Who is she? she is, Luhan.
Baby Aery HHS
-Big Event HunHan INDONESIA-
Main cast : Luhan, Sehun.
Genre : Hurt, Comfrot, Romance.
Rate : M 17+.
Warning : Genderswitch, Mature content, Dirty talk, Typo.
Length : Chapter.
.
.
.
.
.
Luhan menutup pintu kamar seusai dia merendam seluruh tubuhnya menggunakan air hangat di bathtub kamar mandi apartemen Sehun, hanya sekedar ingin merileks-kan tubuhnya yang terasa pegal agar sendikit menjadi nyaman. Dia berjalan menuju dapur, membuat secangkir teh hijau lalu menghampiri Sehun yang duduk tenang di sofa ruang tengah. Televisi di depannya menyala tapi terlihat seperti acara di sana tidak menjadi pusat perhatian Sehun, pria itu seperti sedang melamun.
"Memikirkan sesuatu?"
Satu kecupan di pipi menyadarkan Sehun akan kehadiran Luhan. Dia tersenyum samar lalu menyambut Luhan yang mendudukkan diri di atas pangkuannya. "Ya, aku memikirkan sesuatu."
"Apa?" Teh yang dipegangnya Luhan letakan di atas meja, karena terlihat jika Sehun ingin menyampaikan sesuatu yang serius. "Ada masalah?"
"Tidak ada." Sehun menggeleng sembari mengusap pipi Luhan. "Aku hanya sedang berpikir untuk berhenti menjadi pemegang Mall milikmu."
Luhan menyeringitkan kening. Dia merasa terkejut akan ucapan Sehun tapi lebih dari itu dia justru merasa penasaran sekaligus bingung. "Ada yang membuatmu tidak nyaman? Maksudku kau baru berada di puncak sebagai pemimpin Mall itu dan kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu?"
"Aku ingin bisa dihormati karena diriku sendiri bukan karena aku anak dari keluarga Edison ataupun karena aku adalah kekasihmu." Sehun mengutarakan apa yang sudah dipikirkannya sejak jauh-jauh hari. Mengingat bagaimana Carey juga Yifan memperlakukan dirinya membuat Sehun merasa terluka dan kehilangan harga dirinya di depan dua pria itu. "Dan aku akan lebih merasa pantas untuk menjadi suamimu jika bisa berdiri dengan sukses tanpa sokongan siapapun."
"Itu yang kau inginkan?"
"Ya, itu yang aku inginkan."
"Baiklah.. putus kontrak kerja sama kita agar aku bisa mencari penggantimu secepatnya." Luhan tersenyum tipis. Dia sangat menghormati apa yang Sehun rencanakan bahkan dia merasa senang jika memang Sehun memiliki niatan seperti itu, dan tentu dia mendukung penuh.
"Terima kasih atas izinmu nona Luhan." Hidung kecil Luhan, Sehun kecup lalu dia gigit puncaknya dengan gemas. Itu membuat Luhan terkekeh geli dan mereka pun saling tersenyum dengan balas memandang satu sama lain.
"Kau tau kan jika aku akan mendukung apapun yang akan kau lakukan. Jika mungkin kau membutuhkan bantuan aku akan menjadi yang pertama mengulurkan tangan."
"Aku memiliki kekasih yang bisa diandalkan." Bibir Luhan yang begitu dekat dengan jaraknya memudahkan Sehun untuk mencuri satu ciuman, namun saat akan melumat bibir bawah itu bahunya justru didorong mundur secara perlahan. Dengan tatapan tidak mengerti Sehun bertanya kepada Luhan.
"Kita belum selesai berbicara. Aku belum tau apa yang akan kau lakukan setelah pemutusan kontrak." Masih menahan bahu Sehun agar tidak kembali mendekat Luhan menjabarkan alasannya menolak ciuman Sehun. Taukan, berawal dari ciuman mungkin mereka bisa melakukan hal lebih dan Luhan hanya ingin menuntaskan obrolan mereka lebih dulu.
"Aku akan kembali menganbil alih Toko milikku yang ada di Mall-mu, membuka restoran sesuai keahlianku dan aku berniat membuka pabrik Mayones di Daegu. Ada pabrik sudah tidak terpakai di sana dan aku berniat membelinya."
"Itu membutuhkan biaya banyak, Sehun. Membuka pabrik tidak seperti membuka toko rumahan."
"Aku mengerti sayang." Sehun menyelipkan juntaian rambut halus Luhan ke belakang telinga. Dia tersenyum karena melihat kekhawatiran Luhan yang mungkin berpikir jika dia akan melakukan tindakan tanpa perhitungan matang. "Aku akan melakukannya pelan-pelan tanpa kecerobohan. Aku akan mencari orang-orang yang memang ahli pada bidang itu untuk membantuku."
Melihat keyakinan di mata Sehun membuat Luhan hanya bisa mengangguk. "Aku akan menjadi investor di pabrikmu."
Sehun tertawa lalu menggeleng untuk menolak. "Aku sudah memiliki investor yang akan menanamkan modal berjumlah besar di pabrik."
"Siapa?"
"Harry Eddison, siapa lagi? Tapi dia memiliki perhitungan besar. Dia tidak mau jika uangnya kembali hilang dengan sia-sia."
"Itu bagus.. artinya dia sudah bisa menilai caramu bekerja."
"Itu berkat kesempatan yang kau berikan. Aku jadi bisa menunjukan kalau aku bukan lagi pria muda yang urakan."
"Kadang ada kisah, sosok pria yang urakan akan menjadi pria yang terpandang."
Sehun mengangguk setuju walau sedikit tidak menduga kalau Luhan akan berpikiran kisah drama seperti itu. "Jadi, apa obrolan kita sudah selesai?" Tangannya Sehun lingkarkan di pinggang Luhan, tentu dia tidak melupakan ciumannya yang ditolak kekasihnya ini.
"Jangan menatap ingin kepadaku. Itu membuatku tidak bisa menolak." Serangkaian kata itu keluar dengan dengusan kesal tapi percayalah jika Luhan yang lebih dulu mencium bibir Sehun atau bahkan melumat bibir bawah pria itu, dan sebagai penerima Sehun mencoba diam, memberi kesempatan Luhan untuk menjadi pendominasi.
Sehun hanya memainkan jemari panjangnya yang berjalan perlahan, menyusuri pinggang Luhan dengan meninggalkan jejak sensual di setiap jengkal kulit mulus Luhan, sampai terhenti pada bagian paha dalam Luhan. Mulutnya yang digelitik oleh lidah Luhan ia buka, memberi jalan agar Luhan bisa mempermainkan isi mulutnya dengan leluasa.
Lidah kenyal milik Sehun yang ada pada kuasanya Luhan lumat, seperti dia tengah menghabiskan es cream rasa vanilla kesukaannya. Menjilat, menggigit atau hanya sekedar menyedot bibir Sehun, Luhan lakukan karena pria ini pun tidak keberatan dan Luhan justru mendengar deru napas yang mulai memburu dari hidung Sehun, seperti tengah menahan diri dari sebuah godaan besar.
"Apa kau sedang tidak merasa lelah?" Permainan Luhan, Sehun sudahi dengan sedikit menjauhkan diri. Ada benang saliva yang terjuntai dari bibir Luhan dan itu menambah kesan sexy yang sudah sangat tergambar jelas di balik gaun malam Luhan.
"Kau tau, seberapa lelahnya aku, aku tidak akan bisa menolak sentuhanmu, Sehun. Kau terlalu berbahaya jika sudah mencium."
Sehun tertawa dengan suaranya yang sudah sedikit serak. Perkataan Luhan membuatnya merasa tersanjung karena itu menandakan jika dia memiliki gairah seksual yang memuaskan. Luhan atau bahkan wanita lainnya bisa saja memimpikan bersetubuh dengannya walau baru satu kali melihat. "Mau melanjutkan?" Tapi sayang, hanya Luhan yang akan benar-benar mendapatkan kepuasan dari Sehun.
"Sudah terlalu terlambat untuk menolak."
"Aku menyukai jawabanmu." Bibir mereka kembali bersatu tapi tidak lagi Luhan yang menjadi dominan. Sejak tadi dia sudah terlalu gemas pada lidah nakal Luhan dan Sehun ingin memberikan pelajaran pada Luhan yang sudah membangkitkan hasrat kelelakiannya. Satu telapak tangannya yang sejak tadi hanya mengelus paha dalam Luhan mulai mencari letak kenikmatan Luhan yang sangat mudah dia temukan. Klitoris yang menjadi pusat Luhan dia tekan dari balik celana dalam, membuat Luhan menggejang hingga membusungkan dada kedepan.
