Naruto Masashi Kishimoto
[ Naruto Second Chance ]
#Fanfiction
#Author HnU
#Rated M
#AU
#OOC
#COMEDY
#ROMANCE
#SCHOOL
#FRIENDSHIP
#FANTASY
#GENDER_BENDER
#Chapter 25 - Ending.
[ Aku selalu mencintaimu ]
Kurama menatap tegas Naruto, karena kurama sangat kesal dengan keputusan yang tidak masuk akal itu. 'Untuk yang dicinta?' Naruto mengunakan alasan itu saat menjawab pertanyaan tegas.
"Naru-chan, kau seharusnya tidak seperti itu. Biarpun aku sering bicara hal mesum itu hanya candaan.."
"Sudahlah Kurama-sama. Aku lelah kemarin benar-benar membuatku lelah- aduh, sshh.."
"Mm, selangkanganmu sakit ya?"
"Iya sakit, tadi dia minta lagi hehe.."
Srk.
Kurama duduk bersandar di sofa, sambil melirik Naruto yang senyam-senyum tidak jelas.
"Kau pasti senang ya Naru-chan?"
"Yaah, bisa dibilang begitu. Bagaimanapun Gaara-kun itu berharga bagiku, Kurama-sama."
"Mmm.., aku jadi iri.."
"Hah, iri?"
Naruto menghela nafas dan tersenyum.
Naruto seperti biasa ketempat Yahiko yang bekerja disebuah kafe. Sementara Gaara tidak bisa menemani Naruto dengan alasan sibuk mengatur rencana persiapan acara pernikahan mereka minggu depan. Tergesa-gesa dan tidak sabar itulah yang Gaara lakukan saat ini ia ingin acara itu bisa diselegarakan lebih awal pikirnya.
Yahiko mendapat undangan dari Naruto, dengan ekspresi sedikit kecewa bisa ia tutupi dengan senyuman.
"Jam 9 pagi tanggal 22 oktober.."
"Tanggalnya bagus bukan?
Gaara-kun bilang tanggal 22 itu pertanda baik."
"Menurutku juga begitu. O'iya Naru, apa kau bahagia bersamanya?"
"Tentu saja!"
"Mmm.., aku jadi senang kalau begitu."
"Yahiko-san, kau harus datang ya? Kau teman baikku, aku bisa sangat kecewa kalau kau lebih mementingkan pekerjaanmu ini."
"Tenang. Aku pasti datang paling awal."
"Awas kalau bohong loh."
Tempat selanjutnya yang Naruto kunjungi adalah apartemen teman SMA. Naruto dengar Sakura dan Ino telah kembali dari pekerjaan mereka diluar negeri. Sakura dan Ino memang tidak begitu dekat dengan Naruto namun Naruto ingin mengundang mereka berdua.
Saat pintu apartemen dibuka. Kebetulan ada Ino di apartemen Sakura, mereka berdua terkejut dengan kabar itu karena sudah lama sekali Naruto dan mereka berdua tidak ber'kontak lewat telpon maupun sosmed alasan sibuk.
"Mi-minggu depan!" ucap terkejut Ino.
"Kau baru bilang sekarang padahal kita kan teman."
"Apa iya kita bisa dibilang temannya Naruko?" sahut Ino menyahut Sakura.
"Eeh, kitakan dulu satu sekolah pig."
"Tapikan kita selalu jah-."
"Sudah itu masalalu yang penting kalian harus datang ok!" ucap Naruto menjeda.
"I-iya kami pasti datang" jawab Sakura dan Ino.
Mereka bertiga mengobrol cukup lama. Sakura dan Ino meminta maaf atas perlakuan mereka dulu dan selalu berpikir hal yang negatif tentang Naruto. Dengan mudah Naruto memaafkan karena bagaimanapun juga mereka tetap dia anggap teman.
Tempat selanjutnya adalah tempat seseorang yang menjadi masalalu Naruto. Masalalunya kini sudah menepuh kebahagiaan- Kiba dan Hinata sudah menikah lebih dulu. Tanpa terasa pernikahan mereka sudah ke-3 minggu sekarang.
"Suamimu sedang sibuk ya?"
"Iya. Dia sibuk dengan pekerjaannya, Kiba-kun selalu lembur, dia suka dengan pekerjaan alasannya sih ingin membuatku lebih bahagia."
"Wah, kelihatannya hubungan kalian berdua makin harmonis ya
Hinata-san?"
"Ya begitu dia sangat romantis juga pengertian. Bisa harmonispun karena kami saling percaya." balas Hinata saat menyediakan teh di ruangtamu.
'Walaupun kita tidak ditakdirkan bersama. Aku senang kau bahagia dengannya..'
