Helloooo dear readers~
Terlambat update lagi T_T *bow. Belakangan author disibukkan dengan aktivitas pekerjaan dan -sigh- lagi-lagi author gagal jaga kesehatan. Ck, ck,ck... Never know I can turn to be this weak ;(
Anyway, thanks a lot buat yang sudah mampir ke fic ini, dan tentu saja yang sudah me-review. Ya all da best!
Yuki ChbiHitsu-chan: thanks karena sudah me-review pertama di chapter lalu. Author sudah mengusahakan penderitaan Umbridge di chapter ini dan sedang merencanakan penderitaan yang lain di chapter berikutnya *wink.
myuu: trims review-nya :)
guest: who whatever you are, thanks a lot for your review. Glad u love it like I fell in love to Kanda :) If there's any suggestion for me, I would really appreciate it!
Cooliceprincess: trima kasih review-nya..
And, happy reading~
Chapter 25
Kembang api sihiran spektakuler itu masih terus berlanjut, tak terhenti meski petang sudah tiba. Meskipun mereka menyebabkan keramaian, apalagi petasannya, kelihatannya tak satupun guru keberatan dengan itu. Bahkan Profesor McGonagall dengan sengaja menyuruh Lavender Brown untuk memanggilkan Umbridge agar dapat segera menyingkirkan beberapa naga nyasar di kelas Transfigurasi sore itu. Jadilah Umbridge menghabiskan sore pertamanya sebagai Kepala Sekolah untuk menjawab panggilan para guru yang sepertinya tidak bisa menyingkirkan kembang api itu tanpa bantuannya. Ketika bel terakhir hari itu berbunyi dan Harry beserta teman-temannya menuju ke Menara Gryffindor, ia melihat, dengan kepuasan besar, bagaimana Umbridge yang acak-acakan, berkeringat, dan bernoda angus keluar dari kelas Profesor Flitwick.
"Terima kasih banyak, Kepala Sekolah!" kata Profesor Flitwick dengan suara mencicitnya yang nyaring. "Aku bisa saja menyingkirkannya sendiri, tentu saja. Tapi aku tidak yakin apakah aku berhak melakukannya." Dan dengan wajah cerah, guru Mantra itu menutup pintu tepat di depan wajah jengkel Umbridge.
"Nah, dia kena batunya," celetuk sebuah suara.
Harry menoleh. Dilihatnya Lavi yang bersandar di pilar dekat jendela tinggi di koridor itu, mata hijaunya menatap Umbridge yang menjauh dengan ekspresi geli. Disadari Harry kalau Lavi sudah tak sekusam sebelumnya. Memar di wajahnya sudah memudar dan ia juga terlihat lebih bersih. Kausnya pun baru, terlihat di balik mantel seragamnya yang hanya disampirkan di kedua bahunya.
"Lavi!" cetus Ron keras.
"Yo," cengir si rambut merah.
"Kau masih di sini?" tanya Harry.
Lavi mengangguk, "Aku memutuskan untuk menerima undangan makan malam para guru. Makanan di sini lumayan enak. Sayang, kalau kata Yuu-chan, tidak ada soba di sini."
"Kemana dia? Kukira kau dengan Profesor..." ujar Seamus.
"Kami tadi dari Menara Astronomi," senyum Lavi cerah, "melihat matahari terbenam juga kembang apinya dan minum lagi sedikit, seperti masa lalu. Yuu turun duluan. Katanya ada laporan yang mau dititipkan padaku."
"Er... Profesor Kanda tidak apa-apa dengan kembang apinya? Setahuku dia tidak suka keramaian..." celetuk Hermione.
Lavi mengangguk. "Memang iya. Apalagi biasanya jam segini dia meditasi sore. Tapi aku tidak dengar dia mengeluh. Lagipula, Yuu suka kembang api."
Harry bertukar pandang dengan Ron, sebelum menatap Lavi lagi. Itu bukan hal yang ia duga akan diterimanya sebagai jawaban. "Hah?"
Lavi manggut-manggut, tersenyum mengingat kenangan lama, "Begitu yang pernah diceritakan Jenderal Tiedoll dulu. Beliau bilang kalau pertama kali bergabung di Order Cabang Asia, Yuu tidak pernah keluar benteng. Dunia luar asing baginya. Ketika Jenderal membawanya berkeliling dan melihat pesta kembang api, Yuu sampai bengong di tempat. Katanya sih, itu pertama kali dia melihat Yuu tersenyum. Wuah~ Aku tak pernah membayangkan Yuu bisa seperti bocah polos. Yang aku tahu sejak dulu muka cantiknya itu sudah dirancang 'selalu galak'."
Lavi terkekeh ketika salah satu kelelawar kembang api meledak dan meletupkan buncahan bunga-bunga api keemasan. "Ngomong-ngomong, siapa yang meledakkan kembang apinya? Itu keren sekali!"