Pegulatan basah dan panas bibir mereka terlepas karena Sehun yang meloloskan gaun malam cantik yang menjadi tidak berarti dari tubuh Luhan. Tangannya melingkar kuat di leher Sehun saat Sehun mendorong sediki tubuh mereka ke depan agar dia tidak terjatuh menyedihkan karena lemas. Bibir terbukanya terus menyenandungkan melodi seks, berupa desahan, erangan ataupun rintihan dengan memuja nama Sehun yang tengah memanjakan area payudaranya. Putting kecoklatannya yang sudah menegang menjadi basah karena saliva Sehun yang tercecer di sana.
Keduanya sudah terperangkap pada hasrat untuk bisa saling memuaskan. Luhan bahkan tidak mampu berucap ketika Sehun memindahkannya untuk duduk di atas meja. Mata rusanya yang sudah berubah menjadi seperti daun layu hanya terus mengamati Sehun, menanti Sehun dengan tidak sabar yang sedang membuka seluruh pakaiannya. Alasan mungkin kenapa setiap wanita mendamba Sehun karena penisnya yang sangat terlihat jantan dan besar. Hanya menebaknya dari luar itu sudah sangat bisa terlihat, dan memang tidak akan sia-sia untuk memuja kegagahan milik Sehun yang kini terpampang bebas di depan mata Luhan. Bagaimana 'itu' berdiri tegak dengan percum yang berada diujungnya membuat lidah semua wanita rela untuk menjilat habis milik Sehun sampai kembali melemas.
Satu langkah Sehun ambil, mendekat kepada Luhan yang duduk tenang seperti anak anjing menanti jatah makanannya tiba. Tersenyum tipis Sehun memegang penisnya dan mendekatkannya pada bibir Luhan, seolah menawarkan apa yang sejak tadi Luhan inginkan. Anjing kelaparan akan memakan makanan yang ditawarkan, begitupula pada Luhan yang tanpa mengelak memasukan penis Sehun kedalam mulut kecilnya.
Gigi susu Luhan terasa bergesekkan dengan kulit penisnya yang sudah memerah ketika mulut itu bergerak maju dan mundur secara teratur. Lidah basah nan hangat milik Luhan pun seperti bara api yang mampu membuat Sehun menggeram ketika ujung penisnya terasa dijilati bagai sebuah lollipop. Sekarang penisnya benar-benar terasa sesak dan ingin meledak. Dia menjauhkan diri sebelum kelimaks.
Luhan tanpa diminta melepaskan celana dalamnya dan berdiri lalu mencium bibir Sehun. Tubuh mereka yang sudah tak berbalut apapun menempel erat, saling menghangatkan ditengah-tengah licinnya kulit mereka yang basah karena peluh. Sehun meremas kedua pantat Luhan, menggoda di sana sampai membuat satu kaki Luhan melingkari pahanya.
Melepaskan tautan bibir mereka Sehun menunduk, memposisikan penisnya untuk berada tepat di bibir vagina Luhan sementara Luhan hanya berpegangan pada bahu Sehun sembari menjilati daun telinga Sehun yang telah memerah terbakar. "Kau ingin kita ada pada posisi berdiri?"
"Apapun."
"Itu akan sulit untuk memuaskanmu sayang." Sehun berbisik dan tak kalah menggigit telinga Luhan. "Women on top bagaimana?"
Tanpa menjawab Luhan mendorong Sehun sampai terduduk di sofa. "Kau mambuatku tidak sabar, Sehun." Dia duduk mengangkang di atas paha Sehun dan tanpa arahanpun Luhan segera memasukan penis Sehun ke dalam vaginanya.
Lengguhan keluar dari bibir Luhan yang menikmati rasa penuh di dalam dirinya. Sehun pun menggeram namun teredam karena dia tengah menghias kulit putih Luhan dengan bercak-bercak merah yang samar. "Bergerak, Lu." Tangan Sehun tepat berada di pinggul Luhan, membantu Luhan yang mulai bergerak memompa penisnya agar menjadi balon yang meledak. Sesekali tangannya meremas payudara Luhan dan mencium Luhan, membuat rasa lelah seakan tak berarti karena sebuah kenikmatan.
Gairah itu semakin membesar terasa bagi Sehun. Luhan pun dapat merasakan jika sudah ada yang bergetar di dalam tubuhnya. Mereka saling melepaskan sentuhan dan terfokus untuk membuat semuanya melebur secara bersamaan, dan saat Luhan menghentak dalam dirinya, cairan milik Sehun pun keluar, menyatu dengan orgasme panasnya.
Napas keduanya saling memburu. Luhan menghentikan gerakannya, membiarkan lahar Sehun merayap pada rahimnya. Kepalanya jatuh pada bahu Sehun dengan lelah dan Sehun pun mengelus punggung telanjangnya diiringi kecupan bertubi-tubi pada pelipis Luhan.
"Kau melakukannya dengan baik."
Bisikan itu membuat Luhan mendecih, tapi sejujurnya dia merasa senang. Ada kebahagiaan tersendiri yang terasa setelah mereka melakukan ini. "Bawa aku ke kamar."
"Kau mau melanjutkan?"
"Terserah."
Sehun tertawa karena jawaban Luhan yang terkesan malas. Tapi Sehun tau jika Luhan akan menyengat seperti lebah jika dia kembali menyentuh walau hanya seujung puttingnya. Menuruti apa yang Luhan mau Sehun pun berdiri, otomatis mengeluarkan penisnya yang sudah kembali pada ukuran normal dari vagina dalam Luhan. Dia berjalan, sembari menggendong Luhan, layaknya menggendong balita lima tahun di depan dada. Mereka masuk ke dalam kamar, tanpa peduli pakaian yang berserakan di lantai ataupun jejak seperma di atas sofa berbulu halus itu.
Cukup hati-hati Sehun membaringkan Luhan di kasur dan saat itu barulah dia tau kalau mata Luhan sudah tertutup dengan tenang. Wanita ini tertidur di bahunya dan Sehun tertawa karena hal itu. "Kau lelah tapi masih mau melayaniku." Selimut putih Sehun gunakan untuk menutupi tubuh polos Luhan. "Selamat tidur nona Luhan." Mencium kening Luhan penuh kasih sayang dan dia pun keluar dari kamar untuk membereskan apapun yang mereka tinggalkan di ruang tengah, tak terlewat Sehun pun akan membersihkan tubuhnya.
.
.
Mencari pekerjaan Ryuzha dan Ji Ae rasa lebih sulit daripada mencari Monster Pokemon di dalam sepetak kamar. Sudah mencari kemana-mana tapi tidak ada satupun yang menerima mereka bahkan mereka ditolak saat melamar di sebuah kedai makanan kecil. Semalang itu kehidupan mereka sekarang. Astaga, apa tidak ada yang kasihan?
"Jika seperti ini aku lebih baik kembali ke Jepang."
"Berisik. Jangan mengeluh terus, Ryuzha. Itu akan membuat keberuntungan kita menjauh."
"Siapa yang mengatakan itu?"
"Ibuku, kenapa?"
Ryuzha hanya bisa mencibir tanpa ucapan ketika memang dia tidak bisa membantah kalimat Ji Ae. Akan menjadi tidak sopan jika menapik perkataan yang dikatakan orang tua. Kedua wanita menyedihkan itu memesan Ice Coffee di salah satu kedai di tepi jalan untuk menghilangkan rasa haus yang bersarang di tenggorokkan mereka. Setelah mendepatkan apa yang mereka beli keduanya mendudukkan diri di kursi kayu yang terletak di bawah naungan payung besar. Minuman dingin itu mereka minum penuh dengan kebosanan, sampai tidak tau jika ada sosok pria yang menghampiri mereka dalam diam.
"Kalian sudah kembali ke Korea?"
Ryuzha dan Ji Ae menoleh bersamaan keasal suara, masih dengan sedotan yang menempel pada belah bibir mereka, namun keduanya langsung tersedak saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapan mereka. "Pangeranku!"
Pria itu yang tak lain adalah Sehun mengangkat alisnya ketika mendengar seruan Ryuzha, namun di detik selanjutnya dia tertawa karena merasa geli pada sebutan Ryuzha. "Pangeran hanya ada untuk menidurkan anak kecil."
"Apa kabar tuan Sehun?"
Perhatian Sehun teralih kepada Ji Ae yang membungkuk. "Aku baik dan aku tidak menyangka bertemu kembali dengan kalian di Korea."
