REUPLOAD
ending aja yang di ganti~
=Two Worlds=
"Kita tidak pernah sendirian di semesta ini"
Story & Cover by:
Zanas-kun
Genre:
Fantasy, Friendship, Humor, Action
Disclaimer:
Kuroko no Basuke character by Fujimaki-sensei
Warning:
[OOC, alur lambat, Typo]
If you like it click Next, if you hate it click close/back
DON'T LIKE DON'T READ!
Enjoy!
Chap 25
Pelabuhan ini baunya amis dan udaranya terasa asin. Angin kencang terus berhembus dan debur ombak tak henti-hentinya menghantam bebatuan pemecah ombak. Kapal kapal berbagai macam ukuran dan bentuk berlabuh dan berlayar, dan suara-suara kapal maupun teriakan para awak seakan tidak pernah berhenti terdengar.
Baru sekali ini mereka melihat berbagai macam makhluk di satu tempat. Mungkin beberapa kali mereka pernah kesini tapi melihat ini secara langsung dengan ingatan baru sangat mengejutkan.
"Bukannya itu Captain Cutler's Ghost?" celetuk Kuroko melihat orang tertentu tak jauh dari gerombolan mereka.
"Captain apa? apa itu?" tanya Kagami kepo
"Hantu yang pernah ditayangkan di Scoby Doo" jawab Kuroko lempeng
"Kau masih nonton kartun Kuroko?" tanya Kagami lagi, raut mukanya udah ada heran ama lucu.
"... Aku teringat pernah nonton waktu kecil" sungguh, kebohongan yang gampang di deteksi.
Semuanya menahan tawa dan semuanya terkena Ignite Pass.
Kecuali Aomine yang gagal paham.
"Kenalanmu pak?" tanya salah satu penjual, para tuan muda itu menjadi pusat perhatian di sana.
"Bukan, aku gak kenal mereka" jawab Nijimura malu, Mayuzumi cuek. Sanada entah kemana sama Takao. Dan Haizaki langsung menggaet cewek, Duyung perempuan cantik dan seksi yang sedang menaiki gelembung apung dan memakai pakaian untuk membaur dengan keramaian.
"Tapi Murasakibara beneran tak datang ya" Kata Nijimura ke Mayuzumi di sebelahnya.
"Sepertinya dia hari ini ke tempat kenalannya itu lagi, Murasakibara juga terlihat lebih pendiam dan memikirkan sesuatu" jawab pemuda itu datar seperti biasa.
"Ooh? Dan apa itu?" tanya Nijimura dengan senyum jenaka.
"Entahlah, mungkin berapa banyak koki yang akan di buat tepar hari ini?" jawab Mayuzumi kembali dengan senyum tipis dan menghendikkan bahu, lalu mereka tertawa.
"Minna! Lama tak jumpa!" dari kejauhan Shiori melambaikan tangan kepada mereka antusias, mengalihkan perhatian Kuroko dkk dari kekaguman mereka. "Lho, Sana-chan, Takao dan Haizaki mana?" tanyanya kemudian.
"Entahlah, tapi aku sudah menghubungi mereka untuk kembali sore ini di perahu yang kita sewa untuk berangkat nanti." jawab Nijimura menghampiri Shiori.
Gelembung yang dipakai gadis itu sama dengan yang dipakai para makhluk tak berkaki untuk bergerak di pasar, terbuat dari getah tumbuhan tertentu, gelembung itu hanya ada di sini dan tak bisa di pakai diluar wilayah pelabuhan karena masalah jangkauan sihir dan medan, gelembung itu akan langsung meletus jika itu terjadi. Di beberapa bagian gelembung itu juga ada suatu alat untuk mengarahkan dan mempercepat laju gelembung tersebut. Beberapa toko terlihat menjualnya, tapi ada juga yang menyewakan untuk yang berniat singgah sejenak di pelabuhan ini.
"Yosh, sekarang kita akan cari informasi dan membeli keperluan tambahan, bentuk tim terdiri dari dua orang dan berpencarlah, kita akan berkumpul siang nanti untuk menghitung persediaan dan peralatan dan kita langsung berangkat" jelas Nijimura memberi instruksi.
"Kenapa kita tidak langsung berangkat saja?" tanya Kagami penasaran.
"Tch, untuk apa melakukan semua itu, hanya membuang-buang waktu saja. Kita hanya akan memeriksa apa yang ada di sana. Memang apa yang bisa terjadi?" protes Aomine kesal.
"Banyak yang bisa terjadi Aomine" komen Sanada yang baru datang dan membawa sekantung makanan "Kita juga tidak tau akan mencari sampai berapa lama di sana, jadi persediaan itu penting" lanjutnya kemudian sambil memakan ikan bakar, di sebelahnya Takao sedang asik makan sendiri.
"Tunggu, ku kira ini akan selesai hari ini?" Tanya Kagami sedikit bingung. "Besok kita kan sekolah"
"Itu belum pasti karena menurut kabar yang beredar, akhir-akhir ini keluar kabut tebal di lautan sana, dan beberapa kapal menghilang tanpa bekas. Memang mereka akan kembali, tapi dengan keadaan seperti berlayar tanpa henti dalam waktu lama, kapal rusak parah, dan para awakpun menua padahal mereka hanya menghilang paling lama sebulan" jelas Shiori sebagai informan.
"Kabut... ini seperti legenda Jepang saja" sahut Sanada dengan ekpresi tak percaya nyaris konyol
"Haha, maksudmu Urashimataro?" sahut Takao dengan tawa kecil dan sedikit menyenggol Sanada dengan siku, Sanada tersenyum mendengus geli.
"Dengan begitu, kita akan tetap pada rencana awal. Jangan terlalu mencolok atau melakukan hal bodoh, mengerti?" kata Nijimura dan semuanya mengangguk, kecuali Haizaki yang protes.
"Kenapa aku harus menurutimu." dan dia dihadiahi head lock oleh Nijimura. Dan meskipun kesadarannya berada di ujung tanduk, Haizaki tidak akan meminta tolong. Tidak akan.
.
.
.
.
.
"Setidaknya kepalamu masih tersambung lah, Hai-chan"
"Diamlah, poni cupu" geram Haizaki
Takao ketawa kenceng hingga perahu yang mereka tumpangi sedikit goyang.
"Bakao diamlah dan kendalikan perahu ini dengan benar!" Teriak Modorima di depan sambil memegang map yang mereka beli di pelabuhan.
"Semua orang sangat kreatif dalam membuat nama panggilan! Aku iri! Bwahahahaha!" Tapi tawa Takao makin kenceng hingga teman mereka yang menaiki perahu di depan bisa mendengarnya.
