Haruna Monogatari
Disclaimer :
Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi
(And the Picture)
Warn. : OC, Alur mengikuti anime KnB, Typo(s), dll.
RnR?
"Mungkin lebih tepatnya mengatur teknik yang akan dilakukan oleh Kise-kun." Jawab Haruko.
"Eh? Apa kita bisa melakukannya?" Tanya Hyuga.
"Haruko-chan… aku tau kalau pengetahuanmu mengenai basket memang rendah, tapi kita saat ini sedang terdesak! Jangan main-main!" Riko sedikit kesal.
"Dengarkan apa yang akan aku katakan!" Wajah Haruko berubah kesal.
"Kita tidak punya banyak waktu!" Bentak Riko.
"Tapi aku-"
"Jika kau tidak punya solusi yang bagus, lebih baik diam saja." Ucap Riko. Haruko pun tertunduk kecewa.
"Tunggu sebentar! Aku ingin tau strategi Haruko." Ucap Kiyoshi.
"Aku juga. Maksudku, jika memang kita bisa melakukannya, itu akan menjadi peluang kita." Ucap Kuroko.
"Kuroko benar." Ucap Hyuga. "Haruko, jelaskan sekarang."
"U-um." Haruko mengangguk. "Aku sudah mengamati pertandingan ini dengan baik, terutama teknik Kise-kun. Kita bisa mengatur teknik yang akan dilakukan oleh Kise-kun. Dia menggunakan teknik Kiseki no Sedai menurut situasi. Dan kalian pernah melawan Kiseki no Sedai sebelumnya. Di antara kalian, ada satu orang yang bisa menahan kekuatan mereka." Haruko menoleh ke Kagami.
"Eh?" Semua pun terkejut.
"Kise-kun menggabungkan teknik Kiseki no Sedai, tapi dia tidak pernah mengulang teknik yang sama dalam sekali offense ataupun defense. Dia menggunakan teknik Aomine-kun saat mendribble bola karna Aomine-kun memiliki kecepatan yang paling tinggi. Jika ada yang menghadangnya di luar, dia akan menggunakan shoot Midorima-kun atau teknik Seijuro-kun. Tapi dia tidak bisa terus melakukan teknik Midorima-kun, jadi sepertinya dia akan sering menggunakan teknik Seijuro-kun. Dia juga tidak bisa menggunakan teknik Midorima-kun jika berada di dalam, karna itu dia pasti melakukan thor hammer milik Mura-kun." Haruko kembali menjelaskan.
"K-kau mengamatinya sampai seperti itu?"
"Tapi itu masih belum cukup. Tetsuya-kun, bisakah kau lebih mengamati Kise-kun?" Haruko menoleh ke Kuroko.
"Eh? Aku?" Kuroko bingung.
"Sejak dulu, kau selalu mengamati kebiasaan orang-orang. Aku sudah memberikan sedikit penjelasan, aku yakin kau bisa melakukan sisanya. Amati kebiasaan Kise-kun sekali lagi. Hanya kau yang bisa melakukannya, Tetsuya-kun."
"Wakarimashita." Jawab Kuroko. "Aku juga sudah mengamati Kise-kun sejak masuk ke lapangan. Dan setelah mendengar penjelasanmu, aku rasa aku bisa melakukannya." Kuroko pun yakin.
"Eh? Kau mau mengamati dari bench lagi?" Tanya Koganei.
"Tidak. Aku akan mengamati Kise-kun dari dekat. Aku memang tidak berguna jika terlalu lama berada di lapangan. Tapi bisakah aku terus bermain?" Tanya Kuroko.
"Baiklah. Sayang sekali aku juga tidak melihat stamina Kise-kun berkurang." Jawab Riko.
"Kalau begitu, jika kita tidak menghentikan Kise kita akan kalah. Itu artinya kita harus melakukan strategi Haruko dan mempercayakan peran itu pada Kuroko." Ucap Hyuga lalu semua pemain membentuk lingkaran. "Ayo! Masih ada kesempatan untuk menang! Semuanya jangan menyerah sampai akhir! SEIRIN FIGHT!"
"YAAAHH!" Teriakan Seirin pun menggema di lapangan.
"Machinasai, Kagami-kun…" Haruko menghampiri Kagami.
"Hm?"
"Karna Tetsuya-kun akan mengamati Kise-kun, tolong kau mengendurkan offense dan defense. Jika permainan kalian terlalu cepat, pengamatan Tetsuya-kun tidak akan membuahkan hasil. Kalian harus percaya dan mengerahkan seluruh kemampuan kalian."
"Baiklah." Jawab Kagami. Lalu para pemain memasuki lapangan. Seirin dan Kaijou sudah bersiap.
Haruko pun menatap Kise dan Kise menatap Haruko. Lalu Haruko tersenyum manis pada Kise. Tapi senyuman itu memiliki arti seperti 'Aku yang akan menang!' Lalu Kise membalas senyuman Haruko.
Pertandingan pun berlanjut. Kise melakukan free throw sebanyak dua kali dan semua masuk. Kaijou pun semakin mengejar ketertinggalan mereka.
"Haruko-chan… Gomen…" Ucap Riko.
"Daijoubudesu yo, Riko-san." Haruko lalu tersenyum manis.
"Aku tidak menyangka kau mengamati Kise-kun sampai seperti itu dan memiliki rencana itu."
"Aku hanya melakukan apa yang Onee-chan ajarkan padaku. Mungkin jika Onee-chan di sini, dia pasti akan menemukan cara ini lebih cepat dariku." Haruko mengalihkan pandangannya ke lapangan. "Tapi jangan khawatir. Tetsuya-kun adalah pengamat yang hebat. Aku percaya dia bisa membimbing Seirin dan memenangkan pertandingan hari ini."
"Ya, kau benar." Riko tersenyum.
