BRAAAK! Changmin menabrak tubuh seseorang saat ia keluar dari dalam kamar KyuMin. Changmin mengulurkan tangannya, berusaha membantu orang tersebut. Mata keduanya terbelalak sempurna. "Kau!", desis Changmin kepada orang itu. Tanpa mempedulikan uluran tangan dari Changmin, orang itu berlari menjauh dari Changmin. Namja jangkung itu memicingkan matanya, melihat serbuk yang sama persis dengan yang ada di pakaian kelinci Sungmin. Mungkinkah orang itu yang meracuni Kyuhyun?
"Jaejoong seonsaengnim! BERHENTI!", teriak Changmin pada tersangka utama yang menjadi topik semua orang dalam ruangan Sungmin beberapa saat yang lalu.
Changmin mengejar Jaejoong dengan kaki panjangnya. GREEEEP! Changmin mencekal lengan Jaejoong. Namja cantik itu meringis pelan. "Jelaskan semuanya padaku!", titah Changmin tajam. Ia tidak ingin melepaskan Jaejoong lagi. Masalah ini harus diselesaikan segera.
BRAAAAK! Jaejoong mendorong tubuh Changmin sampai terpelanting beberapa meter dari tempatnya berdiri. Jaejoong berlari menuju tempat persembunyiannya. Ia merasa terancam saat ini. Bagaimana tidak? Seseorang telah mengetahui identitasnya. Sepertinya ia harus memikirkan strategi baru lagi.
"Aish! Dia kuat sekali ternyata.", lirih Changmin, mengelus sikunya yang memar. Lepas dari pandangannya beberapa saat saja, sosok Jaejoong sudah menghilang. Changmin—yang masih terduduk—memukul lantai di sampingnya kesal karena tidak bisa menahan Jaejoong.
"Hei, kau kenapa?", tanya Yunho yang bingung dengan keadaan Changmin. Awalnya Yunho ingin menyusul Changmin dan menanyakan perihal kebencian Changmin pada dirinya, namun namja jangkung itu terlihat menahan sakit pada sekujur tubuhnya. "Apa yang terjadi?", tanya Yunho khawatir, sambil mensejajarkan dirinya dengan Changmin.
"Tersangka utama berhasil kabur.", jawab Changmin singkat. Ia berusaha menyingkirkan urusan pribadinya agar pelaku utama segera tertangkap. Changmin hanya ingin hidup tenang, tanpa terlibat dengan urusan KyuMin ataupun Yunho.
Yunho mengernyitkan dahinya. "Jaejoong?", tanya Yunho yang terdengar seperti sebuah pernyataan dibandingkan pertanyaan. Changmin tertegun. Ia tidak menyangka kalau Yunho sudah mengetahui semuanya.
.
Yuya Matsumoto
_Proudly Present_
Sungmin's Mystery Of Life
[SMOL]
Chapter 24: The Secret
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
"Hosh! Hosh! Untung saja aku tidak tertangkap. Argh! Bodohnya! Kenapa aku justru memantau mereka sedekat itu? Aku tidak sadar namja jangkung itu akan keluar dari kamar. Isssh! Bodoh!". Jaejoong merutuki kesalahannya di dalam kamar pribadinya.
Namja cantik itu mengacak rambutnya frustasi. Ia menghentak-hentakkan kakinya, sebuah kebiasaan saat dirinya sedang kesal. Jaejoong melangkahkan kakinya ke depan kulkas, mengambil sebuah air mineral dingin. Ia berharap bisa mendinginkan kepalanya setelah menghapus dahaganya yang tiba-tiba menyerang.
TUK! Sebuah benda jatuh ke atas lantai, membuat Jaejoong menoleh. Ia sangat kaget saat menemukan seekor kura-kura besar sedang berjalan lambat di atas karpet ruangannya. Kura-kura itu nampak enggan mendekati Jaejoong, justru ia berjalan ke balik pintu kamar namja cantik itu. Jaejoong meneguk habis seluruh air dalam botol yang tadi ia ambil. DUK! Setelah menutup lemari es, Jaejoong membalikkan tubuhnya. Ia ingin merebahkan diri di atas ranjang.
"KYAAAA~ KAMU SIAPA?", teriak Jaejoong panik. Namja cantik itu mundur beberapa langkah, merasa ketakutan saat seorang namja asing telah berada di dalam kamarnya.
Namja asing berpakaian hitam dengan baja silver melengkung seperti kalung di dadanya, berdiri tegap di hadapan Jaejoong. Sorot matanya tajam dengan garis wajah yang tegas. Namja itu melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memejamkan matanya sejenak, kemudian memicingkan kedua matanya ke arah Jaejoong. Sebuah tatapan mengintimidasi, mampu membunuh setiap karakter yang ada di dalam diri orang yang mendapatkan tatapan itu.
