PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung

WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul

THE PROPOSITION

(The Propotition #1)

By

KATIE ASHLEY …

ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..

YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !


Bab 24

Yunho memasukkan pakaian terakhirnya lalu menutup ritsleting kopernya. Ia mendengus dengan frustrasi ketika telepon genggamnya bergetar di sakunya. Karena ia sudah terlambat untuk menjemput Jaejoong, dia tidak ingin ada gangguan lagi. Untungnya, ia tahu itu bukan dari Jaejoong yang ingin tahu dimana dirinya berada sekarang, karena nada deringnya tidak familiar bukan dari telepon Jaejoong. "Halo?"

Suaranyasangat keras dari seseorang yang agak mabuk terdengar di jalur telepon. "U-Know, di mana sih kamu Man? Seluruh geng kita sudah berada di O'Malley menunggu permintaan maaf sialanmu!"

Ternyata Blake, teman baiknya. Yunho benar-benar lupa untuk memberitahu dia dan teman-teman kantornya yang lain bahwa ia tidak akan bisa berkumpul lagi seperti biasanya setiap hari Sabtu.

"Maaf Dude, aku akan pergi ke luar kota dengan Jae."

"Kau bersama Jaejoong lagi?" ejeknya, suaranya mengalahkan kegaduhan dari kerumunan orang banyak di latar belakangnya.

"Ya, kami akan mengunjungi keluarganya di pegunungan. Acara Barn Dance atau sesuatu sialan semacam itu."

"Persetan, Man. Kau menghabiskan seluruh waktumu dengan dia sekarang. Belum lagi kau akan memiliki seorang anak. Kau mungkin juga telah terjebak pada vaginanya."

"Ya, menghabiskan banyak waktu bercintadengan seorang wanita yang cantik, berambut merah menyala benar-benar membuatku seperti seorang pecundang!" Jawab Yunho, sambil tertawa kecil.

Blake mendengus. "Kau tak tahu bahwa kau telah menginjak pasir hisap sialan itu. Aku yakin, rasanya menyenangkan sekarang, tapi tunggu saja. Jaejoong tidak bodoh. Dia sedang mengencangkan jeratannya, dan kau terlalu kacau untuk menyadarinya."

"Jangan mengatakan hal omong kosong seperti itu tentang Jaejoong," geram Yunho.

"Aku bukan satu-satunya orang yang mengatakan hal seperti itu, U-Know. Seluruh geng kita khawatir tentang dirimu. Dan jangan mengatakan kami tidak tahu apa yang sedang kita bicarakan. Tiga orang dari kita telah bercerai, ingat?"

Yunho memindahkan teleponnya ke telinga yang lainnya. Dia tidak menyukai perubahan dari pembicaraan ini. Dia juga tidak suka nada bicara Blake atau kemungkinan ada kebenaran dalam kata-katanya.

"Geng teman-teman terbaikku membicarakan diriku di belakang punggungku sendiri."

"Yeah, well, hanya saja ingat kata-kataku. Jika kau tidak segera cepat memutuskannya,kau pasti ingin mendengarkan kami suatu hari nanti."

"Hentikan omong kosongmu, Blake!" Teriak Yunho sebelum menutup telepon. Dia memasukkan telepon genggamnya kembali ke sakunya. Dia pikir siapa sih Blake? Jaejoong tidak memaksanya untuk melakukan apapun. Tidak ada wanita yang pernah ataupun akan bisa memaksanya. Yunho bersama Jaejoong karena ia menikmati apa yang sedang mereka jalani. Tidak ada yang salah dengan itu. Yunho memberikan sama seperti yang ia inginkan, dan Jaejoong tidak memaksakan kemauan apapun pada Yunho.

Memikirkan teman-temannya yang sedang minum dan berbicara yang tidak-tidak tentang Jaejoong, dia tidak tahan untuk bergumam, "Idiot brengsek." Dia meraih kopernya dan bersiul pada Taepoong. "Ayo, boy. Mari kita pergi dari sini."

