"Yang Mulia.."

Chanyeol menoleh. Ia dan Junmyeon baru saja keluar dari ruang rawat Baekhyun saat Kris memanggilnya. Chanyeol berhenti sesaat dengan dahi yang berkerut.

"Kris?"

"Yang Mulia.." Jongin ikut menyahut dan memberi bungkukan hormat. Chanyeol semakin bingung.

"Bukannya kau ketua KSS?" Ia menghela nafas. "Ada apa kalian disini?"

"Chanyeol." Kris berkata datar. "Ikutlah sebentar, ada yang ingin kubicarakan."

"Aku sibuk."

"Ini tentang Baekhyun." Gumam Kris lagi. Kali ini, Chanyeol langsung menoleh. "Ya, tentang musuh yang kau hadapi. Dia yang hampir membunuh istrimu."

Tangan Chanyeol terkepal, emosinya naik tiba-tiba.

"Tunjukkan."

.

.

.

.

.

Princess Destiny

.

.

.

.

.

Last Chapter

.

.

.

.

.

"Bagaimana keadaannya?"

Kyungsoo duduk di samping Luhan dan memberinya segelas kopi hangat. Gadis Cina itu masih disana, menunggu di koridor panjang lobby rumah sakit. Sebuah senyum terpatri di wajahnya.

"Aku belum dengar kabar dari Baekhyun." Ia menyesap kopinya perlahan. "Tapi, masa kritis Jeonghan sudah lewat. Dia sudah dipindahkan ke ruang rawat."

Kyungsoo menghela nafas. "Syukurlah."

"Ya." Luhan mengangguk dan tersenyum. Sekian detik, ia kembali menoleh pada Kyungsoo. "Kyung, bukankah Raja disini?"

"Ya." Wanita itu mengangguk. "Raja sudah tahu segalanya."

Luhan menghela nafas panjangnya. Jemari lentik itu mengusap memar di sudut bibirnya. Kyungsoo menatapnya prihatin.

"Sehun ada di ruang ICU."

Luhan menoleh dengan cepat. "Apa?!"

"Temuilah." Kyungsoo menghirup aroma kopinya. "Wajahnya penuh luka. Dia pasti mengalami hari yang buruk."

Luhan seperti kehilangan nafasnya. Gadis itu beranjak cepat, berlari masuk ke dalam koridor, dengan pikiran yang dipenuhi wajah Sehun. Kyungsoo tersenyum.

"Ah, aku merindukan masa-masa pacaran."

.

.

.

Chanyeol berdecih. Raja Korea itu mendengarkan dengan takjub segala kalimat Hyorin, juga Jongin dan Kris. Kedua telapaknya masih terkepal, dan matanya menatap tajam ketiga orang tersebut.

"Jadi," Ia menegakkan tubuhnya. "Kalian membohongiku selama berbulan-bulan? Di sini? Di negaraku sendiri?"

Tidak ada yang menyahut. Hening menyambut ruangan itu. Chanyeol melipat tangannya di dada, terkekeh tajam dengan keheningan mereka.

"Dan sekarang, kalian memintaku untuk mengikuti rencana kalian?"

"Chanyeol.."

"Kris." serbahan tajam Chanyeol membuat Kris terdiam. "Aku menghormatimu sebagai rekan kerja. Tapi, bukan berarti kau bisa mencampuri urusan rumah tangga dan internal kerajaanku."

Kris menghela nafas, lelah. Chanyeol masihlah seperti bocah SMA keras kepala yang dikenalnya dulu, tidak ada yang berubah.

"Kami mencoba membantumu." Kris berkata tak kalah tajam. "Hyorin dan Jongin mencegah makar, kau tahu?"

"Tapi kalian menyembunyikannya dariku!" Chanyeol memukul meja dihadapannya dan berdiri dengan penuh amarah. "Kalian membuatku seperti Raja bodoh yang tidak tahu apa-apa!"

"Yang Mulia.."

"Diam!" tukas Chanyeol, menatap tajam Jongin. Pria itu menghela nafas kasar.

