Make A Wish


"Kunjungan yang...penuh hikmah, ya?" Isogai berkata, memecah keheningan ketika mereka meninggalkan rumah sakit. Nakamura masih bersama ayahnya sampai jam kunjungan berakhir. Gakushuu hanya mengangguk sebagai respon, pikirannya penuh.

Melihat ayah Nakamura membuat Gakushuu memikirkan ayahnya sendiri. Apakah pria itu bahagia. Apakah pria itu tidak bekerja terlalu keras. Apakah ia bisa melakukan sesuatu.

"Jadi," Gakushuu berdeham, memandangi tiang jam di seberang jalan, menunggu lampu pejalan kaki menghijau, "...Setelah ini laundry?"

Isogai menggeleng, tersenyum lemah. "Aku ingin pulang dan bermain dengan adik-adikku." Ia tertawa sedih. "Perkataan Nakamura-san seperti menamparku. Aku juga tidak tahu apa yang bisa kulakukan, tapi sekarang aku hanya ingin berada di dekat mereka. Sampai ketemu di sekolah, Asano-kun."

Mereka berpisah jalan. Gakushuu menghampiri sebuah kafe setelah menelepon supirnya untuk menjemput. Ia ingin segera pulang...dan melakukan sesuatu. Tapi ia tidak tahu apa. Ia ingin membicarakannya, tapi Kirara tidak ada di situ.

Kopi yang ia pesan baru datang saat mobil Gakushuu datang, tapi ia tetap membayar sebelum meninggalkan kafe. Sejenak ia hampir meninggalkan kopi tersebut, lalu ia segera meminta pelayan memasukkan pesanannya ke gelas karton.

Sesampainya di rumah, ayahnya belum pulang, tentu saja, jadi ia segera ke kamarnya. Lalu, memeriksa kamar sebelahnya, kamar si jin. Kosong. Gakushuu mencari-cari di rumahnya yang besar itu, lalu ia menemukan si jin berada di lantai teratas, duduk di balkon kamar ayahnya, memegangi lampu ajaib yang menjadi asal mula semua kejadian ini.

"Bagaimana aku bisa menolong mereka?" tanya Gakushuu tanpa basa-basi, karena ia tahu, Kirara sudah tahu segalanya. "Menurutmu ayahku bahagia? Apakah aku juga akan berakhir seperti itu?"

Si jin melayang terbalik memandangi Gakushuu, memegangi lampu ajaib di tangannya.

"Menurutmu?"

"Nggak usah basa basi."

"Ayahmu kau telepon minta pulang saja sudah senang. Menurutmu?"

Gakushuu menunduk dengan alis bertaut. Ia cuma mau memastikan bahwa pikirannya tidak mengada-ngada. Orang yang sangat bahagia dengan hal-hal kecil punya beban yang sangat berat. Gakushuu terdiam sejenak.

Bagaimana dengan dirinya sendiri? Apakah dia bahagia karena selalu juara satu? Karena ia bisa membeli apapun yang ia mau? Karena ia adalah seorang Asano, keluarga ternama?

Orang-orang yang mengaguminya sebagai anak terpintar, menghormatinya sebagai anak Gakuhou Asano...Apakah ia peduli apa mereka kagum dan hormat padanya? Tidak.

Kenapa ia bekerja begitu keras untuk dihormati oleh orang-orang yang tidak ia pedulikan atau pun benar-benar peduli padanya?

Di sekolah, ia hanya dikenal sebagai "Gakushuu Asano, anak pintar, anak Gakuhou Asano." Sebegitu dangkalnya.

Ia bisa menjabarkan Yuuma Isogai dan Rio Nakamura dalam paragraf panjang. Ia juga yakin dua orang itu bisa menjabarkan siapa Gakushuu Asano paling tidak lebih dari tiga kalimat.

Tidak.

Ia teringat saat suatu hari di mobil; Kirara menjabarkannya. Kirara bisa menjabarkan semua orang, mendefiniskan mereka hingga sedetil partikel.

"Apa kau bahagia?"

Kirara memandanginya datar, seperti biasa, lalu menyodorkan lampu ajaibnya pada Gakushuu yang menerimanya dengan kikuk.

"Aku bisa memainkan memori, mengendalikan kadar dopamin, aku punya kekuatan untuk membuat kebahagiaan dengan jentikan jari. Dan kau akan berpikir bahwa kebahagiaan hanyalah ilusi, tapi bukan seperti itu adanya." Si jin duduk di pagar balkon, kakinya berayun-ayun.

"Untuk bahagia, kau harus tahu rasanya frustrasi dan sedih. Sesuatu terjadi karena sesuatu yang lain terjadi. Sesuatu dirasakan karena kau merasakan sesuatu yang lain. Kau mengerti, Bakashuu?"

"Jadi bagaimana empat permintaanmu hari ini bisa membantu Isogai dan Nakamura?" Gakushuu mendekati si jin dan bersandar pada pagar balkon.

Kirara memandanginya, dan tersenyum lembut, mengacak-acak rambut Gakushuu.

"Kebahagiaan juga butuh waktu untuk mekar," Gakushuu merona, menatap kakinya. "Untuk menjawab pertanyaanmu yang sebelum-sebelumnya...Semuanya bisa bahagia kalau memilih untuk bahagia."

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Nah, itu urusanku. Sekarang, permintaan ke empat puluh lima, pesan WcDonald untuk tiga orang. Permintaan ke empat puluh enam, minta ayahmu pulang, bilang padanya saatnya makan malam."

"Kau senang sekali ya memberi kami makan yang tidak sehat." Gakushuu mendengus, tapi mengerjakan apa yang diminta.

"Kau bilang begitu, tapi kau doyan."

"Tutup mulut, kriwil."