.
.
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 24 . Second Conspiration
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
.
.
Kau bertanya apa yang terjadi setelahnya? Ya, siklus yang sama pun terjadi padaku lagi. Aku menjadi saksi, lalu nyaris dijadikan sebagai tersangka sebelum akhirnya ada yang bersaksi bahwa Meiko terlihat masuk ke dalam gudang itu dua jam sebelumnya. Aku tahu ini terkesan memaksa sekali, tapi memang begitulah yang terjadi.
Berhubung kali ini Kagamine yang bersama denganku—dan Kamui yang tiba-tiba saja datang membantuku pada saat itu, jadi entah kenapa kasusnya tidak serumit sebelumnya. Hari ini aku bertemu Hatsune, wajahnya bersimpati padaku.
"Kaito-kun, yang sabar ya?"
Aku mengangguk sambil tertawa masam. Setidaknya dia cukup peduli untuk mengatakan kata "sabar" yang simpel seperti itu.
"Tenanglah, Kaito-kun. Aku bersedia jadi teman curhatmu kok," ucap Hatsune. "Yah, kalau kau mau sih."
"Terima kasih, Hatsune. Aku baik-baik saja kok," bohongku. Aku hanya mencoba menghibur diriku sendiri. Dua kali aku menemukan temanku sendiri mati, dan akulah yang pertama kali menemukan mereka. Apa yang akan terjadi berikutnya?
Jadi aku langsung paranoid saat Akaito bilang dia akan pergi kemping bersama teman-temannya. Sialan, kenapa dia masih bisa bersenang-senang di saat seperti ini seolah dia tidak peduli dengan keadaanku!
"Aku sudah terlanjur janji dari beberapa bulan yang lalu, Kak." Dia memasang wajah memelas. "Atau kau mau ikut sekalian? Tenang, aku bakal berbagi jatah denganmu kok, kalau kau ikut."
Aku membuang muka darinya. Dia sendiri hanya mengangkat bahu tidak mau tahu, setidaknya itu yang terlihat dari ekor mataku. Dia kembali membenahi perbekalannya ke dalam backpack hitam miliknya.
"Tenang aja, Kak. Gak bakal ada hantu penasaran yang mengusikmu malam ini—"
Pluk
Tiba-tiba gelas teh yang ada di atas meja pun terjatuh. Padahal kami berdua sedang duduk di lantai, agak jauh dari meja. Cairan teh mulai terendam di karpet, tapi bukan itu yang menjadi masalah.
"... kok."
Aku terdiam. Siapa yang menjatuhkan gelas itu?
"Ah, Kak. Aku harus pergi sekarang!" Dia langsung mengangkat backpack dan berdiri. "Omong-omong, tadi gelasnya kutaruh di tengah meja loh."
Oh, shit.
Lalu setelah aku sempat memukulinya tanpa sebab—"Kak, plis! Aku tahu aku kejam, tapi jangan pukuli aku seperti itu... hei!"—dia pun hengkang dari kamar apartemenku. Aku frustasi dan menendangi tas ransel yang biasa dia bawa ke kampus.
Baiklah, sekarang aku sedang sendirian—atau mungkin sedang berdua dengan sesuatu yang menjatuhkan gelas tadi. Rasanya kemarin Akaito bilang, dia pergi kemping bersama teman-teman satu jurusannya selama 4 hari 3 malam, jadi itu berarti aku harus berusaha bertahan hidup sendirian selama itu.
Masalahnya sekarang adalah, bagaimana caranya?
Tok tok
Aku tercekat saat mendengarnya. Itu berasal dari arah pintu, terdengar begitu lemah. Aku berpikir setidaknya aku harus memeriksanya, tapi aku terlanjur ketakutan sendiri gara-gara kejadian sialan tadi. Jadi aku hanya ternganga di tempatku. Mataku terpaku pada daun pintu yang saat ini tampak sangat menyeramkan bagiku.