"Dengar, kalian semua." Ia menatap satu persatu wajah ketiga orang itu. "Cukup sampai disini. Simpan segala rencana kalian, aku akan mengurusnya dengan caraku sendiri."

Kalimat terakhir itu menjadi penutup bagi Chanyeol. Pria itu melangkah keluar, dengan sengaja membanting pintu yang dilewatinya. Kris menghela nafas, lagi.

"Dia itu.. Benar-benar.."

.

.

.

Seungcheol melangkah pelan-pelan sambil terus menghembuskan nafas, berusaha menenangkan hatinya. Dia sudah mendengar segalanya. Kenyataan yang sedikit menghantam, membuatnya nyaris tak percaya. Ya, Jeonghan masih hidup. Wanita yang arwahnya tiap malam ia doakan itu masih bernapas.

"Astaga.."

Pria dengan mata jernih itu hampir berbalik, tapi akhirnya tetap menyusuri koridor, dengan langkah yang sedikit di percepat. Kamar rawat Jeonghan sedikit menjorok ke dalam, nomor 214, kata Sehun. Seungcheol menggenggam kedua tangannya, sebelum mendorong pintu putih itu kedalam.

"Jeong—"

Kata-katanya tenggelam, tertelan ludah. Didepannya, berjarak dua meter, seorang pria tinggi menoleh, menatapnya tak mengerti. Seungcheol menelan ludah, berharap salah kamar, tapi tubuh yang terbaring itu benar lah Jeonghan.

"Aku.." Seungcheol mengumpulkan niatnya. "Aku datang menjenguk."

Pria tinggi itu mengangkat sebelah alisnya. "Kalau begitu, masuk dan tutup pintunya. Kau membuat pendingin udara tidak berguna."

Seungcheol mendecih dalam hati. Pria ini benar-benar sombong. Sambil sedikit bersungut, ia melangkah menuju ranjang Jeonghan dan berdiri di sisi pria itu.

"Dia sudah sadar, tapi belum seratus persen. Sejak tadi dia beberapa kali mengigau." Pria tinggi itu bicara, lalu menoleh padanya. "Aku Seungjun, kau siapa?"

Seungcheol berdehem. "Aku teman Jeonghan."

"Begitu?" Alis Seungjun kembali terangkat dan sebuah kekehan kecil keluar dari mulutnya. "Kau Seungcheol?"

"Darimana kau tahu?"

Tawa Seungjun meledak, walau tidak keras. Pria itu menutup bibirnya dengan punggung tangan untuk menahan tawanya keluar lebih lama. "Jadi begitu."

"Kau bicara apa?" Seungcheol menatap Seungjun tak mengerti. Mata bulatnya mendelik tak suka. "Kau menertawai namaku?"

Seungjun menggeleng, sambil terus berusaha menahan tawa. Ia menepuk pundak Seungcheol. "Aku akan keluar membeli kopi. Jaga dia sebentar."

Lagi-lagi, Seungcheol mendecih dalam hati melihat sikap Seungjun. Saat pria tinggi itu keluar, ia mulai melancarkan sumpah serapahnya.

"Hah. Arogan. Lagipula, apa hubungannya dengan Jeonghan?"

"Seungcheol.."

Bibir Seungcheol terkatup. Dahinya berkerut. Ia diam, berusaha mendengarkan suara lirih yang menyapa telinganya.

"Seungcheol.."

Dengan gerakan cepat, ia menoleh, ke arah ranjang Jeonghan. Gadis cantik itu bergerak kecil. Bibir pucatnya terbuka, mengeluarkan suara lirih yang halus.

"Seungcheol.."

Rasanya, segala beban di dada Seungcheol terangkat. Wajahnya memerah, menahan tangis. Ia menarik kursi dan duduk di tepi ranjang, sambil menggenggam tangan si gadis.

"Seungcheol.."

Airmata Seungcheol benar-benar jatuh, seiring genggamannya yang menguat. "Ya, Jeonghan.. Aku disini.."

.

.

.

