BAB 23 NAMA TENGAH

.

"Bunga-Lily!"

"Sirius!"

Lily menjerit selagi dia menjatuhkan diri di samping Sirius di dekat danau.

"Sudah selesai!" teriak Sirius gembira, memeluk Lily seraya melompat-lompat.

"Aku tahu! Aku tak percaya! Bagaimana ujian tadi?" sahut Lily, tersenyum.

"Siapa peduli, toh aku tidak bisa mengubah apa-apa," tukas Sirius. Lily memutar matanya, yang dibalas seringai genit dari Sirius. "Ujiannya berlangsung baik, terima kasih sudah bertanya. Kau?"

"Kurasa aku mengacaukan terjemahannya," keluh Lily, mengernyit.

"Aku bertanya hanya karena formalitas, aku tidak sungguh-sungguh ingin tahu," kata Sirius menggoda.

"Oh, baiklah, mungkin aku pergi saja," kata Lily, hendak berdiri, tetapi Sirius menyambar jubahnya dan menariknya duduk lagi. Lily terjatuh sambil menjerit.

"Gampang sekali memaksamu," tawa Sirius.

Lily meleletkan lidahnya.

"Sekarang yang perlu kita cemaskan tinggal final Quidditch," kata Sirius bersemangat.

"Kapan pertandingannya?"

"Sabtu!" Sirius memekik. "Ini sudah Kamis! Kita harus menang! Prongs bilang dia akan menjadwalkan latihan besok sehari penuh."

Lily tidak mendengarkan selagi Sirius meneruskan mengoceh tentang Quidditch, strategi, dan piala, dan membiarkan pikirannya sendiri berkelana.

Mereka akan meninggalkan Hogwarts seminggu lagi. Akhir pekan nanti adalah akhir pekan terakhirnya di Hogwarts. Mereka merayakan kelulusan Rabu, dan Hogwarts Express membawa mereka pulang Jumat pagi. Dan begitulah. Dia tidak bisa mencegah dirinya memikirkan tentang apa yang dikatakan Sirius setelah ujian praktik Transfigurasi. Apa yang selanjutnya mereka lakukan? Hestia dan Lily berencana menyewa sebuah flat, sementara Alice akan menikah dan tinggal bersama Frank, dan Gwenog sudah pindah bersama para Harpies. Keempat Marauder memang berencana menyewa satu flat untuk bersama-sama, tapi itu tidak akan sama. Dia dan James secara praktis sudah tinggal bersama, dan mereka akan tinggal bersama hampir sepanjang musim panas, lalu mereka akan mulai bekerja dan hidup sendiri-sendiri. Bisakah hubungan mereka bertahan? Lily tidak bisa membayangkan bahkan untuk menerima orang lain selain James. Apakah dirinya dan anggota Marauder lainnya akan bisa berdamai dengan jarak tersebut?

Dan Alice? Apakah hubungan mereka akan renggang karena Alice bersama Gwenog? Lily yakin persahabatannya dengan Hestia akan bertahan karena mereka akan tinggal bersama. Tapi bagaimana dengan James? Itu hal yang paling membebani pikirannya. Bisakah mereka berdamai dengan jarak? Tidakkah akan berbeda? Apakah itu baik atau buruk bagi mereka?

"Bunga-Lily?"

"Sori, Sirius," kata Lily, tersentak dari lamunannya dan menggelengkan kepala. "Kau menanyaiku?"

"Yeah," kata Sirius putus asa, memutar mata.

"Oh, apa?" tanya Lily, merasa malu.

Sirius menggonggongkan tawa.

"Kau ini khusyuk banget, kau memikirkan apa saja sih?"

"Banyak," Lily tercekat, tetapi ditatap sedemikian rupa oleh Sirius, dia mendesah dan melanjutkan, "Sebagian besar tentang pasca-Hogwarts."

"Apa saja?"

"Kebanyakan... yah... James," aku Lily pelan.

Sirius menaikkan alisnya.

"Kenapa dia?"

