FT Island Fan Fiction

Mr. Cassanova

©MikiHyo

.

Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rated : T

Length : Part (On Going)

Desclaimer : Hak Cipta dilindungi Tuhan Yang Maha Esa ^^

.

.

Part 25

.

.
There's no use of regretting now
There's no use of holding on now
Because you were always there
Because I got used to you- I didn't know it was love

I can't call out to you again
I won't be able to ever call out to you again
I say goodbye althought it's not what I really mean

I guess I thought we were only friends
I thought this was only a friendship
When I'm missing you like this
When I'm so frustrated like this
I deceived my own heart like a fool

I guess we can't even be friends now
I guess this can't be just a friendship
Because when I'm next to you, when I'm looking at you
I already know it's love

You just say to forget it
You just say that this isn't it
You say let's stop this and coldly turn around

I'm not in your heart- i'm in the flowing tears

You say let's just be friends (friends)
You say let's just call it a friendship (when I can't live without you)
Even when it hurts, even when I tear, you pretend it's not and smile

Can't you love me? Can't you hold me?
Can't you for one day, for one moment, love me?

.

.

Author POV

.

Melodi sendu itu terhenti seiring dengan helaan nafas sang pelantun. Hening seketika, sampai akhirnya tepukan tangan pelan menyambut suasana itu.

"Bagus sekali, kau memang berbakat sunbae"senyum manis seorang gadis belia yang telah dipuaskan oleh permainan seseorang yang ia sukai. Gadis bernama Eybin itu terus saja menepuk-nepukkan tangannya satu sama lain untuk memecah suasana sendu yang ia sadari berasal dari sang pelantun lagu itu sendiri. Oh Wonbin.

"Terima Kasih"hanya senyum tipis yang Wonbin berikan untuk membalas sambutan tulus dari Eybin. Sesungguhnya ia benar-benar senang karena bisa menciptakan sebuah lagu, namun perasaan akan lagu itulah yang membuatnya merasa miris akan lagunya sendiri.

Terbaca jelas bagaimana perasaannya sekarang. Bahkan karena rasa sakit itu terciptalah alunan melodi sendu ini. Bukankah sesuatu yang bernama 'Cinta' adalah hal yang menyakitkan?

"Sunbae.. kau tidak mau pulang? Ini sudah sore"ucap Eybin sembari melihat beberapa orang yang telah berlalu dari hadapan mereka. Taman ini mulai sepi, bukan hanya karena waktu yang telah bergeser, namun sinar hangat dari sang mentari yang sedari tadi menyelimuti kini berganti dengan himpunan kelabu yang datang bersama awan mendung.

Angin pun berhembus lebih menusuk dibanding sebelumnya. Menandakan mungkin dalam beberapa menit akan ada butiran-butiran air yang jatuh membasahi bumi.

Namun Wonbin tak bergeming, entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Sekalut itukah?

Eybin yang merasa tak direspon pun mulai merasa jengah. Sejujurnya ia adalah tipe orang yang cukup sabar dalam menghadapi sesuatu, apalagi untuk seseorang yang sudah merebut hatinya, untuk seseorang yang selalu mewarnai hidupnya, untuk seseorang yang ia sayangi. Sunbaenya sendiri, Oh Wonbin.

Namun hati manusia tak dapat dipastikan, jika dulu Eybin merasa kasihan dengan perasaan sang pujaan hati, namun sekarang ia mencoba membuang jauh-jauh perasaan itu.

"Kalau memang tidak mau menyanyikannya, kenapa tetap kau nyanyikan?"

Sepintas lamunan Wonbin pun pecah seketika. Matanya mendelik kearah sumber suara, dan kini indra penglihatan itu menangkap ekspresi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dari seorang Han Eybin.

"Eybin-ah.. kau kenapa?"tanya Wonbin ragu.

Eybin pun menghela nafas sejenak. Setengah hatinya masih tidak ingin melakukan hal yang ia pun baru saja membayangkannya. Namun ia pikir, ini pun demi kebaikan untuk sang pujaan dan juga dirinya sendiri.

"Aku mengatakan sesuatu tadi apa kau tidak dengar?"pertanyaan Eybin berlanjut. Seolah meluluh lantahkan begitu saja pertanyaan Wonbin sebelumnya. Ia pun tidak mau perduli, kalau Wonbin saja tidak perduli dengan pertanyaannya sebelumnya.

