Disclaimer: All related things to Persona 3 and Persona Trinity Soul belong to ATLUS. Shadow the Hedgehog belongs to Sonic Team and SEGA. All Persona who have similiarities with character from other game, movie, anime, etc belong to their respective; And also my friends to themselves.
Chapter 25
Independence's Eve
(Part 1: First battles)
"This is it!" kataku berdiri di depan gedung Universitas Pamulang. "Kalian semua udah siap 'kan? Kalo ada yang mau mundur nggak apa-apa kok!" tanyaku memastikan. "Nggak, kita semua udah siap menghadapi apapun yang akan terjadi nanti. Lagian jarang-jarang aku bisa bertarung kayak begini!" jawab Afrian tegas. "Aku juga! Aku nggak mau cuma jadi satu-satunya orang yang diam dan menunggu sementara kalian berjuang!" kata Arif setuju.
"Well then, let's go!" kataku sambil membuka gerbang yang kebetulan tidak terkunci, diikuti teman-temanku yang berada di sampingku. Kami langsung berlari menuju gedung utama begitu melihat pintu depan yang terbuka lebar. "Tunggu!" tiba-tiba Afrian menghentikan kami.
"Kayaknya mereka tau deh kalo kita akan datang. Nggak mungkin mereka membiarkan pintu itu terbuka kalo mereka nggak mau ada tamu nggak diundang masuk." jelas Afrian curiga. "Kalo gitu kita harus waspada, siapa tau ada jebakan begitu kita masuk!" saran Heri. "Biar ku aja yang masuk duluan. Di antara kita berlima, cuma ku sama Heri yang udah berpengalaman. Dan dalam hal jebakan, reflex ku lebih cepat jadi ku bisa langsung menghindar." kataku mengajukan diri.
"Oke Gir, we counting on you!" kata Afrian menepuk pundakku. Aku langsung berjalan perlahan-lahan sebelum memasuki gedung tersebut. Begitu aku berada tepat di depan pintu, aku mengulurkan tangan kananku ke dalam gedung. 'Okay, kayaknya nggak ada sensor alarm...' pikirku menarik tanganku. Lalu aku pun masuk ke dalam, dan seketika itu juga aku keluar. "Oh, nggak ada lubang jebakan." kataku lega.
"Sekarang tes apa lagi ya?" pikirku berhati-hati. "Woooii! Mau sampe kapan kita harus nunggu di luar?" teriak Heri tidak sabar. "Iya, iya... ku baru mau nyuruh kalian masuk!" kataku bohong. "Lama amat sih... waspada nggak sampe sebegitunya kali, Hes!" gerutu Andjar. "Tau ah! Udah cepet masuk!" kataku kesal.
Diluar dugaanku, begitu kami semua masuk, tidak terjadi apa-apa. Sepertinya pihak musuh memang sudah menantikan kami. Dan nyatanya perkiraanku memang benar, tiba-tiba di depan kami muncul sosok seorang pria tua.
"Selamat datang para Persona User yang terpilih!" sapa pria tersebut. Kami semua langsung menjaga jarak dan mengambil posisi bertarung. "Siapa kau?" tanyaku serius. "Namaku adalah Prof. Sutemo, akulah pemilik gedung ini." jawabnya memperkenalkan dirinya. "Bagaimana kau bisa tau kalo kami akan datang ke sini?" tanya Afrian penasaran.
"Cepat atau lambat semua Persona User yang masuk ke dalam dimensi Anti Hour ini pasti akan berkumpul di sini. Karena sinyal mesin Grayvitation memiliki efek untuk menarik semua Persona User ke sini. Seperti kalian saat ini dan beberapa orang sebelum kalian." jelas Profesor.
"Untuk apa kau mengumpulkan semua Persona User di sini?" tanya Heri. "Tentu saja... untuk mengambil semua Persona kalian dan membuatku menjadi Persona User terhebat di dunia! Kalian anak muda tidak mengetahui kekuatan Persona yang sebenarnya! Untuk itulah aku memanggil kalian semua ke sini sekaligus mengakhiri hidup kalian! Hahaha!" kata orang tua itu tertawa sinis.
Aku merasa akan berbahaya jika kami tetap di dalam. "Semuanya, cepat keluar dari sini!" perintahku tiba-tiba. Kami segera mundur dan berlari menuju pintu keluar. "Hmph, sudah terlambat!" mendadak pintu yang kami masuki barusan tertutup rapat. "Cih, ku nggak akan terjebak untuk kedua kalinya! Arcana Weapon, Excalibur!" teriakku mengeluarkan pedangku.
Aku segera menebas pintu tersebut dengan cahaya Excalibur, berharap akan hancur seperti saat di museum. Anehnya seranganku barusan justru terpantul ke arahku. "Whoa!" untungnya aku sempat menghindar. "Percuma, pintu tersebut sudah dipasangi alat pemantul serangan. Sekuat apapun serangan yang kalian gunakan untuk menghancurkannya, hanya akan terpantul kembali kepada kalian." jelas Prof. Sumeto tersenyum.
"You bastard!" teriakku kesal sambil berlari ke arahnya. Aku langsung mengayunkan pedangku ke tubuhnya. Tetapi pedangku langsung menembus tubuhnya, seakan-akan dia hantu. "Nggak usah repot-repot, ini hanya hologram kok." kata pria itu santai. "Why you?".