Dengan senang hati Taepoong mematuhi, dan masuk ke dalam mobil, ketika di dalam, Yunho melihat Taepoong menggeliat. Mengetahui ia terlambat, Yunho melaju di sepanjang jalanan antar kota lalu melesat ke jalanan yang sudah terasa akrab menuju rumah Jaejoong. Dia sampai di depan rumahnya jam tiga lewat sedikit. Dia mengabaikan nada dering SMS di sakunya karena dia yakin itu dari Jaejoong.

Sebaliknya, ia melompat keluar. Taepoong mulai mendorong ke depan, tapi Yunho menggeleng. "Tetap tinggal di situ, boy."

Setelah berlari sampai di depan pintu, ia menekan bel. "Pintunya tidak dikunci!" Seru Jaejoong.

Saat ia mendorong pintu, ia melihat koper dan tas Jaejoong sudah berada di lantai ruang depan. Dia mendengar suara gemerisik dari arah dapur. "Maaf, aku sedikit terlambat. Taepoong butuh waktu lama untuk buang air kecil," katanya dengan bohong. Yunho merasa tidak perlu untuk menceritakan salah satu temannya yang brengsek telah

membuatnya terlambat dibanding membuang isi kandung kemihnya Taepoong.

"Kau tidak meninggalkan Taepoong di rumah, kan?"

Yunho tertawa. "Tidak, dia sangat marah di dalam mobil. Aku bersumpah ia mengenali rumahmu."

Suara cekikikan genit Jaejoong terdengar kembali oleh Yunho. "Anjing yang malang. Dia gelisah terus dirumah beberapa bulan terakhir.

Aku membawakan dia tulang di tasku untuk menenangkannya selama perjalanan. Tapi mungkin kita harus berhenti sesekali untuk membiarkannya buang air kecil." Jaejoong mendesah tampak frustrasi.

"Siapa yang aku bodohi? Aku yang mungkin ingin berhenti untuk buang air kecil daripada Taepoong!"

Jaejoong datang keluar dari arah sudut ruangan, dan hati Yunho serasa berhenti berdetak. Setiap kali Yunho melihatnya setelah pulang dari luar kota, Jaejoong seperti mengambil seluruh napasnya. Dia mengenakan gaun hijau zamrud dengan tali tipis seperti spaghetti.

Dengan pinggiran gaunnya yang jatuh tepat di bawah lutut. Belahan dadanya karena kehamilannya menjadi lebih besar dan terlihat menonjol di cup korsetnya. Tapi sepatu bot koboi coklat itu membuat Yunho berpikir lain.

Ketika Jaejoong terburu-buru melewatinya untuk melemparkan sesuatu ke dalam kopernya, Yunho mengulurkan tangan dan menarik Jaejoong kearah dirinya. "Sialan, kau terlihat sangat seksi."

Alis Jaejoong berkerut saat ia melihat dirinya sendiri. "Serius?"

Yunho menjilati bibirnya sendiri dan mengangguk.

"Ini adalah salah satu dari beberapa gaun yang masih bisa aku kenakan. Aku pikir mungkin sudah saatnya aku menyerah dan membeli beberapa baju hamil."

Jari-jari Yunho ditempatkan di atas perut Jaejoong yang mulai membesar, menyentuh dengan lembut di atas gaunnyayang berbahan

tipis. "Untuk usia kehamilan yang sudah menginjak empat setengah bulan, kau bahkan hampir tidak terlihat sedang hamil."

Jaejoong meniup sehelai rambut liar yang menutupi wajahnya.

"Katakan itu kepada ritsletingku."

"Dan sepatu boot itu?"

"Oh, ini membantuku supaya tetap ingat daerah asalku. Aku memakainya sepanjang waktu ketika aku tinggal di pegunungan."

Yunho menyeringai. "Aku menyukainya...banyak sekali." Sambil memiringkan kepalanya, Yunho memberinya senyuman terbaik yang menandakan seperti 'Aku ingin melahapmu'.