Wonbin tetap tak bergeming dan masih berada dalam pikiran yang belum mencapai dasarnya. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja Eybin seperti itu.

"Sunbae.. aku tahu kau menciptakan lagu itu untuk meluapkan perasaanmu. Hatiku ikut miris tiap kali mendengar suaramu ataupun melihatmu tersenyum pahit. Aku tahu kau sedang terpuruk sekarang. Tapi.."Eybin menggantungkan kata-katanya.

Pembicaraan terhenti sejenak. Wonbin pun tak bisa asal bicara disaat adik kelasnya itu terlihat sedang menyiapkan diri. Mungkinkah ada sesuatu hal yang mau tidak mau harus ia katakan?

"Apa kau pernah menyadari perasaanku?"kalimat itu pun terlontar dari bibir tipis Eybin. Pelan namun cukup jelas untuk didengar dari jarak yang tak teramat jauh dari tempat Wonbin berdiri. Sebesit pikiran pun langsung mengelubunginya.

"Eybin-ah.. apa maksudmu?"Wonbin mengerenyit, meminta clue untuk mendapatkan jawabannya.

"Ternyata kau memang tidak pernah menyadarinya. Bahkan kau tidak pernah tahu.. sejak awal yang ada dipikiranmu memang hanya Kira sampai-sampai kau tidak memperdulikan orang lain yang berada disekitarmu.."nada lirih mulai mengalun dari mulut Eybin. Membuat Wonbin semakin terkesiap dengan keadaan yang sedang berlangsung.

"Kenapa… apa yang sedang kau bicarakan?"Lagi, Wonbin justru bertanya lagi. Secercah jawaban mulai mengulung dihatinya, namun ia belum yakin pasti sebelum Eybin yang mengatakannya sendiri.

"Aku menyukaimu Sunbae"

DEG

Semuanya seakan pecah. Pikiran-pikiran tanpa dasar yang sedari tadi menyelubunginya kini pecah begitu saja. Satu titik kini menjadi bulat sempurna. Wonbin tak menyangka ternyata –benar hal itulah- yang dimaksud oleh Eybin.

"Apa kau ingat dengan gadis yang pernah kau tolong saat tersesat dikerumunan senior kelas tiga?"

Pikiran Wonbin melayang sesuai dengan pertanyaan Eybin barusan. Hampir setahun yang lalu, saat upacara penerimaan murid baru. Seorang gadis tiba-tiba saja menggabungkan diri diantara murid-murid yang lebih tua dua tingkat darinya. Mungkin kedatangannya bukan untuk menggabungkan diri, mengingat tak banyak Junior yang mau –dengan mudahnya- berada dikerumunan Senior-senior yang lebih tua darinya.

Siapa dia? Bukankah murid baru? Kenapa dia ada disini?

Kasihan sekali dia hanya sendirian.. Lagipula kenapa dia tidak bergabung dengan murid baru yang lain?

"Waktu itu aku sangat canggung saat menyadari bahwa aku tidak berada dalam kelompokku. Karena tersesat aku justru bergabung dengan senior-senior kelas tiga. Mereka melihatku dengan tatapan menginterupsi, aku takut sekali sebagai junior baru. Namun salah seorang dari mereka justru menghampiriku dengan ramahnya.. bukan untuk menggoda junior baru seperti yang lain, namun justru mengantarku kembali kepada kelompokku.."

Lain kali jangan sampai tersesat. Pergunakanlah dengan baik waktu orientasi seperti ini untuk mengenal Sekolahmu barumu. Dan jangan terlihat takut seperti tadi dihadapan para seniormu, percayalah dengan dirimu untuk bersikap sopan dan ramah, maka mereka tidak akan mengganggumu

"Sejak saat itu aku terus memikirkannya. Aku pun berusaha untuk lebih percaya diri dan bersikap wajar dihadapan para senior-seniorku. Itu semua berkat Sunbae yang pernah menolongku waktu itu.. Disaat semua orang lebih memilih Hongki sunbae, Jonghun sunbae dan juga Minhwan karena keperawakannya. Namun hatiku tetap pada Wonbin Sunbae karena kebaikanmu"

"Eybin-ah…"

"Mungkin kau anggap aku terlalu berlebihan, tapi inilah perasaanku. Aku tidak bisa kalau bukan karena Sunbae, tapi.. bagaimanapun juga Sunbae memang tidak pernah menganggap perasaanku. Walaupun aku mendukungmu seperti apapun, kau tidak pernah mau mencoba untuk memperbaiki semuanya"kini nada lirih itu semakin meninggi. Terlihat lemah namun mempunyai arti yang tegas. Eybin benar-benar tidak bisa menahannya lagi.

