11 Juli 2013

Aloha~!

Untuk yang baru membaca cerita ini dan sudah mereview dari chapter pertama; Terima kasih banyak! (dan maaf untuk yang belum sempat dibalas review/pmnya)

Penulis semakin termotivasi untuk menyuguhkan cerita-cerita yang lebih inovatif pada teman-teman semua ^^

Chapter kali ini pun sedikit ringan. Selamat membaca ^^

Disclaimer: D.C/Case Closed bukan milik penulis dan merupakan sebuah mahakarya dari Gosho Aoyama, di sini penulis hanya memiliki hak penuh atas fanfic ini dan akun di mana fanfic ini berada.


.

.

Case 25: The Missing Phone

"My cell phone is my best friend. It's my lifeline to the outside world."
Carrie Underwood

.

.

"Mencium orang lain?" gadis kecil itu mengulang, kepalanya ia miringkan dan kedua bola mata bulatnya terus memandangi kedua mata Kaito yang terus-terusan mencoba menghindari tatapan itu.

"Kalau begitu," gadis itu mengerutkan keningnya, nampak berpikir keras. "Oniichan tidak boleh terus menyukai putri itu!" Ujarnya dengan nada seolah sedang menggurui. "Kau harus mencari putri lain!"

Pesulap muda itu menelan ludahnya, merasa sedikit takut dengan kilatan semangat di mata gadis kecil di hadapannya.

"Kalau begitu, sudah ditetapkan!"

Apapun yang akan dikatakan oleh gadis kecil yang tampak berusia tidak lebih dari 10 tahun itu pastilah sesuatu yang tidak menyenangkan, bahkan mungkin sangat, sangat, sangaaat berbahaya—

"Aku akan jadi satu-satunya putri yang pantas untuk Oniichan!"

—benar, 'kan?

"Begini, Odio-chan," Kaito berdeham pelan, mencoba menenangkan kobaran semangat gadis kecil di hadapannya tanpa berniat memadamkannya.

Yah, memang bukan salah gadis kecil itu yang semakin bersemangat untuk mempersunting dirinya, tetapi ia pernah mendengar perkataan yang berbunyi 'jangan gantungkan harapanmu terlalu tinggi jika tidak ingin dikecewakan' atau semacamnya dan hal itu membuat Kaito yakin bahwa ia harus sesegera mungkin meluruskan semuanya.

Sebelum gadis itu benar-benar mendobrak pintu rumahnya dan memaksa ibunya untuk menikahinya.

Heh, kenapa ia menjadi semakin terbawa arus? Padahal lawan bicaranya hanyalah gadis kecil yang belum menginjak usia 10 tahun.

Menarik nafas panjang, pemuda itu memulai kembali. "Yang kumaksudkan adalah—"

"Shhh!"

Dengan mata menyipit, Kaito yang merasa kesal karena seseorang telah menyuruhnya untuk 'diam' pun menoleh dan sedikit terkejut saat dilihatnya Sato-keiji dan seorang polwan lain sedang berusaha melihat sesuatu dibalik air mancur dengan menggunakan sebuah teropong.

"Kenapa hanya sekali?" polwan berseragam biru yang kini sedang mendominasi teropong bertanya dengan sedikit nada kesal dari caranya berbicara.

Sato-keiji yang kini menyipitkan matanya hanya menganggukan kepalanya.

"Kupikir Shinichi-kun akan melakukannya seperti yang ada dalam drama luar negeri," polwan berseragam itu kini berdecak.

"Sepertinya Kudo-kun bukan tipe pemuda seperti itu," Sato-keiji mulai berbicara. "Lagipula ini tempat umum."

"Pemuda itu laki-laki yang berbahaya," sebuah suara lain—yang terdengar lebih berat daripada dua wanita di samping Kaito—menambahkan dan entah hanya firasatnya saja atau memang suara pria itu terdengar seolah sedang mempresentasikan hasil penelitiannya.

Menoleh, Kaito dengan tawa datar dalam kepalanya hanya bisa menggelengkan kepalanya saat dilihatnya sosok Shiratori-keiji berdiri di belakang dua wanita yang kini saling menindih satu sama lain. Kedua tangannya bersilangan di depan dadanya dan seulas seringai bangga nampak terukir di wajah panjangnya.

Pasukan Penggosip Kepolisian ... Kaito membatin dalam kepalanya.

"Ah! Kenapa mereka berbicara saja? Ayo, Kudo-kun! Lakukan lagi!"

"Yumi, kecilkan suaramu," Sato-keiji mengingatkan. Kontras dengan apa yang ia ucapkan, gerak-geriknya menunjukan ia juga ingin melihat kelanjutan 'kedekatan' dua subjek yang kini menjadi fokus mereka. "Ini adalah momen penting bagi mereka. Jangan sampai kita mengacaukannya!"

"Momen penting," gumam Kaito pada dirinya sendiri seraya memiringkan kepalanya untuk melihat dari sela-sela aliran air mancur. Dengan satu alis terangkat pemuda itu menyipitkan matanya dan mencoba membaca gerak bibir sosok detektif yang saat ini seperti sedang—minta maaf?

Kalau tidak salah waktu itu mereka … Jadi dia baru minta maaf sekarang?

"Hei, Oniichan," gadis kecil di hadapan Kaito berbisik pelan. "Siapa kakak di sana itu? Kenapa mereka diperhatikan polisi? Mereka penjahat?"

Pemuda itu melirik sekilas ke arah gadis itu lalu menggeleng pelan dan kembali dialihkannya pandangannya pada dua insan muda di seberang sana. Dengan suara pelan pemuda itu menjelaskan, "Salah satunya, yang pria, adalah, ah, kenalanku dan yang wanita adalah teman masa kecilnya. Tetapi sepertinya setelah ini mereka akan jadi sepasang kekasih." Apa yang mereka bicarakan? "Dia seorang detektif dan wanita itu anak seorang detektif. Jadi, bisa disimpulkan mereka—Oh!"

"Ada apa?" tanya gadis itu penasaran saat Kaito mengeluarkan ponselnya dan tampak memotret sesuatu dengan ponsel hitam di tangannya. "Kenapa kau memotret mereka?"

Menekan sesuatu pada ponselnya, Kaito pun kembali menatap wajah lugu gadis kecil di hadapannya. Sebuah seringai muncul di wajahnya saat ia menekan tombol terakhir sebelum akhirnya memasukan ponsel hitamnya itu ke dalam saku celananya.

"Psst, ini rahasia seorang putri dan pangeran tampan berjubah putih," ujarnya dengan sebuah kedipan mata yang membuat wajah gadis di hadapannya bersemu.

.

.

.

.

"Sampai besok, Shinichi."

Dengan satu anggukan terakhir serta seulas senyuman, Shinichi hanya diam saat mobil yang dikendarai oleh Shiratori-keiji bergerak menjauhi taman Beika untuk mengantar putri Mouri Kogoro pulang.

Satu helaan nafas panjang keluar dari mulut detektif itu ketika ia mengangkat kepalanya dan menatap tajam Kaito, Yumi, dan Sato-keiji yang berdiri sejajar dan tampak berusaha mengalihkan perhatian mereka ke arah lain.

Yumi yang berdiri di tengah berpura-pura sedang membaca buku catatannya, Sato-keiji yang berdiri di kanan Yumi berpura-pura sedang melihat-lihat pepohonan, dan Kaito … pemuda itu hanya tersenyum cukup lebar hingga menampakan sederetan gigi putihnya sambil menaik-turunkan alisnya.

Sulit bagi detektif itu untuk mengabaikan fakta bahwa hanya dengan melihat wajah pesulap itu, ia bisa tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya. Walau, untuk beberapa kondisi, apa yang ia 'baca' dan apa yang 'terjadi' sangat berbeda.

"Jadi," Shinichi yang mati-matian menahan diri agar tidak terlihat salah tingkah berdeham pelan. "Kita tidak akan membahasnya di sini, benar?" Terlalu berbahaya.

Sato-keiji dan Yumi saling berpandangan sebelum akhirnya mengangguk bersamaan.

"Kalau tidak keberatan, Kudo-kun, bisa kita bicarakan ini di tempatmu? Pembicaraan ini sepertinya akan memakan waktu dan Takagi-kun juga akan bergabung dengan kita."

Dengan sebuah anggukan detektif itu menjawab, "Tidak masalah. Apa Yumi-san yang akan mengantar kita?"

"Begitulah, mobilku kutinggal di kantor karena pagi ini aku lupa mengisi bensinnya. Apa kau akan ikut, Kaito-kun?"

"Eh? Aku? Tidak, sepertinya aku—"

"Dia harus ikut," potong Shinichi cepat dengan satu tangan merangkul pundak pesulap muda itu. "Tetapi sebelum itu, bisakah kita mampir sebentar? Kami belum makan apapun sejak pagi."

"Eh? Aku su—"

"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan," bisik detektif itu tanpa memberi Kaito kesempatan untuk merespon. Detektif itu kemudian tersenyum lebar pada pesulap tersebut, membuat Kaito menelan kembali semua kalimat yang ingin ia ucapkan untuk memprotes dan hanya bisa pasrah saat tubuhnya diseret oleh sang detektif menuju mobil patroli milik Yumi.