"Yah... maksudku, semua ini akan terasa berbeda," kata Lily lemah.

Sirius terkekeh. Dia belum pernah melihat Lily secanggung ini sebelumnya. Ternyata ini justru menghiburnya.

"Kau memang gadis yang baik, Bunga-Lily," godanya, membuat Lily menghadiahinya tinju di lengan. "Semua akan terasa berbeda, tapi aku berani bersumpah demi hidupku, tidak akan ada yang terjadi di antara kalian berdua, hubungan kalian tetap utuh. Dia sudah jatuh cinta padamu selama enam tahun, dan aku percaya tidak akan ada yang bisa mengubahnya."

Lily tersenyum tulus seraya berucap, "Terima kasih, Sirius."

Sirius hanya melambaikan tangan tak sabar.

"Boleh aku mengajukan pertanyaan yang sama tentang Hestia?"

"Sebetulnya itu tadi bukan pertanyaan," bantah Lily, ditingkahi dengusan Sirius. "Tapi kukira tidak akan ada yang berubah pada kalian berdua. Aku selalu ada selama Hestia dekat dengan banyak cowok," kata Lily, mengabaikan mata Sirius yang menyipit. "Oh, jangan konyol, kau toh juga dekat dengan banyak cewek."

Sirius terkekeh.

"Jelas berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Yah, dia kan cewek, aku cowok. Perbedaannya jauh, tentunya."

"Kau ini cuma menjelaskan yang sudah jelas. Itu bukan jawaban," kata Lily jengkel. Sirius tertawa. "Yang jelas, aku juga yakin jarak tidak akan memengaruhi kalian."

Sirius mengangguk sungguh-sungguh.

"Obrolan menarik, Evans," katanya, berdeham sedikit. Lily tertawa.

"Oh, panjang umur," pekik Sirius tiba-tiba, mengacungkan dagu ke arah kastil. James sedang menuruni undakan, diikuti Hestia, Alice, Remus, dan Peter.

"Yang mana?" gumam Lily.

Sirius tertawa. James tersenyum lebar pada Lily, yang dadanya berdebar. Lily melompat dan menyambutnya dengan pelukan. "Ujian selesai!" pekiknya riang.

James tertawa kecil dan balas memeluknya erat.

"Bagus sekali, Lils," katanya menggoda, mundur sedikit untuk mengamati Lily. Lily meleletkan lidah padanya. "Bagaimana tadi?"

"Rupanya dia salah menerjemahkan beberapa," Sirius yang menjawab, memutar matanya dan mengulurkan tangan pada Hestia dan menariknya duduk.

"Oh tidak, itu sungguh keajaiban," sindir Hestia.

"Aku yakin kau mengerjakannya dengan baik," kata Alice sambil lalu, memandang berkeliling.

"Frank masih di dalam," Remus memberi tahu. Alice nyengir malu-malu. "Dan, Lily, aku yakin kau mengerjakannya dengan baik, seperti biasanya," tambah Remus pada Lily.

"Remus, kau memang favoritku," kata Lily, tersenyum padanya.

Remus tertawa selagi James tersedak.

"Maaf?"

"Kau dimaafkan," Lily nyengir.

James memutar matanya, sudut-sudut bibirnya berkedut.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan minggu depan?" tanya Sirius, memandang berkeliling pada teman-temannya.

"Yah, kukira tidak ada yang akan terjadi besok," jawab Lily, lalu dilihatnya James mengerutkan dahi padanya. "Dasar kapten Quidditch. Finalnya kan Sabtu," dengusnya. James memucat. "Jangan khawatir, kau kan sudah menjadwalkan latihan sepanjang hari besok," tambah Lily dengan nada menenangkan.

James mengangguk, menarik napas dalam-dalam.

"Aku tak bisa memahami dirimu dan obsesimu soal Quidditch," gerutu Alice, membaringkan diri dengan kepala di pangkuan Frank, yang baru saja bergabung.