Dan disinilah Chanyeol. Setelah menguras emosinya saat bertemu dengan Kris dan kawan-kawan, jantung Chanyeol kembali berdegup cepat. Junmyeon membawanya ke sebuah ruang dengan dua buah boks di dalamnya. Lagi-lagi, airmatanya jatuh.

"Yang Mulia.." Junmyeon membuka suaranya. "Dia putrimu."

Chanyeol melangkah mendekat. Salah satu dari dua boks itu terdapat sesosok bayi kecil, dengan selang-selang yang menempel pada tubuh ringkihnya. Salah satu selang itu terhubung pada sebuah tabung oksigen besar, dimana selang lain tersambung dengan kardiograf yang berdenyut lemah, pertanda jantung si bayi tidak baik-baik saja.

"Dokter Junmyeon.." Suara Chanyeol bergetar. "Kenapa.. anakku.."

"Sejak awal, pertumbuhannya memang tidak baik, Yang Mulia." Junmyeon menghela nafas. "Ditambah, kelahiran yang jauh lebih awal dari jadwal seharusnya. Jantungnya lemah dan beratnya dibawah rata-rata."

Chanyeol menghapus airmatanya. Pikirannya benar-benar kalut. Anaknya, Putrinya, yang keberadaannya sama sekali tidak diketahuinya. Ia melangkah mendekat, berjongkok di samping boks transparan itu.

"Hei, Putri Appa.." Ia tersenyum pedih. "Lihat dirimu, sayang. Kau begitu mirip dengan ibumu."

Tangis Chanyeol kembali pecah. "Maafkan Appa. Kau pasti kesakitan sekali. Appa bahkan tidak mengunjungimu."

Bayi itu bergerak, denyut kardiograf mulai tidak beraturan. Junmyeon berteriak panik. "Yang Mulia!"

Chanyeol menatap bingung. Bayinya, seolah mengetahui kedatangan Ayahnya, menggerakkan badannya. Tubuh kecil itu memerah. Airmata Chanyeol kembali jatuh. Ia menyodorkan jarinya melalui sebuah lubang di sisi boks, yang langsung disambut genggaman tangan kecil si bayi.

"Kau menyambut Appa?" Senyum Chanyeol mengembang di sela tangisnya. Ia balas mengelus tangan kecil itu. "Sayang, apa sangat sakit?"

Grafik pada Kardiograf bergerak naik turun. Di sisi ruangan, Junmyeon meraih telepon, berusaha menghubungi tim-nya. Chanyeol mendekatkan wajahnya ke telinga si bayi.

"Dengarkan Appa, nak." Ia menahan nafasnya. "Lepaskan jika itu sakit. Appa tahu kau kuat. Putri Appa pasti hebat, benar? Maafkan Appa, Maafkan Eomma."

Derap langkah mulai terdengar di koridor, di susul bunyi pergesekan pintu dan lantai. Chanyeol tahu, team dokter telah datang, berdiri kaku di belakangnya. Sementara grafik kardiograf terus melemah, Chanyeol memejamkan matanya sesaat.

"Anakku." Liquid bening kembali membasahi pipinya. "Kembalilah. Kembalilah ke langit jika kau benar-benar tidak kuat, Nak. Appa melepasmu. Appa akan menjaga Eomma. Lepaskan, nak. Lepaskan."

Genggaman tangan kecil pada jemari Chanyeol perlahan melemah, seiring berhentinya nafas si bayi. Grafik kardiograf berubah menjadi garis lurus dengan bunyi yang melengking. Chanyeol menangis keras. Junmyeon dan tim-nya terjatuh, bersujud pada jasad sang keturunan raja.

"Umumkan kematiannya." Chanyeol menatap sedih jasad putrinya. "Park Jiwon, putriku."

Di ruangan lain, dalam ketidaksadaran, airmata Baekhyun jatuh, menuruni pipi pucatnya.

.

.

.

Luhan mengelus pelan luka-luka di wajah Sehun. Lebam dan jejak darah menghiasi paras tampan pria itu. Luhan meringis, membayangkan seberapa kencang pukulan Chanyeol.