"Yah, itu kerjaan kakak kembarku," kata Ron pelan.
"Ho... Kalau saja Markas punya kembang api macam ini. Tapi kami hanya punya kembang api biasa... Dan Kepala Sekolah baru kalian kelihatannya kerepotan sekali." Ada nada berpuas diri dalam suara Lavi.
"Aku yakin itulah tujuannya..." ujar Ron geli.
"Perempuan itu benar-benar merepotkan. Aku benar-benar terkejut dia masih hidup sampai detik ini, dengan temperamen Yuu yang luar biasa itu. Gara-gara dia, Yuu dapat kesulitan; Order berkali-kali dapat surat protes dari Kementerian kalian..."
"Yang benar?" celetuk Hermione cepat, sementara Harry mengedip tak percaya.
Lavi manggut-manggut. "Yep. Dan mereka juga ingin agar Yoru dipindahkan. Alasannya, dia hewan liar campuran yang tidak jelas asal-usulnya."
"Pasti Umbridge yang bilang begitu," celetuk Harry. "Kudengar dia tidak toleran pada makhluk campuran apapun."
"Aku tahu itu, dia membuatnya jadi jelas." Lavi menggelengkan kepalanya dramatis. "Terang saja Yuu menolaknya. Saat ini hanya dia yang bisa mengontrol Fenrir itu. Untunglah Yuu tidak akan lama di sini. Terkurung di kastil seperti ini bukan favoritnya. Dan Yoru sendiri juga sepertinya mulai bosan. Tak banyak yang bisa diburu di sekitar Hutan. Yuu bilang dia harus segera membawanya ke tempat lain sebelum populasi rusa hutan di sekitar sini habis dan dia mulai menyerang unicorn."
"Apa Fenrir bisa melakukan itu?" tanya Neville gugup, mengerling Hermione.
"Yah, Fenrir itu makhluk langka, jadi aku tidak tahu..." ujar Hermione.
"Yuu memang tak akan biarkan itu terjadi. Kan tadi sudah kubilang saat ini hanya dia yang bisa mengendalikan Yoru," kekeh Lavi.
"Dia tidak kembali tahun depan?" tanya Parvati segera, tak menyembunyikan nada kecewanya.
Anehnya, Lavi langsung menyeringai, lebih lebar dari sebelumnya. "Pasti menyedihkan, kehilangan muka cantiknya di meja guru, eh?" Wajah Parvati dan Lavender langsung merona merah. "Tidak, tentu saja tidak. Dia ada di sini hanya sebagai tali penghubung antara Black Order dan Dunia Sihir. 'Jembatan'-nya sudah terbentuk, dan tugasnya akan segera selesai. Order membutuhkan kemampuannya untuk hal lain."
Lavi mengerling ke arah jendela. Tampak langit mulai menggelap di luar sana, meski kembang api masih belum berniat untuk memudar, tampaknya.
"Aku rasa aku akan turun sekarang. Sampai ketemu lagi."
Dan sosok jangkungnya dengan ringan menuruni tangga sampai menghilang dari pandangan.
Harry dan yang lainnya bertemu dengan Lavi lebih cepat dari dugaan. Ia dan Profesor Kanda sedang berbicara serius di koridor menuju Aula Besar. Keduanya tampak abai pada sekitarnya, tenggelam dalam percakapan mereka yang sepertinya sangat penting.
"... tak ada yang tersisa. Mereka memusnahkan semuanya."
"Seperti yang diduga untuk level mereka," sahut Kanda dalam nada rendah, ekspresinya keras.
"Aku benar-benar berhutang nyawa lagi padamu, Yuu. Kalau aku tidak kemari lebih dulu, barangkali aku juga..."
"Aku tidak lakukan apa-apa. Kau sendiri yang putuskan kemari," potong Kanda cepat.
Lavi menghela napas. "Ada hal lain yang lebih dari yang kau tahu..." Lavi menggeleng pelan. "Aku yakin kau sudah tahu. Komui tidak mengizinkanku kemana-mana untuk sementara."
"Mereka mungkin memburumu."
"Yeah, kau tahu apa yang aku punya. Misi solo bukan ide bagus. Mereka akan kirim partner untukku sebelum memberiku misi baru..."
Kedua exorcist itu menghilang ketika berbelok masuk ke Aula Besar.
"Ada apa, ya?" celetuk Neville bingung.
Bukan hanya Neville yang penasaran. Yah, bagi Harry, secara keseluruhan, aktivitas Profesor Kanda dan rekan-rekannya itu selalu membuat penasaran. Bagaimana tidak? Gerak-gerik mereka saja sudah dipenuhi aura misterius, bahkan orang seceria Lavi.
