Disclaimer: Saint Seiya dan sebagainya adalah kepemilikan Masami Kurumada. Tulisan ini hanya dibuat berdasarkan kesenangan akan Saint Seiya semata dan tidak menghasilkan uang sepeser pun.

Chapter 24

Daun-daun hijau kini telah berubah menjadi kecoklatan. Beberapa mulai rontok dengan sendirinya dari pepohonan, membuat tanah yang kekuningan menjadi menakjubkan. Sekilas hawa dingin mulai menyebar. Orang-orang mulai mengenakan syal dan baju hangat.

Ini adalah saatnya Persephone kembali ke Underworld.

Hades tahu itu. Maka dari itulah mood-nya sangat berbau negatif sekarang. Ia seolah berada di atas garis pemisah dunia hitam dan putih. Bilamana Persephone ada di sekitarnya, mau tak mau perasaannya begitu aneh. Ia tak lagi ingin mengingat wajah istrinya itu, apalagi bersama dengannya semalaman. Hades sudah muak dengan kehadiran Persephone. Namun di lain sisi, ia merindukan istrinya walau hanya secuil. Hades mengakui dalam hati bahwa ia kesepian. Memang ada Nymph-Nymph bodoh yang menemaninya di ranjang, tetapi bukan itu.

Dewa Underworld itu menghela nafas sejenak lalu naik ranjang. Ia tak ingin menjemput istrinya di dunia atas sana. Biar saja jika Zeus memarahinya gara-gara hal itu. Hades tak mau tahu. Pikiran Hades benar-benar lelah.

Zeus melihat jam di dinding rumah Demeter. Sudah lewat satu jam dari apa yang sudah disepakati bersama. Pria berambut emas itu mulai tak sabaran dan berkali-kali menghentakkan jemarinya di meja. Hera yang duduk di sofa kini mulai menonton tv sambil menggilas keripik kentang dari lemari kue Persephone. Demeter sendiri tengah berdiri di depan kompor, sedikit bersandar. Raut wajahnya serius, bisa ditebak bahwa ia gugup akan kepergian anaknya sebentar lagi. Dikepalkannya kedua tangan sembari menggigit bibir bawah.

Persephone malah tak kalah gugupnya. Di tengah suasana yang berat, ia sendiri tengah mencabuti petal bunga sembari berpeluang.

Hades datang.

Hades tidak datang.

Itulah yang sedari tadi ia lakukan untuk mengisi waktu. Tinggal satu petal terakhir yang ia miliki sekarang dan ia tahu apa yang akan terjadi.

Hades tidak akan datang.

Somehow, Persephone merasa dadanya sakit. Persephone merasa telah dicampakkan oleh Hades, padahal Hades sendirilah yang telah membuat Persephone menjalani tragedi-tragedi menyedihkan ini. Hades telah menyeretnya ke Underworld, memperkosanya, menjadikannya istri padahal Persephone sendiri sudah mati-matian menolak dan terakhir menyelipkan biji buah delima yang membuat Persephone harus bolak-balik dari dunia hidup ke dunia mati. Kesengajaan Hades untuk tidak menjemputnya sudah bisa membuat Persephone menangis tersedu-sedu, namun harga dirinya sebagai wanita berusaha menahannya habis-habisan.

Zeus menggebrak meja dengan penuh amarah. "Si brengsek Hades itu tidak akan datang!"

Istrinya yang tengah menonton tv hanya melihatnya sekilas dengan tatapan bosan dan hambar lalu kembali pada kegiatannya. Kata-kata yang diucapkannya penuh dengan bisa. "Jika dia memang tidak datang, kenapa kita harus bingung? Biarkan saja Hermes mengantar anak itu ke sana."

Demeter mengerutkan kening. Demeter tahu betul betapa bencinya Hera kepadanya dan juga Persephone, ditunjukkan dengan ke-antiannya untuk tidak menyebutkan nama Persephone. Hera sendiri sudah menjadi seperti itu sejak Zeus menebarkan anak kemana-mana dengan berbagai wanita. Demeter pun sudah menjadi korbannya dan itu bukan rahasia umum lagi. Sudah sewajarnya Hera mengutuk Demeter dalam hati lalu dengan pintar memasang wajah cantik di depan. Siapapun tahu bahwa Hera sudah melenyapkan habis semua selingkuhan Zeus dan anak-anak haramnya. Dengan segala kekuasaan tersebut, Demeter tak berani melangkahi jalan Hera. Ia tak ingin anaknya kenapa-napa.

"Panggil Hermes." Perintah Hera. Zeus melihati Hera lalu menelan ludah. Pria itu melakukan tugasnya dan dalam waktu beberapa menit saja Hermes sudah datang.

"Hermes siap menjalankan tugas!" ucap remaja berambut biru itu.

"Antar Persephone ke Underworld, Hermes."

Keheranan menghiasi wajah tampan Hermes. "Haa...?"

"Seseorang yang kau sebut Dewa Underworld itu tidak muncul." Ucap Zeus dengan ketus.

Demeter melihat anaknya yang sudah siap dari tadi. "Kore, tinggallah lebih lama di sini."

Persephone melihat ibundanya dan menggeleng pelan. Mereka berdua tahu, Zeus dan Hera pun tahu bahwa tak ada yang bisa menghalangi kepergian Persephone ke Underworld.

"Ibu, aku akan pergi, tapi aku akan kembali." Ujar Dewi Musim Semi itu sembari memeluk ibunya. Demeter tak bisa menahan tangisan yang sudah ditahannya dari tadi. Mereka saling berpelukan.

