kami disini bukan untuk pajangan!"
"Yep." Sela Axel kala memijak reruntuhan puing tepat di depan Riku untuk sekedar numpang lewat sembari bicara, "Jangan letakkan semua di bahumu. Aku kali ini akan menjagamu dari si Iblis jahanam itu." Dan meneruskan melompat mengejar Kuja.
"..." Riku menatap datar atas penekanan penyebutan spesifik pada kata: "si Iblis jahanam". Kira-kira apa yang akan terjadi bila mereka mengetahui-
Tiba-tiba petir hitam kemerahan menyambar dari langit, menghajar area reruntuhan ruangan tahta dan sekejap,
Pancaran listrik elemen Kegelapan disertai elemen Terang langsung menyebar membersihkan semua makhluk-makhluk janggal- entah kloter ke berapa... Sebareng sebentuk sosok hadir dalam posisi setengah berlutut beserta penampilan "whoah" karena senjata pedang unik "X-Blade" berkilau oleh efek petir-petir hitam kemerahan.
Di langit...
Gulungan awan hitam yang terlapisi kemerahan dari efek pemanggilan Aeon Odin si Kuja tadi masih membara di atas sana, semuanya berbaur dalam putaran lambat di seputar kedua pilar raksasa. Hujan juga tetap turun deras.
Suara pertarungan di atas masih berjalan,
Kedua Aeon-Eidolon memilih tidak turut campur sampai keadaan Tuan mereka benar-benar terancam. Sedangkan Xemnas menanti momen, namun untuk saat ini... pertunjukan di bawah tidak buruk untuk mengulur waktu sampai Portal Terang terbuka, dan disana...
Oh ya, dia.
Semua yang bertarung di bawah kontan berhenti seketika seorang pemuda- sebagian melihat bahwa itu adalah Sora Shinra, namun untuk kedua mata Vampir dan kedua mata Peri...
"Merindukanku, kekasihku?" Ucap Vanitas saat beranjak berdiri dan menarik ujung pedang dari tancap, kemudian mengerutkan kedua alis atas sosok "kembaran"-nya yang mengambil posisi melayang di dekat kekasihnya. Ia pun menyeletuk, "Terlalu merindukanku, huh?"
"Kurasa aku terlalu terbiasa denganmu." Timpal Riku.
Vanitas melukiskan senyum sambil komentar, "Aw~ Itu manis, kekasihku. Dan sekarang, kamu membuatku ingin terbiasa di dalam tubuhmu." Lalu menjentikkan jari tengah dan jari telunjuk pada ibu jari, dan seiring bunyi "CLIP!", sosok "kembaran"-nya pudar tanpa wujud kendali dari kekasihnya.
Riku menyamai senyum, meski pelik pikiran: sejauh senang dengan kehadiran Vanitas sebagai tenaga bantuan eksklusif, rasa was-was disebabkan "Hati Chaos" tersegel di dalam Vanitas. Dan Vanitas adalah kelemahannya karena Sora dan Vanitas adalah satu. Ia tidak mau mengikut-sertakan Sora, juga terlalu terpaut hati dengan Vanitas.
Apa boleh buat. Berhubung si Vanitas benar-benar keras kepala... berarti tindakan antisipasi harus dipersiapkan.
"Nanti, keinginanmu pasti kukabulkan." Goda Riku saat Vanitas muncul di depannya dalam keadaan melayang.
Vanitas menyeringai sambil membawa jemari tangan kiri meraih dagu kekasihnya diikuti ucapan, "Mmmmh~ Aku... dan Sora tidak sabar menantikannya." Berikutnya maju, mulutnya menangkap mulut kekasihnya dan menjalankan fase ciuman semanis madu... sampai Riku menyudahi sesi dengan kecupan lembut,
"Apa kalian serius?" Komentar Riku. Sebelum dijawab- semenjak ia tahu APA jawabannya, maka ia menunjuk ke atas menggunakan acuan telunjuk tangan kiri,
"Nantikan mereka dulu." Ucap Riku, lengkap dengan pemaparan raut datar.
"Hm." Dengung Vanitas saat menetapkan pandangan pada Xemnas, lalu mengucap, "'Kay. Aku akan mengurus mereka," dan kembali menatap pada Riku; tepatnya pada "jantung Valkyrie"... disertai ungkapan, "Berikan itu pada Claire Farron. Etro telah memberkahinya sebagai Valkyrie, dan minta Odin-mu menghancurkan pilar-pilar itu: Nisan Valkyrie."
Di sela pengucapan, Vanitas sempat melirik pada Noctis yang sedikit menunjukkan mimik tidak rela tentang ciuman berkadar mesra tadi. Dan Vanitas memilih tidak menyenggol kakaknya dengan komentar pancingan karena fokusnya adalah Xemnas untuk mengetahui dimana posisi Xehanort saat ini.
Di sisi Axel... pemegang angka "VIII" dalam kursi kepemimpinan Organisasi itu blak-blakan menyela, "Hei, Riku! Apa-apaan?"
Riku terpaksa mengirim telepati ke Axel,
"Axel, aku tidak mau bicara banyak soal ini. Tapi kalau kamu menginginkan konfirmasi, maka jawabanku: ya, Vanitas adalah kekasihku. Pastinya fokus kita sama, yaitu: Xemnas."
"APA?" Seru Axel penuh intonasi syok atas penyebutan "kekasihku", dan sempat menaikkan kedua alisnya saat Vanitas melesat menyerang Xemnas. Sementara Roxas di sebelah Axel langsung mengarahkan fokus pada Kuja yang berubah menjadi versi "Trance"... dimana berakhir memaksa Axel untuk meneruskan menyerang Kuja sembari membalas telepati,
"Kamu dicekoki obat apa sama si Iblis jahanam itu? Kamu diancam tentang Sora? Apa kamu sadar dengan situasi Weiss padamu?"
Riku kini meminta Aeon-Eidolon Odin untuk menyerang Nisan Valkyrie, kemudian mengirim telepati untuk Axel,
"Wew. Aku sadar, tahu! Soal Sora... pilihanku adalah urusanku, Ax. Soal Weiss, aku akan mengurusnya nanti. Kamu jaga Tuanmu baik-baik, 'kay."
Axel mendesah lelah atas balasan itu. Setidaknya si Iblis jahanam itu berada di sisi... Riku. Entah kenapa Axel merasa menggebu-gebu untuk mencari pelampiasan ketenangan... mungkin nanti meminta sahabat sekaligus Tuan tercinta agar menghisap darahnya sampai nyaris mati, terus bercinta dengan si Pangeran? Oh, itu BUKAN ide buruk.
"..." Roxas mengernyit arti: "tidak habis pikir" pada sahabatnya yang tiba-tiba terkekeh secara lunatik selama kobaran api membakar sekujur tubuh sahabatnya.
Sedangkan Riku kini mengirim telepati ke Paine dan ke Rikku,
"Tolong bawa core ini ke Lightning. Aku akan mengurus Kuja."
Rikku cekat menangkap tepat Riku melemparkan bola bersegi-segi berbahan kristal ala lemparan Blitz. Paine tidak banyak komentar selain menemani Rikku melompati reruntuhan sebagai pijakan hingga keluar dari "arena".
Selama situasi Riku dengan Axel, Paine, Rikku...
Xemnas membiarkan Saïx menggantikan posisinya melawan Aeon-Eidolon Shiva, kemudian mengirimkan telepati pada si Iblis kala bersiaga menghadapi serangan,
"Ho? Memiliki bagian dari kekuatan Riku? Luar biasa, Vanitas. Setelah memperkosanya berulang kali, berlanjut membiarkannya diambil oleh siapa saja, dan sekarang... Tsk-tsk. Kita mempunyai kesepakatan, apa kamu lupa setelah mengecap kenikmatan dari keseluruhan Riku?"
Vanitas menyemeringahkan senyum binal sembari menebas pelindung milik Xemnas sekaligus menyahuti,
"Lebih dari sekedar bagian, Xem. Dan oh, aku tidak lupa. Masalahnya kamu menyentuh Riku dan mengobok-ngobok keseluruhan Riku. Soal rencana gilamu, aku tidak akan membiarkannya kali ini. Sekarang katakan jika aku salah, namun Portal Terang dari Nisan Valkyrie? Para Dewa-Dewi akan membantai kita habis-habisan."
Xemnas membalas serangan menggunakan kedua pedang laser kembar tepat lawannya memberikan celah,
"Aku hanya menginginkan satu, Vanitas. Berlebihan tidak baik untuk kesehatan. Dan dirimu... menyimpan terlalu banyak, begitu juga dengan Riku yang menelan semua kadarmu beserta Dunia. Ini akan menjadi kesalahanmu yang sangat... FATAL. Aku sudah memperingatkanmu, dan kali ini kuperingatkan lagi: jangan membuat kekasihmu yang cantik itu menangis karenamu."
Vanitas memicing untuk kata: "menyimpan" dan "FATAL", juga "tanda tanya" untuk kata: "satu". Tapi bukan waktunya untuk ragu-ragu karena gertakan... adalah gertakan. Dan semakin cepat ia menuntaskan ini, semakin cepat ia melanjutkan ke tahap menemukan Xehanort.
Ia pun segera menggencarkan rantai serangan pada Xemnas.
Di sisi Riku...
Selama Riku mengarahkan tali-tali putih berbentuk gugusan bintang untuk menangkap Kuja bermodalkan distraksi dari Axel dan Roxas,
Ia sedikit demi sedikit menyalurkan kekuatannya melalui jalinan "Tuan dan Pelayan abadi" untuk Vanitas yang bertarung sengit dengan Xemnas, sekaligus memohon pada Etro untuk menjaga Sora dan Vanitas karena sekali-kali bertindak religius di masa-masa genting begini... jauh lebih baik ketimbang berharap pada kekuatan milik Dunia. Ia bahkan berjaga-jaga menyimpan sedikit kekuatan "kuasa" untuk mereparasi benua Gran Pulse dan melindungi Planet.
