Ichigo menghela napas sekali lagi. Tidak bisa disangkal kalau perutnya kembali terasa sakit, juga dadanya. Luka pemberian Ginjou masih terasa segar dan belum mendapat pengobatan lebih lanjut. Ini semua karena sifat keras kepala pria sangar itu, yang masih mengerutkan dahinya kesal—menakuti siapapun yang melihatnya di kantor. Renji bersikeras untuk mengantar Ichigo ke rumah sakit, bahkan Ukitake sekalipun. Namun tawaran itu sama sekali tidak digubris olehnya, memilih untuk tetap tinggal di ruang interogasi—menjelaskan sedetail mungkin apa yang ada di kepalanya. Kepada Inoue, Chad, juga Jackie, dikurangi Riruka yang masih dirawat di rumah sakit. Orang-orang yang sebenarnya masih berpihak pada Ginjou. Ichigo bermaksud menolong mereka, tidak lebih. Berharap mereka bisa terbebas dari hukum dan dinyatakan tidak bersalah.
"Jadi, Ginjou yang menyelundupkan barang-barang itu?" ucap Jackie, menyimpulkan kembali apa yang sudah diceritakan panjang lebar oleh Ichigo.
Inoue mengeratkan kedua kepalan tangannya di pangkuannya, berusaha untuk tidak menangis lagi karena kenyataan yang menimpah dirinya. Chad masih termenung, memandangi dinding putih dengan tatapan kosong. Mereka kembali mengulang beberapa memori di otak mereka, berusaha menelisik kejahatan Ginjou yang bisa tertangkap oleh masa lalu. Tapi nihil. Ginjou tidak terlihat seperti 'orang jahatnya', walaupun sudah terlibat pertengkaran juga perdebatan hebat dengan mantan anggotanya—Kurosaki Ichigo. Yang sekarang sedang berdiri di depan mereka, dengan tangan terlipat.
"Kaki tangannya sudah tertangkap beberapa hari yang lalu, dinyatakan positif sebagai salah satu pemasok utama di Jepang." Ichigo kembali menjelaskan, berusaha sabar untuk menghadapi teman-temannya. Teman? Masihkah bisa dikatakan begitu?
"Ta...tapi, apakah Ginjou-san tidak dijebak oleh seseorang?" ucap Inoue terisak, tubuhnya bergetar karena takut. "Mungkin...mungkin saja ada yang ingin menjatuhkan Ginjou-san? Atau mungkin—"
"Inoue," tegur Ichigo lelah, kembali berusaha meyakinkan gadis itu. "Kau tidak perlu memaksakan lagi mengenai hal ini. Ginjou sudah dinyatakan bersalah sepenuhnya, ditambah dirinya yang menyekap Rukia di dalam sana. Itu tambah memberatkan dirinya, menambah masa hukumannya."
"Ichigo,"panggil Chad, yang sedaritadi menutup mulutnya. "Kupikir, masalah mengenai gadis itu juga melibatkan dirimu. Ginjou-san tidak akan melakukan hal itu, seandainya kalian bisa berdamai saat itu."
Emosi Ichigo kembali tersulut karenanya, karena pria besar itu. Kepalan tangannya kembali mengerat, berusaha meredam amarahnya yang mungkin tidak bisa terkontrol. "Kau menyalahkanku karena Ginjou yang hilang kendali? Setelah apa yang kau lihat sendiri beberapa tahun yang lalu?"
"Kau meninggalkannya." Kali ini Jackie yang angkat bicara. "Kau keluar begitu saja dan membuat Ginjou kecewa. Dia sangat memercayaimu, Ichigo. Dan kau mengkhianatinya dengan mudah—"
"Aku memilih meninggalkannya, bukan karena mengkhianatinya! Dari awal Ginjou bukanlah orang yang baik!" Ichigo menggertak, mengeluarkan sebagian dari emosinya.
Jackie tersentak, namun belum mau mengalah dari lawan bicaranya. Begitu pula dengan Chad. Inoue hanya bisa menunduk dan semakin terisak, merasa pilu melihat teman-temannya saling menyakiti.
"Hanya kau yang berpendapat seperti itu, Ichigo," jelas Chad, masih bersikap tenang namun awas. "Kau lebih memilih masuk ke dalam federasi ini, dibandingkan dengan apa yang sudah kaubangun bersama Ginjou. Hasil kerja kerasmu dan Ginjou—"
"Sudah kukatakan, sejak awal dialah yang memutuskan segalanya! Aku hanyalah pion untuknya, begitu pula dengan kau, Chad! Apa kau tidak menyadari hal itu?!"
"Ginjou orang yang baik. Itulah yang kuyakini hingga sekarang," bantah Chad, semakin menyulut emosi Ichigo.
Ichigo berjalan ke arah Chad, yang masih terduduk dengan tenang di tengah ruangan. Dengan cepat Inoue meraih lengan Ichigo—menarik pria itu untuk segera mundur. Mencegah baku hantam kembali terjadi. Ini sudah lebih dari cukup.
"Hentikan, Kurosaki-kun!"
"Kau terlalu terpaku pada pekerjaanmu, Ichigo." Chad kembali berkomentar. "Sesuatu yang tidak kauyakini dengan hatimu."
