Fifty Shades of Darker
HAEHYUK
.
FIFTY SHADES OF DARKER
© E. L. James
REMAKE
senavensta
Genre: Romance/Drama
Cast:
Lee Hyukjae
Lee Donghae
Kim Jongkook Lee Sungmin
Cho Kyuhyun Kim Hyuna
Ahn Chilhyun(Kangta) Kwon Boa
Hangeng Kim Heechul
Kim Taeyeon Tiffany Hwang
Kim Youngwoon Kim Jungmo
Jang Hyunseung Kim Ryeowook
Jessica Jung Park Jungsoo
Shin Donghee Choi Siwon
Taylor Martini Gail Jones
Choi Minho Kim Jaekyung
yang lain nyusul
.
Warn: Remake, BL/Boys Love, OOC, Typo(s).
Perubahan nama keluarga (marga) dan tempat, lokasi gedung, langsung didalam cerita, sengaja gak aku tulis dicast satu-satu karena nanti kepenuhan hahaha
Yang tidak suka hal-hal berbau remake, gak perlu maksain diri buat baca(?).
Daftar istilah ada dibagian paling akhir –kalo ada(?).
.
Wanna RnR?
.
.
Fifty Shades of Darker
.
Donghae menempatkan sepasang klem yang berbeda diatas meja laci. Itu semua tampak seperti jepit rambut hitam yang sangat besar, tetapi dengan permata kecil yang berkelip menjuntai ke bawah.
"Klem ini bisa diatur," bisik Donghae, suaranya bercampur dengan sedikit kekhawatiran.
Hyukjae berkedip ke arahnya, dengan mata terbelalak.
Donghae, seorang pembimbing seksual-nya. Dia tahu lebih banyak tentang semua ini daripada Hyukjae. Hyukjae tak akan pernah bisa mengejar ketinggalan itu.
Hyukjae mengerutkan kening.
Donghae memang lebih tahu dari Hyukjae tentang banyak hal… kecuali memasak.
"Jelas?" tanya Donghae.
"Ya," bisik Hyukjae, mulutnya menjadi kering.
"Apakah kau akan memberitahuku apa yang ingin kau lakukan?"
"Tidak. Aku melakukannya sambil jalan. Ini bukan adegan, Hyukkie."
"Aku harus bersikap bagaimana?" tanya Donghae, dengan alis yang langsung berkerut.
"Terserah, itu hakmu."
"Apakah kau mengharapkan aku sebagai alter ego (pribadi yang lain), Hyukjae?" tanya Donghae, nadanya agak mengejek dan sekaligus kagum.
Hyukjae berkedip pada Donghae.
"Well, ya. Aku menyukai dia yang itu," bisik Hyukjae.
Donghae tersenyum dengan senyum pribadinya dan meraih keatas untuk menjalankan ibu jarinya menuruni pipi Hyukjae.
"Benarkah," bisik Donghae menghirup nafasnya dan menjalankan ibu jarinya melintasi bibir bawah Hyukjae.
"Aku kekasihmu, Hyukjae, bukan Master-mu. Aku senang mendengar tawa dan cekikikan genitmu. Aku menyukai kau yang santai dan bahagia, seperti kau yang terlihat di foto Kangin itu. Si manis yang terjatuh di dalam kantorku. Itulah pria yang aku cintai."
Astaga.
Mulut Hyukjae menganga, dan sebuah sambutan yang hangat berkembang di dalam hatinya.
Itu kebahagiaan, benar-benar suatu kebahagiaan.
"Tapi setelah mengatakan semua itu, aku juga ingin melakukan sesuatu yang kasar kepadamu, Tuan Lee, dan aku sebagai alter ego yang mengetahui satu atau dua trik. Jadi, lakukan apa yang diperintahkan dan berbaliklah," lanjut Donghae, matanya berkilat dengan nakal, dan kegembiraan bergerak dratis turun kebawah, merampas dan mencengkeram erat-erat setiap otot di bawah penis Hyukjae.
Hyukjae akan melakukan apa yang Donghae katakan.
Di belakang, Donghae membuka salah satu laci dan beberapa saat kemudian dia di depan Hyukjae lagi.
"Ayo," perintah Donghae dan menarik dasinya, mengarahkan Hyukjae menuju ke meja.
Ketika mereka berjalan melewati sofa, Hyukjae melihat untuk pertama kalinya bahwa semua tongkat disana sudah tidak ada. Membuat perhatiannya teralihkan.
"Aku ingin kau berlutut di atas ini," kata Donghae mengintrupsi lamunan Hyukjae ketika mereka sudah sampai di meja.
Dengan lembut Donghae mengangkat Hyukjae ke atas meja, dan Hyukjae melipat kaki ke bawah dan berlutut di depan Donghae, heran dengan keikhlasannya sendiri.
Sekarang mereka saling menatap.
Donghae menjalankan tangannya turun ke paha Hyukjae, merenggut lutut Hyukjae, dan menarik kedua kakinya supaya terpisah dan berdiri langsung di depan Hyukjae.
Donghae terlihat sangat serius, matanya bertambah gelap, berkabut… penuh gairah.
"Taruh tanganmu dibelakang punggungmu. Aku akan mengikatmu."
Donghae mengeluarkan beberapa manset kulit dari saku belakangnya dan menjangkau sekeliling Hyukjae.
Inilah saatnya.
Kedekatan mereka begitu memabukkan.
Pria itu akan menjadi suami Hyukjae.
Hyukjae tak bisa menolak Donghae, dan Hyukjae menjalankan bibirnya yang terbuka di sepanjang rahang Donghae, merasakan rambut yang baru tumbuh, sebuah kombinasi memabukkan antara rambut yang baru tumbuh berdiri dan kelembut itu, dan yang paling penting, semua itu berada di bawah lidah Hyukjae.
Donghae diam dan menutup matanya. Napasnya putus-putus dan ia manjauhkan dirinya.
"Berhenti. Atau ini akan berakhir jauh lebih cepat daripada yang kita inginkan," gumam Donghae, memperingatkan.
Untuk sesaat, Donghae mungkin terlihat akan marah tapi kemudian dia tersenyum, dan matanya memanas, menyala dengan geli.
"Kau sangat menarik," bisik Hyukjae cemberut.
"Benarkah?" kata Donghae datar.
Hyukjae mengangguk.
"Well, jangan mengalihkan perhatianku, atau aku akan membungkammu."
"Aku suka mengalihkan perhatianmu," bisik Hyukjae sambil memperlihatkan muka bandel kearah Donghae, dan Donghae memiringkan alisnya pada Hyukjae.
"Atau memukul pantatmu."
Dulu, Hyukjae tak pernah punya keberanian untuk mencium Donghae, tanpa diminta, selama Donghae berada di ruangan ini.
Tapi Hyukjae sadar sekarang, ia tidak lagi terintimidasi oleh Donghae. Itu seperti sebuah pencerahan.
Hyukjae menyeringai dengan nakal, dan Donghae membalas menyeringai kearahnya.
"Jaga sikapmu," geram Donghae dan berdiri sambil mundur, menatap Hyukjae sambil memukul-mukulkan manset kulit di telapak tangannya sendiri.
Dan sepertinya itu adalah peringatan, tersirat dalam tindakannya.
Hyukjae mencoba untuk terlihat menyesal, dan sepertinya aktingnya berhasil.
Donghae mendekati Hyukjae lagi.
"Itu lebih baik," gumam Donghae mengambil nafas dan mencondongkankan tubuhnya di belakang Hyukjae sekali lagi dengan membawa manset itu.