Pelukan akhir, namun bukan terakhir.


Seorang dewi berambut emas panjang tengah celingukan di aula Olympus. Nampak ia membawa sebuah boks berwarna cokelat tua. Dewi itu berjalan ke taman dan menemukan seorang dewa yang memakai kamui berwarna merah dan kuning. Helm yang ia kenakan langsung menunjukkan siapa dia sebenarnya. Pria itu tengah memeriksa tombak dengan cermat.

"Ares, kemana orang-orang?"

Pria yang dipanggil Ares langsung menoleh dan tersenyum penuh nafsu melihat perempuan itu. "Orang-orang siapa?"

"Jangan bodoh! Tentu saja Zeus dan Hera. Ke mana mereka berdua?"

Ares berkedip berulang kali. Rambut panjangnya berkibar terkena angin semilir. "Persephone sekarang kembali ke Underworld. Tentu saja ayah dan ibu menemani mereka. Ayah tadi mengajakku, tapi aku tak suka menunggu seseorang. Membosankan."

"Oh, begitu... sayang sekali."

Pandangan mata Ares langsung tertuju pada boks yang dibawa wanita itu. Alisnya bertemu dalam keheranan. "Apa itu, Aphrodite?"

Dewi yang dipanggil Aphrodite itu langsung menyembunyikan kotak tersebut di belakang punggungnya, tersembunyi akan rambut pirangnya yang lebat mencapai kaki.

"Huh! Sekarang kau senang bermain rahasia denganku?" cemooh Ares. "Aku tak pernah menyimpan rahasia darimu!"

"Ares," panggil Aphrodite dengan manja, "ini rahasia antar perempuan."

"Perempuan?" Ares makin bingung. "Lalu apa maksudmu bertanya di mana orang-orang?"

Aphrodite tersenyum penuh misteri kepada Ares lalu pergi dengan melayangkan cium jauhnya. Meski enggan karena pertanyaannya tidak dijawab, Ares otomatis membalas ciuman itu dan kembali memeriksa tombak kesayangannya.


Thanatos mengambil koran yang telah diantar ke loker khusus. Ia mengambil dua. Satu untuk dia dan satu untuk Hypnos. Digulungnya satu koran dan ia kepit di ketiak, satu lagi ia baca sambil jalan. Mata abu-abunya membesar tatkala membaca judul yang kontroversial. UFO melayang di negara XXX.

"Ha, bodoh! Manusia-manusia itu memang bodoh. Mana ada yang namanya UFO." Biarpun berkomentar begitu, tetap saja ia baca isinya karena menarik. Di bawahnya ada judul yang nyaris sama. Alien.

Thanatos membacanya,

"Alien. Makhluk misterius yang tidak diketahui asal-usulnya. Keberadaan mereka masih merupakan misteri yang belum terpecahkan hingga sekarang. Mereka sering digambarkan sebagai makhluk kurus berkepala besar. Mereka tidak berambut sehingga kita bisa melihat berbagai pembuluh di dalam kepala mereka. Alien ini bermata besar dan bermuka kecil. Ada juga yang menggambarkan mempunyai mulut yang membentuk o besar. Ada juga yang mengatakan mereka tidak melangkah, melainkan terbang. Bangsa aneh ini sering datang melintasi bumi dengan mengendarai piringan bundar, seperti yang saksi mata XX katakan bahwa..."

Thanatos mengernyitkan dahi. Rasanya paragraf ini benar-benar 'tak masuk akal'. Dianya yang bodoh atau penjelasan ini yang tidak masuk akal, ia tak tahu. Dewa Kematian itu mendengus. Manusia memang suka mengumbar sesuatu yang tak ada, membuat orang lain percaya dan kemudian rasa percaya itulah yang menimbulkan berita bohong seperti ini.

Bicara tentang berita, ia jadi ingat kata-kata adiknya, Hypnos, bahwa jam bekernya hilang. Belakangan hari ini ia juga sering kehilangan benda-benda berharga miliknya. Sebetulnya bukan benda mahal, akan tetapi benda itu penting untuk hidupnya di alam liar (Elysium) ini. Thanatos mulai menghitung jari, mengingat-ingat apa saja yang hilang.

Eee... jam bekernya juga hilang, botol air mineral yang hendak ia buang juga hilang. Soldernya masih ada, tersimpan di kotak perkakas. Hmm... puzzle persegi yang nyaris ia tamatkan juga hilang. Anehnya, barang yang hilang itu selalu berhubungan dengan anak kecil dan termasuk pada kategori benda menarik.

Tidak mungkin ada anak kecil di Elysium.

Kecuali...

Thanatos langsung berlari menuju adiknya yang ada di taman, sedang duduk di kursi ditemani oleh Nymph-Nymph. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Tuannya.

"Thanatos?" ucap Hades. Bukannya berhenti untuk memberi hormat, Thanatos malah meluncur begitu saja sambil berteriak pada Tuannya,

"Rambut Hypnos melayang, Tuan Hades!"

Hades langsung berwajah aneh. Gabungan antara serius, heran, bingung dan tak mengerti jadi satu. Dewa Underworld tersebut memegang dagunya dan berpikir. Apa maksud 'rambut Hypnos melayang' tadi? Apakah rambut Hypnos tertiup oleh angin, atau Hypnos mengenakan rambut palsu dan kini tertiup angin di angkasa, atau mungkin ada maksud lain di balik kalimat ambigu itu?

Karena rasa ingin tahu, Hades mengikuti ke mana Thanatos pergi.

