hatimu, dalam tangan ini

disclaimer: mobile legends: bang-bang (c) moonton.

chapter 25: capricious; alice/alucard, hint alucard/zilong [college au; bisexual, rate: m.] – 25 maret 2017

sinopsis: "tidak mungkin… kamu… homo benera—" alice digampar.

note: request sudah ditutup sejak tanggal 23 (dan saya menyertakan penjelasan juga)—request yang masuk setelah atau pada tanggal itu mungkin dan tak mungkin saya tulis. maaf ya, soalnya aku dah mulai sibuk:(

note2: terima kasih atas review-nya!

.


.

Alice membuka paket kirimannya dengan tergesa-gesa dan mengeluarkan satu set lingerie baru yang ia beli online. Bahannya halus (impor gituloh!) dan nyaman saat menyentuh telapak tangannya—aah, jadi ingin cepat-cepat menggunakan. Teman laki-lakinya—Alucard, jomblo perjaka abadi—itu perlu menjamah seorang wanita dan menikmati penisnya selagi belum impoten—Alice akan dengan senang hati menyumbangkan pengalaman untuk pria malang itu.

Aih, wajah setampan itu tapi tak pernah menjamah wanita—apa kata dunia? Alice merasa aib terbesarnya adalah memiliki teman berusia 20-an tahun dan belum pernah bersenggama dengan lawan jenisnya. Menyedihkan. Orang-orang seperti itu biasanya adalah otaku atau NEET yang tinggal di loteng rumah orang tuanya.

Alucard cukup populer.

Banyak teman, aktif, tak pernah menutup diri untuk pengalaman baru—makanya saat Alice menawarinya, air mukanya bingung, darah mengalir ke pipinya, skeptis—Alice lantas melumat bibirnya dalam ciuman. "Kau yakin tak ingin melakukan hal-hal dewasa denganku?"

"Ti-tidak, terima kasih… dasar jalang." Sindirnya main-main.

"Yakin?" ia menggesekkan dadanya pada lengan Alucard. "Kau. Yakin… tak ingin bermain dengan… jalang seksi sepertiku… hm?"

Alucard tertawa. "Tidak lucu—" tapi Alice makin menjadi, ia melingkarkan tangannya pada pinggang Alucard, dan kakinya ia gunakan untuk mengapit tubuh pria itu ke kounter bar tempat mereka bersanding. Ia mulai berbisik dan memainkan segala hal yang bisa ia gunakan untuk menggoda pria manapun agar mau tidur dengannya. Tak terkecuali Alucard, yang notabene tak memiliki pengalaman apapun. Mudah membawanya naik bersama-sama ke ranjangnya.

Penawarannya akhirnya diiyakan dengan pekikan frustasi dan pria itu pergi ke toilet dengan sentakan, dasar lemah, kikiknya.

Inilah harinya. Pria itu—saat Alice bertemu dengannya di daerah kampus—bahkan tak berani menatap Alice. Saat ditanya mengapa, ia bilang ia masih mengingat apa yang terjadi tadi malam, dan ia menyesali keputusannya untuk mengiyakan tawaran itu.

"Mmh, tidak. Kau tidak boleh mundur dari ini." mungkin Alice memiliki niat untuk merampas keperawanan tiap orang di dalam kampus—ia sudah pernah berhubungan seks dengan perempuan dan laki-laki. Ia tidak begitu pilih-pilih. Bila ada kesempatan, suami dosen pun ia embat. "Eeh, kau ada kegiatan sampai malam?—hmm, bagaimana kalau… kau datang ke kediamanku sehabis acara itu? Aku akan menunggumu. Lagipula kita akan lebih leluasa bermain bila malam."

Alucard ingin menyanggah—Alice tahu, makanya ia dengan cepat memutus sambungannya, dan mengabaikan panggilan masuk dan 23 pesan dari pria itu.

Dan jam-jamnya telah tiba. Jam telah menunjukkan pukul sebelas lewat. Bila Alucard tidak datang, besok Alice akan benar-benar membunuhnya dan membuang mayatnya jauh ke kandang singa. Alice mengenakan lingerie terbarunya dan duduk di atas sofa, menyetel film bertema dewasa yang mungkin akan disukai oleh pria itu.

Tak lama suara pintu digedor terdengar dari depan, Alice segera melompat dan berlari gesit menuju pintu, ia telah siap—aaah membayangkannya membuat celana dalamnya semakin ingin ia lepas—

Alice menghentikan kegirangannya saat melihat Alucard berdiri di ambang pintu dengan seorang pria lain yang sudah sangat jelas ia kenal: Gusion.