"Masih sakit?"

Sehun menggeleng dan tersenyum. "Semakin baik saat melihatmu."

"Ck." Luhan berdecih dengan wajah yang memerah. "Berhenti menggoda."

"Aku serius." Sehun mengecup lembut kening Luhan. "Kau membuatku lebih baik, terima kasih telah disini."

Senyum manis terpatri di wajah Luhan. Genggaman tangan mereka kian erat dengan jemari yang saling terkait. Sehun baru saja menyandarkan kepala Luhan di pundaknya, saat derap langkah cepat menghampiri ruangan mereka, dan sosok Yixing muncul setelahnya.

"Noona?" Dahi Sehun berkerut. "Ada apa?"

"Dia tidak bertahan." Yixing meremas jemarinya, dengan tangis yang lirih, dan memandang keduanya. "Putri kerajaan.. tidak bertahan.."

.

.

.

Dalam satu jam, berita yang dibawa kerajaan soal Baekhyun dan putrinya membuat seluruh masyarakat geger. Ratusan wartawan sudah berdiri di depan rumah sakit, berusaha mengumpulkan info lebih jauh terkait keadaan keduanya. Beberapa pengawal sudah bersiap. Sementara itu, Chanyeol terduduk lemah dengan infus di tangannya. Gejolak emosi dan kenyataan yang menghantam dalam beberapa jam ke belakang membuat tubuhnya kembali melemah.

"Yang Mulia.."

Sehun masuk dengan pelan dan membungkuk hormat sebelum menghampiri junjungannya.

Chanyeol menghela nafas. "Semua sudah siap?"

"Ya, Yang Mulia." Sehun berdehem. "Yang Mulia Putri akan dimakamkan di samping makam Ibu Suri. Semua bisa langsung dilaksanakan esok pagi."

"Baiklah." Chanyeol terkekeh pedih. "Lihatlah berapa banyak nyawa yang hilang karena diriku, Sehun. Bahkan putriku.. "

"Yang Mulia.."

"Panggil mereka bertiga kesini."

Dahi Sehun berkerut. "Mereka?"

"Kris, Jongin, dan Hyorin." Chanyeol mengelus jemarinya, tempat genggaman terakhir putrinya. "Aku ingin bicara pada mereka."

.

.

.

Minsuk memakai jas-nya dengan tenang, dan terkekeh. Sebuah TV plasma di tengan ruangan masih menampilkan berita terkini, soal Ratu yang koma dan putri kerajaan yang meninggal dunia. Sebuah ketukan pelan membuat atensinya terpecah.

"Masuklah."

Seorang opsir bawahannya memberi hormat dan masuk. Minsuk tersenyum, menatap penuh semangat sang opsir.

"Bagaimana?"

"Semua sudah siap, Tuan." lapornya. "Anda bisa pergi dalam satu jam."

Minsuk menyeringai.

.

.

.

Hari berkabung.

Matahari mulai menanjak, menyinari bumi. Chanyeol sudah bersiap dengan jas hitamnya. Mata pria itu sembab, wajahnya pucat, sarat akan kesedihan.

Pagi ini seluruh atensi masyarakat berada pada satu titik. Sebuah ambulans telah terparkir di halaman Royal Hospital. Para wartawan masih disana. Tepat pukul tujuh, sebuah peti kecil berlapis bendera Korea Selatan diangkut oleh empat orang pengawal, dan dimasukkan ke dalam ambulans. Blitz para wartawan berebut memotret tiap moment.

Sebuah limousin hitam datang, dan sosok Chanyeol juga Sehun keluar dari lobby rumah sakit, diringi jepretan kamera. Sehun membukakan pintu untuk Chanyeol. Raja itu masuk tanpa suara, enggan menanggapi para pencari berita.

"Sehun.."

"Ya, Yang Mulia?" jawab Sehun, saat dirinya masuk dan duduk di samping Chanyeol.

"Bagaimana keadaan Baekhyun?"

