"..."

Malam semakin larut, indahnya cahaya dari sang rembulan mulai tertutupi oleh awan yang menghitam, suasana mulai mencekam dengan angin yang mulai menerpa sedikit keras

*Ctik...Ctik...*

Rintik hujan pun mulai membasahi kota Kuoh khususnya Kuoh Academy, sebuah sekolah yang baru saja terjadi tragedi yang amat panjang, beberapa kawah hasil ledakan dan serangan yang terjadi selama pertarungan itu kini dibasahi oleh langit yang seolah sedang menangis terharu

Kini, terlihat seorang remaja berambut perak tengah berdiri tegak dengan ekspresi wajah yang tertutupi dengan rambutnya, berdiri tegak dipinggir sebuah kawah yang lebar, ia menggigit bibir bawahnya, tangannya masih terkepal erat mencoba menahan emosi diri yang merasuki hatinya

"Naruto..."

Suaranya sedikit agak serak saat mencoba memanggil sebuah nama seseorang yang sudah ia anggap sebagai sahabat sekaligus saudaranya sendiri, perlahan ia mengangkat wajahnya, kini terpampang ekspresi sedih dengan air mata yang berbaur air hujan yang membasahi wajah tampannya

"Tch!"

Mendecih kesal, ia sangat membenci hal seperti ini, tangannya masihlah terkepal erat, rasanya ingin mengutuk dirinya sendiri setelah membiarkan sahabatnya pergi entah kemana, dan kemungkinan tak akan pernah kembali lagi

Dan hal itu karena Kokabiel, si Veteran Great War yang sekarang mulai ia benci itu!

Senyum Naruto disaat terakhir masih membekas diingatannya, senyum tulus yang terselip sebuah salam perpisahan yang dia berikan padanya, ia masih ingat betul saat Naruto menyuruhnya menjaga Rize dan Kurumi dengan baik

Hari-harinya yang dipenuhi canda tawa bersama Rize, Kurumi dan juga Naruto mungkin nantinya akan terasa hambar, seseorang yang biasanya merusak suasana sudah tak lagi ada, seseorang yang selalu membuat mereka tertawa tak lagi bersama mereka bertiga, sesosok teman yang sudah membuat mereka mengerti akan suatu arti sebuah keluarga

"Tch! Aku benci hal seperti ini!"

::

::

::

::

:: [New Line!] ::

::

::

:: [Disclaimer] ::

Me and You Know, Masashi Kishimoto and Ichie Ishibumi

:

:: [Rating]::

T+ for Story and Language, but M for Safety (Bukan tanpa alasan)

:

:: [Genre] ::

Adventure, Romance, Supernatural, A Bit Comedy

:

:: [Warning]::

OOC, Alternate Universe, Typo, Miss-Typo, CrackPair, Semi-Canon, Mainstream, Garing, Bahasa tidak Baku, EYD yang berantakan, and More...

:

:: [A/N] :: Saran untuk membaca Fic ini, tolong untuk memperhatikan tanda baca dengan teliti karena ucapan bahasa jepang, Jurus/Jutsu dan ucapan batin saya buat Italic

::

::

:: [Arc III] :: Unpredictable Destiny! ::

:: [Chapter #25] :: Departure ::

::

::

::

::

Hujan semakin lebat, rintik-rintik air terus membasahi area sekolahan itu, angin kencang membawa dedaunan terbang mengangkasa, suasana hening yang mencekam khas sebuah cerita dimana tragedi biasanya telah usai

Vali, sesosok yang dijuluki Hakuryuukou itu, kini duduk dipinggiran kawah besar, kedua tangannya menempel ketanah, rambutnya yang basah mulai menutupi ekspresi wajahnya, senyum kecut masih terpampang di bibirnya

Entah kenapa ini baru pertama kalinya ia bersedih, ia bisa dibilang orang yang sulit untuk sedih bahkan dalam keadaan seperti apapun, ia juga bukanlah orang yang suka peduli terhadap orang lain

"..."

Dulu, saat ia belum tinggal bersama Naruto, hidupnya terasa tak memiliki tujuan, yang ia lakukan hanyalah mencari musuh yang kuat untuk diajak bertarung, lalu mengalahkannya dengan rasa senang dihati. Kehidupan dimasa lalunya sungguh aneh

Kadang ia berpikir, apa enaknya hidup seperti itu?

Sampai akhirnya Azazel yang menyuruhnya untuk tinggal diapartemen lamanya, disaat itulah ia bertemu dengan Naruto, sosok sahabat yang sudah ia anggap keluarga sendiri

Pertemuan mereka pertama kali bukanlah pertemuan yang baik dan sedikit memalukan jika diceritakan. Bahkan saat mereka bertemu untuk pertama kalinya saja, mereka sudah memperdebatkan hal yang bahkan dianggap sepele. Dan hanya karena sebuah sabun, mereka hampir saja bertengkar disaat pertemuan pertama mereka

Dan setelah itu, ia mulai bersekolah di Kuoh Academy atas permintaan Azazel, dan tentu saja berangkat sekolah bersama Naruto, kehidupan sekolah mereka yang bisa dibilang cukup indah dengan Vali yang bergabung klub basket, dan Naruto yang sesekali menontonnya saat ia latihan

Hari-hari terus berlalu hingga mempertemukan mereka berdua dengan Rize dan Kurumi, sosok gadis yang mengisi kehidupan mereka, kehidupan mereka berempat terus berlanjut disebuah apartemen kecil yang membuat mereka menjadi sebuah keluarga kecil yang penuh keceriaan

Keluarga...?