Lily terkikik melihat ekspresi kaget James dan Sirius. Hestia juga terkikik. Remus nyengir lebar, menatap Alice dan menggelengkan kepala seolah ingin mengatakan, "Semoga beruntung!"

"Sudahlah," kata Hestia lembut, mencium pipi Sirius. Sirius mendelik pada Alice sekilas sebelum memberikan senyumnya pada Hestia.

"Ayo," ajak James, berdiri dan mengulurkan tangan pada Lily.

Lily mengernyit padanya. James nyengir. Menghela napas keras, Lily menyambut tangan James, yang menariknya begitu keras sehingga dia terhuyung dan menabrak James. Sirius, Remus, dan Peter mencibir. Dengan wajah memerah, Lily mundur selangkah menjauhi James.

"Kita mau ke mana?"

"Rahasia," jawab James, meletakkan tangan di bahu Lily dan membawanya ke kastil.

"Sampai nanti!" teriak yang lain.

Lily terkikik dan melambai asal saja ke belakang. Dia mendadan menyadari tatapan James kepadanya.

"Apa?"

"Tidak apa-apa," kata James manis, tersenyum padanya.

Lily menggelengkan kepala dan menatap lurus ke depan, berusaha mengabaikan tatapan intens James. Tiba di asrama Ketua Murid, James membukakan pintu untuknya.

"Terima kasih, Sir," kata Lily, memanjat pintu.

James mencibir.

"Sir?"

"Yah, kau kan baru saja bertindak gentleman. Cocok, kan?"

Tertawa, James menutup pintu di belakangnya dan menangkupkan kedua tangan di pipi Lily.

"Akan kutunjukkan padamu apa itu gentleman," kata James dengan suara rendah.

Seolah ada burung yang mengepakkan sayap di perut Lily.

"Tidak masalah. Aku sebetulnya menunggu kekasihku, apa kau melihatnya?" tanya Lily, memandang berkeliling. James menggeram main-main, dan meletakkan jarinya di ikat pinggang Lily, lalu menariknya lebih dekat.

"Oh, ini dia," bisik Lily, dan mencium James.


"Hestia Jones, aku bosan!" Sirius mengumumkan. Yang lain sudah kembali ke kastil, tetapi mereka berdua bertahan duduk di bawah pohon.

"Lalu apa yang harus kulakukan, Sirius Black?"

Sirius menggonggongkan tawa.

"Karena engkau adalah pacar saya, engkau punya kekuasaan untuk menghibur saya."

"Hanya karena saya berhak, bukan berarti saya akan menggunakannya," kata Hestia, geli dengan ucapan formal mereka.

"Apakah saya mengatakan hak? Yang saya maksudkan adalah kewajiban."

"Bisa-bisanya aku terjebak bersamamu?" keluh Hestia.

Sirius nyegir dan mengecup pipi Hestia, lalu rahangnya, dan berakhir di lehernya.

"Apakah ini suap?" tanya Hestia dengan suara bergetar.

"Mungkin," kata Sirius pelan, mengulur nadanya. "Berhasilkah?"

"Mungkin," Hestia menirukannya.

"Itu rencanaku," Sirius tertawa sampai bahunya berguncang, lalu mendadak sekali dia duduk. "Apa kau punya nama tengah?"

"Kenapa?" tanya Hestia kebingungan, sedikit—oh, sangat—kecewa dengan gerakan mendadak Sirius dari aktivitas sebelumnya.

"Karena aku terus saja memanggilmu Hestia Jones, dan akan lebih enak kalau ada nama tengahnya di sana."

"Lebih enak?" kikik Hestia. Sirius memberinya senyum lebar. "Yah, karena alasan yang kausampaikan, aku tidak mau bilang."

Sirius menyipitkan mata padanya.

"Aku pasti tahu."

"Aku yakin itu," kata Hestia sarkastis.

Sirius menyilangkan lengannya.

"Pegang kata-kataku, Jones!"

"Oh, aku takut," kata Hestia, berlagak ketakutan.

Sirius harus menahan keinginan untuk tertawa, bibirnya berkeriut.