Naruto mendengar kabar dari Hinata bahwa Sasuke sudah pulang ke Konoha. Naruto memutuskan ke Uchiha corp, ia senang bisa melihat teman SMA nya yang selalu saja membuatnya kesal. Dan lebih kesalnya lagi Naruto tahu kabar bahwa Sasuke telah kembali dari oranglain.
"Hn?"
"Kenapa malah hn? Kau harus datang!"
"Aku sibuk, lebih baik kau jangan menikah dengannya."
"Cih, aku kesini bukan mau ribut bodoh."
"Hn, jelek kau makin cerewet."
Mereka berdebat di ruangan kerja Sasuke. Perdebatan itu terdengar sampai luar- pegawai disana sampai tidak percaya dengan yang mereka dengar. Sasuke bos yang pendiam terkesan dingin dan akuh sampai bisa seperti itu diluar kebiasaannya.
Naruto dan Sasuke berdiri berhadapan, masih saja berdebat seperti dulu ditambah lagi malah semakin parah. Sasuke kecewa dengan kabar yang tiba-tiba itu padahal besok ia ingin melamar Naruto sebagai kejutan namun ia kalah telak dengan Gaara yang lebih cepat mengambil keputusan.
"Naru-chan." gumam Sasuke.
"Kau memanggilku seperti itu jadi terdengar aneh."
"Hn, tidak cocok ya."
"Sangat tidak cocok."
"Aku mencintaimu..."
"Aku tau itu."
"Hn, kau tau?"
"Iya selalu tau, tapi aku tidak pernah bisa membalasnya. Aku lebih memilih berpura-pura bodoh saja ketimbang memberi selah kau lebih menyukaiku bahkan cinta,"
"Sasuke-kun, kau orang yang selalu jujur dengan ucapanmu. Aku tidak pernah tidak menganggap semua perkataanmu untukku. Maaf kalau aku ini egois dan tidak memberi kesempatan. Tapi..., aku hanya mencintai satu orang saja."
"Aku semakin tidak rela kau bersamannya."
Cup.
Naruto mengecup pipi yang ada dihadapannya. Dia tersenyum sembari mengacak-acak rambut hitam Sasuke.
"Aku senang kau pulang. Jangan lupa datang di acara pernikahanku dan ingat rubah sifat menyebalkanmu itu lagian kita sekarang sudah dewasa harusnya kau bisa lebih ramah ok,
Sasuke-kun?"
"Hn, akan ku'usahain."
"Haha.., pintar yaudah aku pergi dulu masih banyak yang mau aku undang lanjutin kerjaan mu ya. Daaa..."
"Hn, hati-hati Naru-chan."
Iya, Sasuke-kun.., kedengaran tetap aneh kalau kau memanggil namaku hehehe.."
'Cinta sepihak itu tidak akan bahagia. Kau pasti tau itu.'
Madara menerima undangan dari Naruto. Obito yang di kenal sebagai Tobi, membuat Naruto hampir terkejut saat melihat Obito tanpa mengenakan topengnya.
"Wah!, ternyata Tobi-sen, ehm! Maksudku Tobi-kun tampan sekali!"
"Hehe..., apa iya?"
Undangan pernikahan sempat menjadi luka baru buat Tobi. Namun saat ia melihat raut wajah bahagia Naruto, Tobi ikut tersenyum dan bahagia dalam diamnya.
Madara mantan dosen pembimbing Naruto, yang terkenal mengerikan saat ini terlihat cemas dengan Tobi.
"Paman harus datang loh. Tobi-kun juga ya!"
"Naruko-chan, panggil saja aku Obito lagian nama itu cuma karanganku."
"Eh?"
"Turuti saja anak aneh ini Naru."
"Siap paman! Obito-kun tolong harus hadir diacara pernikahanku. Jangan lupa nanti aku bisa marah loh. Bisa aku banting semua meja, gelas apa aja yang kulihat kubanting! Kau paham kan!"
"I-iya, tenang saja. A-aku pasti datang kitakan teman hehe.."
"Mm.., kelihatannya Obito baik saja dan menerima semua ini." kata batin Madara.
Sai menatap tajam kearah undangan yang ia pegang. Naruto bingung dengan ekspresi Sai yang kelihatan kurang suka dengan undangannya. Naruto mengacak-acak rambut hitam Sai, sambil berkata 'maaf.'
Pelukan tiba-tiba yang semakin mengerat. Naruto mencoba agar Sai menghentikan perlakuan yang semakin membuat Naruto risih. Sai menghirup aroma tubuh Naruto dengan penuh perasaan.
"Jangan menikah dengannya. Aku sangat mencintaimu. Sejak pertama melihatmu, kuselalu memikirkanmu Naruko-chan.."
"Sa, Sai-kun. Aku bilangkan yang kucinta itu Gaara-kun dia selalu mencintaiku dari du-. Mhh!"