Lalu terlihat di lapangan Kagami berhadapan dengan Kise. Kagami melakukan Full drive dan melewati Kise, tapi Moriyama sudah di belakang Kise dan menghadang Kagami. Tapi tetap saja Kagami lebih unggul dan dengan mudah melewati Moriyama. Tapi Kise bisa mengejar dengan kecepatan milik Aomine. Kagami pun terkejut lalu menghentikan langkahnya meski dalam kecepatan yang tidak biasa.
"Sugoi…" Gumam Haruko.
Kagami pun mencoba menembak saat dia sudah berhenti, tapi Kise menghentikannya dengan block Murasakibara. Kaijou punmendapatkan bolanya. Semua berlari menuju ring Seirin. Kise mendapat bola dan dihadang Kagami di luar. Lalu Kise mengecoh Kagami dengan form menembak Midorima, tapi setelah Kagami melompat, Kise mengoper bolanya pada Moriyama.
"Dia menggunakan teknik Midorima untuk mengecohnya?!" Riko terkejut.
"Naruhodo… Mattaku!" Haruko menyentuh dahinya dengan senyuman pasrah dan semua menoleh padanya. "Sekarang aku harus bagaimana, Onee-chan?" Gumamnya.
"Eh?"
"Apa yang kau bicarakan Haruko-chan?" Tanya Riko.
"Tidak… aku hanya tidak menyangka Kise-kun akan melakukan hal itu." Jawab Haruko.
Dan saat itu, Kise melakukan Hitori Alley-oop dengan kecepatan yang tidak biasa. Setelah itu, Seirin kembali menyerang. Hyuga mengoper bola pada Kagami dan Kagami berusaha mencetak angka, tapi Kise tidak mengizinkannya dan berhasil menangkis bola itu. Bola pun hendak keluar tapi Hyuga berusaha mengambilnya. Dia mengejarnya hingga tubuhnya keluar lapangan dan menabrak bench, lalu dia terjatuh. Haruko dan Fukuda yang duduk di bench pun ikut terjatuh. Haruko terjatuh hingga kepalanya terbentur lantai.
"Kapten!" Semua pun terkejut.
"Daijoubu da. Maaf Fukuda, Haruko." Ucap Hyuga dan dia berdiri.
"Ti-tidak apa-apa…" Jawab Fukuda.
"Kapten! Darah…" Kuroko menghampiri Hyuga dan khawatir melihat darah keluar dari mulut Hyuga.
"Mulutku hanya terluka sedikit saja. Jangan khawatir." Jawab Hyuga.
"Itai…" Gumam Haruko berdiri sambil mengusap kepalanya yang sakit.
"Haruko-chan?" Kuroko menghampiri Haruko. "Daijoubudesu ka?"
"Um!" Haruko mengangguk. "Jangan khawatirkan aku. Tetsuya-kun harus tetap fokus dan melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Kami semua percaya padamu." Haruko tersenyum.
"HAI!"
Pertandingan pun berlanjut. Kedua tim berjuang mencetak angka dan Kuroko masih tetap mengamati Kise. Lalu Kaijou unggul di sisa waktu tiga puluh sembilan detik. Riko pun mengambil time out dan para pemain kembali ke bench.
"Aku sudah bisa mulai membaca permainan Kise-kun." Ucap Kuroko.
"Benarkah? Kalau begitu, jika semua berjalan lancar…"
"Masih belum sempurna tapi untuk mempersempit permainannya aku ingin mengamati Kise-kun lebih dekat lagi. Jadi aku memiliki permintaan."
"Apa itu?"
"Seperti yang dikatakan Haruko-chan, Kise-kun memiliki dua kebiasaan. Yang pertama saat dia berlari menyerang, dia akan meniru teknik Aomine-kun, dan yang satu lagi adalah dia menghindari meniru teknik yang sama secara beruntun. Aku masih belum punya data yang cukup tapi dari dua kebiasaan itu, kita bisa memaksanya bermain seperti kemauan kita."
"Hum!"
"Pertama, aku akan membuatnya meniru Aomine-kun, dan saat dia masuk inside, dia tidak akan meniru Midorima-kun. Lalu Kagami-kun akan membantu, dia akan menghindar dengan teknik Akashi-kun. Sisanya adalah teknik yang paling powerfull, thor hammer." Jelas Kuroko.
"Hebat Kuroko! Masih belum sempurna? Tapi kelihatannya kita akan berhasil!"
"Jika kita bisa mengetahui pergerakan Kise selanjutnya maka…"
"Kita mungkin bisa menghentikan mereka. Tapi itu jika dia masih bermain sendirian seperti saat SMP. Kise-kun yang sekarang berbeda. Saat umpan sudah menjadi pilihan, aku sudah tidak bisa mempersempit gerakannya lagi. Hontouni sumimasen. Aku dulu yang bilang kalau aku ingin dia bermain sebagai tim tapi aku tidak menyangka dia akan benar-benar melakukannya. Jadi permintaanku adalah tidak untuk menghentikan Kise-kun."
"Tapi… itu saja belum cukup. Kita tetap harus mencoba menghentikan Kise-kun dengan merebut bolanya. Izuki-san, gunakan eagle spear. Tapi jika kita gagal dan Kise-kun berhasil mencetak angka, Kita harus segera membalasnya. Kita tidak tau mana yang akan terjadi, karna itu Kagami-kun harus berlari menuju ring Kaijou apapun yang terjadi." Ucap Haruko.
"Itu juga bisa dilakukan!"
"Tapi untuk berjaga-jaga, kita harus mencetak angka di awal pertandingan. Serang dengan kerja sama tim dan kecepatan tinggi." Ucap Haruko.
"Maksudmu kita melakukan run-and-gun?"
"Run-and-gun? P-pokoknya lakukan yang terbaik!"
"Baiklah!" Lalu semua pemain menuju lapangan.
