.
Warning : Rate T, contain incest, yandere chara, siscon/brocon, twisted/Chara death
Genre : Slice of life/psychology/Tragedy
No Pair
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story by Akatsuki Ren
.
POSESIF
You Belong To Me : 2
Chapter 24
...
Roman wajah Shikamaru berubah setelah mendengar laporan yang diberikan oleh Kiba kepadanya. Sikap aneh Shikamaru membuat ketiga orang lainnya jadi bingung. Apa sebenarnya yang dibicarakan oleh pemuda itu tadi di telepon.
"Shikamaru, ada apa? Kenapa kau jadi tegang begitu?" Naruto mendekati Shikamaru yang masih berdiri diam.
"Barusan saja aku mendapat kabar dari Kiba dan Suigetsu. Mereka sudah berhasil menemukan berkas-berkas pada kejadian kebakaran itu," ucap Shikamaru tanpa mengubah mimik wajahnya sedikit pun.
"Lalu apa katanya?" tanya Naruto semakin penasaran dan juga bercampur cemas.
Shikamaru menjelaskan kalau ternyata setelah kejadian kebakaran itu selesai, para polisi dan penyidik menganalisa tempat tersebut untuk mencari jejak ketiganya yang kemungkinan besar tewas terbakar. Namun pada pagi harinya salah satu penyelidik itu menemukan jejak darah. Setelah darah tersebut diperiksa, hasilnya menyatakan itu darah berasal dari dua orang yang berbeda. Mungkin itu darah Hidan dan Sasoriatau mungkin Sakura, tapi yang jelas mereka tahu kalau ketiga orang itu ternyata masih hidup.
"Jangan katakan kalau bisa jadi mereka kabur ke Sunagakure? Dan laki-laki itu memang benar-benar Hidan?" tebak Naruto yang merasa ragu meskipun segala kebenaran dan bukti yang ada memang tertuju ke arah sana.
"Hal itu bisa saja terjadi... " Balas Shikamaru yang menjadi bimbang sendiri. Apakah benar kedua pemuda itu benar-benar ada di Sunagakure? Tapi fakta Sasuke yang pernah melihat Sakura bisa menjadi indikasi keberadaan Hidan dan Sasori.
"Tapi, satu hal yang jelas. Mei bukan dibunuh oleh Sakura." Pemuda itu melirik ke arah Sasuke yang tampaknya mulai bisa menguasai diri setelah melihat kebenarannya.
"Kau dengar itu, Sasuke? Jadi jangan bertindak yang aneh-aneh dan mencarinya!" celetuk Naruto mencoba mengingatkan pemuda itu kalau semua kejadian yang terjadi pada Mei tidak ada hubungannya dengan Sakura.
"Hn." Sasuke tidak membalas perkataan Naruto. Dia sadar tindakannya tadi memang ceroboh.
"Anggaplah pelakunya memang Hidan. Tapi kenapa dia melakukan ini semua?" tanya Naruto sambil berandai-andai kalau memang Hidan yang mencelakai Mei.
"Ada sesuatu yang janggal dalam foto ini. Coba kalian perhatikan pada bagian luka yang ada pada tubuh Mei." Shikamaru memperlihatkan foto tersebut sambil menunjuk ke bagian luka pada tubuh Mei.
Utakata, Naruto dan Sasuke sama-sama mengamati bagian yang ditunjuk oleh Shikamaru dengan seksama. Ketiganya mencari bagian janggal yang dikatakan oleh Shikamaru.
"Darahnya terlalu sedikit dan tidak ada koyakan pada baju," jawab ketiganya secara bersamaan.
"Benar." Shikamaru mengangguk, "pada umumnya seseorang yang mengalami luka tusukan pada bagian ini pasti akan mengalami pendarahan. Sementara pada luka di tubuh Mei kita dapat lihat darahnya terlalu sedikit dan tak ada guratan pakaian yang seperti tertarik dan koyak." Terang Shikamaru sambil menunjuk ke arah garis-garis baju Mei yang tampak biasa saja.
"Itu artinya Mei hanya berpura-pura mati? Begitu maksudmu?" Naruto benar-benar merasa sakit kepala memikirkan semua ini. Shikamaru hanya mengangguk dan itu membuat Naruto semakin bertanya-tanya.
"Tapi, kenapa dia melakukan semua ini? Lalu, bagaimana dengan laki-laki yang mirip Hidan itu? Arghh! Aku benar-benar tidak tahu harus berpikir bagaimana lagi!" pemuda itu berteriak frustasi. Kalau saja dapat dilihat secara kasat mata, mungkin kepala Naruto sudah terlihat berasap sekarang.