"Sepertinya yang di perahu belakang sedang bersenang-senang" komen Mayuzumi sambil menoleh kebelakang, melihat Takao menghindari serangan yang Haizaki lempar.
"Biarkan saja, namanya juga anak-anak" komen Nijimura sekenanya sambil melihat peta dengan serius, sesekali mencoret sesuatu di peta itu. Mayuzumi menatap Nijimura datar, ingin berkata sesuatu, tapi tak berani, masih sayang nyawa.
Kelompok mereka di bagi menjadi 3 bagian, masing-masing menaiki perahu berukuran sedang yang di sewa dari kenalan Shiori. Menyesuaikan dengan budget mereka sendiri.
Perahu pertama berada di depan sendiri, memiliki layar lebar dan penyeimbang di kiri-kanan, mirip perahu yang biasanya dipakai nelayan, tentu ada papan kayu tepat mereka duduk dan sepasang dayung. Perahu pertama diisi oleh Sanada, Nijimura, Mayuzumi dan Kuroko. Perahu yang isinya orang-orang pendiam berkepala dingin dan tentunya yang paling tenteram diantara tiga perahu.
Perahu kedua memiliki dayung dan kedua layarnya tak dikembangkan, kata orang-orang yang menaikinya sih mendayung sekalian untuk 'pemanasan' jika terjadi apa-apa, mereka bisa langsung bertarung, dari alasannya kita tau perahu kedua diisi siapa, Kise, Kagami dan Aomine. Orang-orang berkepala panas dan untuk mengendalikan mereka, Shiori yang bertanggung jawab, mereka tidak akan melakukan hal bodoh dengan cewek diantara mereka. Perahu kedua juga memiliki sebuah tempat menyimpanan yang lebih besar dari perahu lainnya di bagian belakang perahu, bentuknya seperti rumah anjing dan terhubung dengan lambung perahu di bawah kayu tempat mereka duduk.
Perahu ketiga Berisi Haizaki, Takao dan Midorima. Perpaduan trio yang paling unik. Perahu mereka paling enak sendiri, ada mesin yang menjalankan perahu mereka dan tuas yang mengemudikan kapal, layar mereka lebih kecil dari perahu pertama dan kedua, diikat di tiang yang berada di tengah, ada peti yang digunakan untuk menyimpan bekal mereka dan beberapa senjata kecil dan keperluan sihir milik Takao dan Midorima.
"Sudah berapa lama kita berlayar?" Tanya Kagami mengambil istirahat dan minum air, digantikan Kise untuk mendayung.
"Jika air minummu habis, Kagami-kun, aku tidak akan membagi milikku" komen Kuroko tidak menjawab pertanyaan Kagami. Dan semuanya setuju dengan Kuroko.
"A-aku tau!" protes Kagami baru menyadari kesalahannya lalu meletakkan tempat minumnya setelah meneguk sedikit.
Shiori memeriksa jam yang di bawanya "sudah 3 jam, Mi-chan" jawabnya
Kagami menoleh ke Shiori dengan hidung yang kembang-kempis, mengacuhkan tawa Aomine dan Kise yang meledak "Jangan panggil aku dengan nama itu Shiori" katanya penuh ancaman tapi dia tidak berteriak.
Yang tentu saja di acuhkan oleh gadis berrambut silver itu "Mine-kun, kita kembangkan layar saja ya, nanti kalo kalian kecapaian saat dibutuhkan juga Cuma jadi beban buat yang lain" katanya tanpa rasa bersalah sama sekali.
Aomine menghembuskan nafas kasar dan mengelap keringatnya, "Jangan panggil aku begitu Shiori atau aku akan melemparmu ke laut" katanya sambil berdiri dan melepas ikatan layar di bantu Kagami yang lagi senyum ngejek dan sengaja mengeluarkan suara tawa yang ditahan. Shiori menanggapinya hanya dengan tawa kecil.
"Tapi Mine-chan aku kan duyung" jawab Shiori masih sambil tertawa yang makin keras dan yang lainnya lainnya juga ikut tertawa. Aomine hanya bisa diam sambil menahan malu dan memukul wajah Kagami di sebelahnya.
"Dasar pantat wajan! Kutebas kau!" teriak Kagami memegangi hidungnya yang memerah
"Heh, pedang besar yang Cuma bisa mengeluarkan api emang bisa apa?" cibir Aomine, iya, Kagami pasti memamerkan senjata barunya yang hebat dan Aomine melihatnya dengan tampang lempeng yang seakan berkata: 'Cuma segitu doang?'
Intinya Kagami Cuma bikin malu diri sendiri.
"Tunggu hingga kita kembali nanti, ku cincang kau! Yang kau lihat sebelumnya belum seberapa kekuatannya!" teriak Kagami makin garang
"He... kau menantangku dengan kemampuan dapur seperti itu? Senjata hanya sebuah alat, yang membuatnya menjadi berbahaya adalah skill!" Aomine menyeringai meremehkan.
Dan mereka mulai adu mulut dan menahan diri untuk berkelahi sambil terus memasang 2 layar perahu mereka, mereka tidak mau kapal mereka hilang keseimbangan dan terbalik. Tak ada yang menghentikan karena mereka sudah terbiasa. Kagami dan Aomine gak akan pernah bisa akur, ini sudah resiko.
Lalu terlihat dari samping mereka dan dari jarak yang lumayan jauh, adalah sebuah siluet kapal megah. Yang pertama menyadarinya adalah Kuroko.
"Coba lihat itu, Nijimura-san. Apa ada orang lain yang ikut ekspedisi kita?" tanya Kuroko setelah menunjuk siluet kapal itu.
Nijimura mengalihkan teropong yang dipegangnya dan mengarahkannya ke arah yang Kuroko tunjuk, "Hah? Tentu saja tidak ada, kenapa-...Shit"
Sanada dan Mayuzumi yang menjaga layar dan menangani kemudi langsung menghentikan kegiatan mereka dan menoleh kearah Nijimura yang barusan mengumpat.
Nijimura menurunkan teropongnya dan menyuruh perahu yang lain mendekat.
"Sepertinya kita kedatangan tamu tak diundang" Nijimura menunjuk siluet kapal megah itu lagi, yang sepertinya masih belum menyadari keberadaan mereka, Nijimura bisa merasakan tatapan timnya terfokus padanya "Itu adalah kapal ras vampire" dan Nijimura bisa mendengar suara nafas mereka yang tertahan.
"Ap-Bagaimana?!" berbagai ketidakpercayaan terdengar dan mereka berkata bersamaan hingga mereka jadi sedikit berisik.