"Kami pulang karena uang yang anda berikan." Ryuzha menyahut, seperti memberitahu secara tidak langsung jika Sehun sudah menolong mereka.
"Aku senang jika itu bisa membantu. Jadi apa yang sedang kalian lakukan?" Dengan penasaran Sehun menunjuk pada dokumen yang terletak di atas meja bulat, disebelah cup coffee yang Ryuzha dan Ji Ae minum. "Kalian sedang mencari pekerjaan?"
"Ya, kami sedang mencari pekerjaan yang layak tapi ternyata itu tidak mudah." Ji Ae mengangguk, membenarkan dengan memasang wajah raut putusasa.
"Tuhan seperti menghukum kami sekarang."
Sehun tersenyum tipis. Kedua wanita di depannya benar-benar terlihat murung. "Aku bisa membantu kalian. Kebetulan aku akan membuka restoran dan aku rasa kalian bisa bekerja di sana."
Mendengar itu seperti mendapatkan satu teguk air kelapa muda di gurun pasir bagi Ryuzha dan Ji Ae. keduanya tersenyum dengan pandangan yang berbinar, tidak lagi terlihat sayu penuh keputusasaan. "Apa itu benar tuan?" Ryuzha bertanya, ingin memastikan jika Sehun tidak berbohong.
"Aku berkata jujur." Sebuah kartu nama Sehun berikan kepada Ryuzha. "Datanglah ke sana dan aku pastikan kalian bisa memulai bekerja secepatnya."
"Ini kabar membahagiakan tuan. Terima kasih." Ji Ae membungkuk begitupula dengan Ryuzha. "Kami akan melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan anda."
"Itu benar."
Sehun mengangguk, mempercayai kalimat dua wanita itu.
"Sehun, kau bersama siapa?"
Perhatian ketiganya teralih pada sosok Luhan yang muncul dengan tatapan bingung terarah kepada Ryuzha juga Ji Ae. Memang Sehun tengah bersama Luhan yang kebetulan sedang ke toilet umun yang terletak tak jauh dari kedai kopi yang Ryuzha dan Ji Ae datangi. Sehun yang menunggu di luar tanpa sengaja melihat dua sosok wanita yang terasa tidak asing untuknya sehingga Sehun mendekat untuk memastikan dan ternyata apa yang menjadi dugaannya tidaklah salah. "Ini Ryuzha dan Ji Ae, mereka akan bekerja di restoranku dan kenalkan dia Luhan, calon istriku." Sehun saling mengenalkan ketiga wanita itu.
Luhan menjabat tangan Ryuzha juga Ji Ae yang hanya terdiam. Mereka sedang mengagumi kecantikan alami dari Luhan dan juga tengah terperangah pada senyum penuh keramahan Luhan. "Dia yang bernama Luhan." Ryuzha berbisik dan Ji Ae mengangguk sebagai reaksi. "Pantas tuan Sehun tidak mau menyentuh kita. Sejengkal kecantikan Luhan pun tidak kita miliki."
Mendengar itu di telinganya Ji Ae pun menyikut perut Ryuzha. "Maaf, kami harus pergi. Terima kasih atas bantuan anda tuan dan senang bisa bertemu anda nona Luhan." Cepat-cepat Ji Ae menyeret Ryuzha yang membungkuk dengan kesusahan. Dia hanya tidak mau jika Ryuzha mengeluarkan komentar tidak pentingnya di depan Luhan.
"Ya ampun pendek, kau ini kenapa si? Datang bulan ya?" Langkah keduanya terhenti saat sudah cukup jauh dari Sehun maupun Luhan.
"Aku hanya menyelamatkan kita dari situasi buruk Ryuzha. Kau ini, bisa tidak jika tidak berkomentar tentang Luhan? Bukan Luhan yang seharusnya dikomentari tapi kau."
"Wanita cantik selalu menarik untuk diberi komentar."
"Itu artinya kita tidak cukup cantik untuk dikomentari, begitu?"
Ryuzha tertawa sembari menganggukkan kepala setuju. "Seujung kuku kecantikan Luhan bahkan tidak kita miliki."
"Menyedihkan."
Mereka menyambung langkah, masih membahas seberapa jauhnya kecantikan Luhan jika dibandingkan dengan mereka sembari tertawa lepas karena tidak bisa dipungkiri jika bayang-bayang akan mendapatkan pekerjaan membuat mood mereka menjadi super baik hari ini.
.
.
Luhan yang baru kembali ke perusahaan, setelah mengunjungi Hyemin, membawa garis senyuman manis yang tak memudar di sepanjang langkah. Chanyeol yang mengikuti dua langkah di belakangnyapun ikut merasa senang karena Hyemin tidak lagi memperlakukan Luhan dengan buruk, wanita itu bahkan menyambut Luhan penuh keramahan.
"Apa yang nona rasakan setelah berhasil berdamai dengan yang tersulit?" Chanyeol bertanya setelah mereka sampai ke dalam ruangan Luhan.
"Lega, Yeol. Tentu saja.. tapi aku pikir ini tidak akan terjadi tanpa bantuan Eunbin."
"Menantu nyonya Hyenim?"
"Ya, dia." Luhan tersenyum, menyandarkan setengah tubuhnya pada sisi meja kerjanya. "Aku rasa dia yang sudah membujuk Hyenim sampai dia mau memaafkanku."
"Tapi anda pun sudah bekerja keras."
"Aku hanya melakukan yang semestinya, Yeol."
Chanyeol mengangguk, membenarkan ucapan Luhan. Mata bulatnya yang terbuka lebar terus memperhatikan Luhan, mengikuti gerak tubuh Luhan yang sedang memeriksa satu dokumen di tangannya.
"Pemutusan kontrak sudah selesai?"
"Tuan Sehun menyelesaikannya dengan cepat."
Dokumen itu Luhan letakan kembali ke atas meja. "Baik, kalau begitu kita juga harus menyelesaikan ini dengan cepat." Tubuhnya ia tegakan, berniat keluar dari ruangannya, namun baru tiga langkah dia ambil Luhan merasakan jika kepalanya tiba-tiba terasa pening.
"Nona, anda tidak apa-apa?" Chanyeol bergerak cepat untuk memegangi Luhan saat melihat langkah Luhan terhuyung ke belakang. Dengan hati-hati Chanyeol membantu Luhan dan mendudukkan Luhan di sofa agar Luhan merasa lebih nyaman. "Wajah anda terlihat pucat nona." Rasa khawatir menyinggapi Chanyeol saat dia tersadar jika bibir Luhan mengering di balik polesan lipstick berwarna merah muda itu, dan jika ditilik dari dekatpun wajah Luhan tidak sesegar biasanya. "Apa anda sakit?"
"Tidak." Luhan menggeleng walau kenyataannya kondisinya memang sedang tidak setabil. Sejak dua hari lalu dia sering didera pusing secara tiba-tiba, tapi itu akan kembali teredam setelah beberapa menit dan Luhan hanya berpikir jika dia sedang mengalami Anemia. "Aku hanya butuh berbaring lima belas menit. Tunda rapatnya dan minta mereka semua menungguku."
Satu bantal sofa Chanyeol letakan di ujung kanan untuk Luhan membaringkan kepalanya. "Apa tidak sebaiknya jika rapatnya dibatalkan. Kau butuh istirahat nona."
"Tidak, Yeol. Pemilihan pemegang Mall harus cepat diputuskan. Mall itu tidak bisa berdiri lama tanpa pengarah."
Chanyeol benci ketidakberdayaannya dalam menghadapi Luhan. Dia hanya bersetatus sebagai asisten, tidak lebih, tidak memiliki wewenang agar Luhan mendengarkan ucapannya, dan saat seperti ini Chanyeol akan merutuk posisi rendahnya karena seberapapun dia mengkhawatirkan Luhan dia tidak akan bisa melakukan apapun untuk membantah keputusan Luhan. Rapat nanti akan berlangsung cukup panjang, minimal tiga jam lebih dan dia hanya bisa berharap, Luhan akan baik-baik saja sampai waktunya pulang nanti sore.
.
.
Sehun duduk dengan kaki menyilang penuh keseriusan yang terarah pada salah satu chef dari sepuluh chef yang tengah mempresentasikan menu ciptaan mereka yang nantinya akan Sehun pilih untuk dimasukan ke daftar menu restoran. Tentu Sehun memiliki kriteria sendiri, selain dari segi rasa, cara penyajianpun menjadi penilaian penting bagi Sehun, karena konsep restoran yang diambil adalah elegan dan berkelas, seperti Luhan.
"Baik, akan aku putuskan besok."
