.
Chapter 25 – Reasonable Unrequited Feeling
.
Malam itu, Hakuya dan Yohime menghadap raja Il di kamar raja Il setelah Haku memberitahu mereka berdua tadi siang bahwa raja Il ingin bicara dengan mereka berdua.
"apa yang ingin ayahanda bicarakan?" tanya Yohime.
"soal pernikahanmu... aku sudah pernah bilang kalau kau memiliki tunangan yang telah kupilih dan kau harus menikah dengan salah satu dari mereka, kan?".
"ayahanda, kenapa ayahanda malah membahas tentang pernikahanku malam ini sedangkan tadi siang baru saja ayahanda bertengkar soal ini dengan Yona?".
"itu karena aku tak menyangka kalau ternyata..." ujar raja Il menoleh ke arah Yohime dengan ekspresi serius "Soo Won melamarmu secara resmi... dia menyampaikan padaku lamaran yang ia tujukan untukmu".
"sudah kutolak, malah melamarku?" ujar Yohime menghela napas, ia lalu meyakinkan raja Il bahwa ia sama sekali tak memiliki perasaan pada Soo Won dan ia menolak lamaran Soo Won karena baginya, Soo Won hanya saudara sepupunya "seperti aku menganggap Haku sebagai adik laki-lakiku, Soo Won hanya sepupuku yang sudah seperti kakakku, tidak kurang dan tidak lebih".
"Haku itu adik kembarku, dia seumuran denganku dan dia lebih tua 3 tahun dari anda, Hime-sama... kenapa anda malah menganggap Haku sebagai adik laki-laki anda?".
"kelakuannya sama saja dengan adikku dan dia sama merepotkannya dengan adikku, jadi dia adalah adik laki-lakiku".
"bisa kubayangkan reaksinya yang pasti protes mendengar ucapan anda barusan".
"calon tunanganmu ada 6 orang, tapi sayangnya dari ke-6 orang itu, hanya ada dua orang yang berhasil kutemukan sejauh ini..." ujar raja Il melanjutkan pembicaraan, memotong percakapan di antara Yohime dan Hakuya.
"hah?" ujar Yohime heran.
Yohime sudah siap membombardir ayahnya dengan pertanyaan dan protes jika tunangan yang dipilih ayahnya tak beres. Bukan Yohime namanya jika ia tak mendengar penjelasan ayahnya lebih dulu sebab ia merasa tak sopan jika ia langsung mempertanyakan keputusan yang telah dibuat ayahnya tapi kali ini ia benar-benar tak habis pikir. Dari kata-kata raja Il, seolah raja Il tahu jumlah tunangannya tapi tak tahu siapa saja orangnya, ia bahkan tak mengenal siapa saja tunangannya selain dua orang yang katanya telah ia temukan.
"baiklah, terlepas dari soal tunanganku, ayahanda... apa gunanya itu sekarang? bukankah sudah ada kesepakatan di antara kita berdua bahwa Yona dan suaminya nanti yang akan menjadi raja dan ratu kerajaan Kouka ini serta meneruskan kerajaan Kouka ini? aku bersedia naik tahta sebelum Yona dan menjadi ratu kerajaan Kouka untuk memperbaiki kerajaan ini tapi sebisa mungkin itu akan kulakukan tanpa pendamping karena itu tak ada gunanya. Bukankah tabib istana sudah mengatakan pada ayahanda, bahwa tubuh ini bahkan tak sanggup mengandung anak? Sejak dulu, kaum pria mengadu nasib di medan perang dan kaum wanita bertugas untuk meneruskan keturunan. Sebagai wanita, aku sudah lama mati, karena aku tak bisa menjadi istri dan memberikan keturunan untuk suamiku. Tak ada gunanya aku menikah, itu hanya akan membuat pria yang menikahiku menderita. Kecuali jika ia pria brengsek yang tak mencintaiku, bersedia menikahiku hanya karena ia mengincar tahta kerajaan dan berniat menikah dengan wanita lain untuk mendapat keturunan setelah aku tiada, mungkin?".