Nijimura mengangkat tangan dan mereka langsung membungkan mulut "Dan jika yang Murasakibara katakan benar," dia menjilat bibirnya yang mengering "Mereka mengincar Senjata Legenda, sama dengan kita. Entah itu atas perintah leluhur atau tetua mereka, atau atas nama Akashi"
"Akashicchi?!" kata Kise tidak percaya.
"Bisa Akashi Seijuurou, atau mungkin juga tidak. Setauku yang memegang kendali atas ras vampir saat ini adalah keluarga Akashi" jelas Nijimura.
BAM! DBUM!
Tiba-tiba suara dentuman meriam terdengar dan baru mereka sadari kalau kapal yang mereka lihat bukan satu-satunya kapal besar yang berlayar di lautan sekitar mereka.
Di balik kabut tebal di sisi lain perahu mereka, Sanada melihat dari arah berlawanan dari kapal megah milik ras vampire itu adalah Sebuah kapal aneh yang tampak seperti berlayar selama ratusan tahun, bahkan layar mereka terlihat robek dan tiang pengawas kapal itu hancur.
'Tunggu, sejak kapan kabut ini ada?'
BYUUURRR
"Kyaaaaa!"
Lalu salah satu dari meriam itu tercebur di dekat perahu mereka, menimbulkan gelombang yang cukup besar untuk menggoyahkan perahu mereka.
"Cepat pergi dari sini! Cepat cepat cepat!" perintah Nijimura segera dan mereka sigap menggerakkan perahu mereka secepat mungkin dengan alat apapun dan merapalkan sihir pelindung yang juga untuk menyamarkan keberadaan mereka.
Belum jauh mereka dari area pertempuran kedua kapal besar itu dan ditengah dentuman luar biasa dari meriam-meriam yang terbang di udara dan jatuh ke laut, anehnya Sanada mendengar suara gemerincing yang jernih.
"Hei! Apa kalian mendengarnya?!" teriak Sanada ke yang lainnya.
"Mendengar apa?!" teriak Nijimura balik mewakili yang mendengar pertanyaan Sanada.
"Suara gemerincing itu!" dan mereka yang kebingungan dan sedikit panik langsung mengetahui jawaban dari pertanyaan di kepala mereka sesaat kemudian.
Criiiink...BYAAAAARR
Salah satu kru kapal yang berdiri dengan angkuh dan mengacungkan senjata yang bercahaya kebiruan, senjata itu seperti tongkat dan di ujung atasnya ada rantai yang berujung sesuatu yang melengkung, terlalu jauh jadi tak jelas
Lalu sesaat kemudian di sekitar kapal itu ombak besar seperti tsunami terbentuk, dan bergerak cepat kearah kapal ras vampir.
Lalu tanpa disangka, tsunami itu langsung terpecah sebelum menghantam kapal milik ras vampire, yang memecahnya adalah sebuah makhluk besar yang memiliki kepala bundar, karena terhalang kabut dan cahaya yang tak memadai, mereka hanya bisa melihat siluet besar dengan dua lobang yang terlihat seperti 'mata'. Makhluk itu besarnya sekitar duapuluh meter dan mereka berpikir kalau itu bukan keseluruhan tubuh makhluk itu.
"Tch, Umibozu kah" geram Haizaki yang memrapalkan mantra untuk melawan makhluk itu (karena dia seorang Kurotabou) sekaligus menjaga kapal mereka, Mayuzumi yang seorang Tengu langsung mengangkat Sanada dan Kuroko dan terbang kearah kapal Ras Vampire, Kagami terbang dengan api miliknya dan mengangkat Aomine kearah kapal 'perompak' itu, Midorima juga menggunakan sihirnya untuk terbang dengan Nijimura dan Kise kearah kapal perompak, dan Takao mengangkat Shiori kearah kapal ras vampire.
"Kalau tidak salah Umibouzu muncul jika ada yang mengajak bicara padanya kan?! Apa salah satu awak dari kedua kapal itu yang melakukannya-ssu?!" Teriak Kise ke Nijimura.
"Mungkin saja! Untuk saat ini, kita harus mendekat kedua belah pihak untuk melihat keadaannya!" Jawab Nijimura dan mereka, bersamaan dengan Kagami dan Aomine, mendarat ke kapal perompak itu, dan mereka dikejutkan oleh Umibouzu yang sepertinya mengincar kapal ini, Kapal Ras Vampire malah tidak dilirik sedikitpun.
"Pelaut, kubiarkan kalian mengambil yang bukan milik kalian di lautan yang luas ini untuk petualangan kalian, Tapi sepertinya Kalian telah melupakan siapa yang berkuasa atas lautan ini" Yang membuat mereka semua terkejut adalah kata-kata itu bukan berasal dari Umibouzu, tetapi dari Aomine.
"Di Dunia ini sekalipun ada sesuatu yang tak berhak kalian sentuh dengan tangan kotor kalian" Tanpa peringatan, Aomine bergerak cepat membantai habis para awak perompak di sekeliling mereka yang tentu mengacungkan senjata pada para penyusup.
Dan Umibouzu bergerak untuk membalikkan kapal mereka, dan suasana kacaupun tak terelakkan lagi, saat Sang Kapten membanting kemudinya kekanan dan kekiri untuk mempertahankan kapalnya, beberapa awak menangani layar dan bahan bakar di lambung kapal, secara tak langsung bertarung melawan Umibouzu.
Dan di dek pertarungan sengit mewarnai kayu kapal menjadi merah, teriakan para awak yang kasar dan benturan logam dan sihir menambah riuh di laut yang sebelumnya sunyi. Diantara teriakan pertarungan mereka seorang terselip berbicara.
"Penyusup sialan! Kalian pasti datang untuk merebut Pusaka baru kami hah?! Siapa informan kalian?!" teriak Orang yang separuh tubuhnya ditumbuhi koral itu.
Nijimura menyeringai "Hoo jadi begitu" katanya dan dia membelah dua lawannya dengan tombak miliknya. Lalu ia menempelkan punggungnya dengan punggung Midorima untuk bicara singkat
"Aku tak tau Deathscythe itu Senjata Legenda atau bukan, tapi rebut itu bagaimanapun juga. Kau bisa merasakannya kan? Bilang ini pada Kagami dan Kise, lindungi Aomine, tingkahnya seperti kalian sebelum mendapatkan Senjata itu" dan Midorima mengangguk.