"Aku minta padamu Sunbae.. jujurlah pada dirimu sendiri. Jangan terus-terusan menyiksa dirimu seperti ini. Dan sadarlah.. kau masih punya orang lain yang menyayangimu.. setidaknya kalau kau menganggap dia ada"

Eybin pun mengambil tasnya yang masih tergeletak dibangku taman berdampingan dengan tas dan gitar milik Wonbin. Setengah menyesal atas semua ucapannya, namun juga merasa yakin dengan apa yang dikatakannya.

Ia pun berlalu begitu saja dari hadapan Wonbin seiring dengan suara gemuruh yang mulai menyeruak. Tak lama kemudian butir-butir kecil air turun dari awan kelabu diatas sana.

"Eybin-ah!"tak perduli seberapa keras suara itu memanggilnya. Sosok gadis belia itu tetap berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun.

.

.

Seunghyun POV

.

BRUKK

Tanpa kusadari seseorang sudah menabrakku ditengah gemeritik hujan ini. Aku pun segera menoleh kearahnya. Seorang gadis –dengan seragam yang kukenal-

"Ma-maafkan aku.."dan dengan cepat gadis tanpa payung itu segera berlalu dari hadapanku. Sepertinya ada yang aneh, gadis itu tetap menundukkan wajahnya. Ada apa? Ia seperti menangis.

"Bukankah itu seragam MyeoungDam?"gumamku pelan. Melihat seragam itu, pikiranku pun kembali sendu. Tak jauh berbeda dengan suasana hujan yang tak reda dan juga tak deras ini.

Perasaan yang mengambang sekaligus sedih. Aku yang selalu dianggap tak pernah serius ini pun tetap saja seorang manusia yang bisa merasakan kegalauan semata.

"Seunghyun? Ternyata kau disini"suara itu pun memecah lamunanku. Kutolehkan wajahku kearah lain.

"Hyunjung"sahutku pelan. Gadis bernama Hyunjung yang sejak tadi memang pergi bersamaku itu pun berjalan mendekat.

"Ada apa? Siapa tadi?"tanyanya penasaran sambil ikut melihat kearah perginya gadis MyeoungDam tadi yang bayangannya mulai hilang ditelan jarak.

"Bukan apa-apa. Tadi dia tidak sengaja menabrakku, tapi kelihatannya ada yang aneh.. dia seperti menangis. Dan gadis itu murid MyeoungDam.."senyumku tipis.

Kulihat Hyunjung ikut tersenyum tipis mengiringi senyumku barusan. Aku tahu maksudnya, karena memang ia pun tahu mengapa aku terlihat sendu hanya karena MyeoungDam.

"Apa kau masih memikirkannya? Ayolah.. jangan sampai wajahmu sama kelabunya dengan awan diatas"goda Hyungjung, namun aku tahu maksudnya adalah menghiburku. "Kau yang memaksaku untuk menemanimu walaupun hari hujan. Jadi perbaiki sedikit aura kelammu"tambahnya.

Aku pun mengerucutkan bibir seolah memprotes kata-katanya. "Hei.. aku juga laki-laki biasa yang bisa patah hati. Seorang Song Seunghyun tidak selamanya bisa tersenyum"gerutuku pelan.

Namun ia justru semakin terkekeh geli mendengar kata-kataku. Bahkan ia membalikkan tubuhnya membelakangiku dan sepertinya ia sedang menahan tawa dibalik payung yang menutupi tubuhnya itu.

"Ya~~ jangan tertawakan aku!"

"Hmmpth.. maaf, habis aku tidak menyangka.. kalimat terakhirmu itu. Hmmpth.."ia kembali menahan tawanya.