"Yang dikatakannya benar," tambah Jackie. "Kau terlalu terobsesi untuk menjatuhkan Ginjou. Dan sekarang ditambah dengan gadis Kuchiki itu."
"Jangan membawa-bawa Rukia disini!" Ichigo kembali geram, berusaha melepaskan tangan Inoue. Tapi itu semakin membuat gadis itu mengeratkan pelukannya.
Jackie berjalan lambat, berhenti di depan pria yang sudah kehilangan akal tersebut. Menatap miris apa yang ada di depan matanya. "Apa mungkin, kau juga menggunakan gadis itu untuk menjatuhkan Ginjou?"
"Kau!"
"Kurosaki-kun!"
"Hentikan Ichigo!" cegah Renji tepat waktu, yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Dengan kuat dia menarik Ichigo mundur dan berusaha menenangkan pria itu. Terlalu sulit untuk ditangani seorang diri, membutuhkan tenaga ekstra, sama seperti menenangkan kuda liar yang hilang kendali.
"Hei!" gertak Renji, membenturkan tubuh Ichigo ke dinding, namun tidak terlalu kuat. "Sadarlah! Jangan libatkan emosimu, bodoh!"
Ichigo masih menatap tajam sosok Chad juga Jackie, yang sudah membiarkan kegelapan dalam dirinya tersulut. Kini dirinyalah yang terlihat bersalah, sebagai tersangka utama di mata teman-temannya. Sesuatu yang memutarbalikkan kehidupannya, niatnya untuk menolong yang ditolak mentah-mentah. Dirinya tidak cukup kuat untuk mengungkapkan kebenaran, karena pekatnya udara tercemar yang mencekiknya perlahan.
"Rukia sudah bangun," bisik Renji dan langsung mendapat perhatian Ichigo detik itu juga. "Dia ada di ruangan Ukitake-san. Lebih baik kau ke sana, biar aku yang mengurus masalah ini."
Seakan-akan amarahnya sudah tersedot menghilang, Ichigo menuruti apa yang dikatakan rekannya itu. Dirinya lebih memilih meninggalkan ruangan segera dan pergi menemui gadis mungil itu—seseorang yang dilindunginya mati-matian. Ya, seseorang yang tidak akan dilepaskannya dengan mudah dari jangkauannya. Tidak lagi. Dan tidak akan bernasib sama, seperti yang sudah terjadi pada diri teman-teman lamanya. Yang kini ikatan itu mulai memudar, perlahan.
(..)
(..)
(..)
…..~*~Black Rosette~*~…..
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story
Scene 24: Every Rose has its Thorn
POV : Rukia & Normal
(..)
(..)
(..)
Mataku mengerjap beberapa kali, dan mendapati seberkas sinar dari dinding di atas sana. Lampu? Ya, cahaya putih yang terlalu menyilaukan, yang langsung kututupi dengan lenganku. Kepalaku masih terasa berdenyut dan aku tidak mau untuk segera sadar dari tidurku. Tubuhku masih terasa lemas dan ingin segera kembali tertidur. Membiarkan apa yang ada di dunia ini tertutup dari ingatanku. Aku tidak mau bangun.
"Kuchiki-san? Hei?" Suara orang itu memanggilku, membuat mataku kembali mengerjap dan menyingkirkan lenganku dari wajahku.
"Huh?"
"Kau baik-baik saja? Masih terasa sakit?"
"Siapa?"
"Ini aku, gadis bodoh! Kau sudah melupakan wajah cantikku? Yang benar saja!"
Gerutuannya membuat telingaku sakit, dan memilih untuk memelototinya. Ya, sosok itu. Aku sangat mengenal dirinya. Cerewet namun baik hati. "Yumichika?"
Dia tersenyum, masih sama seperti yang ada di dalam ingatanku. Bahkan, potongan rambutnya sama sekali tidak berubah. "Kau merindukanku? Sebaiknya kau tunda bagian berpelukan dan tangisan rindunya, aku tidak butuh hal itu. Terima kasih."
Aku mendengus kesal mendengar komentarnya. "Aku juga tidak akan melakukan hal itu. Tubuhku...tidak bisa kugerakkan."
Seperti mendapat jackpot, tiba-tiba sosoknya sudah menjulang di atasku. Tubuhku langsung beringsut mundur dan membentur punggung sofa. "Kenapa? Tubuhmu masih terasa sakit? Apa ada tulang yang patah? Biar aku yang memeriksa—"
"Aku tidak apa-apa," potongku segera, sebelum dia menarik tubuhku dan membuatnya semakin terasa kram. " Hanya pegal-pegal, tidak lebih."
"Kau hampir membuatku terkena serangan jantung! Bagaimana kalau ada tulang yang patah, hah?! Dia bisa membunuhku di tempat!"
"Siapa?" tanyaku, menanyakan sosok pembunuh yang akan segera memutilasi dirinya.
"Siapa lagi kalau bukan kekasihmu itu? Sekarang dia dalam kondisi yang tidak baik, benar-benar mengerikan! 'Jangan berani menyentuhku atau kepalamu akan segera terpisah dari tubuhmu' itu yang tertulis di belakang punggungnya seharian ini!"
