Hukuman dari Langit

Ohoho! Siapa sangka author tak karuan dan suka telat update bisa update kilat secepat ini! Kita memiliki rekor baru!

Tidak sebenarnya saya ngaku saya telah terlalu sering telah update fanfiksi ini, benar kata Hanazono Yuri-chan, saya telah telat dua bulan! Saya senang masih ada yang suka baca dan review, saya jadi semangat untuk menulis.

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto.

Spoiler: Chapter 390-391.


Gerakan Karin terhenti di tengah jalan sebelum ia sempat menyentuh pintu yang tersegel rapat. Seekor burung gagak dengan satu mata sharingan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, muncul dan duduk di atasnya.

Karin mundur selangkah dan entah darimana muncul lebih banyak burung gagak lagi. Mereka menggaok keras dan Karin merasa bulu kuduknya berdiri. Hawa dingin mencekam dan ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya jika ia mendekati pintu itu.

Burung-burung gagaknya sekarang berdiri terdiam dan mengamati setiap gerakannya. Karin merasa panik dan takut, ia berbalik dan berlari ke arah pintu emas dengan ukiran naga dan mataharinya.

"Siapa kamu?"

Karin berteriak kaget saat tiba-tiba Sakura muncul di depan pintunya. Gadis berkaca mata itu terjatuh dan ia mengangkat kepalanya.

"K-kamu..." ia mencoba mengumpulkan pikirannya.

"Kamu Karin, anggota tim Hebi 'kan?" tanya Sakura tenang.

"Aku kira kamu tidak sadarkan diri... cakramu seperti terpecah jadi dua," Karin bangkit.

Sakura tidak beranjak dari tempatnya dan hanya memandang Karin dengan pandangan serius.

"Kamu telah memaksa masuk ke dalam alam bawah sadarku. Kamu tidak diterima disini, kamu menyakiti diriku yang lain. Keluar."

Di belakang Karin, semua burung gagaknya kembali menggaok dengan nyaring dan Karin kembali merasa panik. Namun ia tidak ingin pergi, tidak sebelum memastikan kalau ia bisa mencegah Sasuke dan Sakura bertemu.

"Heh... kamu menyuruhku keluar namun di dunia nyata kamu sedang tidak berdaya 'kan? Selama setengah cakramu belum balik, kamu tidak akan terbangun. Jika aku keluar aku bisa lakukan apa yang aku inginkan padamu," ancam Karin dengan senyum penuh kemenangan.

Sakura terlihat cemas saat ia berpaling ke pintu emas di belakangnya.

"Selama kamu tidak membunuhku, aku tidak peduli."

"Benarkah?" Karin terdengar lebih puas lagi.

Kedua kunoichi itu terdiam sebentar, sebelum Karin lanjut dengan senyum licik.

"Kalau begitu berikan aku semua ingatanmu tentang Sasuke, aku keluar dan tidak akan menyentuh tubuhmu sedikitpun."

xxxxx

"Sial," desis Itachi saat tubuh Sakura mulai tembus pandang, tanda bahwa cakranya mulai menghilang.

Sementara itu Sasuke berhasil lolos dari serangan amaterasu milik Itachi. Jurus itu telah memakan cakra Itachi cukup banyak, dan dari kedua matanya mulai keluar air mata darah.

"Sakura jangan dengarkan dia!" pinta Itachi. "Kalau kau lakukan itu, Sasuke akan kehilangan segalanya. Dan semua yang aku persiapkan untuk kalian akan sia-sia..."

Itachi melakukan beberapa segel setelah Sakura meraung-raung memegang kepalanya, ia merasa terlalu kesakitan, sehingga ia tidak dapat mendengar perkataan Itachi.

Di dunia nyata, Itachi kembali ambruk dengan napas tersengal-sengal sembari menutupi mata kananya yang ia gunakan untuk melancarkan amaterasu. Sasuke melakukan beberapa segel dan dari mulutnya keluarlah semburan api jurus katon dalam bentuk naga. Itachi melompat ke belakang, nyaris ia terkena oleh jurus Sasuke. Ia kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh ke pinggir atap.