"Aish.. kau tega sekali menertawakanku disaat aku patah hati. Aah~ padahal hanya kau yang tahu masalahku dengan Kazu"aku kembali mengerucutkan bibir. Memasang raut wajah 'sekecewa' mungkin.

"Hhm, tidak. Aku tidak bermaksud menertawakanmu, hanya saja.. baru beberapa menit lalu kau bilang kalau kau sudah menang dari patah hatimu, tapi setelah melihat 'Gadis MyeoungDam' itu kau kalah lagi.. hhm, Song Seunghyun memang seorang Song Seunghyun.. mungkin tidak seharusnya aku mengkhawatirkanmu"ledeknya lagi.

"Aigoo.. apa wajahku masih kurang meyakinkan kalau aku sedang patah hati? Ayolah Jung-ah.. jangan meledekku terus"protesku pada gadis yang masih terkekeh pelan itu.

"Siapa suruh kau berwajah seperti itu lagi~ Percayalah padaku, Song Seunghyun itu sangat manis kalau tersenyum"ucap Hyunjung dengan senyum lebar diwajahnya. Sepintas aku pun tak percaya dengan apa yang ia katakan, tapi sepertinya itu benar.

"Jadi sekarang kau sedang memujiku? Haha, tumben sekali ketua kelas yang cerewet ini mau memujiku. Apa sekarang Na Hyunjung jadi beralih menyukai Song Seunghyun?"aku pun balas meledeknya.

Namun bukannya menjawab, Hyunjung malah terdiam kaku. Sepintas kemudian ia seperti tersipu malu dengan wajah yang terlihat memerah. Ha? Apa ini serius?

"Ya! Berhenti menggodaku Song Seunghyun! Aish.. lebih baik aku pulang saja!"Hyunjung pun langsung berbalik arah dan berjalan menjauhiku.

Aku semakin terkesiap. Kenapa sikapnya jadi berubah? Atau jangan-jangan..

"Lha.. bukankah dari tadi kau yang menggodaku? Yak! Na Hyunjung tunggu! Aku belum mentraktirmu makan Ice Cream kan"aku pun berlari kecil untuk menyamai langkah kami.

"Aku sudah tidak mau Ice Cream ditengah hujan seperti ini!"

"Tapi kita baru jalan-jalan beberapa menit!"

"Masa Bodoh!"

"Yak! Hyunjung-ah!"

.

.

Author POV

.

3 orang gadis Jepang bercengkrama ringan disepanjang perjalanan mereka. Membicarakan hal-hal yang tak terlalu penting namun cukup berarti untuk mengisi waktu. Sapaan angin sore yang tenang membuat suasana terasa semakin nyaman bagi ketiga sahabat itu.

Namun langkah mereka terhenti sejenak disaat sesosok pemuda tampan berdiri tepat dihadapan mereka sambil melontarkan senyum tipisnya. Menatap salah seorang dari mereka.

"Wonbin Sunbae?"gumam Kazu sambil bertukar pendang dengan Miki yang berdiri disampingnya dengan raut wajah yang sama. Sementara Kira hanya diam dan menggigit bibir bawahnya, entah harus memasang ekspresi seperti apa sekarang.

"Maaf.. boleh kupinjam teman kalian sebentar?"tanya Wonbin ramah dengan arah mata yang sudah jelas tertuju pada Kira. Kazu dan Miki masih bertukar pandang dengan tanda tanya besar dihatinya.

"Emm.. ada apa Sunbae? Apa ada sesuatu-"

"Ada yang ingin kubicarakan dengannya"sahut Wonbin sebelum Miki menyelesaikan kalimatnya.

Kira pun balas menatap mata Wonbin. Ragu-ragu, ia pun melangkahkan langkahnya perlahan menjauhi kedua sahabatnya dan mendekati Wonbin.

"Kalian duluan saja. Aku akan segera kembali"ujarnya pelan. Dan ia pun mengikuti langkah Wonbin setelah sebelumnya Wonbin berpamitan ramah dengan kedua gadis Jepang itu.

Keheningan mewarnai langkah sepasang manusia itu. Tak ada yang bicara, hanya terdengar suara hentakan kaki dan samar-samar angin sore. Wonbin berjalan membelakangi Kira tanpa sedikit pun menoleh kebelakang.