"Kau bertindak terlalu gegabah. Dasar kaum Monster! Sepertinya aku perlu mendidikmu agar kau tahu rasanya tersiksa oleh racunmu sendiri.", desis Hangeng—namja itu—kepada Jaejoong.
Jaejoong mundur beberapa langkah, menghindari Hangeng yang terus saja mendekat kepadanya. "A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti.", katanya bohong. Suaranya bergetir. Ia ketakutan.
Hangeng menyeringai, persis seperti milik Kyuhyun. "Aku tahu dendammu kepada Permaisuri Kerajaan Monster. Selama ini aku mengamati gerak-gerikmu. Kau ingin membunuh anak Permaisuri itu kan, makanya kau ke dimensi Hexe-Mensch? Kau tidak perlu berdusta. Aku tahu segalanya. Ungkapkan segalanya, atau aku segera membinasakanmu.".
"Ternyata kau seorang penguntit ulung. Hmmm… Hebat sekali investigasimu selama ini. Kau tidak akan mampu membinasakanku. Aku memiliki pertahanan yang kuat.", jawab Jaejoong percaya diri.
SRAAAANG! Hangeng mengeluarkan pedang cahaya dari sepatu boots hitamnya. Ia mengacungkan pedang itu di depan leher Jaejoong. "Kau terlalu percaya diri. Ini adalah dimensi dimana kekuatan Hexe lebih mendominasi. Lagipula membunuhmu dengan cara Mensch lebih ampuh. Kau akan segera mati dengan cantik.", balas Hangeng dengan penekanan pada kata mati dan cantik. Hangeng menekankan pedang cahayanya di leher Jaejoong hingga namja cantik itu meringis karena darah birunya mengalir.
"Argh! Bunuh saja aku! Setidaknya aku sudah puas menyiksa anak sialan itu. Dia pasti akan cacat setelah ini. Ha… ha… ha… ha…".
Hangeng mengeratkan pegangannya pada pedangnya, menyalurkan semua emosinya atas namja di depannya itu kepada gagang pedangnya. Hangeng mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, berniat menebas kepala Jaejoong hingga terlepas dari tubuhnya.
SREEEEK! SREEEEK! SREEEEK! GUBRAK!
Tubuh Jaejoong jatuh sedetik sebelum pedang itu menyentuh dirinya. Sulur-sulur tanaman melilit kaki sampai ke perut Jaejoong. Namja cantik itu terseret ke dekat pintu, membuat Hangeng kaget dengan apa yang sedang terjadi. Tanpa keduanya sadari, empat buah sulur tanaman telah menjalar masuk melalui celah pintu ke arah Jaejoong. Saat ini sulur-sulur itu melilit tubuh mungil Jaejoong, menyeretnya ke arah pintu. KRIEEET! Pintu kamar pribadi Jaejoong terbuka.
Sebuah kaki melangkah masuk ke dalam kamar pribadi seonsaengnim barunya, disusul oleh kakinya yang lain. TUK! Jaejoong berhenti tepat di bawah orang yang baru masuk tadi. Mata Hangeng terbelalak lebar saat ia melihat sosok Leeteuk yang sedang berjongkok di depan Jaejoong. Ia tidak menduga bahwa kepala sekolah ini telah bergerak untuk menangkap Jaejoong, belum lagi Yesung seonsaengnim berdiri di belakang Leeteuk—mengendalikan sulur tanaman yang keluar dari bawah lengan jubah laboratoriumnya.
"Siapa kau?", tanya Yesung, membuat Hangeng menelan ludah pahit.
'Sial! Aku bisa ketahuan kalau begini terus. Aku harus segera pergi!', batin Hangeng sambil mencari cara untuk kabur.
GREEEP! Sebelum Hangeng dapat merubah wujudnya dan pergi, dua buah lengan kekar menahan pergerakannya. "Mau pergi kemana kau?", desis seseorang di belakang Hangeng. Perlahan ia menampikan sosoknya, Kangin seonsaengnim. Kangin memang menghilangkan tubuhnya saat ia, Leeteuk dan Yesung akan menangkap Jaejoong. Ia takut Jaejoong melawan. Kekuatannya ini mungkin saja bisa digunakan dan sepertinya dugaannya benar walaupun bukan digunakan untuk melawan Jaejoong.
"Kami terlalu meremehkanmu, Kim Jaejoong-ssi! Sepertinya kami harus menghentikan permainanmu segera sebelum kau mengorbankan murid-muridku.", kata Leeteuk tajam sambil mengelus rambut Jaejoong pelan. TRAAAK! Jaejoong menjerit kesakitan. "Rasa sakit pada rambutmu tidaklah sebanding dengan penderitaan murid-muridku. Jangan pernah bermain-main denganku, Monster menjijikan!", lanjut Leeteuk dengan pandangan mata yang mengerikan. Ia terlihat siap membunuh siapapun yang berbuat di luar batas kesabarannya. See! Leeteuk is like what Kyuhyun said before.
