Chapter 21

Ketika Hacker Jatuh Cinta : The CyberWar

SaIno

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku, SasuHina, SaIno, ShikaTema, NejiTen

Rating : T

Genre : Sci-Fi, Romance, Crime, Mystery

Warning

-Bahasa IT, tidak cocok untuk yang gaptek

-Alur kompleks

-Don't Like, Don't Read

Tampak empat orang yang sedang berdiri berseberangan antara tiga orang melawan satu orang. Sasuke berada pada pihak yang (sangat) tidak diuntungkan dengan berada di pihak yang hanya beranggotakan dirinya sendiri.

"Rupanya nyalimu besar juga, Sasuke" Puji Itachi sambil menyeringai heran kearah Sasuka yang merupakan adik kandungnya sendiri.

"Aku bukan orang pengecut sepertimu" Kata Sasuke sambil menatap Itachi dengan tatapan tajam ala elangnya yang bisa membuat semua wanita meleleh di tempat.

"Kau benar-benar bodoh, hacker tidak diciptakan untuk mencintai. Cinta adalah salah satu titik terlemah dalam social engineering, kau harus lebih pelajari itu" Kata Itachi sambil terkekeh pelan melihat Sasuke yang masih berdiri tegap didepannya.

"Cepat bebaskan Hinata. Yang kau perlukan adalah jiwaku bukan ?" Kata Sasuke yang saat itu juga sudah tidak tahan melihat Hinata terikat di samping Zetsu dengan wajah yang sepertinya sembab habis menangis.

"Hoho...! Kau sudah tidak sabar ya ? Akan kulakukan" Kata Itachi sambil menyiapkan sarung tangan elektrik miliknya dan berjalan mendekati Sasuke yang masih berdiri disana dengan pose tegak seperti biasanya.

Sasuke POV

Jantungku berdebar sangat kencang melihat sosok tubuh tegak tersebut berjalan mendekatiku. Seringaiannya, tatapan matanya yang tajam, dan rambut raven yang berkibar ditiup angin yang lumayan kencang bertiup di sore hari itu.

Kupejamkan mataku sejenak untuk menghalau rasa takut yang senantiasa menyelimutiku. Rasa takut yang selalu akan dirasakan oleh setiap manusia saat menjelang ajalnya.

Kenapa aku harus takut ? Toh rasanya gak sakit-sakit amat. Batinku mencoba untuk menenangkan diriku tapi sepertinya ketakutanku sudah tidak dapat terbendung lagi.

Kudengar suara gemerisik angin yang merdu sekali di telingaku. Suara yang sangat tenang bagai memanggilku pergi ke alam lain. Kucoba untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk melawan perasaan ini.

Kupandangi tangan kananku, tangan kiriku, kakiku, semuanya. Mereka bukan sepenuhnya milikku lagi, aku hanya akan menjadi sebuah pikiran yang teronggok di piringan magnetik berkecepatan tinggi.

Kualihkan pandanganku kepada sosok berambut indigo yang sepertinya sedang menahan tangis. Aku hanya tersenyum simpul melihatnya.

Sasuke, bukankah ini yang selama ini kau harapkan. Mati demi melindungi gadis yang sangat kau cintai. Meskipun tubuh ini serasa tak kuat menahan rasa takut yang menghampiri pikiranku, toh aku juga akan mati meskipun aku melawan rasa takut itu.

Dan juga, di sana nanti aku akan merasa bangga sekali karena telah mengorbankan nyawaku hanya untuk orang yang benar-benar aku sayangi.

"Sepertinya kau ketakutan" Ejek Itachi sambil menyiapkan sarung tangan elektriknya. Aku hanya menundukkan kepalaku pasrah, membiarkan sarung tangan laknat itu menyerap jiwaku melalui sela-sela kepalaku.

Kurogoh celanaku untuk yang terakhir kalinya dan kulihat Hinata untuk yang terakhir kalinya lalu kutersenyum dengan sangat tulus pada gadis yang sangat kucintai tersebut dan berharap itu akan menjadi kenangan termanis buatnya.

Kurasakan sesuatu bergerak, meliuk-liuk dalam sakuku. Sesuatu yang berbulu halus, sangat halus sekali dan langsung membuatku tersadar dari lamunan sejenakku.

Dunia tidak senaif ini. Aku tahu itu, aku harus memperjuangkan hidupku sebisa mungkin karena aku harus melindungi orang yang aku sayangi. Itachi tidak akan pernah membebaskan Hinata karena dia adalah saksi kunci.

Aku harus bisa mempejuangkan semuanya. Semuanya tergantung pada isi saku ini.