Saat tali-tali putih berbentuk gugusan bintang berhasil menangkap Kuja, tiba-tiba senjata berupa kartu-kartu khas "Joker" meluncur versi Boomerang dan memotong tali-tali itu,
Luxord muncul di udara berbarengan kartu-kartu baru melingkari tubuh Axel dan tubuh Noctis,
Sebelum Riku menghentikan waktu, Luxord secepat itu menghilang kembali membawa Axel dan Noctis keluar dari "arena" menuju "ruangan permainan".
"Tch!" Decak Riku kala mengirimkan telepati pada tim di "arena" sekaligus pada semua manusia dan pada para Eidolon di Gran Pulse yang dapat diraihnya,
"Aku akan menghentikan waktu cukup lama, berjuanglah!"
Riku pun memberhentikan waktu tanpa durasi pasti menggunakan kekuatan Lifestream... berpatokan dari semua bayangan senjata pedang katana milik Kadaj yang disebar mengelilingi benua Gran Pulse. Ia memastikan memanfaatkan porsi terbanyak dari kekuatan "kuasa" sebisa mungkin sebagai keuntungan bagi mereka yang mau berjuang.
Sayangnya Riku tidak tahu kalau Master Eraqus berdiri di kejauhan...
Sedari tadi mengawasi Ri- Oh, sebentar lagi adalah Ragnarok. Bhunivelze menginginkan Ragnarok berada dalam kendalinya, ya, senjata untuk melawan Etro. Tapi kali ini...
Sedetik semua perputaran keheningan dan berbagai pajangan bebatuan dari di udara...
Master Eraqus mengangkat tangan kirinya, lalu menjentikkan jari tengah beserta jari telunjuk pada ibu jari dan suara "CLIP!" menggema,
"...!" Riku merasakan aliran-aliran Lifestream dirobek paksa dari kendalinya, dan kekuatan dari para Dewa-Dewi fal'Cie tahu-tahu tersegel sehingga kekuatannya kembali berbasis Alam Kegelapan... dengan setitik porsi kekuatan Alam Terang yang didapatnya dari Sphere.
Konsentrasi Riku terpecah karena tim Xemnas tidak mendapatkan efek dengan pemberhentian waktu.
Di sisi Weiss... Berhubung lawannya tidak ada, kedua pupil dalam iris biru unik kini mengawasi penuh pertimbangan pada sosok "Sora" dan pada sosok Xemnas yang sedang bertarung bersama kericuhan serangan-serangan berelemen Es dari Aeon-Eidolon Shiva. Keputusan berakhir bertepatan ia menghilang dan mencari pijakan untuk mencapai "Sora"... berbarengan Kuja melepaskan serangan "Ultima" pada Roxas.
Riku tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menggunakan pemberhentian waktu,
Opsinya adalah memberikan sihir perlindungan "Dark Shield" berlapis-lapis pada Vanitas dan Roxas, berikut meminta Aeon-Eidolon Shiva untuk menjaga Roxas dan Aeon-Eidolon Odin untuk menghancurkan kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie". Sedangkan Riku langsung membentuk tiga pasang sayap berbulu bilah senjata pedang "X-Blade" sebagai perlindungan maksimal dan melepaskan serangan "Barrage" dari segala penjuru kawasan Istana pada Kuja, Saïx, Xemnas... selama mengejar Weiss sembari menembakkan elemen Petir- kali ini sihir keturunan elemen Terang.
Di kejauhan...
Master Eraqus menyunggingkan senyum memperhatikan Riku benar-benar memaksakan diri.
Sayangnya ia sebagai Bhunivelze tidak boleh bertindak lebih karena peraturan dari Mwynn. Setidaknya apa yang diciptakannya seperti para Dewa-Dewi fal'Cie merupakan hak-nya. Vanitas disana beruntung mendapatkan "hadiah" dari Riku sehingga ia tidak dapat mengganggu gugat. Pertanyaannya: apakah Vanitas memilih mengembalikan, ataukah Riku akan menyedot kekuatan Vanitas semenjak jalinan "Tuan dan Pelayan abadi" masih berjalan?
Oh, ini menarik.
Sejalan situasi di reruntuhan Istana Valhalla,
Di sisi gerbang terdepan...
Suasana di langit dan di darat tetap berada dalam kondisi "kode merah", alias: perang. Berkat bayangan-bayangan pedang katana Souba "putih" buatan Riku, semua kerusuhan ini tetap terbendung dalam benua Gran Pulse.
Eidolon Alexander di posisi Gestalt Gauge langsung menyerang Xigbar atas perintah Hope. Serangan-serangan laser dari Eidolon Alexander itu sekaligus membabat para makhluk janggal dari Alam Kegelapan, namun pria yang memakai tutup mata pada mata bagian kanan ala bajak laut itu mudah menghindar dan membalas serangan langsung ke Hope karena kalau menyerang si Eidolon Alexander kepastiannya "hopeless".
Prompto dan Gladious beserta Vaan kini masuk ke dalam tim Ace karena para Eidolon yang menerjang benar-benar buas. Berbagai dentum kekuatan fisik plus tenaga "Anima" bertaraf area, yaitu: kemampuan mengeluarkan energi-energi tembakan berkekuatan maksimal untuk membuka jalan bagi Ratu Claire Farron.
Begitu tim Ace menemukan Aerith sekaligus Rinoa beserta teman-teman Kairi dan Sora, Ace buru-buru memasang sihir "Teleport" ke pesawat Celsius bagi Squall yang menggendong Kairi, juga bagi kedua wanita dan empat remaja itu. Sedangkan Snow mengiringi Lightning untuk memberikan laporan tentang situasi Istana, selanjutnya disusul oleh tim Ace yang memberikan keterangan soal "Nisan Valkyrie".
Di gerbang terdekat kawasan Istana Valhalla...
Paine dan Rikku hendak menyampaikan "jantung Valkyrie" pada Lightning, namun dihalangi berbagai makhluk besar hasil gabungan para makhluk Alam Kegelapan lainnya sehingga keduanya terpaksa meladeni berbagai serangan bertema "Graviga" milik makhluk-makhluk itu.
Sewaktu Lightning dan Snow mencapai gerbang yang sama dengan Paine dan Rikku...
"Huh?" Dengung Lightning kala menyaksikan hibrid Aeon-Eidolon Odin melemparkan senjata tombak dan tombak itu menghajar pangkal posisi "Nisan Valkyrie" berdiam.
Kontan Lightning mengaba-abakan semua yang mengikutinya untuk berhenti bertepatan ledakan dasyat dari serangan si Aeon-Eidolon Odin itu disambung melesatnya cahaya-cahaya berwarna putih ke langit... semuanya berkumpul dalam satu titik cahaya, berlanjut hujan cahaya-cahaya ungu kemerahan berupa anak panah raksasa ke separuh area reruntuhan Istana Utama Valhalla.
"..." Lightning memicing seketika menyaksikan pemandangan di pertengahan tidak jauh dari batasan kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie"...
Seorang pemuda berambut perak sepanjang sepertengahan punggung, berpakaian santai berwarna dasar hitam dibalut jaket putih tanpa lengan dan berpasang celana panjang jeans biru baggy beserta sepatu kets ceper...
Riku disana berjuang mati-matian mengarahkan tiga pasang sayap berbulu bilah pedang berbentuk "X" dan masing-masing bulu serupa bilah dikendalikan secara telekinesis sebagai serangan fisik,
Dua pasang bekerja memisahkan diri dan diluncurkan tanpa berhenti pada tiga pria, dua di antaranya berjaket hitam khas Organisasi. Sedangkan sepasang teratas bekerja melindungi diri, bahkan berkali-kali Riku muncul sebagai tameng di depan seorang pemuda mirip So- Bukan, itu Vanitas dengan pakaian berwarna dasar hitam khas "kulit" dan rumbai biru tua menutupi kedua sisi paha...
Pinggang Vanitas digaet oleh Riku dalam pelukan, tiga pasang sayap melingkup keduanya bertepatan ledakan membumbung bersama terbangnya potongan-potongan tembok dari reruntuhan Istana Valhalla.
Kini Lightning mengalihkan pandangan pada dua sosok gadis yang melompat dan salah satunya memanggil namanya disertai lemparan sebuah benda-
Kedua mata Lightning terbuka lebar mengetahui bahwa bola bersegi-segi kristal berkilau itu adalah "jantung Valkyrie",
Dan sedetik benda itu melayang di udara, desing tembakan laser berkekuatan tinggi oleh senjata milik seseorang dari kejauhan...
"Heh." Dengus Xigbar diiringi senyum saat tembakannya kena sasaran. Sayangnya Xigbar tidak mengantisipasi serangan klimaks milik Eidolon Alexander. Ia pun hancur menjadi debu-debu hitam seketika tembakan energi menghajar telak.
Sewaktu "jantung Valkyrie" pecah berantakan di udara...
...Waktunya benar-benar bersandingan dengan iringan suara gemuruh getaran, pusat berasal dari seputar "Nisan Valkyrie" diikuti retak-retak pada permukaan tanah yang tertutup lapisan "magma".
Lightning segera meminta semua Eidolon dan siapapun untuk menjauh dari daratan sewaktu retak-retak membesar... sebagian terbelah-belah sehingga lapisan "magma" turun seperti air terjun ke dasar... entah seberapa dalam, dan sebagian menjadikan beberapa daratan menjulang naik tidak senada. Jelasnya, gambaran di luar teritori Istana benar-benar terisi ilustrasi tank-tank besar yang berjatuhan bersama jiwa-jiwa malang para tentara militer PSICOM.
Kini Lightning mengkomando para Eidolon untuk membantu mereka para manusia. Acuan tim-nya selanjutnya adalah menyuruh Hope yang baru bergabung dalam tim-nya untuk memusnahkan kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie", sementara Lightning memacu Eidolon Odin di udara sembari menyuruh Snow dan tim Ace untuk menyebar mengamankan Riku- dan mau tidak mau... beserta Vanitas juga; bagaimanapun caranya!
Sementara itu,
Di "arena"...
Di dalam kukungan ketiga pasang sayap berbulu bilah pedang "X-Blade"...
