A Little Secret
Disclaimer : I own the story. Others? Not mine. Secret Garden © SBS
Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst
.
.
Enjoy It!
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
.
.
Sasuke menaikkan alis dan membalas tatapan yang sejak tadi tertuju padanya. Hari ini kelas kuliahnya dibatalkan, jadi ia memutuskan untuk datang ke studio untuk menemui Gaara.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?"
Sasuke makin menaikkan alis. Setahunya pemuda yang memasuki ruangan lima menit yang lalu ini adalah orang yang ramah, tapi kenapa kini sifatnya berubah?
"Aku sedang menunggu Gaara. Apa kau melihatnya?"
"Ada urusan apa? Kenapa akhir-akhir ini kau sering sekali datang kemari dan menemuinya?"
Kali ini sang Uchiha tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mengekspresikan keheranannya. Rasanya aneh mendengar sang lawan bicara menggunakan nada tidak suka seperti tadi.
Suara pintu yang dibuka membuat keduanya menolehkan kepala. Gaara terlihat melangkah masuk dan langsung duduk di samping 'Naruto'. Beberapa saat setelahnya pemuda berkulit putih itu melingkarkan sebelah lengannya dengan santai di bahu sang sahabat.
"Apa kau membawanya? Bagaimana hasilnya?" tanya Gaara dengan nada antusias yang tidak bisa disembunyikan.
Sasuke mengangguk dan memberikan amplop coklat berukuran cukup besar kepada pemuda yang masih merangkulnya.
Gaara menarik lengannya dan langsung membuka benda yang baru saja berpindah tangan. Ia menarik beberapa kertas dari dalamnya dan terlihat serius membaca selama beberapa saat.
"Kau menyukainya?" Sasuke bertanya ketika Gaara tersenyum puas.
"Sampaikan terima kasihku padanya," tutur Gaara sembari memasukkan kembali lembaran kertas yang baru sepintas dibacanya ke dalam amplop.
"Apa itu? Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Gaara menolehkan kepala ke arah sang penanya sebelum bangun dan menarik tangan 'Naruto'.
"Aku juga berhutang satu terima kasih padamu. Ayo kita pergi makan!" ajaknya.
"Hei, aku bertanya padamu, Gaara. Apa isi amplop itu?"
"Itu tidak ada urusannya denganmu, jadi aku tidak memiliki kewajiban untuk memberitahu," jawab Gaara santai. "Sampaikan maafku kepada Sakura karena tidak bisa ikut makan siang bersama kalian."
Sasuke hanya membiarkan Gaara menarik sebelah tangannya dan mengikuti langkah sang pemuda meninggalkan ruangan sekaligus meninggalkan Neji yang masih melemparkan tatapan tidak suka padanya.
"Kapan kau mau memberikan lagu itu padanya?" Sasuke memecahkan keheningan sesaat setelah mereka keluar dari gedung.
"Mungkin besok atau lusa. Neji sudah memulai persiapan intensif untuk konsernya, dan aku ingin memintanya menyanyikan lagu ini di atas panggung nanti," jawab Gaara sembari masuk ke dalam sebuah kedai ramen yang terletak di seberang gedung yang baru saja mereka tinggalkan.
"Kau memberikan lagu itu padanya?"
"Ya."
"Benar-benar memberikannya? Tanpa meminta kompensasi apapun?"
"Tentu saja. Rencana awalku memang seperti itu. Kenapa?"
"Tidak."
Sasuke mengambil tempat duduk bersebrangan dengan Gaara dan meraih buku menu. Ia mengerutkan dahi ketika mendapati bermacam-macam ramen di dalamnya.
"Kau mau pesan apa?" tanya Gaara setelah mengatakan pesanannya kepada pelayan.
Sasuke masih memperhatikan berbagai jenis ramen yang tertulis di buku menu. Ia tidak begitu menyukai ramen karena di matanya ramen tidak termasuk ke dalam kategori makanan yang sehat. Ia bahkan ragu apakah ramen benar-benar termasuk ke dalam kategori makanan atau bukan.
"Mau kupesankan ramen kesukaanmu? Porsi jumbo?" tawar Gaara karena 'Naruto' tidak juga memesan.
"Aku tidak makan."
"Pesanan Anda akan datang, mohon tunggu sebentar," ucap si pelayan ramah sebelum melangkah meninggalkan meja.