Permainan berlanjut dan berjalan sesuai dengan rencana Haruko dan Kuroko. Seirin melakukan Run-and-gun dan berhasil mencetak angka meski mereka cukup kesulitan. Lalu saat Kaijou menyerang, Seirin benar-benar melakukan strategi mereka. Kuroko menghadang Kise dan Kise meniru Aomine, lalu Kagami menghadangnya dan Kise meniru Akashi, dan akan melakukan thor hammer milik Murasakibara. Tapi sebelum Kise melompat, Izuki berhasil menangkis bola dengan menggunakan eagle spear. Bola pun lepas dari tangan Kise.
Lalu Kise pun segera meraih bolanya dan melemparnya pada Kasamatsu dan tanpa disangka Kasamatsu berhasil mencetak angka. Tapi Seirin tidak gentar. Meski sisa waktu kurang dari empat detik, Seirin tetap melakukan strategi mereka. Kagami berlari menuju ring Kaijou setelah menerima bola dari Kiyoshi dengan kecepatan tinggi.
Tapi Kise berhasil mengejar dan mereka pun berhadapan. Kagami lalu melompat dan melakukan form Meteor jam. Tapi Kise juga ikut melompat dan hendak menghentikan Kagami.
"KAGAMI-KUN!" Kuroko sudah ada di belakang Kagami.
Lalu Kagami pun segera melempar bola ke ring dan memantulkan bolanya. Kuroko mendapatkan bola itu lalu melakukan phantom shoot. Dan bola masuk saat bell tanda pertandingan usai berbunyi. Setelah itu, wasit meniup peluit dan poin Seirin pada papan score bertambah.
"BERHASIL!"
"YOSH!"
"KITA BERHASIL!"
Seirin memenangkan pertandingan dengan score 81-80. Dan semua bersorak untuk kemenangan Seirin.
"Kalian… berhasil! Kita menang!" Haruko pun tersenyum.
"Kita berhasil!"
"Kau berhasil Haruko!"
"Onee-chan… Kami menang! Kami membawa kemenangan untukmu!" Haruko menangis bahagia dan menghampiri Kuroko dan Kagami di lapangan. Tapi dia berhenti saat melihat Kise menghampiri Kuroko dan Kagami dan berbicara dengan mereka. Lalu tiba-tiba saja kepala Haruko terasa sakit dan tubuhnya terasa sangat lelah.
'A-are? Ada apa? Kepalaku sakit sekali… dan tubuhku terasa sangat berat… Tetsuya-kun… apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa aku tidak bisa mendengar mereka? Kenapa pandanganku menjadi kabur? Apa yang terjadi?'
Haruko menahan rasa sakitnya dan berusaha berjalan menuju bench lalu mendudukkan diri.
'Aku tidak boleh tumbang sekarang. Kami semua masih ada di lapangan. Aku tidak ingin merepotkan mereka. Bertahanlah Haruko…'
Lalu kedua tim pun berbaris untuk memberi hormat. Haruko dan yang ada di bench juga berdiri. Setelah itu para pemain kembali ke bench. Haruko hanya diam saat para pemain kembali. Dia tidak membagikan handuk dan minuman.
"Kita berhasil!"
"Kita sampai ke final!"
"Tinggal selangkah lagi!"
"Are? Kau tidak membagikan handuk dan minumannya?" Tanya Koganei pada Haruko.
"…" Haruko hanya diam dan menyembunyikan wajahnya di balik poninya.
"Haruko?" Koganei menggerakkan tangannya di depan Haruko.
"…"
"O-Oi…" Semua pun melihat ke arah Haruko.
"Haruko-chan?" Kuroko berdiri di depan Haruko.
"…" Haruko masih tidak menjawab.
"Ne… Haruko-chan?" Panggil Kuroko dengan lembut.
"…"
"Ada apa?" Kuroko meraih pipi Haruko dan Haruko perlahan mendongak. Dia menatap Kuroko dengan pandangannya yang kabur lalu meletakkan kepalanya pada pundak Kuroko. "Haruko-chan?"
"Tsukaremashita." Bisik Haruko.
"Sudah selesai, Haruko-chan." Kuroko mengusap kepala Haruko. "Semua berkat kau. Arigatou gozaimasu."
"Lebih baik kita segera kembali ke ruang locker agar dia bisa istirahat." Ucap Hyuga.
"Hai." Jawab Kuroko. "Kau bisa berjalan?" Tanya Kuroko pada Haruko.
"Um." Jawab Haruko lirih.
"Kau bantu Haruko, aku akan bawakan tasmu." Ucap Kagami mengambil tas Kuroko.
"Hai." Kuroko mengangguk. "Ayo, Haruko-chan." Haruko lalu menoleh saat dia mendengar Kise menangis karna kalah dari Seirin.
'Gomennasai, Kise-kun. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih dan kecewa.'
Dan mereka pun kembali ke ruang locker. Haruko duduk bersandar di pundak Kuroko.
'Kenapa selalu berakhir seperti ini? Kenapa aku selalu menyusahkan Tetsuya-kun? Jika aku terus merepotkannya, dia pasti akan meninggalkanku.'
Haruko pun menangis.
"Eh? Haruko-chan? Ada apa? Apa ada yang sakit?" Tanya Kuroko.
"Hmm…" Haruko menggeleng. "Tetsuya-kun tidak akan meninggalkan aku kan?"
"Tentu saja tidak. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Datte… aku selalu saja merepotkan Tetsuya-kun…"
"Kenapa Haruko-chan berbicara seperti itu? Aku mencintai Haruko-chan dan aku akan melakukan apapun. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Janji?"
"Janji." Kuroko tersenyum.
"Arigatou." Haruko tersenyum tipis lalu setelah itu matanya terpejam.
"HARUKO-CHAN!"
"Eh?"
"Haruko!"
"Ada apa? Apa yang terjadi padanya?"
"Oi!" Semua pun kaget dan terlihat panik.
"Dia kelelahan. Ini pasti juga efek karna Haruna-chan sedang sakit." Kuroko menggendong Haruko. "Aku akan membawanya ke ruang kesehatan." Ucap Kuroko.