"dan akan kubunuh pria itu sebelum ia menikahimu" pikir Hakuya yang melipat tangan dan berdiri di belakang Yohime, menyeringai, untuk sesaat aura membunuhnya hampir keluar.
"tak pernah aku merasa sangat bersalah padamu dan merasa tak berdaya selain saat melihatmu divonis oleh dokter 3 tahun yang lalu, karena aku merasa tak bisa melakukan apapun sebagai ayahmu. Hal terakhir yang bisa kulakukan sebagai ayahmu hanya memastikan kalau kau bisa mendapat kebahagiaaanmu dengan membiarkanmu menghabiskan waktumu bersama pria yang kau cintai hingga akhir hidupmu, Yohime..." ujar raja Il mendongak dan tersenyum lembut, ia mengulurkan tangannya pada Yohime, memberikan sepasang liontin yang ada di tangannya.
Tentu saja Yohime mengetahui liontin itu, liontin pengantin dimana sepasang liontin giok yang memiliki ukiran naga dikenakan calon pengantin pria dan liontin berukiran Suzaku dikenakan calon pengantin wanita. Ini berarti hanya satu hal yang jelas, ayahnya serius.
"memangnya... siapa dua orang dari enam orang pria yang telah ayahanda pilih sebagai calon tunanganku?".
"Son Hakuya dan Son Haku dari suku angin".
"...eh?" ujar Yohime dan Hakuya bersamaan, mengerutkan kening.
Belum habis keterkejutan mereka berdua, raja Il tersenyum, melanjutkan pembicaraan sambil menatap Yohime dan Hakuya yang tertegun, tampaknya apa yang ia sampaikan barusan benar-benar membuat mereka berdua terkejut dan blank seketika.
"aku sudah membicarakan ini dengan Mundok dan dia setuju saja jika salah satu dari cucunya menikah denganmu, Yohime. Tentu saja itu jika salah satu cucunya bersedia. Tapi, kurasa aku tak perlu bertanya lagi padamu, siapa yang akan kau pilih di antara Hakuya dan Haku, karena itu..." ujar raja Il tersenyum ramah "kalian berdua, menikahlah".
"APA?!" teriak Yohime dan Hakuya bersamaan, keduanya saling bertatapan selama beberapa saat sebelum mereka berdua kembali menjawab bersamaan "aku / saya tidak bisa?!".
"kenapa?".
Tepat setelah raja Il bertanya, keduanya langsung diam. Yohime menatap Hakuya dengan mata seolah mempertanyakan reaksi Hakuya sementara Hakuya memalingkan wajah, keduanya tak bisa menjawab pertanyaan raja Il secara langsung.
"aku mengerti apa yang kuberitahu pada kalian malam ini membuat kalian berdua terkejut tapi aku yakin bisa menitipkan Yohime padamu. Jika itu kau, aku yakin kau pasti akan menjaganya dengan baik, Hakuya... lagipula tak ada masalah, kan? kau juga cucu Son Mundok, tetua suku angin".
"tidak adil jika anda tak memberitahu Haku soal ini, lagipula saya hanya cucu angkat, kami tak ada hubungan darah dengan tetua Mundok. Terlepas dari asal usul kami yang tak jelas, tidak mengubah kenyataan bahwa kedudukan kami lebih rendah dari keluarga bangsawan".
Tanpa ragu, Yohime menjitak kepala Hakuya dengan kipas di tangan kirinya karena perbedaan tinggi badan mereka membuat Yohime kesulitan menjangkau kepala Hakuya yang berada 30 cm di atas kepalanya, sehingga Hakuya yang mengelus kepalanya langsung protes.
"ow, kenapa menjitakku?".
"pikirkan sendiri".
Raja Il berdehem sebagai isyarat agar pasangan di depannya melanjutkan pertengkaran mereka di tempat lain sebelum tersenyum lebar "aku tahu seberapa dekat kalian berdua dan hanya dari cara kalian saling memandang satu sama lain, aku bisa tahu perasaan kalian masing-masing... jika memang seperti itu perasaan kalian berdua, tak masalah bagiku".