Dan sepertinya, kali ini, entah apa masalahnya, mereka akan tetap tidak mengetahui apa-apa. Ketika tiba di Aula, tampak kedua exorcist itu berbicara serius, hanya berdua, dengan guru-guru yang bahkan tidak memandang keduanya.
Kanda hanya memainkan garpunya, sementara pikirannya sibuk bekerja. Lavi tadi baru memberitahunya, dalam perjalanan menuju ke Aula Besar, bahwa si rambut merah itu mendapat kabar dari Markas Utama kalau Markas Cabang Australia telah jatuh. Millenium Earl mengirim sejumlah besar akuma yang dipimpin Tokusa, salah satu Exorcist Ketiga yang telah mereka manipulasi, dan meluluh lantakkannya. Tak ada yang tersisa di Markas terbesar di belahan bumi selatan itu, termasuk seluruh penghuninya.
Penyerangan total ini membuktikan bahwa kubu musuh sudah siap untuk mendeklarasikan perang besar mereka. Dan ini bukan pertanda baik sama sekali. Ya. Situasi bagi seluruh exorcist dan juga Black Order akan sangat pelik. Dan ia, masih memiliki tanggung jawab misi di Hogwarts.
"Komui bilang kau ada misi lain di sini," kata Lavi pelan, dalam bahasa Mandarin untuk mencegah percakapan mereka dicuri dengar. Ini cukup efektif, karena para guru tampaknya tidak terlalu curiga pada mereka, mengira kedua exorcist itu hanya mengobrol biasa. Lagipula mereka sedang sibuk mengobrol sendiri tentang kembang api sihir yang masih meletup tak henti yang membuat Kepala Sekolah baru absen di makan malam kali itu.
"Oh. Selain membaca pergerakan konflik penyihir itu? Yeah. Hogwarts menyembunyikan salah satu Innocence di sini."
"Bagaimana Komui bisa tahu?" tanya Lavi heran. Ia memang mengetahui 'misi tambahan' Kanda pasca penyerangan akuma ke Hogwarts lalu itu.
"Komui selalu punya caranya, kan? Para akuma itu juga biasanya tidak akan terlalu tertarik pada Innocence yang sudah memiliki pemegang sahnya sampai mereka menemukan kita. Antara mereka mengetahui tentang Yoru, atau ada Innocence yang lain di kastil ini, itu alasan mereka datang."
"Dan kau mempertimbangkan tentang kemungkinan lain itu? Wah, ini agak tak terduga, Yuu," komentar Lavi, terkesan.
"Ini memang sekolah sihir, tapi ada beberapa hal yang bahkan sulit untuk dijelaskan secara sihir di tempat ini."
"Seperti apa?"
"Selubung sihir Hogwarts. Proteksinya sangat kuat yang bahkan tidak bisa ditembus para akuma. Dan kau tahu betul kemampuan akuma hanya bisa ditundukkan oleh Innocence. Penjelasan yang masuk akal adalah, kalau proteksi sihir itu adalah pekerjaan Innocence. Hanya saja, aku belum mengetahui di mana Innocence itu. Aku juga tak bisa bertanya pada sembarang orang. Dumbledore mungkin tahu, tapi aku tak bisa tanyakan dia begitu saja."
"Atau apakah kau bisa mengambilnya," tambah Lavi mengangguk setuju. "Kalau Innocence itu melindungi Hogwarts selama berabad-abad, kurasa itu menyembunyikannya dengan sangat baik, kan?"
Kanda diam sejenak. Benar. Komui memang menyuruhnya untuk mencari keberadaan Innocence yang mungkin saja ada di Hogwarts. Tapi, apakah nanti ia bisa mengambilnya? Bagaimanapun juga, Innocence itu sudah berperan menjaga Hogwarts sampai selama ini. Mekanismenya jelas berbeda dengan Innocence milik keluarga Takahashi tempo dulu, yang memilih pemegangnya berdasarkan garis keturunan. Innocence tanpa pemilik akan sangat rawan untuk ditinggalkan tanpa perlindungan seperti dari Hevlaska.
"Kalau soal itu, aku akan pikirkan solusinya setelah temukan Innocence-nya."
Lavi mengangkat alisnya. "Tentu. Terserah kau saja. Bagaimanapun juga kau lebih memahami tempat ini. Tapi," mata Lavi menyapu ke seluruh Aula, mewakili keheranannya, "kastil seluas ini, bagaimana mencarinya."
Kanda berdecak jengkel. "Kuurus nanti."
"Sungguh? Yuu, kastil ini suuuupeeer luas!"
"Dan?"
"Kau pelacak yang baik, harus kuakui itu, tapi..."
"Kalau begitu, diamlah."