Dakh.
Bersandar di sofa. Kedua pergelangan tangan digenggam erat, Naruto mencoba menolak lumatan bibir yang sangat memaksa.
Plak!
Naruto menolak sekuatnya, ia mendorong Sai. Dan menampar keras pipi Sai sekuat yang ia bisa. Dengan sigap dipenuhi rasa kecewa Naruto pergi. Sai mengejar Naruto yang mulai berlari kecil.
Sai meraih pergelangan tangan dan membimbing agar Naruto melihatnya. Tatapan tajam Naruto sampai membuat Sai terkejut karena terpancar rasa benci yang begitu kuat.
"Aku kecewa padamu Sai!"
"A-aku minta maaf. Aku punya alasannya soal ini Naruko-chan aku serius dengan ucapanku, aku menci-."
"DIAM! AKU SUDAH BILANG DARI DULU AKU CUMA MENCINTAINYA!"
"Ta-tapi Naruko-chan."
"Mungkin dengan ini kau bisa paham. Cinta itu tidak bisa dipaksa."
Deg!
Dada Sai seakan tertembus tombak dan rasa ngilu yang sulit dijelaskan. Dia mengenggam erat, menggepalkan kedua tangan.
Di luar apartemen angin berhembus tenang, sepoi angin menerpa tubuh mereka berdua. Naruto berlari pergi untuk menjauh dengan rasa kecewa ia tahan amarahnya. Sai mengejar Naruto sembari meminta maaf.
"Naruko-chan tunggu. Aku minta maaf tadi semua yang kulakukan ada alasanya! Kau pasti tau itu!"
Di sebrang jalan Naruto menatap tajam kearah Sai yang terus berlari tanpa mempedulikan apapun. Dia hanya ingin tau bahwa Naruto sangat berharga baginya- cinta pertama yang begitu sangat berharga.
Tiiiiiin!
Kiiith!
"Sai! Awas!"
Braaak!
Sai terpental hingga di tepi jalan. Dia terkejut karena itu terasa seperti didorong oleh seseorang. Ketika mata melihat keberadaan Naruto, Sai membulatkan mata karena yang dia lihat saat ini adalah sosok yang ia cinta dalam kondisi yang parah sampai darah membasahi aspal hingga sampai dekat tubuh Naruto yang tergeletak di dekat trotoar.
Sai menyetop mobil. Dan terburu mengendong Naruto untuk masuk dalam mobil yang Sai stop. Pria itu sangat panik, ia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi dengan Naruto. Wanita pirang yang terlihat lemas apalagi kondisi kritis ditambah tangan kanannya kelihatan mengalami luka parah- patah. Di dahinya mengalir darah membasahi wajah cantiknya.
Tanpa ada suara jawaban ketika Sai memanggilnya dengan panik.
Teerrrrrth!
Suara handphone berdering. Gaara merogoh kantung dibalik jasnya. Kabar yang sangat tidak pernah dibayangkan oleh Gaara terjadi, ia gemetar saat mengenggam handphone.
Kankuro dan Temari yang ikut menemani Gaara untuk memilih cincin pernikahan. Mereka berdua panik setelah mendengar ucapan Gaara bahwa Naruto mengalami kecelakaan yang parah.
( Skip )
Brak!
Sasuke mendorong Sai hingga membentur tembok. Yahiko dan Obito menahan Sasuke sekuat mungkin.
"Cih, kau sampai melakukan itu padanya! Kau pikir kau itu siapa hah!" bentak Sasuke nyaring.
"Sasuke!"
"Hn, Gaara?"
Sai terduduk lemas dibangku tempat menunggu. Dia merasa sangat bersalah dan menyesali semua yang dialakukan. Sai menceritakan semuanya kepada Gaara dan kedua kakaknya. Gaara tanpa basa-basi langsung menghantam pipi Sai dengan tinjunya.
"Sudah berhenti kau harus tenang!" Bentak Kankuro ke Gaara yang ingin menghajar Sai lagi.
Bukan hanya Gaara yang marah namun semuanya ada disana juga marah kepada Sai yang memaksa kemauannya. Dokter keluar dari ruang operasi memberikan kabar yang sangat menyedihkan karena dengan terpaksa tangan kanan Naruto harus di amputasi. Dan mengenai kondisi Naruto saat ini masih dalam keadaan koma tidak sadarkan diri.
Gaara meminta agar semua untuk kembali pulang karena sudah larut malam namun Sasuke tetap berada disana dengan alasan ia tidak ingin pulang sebelum melihat keadaan Naruto.
Duduk di dekat pohon besar. Kedua tangan merangkul kakinya. Seorang wanita berambut pirang itu hanya menatap lurus kedepan, disebelahnya seorang pria berambut merah sedang duduk bersilah. Dan sesekali menghela nafas.
