.
Trouble Maker
Naruto © Masasshi kisimoto
High School DxD © Ichie Ishibumi
WARNING : AU, OOC, OC, Typo (Jangan tanya!), Semi-Canon, dan sebagainya.
.
-[ Midsummer Knight ]-
.
Chapter 25 : Tangan Kanan dan Balasan.
.
Di sebuah paviliun yang terletak di ujung paling jauh kediaman Sitri saat ini di jaga begitu ketat oleh para tertinggi fraksi. Karena mereka telah mendapatkan sebuah peringatan jika sebuah distorsi akan terjadi setelah efek dari perubahan iblis dari Naruto berakhir.
Dan di antara para orang-orang penting itu ada sosok gadis remaja berambut hitam dengan manik Amethys yang memancarkan raut khawatir. Rasa khawatir Sona tertuju dengan jelas pada sosok yang tengah terbaring di atas ranjang yang ada tepat di tengah paviliun itu.
Sosok itu adalah Naruto yang masih belum sadarkan diri semenjak pertarungan rating game uji coba beberapa jam lalu.
Raut khawatir dari Sona kian menjadi saat getaran tiba-tiba terjadi, pandangan setiap orang mulai menjadi semakin aneh. Di pandangan mereka udara tampak seperti memuai, seperti halnya aspal panas di siang hari.
"...gkkk!"
Dengan tiba-tiba Naruto menunjukkan gelagat kesakitan sambil meremas dadanya dengan kuat, matanya masih tertutup namun dengan jelas dia saat ini tengah kesakitan.
NGGIIINGGG!
Gelombang pertama mulai muncul, diikuti sebuah suara dengungan yang memekakkan telinga. Serta sebuah barier kasat mata mulai terbentuk mengelilingi tubuh Naruto, barier itu terlihat seperti sebuah bola yang terbuat dari kaca yang terus berputar menghapus segala sesuatu yang berada dalam jangkauannya.
Seperti yang sedang terjadi saat ini. Paviliun yang menjadi tempat Naruto saat ini mulai terhapuskan dari dunia sedikit demi sedikit. Seperti terkikis oleh semacam kekuatan yang berputar dengan kecepatan yang tidak dapat dihitung oleh mata.
"Aku dari dulu selalu merasa penasaran dengan imagine breaker dari Naruto, menurut informasi dari intel yang aku miliki, kekuatan Namikazecenderung berkebalikan dengan sifat yang mendasari diri dari pemilik,"
Azazel tiba-tiba membuka suara dan membuat seluruh perhatian kini tertuju padanya, Sona yang sebenarnya masih merasa khawatir dengan Naruto pun juga mengalihkan pandangannya pada sang gubernur malaikat jatuh itu.
"Sebagai contoh Nagato, dia adalah seorang Ryuugoroshi atau dragon slayer namun karena itu kekuatan yang dia miliki merupakan naga itu sendiri. Setelah itu Asia, meskipun aku hanya melihatnya sekilas kemarin, namun aku sudah mendapat kesimpulan jika Asia yang selalu baik hati itu memiliki kekuatan kegelapan, yang mungkin kita kenal sebagai A-chan."
Memang benar masuk akal, apa yang barusan Azazel katakan. Jika melihat dari apa yang sudah terjadi, dan jika memang begitu kenapa Naruto memiliki kekuatan imagine breaker?
"Dan menurut apa yang dikatakan Grimoire Index tempo hari akhirnya aku yakin akan sesuatu, sebenarnya aku sudah menyadarinya dengan cukup lama, atau mungkin lebih tepatnya pada saat aku melatih Naruto sebelum melawan Riser dulu. Naruto begitu benci dalam menggunakan pedang, tapi lihat kemampuan berpedangnya, itu sudah bukan pada tingkat bisa menggunakan, namun memasteri seni berpedang itu sendiri, terlebih satu-satunya sihir yang dapat digunakannya kalau tidak salah namanya "Void Weapon" dia lebih cenderung mematerialisasi pedang dibandingkan senjata lain,"
"Kalau begitu imagine breaker itu apa?" Tanya Sona.
"Itulah yang saat ini memenuhi pikiranku,"
"Kalau boleh jujur, ada satu hal yang begitu membuatku khawatir hingga merujuk ke rasa takut," kata Sirzechs yang sukses membuat Ajuka menaikkan alisnya.
"Seorang maou Lucifer merasa takut?"
"Ya aku takut, takut akan perkataan dari Nagato dulu, dia berkata pada Naruto 'hanya kau satu-satunya yang dapat membunuhku di dunia ini'. Dan sepertinya ketakutanku itu sedikit demi sedikit mulai menjadi nyata," Sirzechs
"Apa maksud Anda?" Sona
"Sebuah pertanyaan yang membuatku tidak bisa tenang adalah 'apa imagine breaker benar-benar hanya menghilangkan kekuatan supranatural saja?' jujur saja saat aku memikirkan beberapa kemungkinan, aku merasa takut,"
"Jadi sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?"
"Maksudku apakah hanya sihir saja? Dan jika itu memang benar lalu bagaimana kita menjelaskan yang sekarang ini terjadi..." ujar Sirzechs sembari menunjuk paviliun yang kini sudah menghilang dan menyisakan kawah besar berdiameter 8 meter dan kedalaman sekitar 4 meter. Serta di pusat bola imagine breaker itu terlihat sosok Naruto yang masih terbaring di atas kasurnya dengan keringat mengucur deras sambil terus mengerang tanpa suara.
Seluruh iblis di sana membisu dengan apa yang terjadi. Paviliun yang memiliki lebar 5 meter persegi itu musnah tanpa sisa. Bukan hancur tapi musnah, terhapus, dan menghilang. Benar-benar tanpa sisa. Tidak seperti hancur di mana pasti akan meninggalkan puing maupun menciptakan suara, apa yang terjadi di depannya lebih masuk akal jika di sebut terhapuskan.
"I-ini..."