"Ayo cepat!" Lalu Riko, Hyuga, Izuki, Kagami dan Kiyoshi ikut mengantar Haruko, sedangkan yang lain membereskan barang-barang.
Kuroko membaringkan Haruko setelah sampai di ruang kesehatan. Sayang sekali dokter jaga sudah tidak ada.
"Aku akan menghubungi Kei-san." Kuroko mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kei.
"Wajahnya pucat sekali." Ucap Izuki.
"Dia terlalu memaksakan diri. Kuroko dan Haruna bilang fisik Haruko sangat lemah." Ucap Kagami.
"Mungkin ini juga karna dia terjatuh dan kepalanya terbentur saat pertandingan tadi." Hyuga memasang pose berpikir.
"Maksudmu saat kau terjatuh karna mengejar bola dan menabrak bench?" Tanya Kiyoshi.
"Ya. Saat itu dia tidak langsung berdiri dan terlihat kesakitan."
"Kau benar, Hyuga-kun. Apa yang harus aku katakan pada Kei-san nanti?" Riko pun mulai panik.
"Hmmh…" Haruko perlahan membuka matanya.
"Ooh… dia sudah sadar!" Ucap Izuki.
"Tetsuya-kun…" Haruko menyebut nama Kuroko dengan suara lirih.
"Kuroko-kun sedang menghubungi Kei-san. Dia akan segera kembali." Ucap Riko.
'Aku ada di ruang kesehatan? Apakah aku pingsan? Haaahh… aku merepotkan mereka semua.'
Pikir Haruko yang menatap langit-langit ruangan itu lalu dia berusaha duduk.
"Itai…" Haruko memegang kepalanya.
"Haruko-chan?" Kuroko menghampiri Haruko. "Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?"
"A-atama itai…" Jawab Haruko lirih.
"Sudah kuduga pasti karna terjatuh tadi." Ucap Hyuga. "Maaf ya, Haruko."
"Hyuga-san tidak perlu meminta maaf begitu. Ini bukan salah Hyuga-san. Ini salahku karna memaksakan diri." Jawab Haruko dengan senyuman tipis.
"Aku sudah menghubungi Kei-san, dia masih ada di studio dan sebentar lagi akan pulang." Ucap Kuroko.
"Um." Haruko mengangguk. "Arigatou, Tetsuya-kun."
"Apa kau bisa berdiri? Kita harus segera meninggalkan tempat ini." Ucap Hyuga.
"Um." Haruko mengangguk lagi.
"Ayo, Haruko-chan." Kuroko membantu Haruko berdiri dan berjalan. "Kau sudah bekerja keras hari ini." Ucap Kuroko saat mereka berjalan
"Aku tidak melakukan apapun, Tetsuya-kun. Maaf… Kau sudah lelah tapi aku malah-"
"Lagi-lagi berkata seperti itu." Potong Kuroko. "Aku sudah berjanji akan menjagamu. Kau tidak pernah merepotkan dan menyusahkanku, Haruko-chan." Perkataan Kuroko hanya dijawab senyum tipis oleh Haruko.
"Semua berkumpul di sana." Hyuga menunjuk rombongan Seirin yang berdiri di lorong lalu menghampiri mereka.
"Yosh! Kita menang!" Furihata bersorak.
"Jujur saja aku tidak percaya! Kita akhirnya bisa sampai di final!" Ucap Koganei.
"Ada apa, Kuroko?" Tanya Tsuchida pada Kuroko yang terus mengamati tangannya.
"Tidak… selama ini aku hanya mengoper dan tidak menembak, dan ini pertama kalinya aku melakukan buzzer beater." Jawab Kuroko.
"Woohhh… benar juga!" Ucap Koganei.
"Aku merasa senang setengah mati." Muncul kilau-kilau di sekitar wajah Kuroko dan sepertinya wajahnya juga menunjukkan ekspresi bahagia.
"Wuuaaa! Aku belum pernah melihat wajah Kuroko seperti ini!" Kagami dan trio kelas satu memasang wajah aneh setelah melihat ekspresi Kuroko.
"Ahahaha tidak mungkin kita tidak senang." Kiyoshi tersenyum.
"Meski hanya bayangan, bukankah kau pahlawan hari ini?" Izuki juga tersenyum.
"Dasar! Kalian jangan terlalu senang! Pertarungan masih belum selesai ahahaha…" Hyuga juga memasang wajah bahagia dengan kilau-kilau di sekitar wajahnya.
"Bukankah wajah kapten juga terlihat senang! itu menjijikkan!" Kagami jadi kesal.
"Berhentilah main-main!" Riko memukul kepala Hyuga dengan kipas kertas.
"Masih satu langkah lagi menuju nomor satu di Jepang! Demi Kaijou dan tim yang kita kalahkan sampai sekarang, kita harus menang!" Ucapan Riko membuat candaan mereka berhenti.
"Yosh! Ayo pulang!" Teriak Hyuga.
"YAH!"
"Are? Are? Tidak ada?!" Kagami panik seketika saat mengetahu cincinnya hilang.
"Ada apa tiba-tiba?" Tanya Hyuga.
"Cincinku hilang!"
"Haahh?"
"A-aku akan mencarinya sebentar!" Kagami berlari meninggalkan rombongan.
"Oi Kagami!"
"Haaahhh dia itu! Kuroko, susul dia!"
"Hai!" Kuroko pun melangkah tapi berhenti saat Haruko menarik lengan bajunya.
"A-ano…" Haruko menatap Kuroko dengan tatapan seperti 'jangan-tinggalkan-aku'
"Ayo, Haruko-chan." Kuroko tersenyum lalu menggandeng tangan Haruko.
"Kagami-kun sepertinya ada di lapangan." Ucap Haruko saat mereka dalam perjalanan.
"Baiklah, kita ke lapangan." Kuroko mengeratkan genggaman tangannya. "Apa kepalamu masih sakit?"
"Sudah sedikit berkurang."
"Setelah ini kau harus pulang, mengerti?"