Sosok Ichigo terlintas dalam benakku, membuat jantungku berdegup kencang karena gugup. Pertemuan kami kembali sungguh membuatku lega, merasakan apa yang sudah lama meninggalkanku. Kupikir, aku tidak bisa bertemu lagi dengannya, hanya bisa mengingatnya dalam benakku. Kemungkinan yang terasa mustahil.
"Halo? Kau mendengarkanku, gadis mungil?" Tangan Yumichika melambai tepat di depan wajahku, mengusik pandangan. "Jangan melamun di siang bolong!"
"Aku..tidak melamun," gumamku dan memilih untuk beringsut ke samping, menghindari Yumichika. Separuhnya lagi karena wajahku benar-benar memerah.
"Hei! Jangan tidur dulu! Aku belum selesai bica—"
Suara pintu terbuka menghentikan kata-kata Yumichika. Aku membalikkan tubuhku dan melihat sosoknya berdiri di sana. Ichigo. Yang terengah-engah kehabisan napas. Seperti bukan dirinya yang selalu terlihat tenang dan waspada.
Yumichika segera beringsut mundur disaat Ichigo mendekat padaku dan berjongkok di samping sofa. Hampir saja dia menghentakkan Yumichika ke samping dengan kasar. Si bodoh ini—
"Hei," ucapnya singkat, tanpa bisa melepaskan pandangannya dariku.
"Hei," balasku, yang anehnya kata itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Dan dia tersenyum simpul, kembali membuat hatiku lega. Rasanya semua ini kembali terobati. Kembali kepada jalur yang seharusnya dan tidak menyakiti hatiku. Dia kembali untukku, pelindungku.
"Anggap saja aku tidak pernah ada," bisik Yumichika yang sudah berada di balik pintu dan menutup pintunya kemudian. Kini tinggal kami berdua di dalam ruangan ini—aku dan Ichigo.
Kutatap wajahnya yang kembali mengkerut kesal, menatap pintu yang sudah tertutup di belakangnya beberapa detik yang lalu. Dia masih sama seperti dulu, mudah sekali terusik dan marah seperti ini.
"Hei," tegurku, dan kembali mendapat perhatiannya. "Wajahmu mengkerut seperti anjing bulldog."
"Bulldog?" Dan wajahnya semakin terlihat masam. "Jangan bercanda, mungil!"
Aku tertawa geli melihat raut wajahnya dan mengulurkan tanganku untuk menyentuh dahinya. Berharap kerutan itu segera memudar, agar tidak membuatnya semakin bertambah tua. Namun, tanganku tidak sampai padanya. Terasa beku dan tidak bisa digerakkan.
Berjanji padaku, Kuchiki Rukia, kau tidak akan mendekati Ichigo lagi untuk seterusnya… Ichigo bukanlah untukmu, Rukia-chan, karena kau maupun dia tidak ditakdirkan untuk bersatu.
"Ada apa, Rukia?"
Lagi-lagi memori itu kembali mengulang di benakku. Kaien. Kata-katanya terasa seperti racun di tubuhku. Dia selalu mengingatkan, berulang kali tanpa henti. Karena itu, aku tidak bisa menyentuh Ichigo. Aku—
"Rukia?"
Ragu?
Takut?
Tangan Ichigo mengenggam tanganku dan menaruhnya di pipinya. Spontan aku menariknya menjauh—refleks burukku—dan mataku mengerjap beberapa kali, menghadapi keterkejutan yang di luar nalarku. Ichigo membalasku dengan tersenyum—sedih dan sakit.
"Aku menyakitimu," bisiknya lirih. "Aku membiarkan hal itu terjadi lagi. Maafkan aku, Rukia. Berulang kali aku tidak bisa memegang janjiku."
Begitu pula denganku, Ichigo. "Luka ini tidak seberapa, dibandingkan dengan dirimu."
Kulirik tangannya yang terbalut perban putih, juga wajahnya yang masih terlihat lebam. Dia pernah lebih buruk dari ini, dan aku tidak mau melihatnya lagi berakhir seperti itu.
Ichigo bangkit berdiri dan berjalan ke arah meja di tengah ruangan—meja kantor. Dia bersandar di sana, sambil terus memperhatikan diriku tanpa berpaling. Aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya, namun tatapannya itu membuatku risih. Dia tidak akan melepaskanku, itulah yang bisa kutangkap saat ini.
Ketukan ringan di pintu mengambil perhatian kami sepenuhnya, diantara kekosongan ganjil yang terasa pekat. Wajah Kyouraku-san muncul kemudian, terlihat lesu namun masih bisa tersenyum. Dia melambai padaku, sebelum masuk dan berjalan santai dengan jaket bunga sakura disampirkan di bahu—jaket yang sama dengan yang kulihat di kediaman Ukitake-san.
"Rukia-chan, bagaimana keadaanmu?" tanyanya, tanpa perlu peduli pada sosok Ichigo di belakangnya, yang masih mengamati diriku.