Lavi langsung menutup rahangnya. Merengut jengkel, ia meneruskan makan malamnya yang nyaris terlupakan. Tepat saat itu, salah satu kembang api naga meluncur masuk ke Aula Besar. Naga itu meledakkan diri, yang bunga-bunga keemasannya bertahan di langit-langit sihiran, lebih terang daripada lilin-lilin sihiran yang melayang.
"Aku benar-benar terkesan dengan kembang api itu," kata Lavi cerah, tidak lagi menggunakan bahasa Mandarin.
Kanda mendengus pelan. Profesor Sprout, yang mendengar celetukan Lavi menoleh dengan senyum geli.
"Benar sekali. Aku tak pernah membayangkan Mantra Warna Api dan Jampi-Jampi Peledak akan semenarik ini. Mereka bahkan bisa menggunakan Mantra Anti-Duplikasi dengan sangat baik."
"Aku benar-benar ingin menemui otak jenius di balik ini. Kau tahu si kembar Weasley ini, Yuu?"
Kanda mengernyit. "Tentu saja. Memangnya mau apa kau?"
"Memberi selamat! Atau siapa tahu aku bisa dapatkan kembang api seperti ini! Kalau kunyalakan di Markas, semuanya pasti akan senang!"
"Mau kau beli dengan apa? Ginjalmu?" dengus Kanda.
"Kan ada kau," sahut Lavi santai.
"Kenapa aku harus membelikanmu sesuatu yang sangat kekanak-kanakan seperti itu?"
Ganti Lavi yang cemberut. "Kau juga kan suka kembang api!"
"Aku sedang melihatnya sekarang."
"Yang benar saja, Yuu!"
Kanda mengacungkan pisau makannya tepat di depan hidung Lavi. "Katakan namaku seperti itu lagi, kau kehilangan matamu yang satunya."
Lavi berjengit kesal. "Pelit!" cibirnya.
"Umurmu berapa? Lima tahun?"
Sejumlah guru Hogwarts dibuat menggelengkan kepalanya melihat interaksi dua exorcist muda itu. Seperti yang lalu, mereka melihat 'warna asli' Yuu Kanda. Ya, selama di Hogwarts, semua orang akan menerima betapa tak ramah dan dinginnya guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam itu. Namun, bersama dengan mereka yang bertarung bersamanya jelas membuatnya tak menyembunyikan wataknya sama sekali. Tentu saja ia masih sama tak ramah dan dinginnya, ditambah temperamen yang mudah meledak dan selera humornya yang agak sadis. Agak kekanak-kanakan, memang. Tapi, itu terlihat wajar saja olehnya, malah bagi para guru itu menjadi hiburan tersendiri dari kolega paling muda mereka itu.
"Aku benar-benar berharap kita bisa berkumpul dan melihat sesuatu seperti ini," kata Lavi ringan, mata hijau tunggalnya terarah pada hujan api merah-emas-perak di langit-langit sihiran. Sejumlah guru menatap si rambut merah dengan agak heran. Ada sesuatu dalam suaranya yang menunjukkan keganjilan. Seakan nostalgia pada sesuatu yang menyedihkan sekaligus menyenangkan. Bahkan Kanda saja memberinya kerlingan cepat, sembari menurunkan piala jus labunya. "Kau tahu, hal indah seperti ini kemewahan untuk orang-orang seperti kita. Siapa yang tahu kalau kita mati besok."
Kanda mengerjap sambil menghembuskan napas, samar. "Kita sudah bicarakan ini. Jangan membuatku menyesal tidak mematahkan lebih banyak tulang rusukmu, atau tulang yang mana saja."
Lavi memasang ekspresi cemberut. "Kukira akhirnya kita bisa ngobrol normal..."
"Pernah dengar bagaimana Umbridge mengataiku tak normal?"
"Tak ada orang normal di Order. Lihat saja Bos kita, Komui."
Kanda memilih menghabiskan jus labunya sebelum meletakkan pialanya, tanda ia mengakhiri makan malamnya. "Kau masih belum terlambat untuk memutuskan jalan yang kau pilih. Apapun itu, jangan sampai kehilangan dirimu, atau nisanmu akan tanpa nama."
Dan Kanda berdiri dari kursinya.
"Sejak kapan kau jadi filosofis begitu?" celetuk Lavi tiba-tiba.
Langkah guru termuda Hogwarts itu terhenti mendadak. Ketika ia bicara, suaranya berdesis berbahaya. "Dan sejak kapan kau seputus asa itu? Dan kali ini kau juga tidak cerewet tentang perempuan yang kau temui."
Lavi menelengkan kepalanya. Dan detik berikutnya, dengan ajaib, seringai cerianya kembali ke wajahnya yang sebelumnya terlihat tertekan. "Apa kita bicara soal itu sekarang?"
"Tidak. Tutup saja mulutmu itu."
