AA : Uh... Gimana ini... ? *nangis sambil peluk guling* Kalau gini terpaksa Let's Baking Love dihapus...
Emily : Hee? Ada apa stupid author?
AA : Lagi-lagi... OTL Kau benar-benar deh... Bantuuu! *setengah cekek Emily*
Emily : Whuaaa! Hee, memangnya ada apa? OAO'
AA : Kita kehabisan ide untuk LBL... Gimana ini?
Emily : Memangnya apa gunanya ada LOVE ME LOVE ME, LOVE HER LOVE HER dan fic lainnya? =3=
AA :... Benar juga! TERIMA KASIH EMILY! *peluk lagi sampai Emily ngga bisa napas*
Emily : *jitak sang author sambil nyuruh sujud*
AA : Oh iya, hampir lupa... Terima kasih untuk yang sudah menunggu update cerita yang super lelet lama ini TT_TT! Maaf agak lama, karena kesibukan sang author ini _'
Emily : Ayo dimulai~mwa! XD
- Claire's POV -
Pagi yang normal di Claire's Bakery Store. Aku terbangun dari kasurku yang hangat. Sinar matahari masuk perlahan dari jendela kamarku dan membuatku harus bangun sebelum kesiangan. Aku buru-buru masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhku.
Siap dengan overallku dan baju polos bergaris-garis merah milikku, aku tinggal membuat roti dan menunggu kedatangan asistenku satu-satunya, Emily.
Aku melirik ke jam dinding. Masih jam 10 kurang. Pasti sebentar lagi Emily akan datang.
BRAK!
Benar saja.
"PAGIIIII!" teriak Emily kencang sambil mengacungkan lengan kanannya semangat. "Emily terlambat tidak?"
Yup. Tanda-tanda jam 10 tepat tiba adalah datangnya Emily ke toko roti ini.
"Terlambat tiga detik. Kau harus ambil anggur-anggur liar di hutan!" suruhku sambil mengajaknya bercanda.
"Hee? Anggur liar? Ini kan musim Fall, tidak mungkin ada anggur liar di hutan! Ah, mungkin Emily ambil saja dari toko wine tuan Duke-sama?" tanya Emily menganggap candaanku serius.
"Ahahahaha," aku tertawa kecil. Hanya bercanda kok, cuma bercanda!"
"Hee? Bos kejam!" teriak Emily sambil iseng mencubiti kedua pipiku hingga melar.
"Awwwaaa swakiiiittthh!" rintihku sambil tertawa puas.
KLINING KLINING
Untung saja bunyi bel tanda pelanggan datang berbunyi, menyelamatkanku dari cubitan di pipi sebelum semakin melar.
"Permisi, ini telur untuk hari ini," Rick seperti biasa datang dan mengantarkan selusin telur yang baru diambilnya dari peternakan ayam. "Sedang bermain-main ya?"
"Rickkun! Selamat siang!" teriak Emily melengking sambil memasang senyum lebar. Yup, dia menyukai pemuda berkacamata pirang tua itu. Wajar saja kedatangan Rick selalu dinantikan Emily.
"Se, selamat siang, Emily," jawab Rick agak tersendat, namun Rick tetap berusaha bersikap lembut pada Emily.
"Rickkun, mau main hari ini nggak?" tanya Emily tidak sabaran.
"Oh, maaf Emily, aku harus kerja mengurus pertanian Poultry." jawab Rick. "Tapi kalau ada kesempatan, kita main ya!"
"Horeeeeee! Rickkun baik deh!" Emily langsung memeluk lengan Rick. "Oke, sampai jumpa besok ya Rickkun!"
"Iya. Dadah Claire, Emily!" Rick pergi meninggalkan toko roti.
KREK.
"Hahaha, kau pedekate lagi ya?" ledekku.
Muka Emily langsung memerah. "Enggak kok bos-! Aku enggak—Eh, cuma..."
"Ah, jujur aja Emily. Kamu naksir ama Rick kan?" tanyaku sambil tersenyum kecil. Aku hanya tertawa kecil sambil melihat asistenku salah tingkah.
Jam 5 sore. Sudah waktunya toko Claire tutup.
"Sampai jumpa lagi ya bos!" Emily memelukku dengan erat, saking sayangnya sampai-sampai aku tidak bisa bernapas.
"I—Iya, Emily... Tapi sesak nih..." bisikku sambil menepuk pundak Emily. Langsung saja Emily melepaskanku dengan damai. "Nah... Fiuh... Oke, sampai besok ya Emily!"
"Dadah bos! Sampai jumpa besok!" teriak Emily sambil berlari dan meninggalkanku.