Aku berusaha bangun dari pembaringanku, tetapi rasa sakit di kepalaku membuatku sedikit limbung. Tiba-tiba tangannya sudah ada di bahuku—merangkulku. Tangan Ichigo. Dia duduk di sampingku, sementara aku bersandar padanya. Kami masih bisa berdekatan seperti ini, walaupun rasa kaku dan canggung lebih kental terasa pada sentuhannya. Ichigo masih berperan sebagai pelindungku.
"Aku baik-baik saja," jawabku kemudian, berusaha tersenyum. "Hanya sedikit pusing."
Kyouraku-san sudah mengambil tempat duduk di seberangku, di kursi depan meja kantor. "Kau mengalami gegar otak ringan, karena terbentur cukup keras. Tapi tidak apa-apa, kau akan segera pulih, Rukia-chan," jelasnya, lebih terdengar seperti nasehat dokter.
Kuanggukkan kepalaku dan kembali bersandar pada tubuh Ichigo. Terasa hangat, sementara jari-jarinya mengusap naik-turun lengan kananku. Dia masih terdiam, kemungkinan masih marah kepada dirinya ataupun kepada diriku.
"Boleh aku berbicara dengan Rukia-chan?" tanya Kyouraku-san, matanya menatap Ichigo.
Ichigo terdiam sesaat, memandang ketuanya tajam. Dia bisa berekspresi seperti itu, kepada ketuanya sendiri? "Tentang hal apa? Kau bisa menunggu nanti, ketua."
"Protektif seperti biasanya," komentar Kyouraku-san.
"Karena itu aku dilatih."
"Ini mengenai 'penculikan' Rukia, kalau kita bisa menyebutnya seperti itu. Sebelum keberangkatan kalian ke Kyoto."
"Kyoto?" tanyaku terbelalak. Kita akan pergi lagi, seperti yang kualami beberapa bulan belakangan.
Kyoraku-san mengangguk. "Keberadaanmu sekarang menjadi hal yang paling dirahasiakan, Rukia-chan. Di daerah Tokyo bahkan seluruh Jepang. Mengungkapkan identitas dirimu di tengah-tengah ibukota Jepang, ditakutkan akan memicu beberapa pihak yang sedang bersembunyi—menunggu waktu yang tepat. Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu, hanya dengan anggota SSF yang minim di kantor cabang ini.
"Kenapa harus Kyoto?" tanyaku lagi, berusaha meneliti apa yang ada di kota penuh sejarah kuno tersebut.
"Markas pusat SSF berada di sana. Kau akan aman di sana, dengan keamanan yang lebih terkendali."
Aku menggigit bibir bawahku, meragukan keputusan yang diambil oleh ketua SSF di hadapanku. "Bahkan Aizen sekalipun?"
Ichigo berubah tegang di sebelahku, jari tangannya semakin mencengkramku defensif. Kyouraku menjadi sedikit serius, memajukan tubuhnya seakan-akan agar bisa mendengarku lebih jelas. "Aizen?"
"Aku…bertemu dengannya," gumamku, hampir berbisik.
"Kau?" tanya Ichigo tidak percaya, memelototiku. "Bertemu dengannya? Kenapa kau tidak bilang padaku sebelumnya?"
Akhirnya dia bicara kepadaku—dengan emosi tersulut. Dia marah. "Aku—"
"Bisa kau jelaskan lebih detail, Rukia-chan?" potong Kyouraku-san. "Jangan pedulikan bocah itu, dia tidak bermaksud memarahimu."
"Jangan bicara mewakilkan diriku, old man!" Ichigo menggertak.
"Sebelum itu, boleh aku bertanya satu hal?"
"Apa itu, Rukia-chan?"
"Apa yang kalian cari dari Aizen?" tanyaku gugup. "Apa yang melibatkan nee-san, hingga sampai sejauh ini?" Menanyakan hal ini adalah salah satu hakku, karena keterlibatan diriku sudah terlalu dalam. Juga, pertemuanku dengan Aizen menjadi penguatnya. Aku berhak tahu, apa yang membuat dirinya dicurigai.
Kyouraku-san terdiam sesaat, sebelum akhirnya menyerah dan mulai berbicara. "Ceritanya sangat panjang, tapi aku akan menjelaskan langsung ke intinya. Kami mencurigainya sebagai pengedar obat-obatan terlarang di Tokyo, Jepang. Pemasok terbesar di Asia Timur. Dia salah satu orang yang berada di daftar atas pencarian kami—SSF. Hanya saja, tanpa bukti kita tidak bisa menahan sembarang orang, bukan?"
"Dan nee-san mendapat tugas itu?" tanyaku getir. "Sebagai mata-mata?"
Kyouraku-san menunduk dalam, tidak terlihat emosi bahagia lagi di wajahnya. "Ya. Maaf untuk itu, Rukia-chan. Aku tidak bermaksud untuk melibatkan kau, juga kakakmu hingga sejauh ini."
Lengan Ichigo memelukku semakin erat—protektif. Dia berusaha menenangkanku, untuk tidak lagi bersedih karena hal yang menimpah nee-san. Resiko pekerjaan, itu yang kuyakini sekaligus ingin kutepis jauh-jauh sampai saat ini. Di sisi lain, satu keraguan sudah terjawab dan membuat hatiku sedikit lega. Nii-sama tidak patut disalahkan dalam kasus ini. Aizen lah yang harus dicurigai—semakin membuatku membencinya—sebagai dalang utamanya. Dialah sumbernya, membiarkan kabut hitam pekat mengaburkan pandangan banyak orang. Mengontrol pikiran kami dengan mudahnya, terpancing seperti pengendali boneka.