Lavi beranjak juga. "Aw, Yuu. Yang benar saja! Kita masih muda! Wajar kan, kita bicarakan ini? Kau juga masih saja bertahan dengan cerita tragismu itu! Cari gadis lain kenapa? Dengan tampang seperti itu, kau bisa dapatkan sejuta perempuan mana saja..."
Lavi merendengi langkah Kanda yang sekarang tampak jengkel bukan kepalang. Sampai mereka menghilang dari Aula pun para guru bisa mendengar suara si rambut merah yang sibuk mendeskripsikan perempuan cantik yang ditemuinya sewaktu misi ke Korea Selatan.
"Kadang aku lupa kalau dia itu exorcist dan juga masih dua puluh tahunan," ujar Profesor Sprout.
"Dan sepertinya punya permasalahan orang yang usianya lebih dari seratus tahun," imbuh Profesor Flitwick.
Ketika Harry dan teman-temannya masuk ke kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam keesokan harinya, mereka menemukan Lavi ada di dalam kelas. Ini agak mengherankan, karena si rambut merah itu tak terlihat ketika sarapan ataupun makan siang, membuat Harry mengira kalau ia sudah kembali ke organisasinya. Lavi menoleh ketika mereka masuk, tersenyum cerah sebagai sambutannya.
"Kita ketemu lagi!"
"Profesor belum ke sini?" tanya Parvati ingin tahu.
Lavi menggeleng. "Sepertinya dia keluar..."
"Kau darimana saja?" tanya Ron penasaran. "Kami tidak melihatmu sepagian ini..."
Lavi menyeringai. "Jalan-jalan ke Hutan. Tempat bagus. Cocok sekali untuk tempat latihan Yuu. Aku lihat banyak pohon bekas sayatan. Tapi centaurus yang ada di sana sepertinya tidak senang dengan itu. Mereka bilang 'manusia keras kepala itu tidak mengerti apa-apa tentang alam'," Lavi menirukan suara berat mengancam obyek yang diceritakannya dengan ekspresi dramatis. "Tapi mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka sepertinya sangat hati-hati karena ada Yoru bersama cowok cantik itu! Ah, anjing pintar!"
Harry bertukar pandang dengan Ron. Mana ada yang mengira kalau Yoru si Fenrir langka nan legendaris berperan sebagai anjing penjaga Profesor galak itu.
"Lalu, apa benar Yuu-chan kami menjadi tokoh antagonis seperti yang diceritakan Allen?"
Mata hijau tunggal itu menatap raut wajah anak-anak kelas lima di depannya. Mereka tampak ragu, namun bisa dilihatnya kekesalan dan kejengkelan di sana. Tak ayal, ini membuat Lavi menyeringai. Tentu saja. Yuu adalah Yuu.
"Jangan terlalu diambil hati. Yuu-chan itu berada di level yang berbeda dengan kalian. Dianya saja yang terlalu hebat, makanya dia agak tidak sabaran. Tapi kalau dari apa yang dikatakan Allen, kalian melakukan semuanya dengan cukup bagus."
"Yang benar?" tanya Seamus sangsi.
Lavi mengangguk. "Kami yang pernah jadi partner duelnya tahu betul seperti apa standarnya."
"Apa dia memang sehebat itu?" tanya Neville gugup.
Lavi mengangguk. "Dia ahli pedang terbaik kami dan sangat unggul dalam kecepatan. Tak hanya itu, tubuhnya ramping, tapi kekuatan fisiknya selalu membuatku heran."
Pintu yang menjeblak terbuka membuat beberapa anak terlonjak kaget. Profesor Kanda baru saja memasuki ruangan. Seperti biasa, kehadirannya langsung menebarkan aura intimidatifnya, membuat semua anak seketika terdiam. Namun, Lavi tampaknya tak terpengaruh dengan itu.
"Yuu-chan!"
BLETAK!
Sebatang kapur sukses menabrak dahi Lavi. Kelihatannya memang sepele, namun kuatnya daya hantamnya membuat Lavi jatuh terjengkang ke belakang.
Harry bisa mendengar Ron menelan ludah dengan bunyi deguk dramatis.
"Harus kubilang berapa kali untuk tidak menyebut nama depanku, Sialan."
Lavi bergerak duduk dari jatuhnya, meringis sambil mengusap dahinya yang tertutupi bandana. "Tega sekali kau lakukan trik lama itu!"
"Minggir sana."
"Aku bosan, tahu!" Lavi menyilangkan tangannya di depan dada, merengut. Mirip anak kecil yang meminta permen meski ia sedang sakit gigi.
"Kalau begitu kutendang kau keluar..."
"Masa kau mau aku main sama Yoru? Dia anjing pintar, tapi mana bisa diajak ngobrol!"
"Kau boleh tinggal, tapi bersikap seperti Bookman."