Sulur-sulur tanaman Yesung membungkam mulut Jaejoong hingga hanya jeritan tertahan yang terdengar di telinga orang lain. Yesung tidak memberikan reaksi apapun saat Leeteuk mengeluarkan aura pekat dari dalam tubuhnya. Ia sepertinya sudah terbiasa dengan sikap evil yang selama ini tersembunyi di dalam diri atasannya itu. Jaejooong tak dapat bergerak karena tubuhnya telah terkunci oleh sulur milik Yesung.
Leeteuk berdiri, tatapannya teralih kepada Kangin dan Hangeng. "Yesung-ssi, ikat dia bersama Monster menjijikan ini. Kita perlu menginterograsi keduanya.".
Yesung hanya mengangguk sebagai jawaban. Sulur tanamannya bergerak sesuai perintah otaknya. Sulur itu melilit kaki Hangeng, lalu terus ke seluruh tubuhnya sampai kepala, sehingga Hangeng tak mampu bergerak ataupun melihat. Kangin mengangkat tubuh Hangeng dan Jaejoong di masing-masing bahunya, seperti mengangkat karung beras. SRIIING! Tak beberapa lama Kangin telah menghilang.
Leeteuk membalik tubuhnya, menghadap Yesung. Sebuah senyum malaikat terpampang dari sudut bibirnya. "Ayo, kita pergi, Yesung-ssi!", ajak Leeteuk yang diangguki oleh Yesung.
.
(^/^)…::YuyaLoveSungmin::…(^O^)
.
"Aaaargh! Appo!", jerit Changmin saat Yunho mengobati luka namja jangkung itu. "Pelan-pelan, bodoh!", maki Changmin setelah memukul kepala Yunho dengan keras. Kapan lagi memiliki kesempatan untuk memukul kakak kandung sendiri?
Yunho menahan rasa pusing di kepalanya karena pukulan Changmin. Ia tetap berkonsentrasi dengan kegiatannya saat ini. "Berhenti merengek. Kau sudah besar, Changmin!".
Yunho menutup kotak obat yang ia dapat dari Yesung seonsaengnim. Saat ini Yunho dan Changmin sedang berada di dalam ruang klinik sekolah. Yunho bersikeras ingin mengobati luka-luka Changmin, walaupun namja itu pun bersikukuh menolak permintaan Yunho. Yunho kembali duduk di samping Changmin. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada namja muda itu.
"Changmin-ah, aku ingin ber—".
"Bagaimana kau bisa tahu aku mengejar Jaejoong tadi?", potong Changmin sebelum Yunho menyelesaikan perkataannya.
Yunho menghela napas panjang. Ia mengerti bahwa Changmin berusaha mengalihkan pembicaraannya. "Kami sudah mencurigai Jaejoong sejak lama. Sebenarnya aku baru saja tahu mengenai kejahatannya beberapa waktu lalu. Aku tidak mungkin menangkapnya begitu saja. Ia pasti akan tersakiti.".
"Kau mencintainya?", tanya Changmin tepat sasaran.
Yunho menundukkan kepalanya, menyembunyikan pipinya yang merona. "Cinta? Aku tidak tahu. Ia menolakku sebelumnya.".
"Kau sinting! Memangnya tidak ada wanita lain di dunia ini? Kau tahu bukan, hubungan sesama jenis itu melanggar harfiah kita sebagai Hexe, bangsa yang diciptakan Kamisama untuk berpasangan dengan lawan jenis! Baguslah kalau ia menolak namja bodoh sepertimu!", ujar Changmin dengan pandangan meremehkan kepada Yunho.
"Ya! STOP, Jung Changmin!", bentak Yunho.
Changmin tersentak untuk beberapa saat oleh panggilan Yunho terhadapnya. Marga itu bukanlah marga yang ia sandang selama ini. Marga yang ia hapus dari memorinya. Sebuah marga yang seharusnya memang ia miliki sejak dulu sebelum tragedi di masa lalu terjadi.
"BUAHAHAHAHAHA…". Changmin tertawa miris. Terdengar suara yang bergetar di sana, membuktikan rasa perih yang ia rasakan. "Kau memanggilku apa, Jung Yunho? Apa kau selain bodoh, juga pikun? Namaku Shim Changmin. Margaku Shim, bukan Jung!".
Yunho mencengkram kedua bahu Changmin kuat-kuat, memojokkan namja tinggi itu ke dinding. "Lalu kenapa kau bilang aku ini kakakmu? Tolong katakan yang sebenarnya. Kau membuatku bingung!". Suara Yunho melunak. Ia tahu ia telah melakukan kesalahan besar, tapi ia tidak tahu apa yang telah ia lakukan di masa lalu.