"Eh? Tapi aku harus di rumah sakit-"
"Haruko-chan…" Kuroko menatap Haruko dengan tatapan serius.
"Wakarimashita." Jawab Haruko. Lalu mereka pun terkejut saat Kagami berdiri bersama Midorima dan membicarakan tentang Akashi dan timnya. Haruko dan Kuroko pun terdiam saat mendengar pembicaraan Kagami dan Midorima.
"Yo! Apa yang kau lakukan di sini?" Takao menghampiri Kuroko.
"Takao-kun?"
"Are? Shin-chan bersama dengan Kagami? Ahahahaha seperti saat musim panas saja." Ucap Takao. "Yahh… tapi hari ini rasanya sulit sekali untuk tertawa. Aku pergi dulu. Berjuangalah untuk besok." Takao maju dan memanggil Midorima. "Oi Shin-chan! Di sini kau rupanya. Ayo pulang!"
"Kagami, aku beritahu kau sesuatu." Midorima berbalik. "Akashi Seijuro itu ada dua."
"Apa yang kau katakan? Apa maksudnya itu?" Tanya Kagami.
"Sisanya tanyakan saja pada Kuroko nanodayo. Sampai jumpa. Berjuanglah sebisamu nodayo." Midorima melangkah pergi.
"Midorima-kun…" Panggil Haruko.
"Haruko? Di mana Haruna? Kenapa malah kau yang membantu Seirin nodayo?" Midorima berdiri di depan Haruko.
"Dia sedang sakit dan aku menggantikannya sementara." Jawab Haruko.
"Kau adiknya kan? Kalian mirip sekali." Ucap Takao.
"Kami saudara kembar." Jawab Haruko.
"Heehh… pantas saja. Kalian sama-sama hebat."
"Arigatou. Tapi Onee-chan lebih hebat dariku."
"Haruko, tolong sampaikan permintaan maafku pada Haruna nodayo." Midorima menaikkan kacamatanya.
"Hm? Kenapa?"
"Aku tidak bisa menepati janjiku nodayo. Aku tidak bisa mengalahkan Akashi." Jawab Midorima.
"Eh?" Haruko terkejut lalu menggigit bibir bawahnya. "Gomen, Midorima-kun. Aku tidak bisa menyebut nama orang itu di depan Onee-chan. Keadaan Onee-chan saat ini… Aku bahkan tidak tau dia akan baik-baik saja atau tidak."
"Apa maksudmu nanodayo?! Apa yang terjadi padanya?" Midorima terkejut.
"Onee-chan… sedang di rawat di rumah sakit karna terluka parah. Dan yang melukainya adalah sepupu kami, Ai-nee." Suara Haruko bergetar Midorima hanya diam dan terkejut. "Kau bisa memberitahukan hal ini pada yang lain, tapi jangan katakan apapun pada Seijuro-kun."
"HAH?! Maksudmu keadaan Haruna saat ini sedang kritis?!" Takao terkejut.
"Um." Haruko mengangguk.
"Baiklah. Besok aku akan memberitahukan hal ini pada yang lain nodayo. Sampai jumpa." Midorima meninggalkan tempat itu dan terlihat dia sangat terkejut dengan kabar dari Haruko.
"Ayo, Haruko-chan." Kuroko kembali menggandeng tangan Haruko. Haruko hanya menunduk dan mengikuti Kagami dan Kuroko.
"Kau mendengar pembicaraan tadi kan?" Tanya Kagami. "Apa maksudnya itu?" Pertanyaan Kagami membuat Kuroko berhenti.
"Aku akan beritahu nanti." Jawab Kuroko.
"Oi! Jangan membuatku penasaran!"
"Tidak. Aku ingin membicarakan ini dengan semuanya. Ini bukan hal yang sangat penting tapi seperti yang Midorima-kun katakan, aku ingin kalian mengetahuinya sebelum melawan Akashi-kun. Tentang masa lalu kami." Jawab Kuroko.
.
"Kalau begitu Kuroko, ceritakan." Tanya Hyuga saat mereka semua berkumpul di rumah Kagami.
"Kenapa di rumahku?!" Protes Kagami. "Dan juga kenapa Haruko juga ikut?!"
"Apa kau ingin kami mendengar cerita di luar saat musim dingin begini?!" Hyuga juga protes.
"Dakara nande?!"
"Chotto! Cerita ini ada hubungannya dengan pertandingan final besok, dengarkan dengan serius! Lagi pula apa kau tega meniggalkan Haruko-chan sendirian saat dia sedang sakit?!" Riko memarahi Kagami dan Kagami hanya diam lalu duduk. "Bagaimana keadaanmu, Haruko-chan?"
"Sudah lebih baik, Riko-san." Haruko tersenyum tipis.
"Yokatta."
"Apakah Kuroko mulai bermain basket sejak SMP?" Tanya Kiyoshi.
"Tidak. Aku melihat basket pertama kali saat kelas lima SD. Aku melihat pertandingan di TV dan kelihatan seru. Tidak ada yang spesial dari bagaimana aku memulainya. Dulu di daerahku tidak ada klub basket, jadi aku pergi ke lapangan basket terdekat dan bermain sendirian. Tapi suatu hari ada anak laki-laki yang ikut bermain bersamaku. Kami langsung akrab. Dia lebih hebat dariku dan mengajariku banyak hal. Tapi saat aku kelas enam SD, dia pindah rumah. Saat itu kami membuat janji. Saat kami SMP, kami akan masuk ke klub basket dan akan bertanding suatu hari nanti."
"Heehh… kau punya teman seperti itu ya?" Tanya Izuki.
"Tetsuya-kun tidak pernah memberitahukan hal ini padaku…" Haruko menatap Kuroko.
"Lalu, apa yang terjadi? Dia masih bermain basket kan?" Tanya Furihata.
"Tidak. Dia sudah berhenti karna salahku." Jawab Kuroko. "Aku rasa dia tidak akan pernah memaafkanku."