DUK.

Tiba-tiba saja Wonbin menghentikan langkahnya sehingga membuat Kira yang berjalan menunduk dibelakangnya tak sengaja menabraknya. Ia pun segera mendangak dan menatap pemuda tampan itu.

"Ma-maaf.."

"Hm.. kurasa disini saja.."gumam Wonbin pelan. Kira pun mengerutkan dahinya dan menatap Wonbin bingung.

"Kukatakan langsung saja. Setelah upacara kelulusan.. aku akan pindah"

Mata Kira pun membelalak sempurna. Pikirannya sedang tak berjalan mulus, seakan terhenti hanya karena kata-kata Wonbin.

"Eh? Pi-pindah?"Wonbin pun mengangguk.

"Ayahku pindah tugas, dan aku pun akan melanjutkan pendidikanku disana"

Kira pun diam. Matanya kini tak lagi menatap Wonbin, melainkan bergerak-gerak kearah lain dengan gelisah. Ini terlalu mendadak dan sangat… terus terang.

"Oh, begitu.. Lalu kenapa kau katakana hal ini padaku?"

NYUT.

Sekarang giliran Wonbin yang terhenyak. Hatinya terasa sakit mendengar jawaban Kira yang ia pikir tampak tidak memperdulikannya.

"Maksudku.. bukankah pada akhirnya kita memang akan berpisah. Aku pun beberapa bulan lagi akan kembali ke Jepang. Pertemuan kita disini.. memang hanya sementara kan"senyum tipis Kira tanpa berani menatap mata Wonbin.

Sesungguhnya ia pun tak tahu harus berkata apa. Ia juga tak mau membayangkan hari disaat mereka semua harus berpisah, namun waktu memang memaksa. Mau tidak mau hari itu akan datang juga, sekarang saja ia sudah cemas apalagi saat hari itu benar-benar tiba. Sanggupkah?

"Begitu… kau benar juga, pertemuan ini hanya sementara. Mungkin kau hanya merasakannya sebatas itu, tapi buatku.. itu sangat menyakitkan"Wonbin tersenyum miris.

Perasaan Kira kembali bergejolak. Kali ini ia tak segan-segan membalas tatapan mata sendu dari pria yang ada dihadapannya.

"Itu karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku bohong saat kubilang tidak apa-apa, sejujurnya aku tidak bisa melepaskanmu. Aku tidak suka saat kau menghabiskan waktu dengan orang lain, Hatiku sakit karena aku tahu kalau perasaanmu yang sesungguhnya tidak ada padaku padahal aku begitu menyayangimu"

Kira benar-benar terdiam kaku. Akhirnya semua keluar dari mulut Wonbin. Mungkin hati kecilnya tidak kuat lagi menahan perasaan pilu itu, atau memang waktulah yang memutuskan saat dimana ia harus jujur pada dirinya sendiri.

"Wonbin-ah, kau…"

"Apa yang kau lakukan?"Tiba-tiba saja dari arah lain terdengar suara lantang yang tertuju pada mereka.

Seketika Kira dan Wonbin pun menoleh kearah sumber suara, dan betapa terkejutnya Kira saat melihat Hongki ada disana, menatap mereka dengan tatapan tajam.

"Ho-Hongki.."Kira tak bisa berkata apa-apa lagi begitu Hongki berjalan mendekati mereka.

BUGH!

Tanpa basa-basi Hongki pun langsung memukul wajah Wonbin sehingga menciptakan luka disudut bibir pria tampan itu. Kira yang terkejut pun langsung mendekati Hongki dan Wonbin.

"Kau mau apa dengannya, hah? Dia sudah bukan milikmu lagi, apa kau lupa hal itu?"geram Hongki yang terus saja menatap nanar kearah Wonbin.

"Hongki, apa yang kau lakukan?"lerai Kira.

Wonbin masih terdiam sambil mengusap sedikit darah yang keluar dari luka di sudut bibirnya. Ia pun bangkit perlahan dan tetap berusaha bersikap setenang mungkin.

"Untuk apa kau membawanya kemari? Sikapmu itu benar-benar lancang Oh Wonbin!"