Itachi menurunkan tangannya dan terlihatlah mata kirinya yang sudah setengah buta. Sasuke melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan ia pun terlihat sudah hampir mencapai batas.

"Mungkin ini adalah jurus terakhirku," gumannya dengan pasrah.

Itachi mengangkat kepala Sakura dan menatap kedua mata zamrudnya yang memperlihatkan rasa sakit yang amat dalam. Dengan sekuat tenaga Itachi menggunakan tsukiyomi untuk melancarkan genjutsu pada siapa saja yang maksa masuk ke dalam alam bawah sadar Sakura.

Aku harus mengulur waktu sedikit lagi...

"Ingat, sharingan bisa membedakan warna cakra," ujar Itachi dengan lemah.

"Jangan sok tahu, aku tahu kau juga kehabisan cakra," jawab Sasuke kesal.

Itachi lanjut, merasa punya kesempatan setelah Sasuke terkecoh dengan usahanya mengulur waktu.

"Jurus kawarimi no jutsu yang kau gunakan untuk menghindari serangan amaterasu adalah jurus milik Orochimaru, walaupun sangat sulit untuk dideteksi, teknik itu akan menghabiskan cakra yang banyak."

"Aku akui, cakraku juga sudah habis," kata Sasuke. "Namun apakah kamu pikir aku kesini untuk membunuhmu tanpa melakukan persiapan terlebih dahulu?"

Perkataan Sasuke, memberi Itachi firasat buruk. Nampaknya Sasuke kali ini sungguh-sungguh akan membunuhnya.

"Sakura kumohon, jangan berikan apapun ke orang itu," pinta Itachi, tidak mempedulikan mata kananya yang masih bisa melihat, mencapai batasnya dengan cepat karena tsukiyomi.

xxxxx

Burung-burung gagaknya sekarang berterbangan dan menggaok dengan suara mengancam. Karin merasakan suatu hawa menusuk mulai mendekatinya.

"Cepat berikan! Atau aku akan membunuhmu!" teriak Karin panik.

Sakura kembali berpaling ke pintu emas di belakangnya sambil mengepalkan tangannya.

xxxxx

"Ini akan selesai dengan cepat, jutsu ini hampir sama dengan amaterasu, tidak mungkin untuk dihindari. Jadi sekarang waktunya mewujudkan apa yang kulihat sebelumnya, yaitu kematianmu," ujar Sasuke tanpa belas kasihan saat langit berubah menjadi mendung di atas mereka.

Awan-awan gelap mulai bergumpul dan hujan deras mengguyur, membasahi bumi. Petir-petir muncul saat Sasuke dan Itachi melompat ke atas pilar segiempat dengan lambang Uchiha di atas atap.

xxxxx

Sakura mengangkat tanganya dan beberapa gelembung muncul. Di atas permukaannya tidak terpantul wajah Sakura maupun Karin, namun terlihatlah masa lalu Sakura dengan Sasuke.

"Aku mencintaimu! Aku sungguh mencintaimu!"

Di atas permukaan gelembung lain, terlihat Sakura yang kecil mengejar Sasuke semasa TK. "Sasuke-kun! Aku ikut ya?!"

Dan di atas permukaan satu gelembungnya, terlihat Sasuke yang berbalik dengan senyum mencemoh. "Kamu benar, kamu sungguh menyebalkan."

Semua gelembung itu menuju ke arah Karin.

"Ini ambillah, dan jangan berbuat apa-apa terhadap tubuhku," ujar Sakura dengan nada dingin yang tidak diduga Karin.

Karin tersenyum puas dan ia menerima pemberian Sakura. "Tenang saja, tanpa ini aku tidak punya kekhawatiran bahwa kamu akan mau punya alasan ketemu Sasuke milikku."

Tiba-tiba di belakang Karin muncul bayangan gelap besar yang siap menyerangnya. Karin berbalik dengan kaget dan ia meloncat ke kanan. Beberapa gelembung pecah akibat gerakan refleks Karin dan mata Sakura terbuka lebar-lebar dan terlihat kosong sesaat sebelum kembali ke bentuk semula.