Hyukjae menahan diri untuk menyentuh Donghae, tapi menghirup aroma khas Donghae, masih segar dari mandi semalam, ia jadi tidak tahan.
.
Fifty Shades Darker
.
Hyukjae mengira Donghae membelenggu pergelangan tangannya, tapi ternyata Donghae mengikatkan masing-masing manset di atas siku.
Itu justru malah membuat Hyukjae melengkungkan punggung, mendorong dada ke depan, meskipun kedua sikunya sama sekali tidak menempel.
Ketika Donghae selesai, ia berdiri kembali sambil mengagumi Hyukjae.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Donghae.
Itu bukan posisi yang paling nyaman, tapi Hyukjae begitu terikat serta mengantisipasi dengan melihat kemana Donghae akan membawanya.
Hyukjae mengangguk, melemah karena gairah.
"Bagus," bisik Donghae menarik topeng dari kantong belakangnya.
"Kupikir kau sudah cukup melihat untuk saat ini," lanjutnya.
Donghae menggeser topeng di atas kepala Hyukjae, menutupi mata Hyukjae.
Napas Hyukjae jadi makin melonjak. Ia sekarang di sini, terikat dan berlutut di atas meja, menunggu, penantian manis yang begitu panas dan beban berat jauh didalam di perutnya.
Meskipun ia masih bisa mendengar, dan ketukan tetap melodi dari lagu itu masih terus berlanjut, menggema disekujur tubuhnya. Ia tak menyadari hal itu sebelumnya.
Donghae pasti mengulang-ulang lagu itu.
Donghae melangkah menjauh. Dia bergerak kembali ke lemari laci dan membukanya, kemudian menutup lagi. Bebarapa saat kemudian ia kembali, dan Hyukjae dapat merasakan Donghae sudah ada di depannya.
Ada aroma yang menyengat, penuh, bau harum di udara. Sangat lezat, mulut Hyukjae bahkan hampir mengeluarkan air liur.
"Aku tak ingin merusak dasi favoritku," bisik Donghae.
Perlahan-lahan Donghae membongkar, saat melepaskan dasinya.
Hyukjae menarik napas dalam-dalam saat ujung dasi melintas naik keatas tubuhnya, seakan menggelitik, dan penisnya kembali terbangun.
Hyukjae mendengarkan dengan saksama untuk mengetahui apa yang akan Donghae lakukan.
Donghae menggosok tangannya bersama-sama. Buku-buku jarinya tiba-tiba mengelus di atas pipi Hyukjae, lalu bergerak turun ke rahang mengikuti garis rahang tegas Hyukjae.
Tubuh Hyukjae melonjak seakan minta perhatian ketika sentuhan Donghae mengirimkan getaran kenikmatan didalam dirinya.
Tangan Donghae ditekuk di leher Hyukjae, sangat licin dengan bau minyak yang harum sehingga tangannya meluncur dengan lancar ke jakun Hyukjae, lalu melintasi tulang selangka, dan naik keatas sampai bahu Hyukjae, jari-jarinya memijat dengan lembut saat berhenti disana.
Oh, Hyukjae mendapatkan satu pijatan. Tidak seperti yang ia bayangkan.
Donghae menempatkan tangannya yang lain di bahu Hyukjae yang satunya, dengan perlahan mulai melakukan perjalanan menggoda yang lainnya menuju tulang selangka.
"Ungg–" Hyukjae mengerang agak pelan saat Donghae melakukan perjalanan ke arah dadanya yang semakin terasa sakit, sakit karena menginginkan sentuhan Donghae.
Begitu menggoda.
Hyukjae melengkungkan tubuh agar lebih maju menuju sentuhan Donghae yang ahli, tapi tangan Donghae meluncur ke samping Hyukjae, lambat, terukur, sesuai dengan ketukan musik itu, dengan sengaja menghindari dada Hyukjae.
Hyukjae mengerang, tapi ia tak tahu apakah itu karena kenikmatan atau rasa frustrasi.
"Kau begitu indah, Hyukkie," bisik Donghae, suaranya rendah dan serak, mulutnya di samping telinga Hyukjae.
Hidungnya mengikuti sepanjang rahang Hyukjae sambil terus memijat Hyukjae, dibawah dada, melewati perut, turun… Dia mencium Hyukjae sekilas di bibir, kemudian hidungnya bergerak menuruni leher, lalu jakun Hyukjae.
"Tak akan lama lagi kau akan menjadi istriku untuk saling memiliki dan setia," bisik Donghae.
"Untuk saling mencintai dan menghargai."
"Dengan tubuhku, aku akan memujamu," desah Donghae mengakhiri kata-katanya yang lain.
"A-ahhn," erang Hyukjae, ujung kepalanya menyentak kebelakang.
Jari-jari Donghae berjalan menyentuh rambut pubis Hyukjae, diatas organ seks-yang-tidak-terlalu-besar-milik Hyukjae, dan ia menggosokkan telapak tangannya di penis itu.
"Tuan Lee Hyukjae, istri dari Lee Donghae," bisik Donghae saat telapak tangannya makin turun dari kejantanan Hyukjae, menggosok dengan lembut belahan pantat Hyukjae, di luar anal.
"Oohhh–" Hyukjae mengerang.
"Ya," bisik Donghae, mengambil nafas sambil telapak tangannya terus menggoda bibir anal Hyukjae. "Buka mulutmu."
Mulut Hyukjae sudah terbuka karena terengah-engah. Ia membuka lebih lebar lagi mulutnya, dan Donghae memasukkan benda seperti logam besar yang dingin diantara bibir Hyukjae.
Berbentuk seperti dot bayi yang berukuran besar, tapi memiliki lekukan atau ukiran kecil, dan sepertinya dirangkaikan ke ujungnya.
Itu jelas-jelas besar.
"Hisap," perintah Donghae dengan lembut.
"Aku akan menempatkan ini di dalam dirimu."
Jantung Hyukjae rasanya tiba-tiba seperti menggelinding ke dalam mulut.
"Hisap," ulang Donghae dan ia menghentikan godaan telapak tangannya.
"Tidak! Jangan berhenti!"
Hyukjae ingin berteriak, tapi mulutnya penuh.
Tangan Donghae yang berminyak meluncur kembali ke atas tubuh Hyukjae dan akhirnya menangkup dada bidang Hyukjae yang sejak tadi terabaikan.
"Jangan berhenti mengisap," bisik Donghae, dengan lembut ia memutar puting Hyukjae diantara ibu jari dan jari telunjuknya, dan puting itu semakin mengeras dan memanjang dibawah sentuhan ahlinya, mengirimkan gelombang sinaptik kenikmatan sampai ke pangkal paha.
"Kau memiliki dada yang indah, Hyukkie," gumam Donghae dan puting Hyukjae meresponnya dengan menjadi semakin mengeras dan lebih memanjang.
Donghae bergumam menandakan persetujuannya dan Hyukjae mengerang. Bibirnya bergerak turun dari leher menuju salah satu dada Hyukjae, diikuti dengan gigitan lembut dan menghisapnya berulang-ulang, turun menuju puting Hyukjae, dan tiba-tiba Hyukjae merasakan klem menjepitnya.
"Ahh!" erang Hyukjae membuat alat tadi berputar-putar di mulutnya.
Ya ampun, perasaan itu begitu indah, liar, menyakitkan, menyenangkan bagi Hyukjae.
"Ohh – jepitan itu."
Dengan lembut, Donghae membersihkan penahan puting itu dengan lidahnya, dan sepertinya ia juga melakukan dengan punting Hyukjae yang satunya.
Klem penjepit yang kedua adalah sama-sama keras… tapi dalam artian yang sama baiknya.