Vali tersenyum masam memikirkan hal itu, berpikir tentang keluarga, kini salah satu keluarganya telah pergi, pergi kesebuah tempat yang entah ia tak tahu

"Kuso...!"

Kembali mendecih, Vali mulai berdiri dipinggiran kawah itu, matanya menatap bagian tengah kawah yang kini dibasahi air yang bercampur sedikit darah, ia kembali teringat saat Naruto dan Kokabiel masuk dan tersedot kedalam sebuah celah dimensi tepat berada ditengah kawah itu

"Vali-kun?"

Sedikit terkejut saat ia mengenali suara seorang gadis yang memanggil namanya, Vali langsung membalikkan badannya. Kini tepat didepan matanya, sesosok Rize yang tengah menatapnya khawatir, serta kelompok Rias yang berada dibelakang gadis berambut ungu itu

"Rize"

Walau awalnya sedikit bingung saat Vali tersenyum masam, rasa khawatirnya pada remaja berambut perak itu habis sudah dihati Rize saat melihat keadaannya yang baik-baik saja, segera ia langsung menarik Vali kedalam pelukannya

Menerima perlakuan seperti itu dari Rize membuat Vali hanya terdiam, ia belum terbiasa diperlakukan seperti ini oleh seperti seorang gadis, karena yang ada dikepalanya biasanya hanyalah Bertarung, bertarung, dan Bertarung

"Syukurlah kau baik-baik saja!"

"Ya..."

Balas Vali singkat saat Rize mencoba melepas rasa khawatirnya, perlahan Vali melepaskan pelukan Rize, menatap mata gadis berambut ungu itu dengan bibir yang hendak mengatakan sesuatu

"Ayo pulang, Rize"

Rize terdiam tak membalas ucapan Vali. Ada yang aneh disini, gadis itu merasa ada yang aneh dengan Vali, sifatnya yang biasanya kalem dan sedikit pendiam kini sedikit terlihat sedih dan senyumnya yang seolah menyimpan suatu hal yang besar

"Ayo pulang-"

"Naruto-kun dimana, Vali-kun?"

Nafas Vali tercekat untuk beberapa detik, ingatan tentang bagaimana cara ia menjelaskan tentang Naruto pada Rize dan juga Kurumi kembali mengiang dikepalanya saat Rize menanyakan hal tadi

Terdiam beberapa detik membiarkan suara rintik hujan yang mengheningkan suasana, Vali mencoba menampakkan senyumnya namun akhirnya ia menarik tangan Rize untuk mengajaknya pulang melewati kelompok Rias yang kini menatapnya dengan tatapan penasaran

"Tunggu dulu Hakuryuukou!"

Vali berhenti saat ucapan Rias menyuruhnya untuk berhenti, Rize juga sedikit tidak mengerti dengan Vali yang sekarang. Sosok Vali yang biasa ia kenal adalah sosok yang selalu menjawab pertanyaannya, namun kini, sepertinya Vali menyimpan dengan ketat apa yang remaja berambut perak itu tahu

"Katakan pada kami dimana Naruto?"

"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?"

"Tentu saja!"

Vali menghela nafas, sifat keras kepala Rias yang mencoba dirinya untuk mengatakan apa yang ia tahu membuat Vali sedikit merasa kesal

Lagipula menurutnya untuk apa gadis merah itu tahu? Toh bukannya ia membenci Naruto?

"Dia telah pergi, hanya itu yang kutahu..."

Tak lama setelah mengucapkan hal itu, Vali langsung berjalan pergi meninggalkan kelompok Rias sambil menarik tangan Rize yang kini tengah kebingungan menatapnya

Rias, gadis berjulukan Ruin Princess itu hanya diam menatap kepergian Vali dan Rize, otaknya kini masih mencerna apa yang dikatakan Vali barusan. Ada yang aneh dari ucapannya tadi

Matanya sedikit membulat saat menyadari satu hal, ia langsung berlari kearah kawah lebar tempat Vali tadi membiarkan para anggotanya yang kini tengah menatapnya dengan penasaran

"..."

Rias terdiam, iris mata Bue-Green miliknya menatap tepat ditengah kawah itu, entah apa yang ia pikirkan salah atau benar, tapi matanya tak menangkap bekas apapun ditengah kawah itu, tak ada satupun bulu gagak ataupun jejak yang berarti, disana hanya ada darah yang mulai bercampur dengan air hujan yang entah ia tak tahu itu darah milik siapa

'Naruto, Mati...?'

::

::

::

::

*Ckleek..*

"Tadaima..."