Gaara sama sekali tidak melepaskan pandangan dari sosok di hadapannya. Sejak kapan sahabatnya bisa menolak godaan semangkuk ramen?
"Ada apa denganmu? Kenapa tidak memesan?" tanya Gaara.
"Kenapa aku harus memesan? Tidak ada keharusan bagiku untuk memesan 'kan?"
Gaara menatap lawan bicaranya dengan sorot serius. Memang tidak ada kewajiban untuk memesan, tapi setahunya, dalam keadaan apapun, Naruto tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menyantap makanan kesuakaannya ini.
.
-0-
.
"Kau masih menginap di sini?" tanya Mikoto sesaat setelah 'Naruto' memasuki apartemen 'Sasuke'.
Sasuke mengangguk dan duduk di sebelah ibunya. Ia tidak tahu apa yang membuat sang ibu kembali datang ke apartemennya, tapi yang jelas, dari tatapan matanya, Sasuke tahu kalau ibunya pasti ingin membicarakan sesuatu.
"Kudengar kau bertemu dengan suamiku beberapa hari yang lalu. Apa itu benar? Apa yang kalian bicarakan?"
Dan diantara sekian banyak topik pembicaraan, kenapa ibunya harus memilih topik ini? Sasuke menahan diri untuk tidak menghela napas.
"Fugaku-sama memintaku, ah, tidak. Fugaku-sama memerintahkanku untuk menjauhi Sasuke. Beliau bahkan menanyakan berapa banyak uang yang kumau agar bersedia menjauhi putranya," ungkap Sasuke tenang.
"Uang?" Mikoto menaikkan alis. Ia tahu seberapa besar suaminya menyayangi anak-anak mereka, tapi ia yakin Fugaku tidak akan sampai menawarkan uang kepada seseorang agar menjauh dari anak mereka.
"Beliau menanyakan margaku, berkata kalau aku mendekati Sasuke karena aku ingin menagih hutang budi darinya, dan setelah itu beliau mengatakan hal tadi."
"Margamu?"
"Ya. Aku sama sekali tidak tahu apa hubungan marga Namikaze-ku dengan alasan beliau menawarkan uang."
Acara yang ditayangkan di televisi tiba-tiba tidak lagi menarik perhatian Mikoto. Wanita anggun itu langsung mengubah posisi duduknya dan menarik sisi bahu 'Naruto', membuat sang pemuda duduk berhadapan dengannya.
"Namikaze?"
Sasuke mengangguk. Raut wajah ibunya saat ini sama sekali tidak terbaca.
Sasuke menatap ibunya tidak mengerti. Apa yang akan dilakukannya? Apa ibunya sedang bersiap memakinya dan memintanya untuk meninggalkan 'Sasuke'? Namun yang terjadi selanjutnya malah membuat tubuh Sasuke membeku.
Mikoto menarik tubuhnya dan memeluknya erat.
Sasuke menelan kembali pertanyaan yang sudah hampir dilontarkannya ketika mendengar suara isakan.
Ibunya... menangis?
Apa yang sebenarnya yang sedang terjadi?
"Aku berusaha mencarimu kemana-mana, tapi aku tidak menemukanmu. Kenapa aku tidak tahu kalau selama ini kau ada begitu dekat denganku?" bisik Mikoto.
Kalau beberapa hari yang lalu ayahnya yang membuatnya bingung, kini sang ibu yang melakukannya. Kenapa kedua orang tuanya membicarakan apa yang sama sekali tidak ia mengerti?
Mikoto melepaskan pelukannya dan menatap sosok di hadapannya dengan mata memerah. Ia mengangkat sebelah tangannya dan mengusap sisi wajah sang 'Uzumaki'.
"Akhirnya aku menemukanmu, Namikaze-kun."
Sasuke tidak bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa tidak pahamnya.
"Kau anak Minato, bukan?"
Sasuke mengangguk ketika mengingat ucapan Naruto saat ia menanyakan nama orang tuanya.
"Kau anak satu-satunya Uzumaki Kushina. Kau putra Nami-sensei."
Nami-sensei?
Sasuke mengangkat sebelah tangannya dan sedikit meremas rambutnya ketika rasa sakit yang beberapa hari dirasakannya kembali muncul.
"Naruto? Kau baik-baik saja?"