Sepuluh koki itu membungkuk kepada Sehun sebelum mereka saling bergantian keluar dari ruangan yang memang ada di dalam restoran sebagai tempat Sehun untuk bekerja. Restoran pilihan Sehun memiliki dua lantai. Dimana di lantai dua para pengunjung bisa menikmati suasana makan outdoor di atas atap yang sudah di-desain semenakjubkan mungkin. Hanya tinggal menyelesaikan beberapa dekor sebelum restoran ini benar-benar bisa beroperasi.
Jarum jam di tangannya sudah menunjukan pukul tujuh malam. Sehun beranjak dari kursi untuk pulang ke apartemen namun getaran ponselnya mengganggu langkah Sehun, sehingga Sehun berhenti di ambang pintu untuk melihat telpon yang dia dapat. "Chanyeol?" Keningnya berkerut bingung, dia pun merasa sedikit gelisah. Chanyeol tidak pernah menghubunginya jika tidak ada hal yang penting. Apa terjadi sesuatu pada Luhan? "Hallo."
"Bisakah kau menasehati nona Luhan?"
"Apa maksudmu?"
"Siang tadi dia mengeluh pusing. Aku memintanya untuk pulang tapi dia menolak dan tetap menghadiri rapat. Sekarang nona Luhan pingsan dan kami sedang membawanya pulang."
Seperti dugaannya! Dengan cepat Sehun mematikan sambungan telponnya dan segera berlari menuju mobilnya untuk bisa menemui Luhan.
.
.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia menolak untuk dipanggilkan dokter." Chanyeol menjawab pertanyaan Sehun dengan singkat saat pria itu baru memasuki kediaman Luhan.
Tanpa banyak berbasa-basi Sehun meninggalkan Chanyeol, menuju lantai dua. Dia sangat ingin melihat bagaimana kondisi Luhan. Pegangan pintu berwarna Gold itu Sehun tarik dengan tergesa dan saat semuanya terbuka yang dia lihat adalah Luhan, tengah duduk di tepian ranjang dengan tapak kaki terendam di sebuah wadah. Ada kepulan uap di sana, menandakan jika Luhan sedang menghangatkan diri.
Luhan mengangkat kepalanya begitu mengetahui kehadiran Sehun. Bibir pucatnya yang kering tersenyum kecil, menyambut raut kekhawatiran Sehun. "Sena, keringkan kakiku."
Sang maid yang berdiri di samping Luhan mengangguk. Dia mengambil selembar handuk putih, bersiap melakukan apa yang Luhan perintahkan.
"Biar aku saja."
Namun handuk itu beralih tangan menjadi berada di genggaman Sehun. Sena hanya bisa diam lalu keluar dari kamar Luhan setelah mendapat perintah dari sang nona.
"Apa yang terjadi?" Sehun berlutut di depan Luhan, menaruh kaki kanan Luhan di atas pahanya dan melap sisa air hangat yang membasahi kulit putih Luhan.
"Aku tidak tau. Aku keluar dari ruang rapat dan semuanya berubah menjadi gelap." Sangat tenang nada suara Luhan ketika menjawab, seperti dia tidak memusingkan apapun yang terjadi pada kondisi tubuhnya.
"Seharusnya kau mendengarkan apa yang Chanyeol ucapkan."
"Aku tidak bisa. Secepatnya aku harus menemukan pemegang Mall yang baru."
Kaki kanan Luhan yang sudah mengering Sehun letakan, berpijak pada lantai, lalu berganti melap kaki kiri Luhan. "Apa kau akan melakukan apa yang aku katakan?"
"Apa?"
Sehun mendongak, membuat mata mereka saling bertaut. "Periksakan dirimu ke dokter."
"Ya, aku akan melakukannya, tapi setelah aku tidak bisa mengatasinya. Untuk sekarang aku masih bisa menangani kondisiku."
"Luhan."
"Sehun." Suara tawa mengalun dari bibir Luhan. Dia tau Sehun akan mengeluarkan nasehatnya dan Luhan pun cepat-cepat menarik kakinya dari tangan Sehun, kemudian membaringkan diri di ranjang.
Melihat itu Sehun menghela napas lalu berdiri dan mengamati Luhan yang hanya tersenyum lebar. "Buatlah jadwal untuk bertemu dokter atau kau akan aku seret ke rumah sakit."
"Kau tau aku tidak suka rumah sakit. Sudahlah, sebaiknya kau berbaring di sini, di sampingku." Sisi kosong lain di ranjangnya Luhan tepuk. "Memelukmu akan membuatku menjadi lebih baik."
Sehun terdiam sejenak, mengamati Luhan yang menatap penuh permintaan kepada dirinya. Dan siapa yang dapat mengelak dari mata rusa yang terpancar layaknya anak berusia lima tahun tengah memohon, meminta untuk diberikan permen. Dia mengalah karena itu. Sehun menuruti apa yang Luhan mau dan menelan segala nasehat yang sudah siap dia keluarkan. Kali ini Sehun akan membiarkannya tapi jika satu kali lagi Luhan pingsan dia tidak akan membuat perhitungan pada apapun yang wanita ini minta.
Luhan bergeser, merapat kepada Sehun yang menyambutnya dengan pelukan. Hidung kecilnya kini bersemayam pada ceruk leher Sehun dan Luhan tidak membiarkan wangi tubuh Sehun terlewat dari penciumannya. Entah kapan dia akan merasa bosan pada aroma parfum yang berbaur dengan wangi alami Sehun. Bahkan jika mungkin bisa menghirupnya setiap menit Luhan tidak akan pernah merasa puas.
"Apa yang kau rasakan sekarang?"
"Merindukanmu."
Mendengar jawaban Luhan membuat Sehun mendecih. Itu bukan seperti apa yang dia maksud. "Kondisimu, Lu."
"Aku baik." Luhan sedikit mendongak dan dengan sengaja dia mencium dagu runcing Sehun. "Sehun.." Bergumam pelan di sana tanpa menjauhkan jarak bibirnya.
"Hemm.."
"Cium aku."
Sehun sedikit bergeser agar bisa melihat wajah Luhan dan apa yang menyita perhatiannya adalah tatapan Luhan. Tatapan yang mampu mengikatnya hingga tidak bisa berkutik untuk menghindar ketika bibir pucat itu mulai mendekat. Tak terelak bibir mereka menyatu sempurna dengan lumatan kecil yang dimulai oleh Luhan. Tangan halus itu bahkan mengelus pipi Sehun, seolah menuntun Sehun untuk membalas ciumannya. Dan tak pernah sia-sia dengan apa yang Luhan lakukan karena Sehun akan selalu takluk pada buaian bibir manis Luhan. Dia membalas ciuman itu namun masih menjaga pertahanannya agar tidak terlalu bertindak jauh. Sehun masih ingat akan kondisi Luhan tapi sepertinya itu tidak terjadi kepada Luhan yang sudah membuka tiga kancing kemeja yang dikenakan Sehun.
Jemari lentik dengan kuku berhiasan art itu memilin nipple milik Sehun dan sesekali mengelus kulit dada bidang Sehun. Untuk sesaat Sehun hanya membiarkannya dan masih terfokus pada tautan bibir mereka, namun saat merasakan telapak tangan Luhan yang mulai turun menuju perutnya, Sehun segera menjauh dan menahan gerak tangan Luhan agar terhenti.
Kedua bola mata mereka saling menatap dengan bibir basah penuh saliva. Rasa kecewa tidak bisa tersembunyikan dari pandangan Luhan dan Sehun hanya bisa menghela napas lalu kembali memeluk Luhan. "Tidurlah."
"Kau tidak menginginkanku?"
"Aku tidak pernah tidak menginginkanmu, tapi aku tidak akan menyentuhmu jika kau dalam keadaan seperti ini." Sehalus mungkin Sehun menjawab agar Luhan tidak merasa telah ditolak. "Istirahatlah dulu dan kau bisa mendapatkanku lain kali."
Luhan mendecak geli dan Sehun pun terkekeh kecil. Keduanya saling merapatkan diri dan Luhan mulai menutup mata dia tengah hangat peluk dari kekasihnya.
.
.
"Tuan."
Sehun menatap bingung kepada Dongshil yang muncul di depannya saat dia sedang berada di Toko property-nya yang dulu. Setatusnya di Mall ini sudah bukan lagi sebagai pemegang dan Sehun hanya sedang mencek toko-nya yang selama ini diurus orang kepercayaan Harry. "Ada apa kau ke sini?"
"Aku tau anda bukan lagi atasan saya tapi masih ada tugas yang harus saya laporkan kepada anda."