"Aku.. hanya ingin bicara mengenai kepindahanku.."jawab Wonbin.

Hongki pun langsung terdiam terkejut mendengar kata-kata Wonbin.

"Pin.. dah?"

"Setelah upacara kelulusan, aku sekeluarga akan pindah ke Singapore. Aku pun akan melanjutkan kuliahku disana"jelas Wonbin.

Hongki kembali terdiam. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang ia rasa begitu mendengar penjelasan Wonbin. Amarah sedang memenuhi pikirannya saat ini, namun hati kecilnya berkata lain. Seolah ia takut akan sesuatu, takut… akan perpisahan.

"Untuk apa kau bicarakan hal ini padanya? Apa kau masih mencintainya? Apa-apaan pernyataanmu tadi saat kau bilang kau tidak bisa melepaskannya"Hongki tersenyum sinis kearah Wonbin begitu ia berhasil membuang jauh-jauh pikiran anehnya barusan.

"Apa kau juga bermaksud mengatakan hal ini padaku? Kau pikir aku akan perduli"

"Hongki!"lagi-lagi Kira melerai. Hal itu membuat Hongki mengalihkan pandangannya kearah gadis Jepang itu. Perasaan kesal meliputinya.

"Ikut aku!"tegas Hongki yang langsung menarik paksa tangan Kira dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Wonbin hanya bisa diam tanpa bisa membalas sedikit pun ucapan Hongki. Pikirannya bergeming, semuanya sama.. sama-sama menyakitkan. Cintanya maupun Pertemanannya, semuanya menyakitinya.

"Hongki.. benarkah kau tidak akan perduli walaupun kita semua harus berpisah nanti?"tubuh Wonbin pun bergetar. Ia rapatkan kedua tangannya memeluk dirinya sendiri.

Wonbin-ah! Jangan tinggalkan aku! Tega sekali kau biarkan aku pulang sendirian

Haha dasar manja. Kalau tidak ada Jonghun, begini lah kau. Selalu menggelayut padaku

Hufth, siapa juga yang menggelayut padamu. Aku hanya tidak mau pulang sendiri kok, ck..

Hhem.. baiklah-baiklah. Mulai besok aku akan menunggu sampai kelasmu selesai

Be-benarkah? Aaah, terima kasih Wonbin-ah!

Tanpa ia kehendaki, sebulir air mata mulai menggenangi kelopak mata kecilnya. Ia merasa lemah dan bisa jatuh kapan saja. Mungkinkah bisa bertahan dengan keadaan seperti ini? Tanpa cinta.. Tanpa teman.. lalu apa yang dipunya?

"Hongki…"

.

.

Author POV

.

Kedua langkah itu saling memburu. Atau mungkin lebih tepatnya, salah satu dari langkah itu dipaksa untuk ikut.

Hongki terus saja menarik tangan Kira tanpa merenggangkannya sedikit pun. Hanya berjalan lurus tanpa bicara apapun. Aura geram benar-benar menyelimutinya.

"Hongki lepaskan aku!"pekik Kira yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman erat Hongki. Namun Hongki tetap tak bergeming, ia terus saja berjalan tanpa memperdulikan Kekasihnya yang saat ini tengah meronta kesakitan akibat tangannya yang ditarik paksa.

"HONGKI!"pekik Kira yang akhirnya melepaskan genggaman tangan Hongki dengan kasar. Nafasnya memburu, mulutnya setengah terbuka guna mengambil lebih banyak pasokan oksigen yang dibutuhkan paru-parunya. Keringat sedikit bercucuran dari keningnya akibat kerja jantung yang lebih cepat dari biasanya. Ya, perasaannya bergejolak sejak tadi dan membuatnya tidak tenang dengan semuanya.

Hongki pun membalikkan tubuhnya dan menatapnya nanar.

"Sikapmu sudah keterlaluan Hongki. Dia hanya bermaksud menyampaikan hal itu"

"Tapi kau mendengar pengakuannya tadi kan!"

Amarah Hongki pun memuncak. Ia tak lagi berpikir siapa yang ada dihadapannya sekarang, walapun gadis itu adalah orang yang ia cintai, namun api kecemburuan sudah benar-benar membakar hatinya.