Changmin melepas cengkraman Yunho dari bahunya. Ia menatap lekat ke dalam bolamata Yunho. Changmin sadar kebungkamannya tidak akan memperbaiki keadaan sama sekali. Ia menerawang ke masa lalunya. Namja bermarga Shim itu menarik napas panjang dengan berat. Ia harus bisa menjelaskan segalanya kepada sang kakak.
"Kau tahu Jung Jessica?", tanya Changmin memancing jawaban dari Yunho.
Yunho mengangguk. "Itu nama ibuku.".
"Ne, bukankah dia mengandung adikmu sekitar dua puluh lima tahun lalu? Saat itu kau baru saja kembali ke dimensi Hexe begitu mendengar kabar ibumu mengandung. Tiba-tiba kau memaksa untuk pergi ke dimensi ini setelah kau mendapatkan kabar tentang kenaikan jabatan kerjamu. Ibumu yang baru saja melihat anak kesayangannya setelah bertahun-tahun, merasa kehilangan. Ia berusaha mencegahmu untuk pergi, setidaknya sampai ia melahirkan adikmu. Kau justru menolak dan meloncat ke dalam pintu antar dimensi. Tanpa kau sadari ibumu ikut masuk menyusulmu.". Changmin menghentikan ceritanya. Ia merasakan beban berat di dalam hatinya.
"Saat itu ibumu masih mengandung adikmu yang sebulan lagi akan lahir ke dunia, tapi ia justru terjebak di dalam badai antar dimensi. Ia terombang-ambing di dalam sana, menahan rasa nyeri yang berasal dari dalam dirinya, yaitu adikmu. Kau tahu bagaimana kekuatan dunia antar dimensi, jadi aku tidak perlu menjelaskan seperti apa penderitaan yang ibumu alami. Di dalam badai antar dimensi, kau hanya akan merasakan waktu singkat, namun tidak di dimensi lain. Akhirnya setelah terjebak selama tiga puluh menit di dalam sana, ibumu menemukan sebuah pintu keluar. Ia terjatuh di sebuah hutan. Tubuhnya kurus kering, hanya perutnya saja yang membesar. Ibumu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk adikmu. Ia melindungi adikmu dari dampak badai itu.", lanjut Changmin. Matanya memanas dan cairan bening telah memenuhi kelopak matanya. Ia berusaha tidak menangis di depan Yunho.
"Ia… Ia sangat menyayangi adikmu. Jung Jessica adalah ibu terbaik yang pernah ada. Tak beberapa lama suara tangis pilunya terdengar sepenjuru hutan lebat yang gelap. Saat itu siang telah berganti malam, adikmu terlahir ke dunia setelah delapan setengah tahun berada di dalam kandungan ibumu. Ibumu sendiri yang memotong ari-arinya. Ia membungkus adikmu dengan jubahnya, sehingga angin dingin tidak menusuk tulang adikmu.".
Airmata Changmin jatuh ke atas pipinya. Ia tak mampu lagi menahan kesedihannya. "Ibu membiarkan dirinya kedinginan dan kesakitan. Tidak ada orang membantu. Ibu… tersenyum kepada adikmu. Ia mengucapkan sesuatu kepada bayi merah itu. 'Jung Changmin, eomma mencintaimu.'. Setelah mengucapkan itu, tidak ada lagi rona merah yang menjalar di pipinya. Kebisuan menyusup di antara keduanya, hanya lolongan hewan buas yang terdengar. Tak ada lagi hembusan napas hangat yang keluar-masuk dari hidung mancung ibumu. Ibu… hiks… meninggal setelah… hiks… mengucapkan kata-kata indah itu di depanku. Aku menjerit keras, menangis khas bayi baru lahir. Siapa sangka aku memiliki suara tenor yang dapat memecahkan gendang telinga siapapun di dekatku. Tangisanku terdengar sampai ke desa. Sejam kemudian seorang halmoni menemukanku, lalu membawaku ke rumahnya. Ia juga menguburkan ibu dengan bantuan haraboji dan kedua anaknya. Sejak saat itu, aku bukanlah Jung Changmin, aku adalah Shim Changmin.".
Yunho memeluk Changmin tiba-tiba, membuat Changmin terbelalak kaget. "Mian… Mianhae…", bisik Yunho berkali-kali di telinga Changmin. "Mianhae… Aku tidak tahu kalau ibu sudah… hiks… Maafkan aku, Changminnie!".
Changmin hanya diam. Tangisannya semakin keras dan terdengar pilu. Ia membalas pelukan Yunho, meremas punggung besar Yunho. "Aku tidak akan memaafkanmu, hyung. Bertahun-tahun aku berusaha membuang ingatan itu, lalu tanpa sengaja aku justru mengingat segalanya setelah memegang tanganmu (Chapter 15-Brother). Kau jahat, hyung. Aku membencimu.", ucap Changmin pelan. Ia berusaha menahan isak tangisnya, tak mau terdengar lemah di depan Yunho.