"Haeeehh!" Hyukjae mengerang bertambah keras.
"Rasakan itu," bisik Donghae.
"Berikan padaku," lanjutnya sambil menarik lembut dot logam berukir dalam mulut Hyukjae, dan Hyukjae melepaskannya.
Tangan Donghae sekali lagi bergerak menuruni tubuh Hyukjae, menuju penis manis itu. Dia kembali meminyaki tangannya, dan tangannya segera meluncur mengelilingi pantat Hyukjae.
Hyukjae terkesiap memikirkan apa yang akan ia terima dari Donghae. Ia menegang saat Donghae menjalankan jarinya di antara pantat Hyukjae. Berminyak. Licin. Dan sensasi itu begitu baru bagi Hyukjae.
"Wow, sangat mudah," gumam Donghae mengambil nafasnya didekat telinga Hyukjae dan mencium leher Hyukjae ketika jari-jarinya membelai dan menggoda lubang Hyukjae.
Tangan Donghae yang satunya meluncur menuruni perut Hyukjae menuju kejantanan, telapak tangannya menggoda Hyukjae sekali lagi.
Perlahan-lahan jari-jarinya yang dekat anal masuk kedalam, dan Hyukjae mengerang keras, berterima kasih.
"Aku akan menempatkan ini ke dalam dirimu," bisik Donghae. Jari-jarinya bergerak di antara pantat Hyukjae, minyaknya menyebar. Dia menggerakkan jari-jarinya berputar-putar, masuk dan keluar, menekan bibir anal Hyukjae semaunya.
"Aannhh– kumohonnh –haee" Hyukjae mengerang dan putingnya yang tertahan menyembul keluar.
"Sstt, tenang," bisik Donghae memindahkan jari-jarinya dan meluncur masuk ke dalam anal Hyukjae, ditempat yang ia maksud.
Donghae menangkup wajah Hyukjae dan menciumnya, mulut Donghae menyerangnya, samar- samar Hyukjae mendengar suara klik.
Seketika itu juga plug itu masuk ke dalam diri Hyukjae dan mulai bergetar.
Hyukjae terkesiap. Rasanya sangat luar biasa, melebihi apa yang pernah ia rasakan sebelumnya.
"Haee, i-ini terlalu anhh–nikmatt, a-aku tidak bisaa."
"Sangat mudah," gumam Donghae menenangkan Hyukjae, menahan erangan Hyukjae dengan mulutnya.
Tangan Donghae bergerak ke bawah dan menarik dengan sangat lembut klem itu.
Hyukjae berteriak keras.
"Tolonghh, Donghae!"
"Sstttt, sayang. Bertahanlah."
Hyukjae merasa kalau semua itu terlalu banyak, semua rangsangan itu terlalu berlebihan, di mana-mana.
Tubuh Hyukjae mulai naik, dengan berlutut, ia tidak dapat mengendalikan penumpukan itu.
"Anak manis," bisik Donghae, berusaha menenangkan.
"Donghaee," Hyukjae terengah-engah, terdengar putus asa.
"Hus, rasakan itu, Hyukkie. Jangan takut."
Tangannya sekarang berada diatas pinggang Hyukjae, menahan, sebaliknya yang ada di dalam otak Hyukjae adalah klem itu juga.
Tubuh Hyukjae mulai bangkit, bangkit menuju sebuah ledakan dengan getaran tanpa henti dan rasa manis itu, siksaan manis di putingnya. Ya ampun.
Bisa dibilang rasanya begitu intens bagi Hyukjae karena itu pertama kalinya ia mencoba itu.
Tangan Donghae bergerak dari pinggul Hyukjae, turun, dan berputar-putar, licin dan berminyak, menyentuh, merasakan, meremas kulit, meremas pantat Hyukjae.
"Begitu cantik," bisik Donghae dan tiba-tiba dia mendorong dengan lembut satu jarinya yang berminyak ke dalam anal Hyukjae.
Yang kali ini rasanya begitu asing, penuh, terlarang karena berminyak, tapi begitu… menyenangkan?
Dan Donghae bergerak perlahan-lahan, pelan-pelan masuk dan keluar, sementara itu giginya menyentuh dagu Hyukjae yang menengadah.
"Sangat indah, Hyukkie."
Hyukjae tergantung di ketinggian, di atas ketinggian yang luas, jurang yang sangat luas, dan ia melambung kemudian jatuh limbung pada saat yang sama, terjun ke Bumi. Ia tak bisa lagi bertahan, dan ia berteriak saat tubuhnya mengejang dan klimaks karena rasa penuh yang luar biasa itu.
Saat tubuh Hyukjae meledak, tidak lain hanyalah sensasi yang ia rasakan dimana-mana.
Donghae melepaskan klem yang pertama kemudian yang satunya, menyebabkan puting Hyukjae seperti bernyanyi dengan gelombang kenikmatan, perasaan sakit yang menyenangkan, tapi begitu nikmat dan menimbulkan orgasme, terus dan terus.
Jarinya masih tetap di sana, dengan lembut pelan-pelan masuk dan keluar.
"Argh!" Hyukjae berteriak, dan Donghae membungkus dirinya di sekeliling Hyukjae, untuk menahan, saat tubuh Hyukjae terus berdenyut tanpa ampun di kedalaman sana.
"Tidak!" Hyukjae berteriak lagi, memohon, dan kali ini Donghae menarik vibrator keluar dari Hyukjae, dan jarinya juga, karena tubuh Hyukjae terus mengejang.
Donghae melepaskan salah satu manset sehingga lengan Hyukjae jatuh ke depan.
Kepala Hyukjae bersandar lemas di bahu Donghae, dan Hyukjae merasa tersesat, tersesat pada semua sensasi itu, yang begitu luar biasa. Semua napasnya berantakan, kekuatan hasratnya melemah dan manis, disambut dalam kehampaan.
Samar-samar, Hyukjae menyadari bahwa Donghae mengangkatnya, membawanya menuju tempat tidur, dan membaringkannya di atas sprei satin yang dingin itu.
Setelah beberapa saat, tangan Donghae yang masih berminyak, dengan lembut menggosok belakang paha Hyukjae, kemudian lutut, betis, dan bahu Hyukjae.
Hyukjae merasa kasurnya miring saat Donghae berbaring di sampingnya.
Donghae menarik topeng itu, tapi Hyukjae tak punya tenaga untuk membuka mata. Mengambil rambut Hyukjae, ia segera menyiris rambut cepak Hyukjae dengan jari-jarinya dan membungkuk ke depan, mencium Hyukjae dengan lembut di bibir.
Hanya suara nafas Hyukjae yang tak menentu mengganggu keheningan dan ketenangan di ruangan itu saat ia merasa seperti melayang pelan-pelan kembali ke bumi.
Musik itu telah berhenti.
"Begitu indah," bisik Donghae.
Ketika Hyukjae membujuk satu mata untuk membuka, Donghae menatap ke arah Hyukjae, tersenyum lembut.
"Hai," kata Donghae.
Hyukjae mengelola respon dengan mendengus, dan senyum Donghae semakin melebar.
"Cukup vulgar untukmu?"
Hyukjae mengangguk dan memberinya senyum dengan enggan. Astaga, salah satu permainan yang begitu vulgar dan Hyukjae akan memukul pantatnya.
"Aku pikir kau mencoba membunuhku," gumam Hyukjae.
"Mati karena orgasme," bisik Donghae sambil menyeringai.
"Ada cara yang lebih buruk untuk kesana," lanjutnya, tapi kemudian sedikit mengerutkan kening saat satu pemikiran tak menyenangkan melintasi pikirannya.
