Remake dari Emma Chase "Tangled".

Alur cerita sesuai dengan novel aslinya, hanya akan disesuaikan dengan cast & setting lokasi ^^

Karena ini Remake, kalau ada cerita (ff) yang mirip-mirip dengan pairing yang berbeda, itu wajar ya :)

Kali ini karakternya mayoritas OOC. Dan FF ini akan bercerita dengan POV Jimin.

Main Cast: MinYoon

- Park Jimin (!SEME!)

- Min Yoongi (!UKE!GS!)

Support Cast:

All BTS member (GS: Kim Seok Jin, Jung Hoseok, Jeon Jungkook) & other Idol (random)

Rate M

Genre: Humour, Romance, Drama, Fluffy.

DON'T LIKE DON'T READ


CHAPTER 25

Aku berjalan ke kantor Yoongi seperti tentara menyerbu penyusup yang masuk ke Korea. Dia di meja kerjanya sedang menulis dengan cepat di buku tulis kuning.

"Aku kembali. Apa kau merindukanku?"

Dia tidak mendongak.

"Sangat."

Sarkasme adalah pertahanan diri yang paling tua. Aku mengikuti permainannya.

"Kutahu aku pelan-pelan mulai meluluhkanmu. Apa yang membuatku berhasil mencapai tujuan? Suster Heenim?"

Yoongi mendorong mundur dari mejanya dan menyilangkan kakinya. Dia mengenakan sepatu baru. Aku tidak memperhatikan sebelumnya. Sepatu hitam dengan tumit tinggi dan tali di sekitar pergelangan kakinya. Astaga. Itu adalah perpaduan sempurna antara nakal dan indah. Rasa manis dan seks.

Kejantananku yang malang dan terlantar mengeliat tak terkendali saat aku membayangkan segala hal fantastis dan semi-ilegal yang bisa kulakukan padanya dengan sepatu itu. Aku tidak pernah punya fetish, tapi aku berpikir untuk memulainya sekarang. Suara Yoongi menyeretku menjauh dari pikiran jorokku.

"Tidak. Sebenarnya itu karena kunjungan dari kakakmu. Kehalusan bukan sifat dalam keluargamu, bukan?"

Uh oh. Ini yang kutakutkan.

"Jin punya masalah psikologis yang mendalam. Dia tidak stabil. Kau tidak seharusnya mendengar apa katanya. Tak seorangpun di keluargaku yang mendengarkannya."

"Dia terlihat benar-benar berpikir jernih saat ada di sini."

Aku mengangkat bahu.

"Penyakit mental merupakan hal yang rumit."

Matanya menyipitkan dengan khawatir.

"Kau tidak serius kan?"

Sial. Tidak boleh bohong.

"Secara teknis, dia belum pernah di diagnosa. Tapi ide-idenya tentang keadilan dan balas dendam benar-benar gila. Bayangkanlah Jungkook... dengan pengalaman satu dekade lebih banyak untuk menyempurnakan tekniknya."

Wajah Yoongi berubah kendur oleh pemahaman itu.

"Oh."

Ya, selamat datang di duniaku, sweetheart.

"Dia membawakanku kopi," kata Yoongi.

"Haruskah aku meminumnya?"

Kami berdua mengamati dengan curiga cangkir Starbucks di mejanya.

Saat aku berumur tiga belas tahun, aku melelang pakaian dalam Jin di ruang ganti anak laki-laki. Pakaian dalam yang kotor. Ketika Jin tahu lewat selentingan dari teman perempuannya, ia bersikap tenang, tak pernah membiarkan orang tahu bahwa dia sebenarnya tahu. Dan kemudian Jin membubuhi susu cokelat sarapanku dengan obat pencahar rasa coklat. Aku tidak meninggalkan kamar mandi selama tiga hari. Sekarang walaupun aku menyadari Jin tidak menaruh dendam semacam itu terhadap Yoongi, tapi tetap saja...

"Kalau aku boleh menyarankan. Aku tidak akan minum."

Yoongi mengangguk dengan kaku dan menggeser cangkir menjauh darinya.

"Apa pendapatmu tentang Jangmi? Aku sangat ingin ada disini saat kau bertemu dengannya."

Senyumnya hangat dan tulus.

"Kurasa dia menakjubkan."

"Aku yakin kau akan senang mendengar dia memakai kalkulatormu padaku saat aku bertemu dengan mereka di lantai bawah."

Senyumnya melebar.

"Itu bagus."

Aku menggeleng, dan Yoongi berkata,

"Aku mengerti sekarang, kenapa Jin menggunakan Stoples Omongan Jorok, karena kau sepertinya menghabiskan begitu banyak waktu bersama Jangmi."