"Sepertinya Mei melakukannya atas perintah dari laki-laki itu dan bukan kemauannya sendiri," ucap Sasuke sambil memutar rekaman itu lagi ke belakang, "semua itu terjadi secara spontan tanpa diatur lebih dulu." Sasuke menghentikan rekaman tersebut pada satu titik. Matanya menatap tajam ke layar komputer.
"Coba kalian lihat pada bagian ini... " Jarinya menunjuk ke arah sang pemuda yang sedang menusuk Mei pada rekaman tersebut.
"Ekspresi yang ditunjukkan Mei lebih ke arah seperti orang terkejut, bukan ketakutan atau kesakitan... " Jarinya bergerak menunjuk ke arah wajah Mei yang sedikit tertutup sebagian, "kemungkinan besar di sinilah Mei mengetahui identitas pemuda itu atau pemuda itu memberi perintah pada Mei," ucapnya yang merasa hanya pada bagian itu saja yang memungkinkan terjadinya percakapan dan kesepakatan antara Mei dengan laki-laki yang mirip Hidan itu.
"Syukurlah... " Naruto menghela napas lega membuat ketiga pemuda lainnya menatap heran akan sikap laki-laki pirang itu.
"Kenapa kau malah menghela napas begitu Naruto?" tanya Shikamaru dengan tatapan aneh ke Naruto.
"Aku lega karena Hidan tidak membunuh Mei... Dia masih Hidan, teman lama kita... " Naruto berbicara sambil setengah termenung mengenang masa lalu saat dia dan yang lain masih bersahabat dengan Hidan. Dia yakin pemuda itu tak akan mungkin membunuh.
"Tapi jangan merasa lega dulu!" tampaknya Utakata memiliki pemikirannya sendiri.
"Heh? Kenapa begitu?" Naruto terlihat agak kurang suka dengan cara bicaranya Utakata yang sedikit sinis.
"Seperti yang kita tahu. Pada rekaman itu ada Kankuro," semuanya mendengarkan dengan seksama pada penjelasan Utakata, "Bagaimana kalau ini adalah jebakan Kankuro? Bisa saja 'kan kalau Kankuro sudah menyadari gerakan kita dan rekaman ini berasal darinya. Dia mengirimkannya kepada kita untuk menggertak dan kalau kita macam-macam dia bisa membunuh Mei dan kita semua bisa bernasib sama seperti Mei." Pemuda itu mengungkapkan analisanya mengenai kaset rekaman tersebut yang bisa jadi adalah jebakan dari musuh.
"Aku rasa tidak begitu," sambar Sasuke dengan cepat. Sekarang gantian Utakata yang menatap kesal pada Sasuke karena pendapatnya diragukan.
"Apa maksudmu? Apa ada bagian yang kurang dari penjelasanku?" tanya Utakata dengan sedikit ketus. Maklum saja dia memang agak kurang suka bila ada orang yang menyanggah dugaannya. Dasar kebiasaan buruk.
"Aku sependapat dengan Sasuke. Aku rasa itu tidak mungkin." Shikamaru juga ikut-ikutan menepis dugaan Utakata.
"Bukankah akan lebih memberi efek kalau Kankuro menyuruh Hidan untuk benar-benar membunuh Mei? Coba pikir, untuk apa Kankuro mempertahankan Mei dan dia mengirimkan rekaman kematian rekayasa Mei kepada kita dan semua itu hanya untuk menggertak kita? Sementara Mei sendiri tidak benar-benar mati." Shikamaru mulai mengungkapkan penjelasannya. "Kalau aku jadi Kankuro, aku pasti akan membunuh Mei karena dia merupakan ancaman bagiku," ucapnya sambil berandai-andai dan mencoba untuk berpikir layaknya seorang penjahat.
"Aku juga berpikir hal yang sama... " Balas Sasuke mengangguk, menyetujui pendapat Shikamaru.
"Kalau begitu ini semua adalah... " Utakata terdiam sejenak sambil berpikir.
"Kemungkinan besar semua ini adalah rencana Hidan sendiri," lanjut Shikamaru meneruskan perkataan Utakata.
"Tapi dia terlalu nekad! Dalam kondisi seperti itu sempat-sempatnya melakukan rencana berbahaya di depan Kankuro... Aku tak yakin... " Utakata tampak ragu dengan penjelasan Shikamaru. Apa iya Hidan bisa melakukan semua rencana itu hanya dalam waktu singkat dan terjadi spontan begitu? Terlalu bahaya apalagi kalau sampai Kankuro saat itu mengetahuinya.