Ajuka terlutut lemas saat melihat apa yang terjadi saat ini, Azazel kehilangan kata-katanya, Serafall terdiam seribu bahasa sambil membuka dan menutup mulutnya. Serta Sona yang menatap dengan berkaca-kaca saat melihat ekspresi kesakitan dari Naruto.
Apa benar imagine breaker hanya menghapuskan sihir?
Pertanyaan itu layaknya sebuah kalimat penghibur dari fakta yang tergamblang dengan jelas di depan mereka.
"N-naa... Sirzechs yo... apa bukankah lebih baik kita memusnahkannya dulu sebelum semuanya terlambat?"
"!?"
Perkataan dari Falbium barusan sukses membuat Sona terbelak tak percaya. Pada awalnya dia sempat meragukan indra pendengarannya, namun saat melihat raut serius yang terpampang di wajah maou bergelar Asmodeus itu.
Suara berderak terdengar dengan begitu jelas dari tangan Sona yang saat ini terkepal dengan begitu erat. Giginya saling bertaut dengan begitu keras hingga dia yakin jika dia menekankan rahangnya lebih dari ini maka giginya mungkin akan patah.
"JANGAN BERCANDA BRENGSEK!"
"Sona Sitri kau seharusnya tahu bahwa—"
"SUDAH KUBILANG HENTIKAN OMONG KOSONGMU ITU!"
Untuk pertama kalinya Serafall melihat Sona semurka ini. Dan tidak pernah dalam hidupnya dia akan membayangkan bahwa akan datang hari di mana Sona menjadi seperti ini. Dan kali ini tampaknya kemarahan itu di tunjukan pada mereka termasuk Serafall sendiri.
Dengan aura keputihan dan bulir-bulir es yang mulai keluar di sekitarnya Sona menatap mereka dengan ekspresi dan aura permusuhan yang begitu dalam.
"Aku tanya padamu... memangnya apa salah dia padamu, apa yang sudah dia lakukan padamu, apa dia melukaimu? Apa dia melukai keluargamu? Anakmu? Istrimu? Atau bahkan Orang tuamu? Dia tidak melakukan itu... lalu... LALU KENAPA KAU DAPAT MENGATAKAN HAL SEKEJAM ITU BEGITU MUDAH HAH!"
"Sona-chan tolong tenanglah terlebih dahulu..."
"Mana bisa aku tenang! Ingatlah ini baik-baik... bahkan jika kalian semua, atau bahkan seluruh dunia memusuhi Naruto... aku sendiri yang akan menghadapi kalian, meskipun kalian adalah makhluk sebangsaku, keluargaku sekalipun... jika kalian berani mengacungkan senjata pada Naruto maka..."
Untuk sesaat gelang di tangan kiri Sona bereaksi dengan menyala begitu terang, serta dengan seketika naga es berkepala tiga langsung muncul di belakang Sona dan menggeram seolah mengekspresikan rasa marah yang kini tergambar di dalam diri Sona. Mata biru makhluk itu menyala terang seakan siap menjanjikan kematian bagi siapa yang berani menentang tuannya.
"... Aku akan melawan kalian, bahkan jika itu harus membunuh keluargaku sendiri!"
Keempat maou mau tak mau dibuat mengambil langkah mundur saat melihat tatapan Sona yang seakan tidak membesar-besarkan omongannya. Dia berkata demikian karena dia merasa mampu melakukannya, tapi bagaimana bisa.
Yondai maou yang menjadi simbol dan kebanggaan dari seluruh kaum iblis merasa ketakutan pada seorang remaja iblis yang bahkan umurnya belum mencapai 20 tahun.
Sona berjalan dengan pasti menuju barier penghapus mutlak itu dengan mantap, tanpa gentar tanpa menengok ke belakang. Di dalam hatinya hanya satu hal yang dia yakini, kenyataan bahwa dia percaya pada Naruto.
"S-Sona-chan apa yang—"
"Serafall hentikan!"
"Azazel, kenapa kau menghentikanku?"
Serafall menatap tak percaya Azazel yang saat ini memeganginya yang hendak menghentikan Sona. "Serafall dengarkan aku. Ada dua alasan kenapa aku menghentikanmu saat ini, pertama karena ini adalah cara terbaik, untuk saat ini Naruto jauh lebih baik di serahkan pada Sona, dan yang kedua adalah... kau tidak akan pernah dapat mengalahkan makhluk itu..."
"Apa maksudmu?"
"Apa kau tidak merasakannya? Aura yang keluar dari makhluk itu setara-tidak bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan raja naga Fafnir,"
Ya memang benar jika dia merasakan itu. Tapi dia tidak dapat membiarkan adiknya berjalan menuju kematian seperti itu.
Tapi tampaknya kekhawatiran dari Serafall benar-benar tidak diperlukan, saat dia melihat dan meragukan sendiri pandangannya. Sosok Sona yang menerjang barier imagine breaker itu tanpa hambatan sama sekali. Walaupun dengan pasti tanah yang dipijak Sona ikut terhapus namun sosok Sona sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan terhapus.
Sesampainya d sana Sona langsung menerjang Naruto. Dan meraupnya dalam dekapan erat dan berharap bahwa setidaknya itu dapat meringankan rasa sakit yang saat ini dirasakan oleh pemuda itu.
"Naruto... maaf,"
Dan bergumam pelan sekalipun dia tahu jikalau bisikannya itu sama sekali tidak dapat menjangkau pemuda itu.
.
-0o0-
.
Naruto terbangun dari tidurnya dalam keadaan berdiri selayaknya orang yang baru sadar dari lamunannya. Mata safirnya berkeliling ke segala tempat untuk melihat sekitar namun yang dia dapati adalah sebuah ruangan besar, seperti aula dengan warna serba hitam.
'Bukankah ini tempat aku pertama bertemu Index dulu?'