Oh, tuhan … pesulap muda itu membatin sedih saat mobil yang dikendarai oleh Yumi melaju di atas jalan raya kota Beika. Kenapa kau beri Dewi Fortuna-ku hari libur di saat seperti ini? Tidak bisakah kau kirimkan Dewa Fortuna sebagai penggantinya? Dan kenapa ekspresi wajahnya sangat menyeramkan? Bukankah seharusnya ia terlihat sedikit lebih … ceria? Maksudku, ia dan Mouri-chan sudah resmi menjadi kekasih, seharusnya ia lebih ceria.

Kaito menggelengkan kepalanya. Siapa peduli dengan ekspresinya? Yang terpenting sekarang, apa yang harus 'kita' bicarakan? Dan kenapa ia tahu aku belum makan? Oh, tidak perlu dijawab. Bodohnya pertanyaanku. Dia pasti mendengar perutku berbunyi atau mungkin ia tahu dengan menganalisis gerak-gerik tubuhku. Ya, semacam itu.

Dan yang ingin ia bicarakan adalah—

"Kaito-kun," panggil Sato-keiji yang duduk di bangku depan. Wanita itu memiringkan badannya sedemikian rupa agar ia bisa bertatapan dengan sang pesulap. Di sampingnya, Yumi, hanya melirik melalui kaca spion.

"Ya?"

"Apa kau tahu apa yang mereka bicarakan?" tanya Yumi tanpa basa-basi dan Sato-keiji mengangguk setuju.

Pesulap muda itu mengangkat satu alisnya dan menoleh saat mendapati kursi di sampingnya telah kosong. Dilihatnya keluar jendela dan nampak sebuah resto cepat saji yang diketahui Kaito berada tidak terlalu jauh dari kediaman Kudo, hanya perlu memutar di persimpangan jalan dan mereka akan melihat rumah besar menyeramkan itu dari kejauhan.

"Kau lihat caranya mengerutkan keningnya? Terlihat seperti seorang kakek tua yang memiliki masalah dengan anak-cucunya yang memperebutkan harta warisan. Dia baru saja menyatakan perasaannya, 'kan? Kenapa ia tidak tersenyum sedikitpun?" Yumi kemudian berbalik menatap Kaito yang duduk di bangku belakang, menatap pemuda itu dengan tatapan kesal. "Apa menurutmu terjadi sesuatu padanya?"

"Apa kau tahu sesuatu, Kaito-kun?"

Dengan sebuah gelengan kepala yang ragu, pemuda itu melirik sekilas ke luar jendela dan bisa melihat Shinichi sedang berbicara pada seorang pelayan restoran yang berada di balik meja kasir.

Ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, karena kenyataannya, ia baru menyadari kehadiran detektif itu saat sang detektif tengah mencium gadis teman masa kecilnya. Ia tidak mendengar apapun yang mereka bicarakan dan sulit menebak percakapan mereka jika ia tidak bisa melihat gerak bibir sang detektif dari tempatnya berada.

Dan jika mendengar apa yang baru saja dikatakan dua wanita yang duduk di bangku depan, Kaito hanya bisa terdiam sambil menatap bingung ke arah dimana sosok detektif itu berada.

Rupanya, memang ada yang salah dengan ekspresi pemuda itu. Ia terlihat tidak seperti seseorang yang baru saja menjalin hubungan dengan gadis yang dicintainya. Kerutan pada keningnya, alis yang saling bertautan, gertakan gigi yang terdengar samar dan beberapa kali decakan ... Apa yang mengganggunya?

Apakah ini berkaitan dengan kalimat yang diucapkan detektif itu sebelum mereka menaiki mobil? Bahwa mereka harus 'membahas' sesuatu. Entah apa.

Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kejadian sehari sebelumnya?

Tepatnya, kejadian saat ia, sebagai seorang Natsumi Ema, masuk ke dalam sebuah kamar dimana seorang detektif terkapar di atas lantai dan hanya memakai selembar selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya yang tidak mengenakan apapun. Saat ia akhirnya menemukan fakta dan—entah pantas atau tidak ia menyebutkannya sebagai—bukti kuat yang menyatakan bahwa Edogawa Conan adalah Kudo Shinichi.

Bisa ia ingat dengan jelas setiap kalimat yang diucapkan oleh mulut detektif tersohor dari timur itu semalam, sebelum akhirnya kesadaran detektif itu hilang dan ia beserta Hattori Heiji, detektif tersohor dari barat, yang telah selesai merekonstruksi kasus pembunuhan Oohara Rinjo dan Matsuyama Miri, harus bekerjasama membawa detektif itu pulang ke rumahnya. Tentunya setelah memakaikan pakaian seadanya—sebuah celana panjang yang Natsumi Ema bawa untuk 'penyamaran'nya dan gakuran hitam milik Heiji—karena, entah apa yang akan dikatakan oleh media jika melihat mereka berdua membawa seorang Kudo Shinichi yang … telanjang.

Apa bunyi kalimat itu? Kalau tidak salah—

"Semuanya tidak akan mudah, eh?"

You know me ...

"Tentu saja. Bayangkan jika saat Takagi-kun tahu kau menyukainya, tetapi ia menolakmu. Bagaimana menurutmu?"

… and I know you.

Kaito menelan ludahnya, mengendurkan kerah kemejanya yang terasa mulai mencekiknya. Dengan mata terpejam, pemuda itu mencoba menarik nafas, berharap semua beban yang tiba-tiba menimpanya hilang.

Atau setidaknya, ketika ia buka matanya, bisa ia lihat senyuman dewi fortuna tercintanya.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu," suara Shinichi kembali terdengar setelah beberapa saat suara Sato-keiji dan Yumi mendominasi ruang di sekitar Kaito. Dari sudut matanya Kaito bisa melihat sosok berseragam biru muda itu kembali memasuki mobil dengan dua plastik berisi kotak-kotak makanan, sosok itu lalu mengoper kedua plastik itu pada Kaito dan menutup pintu di sampingnya. "Aku hanya membeli pasta, kau tidak masalah dengan itu, 'kan?" We need to talk, later.

Berbisik.

Detektif itu berbisik padanya saat Yumi kembali menggerakan kemudi mobilnya menuju tempat selanjutnya; Blok 2 Beika.

"Kau pasti bercanda!" Kaito tertawa pelan saat tangannya mengeluarkan sebatang kentang goreng dari salah satu kotak yang kini berada dalam kendalinya. "Kau tahu perutku ini sangat elastis, 'kan?" Oh, I can't wait.

.

.

.

.

"Hei, Sato-keiji," Kaito yang berjalan sejajar dengan wanita tersebut menoleh ke arah lawan bicaranya setelah melirik ke arah mobil yang terparkir di depan rumah Shinichi. Pemuda itu juga menoleh ke arah sang pemilik rumah yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya begitu mereka sampai tepat di depan pintu depan.

Pemuda itu melanjutkan, "Apa kita akan bertemu dengan seorang yang sangat penting?"

"Kurasa jawabannya ada di dalam rumahku," Shinichi menjawab saat satu tangannya menarik pintu depan rumahnya dan dibalik pintu itu, seorang wanita berdiri seolah ingin menyambutnya dengan kedua tangan bertolak pada pinggangnya dan satu alis yang terangkat.

Wanita berambut merah gelap yang diikat satu di belakang kepalanya itu kemudian berjalan dengan langkah tegas menghampiri Shinichi. Satu tangan wanita itu lalu mencengkram kerah kemeja Shinichi dan tangan lainnya menunjuk wajah Shinichi.

Dengan suara keras ia berkata, "Kau! Kau pasti detektif muda banyak tingkah itu, 'kan? Siapa namamu? Ah, benar. Kudo Siapapun-kun! Sekarang katakan padaku, dimana Conan-kun? Pria kikuk ini bilang jika menemuimu, aku bisa bertemu Conan-kun! Dimana anak itu?"

"Ha, Hatsune-san!"

"Hatsune?" Sato-keiji berseru dengan nada bingung. "Bukankah dia adalah kekasihmu, Kudo-kun?"

Wanita yang masih merenggut leher kemeja detektif itu mendelik, menatap tajam Sato Miwako yang nampak tidak menyadari tatapan tajamnya yang terarah padanya.

"H, Hatsune-san, tenanglah. Berikan Shinichi-kun waktu, ia baru saja pulang."

Detektif yang kehilangan kesempatannya untuk berbicara itu mengangkat kepalanya dan melihat Takagi menghampirinya sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan wanita itu di kerahnya. Usaha pria itu cukup berhasil, cengkraman pada kerah kemejanya sedikit mengendur.

"Jadi, dimana dia? Kau sembunyikan dimana?" Cecar wanita itu sekali lagi. Jarinya yang terawat dan kuku palsunya yang dihias oleh manik-manik berkilau menancap pada pipi detektif itu.

"Wow, Shinichi!" Kaito yang baru saja masuk berseru terkejut dan ada nada riang dari caranya mengutarakan setiap kata itu. "Akhirnya kau mau mengenalkanku pada kekasihmu yang misterius itu!"

Detektif itu menatap tajam lawan bicaranya. "Ba'arou! Dia bukan — wuaah! H, hei!" Detektif itu memprotes saat satu tangannya mengusap pinggangnya yang terbentur pintu akibat dorongan keras dari wanita yang semula mencengkram kerah kemejanya. Dengan tatapan tajam, pemuda itu kemudian melihat bagaimana cara wanita itu kini menghampiri Kaito.