Senjata Legenda yang Kuroko pegang menguasai kesembuhan, tetapi ia juga menguasai Kutukan, keberadaannya menyebar teror dan harapan, acungannya memegang kehidupan setiap makhluk dihadapannya, sebuah keberadaan yang tak tertebak. Kesendirian adalah hal yang mutlak.
Senjata Legenda yang Kagami miliki menguasai Api, Gunung lava adalah wilayah kekuasaannya,dan panas adalah nafasnya, dia bisa menghancurkan apapun di hadapannya, tapi sisa kehancuran itu bisa menjadi awal yang lebih baik. Kebangkitan dari nol.
Senjata Legenda Kise adalah cerminan sempurna dari cahaya, Ia dicari oleh semua makhluk, keberadaannya menenangkan dan menggembirakan, tetapi apa yang berlebihan selalu tak baik, jika terlalu lekat mengagumi cahaya kau akan kehilangan kekuatanmu dan kau tak akan bisa melihat apapun.
Senjata Legenda Midorima dikelilingi oleh kehidupan, hutan adalah rumahnya, binatang adalah kawannya, dan damai adalah nafasnya. Kekuatan Sang Kijang memberkati setiap makhluk yang melestarikan alam, dan melindungi mereka yang mencari perlindungan. Dan tak ada satupun yang diijinkan merusak kedamaian itu.
Senjata Legenda yang seharusnya ada di tangan Murasakibara adalah sebuah peninggalan peradaban pertama, Era Kegelapan, tak ada yang mengetahui apa yang terjadi di era yang musnah tersebut. Tapi satu hal yang pasti, mereka memuja beruang dengan perawakan yang monstrous. Pembawa Kehancuran yang tak terbayangkan.
Dan Senjata Legenda Aomine sepertinya adalah yang menguasai laut dan melindunginya, di perkirakan itu adalah senjata para dewa yang tidak mereka ketahui. Senjata yang menyimpan kekuatan laut di dalamnya, sudut laut yang tak terjamah, dan makhluk yang tak diketahui. Misteri yang luas dan dalam.
Di kapal ras Vampir, situasi yang tak kalah tegangnya sedang berlangsung.
"Murasakibara-kun... kenapa kau ada di sini?" tanya Kuroko dengan nada suara yang netral, menjaga emosi untuk tetap tenang dan tidak memanaskan suasana yang sudah meruncing.
"Hmm.. aku disuruh ikut" jawabnya masih malas.
"Hanya kamu?" tanya Kuroko lagi
Murasakibara mengangguk "Aku sudah bicara dengannya, dan dia memberitahukan rahasianya yang sebenarnya padaku, alasannya masuk akal, jadi ya..." kemudian Murasakibara menghendikkan bahu seperti anak kecil.
"Alasan untuk apa? menyerahkan Senjata Legenda padanya?" tanya Sanada dengan tatapannya yang tajam.
"Atau... kalian mau membentuk aliansi dengannya" lanjut Murasakibara sambil menelengkan kepalanya.
"jangan bercanda, siapa pula yang mau menurutinya begitu saja!" balas Sanada.
Mayuzumi, Kuroko, Sanada dan Takao mengangkat senjata mereka masing masing saat lawan mereka menunjukkan sikap siaga, Takao dan Kuroko persis di depan Shiori untuk melindunginya dan mendukung teman2 nya dari belakang, dan Kise dan Sanada di depan, berhadapan langsung dengan kawanan Vampire, Dampyr dan Murasakibara.
Dan Shiori adalah Duyung peramal, ia bisa memprediksi gerakan lawan dan apa yang terjadi selanjutnya, tapi, waktu terjadinya acak.
"Aku lebih suka jika tidak ada pertarungan di kapalku" sebuah suara dengan kharisma seakan menggema di dek kapal megah itu. Pemuda itu berada di dek untuk nahkoda, saat ia mengangkat tangannya dan menunjukkan gestur untuk menurunkan senjata dan menyarungkannya seluruh awaknya melakukannya, tapi tidak untuk Murasakibara, Mayuzumi, Kuroko, Sanada dan Takao. Tapi mereka membatalkan kuda-kuda siaga bertarung mereka.
Antisipasi mereka meningkat drastis terutama untuk Kuroko. Karena bagaimanapun pemuda itu adalah memang Akashi Seijuurou. Dibanding dengan yang lain di kapal ini ia dan Murasakibara yang paling dekat dengan pemuda bersurai merah velvet itu.
"Dekatkan kita ke kapal itu" perintah Akashi ke nahkoda yang langsung mengangguk dan beberapa awak sigap dengan tugasnya. Dan Akashi turun, mendekati tempat yang kapan saja bisa jadi medan pertempuran.
"Aku mengerti alasan kalian untuk tak menyerahkan Senjata itu ataupun bergabung dengan kami, tapi itu juga tak menjadi alasan bagi kalian untuk sepenuhnya menganggap kami musuh tanpa informasi lebih lanjut" kata Akashi di depan awaknya, beberapa langkah di depan Sanada, bertatapan sengit.
"Kalau begitu, boleh kami tanya apa tujuan kalian mengumpulkan Senjata Legenda?" tanya Kuroko.
Akashi tersenyum sambil menutup matanya "Ah, kalau untuk itu aku tidak bisa membeberkan semuanya, tapi untuk garis besarnya adalah untuk menjaga dunia ini agar tetap damai dan memusnahkan Ryuugazaki secara menyeluruh" katanya.
Nafas Sanada, Mayuzumi, Takao dan Shiori langsung tercekat mendengarnya, tubuh mereka panas dingin, dan semua yang ada pada diri mereka bergetar, begitu entengnya Akashi mengatakan akan memusnahkan keluarga mereka, memang apa masalah mereka, jika hanya untuk melanggar daerah otoritas ini sudah tidak wajar. Ini keterlaluan.
"The fuck is your problem?!" Teriak Sanada muntab dan langsung menerjang Akashi di depannya,
"Tunggu Sanada! Jangan gegabah!" cegah Mayuzumi tetapi terlambat, beberapa cambuk bayangan Sanada langsung di tepis dengan mudah oleh palu baja Murasakibara yang besar.
Nafas Sanada terengah dan ia menggertakkan giginya yang meruncing, Akashi tak sengaja bertatapan mata langsung dengan mata Sanada yang seluruhnya menjadi merah darah dan seakan menyala. Itu adalah mata vampir jika sedang dipenuhi nafsu membunuh. Melihat itu Akashi menyeringai "hoo".
Tanpa menyianyiakan detik Takao langsung menyerang mereka dengan peluru cahaya yang muncul dari lingkaran sihir besar yang ia rapalkan, tanpa ampun menerjang Akashi, Murasakibara dan awak kapal.