"...Aku sangat mencintaimu." Perkataan dari mulut Riku,
Kalimat yang sama terulang kembali kala pelukan dipererat, lalu sekali lagi ucapan serupa... sepanjang Vanitas menyandarkan dagu pada bahu kiri kekasihnya dan merasakan curahan "perasaan"...
"Cinta sepenuh Hati"
...Sampai Vanitas baru menyadari kalau tidak terdapat gemulai aliran-aliran Lifestream di belakang punggung kekasihnya.
Walau tersengal berat, Riku mencoba tersenyum saat melepaskan pelukan seiring bentang dari ketiga pasang sayap dimana seluruh bulu bilah berbentuk jiplakan senjata pedang "X-Blade" sekejap menghancurkan kericuhan potongan-potongan lantai beton dan tembok-tembok reruntuhan yang berterbangan di sekitar mereka,
Bertepatan itu, Riku melihat Weiss mengarahkan serangan pada mereka- ter-KHUSUS pada Vanitas. Saïx membersihkan potongan-potongan bebatuan yang terdorong efek momentum ledakan. Dan berada tidak jauh, Kuja memanggil Aeon Leviathan.
"Ri-" Vanitas tidak terburu bicara seketika kekasihnya memecah menjadi empat bayangan yang segera berpencar menuju Saïx, Weiss, Xemnas, bahkan Kuja.
Vanitas sendiri harus beberapa kali menebas serangan dari Weiss the Immaculate- pria itu benar-benar cepat dan tangkas dengan khas Tsviet sebagai "senjata". Walau si Cerberus tidak memakai kekuatan penuh kala sibuk menangkis perlawanan satu lawan satu dari "bayangan Riku", fokus digencarkan melancarkan serangan-serangan fatal hanya ke dirinya.
Tapi Vanitas sempat mengamati kondisi kekasihnya yang terus-menerus memakai energi dari kekuatan Alam Terang. Rupanya tidak mau membebani soal sedot-menyedot kekuatan darinya. Masalah utama adalah KENAPA sekarang dukungan ditarik tiba-tiba? Apakah Dunia menolak berpartisipasi karena faktor hubungan sah "kekasih"? Sejauh ketidak-adilan di sisi kekasihnya... disini dirinya masih memegang separuh kekuatan "kuasa", bahkan terdapat penambahan.
Apakah Etro mengharapkan kekuatan itu dikembalikan pada Riku? Ini... soal-menyoal antara dukungan dengan kekuatan Dunia bukanlah campur tangan dari Etro. Setidaknya Etro tidak sepicik itu. Lalu...
Siapa?
Ingatan tentang kata: "satu" dari jawaban telepati dari Xemnas tadi...
Kedua mata Vanitas memicing saat menyaksikan cincin-cincin sinar kuning bertulisan simbol-simbol sihir terbentuk di seputar kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie". Berikutnya Vanitas mengarahkan pandangan menyisir "arena" untuk mencari...
Di samping... senjata pedang Claymore milik Saïx menghajar lapisan sihir pelindung "Dark Shield" milik "bayangan Riku". Pecahan-pecahan kaca dari sihir perlindungan itu berterbangan, namun "bayangan Riku" bertahan dan membalas dengan serangan "Barrage" dari ratusan bayangan senjata pedang "X-Blade" berlibat elemen Terang.
Sedangkan Vanitas serius gerah seketika Weiss lagi-lagi muncul di belakangnya,
Vanitas pun mengelak sabetan, kemudian membalikkan serangan dengan mengayunkan senjata pedang "X-Blade" dan Weiss menangkis dengan menyilangkan kedua bilah pedang katana Masamune bertepatan Aeon Leviathan tahu-tahu mencuri kesempatan di belakang Vanitas dengan menembakkan semburan api,
Sewaktu "bayangan Riku" mengambil alih melawan Weiss, Vanitas langsung melepaskan ratusan serangan jarak jauh berbentuk "X" berelemen Terang pada kepala Aeon Leviathan sehingga si naga hancur sebareng bentuk besar itu jatuh tenggelam ke dalam bumbung ledakan.
Di atas... Xemnas mendominasi sempurna, dan dalam beberapa kali serangan menghasilkan "bayangan Riku" pudar.
"XEMNAAAAS!" Teriak Vanitas sembari melesat mengejar Xemnas disertai pengumpulan energi pada senjata pedang "X-Blade", sementara tangan kirinya menembakkan bola-bola energi berelemen Terang ke pria pemegang angka "I" dalam kursi kepemimpinan Organisasi yang melayang mundur mengambil posisi melayang di antara kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie",
Xemnas menyunggingkan senyum seketika bola-bola energi berelemen Terang itu pudar terbabat oleh cincin-cincin sinar kuning bertulisan simbol-simbol sihir yang bergerak naik... semakin lama semakin cepat; berasal dari pangkal kedua pilar raksasa yang terkukung di antara ledakan... tanpa berhenti mengalirkan cincin-cincin itu, semua tertuju ke langit.
Ketua Organisasi itu mengucap pada Vanitas yang telah sampai sejarak beberapa meter di hadapannya, "Langit dan Daratan. Dan saat Langit runtuh..."
"Persetan denganmu dan rencana-rencanamu! AKU. TIDAK. AKAN. RUNTUH!" Seru Vanitas sambil mengarahkan senjata pedang X-Blade, charge maksimal dari tiga serupa kristal berkadar kedua elemen dominan mengarah ke pucuk bilah dan berputar seiring "canon" meluncur dasyat,
Tiba-tiba cincin-cincin itu berganti aliran sinar yang memancar sangat terang dan menghapus tembakan energi "canon", menghancurkan ketiga bentuk serupa kristal sekaligus-
"...!" Ketiga "bayangan Riku" menoleh, dan ketiganya langsung menyatu,
Vanitas sama sekali tidak menduga kehadiran kekasihnya di depannya- bukan "bayangan"- dan memasang sihir pelindung "Dark Shield" berlapis-lapis disertai pelepasan seluruh bulu berbilah senjata pedang "X-Blade" yang berotasi di seputar mereka. Energi-energi kedua elemen dominan saling berpantulan pada seluruh bulu itu dan memformasikan tembakan "canon" lebih dasyat dari serangan milik Vanitas tadi karena bertaraf area,
Sepasang sayap kristal dari kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie" itu hancur. Benar-benar super sadis.
Tapi pancaran sinar sangat terang yang berasal dari kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie" itu bukanlah main-main karena merupakan pancaran kekuatan milik-
Vanitas tidak terburu-
"RIKU!" Seru Vanitas seketika semua lapisan "Dark Shield" pecah berantakan sebareng seluruh bulu berbilah senjata pedang "X-Blade" terpental ke segala penjuru arah sekaligus pudar, dan ia tersentak atas pemandangan aliran darah...
Tangan kirinya tidak terburu menangkap sewaktu kekasihnya terhempas,
"AAAAAAAAAAAAAHHHH!" Teriak Vanitas penuh frustasi kala mengerahkan semua- apapun definisi bentuk kekuatan saat melemparkan senjata pedang "X-Blade" pada kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie",
Ledakan di bawah bersambung semakin luar biasa dasyat karena tembakan-tembakan dari Eidolon Alexander selama Aeon-Eidolon Odin memacu kudanya, menebas semua halangan dari pecahan kristal bekas sayap raksasa milik "Nisan Valkyrie" dan berbagai puing... sampai lemparan bola-bola energi berelemen Api dari Kuja versi "Trance" yang terbang menghalanginya...
...Dan tidak jauh, si Cerberus melompat dan terus melompat pada potongan-potongan tembok-tembok dengan niat menangkap Riku.
Pada detik yang tepat... Aeon-Eidolon Odin berhasil menangkap Tuannya duluan, namun tidak sempat menolong kekasih Tuannya yang terkena pancaran sinar berlipat-lipat kali lebih kuat sampai si pemegang gelar "Iblis" itu nyaris pudar jika tidak memegang kekuatan "kuasa" milik Tuannya.
Dua buah bola kecil; sebuah berwarna biru cerah dan sebuah berwarna kuning cerah, keluar dari bidang dada si Iblis sebareng tubuh itu terlempar ke daratan bekas reruntuhan Istana Valhalla.
Keseluruhan sinar dari kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie" kini melesat dengan kecepatan tinggi mirip "beam" yang menembak langit, dan sekejap,
Awan-awan terkoyak seperti ditarik oleh cakar bersamaan langit putih sepolos kertas yang membentang luas.
Di lain sisi... Saïx cekat menangkap bola kecil berwarna kuning cerah sebelum tertelan oleh efek ledakan, sementara sebuahnya lagi... entah bagaimana, bola kecil berwarna biru cerah itu terbang ke langit.
"Hmph." Dengus Saïx kala tidak bisa berbuat apa-apa untuk Sphere berwarna biru cerah itu. Tapi ia sempat menoleh pada dua pilar raksasa "Nisan Valkyrie" dimana seorang sosok merebak keluar dari aliran sinar...
Saïx menyunggingkan senyum melihat pria pemegang angka "I" dalam kursi kepemimpinan Organisasi itu melayang keluar...
Tangan kanan Xemnas menggenggam gagang senjata pedang "X-Blade" milik Vanitas. Kedua mata Xemnas berwarna kuning terang dan sekujur tubuh beraura petir-petir kuning berelemen Terang beserta naungan kekuatan "kuasa" milik Dewa Pulse.
Sejalan situasi Saïx, di bawah...
Aeon-Eidolon Shiva memperkokoh perlindungan pilar-pilar es untuk melingkupi Roxas yang kehabisan energi karena serangan "Ultima" milik Kuja tadi... sepanjang keduanya menyaksikan tubuh Vanitas tersungkur diikuti bekas groak pada permukaan tanah beserta menguak lapisan "magma" akibat daya momentum.
Sebelum keempat kaki kuda tunggangan Aeon-Eidolon Odin menapak tanah, tali-tali berwarna kuning terang melilit si Aeon-Eidolon Odin sehingga kuda itu meringkik hendak membebaskan diri. Tubuh Riku juga terlilit pada kedua kaki, kedua tangan, jenjang leher.