Saat pikiran Naruto
"Hoy Index... Di mana kau!?" Teriakan dari Naruto menggema di dalam kekosongan itu. Dan tidak ada jawaban sama sekali hingga pada akhirnya dia merasakan sebuah punggung kecil yang menyandar pada punggungnya, Naruto entah kenapa tidak mencoba untuk menoleh guna melihat punggung siapa itu.
Karena dia tahu, Naruto tahu punggung milik siapa itu.
Tingginya sekitar sedadanya, lebih pendek sedikit ketimbang Sona, namun dia memiliki rambut panjang dia rasa hingga mencapai bawah pinggangnya.
"Kau tidak perlu teriak-teriak seperti itu, Aruji no baka,"
Mendengarkan suara ejekan dari sang grimoire itu membuat satu dari beberapa kekhawatirannya menghilang.
"Syukurlah... Aku pikir kau ikut menghilang bersama bidak iblis yang ada di tubuhku,"
"Hmph! Kau pikir kekuatan semacam Imagine Breaker mampu untuk menghapuskanku? Yah setidaknya selama Aruji tidak menganggapku sebagai keganjilan yang harus menghilang,"
Mendengar pernyataan dari Index entah kenapa membuatnya ingin menyahut dengan cepat.
"Jangan berkata bodoh! Mana mungkin aku menganggapmu sebagai keganjilan yang patut menghilang, kau adalah bagian dariku, tanpa kau sosok NamikazeNaruto tidak akan pernah ada!"
"Kalau memang begitu maka baguslah, namun sayangnya ini adalah perpisahan..."
Langsung saja jalan pikiran Naruto terhenti seketika mendengar Index berkata demikian, namun belum sempat dia mengutarakan keterkejutannya Index melanjutkan perkataannya.
"... Setidaknya untuk sementara waktu,"
"Apa maksudmu?"
"Ini semua adalah salah aruji karena menggunakan kekuatan bodoh dari dewa bodoh itu,"
'Tidak... Tidak... Tidak... Bukankah dewa bodoh yang kau maksud itu adalah penciptamu!?'
Tanpa sadar Naruto langsung mengutarakan Tsukkomi dalam pikirannya.
"Dan karena itu pula aku harus mengerahkan seluruh energi sihirku untuk menjaga tubuh aruji agar tidak menguap, dan karenanya juga aku harus tertidur untuk sementara guna memulihkan tenagaku,"
Naruto masih agak sangsi akan pernyataan Index barusan.
"Benarkah hanya sementara?"
"Kenapa nada bicaramu seperti anak SD yang ditinggal ibunya pulang sih?"
"Bukan begitu maksudku..."
Dug!
Naruto merasakan sebuah pukulan dari kepalan tangan kecil di punggungnya.
"Maa... Tidak perlu terlalu di pikirkan, seperti yang kau bilang tadi, aku adalah bagian dari dirimu, dan selama pikiran itu tidak hilang maka aku akan selalu berada di dalam dirimu,"
Tepat setelah mengucapkan itu perasaan akan punggung kecil yang bersandar padanya menghilang fi ikuti sebuah langkah kaki yang mulai menjauh.
"Oh iya hampir lupa, sebagai hadiah perpisahan sementara ini aku telah mempersiapkan sebuah kejutan, jadi nikmati nanti setelah kau bangun,"
Naruto dengan seketika membalikkan badannya menghadap sosok yang baru saja berkata dengan nada riang itu.
Di sana dia mendapati sosok siluet gadis kecil yang menghadapnya dengan sebuah senyum ceria. Meskipun begitu Naruto tidak begitu dapat melihat sosok itu karena cahaya yang begitu terang menyinari tepat di belakang sosok Index dan mulai menerangi kegelapan yang menyelubunginya, satu-satunya yang dapat dia ingat hanyalah senyum ceria yang begitu lebar serta surai perak yang tergerai indah.
Tempo itu begitu singkat hingga Naruto berpikir jika momen itu hanya terjadi dalam satu kedipan mata saja hingga pada akhirnya menyisakan ruangan kosong yang hanya di isi olehnya.
"Sampai bertemu lagi... Partner," perkataan pelan Naruto menggema ke segala arah, hingga pada akhirnya cahaya tadi ikut menelannya.
.
-0o0-
.
Ungu...
Pertama kali yang Naruto lihat saat membuka warna adalah langit ungu kemerahan yang terbentang ke segala arah.
Tubuhnya berat, benar-benar berat, hingga pada level dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
Namun bukan itu yang membuat Naruto penasaran, ada beberapa hal Naruto harus mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi.
Pertama. Kenapa dia tidur ditepat terbuka seperti ini, terlebih dengan keadaan telanjang, jika dia tidak mengikutkan selembar selimut yang membelitnya.
Kedua. Kenapa keadaan di sekitar sini begitu kacau, seperti sebuah kawah besar yang ada di sekelilingnya sementara dia berada di pusat kawah dengan sebuah tempat tidur yang berantakan.
Dan yang terakhir adalah kenapa sosok Sona kini tertidur di sampingnya dengan keadaan sama tanpa busana, terlebih rambutnya terlihat acak-acakan, kacamatanya entah pergi ke mana, serta bekas air mata yang mengering di pipinya.
Otak Naruto mulai memikirkan beberapa spekulasi yang masuk akal menurutnya.
Mungkinkah dia mendaki tangga kedewasaan tanpa dia sadari? Atau mungkin Sona menyerangnya saat dia tidak sadarkan diri? Atau mungkin malah sebaliknya? Tapi kenapa dia tidak ingat apa-apa soal ini.
Dan kenapa Sona saat ini terlihat tidur begitu pulas sambil memeluk lengan kanannya? Itu semua masih menjadi sebuah miste- Tunggu dulu ada yang salah di sini... tidak pada awalnya memang semuanya salah namun ada sesuatu yang mengganjal, tidak! Bukannya dada Sona yang saat ini mengganjal melainkan sesuatu yang lain. Bukan juga sesuatu di antara selangkangan Naruto yang mengganjal melainkan sesuatu yang cukup krusial hingga dia menarik ulang segala nafsunya.