Tapi Akashi dengan mudah menghentikannya dan meniadakannya seakan itu tak pernah ada, hanya dengan melihat seluruh peluru cahaya itu dalam radius lima meter. Ia bahkan tak bergeser dari tempatnya. Dibelakangnya awaknya tetap diam karena belum menerima perintah untuk mengangkat senjata mereka. Tetapi para Dampyr sudah berancang-ancang untuk menyerang.
"Kau tidak mungkin mengalahkan Aka-chin, Sana-chin"
"Diamlah!" teriak Sanada yang langsung mengeluarkan beberapa bayangannya yang ujungnya langsung menajam, menyerang lurus kearah Murasakibara yang menahannya dengan palunya dan tangannya yang tertembus dua, Murasakibara langsung menarik Sanada dan memukulnya telak di wajahnya. Sanada terlempar jauh.
"Bahkan kalian kehilangan Senjata Legenda milik Murasakibara bukan? Ceroboh sekali" kata Akashi dengan nadanya yang menyebalkan. "Kalian tidak bisa begini terus dan menganggap kemampuan kalian terlalu tinggi" lanjutnya.
Serangan apapun bisa Akashi tiadakan, sihir Takao, serangan bulu Mayuzumi yang meruncing bagai kunai pun menghilang tak berbekas, dan anehnya, Takao tak merasakan kelelahan akibat penggunaan sihir barusan.
"Kekuatan Akashi-kun adalah mengembalikan waktu" bisik Shiori.
"Bisa kau jelaskan lebih lanjut Shiori-chan?" tanya Takao, Kuroko mendengarkan.
"Aku baru ingat, Ras Vampire ada yang memiliki kekuatan sampingan selain hipnotis dan paralyse, kekuatan sampingan itu tak menentu. Tapi bisa dibilang Akashi-kun memiliki kekuatan sampingan yang kuat dan berbahaya, ia bisa membalikkan waktu apapun yang dekat dengannya dalam radius lima meter, dan kemungkinan sumber kekuatannya adalah matanya" jelas Shiori.
"Bahkan kutukan pun..." gumam Kuroko, Shiori dan Takao mendengarnya.
"Iya, Akashi-kun bisa membalikkannya jika menyadarinya" lanjut Shiori.
"Kalau begitu kita harus menyerangnya saat ia tak menyadari." Takao mengambil kesimpulan dan melihat Mayuzumi yang terus menerus menyerang Akashi yang tak terluka, maupun bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, masih dengan wajahnya yang tenang.
Di tempat Murasakibara, pemuda besar itu telah berhasil membuat Sanada tak bisa bergerak karena benturan keras tadi langsung mengenai punggungnya, hal itu membuat Sanada kehilangan hampir setengah tenaganya, tubuhnya mati rasa, seperti lumpuh setengah, dan saat Sanada masih bersusah payah untuk bergerak, Murasakibara menggunakan kesempatan itu untuk mengikatnya dengan rantai jangkar yang besar dan kuat. Dan Sanada hanya bisa menggeram jengkel "Sialan kau Murasakibara"
"Maa, jangan marah begitu, Sana-chin mungkin tidak tau hal yang sebenarnya..." kata Murasakibara dengan alisnya yang sedikit mengerut. "Tapi Aka-chin tau" katanya sambil memukul tengkuk Sanada dan membuatnya pingsan.
Dan percobaan Takao, Kuroko dan Mayuzumi untuk menyerang Akashi dengan Mayuzumi yang menjadi umpan dan Takao yang akan menyerang jika ada celah, lalu saat Akashi kira mereka sudah tak bisa melawan lagi dan lengah, disitulah Kuroko akan merapalkan kutukannya.
Tapi itu juga tak berhasil, awalnya semua sesuai rencana bahkan Akashi bergerak, tapi saat Kuroko akan mengenakan kutukannya, tanpa mereka sadari Akashi berada di tengah mereka, menghentikan 'waktu' mereka untuk sementara dan saat mereka sadar, mereka telah terikat tak berdaya.
Takao sadar kalau mereka memisahkan tempat ia dan kawan-kawannya ditahan, di ruangan itu hanya ada dia, Mayuzumi, Shiori dan Sanada. Kuroko pasti diletakkan di tempat lain, untuk membujuk atau memaksanya melakukan hal yang diinginkan tuan muda ras Vampire itu. Takao harus lepas dari ini secepatnya.
.
Di kapal perompak, Aomine yang menggila akhirnya kewalahan, Senjata Legenda kali ini, tak seperti yang lainnya yang akan langsung 'membantu' dan mengabdi, membuat Aomine bertarung mati-matian dan memperjuangkannya-tidak, memperjuangkan 'pengakuan'nya.
Deathscythe itu lebih tinggi dari manusianya, sabitnya sendiri mencapai panjang dua per tiga dari panjang pegangannya, bentuknya meliuk-liuk seperti ombak dan mempunyai ukiran yang mereka tak bisa lihat dengan jelas, warnanya secara keseluruhan adalah hitam legam. Dan sepertinya jangkauan Deathscythe itu bisa meluas karena sabitnya bisa lepas dan terhubung dengan rantai dari tongkatnya.
Tak hanya itu, Senjata itu juga menuruti apa yang di perintahkan siapapun yang memegangnya. Karena saat Umibouzu hampir bisa membalikkan kapal mereka, salah satu awak yang memegang Senjata Legenda itu membelah Umibouzu menjadi dua dan menenggelamkannya ke dasar lautan, dan menguburnya sehingga ia tak akan bisa ke permukaan lagi. Mungkin Umibouzu itu juga melemah akan mantra Haizaki.
Meskipun lebih dari setengah awak kapal perompak itu telah habis terseret ombak Umibouzu maupun mereka kalahkan, Pertarungan mereka masih sulit karena Senjata itu terus mengendalikan air laut dan memanggil para penghuni laut untuk menyerang mereka. Sayang sekali Nijimura dkk harus menyakiti penghuni laut yang tak ada hubungannya itu.
Mereka kelelahan, apa lagi setelah masalah Umibouzu selesai kapten dan awak lainnya bisa meninggalkan posisi mereka semula dan membantu kawan mereka untuk mengalahkan Nijimura dkk.
"Ha! Kalian akan mati disini dasar bocah sialan!" dan awak yang memegang Senjata itu mengacungkannya tinggi-tinggi, dan Deathscythe itu bersinar, akan memanggil gelombang yang Nijimura tau kali ini akan lebih besar dari yang sebelumnya.