Sasuke menarik napas panjang dan berusaha menenangkan diri. Ia tidak sedang berada di tempat yang sempit ataupun gelap, tapi kenapa rasa takut dari phobia-nya bisa muncul?
"Kau pasti terkejut. Akan kuambilkan air," ucap Mikoto sebelum pergi menuju dapur.
Setelah yakin Mikoto tidak ada di dekatnya, Sasuke mengeluarkan tabung obatnya dan menelan satu pil penenang. Ia menyandarkan diri di punggung sofa dengan mata tertutup, berusaha untuk tetap tenang dan keluar dari rasa takutnya.
.
-0-
.
Sejujurnya Naruto sama sekali tidak mengharapkan kedatangan seorang tamu ke ruangannya sore ini. Ia lebih tidak mengharapkan kedatangan kepala keluarga Uchiha yang kini tengah duduk di hadapannya dengan raut tenang yang cukup membuatnya tertekan.
Jangan salahkan si pemuda pirang kalau dia tidak begitu menyukai lelaki berwibawa ini. Salahkan saja situasi yang membuat sosok seorang Uzumaki Naruto terlihat buruk di mata sang Uchiha senior.
"Kenapa kau memilih dia diantara sekian banyak orang, Sasuke?"
Uh-oh. Naruto sama sekali tidak menyangka kalau 'ayahnya' akan mengawali pembicaraan dengan pertanyaan yang sama sekali ia tidak ketahui jawabannya.
"Kenapa kau memilihnya? Apa yang kau sukai dari pemuda sepertinya?"
"Aku tidak tahu."
Naruto menarik napas panjang dan membalas tatapan sang 'ayah'. Saat ini ia sangat berharap hujan turun di kantornya dan membuatnya segera kembali ke tubuh aslinya.
"Kau tidak tahu?"
"Aku tidak tahu," Naruto mengulang jawabannya.
"Bagaimana bisa kau tidak tahu? Dari ucapanmu waktu itu, aku yakin kau tidak sedang bermain-main dengan pemuda pirang itu."
"Naruto. Dia memiliki nama, tousan. Jangan memanggilnya seperti itu," ucap Naruto tenang.
Naruto tidak tahu apa yang membuat keluarga Uchiha sama sekali tidak menyukainya. Apa karena ia dicintai Sasuke? Apa karena ia seorang pemuda? Apa karena ia tidak memiliki apapun yang bisa membuatnya terlihat 'pantas' dengan Sasuke?
Dan karena ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu, ia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan.
"Kenapa tousan tidak menyukainya?"
Fugaku menatap putra bungsunya tidak percaya, seolah-olah pemuda di depannya baru saja melontarkan pertanyaan 'Berapa hasil dari dua ditambah dua?'.
"Selama ini aku selalu berpikir kalau tousan menaruh kepercayaan padaku," lanjut 'Sasuke'.
"Aku memang mempercayaimu."
"Lalu? Kenapa tousan tidak menyukainya? Tousan tidak percaya kalau aku jatuh cinta padanya?"
Fugaku menarik napas pelan. Bagaimana cara untuk membuat 'Sasuke' mengerti tanpa mengungkit hal itu?
"Aku jadi ingin tahu. Kalau saja pemuda itu bukan Naruto, apa tousan tetap akan turun tangan seperti ini?" tanya Naruto lagi.
Tidak.
Tentu saja jawabannya adalah tidak. Kalau pemuda yang dicintai anaknya bukan Naruto, tentu Fugaku tidak akan turut campur.
Ia tidak bisa memaksa anaknya untuk mencintai seseorang, dan ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya pada Sasuke. Ia bukanlah orang tua yang sangat terobsesi melihat anaknya 'sempurna'. Tapi...
"Untuk kali ini, biarkan aku ikut campur dalam urusanmu, Sasuke."
Naruto menggelengkan kepala tidak setuju. Ia tidak akan menyerah sebelum mengetahui apa yang ada di balik semua kebencian anggota keluarga Uchiha padanya.
"Berikan aku alasan yang tepat, tousan. Beritahu aku kenapa aku harus menjauhi orang yang kucintai," pinta Naruto.
Fugaku bisa melihat kesungguhan di mata putranya. Ia bisa melihat keseriusan di sana, dan ia harus mengakui kalau ia tidak bisa mengalahkan perasaan 'Sasuke' saat ini.
"Apa kau sebegitu mencintainya, Sasuke?"
"Apa tousan harus bertaya?"