"Aku ingin sekali menolongmu lagi tapi ada yang menahanku."
"Kurama-sama, tidak usah menyalahkan dirimu lagi."
"Aku tidak keberatan dengan takdir kusendiri tapi.., aku sangat takut meninggalnya sendirian."
"Mm.., aku mengerti. Kau pasti sedih karena diakan?"
"Bukan hanya sedih, rasa di dadaku sangat sesak. Andai aku tau akan jadi begitu harusnya dulu aku cepat menerimannya jadi pacarku."
"Mungkin ini yang namanya nasi sudah menjadi bub-."
"Menyesalpun percuma karena semua sudah terjadi." sahut Naruto menjeda.
"Aku akan selalu mencintai
Naru-chan."
"Mmm.., pemilik tubuhku ini kan
Kurama-sama?"
"Bukan. Tapi kau Naru-chan."
Kurama melebur bagaikan ribuan kunang-kunang terbang ke angkasa. Naruto hanya bisa menghusap airmata. Dan mengangkat tangan keatas lalu mengepalkannya.
"Kami-sama, beri aku sedikit waktu, aku ingin melihatnya."
Naruto membuka mata- sadar dari komanya. Dia melihat sekitar dipenuhi oleh teman dan yang ia cinta. Gaara terlihat senang karena akhirnya Naruto sadar.
Tit...
Tit...
"Gaara-kun, kau tidak boleh menangis sayang."
"Cepatlah sembuh, kau koma lama sekali sampai seminggu. Kita akan menikahkan?"
Semua hanya diam tak mampu bicara. Gaara membelai surai wanita yang selalu membuatnya jatuh cinta.
Naruto melirik tangan kanannya karena merasa ada yang aneh. Tersenyum namun airmata berlinang, ia menatap sang pujaan hati dengan tatapan sendu.
"Tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah. Tetap menjadi yang kucinta baik hati dengan semuanya. Biarpun kupergi, aku akan selalu mencintaimu Gaara-kun."
"Naru-chan! Kau jangan bicara sembarang lihat aku! Apapun yang terjadi padamu, aku akan terus setia mencintaimu!"
"A..,aku senang... Aku beruntung dikesempatan keduaku dan bisa kau cintai..., te-terim.., kas...Gaa..."
Tiiitt...
"Bangun... Kau itu kuatkan, aku saja pernah kau hajar Naru-chan?"
Sasuke menepuk pundak Gaara. Sasuke hanya diam namun tanpa ia sadari airmatanya membasahi pipinya.
"Jelek, harusnya kau, bicara dulu denganku sebelum pergi..."
Sai tidak mampu berkata apapun ia keluar dari ruangan rawat Naruto. Sai berjalan tak tentu arah sambil mengutuk dirinya sendiri.
Gaara dan Naruto memang tidak bisa untuk bersama namun mereka benar-benar saling mencintai. Takdir yang pahit memanglah sangat tidak adil namun Naruto tetap menerimanya dengan lapang dada.
Setahun telah berlalu. Gaara setiap hari meletakan bunga di pemakaman Naruto. Sasuke juga sering berkujung dan meletakan bunga disana. Sementara yang terjadi dengan Sai, dia bunuh diri dengan cara gantung diri seminggu setelah Naruto meninggal.
"Kau datang hampir setiap hari."
"Hn, kau cemburu kalau aku rajin datang menggoda kekasihmu?"
"Ya aku cemburu." sahut Gaara setelah meletakan bunga.
"Aku selalu mengatainya jelek. Tapi sebelum pergi, aku sempat menyebut namanya."
"Kau memanggilnya jelek karena Naru-chan itu cantik bukan?"
"Hn, dia cantik? Dia itu jelek tapi aku menyayanginya."
"Aku masih belum rela Naru-chan pergi secepat ini." Gaara meletakan cincin di dekat batu nisan Naruto.
"Hn, cincin yang lumayan bagus. Dia pasti senang."
"Aku belum sempat menujukannya."
Sasuke menepuk pundak Gaara, lalu ia pergi. Sasuke sangat marah dengan semua yang terjadi dengan Naruto.
Awan mendung menutupi matahari. Gerimis mulai turun membasahi tubuh Gaara. Dia hanya tersenyum sambil melihat nama di batu nisan.
"Aku selalu mencintaimu Naruko Namikaze. Jangan menangis karena kau tidak pernah menangis apapun yang terjadi. Naru-chan, aku semakin mencintaimu sayang..."
TAMAT
Maaf kalau ceritanya jelek ya. Senpai juga udah ambil keputusan endingnya sampai sini. Ada pelajaran gak dalam cerita ini? Mungkin ada yang dapet pelajaran hehe..