"Eh? Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Begitulah. Kita akan mulai pembicaraannya dari sini." Ucap Kuroko dan dia pun mulai menceritakan kisahnya saat di Teiko.
.
FLASHBACK
Pagi yang cerah. Para murid terlihat sibuk mempromosikan dan menawarkan klub mereka pada para murid baru. Ada juga yang sibuk mendaftarkan diri di klub yang mereka minati. Tapi dalam sekejap perhatian mereka tertuju pada dua orang gadis berambut pirang sebahu. Wajah mereka mirip, tapi yang satu bermanik merah darah, dan yang satu bermanik biru keabu-abuan.
"Siapa mereka?"
"Cantik sekali!"
"Bukankah mereka 'Haru Kyoudai' dari keluargaa Yorisato?"
"Keluarga Yorisato?! Yang benar saja!"
"Mereka adik Yorisato Kei!"
"Yorisato Haruna dan Yorisato Haruko!"
Mereka membicarakan dua gadis itu, Yorisato Haruna dan Yorisato Haruko. Sebenarnya Haruna dan Haruko sedikit terganggu dengan mereka, tapi keduanya hanya memberi mereka senyuman.
"Haruna, aku akan mendaftar di klub memasak." Ucap Haruko lalu dia berlari ke meja dengan papan yang bertuliskan klub memasak.
"Aku tinggal ya, Haruko." Haruna berjalan meninggalkan Haruko tanpa mendengar jawaban Haruko. Lalu tiba-tiba ada seorang siswa yang menghampiri Haruna.
"Permisi. Apakah kau Yorisato Haruna?" Tanya pemuda itu.
"Iya, benar."
"Aku Nijimura Shuzo, kapten tim basket. Jika kau tidak keberatan, maukah kau bergabung dengan kami?" Tanya pemuda itu dengan sopan.
"Bergabung? Tapi aku kan perempuan."
"Kau bisa menjadi manager, atau kau bisa menjadi asisten pelatih, apalagi kau adalah adik dari Yorisato Kei."
"Maaf, senpai. Tapi saat ini aku sedang tidak tertarik bergabung dengan klub manapun."
"Begitu ya? Tapi jika nanti kau tertarik, kau bisa menghubungiku."
"Hai. Arigatou." Haruna membungkuk singkat lalu dia berjalan menuju kelasnya.
.
.
"Aku akan mengikuti test di klub basket." Ucap Akashi saat dia sedang makan siang bersama Haruna dan Haruko di kantin sekolah.
"Heeh? Jaa ganbatte." Ucap Haruna datar.
"Haruna! Bukan begitu cara menyemangati orang lain!" Protes Haruko. "Lakukan dengan benar!"
"Hai Hai! Kalau begitu, aku akan menemanimu saat kau mengikui test nanti." Haruna tersenyum pada Akashi. "Kau bisa pulang duluan, Haruko. Aku akan pulang bersama Seijuro."
"Ryoukai!" Haruko berdiri. "Aku akan kembali ke kelas." Haruko meninggalkan Haruna dan Akashi.
"Apa kau yakin tidak mengikuti klub apapun?" Tanya Akashi.
"Saat ini aku tidak tertarik. Mereka ingin merekrutku hanya karna aku putri keluarga Yorisato dan adik Yorisato Kei yang dulunya pangeran di sekolah ini."
"Jangan bilang begitu. Tapi mungkin kau bisa memulai hal yang baru."
"Memulai hal yang baru?"
"Ya. Mereka semua mengagumimu kan? Kau juga belum pernah merasa ditolak sama sekali kan?"
"Lalu?"
"Mungkin jika kau masuk ke klub memasak, kau akan merasa di tolak dan kau harus berjuang dengan kekuatanmu sendiri agar mereka mau menerimamu." Ucapan Akashi membuat alis Haruna berkedut.
"Maksudmu kau ingin aku membakar gedung sekolah ini? HAA?!" Muncul siku di wajah Haruna.
"Aku hanya memberimu saran saja." Akashi berdiri. "Tapi aku tetap ingin kau bergabung dengan klub basket."
"Basket ya?"
"Kau bisa memikirkannya dulu. Sekarang ayo kita kembali ke kelas."
"Um." Haruna pun mengekor Akashi.
.
.
Haruna masuk kedalam GYM bersama dengan Akashi dan mencuri perhatian semua orang, termasuk pelatih.
"Are? Itu kan Yorisato Haruna?!"
"Apa yang dia lakukan di sini?"
"Apa dia akan bergabung dengan klub basket?"
Haruna pun berdiri di sudut lapangan sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Salah satu pelatih pun menghampirinya.
"Apakah kau ada urusan, Yorisato-san?" Tanya seorang pelatih.
"Tidak, Sensei. Saya hanya menemani teman saya mengikuti test ini saja." Jawab Haruna.
"Kalau begitu, ikutlah bersamaku. Kau bisa mengamati test ini dan memberi saran pada kami."
"Eh? Kenapa saya yang-"
"Sudah, ikutlah."
Haruan pun hanya menuruti pelatih itu dan berdiri di depan semua peserta test. Para peserta pun bertanya-tanya. Mereka mengira Haruna bergabung dengan klub basket menjadi manager. Karna merasa rishi dan terganggu, Haruna pun mulai berbicara.
"Jangan salah sangka. Aku datang ke sini hanya ingin menemani temanku mengikuti test ini, lalu Sensei memintaku untuk mengamati test kalian. Untuk saat ini, aku tidak berniat untuk bergabung dengan klub basket." Ucap Haruna sedikit bernada dingin karna dia sedang kesal.
"Jangan kasar seperti itu, Haruna." Terdengar suara Akashi berbicara lalu semua menoleh pada Akashi. "Mereka hanya penasaran saja, dan kau bisa menjawab mereka dengan cara yang lebih baik."
"Wakarimashita. Sumimasen, Minna-san." Haruna membungkuk.
"Sudah, tidak apa-apa. Kita akan mulai testnya."