Aku kembali masuk ke toko roti sambil mengambil sapu.
BRUK!
Eh? Aku menoleh sebentar. Aku merasakan ada sesuatu jatuh dari tanah dan terdengar kencang sekali. Ah, mungkin suara Emily jatuh terpeleset. Aku tersenyum kecil sambil membersihkan lantai toko rotiku.
Sambil bersih-bersih, aku mendengar suara bel tanda pelanggan datang.
KLINING KLINING
"Se... Selamat sore..." bisik seseorang berambut pirang dan bertopi biru tua. Yup, Gray datang ke toko rotiku. Entah kenapa, sejak hari di mana aku membantu mengerjakan tugas di Inn saat 5 Fall lalu, Gray sering sekali mengunjungiku setiap sore. Entah untuk berbicara maupun untuk saling pandang.
"Oh, hai Gray," sapaku riang sambil tersenyum. "Ada apa sesore ini mampir?"
"Umm... Ya, sekedar ngobrol bersama..." jawab Gray kaku. Entah apa yang terjadi padanya hingga membuatnya menjadi kaku begitu.
"Hoo..." aku mengangguk dan meneruskan membersihkan toko. "Ngomong-ngomong kok mukamu merah?"
Gray menoleh ke arahku dan terkejut. "Hah... Merah?"
"Iya, pasti karena kena panas dari oven kan?" jawabku santai sambil menunjuk ke arah oven yang masih menyala dan panas di sebelah Gray.
"Uh... Bukan itu Claire... Anu..." Gray agak kikuk menjawab pernyataanku. "... Bagaimana kalau kubantu kau menyapu?"
"Boleh, boleh!" jawabku polos.
"CLAIRE!"
Aku menoleh ke arah pintu masuk toko. Ann masuk ke dalam sambil terengah-engah dan mengatur napasnya sebelum berbicara denganku.
"Ada apa Ann?" tanyaku. Tumben, dia datang ke tokoku sesore ini.
"Gawat! Emily ngamuk di Inn! Dan hanya kau satu-satunya yang bisa membantuku! Tolong aku Claire!" teriak Ann sambil menarik tangan Gray dan tanganku juga.
Kami berlari bertiga menyusuri jalanan Mineral Town.
"Tadi... Kau bilang Emily mengamuk...? Karena apa?" tanyaku bingung.
"A, aku juga tidak terlalu mengerti... Tapi tadi Emily menyebut-nyebut soal 'jangan dekati Karen' pada Rick... Memang, kebetulan Karen dan Rick sedang bersama-sama, tapi..." Ann menjelaskan sambil tetap berlari.
Aku terkejut.
Aku... HARUS LARI LEBIH KENCANG!
Aku menambah kecepatan lariku sambil meninggalkan Ann dan Gray.
-_-_- Doug's Inn -_-_-
Aku langsung mendobrak masuk. Kulihat Emily masih berdiri di atas meja sambil menangis.
"Huweeeeeee, bossss!" jerit Emily sambil menangis kencang ke arahku.
"Emily, kenapa kamu nangis? Coba ceritakan padaku di lantai atas yuk? Dan jangan ganggu Rick ataupun Karen ya?" pintaku sambil mengelus kepala Emily lembut.
Dengan cepat Emily mengangguk dan melemaskan diri. Aku langsung memintanya berbaring di tempat tidur, sementara kusandarkan kepalanya di atas pangkuanku. Dengan perlahan aku mengelus kepala Emily lagi, mencoba menenangkannya dari rasa sedih.
"Nah..." aku memulai pembicaraan. "Ceritakan kenapa kau sampai menangis kayak tadi."
"Ta-tadi..." Emily bercerita sambil sesegukan. "Tadi... Aku liat Ricckun... Sama Karencchi... Mesra-mesraan..."
"Terus, Emily?" tanyaku lembut.
"Yah... Entah kenapa Emily kesal... Terus, terus... Eh, kayak tukang parkir... Terus, Emily langsung nangis didepan Rickkun dan Karencchi... Lalu, bos datang... Begitu..."
"Itu namanya cemburu, Emily," aku tertawa kecil sambil terus mengelus kepalanya. "Kau baru pertama kali mengalami ini ya?"
Emily mengangguk pelan.
"Aku sering mengalami ini sewaktu kecil. Aku selalu aja ngembek atau kesel kalau ada cowok yang kutaksir deket-deket sama cewek lain." aku tertawa selagi menceritakan masa kecilku. Emily ikut tertawa kecil.
"Sebaiknya kau menyerah saja, Emily," aku menghela napas.