"Stop Gir! Percuma kamu nyerang hologram. Lebih baik kamu simpan tenagamu dan kita dengarkan dulu perkataan orang tua itu."saran Afrian menghentikanku. "Tuh, temanmu saja lebih pintar darimu. Sudah, duduk tenang saja dulu. Aku yakin setelah ini kau bisa bertarung sepuasmu. Itu pun kalau kau masih hidup..." jelas Profesor. "Diam kau!" teriakku kesal.
"Apa maksud anda dengan bertarung sepuasnya?" tanya Heri sopan. 'Aneh, ngapain sopan kepada orang itu? Orang kayak gitu 'kan nggak pantes disopanin.' pikirku bingung. "Seperti yang barusan aku bilang, kalian harus bertarung dengan anak buahku jika kalian ingin keluar dari tempat ini." jelas Profesor.
"Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, kalian akan memperoleh kunci yang dapat membuka pintu di belakang kalian. Tapi aku tidak yakin kalian bisa menang. Bahkan dari tadi tidak ada satupun penantang yang berhasil keluar dari sini. Jadi nikmati saja pertarungan terakhir kalian! Hahaha..." kata pria tua itu tertawa puas.
"Sekuat itukah mereka? Ku jadi penasaran, mungkin karena lawan mereka hanyalah Persona User yang belum berpengalaman. Berbeda dengan ku, akan ku buat mereka merasakan penderitaan orang-orang yang telah mereka kalahkan!" kataku penuh percaya diri. "Hoo... kau terlihat sangat percaya diri. Baguslah, aku jadi bisa menyaksikan pertarungan yang sangat menarik. Buatlah aku merasa terhibur." kata Profesor tersenyum.
Tiba-tiba hologram orang itu menghilang. Dan kembali muncul sebagai dua hologram yang berada di depan dua tangga yang berlawanan arah. "Nah, bagaimana kalau kita mulai saja permainannya? Kalian bebas memilih tangga yang akan kalian lewati. Tapi tiap tangga hanya bisa dilewati oleh dua orang. Silakan dipilih!" jelas Profesor sambil menunjukkan tangga tersebut kepada kami.
"Tunggu dulu! Kami 'kan berlima, berarti ada satu orang yang ditinggal di sini dong?" protes Arif. "Oh, benar juga... Tetapi dua orang diantara kalian bukan Persona User 'kan? Tenang saja, kedua orang tersebut tidak akan kuanggap peserta. Jadi kalian semua bisa naik. Bagaimana?" kata Profesor memberikan keringanan. Yang sebenarnya tidak bisa disebut keringanan juga sih, berhubung ini menyangkut nyawa lima orang.
Kami berlima segera berdiskusi untuk menentukan tangga yang akan kami pilih. "Gimana, setuju nggak?" tanyaku. "Yah, mau nggak mau... daripada kita di sini terus." jawab Andjar. "Kalo gitu gimana kita bagi kelompoknya?" tanya Heri. "Jelas Heri sama Afrian barengan, soalnya Heri 'kan udah lama jadi Persona User, jadi bisa bantuin Afrian. Sisanya sama ku aja." usulku.
"Tapi kalo kayak gitu kasian Andjar. Dia 'kan jadi satu-satunya Persona User di kelompok kamu." kata Afrian tidak setuju. "Iya, tapi 'kan meskipun ku bukan Persona User ku masih bisa bertarung. Nggak kayak a certain someone..." kataku sambil melirik ke Arif. "Hey..." protes Arif. "Hm... gimana kalo Arif sama kita aja? Soalnya kasian Andjar harus ngurus dua orang kalo kalian terluka. Kalo aku 'kan masih ada Afrian, jadi aku bisa ngurus Arif." saran Heri.
"Ya udah... aku sih oke-oke aja, kamu gimana Rif?" tanya Afrian. "Aku sih nggak masalah di grup mana aja, 'kan aku nggak mungkin bertarung." kata Arif pasrah. "Tapi ada kemungkinan kamu juga diserang lho! Jadi hati-hati aja..." kataku memperingatkan Arif. "Jadi, udah beres ya? Hes sama aku pilih tangga yang kiri. Heri, Afrian sama Arif ke tangga kanan." jelas Andjar menyimpulkan. "Yup, tangga mana aja sih ku nggak masalah! Akan kuhabisi mereka semua!" kataku bersemangat.
Selesai berdiskusi, kami segera berpisah dan berjalan menuju tangga masing-masing. "Good luck guys!" salamku sebelum menaiki tangga. "Jangan mati duluan ya! Eh, tapi boleh juga sih. Nanti kalo mati deck kamu buatku ya?" ejek Afrian. "Heh, justru kebalikannya tau!" balasku. "Well then, let's begin the battle!".
Universitas Pamulang, First Floor, West Side
Party: Anggir-Andjar
"Hes yakin teman-teman Hes bisa bertarung? Kalo cuma Heri sih aku yakin, tapi Afrian sama Arif..." tanya Andjar kuatir. "Tenang aja, Afrian 'kan biasa main game war strategy, jadi dia pasti bisa bertarung." jawabku. "Kalo Arif?". "Well... kita berharap aja dia nggak dibantai." kataku ragu.
"Kalo aku jadi kalian, aku pasti bakalan nguatirin diriku sendiri karena berhadapan dengan kami." kata seseorang di depan kami. Kami berdua langsung menoleh ke depan dan melihat dua orang anggota Exon yang kami kenal. "Ternyata kita bertemu lagi, cepat juga ya? Akhirnya aku bisa membalas kekalahanku tadi." kata Brian kepadaku.
"Kau lagi? *sigh* ternyata ku emang ditakdirkan untuk menghabisi kalian ya? Kirain ku akan ketemu Persona User yang lain..." kataku kecewa. "Huh, akan aku buat kau menyesal berbicara seperti itu! Black Knight!" kata David mulai naik darah. "Oo0... udah mau mulai ya? Okay, bring it on!" kataku memegang Excalibur.