Bayangan gelap itu berubah menjadi Itachi yang memperlihatkan kedua mangekyo sharingannya. Ia memandang sisa gelembung yang ada di tangan Karin.

"Kembalikan," bisik Itachi dengan nada mengancam dan bulu kuduk Karin berdiri karena ia belum pernah mendengar nada dingin seperti itu sebelumnya, bahkan Orochimaru tidak bisa membuatnya merasa ketakutan seperti ini.

xxxxx

"Sumber kekuatan jutsu ini berasal langsung dari surga," seru Sasuke di tengah badai dan suara guntur yang menggema di atas keduanya. "Yang tinggal kulakukan hanyalah mengarahkannya sampai menembus tulangmu. Kau tidak akan bisa menghindar, halilintar bisa mencapai tanah ratusan kali lebih cepat dari kecepatan suara."

Sasuke mengangkat tangannya, dan semua halilintar berkumpul di atasnya.

"Jutsu ini kuberi nama Kirin."

Di dalam alam bawah sadar, Itachi memeluk Sakura erat ke dadanya. Jika ia mati sekarang maka jiwa Sakura dan setengah cakranya tidak akan bisa kembali ke tubuhnya. Tubuhnya akan mati setelah kehabisan cakra yang masih tertinggal.

Kumpulan petir berubah menjadi naga besar.

xxxxx

"Itachi!" diri Sakura yang lain berlari ke arah Itachi setelah ia mendesis dan menggenggam dadanya, tempat jantungnya berdetak kesakitan. Karin menggunakan kesempatan itu untuk lolos keluar tubuh Sakura bersama dengan semua ingatannya tentang Sasuke.

Itachi melakukan beberapa segel, mengabaikan rasa sakit di dalam dadanya dan semua burung gagak mengejar Karin. Kunoichi berambut merah itu berteriak kesakitan saat ia diserang, namun ia berhasil lolos dengan sebagian ingatan milik Sakura.

Itachi berjalan bersama Sakura untuk memungut gelembung-gelembung yang masih tersisa. Hanya lima saja. Napas Itachi tersengal-sengal dan ia memegang satu gelembung dimana Sakura terlihat menangis tersedu-sedu memeluk Sasuke yang terbangun, setelah dilukai Haku.

"Maafkan aku Sakura..." bisiknya sebelum ia pun menghilang.

xxxxx

"Lenyaplah bersama petir..." bisik Sasuke sebelum ia menurunkan tangannya dan melancarkan kirin ke arah Itachi.

Itachi memeluk Sakura dan melindunginya sekuat tenaga dengan cakranya di saat yang bersamaan ia menatap naga itu dengan mangekyo sharingan terakhir miliknya.

"Itachi... tahukah kamu apa yang terjadi jika kita mendekati ajal?"

"Tidak Kaa-san. Apa yang akan terjadi?"

"Jika kukatakan, mungkin kematian itu tidak akan terasa seburuk yang kau kira."

Senyum bahagia dan polos Sakura terlintas di benaknya.

Kirin mencapai tanah dan menghancurkan semua yang ada di sekelilingnya. Gedungnya roboh, pohon terbakar habis, dan daratan telah dipenuhi reruntuhan. Disanalah, dengan tidak berdaya, terbaringlah Itachi. Hujan mulai reda dan awan-awan mulai menghilang.

Sasuke menahan napasnya, tubuhnya dipenuhi oleh euforia.

"Selesai... semua sudah selesai... Aku berhasil!" serunya dengan girang.

Itachi perlahan membuka matanya. Ia tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan.

Apakah aku sudah buta...?

Di alam bawah sadarnya ia masih memeluk Sakura yang masih belum sadar sepenuhnya. Dengan lembut ia memindahkan seuntai rambut dari wajahnya.

Samar-samar melalui kegelapan Itachi melihat setitik cahaya dan melihat shiluet orang-orang yang ia kenal berdasarkan suara mereka. Lalu ia kembali menutup matanya dan mendengar seruan kemenangan Sasuke.