"Tugas?" Sehun mengulang dengan bingung. Seingatnya dia sudah mengurus semuanya sampai kelar dan tidak ada tugas apapun yang dia tinggalkan kepada Dongshil. "Apa?"
"Ini tentang tuan Wu Yifan."
Ah.. terkecuali satu hal ini. Sehun melupakannya jika dia sempat meminta Dongshil untuk mencari tau keberadaan Yifan.
"Selama ini dia berada di Paris dan dia beru kembali ke Korea semalam. Itu laporan yang saya dapatkan." Dongshil menjelaskan apa yang harus dia sampaikan. "Saya permisi tuan." Membungkuk singkat lalu berbalik untuk pergi.
"Tunggu." Sehun mencegat langkah Dongshil. "Kau selalu melakukan semuanya dengan baik. Apa kau mau bekerja sama denganku?"
"Hah?" Dongshil ternganga dengan tidak mengerti namun Sehun hanya tersenyum penuh minat kepada dirinya.
Tentu bukan dalam tanda kutip. Sehun hanya merasa tertarik untuk merekrut Dongshil sebagai asistennya. Seperti Chanyeol mungkin. Dia hanya sudah terlalu merasa nyaman pada kegesitan Dongshil.
.
.
Pintu di depannya Sehun cermati dalam diam. Sekarang dia berada di apartemen yang Dongshil sebutkan adalah kamar Yifan. Seandainya tidak mengingat jika dia sudah berjanji kepada Luhan untuk menemui Yifan mungkin lebih baik Sehun menghabiskan separuh waktunya untuk mengurus restoran, tapi memang situasi tegang seperti ini tidak boleh berlarut-larut, bagaimanapun dia harus berbicara dengan Yifan, terlebih Luhan pun sangat mengkhawatirkan kondisi pria ini.
Bel yang terletak di samping pintu Sehun tekan beberapa kali, sampai terdengar suara dari Inter-com yang berada di bawah bel itu, menanyakan 'siapakah yang ada di luar. "Bisa kita berbicara?" Tau jika suara itu adalah milik Yifan, Sehun menyahut setenang mungkin. Dia tidak datang untuk sebuah kekacauan dan semoga Yifan pun tidak akan menghadiahi pukulan ketika membuka pintu.
Tapi selang setelah itupun pintu tidak kunjung terbuka untuknya. Yah, Sehun sudah menduga kalau Yifan tidak akan memiliki minat untuk bertemu dengan dirinya. Mungkin ini akan menjadi sia-sia. Sehun berbalik, bersiap pergi. Beberapa langkah dia pijak namun bunyi khas dari pintu yang terbuka menyapa telinganya, membuat Sehun kembali berbalik ke belakang dan menemukan Yifan yang berdiri di ambang pintu.
Keduanya saling menatap. Masih ada sorot tajam dari mata Yifan tapi Sehun cukup merasa lega karena Yifan tidak melayangkan tinju seperti yang dibayangkannya. Pria itu justru masuk ke dalam tanpa menutup pintu, seolah mengizinkan Sehun untuk masuk walau tidak mengucapkannya.
.
.
Satu kaleng beer dingin Yifan ambil dari dalam kulkas dan menyerahkannya kepada Sehun yang sudah duduk di sofa ruang tengah. Itu hanya sebagai bentuk kesopanan karena sejujurnya Yifan tidak merasa tertarik dengan alasan apapun yang membawa Sehun datang ke apartemennya.
Sedikit canggung Sehun rasakan karena Yifan tidak mengatakan kalimat apapun. Pria itu bahkan berdiri menghadap jendela, membelakangi dirinya seperti dia tidak berada di sana. Satu tarikan napas Sehun keluarkan. Kaleng beer itu ia letakan di meja lalu menghampiri Yifan, ikut menatap pada gambaran Seoul dari atas sana. "Dua pria terjebak pada suasana seperti ini membuatku merasa aneh." Kalimat itu keluar, mengisi kesenyapan apartemen Yifan. "Aku datang untuk berbicara denganmu."
Tapi sepertinya Yifan masih betah untuk bertahan dalam diam.
"Luhan. Dia mengkhawatirkanmu dan ingin bertemu denganmu. Aku pikir kau tidak akan sepengecut itu untuk menutupi keberadaanmu dari Luhan." Sehun melanjutkan, namun masih tak ada jawaban yang dia dengar. "Kau mencintai Luhan, begitupun aku yang juga mencintainya. Tapi dia tidak bisa memilih satu diantara kita berdua untuk dijauhi. Dia sama menyayangimu dan aku hanya meminta padamu untuk tidak membuatnya khawatir."
Decihan kecil adalah apa yang keluar dari bibir Yifan sebagai tanggapan untuk semua perkataan Sehun. Semua itu terdengar lucu dan menjijikan secara bersamaan. Apa Sehun sedang memamerkan rasa simpati kepadanya? Ah, seharusnya Sehun mengetahui semuanya dan menelan simpati itu untuk dirinya sendiri. "Jika Luhan bisa memilih, seharusnya dia memilihmu untuk dijauhi."
"Aku datang bukan untuk kembali berkelahi denganmu, Yifan." Sehun menahan emosi sesuai janjinya kepada Luhan. Dia tidak akan terpancing pada semua ucapan Yifan. "Aku datang kemari untuk meminta maaf. Aku mengakui jika mungkin kehadiranku membuat hubungan kalian merenggang, tapi aku tidak mungkin melepaskan Luhan untukmu."
Sehun mengucapkannya penuh dengan kesungguhan, namun Yifan justru terkekeh dan menatap lucu kepada Sehun, seperti Sehun kini tengah bertingkah konyol. "Itu karena kau tidak mengehatui kenyataannya. Seharusnya kau melangkah mundur dengan hati-hati." Tersenyum miring Yifan menarik laci di meja kecil yang berada di sampingnya lalu menyerahkan sebuah amplop kusam kepada Sehun yang menyeringit bingung. "Luhan membuang surat dari mendiang ayahnya, tapi aku mengambilnya dan menyimpan surat itu."
"Untuk apa kau memberikannya kepadaku?" Bukan tidak ingin menerimanya hanya saja Sehun tidak mengerti dengan tindakan Yifan.
"Agar kau tau seberapa berartinya seorang ayah bagi Luhan."
"Aku mengetahuinya dan kau tidak perlu berbasa-basi tentang itu."
"Tapi kenyataannya kau tidak mengetahui apapun." Ada ketajaman dalam nada suara Yifan, seperti ingin mengintimidasi Sehun. "Kau tidak tau kapan dan kenapa ayah Luhan meninggal."
"Aku bilang jangan berbasa-basi Wu Yifan!" Sehun terlalu kesal pada Yifan yang berbelit-beli. Tangannya bahkan mengepal, meremas amplop kusam itu menjadi sebuah gumpalan.
Melihat Sehun yang tengah menahan emosi membuat Yifan tersenyum puas. Pria ini harus mengetahui semuanya dan menjilat kembali cintanya kepada Luhan. "Malam setelah kau membawanya ke rumahmu. Seharusnya kau mengejarnya dan tidak terjebak pada wanita bernama Tiffany. Setidaknya itu adalah apa yang seharusnya kau lakukan untuk menyelamatkan kehidupan Luhan."
"Kau mengetahui hal itu?" Sehun sedikit terperangah pada ucapan Yifan. Dia tidak menduga jika Yifan tau sejauh itu.
"Tidak ada yang Luhan tutupi dariku. Dia menceritakan semua yang kau lakukan kepadanya dan seharusnya itu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu merasa malu muncul di depan Luhan, tapi kau seperti tidak memiliki rasa malu untuk dirimu sendiri." Sekilas Yifan menunjukan tatapan bencinya kepada Sehun namun dia kembali berpaling ke depan karena mungkin dia bisa saja membunuh Sehun saat ini. "Setelah kau melukainya dengan bercumbu bersama wanita itu, dia kembali ke apartemen dan menemukan Ken di sana yang ingin kembali memperkosanya, seandainya dia tidak berhasil meloloskan diri. Wanita yang kau permainkan itu menangisi apa yang sudah kau dan Ken lakukan kepadanya, dan di tengah-tengah keputusasaannya Luhan justru harus menerima kenyataan pahit lainnya, kalau ayahnya meninggal, tertabrak mobil saat dia sedang memohon untuk diizinkan kembali ke Korea. Semuanya terjadi secara beruntun dan bersamaan. Luhan pun mengetahui persekongkolan bejatmu dengan Ken malam itu, dan semua luka itu yang membuat kepribadiannya berubah. Dia cendrung menyalahkan dirinya sendiri tapi semua itu berawal darimu, kan?"
