Mikazuki mendengarnya.. jeritan keputusan asaan itu persis seperti dulu
Mikazuki melihatnya.. raut wajah itu masih sama
Namun ia tak bisa apa apa
Mereka berkata
Bahwa waktu membawa rasa sakit pergi
Tapi aku masih sama
"Yamanbagiri. Kau tidak menjawab teleponku"
Dipanggilnya nama itu dibalik sebuah pintu coklat dihadapannya. Merosot kebawah dramatis, Mikazuki merujuk segala nya
"Apa yang kau lakukan.. sensei?"
Bahkan Yamanbagiri tak pernah memanggil nama nya lagi
"Maafkan aku"
"Kau tidak salah"
Sahutan dari dalam begitu tenang. Celah di jendela membuat iris peridot menyaksikan pemandangan yang menyakiti hatinya
Mereka bilang
Aku akan menemukan sosok lain selain dirimu
Itu tidak akan mungkin
"Aku turut berduka"
"Pergilah.. kau tampak kacau hari ini,sensei"
Mengapa aku tidak menyadarinya?
Mengapa aku berbohong?
Mikazuki berdiri, menepuk jasnya kemudian mengatakan beberapa patah kata dengan serius
"Kehidupan itu... Hanya sementara Yamanbagiri. Kau pedang yang indah dahulu"
Ia pergi...
Iris peridot hanya menatap foto besar dihadapannya
Sekarang jadi 3..
3 foto untuk didoakan
"Jika kau mau mengoceh, simpan saja untuk nanti Horikawa"
Iris peridot menancap tajam
Brugh...
Mikazuki mendudukkan dirinya diatas kursi mobil, berdecak kesal sembari memukul stir
Apa yang harus diperbuat?
"Kau pedang yang indah dahulu"
Apa yang baru saja ia ucapkan?
Mikazuki membanting stir, melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah mansion..
Mansion Sanjou
"Aku pulang"
Krieett
Pintu mewah terbuka perlahan, jejeran pelayan membungkuk hormat. Tuan muda mereka kembali
"Mikazuki... Mikazuki.. Mikazuki"
Sanjou memainkan cangkir kaca berisi anggur di depan putranya. tersenyum sinis mencoba menghancurkan derajat Mikazuki
"Aku sudah banyak memakan asam manis kehidupan"
Tak
Cangkir diletakkan kembali diatas meja. Sang Sanjou berdiri, menatap rendah sang anak
"Turuti kemauanku"
Iris hetero kembali memicing
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak tertarik!"
"Kau tidak punya alasan lagi ... bukankah pemuda itu telah membuang muka pada mu?"
Tangan kasar kepala keluarga mendarat di bahu Mikazuki. Berbisik sebentar kemudian melewati nya begitu saja
"Dia membencimu"
"Atas dasar apa kau menarik hipotesa seperti itu?"
Ia mencoba untuk tenang, tak peduli apa yang akan dihadapinya nanti. Mengepal kuat, Mikazuki tetap pada pendiriannya
"Kau mencoba menolak realita?"
Kepalan tangan terlepaskan
"Cih..."
-0-0-0-
"Anda tau tuan? Anda membuat keputusan yang bodoh"
Hari itu kosong, Mikazuki menatap kosong sang pelayan. Tak lagi ia hiraukan ocehan demi ocehan yang keluar dari bibirnya. Untuk apa lagi?
Toh ini semua sudah selesai
Kelerengnya menatap jauh dari balik kaca jendela. Alam itu begitu indah, namun mengapa harus ada pertumpahan darah?
"Tidak ada lagi... alasan untuk ku"
Ishikirimaru diam, membawakan barang tuan mudanya ke dalam sebuah mobil
"Bergegas tuan, kita bisa terlambat sampai bandara"
Ponsel hitam dibuka, Mikazuki mencari nama Yamanbagiri disana
"Yamanbagiri"
Hening yang menyambutnya. Sama seperti kemarin
"Yamanba-"
"Ada perlu apa lagi, sensei?"