"Ratu dalam keadaan stabil." ucap Sehun. "Hanya saja, kesadarannya memang belum kembali."

Chanyeol menghela nafas. Bunyi sirine ambulans mulai terdengar dan limousin mereka berjalan pelan. Chanyeol tersenyum sedih.

"Ini bagian menyakitkan. Aku bahkan tidak pernah berharap menguburkan anakku lebih dulu." Helaan nafas beratnya terdengar. "Tuhan benar-benar menghukumku."

.

.

.

"Kau yakin mau sendiri?"

Jeonghan mengangguk pelan saat Seungcheol berjongkok dan menatapnya. Kursi roda yang membawanya sudah sampai di depan ruangan Baekhyun. Bibir tipis itu tersenyum. Gips di lehernya sedikit membuat gadis itu tegang.

"Aku yakin. Lagipula, kau harus kembali ke istana bukan?"

Seungcheol menghela nafas. "Ya. Aku sudah sedikit terlambat."

"Pergilah." Jeonghan semakin tersenyum. "Aku akan baik-baik saja."

Seungcheol ikut tersenyum dan mengelus pelan rambut coklat gadisnya. "Baiklah, aku akan kembali setelah semuanya selesai."

"Ya." Jeonghan mengangguk. "Aku menunggumu."

Senyum Seungcheol mengembang sebelum ia melambaikan tangan, berlalu dari hadapan Jeonghan. Gadis itu masih tersenyum, menunggu figur Seungcheol menghilang di ujung koridor.

"Jeonghan?"

Derap langkah terdengar menghampirinya, dan figur Luhan tahu-tahu sudah ada di hadapannya. Jeonghan tersenyum. "Luhan-jie."

"Astaga." Luhan menutup mulutnya. "Kau benar-benar buruk. Apa semuanya sakit?"

Jeonghan terkekeh. "Aku sudah lebih baik, jie."

"Syukurlah." Luhan tersenyum dan berdiri. "Kau juga mau menjenguk Baekhyun, bukan? Aku bawa sarapan. Mari makan bersama."

Luhan menggeser pintu putih di hadapan mereka. Saat pintu itu terbuka, sebuah pemandangan membuat keduanya melebarkan mata. Disana, diatas ranjang, Baekhyun terduduk lemah, dengan mata kosong memandang siaran langsung pemakaman putrinya.

.

.

.

"...Demi Nama Kristus, Tuhan yang berkuasa, dan akan mengangkat kami kembali. Amin."

Doa syafaat telah selesai, dan keheningan menyambut. Peti kecil itu masih berada di sisi sebuah lubang yang dipayungi bendera. Sehun memandang sedih Chanyeol yang masih terdiam.

"Yang Mulia.." ia berkata lirih. "Kita harus segera menguburnya."

Tangan Chanyeol terkepal di sisi tubuhnya. Liquid bening menggenang di pelupuk matanya. Pendeta yang memimpin doa kini berpindah tempat, menepuk lembut punggung Chanyeol.

"Yang Mulia.." Pendeta itu berdehem kecil. "Sudah waktunya, Yang Mulia. Anda sudah melepaskannya. Tuhan begitu mencintai Tuan Putri. Legakan hatimu, Yang Mulia. Biarkan Tuhan menjaganya."

Setetes airmata Chanyeol benar-benar turun. Tangannya lebih santai, namun wajahnya kian memerah. Dengan suara lirih, Raja itu menggumam.

"Turunkan petinya."

Dengan perlahan, para pengawal bekerja. Peti kecil itu turun sedikit demi sedikit, dengan tali sebagai penyangganya. Tangis Chanyeol kembali pecah.

"Putriku.. Maafkan Appa.. Maafkan Appa.."

Di sisi lain, dalam pelukan Luhan, Baekhyun juga menangis keras. Keadaannya yang masih begitu lemah membuat perasaannya lebih sensitif. Jeonghan menangis diatas kursi rodanya.

"Putriku.." Baekhyun terisak. "Park Jiwon.. Aku bahkan belum sempat memanggilnya.."