Yunho melepas pelukannya. "Apa maksudmu? Apakah kau memiliki keistimewaan seorang Hexe?", tanya Yunho berat, berusaha menutupi kegembiraannya. Tidak banyak Hexe yang memiliki keistimewaan seperti mereka.
Changmin mengerucutkan bibirnya sebal. "Iya! Aku bisa melihat kenangan seseorang dan menghisap apapun ke dalam ruang antar dimensi dengan tanganku ini. Ini semua karena kau hyung! Seharusnya aku hanya bisa melihat kenangan orang lain, tapi aku justru diberikan lubang seperti ini di tanganku.", keluh Changmin.
"Mianhae… Aku tidak pernah merencanakan ini sebelumnya. Mungkin Kamisama memiliki maksud lain di balik takdir kita.", balas Yunho bijaksana.
"Jangan menyalahkan Kamisama atas apa yang telah kau perbuat, Hyung! Sekali benci, aku akan tetap membencimu.", ketus Changmin.
"Oh ya?". Yunho mengangkat sebelah alis matanya. "Seharusnya kau senang telah menemukan hyungmu yang tampan ini. Setuju?".
Changmin memutar matanya jengah. "In your mind. Seharusnya aku ini sudah lulus kuliah dan mengikuti ujian Hunter.".
PLETAK! "Kau pikir ini anime Hunter X Hunter? Kau terlalu banyak menonton tontonan tidak penting. Hidupmu terlalu teracuni oleh cerita khayalan para Mensch.".
PLETAK! Changmin membalas jitakan Yunho. "Ya! Ujian Hunter itu ada, tahu! Kau terlalu lama bersembunyi dengan agassi mu itu, jadi semakin bodoh. Ujian Hunter diadakan oleh seorang Hexe keturunan Mensch yang tinggal di belahan dunia seberang. Ujian ini diikuti oleh berbagai Hexe yang memiliki kemampuan untuk bertahan. Setelah lulus, para Hunter akan memiliki aksesnya sendiri untuk pergi ke dimensi lain. Aku ingin kembali ke dimensi Hexe, bertemu dengan appa.", jelas Changmin singkat.
Yunho tersenyum sambil mengangguk-angguk seakan paham dengan ucapan adik barunya itu. "Jangan terlalu percaya dengan sesuatu yang belum pasti. Jika memang ujian Hunter itu ada, aku yakin sekolah ini pasti turut berperan serta. Lagipula pintu antar dimensi tidak bisa dibuka kecuali ada pergeseran antara dimensi tersebut.", kata Yunho sambil mengacak rambut Changmin gemas.
"Kalau begitu, bagaimana Jaejoong yang notabene seorang Monster bisa masuk ke dalam dimensi ini?", tanya Changmin.
"Nah, itu dia pertanyaannya!", jawab singkat Yunho. Changmin hampir saja terjungkal setelah mendengar jawaban terlalu jujur dari kakaknya itu. Hmmm… sepertinya kedua namja ini mulai dekat tanpa mereka sadari.
.
(T.T)…::YuyaLoveSungmin::…( . )
.
Kibum mengintip Prinz Monster dari balik pintu kamar. Ia menggembungkan pipinya. "Kenapa aku harus membantu dia? Aku masuk ke dalam dimensi ini juga gara-gara dia. Kalau saja waktu itu dia tidak datang ke dimensiku, lalu tanpa sengaja aku berlari ketakutan dan justru bersembunyi di dalam kotak kayu yang para bawahannya bawa, aku pasti masih asyik bermain dengan teman-temanku. Aaaah~ Aku terlalu banyak mengkhayalkan masa lalu. Terima nasib saja, Bummie.", keluh kesah Kibum pada dirinya sendiri.
Kibum masih asyik mengamati Prinz Monster yang terlelap di atas ranjangnya. Namja kekar itu kini terlihat sangat lemah, berbeda dengan sosok Prinz yang dua puluh tahun lalu ia lihat. Sebenarnya Kibum merasa kasihan dengan sosok Siwon sekarang, namun ia tepis perasaan yang ada di dasar hatinya. Rasa sakit hatinya lebih mendominasi.
Bagaimana Kibum tidak membenci Siwon? Ia harus berpisah dari kedua orangtuanya sejak ia berumur tujuh tahun. Itu pun karena ketidaksengajaan yang sepertinya memang menjadi takdirnya. Kibum harus berkelana selama dua tahun sebelum Ryeowook menemukan dirinya dalam keadaan yang mengenaskan. Namja berumur dua belas tahun itu nampak kelaparan dengan pakaian yang tak layak pakai. Kibum pun tidak pernah bisa tersenyum kembali. Terlalu banyak mimpi buruknya yang menjadi kenyataan. Kibum termasuk namja hebat karena dapat hidup di lingkungan Monster yang sangat mengerikan, penuh dengan ketamakan dan kejahatan. Sekarang ia harus membantu Monster yang telah menghancurkan masa depannya? Never.