"AKU AKAN MENGAMBIL APA YANG MENJADI MILIKKU WALAU HARUS MENANTANG DEWA LAUT SEKALIPUN!"
Dan senjata itu bersinar terang, awak yang memegangnya angkuh terlepas begitu saja di karenakan senjata itu seperti mengalir dan air hitam itu melilit Aomine, lalu pemuda navy itu seperti di tarik menembus kayu, lalu 'tenggelam'.
Dan para awak kapal yang merasa berada di atas awan di detik sebelumnya terdiam, dan bantuan yang mereka panggil menyeret dan menenggelamkan mereka ke laut. Menambahkan mereka menjadi roh penuh dendam lainnya di kedalaman samudra yang kembali sunyi.
Aomine merasakan tubuhnya semakin jauh dan jauh dari permukaan, sejak awal ia melihat sesuatu di kapal itu ia seperti bukan dirinya sendiri, ia tau bahwa sesuatu miliknya telah direbut secara paksa dan itu tidak menyenangkan.
Pemuda werewolf itu membuka mata biru gelapnya, dan di atasnya, seperti terbang dengan kedua sayap di atas langit, terdapat seekor paus terbesar yang pernah ia lihat dengan tanduk meruncing di kepalanya, dan warnanya…
'seperti warna di sekelilingnya?' jika paus itu berenang di area bercahaya, tubuhnya menjadi lebih cerah dan seperti membiaskan cahaya itu, dan jika ia berenang di area gelap, maka yang terlihat hanyalah matanya yang menyala biru. Semua tentang paus itu adalah laut.
'Kami menuntun, kami memberi tapi kami bisa menelan'
'Kami mengikuti arus, kami juga melawannya'
'Kami melindungi harta berharga kami dengan keganasan dalam hening yang kami miliki'
'Apakah kau akan mengikuti arus? Atau melawannya?'
'Hal yang berharga tak akan aman selamanya jika kau hanya melihat'
Dan Paus itu berenang cepat terjun kearahnya, dan membentuk Deathscythe yang tak lagi hitam legam, melainkan Biru safir tua dengan ukiran berwarna toska gelap. Dan Aomine menunggangi arus kembali ke permukaan.
Di kapal Vampire
"Kuroko, hanya padamu dan Gate Guardians yang lain aku bisa menceritakan semuanya." Kata Akashi di seberangnya, membelakangi 'sandera'nya.
Kuroko mengerenyit akan cara panggilnya yang akrab dibandingkan dengan keadaan yang ada. Ia diikat di kursi dan Murasakibara makan dengan santai di sebelahnya, dan Akashi di seberang meja persegi duduk menghadapnya dengan serius.
Akashi tertawa kecil "Tak usah bingung, aku sudah memiliki ingatan tentang kedua dunia beberapa hari yang lalu. Memang awalnya kaget tapi tak ada yang krusial" ucapnya dengan nada yang lebih rileks, ia membalikkan badannya dan duduk di kursinya yang berada di seberang Kuroko.
Menelan ludah Kuroko bertanya "Akashi-kun, apa benar kalau ras Vampire yang menyerang kediaman Ryuugazaki?" karena Kuroko tak tau apa itu basa-basi.
Senyuman Akashi menghilang. "Itu benar" jawabnya sambil menautkan jarinya dan menaruh dagu di tautan jarinya, sikunya menyangga di meja kayu.
"Kenapa?"
Akashi seperti meninggalkan kekakuan di pundaknya hanya dengan helaan nafas, ia bersender "Murasakibara, lepaskan ikatan Kuroko"
"Okee"
Setelah melepaskan ikatannya Kuroko dihidangkan secangkir teh dan beberapa kue oleh koki kapal yang Akashi panggil. Kuroko tidak mengerti kenapa disaat yang seperti ini Akashi malah menghidangkan kue.
"Sampai dimana mereka memberitahukanmu tentang 'Ryuugazaki' ini?" tanya balik Akashi setelah ia menyesap tehnya sambil menyilangkan kakinya.
Kuroko sedikit kesal pertanyaannya tidak dijawab langsung, ah tapi sudahlah, semua mempunyai tempo masing-masing "Mereka adalah sebuah kesatuan dari orang orang yang mengetahui tentang Dua Dunia selain Gate Guardians, mereka adalah orang-orang yang membantu Gate Guardians melindungi keseimbangan Dua Dunia sejak dahulu" jawab Kuroko sesuai yang diterangkan Nijimura.
Akashi mengangguk "Lalu tentang anggotanya dan sistim kerjanya?"
"Anggota yang kuketahui hanya Ryuugazaki Sanada, Haizaki Shougo, Nijimura Shuuzou, Takao Kazunari, Mayuzumi Chihiro, Ryuugazaki Shiori, Ryuugazaki Ichira, Ryuugazaki Ume, Ryuugazaki Hayato, Ryuugazaki Kanato dan pemimpinnya, Ryuugazaki Hazama. Sistim kerja mereka adalah pembagian tim dan wilayah penjagaan." Jawab Kuroko lagi
Akashi menutup matanya "Anggota Ryuugazaki adalah Half-blood di dunia ini bukan?" tanyanya masih dengan nada yang tenang seakan mengetahui segalanya.
Baru Kuroko sadari semuanya memang half-blood. Makhluk mitos-manusia. Jadi kekuatan mereka hanya setengah dengan yang asli, tapi mereka masih hebat dan pengalaman serta kemampuan mereka bertarung sangat bisa diandalkan. Hanya Sanada yang Iblis-Vampire. Kuroko mengangguk.
"Kau menyadari bahwa selain Vampire, awak dan sekutu kami adalah apa?" tanya Akashi lagi untuk membuat Kuroko berpikir.
"Dampyr...?" Dampyr adalah makhluk setengah vampir, kecerdasan mereka tak terlalu memukau tapi kemampuan fisik mereka layak di takuti. Dampyr harusnya menjadi bagian dari Ryuugazaki, lalu Sanada pernah berkata bahwa Ryuugazaki dibantai oleh pasukan vampire dan Dampyr yang berkhianat pada mereka. Tapi kenapa mereka bekhianat? Vampire yang memiliki ego dan otoritas yang tinggi tak mungkin mau menerima Dampyr yang hanya makhluk setengah.
Ada sesuatu di Ryuugazaki yang membuat para Dampyr kecewa dan memutuskan untuk memutuskan hubungan dengan Ryuugazaki? Tapi kenapa larinya ke Vampire? Apa mau mereka? Diantara semua kemungkinan seperti ekonomi, kenyamanan, sumber daya, masyarakat, hukum dan sebagainya, juga kemumngkinan mereka untuk lari ke ras lain atau ke sebuah tempat yang tak berpenduduk, kenapa Kuroko hanya kepikiran perlindungan seperti ras Healer-nya pada ras DemonSamurai?