Entah sejak kapan perasaan gugup dan tidak nyaman yang dirasakan Naruto menghilang. Kini ia lebih merasa percaya diri dan tenang menghadapi sosok di hadapannya.
"Bagaimana kalau ternyata selama ini dia berpura-pura? Bagaimana kalau selama ini 'Naruto' yang kau lihat ternyata bukan 'Naruto' yang sebenarnya? Apa kau siap dibenci olehnya seumur hidupmu?"
.
-0-
.
Itachi sama sekali tidak menyangka kalau 'Naruto' berani masuk ke dalam ruang kerjanya dan membanting pintu. Yang lebih tidak ia sangka adalah sang pemuda berani melemparkan beberapa lembar kertas ke atas meja kerjanya dan melemparkan tatapan serius.
"Aku yakin kau tahu semuanya," ucap Sasuke yang masih berdiri tegap di depan meja kerja sang kakak.
Anak sulung keluarga Uchiha itu mengambil kertas-kertas yang dilemparkan 'Naruto' dan membacanya. Ia melemparkan tatapan terkejut ke arah si pemuda pirang ketika menyadari kalau semua kertas itu adalah hasil print out dari kabar 'kecelakaan' yang terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Kecelakaan yang melibatkan Sasuke.
"Katakan padaku kalau semua hal yang ditulis di sana bukanlah hal yang benar," pinta Sasuke.
Itachi menatap 'Naruto' simpati. Selama ini ia selalu beradu argumen dengan pemuda ini dan sekali pun ia tidak pernah mendengar 'Naruto' bicara dengan nada putus asa seperti sekarang.
"Semua yang kau tahu adalah benar, Naruto. Maaf."
Entah kenapa sang Uchiha merasa perlu meminta maaf. Semua kenyataan yang baru saja diketahui 'Naruto' pasti membuatnya terluka, dan ia merasa bersalah karena tidak mencegah pemuda ini agar tidak terluka.
Kalau saja ia tahu dari awal kalau pemuda di hadapannya memiliki marga Namikaze, tentu ia akan melakukan apapun untuk mencegah agar Naruto tidak berada di posisi seperti sekarang. Bagaimanapun juga Itachi berkewajiban melindungi pemuda ini.
"Seperti yang ditulis di artikel-artikel ini, Sasuke pernah diculik dan ibumu..." Itachi menarik napas panjang, "Ibumu meninggal karena melindungi adikku dari penculik yang hendak melukainya."
Sasuke menundukkan kepala dan menekan dadanya. Napasnya berubah pendek dan cepat, keringat dingin pun sudah mulai membasahi wajahnya.
Itachi langsung bangun dari duduknya dan menangkap tubuh 'Naruto' sebelum jatuh ke lantai. Ia menatap wajah 'Naruto' yang pucat. Sang 'Uzumaki' tampak menutup matanya rapat dan mengerang kesakitan.
"Naruto, kau baik-baik saja? Ada apa?" tanya Itachi sembari mengguncang pelan bahu sang 'Uzumaki'.
Sasuke berusaha membuka matanya namun ia segera menutupnya lagi ketika ia tidak bisa melihat apapun. Indra pengelihatannya sudah tidak berfungsi.
"Obat... Obatku..."
Sasuke berusaha meraih tabung obat yang selalu disimpannya di saku, dan ketika ia berhasil meraihnya, Itachi menatap sosok di hadapannya tidak percaya.
.
-0-
.
Naruto menghabiskan isi kaleng coke-nya sekali teguk dan menghela napas panjang. Siang tadi ia sudah berusaha sekeras mungkin untuk memaksa Fugaku buka mulut tentang alasan keluarga Uchiha tidak menyukainya, tapi gagal. Setelah Fugaku bertanya apakah ia siap dibenci 'Naruto' seumur hidup, lelaki berwibawa itu meninggalkannya begitu saja.
Si pemuda berkulit pucat tampak mengerutkan dahi. Dibenci Naruto seumur hidup? Kenapa ia harus membenci Sasuke? Apa alasan yang bisa membuatnya membenci pemuda itu?
Oke, Naruto memang mempunyai puluhan atau bahkan ratusan poin mengenai hal-hal yang tidak ia sukai tentang Sasuke, tapi dari semua poin itu, ia tidak bisa menemukan hal yang bisa membuatnya membenci Sasuke hingga seumur hidupnya. Sekarang ia bahkan tidak yakin bisa menjauh dari putra Uchiha Mikoto itu.