Kibum tersentak saat bahunya disentuh oleh seseorang. "Sedang apa kau di sini? Sebaiknya kau masuk. Dia bukan orang jahat seperti yang kau pikirkan selama ini. Don't judge book by its cover, right?", ucap Ryeowook sambil membukakan pintu untuk Kibum.
Kibum menatap Ryeowook. Ia melihat ada permohonan di dalam mata itu. Kibum tidak bisa menolak permohonan dari orang yang sudah dianggap sebagai appa sekaligus eomma baginya. Kibum menghela napas berat. "Baiklah.", jawabnya singkat.
Kibum masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Ryeowook. Dua namja itu duduk di samping Siwon. Kibum tersenyum kecil. Ia akui wajah Siwon masih terlihat tampan walaupun ia nampak seperti tulang-belulang tak bernyawa. Namja berkulit pucat itu menyentuh wajah pahatan sempurna itu. Perlahan mata Siwon membuka. Bibirnya bergerak, namun tak ada suara yang terdengar. Ryeowook dapat mengartikan tatapan bingung Siwon yang seakan bertanya siapa orang di sampingnya.
"Ini Kibum. Dia akan membantumu untuk memulihkan kesehatanmu. Sebaiknya Anda berbincang dengannya. Aku yakin kalian pasti cocok.", jelas Ryeowook yang langsung mendapat tatapan sengit dari Kibum. Ryeowook berlalu begitu saja, mengacuhkan pandangan tak suka dari Kibum.
Kibum terdiam, bingung harus melakukan apa. Ia sesekali memandang Siwon lalu tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah lain kemudian. Ia melakukannya beberapa kali sampai Siwon menggenggam tangannya.
"Ah, mian. Aku memang pemalu. Aku kurang terbiasa dengan orang baru. Mianhae.", ucapnya tulus, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal—khas orang salah tingkah.
'Dia bicara dengan bahasa informal padaku? Benar-benar tidak sopan.', batin Siwon mengeluh.
"Wae? Kenapa kau menatapku begitu? Kau tidak suka dengan gaya bicaraku? Aku ini bukan kaum Monster jadi aku tidak berkewajiban untuk menghormatimu.", jujur Kibum.
"A-aku tidak… bilang seperti itu.", balas Siwon terbata-bata.
Kibum melipat kedua tangannya di depan dada. "Terlihat kok dari wajahmu.".
Siwon tersenyum kecil. "Me-memangnya wajahku sep-seperti apa?", tanyanya pelan.
"Seperti ini!", jawab Kibum sambil memasang wajah jutek yang jelek sekali.
Siwon tertawa pelan. Wajahnya berseri-seri. Kibum tertegun melihat Siwon yang tertawa manis, menunjukkan lesung pipinya. 'Tampan.', aku Kibum dalam hati.
"Ya! Kenapa kau tertawa?", marah Kibum, berusaha menutupi rona malu di wajahnya.
"Kau terlihat sangat jelek seperti sapi yang menahan buang air besar.", jawab Siwon lancar.
'Kalau menghina, dia bisa bicara dengan lancar.'. "Diam kau! Menyebalkan!".
"Yah! Ja-jangan ngambek! Ka-kau saja belum mem-memperkenalkan dirimu. Aku Siwon. Ka—".
"Sudah tahu!", potong Kibum sebelum Siwon menyelesaikan kalimatnya.
"Kau siapa?", tanya Siwon cepat sebelum Kibum memotong perkataannya lagi. Siwon tersengal-sengal. Ia mengerahkan semua tenaganya hanya untuk mengucapkan dua patah kata itu. Sungguh tekad yang sangat besar untuk mengetahui nama namja di hadapannya.
"Kim Kibum!", jawab Kibum singkat. Ia lalu pergi dari kamar Siwon tanpa berpamitan sama sekali. Siwon tersenyum. Ia merasa namja itu menarik di matanya.
.
(^/^)…::YuyaLoveSungmin::…(^O^)
.
"Jadi seperti itu ceritanya. Kau ke sini untuk membunuh anak permaisurimu. Kau pikir Sungmin adalah targetmu, begitu?", tanya Leeteuk lagi setelah mendengarkan penjelasan dari Jaejoong. Leeteuk mengepalkan tangannya, meredam amarah yang bergemuruh dalam dirinya.
"Iya. Seandainya saja kalian tidak terlalu ikut campur, anak haram itu pasti sudah mati.", ucap Jaejoong dengan mulut tertutup. "AARRGH!".
"Berhenti memikirkan sesuatu yang justru merugikan dirimu sendiri atau sulur-sulur itu akan membunuhmu secara perlahan.", ancam Leeteuk tidak main-main. Ia telah memerintahkan kepada Yesung untuk memperketat sulur tanamannya pada tubuh Jaejoong, jika namja cantik itu memikirkan hal yang tidak-tidak.