'T-t-t-tangan kananku k-kembali!?'
Naruto berteriak dalam hatinya akan fenomena yang tidak pernah dia duga dalam hidupnya. Tangan yang putus tidak akan pernah tumbuh lagi. Itu adalah hukum paten yang ada di dunia kedokteran. Namun apa yang sedang terjadi ini benar-benar nyata.
Sensasi dari setiap pori-porinya, rasa lembut danhangat dari himpitan... ehem... dada Sona juga dapat dia rasakan dengan begitu nyata, dengan kata lain ini benar-benar tangan asli.
Tapi kenapa?
'Mungkinkah ini hadiah yang dimaksud Index tadi?'
Dia ingat bahwa Index berkata berkata untuk menikmati hadiahnya setelah bangun, awalnya dia sempat curiga dengan kata 'menikmati' dan bukannya menggunakan. Inikah yang dia maksud? Sensasi lembut, hangat dan kenyal yang menghampiri seluruh pori-pori tangannya ini, serta sensasi agak basah dari keringat yang sedikitnya keluar dari pori-pori lembut itu...
'Tidak tunggu... ini jadi terdengar bahwa aku adalah orang yang mesum!?'
Walaupun pada kenyataannya Naruto memang tidak jauh beda dengan laki-laki normal pada umumnya. Karena tidak ada laki-laki yang tidak mesum di dunia ini, walaupun begitu ada dua tipe laki-laki mesum, yang pertama adalah mesum terbuka, contoh... tidak perlu di sebutkan, dan yang kedua adalah mesum yang tertutup, contoh... karena alasan tertentu nama tidak dapat di sebutkan.
"...Ngghh,"
'Oh ayolah kumohon padamu, jangan mendesah seperti itu... sebagai orang baik aku juga ada batasnya tahu!' batin Naruto terus berteriak panik saat Sona yang tanpa tahu situasi malah mendesah erotis yang sukses membuat hati Naruto kembang-kempis tak karuan. Sementara nafsunya yang saat ini terus membisikan kata kata "Lanjutkan... lanjutkan... lanjutkan..." seperti sebuah kampanye pilkada.
"Ngghhhh..."
'AAHH! Kau sengaja! Kau pasti sengaja kan! Ngaku, kau-pasti-Sengaja kan! KAN!'
Teriakan hati Naruto semakin kencang saat sebuah erangan yang lebih keras keluar dari mulut Sona di ikuti Sona yang semakin erat memeluk tangan kanannya. Serta semakin kerasnya deklarasi dari nafsu Naruto yang kini tampaknya sudah mulai ricuh.
"Ngghh... Naruto?"
'Oh bagus akhirnya kau ban-GYAAAA! Dada! Dada! Dadamu kelihatan bego!"
Untung saja Naruto hanya berteriak dalam hati, karena dia pasti akan mati malu akibat berteriak seperti seorang perempuan saat melihat Sona yang mulai bangun dan duduk menghadap Naruto, dan dari posisinya saat ini, dengan jelas tubuh bagian atas Sona terpampang di depan Naruto tanpa halangan apa pun. Hingga membuat refleks Naruto berteriak, dan nafsu Naruto ingin segera menerkam kedua bukit itu dengan tangannya.
'GAAA... TANGANKU KRAM!'
Mungkin karena digunakan sebagai guling oleh Sona hingga membuat tangan kanannya kini tidak dapat di gerakan.
Namun segala hal akan nafsu dan juga gejolak batin dalam hati Naruto langsung sirna saat melihat senyum di wajah Sona dihiasi oleh air mata yang kini mulai menganak sungai di wajah cantiknya.
Manik amethys yang biasanya memancarkan ekspresi tegas itu kini dipenuhi oleh raut lega bercampur khawatir serta beberapa emosi yang sedikit banyak sudah Naruto terka.
"Kenapa?"
"...?"
Naruto tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Sona, karena dia baru saja bangun tak lama sebelum Sona tetapi malah di suguhi dengan sebuah pertanyaan. namun air mata yang keluar dari mata indah itu mulai membasahinya yang terbaring tepat di bawah Sona membuatnya terdiam.
Satu hal yang Naruto yakini, orang yang menyebabkan gadis itu menangis adalah dirinya.
"Kenapa kau melakukan hal senekat itu hanya untuk iblis egois sepertiku, kenapa?" Air mata Sona tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti dan malah semakin deras menghujani Naruto saat Naruto membalasnya dengan sebuah senyum teduh di wajahnya dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dari mulutnya.
"Kenapa... katakan padaku kenapa!?"
"..."
Mata Sona melebar kaget saat Naruto membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Sona, namun tidak ada apa pun yang keluar dari sana, hanya sebuah gerak bibir yang dapat Sona tangkap. Dan kembali diakhiri oleh sebuah senyuman, namun kali ini adalah senyum kaku.
Kata-kata yang Naruto ungkapkan tadi adalah『Kurasa itu tidak mungkin,』.
"Naruto... jangan katakan kalau kau kehilangan suaramu? Katakan kalau itu bohong! Jawab aku kalau itu bohong BODOH!"
Namun Naruto hanya membalasnya dengan senyuman, tetap senyuman kecil yang terukir di wajah Naruto menjadi jawaban dari pertanyaan Sona barusan. Tubuh Sona jatuh lemas dan menimpa Naruto, tepat di atasnya.
Wajah mereka berhadapan dengan begitu dekat membuat Naruto untuk sesaat terpesona akan manik Amethys yang begitu indah di depannya, namun bagi Sona yang saat ini diliputi oleh sebuah penyesalan, hanya mampu menggigit bibirnya dengan begitu keras.
Naruto dapat merasakan nafas memburu dari Sona. Wajahnya tampak begitu kacau di mata Naruto, namun tetap saja hal itu tidak menghilangkan kecantikan asli dari gadis itu.