Riku total kehabisan energi, namun saat ditarik bak boneka kain sampai jatuh terseret di permukaan tanah... Ia mengerahkan sisa-sisa tenaga untuk memecahkan diri sehingga lilitan mengikat angin kosong.
Sedangkan si Aeon-Eidolon Odin tidak bernasib baik. Bertepatan kekuatan lilitan menghancurkan makhluk besar itu tanpa menyisakan bekas, keempat "bayangan Riku" membentuk bayangan senjata pedang "X-Blade" sebagai pegangan senjata di tangan kanan dan menebas semua tali-tali berwarna kuning terang yang menjurus sekaligus menghancurkan semua halangan.
Aeon-Eidolon Shiva berniat membantu Tuannya, namun terpaku seketika melihat sosok pria berjaket hitam khas Organisasi yang memijak di permukaan tanah bersama ayunan langkah penuh ketenangan, padahal efek ledakan dari serangan tombak si Aeon-Eidolon Odin di awal tadi masih bergelora dan belum sepenuhnya mereda. Tapi jilatan-jilatan dari pendar aura beserta kilatan-kilatan petir-petir kuning pada sekujur tubuh disana memudarkan apapun yang melayang ke arah pria itu, sama sekali tidak tersentuh.
Lalu-
Aeon-Eidolon Shiva terlambat bertindak saat Saïx tahu-tahu muncul dan memasukkan Sphere berwarna kuning cerah pada bidang dada Roxas,
"...!" Roxas yang lemah hanya bisa membelalak seketika luapan "perasaan" asing merebak dalam tubuhnya dan...
...Mengambil kendali.
Saïx segera menjauh bertepatan Aeon-Eidolon Shiva memasang pose mirip Gestalt Gauge menggunakan keenam cincin besar separuh lingkaran dan menembakkan garis-garis sihir "Blizzaga" padanya,
Saat pilar-pilar es milik Aeon-Eidolon Shiva tahu-tahu pecah, Aeon-Eidolon Shiva hanya bisa memandang pada tembakan serupa "canon" dari tangan kanan Roxas.
Roxas menyeringai di antara serpihan-serpihan tubuh mesin Aeon-Eidolon Shiva yang berterbangan... selama kedua matanya mengunci fokus pada Xemnas yang menangkis seluruh serangan keempat "bayangan Riku" sembari memasang pelindung area berupa jalinan-jalinan tali-tali sinar kuning terang membentuk kubah menggunakan media pancaran sinar dari kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie" sebagai sumber mirip sistematis kekuatan Lifestream dengan inti Planet.
Roxas- Bukan, Ventus kini berdiri dan memulai langkah sebareng perlengkapan serba hitam khas Organisasi memencar berupa sulur-sulur hitam, sedetik berikut... pakaian berubah khas-nya: coklat daratan, variasi hijau bersanding biru langit, dan sentuhan merah.
Sejalan situasi Roxas...
Dengan kekuatan "kuasa" milik Dewa Pulse yang tersalur pada senjata pedang "X-Blade" jarahan milik Vanitas tadi, Xemnas menghabisi keempat "bayangan Riku".
Keempat "bayangan Riku" otomatis kembali menjadi Riku seutuhnya yang jatuh terkapar di permukaan tanah, namun masih-
Xemnas mengeluarkan tali-tali berwarna kuning terang yang tersambung dari kelima jari tangan kirinya dan semuanya kembali melilit kedua tangan, kedua kaki, jenjang leher... dan menghentakkannya; menggerakkan bak "Puppeteer" tanpa perduli Riku berontak sia-sia dan terus menahan diri tidak mengambil bagian kekuatan "kuasa" yang diberikan ke Vanitas.
"AHHH!"
Riku berakhir mengerang keras bertepatan kedua tangannya terikat ke belakang,
Kelima tali berwarna kuning terang diputuskan dari jemari tangan kiri Xemnas, seluruh tali menjadi ikatan baku dan mengencang sehingga tubuh Riku tidak berkutik, diteruskan oleh sebuah tangan kuat yang melingkar di pinggang Riku dan membekuk pemuda itu dengan erat- menahan Riku di posisi berdiri. Kekuatan baru milik Xemnas memanggang Riku secara literal, sakit- sangat sakit.
Xemnas membisik di telinga kanan Riku, "Kamu pikir aku hanya bermain denganmu, hm? Bersetubuh denganmu adalah metode untuk mengenalkan segala rasaku dan segala warnaku pada jiwamu sehingga aku memiliki dominasi atas keseluruhan dirimu dan..."
"Ah-A..." Suara Riku terbata,
Riku mengernyit dengan segala ekspresi perih karena tubuhnya seperti berada dalam kepatuhan absolut dan sebatas bersandar pada tubuh bagian depan Xemnas... tidak mampu melawan saat merasakan jemari tangan kiri Xemnas menguak pakaiannya dan menjamah pak otot perutnya... berlanjut turun menyelip ke balik lingkar celana... meraba area privat semudah dikemudian... menguak kain celana dalam disambung memasukkan jari tengah ke dalam "ruang"-nya, membuatnya gemetar dan sedikit mengerang atas efek invasi beserta efek kekuatan baru si Xemnas,
Sembari menekankan bibirnya pada lubang telinga kanan Riku, Xemnas melanjutkan kalimat bisikan, "...Kompatibel denganmu."
Xemnas melukiskan senyum picik bertepatan Vanitas bergerak disertai alunan suara kesakitan, maka fokusnya adalah meruntuhkan keyakinan, jalinan kepercayaan, citra positif dan... pesona cinta,
"Vanitas tidak akan mengembalikan kekuatanmu, dia lebih picik dariku... memanfaatkanmu, bahkan membuatmu menunjukkan ironi dari kelemahan seorang wanita. Sedangkan aku di lain sisi, mengharapkanmu mempunyai segalanya meski aku membuatmu putih; seputih kapas karena jika dirimu putih, aku adalah hitam. Sekarang Vanitas akan membuatmu menelan hitam; sehitam jiwaku." Bisik Xemnas kembali.
"...Nhh-Ah..."
Erangan lemah dari Riku menjadikan Xemnas semakin memparadekan "adegan" agar mengeluarkan suara Riku lebih dan lebih, menekankan panjang jari tengahnya-
Riku memicing sewaktu rasa-rasa tali solid yang teraliri energi bermain di dalam "ruang"-nya, sangat panas dan tidak sebuah... melainkan gulungan berdobel-dobel sebesar pergelangan tangan wanita dan terlalu... dalam sesuai pergerakan alur persetubuhan dengan "tentakel"... membuatnya-
"...Wh- AHH- N-AAH! Owh! OH!"
Ia tidak sanggup membendung erangan keras kala keempat jari Xemnas meremas barang kepemilikannya yang masih lembek diimbuh permainan tali-tali melilit kedua buah zakar-nya... menarik dan memberikan khas penyiksaan seksual secara implisit... Ia sungguh terbiasa di-invasi seperti ini, juga terbiasa menerima perlakuan begini. Katakan basis perkosaan, tubuhnya tetap menjabarkannya sebagai... kenikmatan.
Kedua mata Riku berlinang karena dirinya dipertontonkan mutlak.
Ia pun memohon pada Xemnas melalui telepati,
"Aku milikmu, namun lepaskan Vanitas. Aku milikmu..."
Xemnas membalas,
"Kamu memang milikku karena diriku dan dirimu adalah serupa. Tapi ini... bukan untukku. Tidakkah kamu melihat Vanitas disana, hm?"
Berikutnya langsung meraup katup mulut Riku, memaksa melayani ciuman tanpa memberhentikan "penyiksaan". Baris gigi runcing milik Xemnas menoreh terus-menerus sehingga lelehan merah keluar dari ujung bibir dan menuruni dagu pemuda berkulit seputih wanita.
Sejalan itu... Vanitas terenggah-engah saat berusaha berdiri.
Darah mengalir dari dahinya. Beberapa bagian tubuhnya juga terluka parah. Kekasihnya bahkan lebih parah darinya. Darah menghiasi pada bagian-bagian kulit yang seharusnya mulus kini penuh toreh.
Opsi Vanitas saat ini adalah mengembalikan kekuatan "kuasa" yang dibagikan oleh Riku, atau kalau perlu... semua. Tapi si-kon Xemnas dengan afiliasi si Pulse... ditambah si-kon Riku dengan afiliasi si Ragnarok, keduanya berujung pada dua: Bhunivelze dan Etro.
Dua sisi mata koin...
"AAAAHH!" Teriak Riku tepat momen ejakulasi tidak terbendung, meski minus kepuasan... tetap sangat- sangat- SANGAT menampilkan imajinasi terburuk pada kekasih abadi-nya disana... dan disini dirinya bak "piala" dalam panggung "kuasa".
Riku sudah memohon pada Etro dan Xemnas, sekarang Riku memohon pada Vanitas,
"Van, pergi... kumohon..."
Vanitas menyahuti begitu berdiri terhuyung,
"Satu hal yang akan kuminta darimu... sekali lagi. Percayalah padaku, kekasihku."
Riku menggeratkan baris gigi- lumayan tidak terima atas pernyataan telepati dari Vanitas yang berbau... pertaruhan.
Di belakang Riku... Xemnas cukup puas bermain dengan area sensitif milik Riku, lalu menarik tangan kirinya dan berlanjut tubuh Riku didorong sehingga Riku bertumpu pada kedua dengkul. Ia mengucap pada kedua insan bergelar "teror",
"Dari semua pilihan... Aphrodite memilih Ares, seperti Astarte memilih Baal. Ragnarok menikmati semua definisi eksplisit sampai membuat perang untuk menghapus Ventus dari segala rasa dan segala warna. Sayangnya Ragnarok tetap mencari Langit-nya. Dan kamu... memilih Vanitas ketimbang Sora. Inilah pertimbangan dan karma, sejauh ironi... Takdir selalu berawal dari jalan terawal. Menyedihkan, bukan?"