"Sudah seharusnya," katanya, berdiri. Hestia ikut berdiri.

"Maumu, Black!"

"Kau tidak ingin tahu nama tengahku?"

"Kau kan tidak punya nama tengah!"

Sirius mengentakkan kaki.

"Tidak adil! Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku tahu banyak hal," Hestia nyengir menggoda, merangkul pinggang Sirius.

"Hal-hal seperti apa?" tanya Sirius dengan nada rendah, meletakkan tangan di rambut Hestia.

"Sirius!" jerit Hestia, mundur selangkah darinya.

"Semua sah dalam cinta dan perang," kutip Sirius.

Hestia mendengus.

"Terus, apa hubungannya?"

"Oh, aku mencintaimu, dan ini perang karena aku ingin tahu nama tengahmu."

Hestia terkikik.

"Tidak akan terjadi," katanya, menjawil dagu Sirius dan berjalan ke kastil.

"Aku akan mencari tahu, Jones! Catat kata-kataku!" teriakan Sirius mengikutinya.

"Dasar cowok tolol melodramatis," gerutunya, tersenyum sendiri.


"EVANS!" teriak Sirius, menghambur masuk ke asrama Ketua Murid dan mendapati kedua Ketua Murid sedang... unjuk perasaan. "OH TIDAK!" jeritnya, menutup matanya melihat pemandangan itu.

"Padfoot, apa yang kaulakukan di sini?" tanya James dengan suara lemah. Sementara itu, Lily terlonnjak dari tempatnya semula memadu kasih dengan James, dan merapikan rambutnya. Setidaknya kali ini James membiarkan Lily tetap berpakaian lengkap, meskipun dia sendiri melepas kaosnya.

"Aku perlu bicara dengan Lily," jawab Sirius ke arah mana saja, matanya masih tertutup rapat untuk menghapus gambaran yang baru saja membakar pikirannya. "Kasihan amigdala-ku," keluhnya, menggosok kepalanya.

"Itu kata yang terlalu berat buatmu, Sirius, apa kau tidak pernah membaca?" cemooh Lily.

Sirius menjulurkan lidahnya, matanya masih tertutup.

"Boleh kutanya kenapa kalian melakukan itu?" dia bertanya dengan nada tinggi.

"Eh, kenapa tidak?" tanya James.

Sirius mengerang.

"Stop! Otakku sakit nih!"

James terkekeh sembari memakai kaosnya.

"Kita sudah membahas ini, Pads, kau harusnya tidak memikirkan itu," desah James.

Sirius mendengus.

"Kenapa kau menutup mata?" tanya Lily.

"Karena aku ingin membersihkan pikiranku!"

"Yah, kalau aku boleh membela diri, kau dan Hestia juga melakukan hal-hal menjijikkan waktu sarapan. Sarapan, yang benar saja!"

Sirius tertawa menggonggong.

"Aku bisa membuka mata sekarang?" tanyanya, mengintip melalui bulu matanya.

"Ya."

"Apa Prongs pakai baju?"

"Ya."

"Taruhan dia ingin aku melepasnya," kata James dingin.

Sirius mendengus, tetapi mengabaikan komentar itu.

"Bukannya kalian berciuman?"

"Er... ya?" kata James ragu-ragu, tak yakin bagaimana menjawab pertanyaan itu.

"Oke, bagus!" Sirius menghela napas, membuka matanya untuk melihat kedua temannya itu merona dan tampak malu. "Lain kali beri peringatan dulu," celanya.

"Ini kan asrama kami!" protes James putus asa.

"Ya, tapi lain kali beri tanda di pintu atau apalah!"

"Yeah, kami akan memasang peringatan, 'Jangan masuk, kami sedang berciuman, terima kasih,' di pintu," tukas James sarkastis. Lily terkikik sementara Sirius meledak tertawa. "Kau mau apa sih, Pads?" tanya James lagi, sedikit terganggu dengan Sirius yang menyela aktivitasnya bersama Lily.