Sangat terlihat jika Yifan menyalahkan Sehun atas semua kejadian itu, dan kini seperti ada tali kasat mata yang mulai terasa mengikat tenggorokannya sampai membuat Sehun merasa sulit untuk bernapas. Semua yang Yifan ucapkan seperti berhasil merenggut habis suaranya, menjadikannya bisu dan hanya mampu terdiam dengan mata memerah yang dilinangi genangan tipis. Dia tidak ingin mempercayai apa yang Yifan katakan, tapi dia jelas masih mengingat jika Luhan kembali ke Korea tepat keesokan harinya, dan tak lama setelahnya, terdengar kabar jika ayah Luhan meninggal dunia. Jadi, apakah memang kalau dia adalah penyebab dari seluruh kesedihan Luhan? Tidak hanya dalam hubungan penuh kepalsuan mereka dulu, tapi dia juga telah membuat ayah Luhan meninggal dunia.
"Seperti apa yang aku katakan. Seharusnya kau melangkah mundur dengan hati-hati, dan belum terlambat untuk mulai mengambil satu langkahmu sekarang." Yifan menepuk bahu Sehun dua kali dengan senyuman tipis. Dia sangat ingin menertawakan wajah keputusasaan pria di depannya. "Dari seluruh pria yang ada di dunia ini kau adalah satu-satunya pria yang tidak akan pernah pantas untuk memiliki Luhan."
Satu tetes air mata tumpah, membasahi pipi kanan Sehun. Jari-jari kokoh yang biasa menggambarkan seberapa kuatnya dia kini bergetar, seolah memberitahu kerapuhan jiwanya sekarang. Menerima kenyataan seperti ini cukup membuat hatinya terguncang, Sehun bahkan merasa ingin memukul habis dirinya sendiri. Namun dibalik itu semua dia masih menyadari jika dia memiliki cinta untuk Luhan dan sebuah tekad untuk membahagiakan Luhan. Ini hanya persoalan waktu untuknya bisa menerima, jika dia adalah pemantik api penderitaan bagi Luhan, dan Sehun yakin dia akan bisa melewatinya karena lebih tidak mungkin baginya untuk hidup tanpa Luhan. "Apa yang kau beritahukan tidak membuatku ingin melangkah mundur." Karena itu, seulas senyum samar Sehun tunjukan, menutupi kesedihan penuh penyesalannya. "Itu justru membuatku semakin mencintai Luhan dan ingin terus bersamanya. Bukan karena sebuah rasa bersalah, penyesalan ataupun tebusan dosaku kepadanya, tapi karena aku memang mencintainya, ingin membahagiakannya dan menjaganya. Mungkin yang kau katakan benar, jika aku tidak pantas memiliki Luhan, tapi kau melupakan jika aku adalah pria yang dicintainya." Dengan sisa tenaga yang dimilikinya Sehun berjalan untuk keluar dari apartemen Yifan.
Meninggalkan Yifan yang tersenyum getir pada kekalahan kesekiannya dari Sehun. Benar, yang Sehun katakan benar. Seberapa dia mencoba, melakukan segala cara untuk menjadikan Luhan sebagai miliknya kenyataannya wanita itu hanya mencintai Sehun dan tetap selamanya akan seperti itu. Tangannya tidak akan mampu menjangkau Luhan dan hanya akan mendapat bau amis darah kalaupun dia membunuh Sehun. Di sini bukan Sehun yang harus mengambil langkah mundur dengan hati-hati, melainkan dirinya yang harus mundur dengan langkah hati-hati atau bahkan diam-diam.
.
.
Hai anak ayah..
Ayah tidak tau kapan kau akan membaca surat ini, tapi ayah harap tidak dalam waktu cepat. Ayah masih ingin melihatmu tumbuh menjadi putri cantik yang anggun, mandiri dan bertanggung jawab. Tapi seandainya ayah tidak bisa mencapai saat itu, kau tetap harus menjalani hidupmu dengan kuat. Jika ayah meninggal bukan berarti kau tidak memiliki siapapun, kau masih memiliki dirimu sendiri yang harus kau jaga, dan ada pria bernama Wu Yifan yang akan menemanimu. Dia adalah seseorang kepercayaan ayah, kau bisa belajar banyak dengannya untuk mengembangkan perusahaan. Buat ayahmu ini bangga seperti apa yang kau janjikan. Walau ayah tidak berada di sampingmu untuk menyaksikan itu semua tapi ayah hidup di hatimu untuk merasakan itu semua. Ayah sangat menyayangimu, Luhan. Hiduplah dengan baik dan bahagia..
Selembar surat berisikan tulisan tangan dari mendiang ayah Luhan, Sehun genggam erat penuh rasa kesedihan. Dia duduk tak berdaya, menyandar pada kaki ranjang sembari menyesali dosanya yang lain. Walau mungkin Luhan sudah memaafkan semua ini, tapi tetap rasa bersalah seakan mengganjal hatinya dan menyiksa dirinya. Dia tidak hanya melukai Luhan tapi juga menyebabkan wanita itu kehilangan ayahnya.. Seandainya dia mengejar Luhan saat malam itu mungkin semuanya tidak akan menjadi seburuk ini bagi Luhan. Sekarang Sehun tidak tau bagaimana caranya dia bisa menatap Luhan nanti.
.
.
Tidak terlalu pagi saat mata merah Sehun terbuka dari tidurnya yang tidaklah cukup nyenyak. Rasa sesak di hati bahkan masih tertinggal walau hari sudah berganti tanggal. Dirinya terlihat lesu, seperti tidak memiliki gairah untuk mengerjakan apapun hari ini, tapi Sehun masih ingat dengan semua kewajibannya di restoran yang tidak bisa ditinggal, terlebih hari ini adalah hari pertama restorannya akan dibuka.
"Sehun, kenapa aku susah sekali menemuimu?"
"Apa jarimu terpotong? Aku menunggu kau membalas pesanku."
"Ponselmu kenapa tidak aktif?"
"Kekasihku tidak sedang ditelan monsterkan?"
"Aku membencimu."
"Kau mengganti password pintu apartemen?"
Itu adalah sederet Voice note yang Sehun dapat dari Luhan ketika menghidupkan ponselnya yang sudah enam hari ini tidak tersentuh. Sangat tergambar dari nada suaranya jika wanita itu merasa kebingungan, kesal atau bahkan mungkin mengutuk dirinya yang memang enam hari ini menghilangkan diri dari hadapan Luhan. Berbagai pesan singkat yang menyusul masukpun hanya Sehun baca, karena dia seperti tidak memiliki keberanian untuk menulis sesuatu sebagai balasan untuk semua pertanyaan Luhan.
Tidak.. dia sedang tidak menghindari Luhan, Sehun hanya sedang menyesuaikan dirinya dengan semua hal yang sudah diketahuinya. Dan untuk saat ini dia tidak ingin bertemu Luhan terlebih dulu, setidaknya sampai dia siap untuk kembali bertatap mata dengan wanita itu.
.
.
Memakai apron putih yang terikat di pinggangnya membuat Sehun terlihat bagai seorang koki professional. Wajah tampannya yang begitu menawan semakin berkarisma saat dia tengah berkutat serius dengan alat-alat masak dan berbagai bumbu yang tertata rapi di sebuah rak besi. Suara keributan yang dihasilkan oleh peralatan dabur itu menggambarkan betapa sibuknya orang-orang berseragam hitam dengan topi tinggi di sana. Walaupun ini adalah hari pertama tapi pengunjung restoran Sehun tidak bisa dikatakan sedikit karena dia sudah melakukan promosi secara aktif melalui media sosial dan itu cukup banyak memikat orang untuk berdatangan. Dan sebagai pemilik Sehun ingin memastikan jika semuanya sesuai seperti yang diharapkan, hingga dia rela terjun secara langsung, berbaur dengan para koki.
"Tuan Sehun." Pintu yang menghubungkan dapur dengan tempat penyajian terbuka karena kemunculan Ji Ae. Sehun menoleh kepadanya dengan tatapan penuh tanya. "Nona Luhan datang dan berada di depan sekarang." Dan seperti mengerti Ji Ae pun memberitahukan alasan kedatangannya ke sana.
Beberapa detik Sehun terdiam lalu mengangguk sebagai jawaban.
.
.
