Disclaimer : Yuri on Ice not mine

Rage by Cyancosmic

Warning: AU, Fem!Yuuri, Fem!Yura, OOC, 1st pov

.

.

.

Enjoy!

Yura: Taking back

Ini pasti salah satu siasat Viktor.

Setelah memanfaatkan Yuuri dan tinggal di sisinya selama beberapa waktu, sekarang malah pergi begitu saja kembali ke keluarganya. Mengingat situasinya tidak mungkin orang itu meninggalkan begitu saja anggota aliansinya dan pergi ke Rusia tanpa siasat apa pun. Belum lagi, sebelum pergi ia sengaja memberitahukan pada pemuda bernama Christophe bahwa ia akan membereskan sendiri keluarga Nikiforov. Kalau dia benar-benar tidak ingin melibatkan kami, harusnya dia tidak perlu mengumumkan segala bahwa ia akan membereskan keluarga itu. Kalau seperti ini 'kan sama saja halnya dengan orang yang hendak bunuh diri tapi mengumumkan ke semua orang bahwa ia hendak bunuh diri.

Well, setidaknya begitulah yang kupikirkan. Aku seratus persen yakin bahwa kami hanya akan jatuh ke perangkapnya bila menyusulnya ke Rusia, sayangnya aku tidak bisa memberikan alasan yang lebih persuasif pada Yuuri. Belum lagi, hanya orang itulah yang memegang kunci untuk menghilangkan pengaruh aksesoris dari Yuuri dan tanpanya kakakku akan selamanya terjebak dalam pengaruh aksesoris itu.

Hanya saja, aku sendiri tidak begitu yakin dengan efek aksesoris yang Yuuri katakan. Aneh sekali kalau hanya dia seorang saja yang masih terkena pengaruh aksesoris. Walaupun memang Christophe dan Otabek sempat menyebutkan bahwa kedua aksesoris yang aku dan Yuuri memiliki efek samping yang sama, tapi sepertinya tidak demikian halnya dengan lamanya pengaruh pada tubuh kami. Masalahnya, sewaktu mengenakan Agape, tubuhku hanya memerlukan pengobatan selama kurang dari dua belas jam. Sementara pada Yuuri, Viktor bahkan harus mengenakan Aria selama dua hari penuh.

Christophe bilang hal ini hanya terjadi pada pemilik darah seperti dirinya dan Yuuri, di mana penggunanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih rentan dibanding yang lain. Selain itu, menurutnya Yuuri yang tidak terbiasa menggunakan kemampuannya ditambah beban aksesoris membuat energinya terkuras habis. Sangat berbeda denganku yang sudah lebih terbiasa menggunakan kemampuanku.

Tapi, bukan berarti aku menerima begitu saja penjelasan tersebut. Mungkin memang benar bahwa aku sering menggunakan bakatku tanpa kusadari, mungkin juga aku lebih terbiasa dengannya dibanding Yuuri. Namun pernyataan bahwa ketahananku jauh lebih baik, mungkin tidak tepat seperti dugaan Christophe. Entah mengapa, aku juga merasakan sedikit efek samping penggunaan aksesoris walaupun mungkin tidak seekstrem Yuuri yang harus terbaring selama dua hari penuh.

Lagipula, bukan hanya aku saja yang terkena efek samping penggunaan aksesoris tersebut. Dari keterangan Christophe - hanya dia yang bermulut besar dibanding yang lain - aksesoris memang selalu memiliki efek samping. Baik Otabek Altin, bahkan Seung Gil yang menyebalkan pun turut terkena efek samping dari aksesoris yang mereka gunakan. Advent yang dikenakan Otabek misalnya, memiliki kemampuan untuk meningkatkan suhu tubuh dan membuat lapisan panas yang dapat membakar apapun yang bersinggungan dengannya. Hanya saja, setelahnya penggunanya akan mengalami demam tinggi selama waktu pemakaian aksesoris. Pastinya begitu pula yang terjadi dengan Almavivo, walaupun aku tidak tahu efek samping apa yang dapat diberikan oleh aksesoris yang mampu memadatkan atau cairan atau partikel kecil di sekitarnya.

Fakta yang cukup mengerikan, bukan? Siapa sangka di samping kekuatan besar yang dihasilkan aksesoris, terdapat efek samping yang juga tak sedikit. Bahkan pada aksesoris tingkat tinggi efek sampingnya dapat merenggut nyawa penggunanya sendiri, seperti yang Yuuri dan aku kenakan.

Aku tidak mengerti kenapa Seung Gil, Otabek atau pun Viktor nekat menggunakan aksesoris seekstrem itu dengan kemampuan yang mereka miliki. Padahal dengan kemampuan mereka, musuh bisa saja dijatuhkan tanpa harus menggunakan aksesoris yang membahayakan nyawa mereka. Berbeda denganku yang tidak memiliki kemampuan setara bila tidak mengenakan aksesoris. Bila tidak menggunakannya, memiliki bakat untuk melihat lima detik setelahnya pun tidak berguna di hadapan para pengguna kemampuan seperti kemarin.

Dengan kemampuanku sekarang, sepertinya aku memang membutuhkan aksesoris itu bila ingin berdiri setara dengan yang lain. Hanya melihat lima detik ke depan saja tidak cukup bila aku ingin melindungi Yuuri dengan kedua tanganku. Aku membutuhkan aksesoris, sekalipun itu harus merenggut nyawaku. Lebih baik nyawaku yang dipertaruhkan dibanding nyawa Yuuri.

Sudah cukup bagiku melihat Yuuri bertarung layaknya seorang penari menarikan tariannya. Sudah cukup bagiku melihatnya terus mendorong musuh dengan tangannya yang kurus. Yuuri begitu rapuh, begitu rentan. Setiap kali ia menjejakkan kakinya ke tanah, aku khawatir ia akan jatuh dan tumbang. Salah-salah bukan menumbangkan musuh, ia malah mencelakai dirinya sendiri. Dan tentunya aku takkan membiarkan hal itu terjadi.

Daripada Yuuri, lebih baik aku saja yang melakukannya. Tanganku jelas lebih kuat dibanding tangan Yuuri yang mungil. Kakiku pun jelas lebih kuat dan lebih lincah dibandingkan dengannya. Aku tidak rapuh seperti Yuuri. Aku jauh lebih kuat darinya. Makanya, dengan aksesoris itu, aku pasti bisa melindungi Yuuri. Aku pasti…

"Kau belum mengambil makananmu?"