Hei, kau yang ada di depan pintu! Setidaknya berbicaralah sesuatu untuk membuktikan bahwa kau itu manusia!
Duk
Sekarang terdengar suara sesuatu yang berbenturan keras dengan pintu. Tapi hanya satu kali. Dan selanjutnya diiringi dengan sesuatu yang mencakar pintu. Oh, Tuhan, apa pula itu!
Seperti belum puas menakutiku, kali ini kenop pintu bergerak. Seseorang membukanya dari luar. Aku tanpa sadar menahan napas, dan mulai mengutuk Akaito yang tidak sekalian mengunci pintu itu tadi!
Lalu pintu itu didorong dan dibiarkan terbuka selebar mungkin.
Aku menjerit-jerit histeris.
Dan perlahan aku pun sadar bahwa ternyata di depan pintu berdirilah seseorang yang sangat kukenal dan merupakan biang kerok dari hampir seluruh ketakutan yang pernah kualami.
"BANGSAT KAU, KAMUI!
Orangnya sendiri hanya tertawa sedeng. Oh, aku ingin sekali membunuh orang ini!
"Hahaha! Wajahmu tadi priceless sekali! Kau harus melihatnya sendiri!"
"Jadi kau datang ke sini hanya untuk menakut-nakutiku, hah?"
"Itu tidak sengaja. Aku bertemu adikmu di lift tadi, dan dia bilang kau sedang sendirian. Dia mau kemping 4 hari 3 malam. Jadi aku berpikir, sekalian saja mengerjaimu." Dia masuk dan menutup pintu. Aku sendiri hanya memutar mata.
"Terserah kaulah," desisku. "Omong-omong, mau apa kau ke sini?"
"Hmm... apa ya? Aku tidak ingat."
"Astaga."
"Haha, maaf. Tiba-tiba saja aku lupa."
"Baiklah. Kalau kau tidak ada keperluan di sini, silakan keluar."
"Hei, jangan begitu dong! Mumpung kau sendirian, bagaimana kalau aku menginap di sini?"
"Tidak mau. Kau pasti akan melakukan hal-hal aneh yang malah membuatku semakin ketakutan."
"Kalau tidak boleh menginap, bagaimana dengan sebentar?"
"Ya... eh, terserahlah. Pusing aku berdebat denganmu."
Dia tertawa. "Tenang. Aku tidak akan berusaha untuk menakutimu."
"Kau tidak pernah berusaha. Kau selalu melakukannya tanpa sadar."
Dia tidak menjawabku lagi, melainkan duduk di samping meja. Tapi sebelum dia sempat melakukannya, dia tersadar akan teh yang tumpah mengenai karpet.
"Shion, ini minumannya tumpah?"
"Yah." Ukh, aku jadi teringat dengan kejadian sialan tadi. "Asalkan kau tahu, teh itu tumpah padahal tidak ada yang menyenggolnya. Dan gelasnya ada di tengah meja."
Dia lagi-lagi tidak menjawab.
"Oh, sepertinya aku paham." Dia pun akhirnya duduk, agak jauh dari tempat tumpahnya teh.
Sementara dia melakukannya, aku berlalu ke dapur untuk mengambil kain basah, dan kembali lagi. Aku mengelap bekas tumpahan yang berada di atas lantai, dan juga yang terkena karpet. Sepertinya Kamui memperhatikanku melakukan ini, jadi kemudian dia menyeletuk, "Kau seperti pembantu di rumah keluargaku, Shion."
"Ya, terima kasih atas pujiannya. Aku sangat tersanjung," sahutku dengan sarkastis. Terserah dialah mau bilang apa. Mood-ku sudah tidak bagus sejak kepergian Akaito tadi, dan orang ini tiba-tiba datang. Aku hanya berharap semoga saja apapun yang dilakukannya nanti tidak akan membuatku harus mengusirnya secara paksa.
Aku akhirnya selesai mengelap sisa tumpahan teh. Ketika aku berjalan kembali ke dapur, samar-samar aku mendengar dia berbisik, tapi yang bisa kutangkap hanya, "... kau yakin dia?"