Kedatangannya bersama Chanyeol kemari karena ingin memberi selamat tapi lebih dari itu Luhan ingin menemui Sehun yang sudah beberapa hari ini tidak dia jumpai. Ada rasa rindu yang menyelinap di hatinya setiap malam hingga Luhan memutuskan ke sini karena saat dia mengunjungi apartemen Sehun, dia tetap tidak bisa menemui pria itu. Sebenarnya ada perasaan aneh yang menyelimuti Luhan tentang Sehun yang tidak seperti biasanya, tapi dia tidak ingin berburuk sangka dan mencoba mengisi itu dengan kemungkinan lainnya.
"Selamat siang tuan Sehun."
Suara Chanyeol membuat Luhan tersadar akan keberadaan Sehun. Dia dengan cepat berdiri dari kursi yang didudukinya dan akhirnya dia bisa menemui pria yang dirindukannya. Walau ada kekesalan yang ingin dia lampiaskan kepada Sehun tapi Luhan tidak bisa menghalau rasa rindunya yang besar, hingga tanpa perhitungan apapun dia memeluk tubuh tegap Sehun dan menumpahkan semuanya di sana. "Apa yang salah denganmu, Sehun?"
Butuh beberapa waktu untuk Sehun meredam seluruh perasaannya yang bercampur ketika mendengar nada sedih dari ucapan Luhan. Dia pun sangat, amat merindukan dan ingin menemui Luhan. Itu adalah kejujuran dari perasaannya tapi dia seperti tidak mampu melakukan apapun untuk menjumpai Luhan. "Tidak ada. Aku hanya terlalu sibuk untuk mengurus restoran."
"Tapi kau tidak biasa seperti ini. Kau selalu meluangkan waktu untukku walau sedikit, tapi sekarang ponselmu bahkan tidak bisa dihubungi."
"Ponselku terjatuh dan rusak." Suaranya mulai tercekat untuk mengluarkan semua kebohongan sebagai alasan.
"Aku merindukanmu."
Pelukan itu semakin terasa mengerat, seperti semakin menjerat dirinya agar tidak terlepas. Sehun tidak tau apa yang harus dia lakukan, semakin dekat Luhan dengannya itu membuatnya semakin merasa sesak. Tatapan Sehun berubah nanar, tangannya terangkat untuk balas memeluk Luhan, memeluk wanita yang dilukainya berkali-kali, namun menyadari hal itu membuat Sehun urung melakukannya dan tangannya hanya kembali berada di sisi tubuhnya dengan jari yang terkepal erat.
Luhan mungkin tidak menyadari keanehan dari Sehun saat ini karena dia hanya terus menenggelamkan diri di dalam pelukan Sehun, tapi tidak dengan Chanyeol. Dia melihat tatapan penuh gurat kesedihan Sehun, dia melihat kepalan tangan Sehun yang begetar kecil seperti menahan sebuah gejolak emosi kesedihan. Dia melihat semua itu dan Chanyeol mengerti jika ada yang terjadi kepada Sehun.
.
.
Ditemani Sehun, Luhan menyantap makan siangnya di restoran milik Sehun. Dengan senang suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Luhan walau Sehun yang duduk di sebelahnya terlihat tidak memiliki minat sama sekali dengan makanan yang terhidang di atas meja.
"Kau terlihat bisa kembali makan dengan baik nona." Chanyeol yang duduk di kursi lain, tepat berhadapan dengan Luhan membuka suara diiringi senyuman lebar. "Aku senang kau tidak lagi memuntahkan makananmu."
Mendengar itu gerak tangan Sehun yang tengah memegang garpunya terhenti. Dia menatap Chanyeol penuh dengan ketidak tahuan. Apa ada yang terjadi pada Luhan saat dia tidak menghubungi wanita itu? "Apa maksudmu, Yeol? Apa ada yang terjadi."
"Tidak ada. Aku baik." Luhan menyela, tidak mengizinkan Chanyeol mengatakan apapun. "Aku hanya kehilangan napsu makanku karena merindukanmu tapi aku sudah mendapatkannya kembali setelah melihatmu."
Penjelasan Luhan tidak Sehun tanggapi sama sekali karena dia tau itu bukan jawaban yang sesungguhnya. Dia hanya terus memandang Chanyeol yang kini juga balik menatap dirinya.
"Jika Baekhyun sakit aku akan berada di sampingnya." Sedikit sindiran Chanyeol layangkan. Entah kenapa sikap Sehun yang menghilang membuat Chanyeol berang, terlebih saat melihat sikap Sehun beberapa menit lalu membuatnya semakin berburuk sangka pada sebuah hal. "Akhir-akhir ini nona Luhan tidak dalam kondisi baik. Dia sering mengalami pusing, muntah dan sakit pada perutnya. Tentu kau tidak tau tentang hal ini karena kau sama sekali tidak menghubunginya." Sehun tidak tau seberapa Luhan terus memikirkan pria itu setiap menit di tengah-tengah kondisinya yang lemah, dan Chanyeol seakan ingin memukul wajah pria ini sekarang juga yang sudah dianggapnya tidak bertanggung jawab.
"Kau ini kenapa, Yeol? Tentu saja Sehun mengetahuinya. Dia hanya sedang sibuk dan-" Kalimat pembelaan Luhan untuk Sehun terputus saat pria itu berdiri dari duduknya. "Kau mau kemana, Sehun?" Dengan pandangan sedih Luhan menatap Sehun, meminta Sehun untuk tetap tinggal.
"Ada hal yang harus aku urus."
"Sehun."
"Luhan!" Chanyeol menarik tangan Luhan saat wanita itu akan mengejar Sehun yang pergi.
"Kau ini kenapa, Yeol?" Dengan tatapan sedih dan tidak mengerti Luhan menatap Chanyeol dan melepaskan tangannya dari genggaman pria tinggi itu. "Apa harus kau mengatakan itu semua? Aku bisa mengatakannya kepada Sehun, tapi kau membuatnya berpikir jika dia bukan pria yang baik untukku."
"Untuk apa kau melindung harga dirinya dengan membelanya? Dia memang bukan pria yang baik untukmu. Kau lihat? Dia pergi setelah aku mengatakan semuanya."
Tidak mau mendengarkan apapun lagi Luhan segera pergi, berjalan tergesa menuju arah kemana Sehun menghilang. Dia menutup telinga pada teriakan Chanyeol yang terus memanggil namanya.
.
.
Luhan menyusul Sehun masuk ke dalam ruangan pria itu setelah beberapa kali bertanya pada para pelayan. Dengan langkah perlahan Luhan mendekati Sehun yang kini berdiri membelakanginya. "Sehun." Suaranya begetar penuh ketakutan. Dia tidak pernah menginginkan hal buruk terjadi pada hubungan mereka. "Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu menghiraukan perkataan Chanyeol." Sedikit membujuk Luhan memberi sebuah pelukan. Tangannya melingkari perut Sehun dengan pipi berada di punggung tegap pria itu. "Jangan khawatirkan apapun. Aku mengerti jika kau sibuk dengan pekerjaanmu."
Sehun melepaskan tautan tangan Luhan diperutnya, dia berbalik menghadap Luhan dan kedua matanya menangkap jelas tatapan kesedihan di bola mata kecil milik wanitanya. Apa yang sudah kau lakukan lagi kali ini, Sehun? Kenapa kau kembali membuatnya merasa sedih. "Kenapa kau harus bertemu pria sepertiku, Luhan?" Terasa perih untuk mengatakan itu, tapi jika ada pilihan yang mungkin Tuhan tawarkan, Sehun ingin meminta agar pertemuan mereka tidak pernah terjadi. "Aku bukan pria baik untukmu."
"Kau pria terbaik untukku."
"Kau tidak memahami situasiku."
"Karena kau tidak mengatakan apapun kepadaku." Luhan mengelak seluruh perkataan Sehun. "Aku mohon jangan seperti ini, Sehun." Tangannya terangkat, mengelus pipi Sehun. Seberapapun Sehun mencoba menutupi semuanya tapi Luhan tau jika ada yang tengah mengganggu dirinya. "Kau adalah pria yang aku cintai dan itu sudah cukup membuatmu menjadi pria terbaik untukku. Aku hanya memilikimu sekarang, jangan lagi menghindariku seperti beberapa hari lalu."
Matanya yang terasa memanas terpejam ketika kata itu terucap. Ya, Luhan hanya memiliki dirinya dan bagaimana bisa dia menghilangkan diri dari pandangan wanita ini? Jangan bertindak bodoh yang bisa kembali membuat luka di hati Luhan hanya karena masa lalu. Kau harus berada di sampingnya karena dia membutuhkanmu. "Maafkan aku." Tangan yang masih berada di pipinya Sehun genggam dan dia cium.