Tunggu, perlindungan? Perlindungan dari apa?
"Sepertinya kau sudah mencapai pertanyaan akhir" ucap Akashi setelah sabar memperhatikan Kuroko yang bergelut dengan pikirannya sendiri, sedikit bergumam. Dan hanya sekedar ingin tau Murasakibara di sebelahnya mendekatkan telinganya ke Kuroko tapi ia hanya bisa mengrenyitkan dahi, tidak mengerti.
Kuroko menatap Akashi, meminta jawaban dan Akashi siap mejawab "Pemimpin para Dampyr malam itu, seminggu sebelum penyerangan kami ke kediaman Ryuugazaki, saat itu sangat tiba-tiba dan kami pun yang awalnya menolaknya menjadi bingung dengan keadaannya saat mendatangi kami"
"... ada apa dengannya?" tanya pelan Kuroko.
"Tubuhnya penuh luka, entah itu karena pertarungan atau hal yang lain, tapi yang membuat kami penasaran adalah keadaannya yang putus asa dan bersikeras untuk bicara, jadi dengan rasa ingin tau kami mendengarkannya. Dan seperti dugaanmu, mereka meminta pertolongan, dan perlindungan" Kata Akashi sambil menyesap tehnya lagi. Kuroko mengikuti.
"Kutebak Ryuugazaki mengumpulkan kalian dengan alasan mendidik kalian, melindungi kalian atau sesuatu yang seperti itu? Seperti kalian adalah tanggung jawab mereka?" Kuroko mengangguk
"Padahal kita tak perlu mereka untuk menjadi Gate Guardians, untuk menemukan lokasi Senjata Legenda memang sulit, tapi anggap saja itu sudah ujian pertama, ujian kedua adalah melawan penjaga atau apapun yang ada di sekitar Senjata Legenda, dan yang terakhir adalah tes keteguhan hati. Menjaga keseimbangan kedua dunia memang bukan hal mudah" Akashi melirik dinding tempat Pedang Kembarnya yang berbeda ukuran terduduk. "Dan menggunakannya seperti menggunakan anggota badan sendiri, secara alami" Kuroko mendengarkan, ada benarnya juga.
"Aku pun berhadapan dengan para sosok berjubah itu" lanjut Akashi yang membuat Kuroko tambah menautkan alisnya.
"Tapi bagaimana jika mereka memang berniat baik?" tanya Kuroko "Untuk apa Ryuugazaki menyerang anggotanya sendiri?" Kuroko menangkap bahwa maksud Akashi, para sosok berjubah itu adalah Ryuugazaki, tapi kenapa mereka menyerang satu sama lain? Apa Nijimura dan yang lain tidak tau soal ini?
"Kuroko, kau terlalu naif, sangat dirimu" Saat Kuroko akan membalasnya karena tersinggung perkataan yang akan keluar terpotong Akashi.
"Pemimpin Dampyr itu menceritakan tentang apa yang sebenarnya para Ryuugazaki incar. Pria itu-Ryuugazaki Hazama adalah pokok dari permasalahan ini, ia dan ambisinyalah yang membahayakan lapisan pelindung dan menyebabkan aliran sihir dunia ini kacau" Kuroko membelalakkan mata.
.
Di posisi Sanada, Mayuzumi, Shiori dan Takao.
Saat mereka telah sadar sepenuhnya dan terlepas dari ikatan, mereka keluar ruangan dan menuju dek dengan membuat pingsan para awak yang mereka temui. Sesampainya disana mereka menyadari bahwa kapal ini sudah bersebelahan persis dengan kapal Perompak. Lalu saat mereka telah bergabung dengan yang lain dan akan terjun ke laut tiba-tiba Ada sesuatu yang keluar dari laut dan membumbung tinggi ke langit, seperti di lempar.
Lalu jatuh dengan gaya di atas dek kapal Vampire.
"SALAM UNTUK KALIAN DARI PENGUASA LAUT! WAHAHAHAHA" dan Aomine meledak dengan tingkat kenarsisan terbesar yang belum pernah mereka lihat.
"...Nijimura-san boleh aku melempar pedangku ini padanya?" tanya Kagami pelan membendung kesal.
"Jangan, dekil-dekil gitu dia masih anak orang" cegah Nijimura.
Syut!
Tiba tiba ada sesuatu yang akan meraih DeathScythe yang di junjung Aomine tapi karena refleksnya yang unggul tangan Aomine dengan cepat menarik turun Senjatanya.
Semua menoleh keatas dari mana sesuatu itu dijulurkan dan entah kenapa mereka semua menduga ini akan terjadi.
Sosok berjubah itu datang lagi, empat orang, yang satu memiliki senjata jelas adalah sebuah buku yang mengeluarkan rantai dan berada di tiang pengawas kapal vampire, dan mereka baru sadar bahwa tak ada satupun awak di sini.
Sosok kedua berada tak jauh dari mereka, dari sesuatu yang keluar dari rongga tudung kepalanya sepertinya dia adalah reptil.
Sosok ketiga berada di Kapal Perompak, mencegah mereka berganti tempat dan sosok kelima berada di arah yang berlawanan dengan sosok keempat, memojokkan mereka untuk bertarung di satu sisi kapal.
Dan pertarungan tak terelakkan berlangsung sepersekian detik, dan meskipun kemampuan mereka hebat, kekurangan jumlah yang besar berakibat fatal dan kesempatan untuk menang akan menurun drastis, tapi, kenapa mereka masih dengan nekatnya menyerang dan bertarung?
Dan di sebuah kesempatan Kise berhasil menyibak tudung mereka dan terkejut akan apa yang ia lihat "Ichira...san?"
Jleb
"Kh...!" Takao yang menggendong Shiori terhuyung, sebilah pisau menembus dadanya "Shi... ori...?" panggilnya dengan suara serak dan lemas pada gadis di dekapannya.
"Kazu!" mereka menoleh karena teriakan Sanada yang kini terjun dari tiang pengawas ke arah Takao setelah melempar Sosok berjubah dengan senjata buku. Takao hampir tergeletak di bawahnya.
Di persekian detik, semua mata melebar akan apa yang mereka saksikan.
"Ryuugazaki Hazama adalah dalang di balik semua ini"
Darah Takao mengucur deras dan tak jarang menciprat karena tekanan jantung yang tertusuk.