Langkahnya tegas, ya, namun saat berada tepat di hadapan pesulap muda itu, wanita berambut merah gelap itu terdiam sesaat dan memerhatikan sosok Kaito dari ujung sepatu hingga ke ujung helai rambutnya yang berantakan.

"Kau," jeda sesaat, "siapa namamu?" Tanya wanita itu pada Kaito yang asyik mengunyah sebatang kentang goreng. Wanita itu lalu memegang bahu Kaito dan memutar tubuh pemuda itu. "Kau tampan, badanmu cukup bagus untuk anak seusiamu. Jauh lebih menarik daripada pemuda ini," ujar wanita itu. Ia melirik ke arah Shinichi yang mencibir dari sudut matanya.

Kupikir yang berbeda dari kami berdua hanya rambut dan warna iris … batin Shinichi yang sedikit sebal dengan tatapan meremehkan dari wanita di hadapannya.

Beralih pada Takagi-keiji, Shinichi lalu menyimpan sepatunya dan memutuskan untuk mengabaikan bagaimana histerisnya wanita itu dengan sosok Kaito yang nampaknya 'menikmati' berbagai macam pujian yang dilantunkan oleh wanita itu. Ia tidak akan terkejut jika tiba-tiba mereka memutuskan untuk menjalin hubungan dan menikah lalu membina keluarga—Ah, ya. Sepertinya mereka akan jadi pasangan yang serasi.

"Hattori-kun memintaku untuk menemuimu jika ada kejanggalan pada kasus semalam dan karena Hatsune-san sejak pagi tadi memaksa ingin bertemu Conan-kun," Takagi menjelaskan pada Shinichi yang berjalan lebih dahulu menuju ruang perpustakaan kediaman Kudo. "Ia bilang ada yang harus ia ceritakan pada Conan-kun mengenai kasus semalam. Karena itu, kupikir kau bisa memberitahu dimana dia, kami di kepolisian tidak ada yang tahu dimana beliau saat ini.

"Kami bahkan tidak tahu kalau Conan-kun ada bersama kami semalam," pria itu melanjutkan dengan nada ragu dan sedikit bingung. "Ah, maaf. Kami sudah seenaknya menggunakan dapurmu."

Detektif itu mengangguk pelan saat dilihatnya meja di tengah ruangan telah diisi dua cangkir teh dan ada sekotak kue di sana. Ia tidak ingat pernah menyimpan cadangan kue di kulkasnya dan jika melihat dari variasi kue yang ada, mungkin wanita yang dikenalnya bernama Hatsune Ema itu membelinya sebelum datang ke rumahnya dengan harapan akan ada seorang bocah kecil yang menyantapnya.

"Bisa kalian tunggu sebentar? Aku akan membuatkan minum untuk mereka. Sato-keiji, teh atau kopi?"

Sato-keiji yang berjalan setelah Takagi akhirnya menduduki salah satu sofa terpanjang di tengah ruangan. Wanita itu tersenyum ke arah Shinichi yang kini melepaskan blazernya dan meletakannya di atas meja kerja ayahnya. "Teh saja. Maaf merepotkanmu, Kudo-kun."

"Bagaimana denganmu, Kai?"

"Eh? Oh! Tidak usah," pesulap muda itu mengibaskan tangannya, tertawa setelah mendengar ucapan wanita yang berjalan di depannya. "Aku akan mengambilnya sendiri jika haus."

Dan detektif itu hanya menganggukan kepalanya.

"Siapa namamu tadi? Ah, Kaito-kun, benar?" Tanya wanita itu setelah mendudukan diri di samping Sato-keiji dan menyuruh Kaito untuk duduk di sampingnya. "Wajahmu dan pemuda itu sangat mirip, apa kalian bersaudara?"

"Itu hal yang ingin kutanyakan sejak lama," Sato-keiji menimpali dan Takagi-keiji hanya diam, pandangannya secara bergantian terarah pada Kaito dan Shinichi yang berada di dua tempat berbeda.

Oh, benar! Mereka sangat mirip! Pikir Takagi-keiji dengan mulut menganga. Kecuali model rambut mereka.

"Kalian pasti bercanda!" Sanggah Kaito dengan nada dramatis yang dibuat-buat. Pemuda itu lalu menjentikan jarinya, memunculkan dua tangkai mawar pada masing-masing tangannya. Seraya menyerahkan mawar itu pada kedua wanita dewasa di depannya, pesulap muda itu berkata, "Hatiku sakit saat mendengar kalian menyamakanku dengan rekanku yang selalu merenggut itu. Bagaimanapun juga, wanita cantik ini sempat memuji ketampananku beberapa menit lalu, benar?"

Kedua wanita itu terlihat tersanjung dengan mawar yang diberikan oleh Kaito, sementara Takagi-keiji hanya bisa tertawa melihat bagaimana Kaito bertingkah di depan dua wanita itu. Di sisi lain, ia melihat bagaimana Shinichi menggerutu, sepertinya ia merajuk karena Kaito berhasil membuat dua wanita dalam ruangan itu menyetujui pernyataan 'Kaito lebih tampan'.

Hanya wajah saja yang mirip ... Batin pria itu saat Kaito mengecup tangan Hatsune Ema sebelum berlarian ke arah dapur dengan riang gembira.

"Shinichiii~ Apa boleh kupakai toiletmu?"

Apa itu tadi balet?

.

.

.

.

Baiklah, tenangkan dirimu, Kuroba Kaito! Ingat, jangan pernah lupakan pokerface-mu!

Kaito menarik nafas panjang setelah ia betulkan risleting celananya, menatap pantulan dirinya pada cermin dan menyeringai lemah.

Kau bisa melakukannya dihadapan Hakuba dan Aoko ... Batin pesulap muda itu seraya mengepalkan tangannya pada badan wastafel. Tatapan matanya tepat mengenai manik matanya yang terpantul pada permukaan cermin. "Oke, Akako juga."

Apa yang menyulitkan? Jika memang pembicaraan yang dikatakan Shinichi adalah tentang ... Itu ... Aku hanya perlu menyangkalnya, menghindar, atau apapun yang biasa kulakukan jika mereka menghadangku, benar?

Menajamkam seringainya, Kaito kemudian memutar kran pada wastafel dan membasuh mukanya. Tidak baik berlama-lama dalam toilet. Apalagi jika di luar sana ada seorang detektif yang selalu mencurigai apapun yang dilihatnya dan ada sepiring pasta serta beberapa potong fillet ayam yang harus disantapnya.

Sungguh sebuah keberuntungan baginya bisa bertemu Shinichi di saat ia kehabisan uang.

Rupanya di hari libur pun dewi fortuna masih mengingatnya.

"Saputangan," gumam pemuda itu sambil merogoh saku celananya dan menarik keluar helai saputangan miliknya, diikuti dengan beberapa keping uang recehnya yang berakhir menggelinding ke berbagai arah. "Ah! Jangan sampai hilang atau aku tidak bisa pulang," gerutunya sambil mencoba memungut kepingan receh yang berserakan di lantai.

Berjongkok tepat di hadapan keranjang pakaian kotor, pemuda itu kemudian memungut kepingan uang receh terakhirnya dan menatap tumpukan di hadapannya dengan tatapan heran. "Tinggal sendiri di rumah sebesar ini pasti sulit, eh?" Komentarnya seraya mengangkat sebuah celana panjang yang seingatnya ia berikan pada detektif itu sebelum mereka membawa detektif itu pulang malam sebelumnya. "Tidak ada yang mengingatkan tentang pakaian kotor dan mungkin baru bisa dicuci saat akhir pekan."

Kaito lalu terkekeh pelan, mengingat bagaimana ibunya selalu berteriak saat mencuci pakaian karena ia, Kuroba Kaito, terkadang lupa membuang botol pewarna rambut, glitter, dan lem dari kantong bajunya.

"Ternyata dia memakai piyama bebek ini," gumamnya ketika menyadari ada kain bermotif bebek kuning terselip di antara tumpukan pakaian kotor. Dengan satu alis terangkat, pemuda itu menarik piyama tersebut dan menemukan sesuatu tersimpan dalam saku depan piyama yang dipegangnya.

Sesuatu berbentuk persegi dengan berat beberapa ratus gram dan berwarna hitam.

"Kenapa bisa ada padanya?" Gumam pemuda itu pada dirinya sendiri ketika ia keluarkan benda hitam tersebut dari dalam saku. Keterkejutan berhasil menyelimuti wajahnya, menemani kedua bolamatanya yang membelalak sempurna.

Keningnya mengernyit seketika saat dilihatnya bagian depan ponsel tersebut telah berlubang cukup besar dan ada sedikit noda darah pada bagian pinggir engsel ponsel flipnya.

Merasa berdiam diri tidak akan menjawab pertanyaannya, Kaito dengan cepat membuka flip ponsel hitam lamanya dan sama sekali tidak terkejut saat dilihatnya ponsel tersebut dalam keadaan mati. LCD telah pecah, sepertinya sesuatu yang melubangi bagian depan ponsel itu berhasil menembus hingga bagian LCDnya. Selain itu, ia bisa melihat bekas noda basah pada beberapa keypad ponselnya dan bekas gesekan pada bagian layarnya.