Saat ini Vali dan Rize sudah pulang ke apartemen mereka, memutar knop pintu lalu mendorongnya kedepan sambil mengucapkan salam, alis mata mereka berdua terangkat sebelah saat keadaan apartemen saat ini bisa diibilang gelap, hanya lampu dapur yang menyala dan menjadi sumber penerang ruangan

Vali berjalan kamarnya dan mengambil salinan baju lalu pergi berjalan kearah toilet, sedangkan Rize kini berjalan kearah kamarnya sambil mencoba membuka pintu kamarnya secara perlahan

"..."

Gadis berambut ungu itu tersenyum, matanya menatap lembut sosok Kurumi yang kini tengah tertidur lelap diatas ranjangnya, perlahan Rize berjalan pelan mendekati gadis bersurai hitam yang kini dibawa alam mimpi itu, kembali ia mengulas senyum saat wajah Kurumi yang polos tengah tertidur lelap

Setelah puas memandangi Kurumi yang tengah tertidur, Rize lalu mengambil baju salinan dan membawanya ke kamar mandi

::

::

::

::

"Sekarang jelaskan padaku dimana Naruto-kun, Vali-kun!"

Ucap Rize dengan nada sedikit memerintah, kacamata yang biasanya bertengger dibatang hidungnya kini ia lepas, rambut ungunya yang masih agak basah kini ia ikat ekor kuda, matanya kini menatap wajah Vali mencoba meminta sebuah penjelasan pada Vali

Vali yang duduk disofa ruang tengah hanya bisa diam, ia benar-benar bingung mau memberi penjelasan macam apa. Ia tidak bisa membohongi gadis didepannya ini karena gadis didepannya ini merupakan salah satu gadis yang pernah Naruto selamatkan

"..."

*Pluk!*

Vali menoleh, entah kenapa ia malah merasa bersalah saat kini Rize duduk disampingnya, menatapnya untuk meminta sebuah penjelasan akan keberadaan Naruto

"Naruto, telah pergi..."

"...?"

"A-apa maksudmu, Vali-kun?"

Membulatkan matanya saat mendengar apa yang ia dengar dari ucapan Vali, membuat pikiran Rize kini bercampur aduk, sebuah khayalan masuk dipikirannya dimana ia membayangkan Naruto yang telah mati, mati meninggalkan mereka

"Na-Naruto-kun Mati?"

"Bukan itu yang kumaksud Rize"

Sanggah Vali, sudah dia duga kalau Rize pasti salah sangka atas apa yang ia katakan, bukan pergi berarti meninggalkan dunia ini, tapi pergi kesebuah tempat yang tidak ia ketahui

"Naruto telah pergi, pergi kesebuah tempat yang tidak kuketahui lewat celah dimensi bersama Kokabiel"

"..."

"Jadi, Naruto kembali ke tempat tinggalnya?"

Rize sebelumnya pernah diberitahu oleh Vali kalau Naruto itu merupakan sesosok yang berasal dari dimensi yang berbeda, walaupun sosoknya sama seperti manusia biasa pada umumnya, Naruto mempunyai kelebihannya sendiri sebagai seorang manusia

Pada saat itu memang Rize tidak mempercayainya, apa memang ada sebuah kasus dimana datang sosok seorang manusia yang berasal dari dimensi lain? Itu memang terdengar seperti cerita fiksi, tapi itulah kenyataannya, melihat Naruto saja sudah menjadi bukti bahwa kasus seperti itu memang benar ada dan nyata

Selain itu, Sosok Naruto lah yang menjadi penyelamat hidupnya, ia masih ingat saat Naruto dulu menyelamatkannya dari satu kejadian yang tak terduga, kebaikannya membawa Rize kedalam sebuah keluarga kecil ini, ia bahkan bisa tinggal diapartemen ini karena Naruto yang mengizinkannya

Dan juga, Naruto lah yang memperkenalkannya pada Vali, sesosok laki-laki yang disukainya, yah walaupun gadis ungu itu menyukai Vali, namun sosok Naruto selalu mempunyai tempat tersendiri dihatinya

Karena jika bukan Naruto, ia tidak akan pernah mengenal Vali dan tak akan pernah bisa hidup seperti ini...

"Aku tak tahu, tapi kemungkinan seperti itu..."

Mendengar pernyataan Vali membuat Rize sedikit membulatkan matanya, entah kenapa ada rasa tak rela jika Naruto pergi kembali ke tempat tinggalnya. Egois memang, tapi itulah yang ia rasakan saat ini

"..."

Ekspresi gadis berambut ungu itu mulai terlihat sedih, setitik air mata yang berkilau mulai muncul di iris matanya hingga akhirnya jatuh membasahi pipinya

"Hiks..."

Rize menangis, kedua tangannya mencoba menghapus air mata yang kini mulai membasahi kedua pipinya, ekspresi sedih kini terpampang diwajah cantiknya seakan ia tak merelakan sosok Naruto yang telah pergi entah kemana

Rize mungkin mengerti perasaan Naruto. Si pirang itu memang bukanlah manusia asli dari dunia ini, ia datang hanya karena sebuah kecelakaan yang menimpa dirinya hingga membuat takdir hidupnya bisa serumit yang ia alami, dan tentunya Naruto pasti merindukan sebuah dunia yang sudah lama ia anggap rumah itu

Tapi bagi Rize, ia tidak ingin Naruto pergi jauh darinya, ia ingin terus Naruto memperhatikannya, memperhatikan Vali, Kurumi dan dirinya dengan kedok sebuah keluarga. Ia hanya ingin Naruto, Vali, dan Kurumi untuk hidup bersama, semua itu sudah lebih dari cukup baginya

Egois sih, tapi mau bagaimana lagi?