Lamunanku buyar begitu seorang pemuda muncul di hadapanku dengan membawa baki yang berisi beberapa makanan yang diambilnya. Ia menyajikan makanan tersebut di hadapan kami berdua sebelum perhatiannya kembali beralih padaku karena aku tidak menjawab pertanyaannya. Tangannya terulur lebih dulu dan menyentuh dahiku sembari berkata, "Wajahmu pucat."

"Oh…" Aku berkata dengan kepala tertunduk dan membiarkannya menyentuh dahiku. Entah mengapa ketika ia melakukannya, jantungku mulai berdegup tidak keruan sehingga aku menyembunyikannya dengan menundukkan kepala.

"Apa jangan-jangan efek Agape juga masih belum hilang?" Ia kembali bertanya dengan dahi berkerut. Tangannya masih menempel dengan nyaman di dahiku ketika ia berdecak dan kembali berkata, "Mungkin sebaiknya kita ke rumah sakit dan bukannya mengejar orang itu."

Kugelengkan kepalaku dan sekalipun enggan, akhirnya kuturunkan tangannya dari dahiku sembari berkata, "Kau belum lupa 'kan bahwa status kita ini buronan?"

"Memangnya kenapa kalau kita ini buronan?"

Kulipat kedua tanganku dan kuletakkan di atas meja. Kuberikan satu pandangan skeptis padanya lalu berkata, "Tuan Otabek Altin, tentunya kau tidak lupa 'kan bahwa sebelumnya kita diserang di pusat perbelanjaan juga di apartemenmu?"

Otabek mengangkat satu alisnya yang belakangan ini kupikir cukup … keren? Damn Yura! Jangan sampai perhatianmu teralih! Fokuslah pada perkataannya! Apa yang kau pikirkan sampai alisnya saja kau pikir keren?

"Kau tidak mau makan?"

Gelagapan karena tidak menyangka akan munculnya pertanyaan, akhirnya aku berkata, "Aku tidak lapar."

"Makanlah," ujarnya sambil memberikanku semangkuk penuh oatmeal dengan buah-buahan di atasnya. Melihat makanan yang sedikit berbeda dari biasanya itu, aku pun menaikkan alis sementara ia berkata, "Di pesawat juga diberikan makanan, tapi sebaiknya kau isi perutmu dulu sebelum terbang."

Mengingat Oatmeal bukan makanan favoritku, akhirnya aku berkata, "Untukmu saja. Aku tidak lapar."

Sembari mengaduk isi mangkuknya sendiri, pemuda itu berkata, "Tubuhmu terlalu kurus, sebaiknya kau makan."

"Kurus? Tidak! Aku jauh lebih berisi dibanding Yuuri."

Tatapan datar langsung dihadiahkan padaku begitu ucapanku selesai. Jelas sekali terlihat bahwa pemuda itu meragukan yang kuucapkan. Hanya saja ia tidak mau berdebat dan lebih memilih untuk berkata, "Cepatlah makan! Kemampuanmu mungkin bisa bertambah kalau kau makan."

"Benarkah?" Aku bertanya sementara mataku menyipit curiga. "Makan banyak bisa menambah kemampuanku?"

Pemuda di hadapanku itu mengangkat bahunya dan berkata, "Kau tidak mau?"

"Tentu saja aku mau kemampuanku bertambah," jawabku dengan antuasias. Pembicaraan mengenai bakatku membuatku lupa bahwa sebelumnya aku tengah terpesona padanya. "Makanya kutanya, apakah makan berlebihan dapat membantu meningkatkan kemampuanku? Menambahnya jadi lima detik, seperti katamu?"

Mata cokelat pemuda itu bertemu denganku sementara tangannya mendorong mangkuk berisi oatmeal dan buah-buahan. "Makanlah!"

Masih memandang dengan curiga, aku mengambil mangkuk yang ia sodorkan. Kuambil juga sendok dan mulai mengaduk seperti yang ia lakukan. Sembari mengaduk, kuangkat kepalaku dan kembali berkata, "Ngomong -ngomong, yang waktu itu kubicarakan..."

Sebelum aku melanjutkan ucapan, pemuda itu sudah memotongnya dengan berkata, "Tidak!"

Penolakannya membuat alisku berkedut. "Memangnya kau tahu yang mana yang kumaksud?"

"Soal menggunakan aksesorismu kembali," jawab pemuda itu sembari menyuapkan oatmeal bercampur buah berry-nya ke mulut. Ia menelannya terlebih dahulu sebelum kembali berkata, "Kurasa tidak."

Dahiku berkerut mendengar ucapannya. Aku pun berkata, "Kenapa memangnya?"

"Kau tidak perlu melakukannya." Ia berkata tanpa menatapku. Tangannya fokus menyuapkan oatmeal ke dalam mulutnya dan berkata, "Kami bertiga bisa melindungimu dan kakakmu."

Aku tahu mereka bertiga memang kuat dan mungkin setara dengan para petinggi keluarga Nikiforov. Tapi bukan berarti aku akan berdiam diri dan menyilangkan saja kedua lenganku di depan dada sementara tiga orang di hadapanku mempertaruhkan nyawa. Lagipula, bukankah akan semakin menguntungkan kalau aku pun dapat bertarung?

Kuungkapkan alasanku padanya, namun pemuda itu malah berkata, "Aku tidak melihat keuntungan bila kau menggunakan aksesoris Yura."

"Tidak melihat?" Aku bertanya sambil mengerutkan dahi. "Kau tidak perlu melihat. Kau hanya perlu berhitung. Satu ditambah tiga sama dengan empat. Bukankah akan bagus kalau ada empat orang yang dapat bertarung melawan empat orang di pihak lawan?"

"Yura," ucap pemuda yang akhirnya menghadapkan kembali kepalanya padaku. "Kalau bertarung seperti Matematika, kita sudah kalah sejak Georgi menyerang untuk pertama kalinya."

"Hei! Kau tidak bisa mengabaikan kemampuannya. Kalau kemampuanmu setara dengan seratus orang biasa, maka Matematika akan berlaku bila ada empat orang sepertimu 'kan?"

Tangannya berhenti mengaduk. Ekspresi datar yang biasa muncul di wajahnya sementara ia berkata, "Kau bukan orang keempat, Yura."

"Aku…"

"Lagipula, aksesoris yang kau kenakan dapat merenggut nyawamu." Pemuda itu mengatakannya tanpa mendengarkan ucapanku. "Dan aku tidak mau melihatmu kehilangan nyawa di hadapanku."

Mendengar jawabannya, bukannya tersentuh darahku malah langsung naik ke kepala. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku pun menyemprotnya dengan menggunakan suara meninggi. " Memangnya nyawaku ini milikmu? Apa masalahnya kalau aku yang kehilangan nyawa?"