Itu seperti penderitaan bagi Hyukjae.
Hyukjae meraih dan membelai wajah Donghae.
"Kau bisa membunuhku seperti ini kapan saja," bisik Hyukjae.
Hyukjae menyadari bahwa Donghae telanjang dengan begitu megahnya dan siap beraksi. Ketika ia mengambil tangan Hyukjae dan mencium buku-buku jarinya, Hyukjae bersandar keatas dan menangkap wajah Donghae di antara kedua tangannya dan menarik mulut Donghae ke mulutnya.
Donghae mencium Hyukjae sekilas, lalu berhenti.
"Inilah yang ingin kulakukan," bisik Donghae dan menggapai di bawah bantalnya, mengambil remote untuk pusat musik itu.
Dia menekan sebuah tombol dan alunan lembut suara gitar bergema mengelilingi dinding disana.
"Aku ingin bercinta denganmu," katanya menatap ke arah Hyukjae, mata coklat-gelapnya terbakar dengan terang, terlihat cintanya yang tulus.
Terdengar lembut di latar belakang sana, suara yang sudah akrab mulai menyanyikan lagu "The First Time Ever I Saw Your Face."
Dan bibir Donghae menemukan bibir Hyukjae.
Saat Hyukjae mengencang di sekeliling Donghae, Hyukjae menemukan pembebasan sekali lagi, Donghae membebaskan dirinya di dalam pelukan Hyukjae, kepala menengadah saat ia berteriak memanggil nama Hyukjae.
Donghae mendekap Hyukjae erat-erat ke dadanya ketika mereka duduk dengan hidungnya menempel ke hidung Hyukjae di tengah tempat tidur yang luas, Hyukjae duduk mengangkangi dia.
Dan di saat ini, intensitas pengalaman Hyukjae pagi ini di sini bersama Donghae dan semua yang telah terjadi selama seminggu yang lalu telah membanjirinya dengan sesuatu yang baru, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara emosional.
Hyukjae benar-benar dikuasai oleh semua perasaan itu. Perasaan yang sangat dalam, cintanya yang begitu dalam dengan Donghae. Untuk pertama kalinya ia menerima secercah pemahaman tentang bagaimana perasaan Donghae tentang keselamatannya.
Mengenang kembali kejadian yang nyaris dengan Charlie Tango kemarin, Hyukjae merasa ngeri dengan pemikiran itu dan air mata menggenang di matanya. Jika sesuatu terjadi pada Donghae…
Air mata Hyukjae jatuh tak terkendali di pipi. Begitu banyak sisi Donghae, kepribadiannya yang manis dan lembut, dan kekerasannya, Hyukjae-bisa-melakukan-apapun-yang-iasuka-padaDonghae-dan-Donghae-akan-tetap-datang-seperti-kereta-dominan-dengan fifty shades-nya.
Semua tentang Donghae.
Semuanya menakjubkan.
Semuanya milik Hyukjae.
Dan Hyukjae sadar mereka tidak saling mengenal dengan baik, dan mereka memiliki begitu banyak masalah untuk diatasi, tapi Hyukjae tahu yang lain, mereka akan dan mereka punya waktu seumur hidup untuk melakukannya.
"Hei," bisik Donghe sambil mengambil nafas, memegang kepala Hyukjae dengan kedua tangannya, menatap ke arah Hyukjae.
Donghae masih di dalam diri Hyukjae.
"Mengapa kau menangis?" tanya Donghae, suaranya dipenuhi dengan keprihatinan.
"Karena aku sangat mencintaimu," bisik Hyukjae.
Donghae setengah menutup matanya seolah terbius, menyerap kata-kata Hyukjae. Ketika ia membuka matanya lagi, mata itu berkobar dengan cintanya.
"Dan aku juga sangat mencintaimu, Hyukkie. Kau membuatku… utuh," balas Donghae kemudian mencium Hyukjae dengan lembut saat Roberta Flack menyelesaikan lagunya.
Mereka bicara dan bicara dan bicara, duduk tegak bersama-sama di atas tempat tidur di ruang bermain, Hyukjae di pangkuannya, kaki mereka meringkuk saling melingkari.
Seprei satin merah membungkus sekeliling mereka seperti kepompong yang megah, dan Hyukjae tak tahu berapa banyak waktu yang telah berlalu.
Donghae menertawakan Hyukjae saat Hyukjae meniru Sungmin selama pemotretan di Heathman tersebut.
"Membayangkan bisa saja dia yang datang untuk mewawancaraiku. Aku bersyukur pada Tuhan karena flu yang biasa itu," bisik Donghae dan mencium hidung Hyukjae.
"Aku percaya ia terkena flu, Donghae," balas Hyukjae memarahi Donghae, sambil menjalankan jari dengan iseng ke dada Donghae dan mengagumi bahwa Donghae sudah bisa mentoleransi itu dengan baik.
"Semua tongkat telah lenyap," bisik Hyukjae, mengingat kembali perhatiannya sebelumnya.
Donghae mebetulkan belahan poni Hyukjae untuk kesekian kalinya.
"Aku berpikir kau tak akan bisa melewati batasan keras."
"Tidak, kupikir aku tak akan bisa," bisik Hyukjae dengan mata terbelalak ke arah Donghae, kemudian ia melirik sekilas ke arah cambuk, paddles dan floggers yang berjajar di dinding seberang.
Donghae mengikuti arah tatapan Hyukjae.
"Kau ingin aku menyingkirkan barang-barang itu juga?" tanya Donghae merasa geli tapi tulus.
"Tidak, crop itu (cambuk pendek untuk berkuda)… Salah satu yang cokelat. Atau suede flogger, kau tahu," jawab Hyukjae dengan muka memerah.
Donghae tersenyum ke arah Hyukjae.
"Oke, crop dan flogger. Kenapa, Tuan Lee, kau seorang yang penuh dengan kejutan."
"Seperti kau, Mr. Lee. Ini salah satu hal yang kusukai tentangmu," balas Hyukjae kemudian mencium dengan lembut sudut mulut Donghae.
"Apa lagi yang kau sukai tentang aku?" tanya Donghae dan matanya melebar.
Hyukjae tahu itu masalah besar bagi Donghae untuk mengajukan pertanyaan ini. Donghae merendahkan hatinya dan Hyukjae berkedip padanya.
Hyukjae mencintai segalanya tentang Donghae, bahkan fifty shades-nya.
Hyukjae tahu hidup dengan Donghae tak akan pernah membosankan.
"Ini," jawab Hyukjae, jari telunjuknya menyentuh sepanjang bibir Donghae.
"Aku suka ini, dan apa yang keluar dari sini, dan apa yang kau lakukan kepadaku dengan ini. Dan apa yang ada di dalam sini," gumam Hyukjae kemudian membelai kening Donghae.
"Kau begitu cerdas, lucu dan memiliki pengetahuan luas, kompeten dalam banyak hal. Tapi yang terpenting, aku mencintai apa yang ada di dalam sini," lanjut Hyukjae kemudian telapak tangannya dengan lembut menekan dada Donghae, merasakan ketenangannya, detak jantungnya.
"Kau adalah pria tampan penuh kasih yang pernah aku temui. Apa yang kau lakukan. Bagaimana kau bekerja. Yang bisa membangkitkan rasa hormat," bisik Hyukjae.
"Yang bisa membangkitkan rasa hormat?" gumam Donghae bingung, tapi ada jejak humor di wajahnya. Kemudian wajahnya berubah, dan senyum malunya tampak seolah-olah dia benar-benar sangat malu.
Hyukjae jadi ingin menumbrukkan diri kearah Donghae. Jadi ia lakukannya.