Luhan ikut menangis. "Baekhyunie.."

"Hatiku sakit.. Luhan.. Di sini sakit.. Putriku.."

Hari itu, tangisan kedua junjungan kerajaan begitu menular. Seolah ikut bersedih, langit mendung mulai membayangi bumi, mengantarkan si kecil Park Jiwon kembali ke Tuhannya.

.

.

.

Bandar Udara Jiangbei Chongqing di provinsi Yubei, China, tidak terlalu ramai pagi itu. Sebuah pesawat kecil mendarat dua puluh lima menit yang lalu. Minsuk melangkah percaya diri dan menghirup udara banyak-banyak saat keluar dari pemeriksaan imigrasi.

"Bagaimana dengan tempat tinggal?"

Seorang opsir yang berjalan dibelakangnya menyahut, "Sesuai kemauan anda."

"Bagus." Minsuk menyeringai. "Ayo, pergi. Aku ingin istirahat."

Kedua orang itu berjalan, melewati beberapa orang yang berlalu-lalang. Sekelompok orang berjas berjalan dari arah berlawanan. Minsuk berhenti di tempatnya. Sekelompok orang itu kini berdiri di hadapannya.

"Jang Minsuk."

Sebuah suara yang dikenalnya membuat Minsuk menoleh. Matanya melebar mendapati sosok Jongin yang berjalan di hadapannya.

"Apa.. Mau apa kau?!"

"Tersangka Jang Minsuk." Jongin berkata tajam. "Kau ditahan, atas tuduhan berlapis percobaan pembunuhan atas keluarga Raja dan operasi makar. Secara, resmi, mulai hari ini, kau adalah tahanan kerajaan."

Minsuk menyeringai, menatap remeh Jongin. "KSS menangkapku? Jangan bercanda, anak muda."

Jongin terkekeh. Tangannya merogoh saku jas dan mengeluarkan sebuah surat dan menunjukkannya pada Minsuk. "Aku mendapat perintah langsung dari Raja."

Minsuk menatap tajam surat dengan stempel itu. Tangannya terkepal dan matanya mulai bergerak liar. Dalam kesempatan yamg dilihatnya, pria paruh baya itu berlari, menjauhi Jongin.

'Dor!'

"ARGH."

Suara tembakan mendadak membuat beberapa orang berteriak. Minsuk terjatuh, mengerang dengan timah panas bersarang di kakinya, membuat darah mengalir deras membasahi lantai bandara. Beberapa anggota KSS bergerak cepat. Opsir pengawalnya kini telah diborgol dan digiring ke mobil.

"Sudahlah." Jongin menghampiri Minsuk bersama beberapa anggota. Sebuah borgol kini mengikat pergelangan pria itu. Jongin menyeringai. "Kau sudah habis, Jang."

.

.

.

Chanyeol baru saja sampai di halaman rumah sakit saat Jongdae berlari menghampirinya.

"Yang Mulia.."

Chanyeol mengangguk. "Bagaimana?"

"Semua sudah selesai." Jongdae tersenyum. "Sesuai perintahmu, Yang Mulia."

Di belakangnya, Sehun mendesah lega. Air muka Chanyeol berubah tenang. "Bawa tersangka itu pulang. Dan segera proses dengan pengadilan kerajaan."

Jongdae mengangguk. "Baik, Yang Mulia."

"Sehun." Chanyeol menolehkan kepalanya. "Temani Jongdae. Aku akan pergi ke kamar Baekhyun."

"Baik, Yang Mulia."

.

.

.

Kamar dingin itu terlihat begitu terang. Chanyeol menutup pelan pintu geser di belakangnya. Ia melepas jas dan menaruhnya di sofa. Langkahnya ia bawa menuju ranjang, dimana Baekhyun masih menutup matanya. Chanyeol tersenyum dan duduk di kursi. Tangannya menggenggam jemari kurus Baekhyun.

"Selamat pagi, sayang.." Chanyeol mencium punggung tangan Baekhyun. "Masih belum mau melihatku?"