Dewa Kematian itu berhenti di dekat saudaranya. Nafas Thanatos ngos-ngosan. Hypnos yang hendak minum teh kini mengembalikan tehnya di meja. "Kau kenapa, adikku?"

"Hei, Hypnos...!" ucap Thanatos di sela-sela nafasnya, "...ini tentang barang-barang kita—kau panggil aku apa tadi?!"

"Adik. Memang kenapa? Kau memang adikku." Jawab Hypnos, kalem.

"Adik?! Aku kakakmu! Panggil aku kakak!"

"Sejak kapan kau menjadi kakakku?"

Thanatos menggebrak meja. "Aku lahir lebih dulu daripadamu!"

Alis Hypnos menjadi satu karena kata-kata 'daripadamu' yang Thanatos ucapkan. "Dia yang bijak menjadi contoh dari yang ceroboh."

"Ha!? Apa maksudmu?!" Hypnos mendengus akan kemenangannya dan menyeruput tehnya. Menahan marah, Thanatos berteriak kepada Nymph di sebelah Hypnos. "Buatkah aku juga, dasar bodoh!"

"Hei, hei, hei. Mereka melayaniku. Kenapa kau harus membentak mereka hanya karena teh?"

"Ha!" teriak Thanatos yang kini mencengkeram kerah baju Hypnos. "Tingkahmu kadang membuatku muak!"

"Lepaskan, Thanatos." Ucap Hypnos.

"Ada apa ini?" mereka langsung berpisah begitu mendengar suara bass itu. Mereka berdua menelan ludah. Thanatos berbalik perlahan, begitu pelannya bak mendengar suara hantu.

"Tuan Hades." Hypnos langsung berdiri dan membungkuk sopan, diikuti saudaranya. Nymph-Nymph yang ada di sana langsung berteriak senang melihat Hades dan berebut perhatian darinya.

"Bertengkar seperti anak kecil rupanya." Sindiran Hades memang selalu pedas.

"Tidak, Tuan Hades! Ini, makhluk bernama Dewa Tidur ini membuat saya muak!" tunjuknya kepada Hypnos.

"Hei, sejak kapan namaku Dewa Tidur? Namaku Hypnos bukan Dewa Tidur!" bela Hypnos, jelas tersinggung.

"Cukup."

Mereka berdua berhenti berkelahi.

"Aku kemari karena ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku." Hades duduk di kursi dengan santainya. Hypnos kembali duduk sementara Thanatos tetap berdiri.

"Apakah gerangan itu, Tuan Hades?"

"Sesuatu yang dikatakan oleh saudaramu itu, Hypnos."

Hypnos langsung melihat saudaranya dengan heran.

"Memangnya Thanatos bisa bicara serumit itu, Tuan Hades?" Hypnos langsung mendapat lirikan tajam dari sang Dewa Kematian.

"Tidak. Hanya saja ia berkata 'rambut Hypnos melayang' dan aku sama sekali buntu akan apa yang ia katakan." Hades meneguk teh yang disiapkan salah satu Nymph di situ. Kali ini giliran wajah Hypnos yang berubah aneh.

"Rambut saya...melayang..." Hypnos langsung diam dan berpikir keras untuk memecahkan teka-teki tersebut sementara Thanatos hanya bengong mengamati dua orang pintar di depannya.

"Memang saya bicara begitu, Tuan Hades?" tanya Thanatos, "kapan saya pernah bilang begitu?"

Nymph yang mengelilingi mereka juga ikut bingung. Beberapa dari mereka saling berbisik, bertukar informasi dan arti. Beberapa lainnya diam saja, benar-benar bingung.

"Tadi saat kita berpapasan."

Thanatos menjentikkan jarinya. "Oh, yang itu! Saya rasa saya bilang 'saya pergi dulu ke Hypnos', Tuan Hades. saya tidak ingat pernah bicara 'rambut Hypnos melayang'..."

Hades langsung diam mendengar hal itu. Ia melihat Hypnos di seberang bangku dan bertanya dengan nada kejam, "Kau punya cutter atau semacamnya, Hypnos?"

"Tidak, Tuan Hades, tapi hanya gunting pemotong rumput. Akan Anda pakai kapan?"

"Secepatnya, Hypnos."

Kali ini Thanatos yang benar-benar kebingungan. Sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut kepada Tuannya, Hades berdiri dan melangkah pergi.

"Kau membuat Tuan Hades muak, Thanatos."

"Apa?! Kenapa harus aku?!" ia menghampiri kursi yang Hades duduki tadi dan menyeretnya ke belakang sedikit, hendak duduk. Namun semua Nymph yang melayani Hypnos malah menahan Thanatos untuk duduk di sana.

"Hei, apa-apaan kalian ini?! Aku mau duduk di sini!" Thanatos menarik kursi itu ke arahnya, namun Nymph-Nymph yang tak mau kalah bergotong-royong menarik balik kursi bekas Hades itu.

"Kami tak kan menyerahkan kursi Tuan Hades!" teriak mereka. Tentu saja mereka ingin menikmati bau tubuh Hades di sana.

"Lepaskan! Aku ingin duduk di sini!" jerit Thanatos. "Hypnos! Bantu aku!"

Hypnos hanya bisa menarik nafas sambil menggeleng melihat tingkah mereka. Benar-benar seperti anak kecil.