"Kenapa, bos? Kenapa?" tanya Emily sambil mulai menangis.
"Belakangan aku tahu... Rick dan Karen itu pacaran. Sebaiknya kamu jangan ganggu mereka." jawabku.
"Ke... Kenapa?" tanya Emily lagi.
"Cep, cep, Emily, jangan nangis..." ucapku lembut, sambil mengelus lagi kepalanya.
Emily terdiam sambil memandangku. "Bos... Kenapa aku enggak boleh menggangu hubungan mereka?"
"Mau tahu kenapa?" tanyaku sambil tersenyum.
Emily mengangguk.
"Begini, Emily." aku menggenggam kedua tanganku. "Coba kau bayangkan aku. Misal, aku menyukai Gray, tapi tiba-tiba Cliff berontak padaku dan ingin merebutku didepan Gray dan semua orang. Bagaimana perasaanku kira-kira?"
Emily langsung tersentak. "Pasti bos sedih! Malu pula!"
"Iya, itu juga dirasakan oleh Karen. Kau tak ingin membuat orang sedih kan?" aku tersenyum.
Hening sejenak. Aku tahu kalau Emily sedang berpikir keras saat ini.
"A..."
"Hm? Kenapa Emily?" tanya Claire.
"Aku harus minta maaf sama Rickkun!" Emily bangkit dari tempat tidur. "Ya, aku harus minta maaf sama Rickkun!"
"Anak baik," aku mengangguk. "Nah, ayo, kau boleh minta maaf,"
"Baiiiiik!" Emily berlari turun ke bawah sambil menghapus air matanya buru-buru. Aku hanya tersenyum pahit.
Aku memang sempat menyukai Rick. Sempat. Sempat sebelum aku melihat Rick terkagum-kagum dengan nyanyian Karen di Music Festival lalu.
Ditambah lagi, kalau seandainya aku menjadi Emily, pasti rasanya sakit sekali. Aku sangat mengerti perasaannya sampai-sampai dadaku terasa sakit.
"H... Hwaa..." tanpa sadar aku menangis.
Kucoba untuk tetap bertahan dan tidak menangis. Tapi tetap saja tidak akan mungkin. Air mataku terus saja mentes, membendung hingga membuat pandanganku buram. Saat kupejamkan mata, air mata yang bening mengalir perlahan dari sudut mataku menuju ujung mukaku.
Air mataku terus saja mengalir, bersama dengan tanganku yang meremas sprei, mencoba menahan emosi. Aku ingin berteriak. Aku ingin meminta. Aku ingin ada seseorang di sampingku yang menemaniku.
"... Claaaaiiree!"
Aku menoleh. Kucoba menghapus air mataku buru-buru.
"Hei, kukira kau sudah pulang!" Jack muncul sambil tersenyum riang. "Ayo makan malam sama-sama di sini! Sekalian kita..."
Hening. Jack terdiam saat melihatku.
"Ah... Ayo, Jack," jawabku sebisa mungkin sambil berdiri.
"... Eh, kau tau jebakanku nggak?" Jack tiba-tiba menceritakan cerita yang nggak jelas. "Kemarin aku membuatkan hotdog plastik lalu kusodorkan ke Harris, dan kupompa mayonnaise dari botol susu yang kubawa di sakuku melalui sedotan mini hingga membuat mukanya belepotan mayonnaise! Kocak kan!"
"Uph..." aku menahan tertawa. Bukan tertawa karena cerita Jack, tapi karena mimik muka Jack yang menirukan Harris yang mengamuk dan seakan-akan menembakkan pistolnya ke arah Jack.
"Kau selalu saja... Ahahahaha..." aku tidak lama akhirnya tertawa. "Kau selalu saja iseng... Aku malu punya kakak sepertimu!"
"Apaaaa? Claire, kau kejam pada kakakmuuuuu..." isak Jack sambil pura-pura menangis.
BLUPP
"HUAH?" aku menjerit kaget. Ada mayonnaise jatuh dari langit-langit dan membasahi kepala Jack.
"Ya ampun! Ini pasti ulah Emily... Kamu nggak apa-apa Jack?" tanyaku sambil menyodorkan sapu tanganku.
"T, tidak apa-apa Claire, hanya mayonnaise kok..." Jack tertawa kecil sambil meraih handuk di kasur Emily. "Kalau dilap pasti langsung bersih kok..."
Aku merinding. Di atas kepala Jack yang masih ada sisa mayonnaise... Ada sesuatu yang menggeliat di kepalanya. Sesuatu yang licin dan berwarna pink.
CACING?