Bahkan nada itu telah berubah. Dia bukanlah Yamanbagiri Kunihiro yang dulu
"Apa kau membenciku?"
"Tidak"
"Kumohon jangan berbohong"
Aku berharap bisa melakukannya
Menghidupkan kembali waktu dulu
"Tidak"
"Aku minta maaf"
"Yamanbagiri... Ada hal yang harus kau ketahui.."
"Tentang seorang insan... Yang mengikarkan janjinya, ada pesan darinya untukmu"
"Aku mencintaimu, dulu dan sekarang"
Taukah kau kasih?
Sudah cukup mungkin aku melukaimu
Kupikir kau adalah insan yang kuat
"Aku tak mengenalnya"
3 kata kau buat tekad ku kuat
Kau menghancurkan ku
Tidak, akulah yang membuatmu seperti ini
"Aku.. akan pergi dari negara ini"
Selamat tinggal mungkin kata yang tepat
Aku lelah..
Aku pergi..
Walau kembali membuka luka
"A-.."
Aku diam..
Kau pengecut
"Harusnya kau katakan itu pada orang lain"
Jadi, inikah sakit hati?
Penyesalan berubah menjadi air mata
Bak tombak yang menembus jelaga
''sampai jumpa"
Telpon terputus secara sepihak
"Tuan muda... Keberangkatan anda sebentar lagi.. apa anda akan kembali ke negara ini?"
Ishikirimaru menunduk sopan, sembari membawa beberapa barang di tangannya
"Tidak..."
"Aku terlanjur menyakitinya"
-o-o-o-
"Bodoh..."
"Manba-nii?"
Horikawa masuk membawakan secangkir teh hangat untuk sang kakak. Ia tau bahwa kondisi Yamanbagiri berada dalam titik terendah
"Sampai kapan kau mau seperti ini?"
"Dia pergi"
"Itu bagus untuk mu"
"Meninggalkan tanggung jawabnya"
"Dia tidak menghamili mu kan?"
"Sejak kapan selera humor mu seperti ini"
Tangan lembut mengusap surai hitam. Terkekeh perlahan... Namun peridot masih belum bercahaya
'Kuharap kau mati hari ini... Sensei'
PSWM
Surai terang mengalun kecil, sebuah bingkisan kecil berada dalam pelukannya, Ichigo berjalan gontai melewati beberapa blok
"SENSEIIII!"
Sampai sebuah suara mengagetkannya
"T-tsurumaru-dono!"
Ia kesal, jantungnya berpacu sekarang
"Odoroitaka sensei? Are?"
Pemuda yang identik dengan bangau ini melirik ke arah bingkisan kecil. Menyeringai kemudian menarik sang guru ke sebuah tempat
Hayoo ngapain ...
Puasa loh Rut.. jangan grepe Ichigo ..
"Ne sensei..."
Amber menatap tajam. Mengelus lembut wajah manis guru muda itu
"Mau tau sebuah ramalan?"
"Ramalan?"
Tsurumaru menyeringai lebar. Mengetahui bahwa sosok guru ini adalah orang polos suci yang goblo- /DitampolUstadzIshi
Wajah tampan mendekat, menyisakan sedikit jarak diantaranya. Bahkan Ichigo berani bersumpah, ia bisa merasakan deru nafas sang lawan
"Akan ada 'seseorang' yang hancur...''
Ia mengatakan itu sembari tersenyum lebar
"Tsurumaru-dono.. jangan bercanda.. darimana kau tau akan seperti itu?"
Ichigo menepis ucapan sang murid. Pemuda yang identik dengan bangau itu berdecak
"Orang jahat... Bisa merasakan niat jahat dari seseorang"
Punggungnya berbalik
"Apapun yang kau lihat, jangan ikut campur sensei... Aku tidak mau kau terluka"
Ucapan hangat itu meluluhkan segalanya
Ketahuilah bahwa aku bisa repot jika kau mati.. Kau pikir aku punya waktu untuk pemakaman mu.. Sensei?
Mengurus Yamabushi saja melelahkan