"Kaien-san—dia membawaku ke Tokyo," lanjutku kemudian, setelah keheningan melanda.
"Langsung?" tanya Ichigo tidak sabaran, menatapku tajam. Dan tubuhku kembali bergidik.
"Biarkan dia yang menjelaskan," tegur Kyouraku-san, tidak mengurangi ketegangan dari tubuh Ichigo.
"Lalu, dia membawaku ke tempat Aizen, ke kantor pusat Yamamoto-Genryuusai Corporation," lanjutku sambil berdeham. Spontan dua pasang mata di hadapanku ini menatapku bingung. "Kaien-san adalah kaki tangan Aizen, itulah yang kuketahui."
"Apa yang orang itu pikirkan?" celetuk Ichigo, kembali menggerutu.
"Lalu apa yang dia lakukan? Apa yang Aizen katakan padamu?" tanya Kyouraku-san tenang, separuh serius.
"Dia…" Ingatanku kembali pada saat itu. Kepahitan juga kenyataan yang memutar balik pandanganku, kini berusaha membuatku bingung—kembali mempertanyakan segala yang ada dalam benakku. "Aizen membawaku kembali ke Jepang karena jii-sama yang mengkhawatirkan keadaanku. Dan dia mengantarkanku langsung kepada jii-sama, tanpa paksaan apapun."
Kini mereka terdiam, tidak bisa berkata apapun setelah mendengarkan penjelasanku. Tidak masuk akal? Ya.
"Aizen tidak menyakitimu," gumam Kyouraku-san. "Orang itu terlalu cerdik. Tapi, mengapa dia bisa terlibat secara langsung dengan Kuchiki Ginrei?"
"Jii-sama sudah menganggap Aizen sebagai anak didiknya, salah satu keluarganya. Aku tidak mengerti apa yang dimaksud jii-sama, hanya saja…dia tidak memihak nii-sama dalam masalah ini. Jii-sama terlalu memercayai segala yang dikatakan Aizen, bahkan segala saran yang bisa menghancurkan Keluarga Kuchiki."
"Saran? Saran apa yang kau maksud?" tanya Kyouraku-san lagi, mengusap-usap dagunya dengan sebelah tangan.
Kali ini terasa begitu berat untuk menjawab pertanyaan Kyouraku-san, ditambah Ichigo yang masih bersikap seperti ini padaku—menekan perlahan. "Itu…jii-sama bermaksud menyerahkan kekuasaannya kepada Aizen, sebagai ahli waris selanjutnya."
"Tapi, Aizen tidak bisa mendapatkannya begitu saja dengan mudah, bukan? Aku tahu, Kuchiki Ginrei bukan orang yang sebodoh itu—menyerahkan tahtanya kepada orang lain," komentar Kyouraku-san, semakin terlihat serius. Berpikir terlalu keras.
"Itu…jii-sama bermaksud menikahkanku dengan Aizen. Dengan begitu—"
Kata-kataku tergantung di udara, karena Ichigo yang tiba-tiba bangun dari duduknya. Dia mengumpat, dalam bahasa asing yang tidak kumengerti. Tapi, aku bisa merasakan kemarahannya yang menjadi-jadi—lebih buruk daripada sebelumnya. Tidak berbeda jauh dengan Kyouraku-san, hampir sama kondisinya seperti Ichigo. Ketua yang penuh wibawa itu, terlihat lebih masam dan frustasi. Sedangkan diriku terasa terperangkap di antaranya, tidak tahu apa yang harus kulakukan.
"Tidak bisa dipercaya. Aku tidak menduga ini akan berjalan seperti ini. Aizen tidak bisa ditebak," ucap Kyouraku-san, memejamkan rapat-rapat kedua matanya. Dan mendesah kemudian. "Masalah Kaien masih bisa diterima, tapi ini—memberikan cucunya sendiri kepada orang asing lebih baik daripada mempercayai darah dagingnya?
"Apa yang kautunggu lagi, ketua?" Ichigo menggertak marah, membuat tubuhku semakin bergidik ngeri. Matanya terlihat lebih tajam dan menyala, karena emosinya yang tersulut terlalu liar. "Segera tangkap bajingan itu dan—"
"Tidak semudah itu, Zangetsu. Kita tidak bisa melewati prosedur dan bukti-bukti yang harus terkumpul. Menjatuhkan Aizen tanpa bukti sama saja dengan menjatuhkan seluruh organisasi ini. Aizen masih tidak bersalah dalam kasus ini."
"Lalu Kaien? Bagaimana dengan dia? Dia termasuk bukti yang bisa menjatuhkan Aizen, bukan? Orang itu sudah mengkhianati temannya sendiri!"