"Aku ingin bicara dengan Lily."

"Sejak kapan kau memanggilku Lily?" tanya Lily, terpana.

"Yah, aku bisa memanggilmu Bunga-Lily, tapi 'bunga' memberi kesan suci, dan setelah apa yang kusaksikan, aku tak bisa menyebutmu bunga sampai kau kembali bersih dalam pikiranku."

"Sebegitunya hanya demi sebuah panggilan?"

"Itu penting, oke?" Sirius membela diri.

Lily terkikik. James menyeringai seraya menjatuhkan diri ke kursi berlengan.

"Apa sih yang ingin kaubicarakan dengan?" tanyanya pada Sirius, yang masih merona akibat pemandangan yang sempat disaksikannya. Setidaknya dia cukup punya sopan santun untuk merasa rikuh.

"Siapa nama tengah Hestia?"

"Itu yang ingin kautanyakan?" tanya Lily tak percaya, duduk di lantai. "Kenapa tidak tanya saja padanya?"

"Dia tidak mau bilang!" erang Sirius, mengentakkan kaki. James terkikik.

"Yah, kalau dia tidak mau memberi tahumu, maka aku, sebagai sahabatnya, juga tidak bisa memberi tahumu."

"Bunga-Lily!"

"Sudah bersih lagi, nih?"

"Aku tidak sedang memikirkan kalian berciuman, saat ini!"

"Kuharap kau tak pernah memikirkannya."

Lily menyeringai melihat wajah Sirius yang berubah merah jambu.

"Kembali ke topik!" kata Sirius, melipat lengannya. "Siapa namanya?"

"Sirius, aku tidak akan memberi tahumu!"

"Aku benci padamu!" teriak Sirius.

Lily nyengir.

"Aku juga cinta padamu, Sirius."

"Yang benar?" tanggap Sirius bahagia, berlutut di hadapannya, "Gadis manisku, benarkah itu?"

Lily terkikik dan berdiri.

"Ya, tentu saja, oke?" katanya, menepuk kepala Sirius.

"Lihat kan, Prongs, kau bukan satu-satunya," pekik Sirius, menjulurkan lidah pada James yang nyengir.

"Aku ikut bahagia, Pads."

Sirius tertawa.

"Aku harus mencari tahu dari sumber yang lebih baik," katanya, mendelik pada Lily. "Bagus. Sampai nanti," katanya dramatis, memutar tumitnya dan mengentakkan kaki keluar dari asrama. "Biar aku yang memasang peringatan," dia menambahkan, berputar di tempat untuk mengedip pada Lily, sebelum melangkahi pintu.

"Dia tidak benar-benar memasang peringatan itu, kan?" Lily menanyai James begitu pintu menutup di belakang Sirius. James hanya terkekeh dan mengangkat bahu. Lily bergegas ke pintu, membukanya, dan melihat sebuah papan peringatan kecil.

Ketua Murid Laki-Laki dan Perempuan sedang berciuman panas. Kusarankan kalian jangan masuk dulu. Dengan hormat, Padfoot.

Tertawa, Lily mencopot papan itu, dan kembali ke dalam. James meneliti papan yang ditunjukkan Lily padanya dan menyeringai.

"Sobat baikku," katanya, menggelengkan kepala.

Lily tersenyum. Hanya Sirius dan James yang bisa sehangat itu seperti saudara.

"Dia benar-benar menyenangkan," kata Lily.

James nyengir, meletakkan papan itu, lalu menarik sehelai panjang rambut Lily dari belakang telinganya.

"Jadi, siapa nama tengah Hestia?"


"Moony kawanku, aku membutuhkanmu," kata Sirius, duduk di samping Remus, yang terlihat bingung.

"Aku tidak suka kau begitu, kau salah orang," Remus menyeringai.

"Aku yakin kau tidak mau kencan denganku, Moons," dengus Sirius sarkastis. Remus tertawa. "Lagipula, aku sangat menarik, semua orang akan berubah pikiran begitu melihatku."

Remus menyerah.