Lavi mengerjap. "Oke."
Harry tak mengerti apa artinya itu. Hanya saja, Lavi segera berdiri dari duduknya dan mundur ke bagian belakang kelas. Ekspresi bersahabatnya menghilang, digantikan keseriusan yang begitu mendadak perubahannya sampai terasa agak menakutkan. Mata hijau tunggalnya tak lagi berbinar antusias, namun dingin tanpa emosi.
"Sekarang, kita tidak aktivitas fisik sekarang. Buka buku kalian halaman dua ratus empat puluh. Kita belajar mengidentifikasi Kutukan Ilusi."
Begitulah. Pelajaran hari itu sama seperti biasanya. Meskipun tanpa melakukan gerakan rumit dengan semua otot dan tulang mereka, berikut dengan cemooh tajamnya, Profesor Kanda memastikan mereka memahami kutukan yang satu itu seperti halnya kutukan lain. Ia memang tak menggunakan tongkat sihir, namun pengetahuannya tentang kutukan itu, termasuk cara merapalnya dan mengidentifikasi benda yang dikenai mantra itu cukup mengesankan. Ia menunjukkan mantra yang bisa digunakan untuk mengetahui adanya Mantra Ilusi yang digunakan pada obyek tertentu dan menyuruh mereka mempraktekkannya langsung pada beberapa benda yang disiapkannya di depan kelas.
Di akhir pelajaran, ia memberikan PR, seperti biasa. Esai tentang Kutukan Ilusi sepanjang enam puluh senti perkamen. Sementara mereka semua membereskan alat tulis mereka sebelum keluar kelas, Lavi bergerak dari tempatnya di pojok belakang kelas, nyaris terlupakan karena ia sukses membuat dirinya tak terdengar sama sekali. Si rambut merah mendekati rekannya yang sedang menyiingkirkan obyek pelajaran hari itu dari meja guru. Harry, yang tertinggal di belakang antrian sementara teman-temannya yang lain bergerak ke pintu keluar, bisa mendengar potongan percakapan di belakangnya.
"... agak terkecoh dengan namanya. Akan cukup merepotkan jika menyembunyikan sesuatu yang berbahaya."
"Aku sudah melihat ilusi yang lebih berbahaya dari itu."
"Yeah, Mugen memang membuat siapapun bisa melihat ilusi itu. Tapi kukira enam ilusi dari enam tekniknya itu hanya berbahaya untuk akuma. Dan aku juga tak pernah melihat kau menggunakan Teknik Kelima dan Keenamnya."
Harry sengaja melambatkan langkah. Hermione dan Ron pun turut bergeser ke antrian paling belakang untuk mencuri dengar percakapan bernada rendah itu.
Teknik ilusi? Katana Innocence itu bisa melakukan hal semacam itu?
"Si Sis-Com itu melarangku menggunakannya setelah insiden empat tahun lalu," dengus Kanda. "karena menggunakan keduanya menghabiskan terlalu banyak energi hidup. Bahkan, Master sudah melarangnya ketika aku mencoba Teknik Keenam untuk pertama kalinya waktu aku lima belas tahun." Kanda menghela napas. "Dia tahu aku mencoba mengakhiri semuanya dengan itu."
"Yuu!" Lavi terdengar sangat kaget, seperti halnya Golden Trio yang terhenti mendadak di ambang pintu. "Apa yang kau pikirkan?!"
"Keputusasaanku terlalu memuakkan," Harry melihat lewat ujung matanya, sebelum segera angkat kaki daripada ketahuan mencuri-dengar sesuatu yang sepertinya sangat pribadi, guru muda itu menatap keluar jendela berornamen di belakang mejanya. Mata biru itu dingin dan kosong. "Tapi bahkan saat itu, kematian tak sudi menerimaku. Tak mempedulikanku yang bahkan tak bisa bernapas selama ada di Order."
Yakk,, Cut!
Please review~
Omake: Yuu Kanda & Lavi Bookman Jr.'s Sparring
Meski ini kali kedua ia datang ke Hogwarts, Lavi baru kali ini masuk ke ruang kelas Kanda yang merangkap ruang latihannya itu. Suasana oriental yang sangat familiar langsung terasa di sana, karena Kanda jelas meminta Dumbledore mengatur dekorasinya semirip dengan ruang latihan favoritnya di Order. Meja-meja kayu sudah ditata di bagian belakang kelas, begitu pula bantal-bantalnya, menyisakan area kosong di tengah ruangan yang luas.
Dilihat olehnya kalau Kanda melepaskan jubahnya dan langsung bergerak ke kotak penyimpanan pedang kayu di ujung ruangan. Dari bahunya yang kaku dan diamnya yang suram, tak perlu dikatakan untuknya mengerti kalau pikiran rekannya itu sedang berkecamuk.