Aku mengangkat sebelah alis. Sedang berbicara dengan siapa dia? Tangannya yang sedang memegang telepon genggam itu menghadap ke bawah, yang berarti dia tidak sedang menelepon. Jangan bilang dia sedang berbicara dengan sesuatu yang menjatuhkan teh tadi. "Kamui, itu tidak lucu."
"Apanya yang tidak lucu?" sahut Kamui. Dia menoleh dengan wajah bingung. "Aku tidak sedang menakut-nakutimu."
Huh, sudahlah. Mungkin dia hanya sedang dalam mode gila. Lebih baik kuselesaikan dulu pekerjaanku. Jadi aku hanya mengangkat bahu, dan kembali berjalan.
Begitu aku benar-benar sudah selesai dengan semua urusanku, aku duduk lagi dalam ruangan yang sama dengan Kamui. Dia terlihat sibuk memainkan telepon genggamnya, sedangkan aku juga memainkan telepon genggamku sendiri. Aku kemudian melirik pada jam dinding yang hampir menunjukkan pukul 6 sore.
"Oh iya. Shion. Aku tahu kau sebenarnya menghindari topik ini, tapi," dia memulai pembicaraan, "apa yang kau pikirkan tentang kejadian-kejadian pembunuhan yang melibatkan kau akhir-akhir ini?"
Aku merasa kupingku memanas. Ah, iya. Aku memang selalu menghindari topik ini, siapapun yang bertanya, apapun alasannya. Tapi yang bertanya ini adalah Kamui—dan mungkin dia bisa sedikit membantuku untuk menggambarkan persisnya apa yang sebenarnya terjadi. "Oh, aku ingat. Minggu lalu kau berusaha menanyakan beberapa hal padaku mengenai hal itu, tapi aku malah membentakmu. Maaf soal itu."
"Hahaha. Tidak apa-apa. Aku paham kau pasti frustasi karena kau tidak tahu apa-apa, tapi tahu-tahu saja kau sudah harus mengalaminya." Seperti biasanya, dia tertawa. "Aku jadi kasihan padamu."
"Bisa juga kau merasa kasihan."
Setidaknya orang ini pasti tahu bagaimana cara untuk menghadapi masalah ini.
"Ah, tentang pertanyaanmu tadi. Yah, aku hanya merasa aku bisa saja menjadi gila karena kejadian yang hampir sama menimpaku sebanyak dua kali. Aku tidak ingin ini terjadi untuk ketiga kalinya, tapi kalaupun memang harus terjadi, aku hanya berharap tidak separah ini."
"Apa kau merasa ada yang ganjil dengan semua itu?" tanyanya dengan tenang.
"Aku merasa... seolah-olah pelaku di pembunuhan pertama dan pelaku di pembunuhan kedua sebenarnya adalah orang yang sama. Maksudku, tidak mungkin Meiko akan bunuh diri dengan gantung diri di tempat seperti itu. Selama aku mengenalnya, dia adalah orang yang kuat menghadapi segala permasalahan."
"Tapi siapa tahu dia depresi atas segala tudingan yang ditunjukkan padanya?"
Aku tidak menjawab.
"Itu berarti kau sependapat denganku. Kau tahu? Aku pikir dia memang orang yang sama—dan sengaja melakukan ini karena dia senang mempermainkanmu."
"Mempermainkan bagaimana maksudmu?"
"Akaito pernah bilang, sepertinya pelaku ini kenal denganmu. Lalu, kemarin kau juga bilang, bahwa si pelaku ini bahkan sampai menghitung skor, membandingkan antara kau dan dia. Kurasa dia memang sedang mempermainkanmu," ucapnya pelan. "Dia pasti akan melakukan sesuatu lagi nanti."
"Oh, apalagi malam ini aku sendirian di sini. Bagus sekali. Aku penasaran bagaimana dia akan mempermainkanku lagi kali ini. Apa mungkin dia akan mulai menjatuhkan televisiku, atau apapun itu?" Jawabku sarkastis.