Jaejoong menggoyang-goyangkan jarinya ke arahnya. "Oh tidak. Jangan berpikir ke arah sana."

"Sayang, aku hampir tidak melihatmu, apalagi menyentuhmu, seminggu ini. Aku hampir meledak!"

"Kita harus segera berangkat. Sekarang sudah jam tiga lewat,"protesnya.

"Apa salahnya dengan mengambil jalan sedikit memutar?" Sebelum Jaejoong bisa membantahnya lagi, Yunho melumat bibir Jaejoong, lidahnya yang hangat menyapu ke dalam mulut Jaejoong. Yunho melingkarkan satu lengannya di pinggang Jaejoong, menarik Jaejoong menempel ke tubuhnya. Jaejoong mulai menggeliat menjauh ketika Yunho menekankan ereksi ke dirinya. "Jangan membuatku bertemu dengan kakek-nenekmu dalam keadaan mengeras."

Jaejoong menyeringai padanya dan mulai menggeliat keluar dari pelukannya. "Ini adalah perjalanan yang panjang. Aku yakin kau akan mendingin pada saat itu."

Dengan mendengus karena frustrasi, Yunho memperketat salah satu tangannya di pinggang Jaejoong. Lalu tangannya yang lain diselipkan ke satu tali tipis di bahu Jaejoong, kemudian mendorongnya kebawah dan memperlihatkan payudara Jaejoong. Saat Yunho meremasnya, ibu jarinya menyentuh bolak-balik melintasi puting Jaejoong yang semakin mengeras. Ketika Yunho mendengar Jaejoong menarik napasnya dengan keras, ia menggoda dengan mencubit puncak payudara Jaejoong. Tampaknya trik yang dilakukan Yunho membuatgairahJaejoong tiba-tiba melonjak. Dia membawa bibirnya ke bibir Yunho sambil melengkungkan tubuhnya kearah Yunho.

Yunho menjilati Jaejoong dari dagu hingga telinganya. "Aku sangat menginginkanmu, Jaejoong," gumamnya. Ketika Yunho memegang dagu Jaejoong diantara jari-jarinya dan memiringkan kepalanya ke belakang, Jaejoong menatapnya dengan mata yang sendu.

"Kalau begitu bawalah aku" gumamnya.

Menciumnya lagi, tangan Yunho meluncur di bawah gaunnya. Jaejoong mengerang di dalam mulut Yunho ketika jari-jari Yunho menemukan panas diantara kedua kaki Jaejoong. Yunho membelai Jaejoong diatas celana dalamnya sampai ia bisa merasakan kelembaban akibat gairah Jaejoong yang menembus celana ia menyelipkan jari- jarinya untuk masuk ke dalam diri Jaejoong -menjaga irama yang sama antara lidahnya dengan jari-jarinya. Jaejoong menarik bibirnya dari Yunho, napasnya terengah-engah. "Mmm, Yunho...ya, Tuhan! Yunho!

Ya!" Teriaknya, sambil memejamkan matanya saat Yunho membawanya ke tepi jurang.

Jaejoong merintih ketika jari-jari Yunho meluncur keluar dari dirinya.

Tangan Yunho kemudian menurunkan celana dalam Jaejoong sampai ke lutut Jaejoong. Dia membawa tangan Jaejoong ke selangkangannya. Jaejoong mengulurkan tangan lalu meraba-raba ke arah kancing kemudian ritsleting celana jins Yunho. Setelah Jaejoong membebaskan ereksi Yunho, Jaejoong membelainya dengan kuat dan cepat, ia menggeseknyadengan menggunakan tetesan precum-nya.

Yunho menghela napas panjang kemudian menyingkirkan tangan Jaejoong. "Sudah, cukup," gumamnya dengan suara tegang.