Lavi menanggalkan mantel seragam exorcist-nya dan meletakkannya di salah satu meja di belakang kelas, berikut botol tequila-nya. Ia memang datang untuk hal ini. Yuu bukan tipe orang yang akan membicarakan apa yang dirasakannya secara gamblang. Menyedihkan jika mengawasinya dari jauh menanggung semua frustrasinya itu sendirian.
"Jangan menahannya, Yuu," Lavi menerima pedang kayu yang dilemparkan si rambut panjang padanya.
Kanda sudah berdiri di tengah ruangan, memasang posisi siap dengan kuda-kudanya. Ia menggelengkan kepalanya sekali. "Aku tak berniat sama sekali."
Dan Kanda melesat maju.
Untung saja Lavi hapal akan kebiasaan rekannya itu yang tak pernah pakai pembukaan kalau mau menyerang; frontal dan tanpa ragu. Otomatis, ia langsung memakai posisi bertahan untuk menangkisnya. Dan kemudian, Kanda menyerangnya dengan membabi buta. Tak hanya ayunan pedang kayunya, tinju dan tendangannya juga harus diwaspadai Lavi. Tentu saja ia sudah mengantisipasi ini. Semua pukulan Kanda, semua serangannya. Termasuk semua emosinya.
Ya, ia bisa merasakannya. Apa yang sulit diungkapkan rekannya itu; perasaannya sendiri. Ia bisa merasakan langsung 'sisi gelap' Yuu Kanda. Kebenciannya. Dendamnya. Kemarahannya. Keputusasaannya. Lavi sendiri dibuat terkejut dengan itu. Bahwa Kanda menyimpan lebih banyak hal tak terungkapkan di balik sikapnya yang dingin namun temperamental itu.
Jadi benar dugaannya, bahwa kehebatannya di medan tempur adalah cara Kanda mengeluarkan semua hal yang mengganjal dalam benaknya. Semakin buas ia, semakin besar beban itu.
Lavi melompat mundur begitu menerima hantaman ke sekian dari pedang kayu Kanda. Berkali-kali ia dibuat menghindar atau bertahan, hampir semua serangan baliknya dipatahkan. Sebaliknya, berkali-kali si rambut panjang menyarangkan hantaman senjatanya itu padanya.
Duel mereka berlanjut, seakan keduanya lupa waktu. Pada matahari yang telah bergerak ke sebelah barat, menyemburatkan cahayanya yang keemasan melalui jendela-jendela bundar berornamen. Kanda akhirnya menurunkan pedangnya, menatap Lavi yang jatuh terduduk di lantai, terengah-engah nyaris kehabisan tenaga. Lebam dan bulir-bulir keringat menjadi bukti sparring kali itu. Dan seperti biasa, luka yang diterima Lavii jauh lebih banyak daripada lawannya.
"Kau benar-benar sama sekali tidak menahan diri," seringai Lavi, meski terlihat seperti sedang sakit gigi. Ia berjengit memegangi rusuk kanan bawahnya. Sepertinya Yuu-chan sukses membuatnya retak. "Apa itu benar-benar mengganggumu?"
Kanda menghela napas. "Lebih dari yang kau tahu."
Lavi manggut-manggut. Ia mengerling botol berisi cairan keemasan di atas meja. "Bisa kita minum sekarang?"
Kanda mendengus. Dasar Baka Usagi. Babak belur dan compang-camping karena saking agresifnya ia tadi menyerang si rambut merah, tapi merengek seperti bayi untuk beberapa teguk tequila.
Tapi, ia sendiri juga sedang tidak ingin menolak itu.
"Sudah lama kita tidak minum begini," komentar Lavi, setelah beberapa waktu keheningan di antara mereka. Ya. Kesempatan untuk rehat sejenak dari latihan atau bahkan minum bersama itu semakin langka saja. Misi yang diberikan tanpa henti membuat mereka nyaris tak bertemu cukup lama untuk berduel atau yang lainnya. "Atau bicara."
"Aku tidak bicara."
Lavi mendengus. "Jelas. Kau lebih suka mengkritik." Lavi menghela napas. "Tapi paling tidak, kau mendengarkan."
Hening lagi.
"Kau tahu, Kakek berencana meninggalkan Order dan menyeretku pergi bersamanya."
Kanda sekarang menatap Lavi. "Lalu kenapa? Kau memang satu-satunya yang bisa meninggalkan Order tanpa ada tuntutan dari Central..."
"Aku tahu, karena itulah." Lavi duduk tegak sekarang, menutup wajahnya dengan satu tangan, dan posturnya tampak lelah. "Aku tak mau meninggalkan Order."
Kanda mengernyit dalam menatap rekannya itu.