"Apa yang kauinginkan, Sirius?"

"Apa kau sedih, Moony? Apa aku menyakiti hatimu? Maafkan aku, Sobat. Sekalipun aku penyuka sesama jenis, kau tahu aku akan lebih memilih Prongs jadi kekasihku. Aku bisa menciummu kalau kau mau."

Remus bergidik.

"Kau aneh," komentarnya. "Kukira kau butuh bantuan?" tanya Remus, berusaha keras menahan tawa.

"Wah, terima kasih, Moony. Kau juga aneh. Dan aku memang butuh bantuan!"

"Eh, trims? Bantuan macam apas?"

"Sama-sama, Bung. Aku ingin tahu nama tengah Hestia!"

Remus mengangkat alis.

"Kenapa tidak tanya dia?"

"Kenapa semua orang menjawab begitu? Aku tidak bodoh, tahu!" erang Sirius, mengayunkan tangannya dalam gerakan memutar sampai menabrak dinding. "Sialan! Sakit, tahu!" gerutunya.

Remus meledak tertawa.

"Oh, diamlah, Moony."

"Oke, aku tidak akan berkomentar soal ketololanmu. Yah, kenapa dia tidak mau bilang?"

"Entahlah, semacam tantangan, kukira."

Remus mendengus.

"Kalau begitu aku tidak bisa membantumu."

"Aku benci padamu!" teriak Sirius, bangkit dan menuju pintu, namun terpeleset dan jatuh berdebum. Tawa Remus menggema memenuhi kamar. "Sialan Wormtail, meletakkan kaos kaki di lantai!" maki Sirius, malu sekali, dan keluar kamar dengan berisik.

"Apa yang sudah kulakukan?" tanya Peter, yang masuk kamar setelah Sirius keluar.

"Tidak ada, Pete," kekeh Remus, kembali pada aktivitasnya semula.

"Kau tidak apa-apa, Moony?"

"Aku baik-baik saja," Remus menghela napas.

Peter mengangkat bahu, lalu meninggalkan kamar.

"Teman yang baik," gumam Remus sarkastis, lalu kembali menghadapi buku harian Occlumency-nya.

.

Buku Harian Occlumency Remus

Aku kecewa. Aku menjajaki sebuah hubungan, dan gagal. Apa ada yang salah padaku? Apakah manusia serigala memang tidak seharusnya bahagia?

Dia keren! Sangat keren! Tapi dia memandang manusia serigala seperti hampir semua orang memandang kami. Begitukah kehidupanku nanti setelah lulus dari Hogwarts? Aku takut meninggalkan sekolah ini, sejujurnya. Tak seorang pun akan mau mempekerjakanku. Percayalah, aku sudah mengirim beberapa lamaran. Semuanya menerima, tapi berikutnya mereka melihat riwayatku dan meralat keputusan itu setelah tahu. Apa yang harus kulakukan, coba? Maksudku, di sini kehidupanku terjamin.

Kukira aku akan berakhir di dunia Muggle. Tak mungkin seburuk itu, kan? Bagaimana kalau aku tak bisa menemukan siapa-siapa? Bagaimana kalau aku mati sendirian? Tidak. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menemukan seseorang yang bisa membersamaiku sampai akhir.

Yeah, hidup ini akan indah. Aku akan mendapatkan pekerjaan,punya keluarga, dan sahabat laki-laki maupun perempuan, di sekelilingku selama sisa hidupku. Ini janjiku. Hidup ini indah.


"HESTIA JONES, BERI TAHU AKU NAMA TENGAHMU!" lenguh Sirius di Aula Besar waktu makan malam, membenturkan kepalanya ke meja. Hestia tertawa, diikuti Lily, James, dan Remus.

"Sirius, sudah kubilang aku tidak mau memberi tahumu. Menyerah saja deh," cemooh Hestia, menjawil Lily.

"Sirius Black tak pernah menyerah," Remus yang menimpali untuk Sirius, yang sedang mendelik pada Hestia.

"I love you, Moony," kata Sirius.