Ia pun beralih pada bagian belakang ponsel, memeriksa keberadaan stiker foto yang ia sengaja tempelkan pada kap penutup baterai serta keberadaan SIMCARD serta slot SDCardnya.

T, tidak ada … Apa dia yang mengeluarkannya? Apa ini artinya—inikah yang ingin ia bicarakan?

Untuk terakhir kalinya pemuda itu menatap ponsel hitam lamanya sebelum mengembalikannya di tempat dimana ia menemukannya.

Tenanglah, kau pasti bisa menghadapinya.

Dengan satu gerakan cepat pemuda itu memeriksa penampilannya di depan cermin, menarik nafas panjang dan men-sugestikan dirinya untuk tetap tenang sebelum melangkah keluar dari toilet.

Selagi mereka membahas kasus semalam, mungkin aku bisa melakukan sesuatu pada ponselku … batin Kaito saat dilihatnya Shinichi dan tiga orang dewasa telah mendudukan diri di tengah ruangan dan tampak sedang membahas sesuatu. Pemuda itu pun, karena tidak ingin mengganggu dan butuh sedikit 'privasi' memutuskan untuk mendudukan diri di atas kursi kerja milik Yusaku Kudo.

Detektif itu pun sepertinya sudah menyiapkan makanan miliknya di atas meja kerja tersebut, seolah menyengaja agar ia dapat mendengarkan semua percakapan—Uh, oh.

"Hatsune-san," suara Takagi samar terdengar dari tempatnya berada saat Kaito membuka penutup makanannya. Pemuda itu melirik sekilas ke arah dimana Shinichi berada dan nampaknya, ia sedikit terhanyut dalam pembicaraan. "Kalau kau terus menunda-nunda, bisa saja sesuatu terjadi di luar sana."

"Tidak!" Hatsune Ema berseru tegas. "Aku hanya akan menceritakanya jika Conan-kun ikut dalam pembicaraan ini!"

Conan-kun? Kaito mendongak, satu tangannya bergerak meraih kentang goreng yang tersedia dan melihat ke arah dimana Hatsune Ema duduk. Benar juga, sejak tadi kudengar wanita itu ingin membahas sesuatu dengan Chibi-tantei.

"Begini, Hatsune-san," Shinichi kali ini mengambil alih pembicaraan. "Conan-kun menyelidiki hotel itu karena … aku yang memintanya. Kuharap kau mengerti bahwa semua yang akan kau ceritakan padanya—aku yakin ia sudah menceritakannya padamu, tentang kasus penembakan yang terjadi—sangat penting bagiku."

"Tentu saja aku paham hal itu!" Hatsune Ema bersikeras, keningnya berkerut. "Yang aku inginkan adalah Conan-kun untuk mendengarnya juga. Sejak tadi kau hanya bilang bahwa ia sudah pulang, tetapi aku yakin kau menyembunyikannya!"

"Tetapi, dia—"

"Nah, ah! Aku tidak akan bicara sampai kau beritahu aku dimana anak itu."

Shinichi pun menghelakan nafasnya, seutuhnya memahami kekeraskepalaan wanita lawan bicaranya dan melawannya tidak akan membuat wanita itu luluh. Jika wujudnya saat ini sedikit lebih kecil, mungkin ia bisa melakukan sesuatu. Seperti menatap wanita itu dengan wajah memelas dan mata berair—tidak, tidak.

Kudo Shinichi tidak melakukan itu.

Lalu bagaimana caranya agar wanita ini mau berbicara?

"Ema-san," Kaito memanggil wanita itu setelah menelan pasta yang baru disuapkannya. Pemuda itu lalu mengangkat sumpit—ya, sumpit! Ia memakan pasta dengan sumpit!—yang dipegangnya dan menunjuk ke arah Shinichi yang duduk pada sebuah armchair di samping Takagi. Shinichi menoleh ke arahnya. "Lebih baik kau ceritakan padanya. Percayalah, jika dia sudah merasa penasaran, dia mampu melakukan apapun yang, ah, nakal."

Shinichi mendelik ke arahnya, itu yang Kaito lihat saat detektif itu menggumamkan sesuatu dengan wajah yang sedikit merona. Sepertinya kalimat yang ia ucapkan sedikit membangkitkan ingatannya tentang insiden di pemandian air panas, saat detektif itu tiba-tiba saja menyerangnya. Ah, ya, kata 'menyerang' ternyata terdengar sedikit negatif di telinganya.

"Lanjutkan saja makananmu!" detektif itu berujar dengan wajahnya yang memerah dan mengabaikan tawa Kaito yang kemudian terdengar sangat geli dalam ruangan itu.

Hatsune Ema menatap ke arah Kaito dengan kening berkerut, pemuda itu pun hanya memberi tanda dengan sebuah gelengan lemah dan dua jarinya bergerak membuat tanda kutip di udara yang pada akhirnya membuat Hatsune Ema menghelakan nafasnya.

"Jadi," Hatsune Ema melirik ke arah Shinichi. "Conan-kun benar sudah pulang?"

Pertanyaan ini membuat beberapa pasang mata terarah pada sang detektif.

"Hm, ya. Sudah pulang," Shinichi melanjutkan dengan satu jari menggaruk pipinya. "Karena itu, Hatsune-san, aku yang akan meneruskan penyelidikan ini. Setiap petunjuk yang kau berikan, sekecil apapun, akan sangat berguna."

Hatsune Ema melirik ke arah detektif itu sekali lagi dan masih nampak enggan mengatakan apapun yang ingin ia ceritakan pada bocah detektif yang menjadi penyebab mengapa ia berada di kediaman Kudo itu. Dengan satu lirikan terakhir yang ia tujukan pada kedua polisi yang juga sedang menatapnya, wanita itu menghelakan nafasnya.

"Dengan satu syarat," ujarnya tegas. "Setelah aku bercerita, aku akan ikut denganmu kemanapun kau pergi. Biar bagaimanapun juga, aku merasa orang yang mengincar nyawamu itu ada hubungannya denganku."

Shinichi mengangkat satu alisnya. Begitu juga Sato-keiji danTakagi-keiji yang saling berpandangan satu sama lain, sementara di tempatnya, Kaito tampak sedang menikmati potongan ayam pada pastanya sambil bersenandung.

Detektif itu kemudian mengangguk pelan walau dengan segelintir keraguan dalam hatinya karena setelah ia mendengar cerita dari wanita itu, mau tidak mau, ia akan melibatkan wanita itu dalam sebuah kasus berbahaya. Walaupun wanita itu sendiri yang menawarkan diri, ia tetap tidak bisa meyakinkan dirinya bahwa mengizinkan wanita itu ikut dalam penyelidikan adalah hal yang benar.

Mungkin ia bisa melakukan sesuatu atau setidaknya Kaito bisa mengalihkan perhatian wanita itu. Good, keputusannya mengajak pesulap itu adalah rencana hebat!

"Begini," wanita itu memulai setelah meminum teh yang sudah diisi ulang oleh sang detektif. "Kemarin saat sedang menyelidiki pelaku pembunuhan di hotel itu, aku menceritakan tentang website resmi kantorku yang di-hack oleh seseorang. Setelah kuceritakan, Conan-kun memintaku untuk mengingat dimana aku pernah melihatnya—logo yang memenuhi website perusahaanku—selain pada halaman websiteku itu."

Shinichi menganggukan kepalanya pada Sato-keiji yang kemudian mengeluarkan selembar foto yang berisi gambar ukiran pada badan peluru yang mereka temukan di malam aksi pencurian Kaito KID. Hatsune Ema lalu mengangguk yakin setelah melihat foto tersebut.

"Ya, persis seperti itu," ujarnya dengan kening berkerut. "Awalnya sulit untuk mengingatnya. Tetapi, setelah aku bertemu dengan Riikai semalam, aku yakin ingatanku tidak salah."

"Riikai?"

"Pelaku dua kasus pembunuhan semalam. Saat ini ia masih berada dalam pengawasan hingga semua laporan selesai diperiksa oleh pengadilan," jelas Takagi pada Sato Miwako.

"Lalu, apa yang bisa kau ingat?"

Wanita itu melanjutkan, "Tattoo. Riikai dan pria itu memiliki tattoo yang sama dengan gambar itu. Mereka membuatnya sejak duduk di bangku sekolah."

"Apa kau yakin, Hatsune-san?" Takagi terdengar ragu. "Saat pemeriksaan semalam, kami tidak menemukan tattoo pada tubuh Sakuragi Riikai-san. Hanya ada sebuah tanda lahir di dada kanannya dan sebuah luka bekas jahitan di bahu kanannya."

"Tentu saja tidak akan bisa kau temukan," Hatsune Ema berkata tajam. "Tattoo itu ada di sekitar sini—" wanita itu menunjuk lengan kanannya. "—tetapi dua atau tiga tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan sehingga dokter harus memasang semacam ring pada bahu kanannya dan mengangkat kulitnya yang terbakar."

"Ah," Takagi menepuk tangannya. "Jadi, itu sebabnya ada sedikit perbedaan warna pada lengannya. Karena lengannya terbakar, tattoo itu pun hilang!"