"Semua demi ambisinya yang terkabul dengan lancar tanpa seorangpun yang menyadarinya"
Nafas pemuda itu tersengal dan Shiori di dekapannya hanya membisu sambil terus memegang bilah pisau yang tertancap, malah semakin memperdalam lukanya, dan Sanada yang melihat hal itu langsung menarik gadis itu, melempar pisau dari tangan sang gadis yang ringkih dan melihat wajahnya yang putih pucat dan dingin. Dari luka Takao darahnya menyembur, pemuda itu langsung jatuh.
"Anggota Ryuugazaki yang sekarang telah lama mati, mereka dibunuh olehnya. Demi menjadi bonekanya."
Mata gadis itu kosong, begitu juga dengan mata mereka yang tudungnya telah tersibak, keempat sosok itu adalah Hayato, Kanato, Ume dan Ichira, perkataan mereka dan tingkah mereka sepertinya di kendalikan oleh seseorang dari jauh, tapi siapa?
Tapi sanada menangkap butir kristal yang jatuh dari mata Gadis yang berada di dekapannya sekarang, dan Midorima yang mengobati Takao ikut menyaksikan bibir gadis itu tergerak seperti mencoba lepas dari sesuatu yang memaksa mereka bungkam kali ini. "To...l..o..ng"
"Karena itu kami memusnahkan mereka, kami hanya mengembalikan jasad yang seharusnya mati kembali ke bumi. Tapi sayangnya kami tak bisa apa-apa untuk mereka yang di dunia yang lain, dunia kita, dimana Basket yang mempertemukan kita, dan rumah kita yang pertama."
Dan tubuh Shiori ditarik paksa dari tangannya, melayang bersama dengan keempat tubuh lainnya, seperti tergantung di atas langit, dan menyebarkan sesuatu yang seperti jaring laba-laba dari punggung mereka, meluas hingga garis khatulistiwa tanpa suara dan tanpa jeda. Lalu mewarnai semuanya dengan hitam dan garis bentuk putih layaknya dunia lain. Dan lubang dimensi yang mereka ditugaskan untuk menutupnya terbuka perlahan.
"Untuk membuat semuanya tetap alami ia membiarkan mereka bicara dan bertindak layaknya hidup di bawah pengawasannya, tapi mungkin dari wajahmu kau sudah bisa menebak apa ambisi Hazama, Kuroko"
"Tidak mungkin..." diingatan Kuroko, Ryuugazaki Hazama adalah sosok yang hangat dan menyenangkan, ia membuatnya rindu akan kakek Kuroko yang telah meninggal.
Akashi menatapnya lurus tanpa ragu untuk meyakinkan bahwa yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran "Untuk menyatukan kedua dunia, semua yang terjadi dan dilakukannya hingga saat ini adalah alibi, dan rencananya untuk ambisinya. Musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang cerdas dan sabar."
Terdengar menggema dari langit yang terhias oleh ukiran jaring laba-laba dan beberapa lubang dimensi antar dunia yang mulai muncul adalah suara yang sangat mereka kenal. Sangat mereka kenal dengan nadanya yang sejahtera hingga mereka ingin menulikan pendengaran mereka.
"Sayang sekali anak-anak, tapi sepertinya waktu rumah-rumahan telah berakhir"
Nafas Takao berhenti.
Dan mereka tak sempat berduka untuknya saat itu, karena kekacauan besar antar dua dunia baru saja dimulai.
.
.
"... Apa Nijimura-san, Takao-kun, Mayuzumi-san, Haizaki-kun dan Sanada-kun juga sebenarnya sudah meninggal, Akashi-kun?"
Akashi tersenyum "Tidak, dan menariknya, sepertinya mereka tidak tau apapun mengenai hal ini"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Takao sedang memandang hamparan putih dan berkilau jauh di hadapannya, semua yang terjadi hanya sekelebat diingatannya, begitu cepat hingga tidak terasa nyata, seperti mimpi. Pikirannya kosong.
"Kazunari!" dan ia menoleh ke belakangnya.
"Kakak tak usah di ajak lah, Ayah, Ibu... kakak kan sudah keliling dunia sama teman-temannya!" ia melihat adiknya yang rewel karena iri, ibunya tersenyum geli
"Jangan begitu, namanya saja perjalanan keluarga, ya sekeluarga harus berangkat dong..." kata ibunya.
"Haha, sayang sekali ya. Petualangan kakak seru banget lho!" godanya ke adiknya, adiknya membuang muka kesal.
"Sekarang waktunya berangkat dengan mobil baru Ayah!" ucap ayahnya bersemangat setelah memasukkan barang yang lumayan berat ke bagasi lalu duduk di kursi supir, ibunya duduk di sebelah Ayahnya dan adiknya duduk di pangkuan ibunya. "Bawa barangmu masuk dan kita berangkat!" dan adiknya bersorak riang.
Takao tertawa sambil menyelempangan tasnya, dan masuk ke mobil.
"Kazunari"
"Hm?"
"Okaeri"
Takao kembali tertawa, kali ini dengan tawa tertulus dan terhangat yang pernah ia tampakkan sampai ia hampir menangis.
"Tadaima"
.
.
.
Nah, ini baru tepat. Maaf akan kesalahan yang kemaren, entah kenapa malah jadi kea gitu, merusak feel aja #Kanlusendiriyangbikin #Bodo #Palaguepening #Moodkeset
Lagi dalam masa menata hidup, jadi kondisi psikologis ga mendukung, yang di mau beda sama pengharapan ortu, konflik yang ga selese mulai SMP ampe sekarang, katakanlah karena sifat pengecut pada ortu dan ganjaran pada diri jika trobos tanpa restu. Ga kebayang,
karena belom kejadian sih #Yha #malahcurhat #sumimaseenn
Tiga bulan tak update karena kesibukan RL dan dasarnya author yang pemalas, nunggu mood, tapi endingnya ya maksa nulis juga. Juga karena lagi nyari referensi permainan papan di fanfic satunya. Juga nyoba bikin novelette buat dikirim, tapi ditolak sih, jadi upload wattpad sajha (ga pernah di urus btw) penname ZanasKun, buat yang penasaran monggo mampir, tapi ga ada apa-apa disana. Suer. Novelettenya juga belom di up, apa saia harus ubah halauan ke AO3? atau Fictionpress? ntahlah, diri ini males sangat, saya sadar saya ini gagal. #NegativeAuraaaa
Review kutunggu! Sekali lagi maaf karena ini hanya upload ulang dengan sedikit perubahan (yang udah review ga harus review lagi, gapapa, qu ikhlas kok/oi)
Sampai jumpa di Chapter depan!