Hades berjalan dengan langkah lebar. Setiap kaki yang menjejak ke lantai terlihat begitu mantap dan kuat seperti statusnya sebagai penguasa tunggal Underworld. Oh, bukan. Ia bukan lagi penguasa tunggal. Dia sudah menikah dengan seorang Dewi Musim semi bernama Kore, atau lebih dikenal dengan nama Persephone. Secara teknis, mereka berdualah yang memimpin Underworld dengan segala problematika yang ada. Namun realitanya, Persephone tak lebih baik dari sekedar pajangan di etalase toko. Dia hanya mempercantik Underworld tanpa memberi kontribusi apapun. Persephone adalah piagam penghargaan Hades karena ia telah memenangkan lomba 'pernikahan'. Hades dengan mudahnya sudah melengserkan dewa-dewa lain yang ingin menikahi Persephone. Hanya itu status Persephone di Elysium.

Begitu juga dengan di hati Hades.

Dilihatnya jam di pergelangan tangan. Sepuluh lebih tujuh belas menit. Seharusnya ia menjemput Persephone satu jam sebelumnya. Hades sudah bisa membayangkan wajah murka Zeus dan Demeter yang merengek-rengek agar anaknya tidak pergi ke liang kubur ini. Ia tak ingin mempermasalahkan bagaimana wajah Hera karena wanita itu pasti memasang topeng acuh.

Mungkin sekarang Persephone sedang berjalan di Inferno. Ia berharap Pandora tidak lagi melukai istrinya seperti dulu lagi. Setelah kejadian itu, hubungan Persephone dan Pandora memburuk. Hades tak tahu kenapa mereka selalu memasang pandangan ketus setiap kali bertemu. Pandora juga tidak mau memberitahunya, bahkan Persephone diam saja ketika ia tanya. Apakah hati perempuan memang seperti itu? Membuat pusing?

Hades tersenyum tipis. Tatkala Persephone sudah kembali ke Elysium ini, yang paling senang adalah pelayan pribadinya, Aela. Gadis itu kesepian karena ia tak punya teman dan sepertinya dia dan Persephone sudah memasang ikatan persahabatan yang kental. Jelas saja karena Persephone tak punya teman di sini kecuali Hypnos dan Aela. Persephone belum pernah bertemu dengan Thanatos. Wanita itu juga tak percaya sedikitpun kepada Hades dan otomatis Persephone akan menggantungkan kepercayaannya kepada sang pembantu.

"Hades."

Pria itu terlepas dari lamunan panjangnya dan melihat seseorang berambut dan bermata hijau di depannya. Senyum Hades langsung berkembang cepat.

"Kau hampir menabrakku." Minthe tersenyum manis. Hades menghampirinya dan mencium kening Nymph itu.

Semua orang tahu tentang perselingkuhan ini. Akan tetapi, mereka tak berani berbicara kepada siapapun.


Persephone berjalan ke arah istana. Rumahnya. Langkahnya pelan, mengisyarakatkan bahwa ia tidak ingin bertemu Hades cepat-cepat. Setiap kali melihat wajah Hades, dadanya begitu sakit. Tak pernah ia lupakan semua hal yang telah Hades lakukan untuknya, untuk mendapatkannya. Lalu setelah ia mengklaim piagamnya, ia pergi—pergi dengan wanita lain, dan parahnya wanita itu hanyalah Nymph. Lebih parahnya lagi, Nymph yang ada di Elysium.

Betapa benar semua nasehat yang diberikan ibunya dulu, bahwa pria sama sekali tak bisa dipercaya. Setelah pria menidurimu, mereka akan cepat bosan dan mencari yang lain hanya untuk memuaskan nafsu binatang mereka. Deskripsi itu benar-benar persis dengan Hades. Persis dengan apa yang ia lakukan sekarang.

Persephone menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat. Dipandanginya padang bunga Elysium dengan sayu. Semua keindahan ini tak bisa menahan rasa perih di hatinya. Seindah apapun bebungaan itu, sebanyak apapun itu; mereka tak bisa lagi mencerahkan wajahnya seperti dulu ketika ia masih lugu—masih bermain di taman Olympus tanpa beban sedikitpun.

Mata hijaunya menangkap sebuah sosok yang ia kenal.

"Hades...dan Hypnos." Wajahnya bercampur cemburu tatkala melihat ada banyak Nymph berkumpul di sana. Saking cemburunya Persephone tak sadar bahwa pria itu tengah bermain tarik bangku bersama Nymph-Nymph yang ada di sana. Dengan langkah penuh kemarahan, ia menghampiri pria itu dan menamparnya hingga wajahnya berpaling dengan keras.

"Ny-Nyonya Persephone...!" jerit Hypnos dengan kaget. Nymph yang ada di sana langsung terjerembab ke belakang bersama dengan kursi yang Hades duduki tadi. Mereka cepat-cepat berdiri dan menjauh dari Persephone, takut kena tamparan juga.

Pria berambut hitam itu memegang pipinya yang merah.

"Bagus. Sebelum aku masuk ternyata kau sudah bermain dengan wanita lain."

Laki-laki dengan pipi merah itu langsung menoleh ke Persephone dengan amarah yang luar biasa. Dan untuk pertama kalinya Persephone merasa malu lantaran telah menampar orang yang salah. Pria itu bukan berambut hitam, namun agak keabu-abuan. Perawakannya sekilas mirip Hades tapi Hades lebih menakutkan dan kekar. Pria ini bukan Hades!

"Apa maksudmu?!" jerit Thanatos, "kau wanita brengsek! Apakah kau tak tahu betapa sakitnya itu?!"

"Thanatos, jaga mulutmu!" Hypnos berdiri.