Saat Yohime dan Hakuya meminta waktu untuk berpikir, raja Il meminta Yohime dan Hakuya tetap memegang liontin itu dan memberi mereka waktu sampai hari ulang tahun Yohime yang tinggal seminggu lagi.
.
Setelah pembicaraan dengan raja Il selesai, Hakuya mengantar Yohime kembali ke kamarnya dan di kamar Yohime, mereka kembali bicara.
"Hakuya" ujar Yohime mencubit kedua pipi Hakuya dan melepaskannya setelah Hakuya yang tak tahu kenapa Yohime mencubitnya berteriak kesakitan "...bukan mimpi, ya?".
"cubit pipi sendiri?!" pekik Hakuya mengelus-elus kedua pipinya.
"maaf, kurasa kita perlu mendinginkan kepala kita masing-masing untuk sementara..." ujar Yohime menepuk dahinya sambil mengarahkan sebelah tangannya pada Hakuya sebelum ia melipat tangan dan menatap Hakuya, meminta Hakuya merahasiakan percakapan mereka pada kedua adik mereka terutama soal Soo Won yang melamarnya meski Yohime mempertanyakan dan sempat sebal melihat Hakuya yang terlihat tenang sekali.
"tentu saja, ini tak ada bedanya dengan saat anda memintaku untuk tutup mulut soal Soo Won-sama yang menyatakan perasaannya pada anda atau saat Soo Won-sama menyusup ke kamar anda malam-malam hanya untuk menemui anda, minta maaf dan memeluk...".
"okay, stop... tak perlu menjelaskan semua yang terjadi sedetail itu, bagaimana kalau ada orang lain di luar yang dengar?" ujar Yohime menutup mulut Hakuya.
"kamar anda kedap suara, tak perlu takut ada yang mendengar dari luar" ujar Hakuya melepas kedua tangan Yohime dan melipat tangan "lalu bagaimana? siapa yang mau memberitahunya? Anda atau saya saja?".
"apanya?".
"bicara pada Haku soal apa yang diberitahu raja Il barusan, bahwa dia juga masuk daftar calon tunanganmu".
"...lebih baik jangan".
"yah, aku sudah tahu reaksinya akan seperti apa nanti, dia pasti ngamuk terlebih jika tahu kalau pak tua itu telah seenaknya...".
"bukan, maksudku jangan beritahu isi pembicaraan kita barusan dengan ayahanda pada kedua adik kita dan Soo Won, kita tak bisa membuat mereka lebih cemas dari saat ini".
Mendengar ucapan Yohime, Hakuya mengerti ini serius "...apa ada sesuatu yang terjadi?".
Yohime memberitahu bahwa saat ia ingin meminta obat pada Ji Min tadi sore setelah mandi, ia tak sengaja mendengar percakapan antara Ji Min dan Haku bahwa ada orang yang mengejar Yona, kemungkinan pembunuh bayaran, untungnya Yona selamat karena ia berhasil kabur ke kamar Soo Won. Saat Soo Won mengantar Yona ke kamarnya, Haku dan Ji Min ada di dekat situ sehingga Soo Won memberitahu mereka dan menyarankan penjagaan diperketat.
Awalnya Yona meminta mereka untuk tak memberitahu Yohime dan raja Il karena tak ingin membuat kakak dan ayahnya cemas. Yohime yang ada di dekat situ tentu saja mendengar itu semua dan langsung memeluknya, memastikan Yona baik-baik saja. Setelah menyuruh Haku memperketat penjagaan, ia meminta Ji Min ikut tidur di kamar Yona untuk menjaga Yona.
Hakuya protes karena Yohime tak langsung memberitahunya sebab jika Yona diincar, berarti ada kemungkinan Yohime juga akan diincar. Saat Hakuya beranjak, Yohime menahannya dan menggenggam erat tangannya.
"tunggu, mau kemana?".