Hyukjae tertidur, dibungkus satin dan Lee Donghae mengendus Hyukjae, membuatnya terjaga.
"Lapar?" bisik Donghae.
"Hmm, sangat lapar."
"Aku juga."
Hyukjae bersandar agar bisa memandangi Donghae yang berbaring di tempat tidur.
"Ini ulang tahunmu, Mr. Lee. Aku akan memasak sesuatu. Apa yang kau inginkan?"
"Buatlah kejutan untukku," gumam Donghae, menjalankan tangannya di punggung Hyukjae, membelai dengan lembut.
"Aku harus memeriksa Apple-ku untuk melihat semua pesan tak terjawab kemarin," desah Donghae dan mulai duduk, dan Hyukjae tahu waktu spesial itu telah berakhir… untuk saat ini.
"Ayo kita mandi."
.
Fifty Shades Darker
.
Donghae di ruang kerjanya sedang menelepon. Taylor sedang bersamanya, kelihatan serius tapi berpakaian santai, celana jins dan T-shirt hitam yang ketat.
Hyukjae menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan siang. Ia menemukan steak salmon di lemari es, dan ia memasak steaknya yang sudah ia beri perasan lemon diatas api yang sudah dia atur agar jangan sampai mendidih, membuat salad, dan merebus beberapa kentang kecil-kecil.
Hyukjae merasa sangat santai dan bahagia, benar-benar seperti berada di atas langit. Berbalik ke arah jendela besar, ia melihat keluar, memandang langit biru yang begitu menakjubkan.
Semua pembicaraan mereka semalam.
Taylor muncul dari ruang kerja, menginterupsi lamunan Hyukjae.
Menurunkan volume iPod, Hyukjae melepaskan satu headset yang sedang ia pakai.
"Hai, Taylor."
"Hyukkie," balas Taylor sambil mengangguk.
"Apa putrimu baik-baik saja?"
"Ya, terima kasih. Mantan istriku berpikir dia sakit usus buntu, tapi seperti biasa dia selalu bereaksi terlalu berlebihan," jawab Taylor memutar matanya, yang membuat Hyukjae terkejut.
"Sophie baik-baik saja, meskipun ia sakit infeksi perut karena serangga."
"Aku turut prihatin."
Taylor tersenyum.
"Apakah Charlie Tango sudah ditemukan?"
"Ya. Tim recovery sedang dalam perjalanan. Dia akan tiba di Boeing Field pastinya sudah larut malam."
"Oh, bagus."
Taylor memberi Hyukjae senyuman getir.
"Apakah hanya itu semua, Sir?"
"Ya, ya tentu saja," jawab Hyukjae, sambil memerah. Ia belum terbiasa dengan Taylor yang memanggilnya sir.
Itu membuatnya merasa begitu tua, setidaknya tiga puluh.
Taylor mengangguk dan berjalan keluar dari ruang keluarga.
Donghae masih menelepon.
Hyukjae sedang menunggu kentang mendidih. Ini memberinya satu ide.
Mengambil tas, Hyukjae mengeluarkan Apple-nya.
Ada SMS dari Sungmin.
.
Sampai ketemu nanti malam. Tak sabar menunggu untuk ngobrol yang sangat paaaanjang.
.
Hyukjae membalas SMSnya.
.
Begitu juga denganku.
.
Rasanya akan menjadi lebih baik setelah bicara dengan Sungmin. Membuka program email, Hyukjae mengetik pesan cepat untuk Donghae.
.
Dari: Hyukjae, Lee
Perihal: Makan Siang
Tanggal: 14 Juni 2016 13:12
Untuk: Donghae, Lee
Dear, Mr. Lee…
Aku mengirim e-mail untuk memberitahumu bahwa makan siangmu hampir siap. Dan aku punya kinky fuckery yang sangat intens tadi pagi. Hadiah kinky fuckery untuk Ulang Tahun bisa direkomendasikan. Dan satu lagi, aku mencintaimu.
H x
Tunanganmu.
.
Hyukjae memperhatikan reaksi Donghae dari dapur dengan seksama, tapi tampan itu masih menelepon.
Hyukjae mengangkat bahu pasrah.
Mungkin Donghae sangat sibuk.
Apple-nya bergetar.
.
Dari: Donghae, Lee
Perihal: Kinky Fuckery
Tanggal: 14 Juni 2016 13:15
Untuk: Hyukjae, Lee
Aspek apa yang berpengaruh paling intens pada pikiramu? Aku akan mencatatnya.
Donghae, Lee
CEO yang Kelaparan dan Lemas Setelah Kerja Keras Tadi Pagi, SM Enterprises Holdings Inc.
PS: Aku suka tanda tanganmu.
PPS: Apa yang terjadi dengan seni percakapan?
.
Dari: Hyukjae, Lee
Perihal: Kelaparan?
Tanggal: 14 Juni 2016 13:18
Untuk: Donghae, Lee
Dear, Mr. Lee…
Bolehkah aku mengarahkan perhatianmu ke baris pertama dari email-ku sebelumnya yang memberitahukan bahwa makan siangmu sesungguhnya hampir siap, jadi tidak ada omong kosong tentang kelaparan dan lemas. Berkenaan dengan aspek paling intens dari kinky fuckery… terus terang, semuanya. Aku jadi tertarik membaca catatanmu. Dan aku juga suka tanda tangan dalam tanda kurung itu.
H x
Tunanganmu.
PS: Sejak kapan kau begitu cerewet? Dan kau masih telepon!
.
Hyukjae menekan "send" dan melihat ke depan, dan Donghae sudah berdiri di depannya, menyeringai.
Sebelum Hyukjae bisa mengatakan apa-apa, Donghae berjalan cepat mengitari meja dapur, menarik Hyukjae ke dalam pelukannya, dan mencium Hyukjae dengan keras.
"Itu saja, Tuan Lee," katanya, melepaskan Hyukjae, dan dia melenggang dengan celana jinsnya, kaki telanjang dan kemeja putih yang tidak dimasukkan, kembali ke ruang kerjanya, meninggalkan Hyukjae yang terengah-engah.
.
Fifty Shades Darker
.
Hyukjae sudah menyiapkan selada air, daun ketumbar, dan membuat saus sour cream untuk menemani salmon, dan ia telah mengaturnya di bar sarapan. Ia benci menginterupsi Donghae saat Donghae bekerja, tetapi sekarang Hyukjae berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.
Donghae masih menelepon, secara menyeluruh rambutnya tampak acak-acakan karena habis bercinta dan mata coklat-gelapnya cerah, secara visual seperti sebuah pesta bergizi.
Donghae mendongak ketika ia melihat Hyukjae dan tidak mengalihkan tatapannya dari Hyukjae. Dia sedikit mengerutkan kening, dan Hyukjae tidak tahu apakah itu ditujukan kepadanya atau karena pembicaraannya.
"Biarkan mereka didalam dan tinggalkan mereka sendirian. Apakah kau mengerti, Hyuna?" desis Donghae dan memutar matanya.
"Bagus."
Hyukjae memperagakan gerakan seperti makan, dan Donghae menyeringai dan mengangguk.
"Sampai ketemu nanti," gumam Donghae kemudian menutup telepon.
"Bisakah satu telepon lagi?" tanya Donghae.
"Tentu."
"Kemeja itu sangat pas," tambah Donghae.
"Kau suka?" tanya Hyukjae, memberi Donghae tatapan polos.
Itu salah satu pembelian Caroline Acton. Sebuah kemeja yang lembut, mungkin lebih cocok untuk ke pantai, tapi sepertinya hari ini begitu indah dan agak hangat.