Ia tidak memaksakan apa yang telah terjadi, karena yang telah terjadi akan semakin berlalu. Waktu terus berputar dan tentunya ia tidak bisa memutar waktu itu sesuka hatinya

"Vali-kun... hiks~.."

Vali yang menyadari Rize mulai semakin sedih membuat lengannya tanpa sadar membawa tubuh Rize ke pelukannya, kedua tangannya yang melingkar di punggung gadis itu mencoba mendekap lebih dalam dan membagi kesedihan gadis itu untuk dirasakan bersama

"Sudahlah, jangan menangis, Rize"

Iris Blue-Ice miliknya tertutup, jari-jemarinya tangan kanannya mulai mengusap lembut surai ungu milik Rize, sementar lengan kirinya kini memeluk tubuh Rize dari samping

"Kau tak perlu bersedih, aku disini bersamamu"

Ucapan itu seakan membuat Rize terhipnotis, gadis itu mengusap air matanya, tubuhnya ia robohkan ke pangkuan Vali saat pemuda berambut perak itu menyuruhnya untuk berbaring di pangkuannya, tangannya kembali mengelus pucuk kepala Rize dengan senyum lembut yang ia sampaikan pada gadis bersurai ungu itu

"Tenang saja, aku akan selalu menjagamu"

Semburat merah muncul dikedua pipi Rize saat ucapan itu terlontar dari bibir Vali, hal itu membuatnya tersenyum, memejamkan matanya mencoba menikmati usapan lembut tangan Vali, Rize lalu kembali membuka matanya dengan senyum yang bertengger indah diwajahnya yang cantik

"Vali-kun, menunduklah"

"Are?"

Tak mengerti apa yang dimaksud Rize, Vali hanya menuruti apa yang dimaksud Rize, ia menundukkan wajahnya hingga membuat wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter dengan wajah Rize, bahkan mereka bisa merasakan deru nafas mereka satu sama lain, kedua pipinya memerah

"Rize, ini cukup-"

*Cup!*

Dan ya! Kedua bibir itu kembali bertemu untuk yang kedua kalinya...

::

::

::

::

*Jraassshh...*

*Jraaaasss!*

Tangan itu, terkapar lemas seolah tak memiliki tenaga sama sekali, sedikit dipenuhi luka dengan darah yang mengalir dibawah telapak tangannya, dan telapak tangan yang terkulai lemas dengan garis tangan yang tak terlihat lagi akibat darah yang membasahinya seakan memberitahu akan rasa sakit yang menimpa

"Sialan!"

*Jraaaass~!*

Suara tusukan itu terus mengalun layaknya lagu pembawa tidur, darah yang terus keluar seakan menjadi pemandangan tersendiri, sebuah Kunai yang terkait jari-jemari mulai kembali menembus perut yang ditusuk

*Ctaak!*

Kunai itu menembus perut hingga ke dasar, jari-jemari yang masih menggenggam erat sebuah pisau khas Ninja itu masihlah digenggam erat, penuh akan darah, dan penuh akan dendam

"Na-Na...ru...to..."

Salah satu tangan yang kini dibalut dengan bercak darah merah mulai mencoba menggapai sebuah wajah, dan tentu saja tangan itu ditepis dengan kuat oleh sang pemilik wajah hingga membuat tangan itu menghantam dasar dengan kuat

"Kokabiel!"

Naruto, remaja berambut pirang itu kini tengah menduduki tubuh sesosok Datenshi yang katanya merupakan salah satu Veteran Great War, sebuah perang yang antara ketiga fraksi yang membawa kerugian besar pada ketiga fraksi itu sendiri

Naruto mencabut Kunai itu dari perut Kokabiel, tangan yang tengah menggenggam sebuah Kunai itu kini telah berlumur dengan darah. Iris mata Naruto menajam seolah tidak peduli dengan keadaan Kokabiel yang kini terlihat sangat menggenaskan

"H-ha..."

Datenshi itu terlihat sangat kesusahan mengambil nafas panjang, kedua matanya yang merah hampir menutup sempurna, senyum mengejek kini terpampang diwajah Kokabiel seolah menghina Naruto yang kini menatap tajam kearahnya dengan penuh dendam

"A-aku yang mati... ta-tapi... tetap saja... k-kau y-yang ka-kalah..."

Ucapan Kokabiel agak tersendat dan terdengar lirih seolah tak dapat didengar lagi, senyum mengejek kembali terpampang diwajahnya memamerkan sederetan gigi yang telah dibasahi dengan darah merah yang kental

"Cepat katakan dimana Cincin itu Nyet!"

"K-kau K-Kalah..."