Remus merona.

"Kenapa kau merona?" tanya Peter.

"Aku tahu kau menginginkanku!" kata Sirius, menunjuk Remus, yang menyembunyikan wajah dalam tangannya.

"Jangan ganggu dia," Lily mencela, melempar sebatang wortel pada Sirius.

"Terima kasih, Lily," kata Remus, tersenyum pada Lily, yang mengernyit melihat ada sesuatu yang salah pada senyum itu. Lily menelengkan kepalanya. Remus tersenyum, berkata, "Aku kecewa, itu saja."

"Itu saja?" dengus James, berpaling pada Remus, yang mendesah.

"Kenapa kau kecewa?" tanya Hestia.

Remus menunduk memandang pangkuannya.

"Soal Anna, ya? Tak perlu kaucemaskan, sobat," kata James, menepuk pelan pundak Remus.

"Lebih tepatnya, tentang apa yang disiratkan dari persoalan tentang Anna."

"Aku tak paham!" seru Sirius. Yang lain mendengus.

"Wah, mengejutkan," komentar James.

"Terus saja, Potter."

"Oh, dewasalah," tukas Lily, mencoba menahan senyum tapi gagal.

"Terima kasih, Lily," kata Remus, terkekeh. Kemudian dia melanjutkan dengan berbisik, "Itu menyiratkan bahwa masalah manusia serigala ini akan menghantuiku selamanya. Maksudku, aku tidak peduli soal pekerjaan, jujur saja. Aku bisa bekerja di dunia Muggle."

Mereka semua memandangnya penuh simpati. James bisa melihat perasaan terluka di wajah Remus, dan merasa sedih karenanya. Di antara semua orang, Remus berhak mendapatkan yang terbaik.

"Aku lebih terganggu dengan masalah hubungan, kalian tahu. Bagaimana kalau aku tak pernah menemukan seseorang karena ini?"

Remus menatap teman-temannya dengan kalut.

"Remus, itu tidak akan terjadi," kata Lily yakin. "Kau akan menemukan seseorang yang tepat."

"Siapa?" tanya Remus sedih. "Lily, siapa yang akan pernah menginginkan hidup bersama seekor manusia serigala?"

"Hai, semuanya!" sapa sebuah suara. Ternyata Tonks, dia sudah berdiri di sana. "Hai Remus," tambahnya pelan, tersenyum pada pemuda itu. Remus membalasnya dengan senyum kecil. "Aku mau tanya tentang latihan besok...?" kata Tonks, membuatnya seperti pertanyaan, menatap James.

"Baik, nah, kita mulai latihan jam sembilan dan akan berlangsung sepanjang hari," James memberi tahu. Tonks mengangguk. "Jadi jangan buat rencana lain," tambah James dengan cengiran di wajah.

Tonks tertawa. Tak ada yang memperhatikan Remus tersenyum tipis melihat Tonks tertawa.

"Ya, Sir," kata Tonks, memberi hormat.

Remus tertawa.

"Sampai jumpa besok," Tonks melambai pada James dan Sirius. "Dah, Lily!"

"Sampai ketemu, Nymphadora."

"Tonks!" ralat Tonks.

Lily menepukkan tangan ke mulutnya, nyengir.

"Sori. Sampai ketemu, Tonks."

Hestia, James, dan Sirius tersenyum pada Tonks.

"Sampai nanti, Remus," Tonks melambai pada Remus seraya menjauh.

"Aku suka dia!" komentar Hestia senang.

Sudut-sudut bibir Remus berkedut.

"Kau tahu apa yang kusuka?" Sirius nimbrung, menatap kekasihnya. "AKU SUKA KALAU TAHU NAMA TENGAHMU!"

Hestia mendesah dan menyembunyikan wajah di balik bahu Lily. James tertawa.

"Mr Black, bisakah kau berhenti berteriak?" seru McGonagall, bergegas mendekati mereka.

"Kenapa dia selalu muncul sepanjang tahun ini?" gumam Lily.