Memikirkan? Kenapa bukan mengatakan?
Kangin telah mengunci semua otot-otot dalam tubuh Jaejoong dengan mantra sehingga Jaejoong tidak akan bisa bergerak, bicara ataupun mengedipkan matanya sekalipun. Kangin hanya membebaskan otot-otot pada organ vital dalam tubuh Jaejoong agar namja Monster itu masih bisa hidup. Kangin, Leeteuk dan Yesung perlu bertindak ekstra hati-hati dalam menginterograsi namja asing di hadapan mereka ini. Jangan sampai mereka lengah dan Jaejoong bertingkah lagi. Mereka dapat mendengar isi pikiran Jaejoong, walaupun Jaejoong berusaha menutupi isi hatinya sekalipun. Ini semua berkat ramuan sihir yang diberikan Yesung kepada Jaejoong.
Yunho tidak dapat duduk dengan tenang di dalam ruangan dimana ia harus melihat orang yang ia sayangi tersiksa seperti itu. "Tolong, jangan bersikap terlalu kasar kepadanya. Kita ini Hexe yang bermartabat. Aku pikir sebaiknya kita menginterograsinya baik-baik.", usul Kangin pelan. Ia takut petinggi sekolah ini tersinggung dengan usulannya itu.
Kangin memandang Yunho remeh. "Bersikap lunak kepada makhluk yang hampir membunuh anak agassi? Pemikiran bodoh darimana itu, Yunho-ssi? Selama ini kau menjaga agassi jadi kau seharusnya tahu seberapa sayangnya agassi kepada anak itu.".
Yunho menundukkan kepalanya. Posisinya serba salah di sini. Ia tahu Jaejoong bersalah, namun ia juga tidak bisa memungkuri rasa sakit yang terselip di dalam hatinya saat Jaejoong tersiksa. Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta, bukan?
"Agassi? Jadi kalian ini kaki-tangan namja menjijikan itu.", pikir Jaejoong.
Leeteuk menarik wajah Jaejoong, meremasnya dengan cukup kuat. "Bodoh! Selama ini kau sudah mencelakai target yang salah. Dia bukan anak dari permaisuri yang kau ceritakan itu. Dia anak dari agassi kami.".
"Jadi siapa anak permaisuri Monster itu?", gumam Yesung tanpa sadar.
Lima orang di dalam ruangan itu tersentak dengan pertanyaan yang digumamkan oleh Yesung. Keempatnya baru menyadari misteri lain yang seharusnya mereka pecahkan sebelumnya. Satu dari mereka justru memikirkan cara untuk lepas dari sulur tanaman Yesung berhubung ia merupakan pihak yang terlupakan di sini. Hangeng melonggarkan ikatan sulur taman itu perlahan. Ia harus segera melarikan diri dari sana sebelum jati dirinya dan anaknya terbongkar.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?", tanya Yesung polos.
"Kau memang jenius, Yesung-ah! Apa kamu memiliki kandidat yang pas untuk diduga sebagai anak permaisuri Monster itu?", tanya Yunho mewakili pertanyaan yang terbersit di dalam benak Kangin, Leeteuk dan Jaejoong.
Yesung memutar bolamatanya. "Mollayo!", jawabnya jujur.
"Kalau Jaejoong sampai pergi ke sini, berarti anak itu memang salah satu murid kita. Siapa?", ujar Kangin sambil berpikir.
'Yes! Sebentar lagi aku bisa melepaskan diriku. Sulur tanamannya mengendur.', batin Hangeng girang. Hangeng mengeluarkan sebelah tangannya dari ikatan sulur tanaman Yesung.
"Berhenti sebelum tanamanku menusukkan racunnya ke tubuhmu!", bentak Yesung kepada Hangeng saat Hangeng baru saja akan menarik keluar kakinya. Dari sulur-sulur yang mengikat Hangeng keluar duri-duri beracun dan sebuah sulur memiliki kepala bergigi, mirip sebuah mulut yang bisa menggigit apapun di depannya.
Yesung mendekati Hangeng. Ia memasang wajah datarnya. "Jangan pikir aku tidak memperhatikanmu. Sulurku tersambung dengan tanganku. Kau tidak akan bisa bertindak di luar pengawasanku.".
"Ternyata kau sejahat ini kepada orang yang selama ini selalu kau sebut sebagai anakmu, appa. Kau selalu menyebut dirimu sebagai appaku, tapi sekarang kau justru menyakitiku.", kata Hangeng, mendramatisir perkataannya.
Yesung mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu? Jangan mengatakan hal-hal aneh!".