Donghae mengerutkan kening dan Hyukjae menundukkan muka.
"Kau terlihat fantastis, Hyukkie. Aku hanya tidak ingin orang lain melihatmu memakai kemeja itu."
"Oh!" balas Hyukjae cemberut pada Donghae.
"Kita di rumah, Donghae. Tak ada seorangpun disini kecuali staf."
Mulut Donghae diputar, dan yang kedua dia berusaha menyembunyikan rasa gelinya atau dia benar-benar tidak berpikir ini lucu. Tapi pada akhirnya dia mengangguk, meyakinkan.
Hyukjae menggeleng kepala sebelum kembali ke dapur.
Lima menit kemudian, Donghae kembali di depannya, memegang telepon.
"Aku telepon Hangeng, dia ingin bicara denganmu," bisiknya, matanya waspada.
Seluruh udara meninggalkan tubuh Hyukje sekaligus.
Hyukjae mengambil telepon dan menutup speaker telepon itu.
"Kau bilang padanya!" desis Hyukjae.
Donghae mengangguk, dan matanya melebar saat melihat Hyukjae jelas-jelas tertekan.
Hyukjae menghela napas dalam-dalam.
"Hai, appa."
"Donghae baru saja menanyakan padaku apakah dia diijinkan menikah denganmu," kata Hangeng.
Keheningan membentang diantara mereka ketika Hyukjae begitu putus asa memikirkan apa yang harus ia katakan. Hangeng seperti biasanya tetap diam, tidak memberi Hyukjae petunjuk mengenai reaksinya terhadap berita ini.
"Apa jawabanmu?" tanya Hyukjae, yang pertama memecahkan kesunyian itu.
"Aku bilang aku ingin bicara denganmu. Agak mendadak, tidakkah kau pikir, Hyukkie? Kau tidak mengenalnya begitu lama. Maksudku, dia seorang pria yang baik, tahu memancing ikan juga… tapi secepat inikah?" tanya Hangeng, suaranya tenang dan teratur.
"Ya. Ini memang tiba-tiba… tunggu," gumam Hyukjae kemudian buru-buru, ia meninggalkan area dapur menjauh dari tatapan cemas Donghae menuju ke arah jendela besar.
Pintu ke balkon terbuka, dan Hyukjae melangkah keluar menuju sinar matahari itu. Ia tak berjalan ke pinggir balkon. Hanya saja sudah jauh.
"Aku tahu ini tiba-tiba dan semua-tapi… well, aku mencintainya. Dia mencintaiku. Dia ingin menikah denganku, dan tak ada orang lain yang ada dihatiku," jelas Hyukjae dengan muka memerah, ia berpikir mungkin ini merupakan percakapan paling intim yang pernah ia miliki dengan ayah tirinya.
Hangeng diam di ujung telepon itu.
"Apakah kau sudah mengatakan ini pada ibumu?"
"Belum."
"Hyukkie. Aku tahu dia sangat kaya dan memenuhi syarat, tapi pernikahan? Ini seperti satu langkah besar. Kau yakin?"
"Dia akan membuatku bahagia selamanya," bisik Hyukjae.
"Wow," kata Hangeng setelah beberapa saat, nadanya lembut.
"Dia adalah segalanya bagiku."
"Hyukkie, Hyukkie, Hyukkie. Kau seperti seorang gadis yang keras kepala sekarang, tumben. Semoga kau tahu apa yang kau lakukan. Aku ingin bicara lagi dengan Donghae, bolehkah?"
"Tentu, appa, dan bisakah kau menjadi pendampingku pada pernikahan nanti? Walau sebenarnya aku tidak tau apakah butuh pendamping atau tidak jika sesama laki-laki," tanya Hyukjae dengan pelan.
"Oh, sayang," gumam Hangeng, suaranya pecah, dan dia terdiam untuk beberapa saat, emosi dalam suaranya membuat air mata Hyukjae jatuh.
"Tidak akan ada yang bisa membuatku sangat senang dari pada menjadi pendampingmu," akhirnya Hangeng berkata.
Hyukjae menelan ludah, untuk menjaga suara tangisannya.
"Terima kasih, appa. Aku akan menyerahkan kembali ke Donghae. Bicaralah lembut dengannya. Aku mencintainya," bisik Hyukjae.
Hangeng tersenyum di ujung telepon itu, sulit sekali untuk bicara. Selalu saja sulit untuk berbicara dengan Hangeng.
"Tentu, Hyukkie. Datanglah dan kunjungi orang tua ini dan ajak Donghae juga."
Hyukjae masuk kembali ke ruang itu, jengkel pada Donghae karena tidak memperingatkan Hyukjae dulu dan memberikan telepon padanya, Hyukjae memberi Donghae ekspresi supaya Donghae tahu betapa jengkelnya Hyukjae.
Donghae tampak geli saat ia mengambil telepon dan berjalan kembali masuk ke ruang kerjanya.
Dua menit kemudian, Donghae muncul kembali.
"Aku mendapat restu dari ayah tirimu meskipun agak berat hati," katanya dengan bangga, begitu bangga, nyatanya, hal itu membuat Hyukjae tertawa, dan Donghae menyeringai.
Donghae bertindak seakan dia baru saja melakukan negosiasi satu merger atau akuisisi besar yang baru, yang mana Hyukjae rasa, Donghae memiliki satu tingkat diatasnya.
.
Fifty Shades Darker
.
"Ya ampun, kau seorang koki yang hebat," kagum Donghae sambil menelan suapan terakhirnya dan mengangkat gelas anggur putih untuk Hyukjae.
Hyukjae merasa berbunga-bunga di bawah pujiannya, dan itu akan terjadi padanya karena ia akan memasak untuk Donghae setiap akhir pekan.
Hyukjae mengerutkan kening. Ia sangat menikmati saat memasak. Mungkin ia harus membuatkan Donghae kue untuk ulang tahunnya.
Hyukjae memeriksa jam tangan. Ia masih punya waktu.
"Hyukkie?" gumam Donghae, menginterupsi lamunan Hyukjae.
"Mengapa kau mengatakan padaku untuk tidak mengambil fotomu?" tanya Donghae, sangat mengejutkan Hyukjae karena suaranya lembut begitu menyesatkan.
Hyukjae menatap kebawah, ke piring kosongnya, sambil memutar jari-jarinya sendiri di pangkuan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengatakan bahwa ia sudah menemukan foto-foto itu.
Para isteri.
"Hyukkie," bentak Donghae.
"Apa itu?" lanjutnya membuat Hyukjae melompat, dan suaranya memerintahkan Hyukjae untuk memperhatikannya.
"Aku menemukan fotomu," bisik Hyukjae.
Mata Donghae melebar karena shock.
"Kau membuka kotak brankas itu?" tanya Donghae, tak percaya.
"Kotak brankas? Tidak, aku tidak tahu kau punya kotak brankas."
Donghae mengernyit, "Aku tidak mengerti."
"Dalam lemarimu. Didalam kotak. Saat aku mencari dasimu, dan kotak itu di bawah jeansmu… yang biasa kau pakai di ruang bermain. Kecuali hari ini," jawab Hyukjae dengan muka memerah.
Donghae melongo ke arah Hyukjae, terkejut, dan dengan gugup tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri ketika ia memproses informasi itu.
Donghae mengusap-usap dagunya, tenggelam dalam pikiran, tapi ia tak dapat menutupi kebingungannya yang terlihat kesal terukir di wajahnya. Tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya, kesal tapi juga geli dan senyum samar tampak puas di sudut bibirnya. Dia memperlihatkan tangannya menunjuk keatas di depannya dan fokus kepada Hyukjae sekali lagi.