Setelah merenungi kembali pembicaraannya dengan Fugaku, Naruto mempertanyakan kenapa ia begitu ingin mengetahui alasan Fugaku membencinya? Naruto bukanlah orang yang begitu mempedulikan pendapat orang lain karena baginya, ia tidak bisa memaksa seseorang untuk menyukainya dan ia tidak pernah keberatan jika ada orang yang membencinya. Itu adalah hak mereka yang tidak bisa diganggu gugat sama sekali.
Tapi kenapa kini ia sangat ingin mengetahui alasan Fugaku? Kenapa ia memiliki niatan untuk berubah seandainya Fugaku memberitahu alasan ketidak sukaannya? Kenapa ia bertingkah seolah ia memang menginginkan Sasuke? Atau sebenarnya... ia memang menginginkan sang Uchiha bungsu?
Ya.
Naruto terpaku beberapa saat. Ia menginginkan Sasuke? Kenapa ia baru menyadarinya sekarang?
"Ada apa denganmu? Mana Naruto?" tanya Shikamaru yang baru saja duduk di samping 'Sasuke'. Pertanyaan itu membuat Naruto kembali ke alam sadar.
"Dia tidak datang? Bukankah hari ini dia seharusnya bekerja?" Naruto balik bertanya.
"Kukira dia tidak datang karena sedang bersamamu," Shikamaru menaikkan alis.
"Aku hanya bertemu dengannya pagi ini, setelah itu dia pergi."
Shikamaru meraih sloki yang baru saja disodorkan bartender dan meneguk isinya. Tidak biasanya Naruto absen tanpa keterangan seperti sekarang, dan tidak biasanya ponsel si pemuda pirang tidak aktif.
Naruto kembali menghela napas dan mengangkat tangan untuk kembali memesan coke kepada bartender. Hal yang baru disadarinya beberapa menit yang lalu membaut harinya makin membingungkan.
"Sepertinya kaliam berdua benar-benar saling mempengaruhi," cetus Shikamaru ketika melihat 'Sasuke' meneguk kaleng keduanya.
Naruto menaikkan alis tidak mengerti. Ia masih menikmati minumannya.
"Kemarin aku bertemu dengan Naruto di coffee shop dan dia memesan black coffee," papar Shikamaru.
"Apa hubungan black coffee dan kami yang saling mempengaruhi?" tanya Naruto, membuat Shikamaru mengerutkan dahi.
"Bukankah black coffee adalah kopi favoritmu?"
Naruto menunjukkan wajah tidak suka. Black coffee? Ia menyukai black coffee? Yang benar saja!
"Ah, kau di sini rupanya!"
Naruto dan Shikamaru menolehkan kepala ke sumber suara yang tidak terlalu jauh dari keduanya.
Gaara segera duduk di samping Naruto, mengapit sang 'Uchiha'. Naruto menatap amplop coklat yang disodorkan si pemuda berambut merah dengan pandangan tidak mengerti.
"Seharusnya kau memberikan ini langsung padaku sehingga kita bisa membicarakannya siang tadi," ucap Gaara sembari meletakkan amplop di tangannya ke atas permukaan meja.
"Apa ini?"
"Huh?"
"Apa ini?" Naruto mengulangi pertanyaannya sambil melirik benda di depannya.
"Kau tidak tahu apa ini? Bukankah kau yang menitipkannya kepada Naruto siang tadi untuk diberikan padaku?" Gaara malah balik bertanya.
"Aku tidak ingat pernah menitipkan apapun pada 'Naruto'," ucap Naruto tidak paham.
Oke, ini sudah terlalu aneh. Sasuke tidak mungkin melupakan hal sepenting ini. Kalau bukan Sasuke yang menyelesaikan aransemen lagunya, lalu siapa? Tidak mungkin 'kan Naruto yang menyelesaikannya?
Entah sudah yang keberapa kalinya Naruto menghela napas hari ini. Kenapa hal-hal yang terjadi di hidupnya jadi semakin tidak jelas? Kenapa semuanya jadi sangat membingungkan?
Naruto kembali menghela napas dan bangkit dari duduknya. Ia melangkah ke arah ruang ganti pegawai, sama sekali tidak mempedulikan tatapan heran yang dilemparkan pegawai lain.