End of Sasuke POV

"Kau terlalu naif" Kata Itachi sambil bersiap-siap mencabut jiwa milik Sasuke agar bisa terekam pada laptop miliknya. Sasuke yang baru sadar akan idealisme yang muncul pada dirinya pun langsung bertindak dengan melemparkan sesuatu yang baru saja diambilnya dari saku celananya.

"Ulat bulu" Itachi tampak terkejut dengan gerakan mendadak dari Sasuke yang saat itu sudah melemparkan ulat bulu pada sarung tangannya sehingga otomatis jiwa ulat bulu itu tersedot kedalam laptop yang dibawanya.

"Bagaimana kalo Caterpillar Boss ?" Kata Sasuke sambil berlari menerjang Zetsu yang udah siap dengan sarung tangan elektrik tersebut di atas kepala Hinata yang masih terikat.

"Aku punya satu kesempatan" Kata Sasuke sambil melemparkan sebuah kapsul berwarna mengkilap kearah laptop yang dibawa oleh Zetsu dan langsung menempel tepat pada bagian pojok kanan bawah laptop milik Zetsu.

"Hah...!" Zetsu tampak terkejut dengan tindakan Sasuke yang sukses membuat sapu tangan itu berhenti bekerja hanya dengan sebuah kapsul mengkilat.

"Kurang ajar, magnet itu merusak harddisk milikku" Umpat Zetsu yang langsung mengeluarkan pistol dari saku celana kanan miliknya dan bersiap menembak Hinata. Tapi, sepertinya Sasuke lebih cepat dan akurat. Dia langsung menghampiri Hinata dan membawanya pergi masuk lebih jauh kedalam gudang.

Dorr...!

Letusan peluru bergema diantara dinding-dinding gudang sempit tersebut dan rupanya peluru tersebut mengenai bahu kanan dari Sasuke. Cuman sedikit tergores sih, tapi lumayan lah.

-0-

"Kau punya rencana, Sasuke-kun ?" Tanya Hinata yang saat itu sukses berdiam diri di bawah kolong meja bersama dengan Sasuke. Pengejaran ini terbukti memacu adrenalin, lihat saja tubuh Hinata dan Sasuke yang sudah banyak berpeluh.

"Sejujurnya, aku tidak menyiapkan rencana sama sekali. Aku hanya ingin berkorban demi kamu, jadi aku telah siap mati. Maafkan aku, membahayakanmu" Kata Sasuke dengan wajah menyesal. Hinata hanya tersenyum manis kearah Sasuke.

"Gak papa. Maaf juga karena menyeretmu dalam masalah ini" Kata Hinata dan dua orang itu sukses saling senyum kepada sesamanya.

"Baiklah, kita lihat apa yang aku bawa" Kata Sasuke sambil merogoh saku celananya.

"Ini...!" Sasuke mencoba menimang-nimang apa yang ada ditangannya. Sebuah botol parfum yang telah terisi oleh air kekuningan dan sebutir korek api yang sudah hampir habis.

"Sepertinya aku punya rencana" Kata Sasuke sambil menyeringai pelan kearah Hinata yang masih menatap Sasuke heran dengan wajah imutnya.

"Hinata, tolong bertahanlah sebentar sampai aku kembali. Kau tahu" Kata Sasuke sambil menepuk pelan pundak Hinata dan kemudian berlari meninggalkan Hinata. Hinata yang melihat hal itu mencoba untuk menahan Sasuke sebentar saja.

"Sasuke-kun" Panggil Hinata sambil menahan tangan Sasuke yang masih dia pegang dengan erat. Sasuke pun berpaling menuju Hinata dan langsung membulatkan matanya begitu dia melihat sepasang lavender yang sudah tertutup dan tekanan lembut pada bibirnya. Tanpa dia sadari, tubuhnya merespon dengan cepat. Tangannya bergerak menuju rambut Hinata. Tapi ternyata Hinata menahannya dengan tangannya sendiri.

"Kau akan dapat yang lebih bila kau kembali dengan selamat" Kata Hinata sambil tersenyum menggoda kearah Sasuke.

"Aku akan kembali" Kata Sasuke sambil berlari kearah ruangan kosong yang kebetulan terbuka dan menutup pintunya.

"Baiklah, here we go"

-0-

"Keluar kau...!" Sasuke mendengar suara Zetsu yang menggelegar dari arah luar pintu yang di kupingnya.

"Ini dia" Kata Sasuke sambil menyingkir dari pintu tersebut. Zetsu yang sepertinya tahu dengan gerakan yang di buat oleh Sasuke pun langsung mendobrak.

"Rasakan" Kata Sasuke sambil menyalakan korek api dan menyemprotkan parfum tersebut sampai terjadi api yang cukup besar dari partikel yang disemprotkan oleh parfum tersebut dan langsung menyambar wajah Zetsu.