Kesal denga ucapan Kokabiel yang kembali mengejek dan tidak ada gunanya, Naruto melayangkan sebuah pukulan kearah wajah Kokabiel hingga membuat Datenshi itu sedikit kesakitan-terlihat di pipinya yang kini mulai memerah akibat pukulan Naruto

"Ka-kau ti-tidak akan b-bisa me-menemukannya..."

"K-karena... a-aku membuangnya di ce-celah dimensi..."

"H-Ha..."

Tepat setelah Kokabiel mengambil nafasnya untuk yang terakhir kalinya, matanya mulai menutup secara sempurna, jari-jemarinya yang sedari tadi telah berlumur dengan darah kini terkapar tak berdaya, seringai terpampang diwajahnya sebagai kenangan untuk Naruto di akhir hidupnya

"Tch!"

Naruto mendecih kesal, ia mulai berdiri, berjalan meninggalkan tubuh Kokabiel yang kini tak bernyawa lagi

*Swuuuushh*

Angin mulai menerpa tubuh Naruto yang kini hampir seluruhnya dibaluri dengan darah, iris mata blue-saphire miliknya menatap datar sebuah hutan kecil yang kini berada didepannya

Itu benar, Naruto kini berada disebuah pulau kecil yang entah berantah, pulau itu hanya satu dan dikelilingi dengan pantai indah yang berbatasan dengan laut yang luas membentang dengan air jernih berwarna biru yang membuat siapa saja ingin mandi disana

"Sial!"

Naruto mengepalkan erat genggamannya, raut wajahnya kini terlihat sangat kesal seolah sangat membenci takdir yang menimpa dirinya saat ini

"Bagaimana bisa aku pulang kalau jadinya begini!"

Ucap Naruto monolog, kakinya mulai menginjak-injak pasir yang dipijaknya mencoba melepaskan rasa kesal yang menjalar dihatinya

Itu benar, Naruto kembali berpindah ke sebuah tempat yang tak pernah ia duga sebelumnya, dan sama seperti sebelumnya, ia kembali berpindah tempat karena sebuah kecelakaan dan itu diakibatkan oleh Kokabiel

Namun untuk kali ini, ia merasa sangat sial, bayangkan saja? Saat ini dia berada disebuah pulau yang tak tahu ada dimana, pulau terpencil yang dikelilingi pantai yang langsung berbatasan dengan laut lepas

Jika dilihat secara lain, itu memang terlihat menyenangkan. Kau bisa menghabiskan waktumu dengan berenang dilaut lepas, mengambil ikan yang ada disana dan menenangkan pikiranmu hanya dengan memandang pemandangan asli yang berada didepan mata

Namun saat ini bukan itulah yang dipedulikan oleh Naruto, yang ia pedulikan saat ini bagaimana caranya ia bisa pergi dari dunia ini, dunia yang tak pernah ia kenali ini

Kadang Naruto berpikir, apa takdirnya memang seburuk ini?

Naruto menghela nafas, emosinya mulai sedikit mereda, mencoba menghirup udara segar yang kini disediakan secara gratis oleh alam. Tepat setelah itu Naruto lalu menoleh kebelakang, tatapannya menjadi datar saat ia melihat genangan darah yang kini membasahi sekumpulan bulu gagak yang lumayan banyak

Naruto mendongak keatas, menatap langit biru yang indah dengan awan abstrak sebagai penghiasnya, tangannya mencoba menutupi matanya saat cahaya matahari yang tajam mulai memasuki matanya

"Seburuk inikah takdir hidupku?"

"..."

"Kuso!"

::

::

::

::

"Kampret! Ikannya lepas lagi!"

Decih sesosok pria paruh baya yang mengenakan Yukata hitam, tangannya yang tengah menggenggam joran pancing terlihat kesal dan sedikit gregetan saat targetnya lepas lagi. Yah, saat ini dia tengah memancing sebuah ikan berukuran tak lebih dari telapak tangannya sendiri

Pria itu menarik joran pancingannya, mengambil cacing tanah yang berada disampingnya lalu menancapkannya ke kail, lalu kembali melemparkannya ke sungai yang berada didepannya sambil menunggu sang target memakan umpannya

*Drrrt!*

Tepat beberapa menit setelah ia melemparkan kailnya ke sungai, umpannya dimakan sang target hingga membuat joran yang ia genggam bergetar hebat, dengan cekatan pria paruh baya itu langsung menarik jorannya hingga membuat ikan yang memakan umpan itu tertarik keatas dan langsung diambil olehnya

"Yo! Lumayan buat mengisi perut"

Ucapnya senang saat mendapat ikan yang hanya sebesar tak lebih dari telapak tangannya, pria itu langsung melepaskan kail yang menyangkut di mulut ikan itu lalu menaruh ikan hasil tangkapannya ke ember yang berada disebelahnya

"Azazel..."

Pria paruh baya itu menoleh kebelakang saat namanya dipanggil, ia menjadi tersenyum saat matanya kini menangkap sesosok figur remaja laki-laki berambut perak yang saat ini tengah berjalan kearahnya

"Vali kah? Konbanwa!"