"Ini bukan seperti apa yang kau pikirkan. Aku sudah melupakan semuanya mengenai foto itu. Kotak itu ada yang memindahkan. Foto-foto itu berasal dalam kotak brankasku."
"Siapa yang memindahkan mereka?" bisik Hyukjae.
Donghae menelan ludahnya.
"Hanya ada satu orang yang bisa melakukan itu."
"Oh. Siapa? Dan apa maksudmu, 'ini bukan seperti apa yang kupikirkan'?"
Donghae mendesah dan memiringkan kepalanya ke satu sisi, dan sepertinya dia merasa malu.
"Ini akan terdengar seperti tidak punya perasaan, tapi foto-foto itu merupakan sebuah polis asuransi," bisik Donghae menyiapkan dirinya terhadap tanggapan dari Hyukjae.
"Polis asuransi?"
"Mencegah pengeksposan."
"Oh," bisik Hyukjae, karena ia tak bisa berpikir harus berkata apa lagi. Ia menutup mataku.
Inilah Donghae.
Ini adalah mengenai foto-foto seks Fifty Shades yang ada, di sini, sekarang.
"Ya. Kau benar," gumam Hyukjae.
"Sepertinya ini memang tak punya perasaan."
Hyukjae berdiri untuk membersihkan piring mereka. Ia tak ingin tahu lagi.
"Hyukkie."
"Apakah mereka tahu? Gadis-gadis itu… para sub itu?"
Donghae mengerutkan kening.
"Tentu saja mereka tahu."
Donghae mengulurkan tangan, meraih dan menarik Hyukjae mendekat padanya.
"Foto-foto itu seharusnya berada didalam kotak brankas. Mereka tidak digunakan untuk bersenang-senang," gumam Donghae kemudian berhenti sebentar.
"Mungkin awalnya begitu saat foto itu diambil. Tapi," Donghae berhenti lagi, memohon pada Hyukjae.
"Mereka tidak berarti apa-apa."
"Siapa yang menaruhnya di lemarimu?"
"Kemungkinan hanya Taeyeon yang bisa melakukannya."
"Dia tahu nomor kombinasi kotak brakasmu?"
Donghae mengangkat bahu.
"Hal ini tak akan mengejutkanku. Nomor kombinasinya sangat panjang, dan aku sangat jarang menggunakan. Itu adalah nomor kombinasi yang kutulis dan belum pernah kuubah," jawab Donghae sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin tahu apa lagi yang dia tahu jika dia mengambil apapun yang keluar dari sana."
Donghae mengerutkan kening, kemudian perhatiannya berubah kembali kepada Hyukjae.
"Dengar, aku akan menghancurkan foto-foto itu. Sekarang, jika kau menginginkan itu."
"Mereka itu foto-fotomu, Donghae. Lakukan saja apa yang kau inginkan," gumam Hyukjae.
"Jangan seperti itu," kata Donghae, memegang kepala Hyukjae dengan kedua tangannya dan menahan tatapan Hyukjae kearah tatapannya.
"Aku tak ingin kehidupan seperti itu. Aku ingin kehidupan kita, bersama-sama. Hyukkie, kupikir kita telah mengusir semua ketakutan itu tadi pagi. Aku merasa seperti itu. Bukankah kau juga merasa seperti itu?"
Hyukjae berkedip pada Donghae, ia ingat sekali tentang tadi pagi, saat-saat yang begitu menyenangkan dan begitu romantisnya dan benar-benar cabul di ruang bermain itu.
"Ya, aku merasa seperti itu juga," gumam Hyukjae sambil tersenyum.
"Bagus," bisik Donghae kemudian membungkuk dan mencium Hyukjae, merangkul Hyukjae ke dalam pelukannya.
"Aku akan merobek-robeknya," bisik Donghae.
"Setelah itu aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Maafkan aku, sayang, aku punya segunung bisnis yang harus aku kerjakan siang ini."
"Keren. Aku harus menelepon ibuku," balas Hyukjae meringis.
"Setelah itu aku ingin belanja dan membuatkanmu cake."
Donghae menyeringai dan matanya menyala seperti anak kecil.
"Cake?"
Hyukjae mengangguk.
"Satu cake coklat?"
"Kau ingin cake coklat?" tanya Hyukjae memastikan.
Senyum Donghae menular sebelum ia mengangguk.
"Aku tahu apa yang bisa aku lakukan, Mr. Lee."
Donghae mencium Hyukjae sekali lagi.
.
Fifty Shades Darker
.
Heechul diam terpana.
"Eomma, katakan sesuatu."
"Kau tidak hamil kan, Hyukkie?" bisik Heechul ngeri.
"Tidak, tidak, tidak, bukan seperti itu."
Kekecewaan seakan menyayat menembus jantung Hyukjae, dan ia merasa sedih karena Heechul berpikir seperti itu mengenai dirinya. Tapi kemudian ia ingat mengenai perasaan yang tertanam pada ibunya bahwa dia hamil Hyukjae saat menikah dengan ayah, well Hyukjae juga hasil perbuatan diluar nikah.
"Maafkan aku, sayang. Ini hanya karena begitu mendadak. Maksudku, Donghae memang calon suami yang lumayan, tapi kau begitu muda, dan kau baru melihat sedikit dari isi dunia ini."
"Eomma, tak bisakah kau ikut merasa bahagia untuku? Aku mencintainya."
"Sayang, aku hanya harus membiasakan diriku dengan gagasan itu. Ini benar-benar mengejutkan. Aku bisa melihat saat di Gangnam bahwa ada sesuatu yang sangat istimewa di antara kalian berdua, tapi kali ini… menikah?"
Di Gangnam saat itu Donghae menginginkan Hyukjae sebagai slave, tapi Hyukjae tak akan mengatakan itu pada ibunya.
"Apa kau sudah menentukan tanggalnya?"
"Belum."
"Aku berharap ayah kandungmu masih hidup," bisik Heechul.
"Aku tahu, eomma. Aku ingin mengenalnya juga."
"Dia hanya menggendongmu sekali, dan ia begitu bangganya. Dia berpikir kau adalah pria yang paling manis di dunia," gumam Heechul, suaranya tenang mematikan saat cerita begitu familiar diceritakannya kembali, lagi.
Selanjutnya dia akan menangis.
"Aku tahu, eomma."
"Lalu dia meninggal," bisik Heechul mengendus, dan Hyukjae tahu hal itu telah membentuk Heechul seperti yang dilakukan ayah kandungnya setiap kali.
"Eomma," bisik Hyukjae, ingin meraihnya melewati telepon itu dan memeluknya.
"Aku seorang tua yang konyol," gumam Heechul dan ia mengendus lagi.
"Tentu saja aku merasa bahagia untukmu, sayang. Apakah Hangeng sudah tahu?" tambah Heechu, dan tampaknya ia telah memulihkan keseimbangannya.
"Donghae barusan meminta restu darinya."
"Oh, Begitu manisnya. Bagus," balas Heechul terdengar sedih, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya.
"Ya," gumam Hyukjae.
"Hyukkie, sayang, aku sangat mencintaimu. Aku merasa bahagia untukmu. Dan kalian berdua harus mengunjungiku."
"Ya, eomma. Aku mencintaimu juga."
"Temanku meneleponku, aku harus pergi. Ijinkan aku mengatur tanggalnya. Kita perlu merencanakan semuanya, dan apa kau ingin pernikahan yang meriah?"
Pernikahan yang meriah, sialan. Hyukjae bahkan belum memikirkan hal itu. Tidak, ia tak ingin pernikahan yang meriah.