"..." Vanitas mengunci kontak pandangan dengan Xemnas yang melemparkan senjata pedang "X-Blade" padanya. Ia membiarkan ujung bilah menancap pada permukaan tanah sejarak selangkah di hadapannya.
Bicara soal Sora... Vanitas tidak merasakan Sora di dalam tubuhnya, tampaknya apapun serangan dari "Nisan Valkyrie" itu mampu memisahkan jiwa. Hal terburuk, kekasihnya berada di tangan Xemnas. Dan...
Xemnas berkata, "Aku sudah menjalankan tiga per empat bagianku, giliranmu untuk menyelesaikan seperempatnya sesuai perjanjian kita... dan Ventus disana. Kerjasama kita masih berjalan, bukan?" Penekanan diimbuh perlakuan jemari tangan kirinya mengelus pipi kanan Riku beserta kalimat, "Demi kekasihmu."
"..." Vanitas melirik pada pemuda bernama "Roxas" yang berjalan disertai kekeh tawa dan percakapan dengan diri sendiri- sepertinya pertentangan dua jiwa di dalam satu tubuh. Ia mengenal sifat keras kepala si Roxas. Itu poin lebih.
Berikutnya mempertajam indera pendengarannya sewaktu suara dari Claire Farron bersama... Ah. Baiklah. Ia tidak boleh mengembalikan kekuatan ini, namun jika ini terakhir... jika...
...Setidaknya Vanitas merencanakan hal terbaik yang bisa dilakukan- demi kekasihnya.
Vanitas mengulang telepati untuk kekasihnya saat jemari tangan kanannya menggenggam gagang senjata pedang "X-Blade",
"Percayalah padaku."
Kemudian Vanitas menarik senjata pedang "X-Blade" dan melesat menyerang Xemnas, meski harus beberapa kali terhalang serangan dari senjata pedang Claymore milik Saïx.
Sejalan situasi di bawah...
Kuja tidak mengganti versi "Trance", terus-menerus menembakkan bola-bola api sampai serangan sihir "Flare" pada para Penjinak dan tim kecil si Ratu Claire Farron. Berhubung tim Xemnas, dan dirinya dalam tim Dewa Bhunivelze berpatokan pada rencana yang sama, Kuja membiarkan Weiss the Immaculate bertindak sesuka hati: menghilang dalam distorsi bayangan berbalut sinar menuju...
Vanitas.
...
Ventus memandang si Weiss mengunci serangan bertubi-tubi pada Vanitas, meski menghajar Saïx juga. Tapi ketertarikannya adalah kedua pedang yang dipegang oleh si Weiss. Disana, Xemnas bersikap pericuh dengan aksi merebakkan tali-tali berwarna kuning terang dari permukaan tanah dan jalinan-jalinan dari "kubah" seolah-olah jaring laba-laba.
Sejauh favoritnya menempati tubuh Roxas, Riku berada di tangan cecunguk si Pulse. Oh ya. Bhunivelze keparat itu sekarang pun masih bermain kotor. Kalau begini caranya, dirinya harus bersikap hati-hati agar tidak digrafir tato l'Cie kembali.
Pertama-tama: Gerbang bagi Chaos. Kedua: Gerbang Tunggal dari semua Gerbang yang dibuat oleh Terra dan Aqua. Ketiga: membuka Pintu Etro.
"Heheeheheehe..." Kekehnya kala mengingat rencana Dunia milik Xemnas.
Hitam dan Putih, eh?
Setelah Pintu Etro terbuka, kelas "Chaos" akan memperoleh "rupa"... dan semua kota di Planet berubah Necropolis. Itu disebut "master"?
Pertanyaannya: rencana sebenar-benarnya milik Xehanort dengan Gerbang Tunggal?
Tadi melalui indera pendengaran Vanitas dan Sora, keterangan DiZ cukup baku dan lumayan kurang karena Xehanort terlalu kompleks. Dan "rencana" Vanitas sendiri... termasuk eksesif sekaligus ekstrim. Ini akan merepotkan, namun sedikit kehebohan sebagai perayaan bagi dirinya yang memijak permukaan Planet... tidak pernah buruk.
Ventus semakin mendekati Riku.
Xemnas mengumpankan Ventus, membiarkan Vanitas berusaha menyerang Ventus yang memanggil senjata dari pelindung bahu kiri. Pedang unik tersebut menepis semua serangan bersama kemudahan berjalan.
"VENTUS!" Seru Vanitas sambil mengukung diri dalam bola berelemen Kegelapan seketika tali-tali berwarna kuning terang hendak menjangkau,
Bersamaan itu, Saïx sengaja menghadang Weiss.
Vanitas melesatkan tujuh "bayangan"-nya pada Ventus, kemudian meledakkan mereka kala Vanitas tiba-tiba muncul dari permukaan tanah sembari menjuruskan pedangnya. Sayangnya Ventus memasang "Refleksi" setiap kali ditebas, dan mendorong Vanitas disertai tembakan "canon" berkadar kedua elemen dominan yang didapatnya dari influensi Vanitas terhadap kekuatan "kuasa" milik Riku.
Tembakan "canon" juga dikeluarkan oleh Vanitas. Keduanya beradu maksimal... sampai kesadaran Vanitas tentang Xemnas,
Sebelum tali-tali si Xemnas menangkapnya, Vanitas menenggelamkan diri berupa bayangan ke dalam permukaan tanah menuju Ventus, dan melesat keluar dengan serangan jalinan partikel hitam mirip rantai,
Ventus kini berhenti dan melepaskan serangan area berupa ranjau dimana memaksa Vanitas untuk mundur,
Tapi Ventus mengantisipasi dengan maju menyerang. Vanitas menggeratkan gigi saat Ventus menghajarnya dengan kecepatan di luar definisi, namun Ventus sama sekali tidak berhenti. Kekuatan "kuasa" melibat senjata pedang milik Ventus selama melakukan serangan serupa berulang-ulang kali dan meninggalkan jejak bongkahan kristal berkadar kedua elemen dominan yang menembus tubuh Vanitas,
"...Lepaskan Vanitas, kumohon... kumohon... Akan kulakukan apapun- apapun, Xemnas..." Suara parau bergetar dari Riku saat "Roxas" memutarkan pedangnya dan melemparnya ke Vanitas.
Ledakan minim, namun fatal... diikuti pecahnya semua bongkahan kristal, dan Ventus menyeringai sewaktu tali-tali berwarna kuning terang menangkap Vanitas yang setengah sekarat sejarak dua meter dari Riku.
Jemari tangan kiri Xemnas menyendok rahang Riku, memaksa wajah secantik dewi itu menyaksikan...
Riku berontak sebisa mungkin dari lilitan-lilitan baku sembari berteriak, "VAAAAAAAAAAAAAN!"
Vanitas mendesis seketika Saïx menjauh, otomatis meloloskan Weiss,
Dan Weiss; bak hiu, melihat Vanitas sebagai mangsa empuk. Vanitas buru-buru mengalirkan semua kekuatan "kuasa" yang diberikan oleh kekasihnya pada ketujuh jiwa yang terkukung di dalam "Hati Chaos", dan mengirimkan telepati pada kekasihnya,
"Apapun yang terjadi... Aku akan menjagamu baik-baik, kekasihku. Selamanya."
Ventus melebarkan seringai seketika ayunan pedang katana Masamune; pedang yang awalnya Gunblade berlambang "Daratan",
Dalam sedetik,
Cipratan darah yang mengenai wajah Riku bertepatan tubuh Vanitas melemas dan terpancang tanpa jiwa,
Kalung berbandul Mahkota terlempar ke permukaan tanah berbarengan...
...Kepala Vanitas jatuh menggelinding ke hadapan Riku.
...
Lightning berhenti menyerang Kuja bertepatan suara lengking teriakan diikuti ledakan energi yang menembus celah-celah "kubah" yang terbuat dari jalinan-jalinan tali-tali berwarna kuning terang.
"Apa yang terjadi disa- Huh?" Snow memicing saat gulungan kabut hitam menyebar di antara pancaran sinar terang dari kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie". Efek ledakan dari serangan tombak Odin dan serangan tembakan-tembakan Eidolon Alexander kini mereda dan memberikan pemandangan kerusakan super parah.
"Chaos..." Sahut Lightning sambil menyiagakan diri, namun ia tertegun sewaktu melihat seorang wanita berambut merah muda berjalan di udara.
Kedua mata Lightning berlinang kala mengetahui siapa itu,
"SERAH!" Serunya, hendak memacu Eidolon Odin- Dua sosok menghalang,
Vaan tadi menumpang pada Eidolon kedua Shiva bersaudara di belakang Snow menggantikan posisi Squall. Ia terkejut begitu senyum khas "seksi" yang terlukis di wajah tampan Balthier. Sedangkan Fran mengucap pada Lightning,
"Lindungi anak-anak Kelas Zero, saat semua kembali pada permulaan... mereka akan menjaga Planet sebagai Valkyrie milik Etro."
Tidak jauh dari tim Lightning... Serah memanggil senjata busur dan menembakkan anak panah ke langit,
Seketika anak panah melesat dengan kecepatan tinggi dan menembus langit, kuak sinar selama lapisan putih termakan beliung... terus dan terus melebar... sampai menyibakkan warna biru langit cerah menjelang siang.
Warna putih tadi menjadi awan-awan putih, potongan-potongan sinar mentari memudarkan gulungan kabut hitam berikut menghilangkan lapisan "magma" di permukaan tanah. Pancaran sinar dari kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie" juga mereda. Kristal-Kristal Cie'th menguap sebareng para pejuang l'Cie mendapatkan bentuk mereka sebagai manusia tanpa tato l'Cie.
Ace menyadari suara-suara temannya. Ia pun menghilang dan muncul di dekat kelima anggota Kelas Zero yang tertegun melihat apa yang terjadi dengan situasi di sekitar mereka karena...
Kedua pilar raksasa "Nisan Valkyrie" telah terburu terkorupsi Chaos. Itu menghasilkan efek menyeramkan.