Vali tak menanggapi sikap Azazel yang memberi salam padanya dengan tingkah yang agak konyol, ia terus saja berjalan dan langsung duduk disamping Azazel

Azazel tersenyum simpul, ia sudah tahu kalau ada yang lain dari muridnya yang satu ini, lagipula jarang sekali Vali mau menemuinya di tempat ini, kecuali ada sebuah masalah yang tak bisa Vali hadapi, maka ia akan mendatangi Azazel untuk meminta sebuah bantuan

"jadi, apa yang ingin kau tanyakan kali ini?"

"Apa kau tahu dimana Naruto berada sekarang?"

Azazel memejamkan matanya, meresapi perkataan yang dilontarkan Vali kepadanya sambil menikmati alunan angin yang menerpa dirinya, sedikit mengambil nafas segar lalu membuangnya kembali

Azazel sebelumnya sudah mengira bahwa hal seperti ini akan terjadi, sebuah tragedi yang terjadi di Kuoh Academy dan memaksanya untuk memainkan alur dimana ia membuat Naruto yang menjadi pemeran utamanya dan menjalankan peran yang sudah seharusnya ia mainkan dengan baik

Lagipula satu-satunya orang yang sangat mengerti tentang Naruto di dunia ini adalah Azazel, Gubernur Datenshi itu mengerti tentang Naruto yang dengan berat hati menerima takdir yang telah mempermainkannya, ia juga mengerti tentang perasaan Naruto yang amat merindukan dunianya walaupun remaja pirang itu bisa dengan baik menyimpan perasaannya

Azazel mengerti tentang Naruto karena Naruto percaya, bahwa Azazel merupakan sesosok Datenshi yang pantas untuk dipercaya

"Mungkin ia sudah pulang ke dunianya, kurasa"

"..."

"Jadi, itulah mengapa kau menyuruh Naruto untuk membantai Kokabiel?"

Azazel mengangguk pelan merespon ucapan Vali, senyum simpul kembali terpampang diwajah Gubernur Datenshi itu

Ia tahu, kalau apa yang dilakukannya ini mungkin saja tidak bisa diterima oleh Vali, Rize, dan Kurumi. Ia sangat mengerti bagaimana rasa kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup

Tapi apa yang ia lakukan hanya ingin membantu Naruto, ia ingin membuat Naruto kembali ke dunianya dan meluapkan semua rasa rindunya itu akan dunianya yang dulu. Karena itulah ia memilih Naruto untuk menyelesaikan tragedi yang didalangi oleh Kokabiel

Karena di mata Azazel, satu-satunya jalan untuk membuat Naruto kembali ke dunianya adalah mempertemukan remaja pirang itu dengan Kokabiel

Tapi ada sebuah kemungkinan yang terjadi menurut Azazel. Jika saja Kokabiel membuat celah dimensi secara acak melalui Cincin itu, bisa saja Naruto pindah ke dunia yang lain, bukan dunia yang telah lama ia rindukan

Kemungkinan itu memang benar adanya, tapi Azazel hanya bisa berharap agar Naruto bisa kembali ke dunianya

"Aku mengerti perasaanmu, tapi aku hanya ingin membantu anak itu"

"..."

"Kau pikir dengan melakukan seperti itu, kau bisa mengerti keadaannya?"

Ucapan Vali tadi membuat Azazel menoleh kearahnya, ditangkapnya kini sosok Vali yang menatapnya dengan tatapan mendalam hingga membuat Azazel hanyut dalam tatapan Vali yang kini mulai berubah menjadi kesan yang dingin

Alis Azazel sedikit mengkerut, tidak biasanya Vali seperti ini, apa terjadi sesuatu diluar dugaannya? Atau mungkin kepalanya terbentur batu?

"Apa maksudmu Vali?"

"Kau tidak akan mengerti, karena masalah ini berkaitan dengan gadis itu"

"Gadis itu?"

"Ya... gadis yang bisa memanipulasi waktu sesukanya itu"

"..."

Tepat setelah mengucapkan hal terakhir, Vali langsung berdiri dan meninggalkan Azazel yang masih memikirkan hal yang baru saja ia ucapkan

Mengerti apa yang diucapkan Vali, Azazel langsung menoleh kearah Vali sambil membuka mulutnya

"Vali tunggu! Jadi Maksudmu?"

"Kau benar, aku mungkin belum tahu bagaimana reaksinya saat aku memberitahu tentang Naruto nanti, namun akan sangat merepotkan jika kekuatannya meledak hanya karena Naruto yang entah pergi kemana"

"Jadi, gadis itu mencintai-"

"Bukan mencintai sih, tapi kurasa ia menyukai Naruto"

*Swuuuush...*

Dan tepat setelah selesai Vali mengucapkan kata terakhirnya, Pemuda berjulukan Hakuryuukou itu langsung pergi dengan menghilang terbawa angin, sedangkan Azazel hanya bisa menghela nafas lelah

"Huh... Merepotkan"

::

::

::

::

- Unknown Place

"Hah... Bosannya..."

Ucapnya tepat setelah menghela nafas panjang, kedua tangan yang menyilang kini menjadi bantalan kepalanya, bersandar disebuah pohon kelapa mengingat tempat itu berada dipinggir pantai, mata biru yang indah miliknya kini menatap langit dengan dalam

"Bagaimana kabar mereka disana ya?"