"Aku belum tahu. Begitu aku memutuskan, aku akan segera memberitahumu."
"Bagus. Kau harus menjaga dirimu sekarang dan jaga kesehatanmu. Kalian berdua perlu bersenang-senang, waktu yang banyak sebelum ada anak-anak nanti."
Anak-anak! Hmm, dan ada makna terselubung dan kenyataannya bahwa Heechul memiliki Hyukjae terlalu dini.
"Eomma, aku benar-benar tidak menghancurkan hidupmu, kan?" tanya Hyukjae.
Heechul terengah-engah.
"Oh tidak, Hyukkie, aku tak pernah berpikir begitu. Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada ayahmu dan aku. Aku hanya berharap dia di sini untuk melihatmu tumbuh dewasa dan akan menikah," balas Heechul sedih dan sentimentil lagi.
"Aku mengharapkan itu juga," Hyukjae menggelengkan kepala, berpikir tentang mitos ayahnya.
"Eomma, aku akan membiarkanmu pergi. Aku akan segera meneleponmu lagi."
"Aku mencintaimu, sayang."
"Aku juga, eomma. Sampai ketemu lagi."
.
Fifty Shades Darker
.
Dapur Donghae adalah impian bagi semua orang yang suka memasak. Bagi seorang pria yang tak tahu apa-apa tentang memasak, ia tampaknya memiliki segalanya. Hyukjae menduga Mrs. Jones suka memasak juga.
Satu-satunya yang Hyukjae butuhkan adalah beberapa cokelat yang berkualitas tinggi untuk frosting (lelehan coklat untuk menutup cake). Ia meninggalkan dua belahan roti di rak pendingin, mengambil dompet, dan menjulurkan kepala dari balik pintu ruang kerja Donghae.
Donghae sedang berkonsentrasi didepan layar komputernya. Dia mendongak dan tersenyum pada Hyukjae.
"Aku hanya ingin pergi ke toko untuk membeli beberapa bahan."
"Oke."
Tapi kemudian ia mengerutkan kening kearah Hyukjae.
"Apa?"
"Kau akan memakai celana jeans atau sesuatu?"
"Donghae, ini cuma kaki."
Donghae menatap ke arah Hyukjae, tidak senang. Itu akan menjadi sebuah pertengkaran. Dan ini hari ulang tahunnya.
Hyukjae memutar mata padanya, seperti seorang remaja yang bandel.
"Bagaimana jika kita berada di pantai?" tanya Hyukjae mengambil taktik yang berbeda.
"Kita sedang tidak berada di pantai."
"Apakah kau keberatan jika kita berada di pantai?"
Donghae mempertimbangkan pertanyaan itu sejenak.
"Tidak," katanya singkat.
Hyukjae memutar mata lagi dan menyeringai pada Donghae.
"Well, bayangkan saja kita berada disana. Sampai nanti," balas Hyukjae kemudian berbalik dan berlari ke serambi.
Hyukjae melakukan itu secepatnya menuju lift sebelum Donghae menangkapnya. Saat pintu mendekat, ia melambai tangan ke arah Donghae, tersenyum manis saat Donghae mengawasinya, tidak berdaya - tapi untungnya Donghae terlihat geli - dengan mata menyipit.
Donghae menggelengkan kepalanya dengan putus asa, pintu tertutup lalu Hyukjae tak bisa melihatnya lagi. Oh, rasanya menggairahkan bagi Hyukjae. Adrenalin berdebar-debar sampai pembuluh darahnya, dan jantungnya terasa seperti ingin keluar dari dada.
Tapi saat lift itu turun, begitu juga gairah Hyukjae.
.
Fifty Shades Darker
.
Hyukjae menatap tanda terima dari ATM: $51.689,16.
Uangnya lima puluh ribu dolar lebih banyak!
Hyukjae, kau harus belajar untuk menjadi kaya, juga, jika kau mengatakan ya.
Jadi saat ini sudah mulai. Hyukjae mengambil uang recehnya lima puluh dolar dan berjalan ke toko. Ia langsung menuju ke dapur ketika ia datang kembali, dan ia tidak bisa mencegah perasaannya terhadap getaran alarm.
Donghae masih di ruang kerjanya.
Astaga, itu sepanjang sore.
Hyukjae memutuskan pilihan terbaiknya, yang mana adalah dengan menghadapi Donghae dan melihat berapa banyak kerugian yang Hyukjae timbulkan.
Hyukjae mengintip sedikit waspada di sekitar pintu ruang kerja Donghae.
Dia sedang telepon, menatap keluar jendela.
"Dan spesialis Eurocopter itu datang Senin siang?... Bagus. Terus berikan aku informasinya. Katakan pada mereka bahwa aku akan membutuhkan temuan awal mereka, baik Senin malam atau Selasa pagi," kemudian Donghae menutup telepon dan memutar putaran kursinya, tapi terdiam ketika ia melihat Hyukjae, ekspresinya tenang.
"Hai," bisik Hyukjae.
Donghae tidak mengatakan apa-apa, dan jantung Hyukjae rasanya terjun bebas ke dalam perut. Dengan hati-hati Hyukjae berjalan masuk ke ruang kerja Donghae dan mengelilingi mejanya menuju tempat dia duduk.
Donghae masih tidak mengatakan apa-apa, matanya tak pernah meninggalkan Hyukjae.
Hyukjae berdiri di depannya, merasakan kekonyolan fifty shades.
"Aku sudah kembali. Apakah kau marah padaku?"
Donghae mendesah, meraih tangan Hyukjae, dan menariknya ke pangkuannya, tangannya memeluk Hyukjae. Dia mengubur hidungnya di tengkuk Hyukjae.
"Ya," katanya.
"Maafkan aku. Aku tak tahu apa yang merasukiku," jawab Hyukjae sambil meringkuk diatas pangkuan Donghae, menghirup bau surgawinya Donghae, merasa aman terlepas dari fakta bahwa dia sedang marah.
"Aku juga. Pakailah apa yang kau suka," bisik Donghae.
Dia menjalankan tangannya di kaki telanjang Hyukjae sampai ke paha.
"Selain itu, celana pendek ini memiliki keuntungan," jelas Donghae membungkuk untuk mencium Hyukjae, dan saat bibir mereka bersentuhan, hasrat atau gairah atau kebutuhan yang mendalam untuk membayar kesalahan seakan menusuk melalui diri Hyukjae dan nyala api gairah masuk kedalam darahnya.
Hyukjae meraih kepala Donghae dengan kedua tangannya, jarinya meremas-remas rambut Donghae.
Donghae mengerang saat tubuhnya merespon, dan ia seakan lapar menggigit bibir bawah Hyukjae berlanjut ke tenggorokan, telinga, dan lidahnya menyerang mulut Hyukjae, bahkan sebelum Hyukjae menyadarinya, Donghae sudah melepaskan celananya, menarik Hyukjae untuk mengangkang diatas pangkuannya, dan tenggelam ke dalam diri Hyukjae.
Hyukjae memegang sandaran kursi, kakinya menyentuh lantai dan mereka pun mulai bergerak.
.
TBC
.
Minggu depan end, jadi aku mohon yang selama ini mager muncul atau kehabisan kuota buat muncul, tolong munculkan diri anda dan berikan saya masukan ya. Dan terimakasih buat yang masih baca sampai sejauh ini, memunculkan diri, memberikan saran, nuangin unek-uneknya. Maaf jadinya aku apdet dua minggu sekali karena ya gitu deh haha. Aku mau nyebut nama kalian satu-satu tapi kalo dipikir-pikir mending besok aja hehe.
Oh iya, selamat hari Nataall! ^^
See you di ending! ^^