Yunho mundur ke sofa, mendorong celana dan pakaian dalamnya keluar dari pinggulnya. Dia menarik tangan Jaejoong, menyentak ke arahnya. Mereka berdua runtuh diatas sofa dengan Jaejoong yangsudah bergairah mengangkangi dirinya. Setelah mengarahkan dirinya masuk kedalam diri Jaejoong, ia mulai menggerakkan pinggul

Jaejoong melawan dirinya. Dengan cepat, Yunho menghujamkan dirinya masuk dan keluar dari diri Jaejoong saat Jaejoong membungkuk menciumnya. Jaejoong tidak bertahan lama sebelum ia datang ke tepian lagi.

Meskipun Yunho sudah cukup dekat, dia tidak ingin datang. Rasanya tidak ada yang lebih baik selain membuat dirinya terkubur jauh di dalam diri Jaejoong. Yunho terus menaikkan pinggulnya dan menurunkan kemaluannya dengan keras. Yunho mendongakkan kepalanya ke belakang dan memejamkan matanya saat sensasi dengan intens bergulir pada dirinya. Akhirnya, ketika ia pikir, ia tidak bisa menahannya lagi, ia menyerah dan orgasme membanjiri dirinya.

''''''''''''''''''''''''''''''''''''''...''''''''''''''''''''''''''''''

Saat Yunho merengkuh tubuh Jaejoong ke dadanya, Jaejoong menutupi matanya dengan tangannya dan mengerang. "Ada apa?" Tanya Yunho.

"Aku tidak percaya bahwa aku baru saja membiarkan kamu mengacaukan otakku tepat sebelum aku akan bertemu dengan kakek-nenekku."

Suara tawa Yunho meluncur di bibirnya. "Aku minta maaf karena aku memang bajingan terangsang yang tak bisa menahan diri. Tapi jika kita benar-benar jujur?, ini lebih mengarah ke salahmu daripada salahku."

Jaejoong tersentak. "Dan kenapa ini menjadi salahku?"

Yunho mengedipkan mata kepadanya. "Kau hanya begitu terlihat sialan seksi dengan memakai gaun dan sepatu bot koboi itu."

"Kau sangat tidak masuk akal," katanyadengan gusar. Diam-diam, Jaejoong merasa lebih dari senang ketika mendengar Yunho menyebutnya seksi dan tidak mampu menjaga tangannya dari tubuh Jaejoong. Semakin besar yang Jaejoong dapatkan, dia merasa semakin kurang disukai. Tapi kemudian Yunho membuatnya merasa cantik pada saat Yunho pertama kali mengajukan proposisi di O'Malley.

Yunho mencium lehernya sementara tangannyamengelus naik turun di punggung Jaejoong. "Sialan, aku merindukanmu," gumam Yunho di leher Jaejoong.

"Merindukan aku atau seks?" Tanya Jaejoong, mengulangi pertanyaan familiarnya.

"Setelah sekian lama, apakah kita masih berkutat ke masalah itu?" Geram Yunho. "Kamu. Aku sialanmerindukanmu, oke?"

Jaejoong menarik diri lalu tersenyum pada Yunho. "Oh, Yunho, kau begitu romantis. Membisikkan kata-kata yang paling manis kepadaku!"

Mata Yunho melebar, tapi kemudian ia tertawa. "Maaf, sepertinya itu benar-benarbukan romantis, huh?"

"Aku menghargaiperasaan seperti itu. Aku merindukanmu, juga,"

Jaejoong menjalankan jari-jarinya mengacak-acak rambut Yunho dan tersenyum. "Meskipun hal ini membuat kita bersatu, terkadang aku sangat membenci pekerjaanmu."

"Aku setuju denganmu," gerutu Yunho.

"Kau pikir kau masih tetap bepergian seperti ini ketika bayi kita sudah lahir?"

"Aku berharap hal itu akan berkurang nantinya." Yunho memberikan ciuman ringan di rahang Jaejoong. "Mereka pikir mereka bisa memanfaatkan dan menyalahgunakan aku karena aku seorang bujangan. Mungkin seharusnya aku memberitahu mereka kalau aku akan menjadi seorang ayah, dan mereka akan melepaskan aku."