Dengan santai Naruto membuka lokernya dan merogoh tas yang tergantung di pintunya. Wajahnya yang semula tenang berubah panik ketika tangannya tidak bisa meraih apapun dari dalam tas.
Naruto mengeluarkan tasnya dan membuka retsletingnya lebih lebar, namun ia tetap tidak bisa mendapatkan apapun dari dalam tas. Kemana perginya benda itu?
"Kau mencari ini?"
Gerakan Naruto terhenti mendadak. Perlahan ia menolehkan kepala dan menatap Shikamaru yang berdiri di ambang pintu sembari menunjukkan cup ramen yang sejak tadi ia cari. Di belakang Shikamaru, Gaara tampak menatap 'Sasuke' tidak percaya.
"Kenapa bisa ada padamu? Jangan katakan kalau kau merusak loker ini lagi," tutur Naruto.
Kini giliran Shikamaru yang menatap sang 'Uchiha' tidak percaya.
"Darimana kau tahu kalau aku pernah merusak loker itu sebelumnya... Sasuke?"
Naruto membulatkan mata. He's busted!
Tidak ada yang tahu kalau Shikamaru selalu merusak loker sang Uzumaki demi mengambil semua cup ramen yang selalu disembunyikannya di dalam tas yang masih ada di genggamannya sekarang. Tidak ada yang tahu hal itu kecuali Shikamaru—dan Naruto tentunya.
"Kau mencari ramen cup?" tanya Gaara. "Aku memang belum lama mengenal Uchiha Sasuke, tapi aku tahu kalau dia adalah seorang health freak. Mengkonsumsi makanan dingin saja dia tidak mau, bagaimana bisa dia mengkonsumsi makanan instan?"
Terjebak.
Naruto benar-benar terjebak.
"Siapa kau sebenarnya, 'Uchiha Sasuke'?" tanya Gaara dengan tatapan tajam.
Keheningan yang sedang melingkupi ruang ganti terusik dengan dering ponsel sang 'Uchiha'. Naruto mengeluarkan ponselnya dari saku, dan itu membuat tatapan Gaara makin tajam. Sejak kapan Sasuke mengganti ponsel canggihnya dengan ponsel sederhana yang selalu dianggapnya 'merepotkan'?
"Segera pergi ke rumah sakit. Sekarang. Naruto tidak dalam keadaan yang baik."
.
.
TBC
.
.
A/N: Uwah! Saya baru sadar kalau jumlah review fic ini sudah hampir lima ratus! X3 Yang lebih saya tidak sadar adalah jumlah chapter yang makin mendekati angka tiga puluh. Saya harus cepat-cepat menyelesaikan fic ini sepertinya.
.
.
Review Reply:
.
.
Meg chan: Lagi ga bisa update ASAP, tapi tetap berusaha update secepat yang aku bisa ^^
Kirara: Lho? O.O Sudah dilanjut~ :D
Od3rsChWank mi4w-mi4w:Yep! Semangkaaaa~~ ^O^
ami: Cepet sampe klimaks? Kalo saya malah pengen cepet sampe epilog, hehe. Ne, ganbarimasu! ^^
kyou: Apa chap yang sekarang bikin fic ini makin seru? Ah, ya, typo(s). Kadang aku terlalu males baca ulang, jadi gitu deh. Gomennasai~ *bow*
suki teme: Astaga, astaga, astaga. Memang seneng liat karakternya menderita ternyata, hahaha. Yaa, semangaaaatt~~ ^^
Micon: *Sweatdrop ngeliat yang nangis di pojokan* -,-' Romance? Aku ga yakin ini fic bakal ada romance-nya #kabursebelumdihajarreader
HaikuReSanovA: Prospek? Silakan judge sendiri~ ^^
nao-chan: Owh, terima kasih sudah bersedia mampir, baca, plus review~ Saya usahakan lanjut secepat yang saya bisa ^^
Kyuubi tuh lucu: Kemana saja kau, nak? Long time no see~ Aku kira lagi puasa(?) baga fic buatanku. Aku suka liat Taesun juga, tapi lebih suka liat karakternya Joowon X3 Judul OST-nya? Aku tau beberapa. Ne, hwaiting! ^^
Lista-SasuNaru4ever: Daijobu~ ^^ Ga yakin bisa update kilat, tapi chap ini ga termasuk update telat 'kan? ^^