"Ya, aku pernah mendengar cara terbaik untuk menghapus tattoo adalah dengan 'mengganti' kulit. Beberapa orang terkadang nekat menyetrika dirinya sendiri untuk menghilangkan tattoo pada tubuhnya," Sato-keiji menambahkan. "Kuanggap kau memiliki hubungan cukup dekat dengan Sakuragi-san, Hatsune-san. Lalu, pria itu adalah? Tadi kudengar kau sempat menyebutkannya."

"Itu," Hatsune Ema menggigit bibirnya. Wanita itu menggeleng pelan dan satu tangannya kini memijat batang hidungnya. "Akihiro," gumamnya pelan. "Tonegawa Akihiro. Dia adalah—"

"Seorang putra pengrajin besi terkenal di Osaka dan sekaligus kekasih gelapmu, benar?" sahut seseorang dari arah dimana Kaito duduk. Samar, suara Kaito terdengar sedang memrotes sesuatu dan ada bunyi gemerisik dari sana.

Shinichi kemudian menoleh ke arah sumber suara dan hanya bisa menatap datar sesosok Hattori Heiji yang lengkap dengan seragam sekolahnya kini sedang disuapi potongan daging ayam oleh Kaito, yang terlihat menggembungkan pipinya.

"Oi, Kuroba! Jangan pelit! Berikan potongan yang besar itu!" protes detektif dari barat itu ketika dilihatnya Kaito mengarahkan potongan ayam yang cukup besar ke dalam mulutnya sendiri. Dengan satu tangan, detektif Osaka itu menarik tangan Kaito dan melahap potongan ayam terakhir yang sudah disimpan Kaito untuk dimakan terakhir.

"Heiji no yarou," desis Kaito saat detektif Osaka itu menjauhinya dan menghampiri kursi dimana Shinichi berada. Ia bahkan membawa susu coklat yang pesulap itu buat beberapa menit lalu!

"Mwaaf afu fwehambwat," ujar detektif berkulit gelap itu seraya menduduki sofa dimana Sato-keiji duduk. "Adwa hulangan hulu hefehum huhang."

Shinichi menatap sebal rekan detektifnya itu lalu melirik ke arah Kaito yang sibuk menyuapkan pasta ke dalam mulutnya sambil sesekali mengumpat kesal.

Sebenarnya berapa umur mereka? … pikirnya sebelum kembali menatap ke arah Heiji yang saat ini sedang mengeluarkan sebuah kamera pocket dari saku celananya.

"Kemarin, sebelum datang ke hotel dimana kasus itu terjadi," Heiji mulai menjelaskan. "Aku mendatangi kediaman Tonegawa, salah satu dari beberapa pengrajin besi di Osaka. Rumah itu kosong dan hanya ada seorang nenek pikun yang sama sekali tidak membantu penyelidikan. Yah, pada akhirnya ia sedikit berguna.

"Aku berhasil mengakses bengkel kerjanya yang berada di samping rumah, tetapi nihil. Semuanya tampak rapih dan kudengar bengkel itu tidak pernah dipakai beberapa tahun terakhir. Dari sana, aku menemukan sebuah buku, katakanlah arsip, yang menyimpan semua data pembuatan kerajinan yang pernah ia buat."

"Semacam portofolio?" Kaito bertanya dari tempatnya dan Heiji mengangguk pelan.

"Hei, tunggu. Apa yang kau lakukan disini, Kuroba?"

Kaito mengangkat bahunya, "Menumpang makan siang? Mungkin?"

"Aku yang mengajaknya datang, bisa kita lanjutkan?" Shinichi terdengar tidak sabar.

Dengan mulut yang membulat, Heiji menatap bergantian wajah sang detektif dan sang pesulap yang masih menyibukan diri dengan makanannya. Detektif berkulit gelap itu terkekeh pelan. "Sepertinya kalian semakin dekat saja."

"Hattori."

"Ah, yes!" Heiji menyeringai. "Baiklah, sampai dimana kita tadi? Oh, benar! Arsip milik Tonegawa. Ya, seperti kalian bayangkan, isi arsip itu penuh dengan detail desain, nama pemesan, dan foto hasil jadi. Ada beberapa yang memiliki nama pekerja yang membuatnya, tetapi tidak begitu penting.

"Di antara arsip-arsip itu aku menemukan satu foto terselip, yakni, gambar peluru yang sama dengan, ah, seperti itu!" Detektif Osaka itu menujuk ke arah foto arsip kepolisian. "Tetapi, tidak ada data lain selain foto itu. Setelah kutanyakan pada nenek pikun itu, ia hanya bilang bahwa tidak pernah ada yang membuat desain seperti itu. Ia hanya pernah melihatnya di kamar milik Akihiro."

"Kamar itu kosong?" Sato-keiji bertanya dengan penuh ketertarikan.

Heiji menganggukan kepalanya, "Tidak terawat dan sepertinya ia sudah lama tidak menempati kamarnya."

"Sejak lulus SMA, kudengar Akihiro sudah tidak tinggal bersama orangtuanya. Tetapi, jika ditanya alamat, ia akan memberikan alamat orangtuanya," Hatsune Ema menjelaskan dengan suara pelan. "Apa saja yang kau temukan?"

Merasa suasana sekitarnya mulai hening, Heiji kemudian memutuskan untuk melanjutkan ceritanya.

"Saat memasuki kamar pria bernama Akihiro itu, kutemukan beberapa gambar coretan dan desain ukiran tersebut. Ia juga mengukir meja belajarnya dengan gambar itu dan ada beberapa variasi gambar, sepertinya ia sedang memutuskan finalisasi bentuk ukirannya saat itu. Ah, ini foto-foto yang berhasil kuambil."

Sato-keiji yang pertama kali menerima kamera itu mulai melihat apa-apa saja yang berhasil didapatkan oleh Heiji. Wanita itu mengerutkan keningnya lalu mengoper kamera itu pada Takagi. "Hattori-kun, darimana kau tahu kalau Hatsune-san adalah kekasih gelap pemuda itu?"

"Mereka terlihat seperti sepasang kekasih biasa di mataku," Takagi menambahkan setelah melihat satu foto yang memuat gambar sebuah figura di atas meja yang memperlihatkan kedekatan Hatsune Ema dengan seorang pria dan mengoper kamera itu pada Shinichi.

"Yah, aku pun berpikir seperti itu saat melihat meja pria bernama Akihiro itu. Banyak sekali foto-foto yang menunjukan kedekatan wanita ini dengan pria itu dan beberapa sepertinya mereka ambil, ehm, setelah berhubungan," Heiji memperkecil suaranya saat mengucap kalimat terakhir. "Tetapi, dalam ruangan itu aku menemukan sebuah foto—foto wanita ini—yang dicabik-cabik dengan sejenis pisau dan beberapa kartu pos yang berkata 'Sampai kapan kau mau dibutakan oleh wanita jalang itu?'. Hm, ya, kalimatnya tidak sama persis. Tetapi intinya seperti itu.

"Nenek itu bilang, bahwa sebenarnya ada banyak surat ancaman seperti itu ditujukan pada Akihiro, tetapi pria itu menyuruh nenek itu untuk membuangnya. Aku juga sudah melihat tulisan wanita ini semalam dan bisa kupastikan pengirim kartu pos itu adalah orang lain. Oh, benar juga. Semua kartu pos itu beraroma seperti apel dan sepertinya semalam aku mencium bau serupa saat berada di hotel tersebut."

"Bau apel?" Takagi dan Sato berujar bersamaan, Heiji mengangguk pelan. Di tempatnya, Kaito mengernyitkan dahinya.

Apel?

"Kurumi," Hatsune Ema mengucap pelan sebelum Heiji sempat mengatakan sesuatu yang melintas dalam kepalanya. Dengan senyum kecut wanita itu merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah dogtag dari dalam sana. "Kurumi, Riikai, dan Akihiro memiliki tattoo yang sama. Tetapi, hanya Kurumi dan Akihiro yang memiliki dogtag ini."

.

.

.

.

"Kau terlambat, Kurumi."

Menoleh ke arah pembicara, Kurumi kemudian melepas kacamata hitamnya dan menyelipkannya pada kerah blouse yang ia pakai. Dengan seulas senyum wanita itu berjalan menuju si pembicara. "Tidak sepertimu, aku punya banyak pekerjaan, Chris."

Chris Vineyard tersenyum tipis. "Komentar pedas seperti biasa, eh?" Goda wanita berambut pirang yang terikat rapih di belakang kepalanya. Wanita itu kemudian mengulurkan tangannya, membiarkan jemari tangannya yang terlapisi sarung tangan hitam menyentuh permukaan dingin teko keramik dan menuangkan isinya pada sebuah cangkir dengan desain serupa.

"Bagaimana hubunganmu dengan si fotografer tampan itu?"

Melirik ke arah cangkir yang kini digeser ke arahnya, Kurumi hanya diam dan menyandarkan tubuhnya. Satu tangan wanita itu kemudian menyibak helai rambutnya, membiarkannya bergerak mengikuti hembusan angin.

Café.

Dari jutaan lokasi yang bisa mereka pakai untuk bertemu, Chris Vineyard memilih sebuah café.

Tentunya bukan café yang bisa kau masuki hanya dengan beberapa lembar uang di kantong, sepulang sekolah bersama teman-temanmu, melainkan sebuah café ekslusif di daerah pegunungan.