Meskipun matanya kini tengah menatap langit, namun pikirannya kini jauh menerawang dan membayangkan bagaimana kabar mereka, mereka yang dimaksud Naruto adalah teman seapartemennya, siapa lagi kalau bukan Vali dan Rize serta Kurumi

"Huft..."

Naruto masih tak menyangka, beberapa waktu sebelumnya ia masih berada di kota Kuoh tepatnya di Kuoh Academy, namun kini? Ia tengah berada disebuah pulau terpencil yang entah berada dimana

Lucu memang tapi memang beginilah takdir hidup Naruto. Ini merupakan kedua kalinya bagi Naruto mengalami hal seperti ini, yang pertama adalah kota Kuoh yaitu dunia keduanya sepeninggal dirinya dari Elemental Nation, awalnya ia mencoba membuat kota Kuoh menjadi dunia yang layak untuk dirinya, namun apa daya takdir mempermainkannya hingga membuatnya datang ke tempat yang ia tak tahu seperti pulau ini

"Hah, merepot-"

*Duaag!*

"Ittee..."

Naruto langsung meringis kesakitan dengan tangan yang memegangi kepalanya saat buah kelapa tempat ia bersandar jatuh dari pohonnya hingga mengenai kepalanya, raut wajahnya menjadi kesal dengan hati yang mengutuk dalam-dalam pohon yang kini menjadi sandarannya

Beberapa menit berlalu, membuat perutnya bergetar dan sedikit perih meminta jatah untuk diisi, Naruto lalu mengambil buah kelapa yang tadi menghantam kepalanya, pemuda pirang itu lalu mengambil kunai dari sakunya lalu membelah kelapa itu untuk dimakan

*Sriiing!*

Belum sempat untuk memakan buah kelapa yang baru saja ia buka itu, perhatiannya teralihkan saat dilangit kini muncul sebuah celah dimensi yang amat besar, hal itu membuatnya tersenyum dan segera bangkit berdiri, namun senyumnya luntur saat celah dimensi itu mengeluarkan sosok naga merah raksasa yang terbang dengan lambat

"I-itu..."

"Naga kan?"

::

::

::

::

::

::

::

:: [To Be Continued] ::

:: [A/N] :: Domo! Ada yang kangen dengan Author yang satu ini?

Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Reader sekalian semua yang telah menunggu lama fic ini hingga lumutan, sekaligus berterima kasih kepada Reader yang masih setia menungu kelanjutan Fic ini walau butuh waktu yang sangat lama untuk menunggu

Banyak alasan yang bisa saya gunakan kenapa saya bisa sangat lama mengupdate Fic yang satu ini, meskipun begitu, kalian tidak ada yang percaya dengan alasan saya bukan?

Sesuai perkiraan saya, kemarin banyak yang bertanya kemana Naruto pergi? Chapter ini menjawab pertanyaan yang kalian lontarkan, gak ada yang spesial sih dari dunia Naruto yang baru kali ini, hanya saja akan ada cerita menarik kedepannya mengenai naga apa yang dilihat Naruto dan apa yang akan dilakukan Naruto nantinya

Dan ya! Kokabiel tewas ditangan Naruto, ada yang puas? Memang dari kemarin rencana yang saya inginkan begini, berbeda dengan Canon dan tetntunya berbeda dengan Fic yang lain

Soal apakah Naruto akan balik lagi ke Kuoh atau enggak, kita lihat aja kedepannya, saya gak bisa kasih Spoiler atau semacamnya untuk Reader sekalian, karena hal itu akan membuat Viewcount pada Ficsaya jadi menurun :v

Oh ya! Tadi ada beberapa bagian scene Romance ValiRize loh! Ada yang suka? Awalnya sih pengen nambahin adegan Lemon yang agak-agak, tapi kurasa itu akan ngehancurin feelnya, jadinya dibatalin deh!

Dan selanjutnya masuk ke tahap balasan Review!

[Infinity Karma] :: Ini udah update kok! Maaf kalo kelamaan dan membuatmu menunggu lama!

[ . 165] :: Pertanyaan kamu terjawab di chapter ini, dia nyasar ketempat entah berantah :v , btw Makasih banget loh udah mendoakan saya! Sankyuu dan untukmu yang terbaik deh!

[Afadfatih03] :: Iya, Naruto dah pergi ketempat lain, soal balik apa kagak? Tunggu saja kedepannya ya!

[Gigs] :: Tentu saja! Saya memang membuat karakter Vali agak beda dengan yang lain, soalnya saya cukup suka dengan Chara yang satu ini

[Ayub.L Lawliet] :: Makasih loh! Tapi sayangnya update kali ini sangat lama (Gomen -_-) Naruto memang beneran pindah dimensi, tapi bukan dimensi OP ^_^

[yellow flash115] :: Jawaban kamu terjawab di Chapter ini, soal dia balik ke Kuoh apa enggak? Tunggu saja kelanjutannya ya!

[DAMARWULAN] :: Sama seperti pertanyaan diatas, pertanyaanmu terjawab di Chapter ini!