"Sialan...! Itu bensin" Umpat Zetsu sambil mencoba tetap berkonsentrasi dengan menodongkan pistolnya kearah Sasuke. Tapi Sasuke dengan mudah merebutnya karena Zetsu masih terlalu sibuk dengan api yang berada di mukanya.

-0-

"Oiy...! Hinata...! Dimana kau ? Mau main petak umpet eh ?" Kata Itachi persis seperti anak-anak yang main petak umpet. Hinata yang mendengarnya pun hanya bisa bersembunyi dengan menahan nafas agar tidak ditangkap oleh psikopat gila tersebut.

Dor...! Dor...! Dor...!

"Sepertinya Sasuke berhasil di lumpuhkan" Kata Itachi dengan nada yang dibuat seseram-seramnya.

'Berjuanglah, Sasuke-kun'

-0-

Ceklek...!

"Sial...! Pelurunya habis" Umpat Sasuke sambil melempar peluru tersebut. Zetsu yang udah gak berdaya gara-gara dua bahu dan pangkal paha kirinya di tembak oleh Sasuke untuk melumpuhkannya.

"Tinggal satu kaki lagi" Desah Sasuke pelan sambil melihat-lihat gudang tersebut dan menemukan sebuah tirai.

Akhirnya, jadilah Zetsu di gantung terbaik di depan jendela persis kayak sapi yang habis disembelih dan mau dikuliti.

-0-

"Hinata...!" Seru Sasuke yang langsung menghampiri Hinata yang sepertinya terjebak bersama dengan Itachi.

"Sasuke...! Syukurlah kalian berdua berkumpul disini" Kata Itachi sambil menyeringai menunjukkan sarung tangan elektrik miliknya.

"Tidak ada cara lain. Hanya ini yang bisa aku lakukan" Kata Sasuke sambil memasang kuda-kuda untuk mencoba melawan Itachi tanpa senjata alias tangan kosong.

"Kau mulai berani ya ? Biar aku tunjukkan sesuatu padamu. Aku tidak akan mengambil resiko untuk kalah darimu. Jadi aku telah mempersiapkan semua ini" Kata Itachi sambil mengambil sebuah pistol dari saku celananya.

"Aku tidak akan menyerah" Kata Sasuke sambil berlari menerjang Itachi.

"Serahkan saja jiwamu, Sasuke. Kau tidak akan menyesal" Kata Itachi sambil senyum ala psikopat kearah Sasuke.

Dor...!

Sasuke berhasil mengelak dari tembakan pertama dengan meliuk-liuk seperti ular.

"Teknikmu bagus juga" Kata Itachi mencoba memuji Sasuke.

'Pola adalah kunci dari semua ini, bila Itachi benar-benar mengetahuinya. Aku harus berlari tanpa pola dan kemudian menyerangnya kalo ada kesempatan' Kata Sasuke sambil berlari dengan arah yang acak dan tidak beraturan kearah Itachi.

"Wow...! Kau merubah pola pelarianmu. Itu tidak akan berhasil" Kata Itachi sambil melihat kearah Sasuke yang mendekat padanya.

Dor...!

"Sasuke-kun" Teriak Hinata begitu melihat peluru tersebut bersarang di bahu kanan Sasuke sehingga mengeluarkan darah segar.

"Ugh...!" Pekik Sasuke saat peluru itu bersarang di bahunya.

"Meskipun pola berubah, bila target tetap, akan sangat mudah membaca gerakan musuh" Kata Itachi sambil menyodorkan pistol pada Sasuke yang masih kesakitan gara-gara peluru yang bersarang di bahunya.

Sasuke POV

Berakhir...! Semuanya sudah berakhir. Aku akan mati. Aku tidak akan selamat sampai sejauh ini.

Kupegangi bahuku yang sangat ngilu setelah tertembak oleh butiran timah panas yang ditembakkan oleh si bejat itu.

Kulihat tangan kiriku dan kuperhatikan baik-baik.

Merah, warna yang sangat aku benci. Warna kelam darah itu begitu pekat sehingga aku tidak sedikit pun menjumpai warna asli tanganku dibawahnya.

Apakah semuanya akan berakhir seperti ini ? Apakah tidak akan ada jalan lain lagi ? Apakah aku akan mati setelah apa yang aku lalui ? Apakah aku akan kehilangan semua ini ?

Sesuatu menyeruak dalam keputus asaan ku yang mendalam. Sosok berambut indigo yang kini tengah menangis sesenggukan dihadapanku. Berganti pada sosok Sai, saudara kembarku yang baru saja aku kenal beberapa minggu ini. Dia sedang tersenyum innocent seperti biasanya dan melambai kearahku.

Berganti pada wajah Neji yang sedang tersenyum sebal padaku dikala aku mendekati Hinata atau mau berbuat macam-macam dengan Hinata.