Bongkahan-bongkahan kristal yang awalnya adalah pecahan dari sepasang sayap raksasa kini terangkat melayang bersamaan bagian-bagian mesin berupa blok-blok berbahan metal terlepas satu per satu dari kedua pilar raksasa itu, dan masing-masingnya saling menghubung... perlahan demi perlahan keutuhan berganti menjadi semacam dua bangunan gedung pencakar langit dengan berbagai ketinggian menara-menara tidak utuh.
Kedua bangunan raksasa itu merupakan labirin. Blok-blok itu terus menyebar dan memposisikan diri melayang diam di seputar kedua bangunan raksasa itu secara tidak selaras baik dalam segi porsi keindahan, maupun dalam segi porsi jarak antara ketinggian. Keseluruhannya bagaikan...
Taman Gantung,
Kota.
Di kejauhan...
"..." Master Eraqus hanya bisa menatap pemandangan kota... Academia.
Tersebut "taman" karena disana tempat bernaung bagi para Dewa-Dewi fal'Cie. Kota adikuasa itu berada di Alam Terang dan dulu adalah teritori kekuasaannya. Situasi Ventus membuat Gerbang Terakhir terhubung ke Neraka dimana ternyata jalurnya sengaja dibuat melalui reruntuhan Alam Terang tempat Pulse berada, ditambah peran Etro yang meloloskan Ragnarok menjadikan polusi Chaos bisa memasuki daerah tabu, dan... beginilah Necropolis.
Tidak disangka dirinya bakal melihat tempat seperti ini lagi, terjadi di tanah Valhalla. Apakah tindakannya ini salah...? Tapi ini demi Mwynn dan kelanggengan Planet.
Dan Riku terdidik dalam keluarga Xehanort. Yang terakhir adalah deretan pembunuh. Kehancuran Riku... sudah jelas akan menghancurkan Planet, namun pertaruhan di sisinya, sisi Riku bak magnet mengumpulkan semuanya dalam satu area dan memudahkannya untuk menghabisi melalui tangan Ragnarok versi Riku.
Berkat Xemnas, Vanitas telah disingkirkan. Nanti Ventus sekaligus Xemnas... dan terakhir adalah membuat Ragnarok versi Riku kembali pada Etro; membuat jalan menuju Alam Kematian.
Baiklah.
Master Eraqus menjentikkan jari tengah dan jari telunjuk pada ibu jari. Suara "CLIP!" menggema sebareng para Dewa-Dewi fal'Cie mengikuti komando dan melimpahkan segenap kekuatan bagi pemuda yang bernama "Riku".
Bhunivelze menyunggingkan senyum kala berkata, "Tunjukkan dirimu, Ragnarok."
...
Di lain sisi... Di atas kubah pesawat merah Celcius...
Shuyin dan Lenne berdiri di permukaan kubah dan memandang Yuna telah berpakaian ala Yevonite... menari sesuai kemampuan seorang Summoner untuk membuka Gerbang Farplane pada mereka yang meninggal dengan sengsara.
Alunan-alunan Pyreflies berterbangan ke langit dengan keindahan ber-rona kesedihan.
Ya, kesedihan.
Karena Riku...
Riku tenggelam ke dalam jurang di bawah pengertian situasi "normal",
Dan situasi itu...
Pemandangan di "Istana Hati" milik Riku sangatlah kelam,
Hanya sebuah bulan besar berpendar kebiruan dimana pada tengahnya terdapat gambar dua kapak hitam model bersatu... mirip ilustrasi "hati", dan selebihnya... hitam; lautan hitam tanpa ujung dan tanpa akhir sekaligus tanpa refleksi dan tanpa keindahan "pelangi" karena Riku sudah menghancurkan segalanya saat kedua tangannya memeluk kepala Vanitas.
Penyesalan akan "harapan",
Kebencian akan "ironi, karma dan takdir",
Amarah akan "darah yang tumpah baik karena dirinya, juga karena kedua tangannya",
Kesalahan akan "perasaan",
Kesedihan akan "Hati dan Cinta",
Lelah akan "kehidupan",
Atas segalanya, semua momok itu adalah dirinya- kesatuan "Riku".
Dan kini...
Riku membiarkan ketujuh "Chaos" mengambil wujud dalam berbagai versi perawakan dan berbagai wajah berekspresi. Mereka... melimpahkan semua momok itu, tanpa terkecuali dan tanpa berhenti,
"Invidia" versi Sora mengucap, "Hah! Pembohong! Katanya akan menjaga!"
"Ira" versi Ace mengucap, "Pembunuh! Kamu bahkan mengorbankan mereka yang kamu sebut teman!"
"Gula" versi Vanitas mengucap, "Menaruh dirimu sebagai piala bergilir, dan kamu menikmatinya berulang-berulang-berulang kali. Mau basis perkosaan sampai suka sama suka, kamu tetap saja meminta lebih. Tapi hei, mereka menerimamu walau kamu adalah pelacur. Luar biasa!"
"Avaritia" versi Weiss mengucap, "Plin-plan. Meski kamu mempunyai kekuatan Dunia yang bisa kamu gunakan sebagai hero... sekarang melepas tanggung jawab hanya karena satu kematian dari yang tersayang? Pengecut!"
"Superbia" versi Seifer mengucap, "Apa yang bisa kamu buktikan dengan menyangkal, hm? Berapa kali kamu merencanakan bunuh diri? Lalu sekarang menyembunyikan diri. Heh."
"Acedia" versi Roxas mengucap, "Lihatlah dirimu, menangis karena kelemahanmu sendiri? Ha-Ha! Menggelikan!"
"Luxuria" versi Axel mengucap, "Kami sangat- sangat- SANGAT menginginkanmu, Riku. Bukankah kamu suka merasa penuh? Direngkuh? Direndahkan? Diperlakukan seperti binatang?"
Ia membiarkan mereka merayapkan tangan-tangan ke semua bagian tubuhnya- jiwanya yang terikat oleh rantai-rantai "dosa". Ia bahkan membuka kedua kakinya, tidak ambil pusing mau berapa organ seksual yang dijejalkan penuh pemaksaan ke dalam "ruang"-nya juga mulutnya. Ia juga menelan dan mengecap pengeluaran kekalutan mereka... menaruh dirinya sebagai pusat pelampiasan- hukuman, membebaskan masing-masingnya merasakan dirinya- jiwanya. Terserah saja.
Toh Riku sudah...
Mati.
...
Sejalan situasi Riku...
Di kota Edge,
Tepatnya di luar mansion Healen Lod- Maksudnya di dalam pesawat milik Cid Highwind...
Ranjang ruangan pribadi milik kapten bergoyang dengan suara "KRET!" berulang dan berulang. Cid terlalu menikmati sosok yang telanjang bulat di bawahnya dan terpaut- "barang"-nya berada di dalam "ruang" yang sangat ketat dan berkontraksi semakin erat pada setiap gerakan,
Vincent tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Sesungguhnya setelah Lucrecia mengembalikan Protomateria miliknya... Lucrecia mengatakan,
"Vincent, sudah saatnya kamu menemukan... segala rasa dan segala warna kehidupan."
Ia sendiri tidur terlalu lama di dalam peti, dan ini...
Adalah keinginannya- Oh, ralat. Pria setengah baya ini mengatakan bahwa segala "rasa" dan segala "warna" dimulai dari hati. Kontak fisik secara harafiah merupakan jalan terbaik. Walau jelasnya, Vincent tidak mau membahas apakah si Cid hanya membual untuk mendapatkan intimasi persetubuhan darinya...
Pastinya...
"...Nnnh- Ohhh... Keras, Cid..." Erang Vincent kala mengalungkan kedua kakinya pada belakang pinggang Cid karena segala "rasa" memang terasa, kalau segala "warna"... pandangannya cukup berkunang-kunang akibat efek air bertemperatur sedingin es dari tabung Cryogenic dimana sekarang efek tubuhnya yang menerima hentakan memalu berulang-ulang... benar-benar segala "warna" di setiap alur mengisi dan mengulur.
Sedangkan Cid?
Tentu saja untuk kata "Keras", Cid LEBIH dari sekedar menanggapi dengan... sepenuh hati.
...
Sepanjang situasi hubungan intim antara Cid dengan Vincent,
Di lain sisi... kini di mansion Healen Lodge...
Tepatnya dalam lab bawah tanah,
Lantai terbawah, ruangan pengamatan spesial...
Tifa menyingkirkan layar virtual saat kedua mata milik Hantu DiZ berbinar memandang tabung berbentuk telur dimana sisi-sisi tabung kini membuka bak kelopak bunga dan miasma hitam bercampur miasma putih merebak keluar seiring sosok terlihat.
Perawakan tinggi nan atletis, sekujur tubuh berbalut pakaian mirip "kulit" berdasar hitam. Rumbai putih berujung hitam mengalun saat sosok itu bergerak memulai langkah memijak anak tangga pendek. Sepatu boot berwarna putih dengan sol hitam... Kedua lengan bertoreh desain geratan... Tanda lambang pada bidang dada sampai pak otot perut...
Rambut "spiky" seputih salju, dan wajah...
Yuffie nyaris berteriak jika Tifa tidak menyumpal mulutnya dengan jemari tangan kanan.
Hantu DiZ mengawali perkataan sewaktu sosok pemuda itu mendekat,
"Akhirnya, huh?" Pertanyaan berupa pernyataan, dan sosok itu membalikkan pertanyaannya,
"Bicara penekanan kata: akhir, kamu serius kalau ini bukan Sphere Ventus?" Tanya sosok itu seraya menggerakkan jemari tangan tangan kanan, mengetes kesempurnaan jalinan otot dan tulang.