"Apa yang dilakukan Hidan sepertinya hanya untuk mengelabui Kankuro saja dan aku yakin dia tipe yang mampu melakukan semua itu." Berbeda dengan Utakata. Shikamaru malah merasa yakin kalau Hidan sanggup untuk melakukan hal tersebut.
"Rekaman ini berarti mungkin Hidan yang mengirimnya, tapi untuk apa?" Naruto menerawang. Dia tak mengerti apa sebenarnya jalan pikiran Hidan dan rencananya. Mei tidak terbunuh, itu berita baik tapi sekarang alasan Hidan mengirim rekaman itu apa? Apa memang untuk menggertaknya? Tapi kenapa?
"Dendam... " Cetus Sasuke dengan suara lirih. Kini Shikamaru, Utakata dan Naruto beralih menatap Sasuke. Seolah meminta penjelasan mengenai 'dendam' yang diucapkan oleh pemuda itu.
"Itu bisa saja... " Utakata tampaknya menyadari sesuatu, alasan kenapa Hidan melakukan semua itu.
"Semua ini pasti karena Hotaru... Mungkin dia ingin membalaskan dendam atas kematian Hotaru dan tidak ingin kita ikut campur. Makanya dia mengirim rekaman itu kepada kita, berharap kita semua percaya kalau Mei terbunuh karena terlibat ke dalam masalah ini dan kita akan takut untuk meneruskan penyelidikan ini." Utakata sepertinya dapat mengerti sekarang kenapa Hidan melakukan semua ini.
"Tapi ini akan berbahaya untuk Hidan 'kan? Kita harus melakukan sesuatu!" Naruto mendadak saja jadi merasa cemas dan merasa perlu untuk menolong Hidan, kalau ternyata pemuda itu yang memang melakukan semua ini.
"Daripada itu kita harus mencari di mana Mei sekarang. Karena dia pasti tahu sesuatu yang akan membantu kita," sela Shikamaru dengan cepat.
"Aku rasa aku bisa mencari tahu di mana Mei kalau memang benar Hidan ikut terlibat dalam masalah ini," sambar Utakata yang sepertinya sudah memiliki gambaran keberadaan Mei saat ini.
Kampus Sunagakure
Sementara di kampus Sakura mendapatkan masalah. Sekelompok gadis yang tak dia kenal menyeretnya secara paksa keluar dari dalam kelas. Kebetulan saat itu suasana kelas Sakura masih sepi. Sementara beberapa gadis yang melihat kejadian itu tak berani menolong Sakura.
"Matsuri, apa-apaan ini? Cepat lepaskan aku sekarang juga!" gadis itu memberontak. Berusaha melepaskan diri dari cengkraman gadis-gadis yang membawanya pergi.
"Diam saja kau!" bentak gadis itu yang malah semakin menguatkan cengkramannya pada tangan Sakura.
Gadis-gadis itu membawa Sakura ke dalam toilet perempuan. Mereka mendorong paksa Sakura untuk masuk ke dalam. Setelah itu mereka sengaja mengunci pintu toilet agar tak ada satu orang pun yang melihat dan mengetahui perbuatan mereka.
"Kenapa kalian membawaku kemari? Cepat buka pintunya, aku mau keluar!" Sakura mendelik kesal. Dia berjalan untuk keluar dari dalam kamar mandi, namun teman-teman Matsuri segera memegangi dan mencegah Sakura agar tidak kemana-mana.
"Kau pikir bisa lolos begitu saja setelah mengingkari perjanjian yang telah kita buat, hah!?" dengan amarah yang sudah tak dapat dibendung lagi. Gadis yang tergila-gila pada Gaara itu membentak Sakura habis-habisan.
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak ingkar janji padamu!" Sakura membela diri karena dia merasa tidak melakukan hal yang salah pada Matsuri.
PLAK!
"Perempuan jalang! Jangan bersikap seolah-olah kau tidak berdosa!" Matsuri menampar keras pipi kanan Sakura sambil memaki, "pada malam itu kau berdansa dengan Gaara 'kan!? Mengaku saja!" kali ini giliran pipi kiri Sakura yang terkena tamparan.
"Aku tidak berdansa dengan Gaara! Dia bukan Gaara!".
"Lalu, kalau dia bukan Gaara, siapa dia!?".
Sakura tak bisa menjawab dengan pertanyaan Matsuri. Dia sendiri juga tak yakin apakah pemuda yang berdansa dengannya saat itu adalah Sasori? Atau orang lain? Tapi yang jelas pemuda itu bukanlah Gaara.