"berjaga di depan kamarmu, teriaklah jika terjadi sesuatu" ujar Hakuya melepas tangan Yohime dan beranjak keluar, sambil bersandar di pintu kamar, Hakuya menghela napas dan menepuk dahi "aku menghindarinya... tak ada pilihan lain, aku tak seharusnya berada di dekatnya dan ini berbahaya... jika jarak di antara kami berdua menjadi lebih pendek dan kami jadi lebih dekat dari ini...".
"ia menghindariku... lagi-lagi, selalu saja diakhiri dengan sikap ambigunya..." pikir Yohime mengepalkan kedua tangannya dan mengerutkan kening "...dasar pengecut".
"kenapa memanggilku kemari?".
"besok hari ulang tahunku yang ke-16 tahun, kita sudah harus memberikan jawaban kita pada ayahanda, paling tidak besok malam".
"ini sudah lewat tengah malam, jadi ini sudah masuk hari ulang tahunmu yang ke-16 tahun..." ujar Hakuya meminta Yohime segera tidur dan istirahat yang cukup untuk menghadapi acara perjamuan besok.
Yohime menahan Hakuya di kamarnya, menatap Hakuya dan melipat tangan "tolong berhenti menghindariku dan bicaralah padaku, kita perjelas semuanya malam ini juga".
Hakuya menghela napas panjang, ia menyandarkan Guan Dao di tangannya sebelum ia berdiri di hadapan Yohime "jawabanku tidak".
Yohime menghela napas, melipat tangan dan memalingkan wajahnya dari Hakuya, ia sudah memperkirakan jawaban Hakuya "wajar, karena sebagai wanita aku sudah mati".
"kau pikir aku peduli soal itu?".
"tapi aku peduli".
"jika seorang pria benar-benar mencintaimu dengan tulus, hal itu sama sekali bukan masalah baginya... aku punya alasanku sendiri, sama sepertimu yang menolak Soo Won-sama".
"kenapa kau malah menyinggungnya?".
"karena setahuku tak ada calon lain yang pantas menjadi raja selain dia, bahkan kau mengakui hal itu, itu sebabnya kau merasa bisa mempercayakan Yona-sama pada Soo Won-sama saat kau dan raja Il membuat kesepakatan untuk menyerahkan tahta kerajaan pada Yona-sama dan suaminya kelak yang akan menjadi raja".
"kita tidak bicara soal Soo Won saat ini, kan? kau sudah tahu, aku punya alasan yang kuat kenapa aku tak bisa menerima perasaan Soo Won dan menolak lamarannya tapi..." ujar Yohime berhenti sesaat, tampak dari sorot matanya ia menyadari sesuatu, menunjuk Hakuya "tunggu... kau tak berniat untuk mengalah agar kau bisa menyerahkanku pada Soo Won atau Haku, kan?".
Hakuya terdiam, menandakan dugaan Yohime benar.
"ka-ta-kan se-su-a-tu..." ucap Yohime dengan nada yang dingin dan tajam, intonasinya berat dan keji.
Hakuya menutup mata sesaat sebelum menjawab "...aku tidak bisa bersaing dengan Soo Won-sama atau adikku sendiri untuk mendapatkan wanita yang sama, kan?".
"dan mengorbankanku? Jangan bercanda?!" ujar Yohime mendorong Hakuya ke dinding "ini sebabnya aku memukul kepalamu kemarin!? Tak bisakah kau berhenti merendahkan dirimu sendiri? Siapa yang selalu berada di dekatku, menjagaku dan melindungiku? Siapa yang selalu membiarkanku menangis, menyemangatiku dan tak membiarkanku sendirian? Kau, kan? jadi kenapa kau malah...".
"dugaanmu tadi tidak sepenuhnya salah, tapi bukan itu penyebab utamaku...".
Ucapan Hakuya terpotong karena Yohime mencengkram kerah bajunya "kalau begitu katakan kebenarannya!? Meski hanya cucu angkat, kau tetap cucu Son Mundok, tetua klan suku angin, kau cucu ketua klan sebelumnya dan takkan ada masalah jika kita berdua menikah, kan?".