"Masalahnya?" Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menatapku dengan tajam, membuatku tidak dapat berkutik. Nada suaranya benar-benar dingin saat ia berkata, "Kau bertanya padaku, 'apa masalahnya'?"

Seperti kedatangannya yang tiba-tiba, amarahku pun langsung lenyap saat mendengar suaranya. Kuurungkan niatku untuk membalas perkataannya berhubung instingku mengatakan untuk menahan diri dibanding membantahnya. Biasanya, pemuda ini tidak pernah menggunakan nada sinis seperti itu saat berbicara denganku.

Berhubung aku tidak mengucapkan apa pun dan Otabek juga tidak melanjutkan perkatannya, akhirnya kami hanya saling berpandangan hingga salah seorang dari kami mengalihkan pandangan. Sebelum ia berkata-kata lagi, aku sudah menundukkan kepala dan memainkan sendok yang kupegang. Aku masih ingin meyakinkannya bahwa menggunakan aksesoris adalah hal yang benar. Tapi, aku sedikit ragu terlebih setelah mendengarnya mendebatku dengan nada sinis. Untungnya seseorang mengambil alih giliranku berbicara dengan berkata, "Sedang membicarakan apa?"

"A... Yuuri," panggilku ketika melihat gadis itu duduk di samping si pemuda berpotongan undercut itu. "Kami tidak sedang membicarakan apa..."

"Yura bilang dia ingin mengenakan kembali aksesorisnya," potong pemuda itu sambil menunjukku. "Apa kau mengizinkan, Katsuki-san?"

Mulutku menganga saat mendengar ucapannya. Aku memang menyatakan apa yang kuinginkan pada pemuda ini, tapi aku tak memperhitungkan bahwa ia bisa saja membocorkan keinginanku itu pada Yuuri. Padahal aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa aku tidak mau Yuuri tahu? Kupikir pemuda ini berada di pihakku.

"Benarkah itu Yura?" Suara Yuuri langsung membuat perhatianku kembali terarah padanya. "Apakah benar bahwa kau ingin menggunakan aksesoris?"

Mudah saja bagiku untuk berbohong dan menenangkan Yuuri dengan mengatakan bahwa aku tidak akan menggunakan aksesoris. Tapi pastinya, di kemudian hari gadis itu akan mencurigaiku dan memproteksiku dengan seluruh kekuatannya. Karena tahu bahwa hal itu akan terjadi, aku pun lebih memilih untuk berkata jujur. "Ya."

Yuuri menatapku sambil menggelengkan kepala, tidak percaya. Selera makannya sepertinya langsung hilang setelah mendengar ucapan Otabek. Mangkuk berisi bubur yang ia bawa digesernya ke samping, sementara pandangannya mengarah padaku dan ia berkata, "Untuk apa?"

"Karena...," aku menundukkan kepala sebelum melanjutkan ucapanku, "aku membutuhkannya. Kemampuanku saja tidak cukup untuk berhadapan dengan mereka."

"Yura," ujar Yuuri sambil menyentuhkan tangannya di atas tanganku, "kukira kita sudah sepakat soal ini."

"Kita tidak sepakat soal apa pun, Yuuri!"

"Kau tidak akan mengenakan lagi aksesoris itu, Yura!" Yuuri berkata dengan nada tegas yang sama seperti Otabek. "Aku tidak akan membiarkanmu kehilangan nyawamu."

"Tapi Yuuri…"

"Aksesoris itu merenggut nyawamu," ujar gadis itu. "Untuk apa kau mengenakan sesuatu yang hanya akan membahayakan nyawamu?"

"Karena…," ucapanku terpotong ketika iris toscaku bertemu dengan iris cokelat Yuuri. Kata-kata seperti 'untuk melindungimu' tidak bisa kuucapkan di hadapannya. Sudah pasti Yuuri tidak akan setuju. Sudah pasti Yuuri takkan membiarkanku melindunginya. Malah kuduga, Yuurilah yang akan mengambil posisi itu bila aku mengatakannya. Karenanya, aku memilih untuk berkata, "Karena kemampuanku akan berguna bagi yang lain, terlebih bila aku menggunakan aksesoris. Dengan kemampuanku, takkan ada seorang pun yang akan terancam serangan dadakan!"

Gadis yang berdebat denganku itu sudah membuka mulut untuk membantah. Namun kali ini, orang lain lebih dulu merebut gilirannya bicara dengan berkata, "Berguna bagi yang lain? Dengan kemampuan yang hanya lima detik, apa yang bisa kau lakukan?"

Ucapan bernada sinis dari pemuda yang baru saja duduk sembari membawa baki berisi mangkuk berisi makanan Korea membuatku memberikan tatapan tajam padanya. Kemudian aku pun berkata, "Aku tidak minta pendapatmu, Seung Gil Lee!"

Pemuda yang tiba-tiba ikut campur dalam pembicaraan itu mengangkat bahunya dan berkata, "Aku hanya mengatakan fakta. Kau saja yang tidak bisa menerima pendapat orang lain."

"Mananya yang termasuk fakta dari ucapanmu?" Aku balas bertanya padanya. "Kau hanya sekedar menyampaikan opinimu."

"Tidak kok, aku menyampaikan fakta berdasarkan pengalamanku," ucapnya tidak mau kalah. "Memangnya dalam lima detik apa yang bisa kau lakukan? Hanya mendeteksi bara api yang akan jatuh? Otabek bahkan bisa menjatuhkan musuhnya lebih dulu sebelum kau melihat serangannya."

Pemuda yang tiba-tiba disebut namanya itu mengangkat satu alisnya, namun tak mengeluarkan suara untuk membantah. Hanya saja, aku tidak terima mendengar si pemuda Korea ini meremehkan kemampuanku begitu saja sehingga aku berkata, "Perlu kuingatkan tidak, kalau aku yang sudah menyelamatkanmu dari serangan Sara Crispino?"

Seung Gil menggerakkan kepalanya, menatapku. Sendok yang ia pegang diarahkan padaku sementara ia berkata, "Kau pikir aku tidak bisa apa-apa kalau tidak kau selamatkan? Sombong sekali si pengguna vision lima detik ini."

"Kenapa memangnya kalau hanya lima detik?" Aku membalas ucapannya yang selalu saja menekankan fakta bahwa aku hanya dapat melihat sejauh jangka waktu tertentu. "Nantinya juga akan bertambah kalau aku terbiasa menggunakannya."