Interior bergaya Jepang klasik dan suguhan menu dari para koki kebanggan Jepang—Ah, selebriti wanita seperti Chris Vineyard pastilah terbiasa dengan lingkungan seperti ini.

"Kau tahu? Seseorang bisa menjadi sangat dungu jika berbicara tentang cinta."

Chris tersenyum tipis, "Pantaskah kau bicara seperti itu?"

"Kau turun tangan dalam kasus ini pun, semua karena masalah percintaan, benar?" wanita berambut pirang itu melanjutkan.

Satu tangan Kurumi terulur, meraih cangkir teh keramik yang dipenuhi oleh kentalnya teh beraroma apel segar dan menuangkan isinya pada aliran air yang mengelilingi café tersebut. "Kau tahu waktuku tidak banyak, benar?"

"Tentu saja," Chris menjawab santai. "Tetapi, sebelum itu, maukah kau cicipi kue yang kupilihkan untukmu? Mungkin dengan kue ini aku bisa menghemat sedikit tenagaku."

Wanita berambut pendek itu mendelik namun tidak menolak ketika seorang wanita berkimono datang mengantarkan sepiring kue ke hadapannya. Dengan tatapan menyelidik, wanita yang bekerja sebagai petugas kebersihan hotel Hyatt Regency itu membelah kue tersebut menjadi dua.

Alkohol.

"Jadi, detektif kecil itu memang bukan anak biasa?" Kurumi tersenyum kecut. Disingkirkannya piring kecil berisi kue dari hadapannya dengan satu gerakan cepat. "Bagaimana dengan gadis itu?"

Chris Vineyard tertawa mendengarnya. "A Girl? Which one?"

"Ia tidak pernah berpaling dari bocah itu. Cara gadis itu memandangnya," Kurumi mengernyitkan dahinya, "berbeda dengan apa yang ia katakan." Dan ia pikirkan.

Chris nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia katupkan kelopak matanya. Seulas senyum tipis kembali muncul pada wajahnya. "Interesting, huh?"

Kurumi menggedikan bahunya. "Menyeramkan dan berbahaya."

"Oh?"

"Mereka dekat, tetapi mereka jauh. Mereka saling membenci, tetapi mereka peduli," Kurumi mendengus. "Mereka merahasiakan, tetapi mereka berharap. Mereka bekerja sama, tetapi mereka berjalan masing-masing. Entah kata apa yang harus kupilih untuk menggambarkan hubungan mereka.

"Kombinasi yang tidak menguntungkan. Ancaman bagi kau dan teman-teman kotormu, juga untuk mereka sendiri," ucap Kurumi dingin.

Chris menatap lawan bicaranya sejenak lalu meraih kotak rokok miliknya yang ia letakan di atas meja. "Akhir-akhir ini aku sedang tertarik dengan permata. Mereka memiliki banyak sekali variasi di luar sana, tetapi entah mengapa, sepertinya tidak semua permata itu menarik perhatianku.

"Aku hanya butuh permata yang tiada duanya di dunia ini dan untuk bisa memilikinya, perlu sedikit kerja keras. Do you know, Kurumi? Semua permata mengalaminya. Perasaan tertekan, panas, dingin, dan terkikis hingga akhirnya mereka bisa bersinar bahkan jauh lebih terang daripada sinar bintang."

"Aku tidak tertarik dengan benda-benda berkilau dan astronomi," tandas Kurumi tanpa menatap lawan bicaranya.

Chris tertawa pelan.

"Well, of course! Yang kau sukai hanyalah memberantas ular-ular yang berkeliaran di ladang petani, benar? Tetapi, kenapa?" Chris menajamkan nada bicaranya. "Kenapa kau biarkan seekor piton berkeliaran bebas di luar sana dan menelan permataku?"

Kurumi tidak menjawab. Ia biarkan lawan bicaranya mengarahkan tatapannya tepat pada manik matanya sebelum ia alihkan pandangannya pada vas bunga yang berada di hadapannya. "Kau tahu ia bukan urusanku. Sejak awal aku datang untuk membasmi ular-ular kecil yang merasa diri mereka adalah penguasa ladang, bukan untuk membunuh seekor piton yang diperintahkan untuk mencuri permatamu.

"Jika memang pada akhirnya permatamu harus hancur, salahkan dirimu yang membuat mereka tenggelam dalam gelapnya malam. Semakin kau pertunjukan permatamu, semakin banyak yang akan mengincarnya."

"Termasuk dirimu, benar?" Tanya Chris tenang tanpa menatap lawan bicaranya dan satu pertanyaan itu mampu membuat Kurumi terhenyak.

Chris kemudian menggerakan bolamatanya, mengarahkannya pada sosok Kurumi yang membelalakan matanya setelah mendengar apa yang lawan bicaranya tanyakan. Seulas senyum tipis yang terasa dingin dan mengancam pun berhasil wanita itu perlihatkan pada lawan bicaranya, membuat sosok wanita yang telah dikenalnya selama beberapa tahun terakhir itu terlihat gemetar dan berkali-kali mencoba menghindari tatapannya.

Jelas sudah bagi Chris Vineyard bahwa wanita yang menjadi lawan bicaranya tidak tahu bahwa apa yang sudah dilakukannya pada malam sebelumnya, semua terpantau, bahkan terekam dalam benaknya.

Satu tangan Chris kemudian bergerak merogoh saku blazer hitam yang dipakainya, mengeluarkan sebuah plastik kecil berisi butiran peluru, dan melemparnya ke arah dimana Kurumi berada, wanita itu kemudian dengan sigap menangkap plastik itu dan meremasnya.

"Ah, sepertinya aku terlalu bersemangat mengerjakan misi kecil darimu, hingga tidak kusadari bahwa kau hanya memberikan sebutir peluru bius." Suara wanita itu terdengar meledek dan memberanikan diri untuk menghadapi lawan bicaranya. "Hanya luka lecet, benar? Itu tidak akan membunuh seekor tikus yang telah menjadi kelinci percobaan organisasi busukmu."

Chris menarik salah satu sudut bibirnya, nampak terhibur dengan respon yang diberikan oleh lawan bicaranya.

"Sebesar apapun usahamu berlari dari takdirmu," ujar Chris tenang, mengabaikan ketegangan yang mulai menyelimuti lawan bicaranya. "Darah tetaplah lebih kental daripada air."

"Apapun yang kau lakukan adalah sia-sia, My Dear."

Menelan ludahnya, Kurumi kemudian menahan gerakan tangannya yang terasa kaku saat ia mencoba mengambil pistol kecil yang diselipkannya pada ikat pinggangnya, terutama ketika lehernya merasakan dinginnya mulut pistol yang baru saja dikokang.

Bergerak artinya mati.

Ia tidak memiliki pilihan lain selain mengabaikan pistol kecil dalam lingkaran ikat pinggangnya dan mendengarkan 'hukuman' kecil yang akan diterimanya karena melanggar sebuah perjanjian. Atau jika ia nekat, saat ini wanita di hadapannya, yang tengah menghembuskan asap rokok ke udara, bisa ia lubangi kepalanya dan biarkan pistol yang menempel pada lehernya melakukan hal yang sama.

Kondisi 50:50.

"Aku tahu kau sibuk," Chris berkata setelah memberi tanda kepada penembak di belakang Kurumi untuk memberi sedikit kelonggaran untuk wanita bertubuh mungil itu. Dengan ujung jari telunjuknya, Chris mengangkat dagu Kurumi, mensejajarkan garis pandang mereka. "Karena itu, lebih baik kau beritahu aku informasi yang kubutuhkan dan kau boleh pergi. Waktu adalah uang, benar?"

Wanita bertubuh mungil dengan rambut pendek di hadapan Chris tidak menjawab. Sebaliknya ia semakin merapatkan bibirnya dan menajamkan pandangannya ke arah wanita yang ia ketahui berusia lebih tua dibandingkan dirinya. Dengan sebuah seringai sinis, Kurumi kemudian meludah ke arah dimana wajah Chris berada dan merasakan seseorang menjambaknya dari belakang, mendorong keras kepalanya ke arah meja dan menekannya tanpa ampun.

Sekali lagi dinginnya mulut pistol bisa ia rasakan dan kini merambat ke keningnya.

"Kau tahu, Chris? Sejak dulu aku tidak pernah menyukaimu!" desis wanita itu menahan nyeri pada kepalanya. "Kau selalu mendapatkan apapun yang kau inginkan. Kau bahkan tidak pernah menggerakan seujung jari pun."

Wanita itu terdiam sejenak. "Semua sudah terlambat. Malam ini juga, permatamu akan hancur di tangannya!"

.

.

.

.

Jam sekali lagi berdentang cukup keras dalam ruangan yang didominasi oleh tumpukan buku-buku tebal bergenre misteri. Jarum pendek pun telah menemukan singgasananya tepat di angka 6 dan jarum panjang mulai bergeser dari angka 12.

Jari telunjuk Kaito dengan malas digesekan di atas permukaan trackpad laptop milik Shinichi yang dipinjamnya beberapa menit lalu (dengan alasan menunggu dan hanya berdiam diri membuatnya bosan dan ia tidak ingin membaca novel misteri, maka detektif itu pun meminjamkan laptopnya pada sang pesulap) dan entah hal apa lagi yang harus ia lakukan selain menunggu para zombie hancur oleh serangan perangkap tanaman yang dipasangnya.