"cucu adopsi..." ujar Hakuya melepas genggaman tangan Yohime dan memalingkan wajahnya "dengan menikahimu, itu berarti aku akan menjadi anggota keluarga bangsawan kerajaan, dan hal itu... hanya akan menyusahkanku...".
Meski hanya sesaat, Yohime bisa merasakan sesuatu yang kelam dari sorot mata Hakuya yang kadang ia lihat sejak mereka masih kecil, kegelapan yang diselimuti oleh kesedihan dan amarah yang begitu besar dan dalam karena dibiarkan terpendam begitu lama, sama sepertinya.
Yohime terkekeh, menundukkan kepalanya dan mengerutkan kening sambil menutupi sebelah wajahnya dengan tangan kirinya "...rupanya memang karena kau tak ingin menjadi bagian dari keluarga bangsawan kerajaan? Aku tahu bahwa sejak dulu kau memang membenci keluarga bangsawan, jadi kenapa kau masih bersedia menjadi pengawalku? Bukankah aku pernah bilang jika pada akhirnya kau hanya akan pergi meninggalkanku, maka tinggalkan aku dan jangan setengah-setengah?! Katakan terus terang jika kau memang membenciku!?".
Ucapan Yohime tampaknya memancing amarah Hakuya sampai-sampai Hakuya menyudutkan Yohime. Sambil menatap Yohime dengan sorot mata yang tajam, Hakuya mendorong Yohime ke dinding yang ada belakangnya setelah membalikkan tubuh Yohime dan menempelkan kedua tangannya ke samping wajah Yohime.
"yang kubenci hanya keluarga bangsawan yang brengsek... tapi bagaimana mungkin kau bisa berpikir kalau aku membencimu?" ujar Hakuya memegang kedua bahu Yohime dengan tangan bergetar "kau pikir... seberapa keras usahaku yang selalu menahan diri mati-matian...".
Saat jeritan kecil terselip dari mulut Yohime, Hakuya menyadari genggaman tangannya pada bahu Yohime terlalu kuat sampai membuat Yohime kesakitan. Setelah ia melepaskan Yohime, Yohime terduduk lemas sambil menutupi wajahnya. Mengira Yohime menangis kesakitan, ia langsung meminta maaf dan berlutut di hadapan Yohime. Saat hendak meraih Yohime, Hakuya menghentikan tangannya dan terlihat ragu; lebih tepatnya takut, ia takut akan melukai Yohime seolah ia benda berharga yang akan rusak jika ia tak hati-hati padanya.
Yohime menyadari hal itu, ia menggenggam tangan Hakuya "kau selalu memperlakukanku dan menjagaku dengan sangat hati-hati seolah aku ini karya seni dari kaca yang bisa pecah kapan saja... perlakuanmu yang selalu berhati-hati terhadapku... membuatku merasa sesak... kau tak pernah mau mengatakan apa yang kau rasakan dan bagaimana perasaanmu...".
"jika kau terlahir sebagai anggota keluarga kerajaan bangsawan, kau tak bisa berbicara tentang perasaanmu atau mengatakan apa yang kau rasakan seenaknya... itu yang kau katakan saat kau menolak Soo Won-sama, kan?" ujar Hakuya membopong Yohime ke ranjangnya, menaruh kedua telapak tangannya di atas ranjang, di kedua sisi tempat Yohime duduk "apa kau ingin melanggar ucapanmu sendiri?".
Yohime mencengkram kerah baju Hakuya "kau selalu menghindar tiap kali aku bicara soal ini, apa kau membenci hal ini sampai tak bisa mengatakannya karena kau takut itu akan melukaiku atau kau sama sekali tak berminat padaku sebagai seorang wanita? atau ada wanita lain yang kau cintai? aku pasti akan menyerah jika kau menegaskannya padaku, tapi karena kau tak bersikap begitu, justru aku jadi mengharapkanmu?! jika kau katakan yang sejujurnya tentang apa yang kau rasakan padaku sejak dulu, maka aku takkan mendesakmu seperti ini!?".