Kyouraku-san kembali menggeleng. Nihil. "Itu bukan bukti yang kuat. Sekalipun Kaien tertangkap dan menjadi terdakwa dalam kasus ini, kita tidak tahu apa yang bisa dikatakannya sebagai penangkal kesalahannya. Banyak hal yang bisa melindunginya dari hukum. Bahkan, bukti-bukti yang ada pada Rukia-chan mengenai Aizen bisa memutarbalikkan kasus ini. Salah mengambil langkah, maka kita bisa menangkap orang yang salah. Byakuya dalam daftar teratas orang itu, Zangetsu."
Ichigo terdiam, menatap kekosongan sambil terus berpikir. Kini dirinya kembali terpuruk, kepada jalan buntu masalah yang terlalu berlarut. Bahkan, diriku tidak bisa membantunya sekalipun—juga SSF. Ketidakberdayaan meliputi udara di dalam ruangan, bahkan mungkin seluruh kantor ini dalam beberapa menit ke depan. Haruskah kami menyerah kepada kekalahan? Apa yang harus kulakukan?
"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menunggu," saran Kyouraku-san. "Hisana-chan memiliki semua kuncinya. Hanya itu satu-satunya harapan kita, untuk menjatuhkan Aizen."
(..)
(..)
(..)
Six hours later…
Japan, Central Tokyo—SSF Quarters's Basement
Ichigo masih terus memasukkan tas-tas kedalam bagasi mobil, Chevrolet berpintu dua (1). Mobil sport yang membuatku tercengang saat pertama kali melihatnya. Bukan yang ada dalam tebakanku, bila harus melihat basement bawah tanah yang seluas lapangan sepakbola milik SSF. Sebagian besar diisi oleh berbagai jenis kendaraan roda empat berwarna hitam. Jeep Wrangler, Landrover, Mercedes Benz, BMW, bahkan Volvo yang terlihat lebih sederhana. Tapi, Chevrolet sport hitam? Yang benar saja…
"Yo, Rukia," panggil seseorang dari belakangku. Suaranya menggema di dalam ruangan kosong basement. Aku berbalik dan mendapati Renji sedang berjalan di sana, bersama Yumichika dan teman botaknya. Ngg…Ikkaku?
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyaku ingin tahu, melihat mereka membawa banyak perlengkapan. Tas-tas hitam besar yang kemungkinan berisi senjata.
"Kami? Tentu saja kami ikut ke Kyoto," jawab Yumichika, menyampirkan rambutnya ke belakang bahu. "Seluruh divisi 11 akan menjagamu. Jadi, kau tenang saja. Beberapa anggota divisi lainnya sudah berangkat ke Kyoto, kita akan mengadakan pertemuan besar di sana."
Hanya karena masalah Aizen? Jadi, mereka benar-benar serius untuk menangkap orang licik itu? Strategi apa yang akan SSF lakukan?
"Rukia, masuklah ke dalam mobil." Tiba-tiba tangan Ichigo sudah menggenggam tanganku dan menarikku perlahan ke belakang. "Kalian sudah siap?"
"Sesuai perintahmu, kapten!" ucap Yumichika bersemangat. Dia segera berjalan menuju mobil di sebelah milik Ichigo—BMW berpintu empat (2). Yang jauh terlihat lebih normal.
Ikkaku dan Renji menyusul kemudian, berdiskusi mengenai hal yang tidak kuketahui. Ichigo kembali menyuruhku masuk tanpa berkomentar apapun, membuatku mengikutinya menuju pintu penumpang. Bagian dalam mobilnya lebih mencengangkan. Seluruhnya berwarna hitam, dengan aksen garis merah tipis menyala di sekeliling interiornya. Tangannya membantuku memasang seat-belt, sebelum menutup pintu dan segera menuju kursi pengemudi. Mungkin ini akan menjadi perjalanan yang panjang, melihat kondisiku yang terkunci rapat di dalam kotak hitam ini—bersama Ichigo yang masih bersikap dingin padaku.
Mobil segera dinyalakan dan Ichigo sudah bersiap untuk keluar dari tempat ini. Deru mesinnya mengisi keheningan yang canggung, sementara roda-rodanya berputar cepat. Pintu basement di tanjakan yang memutar segera terbuka otomatis, membawa kami ke dalam suasana malam Kota Tokyo. Langit yang hitam gelap—tidak bersalju—atmosfer diselimuti oleh lampu penerang jalan berwarna kuning temaram. Salju putih samar-samar menutupi dinding tiap bangunan, seperti tanaman merambat yang perlahan menghancurkan konstruksi bangunan. Dan mobil Renji menyusul di belakang, dengan cahaya lampunya menyinari kaca spion sebelah kananku. Seandainya saja aku duduk di sana bersama mereka—
"Tidurlah, perjalanan masih jauh," ucap Ichigo singkat, namun berhasil membuatku tersentak kaget.
"Kau masih marah?" tanyaku tanpa pikir panjang. Kututup mulutku rapat-rapat, merutuki kesalahanku sendiri.
Mataku tidak berani untuk sekedar melirik ke arahnya. Tapi, aku bisa menebak, konsentrasinya masih terpaku pada jalanan di depannya. Laju mobil masih stabil, di jalan raya yang akan segera memasuki jalan bebas hambatan.
"Aku tidak marah," jawabnya kemudian. Aku tahu dia berbohong.