"Kenapa kau melakukan ini semua, kenapa kau bisa tahan bersama denganku meskipun kau tidak mendapat apa pun selain luka-luka di setiap tubuhmu, jika itu soal uang... jika itu soal uang, aku akan membayarmu sebanyak apa pun jadi... maukah kau berhenti melakukan hal seperti ini, maukah kau bersumpah tidak akan melakukan hal seperti itu lagi, maukah kau tidak ikut campur dalam urusanku yang hanya merugikanmu, maukah kau melupakan segalanya tentang pengakuanku dan juga tentang... diriku,"
Suara Sona begitu parau, air matanya masih tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Nafasnya memburu saat berkata demikian.
"!?"
Sona merasa terkejut saat merasakan sebuah telapak tangan yang mendorong kepalanya hingga mempertemukan dahinya dengan dahi Naruto. Tangan itu adalah tangan kanan Naruto yang sudah sembuh dari kesemutan. Dan langsung meraup belakang kepala Sona dan mendekatkannya padanya.
"Itu tidak mungkin,"
Suara barusan tidak di ucapkan Naruto langsung ke kepala Sona lewat sentuhan dari mereka. Sona bahkan tidak merasa penasaran akan bagaimana Naruto melakukannya, karena saat ini dia tengah terhanyut dalam perasaannya.
"Tapi kenapa, jawab aku kenapa?"
"Apakah aku perlu menjawab itu? Asal kau tahu... pertanyaanmu barusan layaknya sebuah kalimat retoris bagiku,"
"..." Sona tidak tahu harus menjawab apa, yang dia lakukan masihlah menatap Naruto dengan ekspresi meminta sebuah jawaban.
Naruto mendesah panjang...
"Pertanyaanmu itu entah kenapa mirip dengan salah satu dari cerita favoritku, tentang petualangan seorang pencuri dan putri kerajaan, sang pencuri pada awalnya datang ke kerajaan sang putri untuk menculik putri itu, namun banyak hal yang terjadi hingga akhirnya mereka menjadi rekan petualang. Sang pencuri membantu putri itu mengungkap kenapa sang ratu ibunya sendiri mulai menggila dan menyulut api peperangan kembali, dan banyak yang terjadi setelahnya mulai dari banyak negara yang hancur, kerajaan sang putri juga mengalami kehancuran parah, hingga fakta besar bahwa sang putri ternyata bukanlah anak kandung dari sang ratu, namun sang pencuri tetap berada di samping sang putri hingga akhir.
Hingga pada akhirnya sang putri yang tengah depresi akan fakta bahwa dia bukanlah anak kandung dari ratu mengajukan sebuah pertanyaan pada sang pencuri, 『Kenapa kau masih mengikutiku, aku bukanlah seorang putri, aku bukanlah siapa-siapa, tapi kenapa kau masih mengikutiku?』"
"lalu... apa jawaban sang pencuri?" Jawab Sona lemah.
"Itu hanya karena aku ingin berada di sampingmu,"
"!?"
Sona terkejut saat Naruto menarik wajahnya semakin dekat dan menciumnya dengan lembut. Sebuah ciuman tulus yang entah kenapa mampu membuat Sona terhanyut dalam keheningan hingga dia tanpa sadar mulai menutup matanya dan hanyut akan ciuman itu.
Ciuman itu hanya berlangsung singkat. Namun hal itu sudah cukup untuk membuat seluruh pikiran Sona kosong, dengan wajah merah padam Sona seakan seperti sebuah robot yang kehabisan baterai.
"Oya... Oya... pagi-pagi sudah panas saja, jika kalian tidak segera memakai pakaian dan pergi dari sana, kalian akan masuk angin lo,"
Sebuah suara dari atas kawah itu menghancurkan suasana serba pink tadi dan sukses menarik kembali Sona ke dunia nyata.
"Gyaaa!"
Dengan sontak Sona langsung berteriak dan bersembunyi dibalik selimut dan merangkul tubuh Naruto dengan sangat erat.
"Tidak perlu panik seperti itu segala kenapa, lagian aku tidak tertarik dengan tubuh anak-anak. Dan yang lebih penting lagi, cepat keluar dari sana dan berkumpul di ruang tengah semuanya sudah berkumpul di sana.
Selepas mengucapkan itu Azazel pergi meninggalkan kedua remaja telanjang itu dan pergi ke ruang tengah kediaman Sitri.
"Bisa tidak kau melepaskanku? Lagipula Azazel juga sudah pergi,"
Tetapi bukannya melepaskannya, Sona malah semakin memper erat pelukannya. Dengan perlahan kepala Sona menyembul keluar dari ujung selimut yang menutupi Naruto hingga dadanya dan menatap remaja pirang itu dengan tatapan sedikit sebal sambil menggembungkan pipinya sehingga mulai menggelitik naluri Naruto untuk mencubitnya.
Tapi sayang itu tidak mungkin bagi dirinya yang saat ini.
"Karena kau sudah melakukan hal itu tadi, maka kau harus tanggung jawab," Sona berkata dengan pipi menggembung.
'Tanggung jawab?'
Sementara Naruto di bingungkan oleh pernyataan Sona barusan. Gadis iblis keturunan Sitri itu kembali menenggelamkan dirinya dalam selimut dan mulai merangkak turun ke arah sebuah benda yang sudah Sona rasakan mengganjal sejak awal.
"Tu-tu-tunggu... Sona apa yang mau kau lakukan!?"
Tentu saja Naruto panik ketika dia mendapati ada seorang gadis seumurannya yang kini dalam keadaan telanjang bulat merangkak turun ke tempat di mana merupakan salah satu dari ciri-ciri pembeda antara laki-laki dan perempuan. Dan juga pusat dari harga diri seorang laki-laki.
"K-kau harus bertanggung jawab karena ini,"
"Tidak tunggu bukan itu masalahnya... Sona-san Moshi...moshi... jangan, berhenti sampai di situ... jangan sentuh John kecil, tidak tunggu jangan di jilat... aku bilang jangan! TIDAAAAK!"
.
-0o0-
.