"Apa maksudmu?"

Yoongi mengangkat bahu.

"Jangmi bicara seperti kamu. Tidak setiap hari kau mendengar seorang anak umur empat tahun mengatakan 'Prince Charming adalah orang brengsek yang hanya bisa memegang punggung Cinderella'."

Itu baru keponakanku.

"Memaki bagus untuk jiwa."

Yoongi menahan tawanya. Dan dia terlihat begitu menggoda, aku tidak bisa menahan diri untuk membungkuk di atas kursinya, memerangkap Yoongi dengan lenganku. Obrolan ringan sudah selesai. Saatnya kembali ke bisnis.

"Ikutlah jalan-jalan denganku."

Suaraku rendah. Persuasif.

"Tidak mau."

Ternyata sama sekali tidak efektif.

"Ayolah, Yoongi, hanya butuh waktu satu menit. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

Yoongi mendengus.

"Apa yang akan kau lakukan? Menyewa sirkus untuk melakukan pertunjukan di lobi? Menyelenggarakan parade dengan taburan kertas untuk menghormatiku?"

Aku tertawa.

"Yang benar saja. Aku tidak akan melakukannya."

Yoongi menaikkan satu alis dengan ragu.

"Oke, kau benar. Aku akan melakukan itu. Tapi tidak hari ini."

Dia mendorongku mundur dan berdiri. Aku membiarkannya.

"Kau tidak takut, kan?" Tanyaku.

"Kau takut tidak akan mampu mengendalikan diri kalau kau sendirian denganku?"

Untuk orang-orang seperti Yoongi dan aku, tantangan adalah mirip seperti seorang pelacur di sebuah konvensi pecandu seks. Hampir tidak mungkin pelacur itu akan ditolak.

"Kalau maksudmu aku takut aku akan membunuhmu karena tidak ada saksi mata yang memberi kesaksian melawanku, maka jawabannya ya. Meskipun harus kuakui, hukuman dua puluh tahun sampai seumur hidup sepertinya pengorbanan yang pantas untuk saat itu."

Apakah menurut kalian dia menikmati percakapan intim ini sama seperti diriku? Seharusnya begitu. Dia sangat bagus dalam urusan ini. Yoongi berjalan berputar, memposisikan mejanya di antara kami.

"Dengar, Jimin, aku punya klien baru. Aku sudah bilang padamu. Kau tahu itu. Aku tidak sanggup menerima... gangguan yang dapat mengalihkan perhatianku sekarang."

Aku menganggap itu sebagai pujian.

"Aku mengalihkan perhatianmu?"

Yoongi mendengus gusar.

"Bukan itu maksudku."

Lalu wajahnya berubah. Dan dia memohon,

"Kau harus menghentikan ini…" melambai tangannya di udara

"…misi yang sedang kau jalankan. Relakanlah. Kumohon."

Ketika Namjoon berumur sebelas tahun, ia berlari menabrak pohon selagi permainan bola di halaman belakang rumahnya, dan dahinya robek terbuka. Selama hidupku, aku tak akan pernah lupa suara dia memohon, memohon pada ibunya agar tidak membawanya ke rumah sakit. Karena Namjoon tahu ia membutuhkan jahitan. Dan jahitan itu, menyakitkan. Di usia berapa pun. Tapi Kim ahjumma tidak menyerah. Dia tetap membawanya. Karena meskipun Namjoon takut—meskipun itu bukan yang Namjoon inginkan—ibunya tahu pasti apa yang Namjoon butuhkan.

Kalian mengerti ke mana arah pembicaraan ini?

"Keputusan ada di tanganmu, Yoongi. Aku sudah bilang itu padamu sejak awal. Kau ingin aku menyingkir, yang harus kau lakukan adalah kencan denganku pada hari Sabtu."

Dia menggigit bibirnya. Dan menunduk menatap meja.

"Oke."

Oh Tuhanku…

"Maaf? Bisa kau ulangi?"

Matanya menatapku. Tampak ragu-ragu tapi pasrah. Seperti seseorang yang menunggu dalam antrian naik rollercoaster. Bertekad untuk naik tapi tidak yakin apa yang akan mereka hadapi.

"Aku bilang ya. Aku akan makan malam denganmu hari Sabtu."

Sudah resmi. Kuatkan dirimu. Neraka sebenarnya telah membeku.

"Setelah bicara dengan kakakmu, aku menyadari beberapa hal..."

Kau mencintaiku? Kau membutuhkanku? Kau tidak bisa hidup tanpaku?