"Apa?! Kenapa aku harus menjaga mulutku pada orang yang tiba-tiba menamparku?!"

Thanatos melihati Persephone dengan tatapan benci.

"Maaf saja. Aku mengira kau sebagai Hades." jawab Persephone dengan nada ketus. Thanatos mengepalkan tangan dan mendekati Persephone hingga wajah mereka berdua tinggal lima senti saja.

"Oh, jadi kau yang bernama Serpephone! Wanita yang Tuanku nikahi."

"Ternyata Hades punya bawahan yang bodoh." Cemooh Persephone. Ia tidak takut pada pria ini.

Hypnos berdehem, padahal menahan tawa—betapa benar sindiran ratunya itu! Ia kemudian menggerakkan tangannya pada Nymph-Nymph untuk pergi.

"Jangan sok berkuasa hanya gara-gara kau menikah dengan Tuan Hades, Serpephone!" teriak Thanatos.

"Aku ratumu! Jaga sikapmu!"

"Oh, ya?! Ratu, pantatku! Kau yang harus menjaga sikapmu padaku sebelum menjadi seorang ratu!"

"Kau dan mulut besarmu itu perlu dibungkam rupanya!"

"OH! Kau dan tanganmu yang liar itu perlu diberi pelajaran rupanya!"

"Nyonya Persephone... Thanatos..." ucap Hypnos sembari menenangkan. Dua orang yang bertengkar itu langsung melihat Hypnos pada saat yang bersamaan dan berteriak pada timing yang sama pula.

"Kau diam saja!"

Hypnos langsung diam dan berlutut di pojok dengan depresi, memainkan bunga.

Persephone melangkah mendekati Thanatos. "Kau ingin menantangku, hah?!"

"Harusnya aku yang bilang itu padamu, Serpephone!" Thanatos menaikkan lengan bajunya, bak preman yang hendak berkelahi.

"Namaku Persephone, dasar kambing!"

"Namaku Thanatos! Bukan kambing!"

"Kau pikir kau berkuasa di sini!?" tantang Persephone.

"Kau pikir kau ratu di sini?!"

Sebuah benda bundar melayang dengan cepat ke arah Thanatos dan membuatnya jatuh dengan kepala lebih dulu ke bebungaan. Thanatos melihat benda bundar aneh itu yang ternyata koran dan langsung melihat Hypnos.

"Kau sengaja melakukan itu?!" koran tersebut tepat mengenai pipi Thanatos yang sudah ditampar oleh Persephone. Kini pipi itu makin merah dan membengkak.

Hypnos hanya menunjuk ke atas. Mata Thanatos menelusuri apa yang ia tunjuk dan dalam sekejap ia mau muntah.

Hades berdiri di sana, melihatinya bak elang dari balik pilar lantai dua. Mata hijaunya berkilat kejam.

Persephone mendengus penuh kemenangan sementara Thanatos diam menggerutu. Dewa Kematian itu langsung membersihkan baju yang Persephone kenakan sambil senyum terpaksa ke arah Hades. Sebelum Hades melangkah pergi, Persephone melihat sesuatu berwarna hijau di sisi Hades. Walau tidak jelas lantaran terhalang tiang, Persephone yakin jika itu adalah rambut wanita. Kali ini kecemburuan yang mendalam kembali membara di hatinya.

"Tunggu, Hades!" jerit Persephone sambil berlari masuk ke istana. Thanatos mencak-mencak dan berteriak-teriak juga.

"Hei! Kembali kau, Perpeshone!" sayang bagi Thanatos, orang yang ia teriaki mati-matian kini telah pergi masuk ke dalam bangunan megah di hadapannya.

"Persephone, Thanatos..." ucap saudaranya.

"Aku tak mau tahu! Perpeshone, kek, Serpephone, kek—yang penting wanita itu kembali kemari! Aku belum membuat perhitungan kepadanya!"

"Sudahlah Thanatos..."

Setelah setengah jam berteriak-teriak dan memaki-maki ratunya, akhirnya sang Dewa Kematian lega dan duduk di bangku milik Hypnos.

"Tadi kau ingin bertanya soal apa?"

Thanatos diam sebentar, lalu memukul tangan kiri dengan kepalan tangan kanan. "Oh, ya! Ini soal barang-barang yang hilang itu!"

Hypnos membatin. Hanya karena ingin menyampaikan soal barang hilang, malah terjadi insiden besar...

"Aku ingin bertanya padamu. Apakah Tuan Hades punya anak?"

"Apa? Kenapa kau bertanya padaku? Aku bukan istri Tuan Hades."

"Duh, kupikir kau tahu karena barang-barang yang hilang ini ada hubungannya dengan anak kecil."

Alis emas Hypnos terangkat. "Oh, ya?"

"Dengar! Pertama, jam bekermu yang hilang. Kau tahu, kan, itu hadiah dari Tuan Hades di hari ulang tahunmu?"

Hypnos mengingat-ingatnya dan membenarkan apa yang saudaranya katakan. "Ya. Jika tidak salah yang bentuknya Mickey Mouse." Entah kenapa Tuannya memilih model seperti itu...

"Lalu jam bekerku juga hilang! Bentuknya... Doraemon..." Hypnos dan Thanatos diam, sama-sama heran dengan selera Hades. "Kemudian puzzle persegi milikku hilang! Kau tahu, kan, yang ada warna biru, merah, kuning dan sebagainya itu?"

"Ya. Itu juga mainan anak-anak." Hypnos mulai mengerti arah pembicaraan ini.