Hakuya mendorong Yohime dan memegang erat bahu Yohime yang terbaring di ranjangnya "sebaiknya kau berhenti memprovokasiku... lebih sulit menjadi pihak yang dipancing, tahu? di dunia ini, hanya kau yang tak ingin kubuat menangis...".
"menangis pun tak mengapa, asal kau tak pergi kemanapun" ujar Yohime mengulurkan kedua tangannya ke atas "aku ingin kau menyentuhku... peluk aku dan tetaplah berada di sampingku malam ini...".
Hakuya terbelalak, tertegun mendengar ucapan Yohime "...apa kau sadar atas ucapanmu sendiri barusan?".
"tentu saja aku sangat sadar... kenapa? aku sudah 16 tahun sekarang".
"sejak kapan kau berubah menjadi wanita penjerat begini?" ujar .
"mungkin kau bisa sebut itu sebagai insting wanita... dan hatiku berbisik padaku..." ujar Yohime memegang wajah Hakuya "aku menginginkanmu...".
Yohime melepas patch-eye Hakuya, memegang kedua pipi Hakuya dan mencium bekas luka di pelupuk mata kanan Hakuya. Setelah Hakuya melonggarkan ikatan obi kimono Yohime dan melonggarkan kimono bagian atas yang membuatnya leluasa menelusuri kedua bahu Yohime, Yohime melingkarkan tangan kanannya ke tengkuk leher Hakuya sementara tangan kirinya melepaskan kancing jubah Hakuya. Yohime melingkarkan kedua tangannya ke tengkuk leher Hakuya setelah menelusuri kedua bahu Hakuya yang tegap, ia membiarkan Hakuya mengecup tulang belikatnya sampai ke lehernya. Setelah Yohime memegangi belakang kepala Hakuya untuk menelusuri rambut Hakuya yang menyandarkan wajahnya ke bahunya, Hakuya merubah posisi, keduanya saling mengadu dahi dan mengatur napas masing-masing sebelum kembali membuka mata. Jarak wajah keduanya yang sangat dekat saat membuka mata membuat mereka berdua dapat merasakan napas satu sama lain saat kedua mata mereka bertemu dan bulu mata keduanya saling bersahutan, butterfly style kiss.
"kenapa?" tanya Yohime saat Hakuya memalingkan wajah.
Setelah ia merapatkan bagian atas kimono Yohime agar dadanya tertutup, Hakuya memasang kembali kancing bajunya "maafkan aku... kita tak seharusnya melakukan ini...".
"lalu yang barusan maksudnya apa? kau pikir aku akan terima jika kau memintaku beranggapan bahwa yang barusan hanya bercanda?" ujar Yohime merapikan kembali kimononya meski ia kesulitan mengikat obi kimononya "bagaimana bisa kau menyentuhku... memelukku... bahkan menciumku sementara kau tak mengatakan apakah kau mencintaiku atau tidak?".
"itu bukan candaan, itu janji..." ujar Hakuya menghela napas dan membantu Yohime mengikat kembali obi kimononya "ada hal yang belum kau mengerti, bahwa cinta orang dewasa itu tidak bisa didapatkan hanya dengan hal-hal yang indah... kurasa kau tak sebodoh itu sampai tak bisa mengartikan apa maksud kata-kataku bahwa kita tak seharusnya melakukan ini, kan?".
"apa maksudmu? katakan yang jelas".
"Yohime-sama, kau Hime-sama kerajaan Kouka, siapapun yang menikahimu akan menjadi raja Kouka dan sebagai pengawalmu, aku akan melindungimu sampai titik nadir dalam hidupku sesuai sumpahku pada raja Il dan mendiang permaisuri Yoan" ujar Hakuya menundukkan kepala dan berlutut di hadapan Yohime "runtuhnya kerajaan Kouka ini hanya tinggal masalah waktu dan kerajaan ini membutuhkan pemimpin yang kuat... aku percaya padamu dan aku mengakuimu sebagai ratu kerajaan Kouka tapi aku tak bisa menjadi raja... terserah apapun yang orang lain katakan tentangku, aku akan tetap berada di dekatmu untuk melindungimu, aku tak berniat meninggalkan tempatku sebagai pengawalmu sampai kau tak membutuhkanku lagi... adalah tugasku untuk menjagamu, Hime-sama, bukan menahanmu atau merusakmu...".