"Jelas-jelas ia bilang ia tidak mau melepasmu! Apa itu? Apa dia bermaksud mengambilmu lagi? Hanya bicara berdua seperti itu, bisa-bisa ia merenggutmu saat itu juga!"

PLAK.

Tamparan keras pun mendarat di pipi Hongki. Kira pun tak bisa berpikir jernih lagi setelah ia dipermainkan oleh perasannya yang kalut.

Hongki hanya diam dan tetap menatap wajah serius kekasihnya itu. Keduanya kini saling menatap nanar satu sama lain.

"Apa kau lupa? Dia itu temanmu.. kalian sudah bersama-sama sejak SMP kan? Membangun impian yang sama.. apa kau lupa dengan semua itu?"jelas Kira dengan suara bergetar sementara Hongki tetap diam.

"Wonbin akan pergi. Temanmu akan pergi, bagaimana bisa kau bilang bahwa kau tidak perduli? Padahal dulu kalian saling menggantungkan hidup satu sama lain, merasakan manis dan pahit kehidupan remaja bersama-sama.. Bekerja sama untuk impian kalian.."

"Kau… bahkan kau sampai tahu itu semua. Apa dia yang menceritakannya padamu? Huh, benar-benar banyak omong. Apa dia mau membeberkan aibnya sendiri.."

"Hongki!"

"Kenapa kau lebih membelanya? Apa kau juga masih mencintainya?"

Kira kembali terdiam. Hongki benar-benar terlihat seperti orang lain sekarang.

"Kau tahu apa? Itu hanya ceritanya, bisa saja ia mengarang yang lain hanya untuk mendapatkan simpati darimu. Kau pasti berpikir aku yang salah kan? Aku yang membuatnya keluar dari FT Island dan dijauhi Jonghun dan Minhwan! Kau pasti berpikir seperti itu kan?"

"Hongki.. aku tidak-"

"Sudahlah! Aku benar-benar kecewa padamu.. melihatmu bersamanya selama beberapa bulan saja sudah benar-benar menyiksa batinku. Dan sekarang semuanya memang terbukti.. kau masih mencintainya. Aku benar-benar kecewa.."jelas Hongki tanpa mau melihat kearah kekasihnya itu.

Tubuh Kira pun langsung lemas seketika. Ia tak menyangka Hongki akan berpikir seperti itu. Hatinya benar-benar sakit, ia merasa seperti sudah ditolak oleh Hongki.

Tanpa ia sadari air mata pun jatuh membasahi pipinya. Ia menangis, hatinya benar-benar teriris dengan kata-kata Hongki yang begitu menyakitkan.

"Terserah apapun pikiranmu. Kau mau marah seberapa besar pun akan kuterima. Tapi aku hanya minta satu hal… berbaikanlah dengan Wonbin. Kalian pasti bisa membicarakannya baik-baik.."pinta Kira disela tangisnya.

Sementara Hongki tetap diam dan masih membuang muka. Bersikap tak perduli bagaimanapun keadaan gadis yang ada dihadapannya.

"Sebelum kalian benar-benar berpisah, aku mohon berbaikanlah. Kau harus ingat semuanya, semua masa yang sudah kalian lewati bersama. Aku yakin hubungan kalian tidak akan hancur semudah itu.. bukankah kalian saling memahami satu sama lain.."

Ucapan Kira mulai merasuki pikiran Hongki. Perasaan aneh itu kembali muncul dari dalam hati kecilnya. Perasaan yang kasat mata namun benar-benar terasa keberadaannya.

"Aku memang hanya tahu itu semua dari cerita. Tapi aku yakin.. kalian memang benar-benar partner sejati. Kalian tidak akan berpisah semudah itu.. pasti ada alasannya-"

"Cukup. Aku tidak mau dengar lagi ucapanmu"ucap Hongki dingin, memutus begitu saja kata-kata Kira.

Hati Kira pun semakin mencelos dengan sikap Hongki. Air mata yang keluar bahkan sudah ia rasa tidak akan melegakan sedikit pun perasannya.

"Baiklah, kalau memang itu maumu.."Kira tersenyum tipis. "Lebih baik aku pergi sekarang dari pada hanya membuatmu semakin marah"Ia pun mulai melangkahkan kakinya mundur.