Luhan tersenyum disela airmatanya yang juga menetes. Dia merasa lega karena apapun yang mengusik Sehun beberapa hari lalu tidak akan lagi membuat pria ini bersembunyi dari dirinya. Biar dia tanyakan tentang hal itu lain kali, karena saat ini Luhan hanya ingin mengeluarkan sisa kerinduannya kepada Sehun. "Aku mencintaimu dan membutuhkanmu."
Tidak mengelak ketika Luhan mendekatkan diri, Sehun justru meraih tengkuk Luhan dan lebih dulu menyatukan belah bibir mereka. Keduanya saling balas melumat dengan lembut, diiringi senyuman tipis yang terselip di sana. Dengan mata terbuka dan saling memandang mereka menumpahkan kerinduan, sebelum akhirnya terpejam untuk lebih dalam merasakan bibir yang masing-masing mereka inginkan.
Ciuman itu terasa semakin manis dan menyenangkan. Keduanya menikmati panyatuan kecil yang terjalin atas dasar cinta itu, namun segalanya berakhir ketika Luhan memundurkan langkahnya dengan raut wajah menahan kesakitan.
"Kau kenapa, Luhan?" Sehun berubah menjadi panik saat melihat Luhan merunduk sembari memegangi perutnya.
"Sehun.."
Dengan cepat dia merangkul Luhan saat wanita itu hampir terjatuh dari tumpuan kakinya.
"Perutku sakit."
"Chanyeol!" Tak terkendali, Sehun berteriak layaknya orang gila. Dia tidak tau apa yang menimpa Luhan tapi melihat Luhan yang benar-benar kesakitan mampu membuat jantungnya berdetak cepat karena khawatir. "Kita akan ke rumah sakit." Tubuh ringan Luhan, Sehun angkat dan dia segera keluar dari ruangannya.
.
.
Tidak membutuhkan waktu lama, hanya dua puluh menit untuk sampai ke rumah sakit, karena tempat restoran milik Sehun cukup setrategis untuk menjangkau lokasi-lokasi penting disekitarnya, dan Sehun amat mensyukuri hal itu. Luhan yang masih mengerang kekasihan segera di bawa ke ruang Emergency, dimana sudah ada perawat dan dokter yang bisa langsung menanganinya. Chanyeol yang memang bersama mereka tak kalah gelisah saat harus menunggu di luar bersama Sehun yang duduk di kursi tunggu.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepada Luhan?"
"Kau baru menanyakan itu? Kau kemana beberapa hari lalu? Dia sudah sering seperti itu tapi menolak untuk diperiksa karena selalu memikirkanmu."
Sehun terdiam saat Chanyeol lagi-lagi menyudutkan posisinya. "Aku tidak bisa berpikir, tapi aku memang bersalah." Namun Sehun tidak mengelak karena dia memang sudah melepas tanggung jawabnya kepada Luhan beberapa hari lalu. "Tidak akan aku ulangi kedua kalinya."
Chanyeol menghela napas, meredam kekesalannya kepada Sehun. "Aku tidak tau Luhan kenapa karena dia belum pernah diperiksa. Berdoalah ini bukan sesuatu yang buruk."
"Apa di sini ada keluarga dari nona Luhan?"
"Aku." Sehun segera berdiri saat seorang suster muncul dari ruangan Emergency.
"Kau bisa ikut denganku tuan. Dokter ingin bertemu anda."
Sehun mengangguk, menatap Chanyeol sekilas lalu mengikuti kemana suster itu akan membawanya.
.
.
"Aku Park Soora, dokter yang menangani nona Luhan."
Sehun membalas jabatan seorang dokter wanita yang masih terlihat muda dan cukup cantik, sebelum dia mendudukkan dirinya pada kursi kulit berbentuk setengah lingkaran di sebrang kursi lainnya yang Soora duduki. Penuh ketegangan Sehun menatap Soora, ini bahkan terasa mencekam sampai mempu membuat lidahnya kelu untuk sekedar bertanya. Tapi Sehun harap Soora mengerti dengan tatapannya yang menuntut penjelasan.
"Ada dua kabar untukmu tuan Sehun."
"Kau bisa mengatakannya sekarang."
Soora lebih dulu menghela napas, dia menatap Sehun dengan pandangan yang sulit diartikan. "Nona Luhan hamil, tapi dia memiliki kelainan rahim yang disebut Septate Uterus."
Selalu ada kabar buruk yang mengikuti kabar bahagia dan Sehun tidak tau harus bagaimana merespon dua kabar itu yang datang secara bersamaan. Dia bahagia, amat senang saat mendengar Luhan mengandung dan dia akan memiliki anak dari wanita itu, tapi disatu sisi lain dia tidak mampu menutupi kesedihan karena kondisi Luhan yang dia tau itu akan cukup menyulitkan kekasihnya.
.
.
.
.
.
To be continue..
Hallo.. aku up bawa chap 25 yang panjangnya sepanjang jalan kenangan ayah dan bunda jadi semoga mata kalian baik-baik aja setelah baca ini. Yang penasaran sama preview kemarin itu udah aku buka, jadi silakan pukul aku karena sebenarnya yang jahat di sini itu bukan mereka tapi aku hohoho Yifan juga udah aku munculin sesuai porsinya. Ini mendekati END, jadi tolong doain biar cepet-cepet bisa aku kelarin.
Buat NCnya tolong jangan protes ya, itu udah aku tulis semampunya. Kalo masih kurang HOT itu karena aku masih polos, garis bawahi MASIH POLOS jadi ga ahli nulis NC, buat ini juga dilarang protes hahaha
Kalian mungkin udah lupa ya, tapi surat yang dikasih Yifan ke Sehun itu surat yang sama ma yang dulu Luhan baca setelah ayah dia meninggal. Surat itu juga aku tulis sebagai 'Kertas kusam' kalo ga salah di chap pas Yifan mabuk tapi kalian ga pada ngeh lol
Lightflower22 : aku suka dikisseuu. Ni civok aja bibirku semaunya hahaha
Raiscreaa : Hahaha diblur, kaya tukang bakso yang pake borak ya
Baekbeelu : awas basah, jangan pipis baca chap ini.
Ohryuhhs : ya elah, ganti akun lg.. aku udah pendek jangan gitu, ga boleh.
Trisulistia : Aw makasih buat pujian ke Choi Ji Ae sama Ryuzhanya hahaha
DBSJYJ : Ga boleh souzon, papih ipan baik orangnya hahaha
Fukcyeahsekaiyeol : Ok, nanti aku cek.
Ohmazy : lagi ga butuh cameo, tar kapan2 ya. Di FF lain mungkin
Hunhancherry1220 : najong hahaha
Ink794 : Itu karena aku jodoh kali ma mas Sehun jadi kebetulannya pas banget. Aku kasih dia nama William di sini eh tau2 nongol Willis.
Hunhanslays : Najong kedondon..
Arifahohse : Percaya ga? Berkat reviewmu yang simple ini kamu dikenal dan diinget banyak author hahaha Next
BANGTANEEXO6104 : hoooo Aku biasa mangkal ma Nadya.
Ohfelu : Aku manjakan kalian lagi dengan NC diawal.
kimaSL : Ah, makasih ya
kimmuth : Nah itu.. penyakitku itu ga bisa bikin Happy ending.
Apalah arti sebuah nama : Hoohhh. Tu aku ketemuin ma Sehun juga Luhan.
Joon park : ga tau, yang lain pada malas review kali atau udah bosan jadi ga mau baca lol
Sanmay88 : Kamu pikun. Mereka yang penah Sehun kasih uang di London, yang tadinya mau diena ena ma Sehun tapi ga jadi.
Ziarll : masih lanjut tapi ini udah mencapai target chap. Doain selesai cepet ya
Anggrek hitam : Ga konflik ko
Maaf untuk segala kekurangan, Typo atau hal hal lainnya yang mungkin ada di FF ini. Berhubung FF ini sudah sangat mendekati END aku mau minta doanya supaya bisa selesai dengan cepat. Dan terima kasih untuk semua review kalian, dukungan, follow, juga favorit. Aku tunggu review untuk chapter terpanjang ini. Pokoknya makasih buat kalian semua^^
Sama mau ingetin, curi colongan. Vote EXO di semua ajang penghargaan, juga tolong VOTE My Husband yang nyebelinnya ga ketulungan 'Zhang Yixing' di SBSPOPASIA. Aku pengen dia bisa dapat award itu. semoga kalian mau bantu vote dia walau dia bukan bias kalian.
Cukup itu doang, kita ketemu di Next chap ya. Jump! Jump! Jump! Jump! We are HHS.
SAYANGI SELALU AYAH DAN BUNDA. SEE YOU, SARANGHAE..