"Kau tak bisa menjawab 'kan! Dasar picik!" tangan Matsuri meraih helaian rambut Sakura dan menariknya dengan keras membuat kepala gadis itu tertarik ke belakang.
"Hmm... Apa ini?" tatapan Matsuri kini tertuju pada sebuah benda berkilat yang terpasang pada leher Sakura. "Kalung?" gadis itu mengeluarkan rantai kalung tersebut.
"S... ?" Matsuri menarik kalung tersebut dan menatap ke arah cincin yang menjadi bandulnya. Ia membaca sebuah huruf yang tertera pada bagian belakang cincin tersebut.
"Kurang ajar! Kalung ini pasti pemberian Gaara 'kan!?" Matsuri yang merasa geram langsung menarik kalung milik Sakura begitu saja.
"Apa yang kau lakukan!? Kembalikan kalungku! Kalung itu tidak ada hubungannya dengan Gaara. Cepat kembalikan!" Sakura menatap cemas kalau Matsuri mau melakukan sesuatu pada satu-satunya kalung yang menjadi kenangan antara dirinya dengan Sasori.
"Kau pikir aku percaya dengan orang pembohong seperti dirimu?" Matsuri mendelik ke arah Sakura. "Ucapkan selamat tinggal pada kalung ini, Sakura." Gadis itu tersenyum meledek kepada Sakura. Matsuri melemparkan kalung itu ke dalam toilet.
"Hentikan!" Sakura memberontak dan berhasil lepas dari cengkraman teman-temannya Matsuri. Gadis itu berlari ke arah toilet dan berharap kalung miliknya masih bisa dia selamatkan.
"Tidak... Kalungku... " Gadis itu terduduk lemas begitu tahu kalung miliknya sudah tidak ada.
"Itu hukumannya untuk gadis jalang sepertimu!" Matsuri meludah tepat di depan Sakura. Rasanya dia sudah benar-benar puas melakukan balas dendam. "Ayo kita pergi dan tinggalkan dia di sini." Matsuri beserta kawan-kawannya berjalan menuju ke arah pintu toilet.
Greb!
Tanpa terduga Sakura berdiri di belakang Matsuri dan dalam sekejap menjambak rambut coklat milik Matsuri dengan kuat.
"Kau boleh menyakitiku dan menghinaku sesuka hatimu. Tapi... " Ada sebuah jeda sebentar saat Sakura melontarkan kalimat itu. Matanya tajam menatap Matsuri dan entah mengapa sosoknya menjadi terlihat begitu menakutkan. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun yang berani menyentuh kalungku!" suara Sakura yang terdengar begitu tajam membuat nyali Matsuri dan kawan-kawannya menjadi ciut.
"Lepaskan aku Sakura!" Matsuri mendelik pada gadis merah muda itu. Meskipun merasa takut tapi dia tak mau mengakuinya dan tetap bersikap angkuh untuk menutupi rasa takutnya itu.
"Cepat lepaskan Matsuri!" Fuu dan gadis-gadis lain memegangi tangan Sakura yang sedang mencengkram kuat rambut Matsuri dan berusaha untuk melepaskannya.
"Tidak akan!" Sakura menolak untuk melepaskan cengkramannya. Sakura malah semakin meremas dan menarik rambut pendek Matsuri.
"Arghh! Sakura lepaskan aku!" Matsuri mulai berteriak kesakitan. Ia mulai merasa tercekik dan sulit bernapas. Cengkraman Sakura mulai menyakitinya dan rasa-rasanya lehernya seperti mau patah karena tertarik begitu kuat.
"Kasihan sekali... Kau kesakitan, ya?" Sakura tersenyum sinis sambil menatap wajah Matsuri yang kini tengah menengadah ke arahnya.
"Sakura, kau bisa mematahkan lehernya!" Fuu memekik ketakutan.
"Hmph!" dengan kasar Sakura melepaskan cengkramannya dari rambut Matsuri. Lalu ia mendorong gadis itu dengan kuat sampai menabrak pintu toilet.
BRAKH!
Matsuri membentur pintu toilet dengan sangat keras. Fuu dan yang lain bergegas menghampiri teman mereka yang sudah terlihat lemas.
"Sakura, kau ini keterlaluan!? Apa kau mau membunuh Matsuri, hah!?" Fuu menatap geram pada Sakura yang hanya berdiri dan menatap datar ke arah yang lainnya.
"Aku tidak akan memaafkan siapa pun... " Gadis berambut pink itu maju perlahan.
"Apa yang mau kau lakukan?" Fuu merasakan perasaan yang tidak enak begitu melihat sikap aneh Sakura.
"Kalian tidak akan kumaafkan!"
"KYAAA!"
TBC