"... bahkan dia juga sampai bilang hal yang sama."
"Si pelaku?" Aku menangkap adanya keanehan yang dilontarkan oleh Kamui dari tadi. Dia seperti berbicara sendiri, dan seolah-olah ada orang lain di sini selain kami berdua. Jadi aku merasa sangat penasaran.
Dia tidak menjawab. Dia menatapku dengan dalam, wajahnya begitu serius. Sepertinya dia menimbang-nimbang, apakah dia harus mengatakan kebenaran. Entah itu memang benar-benar ada hubungannya denganku, atau sama sekali tidak ada. Tapi pada akhirnya, dia hanya tersenyum dan mengatakan satu kalimat yang simpel, "Kau akan tahu nanti."
Sialan. Dia senang sekali bermain teka-teki denganku. Dia meninggalkan banyak petunjuk yang membingungkan, lalu saat aku berusaha menebaknya, dia seakan hanya bilang, "Coba lagi nanti." Semua itu malah membuatku terkadang ragu, apakah aku bisa mempercayai orang ini.
"Baiklah, kita kembali ke topik awal. Apa kau merasa ada sesuatu yang menghubungkan antara kejadian pertama dan kejadian kedua? Para korban saling berteman atau hal lainnya? Yah, tentu saja selain praduga bahwa pelaku mungkin adalah orang yang sama."
"Setahuku, Morinaga dan Meiko tidak berteman, malah bisa dibilang mereka tidak saling mengenal. Tapi itu setahuku ya. Siapa tahu sebenarnya mereka berteman."
"Mereka satu jurusan?"
"Tidak. Meiko jurusan telekomunikasi, Morinaga jurusan ekonomi."
"Apa mereka pernah terlibat dalam kejadian tertentu? Kriminal atau supernatural?"
"Aku tidak tahu sampai sejauh itu."
"Apa kau pernah berteman dengan mereka sebelum kuliah?"
"Aku baru mengenal Morinaga pada semester 5, tapi aku sudah mengenal Meiko dari SD."
"Hmm, sulit ya. Mereka hampir tidak memiliki hubungan."
"Ah, kau menginterogasiku tadi, malah membuatku lapar. Aku mau keluar cari makanan."
"Oh! Aku baru ingat, untuk apa aku datang ke sini!" Dia langsung berdiri saking semangatnya. Seringai lebar muncul di wajahnya. "Shion, kau masih ingat dengan Leon di SMA-ku dulu?"
"Si alumnus pirang itu? Oh, aku ingat."
"Kau tahu? Dia masih ingat dengan kita berdua, jadi melalui Len, dia mengundang beberapa alumnus termasuk aku dan Len untuk merayakan tahun baru di rumahnya. Dan entah kenapa dia juga mengundangmu."
"Trus kenapa dia mengundangku juga?"
"Aku tidak tahu apa alasannya, tapi kau harus datang! Daripada kau sendirian di sini? Ditemani oleh siapapun itu yang mungkin saja saat ini sedang mengawasimu? Empat malam itu sama sekali tidak menyenangkan dihabiskan seorang diri loh."
"Oh, haha. Lucu sekali. Aku sama sekali tidak takut dengan omong kosongmu itu."
"Hei, aku baru ingat. Len bersemangat sekali ingin datang ke pesta tahun baru Leon, jadi tadi siang dia kelabakan mencari tumpangan selama 2 hari—kebetulan rumahnya lumayan jauh dari rumah Leon. Dia ingin menginap di apartemenku, tapi kuusir dia karena aku tidak mau ada orang yang menyentuh barang-barangku."
"Tapi dulu rasanya aku pernah menginap di tempatmu?"
"Itu dulu. Sekarang ada sesuatu yang kusembunyikan di lemariku, jadi aku tidak mau ada yang membukanya sembarangan."