"Maaf, Ichigo. Aku…tidak bermaksud menepismu," bisikku, akhirnya menyerah karena sikap dinginnya. Ternyata ini lebih buruk daripada yang kukira, disaat Ichigo tidak benar-benar menatapku. Tidak bicara padaku seperti sebelumnya. Sebenarnya ada apa dengan diriku? Apakah aku sanggup melakukan hal ini—menghindari sentuhannya?
Ichigo mendesah, sebelum mengganti gigi mobil karena jalanan yang menanjak naik. Lampu-lampu di luar sana berganti dengan cepat, membentuk corak aneh di atas punggung tanganku. Berganti-ganti seperti emosi yang melebur dan melarut secara bersamaan. "Rukia, kau membuatku hampir gila."
"A—" Aku tidak tahu harus berkata apa, begitu melihat raut wajahnya yang berubah lagi. Kali ini dia tersenyum—mengejek—dan tatapannya semakin membuat dadaku terasa seperti diiris. Dia kecewa? Padaku?
"Jangan melakukan hal itu lagi," ucapnya, terkesan datar namun tajam. "Jangan melakukan sesuatu yang membuatku menyesali tindakanku sendiri, dan kemudian kau meminta maaf!"
Kepalaku menunduk dalam, berusaha menghalau kekesalan bercampur kesedihan yang hampir menetes keluar dari pelupuk mataku. Ini terlalu berat untukku, menumpuk dan memenuhi dadaku. Membuatku tidak bisa bernapas.
"Rukia." Sebelah tangannya menyentuh pipiku, membelaiku. "Hei, jangan seperti ini, Rukia."
Tapi sudah terlambat, bukan?
Kita sudah saling menyakiti, dan menemui jalan buntu. Bahkan, jalan bebas hambatan pun akan menemui ujungnya. Aku tidak mengerti lagi, apa yang harus kulakukan di depannya. Apa aku harus tersenyum seperti dulu? Aku tidak bisa mengingat bagaimana caranya, bagaimana aku menyentuh dirinya tanpa merasakan beban apapun.
Tiba-tiba Ichigo membanting setir ke samping, dan menghentikan laju mobilnya. Bunyi rem sedikit memekikkan telinga, membuatku tersentak, namun tertahan di tempat karena sabuk pengaman. Sebelum aku bereaksi, Ichigo sudah melepaskan sabuk pengamanku dan menarik tubuhku mendekat padanya. Dia memelukku—terlalu erat—mengangkatku hingga tubuhku berada di pangkuannya. Dan tanganku dengan sendirinya terulur, menjangkau lehernya.
" O, Bozhe! (3) Rukia! Apa yang harus kulakukan padamu?" Kepalanya bersandar pada bahuku.
"Membunuhku," gumamku putus asa.
"Rukia, aku serius!"
Ichigo mengangkat kepalanya. Tangannya menangkup wajahku, hingga kami saling bertatapan. Warna matanya berubah lebih terang di dalam kegelapan—memikat. Seperti malaikat kematian.
"Aku tidak peduli apa yang kau rasakan saat ini. Bagaimana sikapmu terhadapku, atau apapun yang kau benci dari diriku. Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu menjauh dariku, Rukia. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Itu janjiku kepadamu."
"Saat ini semua berakhir," kata-kataku bergetar tanpa bisa kutahan. "Apa kau masih akan memegang janjimu?"
Ichigo hanya menatapku diam. Dia kembali menarik tubuhku mendekat, mengeluarkan sikap protektif yang berlebihan dari dirinya. Napasnya menggelitik telingaku, merasakan tubuhnya bergetar di telapak tanganku.
"Sampai kau bosan kepadaku?" jawab Ichigo. "Seandainya itu terjadi, aku tidak akan melepaskanmu, Rukia. Aku akan melakukan apapun, bahkan jika harus mengunci tanganmu dengan borgol sekalipun."
Aku tertawa lelah pada pundaknya, bersandar sepenuhnya. Rasanya tubuhku benar-benar ringan, seakan-akan beban di pundakku terangkat bebas. Aku menginginkannya, kebebasan ini. Melakukan apapun demi orang ini, seorang pria asing yang bahkan identitasnya belum kuketahui.
"Psikopat," gumamku.
"Iblis kecil," balasnya tidak mau kalah.
"Jeruk bodoh."
"Kelinci liar."
"Aku tidak liar! Kurosaki Ichigo," gertakku, menatapnya garang.
Dia terkejut begitu mendengar nama itu keluar dari mulutku. "Darimana kau tahu?"
Jujur saja, namanya itu selalu terngiang dalam otakku. Terasa aneh ketika aku mengucapkannya pertama kali—asing dan baru. "Inoue pernah menyebut namamu," jawabku ragu. "Jadi…Kurosaki, huh?"
Ichigo menutup mulutnya sesaat, menunjukkan perasaan ragu ataupun bersalah pada kedua matanya. Dan aku sedang menatapnya dalam-dalam saat ini, berusaha untuk mengerti. "Aku bermaksud mengatakannya padamu, hanya saja—"
Brakk! Seseorang memukul kaca di samping kursi pengemudi. Ichigo memelukku erat, sementara matanya menatap garang sosok di luar sana. Samar-sama warna merah memantul di kaca, dan tato gelap di sekitar matanya.