"...Kupikir kau memerlukan suatu penutupan, Jimin."

Oh tidak. Bukan penutupan. Apa pun asal jangan penutupan. Penutupan adalah kata yang diciptakan oleh wanita sehingga mereka bisa lebih menganalisis sesuatu dan membicarakan itu, sepuasnya. Lalu, setelah didoakan dan dikubur, penutupan memberi mereka alasan untuk menggali keparat malang itu dan membicarakannya lebih banyak lagi.

Pria tidak melakukan itu. Tidak pernah. Sudah berakhir. Gambar berubah hitam. Tamat. Itu saja penutupan terkutuk yang kami butuhkan.

"Penutupan?"

Yoongi berjalan ke arahku.

"Kurasa segala sesuatu diantara kita berawal dan berakhir begitu cepat, kau tak punya waktu untuk menyesuaikan diri. Mungkin kalau kita meluangkan waktu... kalau kita bicara jauh dari kantor... kau akan mengerti bahwa setelah segala hal yang terjadi, yang terbaik yang bisa kita harapkan hanyalah berteman."

Aku cukup yakin maksud Yoongi bukan 'friends with benefits'. Dan itu jelas tidak cocok untukku. Seorang pria tidak bisa berteman dengan wanita yang secara aktif dia mempunyai ketertarikan padanya. Tidak juga. Karena pada titik tertentu nafsu akan mengambil alih pikirannya.

Nafsu akan berjalan seperti dia dan bicara seperti dia, tapi—seperti salah satu orang tolol malang yang terinfeksi makhluk pengisap berwajah aneh di film Alien—pria itu bukan dirinya lagi. Dan sejak saat itu, setiap langkah, setiap gerak tubuhnya akan diarahkan untuk mencapai tujuan dari nafsunya. Yang pasti tidak akan ada hubungannya dengan persahabatan. Selain itu, aku punya teman, Taehyung, Namjoon, Jackson. Aku tidak ingin bercinta dengan salah satu dari mereka.

"Teman?"

Yoongi tidak memperhatikan ekspresi jijikku dengan ide itu. Atau dia memang tidak peduli.

"Ya. Kita harus berkenalan kembali sebagai rekan kerja. Setara. Bukan kencan. lebih mirip seperti pertemuan bisnis di antara para kolega."

Pengingkaran adalah sesuatu yang sangat kuat. Tapi pada saat ini aku akan mengambil apa yang bisa kuperoleh.

"Jadi, maksudmu kau akan pergi berkencan denganku pada hari Sabtu? Itu intinya, kan?"

Dia ragu-ragu. Lalu mengangguk.

"Ya."

"Sempurna. Jangan katakan apa pun lagi. Aku akan menjemputmu jam tujuh."

"Tidak."

"Tidak?"

"Tidak. Aku yang akan menemuimu."

Menarik. Aku berbicara dengan pelan,

"Dengar, Yoongi, kutahu kau belum banyak berkencan, mengingat si tolol yang kau sebut pacar itu sudah mengajakmu bertunangan sebelum kau meninggalkan bra trainingmu. Namun dalam kasus ini, si cowok—yaitu aku—yang seharusnya menjemputmu—si cewek. Ini adalah hukum yang tidak tertulis."

Lihat bagaimana bibirnya ditekan jadi satu? Bagaimana bahunya menegang? Oh yeah, dia siap bertarung.

"Aku baru saja bilang ini bukan kencan."

Aku mengangkat bahu.

"Itu tergantung interprestasi."

"Katakan saja secara hipotetis itu adalah kencan. Ini akan menjadi kencan pertama. Dan aku tidak akan pernah mengijinkan seorang pria yang tidak kukenal datang ke apartemen menjemputku untuk kencan pertama."

Aku mengusap rambutku.

"Itu tidak masuk akal. Kau kenal aku. Kita berdua pernah melakukan posisi enam sembilan. Menurutku kau cukup baik mengenalku."

"Dengar, ini adalah persyaratanku. Kalau kau tidak bisa menerimanya, kita bisa saja melupakan semua…"

"Tunggu, tunggu. Jangan gegabah. Aku menurut. Kau bisa menemuiku di apartemen. Jam tujuh. Tepat."

"Oke."

"Tapi aku punya beberapa persyaratan sendiri."

Dia bereaksi dengan marah terhadap ucapanku.

"Aku tidak akan berhubungan seks denganmu!"

Aku memaksakan diri agar terlihat kaget.

"Aku terluka. Sungguh. Siapa bilang ada hubungannya dengan seks? Aku tidak akan pernah mewajibkan seks sebagai bagian dari kesepakatan kita."