Jaejoong menegang. "Maksudmu kau belum memberitahu siapapun di departemenmu tentang bayi ini?"

"Tidak persis seperti itu...Maksudku, teman-temanku di luar dan teman-teman kerjaku sudah tahu hal itu." Dia menyeringai.

"Menghabiskan waktu denganmu agaknya telah memotong acara minum bir sampai mabuk yang biasa kami lakukan di O'Malley, dan mereka benar-benar tidaksenang tentang hal ini."

Sebuah dengusan frustrasi lolos dari bibir Jaejoong. Menarik dirinya menjauh dari pangkuan Yunho, ia menarik kembali celana dalamnya keatas melewati pahanya dan merapikan kembali gaunnya.

"Apa yang salah?"

"Kau serius harus menanyakanhal itu?"

Dia meringis. "Kau marah karena aku belum memberitahu atasanku tentang bayi kita."

"Tentu saja aku marah!" Jaejoong mendengus, melangkah ke seberang ruangan kearah kopernya.

Yunho bangkit dari sofa dan memakai celananya. "Jae, tunggu, bisakah kau mendengarkan aku terlebih dahulu?"

Jaejoong berbalik. "Apakah ini ketika kau bilang bahwa kau menyesal dan kau hanya tidak berpikir untuk menyebutkan hal itu? Entah bagaimana faktanya kau akan menjadi seorang ayah dalam waktu kurang dari lima bulan cukup membuatmu lupa?"

Dia mengangkat tangannya untuk membela diri. "Dengar, aku benar- benar minta maaf. Aku benar-benarsudahgila di kantor selama dua bulan terakhir dan kita telah berhubungan menjadi lebih dari sekedar pasangan. Aku hampir tidak berada di kantor sini selama seminggu penuh. Aku berjanji padamu bahwa aku tidak dengan sengaja menipu tentang dirimu ataupun bayi kita. Aku bersumpah."

Ketika Jaejoong menyadari ketulusan dari suara Yunho, Jaejoong mendesah. "Maafkan aku. Seharusnya aku tidak panik seperti itu.

Hormon-hormon bodoh ini membuat diriku terkadang benar-benar tidak rasional."

"Tidak, kau benar kau boleh marah kepadaku. Ini tidak seperti aku yang seharusnya memperkenalkan dirimu kepada teman-temanku atau memberitahu mereka bahwa kita telah resmi berhubungan."

Jaejoong merasakan seperti ada aliran listrik di ruangan ini. Apakah Yunho benar-benar berbicara tentang membuat sesuatu yang lebih resmi diantara mereka? Apakah itu mungkinberarti hidup bersama?

Seperti sebuah lompatan besar mengingat mereka bahkan belum mengucapkan kata "C". Itu fakta bukannya Jaejoong tidak sangat mencintai Yunho. Tapi Jaejoong terlalu khawatir karena hal itu akan meyebabkan Yunho ketakutan dan akhirnya pergi. Sepanjang hubungan mereka seperti sebuah balon yang rapuh, Jaejoong takut itu akan meletus setiap saat.

Yunho mengangkat alisnya dan bertanya pada Jaejoong. "Jadi, kita baik-baik saja kan?"

Jaejoong tersenyum. "Kita baik-baik saja."

"Baiklah kalau begitu. Ayo kita segera pergi dari kota ini!"Kata Yunho, sambil meraih koper Jaejoong.

Jaejoong menghela napas dalam-dalam dan mencoba mempersiapkan diri secara mental dan emosional untuk apa yang akan mereka hadapi nanti.


ehemm ehemmm

adakah yang nonton drama TURKI " ANTARA NUR DAN DIA"

entah knpa kalo nonton itu drama aku ngebayangin nya pemeran nya Yunho sama Jaejoong -_-