"Renji!" gertak Ichigo, sambil menurunkan kaca jendela. "Aku bisa saja menembakmu, babbon!"
"Kau gila?! Untuk apa berhenti di pinggir jalan? Kau menakuti kami!"
Tiba-tiba tatapan Renji jatuh padaku. Aku menggeliat di dalam posisi ini, berusaha menyingkir dan kembali duduk ke kursiku. Tapi, Ichigo tidak mudah membiarkan hal itu.
"Kalian bisa bermesraan sesuka kalian saat tiba di Kyoto nanti," goda Renji. "Jangan lakukan di jalan bebas hambatan! Sebelum kau tertangkap oleh polisi, itu sungguh tidak lucu!"
Mukaku memerah tanpa bisa kukontrol. Kudorong tubuh Ichigo menjauh dan segera berpindah ke samping. Dan lagi-lagi Ichigo menahanku. "Ichigo—"
"Terserah kau saja," ucapnya terkesan cuek. Sebelah tangannya menarikku untuk mendekat padanya, dan dia mencium keningku, sebelum mengangkat tubuhku—mengembalikanku pada posisi awal. "Cepat kembali ke mobilmu!"
Renji tersenyum nyengir, semakin terlihat seperti seekor babbon di mataku. Dan dia menghilang dari pandangan, berjalan menjauh ke mobilnya yang terparkir di belakang kami. Ichigo sudah siap pada posisinya lagi, menarik rem tangan dan mengganti gigi kunci. Mobil kembali melaju perlahan, melanjutkan perjalanan yang tertunda sesaat.
"Tidurlah." Ichigo tersenyum padaku, sebelah tangannya mengacak-acak rambutku. "Aku akan menceritakannya setelah kita sampai di Kyoto. Apapun yang ingin kau ketahui."
Aku tersenyum simpul dan memandangi lampu-lampu jalan yang terlalu cepat terlewati—menjadi sekelebat cahaya. Tanpa terasa, kegelapan mulai menjadi hal dominan dalam penglihatanku. Hingga semuanya terasa ringan, bahkan menarik napas pun terasa begitu menyenangkan. Mataku terpejam sepenuhnya, meninggalkan dunia ini untuk sesaat.
~*~(to be continued…)~*~
(..)
(..)
(..)
Author's note:
(1) Mobil Ichigo adalah Chevrolet Camaro hitam dengan dua pintu. Bisa dibilang ini adalah mobil pribadinya, sekaligus yang digunakannya selama bekerja sebagai anggota kesatuan SSF.
(2) Mobil Renji, Ikkaku, dan Yumichika adalah BMW X6 hitam dengan empat pintu. Mobil ini milik SSF, dan seringkali dipakai Renji selama bekerja.
(3) O, Bozhe! : Bahasa Rusia yang berarti 'oh god!' dalam bahasa Inggris.
Hi, guys! Bagaimana, sudah terjawab pertanyaannya sebelumnya? Banyak yang bertanya kalau Aizen itu sebenarnya baik atau tidak, dan aku sudah menjelaskannya (melalui POV Rukia) di chapter ini. Yup! Semoga ini bisa menjawab semuanya. Dan judulnya sendiri bukan dari idiomatic expression, ya…
Bisa dibilang ini adalah chapter 'galau' untuk Ichigo dan Rukia. Selama ini mereka terus berpacu dengan waktu dan bahaya yang tiba-tiba menghadang mereka, masalah Aizen, Ginjou, dan lain-lain. Dan selama itu, bisa dibilang perasaan mereka satu sama lain tersalurkan sebagian besar dalam bentuk fisik, sedikit mental. And this is it! Di saat mereka mulai senggang dan bisa berpikir jernih sesaat…boom! Sedikit menemui jalan buntu dan saling meragukan, apakah mereka benar-benar memiliki perasaan khusus, lebih dari pelindung dan klient? Karena tema utamanya lebih ke arah Drama, jadi aku tidak berniat mengeluarkan unsur Romance yang lebih kental (walaupun di fic ini memang ada romance, tapi tidak akan dijelaskan secara detail seperti kisan roman umumnya, jadi mungkin kalian tidak akan menemukan kata 'I love you' (?) ^^). Aku harap kalian bisa mengerti…
Untuk action nya ditunda dulu sampai 3-4 chapter ke depan, karena sekarang sudah mulai masuk ke bagian akhir.
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
darries: Terima kasih sudah mereview ya, darries-san! ya, akhirnya Ichiruki sudah bersatu lagi..hehe.. Yup, berikutnya Aizen bakalan menyusul ^^ Oke, ini aku berusaha update cepat, semoga kamu suka ya.
Thanks for my playlist (jika mau mendengarkan selama membaca fic ini ^^;) :
Gabrielle Aplin: The Power of Love, Home
Imagine Dragons: Radioactive, Bleeding Out, Demon, Ready Aim Fire
Florence and the Machine: Breath of Life
Lee Hi: Rose
Block B: Very Good
Tae Yang: Ringa Linga
POP ETC: Speak Up
Of course these songs not belong to me! XD