"…Alu… kau ingin threesome?" yang, sejujurnya, bukan ide buruk.

"BUKAN!" ia mendorong Alice kasar lalu segera masuk dan membaringkan tubuh temannya di atas sofa—ia sesekali melirik malu-malu kucing layar televisi. "Ia… mabuk—makanya baca pesanku!"

"Kau ingin memerkosany—" Alice memang memiliki perasaan temannya ini homo tapi ia tak menyangka Alucard akan sampai berani memerkosa orang lain.

"BUKAN JUGA! Tolong jangan hancurkan imejku…."


Alice menjilat daun telinga pria itu dengan gemas, tangan pria itu bahkan malu-malu menggerayangi tubuhnya yang sudah telanjang bulat di atas ranjang. "Kau bisa menyentuhku di mana saja, aku tak melarang."

Pria itu menghela napas berat. "Aku tidak bisa melakukan ini."

"Ah, apakah itu karena kamu lebih tertarik pada laki-laki—?"

"Tidak! Aku… aku tidak… mungkin…?"

"Hmm, jangan denial terlalu lama." Tuhan tahu Zilong sudah menyukaimu jauh sebelum kalian berkenalan.


"Alu, kalau kau tak terangsang dengan tubuh wanita, kau bisa menggunakan dildo yang ada di laci dan menggunakan itu untuk menyetubuhiku."

"…apa itu di—AAAAAGH—"

Alucard menyaksikan matahari terbit di dunia baru yang belum pernah ia pijaki sebelum ini. Hari masih menunjukkan pukul dua malam, tawa Alice menggelegar saat Alucard terjatuh dari ranjang karena menutupi matanya, tak ingin melihat objek… masif itu.


Dadanya ia busungkan, Alucard menjilat dan mengisap putingnya, lalu ia melepaskan, menarik napas—wajahnya berantakan. Alice terkekeh dan mendorong Alucard sampai wajah acak-acakan itu tenggelam di antara dua buah dadanya.

Tak lama Alucard mulai bergerak tak keruan, tangannya terkibas-kibas dan ia memukuli paha Alice, wanita itu melepaskannya.

"Aku tidak bisa bernapas, tolol!"

"…kau tidak menyukai itu?"

"Kalau itu yang kau maksud adalah kematian, maka tidak!"


Alice melihat Alucard saat tubuhnya dibaringkan dan kakinya dibuka lebar.

Apa yang Alucard pikirkan saat akhirnya tubuh mereka bersatu dalam euforia seks? Mungkin wajah Alice saat ini sudah kelewat tolol saking sangenya, tapi ia tak peduli. Alice mendesah luar biasa—orang yang masih perawan beberapa menit lalu mana mungkin bisa membuatnya merasa senikmat ini. Pinggulnya bergerak seirama dengan Alice.

Eh, mungkinkah karena ia terlalu menyukai seks, makanya semua seks itu sangat nikmat, dilakukan oleh siapapun?

"Ah—Alu, kau menyukai…nya…?"

Alucard tak menjawab, ia malah memejamkan matanya. Alice meraih pipinya. "Jangan… hngh… bicara."

Permintaan itu membuatnya tersenyum—ia jadi semakin ingin bicara. "Siapa yang kau bayangkan menggeliat nikmat di bawahm—oh, apakah pujaan hatimu itu—"

"…aku akan berhenti."

"TIDAK! TIDAK! AKU MAU LAGI! JANGAN TEGA MENINGGALKANKU—AH—"

Temponya semakin cepat dan Alice kewalahan.


Gusion di luar, wajahnya memerah karena mendengar percakapan itu (dan mungkin alkohol juga ikut berkontribusi). Ia melirik jam; pukul lima. Astaga, foreplay saja semalaman penuh. Alucard benar-benar pecundang. Pria itu membuka ponselnya dan melihat tujuh pesan baru dari Zilong, yang kebanyakan mencari Alucard—berakhir dengan: ah, aku lupa kau mungkin sangat mabuk karena yang tadi.

Ia mendekati pintu kamar Alice, menyalakan audio recording dan merekam jerit sensual dari kedua orang yang sedang berhubungan. Aku bersamanya—ah, ALICE bersamanya.

Zilong—atau Alucard—mungkin akan menghajarnya setelah ini.

Ia tertawa halus saat pesannya hanya dibaca oleh Zilong, dua belas menit lamanya—saking shock-nya—sebelum ada balasan: Aku kesana.

.


.

[end.]

(maaf ga sesuai harapan heheh)