Aku dan Persona hitam tersebut segera maju dan berhadapan, saling beradu pedang berkali-kali *trang,traang,trangg*. Tiba-tiba di bawah kakiku muncul pusaran angin, aku langsung melompat mundur sebelum terpental oleh pusaran tersebut. "Kak, hati-hati dong kalo nyerang! Hampir aja aku kena!" protes David kepada kakaknya. "Kalo begitu kamu nggak pantas melawan dia. Lihat, dia tidak kaget sedikitpun oleh seranganku." jelas Brian.
'Jelas aja, ku abis lawan dia sih... jadi ku udah biasa sama serangan dia.' pikirku. "Tapi aku juga mau balas dendam dengan perbuatannya waktu itu!" kata David tidak mau mengalah. "Kalo begitu aku berikan kamu waktu lima menit untuk melawannya. Kalo kamu bisa melukainya sekali aja, kamu boleh habisi dia." tantang Brian. "Cuma sekali? Itu sih kecil!" kata David menerima tantangannya.
"Hm, kalo gitu... Arcana Change, Fortune!" kataku mengganti status Arcana-ku. Sesaat kemudian, semburan api menyambutku dari depan, yang dengan mudah aku hindari dengan berguling ke kanan. "Ha, kena kau!" kata David sudah berada di sisi kananku. Dia segera mengayunkan tinjunya kepadaku, tetapi aku langsung jongkok dan menyandung kakinya hingga dia terjatuh.
"Kurang ajar!" teriak David kesal. sebelum dia berdiri, aku langsung menghunuskan pedangku ke lehernya. "Die, before you stand!" kataku mengayunkan pedangku. Tiba-tiba tubuh David sudah menghilang dari hadapanku. "Apa aku bilang, kamu nggak akan bisa menang lawan dia." kata Brian. Persona miliknya membawa David yang terlihat panik.
'Ternyata dia dari tadi masih berdiri di situ. Kirain lagi lawan Andjar.' pikirku sambil menengok ke arah Andjar yang juga terdiam dari tadi. "Lho, kamu masih di situ, Jar? Kirain lagi bertarung lawan Brian." kataku kaget. "Abis dia diam aja sih, jadi Ade nonton aja deh..." jawab Andjar santai.
"Baiklah, kalo begitu mari kita mulai pertarungan yang sebenarnya!" kata Brian kepadaku. "Andjar, kamu urus David! Biar Hes yang lawan dia! Arcana Change, Tower!" perintahku kembali serius. Aku dan Brian segera berjalan ke kanan, menjaga jarak satu sama lain. Lalu Brian maju duluan, aku pun segera menyambutnya.
"Garula!". Pusaran angin kembali muncul dihadapanku, aku segera menghidar ke samping sambil terus berlari ke arah Brian. "Valco, Assault Dive!" Persona berbentuk Jet itu segera menyerangku dari atas. Aku berusaha menangkisnya dengan pedangku. Tiba-tiba Brian memukulku dari arah depan. Aku yang masih menangkis serangan Valco, langsung terpental begitu terkena pukulannya. Aku berusaha menjaga keseimbangan kedua kakiku agar tidak terjatuh.
"Ugh, boleh juga seranganmu... huh?" aku merasakan sebuah energi yang berkumpul di atasku. Dengan cepat aku melompat ke belakang, menghindari serangan tersebut yang ternyata adalah Zionga. "Hm, cepat juga gerakanmu... menarik, bagaimana kalo kita coba lagi? Valco, Sonic Wave!" kata Brian mengujiku.
Kali ini Persona tersebut menyerangku dari depan. "Ku udah capek menghindar melulu, Excalibur!" teriakku mengayunkan pedangku yang mengeluarkan sinar, mengarah ke Persona itu beserta pemiliknya. Terkejut, kedua targetku terkena telak seranganku.
"Aaargghh! Padahal Valco berhasil menahannya, kenapa seranganmu tetap mengenaiku?" kata Brian tidak percaya. "Heh, pintu baja aja ancur gara-gara serangan ini! Masih untung tubuhmu nggak ancur berkeping-keping." jelasku santai.
Saat aku mau kembali menyerang, tiba-tiba muncul semburan api di depanku beserta bongkahan es yang terpecah-pecah di sekitarku. Lalu muncul Persona milik Andjar dan David yang saling menyerang, diikuti pemiliknya yang menghindari serangan. "Ziwee, Twin Shot!" perintah Andjar. Persona berbentuk Kiwi tersebut langsung mengeluarkan dua helai bulunya dan menyerang lawannya. Tetapi Persona David berhasil menangkis dengan pedangnya.
"Hey De, kalo berantem liat-liat dong! Hes hampir aja kena serangan kamu!" protesku. "Ya namanya juga lagi berantem, mana mungkin bisa liat keadaan sekitar?" jawab Andjar. "Yah, setidaknya jangan gangguin Hes dong! Padahal Hes hampir menang nih!" kataku masih kesal. "Ya udah, aku pergi deh! Zeep, Garula!" Persona berbentuk Domba itu berhasil mementalkan lawannya menjauhi tempat bertarungku.
"Puas?" tanya Andjar berlari mengejar lawannya. "Oke, thanks!" kataku puas. "Now, back to battle... eh?" kini sosok Brian sudah menghilang dari pandanganku. "Jangan pernah mengalihkan perhatianmu dari musuh!" kata Brian di belakangku. Belum sempat aku menoleh ke belakang, dia sudah memukulku ke depan. Karena kaget, pedangku pun terlepas dari tanganku dan terpental jauh.