Berganti lagi pada Shikamaru yang lagi nyengir malas seperti biasanya sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Kutengadahkan kepalaku untuk melihat sarum tangan nista itu sudah bertengger di atas kepalaku. Aku hanya tersenyum lemah.

It's over. Semuanya telah berakhir. Bayangan itu, cuma sebuah ilusi. Bahkan kehidupan ini hanyalah sebuah ilusi, bukan sebuah kenyataan.

Apa yang kita lihat, adalah bayangan benda yang jatuh tepat diretina dan bukan benda itu sendiri. Apa yang kita sentuh adalah rangsangan kulit yang dikirimkan ke otak.

Dunia ini...! Cuma ilusi.

Tapi, perasaan ini. Dari manakah emosi ini, siapa orang yang kusebut 'aku' dalam pikiranku.

Aku sangat... sangat...

Muncullah bayangan benda berwarna biru tua yang sudah selama ini aku kenal. Laptopku, laptop yang selalu menemani hari-hariku yang kadang sepi. Laptop yang selalu menemani aksiku. Laptop yang aku dapatkan ketika aku menjadi juara kelas saat kelas tiga.

Apakah dia juga ikut menghilang ? Tidak...!

Aku tidak boleh menyerah disini. Banyak yang harus aku lakukan untuk menggapai cita-citaku.

Aku tidak boleh mati sebelum aku bisa melihat Hinata tersenyum bahagia di hari pernikahannya. Aku tidak boleh mati sebelum aku melihat Neji memberiku selamat dan menjadi kakak iparku. Aku tidak boleh mati sebelum aku bisa melihat pernikahan Dobe.

Aku harus bangkit...! Semuanya akan berubah mulai sekarang.

End of Sasuke POV

"Kau salah, Itachi" Tiba-tiba entah apa yang mendorong Sasuke untuk melawan, dia pun langsung menendang pistol yang dibawa oleh Itachi sampai dagu Itachi pun terkena efek tendangan tersebut.

"Cinta, bukanlah vulnerable" Teriak Sasuke yang sekarang sukses menjepit leher Itachi dengan kedua kakinya dan dia bertumpu pada tangan kirinya yang telah banjir oleh darah. Sasuke pun langsung membanting Itachi kearah kanan dengan memutar badannya.

Ckrak...!

Terdengar suara bagian kanan tubuh Hinata yang sepertinya patah karena dibanting oleh Sasuke. Itachi menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan tangan kirinya dan berusaha berdiri dengan menggunakan kaki dan tangan kirinya.

Sasuke yang sudah membanting Itachi pun sepertinya kehilangan keseimbangan sehingga dia terjatuh kebelakang. Refleks, Sasuke menahan tubuhnya hanya dengan menggunakan tangan kirinya saja.

Ckrak...!

Terdengar suara yang sangat keras sekali pertanda bahwa tulang lengan bawah milik Sasuke telah patah.

"Ugh...!" Pekik Sasuke menahan sakit. Dia pun mencoba untuk berdiri dengan kedua kakinya tapi sepertinya sia-sia.

"Hinata, pistol. Tembak bahu kirinya" Pekik Sasuke begitu menyadari Itachi akan bangkit kembali.

Hinata pun dengan sigap langsung menembakkan pistol yang kebetulan terjatuh tak jauh dari kakinya.

Dor...!

Itachi pun langsung terbaring lemah tanpa bisa melakukan apa-apa lagi.

"Tak kusangka pistol seberat itu" Gumam Hinata sambil melirik kearah Sasuke yang juga ikut berbaring lemah.

"Cinta bukanlah vulnerable. Tapi sebuah honepot" Kata Sasuke sambil melihat kearah Itachi yang masih memandangnya dengan tatapan tajam.

"Bila kau dapat memanfaatkannya, kau menang. Aku memang mencintai Hinata. Mencintai Neji sebagai sahabatku dan mencintai Sai sebagai saudara kembarku. Tapi, yang paling penting adalah aku mencintai komputer dan itu adalah syarat wajib para hacker. Kau bisa menghentikanku, tapi kau tak akan bisa menghentikan kami semua" Kata Sasuke sambil tersenyum kearah kakak yang sangat disayanginya tersebut.

"Kau telah belajar banyak, Sasuke. Aku mengaku kalah darimu" Kata Itachi dengan seulas senyuman lembut yang biasa dia sunggingkan kearah adik kecilnya tersebut.

"Hinata, panggil Sai"

TBC

Lho...! Kok masih TBC ? Berarti masih ada kelanjutannya hehe.

Apa adegannya kurang dramatis ? Hehe...! Gomen dech. Masih ada yang belum mengerti ? Gak usah dibahas disini ya. Review or PM aja.

Happy Read