Hangeng menyeringai puas karena ia telah membuat Yesung bingung. Ini adalah titik kelemahan Yesung. SRIIIING! Cahaya biru melingkupi seluruh tubuh Hangeng. Yesung tersentak beberapa detik. Tiba-tiba tubuh Hangeng sudah menghilang dari hadapannya. Yesung melirik ke kanan dan kiri, tapi ia tidak melihat kemana Hangeng pergi.
TUUUK! "Mau pergi kemana kau, Animal Verwandeln?", desis Kangin terdengar mengerikan kepada seekor kura-kura besar yang berada dalam genggamannya saat ini. Kangin mengancungkan pisau lipat di depan kepala kura-kura itu, bukti ancaman yang sesungguhnya.
Yesung menyipitkan matanya yang sudah sipit untuk mempertegas penglihatannya. 'Bukannya itu Ddangkoma?', pikir Yesung bingung. "YA! Jika kau menyakiti anakku, kau berhadapan denganku, Kangin-ssi!", teriak Yesung, berusaha merebut Ddangkoma dari tangan Kangin, namun ditolak oleh namja besar itu.
"Dia ini Animal Verwandeln yang tadi kau ancam! Selama ini dia sudah menyusup terlalu lama di sekolah ini. Kau juga membawa penyusup, seonsaengnim!", tuduh Kangin.
"Apa maksudmu? Aku tidak mungkin mengkhianati orang-orang yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri.", bela Yesung, tak terima dengan ucapan Kangin.
Kangin memelototi Yesung. "Siapa yang bisa tahu dasar hati seseorang? Siapa pun bisa saja berbuat di luar akal sehat!".
Kangin mendorong bahu Yesung. Kedua orang itu nampak akan beradu argumen. Leeteuk dan Yunho mulai melerai Kangin dan Yesung, namun keduanya terlihat sulit untuk ditenangkan. Saat keempatnya sibuk dengan pertengkaran tidak penting, Jaejoong terlepas dari sulur tanaman Yesung. Suatu celah yang menguntungkan untuk namja cantik itu. Jaejoong berkonsentrasi pada otot rongga mulutnya. Ia menggigit lidahnya hingga mengeluarkan darah, lalu mengucapkan sebuah mantra dalam pikirannya. Perlahan tapi pasti, Jaejoong mulai dapat menggerakan seluruh anggota tubuhnya. Namja manis itu melangkah pelan, menghindari empat namja yang sibuk dengan urusan mereka. They're so childish and clumsy, right?
SREEEENG! Sebuah pedang cahaya berwarna biru terpampang di depan wajah Jaejoong, memaksanya untuk menghentikan langkahnya. "Kalau kau mencoba kabur, aku tak akan segan-segan membunuhmu sekarang juga!", ancam Hangeng yang telah kembali ke sosok manusia.
Hangeng merasakan sebuah benda tajam menusuk punggungnya, namun tidak memberikan dampak apapun karena terhalang oleh jubah besi yang ia gunakan. "Aku juga akan membunuhmu, jika kau berbuat gegabah.". Kali ini giliran Kangin yang mengancam Hangeng.
Yesung mengarahkan sulur tanaman berkepala ularnya ke arah Jaejoong. Ia bersikap siaga, takut Monster di hadapannya bertindak di luar dugaan. Leeteuk dan Yunho telah dalam posisi mereka, memasang pertahanan dan bersiap-siap menyerang Hangeng dan Jaejoong saat mereka melakukan sebuah pergerakan. Ketegangan memenuhi aura ruangan itu.
BRAAAAK! Pintu ruangan Leeteuk terbuka lebar. "KANGIN-AHJUSSI, JANGAN SAKITI APPAKU!", teriak Kyuhyun ketika ia melihat Kangin menusuk punggung appanya.
KRAAAS! "ARGH!". Tiga pasang mata milik para remaja itu terbelalak lebar melihat apa yang terjadi di dalam ruangan yang baru mereka dobrak paksa itu.
.
.
(^/^)…::TBC::…(^O^)
.
.
Finished on July, 11th 2013, 11:58 am, Jakarta, Indonesia
#HappyKyuMinDay
#HappyJOYersDay
Happy 7th Anniversary~ Semoga KyuMin sukses dan jaya selalu...
Chapter ini terdiri dari 4.165 words... 2x lipat dari biasanya... Sudah hampir seluruh rahasia diungkapkan... Tinggal beberapa misteri lagi yang belum terbuka. Tetap sabar ya~ Hehehehe...
Terima kasih kepada semua pembaca yang sudah mampir (SiDers), nge-Follow, nge-Fave, terlebih lagi yang mau menuangkan reviewnya dan selalu memberikan support... terima kasih banyak. Mianhae, Yuya tidak bisa menyebutkan nama kalian satu2 atau membalas semua review di sini... bagi yg menggunakan username, sudah Yuya balas via PM ya~ Gomawo.
Sekian dari Yuya... See u next time~
Annyeong~
_Yuya Matsumoto_