"kau benar... bagaimana aku bisa lupa?" ujar Yohime terkekeh sebelum menggenggam kedua tangan Hakuya erat "aku tak peduli pada tahta kerajaan, karena dilahirkan sebagai Hime-sama kerajaan Kouka bukan kemauanku. Tapi, meski kita tak bisa memilih sebagai apa dan dimana kita dilahirkan, paling tidak kita bisa memilih bagaimana kita akan diingat orang dan dimana kita akan mati... Yang kuinginkan adalah agar aku bisa menjalankan peran dan kewajibanku sebagai Hime-sama kerajaan Kouka dan melindungi kerajaan Kouka, tapi tampaknya aku luput mengingat kenyataan bahwa sejak aku terlahir sebagai Hime-sama kerajaan Kouka, perasaanku bukan milikku sendiri... kau juga tak boleh lupa, Hakuya".
"mana mungkin bisa aku lupa, kan? akan kulakukan apapun untuk menjagamu karena memang inilah kewajibanku... aku tak peduli jika kita tak bisa berdua, bersama, selamanya tapi aku akan selalu memenuhi janjiku padamu..." ujar Hakuya mendongak dan menggenggam erat tangan Yohime "aku tidak akan mengkhianatimu... lindungi kerajaan ini seperti kau ingin melindungi apa yang berharga bagimu, kerajaan ini tempat kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama, jangan hilangkan tempat pertemuan kita...".
"tugas utamamu melindungiku, tentu saja kau harus tetap berada di sisiku untuk melindungiku, jangan harap aku akan melepaskanmu karena tak ada pengawal lain yang sekuat kau..." ujar Yohime mengecup bekas luka di wajah Hakuya, tepat di pelupuk mata kanan Hakuya sebelum ia mengembalikan patch eye milik Hakuya dan mengizinkannya kembali ke kamarnya.
Setelah Hakuya keluar kamar, Yohime berbaring di ranjang sambil menyandarkan pergelangan tangannya ke dahinya. Mungkin inilah yang disebut kebahagiaan di atas penderitaan. Rasanya sangat menyakitkan saat mendengar dari mulut Hakuya bahwa Hakuya tak keberatan siapapun yang akan berada di sampingnya dan takberniat meninggalkan posisinya sebagai pengawalnya saat initapi saat mendengarHakuya takkan pergi dari sisinya, itu saja sudah lebih dari cukup baginya, saat ini.
Saat Ji Min yang mengenakan piyama tidur datang ke kamarnya dengan wajah cemas, Yohime yang menyembunyikan wajahnya sambil memeluk bantal dengan posisi tengkurap, terbangun dan merasa heran melihat Ji Min. Ji Min memberitahu bahwa ia diminta oleh Hakuya datang ke kamar Yohime untuk memeriksa kondisi Yohime. Setelah duduk di depan Yohime sambil menanyakan yang mana yang sakit, melihat Yohime hanya diam sambil menatapnya, Ji Min yang telah merawatnya sejak kecil mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi.
"...ada apa, Hime-sama?".
"tak apa-apa, tadi aku hanya merasa sedikit pusing, mungkin anemiaku kumat..." ujar Yohime tersenyum dan memeluk Ji Min agar Ji Min tak bisa melihat wajahnya "kepalaku masih terasa sakit dan aku kesulitan tidur, bisa aku minta obat tidur?".
Yohime mengetahui kenapa Hakuya melakukan hal itu, Hakuya tahu kalau Yohime saat ini tak seharusnya dibiarkan seorang diri, setidaknya harus ada satu orang yang menemaninya tapi ia sendiri tak bisa berada di dekatnya saat ini, itu sebabnya ia meminta Ji Min menemaninya.
"ada hal yang belum kau mengerti, bahwa cinta orang dewasa itu tidak bisa didapatkan hanya dengan hal-hal yang indah...".