Hantu DiZ mengangguk, lalu menerangkan berskala kesabaran,
"Proses pertama, mirip Replika. Sepatutnya adalah apresiasi dari harapan. Tapi kamu murni secara perasaan, dan luar biasa... tidak ada yang tertinggal satu pun. Elemen Kegelapan menciptakan susunan keseimbangan rupa dengan bantuan elemen Terang sebagai variasi pelengkap memori. Cara kerja Dunia terlalu unik. Kita tidak bisa mendalami keseluruhannya baik dari segi influensi Etro maupun induksi Bhunivelze. Secara portabel, yang terdahulu-lah yang memenangkan bentuk. Perasaanmu terlalu... besar. Berbeda dengan Ventus. Untuk perbandingan kesadaran dan aturan persamaan atas dasar logika, seharusnya Ventus atau Sora yang memenangkan harapan karena faktor oposisi. Dirimu menjadikan dua Langit dalam rotasi. Itu bukan ironi, melainkan reformasi. Dan tonggak harapan Riku adalah dirimu, Vanitas."
Vanitas tersenyum manis ala Sora kala membayangkan kekasihnya yang menanti disana. Oh ya, sangat- sangat- SANGAT menantinya.
"Kurasa aku harus meminta sesuatu pada kalian," Ucap Vanitas pada kedua perempuan yang berada tidak jauh. Sejalan kalimat itu, sulur-sulur hitam merembes dari telapak tangan kanannya dan membentuk sebuah helm berwarna hitam.
Vanitas melanjutkan bicara, "Semenjak kekuatanku kembali berbasis Alam Kegelapan, aku tidak mau siapapun... bahkan Riku mengetahui keberadaanku yang... seperti ini. Aku mau Riku tetap menyimpan segala rasa dan segala warna diriku yang dulu; diriku sebagai Caelum. Jadi kuminta dengan sangat agar kalian bisa merahasiakanku. Dan mulai dari sekarang, namaku adalah Dullahan."
"..." Tifa memandang sayu pada pemuda berwajah "Sora" yang memakai helm berwarna hitam. Ia memberanikan diri untuk menanyakan, "Apa... Apa kita bisa bertemu lagi? Demi Riku-"
"Demi Riku, Tifa." Tegas "Dullahan".
"Dulahan" berkata kembali dengan penekanan, "Aku akan bertindak sesuai caraku, demi kekasihku. Tenang saja. Sekarang, cukup chit-chat. Ada masalah utama yang harus kuselesaikan di negara Valhalla. Sudah saatnya mengetes sesi kepercayaan karena jika tidak begitu, kekasihku akan terpuruk selamanya."
Selanjutnya "Dullahan" menghilang dan tahu-tahu hadir di dekat Protomateria- Materia Hitam milik Nero the Sable dan Sephiroth, kemudian mengambilnya semudah mencelupkan tangan kanan tanpa memecahkan kaca. Berikutnya jemari tangan kanan menggenggamnya sebareng sulur-sulur hitam melibat Protomateria itu sampai tenggelam ke dalam telapak tangannya, dan "Dullahan" mengayunkan tangan kanannya dalam sekali gaya menebas,
Sulur-sulur menyeruakkan bentuk pedang kokoh berdesain roda gerigi yang mengapit pada gagang dimana pada separuh gagang terdapat sambungan separuh lingkaran mirip garis-garis cahaya mentari hitam, pada separuh bilah berlibat rantai hitam model "X" dan dari situ bilah panjang putih dengan dua sisi tajam hitam berujung hiasan "mata".
"Hmph. Semakin luar biasa. Para kelas dalam susunan piramida di Alam Kegelapan pasti mengucurkan air mata darah atas ulah Etro. Seandainya aku bisa membuat Xemnas dan Ventus menari hula-hula begitu melihatku... kembali." Guman "Dullahan" kala mengamati pedang baru-nya.
Tiba-tiba sulur-sulur hitam keluar dari sekujur tubuh "Dullahan"... seluruhnya membalut dan sekejap, "Dullahan" menghilang bak terserap ke dalam permukaan lantai beton tanpa meninggalkan bekas kehadiran.
Hantu DiZ hanya bisa menggeleng disertai komentar, "Dari dulu sampai sekarang, bocah itu selalu tidak pernah berterimakasih dan tetap... penuh sensasi."
Tifa tersenyum dan menanyakan, "Tapi DiZ, apakah tubuh itu akan bertahan selamanya?"
Hantu DiZ menoleh pada Tifa dimana menjadikan tarian Pyreflies berkutat mengikuti gerakan. Ia mengungkapkan secara gamblang, "Tergantung ironi dari Vanitas sendiri. Setidaknya Vanitas memperoleh rupa dari keajaiban Dunia, yaitu: Langit, Daratan, Lautan. Mungkin tidak sesuai harapan Surga, namun keberadaan Vanitas sejauh ilusi adalah Neraka. Planet ini adalah Neraka, bukan?"
Yuffie melepaskan diri dari bekapan jemari tangan kanan Tifa untuk ikutan nimbrung pertanyaan, "Anu- Um, kenapa Vanitas memilih nama Dullahan?"
"..." Tifa mengerutkan kedua alisnya karena pertanyaan itu tidak perlu dibahas. Cuma nama, bukan?
Namun-
"Karena kepala Vanitas berada dalam dekapan Riku setelah Ventus memenggalnya, memutus semua koneksi jalinan baik antara Tuan dengan Pelayan abadi sekaligus dengan Riku dan dengan Dunia."
Kalimat itu berasal dari pemuda berambut oranye berpakaian variasi ungu dan putih yang entah sedari kapan berada di dalam ruangan...
Sosok pemuda itu sedang menurunkan headphone-nya, disanggahkan pada leher... seraya meneruskan keterangan,
"...Tapi Etro kali ini bersikap baik. Toh Alam Kegelapan membutuhkan sesuatu yang solid, Vanitas adalah versi sempurna untuk keutuhan dan keseluruhan... juga bersanding sempurna dengan Riku. Kuharap begitu, meski sesuai pengetahuanku: rencana Etro terlalu... sarap."
Yuffie menggaruk-garuk rambutnya atas berlipat-lipat ringkasan baik dari sisi DiZ dan sekarang... ini. Ia mengernyit sambil berkata, "Uh... halo? Siapa kamu? Tahu-tahu nongol tidak jelas."
Pemuda itu menarik garis senyum tipis saat menjawab secara kasual khas-nya, "Neku Sakuraba, kelas Peri. Tidak terlalu penting."
Hantu DiZ menatap Neku, lalu bertanya, "Sudah waktunya?"
Neku kini memudarkan senyum kala memasang mimik sedingin es begitu menyahuti, "Ya. Aku mesti mempersiapkan rencana cadangan, katakan saja... JIKA."
"Begitu." Guman Hantu DiZ diiringi penampakan berpikir. Berikutnya mengatakan penuh ekspresi arti: "keputusan" dan pertunjukan keyakinan tekad, "Aku pun harus melunasi semua harga atas keseimbangan."
Neku mengulurkan tangan kanan, dan Hantu DiZ menyambut tangan ramping itu.
Tiba-tiba keduanya terliputi miasma hitam, lalu menghilang dari pandangan kedua perempuan sebareng miasma hitam itu pudar.
Yuffie menghela nafas panjang seraya komentar, "Aku tidak percaya akan situasi ini. Pertama Sora dan Vanitas, lalu Cloud, berlanjut Vanitas kembali... dan-"
"Oh ya, Cloud! Kita mesti ke negara Valhalla sekarang!" Potong Tifa, kemudian menarik tangan kiri Yuffie; mengajak buru-buru menuju lowong pintu yang tadi rusak akibat sistematis membelah cara "sashimi" ala Vanitas.
Sementara itu,
Di area hutan yang berpetak-petak gundul...
Pada salah satu petak...
Cloud berusaha menenangkan sengal karena bertarung dengan Tsviet gila sangatlah... gila. Beruntung Nanaki barusan berhasil melemparkan siapapun wanita sinting yang merupakan lawannya sehingga momen "Omnislash versi 5" dapat dilakukan dan membunuh wanita itu secara telak.
Nanaki juga menenangkan nafas karena Cloud terus-menerus nyaris menebasnya.
"Oh... aku membutuhkan darah." Guman Cloud disela terenggah-engah.
Kontan bulu-bulu Nanaki langsung berdiri dan Nanaki buru-buru menjauh dari si Vampir bergelar "Ex-Turks".
Cloud langsung membenahi kalimat sewaktu menyadari makhluk merah itu bersikap was-was padanya, "Maksudku darah... Err- Lupakan." Dan mencoba mengirim telepati pada Riku,
"Riku, aku... uh- membutuhkanmu."
"CLOUUUUUUD! NANAAAAAAKIIIIIIIIIII!"
Suara panggilan; suara khas putri tunggal dari keluarga Kisaragi...
Cloud dan Nanaki menoleh ke sumber suara. Di atas sana... pada pinggir tebing yang curam, kedua perempuan melambaikan tangan untuk menunjukkan bahwa mereka menanti.
Sebelum Cloud membuka Portal Kegelapan,
Kalimat balasan berupa telepati dari Riku... Hanya saja suara yang terdengar di dalam kepalanya bernada ketenangan yang berkadar terlalu... sensual selayaknya habis menegak pil ecstacy.
"Aku pun membutuhkanmu, Cloud... SANGAT."
Seusai jawaban itu,
Formasi garis-garis hitam terbentuk di pijakan tepat di bawah kedua kaki Cloud,
Walau rasional dari otak Cloud menetapkan ini termasuk dalam baris kedua dari deretan keanehan tentang Riku karena "panggilan absolut" seharusnya bisa ditolak, Cloud tidak menolak akan kebutuhan darah. Mengecap darah Riku terasa Surga baginya, benar-benar bertema adiktif.
Nanaki mengangkat kedua alis kala memandang si Cloud teresap dalam formasi lingkaran portal "panggilan absolut" dan menghilang dari hadapannya.
...
Di negara Valhalla...
Tidak jauh dari bekas "Nisan Valkyrie" yang sekarang menjadi kota Academia...
Tali-tali berwarna kuning terang yang tadinya melilit, kini pudar semudah debu. Riku perlahan beranjak berdiri dari posisi berlutut, lalu mengamati kepala Vanitas dengan sorot pandangan kelembutan selama jemari tangan kanan meraba lelehan darah segar yang keluar dari mulut Vanitas.