Test pun di mulai. Haruna mengamati permainan dari setiap pemain.
"Sensei, apa Sensei merasa kalau ada tiga tingkat yang berbeda di antara mereka?" Tanya Haruna.
"Sasuga Yorisato Haruna. Aku juga merasa seperti itu."
"Nomor dua puluh sembilan Akashi Seijuro, nomor delapan, sebelas, dan dua puluh tiga. Mereka seperti berada di level yang berbeda dengan yang lain, lalu di bawahnya masih ada dua level yang berbeda."
"Kau benar."
.
Test pun selesai. Pelatih mulai membacakan hasil test. Dia memanggil nama-nama peserta yang tergabung di string ketiga. Biasanya, sisa peserta yang tidak terpanggil dalam string ketiga akan tergabung dalam string kedua. Tapi pelatih mengatakan kalau dia akan membacakan beberapa peserta yang akan tergabung dalam string pertama. Semua peserta test pun terkejut dengan hasilnya.
"Selanjutnya, anggota string pertama." Ucap pelatih.
"String pertama?!"
"Yang benar saja!"
"Yang akan membacakannya adalah Yorisato-san."
"Hai." Haruna menerima papan jalan dari pelatih lalu mulai membacakannya. "Anggota grup pertama adalah nomor delapan Aomine Daiki, nomor sebelas Midorima Shintarou, nomor dua puluh tiga Murasakibara Atsushi, nomor dua puluh Sembilan Akashi Seijuro."
.
"Aku tidak terkejut saat kau berhasil menjadi anggota string pertama tapi… Omedetou, Seijuro." Haruna tersenyum manis saat mereka berjalan bersama.
"Arigatou." Akashi juga tersenyum. "Tapi Haruna, bukankah sebaiknya kau bergabung saja dengan klub basket? Kita tidak akan tau jika tidak mencoba. Selama ini mereka hanya mendengar kemampuanmu lewat Kei-san, tapi mereka tidak mengetahuinya secara langsung bukan? Mungkin jika kau bergabung, mereka akan mengubah pandangan mereka tentangmu setelah mengetahui kalau kau benar-benar memiliki kemampuan dan bukan bayang-bayang Kei-san."
"Sebenarnya… aku menikmatinya. Aku menikmatinya saat aku mengamati test tadi. Aku jadi bisa membedakan tingkatan level para pemain."
"Lalu apa masalahnya? Kantoku juga mempercayaimu kan?"
"Kantoku dan beberapa kelas satu mungkin mempercayaiku, tapi bagaimana dengan para Senpai? Mereka tidak akan terima seorang gadis yang baru saja lulus SD menjadi asisten pelatih dan menguasai mereka."
"Jika kau memang memiliki kemampuan, mereka pasti akan mengakuimu."
"Entahlah… Aku bingung." Haruna menjadi lesu.
"Jangan lesu begitu, Haruna. Jika nanti kau sudah yakin, kau bisa bergabung kapan saja." Akashi tersenyum.
"Um!" Haruna mengangguk.
.
.
"Yorisato-san, Shirogane-kantoku memintamu menemuinya." Salah seorang murid yang merupakan anggota tim basket memanggil Haruna setelah bell tanda sekolah usai berbunyi.
"Shirogane-kantoku?"
"Dia adalah pelatih utama tim basket SMP Teiko. Aku akan mengantarmu ke ruangannya."
"Um." Haruna mengangguk lalu mengikuti murid itu.
"Kantoku, saya sudah membawa Yorisato-san." Murid itu mengetuk pintu.
"Masuklah."
"Permisi…" Ucap Haruna sambil memasuki ruangan itu.
"Maaf tiba-tiba memanggilmu. Aku pelatih utama tim basket Teiko, Shirogane Kozo. Kalau begitu, langsung saja. Yorisato Haruna, jadilah asistenku." Ucap Shirogane dengan tegas. Haruna pun terkejut sampai tidak bisa merespon apapun. Dia terdiam cukup lama untuk menenangkan diri. Setelah merasa sedikit tenang, dia pun mulai berbicara.
"Ano… sebenarnya…"
"Tenang saja. Aku tidak akan menganggapmu sebagai adik Yorisato Kei, tapi aku ingin melihat kelebihan apa yang ada padamu. Kau bermain basket cukup baik, dan kau selalu bisa menyelesaikan permasalahan di lapangan. Aku ingin melihat kelebihanmu dan mengembangkannya."
"Mengembangkannya?" Gumam Haruna. Dia berpikir sejenak.
"Pada awalnya aku ingin kau menjadi manager di tim, tapi setelah Akashi memberitahuku kalau kau yang mengajarinya bermain basket, aku berubah pikiran dan ingin menjadikanmu asistenku."
"Baiklah, Kantoku. Tapi sebenarnya aku tidak mengajarinya bermain basket, aku hanya menemaninya bermain saja. Dan juga, jika ternyata nanti aku tidak bisa melakukan apapun, Kantoku bisa memintaku berhenti dari tim."
"Baiklah. Aku berharap banyak padamu, Yorisato Haruna. Kau bisa datang latihan mulai hari ini."
"Hai!"
.
"Semuanya berkumpul!" Salah satu pelatih meminta para pemain untuk berkumpul. "Ada pengumuman penting yang akan dikatakan oleh Shirogane-kantoku."
"Mulai hari ini, latihan kalian akan diawasi oleh asistenku. Dia juga akan melatih pemain kelas satu yang ada di string pertama. Dia adalah Yorisato Haruna." Shirogane memperkenalkan Haruna.
"Yorisato Haruna kelas 1-C." Haruna membungkuk.
"Apa?! Kita akan diawasi oleh gadis mungil ini?!"
"Dan juga dia kelas satu!"
"Meski dia adik Yorisato-senpai, bagaimana bisa gadis kecil yang baru saja lulus SD mengawasi dan melatih kami?!" Banyak yang memprotes posisi Haruna. Tapi Haruna masih terlihat tenang.