"Beberapa visioner yang kutahu menghabiskan waktu lebih dari lima tahun hanya untuk menambah lima detik," jawab pemuda itu sambil mengaduk makanannya. "Kau yang baru mengetahui kemampuanmu selama lima hari memangnya bisa apa?"

"Itu…"

"Apa kau pikir dalam lima hari kemampuanmu dapat bertambah?" Ia berkata dengan sinis, seperti yang selama ini ia lakukan. "Jangan mimpi, Yura Plisetsky!"

Perkataannya sudah tentu hendak kubantah lagi. Sayangnya kali ini jatahku berbicara direbut lebih dulu oleh pemuda pirang yang mengambil tempat di samping Yuuri. Dengan santainya ia meletakkan baki berisi makanan dan langsung berkata, "Bisa kok."

Mendengar perkataan si pemuda pirang yang baru saja duduk dan meletakkan mangkuknya, aku pun kembali berkata, "Bagaimana caranya?"

Sembari mengaduk makanannya, Christophe Giacometti menatapku dan berkata, "Kalau kau sangat berbakat, bukan tidak mungkin kemampuanmu dapat bertambah dalam waktu singkat."

"Kemungkinannya 0,0000000001 %." Seung Gil kembali menimpali. "Tidak mungkin."

"Tapi…"

"Jangan pesimis begitu," Chris memberikan senyum dan tertawa ringan. Pemuda satu itu sepertinya tidak menyadari bahwa rekan-rekannya bahkan tidak menyambut pembicaraan ini dengan senyum di wajah. "Walaupun kecil, kemungkinannya masih ada, bukan?"

"Tidak!" Otabek langsung bersuara. "Tidak ada kemungkinan seperti itu."

"Kenapa jadi kau yang memutuskan?" Aku menatapnya dengan jengkel, lalu perhatianku beralih pada Chris lagi dan berkata, "Bagaimana caranya agar aku bisa menambahkan jangka waktu kemampuanku?"

Pemuda berambut pirang itu bergumam terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaanku. Kemudian ia berkata, "Keberuntungan, kurasa."

Dengan kata lain, tidak ada cara untuk mendapatkan kemungkinan yang super sedikit itu. Bagus sekali. Sudah menerbitkan secercah harapan, sekarang pemuda ini malah menggantungkannya. Setidaknya kalau ia menjatuhkannya, aku akan berhenti berharap dan mencari kemungkinan lain. Tapi kalau begini sih…

"Bagaimana kalau menggunakan aksesoris saja?"

"Tidak!" Serempak Yuuri, Otabek dan Seung Gil langsung bersuara. Mereka bertiga bahkan memberikan tatapan ganas pada Chris yang tengah mengaduk makanannya sehingga pemuda itu kebingungan.

"Kenapa memangnya?" Pemuda pirang itu akhirnya berkata dengan bingung. "Aksesoris bisa menutupi kelemahannya, 'kan?"

"Dia tidak membutuhkannya," jawab Otabek sambil menatapku tegas. "Takkan kubiarkan ia mengenakan kembali aksesoris itu."

Chris menggerakkan kepalanya dengan cuek. "Kau bicara begitu, tapi kau sendiri meminta aksesoris baru pada orang itu. Dasar inkonsisten!"

Mendengar perkataan Chris, aku pun mengalihkan perhatianku pada Otabek dan kembali berkata, "Kau meminta aksesoris baru? Untukku?"

"Tidak." Pemuda itu menjawabnya datar. "Dan sebaiknya kau tidak berbicara apapun, Chris."

Si pemuda pirang yang dipanggil namanya hanya mengangkat bahu dan menyantap makanannya dengan tenang. Sementara itu, aku mengambil alih tempatnya berbicara dengan berkata, "Kenapa kau meminta lagi aksesoris baru? Untuk siapa? Apakah itu untuk Yuuri?"

"Bukan untukmu atau pun Katsuki-san," jawabnya cepat sambil menyingkirkan mangkuk yang sudah habis isinya. Ia menyentuhkan satu tangannya di kepalaku dan kembali berkata, "Habiskan makananmu, Yura."

"Jawab dulu pertanyaanku!" Aku berkata sambil mengikutinya yang sudah bangkit berdiri dan hendak meletakkan mangkuknya ke tempat yang sudah disediakan. "Kenapa kau memesan aksesoris baru lagi? Untuk apa?"

Begitu pemuda itu telah meletakkan mangkuk bekasnya dan hendak berbalik, aku menghalangi jalannya dan melipat kedua tanganku di depan dada. Tatapan mataku sudah menyatakan bahwa aku ingin pertanyaanku dijawab, walaupun pemuda itu malah menghela napas dan menggerakkan kakinya menghindariku. Melihatnya, aku pun langsung mengejar pemuda itu untuk kembali menghalangi jalannya.

"Otabek!"

Sikap emosionalku sepertinya tidak berpengaruh padanya. Buktinya pemuda itu dengan santainya meletakkan tangan di kepalaku dan mengacak-acak rambutku. Ia tidak mengatakan apa pun, namun sepertinya aku mengerti. Entah bagaimana, aku tahu bahwa dirinyalah yang akan menggunakan aksesoris itu.

"Minggirlah, Yura!" Ia kembali berkata. Tidak ada nada dingin atau amarah di suaranya, seperti biasa. "Aku tidak mau berdebat denganmu."

"Kau meminta aksesoris itu untukmu sendiri?"

Lawan bicaraku itu mengalihkan perhatiannya dariku. Ia benar-benar tidak mau bicara rupanya. Melihat sikapnya, kuasumsikan bahwa dugaanku benar. Pemuda satu ini benar-benar membuatku sakit kepala. Aku tidak percaya ini. Ia setengah mati menentangku yang hendak menggunakan aksesoris karena itu akan membahayakan nyawaku. Tapi ia sendiri meminta tambahan satu aksesoris yang mungkin dapat mengancam nyawanya sendiri? Apa ia tidak salah?

"Kau itu…" ujarku sambil berdecak, "kenapa kau harus menggunakan aksesoris itu pada dirimu sendiri? Kau tidak mengizinkan orang lain menggunakan satu pun aksesoris, tapi kau mengenakan dua aksesoris pada dirimu sendiri. Apa kau tidak salah? Kau sedang mencoba bunuh diri?"

Otabek memutar bola matanya dan menghela napasnya saat mendengar ucapanku. Pemuda itu kemudian berkata, "Chris terlalu banyak bicara rupanya."