Lalu aku tersenyum.

"Ini opsional. Berpakaian juga termasuk."

Yoongi memutar matanya.

"Hanya itu?"

"Tidak."

"Apa lagi yang kau mau?"

Oh, sayang. Jika saja dia tahu. Meskipun mungkin lebih baik dia tidak tahu. Aku tidak ingin menakut-nakutinya.

"Aku ingin kencan empat jam. Paling sedikit. Tanpa terganggu. Aku ingin percakapan, makan malam—makanan pembuka, hidangan utama, hidangan penutup—anggur, dansa..."

Dia mengangkat tangannya.

"Tidak ada dansa."

"Satu dansa. Itu tidak bisa ditawar."

Dia menatap langit-langit, mempertimbangkan pilihannya.

"Baik. Satu kali dansa."

Dia menunjukkan jarinya padaku.

"Tapi jika tanganmu mendekati pantatku, aku keluar dari sana."

Sekarang giliranku memikirkannya lagi.

"Hm... oke. Tapi kalau kau mengingkari salah satu ketentuanku, aku berhak meminta pengulangan."

Dia menunggu sesaat. Matanya menyipit penuh curiga.

"Dan kau tidak akan menggangguku sepenuhnya sampai hari Sabtu? Tidak ada pendeta muncul untuk menyapaku? Tidak ada patung-patung es mencair di depan pintuku?"

Aku menyeringai.

"Itu akan seperti kita tidak pernah bertemu. Seperti aku bahkan tidak bekerja di sini."

Kemungkinannya karena aku tidak akan berada di sini. Aku akan menjadi cowok yang super sibuk. Yoongi mengangguk.

"Oke."

Aku mengulurkan tanganku. Yoongi menjabatnya dan berkata,

"Deal."

Aku membalik tangannya dengan lembut dan mencium punggung tangannya seperti saat malam pertama kami bertemu.

"Ini kencan."

Apakah kalian pernah berjalan ke ruangan untuk mengambil sesuatu, tapi begitu sampai di sana, kalian tak tahu untuk apa datang kesana? Bagus. Kalau begitu kalian mengerti kenapa aku berbalik dan mulai berjalan keluar dari ruangan. Sampai suara Yoongi menghentikanku.

"Jimin?"

Aku berpaling ke arahnya.

"Ya?"

Wajahnya tertunduk.

"Aku tidak... Aku tidak suka menyakiti orang lain. Jadi... jangan berharap terlalu banyak tentang hari Sabtu."

Sebelum aku bisa membuka mulut, pergerakan dari luar jendela menarik perhatianku. Dan aku tidak bisa percaya aku nyaris melupakan ini. Tanpa bicara, aku berjalan mendekat dan memegang tangan Yoongi. Aku membawanya ke jendela dan berdiri di belakangnya, meletakkan tanganku di bahunya. Aku mendekatkan mulutku ke telinganya. Nafasku membuatnya bergidik. Dengan cara yang nikmat.

"Sudah terlambat."

Aku ingin ini menjadi sederhana. Sesuatu yang akan diukir di pohon atau lukisan semprot di dinding jika kita masih remaja. Tapi aku membutuhkan sesuatu yang jelas. Sebuah pernyataan. Mengatakan kepada Yoongi dan setiap wanita lain di luar sana bahwa aku, Park Jimin, aku sudah keluar lapangan pertandingan.

Yoongi terkesiap ketika dia melihatnya. Di atas langit sana, dalam huruf putih besar, untuk dilihat orang di seluruh kota:

Park Jimin

Min Yoongi

FOREVER

Selalu keluar sebagai pemenang kawan.

"Sampai ketemu hari Sabtu, Yoongi."

Dan dia masih menatap keluar jendela saat aku berjalan keluar.

.

.

.

Jangan khawatir, pertunjukan belum selesai. Aku masih punya beberapa trik tersembunyi yang siap dipakai, dan aku selalu menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir. Kalian pasti tidak akan mau ketinggalan yang satu ini. Aku langsung menuju ke meja Hoseok.

"Aku ingin kau menghubungi toko bunga lewat telepon. Dan katering. Juga membuat janji temu untukku malam ini dengan desainer interior yang kita bicarakan kemarin."

Dia mengangkat telepon dan menghubungi.

"Aku sedang melakukannya."

Ya, kubilang desainer interior. Kalian tidak tahu buat apa, kan? Ini grand final. Langkah Kemenanganku. Kalian akan lihat nanti. Saat malam Minggu.


-TBC-