"Ku akui aku memang salah. Tapi satu hal yang perlu kau ketahui.. orang yang kucintai.. tetap saja hanya kau.. hanya Lee Hongki.."dan Kira pun langsung membalikkan tubuhnya, berlari meninggalkan Hongki begitu saja.

Hongki mengepal tangannya dengan kuat. Giginya bergetak mengadu satu sama lain. Pikirannya benar-benar kalut, perasaan menyesal meliputinya sekarang. Apa-apaan sikapnya tadi?

"Arrrrrrggggghhhh!"

.

.

Minhwan POV

.

"Pi-pindah…?"aku terkejut tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Jaejin Hyung di telepon. Wonbin Hyung akan pindah?

"….."

"Setelah upacara kelulusan? Itu tidak akan lama Hyung…"

"….."

"Aku… emm… mungkin aku akan bicara padanya nanti. Baiklah, terima kasih sudah memberitahuku Hyung"

Aku pun memutus sambungan telepon dari Jaejin Hyung. Ku lempar begitu saja Handphoneku ketempat tidur. Aku pun ikut membaringkan tubuhku diatas kasur.

"Ahhh.. apa-apaan ini, kenapa kalian tega sekali membuatku sedih seperti ini…"

Bagaimanapun juga Wonbin Hyung tetap Hyung yang aku sayangi. Tiga tahun ini kami hidup dilingkungan yang sama, tapi seolah tidak kenal satu sama lain. Padahal dulu… berpisah semenit pun kami tidak bisa. Tapi kenapa…

"Apa kita bisa berkumpul lagi sebelum kau pergi Hyung… Bagaimana caranya aku meyakinkan Hongki Hyung.. kau menyuruhku untuk menjaga rahasia itu, aku benar-benar tersiksa Hyung.."

Aku membalikkan tubuhku hingga kini menelungkup. Sengaja aku meredam wajahku di kasur agar air mata yang kubendung bisa kutahan.

CKLEK.

Namun tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kamarku. Aku pun langsung mengangkat kembali wajahku dan melihat kearah pintu.

"Maaf.. sudah kuketuk berkali-kali tapi kau tidak menjawab, jadi aku buka pintunya.."

Kulihat sesosok gadis yang tak kukenal berdiri didepan sana. Dan entah kenapa perasaanku sedikit bergejolak begitu melihat parasnya.

"K-kau siapa?"tanyaku yang langsung bangkit dari tidurku.

"Appa mu menyuruhku untuk menemui mu disini. Perkenalkan aku.. Yoon Bomi"

Bomi… jadi itu namanya. Entah kenapa aku tidak bisa menolaknya berada disini. Kuperhatikan setiap inci sudut rupanya. Apa aku tertarik padanya?

"Oh.. Appa menyuruhmu? Untuk apa?"tanyaku lagi.

Dan tiba-tiba orang yang kami bicarakan pun muncul.

"Bagaimana pendapatmu tentang Bomi?"senyum puas Appa. Aku pun mengerenyit heran.

"Memangnya dia siapa?"

Appa kembali tersenyum dan menatap Bomi dengan tatapan penuh harap. Dan entah kenapa perasaanku terhadap Bomi tadi langsung hilang begitu firasat buruk mulai merasuki pikiranku.

"Appa… Jangan bilang kalau dia…"

"Calon Tunanganmu"

"APA?"

.

.

To Be Continued

.

A/N : Ottoke? Ottoke? Konfliknya bagus kah? Semoga dengan tumpukan konflik ini, pikiranku jadi terbuka buat endingnya. Sekarang giliran pasangan JongZu yang ilang, kkk~~~ Gomawo buat udah baca! *bow*

.

onew jinki : gomawo atas dukungannya, gomawo juga udah mau ngikutin ceritanya. Gak nyangka kamu jadi jatuh hati wlopun gak pernah bca FTi ^^ smoga ff ini lbh bagus kedepannya ^^

Mokochange : mian, minannya emg OOC, abis aku kehabisan ide ==" tp smoga kdepannya karakternya ini bisa pas buat ff, gomawo udah baca ^^

Mokochange : iya masih panjang, gomawo udh bava ^^

kiri devil : gomawo dukungannya, hwaiting ^^

shirayuki nao : ne, aku coba lanjut. Gomawo ^^