"Kenapa kau harus menggunakan dua aksesoris?" Aku kembali bertanya padanya. "Apa kekuatanmu tidak cukup? Kau itu sudah jauh lebih kuat dariku seharusnya kau berikan saja satu padaku dibanding memakai dua aksesoris di tubuhmu!"

"Tidak, kau tidak boleh menggunakannya." Pemuda itu berkata sementara tatapannya terarah kembali padaku. Ia juga meletakkan satu tangannya di atas kepalaku dan sembari berjalan melewatiku pemuda itu berkata, "Lagipula harus ada seseorang yang memegang peranan itu ketika Viktor tidak ada, bukan?"

Kepalaku menengadah dan menatapnya dengan bingung. "Peranan… apa?"

Lagi-lagi pemuda itu tidak menjawab dan hanya mengacak-acak rambutku. Sikapnya lagi-lagi membuatku kebingungan. Apa maksudnya? Peranan apa yang ia pegang? Peran sebagai Viktor? Peran sebagai sang Pakhan gila yang tak dapat dimengerti anak buahnya? Atau… apa?

"Aku tidak mengerti!" Aku berkata sambil berbalik dan menyusulnya kembali. "Peranan apa yang kau maksud? Apa kau bermaksud mengambil alih aliansi? Apa ini kudeta?"

"Bukan seperti itu," jawab pemuda itu akhirnya ketika melihatku menyusulnya. Langkahnya terhenti dan wajahnya kembali dihadapkan padaku. "Maksudku, harus ada seseorang yang menggantikan tempat Viktor untuk melindungi kalian."

"Melindungi?" Kuulangi ucapannya dengan mengerutkan dahi. "Tunggu! Jadi kau bermaksud mengenakan dua aksesoris untuk… melindungi aku dan Yuuri?"

Kembali Otabek mengalihkan pandangannya dariku dan ia berkata, "Apakah ada alasan lain?"

"Tapi… kau sudah cukup kuat," ucapku dengan tetap berdiri menghalanginya. "Untuk apa lagi kau menggunakan aksesoris? Kau…"

"Viktor jauh lebih kuat." Ia berkata dengan pandangan yang seolah memandang jauh ke depan.

Lagi-lagi alisku berkedut ketika mendengar perkataannya. Viktor jauh lebih kuat? Apa ia tidak salah? Selama ini aku hanya melihatnya sebagai orang gila yang hanya memiliki kemampuan regenerasi biasa. Kelihatannya ia tidak begitu hebat bila dibandingkan dengan musuh-musuh kami yang datang. Hanya saja, mendengar Otabek mengatakan bahwa orang itu jauh lebih kuat dari padanya, membuatku tak yakin lagi.

"Apa… kita selemah itu?" Aku kembali bertanya padanya. "Selemah itu sampai kau harus menggunakan dua aksesoris?"

"Kau tidak perlu khawatir," ia berkata sambil menyentuh lenganku, memintaku minggir.

"Tidak khawatir bagaimana?" Aku balas bertanya padanya. "Kau jelas tahu bahwa aksesoris itu memiliki efek samping, bukan? Apa kau sudah mempertimbangkan bahwa kemungkinan besar kita akan diserang saat kau terkena efek sampingnya?"

"Saat itu, Seung Gil dan yang lain dapat melindungi kalian," jawabnya sembari kembali melangkah meninggalkanku. "Lagipula selama kita tidak mencolok, tidak akan ada musuh yang menyerang."

"Tapi bukankah selama ini mereka juga menyerang walaupun kita tidak mencolok?"

"Memang, tapi buktinya sejauh ini tidak ada yang menyerang kita, bukan?"

Kukatupkan kembali mulutku mendengar perkataannya. Memang benar. Justru tanpa keberadaan Viktor, tidak ada musuh yang menyerang kami. Perjalanan kami dari rumah Chris hingga Bandara begitu lancar dan tanpa hambatan, sehingga dalam waktu singkat, kami sudah tiba di Bandara. Begitu lancarnya hingga terasa tidak wajar. Terlebih ketika semua orang seolah tidak menyadari bahwa kami ini buronan dan mempersilakan kami masuk begitu saja.

Aneh sekali. Padahal sebelumnya kami dikejar-kejar dan diburu walaupun kami tidak melakukan hal-hal yang mencolok, tapi sekarang kami diabaikan begitu saja. Bahkan poster buronan yang selama ini disebarluaskan pun langsung menghilang begitu saja. Seolah mereka sudah tidak tertarik lagi pada kami. Aneh. Benar-benar aneh.

"Wajar saja, 'kan?" Seseorang tiba-tiba ikut serta dalam pembicaraan kami dan membuatku menoleh dengan bingung ke arahnya. "Pimpinannya sudah menyerahkan diri, untuk apa lagi mengejar anak buahnya?"

Melihat orang asing berkulit sawo matang dengan rambut hitam yang dipotong datar pada bagian poninya itu membuatku menaikkan sedikit alis. Suaranya terdengar familiar, tapi sosoknya pun tampak tidak asing. Hanya saja, aku tidak ingat pernah bertemu langsung dengan pemuda ini.

"Kau sudah datang,"kata Otabek yang sepertinya mengenal pemuda satu itu, bahkan langsung berbicara dengan santai padanya. "Sudah kau bawa apa yang kuminta sebelumnya?"

"Ya, ya," jawab orang itu sambil mengeluarkan sesuatu dari tas selempangan yang disampirkan di bahunya. Ia mengeluarkan benda seukuran paspor dan menyerahkannya pada Otabek seraya berkata, "Paspor untuk lima orang dan tiket penerbangan menuju Rusia untuk lima orang. Silakan!"

Barang-barang tersebut sudah diterima oleh Otabek, namun tangan pemuda itu masih terulur seolah meminta sesuatu. Melihatnya, lawan bicaranya pun mengangkat alis dengan bingung sehingga Otabek terpaksa melanjutkan ucapannya. "Mana aksesoris yang kuminta, Phichit?"

Phichit? Phichit… Phichit… Rasanya aku pernah mendengar namanya. Di mana ya?

"Ah, aksesoris!" Pemuda bernama Phichit itu menganggukkan kepala sebelum merogoh kantung jaket yang dikenakannya. Ia mencari-cari sesuatu sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah gelang berwarna hitam kelam dan menyerahkannya pada Otabek. "Silakan!"

Otabek mengucapkan terima kasih singkat dan mengenakan gelang berwarna hitam kelam itu di tangannya. Ketika melihat caranya mengenakan gelang itu, si pemberi kembali berkata, "Sepertinya kau sudah bosan hidup, ya?"