"Tapi anehnya solderku masih ada di kotak penyimpanan. Memang bergerak sedikit dari tempat asalnya, tapi sama sekali tidak diambil. Nah, siapa lagi kalau bukan anak kecil yang melakukan hal seperti itu?"

"Benar juga. Tapi sayangnya tidak ada anak kecil di sini..." Hypnos melipat tangan di dada, serius berpikir. Lalu kedua mata emasnya membelalak. "Tunggu... anak kecil..."

"Tuan Hades tak mungkin punya anak di luar nikah!" elak Hypnos.

Thanatos menggebrak meja. "Hei, dengar! Ada banyak Nymph di sini dan setiap hari Tuan Hades menggasaknya! Bisa saja tiba-tiba ada seorang Nymph yang berlari membawa anak ke hadapan Tuan Hades dan berteriak 'ini anak kita berdua!', seperti itu!" Thanatos tidak lupa menirukan suara wanita.

"Mustahil rasanya..." Hypnos masih ragu akan info ini, apalagi info yang bersumber dari saudaranya.

"Untuk itulah kita ada di sini!"

Alis Hypnos mengerut tidak mengerti.

"Kau dan aku bisa menyelidiki masalah ini!"

Hypnos langsung tidak suka akan ide ini. "Memata-matai hidup orang lain itu tidak sopan, apalagi dia adalah Tuan kita."

"Kita tidak memata-matai, bodoh. Kita hanya mencari informasi!" elak Thanatos. "Siapa tahu kita mendapat petunjuk tentang siapa yang mencuri barang-barang kita!" walaupun itu bentuknya aneh. Tambah Thanatos dalam hati.

"Jika kita tidak mendapatkannya? Jika kita ketahuan Tuan Hades bahwa kita memata-matainya?" tantang Hypnos. "Aku malu jika ketahuan mengintip adegan di mana mereka..." Hypnos tidak melanjutkannya. Malu.

Thanatos nyengir. "Aha! Ketahuan!" dia menepuk bahu saudara kembarnya. "Apa saja yang kau lihat, eh? Dari bagian mana sampai mana?"

"Thanatos!" tegur Hypnos. "Itu tidak lucu! Aku benar-benar malu sampai aku tidak bisa tidur!"

Cengiran Thanatos tidak kunjung pudar. Ia menyenggol-nyenggol bahu Hypnos dengan siku. "Hehehe... tidak bisa tidur karena memikirkan... Serpephone...?"

"Thanatos!"

"Ya, ya! Ratumu itu lebih berharga daripada barang-barangmu yang hilang, huh?"

"Bukan itu..."

"Sudahlah! Mulai sekarang kita harus meyelidiki hilangnya barang kita! Jika kau membocorkan hal ini kepada Tuan Hades, kita akan mati! Kau mengerti!?"

Hypnos menarik nafas sambil menjawab dengan lemas, "Mengerti..."


Persephone mengikuti ke mana Hades pergi namun sayangnya ia kehilangan jejak mereka berdua. Wanita itu yakin bahwa Hades dan selingkuhannya berjalan ke arah ini, tapi ironisnya mereka hilang. setelah mendengus kesal, Persephone berjalan ke arah yang berbeda. Perjalanan ke Underworld ini memakan banyak energi. Harusnya Hermes yang kelelahan sekarang, tapi malah Persephone. Ia masih belum terbiasa dengan perbedaan atmosfer dunia hidup dan Inferno. Jadi bukan hal yang mengherankan bila ia merasa ingin muntah. Untung ia sudah muntah tadi sebelum menaiki perahu.

Dibukanya pintu kamar dan menjeritlah Persephone ketika ia melihat sebuah hantu duduk di ranjang. Saking takutnya, Persephone langsung lengser dengan pantat lebih dulu dan bergerak mundur. Ia menunjuk hantu yang duduk di ranjang itu dengan gemetaran.

"H-h-han...h-h-h-ha...!"

Hades memutar bola mata dan mendengus. "Persephone."

Persephone mengedipkan mata berulang-ulang dan wajahnya merah. Itu bukan hantu, melainkan Hades sendiri. Perempuan itu berdiri pelan-pelan dan menutup pintu.

"Kurasa kau harus menghentikan kebiasaan buruk ini." Hades meletakkan buku yang ia baca.

"Mau bagaimana lagi? Kau ada di sana!" protes istrinya, "dan lagi kulitmu pucat! Kurang apa lagi?"

"Sejujurnya aku rindu padamu, Persephone." Dilihatnya Hades turun ranjang. Dia melangkah mendekati Persephone.

"Oh, sekarang Dewa Underworld bisa mengatakan kata-kata rindu." Cemoohnya. "Apa yang terjadi dengan pelacurmu?"

"Apa yang kau bicarakan? Aku tak punya pelacur."

"Kau memang pembohong besar! Dasar kau gigolo!" Raut wajah Hades berubah total. Sedetik kemudian ia tersenyum.

Persephone langsung merasa ada yang ganjil. Semakin Hades mendekat, semakin senyum di wajahnya itu terlihat menakutkan. Persephone langsung tahu apa yang ganjil. Ia langsung berlari menjauh, tapi sayang, Hades langsung menarik rambut Persephone dan menyeretnya ke ranjang, tak peduli wanita itu kesakitan. Hades naik ranjang dan langsung menampari Persephone. Senyum Hades makin berkembang ketika melihat lebam muncul di kedua pipi Persephone. Pria itu tertawa. Hades tertawa melihat Persephone menderita.