Hening menyambut dan Chanyeol menghela nafas. "Maafkan aku. Jiwon dimakamkan hari ini. Aku tidak bisa membuatnya bertahan. Kesalahanku begitu banyak, Baekhyun. Aku merasa harus meminta maaf padamu seumur hidupku?"

"Dan berhenti mencintaiku?"

Tubuh Chanyeol menegang. Matanya melebar saat manik Baekhyun terbuka, menampilkan sinar indahnya. Senyum wanita itu mengembang, diiringi suara lirih. "Apa kau hanya akan meminta maaf seumur hidupmu lalu berhenti mencintaiku?"

Chanyeol menggeleng keras, dengan lelehan airmata yang kembali menuruni pipinya. "Tidak, tidak. Aku akan tetap mencintaimu."

"Jangan menangis." Baekhyun mengusap pipi pucat Chanyeol. "Tidak ada Raja yang cengeng. Lagipula, kau juga seorang ayah sekarang."

"Oh, Baekhyunie." Chanyeol bergerak dan memeluk Baekhyun yang masih terbaring di ranjangnya. Wanita itu menepuk punggung sang Raja sambil tersenyum.

"Aku disini."

Chanyeol mengangguk. "Maafkan aku. Putri kita—"

"Kau ayah yang hebat." Baekhyun balas membalas pelukan Chanyeol. "Mereka pasti bangga kepadamu."

Perlahan, pelukan Chanyeol mengendur. Pria itu kini menatap wajah sang istri yang masih tersenyum. "Mereka?"

"Yang Mulia.."

Chanyeol menoleh. Junmyeon—yang baru saja masuk—membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

"Dokter Kim?"

Junmyeon mengangguk. "Aku datang untuk menemui Ratu, Yang Mulia."

Dokter dengan senyum malaikat itu melebarkan pintu geser kamar rawat Baekhyun. Yixing, yang sudah berada diluar, berderap masuk dengan seorang bayi berselimut biru dalam gendongannya. Ia tersenyum.

"Sudah saatnya pemberian ASI, Yang Mulia."

Chanyeol menatap tak mengerti. "Apa?"

"Yang Mulia Tuan Putri.. " Junmyeon tersenyum. "..adalah anak keduamu. Mereka berbeda lima menit, Yang Mulia."

Genggaman tangan Chanyeol pada jemari Baekhyun berubah erat. Dengan kaku, ia menoleh pada sang istri, yang tersenyum secerah matahari.

"Kau harus menyiapkan satu nama lagi, Chanyeolie."

Chanyeol tidak lagi bisa berkata. Ia berusaha menahan tangisnya dan bergerak memeluk erat sang istri. Baekhyun tertawa senang.

"Terima kasih.." Chanyeol menciumi rambut Baekhyun. "Terima kasih.."

.

.

.

Do Minjoon berjalan menuju podium aula istana. Sekretaris kerajaan itu berdehem, sebelum sinar kamera di hadapannya berdetik tiga kali.

"Selamat malam." Minjoon membuka map yang dipegangnya. "Saya Do Minjoon, dengan ini, menyampaikan, terkait kejadian yang mengancam keluarga kerajaan, juga peradilan terhadap kematian Bangsawan Byun dan Kim, dua puluh tiga tahun yang lalu."

Seluruh masyarakat terfokus pada layar televisi, menantikan keputusan istana dengan jantung berdebar.

"Atas nama kerajaan," Minjoon melanjutkan. "Hukuman berupa pencabutan segala status bangsawan dari keluarga Kim Youngmin, juga penyitaan seluruh harta bagi keturunannya, selaku pengganti hukuman mati bagi almarhum Kim Youngmin."

Di pengasingannya, Yejin menangis. Ia menggenggam erat tali putih yang sudah dililit di sekitar lehernya. Dengan pejaman terakhir, diiringi tangisan lirih, gadis itu menendang kursi yang di pijaknya dan membiarkan tubuhnya tergantung meregang nyawa, di senja yang sepi.