Alis pemuda berpotongan undercut itu terangkat saat mendengar perkataan lawan bicaranya. Namun dengan datarnya, pemuda itu hanya menanggapinya dengan menggerakkan kepala dan berkata, "Bukan urusanmu, Phichit."

"Yah, memang bukan urusanku sih, lagipula aku juga tidak peduli," jawab Phichit sambil mengangkat bahu. "Kalau aku peduli, tentu aku tidak akan memberikan Agape dan Eros pada kalian, bukan?"

Ah! Benar! Pantas saja aku merasa pernah mendengar suaranya. Rupanya pemuda inilah yang waktu itu bersama Otabek saat kami berbelanja beberapa pakaian. Siapa sangka, orang ini akan muncul dengan sendirinya dan menunjukkan diri di hadapanku.

Hanya saja, sepertinya Otabek tidak terlihat senang ketika mendengar ucapannya. Pemuda satu itu menatapnya sinis dan berkata, "Jangan pernah memberikan benda seperti itu lagi!"

"Lho?" Phichit mengerjapkan mata saat mendengar nada sinis Otabek. "Kenapa? Kau tidak suka hadiah yang kuberikan untuk dua orang gadis itu? Padahal Agape dan Eros itu barang langka yang tidak ada duanya lho!"

"Pokoknya jangan!" Ia berkata dan kembali berbalik tanpa mengungkapkan alasannya. Ia juga menarik tanganku dan membawaku menjauh dari Phichit, sehingga aku hanya dapat bertatapan mata dengan si pemuda berkulit sawo matang itu.

Ketika melihatku, pemuda yang ditinggalkan Otabek sebelumnya itu langsung menyunggingkan senyum dan melambaikan tangannya. Kemudian ia berkata, "Yura Plisetsky 'kan? Halo, Yura!"

Aku mengerutkan dahi mendengarnya langsung menyebutkan namaku dengan lengkap sekalipun aku belum memperkenalkan diri. Namun aku tidak heran bila ia mengetahui identitasku, berhubung sepertinya ia dilengkapi dengan informasi yang jauh lebih lengkap bahkan dibanding aku sendiri. Waktu itu pemuda ini juga tahu bahwa aku dan Yuuri memiliki kemampuan dan ia juga tahu bahwa kami berdua pernah tinggal di panti asuhan Yakov. Padahal kami sendiri tidak tahu bahwa kami memiliki kemampuan semacam itu.

"Ayo!" Otabek berkata sambil menyeretku menjauh. Tentu saja aku mengikuti langkahnya dan hendak kembali ke meja yang kami tempati sebelum perkataan Phichit membuat kakiku berhenti di tempat.

"Bagaimana rasanya menggunakan Agape, Yura?"

Otabek mencoba menarik tanganku dan menyeretku agar kembali berjalan. Namun aku menepis tangannya dan menatap pemuda berkulit sawo matang yang baru saja ia temui. Aku pun berkata, "Kenapa kau ingin tahu?"

Pemuda berkulit sawo matang itu menggerakkan bahunya dan berkata, "Untuk testimoni? Paling tidak aku membutuhkan kesan dari seseorang yang masih hidup setelah menggunakan aksesoris itu supaya aku dapat merekomendasikannya pada orang lain, bukan? Sayang sekali kalau aksesoris itu hanya teronggok begitu saja dan tidak pernah dipakai."

Dahiku berkerut mendengar perkataannya. "Seseorang yang… masih hidup?"

Senyum kembali merekah di wajah pemuda berkulit sawo matang itu. Anehnya, aku tidak melihat kesan bersahabat dari senyuman yang ditunjukkan olehnya. Karenanya, begitu ia berjalan mendekat, aku pun tergoda untuk mundur selangkah dan menjauhinya. Untungnya, aku masih dapat menahan diri. "Jadi, bagaimana kesan-kesannya?"

"I-itu…"

"Kau tidak membutuhkan pendapatnya, Phichit," Otabek berkata mewakiliku. "Jual saja pada seseorang yang ingin kehilangan nyawanya. Bukankah itu yang biasanya kau lakukan?"

"Jangan membocorkan rahasiaku dong, Otabek!" Si pemuda berkulit sawo matang kembali berkata, "Daganganku bisa merugi kalau kau membocorkan rahasianya."

"Ayo, Yura!" Otabek kembali berkata sembari menyeretku dari pemuda itu. Hanya saja, aku masih tetap bertahan di tempat hingga membuat Otabek menyipitkan sedikit matanya. "Yura?"

"Kau penjual aksesoris?"

Phichit menggerakkan kepalanya dan berkata, "Semacam itu."

"Apa kau bisa memberiku aksesoris yang tidak akan mengancam nyawaku tapi dapat menambah kekuatanku?"

Alis Phichit terangkat sementara kelopak mata Otabek melebar saat mendengar pertanyaanku. Kali ini pemuda berambut undercut itu tidak menyeret atau menarik-narik tanganku untuk membawaku pergi dan lebih memilih untuk mengangkat pinggangku dan meletakkanku di bahunya sendiri. Aku sampai harus meronta dan meminta untuk diturunkan olehnya. Walaupun ia tidak menggubrisku dan terus saja berjalan menjauh dari sang penjual aksesoris. Untungnya saat itu Yuuri dan yang lain tidak melihatku karena kalau tidak, niscaya mereka akan datang dan semakin menambah keramaian.

Melihat tingkat kami berdua, si pemuda berkulit sawo matang itu tertawa hingga membuat langkah kaki Otabek terhenti. Ia memberikan tatapan yang mengancam pada si penjual aksesoris yang langsung menghentikan tawa dan berdehem-dehem saat melihatnya. Ketika ia sudah menguasai dirinya, Phichit pun kembali berkata, "Ada banyak tentu saja. Kalau kau ingin aksesoris yang tidak mengancam nyawa, maka yang bisa kuberikan padamu hanya aksesoris level rendahan."

"Apa aksesoris level rendah dapat digunakan untuk menghadapi petinggi Nikiforov?"

Phichit tampak berpikir keras sebelum menjawab. Ketika ia membuka mulutnya, ia berkata, "Tidak. Sayangnya tidak. Dengan kemampuanmu sekarang, kau harus menggunakan aksesoris level S agar bisa setara dengan mereka."

"Kalau begitu…"

"Tidak!" Otabek berkata dengan tegas hingga memotong ucapanku. "Kita sudah pernah membicarakan ini dan jawabanku tetap tidak, Yura! Kau tidak akan menggunakan aksesoris apa pun."