"Aku merindukan hal ini, Persephone." Caci Hades. "Menamparimu dan menghajarmu."

"Iblis...!" jerit istrinya. "K-kau...iblis...!" kepala Persephone tergeletak ke samping. Air matanya keluar dengan deras. Persephone menyesal karena tidak tinggal lebih lama dengan ibunya.

"Kau sadis! ...kau gila!" jerit Persephone. "Kau tahu apa itu sadis?! Kau senang ketika aku menderita! Kau senang membuatku menderita fisik dan batin!—jangan sentuh aku!" perempuan itu menepis tangan Hades.

"Kau tahu kenapa aku senang memperlakukanmu seperti ini?"

Hades menyeringai. "Karena kau bonekaku. Mainanku."

Air mata tak tertahan kembali mengucur. Persephone menangis tersedu-sedu. Hades hanya diam melihatinya.

"Sean...dainya aku...tidak lahir..." Persephone sesenggukan, berusaha menahan air mata yang tak bisa berhenti. "Seandainya... hiks... aku tidak—"

PLAAKK!

Kali ini kepala Persephone tergeletak ke kanan bantal. Darah segar keluar dari bibir merahnya. Perempuan itu memejamkan mata, menikmati bagaimana sakitnya, bagaimana perihnya memiliki suami seperti ini—suami yang selalu membuatnya sakit. Persephone tidak berkata-kata. Ia hanya menangis dan menangis. Air mata yang sudah tersimpan selama satu semester di atas sana kini perlahan-lahan mendekati titik kosong di tangan Hades.

Hades menjambak rambut Persephone. Perempuan itu mengerutkan kening karena sakit, tapi tidak mengeluarkan suara. Tanpa basa-basi, Hades langsung melumat bibirnya. Dilepaskannya rambut Persephone dan dipeluknya tubuh mungil itu.

Persephone takut...

Mereka ambruk di ranjang lembut dan inilah yang Persephone takutkan...

"Pagi ini kau milikku." Bisik Hades sembari melepas baju. Persephone hanya bisa menahan tangis dan memejamkan mata saja. Emosi yang meluap-luap di dalam dadanya membuat Persephone lumpuh.

"Malam nanti kau pun milikku."

Persephone pasrah tatkala mendengar suara baju yang dirobek paksa.


Seperti yang Persephone duga, esok paginya ia tidak bisa bangun. Perempuan itu hanya tidur di sisi Hades tanpa bisa apa-apa. Selama ini Persephone tak bisa menemukan jawaban atas apa yang telah Hades lakukan padanya. Namun ia yakin bahwa Hades telah melakukan sesuatu yang...amat kasar padanya sampai ia berakhir seperti ini.

Persephone mencium bau tubuh Hades dan menyamankan diri di dadanya. Suara yang ia dengar di pagi itu untuk pertama kalinya adalah dengkuran lembut Hades. Seperti biasanya, Hades bangun sejenak lantaran pergerakan yang Persephone lakukan, kemudian pria itu tidur lagi. Benar-benar pulas, seolah tak terjadi apa-apa. Persephone mengusap air mata yang menitik di pipinya. Beberapa menit berselang, ia melihat Aela menembus tembok.

"Aela!" jerit Persephone. Sedetik kemudian, perempuan itu langsung menutup mulutnya dan memandang Hades. Pria itu tidur tengkurap sekarang. Aela mendekati Persephone dengan senyum senang. "Ratu."

"Aku rindu padamu..." Wanita itu duduk dengan sudah payah.

"Saya juga, Ratu. Enam bulan terasa sangat lama sekali..."

Persephone tersenyum tulus.

"Ratu, ada yang ingin bertemu dengan Anda."

Alis Persephone terangkat. "Apa? Sepagi ini...?"

Pelayannya menggeleng. "Ini sudah jam sepuluh."

"Siapa?"

"Seorang dewi. Aphrodite."

"Aphrodite?" keheranan menghiasi wajah Persephone.

"Beliau bilang bahwa beliau harus menyampaikan masalah ini pada Ratu sendiri."

Persephone memakai pakaiannya perlahan, menahan rasa sakit. Dewi Musim Semi itu melihat Aela yang tengah menunduk malu. "Baiklah... akan kutemui dia sekarang."

"Akan saya siapkan airnya."

"Tidak." Gerakan Aela terhenti. "Ratu...?" tanyanya.

"Aku akan mandi nanti..." Persephone melihat Hades yang masih tidur.

"Baik, Ratu." Aela membungkuk.

Mereka berdua berangkat untuk menemui Aphrodite.

Begitu Persephone pergi ke beranda ruang tamu, yang pertama kali mencolok mata adalah rambut pirang Aphrodite. Rambut itu begitu bersinar, dan begitu menawan serta sempurna—bahkan semua bunga indah di Elysium tidak ada tandingannnya.

Aphrodite menoleh ke pintu masuk dan tersenyum. "Hai, Persephone."

Persephone hanya membalas dengan senyuman.

"Kemari! Cepat!"

Tingkah Aphrodite membuat Persephone heran. Ia nampak... terburu-buru dan nyaris takut akan sesuatu.

"Ada apa?"

Aphrodite memberikan boks cokelat itu kepada Persephone. "Tolong jaga dia..."

Kedua mata Persephone berkedip berulang kali. "Apa ini? Kucing? Maaf... kurasa suamiku tidak suka hewan."

"Sudahlah, jangan banyak tanya! Kumohon jaga dia dan jangan beritahu siapa-siapa!" Mata Aphrodite melirik Aela dengan tajam. "Dan kau juga. Jangan beritahu siapapun!"