"Dan untuk Tersangka Kim Minsuk, atas dakwaan tersebut di atas, maka, Raja yang agung, memutuskan, hukuman Sayak** bagi yang bersangkutan, dan akan dilaksanakan sesegera mungkin, demi kestabilan kerajaan."

Di lapangan luas halaman pengadilan kerajaan, seluruh tentara berkumpul. Dengan langkah pincang, Minsuk berjalan menuju sebuah tikar putih di tengah lingkaran. Wajah pucatnya semakin pucat saat melihat meja coklat ditengah tikar, dengan sebuah mangkuk putih berisi cairan bening. Kedua tentara membuatnya terduduk di depan meja itu. Dibawah ancaman pistol dan aba-aba, Minsuk meminum cairan itu dengan tangan gemetar, hingga habis. Tubuh ringkih lunglai, dan darah mulai keluar dari hidung dan telinganya. Dalam dua menit, Jang Minsuk tinggallah sebuah nama.

"Lalu, terkait kembalinya Ratu Byun, maka, Raja memutuskan, untuk mengembalikan posisinya sebagai Ratu dengan segala otoritas yang menaunginya, dan mengangkat Putra Pertama mereka, Pangeran Park Dokjun, sebagai Putra Mahkota."

Heechul menangis di pelukan suaminya. Sementara, Tao, menangis sambil menelepon ibunya, memintanya mengabarkan pada kekaisaran.

"Juga untuk Yoon Jeonghan dan Kim Taeyeon, Raja mengembalikan posisi dan jabatan mereka sebelumnya, serta membersihkan nama dan menjamin keturunan mereka."

Minjoon menelan ludahnya.

"Untuk tersangka Bae Seulgi, Raja memutuskan, menghapus segala kesalahannya, sesuai dengan hasil penyelidikan, dan memindahkan statusnya sebagai korban. Namun, yang bersangkutan diminta keluar dari istana dan melepaskan seluruh jabatannya, serta tidak diperkenankan kembali ke ibukota."

"Dan," Minjoon membalik halaman terakhir map di tangannya. "Untuk Kris Wu, selaku orang yang terlibat dalam hal menyembunyikan Ratu, Raja memutuskan melarang yang bersangkutan masuk ke Korea selama lima tahun, dan secara khusus meminta kekaisaran mengganjarnya dengan hukuman perdata."

Kris tersenyum sambil mendengarkan putusan di televisi plasma lobby bandara. Ia melirik jam tangannya. Lima belas menit sebelum jadwal penerbangannya.

"Dan untuk Min Hyorin juga Kim Jongin, Raja memutuskan mengganjar keduanya dengan keharusan melapor ke otoritas kerajaan setiap bulan, dan pencekalan ke luar negeri selama lima tahun."

Minjoon membenarkan kacamatanya.

"Namun, mengingat jasa mereka atas keselamatan Ratu dan keturunan kerajaan, Raja memutuskan, mengangkat ketua KSS Kim Jongin sebagai Kepala Kejaksaan. Dengan keputusan ini pula, KSS resmi menjadi bagian dari Royal Army, dan mengangkat Min Hyorin sebagai ketuanya."

Minjoon menghela nafas lega dan menutup map-nya. "Demikian, Selamat Malam."

Seluruh lapisan masyarakat kini bersorak. Kembang api beragam warna menghiasi langit. Ya, pada akhirnya, semua kembali ke tempat yang seharusnya.

.

.

.

.

.

Finally, End.

.

.

.

.

.

*Author's Note*

Sayak**) = Hukuman minum racun. Biasanya kalau pejabat hukumannya gini, supaya badannya gak rusak.

Gengs, ini end. Gantung? Emang. Hihihihihi. /dijegal

Yang lain diselesaikan di epilog ya, sabtu nanti~ ayo hajar saya lagi. /g

Oh ya, sabtu juga update bareng The Wall kalau sempet.

Oke deh, selamat membaca~ abaikan typo ya. Sedih hiks.

Regards,

Purf.