Sona berjalan memasuki ruang tengah sambil mendorong sebuah kursi roda yang saat ini ditempati oleh Naruto yang karena suatu alasan sedang dalam mood yang begitu buruk. Berbanding terbalik dengan Sona yang entah kenapa ekspresinya begitu cerah ketimbang biasanya serta nuansa serba pink di sekitarnya tampak dihiasi oleh bunga-bunga bermekaran.
Saat mereka memasuki ruangan Naruto sudah yakin jika dia akan mendapat berondongan pertanyaan. Dan tampaknya hal itu benar saja.
"Uzumaki-kun apa kau baik-baik saja?"
"Naruto, kau tidak apa-apa kan?"
"Uzumaki-san bagaimana keadaanmu?"
"Uzumakicchi apa lukamu baik-baik saja?"
"Nii-san kau seharusnya tidak memaksakan dirimu,"
Dan masih banyak yang lainnya. Naruto sama sekali tidak dapat menghadapi hal-hal semacam ini terlebih dengan keadaannya yang sekarang ini.
"Kalian ini bisa tenang sedikit tidak sih? Naruto-kun baru saja sadar, jadi tolong jangan hujani dia dengan pertanyaan seperti ini,"
Tampaknya Naruto tidak perlu khawatir akan hal ini karena dia yakin Sona akan mengatasinya entah bagaimana caranya seperti barusan. Namun sayangnya beberapa orang sadar akan perbedaan cara Sona memanggil Naruto yang sekarang.
"Naruto...kun? heeh... jadi begitu ya hmmm..."
Rias adalah orang pertama yang sadar akan apa yang terjadi dan mulai menyeringai saat melihat rona merah yang dengan perlahan menghiasi wajahnya. "k-kenapa kau senyum-senyum begitu!?"
"Bukan apa-apa yang lebih penting selamat kalau begitu," balas Rias yang masih belum kehilangan seringainya. Sambil memukul-mukul pundak Sona berulang kali dan tentu saja dengan tenaga yang cukup kuat.
Dan orang selanjutnya yang menyadari hal itu adalah seseorang yang begitu tidak disangka-sangka. "Nii-san Sona-kaichou Omedeto!" ujar Asia dengan lantang sambil mencurahkan sebuah senyum sumringah.
Sona yang mendapatkan ucapan selamat dari Asia wajahnya menjadi lebih dan lebih merah.
Beberapa iblis lain mulai paham dengan apa yang dimaksud oleh Rias dan Asia kini mulai menunjukkan raut terkejutnya.
"Uwaaahh... akhirnya... pada akhirnya hari ini terjadi juga, akhirnya kaichou berhasil menjinakkan Uzumaki-san,"
Pernyataan polos dari Momo sang bishop dari Sona itu sukses melahirkan sebuah perempatan tepat di kening Naruto. Memangnya dia itu hewan apa pakai dijinakkan segala.
Sementara Sona yang saat ini tidak dapat berkata apa pun karena rasa malu yang sudah kelewat batas, Naruto lah yang saat ini menjadi bahan bulian dari para iblis-iblis itu. Dan karena rasa kesal yang sudah kelewat batas, Naruto mengambil sebuah whiteboard kecil di sampingnya dan menggoreskan spidol dengan kecepatan yang luar biasa dengan tangan kanannya.
Trakk! Trakk!
Suara papan putih di pukul-pukulkan membuat para iblis kembali dari kegaduhan mereka dan menatap Naruto sebagai sumber suara. Di sana Naruto sudah menunjukkan sebuah papan putih berukuran 15x10 cm di tangan kanannya. Tepat di atas papan itu terdapat tulisan dengan emotikon tiga buah perempatan yang mengekspresikan bahwa Naruto sedang marah.
『Kalian Semua Berisik!』
"Eto... kenapa ditulis?"
"Sebenarnya..."
Sona menjelaskan pada semuanya perihal efek samping dari penggunaan kekuatan dahsyat kemarin Naruto kehilangan kontrol akan setengah tubuhnya hingga saat ini dia tidak dapat berjalan atau bahkan menggerakkan bagian kiri dari tubuhnya. Serta akibat itu juga Naruto kehilangan kemampuan berbicaranya.
Pada awalnya mereka panik saat mendengar Naruto tidak dapat berjalan dan bicara, terutama Asia, namun saat Sona mengatakan jika itu hanya untuk sementara akhirnya kepanikan mereka mulai mereda, meskipun tidak hilang sepenuhnya.
Namun mereka memilih mengesampingkan hal itu dan masuk ke dalam pokok pembicaraan yang menjadi topik akan pertemuan kali ini.
.
-0o0-
.
"Maaf coba katakan sekali lagi?" Sona bertanya seolah apa yang baru saja dikatakan oleh Rias merupakan kesalahan dari sistem pendengarannya.
"Kita akan ke pantai!"
Dengan mantap sang hieress dari keluarga iblis Gremory itu mengulangi kalimatnya yang sukses membuat Sona meraup wajahnya sendiri sambil mendesah panjang.
"Libur musim panas hanya tinggal 3 hari lagi dan kau masih ingin pergi ke pantai? Apa kau tidak berpikir bahwa akan lebih baik kau menyelesaikan PR musim panasmu terlebih dahulu?" seperti yang diharapkan dari sang ketua OSIS pemikirannya pasti tidak akan jauh-jauh dari yang namanya pelajaran.
"Mou... kau terlalu kaku Sona, kau harus ingat kalau ini adalah libur musim panas terakhir kita di bangku SMA apa lagi kau sudah..." sambil melirik Naruto. "... Bukankah akan lebih baik jika kau membuat sebuah kenangan yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu?"
"Itu..."
Pada akhirnya pertahanan Sona runtuh satu persatu akibat celotehan Rias barusan. Batin Sona kenapa dia harus mengungkit-ungkit tentang masa terakhir di SMA sih kan Sona jadi susah untuk menolaknya.
Sraak! Sraak!