"Nah, sekarang kau akan merasakan sakitnya seranganmu barusan." kata Brian mengambil pedangku. "Hey, balikin pedangku!" kataku sambil berdiri. "Kita lihat apakah kau bisa menahan seranganmu sendiri!... hm, apa ini?" Brian terkejut begitu melihat pedangku bercahaya dan kembali menjadi Arcana Card. "Hehe... maaf ya, pedang itu cuma bisa digunakan olehku." kataku tersenyum.
"Cih, benda nggak berguna!" kata Brian kesal meremas kartu tersebut, tetapi kartu itu justru bersinar dan mementalkan Brian. "Ghuuaahh...". "Udah ku bilang 'kan kalo kartu itu adalah senjataku? Artinya kalo musuh yang memegangnya pasti akan terluka." jelasku.
"Cukup main-mainnya! Sekarang juga akan aku akhiri hidupmu! Valco, Magarula, Mazionga!" perintah Brian kesal. Tiba-tiba di sekitarku muncul badai besar disertai petir-petir, aku merasa tubuhku ditarik oleh badai tersebut. "Hahaha... mati kau!" teriak Brian tertawa. Jelas kali ini aku tidak bisa menghindar, untuk bertahan ditempat saja sulit. Bahkan Andjar juga ikut tersedot.
"Andjar!" teriakku berusaha menangkap tangan Andjar. "Gotcha!" kataku berhasil menangkapnya. Tetapi malah tubuhku yang kini tersedot. Kami berdua pun masuk ke dalam badai tersebut. "Huuaahh! Gimana nih Hes? Kalo begini terus kita bisa mati!" kata Andjar panik. "Cepat panggil kedua Persona kamu! Suruh pake Garula ke arah kita!" jelasku cepat. "Eh? Garula?" tanya Andjar bingung. "Udah cepat panggil!" teriakku tidak sabar.
"Zeep, Garula!" Persona itu langsung membuat pusaran angin di bawah kami. "Sekarang, pegangan ke Persona kamu! Suruh yang satunya buat lubang angin!" perintahku. "Gimana caranya?". "Pikir aja sendiri, 'kan kamu yang punya Persona! Suruh aja pake serangan fisik!" kataku panik. "Oke, Ziwee, Headstrike!" kata Andjar menuruti perkataanku.
Ziwee langsung membenturkan kepalanya ke dinding angin. Dengan dorongan dari serangan Garula barusan, Persona Kiwi tersebut berhasil menembus dinding angin tersebut dan mengeluarkan kami dari dalam badai. "Aouw!" teriakku terjatuh, sementara Andjar mendarat dengan selamat karena di tahan oleh kedua Personanya.
"Hes nggak apa-apa?" tanya Andjar kuatir. "Lumayan sakit sih, tapi masih mendingan daripada di dalam badai. Lain kali suruh Persona kamu pegangin Hes juga!" komentarku kesal. "Iya maaf, Ade heal deh! Zeep, Diarama!" luka-luka di tubuhku mulai menghilang, begitu juga dengan rasa sakitnya.
Kini badai yang menjadi sumber masalah kami pun menghilang. "Masih bisa selamat? Akan aku buat kalian tidak bisa bergerak lagi! Valco, Blade of Fury!" Persona berbetuk Jet itu segera terbang melewati kami diikuti serangan berupa pisau-pisau angin. "Kali ini kalian tidak punya senjata untuk menangkis seranganku!" kata Brian.
"Think again! Arcana Weapon, Dual Sword!" kataku menggenggam Fool Arcana Card milikku. "Whirlwind!" aku segera memutar tubuhku dan menciptakan pusaran angin yang memantulkan serangan Brian. "Apa yang kau lakukan barusan?" kata Brian shock. "Simple, Dual Sword itu ringan dan mirip kipas. Jadi ku bisa membuat angin dari senjata ini dan ku buat arah anginnya berlawanan dengan seranganmu." jelasku santai.
"Maragion!" tiba-tiba Persona milik David muncul dan menyerang kami. Aku dan Andjar menghindari serangan tersebut dengan melompat berlawanan arah. "Jangan lupa, lawanmu adalah aku!" kata David mengejar Andjar. "Black Knight, Fatal End!" perintah David. Andjar berguling untuk menghidari serangan tersebut. Tetapi Persona hitam itu terus menerus menyerang Andjar.
'Gawat, kalo kayak gini terus Andjar bisa kecapekan gara-gara menghindar melulu!' pikirku kuatir. "Andjar, emang kamu nggak punya senjata ya?" teriakku. "Mana punya, makanya pinjemin dong!" jawab Andjar sambil menghindar. "Nggak bisa, senjata Hes cuma bisa di pake Hes sendiri!" jelasku.
"Sudah kubilang jangan pernah mengabaikanku!" kata Brian kembali muncul di dekatku. Tapi kali ini aku berhasil menangkis pukulannya dengan kedua pedangku. "Tadi ku nggak bisa nangkis karena pedangku terlalu berat. Tapi sekarang lain ceritanya... Heah!" aku langsung menebas tubuh Brian. "Aaarggh!" Brian terluka, tetapi dia langsung mundur untuk menghindari serangan tambahanku.
"Ternyata aku salah menilaimu... tetapi sekarang kau tidak akan bisa menyerangku lagi!" tubuh Brian mulai melayang ke udara. "Hm, jadi sekarang main serangan jarak jauh ya? No problem, I'm gonna finish you in a flash!" kataku berlari ke arahnya.