Sungguh membosankan.

Tidak ada mainan seru terpasang pada laptop milik sang detektif dan kalaupun ada, semuanya tidak pernah tersentuh sehingga Kaito harus membuat slot karakter baru dan memulai semuanya dari awal.

Koleksi e-book milik detektif itu pun tidak membantunya menghilangkan kebosanannya. Semuanya terlihat seperti versi digital buku-buku yang saat ini mengelilinginya. Genre misteri dan ada beberapa e-book dengan genre edukasi yang—Apa menurutmu membaca buku pelajaran di saat bosan akan menghilangkan rasa bosanmu? Heh, tentu tidak.

Bahkan isi folder gambar, musik, dan video-nya nampak kosong! Oh, ya. Benar juga. Mungkin detektif itu menyimpannya dalam hard disk terpisah agar data-data penting seperti itu tidak hilang jika terjadi sesuatu pada laptopnya.

Baiklah, kali ini dimaafkan.

Jika dilihat dari isi laptop tersebut, menurut pendapat seorang Kuroba Kaito, seorang pemuda pelajar SMA biasa yang menghabiskan waktunya di depan laptop dan gadget-gadget minimal satu jam sehari (waktu tambahan jika ia sedang menyelidiki lokasi dan permata yang akan diincarnya) sepertinya Shinichi hanya memakai laptopnya untuk keperluan membuat tugas dan browsing.

Benar-benar membosankan.

Tunggu sebentar ... Browsing?

"Peluru yang sama juga ditemukan di gudang kosong tempo hari," suara Sato-keiji kembali terdengar samar dari tempat mereka berkumpul.

Kaito memiringkan kepalanya, mengintip dari balik layar laptop di hadapannya ke arah dimana beberapa orang sedang membahas dimana-mana saja peluru berukiran ular itu ditemukan dan mereka tampak sedang mencoba menghubungkan setiap kasus yang sudah mereka tangani untuk mencari petunjuk.

Shinichi di tempatnya, sejak tadi, hanya diam dan memerhatikan apa yang sedang dibahas oleh Sato-keiji. Sementara itu Heiji dan Takagi-keiji sesekali memberi pertanyaan yang tidak mereka pahami dan di tempat duduknya Hatsune Ema terlihat sibuk melakukan sesuatu. Entah apa, tetapi sepertinya ia benar-benar serius mengerjakannya.

Pemuda itu terkekeh pelan dan kembali menatap layar laptop di hadapannya.

Kenapa tidak sejak awal saja kupakai laptop ini untuk browsing? Pikir pemuda itu saat kursor hitam ia arahkan pada icon mesin pencari. Ia menyempatkan diri melirik ke pojok kanan bawah layar laptop dan menyeringai puas saat dilihatnya koneksi wifi telah tersambung. Ia pernah beberapa kali mencoba menggunakan koneksi wifi rumah itu, namun beberapa kali juga ia gagal menebak password yang tersedia. Sepertinya kepala keluarga Kudo-lah yang diberi kepercayaan untuk menyusun rangkaian passwordnya dan hanya anggota keluarga Kudo yang mengetahuinya.

Cih.

"Hm," pemuda itu mencondongkan tubuhnya, siap menekan setiap huruf pada keyboard laptop di hadapannya. "Bagaimana kalau kita mulai dengan 'Masaoka Yoshitsune'?"

Sembari menggumam pada dirinya sendiri, pemuda itu mulai mengetik pada kolom mesin pencari dan dengan lincah membuka beberapa tab tambahan untuk membuka artikel-artikel yang ia temui. Jujur saja ia tidak terkejut melihat beberapa artikel terbaru yang ada telah diberi tanda 'sudah dikunjungi', biar bagaimanapun ia sedang memakai laptop seorang detektif yang memiliki sifat ingin tahu yang menakutkan, hal-hal semacam ini pasti wajar.

Setelah lima menit melihat beberapa artikel yang dibukanya—yang secara garis besar menceritakan kejadian pemboman di gedung NTT Docomo Yoyogi dan juga kasus penculikan putrinya Masaoka Yumi beberapa tahun silam—pemuda itu dengan cepat menutup semua artikel yang dibukanya dan kembali mengetik kata kunci baru pada mesin pencari.

Tangannya yang terlatih untuk melakukan 'atraksi' dan akibat kebiasaan memakai laptop tanpa menggunakan mouse membuatnya dengan mudah membuka dan menutup serta mengakses beberapa tab artikel sekaligus. Bola matanya pun dengan awas meneliti setiap kata yang tertera pada layar, tidak satu patah kata pun ia lewatkan. Begitu pula dengan setiap gambar yang ada, semuanya telah ia ingat dengan mudah hingga ke detailnya.

"Ya, setelah kami lacak, group pecinta alam itu sudah lama dibubarkan oleh pemerintah karena merupakan ancaman bagi masyarakat. Tetapi, beberapa anggotanya masih menjalankan misi organisasi mereka di luar negeri," suara Sato-keiji kembali terdengar di saat Kaito baru saja membuka sebuah tab baru. "Kami juga sudah menginterogasi perihal masalah kardus berisi peluru itu pada beberapa anggota yang berhasil kami temui, tetapi nihil. Mereka memang mengenali bom dalam lemari itu sebagai buatan Sawada-san, tetapi tidak ada yang pernah melihat peluru-peluru itu sebelumnya."

"Bom dan Lembaga Perlindungan Alam," eja Kaito saat jemarinya mengetik kata yang ia bisikan pada kolom mesin pencari. Pemuda itu mengangkat satu alisnya, merasakan ada sesuatu yang ia lewatkan dari beberapa artikel yang telah dibacanya.

Memejamkan matanya, Kaito pun mengernyitkan dahinya. Mencoba mengingat segelintir informasi yang sudah ia lewatkan dan ia rasa penting. Entah untuk apa, tetapi informasi kecil itu dirasakannya bisa memperjelas apa yang menutupi pandangannya saat ini.

Namun, apa?

Apa yang ia lewatkan?

Pria itu mengucapkan sesuatu yang—Ah, ya! Ucapan! Saat itu, di sebuah gudang tua ia mendengarnya sendiri, melihat dengan mata kepalanya bagaimana seorang Kudo Shinichi kehilangan kontrol terhadap emosinya dan …

Orang-orang berbaju hitam.

"Organisasi," pesulap muda itu menghentikan gerakan tangannya, kedua mata masih terpejam. "Chris-san pernah bilang kalau ia … Organisasi … Pakaian hitam—"

"Tetapi, kalau diperhatikan baik-baik, ukiran ini seperti inisial, eh?" Heiji yang sempat diam dan hanya mengerutkan keningnya mulai berbicara. Kedua tangannya nampak memegang sebuah foto yang kemudian diterawangnya di bawah pancaran sinar lampu. "Aku bisa paham jika huruf 'S' adalah inisial dari nama komplotan itu—apa namanya? Ah, ya, Stockholm Sesuatu itu. Tetapi, kenapa putra Tonegawa dan teman-temannya memiliki ukiran yang sama?"

Inisial … Organisasi dan orang-orang berpakaian serba hitam? Organisasi … hitam? OB? Tidak, sepertinya ituB dan O?

Pemuda itu menarik nafasnya dan secara teratur mulai mengatur kepingan informasi yang sudah ter-input dalam pikirannya. Dengan tatapan tajam dan tangan yang tercengkram di atas permukaan keyboard laptop, pemuda itu pun menarik sudut bibirnya, memberikan dirinya sebuah seringai bangga atas apa yang telah ia pecahkan.

Jadi, itu sebabnya kenapa Chris-san menyebut kami berada pada posisi yang sama? Seperti Sherlock Holmes dan Arsene Lupin—Tunggu, aku masih tidak paham angka 4869 dan lagu itu. Apa hubungannya dengan semua ini? Mungkinkah ada kaitannya dengan kondisi kesehatan Tantei-kun akhir-akhir ini? Atau mungkin—

"Dokter," suara Hatsune Ema terdengar setelah cukup lama tidak terdengar. Kaito dan beberapa orang yang ada dalam ruangan itu pun menoleh ke arah wanita berambut merah gelap tersebut, menatapnya bingung, namun tidak seorangpun menyuarakan apa yang mereka pikirkan.

Sekali lagi suara Hatsune Ema kembali terdengar.

"Akihiro adalah seorang dokter, tetapi ia tidak punya izin prakteknya sendiri. Sejak lulus kuliah ia bekerja hanya sebagai dokter pengganti dan terkadang ia menjadi relawan untuk acara bakti sosial," wanita itu menghelakan nafasnya pelan. "Ia punya pekerjaan sampingan yang ia rahasiakan dariku. Tetapi, aku yakin pekerjaan itu ada hubungannya dengan pertemuannya dengan teman-temannya yang selalu dilakukan malam hari."

"Informan," Shinichi menggumam dengan suara cukup keras untuk bisa didengar seisi ruangan. "Sepertinya Akihiro-san dan Riikai-san bekerja sebagai informan. Pekerjaan mereka memungkinkan mereka untuk menggali informasi tanpa harus dicurigai. Kalau dugaanku benar, mereka memutuskan untuk berhenti dan hal itu menyebabkan mereka kini diincar oleh komplotan itu."