"Aku tidak mau meninggalkan teman-temanku. Aku tidak mau membuat identitas baru lagi." Lavi terhenti sejenak, suaranya terdengar berat. "Aku tidak mau hidup tanpa hati."
"Kau..."
"Kita ini sama saja, Yuu," potong Lavi datar. "Kita sama-sama membunuh perasaan kita sendiri. Kau, karena mereka menginginkanmu menjadi petarung paling hebat, dan aku, karena aku seorang Bookman. Kita ini menyedihkan, kau tahu itu."
Kanda menyilangkan tangannya di depan dada, ekspresinya keras. "Sudah kuduga kau datang bukan hanya untuk satu alasan." Kanda menenggak satu tegukan tequila lagi. "Kalau begitu, berhentilah hidup dengan cara seperti itu."
Leher Lavi langsung bergerak ke arah rekannya itu.
"Atau kau akan menyesal selamanya."
Lavi mengerjap beberapa kali, sebelum meraih botol tequila dan mengetukkan jarinya di sana. "Apa menurutmu aku punya pilihan?"
"Bicara tentang pilihan, apa kau mau duel lagi?" Ada nada jengkel dalam suara Kanda.
Bahu Lavi langsung merosot turun. "Aku hanya iri denganmu yang bisa seberani itu."
"Jangan konyol. Apa yang bisa kau irikan dariku?" Kanda merebut botol dari tangan Lavi. "Aku yang tak punya masa lalu atau masa depan. Aku yang hanya hidup untuk masa kini, menjadi exorcist yang seperti pedang bermata dua; dengan kehormatan dan juga malapetaka. Kau tahu betul soal itu. Untuk seseorang yang sudah mengunci takdir dengan akhir paling menyedihkan, kita memang tak punya banyak pilihan. Kita akan terus mengorbankan apa yang kita miliki."
"Mereka membuatmu mengorbankan Alma..."
Kanda menghela napas, penuh ironi. "Tidak." Ada senyum tipis yang ganjil di wajah tampannya, membuatnya untuk sedetik terlihat mengerikan. "Aku mengorbankan diriku sendiri."
"Eh?"
"Seperti yang kau bilang, kita membunuh perasaan kita sendiri. Tapi paling tidak untukmu, kau hidup sebagai manusia. Aku? Aku hanya hidup sebagai senjata mereka. Setelah sekian lama, aku ternyata hanya memupuk kebencian itu sendirian, sementara kau tahu bagaimana Order menggunakanku dan terus begitu sampai detik ini. Aku tidak bisa hidup seperti itu lagi. Akan ada banyak hal yang aku sesali nantinya."
"Karena itu kau menolak operasinya?" celetuk Lavi, ekspresinya terlihat seakan ia memecahkan teka-teki paling sulit. "Kukira, melihat bagaimana kau lebih agresif ketika duel tadi, kau frustrasi karena terkurung di sini dan ruang operasi hanya mengingatkanmu pada traumamu-"
Lavi langsung berhenti bicara menerima tatapan tajam Kanda. Ia bergumam pelan tak jelas. Ia memilih diam, menatap leret cahaya matahari sore yang muncul di lantai.
Yuu Kanda yang dikenalnya memang seperti ini, dan ia tak menyesal datang meski sepertinya ia membuat paling tidak dua tulang rusuknya retak. Ia sendiri memang datang untuk memastikan si exorcist berambut panjang itu tidak menanggung duka itu sendirian. Meskipun Renny Epstain bertanggung jawab akan masa lalu kelamnya, kematiannya tetap akan meninggalkan luka tersendiri bagi Kanda. Dan Lavi sendiri, yang bimbang akan pilihan antara tinggal di Order atau meninggalkannya, bisa memutuskannya sekarang. Kanda tak memberi penyelesaian secara frontal, namun ia menunjukkan bahwa dalam keterpurukan pun, kita masih bisa menentukan pilihan. Jika membiarkan orang lain yang memutuskan, pada akhirnya kau akan membuat hatimu sendiri dipenuhi dengan dendam dan penyesalan.
BOOM!
Ledakan mendadak yang menggetarkan dinding itu mengagekan Lavi sampai ia menyemburkan tequila yang baru diminumnya. Terbatuk-batuk, ia menatap ke arah pintu, sementara bisa didengar oleh mereka teriakan dan derap lari di koridor.
"Apa itu?" engah Lavi. "Serangan?"
Kanda mengerjap. "Bukan. Aku tidak merasakan apa-apa. Tapi aku punya perasaan ini akan jadi awal yang... menarik."
"Apa?" Lavi mengangkat sebelah alisnya. Namun detik berikutnya ia memandang pintu. "Aku jadi penasaran. Lihat, yuk."
Kanda menahan keinginan untuk memutar bola matanya melihat keingin tahuan bak anak kecil di mata hijau tunggal itu.