"Magarula, Mazionga!". "Serangan itu lagi ya... kali ini akan ku patahkan seranganmu sebelum selesai!" kataku melompat ke arah pusaran angin sebelum bersatu dengan petir-petir. Sedetik kemudian aku muncul dari atas pusaran angin dan mengarah kepada Brian. "Take this, Chaotic Strike!" teriakku menebas Brian enam kali, dan serangan ketujuh sebagai finishing ditambah petir dari efek senjataku.
"How come?" kata Brian terkejut setelah terkena seranganku. "'kan tadi udah ku bilang kalo kau akan tamat dalam sekejap!" jawabku tersenyum. Brian pun pingsan setelah terjatuh ke lantai. "Fyuh, akhirnya menang juga..." kataku lega.
"Uurrgghh!" tiba-tiba aku mendengar teriakan Andjar. Aku langsung menoleh ke tempat Andjar bertarung. Aku lihat kaki Andjar terluka akibat tertebas pedang Black Knight. "Andjar!" teriakku kuatir. "Jangan mendekat! Atau akan kuhabisi nyawa adikmu!" ancam David sambil Personanya mengarahkan pedang kepada Andjar. "Sekarang akan aku balas perbuatanmu tadi kepadaku melalui adikmu!" kata David kepadaku.
"Pengecut! Kalo mau balas dendam kenapa nggak langsung kepadaku aja?" teriakku. "Diam kau! Kau sudah menghabisi kakakku. Tapi yang akan terjadi berikutnya adalah kebalikannya!" teriak David kesal. sekilas aku lihat Andjar berusaha meraih sesuatu di dekatnya secara perlahan-lahan. Aku pun berusaha mengalihkan perhatian David.
"Meskipun kau berhasil mengalahkan Andjar, bukan berarti kamu bisa mengalahkanku! Jadi percuma kau melawan!" kataku berusaha membuat David tetap berbicara denganku. "Oh, ya? Mari kita lihat apakah kau bisa menyaksikan kematian adikmu setelah berbicara seperti itu!" kata David kembali fokus kepada Andjar. 'Sial, ku gagal mengalihkan perhatiannya!' pikirku panik.
"Matilah kau! Black Knight, habisi dia!" perintah David. Persona miliknya segera mengayunkan pedangnya ke tubuh Andjar. Di luar dugaan, Andjar menahannya dengan kartu. "Hah, itu 'kan..." kartu yang Andjar pegang langsung bersinar dan menjadi... "Pedang Excalibur milikku... kenapa bisa dipake Andjar?" kataku heran. Lalu Andjar segera mendorong Persona hitam tersebut mundur.
"Hoo... jadi sekarang kau punya senjata ya... tapi tetap saja aku yang akan menang! Black Knight, Dawn to Darkness!" David mengerahkan segenap kekuatannya untuk melakukan serangan tersebut. Tiba-tiba muncul aura hitam di tubuhnya dan pedang Personanya. "Attack!" begitu Persona hitam itu mengayunkan pedangnya, gelombang kegelapan keluar dari pedang tersebut dan mengarah kepada Andjar.
"Andjar, fokus! Pake serangan Excalibur yang tadi Hes tunjukin!" teriakku menginstruksikan Andjar. "Haaahh! Excalibur!" Andjar segera mengayunkan pedangnya ke arah David. Kedua serangan tersebut saling bertabrakan.
'Seri! Kalo begini terus tinggal bergantung kepada siapa yang lebih kuat... gimana ini, padahal kaki Andjar terluka. Dia pasti nggak akan bisa terus-terusan berdiri menahan serangan musuh.' pikirku kuatir.
"Boleh juga... tapi apa kau bisa terus menahan seranganku ini? Hahaha..." kata David tertawa. Andjar malah tersenyum. "Bosen juga ya kalo begini terus... Zeep, Mind Charge!" Domba itu segera muncul dan memperkuat serangan Andjar. Kini serangan Andjar lebih kuat sehingga membuat David terdesak.
"Let's finish this! Ziwee, Assault Dive!" Kiwi itu segera masuk ke dalam sinar Excalibur dan terdorong hingga berhasil menusuk Black Knight dengan paruhnya. "Guuaahhh!" teriak David kesakitan. Serangan Black Knight pun menghilang, sehingga sinar Excalibur mengenai tubuhnya telak.
"WoW..." kataku takjub sampai terbengong melihat serangan barusan. "Hes?" Andjar berusaha menyadarkanku. "Ah! Hes nggak nyangka kalo kamu ternyata sekuat itu! Hebat banget!" kataku memuji Andjar. "Tapi kok kamu bisa pake senjata Hes sih? Ku kirain cuma ku aja yang bisa." tanyaku baru sadar. "Itu juga Ade nggak sengaja ambil kartu itu. Abis udah terdesak sih..." jawab Andjar.
"Ya udahlah, yang penting kamu selamat dan kita pun menang!" kataku lega. "Oh iya, jangan lupa ambil kunci dari mereka!" kata Andjar baru ingat. "Bener juga! Ayo kita cek mereka!" kataku segera mencari kunci di kantong celana Brian.
Setelah memeriksa semua kantong mereka, kami tidak berhasil menemukan kunci tersebut. "Kok nggak ada ya? Apa terjatuh pas mereka lagi bertarung?" kataku sambil mencari-cari di lantai. "Percuma... dari awal emang nggak ada kunci... untuk keluar dari gedung ini..." kata Brian mulai sadar. "Apa maksudmu?" tanya Andjar.