"Kau bukan ayahku, Otabek! Kau tidak berhak melarangku! " Aku berkata dengan sedikit keras sebelum kembali menatap Phichit dan mengulurkan tanganku padanya. "Berikan! Kalau begitu berikan saja aksesorisnya padaku."

"Biar kulaporkan pada Katsuki-san soal ini…"

Sebelum ia melakukannya, aku mencoba menggerakkan tubuhku dengan gusar hingga akhirnya pemuda itu menurunkanku dari bahunya. Begitu ia menurunkanku, aku pun bergegas menghampiri Phichit walaupun pada akhirnya Otabek menyusulku dan menahanku dengan memeluk pingganggku. Berhubung aku tidak berdaya untuk melepaskan diri sendiri, aku pun meronta sembari berkata, "Lepaskan aku! Lepaskan aku, Otabek Altin!"

Ia menghela napas dan menggerakkan tangannya menuju ke tengkukku. Melihatnya, aku tahu bahwa pemuda itu hendak menghilangkan kesadaranku, sehingga dengan panik akhirnya aku berkata, "Aku tidak mau dilindungi olehmu! Kau itu monster!"

Ucapanku sukses membuat tangannya berhenti di tempat. Mendengarnya, pemuda itu hanya mengerjapkan mata walaupun tidak mengatakan apa pun. Mengambil kesempatan itu, aku pun melepaskan tangannya dariku dan kembali berkata, "Aku tidak ingin mengatakannya, tapi kau tidak memberiku pilihan."

Otabek tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan iris cokelatnya yang membuatku harus berusaha keras untuk mempertahankan kebohonganku.

"Mana mungkin aku mempercayakan diriku pada monster yang sudah mendorongku jatuh?" Aku kembali berkata sambil menyilangkan kedua tanganku. "Terlebih kau juga menggunakan dua aksesoris. Siapa yang tahu kalau kau tidak akan menyerangku seperti waktu itu?"

Tidak ada jawaban dan aku mulai takut bahwa ucapanku sudah keterlaluan. Hanya saja aku tidak punya pilihan lain bila ingin menghentikan pemuda itu sehingga aku kembali meneruskan ucapanku dengan berkata, "Mengatakan akan melindungiku dan kakakku, mana mungkin aku percaya? Bisa saja kau diam-diam merencanakan untuk mencelakakan kami, terlebih saat ini kau menggunakan dua aksesoris. Memangnya ada jaminan bahwa kau tidak akan mencelakai kami saat menggunakan dua aksesoris itu?"

Yang bersangkutan tidak mengakatakan apa pun untuk membela dirinya, namun aku tidak berani membalikkan badan. Aku tidak berani melihat wajahnya, tidak berani memandang matanya. Aku tahu lebih baik dari siapapun bahwa pemuda itu takkan pernah menyakitiku atau pun Yuuri. Aku tahu bahwa pemuda itu akan mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk melindungi kami. Aku sudah tahu itu. Tidak perlu diucapkan pun aku tahu.

Hanya saja, aku terpaksa menyakitinya. Aku terpaksa membuatnya mundur. Tidak bisa kubiarkan pemuda ini mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk melindungiku dan Yuuri. Itu tidak adil untuknya. Nyawaku dan kakakku adalah tanggung jawabku. Tidak seharusnya aku membebankannya pada pemuda yang menyalahkan dirinya sendiri hanya karena pernah mendorongku jatuh di masa yang bahkan tak pernah kuingat lagi.

"Berikan padaku!" Aku berkata sambil mengulurkan tanganku pada Phichit. "Level S atau apa pun, berikan padaku!"

Phichit menaikkan alisnya dan ia berkata, "Hm, aku punya banyak aksesoris level S, tapi apa kau bisa membayar?"

"Bayar?"

"Tentu saja," jawab Phichit sambil mengerjapkan mata. "Altin Family membayarku untuk mensuplai kebutuhan Otabek, begitu juga dengan Chris, Seung Gil dan Viktor."

"Tapi kau memberikan Agape dan Eros…"

"Itu juga sudah dibayar oleh Altin Family," jawab pemuda itu sambil mengangkat bahu. "Kalau kau tidak bisa membayar, aku tidak akan memberikan aksesoris."

Aku terdiam, tidak bisa menjawab. Bayar? Aku harus membayar dengan apa di saat sepeser pun tidak menempel padaku. Bagaimana caranya aku mendapatkan aksesoris kalau aku tidak punya uang untuk membayarnya? Apa aku bisa membayarnya dengan hal lain?

"S-Selain uang," ucapku sambil menatap Phichit, "mungkin aku bisa memberikannya."

Pemuda berkulit sawo matang itu tampak mempertimbangkannya. Namun tak lama kemudian, ia berkata, "Yah, berhubung kau sudah menyajikanku hal yang menarik, bagaimana kalau kupinjamkan saja?"

"P-pinjam?"

"Suatu saat, akan kuambil kembali," ujar pemuda itu sambil merogoh sesuatu dalam kantungnya sementara tangannya yang lain menarik tanganku. Begitu ia menemukannya, ia pun meletakkan benda itu ke dalam tanganku dan berkata, "Bagaimana?"

Kubuka tanganku untuk menatap benda yang ia berikan. Melihat benda yang tak asing itu, mataku pun membelalak lebar dan kembali menatapnya dengan pandangan bertanya. Namun saat itu, Phichit mendekat padaku dan membisikkan sesuatu di telingaku.

"Silakan pakai sesuka hatimu," bisiknya di telingaku. "Tapi ingat, bahwa aku akan mengambilnya kembali suatu saat nanti."

"Bagaimana… bagaimana Agape bisa berada di tanganmu?"

Pemuda berkulit sawo matang itu hanya tertawa kecil mendengar ucapanku dan ia langsung mengambil jarak. Setelahnya ia melambaikan kembali tangannya dan berkata, "Nah, sampai ketemu lagi, Yura Plisetsky!"

.

.

.