Sirius mengedip padanya seraya berkata, "Jauh di lubuh hatinya dia menginginkanku."

Lily terkikik.

"Mr Black, jelaskan!"

"Oh, Minerva sayang, kukira Anda sudah sangat mengenalku sekarang!" kata Sirius, berlagak terkejut.

Bibir Profesor McGonagall terlihat seperti garis tipis.

"Kenapa kau berteriak?"

"Apakah Anda menikmati suaraku yang seksi?" goda Sirius, mengedip padanya.

"Mr Potter, jelaskan!" McGonagall beralih pada James, yang tersedak jus labunya.

"Dia sedang mencari tahu nama tengah Hestia," Remus yang menjawab, menepuk punggung James.

"Minerva sayang, tahukah Anda?" tanya Sirius.

McGonagall berpaling pada Lily, yang menggeleng penuh ketakutan.

"Bunga-Lily!" tukas Sirius.

"Aku tak bisa membocorkan informasi itu," kata McGonagall, lalu berbalik.

Sirius berdiri.

"Padfoot," James memperingatkan, tetapi Sirius hanya mengedip, lalu melompat dan mendarat di depan McGonagall. Anak-anak kelas tujuh Gryffindor itu menonton dengan mata tawa mengaliri pipi mereka.

"Minerva sayang!" panggil Sirius keras, menarik perhatian semua orang di Aula. Di meja guru, Dumbledore mengawasi adegan di depannya dengan mata berkilauan. Sirius berlutut, mengembangkan tangannya lebar-lebar.

"Minerva! Setelah semua yang kita lalui, aku tahu engkau mencintaiku, cinta kita memang terlarang. Tapi jangan khawatir, Sayang, aku akan lulus seminggu lagi! Kita bisa bersama setelah itu."

Seisi Aula tertawa dan terkikik mendengar ini. Sirius berdiri sehingga wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Profesor McGonagall. Sirius beberapa senti lebih tinggi dari McGonagall, yang tingginya hampir sama dengan Hestia. Sirius menarih tangan McGonagall dan mengecupnya, menatap mata McGonagall dalam-dalam. Wakil kepala sekolah itu merona merah padam, menarik tangannya dari Sirius, lalu berjalan megitarinya.

"MINERVA SAYANG, JANGAN BEGITU DONG!" lenguh Sirius, berlutut sekali lagi dan menyambar lengan McGonagall.

"Namanya Margaret!" seru McGonagall, menarik tangannya lagi, tampak luar biasa malu. "Hestia Margaret Jones!"

Mata Sirius berkilauan. Di samping Lily, Hestia mengerang.

"I LOVE YOU, MINNIE!" kata Sirius gembira, mengangkat McGonagall dan memutar-mutarnya di udara.

"Mr Black! Turunkan aku sekarang juga!"

Sirius tampak keberatan.

"Seminggu lagi, Sayang," pintanya, menyapu pipi McGonagall dengan jemarinya, lalu berpaling pada teman-temannya.

Aula Besar meledak dengan tepuk tangan, sorak sorai, dan suitan. Sirius membungkuk sementara McGonagall yang amat gugup kembali ke meja guru, di sisi Dumbledore yang berdiri memberi tepukan pada Sirius. Sirius duduk di antara James dan Remus, yang tertawa melolong-lolong, lalu mengedip pada Hestia, yang memutar mata di sela tawanya.

"Jadi, Margaret?" tanya Sirius.

Tawa Hestia berubah menjadi erangan. Dia menyembunyikan wajah dalam tangannya.

"Aku benci padanya," dia menggerutu pada Lily, yang mengangguk penuh simpati.

"Sudah kubilang aku pasti tahu," kata Sirius senang. Hestia menatapnya dengan mata menyipit. "Nah, sebagai penghormatan..." dia menghentikan kalimatnya, lalu menepukkan tangannya. Para Marauder menyeringai.

"Apa?" tanya Hestia takut-takut.

"HESTIA MARGARET JONES!"

"Oh, yang benar saja!"