Riku kemudian menyunggingkan senyum, menambah pesona elok dan rupawan... super menggoda bagi semua yang memandangnya- Oh ya, menggoda jika ia berikutnya tidak menjilat jemari tangan kanannya, menikmati "cat" segar seakan-akan... makanan.
Ia mempakemkan kepala Vanitas pada pegangan tangan kiri bak memegang bola bowling, lalu melemparkan kepala Vanitas sejauh mungkin... paling jauh.
Dan kini,
Weiss the Immaculate menatap datar pada kekasihnya yang memungut senjata pedang X-Blade.
Perhatian seksama dimulai semenjak Ventus menjadikan tubuh Riku sebagai Gerbang bagi Chaos dimana menyerap merebaknya keutuhan Chaos... dan sejauh perbendaharaan kata: "Imitasi", penampilan keseluruhan sekarang adalah berkah Dunia dari para Dewa-Dewi fal'Cie dalam naungan kekuatan "kuasa" Dewa Pulse.
Riku sempurna, namun Riku BUKAN Ragnarok.
Berkat bagian kekuatan "kuasa" dari Riku beserta aksi Vanitas menghibahkan kesempatan bagi ketujuh jiwa yang terkukung dalam "Hati Chaos" untuk mengendalikan bagian kekuatan "kuasa" milik Riku dan diberkahi oleh kekuatan "kuasa" milik Etro atas tanah Valhalla...
Serah Farron, Balthier dan Fran, Shuyin dan Lenne, Lucrecia Crescent... memperoleh bentuk mereka sebagai perseorangan serupa dulu. Dan Stella Nox Fleuret telah berdiri dikelilingi oleh puluhan senjata pedang Rapier dengan persiapan menyerang.
"Oh?" Ucap Riku terhadap salah satu putri dari keluarga Fleuret seolah-olah pertunjukan itu adalah gurauan,
Riku selanjutnya mengalihkan pandangan pada Eidolon Odin yang menapakkan keempat kakinya, juga Eidolon kedua Shiva bersaudara yang menderu manis. Keduanya dan tiga "Penjinak" lainnya yang baru lepas dari Kristal Cie'th mengambil posisi di depan ketujuh sosok yang sebelumnya adalah jiwa Chaos.
Sedangkan Eidolon Alexander menggendong Hope Estheim. Pemuda berambut putih itu tahu-tahu segera menanyakan pada Lightning, "Semua tembakan sedari tadi tidak memberikan efek. Bagaimana ini?"
Lightning mengamati baik-baik kondisi Riku yang tampaknya... LEBIH dari sekedar "normal", sebelum berakhir menjawab, "Kita bisa menghancurkan sumbernya."
Dan yang tersebut "sumbernya",
Prompto dan Gladious menampilkan mimik serius kala Hope memfokuskan pandangan pada Riku... berikutnya ke sosok pria berambut biru berjaket hitam khas Organisasi, kemudian pada pemuda kelas "Gnome" dan pada pria Tsviet yang mengambil posisi berdiri pada tim Riku.
Bagi Weiss posisinya tidak ada pilihan lain, demi kekasihnya... Oh ya, kekasihnya yang entah bagaimana nasibnya.
Vaan terkejut seketika pria berambut Chocobo muncul secara "panggilan absolut", dan keenam anggota Kelas Zero. Ketujuh sosok baru itu berada pada grup Riku- juga tidak ada pilihan lain karena fokus mereka adalah keselamatan sang Tuan.
Riku mengirim telepati bernada perintah pada Ace,
"Etro hendak menggunakan dirimu dan kelima anggotamu sebagai Valkyrie. Kita bisa menyelesaikan ini... Dunia tanpa Dewa-Dewi. Apa kamu mendukungku, Ace?"
"..." Ace untuk sejenak berpikir tentang maksud "mendukung", namun mengangguk atas tanda "kepercayaan".
Sebenarnya Ventus sedikit gerah soal pihak-memihak karena tidak menyangka kalau Gerbang Tunggal adalah-
"..." Ventus memicing saat Riku memandangnya penuh kaidah arti dimana membuatnya mendengus kesal karena kebutuhan utamanya adalah semua kunci yang dipegang oleh Paradox. Memancing Paradox untuk keluar termasuk gampang-gampang susah. Tapi tidak masalah. Toh ini demi penantiannya untuk jiwa Ragnarok.
Bertepatan "Roxas" menghilang semudah terbawa angin, Riku mengucap pada semua lawannya, "Kita bisa bermain di dalam kota Academia."
Selesai tanda pengakhir kalimat itu, tim Lightning dan ketujuh jiwa Chaos tidak sempat bereaksi seketika lingkaran portal besar melingkup keenam anggota, men-teleport mereka ke dalam kota berbentuk labirin; kota Academia. Mereka semua sengaja dipencarkan sendiri-sendiri tanpa bantuan, kemudian Riku men-teleport semua anggota tim-nya kecuali Cloud untuk menyusul dan mencari lawan seperti kucing mengejar tikus.
Di "arena"...
Riku tertinggal sendirian bersama pria berambut Chocobo bergelar "Ex-Turks".
Tidak perlu mengayun langkah untuk mendekati,
Riku semudah itu hadir dan melingkarkan kedua tangan ke belakang leher Cloud diikuti penampilan senyum ter-seksi berikut kalimat, "Cloud, aku tahu kamu sangat lapar. Tapi... apakah kamu mau bermain banyak selain porsi darah?"
Cloud membalas sorot pandangan bertema "undangan", khusus padanya. Menjadi "favorit" bukan sisi-nya, namun desah dari katup mulut yang berdiam sejarak inci dari mulutnya beserta alur sensualitas atas kerapatan tubuh bagian depan dimana posisi teritori privat menekan miliknya...
Walau senyatanya adalah khas menggoda sesuai Riku setelah mengalami versi Vampir... imajinasi yang diperolehnya terlalu berbeda dengan Remnant Kadaj, bahkan Riku sendiri.
Pengamatan Cloud tidak pernah salah, namun bibirnya menarik garis senyum... dan menjawab satu patah kata,
"Strip."
TBC...
A/N:
Oke. Seperempat ini terpaksa diberi pembatas berhubung jumlah kata mencapai 15k, sekaligus agar kebingungan tidak diderita oleh para pembaca sekalian. Ha-ha.
Berhubung menjelang akhir, situasi "yaoi" harus digalakkan! *itu yel-yel dari temen penggila yaoi* Maka... terjadilah semua yang tergolong male di fic ini menjadi "Bi".
Judul diambil dari sajak "Ode to Artaud" karya Robert Leary. Author suka keseluruhan baitnya, jadi Author masukkan semua bagian sajak.
Author menggunakan partisipasi si DiZ kembali, sebagai bintang tamu. Dan HORE! Author membawa kembali Kelas Zero! Yay!
Nisan Valkyrie adalah imajinasi. Tapi kota Academia ada di FF XIII-2. Awalnya adalah kota futuristik, setelah terkonsumsi oleh polusi Chaos, bentuk kota itu berubah berupa blok-blok labirin dan ditinggalkan oleh penghuni. Author memakainya di fic ini sebagai "Necropolis".
Serangan keren si Ventus sesuai di KH: Last Words.
Vanitas versi hitam-putih... sesuai di KH: Vanitas Remnant atau Vanitas Lingering Spirit, terbentuk dari perasaan yang kuat milik Vanitas. Tentu di fic ini mengisahkan berbeda walau tema perasaan tetap berperan. Teruz senjata pedang si Vanitas Remnant adalah Void Gear sesuai bentuk Keyblade dia, namun ujung kunci Author pindahkan di sisi penghubung gagang.
Ketujuh Chaos yang "pesta" dengan jiwa Riku di Istana Hati milik Riku diambil dari referensi "Seven Deadly Sins": luxuria (lechery/lust), gula (gluttony), avaritia (avarice/greed), acedia (acedia/discouragement/sloth), ira (wrath), invidia (envy), superbia (pride).
Pairing untuk bab ini: Riku x Vanitas, Xemnas x Riku, "Seven Deadly Sins" x Riku, Cid x Vincent.
Makasih untuk review-nya *hugz Miki chan dan Metha94*
Untuk Miki chan: Hehe. *Author cekikikan bertema... um. Hehe*
Untuk Metha94: Aih, daku bener-bener newbie lho. Baru fic ini yang menggunakan tata bahasa secara pemakaian kalimat sebenar-benarnya. Biasanya daku memakai kata: "tidak" menjadi "tak", terkesan aneh untuk beberapa situasi. Jadi... percobaan pertama setelah membuat 12 fic, fic ini menggunakan semua ketentuan tanpa situasi "baku". Thehehe~ Thx atas support-nya Metha94 *hugz lagi*
Trivia:
Aphrodite (God of Love and Beauty) adalah kekasih Ares (God of War), namun Zeus menikahkan Aphrodite dengan Hephaistos (God of Smithing). Astarte serupa Aphrodite, namun lebih mengarah ke Venus... adalah istri Baal (God of Storm). Baal merupakan Raja.
Dullahan adalah pengendara kuda tanpa kepala, legendanya jika Dullahan berhenti memacu kudanya... maka dimana pun tempat Dullahan berada, kematian pun berkutat disana.
Kisah-kisah itu bisa ditemukan di Wikipidia. ^^
Author melambangkan Riku adalah Aphrodite karena dia memiliki banyak "cinta" sekaligus Astarte karena fokus "Bintang Fajar" dari Vanitas. Penempatan Vanitas adalah Baal, namun sebagai Ares di awal-awal. Sedangkan Ventus sendiri adalah gabungan Hephaistos dan Ares.
...
Daaaaaaan~ Bab selanjutnya adalah tentang Riku, dan pertanyaannya... kalau Riku berada di dalam jurang di bawah pengertian situasi "normal"... Siapa yang berada di atas pengertian situasi "sadar"? Hihihi. Lalu kabar si Luxord yang menculik Noctis dan Axel? Kemudian situasi Demyx, disambung Roxas sebagai Ventus? Berikutnya tentang maksud si Neku Sakuraba tentang "rencana cadangan" pada Hantu DiZ?
Tetap ikuti cerita ya~
Ditunggu review-nya ^^