"Tujuan sebenarnya Profesor Sutemo menyuruh kalian bertarung hanyalah untuk mengambil kekuatan Persona kalian jika kalian kalah. Begitu juga sebaliknya..." jelas Brian. "Lalu kenapa kalian masih mau bertarung kalo udah tau kalian juga kena akibatnya?" tanyaku penasaran. "Karena kami percaya pada Profesor... ugh..." Brian mulai kesakitan.
"Tugasmu sudah selesai Brian, kini bersatulah denganku!" kata hologram Prof. Sutemo tiba-tiba muncul dari tangga. "Aku akan mengambil kekuatan kalian berdua, sehingga kalian bisa hidup di dalam diriku." Dari belakang hologram muncul Persona berbentuk patung gurita yang sepertinya terbuat dari baja. Gurita tersebut mengeluarkan tentakelnya ke arah Brian dan David. Lalu menyedot Persona mereka melalui tentakel tersebut.
"Dasar tua bangka! Bisanya cuma main ambil kekuatan orang lain buat diri sendiri!" teriakku kesal. "Hmph, terserah apa katamu anak muda. Lagipula akulah yang memberikan kekuatan untuk mengendalikan Persona kepada mereka, jadi aku berhak mengambilnya kembali." jelas pria tua tersebut.
"Jadi kau yang memaksa mereka menjadi Persona User?" berani-beraninya kau memanfaatkan orang lain demi kepentinganmu sendiri!" kataku kesal. "Lalu kau mau apa? Sebentar lagi kekuatanku akan sempurna dan tidak akan ada satu pun yang dapat menghentikanku! Dengan begitu aku akan menjadi immortal!" kata profesor kejam itu bangga.
"Heh, kau bukan immortal, tapi immoral!" ejekku kesal. "Kau akan menyesal nanti anak muda..." katanya sebelum menghilang. "Wait up you moron!" teriakku berusaha menghentikannya. "Kayaknya mau nggak mau kita harus terus naik deh..." kata Andjar. "Iya, ku harap Arif dan yang lainnya baik-baik aja..." kataku kuatir.
(Third Person POV)
First Floor, East Side
Party: Arif-Heri-Afrian
"Heri!" teriak Arif panik melihat keadaan Heri yang sudah terluka parah dan berada dalam genggaman Naga Abu-abu tersebut. "Ternyata cuma segini kemampuanmu. Padahal kamu yang paling kuat dari pada dua orang temanmu itu. Kalo cuma begini sih nggak seru..." kata Refy kecewa. Kemudian Persona berbentuk naga itu langsung melempar Heri ke lantai. Untungnya Arif tepat berada di bawahnya sehingga Heri tidak terjatuh dengan keras.
"Heri, kamu nggak apa-apa 'kan? Heri, bangun dong!" kata Arif berusaha menyadarkan Heri. "Membosankan... bagaimana denganmu Ririn?" tanya Refy menengok ke arah Ririn yang sedang bertarung melawan Afrian. "Lumayan, tapi tetap saja bukan tandinganku! Tyrany, Bufula!" jawab Ririn sambil menyerang Afrian.
"Tandem, Cannon Shot!" Afrian segera memerintahkan Personanya menembak serangan Bufula. Tembakannya berhasil memecahkan bongkahan es tersebut. "Boleh juga... Vicious Strike!" Persona berbentuk Dinosaurus itu segera memukul Tandem dengan keras. "Uugghh... serangannya terlalu kuat!" kata Afrian menahan rasa sakit.
Arif pun kebingungan melihat kedua temannya yang kesulitan. 'Gimana nih? Aku 'kan nggak punya Persona, gimana caranya aku bisa nolong mereka? Aku emang nggak berguna...' pikir Arif pasrah. "Arif, lebih baik kamu kabur cari Anggir dan Andjar. Biar aku yang menahan mereka berdua!" kata Afrian.
"Oh, sok kuat ya... mau coba sekali lagi? Oke! Tyrany, Bufula, Vicious Strike!" Persona berbentuk dinosaurus itu segera menghancurkan balok es yang dikeluarkannya berkeping-keping. Pecahan es tersebut terpental ke arah Afrian dan menusuk sekujur tubuhnya. "Aaarrgghh!" teriak Afrian kesakitan. "Afrian!" teriak Arif makin panik.
"Tunggu apa lagi? Cepat pergi dari sini!" perintah Afrian. "Tapi...". "Jangan buang-buang waktu, CEPAT PERGI!" teriak Afrian lebih keras. Arif pun segera berlari meninggalkan Heri dan Afrian. "Mau ke mana?" tiba-tiba Refy beserta Personanya muncul dihadapan Arif. "Kalo kau pergi, mereka berdua akan mati. Jadi nikmati aja pertunjukannya." ancam Refy.
"Tandem, Garula!" sebuah pusaran angin muncul di bawah Refy. Tetapi Persona miliknya segera membawanya ke udara agar terhindar dari serangan tersebut. "Now, Cannon Shot!" Tandem segera menembak. Kini sebuah peluru meriam sedang menuju Refy yang baru saja terbang. "Kena kau!" kata Afrian puas.
Anehnya, peluru itu malah terpantul kembali kepada pemilik serangan. "Sial, tembak lagi!" perintah Afrian. Dua peluru meriam saling bertabrakan dan hancur sebelum mengenai Afrian. "Udah sana lari!" kata Afrian begitu melihat celah bagi Arif untuk kabur. Arif segera menuruti perintahnya dan berlari menjauh.