"aku tahu... tak perlu kau beritahu pun, aku sudah tahu hal itu... sejak lama... apa ini karma untukku? Kau sudah tahu kalau aku punya alasan kuat untuk tak membalas perasaan Soo Won... kau lakukan hal yang sama padaku dengan yang kulakukan pada Soo Won... kadang lembut, kadang dingin... kau peluk aku dengan lembut dan pada akhirnya kau meninggalkanku, seenaknya membuatku memiliki perasaan ini dan meninggalkanku... menolongku setengah-setengah, sama saja kau membunuhku perlahan-lahan... tapi kurasa aku memang bodoh, tak peduli berapa kalipun kau melukaiku, aku tetap mencintaimu..." pikir Yohime mengerutkan kening, memeluk Ji Min dengan kedua tangannya yang bergetar dan bulir air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya menetes dari matanya "andai aku bisa tertidur selamanya dan tak perlu bangun lagi di tengah dunia yang kejam ini... tapi aku tak bisa menyerah untuk tetap hidup... aku tak bisa melakukannya... akan kuberikan apa yang mereka mau, akan kulindungi kerajaan ini dan akan kulaksanakan kewajibanku sebagai Hime-sama kerajaan Kouka... setelah aku yakin semuanya akan baik-baik saja meski aku menghilang dari hadapan mereka semua, biarkan aku tertidur untuk selamanya dan menghilang dari hadapan mereka semua, dengan begitu... aku ataupun Hakuya bisa bebas...".
Ji Min mengetahui pasti ada yang tak beres, tapi ia tahu, jika Yohime tersenyum dan berkata tak apa-apa, ia takkan bicara apa yang mengganggu pikirannya, sehingga yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memeluk Yohime, membiarkannya menangis dan berpura-pura tak melihat apa yang terjadi, ia tahu betul bahwa Yohime yang memiliki harga diri yang tinggi takkan sudi dikasihani oleh orang lain, sifatnya yang seperti itu membuatnya tak pernah mau menunjukkan kelemahannya di hadapan orang lain kecuali di hadapan Hakuya, tapi Hakuya saat ini tak ada di sampingnya.
Hakuya yang bersandar di luar kamar Yohime mendongak, menyandarkan kepalanya ke pintu kamar dan mengepalkan kedua tangannya, ia bisa merasakan kalau Yohime menangis di dalam kamar sambil memeluk Ji Min, ia ingin memeluknya dan membuatnya berhenti menangis tapi itu tak bisa ia lakukan saat ini "aku ingin selalu berada di dekatnya, aku ingin melindunginya, tapi itu bukan perasaanku sendiri... itu yang kupikirkan selama ini, tapi apa perasaan ini bukan hanya karena darah yang mengalir dalam tubuhku? aku juga menginginkannya, aku begitu ingin merasakan sentuhannya tapi aku tahu, sekali saja aku kehilangan akal sehatku... selanjutnya, aku tak yakin bisa menahan diri...".
"aku tak tahu... kalau ternyata aku punya kakak sebodoh itu..." gumam Haku menghela napas, mendadak sakit kepala melihat yang barusan.
Melihat Yona yang bingung karena keduanya memilih untuk tak bersama meskipun keduanya saling mencintai, Jae Ha menepuk bahunya "kadang... ada beberapa hal yang membuat mereka harus berpisah meskipun mereka saling mencintai, itulah rumitnya cinta orang dewasa dan itu juga yang membedakannya dengan cinta yang lain".
"tapi biar bagaimanapun, ini penting!? karena ini cinta pertama kak Yohime" ujar Yona yang sejak tadi menahan air matanya, ia merasa kesal karena hanya bisa melihat kondisi kakaknya yang menangis dan menderita.
"begitu juga Hakuya, Yohime-sama adalah cinta pertamanya".
"tapi dari percakapan mereka, berarti... apa yang kita lihat barusan adalah malam sebelum hari ulang tahun kalian yang jatuh pada keesokan harinya, kan?" ujar Yun.
Sebentar lagi klimaksnya.
Mereka akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Hakuya.