"Apapun yang kau sembunyikan itu, aku hanya berharap itu bukan mayat seseorang." Aku spontan mengucapkannya, tapi aku tidak menduga dengan apa yang terjadi setelahnya. Awalnya kupikir Kamui sedang bosan dan memutuskan untuk menyalakan televisi. Tapi aku tiba-tiba sadar bahwa dari tadi dia tidak bergerak dari tempatnya berdiri yang agak jauh dari meja televisi, dan televisi ini tidak punya remote control.
Jadi, kenapa televisinya bisa menyala sendiri?
"Kamui, kau yang menyalakan televisinya?"
Dia tidak menjawab. Dia terlihat sama terkejutnya denganku. Matanya yang berwarna biru memperhatikan televisi yang menayangkan acara televisi pada umumnya, hanya saja tidak ada suaranya.
"Ah, m-mungkin televisinya yang rusak. Mungkin nanti akan kuperbai—"
"Shion."
Dia berbisik memanggil namaku. Telunjuk yang dia letakkan di depan bibir mengisyaratkanku untuk diam. Jadi aku pun menurut dan hanya bisa diam. Karena aku bingung apa yang harus kuperhatikan, jadi aku memutuskan untuk memperhatikan Kamui yang berdiri dan juga terdiam.
Mungkin dia mendengar sesuatu yang tidak kudengar?
Entah kenapa aku tiba-tiba melirik pada celah lemari televisi, dan seperti ada seseorang... bukan, sesuatu mengintip dari sana. Tapi tidak sampai satu detik aku menatapnya, dia langsung bersembunyi.
Oh, hell.
"Kamui... kau melihatnya?"
"Melihat apa?"
"Itu... di celah lemari."
"Apa? Mana?" Dia menoleh untuk mengamati objek yang kusebutkan. Tapi tentu saja dia tidak akan melihat apa yang kumaksud karena dia sudah menghilang dari sana. "Biar kuperiksa."
Dia berjalan menghampirinya dan menyalakan senter smartphone miliknya. Dia pun menilik pada celah lemari tanpa menimbulkan suara, kemudian menjauhinya dengan wajah datar.
"Tidak ada apa-apa."
"Oh, berarti aku yang salah lihat." Padahal aku yakin, aku sepertinya melihat sesuatu tadi. Ah, mungkin hanya aku yang berhalusinasi.
"Oke. Kembali ke topik awal. Jadi aku tahu kau tidak mau aku menginap di sini—tapi bagaimana kalau aku membawa Len bersamaku?"
"A-apa—"
"Setidaknya kami akan menemanimu selama dua malam. Daripada kau sendiriaan?" Dia mulai menyeringai. Oh, Tuhan. Orang ini...
"Kau ngotot sekali ingin menginap."
"Aku sekalian ingin menyelidiki sesuatu."
"Aku hanya berharap semoga saja apapun yang ingin kau selidiki itu tidak menimbulkan kekacauan lainnya dalam hidupku."
"Oh, tapi aku tidak menjamin ini akan berakhir menyenangkan."
Aku memelototinya. Tapi sepertinya dia pura-pura tidak tahu dan terus saja melanjutkan ucapannya, "Pertama-tama, aku ingin memastikan. Kau ikut ke pesta tahun baru Leon, tidak?"
"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Kalau kalian pergi, maka aku akan sendirian di tempat yang entah sejak kapan menjadi menyeramkan ini."
Seringainya pun semakin melebar. Aku merasa kesal dengan reaksinya itu, tapi di saat yang bersamaan aku juga merasa aku merindukan semua ini.
Mungkin setelah semua urusan yang gila ini sudah selesai, aku akan ikut lagi dalam petualangan hantu yang dipimpin olehnya nanti. Ya mungkin, kalau aku selamat.
.
.
to be continued.
.
.
31122016. WHBY24. YV
.
.
Changelog.
31012017. Memperbaiki kesalahan saya dalam mengetik "3 hari 4 malam" menjadi "4 hari 3 malam". Terima kasih untuk owo-san atas koreksinya!