"Seseorang pernah mengatakannya padaku, bahwa bagi seorang pengkhianat tidak memiliki tempat untuk berlari," lanjut detektif itu dengan nada datar dan terdengar dingin.

Dokter … Informan … Pengkhianat? Tunggu, tunggu. Kalau tidak salah laki-laki yang kulihat tempo ... hari...

Mengalihkan pandangannya pada sesosok detektif berkemeja putih, pemuda itu kemudian mengangkat satu alisnya. Diperhatikannya bagaimana detektif dari timur itu bergerak yang dalam pandangannya, nampak sedikit gelisah. Beberapa kali ia tidak fokus pada pembicaraan, beberapa kali pula ia memijat keningnya, bahkan bisa terlihat dari tempatnya berada bagaimana sang detektif mengetuk jemarinya di atas lengan kursi yang ia dudukan.

Bagaimanapun dilihat, sepertinya ada sesuatu yang mengganggunya dan ibunya sering menasihatinya untuk selalu meluangkan barang 5 hingga 10 menit untuk beristirahat dari segala macam kepenatan.

Ya! Tentu saja! Semua orang, termasuk detektif dari timur beserta para polisi yang kini sedang membahas sesuatu di sana, memerlukan istirahat. Tidak baik terus berkutat dengan satu hal yang sama selama lebih dari—berapa jam mereka sudah berada di sana? Entahlah, cukup lama bagi Kaito untuk bisa mimpi indah.

Mengetikan sesuatu pada kolom mesin pencari, Kaito kemudian berdeham pelan dan dengan lincahnya memperbesar volume suara. Pemuda itu terkekeh pelan sebelum menekan tombol 'play' pada video yang diaksesnya pada sebuah situs.

"Lalu, menurutmu ini adalah—"

"KYAAAAAAA!"

"He?"

"Tuan, kumohon! Hentikan! T, tidak!"

.

.

.

.

"Maafkan aku," Kaito membungkuk dalam ke arah dua pemuda yang duduk di atas sofa di hadapannya. Pemuda itu lalu menegakan tubuhnya dan tersenyum canggung melihat ekspresi dua pemuda di hadapannya; Shinichi yang wajahnya memerah bagai lobster rebus dan Heiji yang berusaha tetap terlihat tenang sambil sesekali mencoba mengintip ke arah dimana layar laptop berada.

"Aku hanya memutar video yang katanya memperlihatkan seorang majikan menyiksa pembantunya," Kaito sekali lagi mengulang penjelasannya—yang sudah ia lakukan saat ruang perpustakaan kediaman Kudo itu masih terbilang ramai, tepatnya sebelum sepasang polisi dan seorang wanita itu memutuskan untuk mengakhiri perbincangan mereka dan pulang—dan sekali lagi respon yang sama ia dapatkan dari si pemilik laptop; sebuah ekspresi perpaduan antara kesal, lelah, dan sepertinya ada sedikit kelegaan dibalik raut wajah takjub itu.

"Kalau aku jadi kau, aku juga akan memutar video itu. Bisa jadi video itu memiliki misteri untuk dipecahkan," Heiji berkomentar dan mengalihkan pandangannya saat Shinichi mengarahkan tatapan tajamnya ke arahnya. Detektif dari Osaka itu berdeham pelan, mencoba menyelamatkan dirinya dari amarah rekan sesama detektifnya. "Kau tahu, 'kan? Sering kali ada berita tentang seorang yang ingin bunuh diri mengunggah sebuah video agar seluruh dunia tahu betapa—" suaranya semakin mengecil. "—tersiksanya kehidupannya."

"Ya, aku sangat tahu apa yang kau maksudkan," Shinichi berkomentar seraya menoleh ke arah Kaito yang kemudian terdiam kaku dan dengan reflek kembali menundukan kepalanya seolah sedang menghadap atasan di tempat kerja. "Tetapi video ini diunggah di sebuah situs … dewasa."

Kaito berdeham pelan setelah kembali menegakan tubuhnya, dengan sedikit rasa bangga ia menepuk dadanya. "Aku seorang pria dan usiaku 18 tahun!"

"Itu tidak membuatmu bebas mengakses situs dewasa di tengah pembicaraan penting dengan menggunakan laptop orang lain," Shinichi menekan setiap kata yang ia ucapkan, pandangannya masih tertuju pada sosok Kaito yang terlihat sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Detektif itu kemudian meletakan laptopnya di atas meja kopi di depannya dan menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa yang ia duduki.

Satu helaan nafas panjang terdengar dari mulut detektif dari timur itu.

"Hei, ayolah," Kaito merengek pelan. "Aku kebosanan dan kulihat kalian—beserta para orang dewasa tadi—sama sekali tidak berhenti berputar-putar pada topik yang sama. Aku bahkan sempat bermimpi indah karena terlalu lama menunggu."

"Bermimpi? Maksudmu, tadi kau sempat tertidur?" Heiji terdengar terkejut dan sedikit iri. Tentu saja, membicarakan kriminal selalu punya efek samping membuatnya lelah.

"Ya, dia sempat tertidur setelah selesai makan dan terbangun karena tertimpa tumpukan buku yang ditendangnya," jelas Shinichi acuh seraya berdiri dari tempat duduknya.

"Dan sekarang kupikir kau 100% terfokus pada pembicaraan tadi, Kudo."

"Dia terlalu menyayangiku sehingga tidak bisa berhenti memerhatikanku," Kaito berujar dramatis dengan satu tangan berpura-pura menyeka airmatanya yang berhasil membuat Shinichi melempar dasi yang baru dibukanya ke arah dimana Kaito berada. Detektif juga sempat menggumamkan sesuatu yang terdengar 'bermimpilah!' sebelum akhirnya berjalan menuju dapur.

Ia, Hattori Heiji, semakin tidak bisa memahami kenapa sahabat sesama detektifnya—yang notabenenya memiliki sifat sedikit ... Uhm, dingin, acuh, dan tergolong tipe 'pendiam' yang bisa dikatakan termasuk dari mereka yang dijuluki 'kutu buku'—itu bisa akrab dengan pesulap di hadapannya—Ergh, bagaimana cara mendeskripsikannya? Periang? Hiperaktif? Gila?—tetapi di sisi lain, ia bisa paham kenapa detektif dari timur itu selalu terlihat lelah jika sudah berdekatan dengan sang pesulap.

Terlalu banyak tingkah pesulap asal Ekoda itu untuk bisa dihadapi seorang diri. Ia sangat, sangaaaat, yakin ibu dari pesulap itu punya satu cara jitu 'menenangkan' putranya, karena jika tidak, entah bagaimana ia bisa sanggup membesarkan anak seperti ... Dia.

Melirik ke arah dimana laptop Shinichi berada, Heiji yang baru saja ditinggal pergi oleh Kaito—pemuda itu dengan senandung ceria berlarian ke arah dapur saat Shinichi menawarkan untuk membeli sesuatu untuk makan malam dan Shinichi berkomentar tentang bagaimana rakusnya pesulap itu—kemudian mencondongkan tubuhnya, menggerakan kursor ke arah dimana icon mesin pencari berada dan membuka list history yang nampak kosong.

Kecuali sebuah nama situs yang terdaftar dalam kolom 'Today' yang dikenal Heiji sebagai sebuah situs yang beberapa menit lalu membuat ricuh ruang perpustakaan kediaman Kudo dan membuat segala aktifitas harus dihentikan untuk sementara waktu.

Dengan seulas senyum dan sebuah desahan nafas, Heiji menutup kembali mesin pencari tersebut dan mematikan laptop milik Shinichi. Detektif berkulit gelap itu lantas berdiri dari tempatnya untuk menyusul dua rekannya yang kini sedang berargumen tentang menu makan malam.

"Kalau ia tidak menyadarinya, tidak akan ada yang menyadarinya," gumam detektif itu pada dirinya sendiri saat dilihatnya Kaito dan Shinichi kini mulai berebut telpon rumah untuk memesan makanan. Keduanya nampak sibuk bersaing hingga tidak menyadari kehadiran Heiji yang kemudian merebut telpon putih tersebut dan meletakannya kembali dimana telpon itu berasal.

Mengangkat kedua tangannya—yang kemudian berhasil 'mendiamkan' dua pemuda yang merengek seperti anak berusia 5 tahun yang tidak diberikan cemilan—Heiji lantas menyunggingkan seulas senyum lebarnya.

"Ada yang setuju makan malam di kedai yakitori dekat stasiun?"

.

.

.

.


One more relaxing-chapter to go and we'll be back in bussiness. Yes! Mysteries and cases to solve!

For those who have been saying that I need to make a longer chapter and/or 'the chapter is too short': I know. But what can I do? Semakin panjang durasi sebuah chapter, semakin banyak waktu yang penulis butuhkan untuk melakukan research dan tahap editing (bahkan beberapa kasus harus dibuat ulang belasan kali). Jadi, mohon dimaklumi. :)

And another information: I won't answer your question about 'BL/Straight?'. NEVER.

Kalian harus membaca ceritanya dan menyimpulkan sendiri apakah akan berakhir BL / Straight~ Penulis 'kan sudah menjabarkannya dalam bentuk paragraf cerita ^^

p.s: Go try to use chopsticks when you eat pasta! It's ... frustating.