"Kalian tidak mengerti." Akashi pun mulai bersuara. "Dia bukan gadis biasa. Dia berbakat dan jenius. Dan juga… Dia yang mengajariku bermain basket." Ucapan Akashi membuat semua terkejut.
"Jangan berlebihan. Aku tidak mengajarimu. Lagi pula, aku sudah berjanji pada Shirogane-Kantoku kalau ternyata aku tidak berguna, aku akan mundur." Ucap Haruna.
"Baiklah kalau begitu. Lakukan yang terbaik." Ucap Aomine.
"Um. Tentu saja." Haruna mengangguk. Latihan pun di mulai. Haruna pun benar-benar mengawasi mereka. Dia mencatat data-data yang dia peroleh dari hasil latihan hari ini.
.
"Akhirnya latihan selesai juga." Ucap Aomine yang sedang membersihkan bola-bola.
"Yorisato-san, apakah kau sudah mendapat data-data kami nodayo?" Tanya Midorima.
"Um. Aku sudah mendapatkannya. Midorima Shintarou, tembakanmu sangat akurat. Jika kau mau lebih melatihnya, kau akan bisa menembak three point dari mana saja. Aomine Daiki, meski permainannya tidak beraturan, dia selalu bisa menemukan celah dan mencetak angka dengan mudah. Kecepatannya juga luar biasa, dan dia berkembang dengan sangat cepat. Murasakibara Atsushi, meski terlihat pemalas, dialah yang paling bisa diandalkan dalam defense. Tubuh besarnya dapat menjangkau bola dari mana saja. Dan dia yang memiliki kekuatan paling besar." Haruna menjelaskan data yang dia peroleh pada para pemain.
"Wuuaaa kau hebat!" Aomine Kagum.
"Heehhh… Yori-chin hebat sekali ya." Murasakibara memakan snacknya.
"Kau tidak menjelaskan kemampuan Akashi nanodayo?" Tanya Midorima.
"Untuk apa? Aku selalu bermain dengannya, dan aku yang paling mengetahui bagaimana dia. Intinya, dia sangat hebat." Haruna memasukkan bola yang sudah dibersihkan oleh Aomine.
"Apakah rumor yang beredar itu benar?" Tanya Momoi.
"Rumor?" Tanya Akashi.
"Kalian tidak tau? Satu sekolah membicarakan kalian! Mereka mengira kalau kalian berpacaran." Ucap Momoi.
"Memang." Jawab Akashi dengan santai.
'plak!'
"Apanya yang memang?!" Haruna memukul kepala Akashi. "Jangan dengarkan rumor itu. Kami bersahabat sejak bayi. Lagi pula Momoi dan Aomine juga dekat kan?"
"Kalau itu… kami memang teman sejak kecil." Jawab Aomine.
"Nah kami juga sama. Iya kan, Sei?" Haruna tersenyum.
"Iya, kami bersahabat sejak bayi, tapi kami berjanji akan meni-" Ucapan Akashi terpotong saat Haruna membekap mulutnya.
"DIAM!" Wajah Haruna memerah.
"Akashi, jangan main-main dan cepat selesaikan semua ini agar kita bisa pulang nanodayo." Protes Midorima.
"Akashi-kun hanya bisa bercanda saat ada Yorisato-san saja ya." Momoi tertawa.
"Abaikan saja dia. Otaknya mungkin sudah mulai terganggu karna dia tidak berhenti berpikir dan tidak pernah bersantai." Ucap Haruna.
"K-kau kasar sekali, Yorisato."
"Sejak tadi kalian memanggilku dengan nama Yorisato ya?" Tanya Haruna.
"Tentu saja nodayo! Namamu kan Yorisato Haruna." Ucap Midorima.
"Kalian bisa memanggilku Haruna. Aku memiliki saudara kembar di sini, jika kalian memanggilku dengan nama itu, kami tidak akan tau kalian berbicara dengan siapa. Lagi pula, aku tidak terlalu terbiasa dipanggil dengan nama Yorisato." Haruna tersenyum.
"Kau yakin?" Tanya Aomine.
"Um."
"Benar juga. Saudara kembarmu Yorisato Haruko dari kelas 1-A kan? Dia sangat mirip denganmu, dia juga disukai semua orang." Ucap Momoi.
"Dia memang begitu. Dia sangat berbeda denganku. Dia bisa berteman dengan siapa saja, dia juga bisa membuat orang-orang disekitarnya merasa nyaman. Kalau aku tidak terlalu bisa bersosialisasi, aku tidak bisa akrab dengan banyak orang."
"Heehh… tapi Yori-chin kan baik, dan juga imut." Ucap Murasakibara dengan polosnya.
"Kau juga lucu, Mura." Haruna sedikit terkekeh.
"Jika sudah selesai ayo kita pulang." Ucap Akashi.
"Hai!" Jawab semuanya.
.
.
.
TBC
Yaahh… Setelah sekian lama akhirnya Hana bisa update :D maafkan Hana yang tidak bisa update cepat ya Minna-san. Tapi sebagai permintaan maaf, Hana perpanjang chapter ini. Hana juga bikin flashbacknya lebih detail dan tidak jadi Hana singkat :D
*Tapi maaf kalo ceritanya malah jadi ngaco
Saatnya balas review :D
ShiroiAn-san : Di chapter ini sudah ada Haruna :D
Kimiko Nao-san : Haruna sudah ada di chapter ini kok, tapi di flashbacknya :)
Rara-san : Sudah update :D maaf ya kalo updatenya lama
Neca-san : Ini sudah lanjut kok :D maaf nunggunya lama ya
ryinita putri-san : Heheheh kasihan Haruna kalo di injek-injek, nanti ceritanya gak bisa lanjut XD
Hanabi-san : Sudah update kok ini :D maaf yang updatenya lama banget
Yosh! Sampai jumpa chapter depan :D Hana akan usahakan update cepat, jadi sabar ya Minna-san :D
See you next chapter :D