Tidak, belum, masih... sedikit... lagi...

Ia pun mulai bergerak dan bangkit lagi, membuat Sasuke memandangnya dengan pandangan tidak percaya.

"Sakura... Sakura bangun... aku membutuhkan pertolonganmu..." bisik Itachi ke telinga Sakura, sebelum ia mulai batuk tanpa henti-hentinya.

"Apa hanya itu yang kau lihat... tentang kematianku?" ujar Itachi dengan mencemoh saat ia bangun, membiarkan darah mengalir keluar dari mulutnya.

Sasuke mengeram, kemudian melepaskan segel terkutuk.

"BANGSAT KAU!" teriaknya dengan penuh kebencian.

Di sekeliling tubuh Itachi muncul sesuatu yang tembus pandang di dalam wujud tengkorak.

"Kalau tidak menggunakan ini, aku pasti sudah lenyap bersama dengan petir kecilmu itu Adikku yang bodoh."

Itachi membuka kedua matanya. Keduanya telah kehilangan warna hitam ciri khas milik seorang Uchiha. Sekarang mereka benar-benar sudah kehilangan cahaya sepenuhnya.

"Sasuke, kau telah bertambah kuat... sangat kuat."

Sasuke mundur selangkah saat tengkorak itu membesar dan Itachi mulai berjalan ke arahnya.

"Lihatlah baik-baik. Senjata terakhir dari semua milikku. Susanoo."

Sakura membuka kedua mata zamrudnya dan ia menatap mata milik Itachi yang sudah kehilangan cahayanya.

"I-Itachi...?" ia berbisik sembari mengangkat tangannya yang gemetaran dan menyentuh pipi Itachi yang juga mulai kehilangan kehangatannya.

"Aku memiliki sebuah permohonan terakhir," Itachi tersenyum dan walaupun ia sudah tidak bisa melihat Sakura lagi, ia memandang ke arahnya. "Jika kamu bantu aku mencapai Sasuke, maka aku akan memberikan kamu sebuah kunci."

Sakura mulai menitikkan air mata. Bahkan tanpa imbalan apapun ia sudah rela untuk membantu Itachi. Ia tahu Itachi sudah mencapai batas dan ia tidak ingin memberatkan pria itu dengan permohonan-permohonan yang mustahil. Oleh karena itu ia akan menerima imbalan Itachi.

"Kunci...?" gadis berambut merah muda mengelus pipi lelaki yang ia cintai.

"Kunci, untuk membuka pintu yang tersegel di dalam alam bawah sadarmu."

xxxxx

Di dalam alam bawah sadar, diri Sakura yang lain mengelus pintu yang tersegel rapat.

"Jadi Itachi telah mengurung rapat beberapa ingatan kita disini? Jadi dia pelakunya? Apakah kenyataan itu sedemikian rupanya tidak boleh diketahui?"

Ia terdiam kemudian ia mendekatkan telinganya ke pintu itu. Untuk beberapa menit ia tidak mendengar apa-apa sama sekali, namun saat ia hendak pergi ia mendengar sesuatu. Suara kembang api.

Sebuah perasaan rindu dan penuh harap memenuhi setiap relung hatinya, dan tanpa bisa dicegah, ia menitikkan setetes air mata.

xxxxx

"Kau mengurung beberapa ingatan di dalam kepalaku? Kenapa Itachi?" tanya Sakura dengan ekspresi shock.

Itachi tidak menjawab langsung, ia membutuhkan beberapa detik sebelum ia berkata,"karena ingatanmu itu bisa menghancurkan rencana besarku."


Saya baru sadar... masa masih beberapa chapter lagi fanfiksi ini akan tamat? *Menitikkan air mata.* Saya nggak rela! Sudah beberapa tahun ini saya habiskan untuk menulisnya! Tapi kalau nggak selesai menulisnya, apa jadinya para pembaca setia saya?

Hiks, ya sudah... silahkan review bagi yang berkenan.