Sebuah suara spidol menggores papan terdengar dari arah Naruto. Selesai menuliskan apa yang ingin dia kataka, Naruto menunjukkan papan putih itu dengan tangan kanannya.
『Aku Tidak ikut,』
"EH!?"
Pernyataan itu tentu saja membuat semua iblis di sana kaget.
Naruto menunjukkan ekspresi sulit di terka saat seluruh tatapan mata mengarah padanya, dengan sedikit usaha dia menoleh ke samping menghindari tatapan itu. Dari setiap iblis yang ada di ruangan itu hanya satu iblis yang mengerti alasan Naruto menolak itu.
Dia berjongkok di depan Naruto dan memegang kedua pipi pemuda itu dan dengan paksa mengarahkan wajah itu untuk menatapnya.
"Kau harus ikut!"
Sosok itu adalah Sona yang secara tegas menekankan kalimat itu sebagai sebuah perintah yang tidak dapat di bantah. Naruto tahu jika Sona yang seperti ini adalah sosok Sona yang keras kepala dan tidak bisa di ajak bicara, tapi pemikirannya masih belum berubah.
"..."
"Kau tidak merepotkan, jika aku bilang kau harus ikut ya kau harus ikut."
"..."
"Sudah kukatakan kau tidak merepotkan, jika kau ingin aku senang maka kau harus ikut, dan jika kau tidak ikut maka aku juga tidak ikut!"
"..."
"Tidak ada tapi-tapian, karena aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian sementara aku pergi bersenang-senang,"
Meskipun Naruto sama sekali tidak mengatakan niatnya, atau bahkan menuliskannya dalam sebuah kalimat, Sona paham betul dengan apa yang ingin Naruto katakan. Dia tidak ingin jadi beban, keadaannya yang saat ini hanya akan mengganggu atmosfir dari kegembiraan yang akan terjadi, karena itu Naruto takut untuk ikut.
Namun Sona, gadis itu tampaknya sama sekali tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Entah karena alasan apa, hati Naruto terasa hangat saat melihat senyum simpul di wajah gadis itu dari dekat. Padahal belum genap satu hari semenjak ciuman yang dia lakukan pada gadis itu namun saat ini wajah gadis itu telah kembali berada sangat dekat dengannya.
"Ughu..."
"!?"
Dengan panik Sona langsung menengok ke belakang saat mendengar suara aneh dari belakangnya.
Wajah Sona sedikit merona merah meskipun diikuti sebuah keringat jatuh di dahinya saat melihat bahwa hampir semua iblis di sana yang mewek-mewek gak jelas.
"Ughu... walaupun aku tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan entah kenapa *Snoorh* aku merasa terharu *snoorh*"
"Sona... aku tak tahu jika perasaanmu pada Naruto hingga sedalam itu..."
"Naruto... bisa tidak kau tidak mendrama di sini... kau mau membuatku menangis apa!?"
"Hyoudo brengsek! Jangan usapkan ingus menjijikanmu itu di bajuku!"
Mengabaikan berbagai macam tingkah laku dari dua keluarga iblis itu Sona kembali menatap sosok pemuda pirang yang duduk di atas kursi roda itu sekilas mulai menunjukkan senyumnya, senyuman yang begitu Sona sukai.
"Jadi begitu ya..." ujar lemah Rias yang mulai mengerti alasan kenapa Naruto tidak ingin ikut.
Tidak ingin jadi beban.
Mungkin itu hanya merupakan sebuah kalimat ringan yang tak berarti. Namun bagi orang yang mengalami kondisi seperti Naruto, itu sudah pasti menjadi penghambat dan juga bahan pikiran yang sulit hilang.
Namun Naruto melupakan satu hal.
"Apa yang kau ini katakan, Naruto..." perkataan lantang Issei membuat Naruto menghadapnya. "Jika itu yang mengganggu pikiranmu, maka kau tidak perlu khawatir, jika kau tidak bisa jalan, maka aku akan menggendongmu, sebagai seorang teman. Meninggalkan temannya yang tengah kesusahan itu adalah hal yang paling memalukan, bukan begitu?" Lanjut Issei sambil menyikut Saji yang ada di sampingnya.
"Yup itu benar sekali, yah... meskipun kita gak seakur-akur itu, tapi tidak mungkin kami akan menuruti permintaanmu itu, lagi pula jika kau dalam kesulitan muridmu yang satu itu pasti dengan senang hati akan membantu." Sahut Saji sambil menunjuk Xenovia.
『Tidak, dia bukan muridku,』
"Itu benar aniki. Jika perlu aku akan menggendongmu sendiri entah itu di depan atau di belakang, dengan gaya sundo,"
『Tidak..tidak..tidak... siapa yang ingin di gendong olehmu, terlebih gaya sundo tidak diperuntukkan untuk itu, goblok,』
Naruto sungguh tidak paham dengan apa isi dari kepala ini bocah satu. Padahal kesan pertama Naruto saat melihat Xenovia untuk yang pertama kalinya adalah seorang gadis tomboy yang jarang bicara namun berkemampuan tinggi.
Tetapi apa yang dia lihat kini hanyalah seorang cewek bego yang bahkan Naruto tidak terlalu yakin jika ada apa pun dalam isi kepalanya. Atau mungkin isi kepalanya ikut hilang bersamaan dengan hilangnya statusnya sebagai manusia.
Masalah itu hanya tuhanlah yang tahu akan jawabannya.
Satu-satunya yang Naruto harapkan adalah mendapatkan sebuah hari tenang tanpa adanya hal-hal aneh dan sesuatu hal yang berbau supranatural, tapi sepertinya hal itu tidak mungkin, karena setelah semua ini, jalurnya untuk kembali telah hilang. Dan kata supranatural itu sendiri sudah menjadi bagian dari hidupnya.
『Aku kembali wahai kehidupanku yang penuh sial...』
.
To Be Continue...
.