"Ehh... Jack..." panggilku sambil agak ketakutan.
"Ya Claire?" tanya Jack santai.
"C, coba kau lihat apa yang ada di atas kepalamu..." pintaku lemas sambil menunjuk ke sebuah cermin besar yang tergantung di dinding dekat pintu.
"Hah?" Jack langsung berjalan ke cermin sambil menundukkan kepalanya. Segelimut cacing menggeliat licin di atas topinya.
"... KYAAAAAAAAAAA!" jerit Jack sambil kabur ke lantai 1, meninggalkanku sendirian.
Setelah beberapa menit (bahkan sampai meminjam kamar mandi demi membersihkan cacing yang menggeliat di sekitar kepala Jack), Jack selesai membersihkan kepalanya dari mayonnaise dan cacing-cacing tanah tadi.
"Y... Yuk kuantar pulang!" ajak Jack, sambil berusaha melupakan bagaimana rasanya ada makhluk hidup yang bergelirya di sekitar kepalanya barusan.
"I, iya!" jawabku sambil tersenyum pasrah melihat Jack menderita.
Anehnya, Jack mengantarkanku kembali sambil mengendalikan sebuah skateboard. Aku tahu Jack memang jarang memainkannya, atau mungkin karena sekarang memang musimnya bagus untuk bermain skateboard ya.
"Sampai!" Jack memberhentikan skate boardnya sambil menyeimbangkan sang papan luncur.
"Terima kasih sudah mengantarkanku, Jack," sahutku sambil tersenyum.
"Sama-sama! Kapanpun kakakmu ini akan selalu membantu!" teriak Jack bangga.
Aku tersenyum selagi melihat Jack berlalu. Dia pasti pulang ke pertaniannya.
Saat aku merogoh saku untuk membuka pintu tokoku, aku terdiam. Kenapa sakuku kosong? Padahal harusnya ada kunci untuk masuk ke toko sekaligus rumahku ini. Masa jatuh di jalan?
Aku buru-buru berlari dan mencari-cari di sekitar tokoku. Kunciku pasti ada di suatu tempat. Kucari-cari sampai ke dalam-dalam semak-semak.
Berjam-jam kucari-cari kunci rumahku. Tetap saja tidak ketemu. Hari makin larut. Bulan purnama menampakkan sinarnya, seolah-olah membantuku menerangi kota. Tapi percuma saja. Sudah kucari-cari kemana-mana, tetap saja tidak ada.
Aku menghela napas sambil berjalan perlahan ke pintu tokoku. Aku duduk sambil bersandar di pintu dan kutundukkan kepalaku.
Ternyata memang percuma saja.
Lagi-lagi aku ingin menangis.
"... Claire!"
Aku menoleh. Ada seseorang memanggil namaku.
Kedua bola mataku menangkap sosok seorang pemuda bertopi biru tua itu. Gray datang dengan ngos-ngosan, seperti habis berlari berpuluh-puluh kilometer.
"A, ada apa selarut ini Gray? Jalan-jalan?" tanyaku sambil berpura-pura bahwa tidak terjadi apa-apa.
Gray tidak menjawab pertanyaanku. "... Ini..." dia merogoh saku celananya sambil memberikan sesuatu padaku. "... Kunci rumahmu, kan?"
Aku terpana. Kupandang lagi dengan teliti barang yang diberikannya untukku. Sebuah kunci tembaga yang tebal dengan sebuah gantungan kunci yang dilapisi plastik bergambar kelinci dengan inisial namaku. Tidak salah lagi, ini kunci rumahku!
"TERIMA KASIH GRAY!" teriakku sambil melihat Gray yang sudah keburu pergi. Gray benar-benar baik padaku. Aku tersenyum sambil bersyukur.
Segera aku masuk ke rumah, mengganti pakaianku dan beristirahat. Hari ini benar-benar menyenangkan...
AA : Phuah, selesai juga!
Emily : Chapter ini diambil dari beberapa scene di fic LOVE ME LOVE ME karya Yuki Shirou – YN! ^^
AA : Jadi wajar saja kalau ada yang sudah baca fic Yuki-chan bakalan sadar. Tapi anisha menambah beberapa scene tambahan! Yay!
Emily : Kami berterima kasih banyak atas review-review yang sudah kami terima dari para pembaca sekaligus author semua! Emily senang deh! XD
AA : Harusnya anisha yang bilang itu... Tapi dia benar! Terima kasih banyak atas semua review dan kritik + saran yang diberikan untuk anisha! Terima kasih banyak!
Emily : Jangan lupa mereview juga yah~mwa! XD