[Oelwe] :: Yeah! Ane memang suka Chara Izumi Sagiri :v , pengen sih dijadiin Waifu tapi sayang masih dibawah umur :V

[Arasi] :: Tentang perasaan Kurumi, akan terjawab dichapter depan!

[Guest] :: Tapi sayangnya, Naruto bukannya pulang kampung tapi terdampar ditempat entah berantah :v

[The Kings] :: Saya tau kok kalau kekuatan Naruto yang sebenarnya di Canon itu jauh diatas Kokabiel (ini menurutku)

Tapi gini, saya Cuma negebuat adegan battle yang balance, lagian kalau saya buat Naruto yang overpowered, yang lain pada protes kan? Dan Word yang akan didapat tidak sesuai dengan yang saya butuhkan

Disini Naruto itu gak saya buat overpower, tapi saya buat biasa saja, lagipula setting alur ceritanya bukan diambil setelah PDS 4 dimana kekuatan Naruto yang udah melambung tinggi

Saya Cuma ngebuat Scene Battle sesuai selera Reader sekalian kok, kalo kamu mau pengen Naruto yang udah full-power dan bisa ngalahin yang lain Cuma dengan dihajar sekali doang, kamu gak bisa menemukannya disini

[M. Ridho Firmansyah] :: Ini udah lanjut kok! Maaf kalo update-nya kelamaan, btw kamu bisa aja! Ini bukan satu-satunya fic yang paling bagus menurutmu, masih banyak Fic lain yang lebih bagus daripada punya saya yang satu ini

[Davit] :: Jawabannya ada di Chapter ini...

[Mr. Uzumaki 22] :: Kokabiel gak punya air mata Phenex, bahkan di Canonnya dia gak memilikinya satupun, yang jelas dia udah mokad :v

Anggota ORC memang Cuma jadi penonton aja kok, mereka Cuma ngebantu Naruto sama Vali dengan melawan Cerberus, tapi yang jelas kedepannya peran Naruto akan sangat dibutuhkan oleh ORC sendiri karena dia termasuk saksi atas kelakuan Kokabiel plus Cuma dia yang tahu apa maksud Kokabiel yang sebenarnya

[Guest] :: Dia udah mati beneran kok! Cuma saya gak ngasih tau secara langsung kemaren. Soal Issei, ah~ males saya ngebahasnya :v saya juga masih heran sih kenapa banyak Author termasuk saya nge Bashing dia? Padahal sih sifatnya di Canonnya gak seburuk itu

[DandiDandi] :: Ha'i Ha'i! Saya disini kok~! Pertanyaanmu yang pertama akan terjawab dichapter depan, tapi saya rasa kamu sudah menduganya saat membaca chapter ini bukan?

[Ahmadsayuti1003] :: Oke Thx support nya! Saya juga ketawa kok ngeliatnya :v biarin aja lah!

[TsukiNoCandra] :: Gua bingung sama Author yang satu ini? Seneng banget nge flame fic ini dari kemaren

Tentang Fanfic ini jelek atau sebaliknya saya tidak bisa menilainya tapi jika saya bisa menghibur para Reader dengan tulisan saya, itu sudah lebih dari cukup bagi saya

Dan saya bukan Wibu, saya Cuma suka Anime dan beberapa Chara cewek yang moe terlebih pada Chara cewek yang Loli. Suka Fap-fap? Elu aja kali!

Dan untuk hinaanmu yang lain saya males ngebahasnya, bukan karena Down tapi saya malah ketawa sendiri ngeliatnya

Dan Flame seperti ini kamu bilang kritik? Mending cari dulu deh pengertian Kritik di google sana! Flame yang hanya berisi hinaan bukan Kritik namanya

Daripada repot-repot nge-flame Fanfic ini, mending kamu lanjutin tuh FF punya kamu yang udah lama gak diupdate, sibuk nge-flame orang lain sedangkan Fic sendiri gak diurus :v

[Saputraluc000] :: Naruto gak balik ke Dunia Shinobi apalagi ke Dimensi OP, tapi yang jelas Kokabiel dah mokad kok! Btw Sankyuu atas doanya, saya doakan kamu juga sehat-sehat selalu

[KuroRyuu7] :: Thx atas pujiannya, saya bersyukur banyak yang suka Scene Battle yang kemarin, soal Fic saya yang lain saya usahakan agar cepat selesai dan bisa diupdate!

Tentang perbedaaan waktu, yang jelas pasti berbeda karena dua dimensi itu tidaklah satu dunia, karena dunia sendiri memiliki perbedaan waktu dibeberapa tempat, ngerti maksud saya kan?

[Namikaze Sobirin] :: Jawabannya ada di Chapter ini, dan soal saranmu kayaknya gak bisa deh karena kamu tahu kan kalo Naruto gak balik ke dunia Shinobi?

Sekian balasan Review untuk chapter kemarin, mohon maaf kepada beberapa Review yang tidak sempat saya balas, Gomennasai!

Sekian perjumpaan kita kali ini, mohon maaf jika ada kata-kata yang salah dalam penyampaian A/N ini, dan sampai jumpa di Chapter berikutnya!

::

::

::

:: [Kurosaki Kitahara Has Been Logged Out!]::

:: [Mind to Review?] ::