"Wah, kau mau melawan kami berdua sendirian? Aku salut atas keberanianmu, tapi sayang keberanian saja tidak cukup untuk mengalahkanku! Hernos, Megidola!" perintah Refy. Sebuah bola sinar turun dari atas dan menggetarkan tanah begitu sinar tersebut menyentuh lantai. "Ugh...".
Ground Floor
Di lantai dasar terlihat Arif sedang melarikan dirinya dari musuh yang sedang dihadapi Afrian. Lalu dia berhenti untuk mengambil nafas.
"*hosh,hosh,hosh* Gawat, kenapa malah jadi begini sih! Heri yang paling diandalin malah pingsan, Afrian sekarang sendirian melawan kedua orang sadis itu, dan aku malah kabur ke sini!" kata Arif bingung. "Tapi sesuai kata Afrian, lebih baik aku segera cari Anggir dan Andjar untuk menolongnya." Arif pun kembali berlari.
Tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dan membuatnya berhenti. "Tapi... gimana kalo Afrian sama Heri nggak selamat pas Anggir dan Andjar datang. Lagian saat ini pasti mereka juga lagi bertarung. Duuuh... kenapa sih aku nggak punya Persona?" Arif pun merasa makin stress.
"Hey, kalo bingung melulu nanti cepat tua lho!" entah kenapa mendadak terdengar suara Anggir. "Eh? Kalo nggak salah dulu Anggir pernah ngomong gitu ya?" kata Arif berusaha mengingat masa lalunya.
(Flashback)
"Gir, aku bingung... mendingan beli satuan atau langsung satu deck aja ya?" tanya Arif saat pertama kali membeli kartu Yugioh. "Ya kamu maunya gimana? Mau langsung jadi satu deck atau mau bikin sendiri?" kata Anggir balik tanya.
"Yah, maunya sih langsung satu deck biar bisa langsung dipake buat turney. Tapi kalo beli deck yang udah jadi kayak gitu pasti decknya kurang kuat. Sementara kalo beli satuan aku males nunggu jadi satu deck. Gimana ya..." jelas Arif. "Hey, kalo bingung melulu nanti cepat tua lho!" ejek Anggir. "Aaahh... makanya bantuin mikir dong!" kata Arif kesal.
"Ngapain repot-repot mikir? Langsung aja beli satu deck kalo emang pengen langsung duel. Masalah kuat atau nggak itu urusan nanti!" saran Anggir. "Biar lebih enak, kamu langsung beli satu deck, sementara ku beli satuan dulu. Jadi kita bisa liat siapa yang lebih berkembang. Tapi menurutku sih sama aja, cuma masalah waktu..." jelas Anggir.
(End of Flashback)
"Benar juga ya... kalo Anggir pasti akan langsung bertindak tanpa pikir panjang. Dia 'kan paling males milih-milih. Kalo begitu aku juga harus bisa memilih!" kata Arif penuh keyakinan. Arif pun segera berlari menaiki tangga.
'Afrian bilang, Persona dia bisa muncul karena dia ingin kekuatan untuk membantu Anggir saat dia terdesak. Kalo cuma begitu harusnya dari tadi aku juga bisa manggil Persona. Tapi Heri bilang Persona itu menggambarkan kepribadian diri sendiri. Jadi Persona harus sesuai dengan keinginan penggunanya. Lalu apa yang paling aku inginkan saat ini...?' pikir Arif sambil terus menaiki tangga.
Akhirnya Arif tiba di lantai pertama. Semua orang yang ada di tempat tersebut terkejut melihat kedatangannya. "Arif, apa yang kau lakukan? Kenapa kamu balik lagi ke sini? Mana Anggir dan Andjar?" tanya Afrian yang terlihat terluka parah. "Maaf, aku nggak ketemu mereka. Jadi biar aku aja yang gantiin mereka." jawab Arif.
"Hm, akhirnya kau sadar juga kalo sudah tidak ada jalan keluar dari kematianmu malam ini. Baiklah, akan aku berikan kematianmu! Hernos, Habisi dia!" perintah Refy. Naga abu-abu tersebut langsung menangkap Arif dan menggenggam tubuhnya. "Arif!" teriak Afrian kuatir. Arif hanya memejamkan matanya, berusaha berkonsentrasi.
'Sekarang aku harus bisa memanggil Persona milikku atau hidupku berakhir di sini. Artinya, yang paling aku inginkan saat ini adalah... Menjadi sang penguasa!' pikiran Arif akhirnya berhasil membangkitkan Persona miliknya. 'Thou art I, I am thou... I am the creature who shall grant thou a wish to this world... I am, Thapiros.' Sebuah suara muncul dari dalam pikiran Arif. "Come, Thapiros!" perintah Arif memanggil Personanya.
Di atas Arif muncul Persona bersosok hewan Tapir dengan warna biru dibagian depan tubuhnya dan merah dibagian belakang tubuhnya. Persona tersebut segera berputar-putar di atas kepala Hernos. Dan membuat naga tersebut melepaskan Arif. Bahkan kini naga abu-abu tersebut menyerang Tyrany.
"Hei Refy, apa yang terjadi dengan Personamu?" protes Ririn sambil menghindari serangan Hernos. "All hail si Ganteng! All hail si Ganteng!" kata Refy seperti kehilangan kesadarannya. "Ngg... Rif, emang tadi Persona kamu ngapain sih?" tanya Afrian bingung. "Nggak tau... aku nggak nyuruh apa-apa kok. Yang penting dia sudah mengakui ke-Gantenganku." kata Arif ge-er. Afrian langsung sweatdropped mendengarnya.