Yaa... yah... sepertinya updatetan kali ini jauh lebih cepat dari biasanya yang hingga satu bulan lebih. Kira-kira ada apa ya? Jika kalian berpikir seperti itu maka, aku mungkin hanya dapat menangis lebai sambil bertanya "begitu tidak bisa diharapkannya kah diriku ini?" Sambil mewek-mewek.
Yah walaupun itu tadi hanyalah omong kosong dari orang yang lagi lapar. Alasan kenapa aku ingin cepat-cepat mengupdate cirita ini adalah ada beberapa review yang entah kenapa membuat ku tergelitik ingin segera menjawabnya. Setidaknya beberapa yang punya akun sudah aku jawab pertanyaannya, namun yang guest tetap harus di jawab lewat balasan dalam fic.
Dan maka dari itu aku mengerjakannya dengan sepenuh hati hingga akhirnya aku merasa seperti kembali pada diriku sewaktu masih duduk di bangku kelas 3 SMK. Gimana rasanya ingin segera membalas pertanyaan-pertanyaan dari kalian.
Okeh akan aku jabarkan beberapa pertanyaan yang melintas dalam benak kalian.
Pertanyaan yang intinya. Jika Asia sekuat itu, kenapa dia bisa mati dari malaikat jatuh sekelas reynare dan jika Asia telah menjadi iblis kenapa A-chan masih ada di dalam tubuh Asia?
Pertanyaan ini tampaknya menjadi pokok masalah yang banyak ditanyakan.
Oke akan aku jawab dengan rinci jadi tolong diperhatikan baik-baik. dan maaf jika ini mengandung sedikit spoiler.
Pertama. karena pada saat itu a-chan sedang dalam keadaan tertidur, terlebih berbeda dengan sistem bijuu, a-chan dalam diri Asia sama sekali tidak dapat melihat kejadian yang terjadi di luar. sebagai buktinya dia tidak mengenal Sona.
Kedua. a-chan tidak dapat bangun dan mengambil alih tubuh Asia tanpa seijin dari Asia sendiri.
Ketiga. alasan kenapa Asia tidak membangunkan a-chan saat dibunuh oleh Asia adalah pertama dia tidak tahu jika dia akan mati. tolong bayangkan jika kalian menjadi aisa, apa kalian tahu apa yang akan terjadi satu menit dua menit kedepan? tidak bukan, begitupun Asia dia sama sekali tidak tahu jika dia akan mati. dan juga dia masih dalam keadaan merasa bersalah dan berdosa semenjak dia diusir dari gereja.
Keempat. alasan kenapa Asia membangunkan a-chan saat ini adalah karena dia tidak ingin kejadian sebelumnya terulang lagi, dalam tanda kutip kematiannya. dia mendengar dari Rias dan kawan-kawan tentang bagaimana Naruto mengamuk dan menghilang berhari-hari semenjak itu. dia tidak ingin hal itu terulang lagi. terlebih saat ini dia telah memiliki keluarga yang begitu berharga dan dia sayangi.
Kelima Dan Yang Terakhir. alasan kenapa Asia menidurkan a-chan dengan paksa dan dalam kurun waktu yang begitu lama adalah karena perintah dari kakaknya Nagato. "jangan pernah menggunakan kekuatan Namikazemu apapun yang terjadi," Nagato memang tidak tahu akan eksistensi a-chan, namun dia tahu jika dalam diri Asia kekuatan dari darah Namikazetetap ada. namun itu adalah cerita untuk lain waktu pasalnya kalimat itu juga merupakan hint besar yang mengarah pada konflik utama dalam fic ini.
apa dengan ini semuanya sudah jelas?
.
Dan sekarang adalah balasan untuk para guest sekalian.
Guest : huh. Apa yang kau maksud dengan sok? Aku memang di sini membuat 3 orang Namikaze itu kuat luar biasa dengan caranya sendiri-sendiri. Dan kenapa kau menggunakan kata "lonte" sebagai ganti "pair" atau "pasangan"? apakah mungkin kau juga menyebut pacar atau istrimu dengan sebutan lonte? Tolong dengan sangat perhatikan kembali kata-katamu saat menulis terimakasih. Dan untuk jawaban pertanyaanmu udah di jawab di atas, lalu kalau maksudmu adalah kenapa a-chan masih ada sekalipun dia iblis? Maka jawabannya simpel, bayangkan saja kenapa Ddraig masih ada dalam tubuh Issei walaupun dia sudah menjadi iblis, simpel kan?. Dan thanks atas reviewnya.
Aaaku : eto... sepertinya aku juga kagak begitu mengerti dengan review yang ini :v. Apa ini karena akunya yang lelah ya? :v
Aaaku 2 : nah aku sendiri juga kagak ngitung :v kalau dari urutan guest yang ke 3 dan kalau semua kayaknya sekita yang ke 10.
Devil : oke broo...
Devil kaca : siap boss dan mungkin kembali agak lama, entah satu minggu lebih atau mungkin 2 minggu lebih, meskipun enggak sampe satu bulanan.
Guest : itulah yang namanya keajaiban genre Shounen :v
Guest : saya usahakan :v
Guest : jawabannya ada di ujung langit, eh maksudnya di atas :v
.
Dan masalah apa naru sona sudah melakukan "itu" atau belum maka jawabannya adalah... Belum :v, mereka tidak sempat melakukan itu. Dan dengan kata lain keduanya masih perjaka dan perawan :v .
Dan bagi yang mengharapkan lemon di fic ini maka sayang sekali kalian mungkin hanya akan mendapatkan harapan palsu karena jikapun ada beberapa adegan yang sediki... ya... begitulah... maka sisanya akan aku serahkan pada imaginasi kalian sendiri-sendiri.
Update mungkin kali ini akan mulai teratur pada sabtu malam minggu entah itu satu minggu atau dua minggu, tapi aku usahakan tidak akan lebih dari itu.
Okeh setelah segala kewajiban sudah terpenuhi, sekarang saatnya author kembali pada sleep mode. Jadi sampai jumpa minggu depan...
.
Keep Calm & Find Your Talent.
.
.