Hookeeyyy, sudah di Bandara, siap berangkat ke Rusia XD, wohoo! Aniway :

Fujoshi desu : hem, Yuuri bilang itu mimpi :P tapi yapz, tanpa harus menebak pun sudah bisa diduga bahwa itu masa kecilnya Yuuri pas Vitya masih rambut panjang XD

Agape sudah kembali ke tangan Yura sekarang, dan… mari kita lihat bagaimana selanjutnya dengan Yuuri yang uda ditinggalin Vitya nya T_T tega bener si Abang kadang, uda pergi jarang pulang dia T_T kasian Dek Yuuri

Dan soal obrolan kita, tentu saja kamu harus ikuttttt XD

SayaTest : kayaknya kita harus mengibarkan satu bendera lagi nih, kapal Otayuri mau berlayar, tapi kalau layarnya nggak terkembang bisa-bisa karam nih kapal :P

Dan… iyak, Chris anggota aliansi Vitya XD kapan2 mari kita ajak mereka pole dancing bareng :P

Satu lagi, heeh, Yuuri hanya pura-pura kok :D kadang-kadang dengan muka polosnya tanpa dosa, Yuuri bisa nipu orang dan itu yang membuat dia jadi pembohong paling tangguh yang bahkan luput dari tajemnya pemikiran Yura :P

Madamme Jung : hello Jung XD really miss your letter :p thank you again for review and keep up your spirit on working XD mari semangat berhubung libur Lebaran sudah di depan mata XD

Hikaru Rikou : selamat buat nilai-nilainya Hikaru XD senang sekali kalau ternyata hasilnya memuaskan *ikut tebar confetti

Dan iya, soulmate sejati kita sudah siap berlayar nih, mari kita kembangkan layar dan menunggu angin segar dari Viktor bertiup :P

KriptonClayton33: ufufufu, seperti Yura, sepertinya kamu juga terjebak sama kepolosan Yuuri XD sayang sekali Kripton-san, si Yuuri yang sering ketemu Vitya uda makin jagi berbohong nih jadi hati-hati kalau nanti doi bilang sesuatu, jangan-jangan doi boong lagi :P

ChocoCroissant9 : hapenya nggak kesita kan ya? XD semoga hape kamu aman di tempat dan semoga nilai kamu bagus-bagus setelah baca ff ini :P #kenapajadiiklan?

Thank you again sudah repiu Chococchi dan selamat menebak-nebak kembali pikiran Vitya yang sulit dipahami :P

Misacchin : Hola Misa XD semanget buat UKK nya dan semoga hasilnya memuaskan

1 , 3 dan 5 . Nah, mari kita bayangkan, jadi ada Yura berdiri di depan si Abang sambil ngehadepin serangan musuh yang harusnya diterima si Abang. Mari kita pikirkan perasaan si Abang yang pengen menjaga baik-baik dedeknya ini. Bagaimana? Sudah ada gambaran?

Abang sendiri, jadinya belom pergi berhubung Bang Vitya malah lebih dulu ninggalin mereka. Kalo Bang Vitya uda pergi dan doi juga pergi, apa jadinya aliansi ini XD

Om Vitya sendiri sepertinya lagi baper, makanya dia langsung pergi :P saking bapernya disalahin ama Otabek, Abang nekat datengin sendiri sarang penyamun

2 dan 5. Seung Gil tadinya mau bawain compresan yang diminta ama Yura :P tapi ane lupa menjelaskan sepertinya, maap sekali, dan abang satu ini lebih niat jadi orang ketiga sepertinya dibanding cari jodoh :P

Bang Chris sendiri bertarung dengan sexy, dan musuhnya jadi terpukau sama serangan pantat Om Chris :P

7. JJ… nah, berhubung Vitya nanti maen ke Rusia, mari kita tanyain nasibnya sama Abang ya, semoga doi nggak kenapa2 :P

Dan buat Yura sendiri, di filmnya dia memang cukup deket dan anggep Vitya panutannya eventhough dia nggak mau ngakuin. Ane rasa, di ff ini pun Yura sadar bahwa Vitya nggak bisa digantiin dan walaupun dia sempet kecewa berhubung idolanya uda bunuh orang yang rawat dia dari kecil, mungkin dalam hati kecilnya (Yura : howeekkk) doi masih mengagumi Vitya ampe sekarang :P

Orang Lewat : ng… nggak kok, nggak begitu, nggak begitu #ngalinginmata #jantungberdebarnggakkeruan #kayakmalingyangabisketauannyuri

Hai Orang Lewat, radarmu sepertinya… sakti sekali ini XD padahal saya belom declare bahwa ini uda masuk arc terakhir :P tapi kamu sudah bisa nebak duluan, dan saya pun merinding karena takut ketauan :P

Ane suka ide kamu soal Yuuri jadi queen yang maksa dan nggak bisa dibantah, tapi kayaknya anggota aliansi Vitya malah makin susah diatur kalo Yuuri sifatnya jadi kayak Queen. Mereka itu makin dilawan makin rese soalnya :P

Dan, yak, kamu bener, sedikit sedih berhubung uda masuk arc terakhir :p dugaan kamu soal Vitya maupun keluarga Yuuri dan Yakov pun ane nggak bisa komen apapun karena menyangkut jalan cerita :P tapi ane angkat topi karena kamu berhasil mendesak ane sejauh ini XD

Ane berharap nggak angst ato tragedy, tapi… ane biasanya menunggu hingga titik akhir sebelom merombak semuanya demi mencari sesuatu yang nggak terduga :P tapi thank you sekali sudah menyempatkan repiu dan menyampaikan ide kamu XD walopun didesak ane senang karena nggak nyangka ada yang bisa mendesak ane sejauh ini FUFUFU

Orang Lewat, DAVAI!

Hiro Mineha : WOW Hirocchi XD congratz untuk wisudaanya XD selamat menempuh… dunia kuliah? Atau dunia kerja? XD apapun itu semangat selalu yak XD

Fufufu, regenerasi yang terlalu cepet memang terkadang memakan umur penggunanya, sayangnya itu. Hanya soal Vitya, ane nggak bisa bilang apa pun :P

Sifat sok misteriusnya Bang Vitya emang susah banget ilangnya. Mana doi pake nggak muncul-muncul lagi. Jahat banget nih doi, sendirian ke sarang buaya. Minta dikejer lagi, yang bikin Yura tambah pengen mukul pake high heels.

Dan bener banget, Dek Yura itu galak, jadi kalau mau pegang-pegang Yuuri, mesti minta izin Dek Yura ama Abang Vitya. Salah-salah, bisa disate nanti Bang Chris di tiang pole dance :P

Abang JJ juga, belum ada kabarnya karena baru aja berlindung di balik keluarga Nikiforov, tapi nanti kayaknya Yuuri bakal ketemu lagi di Rusia :p

Aniway, seperti yang ane bilang sebelumnya, ane nggak berharap jadi angst/ tragedy sih, ane sendiri nggak suka :p tapi apabila takdir berkata lain dan mengharuskan ane memutar kemudi, maka maafkan ane saat itu

#nyiapin piso kue dari plastic dan sodorin ke Hiro

And for all of you, thank you for reading! I hope you enjoy reading this fic. Aniway, if you mind, please give any review so I can make it better XD