Aela berjengit kaget dan menunduk cepat-cepat.

Persephone masih tak mengerti apa yang Aphrodite bicarakan. Ia juga benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan boks cokelat ini.

"Jangan kau buka isinya. Mengerti?"

"Apa maksudmu? Kau suruh menjaga kotak ini sementara kau tidak mengizinkan aku membuka isinya! Aku bukan tempat penitipan barang!"

"Sudahlah, Persephone! Sudah kubilang, tolong jaga dia sebentar saja...! Setelah semua masalah ini beres, aku akan mengambilnya kembali!" Aphrodite melirik kesana kemari, seolah takut jika ia dibuntuti. "Baiklah, aku harus pergi. Ingat! Jangan kau buka!"

Dewi Cinta itu langsung berjalan keluar, nyaris berlari. Benar dugaan Persephone. Aphrodite takut ketahuan seseorang karena telah melakukan sesuatu.

Lepas dari itu, ia penasaran akan isi boks cokelat ini. Pasti isinya barang berharga sehingga Aphrodite menyuruhnya untuk menjauh. Persephone tersenyum dalam hati. Toh mengintip pasti boleh. Aphrodite bilang jangan dibuka, tapi Persephone hanya mengintip. Tidak menyalahi aturan, kan?

Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

"Tolong bangunkan suamiku. Dia sudah tidur terlalu lama." Perintah Persephone. "Oh, jangan bilang soal boks ini padanya."

"Baik, Ratu." Persephone melihati Aela sampai gadis itu menghilang dari pandangan. Setelah ruangan sepi senyap, Persephone mengunci pintu dan membuka isinya.

Dia menarik nafas kaget.

Boks itu bersinar keemasan. Asap tebal mulai keluar dari sana dan menyelimuti ruangan sampai Persephone tak bisa melihat di mana ia berada. Setelah semua asap itu hilang, Persephone dikejutkan dengan adanya seseorang di depannya. Lebih tepatnya di tempat boks itu berada.

Mulut Persephone terbuka dengan kekaguman. Seorang pria dewasa, dengan rambut emas dan mata biru tengah berdiri di depannya. Persephone nyaris pingsan karena ketampanannya sementara pemuda itu kebingungan di mana ia berada.

"S-siapa kau...?" tanya Persephone, nyaris inosen.

Laki-laki itu melihat Persephone dengan mata biru indahnya dan tersenyum.

"Adonis."

"A..do..nis..." ulang Persephone. Pemuda bernama Adonis itu melihat Persephone lekat-lekat.

"Kau cantik."

Wajah Persephone langsung merah.

"Kau...juga tampan..."

Persephone memandang Adonis lalu tiba-tiba panik. "Sembunyi! Cepat!"

"Kenapa?"

"Jangan sampai kau ketahuan oleh suamiku! Sembunyilah di mana saja!"

Adonis benar-benar penurut. Dia cepat-cepat pergi untuk mencari perlindungan aman sementara Persephone mencari Hades, siapa tahu pria itu sudah bangun.

Tapi apa yang dilihat Persephone mencengangkannya. Hades, tengah berciuman dengan seorang Nymph berambut hijau di bawah pohon. Dengan langkah marah dan tangis air mata, Persephone nyaris melayang di atas lantai—dia pergi ke tempat suaminya berada.

Ditariknya rambut hitam panjang itu dan ditamparnya keras-keras. Hades tersungkur ke bebungaan sambil memegang pipinya yang merah panas. Nafas Persephone tidak karuan. Begitu memburu, begitu liar. Seliar air matanya yang berjatuhan.

Hades langsung melihat Persephone dan membelalakkan mata. Istrinya berada di depannya, berdiri dengan nafas tersengal-sengal. Wajahnya bak orang gila. Amat murka. Istrinya berteriak murka dan seketika semuanya bercahaya putih terang. Hades menutupi matanya lantaran silau.

Setelah cahaya putih itu pudar, Persephone sudah tak ada lagi di depan matanya.

Begitu juga Minthe.

"Minthe...?" Hades menoleh ke sana kemari untuk mencari kekasihnya, tapi nihil.

"Minthe...!" jerit Hades. Dia baru kali ini merasakan kebingungan yang amat dahsyat. Apa yang telah Persephone lakukan kepada Minthe?

Hades menoleh ke bawah pohon dan tanpa sengaja melihat sebuah tanaman kecil yang tidak ia kenali sebelumnya. Tanaman itu berada di bawah pohon tepat di mana Minthe berada tadi. Hades mendekati tanaman kecil itu dan mencium bau tubuh Minthe di sana.

"Minthe...?" ucap Hades dengan pelan, nyaris seperti bisikan. Dielusnya daun tanaman itu selayaknya mengelus pipi Minthe.

Hades menjerit frustasi dan amarah. Bersamaan dengan suara auman Hades, langit Elysium menggelap dan petir mulai menyambar. Petir itu menutupi suara teriakan Hades dengan sempurna. Lalu petir menyambar dengan keras dan hujan pun turun dengan deras.

Sang Dewa Underworld itu masih di sana, berlutut di hadapan tanaman kecil di bawah pohon—menetesi tanaman mungil itu dengan air matanya yang asin.

Hahah! Begitulah akhir dari kisah perselingkuhan Hades. Kasihan Minthe, dia dirubah menjadi tanaman yang pembaca kenal dengan sebutan mint. Silahkan cari di Mbah G**gle mengenai info lbh lanjut. Wakakakak! Please review! ^^