"Pasti kamu terkena Charm dari Persona barusan! Kalo begini terpaksa aku menggunakan kekerasan! Tyrany, Bufula!" bongkahan es langsung menyerang Persona berbentuk naga itu, tetapi serangannya langsung terpantul. "Sial, aku lupa kalo kamu bisa memantulkan serangan pertama! Tyrany, sekali lagi, Bufula!" kembali Tyrany menyerang Hernos dengan Bufula, dan kali ini berhasil mengenainya.
"Uuhh... apa yang terjadi padaku?" kata Refy merasa pusing. "Barusan kamu terkena Charm dari Persona Tapir tersebut. Makanya hati-hati dong!" kata Ririn kesal. "Begitu ya... jadi kita harus menyerangnya dua kali dengan serangan yang sama. Pantesan dari tadi seranganku mantul melulu!" kata Afrian menganalisa kemampuan Refy.
"Jadi kalian sudah tau rahasiaku ya? Kalo begitu sudah saatnya kita akhiri pertarungan ini! Megi—" "Thapiros, Megidola!" perintah Arif. Refy langsung shock melihat serangan yang persis dengan miliknya yang kini mengarah kepadanya dan Ririn. "Huuaahhh!" kedua anggota Exon tersebut langsung terkena telak. "Wah, Persona punyaku ternyata bisa copy skill!" kata Arif gembira.
"Dan hebatnya langsung kena telak tanpa mantul dulu ke kita! Berarti serangan itu tidak terpengaruh efek reflect dari Persona naga itu!" kata Afrian kembali menemukan kelemahan Refy. "Kurang ajar... bagaimana kau bisa..." kata Refy kesal. "Coba apa lagi nih, Rian?" tanya Arif mengabaikan Refy. "Terserah kamu, aku sih udah capek... " jawab Afrian lepas tangan.
"Berani-beraninya kalian mengabaikanku!" Hernos, Deathbo—huh, kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?" kata Refy menyadari ada sesuatu yang aneh pada dirinya. "Gawat, kita terkena efek Mamudoon!" kata Ririn panik begitu melihat lingkaran hitam di bawahnya. "Akhirnya aku berhasil menangkap kalian!" kata suara seseorang di belakang mereka.
Kedua Persona User yang terjebak itu segera menoleh ke belakang, dan menemukan sosok Heri yang tersenyum penuh kemenangan. "Animus, finish them off! Mamudoon!" perintah Heri. Dari lingkaran tersebut langsung muncul api hitam yang menyelimuti tubuh kedua anggota Exon tersebut dan membakar mereka hidup-hidup.
"Heri, kau udah sadar ya!" kata Arif dan Afrian berlari menuju Heri. "Ya, untung Animus baru punya skill Regenerate, jadi aku bisa menyembuhkan luka perlahan-lahan. Dan karena mereka tadi terlalu fokus kepada kalian berdua, aku jadi bisa menyiapkan jebakan deh!" jelas Heri.
"Hampir saja aku terbakar hidup-hidup..." tiba-tiba terdengar suara Refy di atas mereka bertiga. "Kau! Bagaimana kau bisa selamat?" tanya Afrian melihat Refy yang melayang dengan bantuan Personanya.
"Personaku punya skill Endure, jadi aku bisa bertahan dari serangan mendadak barusan. Meskipun begitu, aku jadi kehabisan tenaga untuk bertarung. Jadi pertarungan kita ditunda dulu ya!" kata Refy kabur. "Ayo kita kejar dia!" kata Heri. Mereka bertiga segera mengejar Refy menuju lantai berikutnya.
Continued to Part 2
Fyuh... ternyata ku bisa juga ngetik sepuluh halaman dalam sehari (padahal lima halaman aja butuh dua minggu). Dan akhirnya ku putuskan untuk membagi Chapter 25 menjadi dua bagian. Hal sama juga akan ku lakukan di Last Chapter, bahkan bisa lebih dari dua bagian.
Dan sesuai janjiku, Chapter ini almost full action-battle (yah, kalo full semua kapan ngobrolnya?). Juga ku akan menampilkan Profile dua Persona User yang belum ku kasih di chapter lalu
Antagonist Profile:
Exon's member number 3:
Nama: Refy Arianto
Sifat: Menyukai tantangan, menganggap Andjar sebagai rival seumur hidup (akan ku ceritain di chapter berikutnya)
Persona: Hernos
Bentuk: Naga abu-abu
Arcana: Star
Status: Repel all attack for once, exept almighty attack and also Light and Dark element
Skill: Deathbound, Megidola, Tetrakarn, Makarakarn, Vicious Strike, Power Charge, Endure, Diarama
Protagonist Profile:
Nama Lengkap: Muhammad Arif Cahyadi
Panggilan: Arif, Bantet, Bulet, si Ganteng, Lebay
Sifat: Mahalebay... narsis tingkat tinggi, orang yang bisa dibilang otaku. Tapi gampang stress kalo lagi ada masalah, meskipun masalahnya sama sekali nggak penting.
Arcana: Magician
Persona: Thapiros
Bentuk: Tapir berwarna biru-merah
Status: Strong against Ice and Dark element
Skill: Copy Skill, Bufula, Mabufu, Marin Karin, Ice boost, Charmdi
Itulah Profile mereka berdua... dan maaf, karena ini baru part 1, jadi nggak ada Review's Respond di sini. Tenang aja, semua komentar ku simpen dulu. Di chapter berikutnya baru ku jawab semua deh, sekalian kalo mau tambah komentar juga nggak apa-apa...
Okay, thanks for reading! Dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya! (sebenarnya sih ku mau nulis "happy fasting!" tapi entah kenapa rasanya aneh...)
